P. 1
Kumpulan Peraturan tentang Lingkungan.pdf

Kumpulan Peraturan tentang Lingkungan.pdf

|Views: 478|Likes:
Dipublikasikan oleh Fitri Irawadi
file pdf ini berisikan tentang kumpulan peraturan mengenai lingkungan di Indonesia
file pdf ini berisikan tentang kumpulan peraturan mengenai lingkungan di Indonesia

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Fitri Irawadi on Apr 01, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $4.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/17/2014

$4.99

USD

pdf

text

original

HIMPUNAN PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA

2005

DAFTAR PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 4. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 Konservasi Sumber Ekosistemnya Benda Cagar Alam Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Penataan Ruang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati) Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) Pengelolaan Lingkungan Hidup Kehutanan Sumber Daya Air Daya Alam Hayati dan

6. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994

7. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 8. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 9. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya
Oleh Nomor Tanggal Sumber : : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 5 TAHUN 1990 (5/1990) 10 AGUSTUS 1990 (JAKARTA) LN 1990/49; TLN NO. 3419

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang: a. bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari, selaras, serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya, baik masa kini maupun masa depan; bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila; bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem; bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya, maka diperlukan langkah-langkah konservasi schingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri; bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial, sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional;

b.

c.

d.

e.

f.

bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas, dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang;

g.

Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823); Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

3.

4.

5.

MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. 2. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. 3. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. 4. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati, baik yang hidup di darat maupun di air. 5. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air, dan/atau di udara. 6. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara, yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. 7. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan/atau di air, dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. 8. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. 9. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. 10. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. 11. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. 12. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli, ekosistem unik, dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan.

13.

14.

15.

16.

Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Taman national adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Pasal 2

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. perlindungan sistem penyangga kehidupan; b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya.

BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pemerintah menetapkan : a. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan; b. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan; c. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan, Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8.

(2)

(2)

(3)

Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 10

Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena peinanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan.

BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan melalui kegiatan : a. pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; b. pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. Pasal 13 (1) (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan.

(3)

BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a. cagar alam; b. suaka margasatwa. Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata terbatas, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemeritah.

(2)

(2)

(3)

Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja saina konservasi internasional, khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagai biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 19 (1) (2) Setiap orang dilarang melakukatn kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1) tidak termasuk kegiatan pembinaan Habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli.

(2)

(3)

BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. tumbuhan dan satwa yang dilindungi; b. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan; b. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2)

(3)

Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati; b. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. Setiap orang dilarang untuk : a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati; c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. Pengecualian dari larangan menangkap, melukai, dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana diinaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2)

(2)

(3)

(4)

Pasal 23 (1) (2) Apabila diperlukan, dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 24 (1) (2) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa, kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2)

BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam; b. pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.

Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar.

BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. taman nasional; b. taman hutan raya; c. taman wisata alam. Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, dan wisata alam. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masing-masing kawasan.

(2)

(2)

Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lain sesuai dengan keperluan. Pasal 33 (1) (2) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam. Pasal 34 (1) (2) Pengelolaan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. Di dalam zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2),dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya, Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu.

(3)

(3)

(4)

BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. pengkajian, penelitian dan pengembangan; b. penangkaran; c. perburuan; d. perdagangan; e. peragaan; f. pertukaran; g. budidaya tanaman obat-obatan; h. pemeliharaan untuk kesenangan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2)

BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peranserta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam mengembangkan peranserta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2)

(3)

BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2)

BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnva, diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), berwenang untuk: a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; b. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; c. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam;

(2)

(3)

d. e. f. g.

melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; membuat dan menandatangani berita acara; menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

(4)

Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00(seratusjuta rupiah). Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratusjuta rupiah). Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

(2)

(3)

(4)

(5)

Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran.

BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini. Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini, tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang barti berdasarkan Undang-undang ini.

BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133); 2. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134); 3. Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733); 4. Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167); dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati. Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undangundang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA MOERDIONO

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

I. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah, baik di darat, di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi, dipelihara, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian, keselarasan dan keseimbangan, baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya, antara

manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani, alam nabati ataupun berupa fenomena alam, baik secara masing-masing maupun bersama-sama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup, yang kehadirannya tidak dapat diganti. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia, maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi, diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi, sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan, maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. Peranserta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. Untuk itu, Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi, yaitu : 1. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan); 2. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipetipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah); 3. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana, belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal, baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik, polusi, dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari).

Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum, maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundangundangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. Peraturan perundangundangan warisan pemerintah kolonial yang beranekaragam coraknya, sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan, perkembangan kependudukan, ilmu pengetahuan, dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistenmya, belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan, Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 1 Tahun 1988, dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia. Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 sampai angka 6 Cukup jelas

Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar, tetapi termasuk di dalam pengertian satwa. Angka 8 sampai angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. Namun, pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undangundang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Namun, keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin. Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia, maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait

b.

c.

satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi, yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati, maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air, tebing, tepian sungai, danau, dan jurang, pemeliharaan fungsi hidrologi hutan, perlindungan pantai, pengelolaan daerah aliran sungai; perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam, dan lain-lain. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masingmasing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. Pasal 6

Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, tumbuhan, satwa, dan jasad renik. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari, air, udara, dan tanah. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi. Pasal 7

Cukup jelas

Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung, daerah aliran sungai, areal tepi sungai, daerah pantai, bagian tertentu dari zona ekonomi eksklusif Indonesia, daerah pasang surut, jurang, dan areal berpolusi berat. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak, tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan, perlu diadakan penelitian dan inventarisasi, baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan, baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif, bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya), laut wilayah Indonesia, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas

tanah, maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor, erosi, kebakaran, dan gempa bumi, atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat, khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami. Pasal 13 sampai pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam, baik sebagai kawasan hutan lain, tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam. Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak, sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan- ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran. Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi, melihat, dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan, serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer, maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. Namun, kewenangan penentuan kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta mengamati dan mengevaluasi perubahan- perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 18

Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan, serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer, maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. Namun, kewenangan penentuan kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, serta mengamati dan mengevaluasi perubahan- perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya, perburuan satwa yang berada dalam kawasan, dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa, pembuatan fasilitas air minum, dan sebagainya. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis, maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan.

Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya, sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat, baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan, baik di dalam maupun di luar negeri. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia, atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya, cara melakukan penangkapan hidup-hidup,

penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan, sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang, taman safari, dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada, guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah.

Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 31 Pasal 28

Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan traditional zona rehabilitasi, dan sebagainya.

Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran),dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) sampai ayat (4) Cukup jelas . Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat. maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah.Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. maka melalui kegiatan penyuluhan.

Dengan ditetapkannya Undang-undang ini. 1941 Nomor 167 (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167) dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Kehutanan telah ditetapkan hutan suaka alam dan taman wisata. Pasal 42 sampai pasal 45 Cukup jelas __________________________________ . maka hutan suaka alam dan taman wisata dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam.Pasal 40 Ayat (1) sampai ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Berdasarkan Ordonansi Perlindungan Alam Tahun 1941 Stbl.

sebagaimana telah diubah dengan Monumenten Ordonnantie Nomor 21 Tahun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 Nomor 515) dewasa ini sudah tidak sesuai dengan upaya perlindungan dan pemeliharaan demi pelestarian benda cagar budaya. pemeliharaan.Undang Undang No. perlindungan. pemilikan. Mengingat: 1. bahwa untuk menjaga kelestarian benda cagar budaya diperlukan langkah pengaturan bagi penguasaan. c. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. 3470 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia. pencarian. Menimbang: a. dan pengawasan benda cagar budaya. sehingga pcrlu dilindungi dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa kepentingan nasional. Pasal 20 ayat (1). TLN NO. 2. dan Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945. pemanfaatan. pengetahuan dan kebudayaan. 5 Tahun 1992 Tentang : Benda Cagar Budaya Oleh Nomor Tanggal Sumber : : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 5 TAHUN 1992 (5/1992) 21 MARET 1992 (JAKARTA) LN 1992/27. penemuan. pengelolaan. Pasal 5 ayat (1). . bahwa benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah. dan oleh karena itu dipandang perlu menetapkan pengaturan benda cagar budaya dengan Undang-undang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). bahwa pengaturan benda cagar budaya sebagaimana diatur dalam Monumenten Ordonnantie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238). yang ilmu dan dan b.

serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah. benda buatan manusia.3. atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun. atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 8. bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok. b. Benda cagar budaya adalah: a. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mongandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya. ilmu pengetahuan. dan kebudayaan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3427). yang berumur sekurang-kurangnya 50 (limapuluh) tahun. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA. 2. dan kebudayaan. ilmu pengetahuan . .

benda yang diduga benda cagar budaya. dan situs. PENEMUAN.BAB II TUJUAN DAN LINGKUP Pasal 2 Perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan melestarikan dan memanfaatkannya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Pengembalian benda cagar budaya yang pada saat berlakunya Undang-undang ini berada di luar wilayah hukum Republik Indonesia. BAB III PENGUASAAN. (3) . Pasal 3 Lingkup pengaturan Undang-undang ini meliputi benda cagar budaya. dalam rangka penguasaan oleh Negara. PEMILIKAN. Penguasaan benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi benda cagar budaya yang terdapat di wilayah hukum Republik Indonesia. dilaksanakan Pemerintah sesuai dengan konvensi internasional. benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. DAN PENCARIAN Bagian Pertama Penguasaan dan Pemilikan Pasal 4 (1) (2) Semua benda cagar budaya dikuasai oleh Negara.

(2) Pasal 6 (1) Benda cagar budaya tertentu dapat dimiliki atau dikuasai oleh setiap orang dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya dan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. sifat. Pengalihan pemilikan benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat disertai pemberian imbalan yang wajar. Benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah benda cagar budaya yang : a. (3) dimiliki atau dikuasai secara turun-temurun atau merupakan warisan. dan jenisnya serta demi kepentingan sejarah. Ketentuan mengenai penentuan benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) Dalam hal orang sebagaimana rdimaksud dalam ayat (1) adalah warga negara Indonesia yang dapat dimiliki atau dikuasai adalah benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a dan huruf b. jumlah untuk setiap jenisnya cukup banyak dan sebagian telah dimiliki oleh Negara. (2) . ilmu pengetahuan. b. dinyatakan milik Negara. benda cagar budaya yang karena nilai. dan kebudayaan perlu dilestarikan. (4) Pasal 7 (1) Pengalihan pemilikan atas benda cagar budaya tertentu yang dimiliki oleh warga negara Indonesia secara turun-temurun atau karena pewarisan hanya dapat dilakukan kepada Negara. jumlah. yang dapat dimiliki atau dikuasai adalah hanya benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b. Dalam hal orang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah warga negara asing.Pasal 5 (1) Dalam rangka penguasaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

(2) Pasal 9 Setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. pengalihan hak. Berdasarkan laporan tersebut. Bagian Kedua Penemuan Pasal 10 (1) Setiap orang yang menemukan atau mengetahui ditemukannya benda cagar budaya atau benda yang diduga sebagai benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. Pasal 8 (1) Setiap pemilikan. (2) (3) .dan pemindahan tempat benda cagar budaya tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 wajib didaftarkan. wajib melaporkannya kepada Pemerintah selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak ditemukan atau mengetahui ditemukannya. Sejak diterimanya laporan dan selama dilakukannya proses penelitian terhadap benda yang ditemukan diberikan perlindungan sebagai benda cagar budaya. terhadap benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) segera dilakukan penelitian.(3) Ketentuan mengenai tata cara pengalihan dan pemberian imbalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. yang benda cagar budayanya hilang dan/atau rusak wajib melaporkan peristiwa tersebut kepada Pemerintah dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas)hari sejak di ketahui hilang atau rusaknya benda cagar budaya tersebut.

ayat (3). Pasal 11 Pemerintah menetapkan lokasi penemuan benda cagar budaya atau benda yang diduga benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (1) sebagai situs dengan menetapkan batas-batasnya. pemilikan. pemilikan sebagian dari benda cagar budaya oleh penemu berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (2) huruf b. (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). penyclaman. c. apabila terbukti benda tersebut bukan sebagai benda cagar budaya atau bukan sebagai benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. dan menetapkan : a. ayat (2).(4) Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). pengangkatan atau dengan cara pencarian lainnya. penguasaan. tanpa izin dari Pemerintah. b. (2) . Pemerintah menentukan benda tersebut sebagai benda cagar budaya atau bukan benda cagar budaya. apabila benda tersebut ternyata merupakan benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. dan pemanfaatannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. penyerahan kembali kepada penemu. d. Ketentuan mengenai pencarian benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya termasuk syarat-syarat dan tata cara perizinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Ketiga Pencarian Pasal 12 (1) Setiap orang dilarang mencari benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya dengan cara penggalian. dan ayat (4) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pemilikan oleh Negara dengan pemberian imbalan yang wajar kepada penemu.

membawa benda cagar budaya ke luar wilayah Republik Indonesia.BAB IV PERLINDUNGAN DAN PEMELIHARAAN Pasal 13 (1) (2) Setiap orang yang memiliki atau menguasai benda cagar budaya wajib melindungi dan memeliharanya. Apabila dalam waktu 90 (sembilan puluh) hari sejak dikeluarkan teguran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) upaya perlindungan tetap tidak dilaksanakan olch pemilik atau yang menguasai benda cagar budaya. Pasal 14 (1) Dalam hal orang yang memiliki atau menguasai benda cagar budaya tertentu sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 tidak melaksanakan kewajiban melindungi dan memelihara sebagaimana dimaksud dalam pasal 13. dalam ayat (2) (2) (3) Pasal 15 (1) (2) Setiap orang dilarang merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya. memindahkan benda cagar budaya dari daerah satu ke daerah lainnya. b. Pemerintah dapat mengambil alih kewajiban untuk melindungi benda cagar budaya yang bersangkutan. Pemerintah memberikan teguran. . Tanpa izin dari Pemerintah setiap orang dilarang: a. Perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 16 Pemerintah dapat menahan atau memerintahkan agar benda cagar budaya yang telah dibawa atau dipindahkan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) dikembalikan ke tempat asal atas beban biaya orang yang membawa atau memindahkannya. Pasal 17 (1) (2) Setiap kegiatan yang berkaitan dengan penetapan suatu lokasi sebagai situs disertai dengan pemberian ganti rugi kepada pemilik tanah yang bersangkutan. BAB V PENGELOLAAN Pasal 18 (1) (2) Pengelolaan benda cagar budaya dan situs adalah tanggung jawab Pemerintah. berperanserta dalam . e. memperdagangkan atau memperjualbelikan memperniagakan benda cagar budaya. Masyarakat. d. f. kelompok. mengubah bentuk dan/atau warna serta memugar benda cagar budaya. (3) mengambil atau memindahkan benda cagar budaya baik sebagian maupun seluruhnya. atau Pelaksanaan ketentuan dan perizinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. kecuali dalam keadaan darurat. Pelaksanaan pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.c. memisahkan sebagian benda cagar budaya dari kesatuannya. atau perorangan pengelolaan benda cagar budaya dan situs.

pariwisata. Pasal 20 Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan benda cagar budaya apabila pelaksanaannya ternyata berlangsung dalam keadaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). BAB VI PEMANFAATAN Pasal 19 (1) Benda cagar budaya tertentu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan agama. . ilmu pengetahuan. b. semata-mata golongan. untuk mencari keuntungan pribadi dan/atau (2) Ketentuan tentang benda cagar budaya yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan cara pemanfaatannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (3) bertentangan dengan upaya perlindungan benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2).(3) Ketentuan mengenai tata cara pengelolaan benda cagar budaya dan situs ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.dan kebudayaan. Pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dilakukan dengan cara atau apabila : a. pendidikan. sosial. Pasal 21 Benda cagar budaya yang pada saat ditemukan ternyata sudah tidak dimanfaatkan lagi seperti fungsi semula dilarang untuk dimanfaatkan kembali.

Pasal 22 (1) Benda cagar budaya bergerak atau benda cagar budaya tertentu baik yang dimiliki oleh Negara maupun perorangan dapat disimpan dan/atau dirawat di museum. BAB VII PENGAWASAN Pasal 24 (1) (2) Pemerintah melaksanakan pengawasan terhadap benda cagar budaya beserta situs yang ditetapkan. Ketentuan mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan secara terpadu dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pemeliharaan benda cagar budaya yang disimpan dan/atau dirawat di museum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. diadakan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang mempunyai wewenang dan bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 25 Atas dasar sifat benda cagar budaya. Ketentuan mengenai pemberian izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. . (2) Pasal 23 (1) (2) Pemanfaatan benda cagar budaya dengan cara penggandaan wajib mendapatkan izin dari Pemerintah.

00 (seratus juta rupiah).00 (lima puluh juta rupiah). memugar. masing-masing dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun d.memindahkan. atau dengan cara pencarian lainnya tanpa izin dari Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 50. tidak melakukan kewajiban mendaftarkan pemilikan.000. b. tidak melakukan kewajiban melapor atas penemuan atau mengetahui ditemukannya benda cagar budaya atau benda yang diduga sebagai benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1).000.mengubah bentuk dan/atau warna. pengangkatan. c. . penyelaman.BAB VIII KETENTUAN PIDANA Pasal 26 Barangsiapa dengan sengaja merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya atau membawa.000.mengambil. memanfaatkan benda cagar budaya dengan cara penggandaan tidak seizin Pemerintah sebagaimana diatur dalam Pasal 23. Pasal 27 Barangsiapa dengan sengaja melakukan pencarian benda cagar budaya atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya dengan cara penggalian. Pasal 28 Barangsiapa dengan sengaja : a. dan pemindahan tempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). memanfaatkan kembali benda cagar budaya yang sudah tidak dimanfaatkan lagi seperti fungsi semula sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.000. tidak melakukan kewajiban melapor atas hilang dan/atau rusaknya benda cagar budaya tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. atau memisahkan benda cagar budaya tanpa izin dari Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 100. pengalihan hak. e.

semua peraturan perundang-undangan yang ada sebagai pelaksanaan Monumenten Ordonnantie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238). BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 (1) Pada saat mulai bertakunya Undang-undang ini setiap orang yang belum mendaftarkan benda cagar budaya tertentu sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. Pasal 29 Perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dan Pasal 27 adalah tindak pidana kejahatan dan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 adalah tindak pidana pelanggaran. sebagaimana telah diubah dengan Monumenten Ordonnantie Nomor 21 Tahun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 Nomor 515).00 (sepuluh juta rupiah). yang dimiliki atau dikuasainya wajib mendaftarkan kepada Pemerintah dalam jangka waktu selambatlambatnya 2 (dua) tahun terhitung sejak saat mulai berlakunya undang-undang ini.dan/atau dcnda setinggi-tingginya Rp 10. Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini. BAB X KETENTUAN PENUTUP (2) Pasal 31 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini.000. dinyatakan tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan Undangundang ini atau belum diganti dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang baru sebagai pelaksanaan dari Undangundang ini. Monumenten Ordonnantie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238). dinyatakan tidak berlaku. .000. sebagaimana telah diubah dengan Monumenten Ordonnantie Nomor 21 Tahun 1934 (Staatsblad Tahun 1934 Nomor 515).

Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 21 Maret 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 21 Maret 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA MOERDIONO .Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

dibina dan dikembangkan guna memperkuat penghayatan dan pengamalan Pancasila. memperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan bangsa serta mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsa di masa depan". Pemerintah berkewajiban untuk berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku melindungi benda cagar budaya sebagai warisan budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu. meningkatkan kualitas hidup. serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia". untuk keperluan ini maka benda cagar budaya perlu dikuasai oleh Negara bagi pengamanannya sebagai milik bangsa. pelestarian benda cagar budaya Indonesia merupakan ikhtiar untuk memupuk kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jati diri sebagai bangsa yang berdasarkan Pancasila.juga untuk kepentingan sejarah. Sebagian besar benda cagar budaya suatu bangsa adalah hasil ciptaan bangsa itu pada masa lalu yang dapat menjadi sumber kebanggaan bangsa yang bersangkutan. Tidak semua benda peninggalan sejarah mempunyai makna sebagai benda cagar budaya. memperkuat kepribadian bangsa. dan persatuan. Benda cagar budaya mempunyai arti penting bagi kebudayaan bangsa. selain untuk memupuk rasa kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jati diri sebagai bangsa yang berdasarkan Pancasila. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR 1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara menegaskan bahwa" kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa. sehingga keberadaan kebangsaan itu pada masakini dan dalam proyeksinya ke masa depan bertahan kepada ciri khasnya sebagai bangsa yang tetap berpijak pada landasan falsafah dan budayanya sendiri. mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional. harus dipelihara. Upaya melestarikan benda cagar budaya dilaksanakan. dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri. Kesadaran jatidiri suatu bangsa yang banyak dipengaruhi oleh pengetahuan tentang masa lalu bangsa yang bersangkutan.PENJELASAN ATAS: TENTANG: UNDANG-UNDANG REPUBLIK NOMOR 5 TAHUN 1992 BENDA CAGAR BUDAYA INDONESIA UMUM Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 menegaskan bahwa "Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia"serta penjelasannya antara lain menyatakan "Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab. Beranjak dari amanat ini maka Pemerintah berkewajiban untuk mengambil segala langkah dalam usaha memajukan kebudayaan bangsa. khususnya untuk memupuk rasa kebanggaan nasional serta memperkokoh kesadaran jatidiri bangsa. . benda cagar budaya harus dilindungi dan di lestarikan. Oleh karena itu. budaya. Sejauh peninggalan sejarah merupakan benda cagar budaya maka demi pelestarian budaya bangsa.

atau pengangkatan tentang benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya yang kemudian ternyata merupakan benda cagar budaya ditundukkan sepenuhnya pada Undang-undang ini. Hal ihwal terutama dalam hal kegiatan pencarian. dan kebudayaan serta pemanfaatan lain dalam rangka kepentingan nasional. Karena sifat dan hakikat benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya dapat mendekati pengertian benda cagar budaya.ilmu pengetahuan. maka disusunlah undang-undang tentang Benda Cagar Budaya ini. . penemuan. Karena peraturan perundang-undangan yang berlaku sekarang sudah tidak sesuai dengan jiwa dan semangat tersebut di atas. pengelolaan. maka benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya dimasukkan dalam pengaturan Undang-undang ini. Memperhatikan hal-hal tersebut di atas dipandang perlu untuk melaksanakan tindakan penguasaan. pemanfaatan. b. pencarian. Dalam hal benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya kemudian ternyata bukan merupakan benda cagar budaya ditundukkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. perlindungan. dan pengawasan berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan. pemeliharaan. penemuan. Dengan demikian : a. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Penegasan mengenai lingkup ini diperlukan agar pengaturan Undang-undang ini juga dapat menjangkau masalah benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya. pemilikan.

dan lain-lain. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan orang adalah perorangan atau badan hukum/yayasan/perhimpunan/perkumpulan dan badan yang sejenis. Pelestarian tersebut ditujukan untuk kepentingan umum. serta pelestariannya. pariwisata. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Upaya pengembalian benda cagar budaya oleh Pemerintah dalam rangka penguasaan oleh Negara dilakukan oleh Menteri yang bertanggung jawab atas bidang kebudayaan. pengampuan. yaitu pengaturan benda cagar budaya harus dapat menunjang pembangunan nasional di bidang ilmu pengetahuan.Pasal 4 Ayat (1) Penguasaan oleh Negara mempunyai arti bahwa Negara pada tingkat tertinggi berhak menyelenggarakan pengaturan segala perbuatan hukum berkenaan dengan pelestarian benda cagar budaya. tetapi setiap orang juga dapat memiliki dan menguasai benda cagar budaya tertentu. Sekalipun benda cagar budaya pada dasarnya dikuasai oleh Negara. Ayat (2) Cukup jelas . dalam arti melaksanakan pengelolaan. pendidikan. dengan tetap memperhatikan fungsi sosial dan pemanfaatannya bagi kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. atau tindakan sejenis.

.Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Imbalan dapat berupa uang atau benda pengganti yang bermanfaat bagi pemilik. atau aparat pemerintah daerah yang terdekat. Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ketentuan ini tidak berlaku apabila pengalihannya berlangsung secara hibah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 9 Laporan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab atas perlindungan dan pengawasan benda cagar budaya.

Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas .Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas (lihat penjelasan Pasal 9) Ayat (2) Penelitian dilakukan oleh instansi yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab atas bidang kebudayaan.

Butir c Yang dimaksud dengan dalam keadaan darurat dalam butir ini adalah kondisi yang dapat mengancam benda cagar budaya. bencana alam. pelestarian. atau secara lisan yang dicatat dalam buku kunjungan. yang diperlukan bagi perlindungan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lingkungan adalah kawasan di sekitar atau di sekeliling benda cagar budaya dan situs. seperti kebakaran. atau peristiwa lainnya. Ayat (2) Butir a Cukup jelas Butir b Yang dimaksud dengan daerah dalam butir ini adalah Kabupaten/Kotamadya/Daerah Tingkat II di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Teguran sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dapat dilakukan secara tertulis. Butir d Cukup jelas Butir e Cukup jelas . dan pemanfaatannya.

Butir f Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas .

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas .

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas ______________________________________ .

Undang Undang No. dan mencegah keluarnya dari wilayah negara Republik b. e. baik dalam rangka perdagangan. serta organisme pengganggu tumbuhan yang memiliki potensi untuk merusak kelestarian sumberdaya alam hayati. serta organisme penggangu tumbuhan yang berbahaya atau menular yang dapat merusak sumber daya alam hayati. dan tumbuhan yang perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya. ikan. maupun penyebarannya. dan tumbuhan antarnegara dan dari suatu area kearea lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia. semakin membuka peluang bagi kemungkinan masuk dan menyebarnya hama dan penyakit hewan. d. bahwa sumberdaya alam hayati tersebut merupakan salah satu modal dasar dan sekaligus sebagai faktor dominan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. ikan. . bahwa dengan meningkatnya lalu lintas hewan. pertukaran. 3482 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia. c. bahwa tanah air Indonesia dikaruniai Tuhan Yang Maha Esa berbagai jenis sumberdaya alam hayati berupa aneka ragam jenis hewan. bahwa tanah air Indonesia atau sebagian pulau-pulau di Indonesia masih bebas dari berbagai hama dan penyakit hewan. serta organisme pengganggu tumbuhan ke wilayah negara Republik Indonesia. Menimbang : a. hama dan penyakit ikan. bahwa untuk mencegah masuknya hama dan penyakit hewan. hama dan penyakit ikan. Ikan Dan Tumbuhan Oleh Nomor Tanggal Sumber : : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 16 TAHUN 1992 (16/1992) 8 JUNI 1992 (JAKARTA) LN 1992/56. mencegah tersebarnya dari suatu area ke area lain. 16 Tahun 1992 Tentang : Karantina Hewan. hama dan penyakit ikan. TLN NO.

dan tumbuhan. bahwa sehubungan dengan hal-hal diatas. g.Indonesia. 4. ikan. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. ikan. dan tumbuhan warisan pemerintah kolonial yang masih berlaku sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional. perlu dicabut. IKAN. dan Pasal 33 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945. DAN TUMBUHAN. ikan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Pasal 5 ayat (1). ikan. f. 2. Pasal 20 ayat (1). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). . Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). h. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). 5. Undang-undang Nomor 6 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 10. Mengingat : 1. bahwa peraturan perundang-undangan nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai karantina hewan. bahwa peraturan perundang-undangan yang menyangkut perkarantinaan hewan. dan tumbuhan dalam suatu Undangundang. diperlukan karantina hewan. perlu ditetapkan ketentuan tentang karantina hewan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824). Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KARANTINA HEWAN. 3. dan tumbuhan dalam satu sistem yang maju dan tangguh.

hama dan penyakit ikan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri. ikan. baik yang dipelihara maupun yang hidup secara liar. dalam keadaan hidup atau mati. 2. Ikan adalah semua biota perairan yang sebagian atau seluruh daur hidupnya berada di dalam air. 3. Hama dan penyakit hewan. hasil bahan asal hewan. baik belum diolah maupun telah diolah. 6. bandar udara. dan tumbuhan adalah tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit hewan. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina. ikan. tersebarnya di dalam. Karantina hewan. Karantina adalah tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri. Bahan asal hewan adalah bahan yang berasal dari hewan yang dapat diolah lebih lanjut. atau organisme pengganggu tumbuhan adalah semua organisme yang dapat merusak. atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia. hama dan penyakit ikan karantina. atau menyebabkan kematian hewan. 8. kantor . Tempat pemasukan dan tempat pengeluaran adalah pelabuhan laut. Hama dan penyakit hewan karantina adalah semua hama dan penyakit hewan yang ditetapkan Pemerintah untuk dicegah masuknya ke dalam. hama dan penyakit ikan. atau tumbuhan. Hasil bahan asal hewan adalah bahan asal hewan yang telah diolah. Hama dan penyakit ikan karantina atau organisme pengganggu tumbuhan karantina adalah semua hama dan penyakit ikan atau organisme pengganggu tumbuhan yang ditetapkan Pemerintah untuk dicegah masuknya ke dalam dan tersebarnya di dalam wilayah negara Republik Indonesia.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. ikan. pelabuhan penyeberangan. Tumbuhan adalah semua jenis sumberdaya alam nabati dalam keadaan hidup atau mati. atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia. dan keluarnya dari wilayah negara Republik Indonesia. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina adalah hewan. bahan asal hewan. tumbuhan dan bagian-bagiannya dan/atau benda lain yang dapat membawa hama dan penyakit hewan karantina. mengganggu kehidupan. Hewan adalah semua binatang yang hidup di darat. 10. 4. 12. Media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. termasuk bagian-bagiannya. pelabuhan sungai. 5. 11. 7. hama dan penyakit ikan. 9.

d. jenis hama dan penyakit. dan tumbuhan meliputi : a. Petugas karantina hewan. hama dan penyakit ikan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan. dan tumbuhan bertujuan : a. pos. ikan. ikan. hama dan penyakit ikan. b. d. yang ditetapkan sebagai tempat untuk memasukkan dan/atau mengeluarkan media pembawa hama dan penyakit hewan. dan organisme penggangu tumbuhan karantina dari luar negeri ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. c. e. c. pos perbatasan dengan negara lain. hama dan penyakit ikan karantina. Pasal 3 Karantina hewan. ikan. Pasal 4 Ruang lingkup pengaturan tentang karantina hewan. mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan karantina dari wilayah negara Republik Indonesia. dan tempat-tempat lain yang dianggap perlu. kawasan karantina. ikan. tempat pemasukan dan pengeluaran. dan tumbuhan berasaskan kelestarian sumber-daya alam hayati hewan. dan media pembawa. mencegah keluarnya hama dan penyakit ikan dan organisme pengganggu tumbuhan tertentu dari wilayah negara Republik Indonesia apabila negara tujuan menghendakinya. ikan. dan tumbuhan adalah pegawai negeri tertentu yang diberi tugas untuk melakukan tindakan karantina berdasarkan Undang-undang ini. organisme pengganggu. Pasal 2 Karantina hewan. persyaratan karantina. mencegah tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina.13. dan tumbuhan. . dan organisme pengganggu tumbuhan karantina dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia. mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina. tindakan karantina. b.

kecuali media pembawa yang tergolong benda lain. dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina. Pasal 6 Setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. dilengkapi sertifikat kesehatan dari negara asal dan negara transit bagi hewan. kecuali media pembawa yang tergolong benda lain. b. dilengkapi sertifikat kesehatan dari area asal bagi hewan. bahan asal hewan. melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan. (2) . tumbuhan dan bagian-bagian tumbuhan. ikan. Pasal 7 (1) Setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina yang akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia wajib : a. bahan asal hewan. c. dilengkapi sertifikat kesehatan bagi hewan. hama dan penyakit ikan karantina. melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan. dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan untuk keperluan tindakan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia wajib : a. b.BAB II PERSYARATAN KARANTINA Pasal 5 Setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan. dan hasil bahan asal hewan. keculai media pembawa yang tergolong benda lain. tumbuhan dan bagian-bagian tumbuhan. hasil bahan asal hewan. c. hama dan penyakit ikan karantina. bahan asal hewan. b. ikan. c. Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku juga bagi media pembawa hama dan penyakit ikan dan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan yang akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia apabila disyaratkan oleh negara tujuan. a. dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempattempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina. hasil bahan asal hewan. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia wajib.

Pemerintah dapat menetapkan kewajiban tambahan disamping kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. g. pembebasan. d. penolakan. Setiap media pembawa hama dan penyakit ikan karantina atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam dan/atau dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dikenakan tindakan karantina. e. f. b. dan Pasal 7.Pasal 8 Dalam hal-hal tertentu. pengasingan. sehubungan dengan sifat hama dan penyakit hewan atau hama dan penyakit ikan. pemusnahan. berupa : a. penahanan. h. Media pembawa hama dan penyakit ikan karantina dan organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia tidak dikenakan tindakan karantina. pemeriksana. c. dan/atau dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia dikenakan tindakan karantina. Pasal 10 Tindakan karantina dilakukan oleh petugas karantina. (2) (3) . BAB III TINDAKAN KARANTINA Pasal 9 (1) Setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina yang dimasukkan. perlakuan. atau organisme pengganggu tumbuhan. pengamatan. Pasal 6. dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam. kecuali disyaratkan oleh negara tujuan.

atau organisme pengganggu tumbuhan karantina. Pasal 14 Terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. (2) (2) (1) . hama dan penyakit ikan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina diberikan perlakuan untuk membebaskan atau menyucihamakan media pembawa tersebut. Pemeriksaan terhadap hewan. Perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan ikan dapat dilakukan koordinasi dengan instansi lain yang bertanggung jawab dibidang penyakit karantina yang membahayakan kesehatan manusia. diberikan apabila setelah dilakukan pemeriksana atau pengasingan untuk diadakan pengamatan ternyata media pembawa tersebut : a. Pasal 12 Untuk mendeteksi lebih lanjut terhadap hama dan penyakit hewan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina dilakukan penahanan apabila setelah dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang karena sifatnya memerlukan waktu lama. hama dan penyakit ikan karantina. hama dan penyakit ikan karantina. sarana. Pasal 13 (1) Terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. dilakukan untuk mengetahui kelengkapan dan kebenaran isi dokumen serta untuk mendeteksi hama dan penyakit hewan karantina. dapat dilakukan pengasingan untuk diadakan pengamatan. bahan asal hewan. maka terhadap media pembawa yang telah diperiksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.Pasal 11 (1) Tindakan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a. tidak bebas atau diduga tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina. ternyata persyaratan karantina untuk pemasukan ke dalam atau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia belum seluruhnya dipenuhi. hama dan penyakit ikan karantina. tertular atau diduga tertular hama dan penyakit hewan karantina atau hama dan penyakit ikan karantina. atau b. dan kondisi khusus. hasil bahan asal hewan.

atau hama dan penyakit . setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan dilakukan pemeriksaan. atau hama dan penyakit ikan karantina. setelah dilakukan penahanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1). setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan. atau d. tidak dapat disembuhkan dan/atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan karantina. atau hama dan penyakit ikan karantina. atau b.(2) Pemerintah menetapkan batas waktu pemenuhan persyaratan. media pembawa yang bersangkutan tidak segera dibawa ke luar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan. atau c. atau merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya. atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah. atau rusak. atau busuk. tertular hama dan penyakit hewan karantina. Pasal 15 Terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. tertular hama dan penyakit hewan karantina. atau tidak dapat dibebaskan dari organisme pengganggu tumbuhan karantina. atau b. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dilakukan pemusnahan apabila ternyata : a. atau hama dan penyakit ikan karantina. atau rusak. hama dan penyakit ikan karantina. dan Pasal 8. tidak seluruhnya dipenuhi. atau c. atau busuk. atau merupakan jenis-jenis yang dilarang pemasukannya. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dilakukan penolakan apabila ternyata : a. tertular hama dan penyakit hewan karantina. hama dan penyakit ikan karantina. persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. Pasal 6. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 16 (1) Terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. setelah dilakukan pemeriksaan di atas alat angkut. setelah dilakukan penolakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi. atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah. setelah diberi perlakuan di atas alat angkut.

atau c. pemilik media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. (2) Dalam hal dilakukan tindakan pemusnahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). atau d. hama dan penyakit ikan karantina. hama dan penyakit ikan karantina. atau organisme penganggu tumbuhan yang akan dikeluarkan dari dalam atau dikeluarkan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia dilakukan pembebasan apabila ternyata : . tidak tertular hama dan penyakit hewan karantina. hama dan penyakit ikan. setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. setelah dilakukan perlakuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. hama dan penyakit ikan karantina. atau bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina. hama dan penyakit ikan karantina. Pasal 7. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia dilakukan pembebasan apabila ternyata : a. setelah dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. dan Pasal 8. ikan karantina. atau hama dan penyakit ikan karantina. atau tidak bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah. atau dapat dibebaskan dari organisme pengganggu tumbuhan karantina. tidak tertular hama dan penyakit hewan karantina. atau hama dan penyakit ikan karantina. terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. atau b. Pasal 17 Terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina.d. atau tidak dapat dibebaskan dari organisme penganggu tumbuhan karantina. setelah dilakukan penahanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Pasal 18 Dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. seluruh persyaratan yang diwajibkan telah dapat dipenuhi. tidak dapat disembuhkan dan/atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan karantina. dapat disembuhkan dari hama dan penyakit hewan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina tidak berhak menuntut ganti rugi apapun. atau setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut dan diberi perlakukan. atau bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina.

ditetapkan oleh Pemerintah. hama dan penyakit ikan. dilakukan oleh petugas karantina di tempat pemasukan dan/atau pengeluaran. Pembebasan media pembawa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18. peralatan. atau setelah dilakukan perlakuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. tidak tertular hama dan penyakit hewan karantina.a. disertai dengan pemberian sertifikat pelepasan. Pasal 21 (2) (3) Dengan memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. atau bebas dari organisme penganggu tumbuhan. baik di dalam maupun di luar instalasi karantina. air. dapat dikenakan tindakan karantina. hama dan penyakit ikan. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina. atau setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. dapat disembuhkan dari hama dan penyakit hewan karantina. Dalam hal-hal tertentu. atau pembungkus yang diketahui atau diduga membawa hama dan penyakit hewan karantina. disertai dengan pemberian sertifikat kesehatan. b. c. terhadap orang. tidak tertular hama dan penyakit hewan karantina. hama dan penyakit ikan karantina. atau bebas dari organisme pengganggu tumbuhan. setelah dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. dapat dilakukan di luar tempat pemasukan dan/atau pengeluaran. alat angkut. Pasal 20 (1) Tindakan karantina sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. atau dapat dibebaskan dari organisme pengganggu tumbuhan. Ketentuan mengenai tindakan karantina di luar tempat pemasukan dan/atau pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). . tindakan karantina sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 19 (1) (2) Pembebasan media pembawa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. hama dan penyakil ikan. baik di dalam maupun diluar instalasi karantina.

hama dan penyakit ikan karantina. DAN MEDIA PEMBAWA Pasal 24 Pemerintah menetapkan : a. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina ke dan dari kawasan karantina sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) BAB IV KAWASAN KARANTINA Pasal 23 (1) Dalam hal ditemukan atau terdapat petunjuk terjadinya serangan suatu hama dan penyakit hewan karantina. c. jenis media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. (2) BAB V JENIS HAMA DAN PENYAKIT ORGANISME PENGGANGGU. dan organisme pengganggu tumbuhan . ikan. hama dan penyakit ikan karantina. hama dan penyakit ikan karantina. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. b. hama dan penyakit ikan karantina.Pasal 22 (1) Setiap orang atau badan hukum yang memanfaatkan jasa atau sarana yang disediakan oleh Pemerintah dalam pelaksanaan tindakan karantina hewan. jenis hama dan penyakit hewan karantina. hama dan penyakit ikan karantina. atau tumbuhan dapat dikenakan pungutan jasa karantina. Ketentuan mengenai pungutan jasa karantina sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan organisme penggangu tumbuhan karantina. diatur oleh Pemerintah. Pemasukan dan pengeluaran media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. jenis media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina di suatu kawasan yang semula diketahui bebas dari hama dan penyakit hewan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina tersebut. dan organisme pengganggu tumbuhan karantina. Pemerintah dapat menetapkan kawasan yang bersangkutan untuk sementara waktu sebagai kawasan karantina. hama dan penyakit ikan karantina.

BAB VII PEMBINAAN Pasal 28 Pemerintah bertanggung jawab membina kesadaran masyarakat dalam perkarantinaan hewan. Pasal 25 Media pembawa lain yang terbawa oleh alat angkut dan diturunkan di tempat pemasukan harus dimusnahkan oleh pemilik alat angkut yang bersangkutan di bawah pengawasan petugas karantina. hama dan penyakit ikan karantina. dan organisme pengganggu tumbuhan karantina. . hama dan penyakit ikan karantina. dan tumbuhan.karantina yang dilarang untuk dimasukkan dan/atau dibawa atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia. BAB VI TEMPAT PEMASUKAN DAN PENGELUARAN Pasal 26 Pemerintah menetapkan tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina dan melakukan transit di dalam wilayah negara Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. ikan. ikan. Pasal 27 Ketentuan terhadap alat angkut yang membawa media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. dan tumbuhan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdayaguna dan berhasilguna. Pasal 29 Peranserta rakyat dalam perkarantinaan hewan.

Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). ikan. berwenang untuk : a. dan tumbuhan. d. ikan. melakukan pemanggilan terhadap seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi dalam tindak pidana di bidang karantina hewan. ikan. ikin. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang karantina hewan. ikan. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c. dan tumbuhan. tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. ikan. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang karantina hewan. dapat pula diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. dan tumbuhan. dan tumbuhan. b.BAB VIII PENYIDIKAN Pasal 30 (1) Selain penyidik pejabat polisi negara Republik Indonesia. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang karantina hewan. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). memberitahukan dimulainya penyidikan kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. dan tumbuhan. juga pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan karantina hewan. ikan. membuat dan menandatangani berita acara. e. (2) (3) (4) . melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang karantina hewan. menghentikan penyidikan apabila tidak didapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang karantina hewan. f. dan tumbuhan. dan tumbuhan.

50. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 33 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini. Pasal 21. Ordonansi tentang Peninjauan Kembali Ketentuan-ketentuan tentang Pengawasan Pemerintah dalam Bidang Kehewanan dan Polisi Kehewanan (Herziening van de Bepalingen Omtrent het Veeartsenijkundige Staatstoezicht en de Veeartsenijkundige Politie. Pasal 7. Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini atau sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini.000. Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. dan tumbuhan yang telah ada tetap berlaku. Pasal 9. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 32 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang karantina hewan. Pasal 7. Pasal 6. dan Pasal 25. 2. Pasal 6. Pasal 21. dan Pasal 25.(lima puluh juta rupiah). Pasal 9. Staatsblad 1912 No. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 150.. adalah pelanggaran.000.000. adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).(seratus lima puluh juta rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. ikan. 432) yang mengatur karatina hewan.000. Ordonansi tentang Perubahan dan Penambahan Peraturan tentang Pengawasan Pemerintah dalam Bidang Kehewanan dan Polisi (2) (3) . dinyatakan tidak berlaku lagi : 1.BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 31 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.

Timor en Onderhorigheden. Ordonansi tentang Perubahan dan Penambahan Peraturan mengenai Campur Tangan Pemerintah dalam Bidang Kehewanan dan Polisi Kehewanan di Hindia Belanda (Wijziging en Aaanvulling van het Reglement op de Veeartsenijkundige Overheidsbemoeienis en de Veeartsenijkundige Politie in Nederiandsch-Indie. Umbi Pisang dan Bagian-bagiannya dari Sulawesi dan Daerahdaerah Kekuasaannya. Ordonansi tentang Peraturan Guna Mencegah Penyebaran Hama Belalang yang Terdapat di Kepulauan Sangihe dan Talaud (Maatregelen ter Voorkoming van de Verspreiding van de op Sangihe en Talaudeilanden voorkomende Sabelsprinkhaanplaag. Manado. Ordonansi tentang Peraturan Guna Mencegah Penyebaran Lebih Lanjut Ulat Umbi Kentang (Maatregelen om verdere Verspreiding van de Aardappelenknollenrups tegen te gaan. 205). Staatsblad 1924 No. 439).Indie. 289). Amboina. Planten. 114). 8. 532). strekkende tot het Tegengaan van de Overbrenging . Staatsblad 1925 No. Bali en Lombok. 57 1). Ordonansi tentang Perubahan dan Penambahan Lebih Lanjut Peraturan mengenai Pengawasan Pemerintah dalam Bidang Kehewanan dan Polisi Kehewanan di Hindia Belanda (Nedere Aanvulling en Wijziging van het Reglement op het Veearstsenijkundige Staatstoezicht en de Veeartsenijkundige Politie in Nederlandsch-Indie. Staatsblad 1913 No. Amboina. Staatsblad 1921 No. Pisang. Ordonansi tentang Peraturan Guna Mencegah Pemasukan Bubuk Buah Kopi ke Pulau-pulau Sulawesi dan Daerah-daerah Kekuasaannya. Manado. Staatsblad 1917 No.3. Staatsblad 1924 No. Ordonansi tentang Perubahan dan Penambahan Lebih Lanjut Peraturan mengenai Pengawasan Pemerintah dalam Bidang Kehewanan dan Polisi Kehewanan di Hindia Belanda (Nadere Aanvulling en Wijziging van het Reglement op heat Veeartsenijkundige Staatstoezicht en de Veertsenijkundige Politie in Nederlandsch. 4. Manado (Verbod op de Uitvoer van Pisang Vruchten. Ordonansi tentang Ikhtisar dan Perbaikan Peraturan-peraturan tentang Pemasukan bahan Tumbuhan Hidup Guna Mencegah Penularan Penyakit dan Hama Tumbuhan Budidaya di Hindia Belanda (Samenvatting en Herziening van de Regelen op de Invoer van Levend Plantenmateriaal. 9). Knollen of Delen daarvan uit Celebes en Onderhorigheden. 9. 5. Timor dan Daerah-daerah Kekuasaannya (Matregelen ter Voorkoming van den Invoer van den Koffiebessenboeboek op de Eilanden. 7. Staatsblad 1936 No. Kehewanan di Hindia Belanda (Wijziging en Aanvulling van het Reglement op het Veearstsenijkundige Staatstoezicht en de Veeartsenijkundige Politie in Nederlandsch-Indie. 6. Ordonansi tentang Larangan Pengeluaran Buah Pisang. Staatsblad 1923 No. Behorende tot Celebes en Ondehorigheden Manado. Bali dan Lombok. 598). Tumbuhan. 10.

13. Ordonansi tentang Perubahan Ordonansi tentang Peninjauan Kembali Ketentuan-ketentuan tentang Pengawasan Pemerintah dalam Bidang Kehewanan dan Polisi Kehewanan (Staatsblad 1912 No. 427. 451) (Wijziging van het Reglement op de Veeartsenijkundige Overheidsbemoeienis en de Veeartsenijkundige Politie en van de Hondsdolheids Ordonnantie. Disahkan di Jakarta pada tanggal 8 Juni 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 8 Juni 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA MOERDIONO . 14. Ordonansi tentang Perubahan Ordonansi dalam Staatsblad 1926 No. Ordonansi Pengangkutan Kentang Antarpulau (Ordonnantie Interinsulair Vervoer Aardappelen). Staatsblad 1926 No. Staatsblad 1926 No. Pasal 34 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 715) sepanjang mengenai karantina hewan. Staatsblad 1938 No. memerintahkan pengundangan Undangundang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 427. 427). Agar setiap orang mengetahuinya. van ZiekLen en Plagen op Cultuurgewassen in Nederlandsch-Indie.11. 523). mengenai Ikhtisar dan Perbaikan Peraturan-peraturan tentang Pemasukan Bahan-bahan Tumbuhan Hidup (Wijziging van de Ordonnantie in Staatsblad 1926 No. 699). Staatsblad 1932 No. Ordonansi tentang Ketentuan-ketentuan baru mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Anjing Gila (Rabies) di Hindia Belanda (Nieuwe Bepalingen ter Voorkoming en Bestrijding van Hondsdolheid (Rabies) in Nederlandsch-Indie. Staatsblad 1936 No. 432) dan Ordonansi tentang Ketentuan-ketentuan Baru mengenai Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Anjing Gila (Staatsblad 1926 No. 451) sepanjang yang mengatur karantina hewan. Houdende Samenvatting en Herziening van de Regelen op den Invoer van Levend Plantenmateriaal. 12.

serta masih terbatasnya kemampuan melakukan pengawasan. ikan. diperlukan antisipasi dan kesiagaan yang tinggi agar penyebaran hama dan penyakit serta organisme pengganggu tersebut dapat dicegah. dan tumbuhan merupakan modal dasar pembangunan nasional yang sangat penting dalam rangka peningkatan taraf hidup. baik kuantitas maupun kualitas atau dapat mengakibatkan musnahnya jenis-jenis hewan. hama dan penyakit ikan. hama dan penyakit ikan. maka peluang penyebaran hama dan penyakit serta organisme pengganggu tersebut cukup besar. Sesuai dengan ketentuan internasional. perlu dijaga dan dilindungi kelestariannya. serta organisme pengganggu tumbuhan. telah menjadi rintangan alami bagi penyebaran hama dan penyakit serta organisme pengganggu ke atau dari suatu area ke area lain. Bahkan beberapa penyakit hewan dan ikan tertentu dapat menimbulkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat. Kerusakan tersebut sangat merugikan bangsa dan negara karena akan menurunkan hasil produksi budidaya hewan. dan tumbuhan oleh Pemerintah. Salah satu ancaman yang dapat merusak kelestarian sumberdaya alam hayati tersebut adalah serangan hama dan penyakit hewan. DAN TUMBUHAN I. ikan. dan tumbuhan. Upaya mencegah masuknya ke dalam. UMUM Tanah Air Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang kaya akan sumberdaya alam hayati berupa aneka ragam jenis hewan. hama dan penyakit ikan. penangkalan. ikan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1992 TENTANG KARANTINA HEWAN. IKAN. dan organisme pengganggu tumbuhan. Hal tersebut akan sangat membayakan kelestarian sumberdaya alam hayati dan kepentingan ekonomi nasional. Oleh karena itu. Oleh karena itu. serta organisme pengganggu tumbuhan yang memiliki potensi merusak kelestarian sumberdaya alam hayati tersebut dilakukan melalui karantina hewan. serta organisme pengganggu tumbuhan dari wilayah negara Republik Indonesia. dan tersebarnya dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia hama dan penyakit hewan. hama dan penyakit ikan. penyelenggaraan . kemakmuran serta kesejahteraan rakyat. serta organisme pengganggu tumbuhan yang berbahaya. Kondisi geografis wilayah negara Republik Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan terpisah oleh laut. bangsa Indonesia juga memiliki kewajiban untuk mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan. ikan atau tumbuhan tertentu yang bernilai ekonomis dan ilmiah tinggi. Bahwa wilayah negara Republik Indonesia masih bebas dari berbagai jenis hama dan penyakit hewan. hama dan penyakit ikan. Dengan makin meningkatnya mobilitas manusia atau barang yang dapat menjadi media pembawa hama dan penyakit hewan. Oleh karena itu. dan pengamanan.

Demikian pula hukum nasional yang menjadi landasan penyelenggaraan karantina hewan. biakan organisme. Beberapa ordonansi warisan pemerintah kolonial yang sampai sekarang masih digunakan sebagai dasar penyelenggaraan kegiatan karantina hewan. telor. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum dalam bentuk undang-undang sebagai dasar penyelenggaraannya. kuku. Undang-undang Nomor. ikan. Pentingnya peranan karantina hewan. dan tumbuhan dalam suatu Undangundang. ikan. susu. dipandang perlu untuk mengatur secara lengkap karantina hewan. bahan biologik. Sehubungan dengan hal-hal di atas. ikan. dan tumbuhan merupakan salah satu wujud pelaksanaan kewajiban internasional tersebut. bahan pembuat makanan ternak dan/atau ikan. ikan. 6 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. atau tumbuhan. kompos atau media pertumbuhan tumbuhan lainnya. tidak secara lengkap atau konkrit mengatur masalah karantina hewan. Angka 7 Pengertian hewan. makanan ikan. termasuk hewan yang dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. II. dendeng. dan tumbuhan dewasa ini yaitu Undang-undang Nomor 2 Tahun 1961 tentang Pengeluaran dan Pemasukan Tanaman dan Bibit Tanaman. kulit yang disamak setengah proses. tulang. tanduk. ikan.karantina hewan. . dan tumbuhan di Indonesia isinya sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. tepung tulang. Angka 8 Pengertian bahan asal hewan termasuk diantaranya daging. serta Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. atau tumbuhan. dan vektor. sarana pengendalian hayati. Angka 9 Pengertian hasil bahan asal hewan termasuk diantaranya daging rebus. bulu. mani. tanah. sehingga tidak mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul di bidang perkarantinaan hewan.dan tumbuhan memerlukan landasan hukum yang jelas. kulit. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 sampai angka 5 Cukup jelas Angka 6 Termasuk pengertian benda lain diantaranya bahan patogenik. ikan.ikan.

dan tumbuhan harus semata-mata ditujukan untuk melindungi kelestarian sumber daya alam hayati hewan. termasuk ikan yang dilindungi Angka 11 Pengertian tumbuhan termasuk tumbuhan yang dilindungi. g. usus. ikan bersirip (Pisces). kecuali rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya di dalam air (Algae). pupuk hewan dan organ-organ. kura-kura. pesut. rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya di dalam air (Algae). berarti penyelenggaraan karantina hewan. serta cairan tubuh hewan. biawak. penyu. buaya. kerang. bulu babi dan sebangsanya (Echinodermata). kepiting dan sebangsanya (Crustacea). bulu hewan. lumba-lumba. biota perairan lainnya yang ada kaitannya dengan jenis-jenis tesebut di atas. ular air dan sebangsanya (Reptilia). Angka 10 Pengertian ikan meliputi : a. tiram. jaringan. siput dan sebangsanya (Mollusca). ikan. cumi-cumi. darah. b. paus. i. c. tripang. e. hama dan penyakit ikan karantina. Pasal 3 Huruf a Cukup jelas . j. dan tumbuhan dari serangan hama dan penyakit hewan karantina. ikan. f.tulang. kelenjar. ubur-ubur dan sebangsanya (Coelenterata). kodok dan sebangsanya (Amphibia). Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Pasal 2 Dengan dianutnya asas kelestarian sumberdaya alam hayati hewan. dan tidak untuk tujuan-tujuan lainnya. dan tumbuhan. h. ikan. duyung dan sebangsanya (Mammalia). rajungan. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina. udang. gurita. kuku dan tanduk. d.

Pasal 6 Dianggap telah dimasukkan ke suatu area dari area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia apabila telah dibebaskan dari tempat-tempat dilakukannya tindakan karantina atau telah dilalulintasbebaskan di area tujuan di dalam wilayah negara Republik Indonesia. Pasal 7 Ayat (1) Dianggap telah dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia apabila telah dimuat dalam suatu alat angkut di tempat-tempat pengeluaran untuk dibawa ke suatu tempat lain di luar wilayah negara Republik Indonesia. Ayat (2) Cukup jelas . atau pulau. Dianggap telah dikeluarkan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia apabila telah dimuat dalam suatu alat angkut di tempat-tempat pengeluaran untuk dibawa ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia. Dianggap telah dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia apabila telah dibebaskan dari tempat-tempat. atau kelompok pulau di dalam wilayah negara Republik Indonesia yang dikaitkan dengan pencegahan penyebaran hama dan penyakit dan organisme pengganggu.Huruf b Pengertian area meliputi daerah dalam suatu pulau. dilakukannya tindakan karantina atau telah dilalulintasbebaskan di dalam wilayah negara Republik Indonesia. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Sertifikat kesehatan dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.

pengenaan tindakan karantina di negara ketiga. atau c. Perlakuan secara fisik. pemberian perlakuan tertentu terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. atau media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina. atau organisme pengganggu tumbuhan. biologi dan lain-lain. atau d. kimia. atau b. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Perlakuan dalam ayat ini merupakan tindakan membebaskan atau menyucihamakan media pembawa dari hama dan penyakit hewan. hama dan penyakit ikan karantina. . pemanasan. organisme pengganggu tumbuhan karantina. media pembawa hama dan penyakit ikan karantina.Pasal 8 Kewajiban tambahan yang ditetapkan oleh Pemerintah antara lain berupa : a. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina di negara asal. yang dilakukan dengan cara fisik. hama dan penyakit ikan. antara lain berupa radiasi. atau organisme pengganggu tumbuhan karantina yang akan dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia di negara tertentu apabila alat angkut yang membawanya transit di negara tersebut. Pasal 9 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Tindakan karantina dalam ayat ini dapat dikenakan setelah dilakukan pemeriksaan pendahuluan terhadap dokumen barang yang kemudian disesuaikan dengan daftar hama dan penyakit ikan karantina. larangan diturunkannya media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. keharusan melengkapi dengan sertifikat tertentu untuk pemasukan media pembawa tertentu. hama dan penyakit ikan karantina. dan pendinginan.

dan perlakuan secara biologi antara lain dengan serum dan vaksin. demam kuning (yellow fever). sedangkan pembebasan masuknya disertai sertifikat pelepasan. b. hama dan penyakit ikan karantina. petugas karantina di tempat pemasukan atau pengeluaran melakukan koordinasi dengan dokter kesehatan pelabuhan. Pembebasan keluarnya disertai sertifikat kesehatan. typhus bercak wabah. d. pes (plague). demam balik-balik (louse borne relapsing fever). c. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Pembebasan dalam tindakan karantina mencakup pembebasan ke luar atau masuknya media pembawa hama dan penyakit hewan karantina. f. yaitu : a. e. serta dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia.perlakuan secara kimia. typhus exanthematicus infectiosa (louse borne typhus). dan khemoterapeutik. antara lain dengan pestisida. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penyakit karantina yang membahayakan kesehatan manusia diantaranya meliputi penyakit karantina sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut dan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara. Apabila dalam pemeriksaan media pembawa hama dan penyakit hewan karantina atau hama dan penyakit ikan karantina ditemukan penyakit karantina. kolera (cholera). . antibiotika. cacar (smallpox). dan organisme pengganggu tumbuhan karantina dari atau ke dalam wilayah negara Republik Indonesia.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Ketentuan ini menegaskan. ikan. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Sertifikat pelepasan dikeluarkan oleh petugas karantina sesuai bidangnya masing-masing. .Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Persyaratan karantina belum seluruhnya dipenuhi apabila misalnya belum dilengkapi dengan sertifikat kesehatan atau surat keterangan tertentu sebagai kewajiban tambahan. dan tumbuhan dari segala tuntutan hukum. bahwa pemusnahan yang dilakukan membebaskan instansi dan petugas yang bertanggung jawab di bidang karantina hewan. Khusus sertifikat pelepasan karantina hewan dikeluarkan oleh dokter hewan petugas karantina.

kade yang letaknya di dalam daerah pelabuhan laut. Pasal 20 Ayat (1) Tindakan karantina di tempat pemasukan dan/atau pengeluaran di luar instalasi karantina dilakukan antara lain di kandang. pelabuhan penyeberangan. ikan. gudang atau tempat penyimpanan barang pemilik. dan tumbuhan memerlukan biaya yang cukup besar sehingga dipandang perlu memberikan sebagian biaya tersebut kepada pihak pengguna jasa dan/atau sarana karantina yang disediakan oleh Pemerintah. alat angkut. dan pos perbatasan dengan negara lain. bandar udara. kantor pos. pelabuhan sungai. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Cukup jelas Pasal 23 Pasal 24 .Ayat (2) Sertifikat kesehatan dikeluarkan oleh petugas karantina sesuai bidangnya masing-masing. Khusus sertifikat kesehatan karantina hewan dikeluarkan oleh dokter hewan petugas karantina. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Penyelenggaraan karantina hewan.

tumbuhan. Pasal 26 sampai pasal 34 Cukup jelas __________________________________ . sisa makanan hewan. ikan.Pasal 25 Termasuk dalam pengertian media pembawa lain adalah sampah. antara lain sisa-sisa makanan yang mengandung bahan asal hewan. dan kotoran hewan.

yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. 3501 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan. 24 Tahun 1992 Tentang : Penataan Ruang Oleh Nomor Tanggal Sumber : : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 24 TAHUN 1992 (24/1992) 13 OKTOBER 1992 (JAKARTA) LN 1992/115. c. b. TLN NO. . dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. dan di udara. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan. Menimbang: a. perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri. dilindungi. di lautan. sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang.Undang Undang No.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037).Mengingat: 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Pasal 5 ayat (1). sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234). Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Dacrah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104. . UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368). 5. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: 3. 2. dan Pasal 33 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043). Pasal 20 ayat (1). Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Kcamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51.

pelayanan sosial.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. dan sumber daya buatan. tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 8. ruang lautan. dan kegiatan ekonomi. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi ulama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 9. pelayanan jasa pemerintahan. 11. baik direncanakan maupun tidak. dan ruang udara sebagai. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. 10. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. 6. 2. dan kegiatan ekonomi. 4. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. 7. . Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. pemanfaatan ruang. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber sumber daya manusia. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan. 3. satu kesatuan wilayah. 5. pelayanan sosial. dan pengendalian pemanfaatan ruang.

keterbukaan. b. keadilan. c. dan berkelanjutan. 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna. dan sejahtera. 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. persamaan. 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan kcamanan. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas.BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. berhasil guna. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya. 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. b. selaras. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu. dan perlindungan hukum. serasi. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. . seimbang. berbudi luhur. berdaya guna dan berhasil guna.

(2) Setiap orang berhak untuk: a. pemanfaatan ruang. kawasan perkotaan. c. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan melipuli kawasan perdesaan. (3) . DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) (2) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 5 (1) (2) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan pengendalian pemanfaatan ruang. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. dan kawasan tertentu. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang. PEMANFAATAN. BAB IV PERENCANAAN. Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional. mengetahui rencana tata ruang. b.

mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. serasi. dan seimbang antara perkcmbangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat. b.Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional. Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undangundang. (2) (3) (2) (2) . selaras. juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. penataan ruang kawasan perkotaan. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan. dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. di samping meliputi ruang daratan. Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi. selaras.

(3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. lingkungan sosial. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. . meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya.c. dan pengelolaan pembangunan. lingkungan buatan. lingkungan alam. Pasal 9. pembiayaan. Pasal 12 (1) (2) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 11 (4) Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. c. b. tahapan. dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. b. lingkungan buatan. dan interaksi antar lingkungan. pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam. serta pembinaan kemampuan kelembagaan. dan lingkungan sosial.

tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung. fungsi dan estetika lingkungan.Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang meliputi tata guna tanah. Ketcntuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dimensi waktu. tata guna air. teknologi. ayat (2). b. tata guna udara. keselarasan. keserasian. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya. Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. serta kualitas ruang. sosial budaya. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. (2) (3) (4) (2) (3) . Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang. dan tata guna sumber daya alam lainnya. serta fungsi pertahanan keamanan.

tata guna udara. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menhormati. hak penduduk sebagai warganegara. tata guna air. diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 18 (1) (2) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. pola pengelolaan tata guna tanah. pemantauan. Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. dan evaluasi. b.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. (2) (2) . yang didasarkan atas rencana tata ruang. Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. tata guna air.

Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (3) (4) . c. d. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. peta wilayah Kabupaten Dacrah Tingkat II. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (2) kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. norma dan kriteria pemanfaatan ruang. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. mewujudkan keterpaduan. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. keterkaitan. Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. b. b. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. c. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor. c. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. penetapan kawasan lindung. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. b. yang meliputi: a. c. kawasan budi daya. dan kawasan tertentu.BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. b. kawasan budi daya.

yang meliputi : a. tata guna udara. perindustrian. c. d. arahan pengelolaan kawasan perdesaan. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor. b. keterkaitan. f. dan kawasan tertentu. energi. pengairan. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. dan tata guna sumber daya alam lainnya. dan kawasan lainnya. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. b. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. telekomunikasi. arahan pengembangan kawasan permukiman. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. pertanian. d. Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Dacrah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. stuktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (2) (3) . tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. kehutanan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan prasarana pengelolaan lingkungan. pertambangan. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. e. c. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. c. g. kawasan perkotaan. tata guna air. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. pariwisata. b. arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi.(5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. mewujudkan keterpaduan. arahan kebijaksanaan tata guna tanah.

keterkaitan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. energi. (2) (3) . penatagunaan air. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. penatagunaan udara. b. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. kawasan perkotaan. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. prasarana pengelolaan lingkungan. e. sistem prasarana transportasi. pengelolaan kawasan perdesaan. b. telekomunikasi. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. d. c. pengairan. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. b. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. dan kawasan tertentu. Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. yang meliputi: a. c. penatagunaan tanah. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. c.(4) (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. d. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. mewujudkan keterpaduan.

pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. (4) (5) (6) penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. e. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan. (2) (3) BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) (2) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tata cara. Ketentuan lebihlanjut mengenai penetapan kawasan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. . b. Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. pedoman. mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun.d. mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.

terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a.(3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. dan pelatihan. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketcntuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan. Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. Lembaga. bimbingan. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). pendidikan. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan iktikad baik. b. (2) (3) . Pasal 27 (1) (2) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat 1.

maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 29 (1) (2) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang. (2) (3) (4) BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. . Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting.

memerintahkan pengundangan Undangundang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA MOERDIONO . Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no. 13) dinyatakan tidak berlaku.BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168.

maka haruslah jelas batas. hubungan manusia dengan manusia. Secara geografis letak dan kedudukan negara indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. keselarasan. musim. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. hubungan manusia dengan alam. Oleh karena itu. di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan. UMUM 1. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. . Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. Akan tetapi. ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG II. maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa Keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. dan keseimbangan. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan iklim tropisnya. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara 2. lautan. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. Dengan demikian. selaras. dilindungi dan dikelola. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. ruang harus dimanfaatkan secara serasi.

Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem. fungsi lokasi. budaya. 3. Oleh karena itu. jenis kegiatan. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang 4.terkoordinasi. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. keselarasan. akan meningkatkan keserasian. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. ekonomi. Ruang meliputi ruang daratan. pertahanan keamanan. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. pertahanan keamanan. sosial. diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. budaya. . sumber daya buatan. ruang lautan. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. terpadu. lapisan di bawah kerak bumi. sosial. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. kawah gunung berapi. ekonomi. dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas. Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. kualitas ruang. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. dan estetika lingkungan.

perikanan. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. transmigrasi. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. kehutanan. dan tempat. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang. pembangunan daerah. perdesaan. Seiring dengan maksud tersebut. maka pelaksanaan pembangunan. Landas Kontinen Indonesia. Untuk itu. kepariwisataan. pertanahan.yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. pemanfaatan ruang. harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. pemanfaatan ruang. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. jalan. perindustrian. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundang-undangan mengenai perairan. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. waktu. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. c. dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Selain itu. perhubungan. dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara . telekomunikasi. b. pertambangan. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. perumahan dan permukiman. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. perkotaan. d. b. Dengan demikian. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a.

ruang lautan. Ruang daratan. Potensi itu di antaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan . dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. II. Dalam Undang-undang ini. Dengan demikian. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah editorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah editorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara. yang merupakan ruang di luar ruang udara. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya. dan ruang udara. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah.c. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi. dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa. Tahun 1990 Nomor 49. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). ruang lautan. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35. ruang lautan. Ruang daratan. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi.

rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam.pangan. industri. garis langit. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. gua. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. sebagai jalur perhubungan. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. suaka alam. tempat kerja. fungsi. pusat lingkungan. dan pertanian. danau. Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. industri. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. Angka 9 Cukup jelas . sebagai sumber energi. lingkungan sosial. Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. pertambangan. dan jalan lokal. sebaran permukiman. dan sebagainya. jarak antar bangunan. jalan kolektor. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. sebagai obyek wisata. prasarana jalan seperti jalan arteri. gunung dan sebagainya. pusat pemerintahan.

modal. selaras. dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. Dalam mempertimbangkan aspek waktu. penelitian. daya tampung lingkungan. Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. antar daerah. Yang dimaksud dengan serasi. daya dukung lingkungan. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. ruang lingkup wilayah yang direncanakan. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu. tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. . rehabilitasi. dan geopolitik. meningkatkan fungsi kawasan lindung. optimasi. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor.Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. b. dan lainlain yang sejenis. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. keselarasan. obyek wisata lingkungan. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah.

pemanfaatan ruang. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal.Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. industri. tempat peristirahatan. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. ruang lautan. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. atau badan hukum. budi daya pertanian. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang. dan atau ruang. b. dan kegiatan pembangunan permukiman. yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. integrasi. dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. dan sebagainya. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. perdagangan. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. pemberi saran. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. dan ruang udara. pariwisata. daerah. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. budi daya kehutanan. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang. ikan. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. dan pengendalian pemanfaatan ruang. hak untuk . dan lain-lain yang sejenis. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. tambang. kelompok orang. Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. bahan galian.

Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. arsitektur bangunan. fungsi lingkungan seperti wilayah resapan air. estetika lingkungan seperti bentang alam. dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktorfaktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. Pasal 6 Cukup jelas . Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. siklus udara. jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. siklus hidrologi. hak untuk mengelola pariwisata bahari. Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian. hak pemeliharaan taman laut. pertanaman. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. konservasi flora dan fauna. penambangan lepas pantai. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi.melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. dan sebagainya. keselarasan. hak untuk melakukan angkutan laut. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. dan sebagainya. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. Bagi orang yang tidak mampu. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang.

sempadan sungai. kawasan pertahanan keamanan. kawasan industri. taman nasional. kegiatan pemerintahan. sempadan pantai. c. kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. taman hutan raya dan taman wisata alam. kawasan berikat. kawasan suaka alam. kawasan sekitar mata air. kawasan resapan air. Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan.Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. dan kegiatan ekonomi. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a. kegiatan pelayanan sosial. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendirisendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. kawasan sekitar danau/waduk. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. kawasan bergambut. kawasan pertanian. kawasan tempat beribadah. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. kawasan pantai berhutan bakau. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas . kawasan permukiman. kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. kawasan pariwisata. tempat kegiatan pertanian. dan kawasan rawan bencana alam. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. dan kegiatan ekonomi. b. dan sebagainya. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. kegiatan pelayanan sosial. kawasan pendidikan.

Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. kawasan resapan air. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). wilayah perbatasan. kawasan perkotaan.Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. kawasan hutan lindung. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan kawasan tertentu. Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya. koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Ayat (2) Cukup jelas . kawasan resapan air. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kawasan perkotaan. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. taman nasional. kawasan hutan lindung. wilayah perbatasan. Kecuali kawasan tertentu. dan kawasan tertentu. serta kawasan perdesaan. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. taman nasional. serta kawasan perdesaan. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai.

dan pertahanan keamanan. baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. lingkungan. Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. dan daerah latihan militer. pariwisata. . Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). suaka alam.Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. budaya. Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. di daratan. Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu. ekonomi. wilayah perbatasan. di lautan dan di udara dengan negara tetangga. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. sosial. penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup.

agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan. budaya. dan fungsi wilayah serta kawasan.Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. penetapan tata ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. d. Dalam menjalankan peranannya itu. daya dukung dan daya tampung lingkungan. kedalaman rencana. kelompok orang. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. Ayat (2 ) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. atau badan hukum. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional. b. bertitik tolak dari data. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. informasi. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. perumusan perencanaan tata ruang. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Oleh karena itu. serta fungsi pertahanan keamanan. Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala. sosial. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. . Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. c.

maka hak orang harus tetap dilindungi. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. . dimensi ruang dan waktu. fungsi lindung. c. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. lingkungan alam non-hayati. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. dan estetika lingkungan.yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. sumber daya alam. dampak terhadap lingkungan. administrasi. jalan kereta api. b. Sistem prasarana meliputi. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. budi daya. antara lain. sosial. d. ekonomi. informasi. lingkungan buatan. teknologi. Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. antara lain. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. sumber daya buatan.Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. budaya. Perencanaan sturktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa. c. air kotor. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. pertahanan keamanan. sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: a. Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. sistem prasarana. jaringan transportasi seperti jalan raya.

minyak bumi. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. penatagunaan air. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. prioritas. flora. Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. . Meskipun demikian. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. jaringan telepon. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. pola pengelolaan tata guna udara. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. tata guna air. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. udara. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang. potensi meteorologi klimatologi. Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan.pengatusan air hujan. air. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. fauna. energi angin. penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. dan geofisika. penatagunaan udara. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. energi surya. jaringan gas. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Tata guna tanah. pola pengelolaan tata guna air.

ketidaktersediaan sarana dan prasarana. listrik. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. hak memperoleh. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. atau b. . dan pemanfaatan tanah. Dalam pemanfaatan tanah. misalnya dalam bentuk: a.Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. udara. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama. imbalan. dan mempertahankan ruang hidupnya. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah. air. penatagunaan air. Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi klimatologi. telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. air. dan geofisika. pemanfaatan udara. udara. atau b. udara. air minum. pengenaan pajak yang tinggi. di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. pemanfaatan air. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham. air. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil. Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. penatagunaan udara. dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. penggunaan.

dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.000. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. sanksi perdata. Dengan demikian. mengawasi.Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan sanksi pidana. meskipun Undangundang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. . Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 19 Ayat (I) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1.000. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a. Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda.

b. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a.000. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur Dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. d. dan stabilitas. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. daya dukung dan daya tampung lingkungan. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk . dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. kawasan budi daya. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. keanekaragaman kegiatan pembangunan. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar. c. pertumbuhan. e. pemerataan.b. dan kawasan lainnya. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. kawasan budi daya.000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan. termasuk penetapan kawasan tertentu. data dan informasi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung.000. c. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional.000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50.

Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batas-batas tertentu. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan.penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima . Meskipun demikian. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. c. b. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. dan udara. laut. Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional.

Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang. pemerataan. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. b. h. c. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Selanjutnya. . data dan informasi. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Dengan demikian. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. g. i. f. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. pertumbuhan. pokok permasalahan kepentingan nasional. d. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. e. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14.Tahun. dan stabilitas. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.

Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus . Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. persediaan dan peruntukan tanah. c. kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I.Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I. daya dukung dan daya tampung lingkungan. g. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. keselarasan dengan aspirasi masyarakat. b. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat 11 memperhatikan antara lain: a. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. data dan informasi. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal II dan Pasal 14. f. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. udara dan sumber daya alam lainnya. e. d. air. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan.

dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. penatagunaan tanah. energi. penatagunaan air. dan pengelolaan lingkungan. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Ayat (6) Cukup jelas . pengairan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. telekomunikasi.

Pemilikan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. mempunyai dampak penting. dan mencegah kerusakan lingkungan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. penguasaan. b. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. Dengan demikian. Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan . c. pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan.

kewenangan. Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA).dalam kaitannya dengan besaran kawasan. dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat. Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. menjunjung tinggi. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundangundangan. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai. Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri. atau kebiasaan yang berlaku. mengakui. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. lokasi. dan kegiatan yang ditetapkan. . hukum adat. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang.

proses. jaringan pengatusan. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. dan kebiasaan yang berlaku. serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. kualitas ruang. hukum adat.Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang. pendidikan. prosedur. pemanfaatan ruang. sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. jaringan penyediaan air baku. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. jaringan air minum. standar dan kriteria teknis. bimbingan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan iktikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai bukti-bukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain. pengendalian pemanfaatan ruang. Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. jaringan telepon. Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. . Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. jaringan air kotor.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Ayat (2) Cukup jelas . Lembaga. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen.Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan. pemanfaatan ruang. Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. dan Badan-badan Pemerintah lainnya. Lembaga. pemanfaatan ruang. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. pemanfaatan ruang. Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. Sebaliknya Departemen. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut.

Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan. pariwisata. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. pertanian. Sebagai contoh. sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. lintas daerah. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti . kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. perdagangan. dan terpusat. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia.Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional. antara lain. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. permukiman. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. dan sebagainya. pariwisata. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. permukiman. pariwisata. peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuanketentuanya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti. industri. dikoordinasikan oleh Menteri. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan. dan sebagainya. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. kawasan perumahan menjadi kawasan industri. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini.

dan penyusunannya dilakukan secara berurutan.dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas ______________________________________ . Akan tetapi. untuk menghindari kevakuman. Pada prinsipnya. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya. sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undangundang ini. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci.

3556 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Menimbang: a. yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi. . 5 Tahun 1994 Tentang : Pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati) Oleh Nomor Tanggal Sumber : : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 5 TAHUN 1994 (5/1994) (JAKARTA) LN 1994/41. berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. e. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk b.Undang Undang No. khususnya di Indonesia. diakui pula adanya peranan penting wanita. TLN NO. jenis dan genetik yang mencakup hewan. bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya. c. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem. d. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. dan jasad renik (microorganism). bahwa keanekaragaman hayati di dunia. tumbuhan. perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan.

Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggeris dan terjemahannya dalam bahasa . Brazil. f. g. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. Pasal 11. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI). bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd.Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. MOERDIONO . Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undangundang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

menegaskan sebagai berikut : a. pemberian rangsangan. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa "bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. dan ekosistem. jenis spesies. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. c. perdamaian abadi dan keadilan sosial. mengendalikan pencemaran. merehabilitasi kerusakan lingkungan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I. mencerdaskan kehidupan bangsa. antara lain. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. Penelitian dan . penegakan hukum. Sumber daya alam di darat. b. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesarbesar kemakmuran rakyat. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

f. g.d. pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. terutama bagi pengembangan pertanian. jo Pengumuman Pemerintah Republik . dan kesehatan terus ditingkatkan. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. b. seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994). Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. Inventarisasi. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. A. e. perdamaian abadi. pemantauan. terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru. industri. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antarnegara berkembang. Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. dilandasai prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. perlu terus ditingkatkan.

Brazil. h.c. f. Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia tanggal 17 Pebruari 1969. i. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). . k. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). d. e. pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. g. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). B. Dengan demikian. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. j. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. l. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115.

Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. ikut hadir pula Masyarakat . 15/34 tanggal 25 Mei 1989. Swiss. c. Konferensi di Rio de Janeiro. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. Sidang terakhir diadakan di Nairobi. Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INC-CBD) di Madrid. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. b. Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. Kenya. 14/17 tanggal 17 Juni 1987. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991. Governing Council. f. pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. dengan keputusan No. Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. Brazil. g. Kenya. Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut : a. yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. Brazil. Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi. Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992. Selain negara-negara ini. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. Kenya. Fifth Session of INC-CBD di Geneva. e. Kenya. pada tanggal 5 Juni 1992. pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. Kenya. d. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. Spanyol.

Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. 3. Lingkup Kedaulatan. 12. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan. Pertukaran Informasi. 9. Identifikasi dan Pemantauan. 16. Akses pada Sumber Daya Genetik. Mekanisme Pendanaan. Konservasi Ex-situ. 2. Tindakan Insentif.Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan BangsaBangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. c. 8. yang di antaranya berisi saran. . dan penyempurnaan. 19. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. keberatan. d. Konservasi In-situ. usul perubahan. 20. 21. Kerja sama Internasional. 5. 22. 15. C. Selain itu. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. Penelitian dan Pelatihan. Keempat resolusi tersebut ialah : a. 17. Prinsip. yaitu : 1. Interim Financial Agreement. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. 10. 11. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. 18. 6. 7. Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. b. 13. 4. Pengertian. Sumber Dana. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. 14. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. Tujuan. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity.

41. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. Teks Asli : Lampiran Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring). dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonessia pada khususnya. 30. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2. Depositari. 24. 25. Pengaturan Sekretariat Interim. Amandemen Konvensi atau Protokol. Penandatanganan. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati.23. 2. Hal Berlakunya. Pengesahan Protokol. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1. Lampiran II : Bagian 1. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. Pengaturan Pendanaan Interim. 29. b. Teknis dan Teknologis. Aksesi. 40. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggeris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. 33. 27. 28. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia. D. Keberatan-keberatan (Reservasi). Penerimaan atau Persetujuan. 36. 37. Pengesahan dan Lampiran Amandemen. Sekretariat. 38. 32. Konsiliasi (Conciliation). Laporan. 35. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. Hak Suara. 42. Penarikan Diri. Ratifikasi. 31. 26. 34. 39. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian . Penyelesaian Sengketa. Konferensi Para Pihak.

. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional. kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari. 8. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. penyuluhan. program.3. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. d) Pengembangan pendidikan. dan peningkatan peran serta masyarakat. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional. Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antarsektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. Dengan meratifikasi Konvensi ini. 5. pelatihan. Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia. di dalam dan di luar negeri. 7. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. 4. 6. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. c) Pertukaran Informasi.

II. Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG .UNDANG NO. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. ilmiah dan ekonomi penting. 2. ilmiah atau budaya yang penting. Jenis dan komunitas yang terancam. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. budaya atau ilmiah. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan. seperti halnya jenis indikator. 3. dan Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. atau mempunyai nilai sosial. pertanian atau nilai ekonomis yang lain. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. mempunyai nilai penting secara ekonomi. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggeris. . atau yang mewakili.

sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut. . atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut. Pasal 3 1. Dalam persengketaan antara dua pihak.UNDANG NO. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. atas permintaan salah satu pihak. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. Pasal 2 1. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. 3. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. dengan persetujuan bersama. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua. penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. 2.LAMPIRAN II UNDANG .

pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. informasi dan fasilitas yang berkaitan. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka. akan : (a) (b) Memberi sidang segala dokumen.2. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat. merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. karena keadaan khusus kasus tersebut. . dan Membantu sidang. bilamana perlu. dan hukum internasional. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. semua protokol yang berkaitan. Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. dengan permintaan salah satu pihak. Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini.

pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. Sebelum membuat keputusan akhirnya.Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut. Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbanganpertimbangan yang menjadi dasarnya. Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya. Pasal 12 Keputusan. sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat. .

Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan . Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. kecuali bilamana pihakpihak yang bersengketa tidak setuju. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah. Bagian 1 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi. Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak.

Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut. Dewan tersebut harus.permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. menetapkan prosedurnya sendiri. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya. dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya. Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik. ______________________________________ .

sebagaimana diatur dalam United Nations Framework Convention on Climate Change.Undang Undang No. Brazil. Menimbang: a. bahwa komitmen negara-negara maju untuk menyediakan bantuan dana dan alih teknologi kepada negara-negara berkembang yang merupakan tanggung jawab negara-negara maju. Brazil. . bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Framework Convention on Climate Change tersebut dengan Undangundang. bahwa Indonesia perlu ikut aktif mengambil bagian bersama-sama dengan anggota masyarakat internasional lainnya dalam upaya mencegah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. e. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945. bahwa perubahan iklim bumi yang diakibatkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan memberikan pengaruh merugikan pada lingkungan hidup dan kehidupan manusia. c. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). f. bahwa Indonesia mempunyai peranan strategis dalam struktur iklim geografi dunia karena sebagai negara tropis ekuator yang mempunyai hutan tropis basah terbesar di dunia dan negara kepulauan yang memiliki laut terluas di dunia mempunyai fungsi sebagai penyerap gas rumah kaca yang besar. bahwa dalam rangka upaya mencegah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. bahwa dalam upaya mencegah berlanjutnya perubahan iklim yang merugikan lingkungan hidup dan kehidupan manusia. masyarakat internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyetujui untuk mengupayakan pengurangan emisi gas rumah kaca yang diproyeksikan pada tahun 1990. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Framework Convention on Climate Change oleh sejumlah besar negara di dunia. termasuk Indonesia. b. Pasal 11. TLN NO. 6 Tahun 1994 Tentang: Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 6 TAHUN 1994 (6/1994) Tanggal : 1 AGUSTUS 1994 (JAKARTA) Sumber : LN 1994/42. karena itu Pemerintah telah menandatangani United Nations Framework Convention on Climate Change di Rio de Janeiro. 3557 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. pada tanggal 5 Juni 1992. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia. g. d.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 1 Mengesahkan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim) yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggeris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. ttd.Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintah-kan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MOERDIONO . MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI PERUBAHAN IKLIM).

c. air serta sumber daya alam lainnya dalam satu kesatuan tata lingkungan yang harmonis dan dinamis serta ditunjang oleh pengelolaan perkembangan kependudukan yang serasi. seperti pertanian dan kehutanan. Dalam upaya a. b. Tata ruang perlu dikelola berdasarkan pola terpadu melalui pendekatan wilayah dengan memperhatikan sifat lingkungan alam dan lingkungan sosial. perdamaian abadi. Dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. merehabilitasi kerusakan lingkungan. Tata guna lahan dikembangkan dengan memberikan perhatian khusus pada pencegahan penggunaan lahan pertanian produktif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menegaskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Dalam pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Selain itu. manusia dapat berperan dalam mengendalikan sistem iklim melalui pengelolaan sumber daya alam. dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat". dikembangkan pola tata ruang yang menyerasikan tata guna lahan. pengendalian pencemaran dapat digunakan berbagai perangkat ekonomi dengan . Pengelolaan iklim terus dikembangkan guna menunjang pembangunan di berbagai sektor. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup dimuka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Dalam mengembangkan tata guna air perhatian khusus perlu diberikan pada penyediaan air yang cukup dan bersih serta berkesinambungan. bumi dan air yang dapat membentuk sistem iklim tersebut. Pasal tersebut mengandung esensi amanat yang mendasar bagi pelaksanaan pembangunan nasional Indonesia. pencegahan kemerosotan mutu dan kelestarian air. dan keadilan sosial. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Pembinaan dan penegakan hukum untuk mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan ditingkatkan. Setiap perubahan keadaan dan fungsi lingkungan berikut segenap unsurnya perlu terus dinilai dan dikendalikan secara seksama agar pengamanan dan perlindungannya dapat dilaksanakan setepat mungkin. Untuk itu perlu dikembangkan pola interaksi timbal balik antara atmosfer.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI PERUBAHAN IKLIM) I. serta penyelamatan daerah aliran sungai. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. Lingkungan hidup yang rusak atau terganggu keseimbangannya perlu direhabilitasi agar kembali berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. mencerdaskan kehidupan bangsa. Ketetapan Mejelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. antara lain menegaskan sebagai berikut: a. Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa "Bumi dan air. mengendalikan pencemaran.

g. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). c. limbah industri. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994) jo. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. dan limbah berbahaya serta beracun perlu ditingkatkan agar kualitas lingkungan hidup yang lestari dapat terjamin keberlanjutannya. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46.pemanfaatan teknologi yang sesuai agar kualitas lingkungan hidup dapat dipertahankan. Kerjasama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia tanggal 17 Februari 1969. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). f. Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992 tentang Pengesahan Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer. dan Montreal Protocol on . Peraturan Perundang-undangan yang Berlaku di Indonesia yang Berkaitan dan Mendukung Konvensi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). d. e. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Sarana dan prasarana dalam pengelolaan limbah termasuk limbah rumah tangga. j. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. perdamaian abadi. Peraturan Perundangundangan yang berlaku antara lain: a. b. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antar bangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. d. h. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100. i. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. A. e. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495). Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. k.

Latar Belakang Lahirnya Konvensi Resolusi Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 44/228 tanggal 22 Desember 1989 pada Konferensi Lingkungan dan Pembangunan Perserikatan BangsaBangsa dan Resolusi Nomor 43/53 tanggal 6 Desember 1988. B. Pelatihan dan Kesadaran Masyarakat. Komitmen. Penelitian dan Pengamatan Sistemik. Setiap negara diharapkan mengkoordinasikan tindakan dalam upaya penanggulangan perubahan iklim. Tujuan. Badan Pembangunan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations Environment Programme = UNEP) dan badan-badan lain. 6. Pengertian. 2.Substances that Deplete the Ozone Layer as Adjusted and Amended by the Second Meeting of the Parties (Lembaran Negara Tahun 1922 Nomor 50). Di samping itu. Pendidikan. 4. pengesahan konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. dan ketentuanketentuan terkait dalam Resolusi Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa Nomor 44/172 tanggal 19 Desember 1989 tentang Implementasi Rencana Kerja Nyata untuk Menanggulangi Penggurunan (desertification). Nomor 45/212 tanggal 21 Desember 1990. terutama pada daerah pesisir daratan rendah. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Framework Convention on Climate Change. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 26 pasal sebagai berikut: 1. pada ketentuan-ketentuan resolusi Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 44/206 tanggal 22 Desember 1989 dibahas pula tentang kemungkinan akibat yang merugikan dari kenaikan permukaan laut pada pulau-pulau dan daerah pesisir. dan Indonesia telah meratifikasinya dengan Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992. Dengan demikian. Untuk itu perlu disiapkan peraturan-peraturan yang menyangkut perubahan iklim serta mendorong masyarakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Para pihak pada Konvensi menyadari adanya analisis yang sangat berharga yang telah dilakukan oleh banyak negara mengenai perubahan iklim dan sumbangan penting dari Organisasi Meteorologi Dunia (the World Meteorological Organization = WNO). Indonesia merupakan anggota Organisasi Meteorologi Dunia telah melakukan aksesi Convention of the World Meteorological Organization (WMO) pada tanggal 16 Nopember 1950. Prinsip-prinsip. C. serta organisasi dan badan-badan di dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pertukaran hasil penelitian ilmiah dan koordinasi riset. 5. . Nomor 44/207 tanggal 22 Desember 1989. Dalam rangka itu telah dipertimbangkan pula Konvensi Wina tentang Perlindungan Lapisan Ozon 1985 dan Protokol Montreal tentang Bahan-bahan yang Dapat Merusak Lapisan Ozon yang telah disesuaikan dan diamandemenkan pada tanggal 29 Juni 1990. 3. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas: a. dan Nomor 44/169 tanggal 19 Desember 1991 telah membahas masalah iklim global.

22. 18. Komunikasi Informasi Mengenai Pelaksanaan. 8. Penyelesaian Sengketa. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa: a. Di dalam negeri. Lampiran : Lampiran I: Daftar Negara Maju dan Negara Ekonomi Transisi. 9. Penerimaan. Pengaturan Sementara. 14. 17. khususnya pada masalah perubahan iklim bumi yang dampaknya akan menimbulkan keprihatinan bersama umat manusia. Keberatan-keberatan (Reservasi). Sekretariat. akan menunjukkan bahwa Indonesia turut bertanggung jawab terhadap masalah lingkungan global. Depositari. b. Mekanisme Pembiayaan. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi ini. sebagaimana yang sudah secara konsisten dilakukan oleh Negara Republik Indonesia. b. Manfaat lain. Kita menyadari bahwa kegiatan manusia telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan peningkatan ini akan memperbesar efek gas rumah kaca yang pada gilirannya berakibat naiknya rata-rata pemanasan permukaan bumi dan atmosfer yang dapat mengganggu ekosistem. 13. c. 12. Di luar negeri. Teks Asli. 19. Yang dimaksud dengan "Negara Ekonomi Transisi" adalah negara yang sedang mengalami masa transisi dari sistem ekonomi dengan perencanaan terpusat menuju sistem ekonomi pasar. Ratifikasi. Di antara Komunikasi tersebut yang penting ialah berupa pertukaran ilmiah dan . Penandatangan. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah dan Teknologis. Protokol. D. Konferensi Para Pihak. 20. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam Bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. Penarikan Diri. 21. 11. Penyelesaian Masalah-masalah Pelaksanaan. 25. Hak Suara. 10. 15. Perubahan-perubahan terhadap Konvensi. akan menambah lagi perangkat hukum yang lebih menjamin terselenggaranya pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Badan Pendukung Pelaksanaan. Persetujuan dan Perubahan Lampiran-lampiran pada Konvensi. lebih terbuka kesempatan yang sangat luas bagi Indonesia untuk selalu bekerja sama dan berkomunikasi dengan negara-negara lain dan organisasi-organisasi internasional melalui komunikasi informasi yang dilembagakan oleh Konvensi. 16. Ketentuan-ketentuannya akan menjadi bagian dari hukum nasional yang mengatur masalah iklim dan lingkungan.7. 24. Lampiran II: Daftar Negara Industri Maju yang Berkewajiban Menyediakan Pendanaan. 26. 23. Hal Berlakunya. Persetujuan atau Aksesi.

kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber alam yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum internasional mempunyai hak berdaulat untuk mengeksploitasi sumber alam sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masingmasing sehingga tidak merusak lingkungan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pasal 2 Cukup jelas ___________________________ . II. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. Dengan meratifikasi Konvensi ini.teknologi karena Konvensi juga membentuk Badan Pendukung untuk nasihat ilmiah dan teknologi yang terbuka bagi semua pihak dan multidisiplin.

c. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Oleh Nomor Tanggal Sumber : : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 23 TAHUN 1997 (23/1997) 19 SEPTEMBER 1997 (JAKARTA) LN 1997/68. bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi. dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan. bahwa lingkungan hidup Indonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara. Menimbang: a. selaras. bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup.Undang Undang No. d.3699 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. . b. TLN NO. bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam UndangUndang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila.

termasuk manusia dan perilakunya. Pasal 20 ayat (1). f. dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.e. bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. d. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda. bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a. dan makhluk hidup. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP. b. c. daya. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. keadaan. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). 2. dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan .

Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan. Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang. dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya. yang memadukan lingkungan hidup. dan produktivitas lingkungan hidup. pemeliharaan. zat. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup. 15. 6. Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia. 7. atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. 8. 14. energi. energi. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan . 10. kesejahteraan. termasuk sumber daya. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana. ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan. dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. 11. baik hayati maupun nonhayati. energi. Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat. energi. pengawasan. 4. 12. pemulihan. agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan. 5. penataan. 9. dan pengendalian lingkungan hidup. 13. sumber daya alam.3. pengembangan. Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat. stabilitas. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup. zat. pemanfaatan. dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. dan sumber daya buatan.

sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya. kesehatan. 19. 24. 25. dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup. 21. dan/atau badan hukum. 18. 20. dan yurisdiksinya. Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup. 23. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. baik secara langsung maupun tidak langsung. dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup. . dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 22. Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi. dan/atau kelompok orang. Pasal 2 Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang. Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Orang adalah orang perseorangan.16 17. tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan. kesehatan. baik secara langsung maupun tidak langsung. jumlahnya. hak berdaulat.

terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup. terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan. terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. keserasian. dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup. TUJUAN. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. c. . d. e. tercapainya keselarasan. KEWAJIBAN. DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) (3) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.BAB II ASAS. f. asas berkelanjutan. dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. BAB III HAK. terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana. DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara. b. tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.

(5) menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. peruntukan. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. keberdayaan masyarakat. (2) BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. dan kemitraan. b. Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. (3) menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial. (4) memberikan saran pendapat. dan pemanfaatan kembali sumber daya alam.Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas. (2) menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat. mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subjek hukum lainnya serta perbuatan hukum (2) . termasuk sumber daya genetika. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. dilakukan dengan cara: (1) meningkatkan kemandirian. pengelolaan lingkungan hidup. mengatur penyediaan. c. penggunaan. Pemerintah: a.

mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.d. e. dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pasal 10 (2) (3) (4) Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban: (1) mewujudkan. mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial. adat istiadat. perlindungan sumber daya alam non hayati. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. cagar budaya. mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup. menumbuhkan. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengelolaan lingkungan hidup. . serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang. dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing. dikoordinasi oleh Menteri. termasuk sumber daya genetika. terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan. perlindungan sumber daya buatan. menumbuhkan. keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. (2) mewujudkan. Pasal 9 (1) Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama. masyarakat.

Pasal 11 (4) (5) (6) (7) (8) (9) (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. preventif. menumbuhkan. diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah.(3) mewujudkan. mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif. b. menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup. Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat: a. dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Pasal 12 (2) (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup. mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. . memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup. fungsi. Ketentuan mengenai tugas. mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat. mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat. wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. (2) BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah.(2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 13 (1) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) (3) (2) .

Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi: menghasilkan. Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. mengedarkan. Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 17 (1) (2) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. mengangkut.Pasal 16 (1) (2) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/atau kegiatan. (3) (3) BAB VI PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. menyimpan. menggunakan dan/atau membuang. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup. (2) (3) .

Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. (2) (5) . pendapat masyarakat. b. rencana tata ruang. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut. Pasal 20 (1) (2) (3) (4) Tanpa suatu keputusan izin. c.Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan: a. Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia.

penanggulangan. mengambil contoh. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melakukan tindakan penyelamatan. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. memeriksa peralatan. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. Pasal 23 (3) Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. meminta keterangan. (2) (3) . dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.(2) Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memasuki tempat tertentu.

Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya.(2) Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. Pasal 26 (3) (4) (5) (1) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 27 (2) (1) (2) (3) Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan. Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan. Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. . didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. Tindakan penyelamatan.

Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri.Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh (2) (3) . Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (3) (4) (5) BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. mewajibkan penanggung jawab usaha (2) . Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1: Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. Pasal 33 (1) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak. Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup.

b. hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. Paragraf 2 :Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. c. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. (3) adanya bencana alam atau peperangan. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini: a. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. . dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun.dan/atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. Paragraf 3 : Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. (2) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. (2) Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi.

Paragraf 4 : Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (1) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. (2) (3) . Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. c.(2) Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. berbentuk badan hukum atau yayasan. b. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. kecuali biaya atau pengeluaran riil. Pasal 38 (2) (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup.

e. b. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan hidup. pembukuan. dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup. catatan. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. masyarakat. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. catatan. c. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.Pasal 39 Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti. (2) (3) . BAB VIII PENYIDIKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. melakukan pemeriksaan atas pembukuan. f. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. d.

000. Pasal 43 (1) Barang siapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.000.00 (seratus juta rupiah). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat.000.00 (lima ratus juta rupiah). energi. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. diancam dengan pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp100.(4) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.000. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp150. ke dalam udara atau ke dalam air permukaan.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).000.000. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun dan denda paling banyak Rp750.000. (5) BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barang siapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. (2) (2) . Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Ekslusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak Rp500. sengaja melepaskan atau membuang zat. Pasal 42 (1) Barang siapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.000.00 (seratus lima puluh juta rupiah).

perseroan.000. perserikatan.000. barang siapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).melakukan impor. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun dan denda paling banyak Rp450. ekspor. (3) (2) .000.000.00 (seratus lima puluh juta rupiah). padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. yayasan atau organisasi lain. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga.000. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp150. mengangkut. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat.000.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah). menjalankan instalasi yang berbahaya.00 (tiga ratus juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000. diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp300. memperdagangkan. Pasal 44 (1) Barang siapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.00 (seratus juta rupiah). menyimpan bahan tersebut.

yayasan atau organisasi lain. perseroan. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus. yayasan atau organisasi lain. perseroan. dan/atau (4) mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. dan/atau (5) meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa: (1) perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. perserikatan. perserikatan atau organisasi lain. dan/atau (2) penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. perserikatan. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama. (2) (3) (4) . perserikatan. perserikatan. perseroan. perserikatan. yayasan atau organisasi lain. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. dan dilakukan oleh orang-orang. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. dan/atau (6) menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama tiga tahun. perseroan. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. perseroan. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. dan/atau (3) perbaikan akibat tindak pidana.Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. perseroan. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. yayasan atau organisasi lain. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum.

Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi. BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) Selambat-lambatnya lima tahun sejak diundangkannya Undangundang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin.Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undangundang ini. Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor. (2) BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini.

UMUM (1) Lingkungan hidup Indonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmatNya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd.Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya. Pancasila. keserasian. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun . dan keseimbangan. sebagai dasar dan falsafah negara. memerintahkan pengundangan Undangundang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MOERDIONO PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP I.

Antara manusia. masyarakat. Secara hukum. serasi. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat.manusia dengan manusia. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. penggunaan sumber daya alam harus selaras. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. Akan tetapi. Dalam hal ini lingkungan hidup Indonesia tidak lain adalah wilayah. (2) Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. dan keseimbangan yang dinamis. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. Dalam pada itu. dan manusia sebagai pribadi. dan keseimbangan subsistem. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu (3) . Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. yang mempunyai aspek sosial. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. budaya. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. ekonomi. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. dan seimbang dengan fungsi lingkungan hidup. Oleh karena itu. dan bernegara dalam segala aspeknya. keserasian. manusia dengan alam. keserasian. Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. berbangsa. Dengan demikian. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. Oleh karena itu.

sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. organisasi lingkungan hidup. (4) Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial. Di samping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. termasuk sumber daya alam. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. seperti lembaga swadaya masyarakat. dan peran anggota masyarakat. Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri. industrialisasi juga menimbulkan ekses. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah (5) . selaras. Sementara itu. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. Untuk itu. Di pihak lain. Secara global. dan lain-lain. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. yang di antaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. Pada kenyataannya. kesehatan. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. Oleh karena itu. keterbukaan. kelompok masyarakat adat.

yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan lainnya. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara No. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin.meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam (7) . dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. tegas. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. Oleh karena itu. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. kesehatan. (6) Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. Menyadari hal tersebut di atas. 12.

Dengan demikian. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. Selain itu. Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan. dan lain-lain. tetapi juga mampu berperan secara nyata. semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. industri. berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas. seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. permukiman. hukum perdata maupun hukum pidana. penataan ruang. Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan. Di samping itu. tata guna tanah. dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat. kehutanan. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. pertambangan dan energi. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. baik hukum administrasi. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa. Di sisi lain. dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. Sementara itu. permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum.pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. Sebagai penunjang hukum administrasi. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. .

II. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas kerterbukaan. Di lain sisi. keterangan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 sampai angka 25 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara. di samping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. harus dilestarikan. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. di satu sisi. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. maka kemampuan lingkungan hidup. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang .

Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. baik dengan cara mengajukan keberatan. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijakan lingkungan hidup. dan rencana tata ruang. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Misalnya.terbuka untuk diketahui masyarakat. . laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup. baik pemantuan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan.

Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas . baik secara kultural maupun secara struktural. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindak lanjuti. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum.

Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan. dunia usaha. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penataan . dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan.Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. Misalnya. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. aspirasi. perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. yaitu pemerintah. serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia. bimbingan.

Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. . Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. seperti ISO 14000. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keaneragaman potensi sumber daya alam hayati dan non-hayati. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdayaguna dan berhasilguna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi alam maupun kemampuan daerah. integrasi. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional. Huruf f sampai huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah.baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi. Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup.

. tugas. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang.Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang. d banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. situasi dan kondisi daerah. pembiayaan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. b luas wilayah penyebaran dampak. f berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. peralatan. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) sampai ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. c intensitas dan lamanya dampak berlangsung. e sifat kumulatif dampak. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. Bagi . pengumpulan. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. pemanfaatan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. pengangkutan. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri.

dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan. yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. dengar pendapat. Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah. . Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Dalam hal tertentu.usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah. dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin.

baik tanah.Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup. air maupun udara. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Pasal 22 Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang. Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan. Pasal 25 Ayat (1) sampai ayat (5) Cukup jelas . Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini. kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem.

sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan. Dalam pengertian ini. misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Pasal 30 Ayat (1) . Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya.Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban. Pasal 29 Ayat (1) Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum.

Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. Pihak ketiga netral ini harus : (1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa. (2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa lingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. dan semua putusan . b. (3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan. yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian. (4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya.Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a.

arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan. Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup. . Ayat (2) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar. pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. memulihkan fungsi lingkungan hidup. Selain diharuskan membayar ganti rugi. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability.

melainkan hanya terbatas gugatan lain. yaitu : . fakta hukum.Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ayat (2) Huruf a sampai huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah.

Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan.a. Pasal 39 Pasal 40 Cukup jelas Ayat (1) sampai ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 sampai pasal 52 Cukup jelas . baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara. c. Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup. tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud. b. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup.

e. merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara. c. oleh karena itu keberadaannya harus dipertahankan secara optimal. Bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8) sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip penguasaan dan pengurusan hutan. Bahwa hutan. adil. arif. dan tuntutan perkembangan keadaan. serta bertanggung-gugat. sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa Indonesia.Undang Undang No. terbuka. adat dan budaya. bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang. diurus. dan dimanfaatkan secara optimal. Bahwa pengurusan hutan yang berkelanjutan dan berwawasan mendunia. dijaga daya dukungnya secara lestari. b. bijaksana. karenanya wajib disyukuri. serta dijaga kelestariannya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. c. d. dan d perlu ditetapkan undang-undang tentang Kehutanan yang baru. memberikan manfaat serbaguna bagi umat manusia. sehingga perlu diganti. b. profesional. dan diurus dengan akhlak mulia. cenderung menurun kondisinya. 41 Tahun 1999 Tentang : Kehutanan Oleh Nomor Tanggal : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 41 TAHUN 1999 (41/1999) 30 September 1999 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. serta tata nilai masyarakat yang berdasarkan pada norma hukum nasional. . Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. harus menampung dinamika aspirasi dan peran serta masyarakat. Bahwa hutan. sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat.

5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104. dan Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945. 3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Tambahan Lembaran Negara Nomor 2034). serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501).Mengingat : 1. Pasal 27. Pembagian. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. 4. Pasal 5 ayat (1). Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Pasal 20 ayat (1). MEMUTUSKAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KEHUTANAN. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Pengelolaan Nomor 68. Pengaturan. 6. . Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah.

kawasan hutan. Hutan adat adalah hutan masyarakat hukum adat. 4. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu. 6. Hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. 8. mencegah banjir. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. 5. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. mencegah intrusi air laut. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya lama hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya.BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu Pengertian Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. 3. mengendalikan erosi. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan. 2. dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu. negara yang berada dalam wilayah 7. 9. dan memelihara kesuburan tanah. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. .

Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu. serta jasa yang berasal dari hutan.Menteri adalah menteri yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang kehutanan. .Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu. sosial. meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai.Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. dan keterpaduan. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Bagian Kedua Asas dan Tujuan Pasal 2 Penyelenggaraan kehutanan berasaskan manfaat dan lestari. budaya. 11. b. yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan. fungsi lindung. menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional. 13. 12. yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.Hasil Hutan adalah benda-benda hayati.Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu. kebersamaan. 14. dan fungsi produksi untuk mencapai manfaat lingkungan. dan ekonomi. keterbukaan. Pasal 3 Penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan : a. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. nonhayati dan turunannya. keadilan. yang seimbang dan lestari. mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi konservasi. 15.10. kerakyatan. yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemya. c.

serta mengatur perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan. Bagian Ketiga Penguasaan Hutan Pasal 4 1. Penguasaan hutan oleh Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberi wewenang kepada pemerintah untuk : a. 2. menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan. sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya. hutan negara. b. Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. kawasan hutan. Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat. 1. berkeadilan. c. mengatur dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan.d. serta tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. menetapkan status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan dan kawasan hutan sebagai bukan kawasan hutan. meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara partisipatif. dan berwawasan lingkungan sehingga mampu menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat perubahan eksternal. hutan hak. dan e. . dan b. dan mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum antara orang dengan hutan. BAB II STATUS DAN FUNGSI HUTAN Pasal 5 1. Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari : a. dan hasil hutan.

hutan lindung. Pasal 8 1. dan c. yaitu : a. b. 2. fungsi produksi 1. taman buru. dan c. Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok sebagai berikut : a. Apabila dalam perkembangannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan tidak ada lagi. kawasan hutan pelestarian alam. b. c. maka hak pengelolaan hutan adat kembali kepada Pemerintah. fungsi lindung. kawasan hutan suaka alam. Hutan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. b. Hutan mempunyai tiga fungsi. dan hutan produksi. dapat berupa hutan adat. 3. .1. Pemerintah dapat menetapkan kawasan hutan tertentu untuk tujuan khusus. Pasal 6 1. hutan konservasi. Pemerintah menetapkan status hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan hutan adat ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya. fungsi konservasi. Pasal 7 Hutan konservasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a terdiri dari : a.

b. Penetapan kawasan hutan dengan tujuan khusus.2. diatur dengan Peraturan Pemerintah. Untuk kepentingan pengaturan iklim mikro. dan pengawasan. dan resapan air. c. Pengurusan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pengurusan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperlukan untuk kepentingan umum seperti : a. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. bertujuan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya serta serbaguna dan lestari untuk kemakmuran rakyat. c. penelitian dan pengembangan pendidikan dan latihan. estetika. Pasal 9 1. pendidikan dan latihan. 2. meliputi kegiatan penyelenggaraan: a. serta penyuluhan kehutanan. 2. d. dan religi dan budaya. BAB III PENGURUSAN HUTAN Pasal 10 1. di setiap kota ditetapkan kawasan tertentu sebagai hutan kota. perencanaan kehutanan pengelolaan hutan peneltian dan pengembangan. . Kawasan hutan dengan tujuan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 1. tidak mengubah fungsi pokok kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.

serta memperhatikan Pasal 12 Perencanaan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf a. Perencanaan kehutanan dilaksanakan bertanggung-gugat. flora dan . meliputi : a. serta lingkungannya secara lengkap. Perencanaan kehutanan dimaksudkan untuk memberikan pedoman dan arah yang menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. 2. Inventarisasi hutan dilaksanakan untuk mengetahui dan memperoleh data dan informasi tentang sumber daya. partisipatif. b. c. penatagunaan kawasan hutan. potensi kekayaan alam hutan. 2. dan e. Bagian Kedua Inventarisasi Hutan Pasal 13 1. inventarisasi hutan. kekhasan dan aspirasi daerah. pembentukan wilayah pengelolaan hutan. d. penyusunan rencana kehutanan. secara transparan. Inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan survei mengenai status dan keadaan fisik hutan.BAB IV PERENCANAAN KEHUTANAN Bagian Kesatu Umum Pasal 11 1. terpadu. pengukuhan kawasan hutan.

dan sistem informasi kehutanan. Berdasarkan inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. ayat (2). penyususnan rencana kehutanan. 1. dan ayat (3) antara lain dipergunakan sebagai dasar pengukuhan kawasan hutan. serta kondisi sosial masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. b. Bagian Ketiga Pengukuhan Kawasan Hutan Pasal 14 1. penunjukan kawasan hutan. 2. 3. d. Kegiatan pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 2. . ayat (2).fauna. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. inventarisasi hutan tingkat wilayah. Hasil inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Inventarisasi hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari : a. sumber daya manusia. c. Pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dilakukan melalui proses sebagai berikut : a. dilakukan untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan. dan inventarisasi hutan tingkat unit pengelolaan. b. penataan batas kawasan hutan. penyususnan neraca sumber daya hutan. inventarisasi hutan tingkat nasional. inventarisasi hutan tingkat daerah aliran sungai. Pasal 15 1. pemerintah menyelenggarakan pengukuhan kawasan hutan.

Pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan rencana tata ruang wilayah. Penatagunaan kawasan hutan meliputi kegiatan penetapan fungsi dan penggunaan kawasan hutan. b. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan tingkat unit pengelolaan dilaksanakan dengan mempertimbangkan karakteristik lahan. dan penetapan kawasan hutan. c. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan dilaksanakan untuk tingkat : a. 2.c. 1. sosial budaya. Bagian Kelima Pembentukan Wilayah Pengelolaan Hutan Pasal 17 1. pemetaan kawasan hutan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. fungsi hutan. ekonomi. Berdasarkan hasil pengukuhan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan Pasal 15. kabupaten/kota. kondisi daerah aliran sungai. kelembagaan masyarakat setempat termasuk masyarakat hukum adat dan batas administrasi pemerintahan. 1. 3. pemerintah menyelenggarakan penatagunaan kawasan hutan. Bagian Keempat Penatagunaan Kawasan Hutan Pasal 16 1. d. . dan unit pengelolaan. tipe hutan. propinsi.

ditetapkan oleh Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. penetapannya diatur secara khusus oleh Menteri. guna optimalisasi manfaat lingkungan. Perubahan peruntukan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis. Pasal 18 1. 2. . 2. Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30% (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional. Pemerintahan menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai. pemerintah menyusun rencana kehutanan. 3. Pasal 19 1. Berdasarkan hasil inventarisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. manfaat sosial. Ketentuan tentang tata cara perubahan peruntukan kawasan hutan dan perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.2. dan dengan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan kondisi sosial masyarakat. Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh Pemerintah dengan didasarkan pada hasil penelitian terpadu. dan manfaat ekonomi masyarakat setempat. Bagian Keenam Penyusunan Rencana Kehutanan Pasal 20 1. Pembentukan unit pengelolaan hutan yang melampaui batas administrasi pemerintahan karena kondisi dan karakteristik serta tipe hutan.

dan d. Tata hutan meliputi pembagian kawasan hutan dalam blok-blok berdasarkan ekosistem. tipe. c. 2. b. Bagian Kedua Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Pasal 22 1. dan menurut fungsi pokok kawasan hutan. rehabilitasi dan reklamasi hutan.2. perlindungan hutan dan konservasi alam. fungsi dan rencana pemanfaatan hutan. tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan. pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Rencana kehutanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun menurut jangka waktu perencanaan. skala geografis. BAB V PENGELOLAAN HUTAN Bagian Kesatu Umum Pasal 21 Pengelolaan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b. 3. Blok-blok sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibagi pada petakpetak berdasarkan intensitas dan efisiensi pengelolaan. meliputi kegiatan: a. Tata hutan dilaksanakan dalam rangka pengelolaan kawasan hutan yang lebih intensif untuk memperoleh manfaat yang lebih optimal dan lestari. 3. .

Pasal 24 Pemanfaatan kawasan hutan dapat dilakukan pada semua kawasan hutan kecuali pada hutan cagar alam serta zona inti dan zona rimba pada taman nasional. bertujuan untuk memperoleh manfaat yang optimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya. dan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu. izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan. 5. Pemanfaatan hutan lindung dapat berupa pemanfaatan kawasan. pemanfaatan jasa lingkungan. Bagian Ketiga Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan Pasal 23 Pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf b. . Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah. ayat (3). Pasal 25 Pemanfaatan kawasan hutan pelestarian alam dan kawasan hutan suaka alam serta taman buru diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan blok dan petak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3).4. 2. dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. Pasal 26 1. Pemanfaatan hutan lindung dilaksanakan melalui pemberian izin usaha pemanfaatan kawasan. disusun rencana pengelolaan hutan untuk jangka waktu tertentu.

badan usaha milik swasta Indonesia badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah. 1. perorangan. 1. dan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu. koperasi. c. Izin usaha pemanfaatan kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) dapat diberikan kepada : a. Pasal 29 1. b. perorangan. serta pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu. Pemanfaatan hutan produksi dilaksanakan melalui pemberian izin usaha pemanfaatan kawasan. izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu. perorangan. Pemanfaatan hutan produksi dapat berupa pemanfaatan kawasan. koperasi. pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu. Izin pemungutan hasil hutan bukan kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2). 2. dapat diberikan kepada : a. Izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2). b. izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan. izin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu. d. pemanfaatan jasa lingkungan. b. dapat diberikan kepada : a. Izin usaha pemanfaatan kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dapat diberikan kepada : . koperasi. Pasal 28 1. izin pemungutan hasil hutan kayu.Pasal 27 1.

koperasi. perorangan. d. Izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dapat diberikan kepada : a. badan usaha milik swata Indonesia. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah. b. b. c. Izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dapat diberikan kepada : a. koperasi. b. koperasi. 1. Izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dapat diberikan kepada : a. perorangan. koperasi. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah. 1. . badan usaha milik swata Indonesia. b. b. badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah. Izin usaha pemanfaatan hasil hutan bukan kayu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dapat diberikan kepada : a. perorangan. c.a. 1. perorangan. koperasi. d. badan usaha milik swata Indonesia. d. c. 1. perorangan.

pemanenan. Pembatasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pengaturan. Untuk menjamin asas keadilan. memelihara. dan melestarikan hutan tempat usahanya. pembinaan dan pengembangan pengolahan hasil hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Menteri. Pasal 34 Pengelolaan kawasan hutan untuk tujuan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dapat diberikan kepada : a. pemeliharaan. pemerataan. setiap badan usaha milik negara. Pasal 31 1. 3. dan pemasaran hasil hutan. Usaha pemanfaatan hasil hutan meliputi kegiatan penanaman. Pasal 32 Pemegang izin sebagaimana diatur dalam Pasal 27 dan Pasal 29 berkewajiban untuk menjaga. . izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu. maka izin usaha pemanfaatan hutan dibatasi dengan mempertimbangkan aspek kelestarian hutan dan aspek kepastian usaha. lembaga pendidikan. dan lestari. dan badan usaha milik swasta Indonesia yang memperoleh izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan. 2. Pasal 33 1. 2. diwajibkan bekerja sama dengan koperasi masyarakat setempat. Pemanenan dan pengolahan hasil hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh melebihi daya dukung hutan secara lestari.Pasal 30 Dalam rangka memberdayakan ekonomi masyarakat. b. masyarakat hukum adat. badan usaha milik daerah. pengolahan.

2. provisi. dikenakan iuran izin usaha.c. Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan di dalam kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung. 4. Pasal 36 1. Pasal 35 1. Pasal 38 1. lembaga penelitian. Pemanfaatan hutan hak dilakukan oleh pemegang hak atas tanah yang bersangkutan. Setiap pemegang izin usaha pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Pasal 29. d. sesuai dengan fungsinya. 2. ayat (2). dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Setiap pemegang izin usaha pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Pasal 29 wajib menyediakan dana investasi untuk biaya pelestarian hutan. 3. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada yat (1). Pasal 37 1. sesuai dengan fungsinya. Setiap pemegang izin usaha pemungutan hasil hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Pasal 29 hanya dikenakan provisi. 2. Pemanfaatan hutan adat yang berfungsi lindung dan konservasi dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya. Pemanfaatan hutan adat dilakukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan. lembaga sosial dan keagamaan. Pemanfaatan hutan hak yang berfungsi lindung dan konservasi dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu fungsinya. . dan dana jaminan kinerja. dana reboisasi.

Pemberian izin pinjam pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis dilakukan oleh Menteri atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. mempertahankan. Rehabilitasi hutan dan lahan diselenggarakan melalui kegiatan : a. Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan. Pasal 29. reboisasi. Pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka. dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung. 5. dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga. pemeliharaan. Pasal 34. 4. c. penghijauan. Pasal 37. 3. . Bagian Keempat Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan Pasal 40 Rehabilitasi hutan dan lahan dimaksudkan untuk memulihkan. Pasal 41 1. dan Pasal 38 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pertambangan dilakukan melalui pemberian izin pinjam pakai oleh Menteri dengan mempertimbangkan batasan luas dan jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan. Pasal 36.2. produktivitas. b. Pasal 39 Ketentuan pelaksanaan tentang pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27.

Kegiatan rahabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di semua hutan dan kawasan hutan kecuali cagar alam dan zona inti taman nasional. pada lahan kritis dan tidak produktif. 2. Pasal 42 1. wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan dan konservasi. dan lahan dilaksanakan berdasarkan kondisi 2. atau penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis. pihak lain atau pemerintah. mengelola.d. Setiap orang memiliki. 2. Penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan diutamakan pelaksanaannya melalui pendekatan partisipatif dalam rangka mengembangkan potensi dan memberdayakan masyarakat. e. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pengayaan tanaman. meliputi usaha untuk memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi hutan yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya. penetapan lokasi. dan atau memanfaatkan hutan yang kritis atau tidak produktif. Pasal 44 1. Reklamasi hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c. perencanaan. 1. 3. Pasal 43 1. pelayanan dan dukungan kepada lembaga swadaya masyarakat. . 3. Kegiatan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi inventarisasi lokasi. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Dalam pelaksanaan rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pelaksanaan reklamasi. Rehabilitasi hutan spesifikasi biofisik. setiap orang dapat meminta pendampingan.

serta penyakit. kawasan hutan. ayat (2). kebakaran. kawasan hutan. dan b. masyarakat. kawasan hutan dan lingkungannya. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 4. mencegah dan membatasi kerusakan hutan. dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Pasal 47 Perlindungan hutan dan kawasan hutan merupakan usaha untuk : a. investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan. dan fungsi produksi. wajib dilaksanakan oleh pemegang izin pertambangan sesuai dengan tahapan kegiatan pertambangan. daya-adaya alam. ternak. agar fungsi lindung. dan perorangan atas hutan. Penggunaan kawasan huan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) yang mengakibatkan kerusakan hutan. Pasal 48 1. wajib dilakukan reklamasi dan atau rehabilitasi sesuai dengan pola yang ditetapkan pemerintah. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 3. hasil hutan. mempertahankan dan menjaga hak-hak negara. Bagian Kelima Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Pasal 46 Penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi alam bertujuan menjaga hutan. wajib membayar dana jaminan reklamasi dan rehabilitasi. baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. .Pasal 45 1. Pihak-pihak yang menggunakan kawasan hutan untuk kepentingan di luar kegiatan kehutanan yang mengakibatkan perubahan permukaan dan penutupan tanah. hama. 2. Pemerintah mengatur perlindungan hutan. Reklamasi pada kawasan hutan bekas areal pertambangan. tercapai secara optimal dan lestari. fungsi konservasi.

Perlindungan hutan pada hutan hak dilakukan oleh pemegang haknya. mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah. Perlindungan hutan pada hutan negara dilaksanakan oleh pemerintah. dan ayat (5) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 5. Pasal 50 1. 6. 3. ayat (2). Untuk menjamin pelaksanaan perlindungan hutan yang sebaikbaiknya. masyarakat diikutsertakan dalam upaya perlindungan hutan. izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu. Pasal 49 Pemegang hak atau izin bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan di areal kerjanya. merambah kawasan hutan. . Setiap orang yang diberikan izin usaha pemanfaatan kawasan. ayat (4). Pemegang izin usaha pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Pasal 29. 4. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan : membakar hutan. serta izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu. dilarang melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan. 3. izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan. 2. b. Setiap orang dilarang : a. d. c. serta pihak-pihak yang menerima wewenang pengelolaan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34. Setiap orang dilarang merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan. ayat (3). Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1).2. diwajibkan melindungi hutan dalam areal kerjanya.

membeli atau menjual. j. membawa.e. menerima tukar. . f. membawa. g. tanpa izin pejabat yang berwenang. melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan. atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah. menerima. Ketentuan tentang mengeluarkan. atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan. menyimpan. menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang. diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin dari pejabat yang berwenang. memotong. h. dan atau mengangkut tumbuhan dan atau satwa yang dilindungi. menguasai. membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan. menerima titipan. atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang. mengangkut. k. l.Mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah. menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat berwenang. dan mengeluarkan. m. tanpa izin Menteri. 1. membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasilhutan di dalam kawasan hutan. i. membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang.

melalui penyelenggaraan penelitian dan . mencari keterangan dan barang bukti terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan. f. diperlukan sumber daya manusia berkualitas yang bercirikan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasari dengan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. memeriksa surat-surat atau dokumen yang berkaitan dengan pengangkutan hasil hutan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya. dalam hal tertangkap tangan. Pejabat yang diberi wewenang kepolisian dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk : a. kawasan hutan. b. dan hasil hutan. c. kawasan hutan. khusus sebagaimana mengadakan patroli/perondaan di dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya. menerima laporan tentang telah terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan. e. d.Pasal 51 1. kawasan hutan. 2. maka kepada pejabat kehutanan tertentu ssuai dengan sifat pekerjaannya diberikan wewenang kepolisian khusus. Dalam pengurusan hutan secara lestari. dan membuat laporan dan menandatangani laporan tentang terjadinya tindak pidana yang menyangkut hutan. wajib menangkap tersangka untuk diserahkan kepada yang berwenang. BAB VI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. dan hasil hutan. PENDIDIKAN DAN LATIHAN SERTA PENYULUHAN KEHUTANAN Bagian Kesatu Umum Pasal 52 1. Untuk menjamin terselenggaranya perlindungan hutan. dan hasil hutan.

serta penyuluhan kehutanan yang berkesinambungan. Bagian Kedua Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pasal 53 1. 2. Penelitian dan pengembangan kehutanan dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan nasional serta budaya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengurusan hutan. pemerintah wajib menjaga kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian. serta penyuluhan kehutanan. dunia usaha. Pemerintah mendorong dan menciptakan kondisi yang mendukung peningkatan kemampuan dan menguasai. pendidikan dan latihan. wajib memperhatikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kehutanan dilakukan oleh pemerintah dan dapat bekerjasama dengan perguruan tinggi. 3. dan masyarakat. Pemerintah bersama-sama dengan dunia usaha dan masyarakat mempublikasikan hasil penelitian dan pengembangan kehutanan serta mengembangkan sistem informasi dan pelayanan hasil penelitian dan pengembangan kehutanan. 2. pendidikan dan latihan. dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan. Dalam penyelenggaraan penelitian dan pengembangan. . mengembangkan. kearifan tradisional serta kondisi sosial budaya masyarakat. pendidikan dan latihan serta penyuluhan kehutanan. Penelitian dan pengembangan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengurusan hutan dalam mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari dan peningkatan nilai tambah hasil hutan. Pasal 54 1.pengembangan. 3. 4. Dalam penyelenggaraan penelitian dan pengembangan.

4. dan masyarakat. didasari iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. profesional. Pendidikan dan latihan kehutanan dimaksudkan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia kehutanan yang terampil. 3. 3. Penyelenggaraan pendidikan dan latihan kehutanan dilakukan oleh pemerintah. dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia. 2. berdedikasi. Pemerintah mendorong dan menciptakan kondisi yang mendukung terselenggaranya pendidikan dan latihan kehutanan. jujur serta amanah dan berakhlak mulia. Penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan kehutanan atas dasar iman dantaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sadar akan pentingnya sumber daya hutan bagi kehidupan manusia. dunia usaha. Bagian Keempat Penyuluh Kehutanan Pasal 56 1. Izin melakukan penelitian kehutanan di Indonesia dapat diberikan kepada peneliti asing dengan mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku. Pemerintah wajib melindungi hasil penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kehutanan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.2. . Pendidikan dan latihan kehutanan bertujuan untuk membentuk sumber daya manusia yang menguasai serta mampu memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengurusan hutan secara adil dan lestari. Bagian Ketiga Pendidikan dan Latihan Kehutanan Pasal 55 1.

serta penyuluhan kehutanan. sehingga tujuannya dapat tercapai secara maksimal dan sekaligus merupakan umpan balik bagi perbaikan dan atau penyempurnaan pengurusan hutan lebih lanjut. 3. . Penyelenggaraan penyuluhan kehutanan dilakukan oleh pemerintah. menelusuri. 2. Pemerintah mendorong dan menciptakan kondisi yang mendukung terselenggaranya kegiatan penyuluhan kehutanan. serta penyuluhan kehutanan diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan masyarakat. Pasal 58 Ketentuan lebih lanjut tentang penelitian dan pengembangan. pendidikan dan latihan. dan menilai pelaksanaan pengurusan hutan. dunia usaha. Bagian Kelima Pendanaan dan Prasarana Pasal 57 1.2. pendidikan dan latihan. serta penyuluhan kehutanan. Pemerintah menyediakan kawasan hutan untuk digunakan dan mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan. Dunia usaha dalam bidang kehutanan wajib menyediakan dana investasi untuk penelitian dan pengembangan. BAB VII PENGAWASAN Pasal 59 Pengawasan kehutanan dimaksudkan untuk mencermati. pendidikan dan latihan.

Pasal 62 Pemerintah. Pasal 64 Pemerintah dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan hutan yang berdampak nasional dan internasional. 2. Pasal 63 Dalam melaksanakan pengawasan kehutanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1). meminta keterangan. pemerintah dan pemerintah daerah berwenang melakukan pemantauan.Pasal 60 1. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan pengawasan kehutanan. pemerintah daerah. Masyarakat dan atau perorangan berperan serta dalam pengawasan kehutanan. dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap pengelolaan dan atau pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh pihak ketiga. Pasal 61 Pemerintah berkewajiban melakukan pengawasan terhadap pengurusan hutan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Pasal 65 Ketentuan lebih lanjut tentang pengawasan kehutanan diatur dengan Peraturan Pemerintah. . dan melakukan pemeriksaan atas pelaksanaan pengurusan hutan.

melakukan pemungutan hasil kebutuhan hidup sehari-hari bersangkutan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IX MASYARAKAT HUKUM ADAT Pasal 67 1. 3. dan mendapatkan pemberdayaan kesejahteraannya. hutan untuk pemenuhan masyarakat adat yang b. . dalam rangka meningkatkan c. Dalam rangka penyelenggaraan kehutanan. Pelaksanaan penyerahan sebagian kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pengurusan hutan dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Masyarakat hukumadat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya berhak : a. pemerintah menyerahkan sebagian kewenangan kepada pemerintah daerah. 1. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 2. 2. melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan undangundang. Pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.BAB VIII PENYERAHAN KEWENANGAN Pasal 66 1.

dan dukungan kepada lembaga swadaya masyarakat. dan informasi kehutanan. Masyarakat di dalam dan di sekitar hutan berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya akses dengan hutan sekitarnya sebagai lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akibat penetapan kawasan hutan. c. b. memberi informasi. Dalam melaksanakan rehabilitasi hutan masyarakat dapat meminta pendampingan. atau pemerintah. d. Masyarakat berhak dihasilkan hutan. pelayanan. 2. Masyarakat berkewajiban untuk ikut serta memelihara dan menjaga kawasan hutan dari gangguan dan perusakan. pihak lain. saran. sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. 1. pemanfaatan hasil htan. Selain hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan serta pertimbangan dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan kehutanan baik langsung maupun tidak langsung. masyarakat dapat: a. menikmati kualitas lingkungan hidup yang 2. memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pembangunan kehutanan. .BAB X PERANSERTA MASYARAKAT Pasal 68 1. 2. mengetahui rencana peruntukan hutan. Pasal 69 1. Setiap orang berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya hak atas tanah miliknya sebagai akibat dari adanya penetapan kawasan hutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundanga-undangan yang berlaku.

Pasal 73 1. Pasal 72 Jika diketahui bahwa masyarakat menderita akibat pencemaran dan atau kerusakan hutan sedemikian rupa sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan hutan. . 3. Pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan di bidang kehutanan yang berdaya guna dan berhasil guna. 4. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan terhadap pengelolaan hutan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. organisasi bidang kehutanan berhak mengajukan gugatan perwakilan untuk kepentingan pelestarian fungsi hutan. 2. Masyarakat turut berperan serta dalam pembangunan di bidang kehutanan. BAB XI GUGATAN PERWAKILAN Pasal 71 1. Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan atau melaporkan ke penegak hukum terhadap kerusakan hutan yang merugikan kehidupan masyarakat. maka instansi pemerintah atau instansi pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang kehutanan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.Pasal 70 1. 2. Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat pemerintah dan pemerintah daerah dapat dibantu oleh forum pemerhati kehutanan.

Dalam penyelesaian sengkata kehutanan di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat digunakan jasa pihak ketiga yang ditunjuk bersama oleh para pihak dan atau pendampingan organisasi nonpemerintah untuk membantu penyelesaian sengketa kehutanan. organisasi tersebut dalam anggaran dasarnya dengan tegas menyebutkan tujuan didirikannya organisasi untuk kepentingan pelestarian fungsi hutan.2. maka gugatan melalui pengadilan dapat dilakukan setelah tidak tercapai kesepakatan antara para pihak yang bersengketa. Pasal 75 1. Penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan dimaksudkan untuk mencapai kesepakatan mengenai pengembalian suatu hak. c. 2. . BAB XII PENYELESAIAN SENGKETA KEHUTANAN Pasal 74 1. Organisasi bidang kehutanan yang berhak mengajukan gugatan sebagaimanan dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan : a. dan telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. b. 2. berbentuk badan hukum. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan. besarnya ganti rugi dan atau mengenai bentuk tindakan tertentu yang harus dilakukan untuk memulihkan fungsi hutan. Penyelesaian sengketa kehutanan dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan tidak berlaku terhadap tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 3.

Pasal 76 1. berwenang untuk : a. 2. c. kawasan hutan. dan hasil hutan. pengadilan dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas keterlambatan pelakanaan tindakan tertentu tersebut setiap hari. Selain putusan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undangundnag Hukum Acara Pidana. atau yang b. . BAB XIII PENYIDIKAN Pasal 77 1. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana yang menyangkut hutan. Penyelesaian sengketa kehutanan melalui pengadilan dimaksudkan untuk memperoleh putusan mengenai pengembalian suatu hak. Selain pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya. dan hasil hutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan hasil hutan. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana yang menyangkut hutan. Pejabat penyidaik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan atau tindakan tertentu yang harus dilakukan oleh pihak yang kalah dalam sengketa. pejabat pegawai Negeri Sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya meliputi pengurusan hutan. 2. besarnya ganti rugi. kawasan hutan. d. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan keterangan yang berkenaan dengan tindak pidana menyangkut hutan. kawasan hutan.

000. kawasan hutan. dan hasil hutan. diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000. menangkap dan menahan dalam koordinasi dan pengawasan penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 78 1.500.00 (lima milyar rupiah). g. 5. Barang siapa karena kelalaiannya melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d.000. 5. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d. 1.000. membuat dan menanda-tangani berita acara. Pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyerahkan hasil penyidikannya kepada penuntut umum. diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. meminta keterangan dan barang bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana yang menyangkut hutan.000.000.00 (satu milyar lima ratus juta rupiah). f. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana yang menyangkut hutan. 4.e. 3. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf e atau huruf f. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2).000. 1.000.000. dan hasil hutan. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. kawasan hutan. sesuai Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana. 2.00 (lima milyar rupiah).00 (lima milyar rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. h. .000.

diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 10. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf h .000.000.000.000. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf j. 13.000. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dan ayat (12) adalah pelanggaran.000. 50.00 (sepuluh milyar rupiah). 1. 10.00 (satu milyar rupiah). ayat (5).000. baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. 12. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf i.000. 8. ayat (3).000. 5.000. . diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (lima milyar rupiah).00 (satu milyar rupiah).000. diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. ayat (10). ayat (6).000.5.Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf l.000. ayat (4).000.00 (sepuluh juta rupiah). ayat (2). dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing-masing ditambah dengan 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan. tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya. ayat (9). dan ayat (3) apabila dilakukan oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha. 7. 9. dan ayat (11) adalah kejahatan. 6. 5. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan dan denda paling banyak Rp.Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1). 10. ayat (7).000.00 (lima milyar rupiah).000.Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).00 (lima puluh juta rupiah). ayat (2). Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf k.Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf m. 1.000.000. 11.

izin usaha pemanfaatan hasil hutan. apabila melanggar ketentuan di luar ketentuan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 78 dikenakan sanksi administratif. 3.14. 3. Bagi pihak-pihak yang berjasa dalam upaya penyelamatan kekayaan Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan insentif yang disisihkan dari hasil lelang yang dimaksud. atau izin pemungutan hasil hutan yang diatur dalam undang-undang ini. . dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 79 1. untuk biaya rehabilitasi.Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan atau alatalat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal ini dirampas untuk Negara. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemulihan kondisi hutan. Setiap perbuatan melanggar hukum yang diatur dalam undang-undang ini dengan tidak mengurangi sanksi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 78. 2. Kekayaan negara berupa hasil hutan dan barang lainnya baik berupa temuan dan atau rampasan dari hasil kejahatan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 dilelang untuk Negara. 2. Setiap pemegang izin usaha pemanfaatan kawasan. izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Menteri. BAB XV GANTI RUGI DAN SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 80 1. atau tindakan lain yang diperlukan. mewajibkan kepada penanggung jawab perbuatan itu untuk membayar ganti rugi sesuai dengan tingkat kerusakan atau akibat yang ditimbulkan kepada Negara.

memerintahkan pengundangan undangundang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Boschordonnantie Java en Madoera 1927. 2. sebagaimana telah diubah dengan Staatsblad Tahun 1931 Nomor 168. sepanjang tidak bertentangan dengan undangundang ini. Agar semua orang mengetahuinya.BAB XVI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 81 Kawasan hutan yang telah ditunjuk dan atau ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya undangundang ini dinyatakan tetap berlaku berdasarkan undang-undang ini. . BAB XVII KETENTUAN PENUTUP Pasal 83 Pada saat mulai berlakunya undang-undang ini maka dinyatakan yidak berlaku : 1. Staatsblad Tahun 1927 Nomor 221. Pasal 82 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan yang telah ada. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang berdasarkan undang-undang ini. terakhir diubah dengan Staatsblad Tahun 1934 Nomor 63. Pasal 84 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

MULADI LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 167 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I. LAMBOCK V.Disahkan di Jakarta. NAHATTANDS . Pada tanggal 30 September 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Ttd.

ayat (2). sumber daya air wajib dikelola dengan memperhatikan fungsi sosial. bahwa dalam menghadapi ketidakseimbangan antara ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat. dan antargenerasi. bahwa pengelolaan sumber daya air perlu diarahkan untuk mewujudkan sinergi dan keterpaduan yang harmonis antarwilayah. f. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). Pasal 22 huruf D ayat (1). bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan perubahan dalam kehidupan masyarakat sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. d. dan e perlu dibentuk undang-undang tentang sumber daya air. lingkungan hidup dan ekonomi secara selaras. Menimbang: a. ayat (3). desentralisasi. dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. c. masyarakat perlu diberi peran dalam pengelolaan sumber daya air. dan bernegara. Pasal 33 ayat (3) dan ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. b. c. e. b. . d. Pasal 18A. bahwa sejalan dengan semangat demokratisasi. antarsektor. Pasal 20 ayat (2). Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SUMBER DAYA AIR. Pasal 18. bahwa Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan keadaan. berbangsa.

Hak guna pakai air adalah hak untuk memperoleh dan memakai air. 17. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. yang berfungsi menampung. air tanah. Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan. dan air laut yang berada di darat. memantau. air hujan. 15. menyimpan. Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada sumber air yang dapat memberikan manfaat ataupun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya. 6. dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air. di atas. dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi 3. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada. tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan. 16. di atas. 8. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. Sumber daya air adalah air. Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan. 14. selanjutnya disebut Pemerintah. . 12. 7. yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. 18. Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air. Air adalah semua air yang terdapat pada. ataupun di bawah permukaan tanah. melaksanakan. dan pelepasan air tanah berlangsung. pengaliran. 9. ataupun di bawah permukaan tanah. dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air. 13. Pemerintah Pusat. 5. dan pengendalian daya rusak air. pendayagunaan sumber daya air. Hak guna air adalah hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan air untuk berbagai keperluan. Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah.000 km2. 10. 4. 2. melaksanakan. 11. Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2. dan daya air yang terkandung di dalamnya. dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. sumber air.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. sifat. memantau. termasuk dalam pengertian ini air permukaan. pendayagunaan sumber daya air. Hak guna usaha air adalah hak untuk memperoleh dan mengusahakan air. Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan. dan pengendalian daya rusak air.

Pasal 6 (1) (2) Sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pasal 3 Sumber daya air dikelola secara menyeluruh. penyediaan. pengalokasian. kemandirian. dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. pengembangan. 20. 23. Daya rusak air adalah daya air yang dapat merugikan kehidupan. dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. 19. sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan perundang-undangan. keseimbangan. lingkungan hidup. 26. Pasal 2 Sumber daya air dikelola berdasarkan asas kelestarian. kemanfaatan umum. Pemeliharaan adalah kegiatan untuk merawat sumber air dan prasarana sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air. 22. dan produktif.kebutuhan makhluk hidup. baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang. penggunaan. 25. serta transparansi dan akuntabilitas. 24. baik langsung maupun tidak langsung. . Pengelola sumber daya air adalah institusi yang diberi wewenang untuk melaksanakan pengelolaan sumber daya air. Pasal 4 Sumber daya air mempunyai fungsi sosial. 21. dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Prasarana sumber daya air adalah bangunan air beserta bangunan lain yang menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air. Operasi adalah kegiatan pengaturan. Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. keterpaduan dan keserasian. Penguasaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan tetap mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak yang serupa dengan itu. keadilan. Pendayagunaan sumber daya air adalah upaya penatagunaan. menanggulangi. Pasal 5 Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat. dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. bersih. serta penyediaan air dan sumber air untuk mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sumber daya air. Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah. terpadu.

Pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah. b. Pasal 11 (1) (2) Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan disusun pola pengelolaan sumber daya air. dan Pasal 9 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Hak guna pakai air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hak untuk mengalirkan air dari atau ke tanahnya melalui tanah orang lain yang berbatasan dengan tanahnya. c. Pasal 10 Ketentuan mengenai hak guna air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pemegang hak guna usaha air dapat mengalirkan air di atas tanah orang lain berdasarkan persetujuan dari pemegang hak atas tanah yang bersangkutan. . cara menggunakannya dilakukan dengan mengubah kondisi alami sumber air. Atas dasar penguasaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan hak guna air. Pasal 8 (1) (2) Hak guna pakai air diperoleh tanpa izin untuk memenuhi kebutuhan pokok seharihari bagi perseorangan dan bagi pertanian rakyat yang berada di dalam sistem irigasi. ditujukan untuk keperluan kelompok yang memerlukan air dalam jumlah besar. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa kesepakatan ganti kerugian atau kompensasi. Hak guna pakai air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memerlukan izin apabila: a. Pasal 9 (1) (2) (3) Hak guna usaha air dapat diberikan kepada perseorangan atau badan usaha dengan izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. sebagian atau seluruhnya. (3) (4) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.(3) (4) Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap diakui sepanjang kenyataannya masih ada dan telah dikukuhkan dengan peraturan daerah setempat. atau digunakan untuk pertanian rakyat di luar sistem irigasi yang sudah ada. Pasal 8. Hak guna air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat disewakan atau dipindahtangankan. Pasal 7 (1) (2) Hak guna air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (4) berupa hak guna pakai air dan hak guna usaha air.

menetapkan kebijakan nasional sumber daya air. Pengelolaan air tanah didasarkan pada cekungan air tanah. dan wilayah sungai strategis nasional. penggunaan. mengatur. dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara. wilayah sungai lintas negara. mengatur. wilayah sungai lintas kabupaten/kota. e. Pasal 12 (1) (2) (3) Pengelolaan air permukaan didasarkan pada wilayah sungai. g. wilayah sungai lintas negara. peruntukan. wilayah sungai lintas negara. Ketentuan mengenai penyusunan pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. c. dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan. f. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. dan wilayah sungai strategis nasional. dan cekungan air tanah lintas negara. dan wilayah sungai strategis nasional. Pola pengelolaan sumber daya air didasarkan pada prinsip keseimbangan antara upaya konservasi dan pendayagunaan sumber daya air. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. wilayah sungai lintas provinsi. BAB II WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB Pasal 13 (1) (2) (3) (4) (5) Wilayah sungai dan cekungan air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. d. dan wilayah sungai strategis nasional. b. Pasal 14 Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah meliputi: a. dan memberi izin atas penyediaan. menetapkan. dan wilayah sungai strategis nasional.(3) (4) (5) Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha seluasluasnya. Presiden menetapkan wilayah sungai dan cekungan air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Sumber Daya Air Nasional. Penetapan wilayah sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota. Ketentuan mengenai pengelolaan air permukaan dan pengelolaan air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. peruntukan. cekungan air tanah lintas provinsi. penggunaan. Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. wilayah sungai lintas negara. . menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. menetapkan. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi. Penetapan cekungan air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi cekungan air tanah dalam satu kabupaten/kota. dan wilayah sungai strategis nasional. cekungan air tanah lintas kabupaten/kota. wilayah sungai lintas negara. wilayah sungai lintas negara.

c. dan memberi izin atas penyediaan. kriteria. j. menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota. efisiensi. wilayah sungai lintas negara. memfasilitasi penyelesaian sengketa antarprovinsi dalam pengelolaan sumber daya air. menetapkan. Pasal 15 Wewenang dan tanggung jawab pemerintah provinsi meliputi: a. kualitas. l. efisiensi. k. f. dan dewan sumber daya air wilayah sungai strategis nasional. j. penggunaan. menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan nasional sumber daya air dan kebijakan pengelolaan sumber daya air provinsi dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya. d.h. membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat provinsi dan/atau pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota. pengambilan. b. menetapkan norma. dewan sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi. l. peruntukan. memfasilitasi penyelesaian sengketa antarkabupaten/kota dalam pengelolaan sumber daya air. d. dan memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. penggunaan dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas kabupaten/kota. h. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya. dan wilayah sungai strategis nasional. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota. peruntukan. membantu kabupaten/kota pada wilayahnya dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat atas air. k. menjaga efektivitas. kualitas. menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya. mengatur. dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan. e. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. menetapkan. menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota. dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota. dan pedoman pengelolaan sumber daya air. menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya berdasarkan kebijakan nasional sumber daya air dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya. dan memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah kabupaten/kota. menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota. g. i. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya. membentuk Dewan Sumber Daya Air Nasional. standar. mengatur. c. i. menjaga efektivitas. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas kabupaten/kota. b. . Pasal 16 Wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota meliputi: a.

dan pengusahaan air tanah di wilayahnya serta sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air yang menjadi kewenangannya. efisiensi. g. kualitas. memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari warga desa atas air sesuai dengan ketersediaan air yang ada. dan memperhatikan kepentingan desa lain dalam melaksanakan pengelolaan sumber daya air di wilayahnya. Pasal 17 Wewenang dan tanggung jawab pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain meliputi: a. mengatur. pengawetan air. Pasal 19 (1) Dalam hal pemerintah daerah belum dapat melaksanakan sebagian wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16. memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air bagi masyarakat di wilayahnya. b. dan/atau adanya sengketa antarprovinsi atau antarkabupaten/kota. dan fungsi sumber daya air. menetapkan. b. i. BAB III KONSERVASI SUMBER DAYA AIR Pasal 20 (1) (2) Konservasi sumber daya air ditujukan untuk menjaga kelangsungan keberadaan daya dukung. menjaga efektivitas. serta (2) . f. Konservasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumber air. Pelaksanaan sebagian wewenang pengelolaan sumber daya air oleh pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan Pasal 16 wajib diambil oleh pemerintah di atasnya dalam hal: a. efisiensi. pemerintah daerah dapat menyerahkan wewenang tersebut kepada pemerintah di atasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. peruntukan. daya tampung. dan menjaga efektivitas. d. dan memberi izin penyediaan. penggunaan. melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya. c. h. dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota. kualitas. Pasal 18 Sebagian wewenang Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dapat diselenggarakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mengelola sumber daya air di wilayah desa yang belum dilaksanakan oleh masyarakat dan/atau pemerintahan di atasnya dengan mempertimbangkan asas kemanfaatan umum. membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat kabupaten/kota dan/atau pada wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota.e. pemerintah daerah tidak melaksanakan sebagian wewenang pengelolaan sumber daya air sehingga dapat membahayakan kepentingan umum.

dan/atau c. dan budaya. c. kawasan suaka alam. pengendalian pemanfaatan sumber air. (3) Ketentuan mengenai pengawetan air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: a. mengendalikan penggunaan air tanah. f. b. Ketentuan mengenai perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pasal 23 (1) (2) (3) Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. dan kawasan pelestarian alam. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi. b. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetatif dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial.(3) pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. g. Ketentuan tentang konservasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi salah satu acuan dalam perencanaan tata ruang. pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air. dan/atau pelestarian hutan lindung. menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. Pengelolaan kualitas air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. i. ekonomi. sesuai dengan fungsi dan manfaatnya. Pasal 22 (1) (2) Pengawetan air ditujukan untuk memelihara keberadaan dan ketersediaan air atau kuantitas air. pengaturan daerah sempadan sumber air. e. Pengendalian pencemaran air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia. . pengisian air pada sumber air. Pengawetan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara: a. rehabilitasi hutan dan lahan. h. Pasal 21 (1) (2) Perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam. menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. (3) (4) (5) Upaya perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijadikan dasar dalam penatagunaan lahan. d. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunan dan pemanfaatan lahan pada sumber air.

Pengaturan konservasi sumber daya air yang berada di dalam kawasan suaka alam. Pasal 27 (1) (2) Penatagunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditujukan untuk menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. rawa. penggunaan. Penetapan zona pemanfaatan sumber daya air dilakukan dengan: (2) (3) (4) (5) (6) (7) (3) . kawasan hutan.(4) Ketentuan mengenai pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pendayagunaan sumber daya air diselenggarakan secara terpadu dan adil. mengganggu upaya pengawetan air. BAB IV PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR Pasal 26 (1) Pendayagunaan sumber daya air dilakukan melalui kegiatan penatagunaan. air permukaan. Setiap orang berkewajiban menggunakan air sehemat mungkin. Ketentuan mengenai pelaksanaan konservasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pasal 25 (1) (2) (3) Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai. dan kawasan pantai. antarwilayah maupun antarkelompok masyarakat dengan mendorong pola kerja sama. danau. dan air tanah dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan. Penetapan zona pemanfaatan sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan salah satu acuan untuk penyusunan atau perubahan rencana tata ruang wilayah dan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. sistem irigasi. Pendayagunaan sumber daya air didasarkan pada keterkaitan antara air hujan. pengembangan. dan kawasan pantai diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan. waduk. dan/atau mengakibatkan pencemaran air. Pendayagunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. kawasan pelestarian alam. Pendayagunaan sumber daya air ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dilakukan dengan mengutamakan fungsi sosial untuk mewujudkan keadilan dengan memperhatikan prinsip pemanfaat air membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air dan dengan melibatkan peran masyarakat. cekungan air tanah. kawasan pelestarian alam. baik antarsektor. kawasan suaka alam. dan pengusahaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. daerah tangkapan air. penyediaan. kawasan hutan. Pasal 24 Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya.

menggunakan dasar hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologis. Pemerintah atau pemerintah daerah wajib mengatur kompensasi kepada pemakainya. . melibatkan peran masyarakat sekitar dan pihak lain yang berkepentingan. memperhatikan ruang sumber air yang dibatasi oleh garis sempadan sumber air. industri. ketenagaan. Urutan prioritas penyediaan sumber daya air selain sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan pada setiap wilayah sungai oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Pasal 30 (1) Penyediaan sumber daya air dilaksanakan berdasarkan rencana pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai . mengalokasikan zona untuk fungsi lindung dan budi daya. jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya. Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pengawasan pelaksanaan ketentuan peruntukan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan f. kehutanan dan keanekaragaman hayati. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi bagi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air di atas semua kebutuhan. dan pemanfaatan air yang sudah ada. d. memperhatikan kepentingan berbagai jenis pemanfaatan. serta kebutuhan lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. Penyediaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) direncanakan dan ditetapkan sebagai bagian dalam rencana pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. b. perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber daya air. (2) (3) daya dukung sumber air. perhubungan. estetika. d. c. Ketentuan mengenai penetapan peruntukan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. b. Pasal 29 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Penyediaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air dan daya air serta memenuhi berbagai keperluan sesuai dengan kualitas dan kuantitas. ekosistem. e. Pasal 28 (1) Penetapan peruntukan air pada sumber air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) pada setiap wilayah sungai dilakukan dengan memperhatikan: a. olahraga. (4) Ketentuan dan tata cara penetapan zona sumber air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. memperhatikan fungsi kawasan. Penyediaan sumber daya air dalam setiap wilayah sungai dilaksanakan sesuai dengan penatagunaan sumber daya air yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan pokok. pertambangan. Apabila penetapan urutan prioritas penyediaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menimbulkan kerugian bagi pemakai sumber daya air. rekreasi dan pariwisata. pertanian.a. sanitasi lingkungan.

setiap orang atau badan usaha berupaya menggunakan air secara daur ulang dan menggunakan kembali air. (2) (3) Pelaksanaan pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui konsultasi publik. Ketentuan mengenai penggunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Penggunaan air dari sumber air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. investigasi. industri. d. dan untuk berbagai keperluan lainnya. pertambangan. yang bersangkutan wajib mengganti kerugian. kemampuan pembiayaan. Pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan berdasarkan rencana pengelolaan sumber daya air dan rencana tata ruang wilayah yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan: a. dan kelestarian keanekaragaman hayati dalam sumber air. b. (4) daya dukung sumber daya air . Pemerintah dan/atau pemerintah daerah mengatur dan menetapkan penggunaan sumber daya air untuk kepentingan konservasi. pertanian. perhubungan. Penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari yang dilakukan melalui prasarana sumber daya air harus dengan persetujuan dari pihak yang berhak atas prasarana yang bersangkutan. dan pemenuhan prioritas penggunaan sumber daya air. pariwisata. Pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan tanpa merusak keseimbangan lingkungan hidup. melalui tahapan survei. dan pertanian rakyat dilarang menimbulkan kerusakan pada sumber air dan lingkungannya atau prasarana umum yang bersangkutan. Apabila penggunaan air sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ternyata menimbulkan kerusakan pada sumber air. Pasal 33 Dalam keadaan memaksa. dan . Penggunaan sumber daya air dilaksanakan sesuai penatagunaan dan rencana penyediaan sumber daya air yang telah ditetapkan dalam rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bersangkutan. pertahanan. Pasal 31 Ketentuan mengenai penyediaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dan Pasal 30 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Dalam penggunaan air. ketenagaan. Pasal 32 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Penggunaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya air dan prasarananya sebagai media dan/atau materi. persiapan pelaksanaan konstruksi. kekhasan dan aspirasi daerah serta masyarakat setempat . Pasal 34 (1) Pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) pada wilayah sungai ditujukan untuk peningkatan kemanfaatan fungsi sumber daya air guna memenuhi kebutuhan air baku untuk rumah tangga.(2) Pemerintah atau pemerintah daerah dapat mengambil tindakan penyediaan sumber daya air untuk memenuhi kepentingan yang mendesak berdasarkan perkembangan keperluan dan keadaan setempat. sosial. c.

rawa. danau. Ketentuan mengenai pemanfaatan air laut yang berada di darat diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Ketentuan mengenai pengembangan sungai. dan ekonomi. serta berdasarkan pada kelayakan teknis. Badan usaha dan perseorangan dapat melaksanakan pemanfaatan awan dengan teknologi modifikasi cuaca setelah memperoleh izin dari Pemerintah. rawa. Ketentuan mengenai pengembangan air tanah diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pengembangan air tanah pada cekungan air tanah dilakukan secara terpadu dalam pengembangan sumber daya air pada wilayah sungai dengan upaya pencegahan terhadap kerusakan air tanah. Pasal 38 (1) (2) (3) Pengembangan fungsi dan manfaat air hujan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf c dilaksanakan dengan mengembangkan teknologi modifikasi cuaca. Pasal 39 (1) (2) (3) Pengembangan fungsi dan manfaat air laut yang berada di darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d dilakukan dengan memperhatikan fungsi lingkungan hidup. danau. . Ketentuan mengenai pemanfaatan awan untuk teknologi modifikasi cuaca diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Potensi dampak yang mungkin timbul akibat dilaksanakannya pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus ditangani secara tuntas dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait pada tahap penyusunan rencana. hujan. Pasal 35 Pengembangan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) meliputi: a. dan sumber air permukaan lainnya. dan sumber air permukaan lainnya diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. d. dan laut yang berada di darat. danau. lingkungan hidup. Badan usaha dan perseorangan dapat menggunakan air laut yang berada di darat untuk kegiatan usaha setelah memperoleh izin pengusahaan sumber daya air dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. air air air air permukaan pada sungai. rawa. Pasal 36 (1) (2) Pengembangan air permukaan pada sungai. dan sumber air permukaan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf a dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik dan fungsi sumber air yang bersangkutan. tanah pada cekungan air tanah.(5) perencanaan. c. Pasal 37 (1) (2) (3) Air tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. b.

badan usaha swasta. ayat (3) dan ayat (4) diselenggarakan secara terpadu dengan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf d. tercapainya kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan. ayat (3). pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder yang utuh pada satu kabupaten/kota menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. ayat (2). Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah dengan ketentuan: a. Pemerintah dapat membentuk badan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada menteri yang membidangi sumber daya air. dan pembentukan badan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pengaturan terhadap pengembangan sistem penyediaan air minum bertujuan untuk: a. dan ayat (7) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dapat dilakukan oleh perkumpulan petani pemakai air atau pihak lain sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Pengembangan sistem irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat. dan c. (3) (4) (5) Pengembangan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab perkumpulan petani pemakai air. badan usaha swasta.Pasal 40 (1) (2) (3) (4) (5) Pemenuhan kebutuhan air baku untuk air minum rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dilakukan dengan pengembangan sistem penyediaan air minum. b. (7) (8) . peran serta koperasi. dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum. pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder lintas kabupaten/kota menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah provinsi. Koperasi. Pengembangan sistem penyediaan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah. b. Pasal 41 (1) (2) Pemenuhan kebutuhan air baku untuk pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dilakukan dengan pengembangan sistem irigasi. badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah penyelenggara pengembangan sistem penyediaan air minum. c. Badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah merupakan penyelenggara pengembangan sistem penyediaan air minum. terciptanya pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. (6) Pengaturan pengembangan sistem penyediaan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Untuk mencapai tujuan pengaturan pengembangan sistem penyediaan air minum dan sanitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6). dan masyarakat dapat berperan serta dalam penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air minum. Ketentuan pengembangan sistem penyediaan air minum. meningkatnya efisiensi dan cakupan pelayanan air minum. pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder lintas provinsi menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah. ayat (4).

dan sumber air lainnya. Pasal 46 (1) (2) Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. badan usaha. Pasal 42 (1) (2) Pengembangan sumber daya air untuk industri dan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air baku dalam proses pengolahan dan/atau eksplorasi . Pengusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat berbentuk: a. penggunaan air pada suatu lokasi tertentu sesuai persyaratan yang ditentukan dalam perizinan. Pengusahaan sumber daya air selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh perseorangan. Pasal 45 (1) (2) (3) (4) Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan memperhatikan fungsi sosial dan kelestarian lingkungan hidup. Ketentuan mengenai pengembangan sumber daya air sebagai jaringan prasarana angkutan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pasal 44 (1) (2) Pengembangan sumber daya air untuk perhubungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dapat dilakukan pada sungai. pemanfaatan wadah air pada suatu lokasi tertentu sesuai persyaratan yang ditentukan dalam perizinan. Ketentuan mengenai pengembangan sumber daya air untuk ketenagaan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. . atau kerja sama antar badan usaha berdasarkan izin pengusahaan dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Pasal 43 (1) (2) Pengembangan sumber daya air untuk keperluan ketenagaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dapat dilakukan untuk memenuhi keperluan sendiri dan untuk diusahakan lebih lanjut. mengatur dan menetapkan alokasi air pada sumber air untuk pengusahaan sumber daya air oleh badan usaha atau perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3). Ketentuan mengenai pengembangan sumber daya air untuk industri dan pertambangan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. danau.(6) Ketentuan mengenai pengembangan sistem irigasi diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. b. waduk. dan/atau c. Alokasi air untuk pengusahaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada rencana alokasi air yang ditetapkan dalam rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bersangkutan. Pengusahaan sumber daya air permukaan yang meliputi satu wilayah sungai hanya dapat dilaksanakan oleh badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air atau kerja sama antara badan usaha milik negara dengan badan usaha milik daerah. pemanfaatan daya air pada suatu lokasi tertentu sesuai persyaratan yang ditentukan dalam perizinan.

Rencana pengusahaan air untuk negara lain dilakukan melalui proses konsultasi publik oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya. Pasal 47 (1) Pemerintah wajib melakukan pengawasan mutu pelayanan atas: a. Pasal 50 Ketentuan mengenai pengusahaan sumber daya air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. izin pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai ditetapkan berdasarkan alokasi air sementara. Pasal 48 (1) (2) Pengusahaan sumber daya air dalam suatu wilayah sungai yang dilakukan dengan membangun dan/atau menggunakan saluran distribusi hanya dapat digunakan untuk wilayah sungai lainnya apabila masih terdapat ketersediaan air yang melebihi keperluan penduduk pada wilayah sungai yang bersangkutan. badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. Pengusahaan air untuk negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) wajib mendapat izin dari Pemerintah berdasarkan rekomendasi dari pemerintah daerah dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Rencana pengusahaan sumber daya air dilakukan melalui konsultasi publik. Badan usaha dan perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ikut serta melakukan kegiatan konservasi sumber daya air dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Pengusahaan air untuk negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai yang bersangkutan. (2) (3) (4) (5) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib memfasilitasi pengaduan masyarakat atas pelayanan dari badan usaha dan perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan b. kecuali apabila penyediaan air untuk berbagai kebutuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) telah dapat terpenuhi. serta memperhatikan kepentingan daerah di sekitarnya. badan usaha lain dan perseorangan sebagai pemegang izin pengusahaan sumber daya air. Pengusahaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bersangkutan. Dalam hal rencana pengelolaan sumber daya air belum ditetapkan. BAB V PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR .(3) (4) Alokasi air untuk pengusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam izin pengusahaan sumber daya air dari Pemerintah atau pemerintah daerah. Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan mendorong keikutsertaan usaha kecil dan menengah. Pasal 49 (1) (2) (3) (4) Pengusahaan air untuk negara lain tidak diizinkan.

Penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terpadu oleh instansi terkait dan masyarakat melalui suatu badan koordinasi penanggulangan bencana pada tingkat nasional. Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab Pemerintah. Pasal 56 Dalam keadaan yang membahayakan. Ketentuan mengenai pencegahan kerusakan dan bencana akibat daya rusak air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. pemerintah daerah. Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air. serta pengelola sumber daya air wilayah sungai dan masyarakat. Pasal 54 (1) (2) (3) Penanggulangan daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) dilakukan dengan mitigasi bencana. dan pemulihan. provinsi. Ketentuan mengenai penanggulangan kerusakan dan bencana akibat daya rusak air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pasal 55 (1) (2) Penanggulangan bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional menjadi tanggung jawab Pemerintah. Pasal 53 (1) (2) (3) (4) Pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) dilakukan baik melalui kegiatan fisik dan/atau nonfisik maupun melalui penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai. gubernur dan/atau bupati/ walikota berwenang mengambil tindakan darurat guna keperluan penanggulangan daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1). Bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional ditetapkan dengan keputusan presiden. Pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lebih diutamakan pada kegiatan nonfisik.Pasal 51 (1) (2) (3) (4) Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan. . Pengendalian daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. Pilihan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh pengelola sumber daya air yang bersangkutan. dan kabupaten/kota. Pasal 52 Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air. penanggulangan.

Pasal 57 (1) (2) (3) Pemulihan daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) dilakukan dengan memulihkan kembali fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana sumber daya air. Pasal 58 (1) (2) Pengendalian daya rusak air dilakukan pada sungai. Pasal 60 (1) Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan prosedur dan persyaratan melalui tahapan yang ditetapkan dalam standar perencanaan yang berlaku secara nasional yang mencakup inventarisasi sumber daya air. danau. Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun sesuai dengan pola pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. dan penetapan rencana pengelolaan sumber daya air. Ketentuan mengenai pengendalian daya rusak air pada sungai. cekungan air tanah. pemerintah daerah. Pengelola sumber daya air wajib memelihara hasil inventarisasi dan memperbaharui data sesuai dengan perkembangan keadaan. Inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara terkoordinasi pada setiap wilayah sungai oleh pengelola sumber daya air yang bersangkutan. Perencanaan pengelolaan sumber daya air dilaksanakan berdasarkan asas pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. waduk dan/atau bendungan. rawa. dan masyarakat. danau. Rencana pengelolaan sumber daya air merupakan salah satu unsur dalam penyusunan. Pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab Pemerintah. dan/atau penyempurnaan rencana tata ruang wilayah. sistem irigasi. air hujan. Pasal 61 (1) (2) (3) (4) Inventarisasi sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) dilakukan pada setiap wilayah sungai di seluruh wilayah Indonesia. rawa. cekungan air tanah. waduk dan/atau bendungan. dan air laut yang berada di darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Ketentuan mengenai prosedur dan persyaratan perencanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. pengelola sumber daya air. sistem irigasi. air hujan. peninjauan kembali. penyusunan. dan pengendalian daya rusak air. BAB VI PERENCANAAN Pasal 59 (1) Perencanaan pengelolaan sumber daya air disusun untuk menghasilkan rencana yang berfungsi sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan konservasi sumber daya air. Pelaksanaan inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh pihak lain berdasarkan ketentuan dan tata cara yang ditetapkan. (2) (3) (4) (2) . dan air laut yang berada di darat. pendayagunaan sumber daya air. Ketentuan mengenai pemulihan daya rusak air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

dan evaluasi untuk menjamin kelestarian fungsi dan manfaat sumber daya air. dan manual sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan keberlanjutan fungsi ekologis sesuai dengan peraturan perundang-undangan. BAB VII PELAKSANAAN KONSTRUKSI. Pelaksanaan konstruksi prasarana dan sarana sumber daya air di atas tanah pihak lain dilaksanakan setelah proses ganti kerugian dan/atau kompensasi kepada pihak yang berhak diselesaikan sesuai dengan peraturan perundangundangan. . Instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya mengumumkan secara terbuka rancangan rencana pengelolaan sumber daya air kepada masyarakat. Rancangan rencana pengelolaan sumber daya air ditetapkan oleh instansi yang berwenang untuk menjadi rencana pengelolaan sumber daya air. Rencana pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai dirinci ke dalam program yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air oleh instansi pemerintah. standar. Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air yang tidak didasarkan pada norma. OPERASI DAN PEMELIHARAAN Pasal 63 (1) (2) (3) (4) (5) Pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air dilakukan berdasarkan norma. standar. Masyarakat berhak menyatakan keberatan terhadap rancangan rencana pengelolaan sumber daya air yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat. Pasal 64 (1) (2) (3) Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air terdiri atas pemeliharaan sumber air serta operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air. atau pengelola sumber daya air sesuai dengan kewenangannya. dan masyarakat. pedoman. swasta. pedoman. pelaksanaan.(5) Ketentuan mengenai inventarisasi sumber daya air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. dan manual dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya lokal serta mengutamakan keselamatan. pemantauan. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air dilakukan oleh Pemerintah. pemerintah daerah. Instansi yang berwenang dapat melakukan peninjauan kembali terhadap rancangan rencana pengelolaan sumber daya air atas keberatan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Setiap orang atau badan usaha yang melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi pada sumber air wajib memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Ketentuan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Ketentuan mengenai perencanaan pengelolaan sumber daya air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengaturan. keamanan kerja. Pasal 62 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Penyusunan rencana pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) pada setiap wilayah sungai dilaksanakan secara terkoordinasi oleh instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya dengan mengikutsertakan para pemilik kepentingan dalam bidang sumber daya air.

Informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi informasi mengenai kondisi hidrologis. atau perseorangan menjadi tugas dan tanggung jawab pihak-pihak yang membangun. badan hukum. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi ditetapkan: a. Jaringan informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. seluruh instansi Pemerintah. Ketentuan mengenai operasi dan pemeliharaan sumber daya air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. prasarana sumber daya air. sesuai dengan kewenangannya. BAB VIII SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR Pasal 65 (1) (2) Untuk mendukung pengelolaan sumber daya air. kelompok masyarakat. Pasal 67 (1) (2) (3) Pemerintah dan pemerintah daerah serta pengelola sumber daya air. pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab masyarakat petani pemakai air. Masyarakat ikut berperan dalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Untuk melaksanakan kegiatan penyediaan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. badan hukum. pemerintah daerah. Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air sesuai dengan kewenangannya. kebijakan sumber daya air. pengelola sumber daya air. teknologi sumber daya air. (7) (8) Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya prasarana sumber daya air. Pasal 66 (1) (2) (3) Sistem informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) merupakan jaringan informasi sumber daya air yang tersebar dan dikelola oleh berbagai institusi.(4) (5) (6) Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air yang dibangun oleh badan usaha. hidrogeologis. organisasi. pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. lembaga dan perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan . pemerintah daerah. menyediakan informasi sumber daya air bagi semua pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. Pemerintah dan pemerintah daerah dapat membentuk unit pelaksana teknis untuk menyelenggarakan kegiatan sistem informasi sumber daya air. Pemerintah. hidrome-teorologis. serta kegiatan sosial ekonomi budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air. organisasi. lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya. dan lembaga serta perseorangan yang melaksanakan kegiatan berkaitan dengan sumber daya air menyampaikan laporan hasil kegiatannya kepada instansi Pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang sumber daya air.

serta pendampingan. dan pengelola sumber daya air sesuai dengan kewenangannya. Kebijakan pengelolaan sistem informasi hidrologi. Pemberdayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan pada kegiatan perencanaan. kebenaran. operasi dan pemeliharaan sumber daya air dengan melibatkan peran masyarakat. pengawasan. dan hidrogeologi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain. Pengelolaan sistem informasi hidrologi. setelah memperoleh saran dari menteri yang membidangi sumber daya air dan menteri yang terkait . penelitian dan pengembangan. provinsi. Pasal 68 (1) (2) (3) (4) Untuk mendukung pengelolaan sistem informasi sumber daya air diperlukan pengelolaan sistem informasi hidrologi. Pengelolaan sistem informasi hidrologi. Pasal 69 Ketentuan mengenai sistem informasi sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66.ayat (2) bertanggung jawab menjamin keakuratan. pemerintah daerah maupun swasta sesuai dengan standar pendidikan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 71 (1) (2) Menteri yang membidangi sumber daya air dan menteri yang terkait dengan bidang sumber daya air menetapkan standar pendidikan khusus dalam bidang sumber daya air. dan hidrogeologi ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan usul Dewan Sumber Daya Air Nasional. hidrometeorologi. pemerintah daerah. dan hidrogeologi wilayah sungai pada tingkat nasional. BAB IX PEMBERDAYAAN DAN PENGAWASAN Pasal 70 (1) (2) (3) (4) Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan pemberdayaan para pemilik kepentingan dan kelembagaan sumber daya air secara terencana dan sistematis untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya air. hidrome-teorologi. baik oleh Pemerintah. dan kabupaten/kota. dan hidrogeologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah. pelaksanaan konstruksi. Pasal 67. Pasal 72 (1) (2) Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang sumber daya air diselenggarakan untuk mendukung dan meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya air. Pemberdayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Menteri yang membidangi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kelompok masyarakat atas prakarsa sendiri dapat melaksanakan upaya pemberdayaan untuk kepentingan masing-masing dengan berpedoman pada tujuan pemberdayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan Pasal 68 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. hidrometeorologi. dan ketepatan waktu atas informasi yang disampaikan. Penyelenggaraan pendidikan bidang sumber daya air dapat dilaksanakan. hidrome-teorologi.

Pasal 75 (1) (2) (3) (4) Untuk menjamin tercapainya tujuan pengelolaan sumber daya air. Pemerintah dan pemerintah daerah. Pasal 74 (1) (2) (3) Pendampingan dan pelatihan bidang sumber daya air ditujukan untuk pemberdayaan para pemilik kepentingan dan kelembagaan pada wilayah sungai. Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan melibatkan peran masyarakat. Instansi Pemerintah dan pemerintah daerah yang berkaitan dengan kegiatan pengelolaan sumber daya air wajib memberikan dukungan dan bekerja sama untuk menyelenggarakan kegiatan pendampingan dan pelatihan. menetapkan pedoman kegiatan pendampingan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Peran masyarakat dalam pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang.(3) (4) dengan sumber daya air. BAB X PEMBIAYAAN Pasal 77 (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya air. dan perguruan tinggi. Pemerintah dan pemerintah daerah mendorong dan menciptakan kondisi yang mendukung untuk meningkatkan pelaksanaan penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang sumber daya air oleh masyarakat. Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang sumber daya air. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air meliputi: . Pasal 73 Pemerintah memfasilitasi perlindungan hak penemu dan temuan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi dalam bidang sumber daya air sesuai dengan peraturan perundangundangan. diselenggarakan kegiatan pengawasan terhadap seluruh proses dan hasil pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai. Pasal 76 Ketentuan mengenai pemberdayaan dan pengawasan pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 75 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. menetapkan kebijakan dan pedoman yang diperlukan dalam rangka penyelenggaraan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dunia usaha. Pemerintah menetapkan pedoman pelaporan dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan pengelolaan sumber daya air. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya dalam pengelolaan sumber daya air.

hasil penerimaan biaya jasa pengelolaan sumber daya air. c. anggaran swasta. dan strategis nasional. Sumber dana untuk setiap jenis pembiayaan dapat berupa: a. . dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. kecuali bangunan sadap. operasi. e. lintas kabupaten/kota. b. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: a. dan dapat melibatkan peran serta masyarakat petani. pembiayaan pelaksanaan konstruksi sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani. Pembiayaan pengelolaan sumber daya air yang menjadi tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada kewenangan masing-masing dalam pengelolaan sumber daya air. dan/atau c. dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. (3) biaya biaya biaya biaya biaya sistem informasi. saluran sepanjang 50 m dari bangunan sadap. pemerintah daerah. koperasi. badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan pemerintah daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama. Untuk pelayanan sosial. pelaksanaan konstruksi. evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. Pasal 78 (1) (2) (3) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dibebankan kepada Pemerintah.a. badan usaha lain dan perseorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan. dan perseorangan. pembiayaan pelaksanaan konstruksi. anggaran pemerintah. badan usaha lain. operasi dan pemeliharaan sistem irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. d. Pasal 80 (1) Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air. dan pemantauan. pemeliharaan. baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama. dan keselamatan umum. kesejahteraan. Pasal 79 (1) (2) Pembiayaan pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh koperasi. b. perencanaan. (4) Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi. Pemerintah dan pemerintah daerah dalam batas-batas tertentu dapat memberikan bantuan biaya pengelolaan kepada badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. b. dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. pembiayaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani. c.

masyarakat pemegang hak guna air berkewajiban memperhatikan kepentingan umum yang diwujudkan melalui perannya dalam konservasi sumber daya air serta perlindungan dan pengamanan prasarana sumber daya air. c. dan Pasal 80 diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pasal 78.(2) (3) (4) (5) (6) (7) Pengguna sumber daya air selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air. Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna jasa pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dipergunakan untuk mendukung terselenggaranya kelangsungan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. dan/atau f. memperoleh manfaat atas pengelolaan sumber daya air. masyarakat berhak untuk: a. Pasal 81 Ketentuan mengenai pembiayaan pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77. KEWAJIBAN. dan pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya air. d. Penentuan besarnya biaya jasa pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Pasal 84 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan dalam proses perencanaan. memperoleh informasi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan sumber daya air yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat. BAB XI HAK. b. e. . Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk jenis penggunaan nonusaha dikecualikan dari perhitungan ekonomi rasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3). pelaksanaan. memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. Penentuan nilai satuan biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air. Pasal 79. Ketentuan mengenai peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya yang berkaitan dengan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air. Pasal 83 Dalam menggunakan hak guna air. mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah sumber daya air yang merugikan kehidupannya. DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 82 Dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya air.

Pedoman mengenai pembentukan wadah koordinasi pada tingkat provinsi. Untuk pelaksanaan koordinasi pada tingkat kabupaten/kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/kota. Wadah koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas pokok menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan sumber daya air. dan wilayah sungai diatur lebih lanjut dengan keputusan menteri yang membidangi sumber daya air. Pasal 87 (1) Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional yang dibentuk oleh Pemerintah. Dalam hal penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperoleh kesepakatan. BAB XIII PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 88 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa sumber daya air pada tahap pertama diupayakan berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat. dan wilayah sungai bersifat konsultatif dan koordinatif. Wadah koordinasi pada wilayah sungai dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai yang bersangkutan. dan para pemilik kepentingan dalam bidang sumber daya air. Susunan organisasi dan tata kerja wadah koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan keputusan presiden. provinsi. (2) (3) (4) (5) . wilayah.BAB XII KOORDINASI Pasal 85 (1) (2) Pengelolaan sumber daya air mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. Pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor. dan pada tingkat provinsi dilakukan oleh wadah koordinasi dengan nama dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain yang dibentuk oleh pemerintah provinsi. Upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hubungan kerja antarwadah koordinasi tingkat nasional. kabupaten/kota. Pasal 86 (1) (2) (3) (4) Koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) dilakukan oleh suatu wadah koordinasi yang bernama dewan sumber daya air atau dengan nama lain. kabupaten/kota. para pihak dapat menempuh upaya penyelesaian di luar pengadilan atau melalui pengadilan. Wadah koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beranggotakan unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan.

Pasal 92 (1) Organisasi yang bergerak pada bidang sumber daya air berhak mengajukan gugatan terhadap orang atau badan usaha yang melakukan kegiatan yang menyebabkan kerusakan sumber daya air dan/atau prasarananya. pejabat pegawai negeri sipil yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dalam bidang sumber daya air dapat diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan tentang adanya tindak pidana sumber daya air. BAB XIV GUGATAN MASYARAKAT DAN ORGANISASI Pasal 90 Masyarakat yang dirugikan akibat berbagai masalah pengelolaan sumber daya air berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan. melakukan pemeriksaan prasarana sumber daya air dan menghentikan peralatan yang diduga digunakan untuk melakukan tindak pidana. Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada gugatan untuk melakukan tindakan tertentu yang berkaitan dengan keberlanjutan fungsi sumber daya air dan/atau gugatan membayar biaya atas pengeluaran nyata. BAB XV PENYIDIKAN Pasal 93 (1) Selain pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. mencantumkan tujuan pendirian organisasi dalam anggaran dasarnya untuk kepentingan yang berkaitan dengan keberlanjutan fungsi sumber daya air. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai saksi atau tersangka dalam perkara tindak pidana sumber daya air. Organisasi yang berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: berbentuk organisasi kemasyarakatan yang berstatus badan hukum dan bergerak dalam bidang sumber daya air. dan telah melakukan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. c. Pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang untuk: a. d. Pasal 91 Instansi pemerintah yang membidangi sumber daya air bertindak untuk kepentingan masyarakat apabila terdapat indikasi masyarakat menderita akibat pencemaran air dan/atau kerusakan sumber air yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.Pasal 89 Sengketa mengenai kewenangan pengelolaan sumber daya air antara Pemerintah dan pemerintah daerah diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan usaha yang diduga melakukan tindak pidana sumber daya air. b. untuk kepentingan keberlanjutan fungsi sumber daya air. (2) (3) (4) (5) (2) .

setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan penggunaan air yang mengakibatkan kerugian terhadap orang atau pihak lain dan kerusakan fungsi sumber air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3). standar. .000.00 (lima ratus juta rupiah): a. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air yang tidak didasarkan pada norma.000.000. pedoman. (3) (4) Pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memberitahukan dimulainya penyidikan kepada penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.e. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya. Pejabat penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum melalui penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. dan manual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (2). g. sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. membuat dan menandatangani berita acara dan mengirimkannya kepada penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. menyegel dan/atau menyita alat kegiatan yang digunakan untuk melakukan tindak pidana sebagai alat bukti. f. b. (3) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp500. mengganggu upaya pengawetan air. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana sumber daya air. setiap orang yang dengan sengaja menyewakan atau memindahtangankan sebagian atau seluruhnya hak guna air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2). dan/atau mengakibatkan pencemaran air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.000. (2) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.500. atau b. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana. atau c. dan/atau h.000.00 (satu miliar rupiah): a.00 (satu miliar lima ratus juta rupiah): a. BAB XVI KETENTUAN PIDANA Pasal 94 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp1. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya prasarana sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (7). atau b. setiap orang yang dengan sengaja melakukan pengusahaan sumber daya air tanpa izin dari pihak yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3). setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52.

setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan pengusahaan sumber daya air tanpa izin dari pihak yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3). BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 97 Pada saat berlakunya undang-undang ini. dan/atau mengakibatkan pencemaran air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. (2) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp200.000. Pasal 95 (1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 18 (delapan belas) bulan dan denda paling banyak Rp300. b. pidana dikenakan terhadap badan usaha yang bersangkutan. . mengganggu upaya pengawetan air. b. atau b. semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan sumber daya air dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum dikeluarkan peraturan pelaksanaan baru berdasarkan undang-undang ini. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan yang mengakibatkan kerusakan prasarana sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (7). setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air yang tidak didasarkan pada norma.000. setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan kerusakan sumber daya air dan prasarananya.00 (dua ratus juta rupiah): a. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan terhadap badan usaha.000. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52. standar. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi pada sumber air tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (3). c.000. setiap orang yang karena kelalaiannya melakukan kegiatan penggunaan air yang mengakibatkan kerugian terhadap orang atau pihak lain dan kerusakan fungsi sumber air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3).d. Pasal 96 (1) (2) Dalam hal tindak pidana sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 dan Pasal 95 dilakukan oleh badan usaha.000. dan manual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (2).000.00 (tiga ratus juta rupiah): a. atau. setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan pelaksanaan konstruksi pada sumber air tanpa memperoleh izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (3).00 (seratus juta rupiah): a. pidana yang dijatuhkan adalah pidana denda ditambah sepertiga denda yang dijatuhkan. pedoman. (3) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp100.

Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 65. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046) dinyatakan tidak berlaku. Pada Tanggal 18 Maret 2004 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Disahkan Di Jakarta.Pasal 98 Perizinan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air yang telah diterbitkan sebelum ditetapkannya Undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku sampai dengan masa berlakunya berakhir. memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAMBANG KESOWO . Pasal 100 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 99 Pada saat undang-undang ini mulai berlaku. Pada Tanggal 18 Maret 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Ttd. Ttd. Agar setiap orang mengetahuinya. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan Di Jakarta.

Hak guna air dengan pengertian tersebut bukan merupakan hak pemilikan atas air. sedangkan hak guna air untuk memenuhi kebutuhan usaha. sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. media usaha.LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 32 PENJELASAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR UMUM (1) Sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang. negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan melakukan pengaturan hak atas air. baik penggunaan air untuk bahan baku produksi. maupun penggunaan air untuk bahan pembantu produksi. Pengaturan hak atas air diwujudkan melalui penetapan hak guna air. Pemerintah atau pemerintah daerah menjamin alokasi air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan pertanian rakyat tersebut dengan tetap memperhatikan kondisi ketersediaan air yang ada dalam wilayah sungai yang bersangkutan dengan tetap menjaga terpeliharanya ketertiban dan ketentraman. Sejalan dengan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Atas penguasaan sumber daya air oleh negara dimaksud. tetapi dapat ditinjau kembali apabila persyaratan atau keadaan yang dijadikan dasar pemberian izin dan kondisi ketersediaan air pada sumber air yang bersangkutan mengalami perubahan yang sangat berarti dibandingkan dengan kondisi ketersediaan air pada saat penetapan alokasi. disebut dengan hak guna usaha air. seperti hak ulayat masyarakat hukum adat setempat dan hak-hak yang serupa dengan itu. baik untuk yang wajib memperoleh izin maupun yang tidak wajib izin. pertanian rakyat. Hak guna pakai air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan pertanian rakyat yang berada di dalam sistem irigasi dijamin oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. pemanfaatan potensinya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor. yaitu hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan air untuk berbagai keperluan. Jumlah alokasi air yang ditetapkan tidak bersifat mutlak dan harus dipenuhi sebagaimana yang tercantum dalam izin. Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih menguatnya nilai ekonomi air dibanding nilai dan fungsi sosialnya. Hak guna pakai air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan pertanian rakyat tersebut termasuk hak untuk mengalirkan air dari atau ke tanahnya melalui tanah orang lain yang berbatasan dengan tanahnya. tetapi hanya terbatas pada hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan sejumlah (kuota) air sesuai dengan alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah kepada pengguna air. Hak guna air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. antar wilayah dan (2) (3) (4) (5) . Penguasaan negara atas sumber daya air tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dengan tetap mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. dan kegiatan bukan usaha disebut dengan hak guna pakai air. undang-undang ini menyatakan bahwa sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat secara adil.

wilayah sungai yang secara utuh berada pada satu wilayah kabupaten/kota menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air. asas keterpaduan dan keserasian. Sejalan dengan prinsip demokratis. lingkungan hidup. undang-undang ini juga memberikan kewenangan pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain sepanjang kewenangan yang ada belum dilaksanakan oleh masyarakat dan/atau oleh pemerintah di atasnya. yaitu: a. (13) Pola pengelolaan sumber daya air merupakan kerangka dasar dalam merencanakan. . dan ekonomi. dan ekonomi. (8) Keberadaan air mengikuti siklus hidrologis yang erat hubungannya dengan kondisi cuaca pada suatu daerah sehingga menyebabkan ketersediaan air tidak merata dalam setiap waktu dan setiap wilayah. badan usaha milik negara. asas keadilan. (6) Berdasarkan pertimbangan tersebut undang-undang ini lebih memberikan perlindungan terhadap kepentingan kelompok masyarakat ekonomi lemah dengan menerapkan prinsip pengelolaan sumber daya air yang mampu menyelaraskan fungsi sosial. lingkungan hidup. baik koperasi. tetapi berperan pula dalam proses perencanaan. dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air. operasi dan pemeliharaan. (12) Kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sumber daya air tersebut termasuk mengatur. (7) Air sebagai sumber kehidupan masyarakat secara alami keberadaannya bersifat dinamis mengalir ke tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah administrasi. Pola pengelolaan sumber daya air tersebut kemudian dijabarkan ke dalam rencana pengelolaan sumber daya air. wilayah sungai lintas provinsi.berbagai pihak yang terkait dengan sumber daya air. pelaksanaan konstruksi. dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai dengan tetap dalam kerangka konservasi dan pengendalian daya rusak air. badan usaha milik daerah maupun badan usaha swasta. melaksanakan. pemantauan. dan/atau wilayah sungai strategis nasional menjadi kewenangan Pemerintah. pendayagunaan sumber daya air. (14) Penyusunan pola pengelolaan perlu melibatkan seluas-luasnya peran masyarakat dan dunia usaha. asas keseimbangan fungsi sosial. memantau. dan pemerintah kabupaten/kota didasarkan pada keberadaan wilayah sungai yang bersangkutan. b. dan pengendalian daya rusak air pada setiap wilayah sungai dengan prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah. Di sisi lain. masyarakat tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air. wilayah sungai lintas negara. asas kemandirian. berdasarkan asas kelestarian. c. serta asas transparansi dan akuntabilitas. penyediaan. pengaturan kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sumber daya air oleh Pemerintah. pemerintah provinsi. Pola pengelolaan sumber daya air disusun secara terkoordinasi di antara instansi yang terkait. (10) Berdasarkan hal tersebut di atas. asas kemanfaatan umum. menetapkan. (9) Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan masyarakat mengakibatkan perubahan fungsi lingkungan yang berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air dan meningkatnya daya rusak air. wilayah sungai lintas kabupaten/kota menjadi kewenangan pemerintah provinsi. penggunaan. dan memberi izin atas peruntukan. Hal tersebut menuntut pengelolaan sumber daya air yang utuh dari hulu sampai ke hilir dengan basis wilayah sungai dalam satu pola pengelolaan sumber daya air tanpa dipengaruhi oleh batas-batas wilayah administrasi yang dilaluinya. pengelolaan sumber daya air yang lebih bersandar pada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial sumber daya air. (11) Di samping itu.

rawa. danau. fungsi lingkungan hidup. serta berdasarkan prosedur dan standar perizinan menurut pedoman teknik dan administrasi yang telah ditetapkan. serta air tanah. Air laut mempunyai karakteristik yang berbeda dan memerlukan adanya penanganan serta pengaturan tersendiri. dan air laut. dan sebagai bahan pembantu proses produksi. Karena keterbatasan kemampuan petani pemakai air. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan di atas semua kebutuhan lainnya. perusahaan air mineral. wajib menanggung biaya pengelolaan sesuai dengan manfaat yang diperoleh. perlu memperhatikan fungsi lingkungan hidup dan harus mendapat izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan wewenangnya. pembangkit listrik tenaga air. Pengusahaan sumber daya air tersebut dapat berupa pengusahaan air baku sebagai bahan baku produksi. manual (NSPM) yang telah ditetapkan. Karena keberagaman ketersediaan sumber daya air dan jenis kebutuhan sumber daya air pada suatu tempat. olahraga arung jeram. pada prinsipnya. standar. Kegiatan pengusahaan dimaksud tidak termasuk menguasai sumber airnya. dengan tujuan untuk tetap mengedepankan prinsip pengelolaan yang selaras antara fungsi sosial. penggunaan air untuk keperluan pertanian rakyat dibebaskan dari kewajiban membiayai jasa pengelolaan sumber daya air dengan tidak . waduk. dan fungsi ekonomi sumber daya air. tetapi hanya terbatas pada hak untuk menggunakan air sesuai dengan alokasi yang ditetapkan dan menggunakan sebagian sumber air untuk keperluan bangunan sarana prasarana yang diperlukan misalnya pengusahaan bangunan sarana prasarana pada situ. (16) Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan tetap memperhatikan fungsi sosial sumber daya air dan kelestarian lingkungan hidup. urutan prioritas penyediaan sumber daya air untuk keperluan lainnya ditetapkan sesuai dengan kebutuhan setempat. Rencana tersebut menjadi dasar dalam penyusunan program pengelolaan sumber daya air yang dijabarkan lebih lanjut dalam rencana kegiatan setiap instansi yang terkait. (19) Untuk terselenggaranya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. pendayagunaan sumber daya air. (18) Air dalam siklus hidrologis dapat berupa air yang berada di udara berupa uap air dan hujan. Rencana pengelolaan sumber daya air tersebut termasuk rencana penyediaan sumber daya air dan pengusahaan sumber daya air. sebagai salah satu media atau unsur utama dari kegiatan suatu usaha. perusahaan minuman dalam kemasan lainnya. Pengaturan mengenai pengusahaan sumber daya air dimaksudkan untuk mengatur dan memberi alokasi air baku bagi kegiatan usaha tertentu. sedangkan untuk air laut yang berada di darat tunduk pada pengaturan dalam undang-undang ini. (17) Pengusahaan sumber daya air pada tempat tertentu dapat diberikan kepada badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah bukan pengelola sumber daya air. Pengusahaan sumber daya air tersebut dilaksanakan sesuai dengan rambu-rambu sebagaimana diatur dalam norma. badan usaha swasta dan/atau perseorangan berdasarkan rencana pengusahaan yang telah disusun melalui konsultasi publik dan izin pengusahaan sumber daya air dari pemerintah. dan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terkoordinasi berbasis wilayah sungai. di daratan berupa salju dan air permukaan di sungai.(15) Rencana pengelolaan sumber daya air merupakan rencana induk konservasi sumber daya air. pedoman. Pemanfaatan air laut di darat untuk keperluan pengusahaan. seperti air untuk sistem pendingin mesin (water cooling system) atau air untuk pencucian hasil eksplorasi bahan tambang. Pengusahaan sumber daya air yang meliputi satu wilayah sungai hanya dapat dilakukan oleh badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air atau kerja sama antara keduanya. baik melalui rekayasa teknis maupun alami akibat pengaruh pasang surut. seperti perusahaan daerah air minum. Kewajiban ini tidak berlaku bagi pengguna air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk kepentingan sosial serta keselamatan umum. saluran. penerima manfaat jasa pengelolaan sumber daya air.

perlu dibentuk undang-undang baru sebagai pengganti Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. dan fungsi ekonomi. lembaga. operasi. Asas Keseimbangan mengandung pengertian keseimbangan antara fungsi sosial. baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah.menghilangkan kewajibannya untuk menanggung biaya pengembangan. . (21) Untuk menjamin terselenggaranya kepastian dan penegakan hukum dalam hal yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia diperlukan penyidik pegawai negeri sipil yang diberi wewenang penyidikan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Asas Kelestarian mengandung pengertian bahwa pendayagunaan sumber daya air diselenggarakan dengan menjaga kelestarian fungsi sumber daya air secara berkelanjutan. masyarakat. (20) Undang-undang ini disusun secara komprehensif yang memuat pengaturan menyeluruh tidak hanya meliputi bidang pengelolaan sumber daya air. daerah pengalirannya menembus batasbatas wilayah administrasi. dan merupakan kebutuhan pokok bagi kelangsungan kehidupan masyarakat. dan pemeliharaan sistem irigasi tersier. Mengingat sumber daya air menyangkut kepentingan banyak sektor. lingkungan hidup. baik dengan menempuh cara melalui pengadilan maupun di luar pengadilan melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan ekonomi secara selaras. Wadah koordinasi tersebut dibentuk pada tingkat nasional dan provinsi. (22) Untuk menyesuaikan perubahan paradigma dan mengantisipasi kompleksitas perkembangan permasalahan sumber daya air. tetapi juga meliputi proses pengelolaan sumber daya air. sedangkan terhadap berbagai sengketa sumber daya air. masyarakat dapat mencari penyelesaian sengketa. Wadah koordinasi itu diharapkan mampu mengoordinasikan berbagai kepentingan instansi. dan para pemilik kepentingan (stakeholders) sumber daya air lainnya dalam pengelolaan sumber daya air. Selanjutnya. menempatkan air dalam dimensi sosial. masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan. sedangkan pada tingkat kabupaten/kota dan wilayah sungai dibentuk sesuai dengan kebutuhan. mewujudkan mekanisme dan proses perumusan kebijakan dan rencana pengelolaan sumber daya air yang lebih demokratis. Dalam melaksanakan tugasnya wadah koordinasi tersebut secara teknis mendapatkan bimbingan Pemerintah dalam hal ini kementerian yang membidangi sumber daya air. fungsi lingkungan hidup. Asas Kemanfaatan Umum mengandung pengertian bahwa pengelolaan sumber daya air dilaksanakan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan umum secara efektif dan efisien. undang-undang ini menetapkan perlunya dibentuk wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air yang beranggotakan wakil dari pihak yang terkait. serta mendorong peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. terutama dalam merumuskan kebijakan dan strategi pengelolaan sumber daya air. memberikan perhatian yang lebih baik terhadap hak dasar atas air bagi seluruh rakyat. mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang terpadu. mengakomodasi tuntutan desentralisasi dan otonomi daerah. terhadap berbagai masalah sumber daya air yang merugikan kehidupan.

Sumber daya air mempunyai fungsi lingkungan hidup berarti bahwa sumber daya air menjadi bagian dari ekosistem sekaligus sebagai tempat kelangsungan hidup flora dan fauna. Yang dimaksud dengan pengelolaan sumber daya air secara terpadu merupakan pengelolaan yang dilaksanakan dengan melibatkan semua pemilik kepentingan antarsektor dan antarwilayah administrasi. Asas Keadilan mengandung pengertian bahwa pengelolaan sumber daya air dilakukan secara merata ke seluruh lapisan masyarakat di wilayah tanah air sehingga setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berperan dan menikmati hasilnya secara nyata. pendayagunaan. Yang dimaksud dengan pengelolaan sumber daya air berwawasan lingkungan hidup adalah pengelolaan yang memperhatikan keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan. . Asas Transparansi dan Akuntabilitas mengandung pengertian bahwa pengelolaan sumber daya air dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Besarnya kebutuhan pokok minimal sehari-hari akan air ditentukan berdasarkan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. termasuk di dalamnya menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Pasal 4 Sumber daya air mempunyai fungsi sosial berarti bahwa sumber daya air untuk kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan individu. serta pemantauan dan evaluasi. Pasal 3 Yang dimaksud dengan pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh mencakup semua bidang pengelolaan yang meliputi konservasi. Yang dimaksud dengan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya air yang tidak hanya ditujukan untuk kepentingan generasi sekarang tetapi juga termasuk untuk kepentingan generasi yang akan datang. pelaksanaan. serta meliputi satu sistem wilayah pengelolaan secara utuh yang mencakup semua proses perencanaan. Asas Kemandirian mengandung pengertian bahwa pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan memperhatikan kemampuan dan keunggulan sumber daya setempat. Sumber daya air mempunyai fungsi ekonomi berarti bahwa sumber daya air dapat didayagunakan untuk menunjang kegiatan usaha. Pasal 5 Ketentuan ini dimaksudkan bahwa negara wajib menyelenggarakan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan air bagi setiap orang yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jaminan tersebut menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan pemerintah daerah. dan pengendalian daya rusak air.Asas Keterpaduan dan Keserasian mengandung pengertian bahwa pengelolaan sumber daya air dilakukan secara terpadu dalam mewujudkan keserasian untuk berbagai kepentingan dengan memperhatikan sifat alami air yang dinamis.

yaitu terdapatnya tatanan hukum adat mengenai pengurusan. paer di Lombok. penguasaan. yaitu terdapatnya sekelompok orang yang masih merasa terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum tertentu. Yang dimaksud dengan hak yang serupa dengan hak ulayat adalah hak yang sebelumnya diakui dengan berbagai sebutan dari masing-masing daerah yang pengertiannya sama dengan hak ulayat. yaitu: a. b. misalnya: tanah wilayah pertuanan di Ambon. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) . dan panjaean di Tanah Batak. Hak ulayat masyarakat hukum adat dianggap masih ada apabila memenuhi tiga unsur. torluk di Angkola. limpo di Sulawesi Selatan. yaitu terdapatnya tanah ulayat tertentu yang menjadi lingkungan hidup para warga persekutuan hukum tersebut dan tempatnya mengambil keperluan hidupnya sehari-hari. prabumian dan payar di Bali. unsur wilayah. muru di Pulau Buru. dan penggunaan tanah ulayatnya yang masih berlaku dan ditaati oleh para warga persekutuan hukum tersebut. Ayat (3) Pengakuan adanya hak ulayat masyarakat hukum adat termasuk hak yang serupa dengan itu hendaknya dipahami bahwa yang dimaksud dengan masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum adat yang didasarkan atas kesamaan tempat tinggal atau atas dasar keturunan. unsur hubungan antara masyarakat tersebut dengan wilayahnya. dan c. unsur masyarakat adat. yang mengakui dan menerapkan ketentuanketentuan persekutuan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. panyam peto atau pewatasan di Kalimantan.Pasal 6 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan penguasaan sumber daya air diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah adalah kewenangan yang diberikan oleh negara kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dalam pengaturan sumber daya air. totabuan di BolaangMangondouw. wewengkon di Jawa.

perikanan. Termasuk dalam pengertian mempertinggi adalah memompa air dari sumber air untuk pertanian rakyat. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Hak untuk mengalirkan air melalui tanah orang lain dimaksudkan agar tidak mengganggu perolehan hak guna pakai air orang lain. institusi pengelola irigasi. Apabila hak guna air tersebut tidak dimanfaatkan oleh pemegang hak guna air. Ayat (2) Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk mewujudkan ketertiban pelaksanaan rencana penyediaan sumber daya air. Pasal 8 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kebutuhan pokok sehari-hari adalah air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang digunakan pada atau diambil dari sumber air (bukan dari saluran distribusi) untuk keperluan sendiri guna mencapai kehidupan yang sehat. dan membelokkan sumber air. dan kehutanan yang dikelola oleh rakyat dengan luas tertentu yang kebutuhan airnya tidak lebih dari 2 liter per detik per kepala keluarga. Yang dimaksud dengan pertanian rakyat adalah budi daya pertanian yang meliputi berbagai komoditi yaitu pertanian tanaman pangan. masak. air irigasi. Memperendah adalah perbuatan yang dapat mengakibatkan air pada sumber air menjadi lebih rendah atau turun dari semestinya. manajemen irigasi. misalnya menggali atau mengeruk sungai. misalnya membangun bendung atau bendungan. Yang dimaksud dengan sistem irigasi meliputi prasarana irigasi. Mempertinggi adalah perbuatan yang dapat mengakibatkan air pada sumber air menjadi lebih tinggi. bersih dan produktif. mandi. Dalam hal air digunakan untuk keperluan pertanian rakyat di luar sistem irigasi yang sudah ada. dan sumber daya manusia. Yang dimaksud dengan mengubah kondisi alami sumber air adalah mempertinggi. misalnya untuk keperluan ibadah. peturasan. cuci dan. Pemerintah atau pemerintah daerah dapat mencabut hak guna air yang bersangkutan. perkebunan. minum. memperendah. hak untuk mengalirkan air melalui tanah orang lain didasarkan pada kesepakatan kedua belah pihak. peternakan. Membelokkan adalah perbuatan yang dapat mengakibatkan aliran air dan alur sumber air menjadi berbelok dari alur yang sebenarnya. .Yang dimaksud tidak dapat disewakan atau dipindahtangankan artinya hak guna air yang diberikan kepada pemohon tidak dapat disewakan dan dipindahkan kepada pihak lain dengan alasan apapun.

badan usaha. Pelibatan masyarakat dan dunia usaha tersebut dilakukan melalui konsultasi publik yang diselenggarakan minimal dalam 2 (dua) tahap. Ayat (3) Yang dimaksud dengan ganti kerugian adalah pemberian imbalan kepada pemegang hak atas tanah sebagai akibat dari pelepasan hak atas tanah. maupun yang berhimpun dalam suatu lembaga atau organisasi kemasyarakatan. penggantian kerugian atau kompensasi dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan. permasalahan. masyarakat adat. dan benda-benda lain yang berada di atasnya. Konsultasi publik tahap pertama dimaksudkan untuk menjaring masukan. Kompensasi adalah pemberian imbalan kepada pemegang hak atas tanah sebagai akibat dari dilewatinya area tanahnya oleh aliran air pemegang hak guna usaha air sehingga pemegang hak atas tanah tidak dapat memanfaatkan sepenuhnya hak atas tanah yang dimilikinya. Ayat (2) Persetujuan dimaksud dilakukan secara tertulis. Pasal 10 Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Yang dimaksud dengan masyarakat adalah seluruh rakyat Indonesia baik sebagai perseorangan. dan/atau keinginan dari para pemilik kepentingan (stakeholders) untuk diolah dan dituangkan dalam arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Hal yang sama berlaku terhadap masyarakat hukum adat. . kelompok orang. permasalahan. bangunan. Ayat (2) Prinsip keterpaduan antara air permukaan dan air tanah diselenggarakan dengan memperhatikan wewenang dan tanggung jawab masing-masing instansi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Besarnya kompensasi ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak. Dalam hal yang terkena adalah aset milik negara. yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak. dan/atau keinginan masyarakat dan dunia usaha atas pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. Ayat (3) Pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air dimaksudkan untuk menjaring masukan.Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perseorangan adalah subjek nonbadan usaha yang memerlukan air untuk keperluan usahanya misalnya usaha pertambakan dan usaha industri rumah tangga. tanaman.

ukuran dan besarnya potensi sumber daya air pada wilayah sungai bersangkutan. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dewan Sumber Daya Air Nasional merupakan wadah koordinasi antar para pemilik kepentingan sumber daya air tingkat nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87. serta badan usaha milik daerah dan swasta. besarnya dampak sosial. Dunia usaha yang dimaksud di sini adalah koperasi. dan 4. banyaknya sektor dan jumlah penduduk dalam wilayah sungai bersangkutan. Ayat (4) Yang dimaksud dengan keseimbangan antara upaya konservasi dan pendayagunaan adalah perlakuan yang proporsional untuk kegiatan konservasi dan pendayagunaan sumber daya air. Ayat (3) Penetapan wilayah sungai strategis nasional dinilai berdasarkan parameter/aspek: 1. 2. badan usaha milik negara. besarnya dampak negatif akibat daya rusak air terhadap pertumbuhan ekonomi. dan ekonomi terhadap pembangunan nasional. lingkungan. 3. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 14 Huruf a . Pertimbangan Dewan Sumber Daya Air Nasional kepada Presiden diberikan atas dasar masukan dari pemerintah daerah yang bersangkutan.Konsultasi publik tahap kedua dimaksudkan untuk sosialisasi pola yang ada guna mendapatkan tanggapan dari masyarakat dan dunia usaha yang ada di wilayah sungai yang bersangkutan.

Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Yang dimaksud dengan kawasan lindung sumber air adalah kawasan yang memberikan fungsi lindung pada sumber air misalnya daerah sempadan sumber air. daerah resapan air. Huruf e Cukup jelas Huruf f Pemberian izin pada ayat ini dimaksudkan hanya untuk sumber daya air permukaan. Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Huruf j Cukup jelas Huruf k Cukup jelas Huruf l Cukup jelas Pasal 15 Huruf a Cukup jelas Huruf b . dan daerah sekitar mata air.

Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Huruf j Cukup jelas Huruf k Cukup jelas Huruf l Cukup jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Istilah desa yang dimaksud dalam pasal ini disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari. bori. dan marga sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat termasuk masyarakat hukum adat.Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Pemberian izin pada ayat ini dimaksudkan hanya untuk sumber daya air permukaan. kampung. huta. Pasal 18 Cukup jelas .

Yang dimaksud dengan daya tampung air dan sumber air adalah kemampuan air dan sumber air untuk menyerap zat. termasuk potensi yang terkandung di dalamnya. tingkat pencemaran yang terus meningkat di sumber air.Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan membahayakan kepentingan umum. dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. tanggul sungai atau bangunan prasarana umum lainnya di sumber air. Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kelangsungan keberadaan sumber daya air adalah terjaganya keberlanjutan keberadaan air dan sumber air. . atau tanah longsor yang diperkirakan dapat mengancam aktivitas perekonomian masyarakat secara luas. Yang dimaksud dengan daya dukung sumber daya air adalah kemampuan sumber daya air untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a mediasi. dan/atau pengambilalihan kewenangan. galian golongan c di sungai yang tidak terkendali sehingga mengancam kerusakan pada pondasi jembatan. Huruf b Penyelesaian sengketa dapat dilakukan melalui: fasilitasi. misalnya: tidak terurusnya kawasan lindung sumber air terutama pada daerah hulu sumber air. energi. peringatan.

Huruf c Yang dimaksud dengan pengisian air pada sumber air antara lain: pemindahan aliran air dari satu daerah aliran sungai ke daerah aliran sungai lainnya. . dan/atau perkuatan tebing sumber air.Cukup jelas Huruf b Yang dimaksud dengan pengendalian pemanfaatan sumber air dapat berupa: ƒ mengatur pemanfaatan sebagian atau seluruh sumber air tertentu melalui perizinan. misalnya dengan sudetan. pembuatan teras (sengkedan). seperti pembangunan bangunan penahan sedimen. Huruf d Yang dimaksud dengan sanitasi meliputi prasarana dan sarana air limbah dan persampahan. suplesi. Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pelaksanaan secara vegetatif merupakan upaya perlindungan dan pelestarian yang dilakukan dengan atau melalui penanaman pepohonan atau tanaman yang sesuai pada daerah tangkapan air atau daerah sempadan sumber air. Yang dimaksud dengan cara sipil teknis adalah upaya perlindungan dan pelestarian yang dilakukan melalui rekayasa teknis. dan/atau ƒ pelarangan untuk memanfaatkan sebagian atau seluruh sumber air tertentu. dan/atau imbuhan air tanah. interkoneksi.

Ayat (3) Untuk mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air misalnya dilakukan dengan cara tidak membuang sampah di sumber air. budaya. dan mengolah air limbah sebelum dialirkan ke sumber air. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan memperbaiki kualitas air pada sumber air antara lain dilakukan melalui upaya aerasi pada sumber air. dan ekonomi adalah bahwa pelaksanaan upaya perlindungan dan pelestarian sumber air dengan berbagai upaya tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi sosial. Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas . Ayat (4) Cukup jelas Pasal 24 Yang dimaksud dengan rusaknya sumber air adalah berkurangnya daya tampung atau fungsi sumber air.Yang dimaksud dengan melalui pendekatan sosial. dan ekonomi masyarakat setempat. budaya.

termasuk juga ketentuan. danau. ruang yang dialokasikan untuk budi daya perikanan. transportasi air. Ayat (6) Yang dimaksud dengan setiap orang meliputi orang perseorangan dan badan usaha. atau sungai) yang dialokasikan. dan/atau pelestarian cagar budaya. dan air tanah adalah keadaan yang sesuai dengan daur hidrologi yang merupakan satu kesatuan sistem (conjunctive use). Ayat (1) Pasal 27 Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan sumber air adalah ruang pada sumber air (waduk. atau sungai ke dalam berbagai zona pemanfaatan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas . atau kriteria pemanfaatan dan pengendaliannya. olahraga air dan pariwisata. rawa. danau. Misalnya.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Yang dimaksud dengan keterkaitan antara air hujan. Ketentuan ini tidak diberlakukan kepada pengguna air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80. penambangan bahan galian golongan C. Ayat (7) Yang dimaksud dengan prinsip pemanfaat membayar biaya jasa pengelolaan adalah penerima manfaat ikut menanggung biaya pengelolaan sumber daya air baik secara langsung maupun tidak langsung. baik untuk kepentingan generasi sekarang maupun yang akan datang. membagi permukaan suatu waduk. selain untuk menentukan dan memperjelas batas masing-masing zona pemanfaatan. pelestarian unsur lingkungan yang unik atau dilindungi. Dalam penetapan zona pemanfaatan sumber air. rawa. air permukaan. antara lain. persyaratan. baik sebagai fungsi lindung maupun fungsi budi daya. Penentuan zona pemanfaatan sumber air bertujuan untuk mendayagunakan fungsi/potensi yang terdapat pada sumber air yang bersangkutan secara berkelanjutan.

Ayat (3) Apabila terjadi konflik kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan air irigasi untuk pertanian rakyat misalnya pada situasi kekeringan yang ekstrim. dan usaha industri. pertanian. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penyebutan jenis-jenis penyediaan sumber daya air pada ayat ini di luar kebutuhan pokok bukan merupakan urutan prioritas. prioritas ditempatkan pada pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. perkebunan. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Kompensasi dapat berbentuk ganti kerugian misalnya berupa keringanan biaya jasa pengelolaan sumber daya air yang dilakukan atas dasar kesepakatan antarpemakai. hortikultura. peternakan. Yang dimaksud dengan kebutuhan air untuk pertanian misalnya kebutuhan air untuk tanaman pangan. Ayat (6) Cukup jelas Pasal 30 Ayat (1) . dan perikanan. misalnya mengelompokkan penggunaan sungai ke dalam beberapa ruas menurut beberapa jenis golongan penggunaan air untuk keperluan air baku untuk rumah tangga.Pasal 28 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penetapan peruntukan air pada sumber air adalah pengelompokan penggunaan air yang terdapat pada sumber air ke dalam beberapa golongan penggunaan air termasuk baku mutunya.

perubahan rencana penyediaan air untuk mengatasi kekeringan dan pemadaman kebakaran hutan. rumah tangga. jiwa. karena keterlambatan mengambil keputusan akan menimbulkan kerugian harta. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penggunaan sebagai media misalnya pemanfaatan sungai untuk transportasi dan arung jeram. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Kerusakan pada sumber air antara lain dapat berupa longsoran pada tebing sumber air. memperbaiki tanggul. Yang dimaksud dengan penggunaan sebagai materi misalnya pemanfaatan air untuk minum. Misalnya. dan industri. atau membongkar bangunan yang dijadikan tempat pengambilan atau penggunaan air dimaksud. Yang dimaksud dengan mengganti kerugian antara lain dapat berupa kerja bakti membuat bangunan penahan longsor.Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan kepentingan mendesak adalah suatu keadaan tertentu yang mengharuskan pengambilan keputusan dengan cepat untuk mengubah rencana penyediaan air. benda. dan lingkungan yang lebih besar. dan/atau menyempitnya ruas sumber air. Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas . rusak atau jebolnya tanggul sungai.

Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pengembangan termasuk kegiatan pelaksanaan konstruksi. Penggunaan sumber daya air untuk pemenuhan prioritas penggunaan sumber daya air misalnya untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari pada saat terjadi kekeringan. Penggunaan sumber daya air untuk kepentingan konservasi misalnya untuk penggelontoran sumber air di kawasan perkotaan yang tingkat pencemarannya sudah sangat tinggi (terjadi keracunan). desa. Penggunaan sumber daya air untuk persiapan pelaksanaan konstruksi misalnya untuk mengatasi kerusakan mendadak yang terjadi pada prasarana sumber daya air (tanggul jebol). atau masyarakat hukum adat. Dharma Tirta di Jawa Tengah. bersifat positif dan produktif serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dan Mitra Cai di Jawa Barat. ƒ kekhasan di bidang penyelenggaraan pemerintahan seperti otonomi khusus. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Huruf a Cukup jelas Huruf b Kekhasan daerah adalah sifat khusus tertentu yang hanya ditemukan di suatu daerah. Tuo Banda di Sumatera Barat. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Ayat (4) Yang dimaksud dengan konsultasi publik adalah upaya menyerap aspirasi masyarakat melalui dialog dan musyawarah dengan semua pihak yang .Pasal 33 Yang dimaksud dengan keadaan memaksa dalam ayat ini adalah keadaan yang bersifat darurat. Contoh: ƒ kekhasan di bidang kelembagaan masyarakat pemakai air untuk irigasi: Subak di Bali.

waduk. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Huruf a Yang dimaksud dengan sumber air permukaan lainnya. telaga. ranu.berkepentingan. antara lain. dan mata air (spring water). Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Yang dimaksud dengan modifikasi cuaca adalah upaya dengan cara memanfaatkan parameter cuaca dan kondisi iklim pada lokasi tertentu untuk tujuan meminimalkan dampak bencana alam akibat iklim dan cuaca. Konsultasi publik bertujuan mencegah dan meminimalkan dampak sosial yang mungkin timbul serta untuk mendorong terlaksananya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan yang lebih adil. embung. seperti kekeringan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) . dan kebakaran hutan. situ. banjir.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Yang dimaksud dengan air minum rumah tangga adalah air dengan standar dapat langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu dan dinyatakan sehat menurut hasil pengujian mikrobiologi (uji ecoli). penyelenggaraan air minum di wilayah tersebut dilakukan oleh koperasi. badan usaha swasta dan masyarakat. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah adalah badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah yang bertugas menyelenggarakan pengembangan sistem penyediaan air minum. manajemen. Pengembangan instalasi dan jaringan serta sistem penyediaan air minum untuk rumah tangga termasuk pola hidran dan pola distribusi dengan mobil tangki air. keuangan. dan hukum) dalam kesatuan yang utuh untuk menyediakan air minum yang memenuhi kualitas standar tertentu bagi masyarakat menuju kepada keadaan yang lebih baik.Pengembangan fungsi dan manfaat air laut yang berada di darat misalnya untuk keperluan usaha tambak dan sistem pendinginan mesin. Ayat (4) Dalam hal di suatu wilayah tidak terdapat penyelenggaraan air minum yang dilakukan oleh badan usaha milik negara dan/atau badan usaha milik daerah. Yang dimaksud dengan pengembangan sistem penyediaan air minum adalah memperluas dan meningkatkan sistem fisik (teknik) dan sistem nonfisik (kelembagaan. peran masyarakat.

irigasi air bawah tanah. Ayat (5) Yang dimaksud dengan pihak lain adalah kelompok masyarakat di luar kelompok/perkumpulan petani pemakai air. atau DI sedang yang bersifat lintas provinsi. Pengembangan sistem irigasi harus selaras dengan rencana tata ruang wilayah.000 ha (DI sedang). atau daerah irigasi kecil yang bersifat lintas kabupaten/kota menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah provinsi. ƒ daerah irigasi (DI) dengan luas lebih dari 3. irigasi rawa. dan irigasi tambak. dan lintas negara menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah.Ayat (8) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Yang dimaksud dengan irigasi adalah usaha penyediaan.000 ha (DI besar). perseorangan atau badan usaha yang karena kebutuhan dan atas pertimbangan/advis/rekomendasi pemerintah secara berjenjang menurut skala kewenangan dinilai mampu untuk mengembangkan sistem irigasi. Pelaksanaan pengembangan sistem irigasi yang menjadi kewenangan Pemerintah dapat diselenggarakan oleh pemerintah daerah berdasarkan peraturan perundangundangan. irigasi pompa. Ayat (2) Pengembangan sistem irigasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah termasuk saluran percontohan sepanjang 50 meter dari bangunan sadap/pengambilan tersier. tetapi dalam batas-batas tertentu pemerintah dapat memfasilitasinya. . Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan bahwa hak dan tanggung jawab pengembangan sistem irigasi tersier ada pada petani. Yang dimaksud dengan mengikutsertakan masyarakat adalah mendorong masyarakat pemakai air pada umumnya dan petani pada khususnya untuk berperan aktif dalam pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder. pengaturan. strategis nasional.000 ha (DI kecil) dan berada dalam satu kabupaten/kota menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota. Kriteria pembagian tanggung jawab pengelolaan irigasi selain didasarkan pada keberadaan jaringan tersebut terhadap wilayah administrasi juga perlu didasarkan pada strata luasannya.d. sebagai berikut: ƒ daerah irigasi (DI) dengan luas kurang dari 1. 3.000 s. ƒ daerah irigasi (DI) dengan luas 1. dan pembuangan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan. Ayat (4) Yang dimaksud masyarakat termasuk perkumpulan petani pemakai air.

Pengembangan sistem irigasi juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga atas supervisi pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 44 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pengembangan sumber daya air untuk perhubungan antara lain untuk media transportasi misalnya untuk lalu lintas air dan pengangkutan kayu melalui sungai. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan pengusahaan sumber daya air permukaan yang meliputi satu wilayah sungai adalah pengusahaan pada seluruh sistem sumber daya air . Pengaturan tentang tata cara persetujuan dan supervisi pemerintah ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Yang dimaksud dengan memenuhi keperluan sendiri adalah penggunaan tenaga yang dihasilkan hanya dimanfaatkan untuk melayani dirinya sendiri/kelompoknya sendiri. dan pembiayaan. Ayat (6) Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keperluan ketenagaan misalnya menggunakan air sebagai penggerak turbin pembangkit listrik atau sebagai penggerak kincir. Yang dimaksud dengan kemampuan petani berarti mampu secara kelembagaan.Pengembangan dalam arti pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan oleh pihak lain dengan desain konstruksi yang telah disetujui oleh pemerintah. teknis. sedangkan untuk diusahakan lebih lanjut adalah penggunaan tenaga yang dihasilkan tidak hanya untuk keperluan sendiri tetapi dipasarkan kepada pihak lain.

kontrak pelayanan. badan usaha swasta. pengawasan dan pengendalian pengelolaan sumber daya air secara keseluruhan. Ayat (4) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemanfaatan wadah air pada lokasi tertentu antara lain adalah pemanfaatan atau penggunaan sumber air untuk keperluan wisata air. atau lalu lintas air. Kerja sama dapat dilakukan. and transfer). Ayat (2) .yang ada dalam wilayah sungai yang bersangkutan mulai dari hulu sampai hilir sungai atau sumber air yang bersangkutan. Ayat (3) Yang dimaksud dengan badan usaha pada ayat ini dapat berupa badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah (yang bukan badan usaha pengelola sumber daya air wilayah sungai). Yang dimaksud dengan badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air adalah badan usaha yang secara khusus dibentuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. baik dalam pembiayaan investasi pembangunan prasarana sumber daya air maupun dalam penyediaan jasa pelayanan dan/atau pengoperasian prasarana sumber daya air. Huruf c Pemanfaatan daya air antara lain sebagai penggerak turbin pembangkit listrik atau sebagai penggerak kincir. perusahaan patungan. Pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama yang dimaksud harus tetap dalam batas-batas yang memungkinkan pemerintah menjalankan kewenangannya dalam pengaturan. kontrak konsesi. kontrak sewa dan sebagainya. dan koperasi. Izin pengusahaan antara lain memuat substansi alokasi air dan/atau ruas (bagian) sumber air yang dapat diusahakan. kontrak manajemen. olahraga arung jeram. Kerja sama dapat dilaksanakan dengan berbagai cara misalnya dengan pola bangun guna serah (build. tetapi dapat ditinjau kembali apabila persyaratan atau keadaan yang dijadikan dasar pemberian izin dan kondisi ketersediaan air pada sumber air yang bersangkutan mengalami perubahan yang sangat berarti dibandingkan dengan kondisi ketersediaan air pada saat penetapan alokasi. operate. Pasal 46 Ayat (1) Alokasi air yang ditetapkan tidak bersifat mutlak sebagaimana yang tercantum dalam izin.

dan merespon secara proporsional/wajar. mempelajari dan mendalami objek pengaduan. Ayat (2) Ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya upaya pengusahaan yang melampaui batas-batas daya dukung lingkungan sumber daya air sehingga mengancam kelestariannya. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Yang dimaksud dengan alokasi air sementara adalah alokasi yang dihitung berdasarkan perkiraan ketersediaan air yang dapat diandalkan (debit andalan) dengan memperhitungkan kebutuhan pengguna air yang sudah ada. Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan memfasilitasi ialah menyerap. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (1) Pasal 48 Pasal 47 Yang dimaksud dengan saluran distribusi adalah saluran pembawa air baku. Pasal 49 Cukup jelas . Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Bentuk konsultasi publik yang digunakan dapat melalui tatap muka langsung dengan para pemilik kepentingan (stakeholders) dan/atau dengan cara-cara lain yang lebih efisien dan efektif dalam menjaring masukan/tanggapan para pemilik kepentingan dan masyarakat.Alokasi air yang diberikan untuk keperluan pengusahaan tersebut tetap memperhatikan alokasi air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat pada wilayah sungai yang bersangkutan. baik yang berupa saluran terbuka maupun yang berbentuk saluran tertutup misalnya pipa.

tanah longsor. b. tanah ambles. biologi. pengawasan. Yang dimaksud dengan penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai adalah penyelarasan antara upaya kegiatan konservasi di bagian hulu dengan pendayagunaan di daerah hilir. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas . sedangkan kegiatan nonfisik adalah kegiatan penyusunan dan/atau penerapan piranti lunak yang meliputi antara lain pengaturan.Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Ayat (1) Yang dimaksud dengan daya rusak air antara lain berupa: a. h. dan fisika air. perembesan. i. perubahan sifat dan kandungan kimiawi. intrusi. banjir lahar dingin. erosi dan sedimentasi. pembinaan. dan/atau j. dan pengendalian. banjir. f. e. g. wabah penyakit. d. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Cukup jelas Pasal 52 Pasal 53 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kegiatan fisik adalah pembangunan sarana dan prasarana serta upaya lainnya dalam rangka pencegahan kerusakan/ bencana yang diakibatkan oleh daya rusak air. c. terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Keadaan yang membahayakan merupakan keadaan air yang luar biasa yang melampaui batas rencana sehingga jika tidak diambil tindakan darurat diperkirakan dapat menjadi bencana yang lebih besar terhadap keselamatan umum. rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi menjadi Pasal 57 Pasal 58 .Ayat (4) Cukup jelas Pasal 54 Ayat (1) Mitigasi bencana adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana. misalnya penyediaan fasilitas pengungsian dan penambalan darurat tanggul bobol. rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas kabupaten/kota menjadi masukan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota dan provinsi bersangkutan. Cukup jelas Cukup jelas Pasal 59 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota menjadi masukan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota.

dan panjang. baik menyangkut kuantitas maupun kualitas beserta prasarana dan sarana serta lingkungannya termasuk kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya. tata ruang wilayah kabupaten/kota dan provinsi yang Selain sebagai masukan untuk penyusunan rencana tata ruang wilayah. Dengan demikian. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (1) Pasal 62 Rencana pengelolaan sumber daya air disusun untuk jangka pendek. Pada umumnya jangka waktu pendek adalah lima tahun. hidrogeologis. Cukup jelas Pasal 60 Pasal 61 Ayat (1) Kegiatan inventarisasi sumber daya air dimaksudkan antara lain untuk mengetahui kondisi hidrologis. Perubahan yang dimaksud merupakan tuntutan perkembangan kondisi dan situasi. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) . hidrometeorologis. Penetapan jangka waktu perencanaan diserahkan pada kesepakatan pihak yang berperan dalam perencanaan di setiap wilayah sungai.masukan rencana bersangkutan. jangka waktu menengah adalah 10 tahun. potensi sumber daya air yang tersedia. baik pada rencana pengelolaan sumber daya air maupun pada rencana tata ruang pada periode waktu tertentu. antara rencana pengelolaan sumber daya air dan rencana tata ruang wilayah terdapat hubungan yang bersifat dinamis dan terbuka untuk saling menyesuaikan. rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai juga digunakan sebagai masukan untuk meninjau kembali rencana tata ruang wilayah dalam hal terjadi perubahanperubahan. dan jangka waktu panjang adalah 25 tahun. menengah. dan kebutuhan air.

program rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dilaksanakan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam bidang konservasi tanah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 64 Ayat (1) . Ayat (7) Cukup jelas Ayat (1) Pasal 63 Yang dimaksud dengan pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air adalah upaya melaksanakan pembangunan atau kegiatan konstruksi berdasarkan perencanaan teknis yang telah dibuat. dan alat pengukur debit air. Yang dimaksud dengan manual adalah panduan yang berisikan petunjuk mengoperasikan peralatan dan/atau komponen bangunan sumber daya air misalnya pintu air. Yang dimaksud dengan pedoman adalah acuan yang bersifat umum yang harus dijabarkan lebih lanjut dan dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan daerah setempat. pompa banjir.Pengumuman dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat guna menyatakan keberatan atas suatu rancangan rencana yang akan ditetapkan. yang dapat berupa bangunan atau konstruksi sarana dan/atau prasarana sumber daya air. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Program-program pembangunan yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air misalnya program pengembangan air tanah oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang air tanah.

pengaturan jadwal pemberian air. dan pengaturan pemanfaatan sempadan sumber air. . dan kelembaban udara.Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan pengaturan dalam ayat ini. Huruf b Cukup jelas Ayat (7) Cukup jelas Ayat (8) Cukup jelas Pasal 65 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Informasi kondisi hidrologis misalnya tentang curah hujan. Informasi kondisi hidrogeologis mencakup cekungan air tanah misalnya potensi air tanah dan kondisi akuifer atau lapisan pembawa air. misalnya. teknik pemanfaatan air. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Huruf a Kegiatan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi primer dan sekunder dilakukan Pemerintah dan pemerintah daerah tidak menutup kemungkinan perkumpulan petani pemakai air berperan serta sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. pengaturan pembagian air. debit sungai. dan tinggi muka air pada sumber air. Informasi kondisi hidrometeorologis misalnya tentang temperatur udara. kecepatan angin.

telepon. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Cukup jelas Pasal 70 Ayat (1) Yang dimaksud dengan para pemilik kepentingan adalah stakeholders di bidang sumber daya air. seminar. atau kunjungan langsung dengan prinsip terbuka untuk semua pihak yang berkepentingan di bidang sumber daya air. surat menyurat. faksimile. lokakarya. badan atau lembaga lain di masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara. kegiatan pemberdayaan masyarakat.Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pasal 66 Akses terhadap informasi sumber daya air yang tersedia di pusat pengelolaan data di instansi pemerintah. antara lain melalui internet. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pasal 67 . serta kegiatan pembangunan sarana dan/atau prasarana yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. penelitian. media cetak yang diterbitkan secara berkala. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan kegiatan berkaitan dengan sumber daya air adalah kegiatan studi.

baik dalam konteks kesesuaiannya dengan rencana pengelolaan yang sudah ditetapkan maupun dalam konteks ketaatannya termasuk tindak lanjutnya sesuai dengan peraturan perundangan-undangan. pelatihan. perilaku dan kemampuan melalui kegiatan advokasi. dan bentuk pendidikan nonformal lainnya. dan bantuan teknis dengan cara menempatkan dan menugaskan tenaga pendamping masyarakat. penyuluhan. seperti kursus. Ayat (2) . Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Cukup jelas Pasal 74 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pendampingan adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk meningkatkan penyadaran. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 71 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pendidikan khusus adalah bentuk pendidikan nonformal yang selama ini telah dilaksanakan dalam bidang sumber daya air. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 75 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kegiatan pengawasan dalam ayat ini mencakup pengamatan secara cermat atas praktik penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air.Termasuk pengertian kelompok masyarakat adalah organisasi kemasyarakatan yang memiliki aktivitas di bidang sumber daya air misalnya masyarakat subak dan kelompok masyarakat petani pemakai air.

dan pengendalian daya rusak air.Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 76 Cukup jelas Pasal 77 Ayat (1) Yang dimaksud dengan kebutuhan nyata adalah dana yang dibutuhkan sematamata untuk membiayai pengelolaan sumber daya air agar pelaksanaannya dapat dilakukan secara wajar untuk menjamin keberlanjutan fungsi sumber daya air. Ayat (2) Setiap jenis pembiayaan dimaksud mencakup tiga aspek pengelolaan sumber daya air. yaitu konservasi sumber daya air. pendayagunaan sumber daya air. Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan biaya pelaksanaan konstruksi. termasuk di dalamnya biaya konservasi sumber daya air. Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Huruf a Cukup jelas Huruf b .

dan keselamatan umum yang dapat dibiayai oleh Pemerintah dan pemerintah daerah misalnya rehabilitasi tanggul dan sistem peringatan dini banjir. . Biaya jasa pengelolaan sumber daya air adalah biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pengelolaan sumber daya air agar sumber daya air dapat didayagunakan secara berkelanjutan. kesejahteraan. Sedangkan biaya pemeliharaan rutinnya tetap menjadi tanggung jawab badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Ketentuan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap sangat mendesak oleh daerah tetapi belum menjadi prioritas pada tingkat nasional untuk wilayah sungai lintas provinsi dan wilayah sungai strategis nasional. baik untuk tujuan pengusahaan sumber daya air maupun untuk tujuan penggunaan sumber daya air yang wajib membayar. Pasal 78 Ayat (1) Badan usaha lain misalnya perseroan terbatas dan usaha dagang. Pasal 80 Ayat (1) Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari yang tidak dibebani biaya jasa pengelolaan sumber daya air adalah pengguna sumber daya air yang menggunakan air pada atau mengambil air untuk keperluan sendiri dari sumber air yang bukan saluran distribusi.Cukup jelas Huruf c Hasil penerimaan biaya jasa pengelolaan sumber daya air diperoleh dari para penerima manfaat pengelolaan sumber daya air. atau belum menjadi prioritas pada tingkat regional untuk wilayah sungai lintas kabupaten/kota. Pasal 79 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan batas-batas tertentu adalah batasan terhadap lingkup pekerjaan untuk pelayanan sosial.

c.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Perhitungan ekonomi rasional yang dapat perhitungan yang memperhatikan unsur-unsur: a. Tingkat kemampuan ekonomi kelompok pengguna perlu dipertimbangkan dalam penentuan satuan biaya jasa pengelolaan mengingat adanya perbedaan jumlah penghasilan. atau satuan luas sumber air yang digunakan. dan d. Kelompok pengguna misalnya: kelompok pengusaha industri rumah tangga. Ayat (5) Yang dimaksud dengan jenis penggunaan nonusaha adalah jenis penggunaan air untuk kegiatan yang bertujuan tidak mencari keuntungan misalnya pertanian rakyat. Yang dimaksud dengan volume dalam volume penggunaan sumber daya air adalah jumlah penggunaan sumber daya air yang dihitung dengan satuan m3. operasi dan pemeliharaan. biaya depresiasi investasi. rumah tangga. untuk pengembangan sumber daya air. Ayat (6) Yang dimaksud dana dalam ayat ini adalah pungutan biaya jasa pengelolaan sumber daya air. kelompok pengusaha industri pabrikan. Ayat (4) Yang dimaksud dengan nilai satuan biaya jasa pengelolaan adalah besarnya biaya jasa pengelolaan untuk setiap unit pemanfaatan misalnya Rp per kWh dan Rp per m3. amortisasi dan bunga investasi. dan peribadatan. dan kelompok pengusaha air dalam kemasan. b. atau satuan daya yang dihasilkan (kWh). Ayat (7) Cukup jelas Pasal 81 Cukup jelas Pasal 82 Huruf a Cukup jelas dipertanggungjawabkan adalah .

gagasan. Bentuk peran masyarakat dalam proses pelaksanaan yang mencakup pelaksanaan konstruksi serta operasi dan pemeliharaan. saluran. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Kerugian yang berkaitan dengan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air misalnya terjadinya pemberian air yang tidak sesuai dengan jadwal waktu. Huruf f Cukup jelas Pasal 83 Cukup jelas Pasal 84 Ayat (1) Bentuk peran masyarakat dalam proses perencanaan. tidak sesuai dengan alokasi. dan benda-benda lain yang berada di atasnya karena adanya pembangunan bendungan. Ganti kerugian fisik dapat berupa uang. tenaga. atau dalam bentuk lain. saham. tanggul. dan/atau kualitas air yang tidak sesuai dengan baku mutu. bendung. misalnya sumbangan waktu. bangunan. Ganti kerugian nonfisik dapat berupa pemberian pekerjaan. misalnya menyampaikan pemikiran. misalnya hilang atau berkurangnya fungsi atau hak atas tanah. material. dan proses pengambilan keputusan dalam batas-batas tertentu. tanaman. dan bangunan prasarana pengelolaan sumber daya air lainnya. Yang dimaksud dengan pihak yang berwenang adalah pengelola sumber daya air dan pihak lain yang mempunyai tugas dan wewenang menerima pengaduan terkait dengan pengelolaan sumber daya air. permukiman kembali. .Huruf b Bentuk kerugian yang dialami sebagai akibat pelaksanaan pengelolaan sumber daya air. Pemberian ganti kerugian dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku meliputi ganti kerugian fisik dan/atau nonfisik terhadap pemilik atau penggarap hak atas tanah dan/atau benda-benda lain beserta tanaman yang berada di atasnya. atau jaminan penghidupan lainnya yang tidak mengurangi nilai sosial ekonominya. dan dana.

antara para pengguna dan pengusaha. antarpengusaha. antarwilayah. organisasi masyarakat dapat dilibatkan sebagai narasumber. Yang dimaksud dengan seimbang adalah jumlah anggota yang proporsional antara unsur pemerintah dan unsur nonpemerintah. serta kelompok pengguna dan pengusaha sumber daya air. misalnya sektor. Kelompok pakar. misalnya menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. serta antara hulu dan hilir. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 85 Cukup jelas Pasal 86 Ayat (1) Yang dimaksud dengan nama lain misalnya panitia tata pengaturan air provinsi dan panitia tata pengaturan air kabupaten/kota. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan prinsip keterwakilan adalah terwakilinya kepentingan unsur-unsur yang terkait. wilayah.Bentuk peran masyarakat dalam proses pengawasan. asosiasi profesi. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Ayat (1) Sengketa sumber daya air dapat berupa sengketa pengelolaan sumber daya air dan/atau sengketa hak guna pakai air atau hak guna usaha air. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas . Misalnya sengketa antarpengguna.

asosiasi profesi. lembaga pendidikan.Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Yang dimaksud dengan organisasi yang bergerak di bidang sumber daya air antara lain adalah organisasi pengguna air. organisasi pemerhati masalah air. dan/atau bentuk organisasi masyarakat lainnya yang bergerak di bidang sumber daya air. Yang dimaksud dengan biaya atas pengeluaran nyata adalah biaya yang nyatanyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi penggugat. Ayat (2) Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan agar gugatan yang dilakukan oleh organisasi hanya terbatas pada tindakan yang berkenaan dengan sumber daya air yang menyangkut kepentingan publik dengan memohon kepada pengadilan agar seseorang atau badan usaha diperintahkan untuk melakukan tindakan penanggulangan dan pemulihan yang berkaitan dengan keberlanjutan fungsi sumber daya air. lembaga swadaya masyarakat bidang sumber daya air. Mekanisme hubungan koordinasi antara . Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pejabat penyidik pegawai negeri sipil memberitahukan dimulainya penyidikan kepada pejabat penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dan hasil penyidikan diserahkan kepada penuntut umum melalui pejabat penyidik POLRI. Hak mengajukan gugatan pada ayat ini adalah gugatan perwakilan. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan jaminan bahwa hasil penyidikannya telah memenuhi ketentuan dan persyaratan.

Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4377 . Ayat (4) Cukup jelas Pasal 94 Cukup jelas Pasal 95 Cukup jelas Pasal 96 Cukup jelas Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Perizinan dimaksud termasuk perjanjian yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya air yang telah dibuat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah.pejabat penyidik pegawai negeri sipil dan pejabat penyidik POLRI dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

DAFTAR PERATURAN PERUNDANGAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH 1. PP Nomor 27 Tahun 2002 17. PP Nomor 27 Tahun 1999 8. PP Nomor 18 Tahun 1999 6. PP Nomor 8 Tahun 1999 5. PP Nomor 7 Tahun 1999 4. PP Nomor 69 Tahun 1996 Pelaksanaan Hak dan Kewajiban. PP Nomor 41 Tahun 1999 9. PP Nomor 4 Tahun 2001 14. PP Nomor 82 Tahun 2001 16. PP Nomor 85 Tahun 1999 Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pengendalian Pencemaran Udara Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Tingkat Ketelitian Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah Lembaga Penyedia Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pengendalian Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa Pengendalian Kerusakan Dan Atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan Pengelolan Bahan Berbahaya dan Beracun Pengelolaan Kualitas Pencemaran Air dan Pengendalian 10. PP Nomor 19 Tahun 1999 7. PP Nomor 10 Tahun 2000 11. PP Nomor 68 Tahun 1998 3. PP Nomor 54 Tahun 2000 12. serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Pengelolaan Beracun Limbah Bahan Berbahaya dan 2. PP Nomor 150 Tahun 2000 13. PP Nomor 40 Tahun 2003 Pengelolaan Limbah Radioaktif Tentang Tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup . PP Nomor 74 Tahun 2001 15.

MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN. bahwa sehubungan dengan hal tersebut dan dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. 69 Tahun 1996 Tentang : Pelaksanaan Hak Dan Kewajiban. dan pengendalian pemanfaatan ruang. .Peraturan Pemerintah No. b. pelaksanaan hak dan kewajiban. pelaksanaan hak dan kewajiban serta bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam penataan ruang perlu dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Serta Bentuk Dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Oleh Nomor Tanggal Sumber : : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 69 TAHUN 1996 (69/1996) 3 DESEMBER 1996 (JAKARTA) LN 1996/104. SERTA BENTUK DAN TATA CARA PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115.an Negara Nomor 3501). TLN 3660 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. pemanfaatan ruang. 2. Mengingat: 1. bahwa dalam mewujudkan proses perencanaan tata ruang. serta bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam penataan ruang perlu diatur dengan Peraturan Pemerintah. Menimbang: a. Tambahan Lembar.

2. 12. kelompok orang. untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. termasuk masyarakat hukum adat. dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. dan kegiatan ekonomi. 5. atau badan hukum. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang. pelayanan jasa pemerintahan. tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan guna memelihara kelangsungan hidupnya. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. ruang lautan. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat. ruang lautan. 8. 10. 9. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. pelayanan sosial. 3. pemanfaatan ruang. dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah. Masyarakat adalah orang seorang.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini. pelayanan sosial. 6. yang dimaksud dengan: 1. baik direncanakan maupun tidak. . 7. dan ruang udara. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan. Hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 4.

memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. d.tempat yang memungkinkan masyarakat mengetahui dengan mudah. untuk Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dan kawasan tertentu. rencana tata ruang kawasan. pemanfaatan ruang. Dalam rangka memenuhi hak masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. dan ruang udara. Lembaran Daerah Tingkat II. (2) Dalam rangka mewujudkan hak masyarakat untuk mengetahui rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. rencana rinci tata ruang kawasan. . menikmati manfaat ruang dan atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari penataan ruang. Menteri adalah menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang demi keserasian dan kelestarian ruang daratan. berperan serta dalam proses perencanaan tata ruang. untuk Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Lembaran Daerah Tingkat I. BAB II PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT Bagian Pertama Pelaksanaan Hak Masyarakat Pasal 2 Dalam kegiatan penataan ruang masyarakat berhak: a.13. dan pengendalian pemanfaatan ruang. maka rencana tata ruang diundangkan dan dimuat dalam : Lembaran Negara. mengetahui secara terbuka rencana tata ruang wilayah. b. Pasal 3 (1) a. c. c. untuk Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Pemerintah berkewajiban mengumumkan/menyebarluaskan rencana tata ruang yang telah ditetapkan pada tempat. ruang lautan.

berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. b. Pasal 7 Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dilaksanakan dengan mematuhi dan menerapkan kriteria. Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan. baku mutu.Pasal 4 (1) Pelaksanaan hak masyarakat dalam menikmati manfaat ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan atau kaidah yang berlaku. (2) (2) . Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) maka penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pemanfaatan ruang. dan aturan-aturan penataan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. menyebarluaskan informasi dan memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang ketentuan peraturan perundang-undangan atau kaidah yang berlaku. Bagian Kedua Pelaksanaan Kewajiban Masyarakat Pasal 6 Dalam kegiatan penataan ruang masyarakat wajib untuk: a. Pasal 5 (1) Hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan status semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat pelaksanaan rencana tata ruang diselenggarakan dengan cara musyawarah antara pihak yang berkepentingan. kaidah. berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam proses perencanaan tata ruang. dan menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Dalam hubungannya dengan pelaksanaan hak masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

kerja sama dalam penelitian dan pengembangan. atau pendapat dalam penyusunan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan kebijaksanaan pemanfaatan ruang.BAB III BENTUK PERAN SERTA MASYARAKAT Bagian Pertama Bentuk Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 8 Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu dapat berbentuk: a. saran. pertimbangan. d. e. bantuan teknik dan pengelolaan pemanfaatan ruang. . pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan. pemberian masukan dalam perumusan rencana tata ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu. b. bantuan tenaga ahli. pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu yang ditetapkan. f. termasuk perencanaan tata ruang kawasan tertentu. pemberian informasi. b. termasuk bantuan untuk memperjelas hak atas ruang wilayah. Pasal 9 Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Nasional dapat berbentuk: a. g. termasuk kawasan tertentu. c. pengajuan keberatan terhadap rancangan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu.

pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan wilayah yang akan dicapai. agama. termasuk bantuan untuk memperjelas hak atas ruang di wilayah.Pasal 10 Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang kawasan tertentu dapat berbentuk: a. kegiatan menjaga. pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan. pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah Nasional dan kawasan tertentu. c. penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. d. ruang lautan. termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang. peningkatan efisiensi. memelihara. bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan ruang. Bagian Kedua Bentuk Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Pasal 12 Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat berbentuk: a. adat. b. . dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan. efektivitas. dan keserasian dalam pemanfaatan ruang daratan. b. Pasal 11 Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu dapat berbentuk: a. dan atau b. dan ruang udara berdasarkan peraturan perundang-undangan. atau kebiasaan yang berlaku. dan termasuk pula perencanaan tata ruang kawasan. perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional.

perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang wilayah dan kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. atau kebiasaan yang berlaku. pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. b. d. f. pemanfaatan ruang daratan dan ruang udara berdasarkan peraturan perundang-undangan. pertimbangan. atau pendapat dalam penyusunan penyusunan strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang mencakup lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. memelihara. dan atau c. e. f. . bantuan untuk merumuskan perencanaan tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan atau bantuan tenaga ahli. agama. dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan. bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan ruang. dan atau kegiatan menjaga.c. g. d. Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat berbentuk: a. Pasal 13 e. pengajuan keberatan terhadap rancangan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan dimaksud. kerja sama dalam penelitian dan pengembangan. Pasal 14 Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat berbentuk: a. adat. pemberian informasi. saran.

pemanfaatan ruang daratan dan ruang udara berdasarkan peraturan perundang-undangan. pemberian masukan untuk menentukan arah pengembangan wilayah yang akan dicapai. bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan ruang. pertimbangan. saran. pemberian masukan dalam merumuskan perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pengajuan keberatan terhadap rancangan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Bagian Ketiga Bentuk Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II Pasal 15 Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat berbentuk: a. e. dan atau bantuan tenaga ahli. atau kebiasaan yang berlaku. g. agama. b. f. pemberian informasi. c. termasuk perencanaan tata ruang kawasan. kerja sama dalam penelitian dan pengembangan. pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan termasuk bantuan untuk memperjelas hak atas ruang wilayah. bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan dan perdesaan. Pasal 16 Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II dapat berbentuk: a. adat. atau pendapat dalam penyusunan strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. .b. b. d.

pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. atau pendapat dalam penyusunan rencana pemanfaatan ruang. e. udara. d. pemberian kejelasan hak atas ruang kawasan. pemberian tanggapan terhadap rancangan rencana rinci tata ruang kawasan. c. penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. . memelihara. dan atau bantuan dana. Pasal 18 Peran serta masyarakat dalam penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat berbentuk: a. bantuan pemikiran atau pertimbangan untuk penertiban kegiatan pemanfaatan ruang dan peningkatan kualitas pemanfaatan ruang. f. b. konsolidasi pemanfaatan tanah. dan atau kegiatan menjaga.c. e. f. saran. perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan atau b. dan sumber daya alam lainnya untuk tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. bantuan tenaga ahli. pertimbangan. dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan. Pasal 17 Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat berbentuk: a. d. g. pemberian informasi. air. kerja sama dalam penelitian dan pengembangan. pemberian masukan untuk penetapan lokasi pemanfaatan ruang. termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang.

adat. termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan. bantuan pemikiran atau pertimbangan untuk penertiban dalam kegiatan pemanfaatan ruang kawasan dan peningkatan kualitas pemanfaatan ruang kawasan. pemanfaatan ruang daratan dan ruang udara berdasarkan peraturan perundang-undangan. air. bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan.wasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat berbentuk: a. dan atau b. Pasal 20 Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang ka. penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana rinci tata ruang kawasan. pengawasan terhadap pemanfaatan ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. konsolidasi pemanfaatan tanah. c. e. f. dan sumber daya alam lain untuk tercapainya pemanfaatan ruang kawasan yang berkualitas. atau kebiasaan yang berlaku. pemberian usulan dalam penentuan lokasi dan bantuan teknik dalam pemanfaatan ruang. g. perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana rinci tata ruang kawasan. dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan kawasan. dan atau kegiatan menjaga. b. . udara.Pasal 19 Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat berbentuk: a. memelihara. d. agama.

Penyampaian saran.an atau masukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara lisan atau tertulis kepada Menteri. pertimbangan. serta rancangan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Pelaksanaan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri. pertimbangan. keberatan.BAB IV TATA CARA PERAN SERTA MASYARAKAT Bagian Pertama Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Wilayah Nasional Pasal 21 (1) Tata cara peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dilaksanakan dengan pemberian saran. Pasal 23 Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu disampaikan secara lisan atau tertulis kepada Menteri. pendapat. potensi dan masalah. keberat. masukan terhadap informasi tentang arah pengembangan. Pasal 22 (1) Tata cara peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Nasional termasuk kawasan tertentu dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pendapat.pertimbang.an. (2) (2) . tanggapan. tanggapan. Bagian Kedua Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Pasal 24 (1) Tata cara peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dilaksanakan dengan pemberian saran.

potensi dan masalah. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri Dalam Negeri. tanggapan. serta rancangan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. keberatan. pertimbangan. Pasal 25 (1) Tata cara peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. masukan terhadap informasi tentang arah pengembangan.an atau masukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara lisan atau tertulis kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. potensi dan masalah. pertimbangan.pendapat. serta rancangan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (3) (2) Bagian Ketiga Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II Pasal 27 (1) Tata cara peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan dalam penyusunan rencana rinci tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 dilaksanakan dengan pemberian saran. Pelaksanaan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikoordinasi oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. pendapat. . pendapat. tanggapan. Pasal 26 Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disampaikan secara lisan atau tertulis kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan pejabat yang berwenang. masukan terhadap informasi tentang arah pengembangan. keberatan. (2) Penyampaian saran. keberat. tanggapan.

Masyarakat dapat memprakarsai upaya peningkatan tata laksana hak dan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang melalui penyuluhan. pendapat.(2) Penyampaian saran. Pasal 28 (3) (1) Tata cara peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. keberatan atau masukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara lisan atau tertulis kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertib sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri Dalam Negeri. pertimbangan. media elektronik atau forum pertemuan. melalui media cetak. tanggapan. BAB V PEMBINAAN PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 30 (1) Masyarakat dapat memperoleh informasi penataan ruang dan rencana tata ruang secara mudah dan cepat. Pasal 29 (2) (3) Peran serta masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dan kawasan di Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disampaikan secara lisan atau tertulis dari mulai tingkat desa ke kecamatan kepada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dan pejabat yang berwenang. (2) . Pelaksanaan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikoordinasi oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II termasuk pengaturannya pada tingkat kecamatan sampai dengan desa.

atau keberatan dari masyarakat dalam rangka peningkatan mutu penataan ruang. Pemerintah menyelenggarakan pembinaan untuk menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran. pelayanan. (3) Untuk terlaksananya upaya peningkatan tata laksana hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). memberdayakan dan meningkatkan tanggung jawab masyarakat dalam penataan ruang. dan atau pelatihan. bantuan teknik. f. e. bantuan hukum. usul. (4) a. d. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. dorongan. memperhatikan dan menindaklanjuti saran. .bimbingan. c. pendidikan. melindungi hak masyarakat untuk berperan serta dalam proses perencanaan tata ruang. dengan cara : memberikan dan menyelenggarakan penyuluhan. bimbingan. memberikan penggantian yang layak kepada masyarakat atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. menyebarluaskan semua informasi mengenai proses penataan ruang kepada masyarakat secara terbuka. g. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dilakukan oleh instansi yang berwenang. pendidikan. menikmati pemanfaatan ruang yang berkualitas dan pertambahan nilai ruang akibat rencana tata ruang yang ditetapkan serta dalam menaati rencana tata ruang. b. atau pelatihan untuk tercapainya tujuan penataan ruang. menghormati hak yang dimiliki masyarakat. pengayoman. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Semua peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan hak dan kewajiban serta bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam penataan ruang yang ada saat diundangkannya Peraturan Pemerintah ini masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti dengan ketentuan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

Peraturan Pemerintah ini erat kaitannya dengan peraturan perundang-undangan lain yang memuat ketentuan yang mengandung segi-segi penataan ruang. UMUM Peraturan Pemerintah ini merupakan pelaksanaan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang yang mengatur mengenai pelaksanaan hak dan kewa. Agar setiap orang mengetahuinya. SERTA BENTUK DAN TATA CARA PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG I.jiban serta bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 3 Desember 1996 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 3 Desember 1996 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR 104 PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1996 TENTANG PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN. pelaksanaan hak dan kewajiban serta bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam penataan ruang harus memperhatikan antara lain: . Oleh karena itu.Pasal 32 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). yaitu terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan. pemanfaatan ruang. . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368). f. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043). dan kedalaman rencana. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang. dan Pemerintah Daerah Tingkat II untuk wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104. Jenis rencana tata ruang dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.a. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. fungsi wilayah serta kawasan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. e. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3298). terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya. Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). dan pengendalian pemanfaatan ruang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat untuk wilayah Nasional. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35. penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. Pemerintah Daerah Tingkat I untuk wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. c. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Masyarakat (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 44.

yang meliputi: (1) rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan yang menggambarkan. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. termasuk rencana rinci tata ruang kawasan. dan kawasan tertentu terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya. dan rencana teknik ruang pada setiap blok kawasan yang menggambarkan. Dalam wilayah Nasional. rencana tapak atau tata letak (site plan) dan tata bangunan (building lay. Jenis rencana tata ruang menurut kedalaman rencana terdiri atas strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. kawasan perdesaan. yang dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara terko. masyarakat ulama. bangunan. dan strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.ordinasi. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan rencana tata ruang kawasan tertentu. zonasi atau blok alokasi pemanfaatan ruang (block plan). Rencana rinci tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.Jenis rencana tata ruang menurut hirarki administrasi pemerintahan terdiri atas Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. kawasan perkotaan. Yang dimaksud dengan tata bangunan adalah susunan rekayasa teknik bangunan yang memanfaatkan ruang luar dan dalam bangunan secara rinci di dalam suatu blok kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. Jenis rencana tata ruang menurut fungsi wilayah serta kawasan terdiri atas rencana tata ruang kawasan perdesaan. baik antarinstansi pemerintah maupun antara Pemerintah dan masyarakat sehingga terhindar kesenjangan penanganan ataupun penanganan yang tumpang tindih dalam upaya mewujudkan tujuan penataan ruang. (2) Yang dimaksud dengan tata letak adalah susunan letak unsur-unsur kegiatan. masyarakat intelektual. antara lain. antara lain. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.out) beserta prasarana dan sarana lingkungan serta utilitas umum. bentang alam. sarana dan prasarana yang secara keseluruhan membentuk tata ruang kawasan. . Penataan ruang diselenggarakan oleh berbagai instansi pemerintah dan dengan melibatkan masyarakat misalnya masyarakat hukum adat. rencana tata ruang kawasan perkotaan.

Sedangkan bentuk peran serta dapat berupa usul. Masyarakat sebagai mitra Pemerintah. Masyarakat yang makin maju menuntut keterlibatan yang lebih besar dalam penyelenggaraan penataan ruang. atau . II. membantu terwujudnya pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. pelaksanaan hak dan kewajiban. pertambahan nilai ruang adalah meningkatnya harga pasar dari sepetak tanah akibat direncanakan. diharapkan tidak terlalu terkekang oleh peraturan yang membatasi kegiatan orang seorang. atau badan hukum yang hendak berperan serta. Oleh karena itu. dan badan hukum seperti Badan Usaha Milik Negara dan badan usaha swasta. Peraturan Pemerintah ini memberikan pengaturan yang lebih memberikan peluang bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berperan serta dalam penataan ruang.Dalam penyelenggaraan penataan ruang. Pasal 2 Huruf a Cukup jelas Huruf b Masyarakat dapat mengetahui rencana tata ruang wilayah. pendapat. Huruf c Sebagai contoh. saran. Peran serta masyarakat dapat dilakukan oleh orang seorang. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragam an pengertian atas Peraturan Pemerintah ini serta peraturan pelaksanaannya. Kesediaan masyarakat untuk berperan serta dalam penataan ruang. Bahkan. rencana rinci tata ruang kawasan secara terbuka antara lain melalui lokakarya dan sarasehan. serta menaati keputusankeputusan dalam rangka penertiban pemanfaatan ruang. Peraturan Pemerintah ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih banyak lagi berperan serta. serta peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk memperbaiki mutu perencanaan. pertimbangan atau keberatan serta bantuan lain terhadap penyelenggaraan penataan ruang. rencana tata ruang kawasan. diharapkan mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran sertanya dan sebagai perwujudan dari hak dan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang. kelompok orang. kelompok orang. dibangun.

Huruf d Penggantian yang layak diberikan kepada masyarakat yang melepaskan sebagian atau sepenuhnya hak atas ruang sebagai akibat dari pelaksanaan rencana tata ruang berdasarkan peraturan perundang-undangan. penguasaan atau pemberian hak tertentu terhadap ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku atas ruang pada masyarakat setempat sehingga masyarakat dapat menikmati manfaat ruang. sosial.ditingkatkannya prasarana jalan di sisi petak tanah yang bersangkutan. dan atau bentuk fisik lain seperti konsolidasi tanah yang ditentukan berdasarkan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. yang timbul akibat pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang. Besarnya penggantian yang layak dapat ditentukan berdasarkan nilai jual objek pajak atau harga pasar yang berlaku saat itu.likan. Pasal 3 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman atau penyebarluasan rencana tata ruang yang telah ditetapkan dilakukan dengan menempelkan rencana tata ruang yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan kantor-kantor yang secara fungsional menangani rencana tata ruang tersebut. Ayat (2) Cukup jelas . Pasal 4 Ayat (1) Masyarakat mempunyai hak untuk menikmati dan memanfaatkan ruang beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. hukum adat. Manfaat ruang tersebut dapat berupa manfaat ekonomi. atau berupa penyertaan modal atau urun saham. atau kebiasaan yang berlaku. dengan tidak mengurangi tingkat kesejahteraan dari masyarakat yang bersangkutan. atas dasar pemi. dan atau manfaat lingkungan.

kawasan budi daya. memelihara dan meningkatkan kualitas ruang lebih ditekankan pada keikutsertaan masyarakat untuk lebih mematuhi dan menaati segala ketentuan normatif yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. lokasi.Pasal 5 Ayat (1) Kesadaran masyarakat untuk menyelenggarakan musyawarah untuk mencapai kesepakatan juga merupakan bentuk peningkatan peran serta masyarakat. estetika lingkungan. Huruf b Cukup jelas Pasal 7 Pemeliharan kualitas ruang dapat dilaksanakan dengan upaya-upaya pemanfaat. Yang dimaksud dengan pihak yang berkepentingan adalah masyarakat yang memiliki hak dengan Pemerintah atau masyarakat yang memiliki hak dengan masyarakat. Faktor-faktor tersebut tertuang dalam kriteria. selaras. kaidah. dan seimbang. dan kawasan lain. dan mendorong terwujudnya kualitas ruang yang lebih baik. baku mutu. dan aturan-aturan yang digunakan dalam proses penyusunan rencana tata ruang maupun yang termuat dalam rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 6 Huruf a Pelaksanaan kewajiban masyarakat dalam menjaga. Kebijaksanaan . dan struktur pemanfaatan ruang. Pasal 8 Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan kebijaksanaan Pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang Nasional beserta kriteria dan pola pengelolaan kawasan yang harus dilindungi. Kaidah dan aturan pemanfaatan ruang yang dipraktekkan masyarakat secara turun-temurun dapat diterapkan sepanjang memperhatikan faktor-faktor di atas dan dapat menjamin pemanfaatan ruang yang serasi.an ruang dan sumber daya alam yang ada di dalamnya oleh masyarakat yang mengindahkan faktor-faktor: daya dukung lingkungan.

serta data dan informasi dari berbagai pihak untuk terciptanya upaya pemanfaatan ruang secara berhasil guna dan berdaya guna.mukiman. . Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara termasuk kawasan tertentu dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. yang meliputi rencana terperinci tata ruang dan rencana teknik ruang di kawasan tertentu yang secara Nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. dan arahan kebijaksanaan tata guna tanah. dan tata guna sumber daya alam lain. dan ruang udara. dan terwujudnya keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. dan dijadikan acuan bagi instansi pemerintah dan masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang daratan.tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan keterpaduan. sistem prasarana wilayah. terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. keterkaitan. sumber daya buatan dengan memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia.undangan yang berlaku. Rencana tata ruang kawasan tertentu mencakup rencana rinci tata ruang. ruang lautan. dan keseimbangan perkembangan antarwilayah serta keserasian antarsektor. tata guna udara. Rencana tata ruang kawasan perkotaan dan perdesaan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi kebijaksanaan yang memberikan arahan pengelolaan kawasan dan arahan pengembangan sistem pusat per. dapat dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang. tata guna air. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dan koordinasi penyusunan rencana tata ruang kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diselenggarakan oleh Menteri yang bertugas mengkoordinasi penataan ruang. Huruf e Pengajuan keberatan harus disertai dengan alasan yang jelas.

kawasan perdesaan. dan arahan kebijaksanaan tata guna tanah. sedangkan yang dimaksud dengan bantuan pengelolaan adalah management assis.Huruf f Kerjas ama yang dimaksudkan adalah kerjasama antara masyarakat dan semua pihak lainnya yang terkait dalam proses perencanaan tata ruang wilayah Nasional. sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. kawasan budi daya. Huruf g Bantuan tenaga ahli yang berasal dari masyarakat diharapkan dapat diberikan kepada para perencana ataupun badan-badan perencanaan. sistem prasarana wilayah. dan kawasan yang diprioritaskan. sumber daya buatan dengan memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia. tata guna udara. keterkaitan. Pasal 9 Huruf a Cukup jelas Huruf b Yang dimaksud dengan bantuan teknik adalah technical assistance. menjadi pedoman bagi instansi pemerintah dan masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang.tance. dan keseimbangan perkembangan antarwilayah di Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antarsektor. tata guna air. Cukup jelas . serta arahan pengembangan sistem pusat permukiman. kawasan perkotaan. dan tata guna sumber daya alam lainnya. Pasal 10 Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan pengelolaan kawasan lindung. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I bertujuan mewujudkan keterpaduan.

Arahan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun . serta wilayah yang diprioritaskan pengembangannya. Huruf g Lihat penjelasan Pasal 8 huruf g. dan terwujudnya keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. Huruf f Lihat penjelasan Pasal 8 huruf f. Huruf e Lihat Penjelasan Pasal 8 huruf e. Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 13 Peran serta masyarakat dapat pula dilaksanakan dalam penyusunan arahan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I melalui pemberian bantuan pemikiran dan pertimbangan. misalnya dalam penyusunan Rencana Pembangunan Lima Tahun Daerah Tingkat I. Rencana tata ruang kawasan perkotaan dan perdesaan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi kebijaksanaan yang menetapkan lokasi kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan.Penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan dan perdesaan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.bangunan yang memanfaatkan ruang serta menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah. terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. dan dapat dijadikan pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pem. serta data dan informasi dari berbagai pihak untuk terciptanya upaya pemanfaatan ruang secara berhasil guna dan berdaya guna.

Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan. Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi pengelolaan kawasan . termasuk di dalamnya arahan-arahan dalam penyelenggaraan pembangunan. Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. konsolidasi tanah. konservasi sumber daya alam dan lingkungan.an yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah. serta data dan informasi dari berbagai pihak untuk terciptanya upaya pemanfaatan ruang secara berhasil guna dan berdaya guna. konversi pemanfaatan ruang. air.dalam rangka menyelaraskan kebijaksanaan pemanfaatan ruang tingkat Pusat dengan tindakan pemanfaatan ruang pada tingkat Daerah Tingkat II. dan terwujudnya keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. dan sumber daya alam lainnya. serta wilayah yang diprioritaskan pengembangannya. Termasuk dalam lingkup wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kawasan perkotaan dan perdesaan yang berada di dalam wilayah tersebut. dan dapat dijadikan pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan yang memanfaatkan ruang serta menyusun program pembangun. udara.

hak. Dalam pelaksanaannya. dan kawasan tertentu serta sistem pusat permukiman. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang atau perubahan fungsi ruang suatu kawasan dapat berupa perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. kawasan budi daya. Oleh karena itu.hak tersebut tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undang. Pasal 16 Huruf a Dalam pemanfaatan ruang ini dapat diperhatikan ketentuan dalam Undang. Huruf g Lihat penjelasan Pasal 8 huruf g. Huruf e Lihat Penjelasan Pasal 8 huruf e. penatagunaan udara. kawasan perdesaan. sumber daya buatan. penatagunaan air. dan penatagunaan tanah. sistem prasarana wilayah. hak-hak tersebut akan diperhatikan sepanjang menurut kenyataannya masih ada pada masyarakat hukum yang bersangkutan. hak ulayat dan hak-hak semacam itu yang berasal dari masyarakat hukum adat masih diakui. Selain itu perlu diperhatikan juga pemanfaatan ruang yang didasarkan pada hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya.an yang berlaku. kawasan perkotaan.undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah. Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. dengan memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia.lindung. Huruf f Lihat penjelasan Pasal 8 huruf f. .

Huruf d Lihat Penjelasan Pasal 8 huruf f. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas . Huruf e Lihat Penjelasan Pasal 8 huruf g.Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Lihat Penjelasan Pasal 8 huruf e. Huruf f Cukup jelas Pasal 19 Huruf a Cukup Huruf b Cukup Huruf c Cukup Huruf d Cukup jelas jelas jelas jelas Huruf e Lihat penjelasan Pasal 16 huruf e.

permukiman. pertimbangan. dan teknologi. ilmu pengetahuan. informasi. industri. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Pemerintah perlu mengumumkan akan disusunnya Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dalam rangka mengembangkan wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. penemukenalan potensi dan masalah pembangunan bertitik tolak dari data. Untuk itu. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang dimaksud antara lain adalah ketentuan perundang-undangan yang mengatur mengenai peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang di bidang kehutanan. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. Anggota masyarakat yang diharapkan dapat memberikan saran. masyarakat perlu memberikan tanggapan atau masukannya. diperlukan penemukenalan potensi dan masalah pembangunan yang bertitik tolak dari perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup yang berlangsung secara dinamis. atau .Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Dengan perspektif menuju ke keadaan pada masa depan yang diharapkan dan arah pengembangan wilayah yang akan dicapai. Untuk itu. Dalam mengembangkan wilayah dimaksud. Selain itu. perlu ditentukan arah pengembangan yang akan dicapai. diperlukan saran. pertanian. pertimbangan atau pendapat dari masyarakat.

pendapat dimaksud adalah orang seorang. dan badan hukum yang berwawasan Nasional. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Cukup jelas . Anggota masyarakat yang diharapkan dapat memberikan saran. kelompok orang. perlu ditentukan arah pengembangan yang akan dicapai. Pemerintah menentukan arah pengembangan wilayah yang akan dicapai. pertimbangan atau pendapat masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Lihat Penjelasan Pasal 22 ayat (1). pertimbangan. Dalam mengembangkan wilayah dimaksud. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Pasal 27 Ayat (1) Pemerintah perlu mengumumkan akan disusunnya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dalam rangka mengembangkan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersang. Dengan memperhatikan saran. kelompok orang. dan badan hukum yang berwawasan Nasional. Dengan memperhatikan saran. Pemerintah menentukan arah pengembangan wilayah yang akan dicapai.kutan. pertimbangan atau pendapat dari masyarakat. diperlukan saran. Untuk itu. atau pendapat dimaksud adalah orang seorang. pertimbangan atau pendapat masyarakat.

memelihara. kelompok orang. berdaya guna. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Huruf a Cukup jelas Huruf b Yang dimaksud dengan menyebarluaskan semua informasi mengenai proses penataan ruang kepada masyarakat secara terbuka adalah bahwa setiap orang seorang.Pasal 28 Ayat (1) Lihat Penjelasan Pasal 22 ayat (1). . Huruf c Cukup jelas Huruf d Pengertian menghormati hak yang dimiliki masyarakat adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai. sehingga upaya menjaga. atau badan hukum dapat memperoleh keterangan mengenai proses yang ditempuh dalam penataan ruang serta produk perencanaan tata ruang. dan meningkatkan kualitas rencana tata ruang dan kualitas ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. dan berhasil guna.

dapat dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan sesuai dengan peratur.nguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang.menjunjung tinggi. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas ______________________________________ .an perundang-undangan yang berlaku. hukum adat atau kebiasaan yang berlaku. dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki masyarakat.an perundang-undangan. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau pe. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki masyarakat adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peratur. Huruf g Lihat penjelasan Pasal 2 huruf d. Huruf g Cukup jelas Huruf g Saran. usul ataupun keberatan harus disertai dengan alasan yang jelas. mengakui.undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA).

4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3510). bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 10. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam merupakan kekayaan alam yang sangat tinggi nilainya. dan sebagai pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 50. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). Tambahan Lembaga Negara Nomor 2945). 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. 6. 8. Tambahan (Lembaran Negara Nomor 3260). . Mengingat : 1. 3. Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945. dipandang perlu mengatur kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam dengan Peraturan Pemerintah. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. karena itu perlu dijaga keutuhan dan kelestarin fungsinya untuk dapat dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. b. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. 10. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824).Peraturan Pemerintah No. 9. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). 68 Tahun 1998 Tentang : Kawasan Suaka Alam Dan Kawasan Pelestarian Alam PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37 . Tambahan Lembaga Negara Nomor 3550).11. . Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 35 . Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. 12. 15. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. dan Taman Wisata Alam (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 25. Tambahan Lembaga Negara Nomor 3441). satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindingi dan perkembangan berlangsung secara alami. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 39. Tambahan Lembaga Negara Nomor 3225). baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayahsistem penyangga kehidupan. 4. 14. 13. Tambahan Lembaga Negara Nomor 3544). 2. Kawasan Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Taman Hutan Raya. Sumber Daya alam Hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama-sama dengan unsur non hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 19. Tambahan Lembaga Negara Nomor 3294). Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman Nasional. Kawasan Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan.

Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. ilmu pengetahuan. . Kawasan Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. menunjang budidaya. c. sebagai kawasan pengawet keanekaragaman jenis tumbuhan dan alam satwa beserta ekosistemnya. b. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. (1) Pasal 5 ketentuan tentang perlindungan system penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a diatur dengan Peraturan Pemerintah tersendiri. 7. dan rekreasi. sebagai wilayah perlindungan system penyangga kehidupan. pengawet keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Kawasan Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami.5.pariwisata. dan rekreasi. Pasal 3 Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan kawasan Pelestarian Alam bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan. jenis asli dan atau bukan asli. ilmu pengetahuan. 9. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab melaksanakan tugas pokok urusan kehutanan dan perkebunan. baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. pendidikan. 6. budaya. Kawasan Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utaman untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam. pariwisata. Pasal 4 Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam dilakukan sesuai dengan fungsi kawasan : a. menunjang bididaya. untuk pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistem. pendidikan. 8.

(2) (3) Pengawetan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b diatur sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. Kawasan Cagar Alam. c. dan b. setelah melalui tahapan kegiatan sebagai berikut : a. mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologi secara alami. c. mempunyai cirri khas potensi. apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut : a. kecuali ketentuan mengenai pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa. dan Taman Wisata Alam diatur dengan Peraturan Pemerintah tersendiri. b. mempunyai kondisi alam. diatur dengan Peraturan Pemerintah tersendiri Pemenfaatan sebagimana dimaksud dalam Pasal 4 c diatur sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi. dam pemanfaatan kawasan dalam bentuk pengusahaan kegiatan kepariwisataan dan rekreasi pada zona pemanfaatan Taman Nasional. mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya. Pasal 8 Suatu kawasan ditunjuk sebagai Kawasn Cagar Alam. Taman Hutan Raya. dan atau . kecuali ketentuan mengenai pengawetan jenis tumbuhan dan satwa diluar kawasan. Penunjukan kawasan beserta fungsinyal b. Penetapan kawasan. mempunyai keanekaragaman tertentu jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistem. BAB II KAWASAN SUAKA ALAM Bagian pertama Penetapan Kawasan Pasal 6 Kawasan Suaka Alam terdiri dari : a. d. e. Penataan batas kawasan. Kawasan Suaka Margasatwa Pasal 7 Suatu kawasan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam atau Kawasan Suaka Margasatwa. baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia.

merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. Pasal 9 Suatu kawasan sebagai Kawasan Suaka Margasatwa apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut . dan atau e. a. dan setelah mendengar pertimbangan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. berdasarkan Berita Acara Tata Batas yang direkomendasikan oleh Panitia Tata Batas. merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya. mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. Menteri menetapkan Kawasan Kawasan Cagar Alam Atau Kawaan Suaka Margasatwa. Pasal 12 Setiap Kawasan Cagar Alam Atau Kawaan Suaka Margasatwa dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan. b. merupakan habitat dari suatu jenis satwa langka dan atau dikhawatirkan akan punah. Bagian Kedua Pengelolaan Paragraf Satu Rencana Pengelolaan Pasal 11 Pemerintah bertugas mengelola Kawasan Cagar Alam Atau Kawaan Suaka Margasatwa . mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. Terhadap kawasan yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan penataan batas oleh sebuah Panitia Tata Batas yang keanggotaan dan tata kerjanya ditetapkan oleh Mentri.f. c. Pasal 10 (1) Menteri menunjuk kawasantertentu sebagai Kawasan Cagar Alam Atau Kawaan Suaka Margasatwa berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 9. (2) (3) . memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi. d.

ekonomis.Pasal 13 (1) Atas dasar kepentingan keutuhan ekosistem. Ketentuan lebih lanjut tentang rencana pengelolaan kawasan diatur dengan Keputusan Menteri. dan social budaya. dengan satu rencana pengelolaan. Pasal 16 Upaya pengawetan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : a. Rencana pengelolaan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa sukurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan. b. teknis. penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengawetan Pasal 17 (1) (2) Selain kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. pengelolaansatu atau lebih Kawasan Cagar Alam dan atau Kawaan Suaka Margasatwa dapat ditetapkan sebagai satu kawasan pengelolaan. Pasal 14 (1) (2) Rencana pengelolaan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi. dan garis-garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan. inventarisasi potensi kawasan c. perlindungan dan pengamanan kawasan. pada Kawasan Suaka Margasatwa juga dilakukan kegiatan dalam rangka pembinaan habitat dan popolasi satwa. maka rencana pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12merupakan bagian tidak terpisah dari rencana pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Dalam hal pengelolaan satu atau lebih Kawasan Cagar Alam dan atau Kawasan Suaka Margasatwa ditetapkan sebagai satu kawasan pengelolaan. pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Paragraf Dua Pengawetan Pasal 15 Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa dikelola dengan melakukan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan atau jenis satwa beserta ekosistemnya. Pembinaan habitat dan populasi satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berupa : (2) (3) .

atau e. dan atau pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu. b. . menebang.a. pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa. memotong. f. membelah. Kegiatan dalam rangka pembinaan habitat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 tidak termasuk dalam pengertian kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3). c. memasukkan jenis-jenis tumbuhan dan satwabukan asli ke dalam kawasan. penjarangan populasi satwa. mengangkut. Suatu kegiatan dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). d. mengambil.menebang. Pasal 18 Ketentuan lebih lanjut tentang kegiatan pengawetan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa diatur dengan Keputussan Menteri. Pasal 19 (1) Upaya pengawetan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan Paal 17 dilaksanakan dengan ketentuan dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa. (2) (3) (4) . pembinaan padang rumput untuk makanan satwa. membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil. b.merusak. merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan. dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan. melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan. berburu. memindahkan. atau b. adalah : a. penambahan tumbuhan atau satwa asli. menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa dalam kawasan. Termasuk dalam pengertian kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan kawasan. memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan. penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohonpohon sumber makanan satwa. merusak. e. memotong. c. apabila melakukan perbuatan : a. d. mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa.

meliputi : (2) (2) . penelitian dan pengembangan. wisata alam terbatas. Ketentuan tentang kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. ilmu pengetahuan. dan b. pendidikan. c. (1) Pasal 25 Kegiatan penelitian sebagiamana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a. dan e. Pasal 22 Kegiatan ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasa 20 huruf b dan c dilakukan dalam bentuk pengenalan dan peragaan ekosistem cagar alam. pengangkutan. pengangkutan. Pasal 23 (1) Kegiatan penunjang budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf d dilakukan dalam bentuk pengambilan. dan dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kegiatan penunjang budidaya. b. Pasal 24 Kawasan Suaka Margasatwa dapat dimanfaatkan untuk keperluan : a. dan dilakukan sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku. penelitian dan pengembangan. b. Ketentuan tentang pengambilan. penelitian untuk menunjang pemanfaatn dan budidaya. dan atau penggunaan plasma nutfah tumbuhan dan satwa yang terdapat dalam kawasan cagar alam. dan penggunaan plasma nutfah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh Menteri. ilmu pengetahuan. kegiatan penunjang budidaya. meliputi : a. Pasal 21 (1) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf a. d. penelitian dasar.Paragraf Tiga Pemanfaatan Pasal 20 Kawasan Cagar Alam dapat dimanfaatkan untuk keperluan : a. c.

terdiri dari : a. Pasal 28 Kegiatan penunjang budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf e dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. b. Pasal 26 Kegiatan ilmu pengetahuan dan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf b dan c dapat dilaksanaka dalam bentuk pengenalan dan peragaan ekosistem suaka margasatwa. Pasal 27 (1) Wisata alam terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf d terbatas pada kegiatan mengunjungi.Kawasan Taman Hutan Raya. (2) penelitian dasar. Kawasan Taman Wisata Alam. dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) . Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. melihat dan menikmati keindahan alam dan perilaku satwa di dalam Kawasan Suaka Margasatwa dengan persyaratan tertentu. c. Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan Menteri. b.a. b. Pasal 29 Pelaksanaan peemanfaatan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa untuk keperluan sebagimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 24 dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagimana dimaksud dalam Pasal 19. penelitian untuk menunjang pemanfaatan dan budidaya. Kawasan Taman Nasional. BAB III KAWASAN PELESTARIAN ALAM Bagian Pertaman Penetapan Kawasan Pasal 30 (1) Kawasan Pelestarian Alam.

d.(2) Berdasarkan system zonasi pengelolaannya Kawasan Taman Nasional dapat dibagi atas : a. dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri. baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia. e. Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami. Ditetapkan sebagai zona pemanfaatan. apabila memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Ditetapkan sebagai zona inti. e. . b. zona inti. mempunyai komunitas tumbuhan dana atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. c. b. Pasal 31 (1) (2) (3) Suatu kawasan ditunjuk sebagai Kawasan Taman Nasional. satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan. c. b. dan atau zona lain yang ditetapkan Menteri berdasarkan kebutuhan pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya hayati dan ekosistemnya. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami. d. mempunyai kondisi alam. b. mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsunya proses ekologis secara alami. zona rimba. apabila memenuhi kriteria sebagai berikut : a. c. apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut : a. mempunyai daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh. Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam. mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusun. ketergantungan penduduk sekitar kawasan. zona pemanfaatan. mempunyai cirri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi. f. Merupakan kawasan yang dpat dibagi ke dalam zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan. mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

b. merupakan kawasan dengan ciri khas baik asli maupun buatan. Bagian kedua Pengelolaan Paragraf Satu Rencana Pengelolaan . memiliki keanekaragaman jenis yang mampu menyangga pelestarian zona inti dan zona pemanfaatan . satwa atau ekosistem gejala alam serta formasi geologi yang menarik. apabila telah memnuhi kriteria sebagai berikut : a.(4) kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan periwisata alam. baik jenis alsi dan atau bukan asli. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu. mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan. Pasal 32 c. Suatu kawasan ditetapkan sebagai Kawasan Taman Hutan Raya. kawasan yang ditetapkan mampu mendukung menyangga pelestarian dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasi. Pasal 33 Suatu kawasan ditetapkan sebagai Kawasan Taman Wisata Alam apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut : a. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam. c. mempunyai luas wilayah yang memungkinkan untuk pembanguna koleksi tumbuhan dan atau satwa. b. kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam. Ditetapkan sebagai zona rimba. memiliki keindahan alam dan atau gejala alam. baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan ekosistemnya sudah bubar. b. dan Taman Wisata Alam dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 10. Taman Hutan Raya. apabila memenuhi criteria sebagai berikut : a. c. Pasal 34 Penetapan Kawasan Taman Nasional. c.

dan Pasal 14 berlaku terhadap pengelolaan TamanNasional. Taman Hutan Raya. Pasal 13. perlindungan dan pengamanan. inventarisasi potensi kawasan. penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan. dan Taman Wisata Alam dikelola dengan melakukan upaya pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan.Pasal 35 Pengelolaan Kawasan Taman Nasional. d. Pasal 41 (1) Upaya pengawetan pada zona rimba dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : a. c. perlindungan dan pengamanan. Pasal 39 Upaya pengelola pada zona inti dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : a. dan Taman Wisata Alam. c. b. Pasal 38 Upaya pengawetan kawasan taman nasional dilaksanakan sesuai dengan sistem zonasi pengelolanya. Taman Hutan Raya. dan Taman Wisata Alam Paragraf Dua Pengawetan Pasal 37 Kawasan Taman Nasional. pembinaan habitat dan populasi satwa. b. inventarisasi potensi kawasan. inventarisasi potensi kawasan. penelitian dan pengembangan dalam menunjang pariwisata alam. Pasal 40 Upaya pengawetan pada zona pemanfaatan dilaksanakan dlam bentuk kegiatan : a. dilakukan oleh Pemerintah. . b. perlindungan dan pengamanan. Pasal 36 Ketentuan pengelolaan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. Taman Hutan Raya. c.

(2) Pembinaan habitat dan populasi satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d. mengurangi luas kawasan yang telah ditentukan. apabila kegiatan tersebut telah memnuhi ketentuan sebagimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). menebang. dpat dianggap sebagai tindakan permulaan melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). penelitian dan pengembangan dalam menunjang pengelolaan. memindahkan. b. Pasal 44 (1) Upaya pengawetan Kawasan Taman Nasional. Termasuk dalam pengertian kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi Kawasan Taman Nasional atau Taman Hutan Raya. pembinaan dan pengembangan tumbuhan dan atau satwa.merusak. (2) (3) (2) (3) (4) . adalah: a. merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan. Pembinaan dan pengembangan tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d. c. Ketentuan lebih lanjut tentang pengawetan Kawasan Taman Hutan Raya diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 43 (1) Upaya pengawetan Kawasan Taman Hutan Raya dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : a. Kegiatan dalam rangka pengawetan pada zona inti taman nasional termasuk dalam pengertian yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi Kawasan Taman Nasional. c. apabila melakukan perbuatan : a. merusak keindahan alam dan gejala alam. dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) . adalahuntuk tujuan koleksi. Pasal 42 Ketentuan lebih lanjut tentang Pengawetan Kawasan Taman Nasional diatur dengan Keputusan Menteri. d. b. merusak kekhasan potensi sebagai pembentuk ekosistemnya. membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil. memotong.memusnahkan dan mengangkut sumber daya alam ke dan dari dalam kawasan. Taman Hutan Raya. menangkap. Suatu kegiatan. perlindungan dan pengamanan. d. dan Taman Wisata Alam dilaksanakan dengan ketentuan dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan. b. melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang.berburu. inventarisasi potensi kawasan.

c. ayat (3). berburu. Paragraf Tiga Pemanfaatan Pasal 48 Kawasan Taman Nasional dapat dimanfaatkan sesuai dengan system zonasi pengelolaannya. Ketentuan lebih lanjut tentang pengawetan Kawasan Taman Wisata Alam diatur dengan Keputusan Menteri. ayat (4). penelitian dan pengembangan yang menunjang pelestarian potensi.Pasal 45 (1) Upaya pengawetan Taman Wisata Alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan : a. Pasal 47 Kegiatan dalam rangka pembinaan habitat dan populasi satwa. pembinaan habitat dan populasi satwa. Pasal 49 (1) Zona inti dpat dimanfaatkan untuk kerperluan : a. mengangkut kayu dan satwa atau bagianbagiannya di dalam dan ke luar kawasan. penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan. (2) (3) . b. menebang pohon. meliputi kegiatan sebagimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2). c. perlindungan dan pengamanan. melakukan kegiatan usaha yang menimbulkan pencemaran kawasan. pemninaan dan pengembangan tumbuhan atau satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasl 41 ayat (1) huruf d dan Pasal 43 ayat (1) huruf d. b. dan Pasal 46. melakukan kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan dan atau rencana pengusahaan yang telah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang. Pembinaan habitat dan populasi satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d. d. Pasal 46 Termasuk dalam pengertian kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan fungsi Kawasan Taman Wisata Alam sebagimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) adalah: a. tidak termasuk dalam pengertian kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). inventarisasi potensi kawasan. serta memusnahkan sumber daya alam di dalam kawasan.

penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan. pendidikan. e. c. Pasal 50 (1) (2) (3) (4) Zona Pemanfaatan dapat dimanfaatkan untuk keperluan: a. pelestarian budaya. pendidikan.(2) b. d. ilmu pengetahuan. Pasal 52 (1) (2) Kawasan Taman Hutan Raya dapat dimanfaatkan untuk keperluan : a. ilmu pengetahuan. dan atau d. c. b. kegiatan penunjang budidaya. widya wisata. e. c. Kegiatan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dapat berupa karya wisata. dan atau d. dan pemanfaatan hasil-hasil penelitian serta peragaan dokumentasi tentang kawasan tersebut. wisata alam terbatas. Kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimanan dimaksud dalam ayat (1) huruf a. meliputi : a. dan Pasal 23. ilmu pengetahuan c. Kegiatan pariwisata alam dan rekreasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pendidikan. penelitian dan pengembangan. dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Pasal 25 dan Pasal 28. Pasal 22. kegiatan penunjang budidaya. Pasal 27. . kegiatan penunjang budidaya. Pasal 51 (1) (2) Zona Rimba dapat dimanfaatkan untuk keperluan : a. pendidikan. d. pariwisata alam dan rekreasi. pariwisata alam dan rekreasi. penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan. Pasal 26. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. penelitian untuk menunjang pengelolaan dan budidaya. penelitian dasar. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dan huruf d. f. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. b. dan Pasal 28. kegiatan penunjang budidaya. b. b.

dilakukan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 dan pasal 46. Bab IV PENUTUPAN KAWASAN Pasal 55 (1) Dalam keadaan tertentu sangat diperlukan dalam rangka mempertahankan dan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. taman wiata alam dapat dimanfaatkan untuk keperluan: a. c. widya wisata. dan pemanfaatan hasi-hasil penelitian serta peragaan dokumentasi tentang pootensi kawasn tersebut. . pendidikan. pasal 52. Kegiatan pendidikan sebagimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c dapat berupa karya wisata. kegiatan penunjang budidaya. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dan d. Kegiatan pariwisata alam dan rekreasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Kegiatan pelestarian budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f diatur dengan Keputusan Menteri setelah mendapat pertimbangan dari Menteri yang bertanggu jawab di bidang kebudayaan.(3) (4) (5) (6) Kegiatan penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri dan dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan d. Pasal 54 Pelaksanaan pemanfaatan kawasan Taman Nasional. suaka marga satwa . Taman Hutan Raya. dan pasal 53 . pasal 50. pemerintah dapat menghentikan kegiatan tertentu dan atau menutup kawsan cagar alam. dilaksanakan sesuai ketentuan Pasal 25 dan Pasal 28. penelitian dan pengembangan. dan Taman wisata alam untuk keperluan sebagaimana dimaksud dalam pasal 49. c. pariwisata alam dan rekreasi. b. dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Pasal 26 dan Pasal 28. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b. Pasal 53 (1) (2) (3) (4) Sesuai dengan fungsinya. Kegiatan pariwisata alam dan rekreasi ebagaimana dimakud dalam ayat (1) huruf e dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. dan atau d.

secara geografis berbatasan dengan kawasan suaka alam dan atau kawasan pelestarian alam. e. pemerintah melakuan : a. Kriteria dan tata cara penetapan kawasan hutan sebagai daerah penyangga diatur dengan keputusan menteri. BAB V DAERAH PENYANGGA Pasal 56 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Daerah penyangga mempunyai fungsi untuk menyangga Kawasan Suaka Alam dan atau Kawasan Pelestarian Alam dari segala bentuk tekanan dan gangguan yang berasal dari luar dan atau dari dalam kawasan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan dan atau perubahan fungsi kawasan. rehabilitasi lahan. secara ekologis masih mempunyai pengaruh baik dari dalam maupun dari luar kawasan suaka alam dan atau kawasan pelestarian alam.(2) taman nasional. peningkatan pemahaman masyarakat terhadap konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. b. Kriteria dan tata cara penghentian kegiatan dan atau penutupan kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 ditetapkan dengan keputusan menteri. Pengelolaan daerah penyangga yang bukan kawasan hutan tetap berada pada pemegang hak dengan tetap memperhatikan ketentuan ayat 2 huruf b. kegiatan lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. peningkatan produktifitas lahan. peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. b. d. ditetapkan oleh menteri setelah mendengar pertimbangan gubernur kepala daerah tingkat I yang bersangkutan. Pasal 57 Untuk membina fungsi daerah penyangga . Penetapan tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani dengan suatu hak (alas titel) sebagai daerah penyangga. dan taman wisata alam sebagaimana atau seluruhnya untuk jangka waktu tertentu. Penetapan daerah penyangga sebagimana dimaksud dalam ayat 1 didasarkan pada kriteria sebagai berikut : a. Penetapan daerah penyangga dilakukan dengan menghormati hak-hak yang dimiliki oleh pemegang hak. Taman hutan raya. c. .

.BAB VI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 58 Kawasan Suaka Alam dan atau Kawasan Pelestarian Alam yang telah ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Agar setiap orang mengetahuinya. tetap berlaku sampai dengan dikeluarkan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. semua peraturan perundangan-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 60 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada yanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 59 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini. dianggap telah ditetapkan sebagai Kawasan Suaka Alam dan atau Kawasan Pelestarian Alam berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

disamping dapat dimanfaatkan sebagai wahana pengembangan budidaya. . keaslian. sehingga tercapai keseimbangan dan keserasian antara aspek perlindungan. keseimbangan ekosistem. pengelolaan Kawasan Suaka Satwa Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya itu antara lain ditempuh melalui penetapan wilayah-wilayah tertentu baik di daratan dan atau perairan sebagai Kawasan Suaka Alam dan atau Kawassan Pelestarian Alam. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang potensial itu dapat dijadikan salah satu modal dasar pembangunan nasional Indonesia yang berkelanjutan. dan mampu mengembangkan berbagai bidang kegiatan masyarakat. yang merupakan perwakilan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. yang sekaligus akan meningkatkan pula pendapatan negara dan penerimaan devisa negara. Dalam hubungan ini. pengawetan. menunjang budidaya. keunikan dan keindahan alam sehingga lebih dapat mendukung pembangunan dan menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat serta pelestarian lingkungan hidup. ilmu pengetahuan. sehingga dampaknya sangat positif terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat. sangat penting peranannya untuk dijadikan obyek penelitian dan pendidikan. sehingga kebutuhan hidupnya semakin beragam. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang tinggi keanekaragamannya dengan keunikan. pada hakikatnya merupakan salah satu aspek pembangunan yang berkelanjutan serta berwawasan lingkungan. Upaya konservasi tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh kiprah pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh berbagai sektor. yang pada gilirannya dapat memajukan hidup dan kehidupan bangsa. Karena itu perlu dikembangkan dan dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. pencegahan bencana banjir. pariwisata alam dan rekreasi serta sarana pemantapan fungsi hidrobiologisnya. Sejajar dengan kemajuan dan kehidupan masyarakat di berbagai bidang.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA MARGASATWA DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM I. Pelaksanaan pembangunan nasional itu sendiri telah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat. melalui upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Oleh karena itu. dan keindahan merupakan kekayaan alam yang sangat potensial. maka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin terasa perlu digalakkan. keutuhan sumber plasma nutfah. erosi dan pemeliharaan kesuburan tanah serta fungsinya sebagai plasma nutfah. Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yang memiliki potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. dan pemanfaatan secara lestari.

penyakit. Huruf b Dalam menunjang pengawetan cagar alam diperlukan data dan informasi awal tentang potensi kawasan. pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. II. dan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya maka perlu ada landasan hukum bagi penetapan dan pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. untuk mengetahui proses-proses ekologi . sangat penting. tetapi konservasi untuk kepentingan bangsa dan seluruh masyarakat Indonesia. Selain itu dilakukan upaya pengamanan untuk menjaga dan mencegah gangguan manusia. dan penembakan. Mengingat akan kepentingan itu. kegiatan penelitian dan pengembangan. kebakaran. pencurian. tidak hanya didasarkan pada prinsip konservasi untuk konservasi itu sendiri. seperti: perambahan kawasan. Oleh karenanya diperlukan inventarisasi tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. dan pencemaran yang berasal dari luar kawasan. oleh karenanya bobot pengelolaanya lebih ditekankan pada perlindungandari luar kawasan seperti serangan hama.Oleh karena itu. Huruf c Dalam menunjang pengawetan cagar alam. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 sampai pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 6 sampai pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 sampai pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Huruf a Dalam pengelolaan cagar alam sangat sedikit campur tangan manusia.

Ayat (2) Yang dimaksud dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah ketentuan yang mengatur tentang tata cara dan instansi yang berwenang memberi rekomendasi dan atau izin untuk melaksanakan penelitian. Denagn demikian. keutuhan kawasan Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Huruf a Penelitian dasar yaitu penelitian yang hasilnya untuk mendukung penelitian terapan yang diperlukan untuk menunjangpemanfaatn jenis tumbuhan dan satwa bududayanya di luar kawasan. dominasi tumbuhan dan atau satwa. dan penelitian-penelitian sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat (1) huruf c. siklus air. Kegiatan penelitian tersebut lebih banyak di luar kawasan. sebagai benih atau bibit unggul dalam menunjang peningkatanproduksi pangan.yang terjadi. diantaranya siklus energi. tidak mengurangi kewenangan menteri untuk mengatur tata cara pelaksanaan penelitian yang sasaran penelitiannya berlokasi pada kawasan alam pada khususnya atau kawasan hutan pada umumnya. siklus hara. interaksi antar dan inter sepesies baik tumbuhan maupun satwa. Kewenangan yang terkait dengan penelitian in yang sekarang dikoordinasikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pasal 22 Yang dimaksud denga pengenalan ekosistem cagar alam adalah pengenalan secara langsung di lapangan baik tipe ekosistemnya maupun pengenalan jenis tumbuhan dan atau satwanya Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas . serta perbanyakan dan peningkatan kualitas jenis melalui rekayasa genetic. sedangkan dalam kawasan cukup mengambil contoh spesimen. seperti penelitian perilaku satwa. sandang dan papan. Huruf b Penelitian untuk menunjang pemanfaatan dan budidaya ditujukan terhadap seleksi jenis tumbuhan dan satwa yang karena kandungannya dapat dimanfaatkan misalnya untuk obat-obatan.

demikian pula keadaan unsu-unsur Pasal 26 Pasal 27 Pasal 24 Pasal 25 Pasal 28 Pasal 29 . Pasal 31 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud ekosistem yang masih utuh yaitu ekosistem yang keadaannya relatif masih asli. karena itu penetapan zona-zona tersebut tidak selalu harus lengkap sesuai dengan pembagian pada ayat ini.Ayat (2) Pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan plasma nutfah terikat kepada ketentuan pada peraturan pemerintah nomor 44 tahun 1995 tentang pembenihan tanaman Cukup jelas Ayat (1) Lihat penjelasan pasal 21 ayat 1 Ayat (2) Lihat penjelasan pasal 21 ayat 2 Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Cukup jelas Cukup Jelas Pasal 30 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan zona-zona pada Kawasan Taman Nasional dilakukan secara variatif sesuai dengan kebutuhan pengelolaan kawasn taman nasional. karena itu pembagian zona tidak selalu sama pada setiap Kawasan Taman Nasional.

Pemerintah menetapkan syarat dan tata cara memasuki kawasan. dan menggunakan bahan peledak(aminisi). menjunjung tinggi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandungarti menghargai. . Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Cukup jelas Pasal 47 sampai pasal 54 Pasal 55 Ayat (1) Jumlah pengungjung yang masuk kedalam kawasan disesuaikan dengan daya dukung kawasan yang bersangkutan. serta interkasinya masih mampu memberikan fungsi ekologis. Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 32 sampai pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Huruf a Memusnahkan sumber daya alam misalnya dengan melakukan pembakaran. Dalam rangka pengendalian pengunjung masuk ke dalam kawasan. menyebarkan racun.biotik dan fisiknya. mengakui dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang lain.

Kepentingan hokum tersebut anatara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundangundangan. Ayat (5) Ketentuan-ketentuan tentang hak dan kewajiban pemegang hak atas daerah penyangga bukan kawasan hutan ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 sampai pasal 60 Cukup jelas ______________________________________ . hukum adat atau kebiasaan yang berlaku.

5292 hal. 9. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati (BN No. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina. TLN Nomor 3299).PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 7 TAHUN 1999 TANGGAL 27 JANUARI 1999 TENTANG PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. TLN Nomor 3556). Tahun 1997 Nomor 68. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan lingkungan Hidup (BN No. TLN Nomor 3482). 8. 10. bahwa berdasarkan hal tersebut diatas dan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. bahwa tumbuhan dan satwa adalah bagian dari sumber daya alam yang tidak ternilai harganya sehingga kelestariannya perlu dijaga melalui upaya pengawetan jenis. TLN Nomor 3478). 4952 hal. 4226 hal. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (LN Tahun 1998 Nomor 132. MEMUTUSKAN Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TUMBUHAN DAN SATWA. 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (BN No. 4. 58.) (LN Tahun 1994 Nomor 41. (LN Tahun 1994 Nomor 19. 5568 hal. TLN Nomor 3776). Pasal 5 Ayal (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. TLN Nomor 3699).1 13 dst) (LN Tahun 1992 Nomor 46. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru (BN No. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistern Budidaya Tanaman (BN No. Ikan dan Tumbuhan (BN No. 6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya & Alam Hayati dan Ekosistemnya (BN No. TLN Nomor 2823). 7. 3. 148-208 dst. TENTANG PENGAWETAN JENIS BAB I KETENTUAN Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: . TLN Nomor 3544). 2B –9B). (LN. Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 9 Tabun 1985 tentang Perikanan (BN No. b. 6066 hal. Hewan. 103. Menimbang : a.703 dit. TLN Nomor 3419). 11A. 4B-13B) (LN Tahun 1992 Nomor 56.. 5261 Ad. dipandang perlu untuk menetapkan peraturan tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dengan Peraturan Pemerintah. 5612 hal 38 dst. 2. 1504 hal.15A) (LN Tahun 1967 Nomor 8. (LN Tahun 1985 Nomor 46. 68-108 dsti) (LN Tahun 1990 Nomor 49.

Jenis tumbuhan atau satwa adalah jenis yang secara ilmiah disebut species atau anak-anak jenis yang secara ilmiah disebut sub-species baik di dalam maupun di luar habitatnya. 3. Identifikesi jenis tumbuhan dan satwa adalah upaya untuk mengenal jenis. menghindarkan jenis tumbuhan dan satwa dari bahaya kepunahan. Pengawetan adalah upaya untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya baik di dalam maupun di luar habitatnya agar tidak punah. Inventatarisasi jenis tumbuhan dan satwa adalah upaya untuk mengetahui kondisi dan status populasi secara lebih rinci serta daerah penyebarannya yang dilakukan di dalam dan di luar habitatnya maupun di lembaga konservasi. pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa serta habitatnya. c. 2. Jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf a adalah sebagaimana terlampir dalam peraturan pemerintah ini. baik berupa lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah. Lembaga Konservasi adalah lembaga yang bergerak dibidang konservasi tumbuhan dan atau (eksitu). keadaan umum status populasi dan tempat hidupnya yang dilakukan di dalam habitatnya.1.tertentu yang secara alami dan dalam jangka panjang mempunyai kecenderungan untuk mencapai keseimbangan populasi secara dinamis sesuai dengan kondisi habitat beserta lingkungannya. b. Jenis tumbuhan dan satwa ditetapkan atas dasar golongan : a. pemeliharaan dan pengembangbiakan. b. tumbuhan dan satwa yang dilindungi . Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitatnya adalah upaya menjaga keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa agar tidak punah. 3. Pasal 2 Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa bertujuan untuk: a. Pasal 5 1. Populasi adalah kelompok individu dari jenis tertentu di tempat. 7. BAB III PENETAPAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 4 1. c. menjaga kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Perubahan dari jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi menjadi tidak dilindungi dan sebaliknya ditetapkan dengan Keputusan Menteri setelah mendapat pertimbangan Otoritas keilmuan ( Scientific Authority ). Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dibidang kehutanan. Suatu jenis tumbuhan dan satwa wajib ditetapkan dalam golongan yang dilindungi apabila telah memenuhi kriteria: . memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem yang ada agar dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia secara berkelanjutan. penetapan dan penggolongan yang dilindungi dan tidak dilindungi. 8. 2. BAB II UPAYA PENGAWETAN Pasal 3 Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilakukan melalui upaya: a. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi . 6. 4. b. 5.

Pemantauan . adanya penurunan yang tajam pada jumlah individu di alam . 2. Pembinaan habitat dan populasinya . e. Pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa diluar habitatnya (exsitu) dilakukan dalam bentuk kegiatan: a. 4. e. penelitian dan pengembangan . Pengkajian. Rehabilitasi satwa . Pasal 8 1. Pasal 6 Suatu jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dapat diubah statusnya menjadi tidak dilindungi apabila populasinya telah mencapai tingkat pertumbuhan tertentu sehingga jenis yang bersangkutan tidak lagi termasuk kategori jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1). c.a. Terhadap jenis tumbuhan dan satwa yang memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 wajib dilakukan upaya pengawetan. Pemeliharaan . BAB IV PENGELOLAAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA SERTA HABITATNYA Bagian Pertama Umum Pasal 7 Pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam ketentuan Peraturan Pemerintah ini tidak mengurangi arti ketentuan tentang pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah yang mengatur mengenai kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa di dalam habitatnya (insitu) dilakukan dalam bentuk kegiatan: a. Penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa. Penyelamatan jenis . 3. Dalam mendukung kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan kegiatan pengelolaan diluar habitatnya (exsitu) untuk menambah dan memulihkan populasi. f. c. Inventarisasi . . daerah penyebaran yang terbatas . b. d. Pengkajian. b. Penelitian dan Pengembangan . Identifikasi . c. Pengembangbiakan . mempunyai popoulasi yang kecil . d. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilakukan melalui kegiatan pengelolaan di dalam habitatnya (insitu). 2. b.

Pemerintah dapat bekerjasama dengan masyarakat dalam pelaksanaan survei dan pengamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2. untuk mengetahui kecenderungan perkembangan populasi jenis tumbuhan dan satwa dari waktu ke waktu. Pemerintah dapat bekerjasama dengan masyarakat dalam pelaksanan survei dan pengamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai inventarisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. Pembinaan habitat dan populasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan malalui kegiatan a. Pembinaan padang rumput untuk makan satwa. f. Pemerintah melaksanakan identifikasi didalam habitat sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 3 huruf a untuk kepentingan penetapan golongan jenis tumbuhan dan satwa. ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. . ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. Penjarangan jenis tumbuhan dan atau populasi satwa. Pasal 12 1. untuk mengetahui kondisi populasi jenis tumbuhan dan satwa. b. Pemerintah dapat bekerjasama dengan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2. c. Pasal 10 1.Bagian Kedua Pangelolaan dalam Habitat (insitu) Pasal 9 1. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemantauan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. d. 4. Penanaman dan pemeliharaan pohon pelindung dan sarang satwa. 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai identifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diatur oleh Menteri. Inventarisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 melalui survei dan pengamatan terhadap potensi jenis tumbuhan dan satwa. 4. 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan habitat dan populasi tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. Penambahan tumbuhan atau satwa asli. Pemerintah melaksanakan inventarisasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat 3 huruf b. pohon sumber makan satwa. Pembuatan fasilitas air minum tempat berkubang dan mandi satwa. Pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu. Pasal 11 1. ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. 2. Pemantauan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan melalui survei dan pengamatan terhadap potensi jenis tumbuhan dan satwa secara berkala. Pemerintah melaksanakan pembinaan habitat dan populasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 3 huruf d untuk menjga keberadaan populasi jenis tumbuhan dan satwa dalam keadaan seimbang dengan daya dukung habitatnya. Pemerintah melaksanakan pemantauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 3 huruf c. e. 3. 2. 2. 4. 3.

pemeliharaan dan atau pemindahan dari habitatnya ke habitat di lokasi lain. mempunyai dan mempekerjakan tenaga ahli dalam bidang medis dan pemeliharaan. 2. ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. . 4. c. memenuhi standar kesehatan tumbuhan dan satwa . Ketentuan lebih lanjut mengenai pengkajian. c. Bagian Ketiga Pengelolaan di luar Habitat (Ex Situ) Pasal 15 1. 4. b. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemeliharaan jenis di luar habitatnya sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. Pengembangbiakan jenis diluar habitatnya wajib memenuhi syarat : a.Pasal 13 1. Pemeliharaan jenis diluar habitat wajib memenuhi syarat : a. pengobatan. Pemerintah melaksanakan pengkajian. 3. Pengembangbiakan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 4 huruf b dilaksanakan umtuk pengembangan populasi di alam agar tidak punah. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 3 huruf f. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengkajian. Pemeliharaan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 4 huruf a dilaksanakan untuk menyelamatkan sumber daya genetik dan populasi jenis tumbuhan dan satwa. Pengkajian. menjaga kemurnian jenis . Pasal 16 1. 3. menyediakan tempat yang cukup luas. ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. 3. Pasal 14 1. Pemeliharaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 meliputi juga koleksi jenis tumbuhan dan satwa di lembaga komservasi. ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan melalui pengkajian terhadap aspek-aspek biologis dan ekologis baik dalam bentuk penelitian dasar. Permerintah dapat bekerjasama dengan masyarakat untuk melakukan tindakan penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2. menjaga keanekaragaman genetik . penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2. Penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan melalui pengembangbiakan. 2. terhadap jenis tumbuhan dan satwa yang terancam bahaya kepunahan yang masih berada di habitatnya. Kegiatan pengembangbiakan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan dengan tetap menjaga kemurnian jenis dan keanekaragaman genetik. Pemerintah melaksanakan tindakan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa sebagaima dimaksud dalam Pasal 8 ayat 3 huruf c. 2. aman dan nyaman . 3. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. Pemerintah dapat bekerjasama dengan masyarakat melaksanakan kegiatan pengkajian. membuat buku daftar silsilah ( Studbook ). untuk menunjang tetap terjaganya keadaan genetik dan ketersediaan sumberdaya jenis tumbuhan dan satwa secara lestari. terapan dan ujicoba. b. 2. 4.

habitat pelepasan merupakan bagian dari sebaran asli jenis yang diperlukan . Pasal 20 1. Jenis tumbuhan dan satwa hasil pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.4. 2. Pasal 17 1. memperhatikan keberadaan penghuni habitat. 3. 2. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud datam ayat 1 dilaksanakan melalui pengkajian terhadep aspek-aspek biologis dan ekologis baik dalam bentuk penelitian dasar. b. terapan dan ujicoba. Kegiatan pengkajian. untuk dikembalikan ke habitatnya. Pasal 19 1. Pasal 18 dan Pasal 19 dapat dilepaskan kembali ke habitatnya dengan syarat : a. ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. rehabilitasi atau apabila tidak mungkin. c. Pengkajian. dilakukan melalui kegiatan-kegiatan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyakit. Rehabilitasi satwa di luar habitatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) huruf d dilaksanakan untuk mengadaptasikan satwa yang karena suatu sebab berada dilingkungan manusia. Rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. tumbuhan dan satwa yang dilepaskan harus secara fisik sehat dan memiliki keragaman genetik yang tinggi . Pemerintah dapat bekerjasama dengan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. Pasal 21 1. Penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan melalui kegiatan-kegiatan : a. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengkajian. Ketentuan lebih lanjut mengenai rehabilitasi satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 diatur oleh Menteri. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa diatur habitatnya sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 8 ayal 4 buruf c dilakukan sebagai upaya untuk menunjang tetap terjaganya keadaan genetik dan ketersediaan sumber daya jenis tumbuhan dan satwa secara lestari. memindahkan jenis tumbuhan dan satwa ke habitatnya yang lebih baik . . Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangbiakan jenis tumbuhan dan satwa diluar habitatnya sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. mengembalikan ke habitatnya. menyerahkan atau menitipkan di Lembaga Konservasi atau apabila rusak. Pasal 17. 2. cacat atau tidak memungkinkan hidup lebih baik memusnahkannya. Pasal 16. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa di luar habitatnya sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 diatur oleh Menteri. Penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan habitatnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat 4 huruf e dilaksanakan untuk mencegah kepunahan lokal jenis tumbuhan dan satwa akibat adanya bencana alam dan kegiatan manusia. Pasal 18 1. b. Pengelolaan di luar habitat jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan oleh Pemerintah. 2. mengobati dan memilih satwa yang layak untuk dikembalikan ke habitatnya. 3.

hasil sitaan . Pasal 24 1. Herbarium dan Taman Tumbuhan Khusus. . b. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh tumbuhan dan satwa untuk Lembaga Konservasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diatur oleh Menteri. dan ayat 3 diatur oleh Menteri. b.2. Lembaga Konservasi dapat melakukan tukar menukar tumbuhan atau satwa yang dilindungi dengan lembaga sejenis di luar negeri. Pusat Latihan Satwa Khusus. Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara pengiriman atau pengangkutan jenis tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 diatur oleh Menteri. 2. BAB VI PENGIRIMAN ATAU PENGANGKUTAN TUMBUHAN DAN SATWA YANG DILINDUNGI Pasal 25 1. Pengiriman atau pengangkutan tumbuhan dan satwa dari jenis yang dilindungi dari dan ke suatu tempat di wilayah Republik Indonesia dilakukan atas dasar ijin Menteri. Taman Satwa Khusus. Di samping mempunyai fungsi utama sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 Lembaga konservasi juga berfungsi sebagai tempat pendidikan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelepasan kembali jenis tumbuhan dan satwa ke habitatnya sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diatur oleh Menteri. Lembaga Konservasi dapat memperoleh tumbuhan dan atau satwa baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi melalui : a. Pengiriman atau pengangkutan tumbuhan dan satwa sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 harus : a. Ketentuan lebih lanjut mengenai tukar menukar sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 diatur oleh Menteri. BAB V LEMBAGA KONSERVASI Pasal 22 1. tukar menukar . 2. Dalam rangka pengembangbiakan dan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa. Ketentuan lebih lanjut mengenai Lembaga Konservasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. dilengkapi dengan sertifikat kesehatan tumbuhan dan satwa dari instansi yang berwenang. 2. d. untuk jenis-jenis yang tidak dilindungi. Lembaga Konservasi mempunyai fungsi utama yaitu pengembangbiakan dan atau penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Kebun Botani. Musium Zoologi. pembelian. Pasal 23 1. 4. c. 3. 3. 3. ayat 2. Tukar menukar sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 harus dilakukan dengan jenis-jenis yang nilai konservasinya dan jumlahnya seimbang. peragaan dan penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam rangka menjalankan fungsinya. 2. dilakukan sesuai dengan persyaratan teknis yang berlaku. Lembaga Konservasi dapat berbentuk Kebun Binatang. pengambilan atau penangkapan dari alam .

5. dilakukan melalui pengawasan dan pengendalian. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembara Negara Republik Indonesia. BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 28 Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini. dan b. satwa dimaksud dikirim ke Lembaga Konservasi untuk dipelihara. Pelatihan penegakan hukum bagi aparat-aparat penegak hukum . 3. harus digiring atau di tangkap dalam keadaan hidup atau dikembalikan ke habitatnya atau apabila tidak memungkinkan untuk dilepaskan kembali ke habitatnya. Pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan oleh aparat penegak hukum yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. preventif . Penyuluhan .BAB VII SATWA YANG MEMBAHAYAKAN MANUSIA Pasal 26 1. Apabila cara sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 tidak dapat dilaksanakan. Tindakan preventif sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 huruf a meliputi : a. b. 2. Pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dilakukan melalui tindakan: a. Satwa yang karena suatu sebab keluar dari habitatnya dan membahayakan kehidupan manusia. maka segala peraturan pelaksanaan peraturan perundang – undangan yang mengatur tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum dicabut atau diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. maka satwa yang mengancam jiwa manusia secara langsung dapat dibunuh. ayat 2 dan ayat 3 diatur oleh Menteri. Agar tetap orang mengetahuinya. Penerbitan buku-buku manual identifikasi jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. . Dalam rangka pengawasan tumbuhan dan satwa. BAB VIII PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 27 1. Ketentuan lebih lanjut mengenai petugas dan perlakuan terhadap satwa yang membahayakan kehidupa manusia sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. 2. represif 4. Tindakan represif sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 huruf b meliputi tindakan penegakan hukum terhadap usaha pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. 3. c. BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 29 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 14 .

Rusa. Muncak 44 Mydaus javanensis Sigung 45 Nasalis larvatus Kahau. Sambar ( semua jenis dari genus cervus ) 12 Catacea Paus ( semua jenis dari famili Catacea ) 13 Cuon alpinus Ajag 14 Cynochephalus variegatus Kubung. Beruk mentawai 39 Macaca tonkeana Monyet jambul 40 Macrogalidea musschenbroeki Musang Sulawesi 41 Manis javanica Trenggilling. Tando. Nama Ilmiah Nama Indonesia MAMALIA ( MENYUSUI ) 1 Anoa deprennicornis Anoa dataran rendah.PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA (Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 tanggal 27 Januari 1999) Lampiran Jenis – jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi No. axis kuhli Rusa Bawean 11 Cervus spp Menjangan. Bekantan 46 Neofelis nebulusa Harimau dahan . Kerbau pendek 2 Anoa Quarleni Anoa pegunungan 3 Arctictis binturong Binturung 4 Arctonyx collaria Pulusan 5 Babyrousa babyrussa Babi rusa 6 Balaenoptera munculus Paus biru 7 Balaenotera Physalus Paus bersirip 8 Bos sondaicus Banteng 9 Capricornis sumatraensis Kambing Sumatra 10 Cervus kuhli. kera tak berbuntut ( semua jenis dari famili Hylobatidae ) 30 Hystrix brachyura Landak 31 Iomys horsfieldi Bajing terbang ekor merah Bajing tanah bergaris 32 Lariscus hosei 33 Lariscus Insignus Bajing tanah. peusing 42 Megaptera novaeangliae Paus bongkok 43 Muntiacus muntjak Kidang. tupai tanah 34 Lutra lutra Lutra 35 Lutra sumatrana Lutra Sumatera 36 Macaca brunnescens Monyet Sulawesi 37 Macaca maura Monyet Sulawesi 38 Macaca pangensis Bokoi. Meong congkok 24 Felis marmorota Kuwuk 25 Felis planiceps Kucing dampak 26 Felis temmincki Kucing emas 27 Felis viverrinus Kucing bakau 28 Helarctos malayanus Beruang madu 29 Hylobatidae Owa. Walangkekes 15 Cynogale bennetti Musang air 16 Cynopithecatus niger Monyet hitam Sulawesi 17 Dendrolagus spp Kanguru pohon ( semua jenis dari genus Dendrolagus ) 18 Dicerohinus sumatraensis Badak Sumatera 19 Dolphinidae Lumba-lumba air laut ( semua jenis dari famili Dolphinidae ) 20 Cdugong dugon Duyung 21 Kiephas indicus Gajah 22 Felis badia Kucing merah 23 Felis bangalensis Kucing hutan.

Bangau putih ( semua jenis dari genus Egretta ) Alap-alap putih. Bangau putih Julang. Minata Kasuari kecil Kasuari Kasuari gelambir satu. Landak semut Jalarang Badak Jawa Simpei Mentawai Tapir. Kangkareng ( semua jenis dari famili Bucerotidae ) Kakatua putih besar jambul kuning Kakatua goffin Kakatua seram Kakatua kecil jambul kuning Itik liar Junai. Pesut Macan kumbang. Elang ( semua jenis dari famili acciptridae ) Jantingan gunung Burung madu Sangihe Burung udang. Pelanduk. Macan tutul Harimau Jaya Harimau Sumatera Cukbo. Rangkong. Sandanglawe Burung sohabe coklat Burung matahari Pergam raja Kuntul karang Kuntul. Bajing terbang Kuskus ( semua jenis dari genus phalanger ) Orang utan. Alap-alap tikus Alap-alap putih. Enggang. Raja udang ( semua jenis dari famili alcedinidae ) Brencet wergan Pecuk ular Mandar Sulawesi Kuau Kuntul.47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 Nesolagus netscheri Nycticebus soucang Orcealla brevirostris Panthera pardus Panthera tigrissondaica Panthera tigris sumatrae Petaurista elagans Phalanger spp Pongo pygmaeus Presbitya frontata Presbitya rubicunda Presbitya aygula Presbitya potenziani Presbitya thomasi Prionodon linsang Prionodon bruijni Ratufa bicolor Rhinoceros sondaicus Simias concolor Tapirus indicus Tarsius spp Thylogale spp Tragulus spp Ziphidae AVES ( BURUNG ) Acciptridae Aethopyga exima Aethopyga duybenbodei Alcedinidae Alcippe pyrrhoptera Anhinga melanogaster Aramidopsis plateni Argasianus argus Bubulcus ibis Bucerotidae Cacatua galerita Cacatua goffini Cacatua molluccensis Cacatua sulphurea Carina scutulata Caloenas nicobarica Casuarius bennetti Casuarius casuarius Casuarius undappenddiculatus Ciconia episcopus Collurincla megarhyncha anghirensis Crocias albonotatus Duculu wharoni Egretta sacra Egretta spp Elanus caerulleus Elanus hypoleucus Kelinci Sumatera Malu-malu Lumba-lumba air tawar. Cipan. Burungmas. Kasuari leher kunig Bangau hitam. Singapuar ( semua jenis dari genus Tarsius ) Kanguru tanah ( semua jenis dari genus Tarsius ) Kancil. Napu ( semua jenis dari genus Tralugus ) Lumba-lumba air laut ( semua jenis dari famili Ziphidae ) Burung alap-alap. Mawas Lutung dahi putih Lutung merah. Lutung Mentawai Rungka Musang congkok Landak Irian. Kelasi Surili Joja. Tenuk Binatang hantu. Alap-alap tikus .

Kipas gunung Burung kipas Burung kipas ekor merah Burung tepus dada putih . Bintayung Burung kuda Burung dara mahkota. Burung cacing ( semua jenis dari famili Pittidae ) Ibis hitam. Bultok jawa Maleo.98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 Eos histiro Esacus magnirostris Eutrichomyias rowleyi Falconidae Fregeta anrewsi Garrulax rufifrons Goura spp Gracula religiosa mertensi Gracula religiosa robusta Gracula religiosa venerata Grus spp Himantopus himantopus Ibis cinereus Ibis leucocephala Lorius roratus Leptoptilos javanicus Leucopsar rothschildi Lophozosterops javanica Lopuhura bulweri Lopuhura catamene Lopuhura exilis Lopuhura domicellus Macrocephalon maleo Megalaima armillaris Megalaima corvina Megalaima javensis Megapodiidae Megapodius reinwardtii Meliphagidae Musciscapa ruecki Mycteria cinerea Nectariniidae Numenius spp Nycticorax caledonicus Otus migicus becaarii Pandionidae Paradiseidae Pavo miticus Pelecanidae Pittidae Plegadis falcinellus Polyplectron malacense Probosciger aterrimus Psaltria exilis Pacudibis davisoni Psittrichas fulgidus Ptilonorhynchidae Rhipidura euryura Rhipidura javanica Rhipidura Phoenicura Satchyris grammiceps Nuri sangir Wili-wili. klaces ( semua jenis dari famili Nectariniidae ) Gagajahan ( sumua jenis dari genus Numenius ) Kowak merah Burung hantu Biak Burung alap-alap. Kakatua hitam Glatik kecil. Mambruk ( semua jenis dari genus Goura ) Beo Flores Beo Nias Beo Sumbawa Jenjang ( semua jenis dari genus Grus ) Trules lidi. Betet besar Burung namdur. Walangkadak Bluwok berwarna Bayan Marabu. Pengisap madu ( semua jenis dari famili Meliphagidae ) Burung kipas biru Bangau putih susu. Ketuk – ketuk Tulung tumpuk. Burung gosong ( semua jenis dari famili Megapodiidae ) Burung gosong Burung sesap. Elang ( semua jenis dari famili Falconidae ) Burung gunting. roko-roko Merak kerdil Kakatua raja. Glatik gunung Ibis hitam punggung putih Kasturi raja. Ular. Bluwok Burung madu. Bangau tongtong Jalak Bali Burung kacamata leher abu-abu Beleang ekor putih Serindit Sangihe Serindit Sulawesi Nori merah kepala hitam Burung maleo Cangcarang Haruku. Elang ( semua jenis dari famili Pandionidae ) Burung Cendrawasih ( semua jenis dari famili Paradiseidae ) Burung merah Gangsa laut ( semua jenis dari famili Palecanidae ) Burung paok. Bebek laut Seriwang Sangihe Burung alap-alap. Lilimo Bluwok. Burung itik. Burung dewata Burung kipas perut putih. jantingan.

Burung luntur Trulek ekor putih Tuntong Penyu tampayan Kura – kura Irian Kura Irian leher panjang Penyu hijau Labi – labi besar Soa payung Sanca hijau Buaya air tawar Irian Buaya muara Buaya siam Penyu belimbing Kura Irian leher pendek Penyu sisik Bunglon sisir Soa-soa. Ora Biawak abu-abu Biawak hijau Biawak Timor Biawan Togian Kupu bidadari Kupu sayap burung peri Kupu sayap burung goliat Kupu sayap burung surga Kupu sayap burung priamus Kupu sayap burung rotsil Kupu sayap burung titon . Biawak Ambon. Kaleng putih Gangsa baru aboti Gangsa batu muka biru Gangsa batu Gangsa batu kaki merah Nuri Sulawesi Ibis putih. Suruku. Buaya sapit Biawak Kalimantan Biawak coklat Biawak maluku Biawak komodo. Biawak pohon Penyu ridel Penyu pipih Kura – kura gading Sanca bodo Sanca Timor Kadal panana Senyulong.149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 Satchyris melanothorax Sterna zimmermanni Sternidae Sturnus melanopterus Sula abbotti Sula dactylatra Sula leucogaster Sula sula Tanygnathus sumatranus Threskiornis aethiopicus Trichonglossus ornatus Tringa guttifer Trgonidae Vanellus macropterus REPTILIA ( MELATA ) Batagur basta Caretta caretta Carettochelys insculpta Chelodina novaeguineae Chelonia mydas Chitra indica Chlamydosaurus kingii Chondropython viridis Crocodylus novaeguineae Crocodylus prosus Crododylus siamensis Dermochelys coriacea Elyesa novaeguineae Eretmochelys imbricata Gonychepalus dilophus Hydrasaurus ambionensis Lepidochelys olivacea Natator depressa Orlitia borneensis Python molurus Python timorensis Tiliqua gigas Pimistoma schegelii Varanus borneensis Varanus gouldi Varanus indicus Varanus komodoensis Varanus nebulosus Varanus prasinus Varanus timorensis Varanus togianus INSECTA ( SERANGGA ) Cethosia myrina Ornithoptera chimaera Ornithoptera chgoliath Ornithoptera paradisea Ornithoptera priamus Ornithoptera rotscldi Ornthoptera tithonus Burung tepus pipi merah Dara laut berjambul Burung daru laut ( semua jenis dari famili sternidae ) Jalak putih. Platuk besi Kasturi Sulawesi Trinil tutul Kasumba.

Hiu Sentani ( semua jenis dari genus Pritis ) Wader goa Peyang malaya. Lubang Kima selatan Kima raksasa Kmia kecil Kimka sisik. Lopis jawa ( semua jenis dari genus Notopterus ) Pari Sentani. Kaloso Akar bahar. susu bundar Batu laga. Tangkelasa Arowan Irian. PALMAE Amorphophallus decussilvae Amorphophallus titanus Borrassodendron borneensis Caryota no Ceratolobus Glaucescens Cystostachys lakka Cystostachys ronda Eugeissona utilis Johanneste ijamaria altifrons Livistona spp Nengah gajah Phoenix paludosa Pigafatta filaris Pinaga javana Kupu trogon Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Kupu raja Selusur Maninjau Ikan raja laut Belida jawa. Siput hijau Bunga bangkai jangkung Bunga bangkai raksasa Bindang. Kima seruling Troka. Budang Palem raja / Indonesia Palem Jawa Pinang merah Kalimantan Pinang merah Banka Bertan Daun payung Palem kipas Sumatera ( semua jenis dari genus Livistona ) Palem Sumatera Korma rawa Manga Pinang Jawa . Koral hitam ( semua jenis dari genus Antiphates ) Ketam kelapa Kepala kambing Triton terompet Kima tapak kuda. Peyang Irian. Berung Kima Cina Nautilus berongga Ketam tapak kuda Kima kunia. Kima kuku.201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 Trogonotera brookiana Troides amphrysus Troides andromanche Troides criton Troides haliphron Troides helena Troiden Hypolitus Troides meoris Troides miranda Troides plato Troides rhadamantus Troides riedeli Troides vandepolli PISCES ( IKAN ) Homaloptera gymnogaster Latimeria chalumnae Notopterus spp Pritis spp Puntius microps Scleropages formosus Scleropages jardini ANTHOZOA Antiphates spp BIVALVA Birgus latro Cassis cornuta Charonis tritonis Hippopus hippopus Hippopus porcellanus Nautilus pompillus Tachiphelus gigan Tridacna crocea Tridacna derasa Tridagna gigas Tridacna maxima Tridagna squamosa Trochus niloticus Turbo marmoratus TUMBUHAN I.

RAFLESSIACEA Rafflesia spp III. ORCHIDACEAE Ascocentrum miniatum Coelogyne pandurata Corybas fornicatus Cymbidium hartinahianum Demdrobium catinecloesum Demdrobium d’albertisii Demdrobium lasianthera Demdrobium macrophyllumm Demdrobium ostrinoglosum Demdrobium phalaenopsis Grammatophyllum papuanum Grammatophyllum speciosum Macodes petola Paphiopedilum chamber lainianum Paphiopedilum glaucophyllum Paphiopedilum praestans Paraphalaenopsis denevei Paraphalaenopsis laycockii Paraphalaenopsis serpentilingua Phalaenopsis amboinensia Phalaenopsis gigantea Phalaenopsis sumatrana Phalaenopsis violacose Renanthera matutina Spathoglottis xurea Vanda celebica Vanda bookeriana Vanda pumila Vanda sumatrana IV. Bunga padma ( semua jenis dari genus Rafflesia ) Anggrek kebutan Anggrek hitam Anggrek koribas Anggrek harintah Anggrak karawai Anggrek albert Anggrek stuberi Anggrek jamrud Anggrek karawai Anggrek larat Anggrek raksasa Irian Anggrek tebu Anggrek ki aksara Anggrek kasut kumis Anggrek kasut berbulu Anggrek kasut pita Anggrek bulan bintang Anggrek bulan Kalimantan Tengah Anggrek bulan Kalimantan Barat Anggrek bulan Ambon Anggrek bulan raksasa Anggrek bulan Sumatera Anggrek kelip Anggrek jingga Anggrek sendok Vanda mungil minahasa Vanda pensil Vanda mini Vanda Sumatera Kantong semar ( semua jenis dari genus Nephentus ) Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang Tengkawang PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE . NEPHENTACEAE Nephentes spp Shores stenopten Shores stenoptera Shores gysberstiana Shores pinanga Shores compressa Shores seminis Shores martianiana Shores mexistopteyx Shores beccariana Shores micrantha Shores stenopten Shores palembanica Shores lepidota Shores singkawang Rafflesia.250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 II.

5806 hal. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistern Budidaya Tanaman (BN No. 68-108 dsti) (LN Tahun 1990 Nomor 49. 10. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (BN No. TLN Nomor 3776). 5292 hal. TLN Nomor 3299). 3. 5568 hal. daya dukung. TLN Nomor 3612). 6. Menimbang : a. 4B-13B ) (LN Tahun 1992 Nomor 56. bahwa berdasarkan hal tersebut diatas dan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 8. 7. TLN Nomor 3699). Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (LN Tahun 1998 Nomor 132.703 dit. (LN Tahun 1985 Nomor 46. 103. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati (BN No. dan keaneka ragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. bahwa tumbuhan dan satwa adalah bagian dari sumber daya alam hayati yang dapat dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. TLN Nomor 3544). 5612 hal 38 dst. TLN Nomor 3482). dan pemanfaatannya dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi. 9. Pasal 5 Ayal (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. 2B –9B). Ikan dan Tumbuhan (BN No. TLN Nomor 3556). 5261 Ad. 1504 hal. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya & Alam Hayati dan Ekosistemnya (BN No. Hewan. TLN Nomor 2823). 2. 4952 hal. dipandang perlu menetapkan peraturan tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dengan Peraturan Pemerintah. (LN Tahun 1994 Nomor 19. 4.6038 hal. MEMUTUSKAN Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA.1 13 dst) (LN Tahun 1992 Nomor 46. TLN Nomor 3419). BAB I KETENTUAN Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: . Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru (BN No. Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang kepabean (BN No. b. 4226 hal. 11A.) (LN Tahun 1994 Nomor 41.PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 8 TAHUN 1999 TANGGAL 27 JANUARI 1999 TENTANG PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 11. 5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (BN No. 58. 5B – 19 B) (LN Tahun 1995 Nomor 75. Undang-undang Nomor 9 Tabun 1985 tentang Perikanan (BN No. 1B-4B) (LN Tahun 1997 Nomor 68. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina.15A) (LN Tahun 1967 Nomor 8. TLN Nomor 3478).

Penangkapan satwa liar adalah kegiatan memperoleh satwa liar dari habitat alam untuk kepentingan pemanfaatan jenis satwa liar di luar perburuan. 6. penelitian dan pengembangan dapat dilakukan terhadap jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi atau yang tidak dilindungi. e. perburuan. dan pemeliharaan untuk kesenangan. f. Pasal 5 .1. Penangkaran. baik berupa lembaga pemerintahan maupun lembaga non pemerintah. Perdagangan. Pertukaran. BAB II PENGKAJIAN. 8. g. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dibidang kehutanan. Perburuan. baik berupa lembaga pemerintah maupun lembaga non pemerintah. asal-usul. penelitian dan pengembangan diatur lebih lanjut oleh Menteri. 5. Pembesaran adalah upaya memelihara dan membesarkan benih dan bibit dan anakan dari tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. Peragaan. d. dan indentifikasi lain dari jenis tumbuhan dan satwa liar atau bagian-bagiannya serta hasil dari padanya baik dari penangkaran atau pembesaran. (2) Penggunaan jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi untuk kepentingan pengkajian. penelitian dan pengembangan. Pasal 2 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar bertujuan agar jenis tumbuhan dan satwa liar dapat didaya gunakan secara lestari untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. peragaan. (2) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan mengendalikan pendayagunaan jenis tumbuhan dan satwa liar atau bagian-bagiannya serta hasil dari padanya dengan tetap menjaga keanekaragaman jenis dan keseimbangan ekosistem. Sertifikasi adalah keterangan tertulis tentang ciri. 9. Pemanfaatan jenis adalah penggunaan sumber daya alam baik tumbuhan maupun satwa liar 2. dan h. Budaya tanaman obat-obatan. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Pasal 4 (1) Pengkajian. Pasal 3 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilaksanakan dalam bentuk : a. perdagangan. penelitian dan pengembangan harus dengan izin Menteri. c. kategori. Pengkajian. Pengambilan tumbuhan liar adalah kegiatan memperoleh satwa liar dari habitat alam untuk kepentingan pemanfaatan jenis satwa liar di luar perburuan. 7. penelitian dan pengembangan. Pemeliharaan untuk kesenangan. 4. Penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. (3) Pengambilan tumbuhan liar dan penangkapan sata liaar dari habitat alam untuk keperluan pengkajian. 3. Lembaga Konservasi adalah lembaga yang bergerak dibidang konservasi tumbuhan dan atau (eksitu). b. dan atau bagian-bagiannya serta hasil dari padanya dalam bentuk pengkajian. pertukaran. penangkaran. Penandaan adalah pemberian tanda bersifat fisik pada bagian tertentu dari jenis tumbuhan dan satwa liar atau bagian-bagiannya serta di luar habitatnya (ex-situ). budidaya tanaman obat-obatan.

memelihara. Penetasan telur dan atau pembesaran anakan yang diambil dari alam. Pasal 6 (1) Ketentuan tenatng pengkajian. (3) Ketentuan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Menteri. (3) Dengan tidak menurangi ketentuan yang diatur dalam Peraturan pemerintah ini. dan mengelola hasil pengkajian. Pasal 8 (1) Jenis tumbuhan dan stawa liar untuk keperluan penangkaran diperoleh dari habitat alam atau sumber-sumber lain yang sah menurut ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pengembanganbiakan satwa atau perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam lingkungan terkontrol. penelitian dan pengembangan terhadap jenis tumbuhan dan satwa liar oleh orang asing di Indonesia dilaukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Badan Hukum. (3) Ketentuan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Menteri. Pasal 10 . penangkaraan diatur lebih lanjut oleh Menteri. penelitian dan pengembangan jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi wajib diberitahukan kepada pemerintah. memelihara. (2) Pengambilan jenis tumbuhan liar dan penangkapan satwa liar dari alam untuk keperluan Pasal 9 (1) Setiap orang. (2) Pengkajian. (2) Pemerintah menetapkan lembaga penelitian dan atau lembaga konservasi yang bertugas mendokumentasikan. dan mengelola hasil pengkajian. (2) Izin penangkaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekaligus juga merupakan izin untuk dapat menjual hasil penangkaran setelah memenuhi standar kualifikasi penangkaran tertentu. c. penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksudd dalam ayat (1). b. (4) Ketentuan lebih lanjut tentang standar kualifikasi penangkaran diatur oleh Menteri. (3) Standar kualitas penangkaran sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan dasar pertimbangan : a.(1) Hasil pengkajian. penangkaran jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi terikat juga kepada tuntutan yang berlaku bagi pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Koperasi atau Lembaga Konservasi dapat melakukan kegiatan penangkaran jenis tumbuhan dan satwa liar atas izin Menteri. penelitian dan pengembangan terhadap jenis tumbuhan dan satwa merintah menetapkan lembaga penelitian dan atau lembaga konservasi yang bertugas mendokumentasikan. Profesionalisme kegiatan penangkaran. penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksudd dalam ayat (1). BAB III PENANGKARAN Pasal 7 (1) Penangkaran untuk tujuan pemanfaatan jenis dilakukan melalui kegiatan : a. b. Batas jumlah populasi jenis dan tumbuhan dan satwa hasil penagkaran. dan (2) Penangkaran dapat dilakukan terhadap jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi atau tidak dilindungi. Tingkat kelangkaan jenis tumbuhan dan satwa yang ditangkarkan.

Pasal 14 (1) Penangkar wajib memberi penandaan dan atau sertifikasi atas hasil tumbuhan dan satwa liar yang ditangkarkan. Memperkejakan dan memiliki tanag ahli di bidang penangkaran jeins yang bersangkutan. b. Membuat buku induk tumbuhan atau satwa liar yang ditangkarkan. (2) Dalam menyelenggarakan kegiatan penangkaran. c. Melaksanakan sistem penandaan dan atau sertifikasi terhadap individu jenis yang ditangkarkan. penangkar berkewajiban untuk : a. b.. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem dan tata cara penandaan dan sertifikasi tumbuhan dan satwa hasil penangkaran diatur oleh Menteri. Pasal 12 Penangkaran wajib menjaga kemurnian satwa liar yang dilindungi sampai pada generasi pertama. serta setelah mengalamai perbanyakan bagi tumbuhan yang dilindungi. (2) Hasil penangkaran tumbuhan sebagimana dimaksud dalam ayat (1) dinyatakan sebagai tumbuhan yang tidak dilindungi. Membuat dan menyampaikan laporan berkala kepada pemerintah. dan setelah generasi pertama bagi satwa liar yang tidak dilindungi. Memiliki tempat dan fasilitas penangkaran yang memenuhi syarat-syarat teknis. dinyatakan sebagai jenis satwa liar yang tidak dilindungi. Pasal 15 (1) Setiap orang.. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) tidak berlaku terhadap jenis tumbuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34. (3) Ketentuan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Menteri. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) tidak berlaku terhadap jenis tumbuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34. Pasal 11 (1) Hasil penangkaran satwa liar yang dilindungi yang dapat digunakan untuk keperluan perdagangan adalah satwa liar generasi kedua dan generasi berikutnya. Badan Hukum. (2) Generasi kedua dan generasi berikutnya dari hasil penangkaran jenis satwa liar yang dilindungi. dan Lembaga Konservasi yang mengajukan permohonan untuk melakukan kegiatan penangkaran. c. wajib memenuhi syarat-syarat : a. (2) Hasil persilangan satwa liar dilarang untuk dilepas ke alam. Pasal 16 .(1) Hasil penangkaran tumbuhan liar yang dilindungi dapat digunakan untuk keperluan perdagangan. Pasal 13 (1) Hasil penangkaran untuk persilangan hanya dapat dilakukan setelah enerasi kedua bagi satwa liar yang dilindungi. Koperasi. Membuat dan menyerahkan proposal kerja.

perdagangan dalam skala terbatas dapat dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar Areal buru dan di sekitar Taman Buru sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan tentang perburuan satwa buru. Pasal 21 Badan usaha yang melakukan perdagangan dan satwa liar wajib membayar pungutan yang ditetapkan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. re-ekspor atau impor.mbilan atau penagkapan dari alam. Memiliki tempat dan fasilitas penampungan tumbuhan dan satwaa liar yang memenuhi syarat-syarat teknis. BAB V PERDAGANGAN Pasal 18 (2) Kegiatan perburuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah (1) Tumbuhan dan satwa liar yang dapat diperdagangkan adalah jenis satwa liar yang tidak dilindungi. Perolehan trofi (trophy hunting) dan perburuan tradisional oleh masyarakat setempat. Menyusun rencana kerja tahunan usaha perdagangan tumbuhan dan satwa. BAB IV PERBURUAN Pasal 17 (1) Perburuan jenis satwa liar dilakukan untuk keperluan olah raga (sport hunting). Ekspor. b. tersendiri.(1) Satwa liar yang dilindungi yang diperoleh dari habitat alam untuk keperluan penangkaran dinyatakan sebagai satwa titipan negara. c. Pasal 20 (1) Badan usaha yang melakukan perdagangan jenis tumbuhan dan satwa liar wajib: a. Hasil penangkaran. (2) Dikesualikan dari ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1). (2) Tiap-tiap perdagangan tumbuhan dan satwa liar wajib dilengkapi dengan dokumen yang sah. Pasal 23 . Pasal 19 (1) Perdagangan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilakuakn oleh Badan Usaha yang didirikan menurut hukum Indonesia setelah mendapatkan rekomendasi Menteri. (2)Ketentuan pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (1) Perdagangan tumbuhan dan satwa liar diatur berdsarkan lingkup perdagangan : a. Dalam negeri. (2) Tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan perdagangan diperoleh dari : a. b. diatur lebih lanjut oleh Menteri. Menyampaikan laporan tiap=tiap pelaksanaan perdagangan tumbuhan dan satwa. (2) Ketentuan mengenai penetapan status purna penangkaran dan pengembalian ke habitat alam stawa titipan negara diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. Pasal 22 b. Penga.

re-exkspor. Pasal 25 (1) Tumbuhan dan satwa liar yang diekspor. badan atau orang yang melakukan pergaan tumbuhan dan satwa liar bertanggung jawab atas kesehatan dan keamanan tumbuhan dan satwa liar yang diperagakan. Pasal 26 Ekspor. re-ekspor atau impor. petugas karantina wajib memeriksa kesehatan jenis tumbuhan dan satwa liar serta kelengkapan dan kesesuaian spesimen dengan dokumen. re-ekspor atau impor. sah apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Rekomendasi otoritas keilmuan (scientific authority). re-ekspor atau impor dilakukan atas dasar izin Menteri. (3) Ketentuan lenbih lankut tentang dokumen perdagangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Keputusan Menteri. Pasal 24 (1) Tiap-tiap perdagangan tumbuhan dan satwa liar untuk tujuan ekspor. b.. BAB VI PERAGAAN Pasal 27 Peragaan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat berupa koleksi hidup atau koleksi matu termasuk bagian-bagiannya serta hasil dari padanya.Ketentuan mengenai perdagangan tumbuhan dan satwa liar dalam negeri diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. BAB VII . (2) Dalam melakukan tindakan karantina sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1). Pasal 30 (1) Lembaga. c. (2) Menteri mengatur standar teknis kesehatan dan keamanan tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan peragaan. (2) Dokumen perdagangan untuk tujuan ekspor. (2) Pergaan yang dilakukan oleh orang atau Badan di luar lembaga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dengan izin Menteri. Pasal 29 Perolehan dan penggunaan jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi untuk keperluan peragaan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. Pasal 28 (1) Peragaan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilakukan oleh lembaga konservasi dan lembaga – lemabaga pendidikan formal. atau impor wajib dilakukan tindak karantina. Izin ekspor. re-ekspor atau impor jenis tumbuhan dan satwa liar tanpa dokumen atau memalsukan dokumen atau menyimpang dari syarat-syarat dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) termasuk dalam pengertian penyelundupan. Memiliki dokumen pengiriman dan pengangkutan.

Badak Jawa (Rhinoceros sondicus). Lutung Mentawai (Black or grey long tailed monkey)(Presbtis Potensiani). BAB VIII BUDIDAYA TANAMAN OBAT-OBATAN Pasal 35 Pemanfaatan jenis tumbuhan liar yang berasal dari habitat alam untuk keperluan budidaya tanaman obat-obatan dilakuan dengan tetap memelihara kelangsunagn potensi. daya dukung dan keanekaragaman jenis tumbuhan liar. j. Pasal 32 (1) Pertukaran jenis tumbuhan dan stawa liar yang dilindungi hanya dapatdilakukan terhadap jenis tumbuhan dan satwa liar yang sudah dipelihara oleh lembaga Konservasi. Owa Jawa (Hylobates moloch). Hanya dapat dipertukarkan atas persetujuan Presiden. Anoa quarlesi). c. e.PERTUKARAN Pasal 31 Pertukaran jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan populasi. f. Pasal 36 Ketentuan tentang budidaya tanaman obat-obatan diatur dengan Peraturan Pemerintah tersendiri. BAB IX . a. Baby russe). (2) Pertukaran dilakukan atas dasar keseimbangan nilai konservasi jenis tumbuhan dan satwa liar yang bersangkutan. atau tumbuhan dengan tumbuhan. Badak Sumatra (Dicero rhinus sumatrensis). Babi rusa(Babyrousa. populasi. d. Orangutan (Pongo pygmaeus). h. k. Elang Jawa. Pasal 34 Tumbuhan liar jenis Raflesia species dan satwa liar jenis : Anoa (dwarf buffalo) (Annoa depressicomis. i. g. Harimau Sumatra (Panthera trigis sumatrae). penelitian dan ilmu pengetahuan. elang Garuda (Spizeetus bartesi). (2) Pertukaran jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi hanya dapatdilakukan oleh dan atar Pasal 33 (1) Pertukaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 hanya dapat dilakukan antara satwa dengan satwa. Biawak Komodo (Varanus Komodoensis). Cendrawasih (Bird of Paradise)(all species and family of Paradiseidae). (3) Evaluation of the equilibrium of the value of conservation as meant in sub-Pasal (2) shall be conducted by an evaluation team the establishment and working procedure of which shall be stipulated in a ministerial decree. dan atau penyelamatan jenis yang bersangkutan. b. memperkaya keanekaragaman jenis. Lembaga Konservasi dan pemerintah.

b. dan keamanan jenis tumbuhan atau satwa liar peliharaannya. d. Identitas orang atau Badan yang mengirim dan menerima tumbuhan dan satwa. wajib : a. (3) Izin perngiriman sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf b wajib memuat keterangan tentang : a. Memelihara kesehatan. Pelabuhan pemberangkatan dan pelabuhan tujuan. Jenis dan jumlah tumbuhan dan satwa. Pasal 38 Menteri menetapkan batsa maksimum jumlah tumbuhan dan satwa liar yang dpat dipelihara unruk kesenangan. Peruntukan pemanfaatan tumbuhan dan satwa. Pasal 39 (1) Tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan pemeliharaan untuk kesenangan diperoleh dari hasil penangkaran. kenyamanan. Menyediakan tempat dan fasilitas yang memenuhi standar pemeliharaan jenis tumbuhan dan satwa liar. BAB X PENGIRIMAN ATAU PENGANGKUTAN TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 42 (1) Pengiriman atau pengangkutan jenis tumbuhan dan satwa liar dari satu wilayah habitat ke wilayah habitat lainntya di Indonesia. Izin pengiriman. kesenangan diatur lebih lanjut oleh Menteri. d. (2) Dokumen dinyatakan sah. Standar teknis pengangkutan. perdgangan yang sah atau dari habitat alam. (2) Tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan pemeliharaan untuk kesenangan hanya dapat dilakukan terhadap jenis yang tidak dilindungi. Izin penangkaran bagi satwa hasil penangkaran. wajib dilengkapi dengan dokumen pengiriman atau pengangkutan. b. pemeliharaan satwa liar wajib menyampaikan laporan berkala pemeliharaan satwa sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 41 (1) Pemerintah setiap 5 (lima) tahun mengevaluasi kecakapan atau kemampuan seseorang atau lembaga atas kegiatannya melakukan pemeliharaan satwa liar untuk kesenangan. c. atau dari dan ke luar wilayah Indonesia. apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagi berikut : a. b. c. (2) Pengambilan tumbuhan lliar dan penangkapan satwa liar untuk keperluan pemeliharaan untuk Pasal 40 (1) Pemeliharaan jenis tumbuhan dan satwa liar untuk kesenangan.PEMELIHARAAN UNTUK KESENANGAN Pasal 37 (1) Setiap oang dapat memelihara jenis tumbuhan dan satwa liar untuk tujuan kesenangan. Sertifikast kesehatan satwa dan pejabat yang berwenang. (2) Untuk keperluan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Ketentuan pelaksanaan mengenai kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri. .

Upaya-upaya konservasi yang dilakukan di Indonesia. dalam konvensi internasional. (2) Penetapan daftar klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memeperhatikan : a. Pasal 45 Kuota penangkapan sebagimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) meliputi juga hasil perburuan satwa liar secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Buru di dalam atau di sekitar Areal Buru dengan menggunakan alat-alat tradisional. Pasal 44 (1) Pemerintah menetapkan kuota pengambilan dan penangkapan setiap jenis dan jumlah tumbuhan dan satwa liar yang dapat diambil atau ditangkap dari alam untuk setiap kurun waktu 1 (satu) tahun. Pasal 47 (1) Pemerintah menetapkan kuota setiap jenis dan jumlah tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi untuk keperluan perdagangan dalamsetiap kurun waktu 1 (satu) tahun. re-ekspor. Pasal 46 Kuota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 merupakan pedoman untuk memenuhi kebutuhan seluruh bentuk pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar yang diperoleh dari alam. (2) Pengedalian impor sebagimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memperhatikan upaya perlindungan tumnbuhan dan satwa liar sejenis di Indoensia dan ketentuan konvensi Internasional tentang Impor tumbuhan dan satwa liar. dan c. atau impor. Kepentingan pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.. Perkembangan upaya perlindungan jenis tumbuhan dan satwa liar yang disepakati b. (2) Sumber tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan kuota perdagangan sebagimana dimaksud dalam ayat (1) berasal dari kuota pengambilan dan penangkapan dari alam dan hasil penangkaran. (2) Penetapan kuota pengambilan dan penangkapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memperhatikan pertumbuhan populasi tumbuhan dan satwa liar pada wilayah habitat yang bersangkutan. (3) Kuota pedagangan ditetapkan atas dasar kebutuhan perdagangan dalam negeri dan untuk tujuan ekspor. Pasal 48 (1) Pemerintah mengendalikan impor setiap jenis tumbuhan dan satwa liat yang dapat dimasukkan ke Indonesia.BAB XI DAFTAR KLASIFIKASI DAN KUOTA Pasal 43 (1) Pemerintah menetapkan daftar jenis tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi atas dasar klasifikasi yang boleh dan yang tidak boleh diperdagangkan. (3) Wilayah habitat sebagimana dimaksud dalam pasal ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Menteri. Pasal 49 .

000.00 (dua puluh lima juta rupiah) dan atau pencabutan izin penangkaran.Penetapan daftar klasifikasi. penelitian dan pengembangan terhadap tumbuhan liar san sata liar untuk waktu paling lama 4 tahun. Pasal 29 dan Pasal 39 ayat (2) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 40.000.. Pasal 52 (1) Barangsiapa melakukan penangkaran tumbuhan liar dan atau satwa liar tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 25. penelitian dan pengembangan terhadap tumbuhan liar san sata liar untuk waktu paling lama 5 tahun.000.000. dan kuota perdagangan.00 (lima puluh juta rupiah) dan atau dihukum tidak diperbolehkan melakukan kegiatan pengkajian.000. Pasal 53 (1) Penangkar yang melakukan perdagangan tumbuhan dan atau satwa liar tanpa memenuhi standar kualifikasi yang ditetapkan Menteri sebagaimana dimasud dalam Pasal 9 ayat (4) dihukum karena melakukan perbuatan penyelundupan. Pasal 54 (1) Barang siapa tanpa izin melakukan perdagangan tumbuhan dan atau satwa sebelum memenuhi kategori sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) atau Pasal 11 ayat (1) atau tidak memuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dala pasal 12 dihukum karena melakukan . (2) Perbuatan sebagimana dimaksud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 100. kuota pengambilan dan penangkapan. BAB XII SANKSI Pasal 50 (1) Barang siapa tanpa izin menggunakan tumbuhan dan atau satwa liar yang dilindungi untuk kepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dihukum karena melakukan perbuatan yang dilarang menurut ketentuan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.000.000. Pasal 8 ayat (2). sebagaimana diatur dalam Bab ini dilakukan oleh Menteri setelah mendapat rekomendasi dari Otoritas Kelimun (scientific authority). (2) Perbuatan sebagaiman dimaskud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 50.00 (seratus juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha penangkaran.00 (empat puluh juta rupiah) dan atau dihukum tidak diperbolehkan melakukan kegiatan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar. (3) Barangsiapa mengambil tumbuhan liar dan atau satwa liar dari habitat alam tanpa izin atau dengan tidak memenuhi ketentuan sebagimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3).000.000. (2) Apabila perbuatan sebagiman dimaksud dalam ayat (1) dilakukan terhadap tumbuhan dan atau satwa liar yang dilindungi dihukum karena melakukan perbuatan yang dilarang menurut ketentuan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.00 (dua puluh juta rupiah) dan atau dihukum tidak diperbolehkan melakukan kegiatan pengkajian.000. Pasal 51 Barangsiapa tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dengan sertamerta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 20.

(2) Perbuatan sebagaiman dimaskud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 100.000. ayat (2) dan ayat (3) sewaktu-waktu atas pertimbangan Menteri. dapat dikenakan pencabutan izin usaha.00 (sepuluh juta rupiah) dan atau pembekuan kegiatan usaha paling lama 2 (dua) tahun.000.000. re-ekspor atau impor tumbuhan liar dan satwa liar tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) atau tanpa dokumen atau memalsukan dokumen.000. Pasal 56 (1) Barangsiapa melakukan perdagangan satwa liar yang dilindungi dihukum karena melakukan perbuatan yang dilarang menurut ketentuan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.000.000. Pasal 60 (1) Barangsiapa melakukan peragaan satwa liar tanpa izin sebagimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dihukum karena melakukan percobaan perbuatan perusakan lingkungan hidup.000. dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 10.000.000. (2) Badan Usaha perdagangan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf b dengan serta merta dapat dihukum pembekuan kegiatan usaha paling lama 1 (satu) tahun. Pasal 58 (1) Badan Usaha perdagangan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf a dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyakbanyaknya Rp 10. (2) Perbuatan sebagaiman dimaskud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 200. atau menyimpang dari syarat-syarat dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dihukum karena melakukan perbuatan penyelundupan. (3) Badan Usaha perdagangan yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) c dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyakbanyaknya Rp 10.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha perdagangan yang bersangkutan.00 (seratus juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha.000.perbuatan yang dilarang menurut ketentuan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pasal 57 Barangsiapa melakukan perdagangan tumbuhan liar dan atau satwa liar selain oleh Badan Usaha dan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dihukum karena melakukan perbuatan penyelundupan.000. .00 (dua ratus juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha yang bersangkutan.00 (sepuluh juta rupiah) dan atau pembekuan kegiatan usaha paling lama 2 (dua) tahun. Pasal 55 Penangkar yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan 15 ayat (2). (4) Perbuatan sebagaiman dimaskud dalam ayat (1). Pasal 59 (1) Ekspor. (2) Perbuatan sebagaiman dimaskud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 250.00 (sepuluh juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha yang bersangkutan.000.

Pasal 64 (1) Pelanggaran sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 50. 57. 54.000. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ditetapkan sebagai Otoritas Keilmuan (scientific authority). 56. atau menyimpang dari syarat-syarat atau tidak memenuhi kewajiban atau memalsukan dokumen sebagaimana yang dimaaksud dalam Pasal 42 ayat (1) atau ayat (3) dihukum karena turut serta melakukan penyelundupan dan atau pencurian dan atau percobaan melakukan perusakan lingkungan hidup. 53. 61. 60.000. 62 dan 63. 58. 61. 52. 54. 55. 51. Pasal 66 (1) Otoritas pengelola sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 huruf a mempunyai kewenangan sebagaimana diatur dalam Perturan Pemerintah ini. sepanjang menyangkut tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi.00 (lima juta rupiah) dan atau perampasan atas satwa yang dipelihara. 62 dan 63. 51. 52. 53.000.00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan atau pencabutan izin usaha yang bersangkutan.000. . maka tumbuhan dan satwa liar tersebut dirampas untuk negara sebagaimana diatur dalam Pasal 24 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. sepanjang menyangkut tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi. 59.00 (dua ratus juta rupiah) dan atau pencabutan izin usahayang bersangkutan. (2) Pelanggaran sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 50.000. 58. (2) Perbuatan sebagaiman dimaskud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 250. 57. 55. maka tumbuhan dan satwa liar tersebut diperlakukan sama dengan yang dilindungi. . dirampas untuk negara. 60. (2) Perbuatan sebagaiman dimaskud dalam ayat (1) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 200.(3) Apabila perbuatan tersebut dalam ayat (1) dilakukan terhadap satwa liar yang dilindungi. b. 59. Pasal 63 (1) Barangsiapa melakukan pengiriman atau pengangkutan tumbuhan dan satwa liar tanpa dokumen pengirim atau pengangkutan. 56.000. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 65 Berdasarkan peraturan pemerintah ini: a. Pasal 62 Pemeliharaan tumbuhan dan satwa liar untuk kesenangan yang tidak memenuhi kewajiban sebagimana dimaksud dalam Pasal 40 dan 41 ayat (2) dengan serta merta dapat dihukum denda administrasi sebanyak-banyaknya Rp 5. Pasal 61 (1) Barangsiapa melakukan pertukaran tumbuhan dan satwa yang menyimpang dari ketentuan sebagimana dimaksud dalam Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. dihukum karena melakukan perbuatan yang dilarang menurut Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Departemen yang bertanggung jawab di bidang Kehutanan ditetapkan sebagai Otoritas Pengelola (management authority) Konservasi tUmbuhan dan Satwa Liar.

Pasal 67 Penanggung jawab dari semua kegiatan dalam rangka pemanfaatan jenis sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. maka segala peraturan pelaksanaan peraturan perundang – undangan yang mengatur tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar yang telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum dicabut atau diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. b. c. Kuota penangkapan dan perdagangan termasuk ekspor. impor. bertindak sebagai pihak yang independen memberikam rekomendasi terhadap konvensi internasional di bidang konservasi tumbuhan dan satwa liar. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Januari 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 14 . memberikan rekomendasi kepada Otoritas pengelola tentang penetapan Daftar Klasifikasi. cedera atau hilangnya jiwa orang lain. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembara Negara Republik Indonesia. re-ekspor. basis of this government regulation.(2) Otoritas Keilmuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 huruf b mempunyai kewenangan untuk: a. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 69 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. semua spesimen tumbuhan dan satwa liar. memonitor izin perdagangan dan realisai perdagangan serta memberikan rekomendasi kepada otoritas pengelola tentang pembatasan pemberian izin perdagangan tumbuhan dan satwa liar karena berdasarkan evaluasi secara biologis pembatasan itu perlu dilakukan. Agar tetap orang mengetahuinya. bertanggung jawab atas tindakan satwa liar atau kelalaian penanggung jawab menempatkan tumbuhan yang berbahaya yang mengakibatkan kerugian harta benda orang lain. introduksi dari laut. BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 68 Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini. mengakibatkan gangguan kesehatan.

perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 jo. Mengingat: 1. Penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan/atau kegiatannya menghasilkan limbah B3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaga Negara Tahun 1997 Nomor 68. Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi. d. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. 2. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. pengangkutan. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan dan/atau proses produksi. pengumpulan. Limbah bahan berbahaya dan beracun. bahwa lingkungan hidup perlu dijaga kelestariannya sehingga tetap mampu menunjang pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN. 3. 2. bahwa dengan meningkatnya pembangunan di segala bidang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). khususnya pembangunan di bidang industri. Reduksi limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3. semakin meningkat pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan beracun yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. 4. penyimpanan. sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan. kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. pemanfaatan. baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau rnerusakkan lingkungan hidup dan/atau membahayakan kingkungan hidup. 6. 5. bahwa dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengumpul limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpulan dengan tujuan untuk mengumpulkan limbah B3 sebelum dikirim ke tempat pengolahan dan/atau pemanfaatan dan/atau penimbunan limbah B3. adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. disingkat limbah B3. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. . Menimbang: a. kesehatan. b. c. pengolahan dan penimbunan limbah B3.

9. Pengumpul limbah B3 adalah suatu kegiatan mengumpulkan limbah B3 dari penghasil limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara sebelum diserahkan kepada pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3. Penimbun limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3. 10. Pengawas adalah pejabat yang bertugas di instansi yang bertanggung jawab melaksanakan pengawasan pengelolaan limbah B3. Pengolah limbah B3 adalah badan usaha yang mengoperasikan sarana pengolahan limbah B3. 18. Penimbunan limbah B3 adalah suatu kegiatan menempatkan limbah B3 pada suatu fasilitas penimbunan dengan maksud tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. 12. Pemanfaat limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3. Pasal 3 Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menghasilkan limbah B3 dilarang membuang limbah B3 yang dihasilkannya itu secara langsung ke dalam media lingkungan hidup. 8. 11. pemgumpulan. dan/atau kelompok orang. 13. dan/atau badan hukum. 14. Pasal 5 Pengelolaan limbah radio aktif dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab atas pengelolaan radio aktif sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 4 Setiap orang atau badan usaha yang melakukan kegiatan penyimpanan. Pengangkut limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pengangkutan limbah B3. pengangkutan. Pengolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik dan komposisi limbah B3 untuk menghilangkan dan/atau mengurangi sifat bahaya dan/atau sifat racun.7. pengolahan. 15. Orang adalah orang perseorangan. tanpa pengolahan terlebih dahulu. Pasal 2 Pengolaan limbah B3 bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali. Pengangkutan limbah B3 adalah suatu kegiatan pemindahan limbah B3 dari penghasil dan/atau dari pengumpul dan/atau dari pemanfaat dan/atau dari pengolah ke pengumpul dan/atau ke pemanfaat dan/atau ke pengolah dan/atau ke penimbun limbah B3. 16. Penyimpanan adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan oleh penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara. BAB II IDENTIFIKASI LIMBAH B3 Pasal 6 . 17. 19. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. dan penimbunan limbah B3 dilarang melakukan pengenceran untuk maksud menurunkan konsentrasi zat racun dan bahaya limbah B3. Pemanfaatan limbah B3 adalah suatu kegiatan perolehan kembali (recovery) dan/atau penggunaan kembali (reuse) dan/atau daur ulang (recycle) yang bertujuan untuk mengubah limbah B3 menjadi suatu produk yang dapat digunakan dan harus juga aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

D221. (3) perincian dari masing-masing jenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti tercantum dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah ini. BAB III PELAKU PENGELOLAAN Bagian Pertama Penghasil Pasal 9 (1) Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang mengunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi limbah B3. Pasal 8 (1) Limbah yang tidak termasuk dalam daftar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diidentifikasi sebagai limbah B3 apabila setelah melalui pengujian memiliki salah satu atau lebih karakteristik sebagai berikut : a. (2) Daftar limbah dengan kode limbah D220. penghasil dapat memanfaatkannya sendiri atau menyerahkan pemanfaatannya kepada pemanfaat limbah B3. dan limbah B3 tersebut masih dapat dimanfaatkan. Apabila kegiatan reduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masih menghasilkan limbah B3. c. c. mudah terbakar. b. bersifat reaktif. beracun. Pasal 7 (1) Jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi : a. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. mudah meledak. bekas kemasan. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi. dan D223 dapat dinyatakan limbah B3 setelah dilakukan uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) dan/atau uji karakteristik. tumpahan. e. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluwarsa. Limbah B3 dari sumber spesifik. f. d. (2) (3) (4) . mengolah limbah B3 dan/atau menimbun limbah B3. b.Limbah B3 dapat diidentifikasi menurut sumber dan karakteristiknya. Pengolahan dan/atau penimbunan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sendiri oleh penghasil limbah B3 atau penghasil limbah B3 dapat menyerahkan pengolahan dan/atau penimbunan limbah B3 yang dihasilkannya itu kepada pengolah dan/atau penimbun limbah B3. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib mengolah limbah B3 yang dihasilkannya sesuai dengan teknologi yang ada dan jika tidak mampu diolah di dalam negeri dapat diekspor ke negara lain yang memiliki teknologi pengolahan limbah B3. dan (2) Limbah yang termasuk limbah B3 adalah limbah lain yang apabila diuji dengan metode toksikologi memiliki LD50 di bawah nilai ambang batas yang telah ditetapkan. bersifat korosif. menyebabkan infeksi.

dan waktu dihasilkannya limbah B3.(5) Penyerahan limbah B3 kepada pemanfaat sebagaimana dimaksud pada ayat (2). jenis. Ketentuan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga dan kegiatan skala kecil ditetapkan kemudian oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. jumlah. serta kepada pengolah dan/atau penimbun limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak mengurangi tanggung jawab penghasil limbah B3 untuk mengolah limbah B3 yang dihasilkannya. Pasal 10 (6) (1) Penghasil limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang dihasilkannya paling lama 90 (sembilan puluh) hari sebelum menyerahkannya kepada pengumpul atau pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah B3. karakteristik. karakteristik. jumlah. jumlah limbah B3 dan waktu diterimanya limbah B3 dari penghasil limbah B3. dengan persetujuan Kepala Instansi yang bertanggung jawab. Bila limbah B3 yang dihasilkan kurang dari 50 (lima puluh) kilogram per hari. jumlah. Sebagai badan evaluasi di dalam rangka penetapan kebijakan pengelolaan limbah B3. b. Penghasil limbah B3 wajib menyampaikan catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab dengan tembusan kepada instansi yang terkait dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pengumpul atau pengolah limbah B3. b. Pasal 11 (2) (1) Penghasil limbah B3 wajib membuat dan menyimpan catatan tentang: a. c. karakteristik. jenis. Pengumpul limbah B3 wajib menyampaikan catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab (2) . dan waktu penyerahan limbah B3. Catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipergunakan untuk: a. penghasil limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang dihasilkannya lebih dari sembilan puluh hari sebelum diserahkan kepada pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah B3. karakteristik. c. b. jenis. jenis. dan waktu penyerahan limbah B3 kepada pemanfaat dan atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3. Inventarisasi jumlah limbah B3 yang dihasilkan. Bagian Kedua Pengumpul Pasal 12 (2) (3) Pengumpul limbah B3 dapat dilakukan oleh badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpulan limbah B3. Pasal 13 (1) Pengumpul limbah B3 wajib membuat catatan tentang: a. nama pengangkut limbah B3 yang melaksanakan pengiriman kepada pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3. untuk diekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

dengan tembusan kepada instansi yang terkait dan Bupati/Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. (2) . (3) Catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipergunakan untuk: a. Inventarisasi jumlah limbah B3 yang dikumpulkan. Pengangkutan limbah B3 dapat dilakukan oleh penghasil limbah B3 untuk limbah yang dihasilkannya sendiri. bertanggung jawab terhadap limbah B3 yang dikumpulkan. Pasal 17 Pengangkut limbah B3 wajib menyerahkan limbah B3 dan dokumen limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) kepada pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbunan limbah B3 yang ditunjuk oleh penghasil limbah B3. Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dokumen limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. Bagian Ketiga Pengangkut Pasal 15 (1) (2) (3) Pengangkut limbah B3 dilakukan oleh badan usaha yang melakukan kegiatan pengangkutan limbah B3. Pasal 19 (1) Pemanfaat limbah B3 yang menghasilkan limbah B3 wajib memenuhi ketentuan mengenai penghasil limbah B3. Bagian Keempat Pemanfaat Pasal 18 Pemanfaat limbah B3 dilakukan oleh penghasil atau badan usaha yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3. Sebagai badan evaluasi di dalam rangka penetapan kebijakan pengelolaan limbah B3. Pasal 16 (1) (2) Setiap pengangkutan limbah B3 oleh pengangkut limbah B3 wajib disertai dokumen limbah B3. maka wajib memenuhi ketentuan yang berlaku bagi pengangkut limbah B3. Pasal 14 (1) Pengumpul limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang dikumpulkannya selama 90 (sembilan puluh) hari sebelum diserahkan kepada pemanfaat dan/atau pengolah dan/atau penimbun limbah B3. b. Pengumpul limbah B3. Apabila penghasil limbah B3 bertindak sebagai pengangkut limbah B3.

(2) Pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang akan diolah paling lama 90 (sembilan puluh) hari. b. dan jumlah B3 yang diolah. (2) Pengolah limbah B3 wajib menyampaikan catatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 sekurang-kurangnya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab dengan tembusan kepada instansi yang terkait dan Bupati/Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. c. Sebagai badan evaluasi di dalam rangka penetapan kebijakan pengelolaan limbah B3. b. sumber limbah B3 yang diolah. Bagian Kelima Pengolah Pasal 23 (1) Pengolahan limbah B3 dilakukan oleh penghasil atau badan usaha yang melakukan kegiatan pengolahan limbah B3. b. Pemanfaat limbah B3 yang melakukan pengangkutan limbah B3 wajib memenuhi ketentuan mengenai pengangkut limbah B3. Pasal 20 Pemanfaat limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 sebelum dimanfaatkan paling lama 90 (sembilan puluh). c. d. (2) . Pasal 21 Pemanfaat limbah B3 wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai : a. dan jumlah B3 yang dimanfaatkan dan produk yang dihasilkan. jenis. karakteristik. nama pengangkut yang melakukan pengangkutan limbah B3 dari penghasil dan/atau pengumpul limbah B3. jenis. (3) Pengolah limbah B3 dapat menyimpan limbah B3 yang dihasilkannya paling lama 90 (sembilan puluh) hari Pasal 24 (1) Pengolah limbah B3 wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai: a.(2) (3) Pemanfaat limbah B3 yang dalam kegiatannya melakukan pengumpulan limbah B3 wajib memenuhi ketentuan mengenai pengumpul limbah B3. Pasal 22 (1) Pemanfaat limbah B3 wajib menyampaikan catatan sebagaimana dimaksud pada Pasal 21 sekurang-kurangnya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab dengan tembusan kepada instansi yang terkait dan Bupati/Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. nama pengangkut yang melakukan pengangkutan limbah B3. sumber limbah B3 yang dimanfaatkan. dan jumlah B3 yang dikumpulkan. Inventarisasi jumlah limbah B3 yang dimanfaatkan. karakteristik. Catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipergunakan untuk: a. karakteristik. jenis.

b. Ketentuan lebih lanjut mengenai simbol dan label limbah limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggun jawab. c. Inventarisasi jumlah limbah B3 yang dimanfaatkan. c. Pasal 26 (1) Penimbun limbah B3 wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai : a. jenis.(3) Catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipergunakan untuk: a. nama pengangkut yang melakukan pengangkutan limbah B3. dan jumlah B3 yang ditimbun. substitusi bahan. (2) (3) (2) . Catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipergunakan untuk: a. Ketentuan lebih lanjut mengenai reduksi limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. karakteristik. Inventarisasi jumlah limbah B3 yang dimanfaatkan. Sebagai badan evaluasi di dalam rangka penetapan kebijakan pengelolaan limbah B3. serta upaya reduksi limbah B3 lainnya. BAB IV KEGIATAN PENGELOLAAN Bagian Pertama Reduksi Limbah B3 Pasal 27 (1) Reduksi limbah B3 dapat dilakukan melalui upaya menyempurnakan penyimpanan bahan baku dalam kegiatan process (house keeping). sumber limbah B3 yang ditimbun. (2) Penimbunan limbah B3 dapat dilakukan oleh penghasil untuk menimbun limbah B3 sisa dari usaha/dan atau kegiatannya sendiri. Bagian Kedua Pengemasan Pasal 28 (1) (3) Setiap kemasan limbah B3 wajib diberi simbol dan label yang menunjukkan karakteristik dan jenis limbah B3. modifikasi proses. b. Sebagai badan evaluasi di dalam rangka penetapan kebijakan pengelolaan limbah B3. Bagian Keenam Penimbunan Pasal 25 (1) Penimbun limbah B3 dilakukan oleh penghasil atau badan usaha yang melakukan kegiatan penimbunan limbah B3. Penimbun limbah B3 wajib menyampaikan catatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 sekurang-kurangnya sekali dalam enam bulan kepada instansi yang bertanggung jawab dengan tembusan kepada instansi yang terkait dan Bupati/Walikotamdya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan.

kecuali untuk toksikologi. Bagian Keenam Pemanfaatan Pasal 33 (1) Pemanfaatan limbah B3 meliputi perolehan kembali (recovery). b. penggunaan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). memiliki konstruksi bangunan kedap air dan bahan bangunan disesuaikan dengan karakteristik limbah B3. (3) (2) . lokasi tempat penyimpanan yang bebas banjir. memiliki perlengkapan untuk untuk penanggulangan terjadinya kecelakaan. rancang bangunan disesuaikan dengan jumlah.Bagian Ketiga Penyimpanan Pasal 29 (1) (2) Penyimpanan limbah B3 dilakukan di tempat penyimpanan yang sesuai dengan persyaratan. Bagian Keempat Pengumpulan Pasal 30 (1) Kegiatan pengumpulan limbah B3 wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. d. f. karakteristik limbah B3 dan upaya pengendalian pencemaran lingkungan. Pasal 32 Pengangkutan limbah B3 dilakukan dengan alat angkut khusus yang memenuhi persyaratan dengan tata cara pengangkutan yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. memperhatikan karakteristik limbah B3. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan penyimpanan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. Bagian Kelima Pengangkutan Pasal 31 Penyerahan limbah B3 oleh penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah kepada pengangkut wajib disertai dokumen limbah B3. c. b. mempunyai lokasi pengumpulan yang bebas banjir. tidak rawan bencana dan di luar kawasan lindung serta sesuai dengan rencana tata ruang. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. mempunyai laboratorium yang dapat mendeteksi karakteristik limbah B3. Tempat penyimpanan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi syarat sebagai berikut: a.

9999%. Pemilihan lokasi untuk pengolahan limbah B3 harus memenuhi ketentuan: a.9999%. c) memenuhi standar emisi udara. (4) melakukan analisis dengan prosedur ekstraksi untuk menentukan mobilitas senyawa organik dan anorganik (Toxicity Characteristic Leaching Procedure). Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis pengolahan limbah B3 ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. (3) Pengolah limbah B3 yang melakukan pengolahan secara fisika dan kimia yang menghasilkan: a. b. tidak rawan bencana dan bukan kawasan lindung. d) residu dari kegiatan pembakaran berupa abu dan cairan wajib dikelola dengan dengan mengikuti ketentuan tentang pengelolaan limbah B3. melakukan penimbunan hasil pengolahan stabilisasi dan solidifikasi dengan ketentuan penimbunan limbah (landfill). 2) efisiensi penghancuran dan penghilangan untuk Polychlorinated biphenyl (PCBs) 99. secara fisika. Pengolah limbah B3 dengan cara thermal dengan mengoperasikan insinerator wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut: a) mempunyai insinerator dengan spesifikasi sesuai dengan karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dibakar. 4) efisiensi penghancuran dan penghilangan untuk Polychiorinated dibenzo-pdioxins 99. lokasi tempat penyimpanan yang bebas banjir. biologi dan/atau cara lainnya sesuai dengan perkembangan teknologi. maka limbah cair tersebut wajib memenuhi baku mutu limbah cair. stabilisasi dan solidifikasi. Bagian Ketujuh Pengolahan Pasal 34 (1) (2) Pengolahan limbah B3 dapat dilakukan dengan cara thermal. limbah cair. kimia. merupakan lokasi yang ditetapkan sebagai kawasan peruntukan industri berdasarkan rencana tata ruang. 3) efisiensi penghancuran dan penghilangan untuk Polychlorinated dibenzofurans 99. Pengolahan limbah B3 dengan cara stabilisasi dan solidifikasi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. b.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemanfaatan limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. b) mempunyai insinerator yang dapat memenuhi efisiensi pembakaran minimal 99.99% dan efisiensi penghancuran dan penghilangan sebagai berikut: 1) efisiensi penghancuran dan penghilangan untuk Principle Organic Hazard Constituents (POHCS) 99. limbah padat. Bagian Kedelapan Penimbunan Pasal 36 (5) (3) (1) Lokasi penimbunan hasil pengolahan limbah B3 wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: .9999%.9999%. b. maka limbah padat tersebut wajib memenuhi ketentuan tentang pengelolaan limbah B3.

BAB V TATA LAKSANA Bagian Pertama Perizinan Pasal 40 (1) Setiap badan usaha yang melakukan kegiatan: a. merupakan lokasi yang ditetapkan sebagai lokasi penimbunan limbah. selama minimum 30 (tiga puluh) tahun terhitung sejak ditutupnya seluruh fasilitas pengolahan dan penimbunan limbah B3. Pasal 38 (2) Penghentian kegiatan penimbunan limbah B3 oleh penimbun wajib mendapatkan persetujuan tertulis Kepala Instansi yang bertanggung jawab. pengolahan dan/atau penimbunan limbah B3 wajib memiliki izin operasi dari Kepala instansi yang bertanggung jawab. berdasarkan rencana penataan ruang. stabil tidak rawan bencana dan di luar kawasan lindung. Pasal 37 (1) Penimbunan harus dibangun dengan menggunakan sistem pelapis yang dilengkapi denga saluran untuk pengaturan aliran air permukaan. pengumpulan air lindi dan pengolahannya. penyimpanan. e. permeabilitas tanah maksimum 10 pangkat negatif 7 ( 10-7 ) cm per detik. . d. melakukan pemantauan kualitas air tanah dan menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat keluarnya limbah B3 ke lingkungan. pengumpulan. b. tidak merupakan daerah resapan air tanah khususnya digunakan untuk air minum. Pasal 39 (1) Terhadap lokasi bekas pengolahan dan bekas penimbunan limbah B3. c. pengangkut limbah B3 wajib memiliki izin pengangkutan dari Menteri Perhubungan setelah mendapat rekomendasi dari Kepala Instansi yang bertanggung jawab. merupakan daerah yang secara geologis dinyatakan aman. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan penimbunan limbah B3 ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. c. sumur pantau dan lapisan penutup akhir yang telah disetujui oleh instansi yang bertanggungjawab.a. pengolah termasuk penimbun wajib melaksanakan hal-hal sebagai berikut: a. pemanfaatan.60 meter b. melakukan pemagaran dan memberi tanda tempat penimbunan limbah B3. c. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. bebas dari banjir. pemanfaatan limbah B3 sebagai kegiatan utama wajib memiliki izin pemanfaatan dari instansi yang berwenang memberikan izin pemanfaatan setelah mendapat rekomendasi dari kepala instansi yang bertanggung jawab. b.. menutup bagian paling atas tempat penimbunan dengan tanah setebal minimum 0.

dan ayat (1) huruf a ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. nama dan alamat penanggung jawab kegiatan. lokasi tempat kegiatan. Pasal 42 (2) (1) Izin lokasi pengolahan dan penimbunan limbah B3 diberikan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kebupaten/Kotamadya sesuai rencana tata ruang setelah mendapat rekomendasi dari Kepala Instansi yang bertanggung jawab. pengolahan dan/atau penimbunan limbah B3 sebagai kegiatan utama wajib dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan pengolahan limbah B3. pemanfaatan. Pasal 43 (2) (1) Untuk kegiatan pengumpulan. pengolahan limbah. c. emisi. kegiatan yang dilakukan. memiliki akte pendirian sebagai badan usaha yang berbentuk badan hukum. . h. (3) (4) (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan tata cara permohonan rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c. yang telah disahkan oleh instansi yang berwenang. diolah atau ditimbun. i. e. tata letak saluran limbah. j. jumlah dan karakteristik limbah B3 yang dikumpulkan. Tata cara pengumuman sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan ketetapan Kepala Isntansi yang bertanggung jawab. b. g. Persyaratan untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah sebagai berikut: a. alat pencegahan pencemaran untuk limbah cair. bahan baku dan proses kegiatan yang digunakan. Pasal 41 (1) Keputusan mengenai izin dan rekomendasi pengolahan limbah B3 yang diberikan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 40 wajib diumumkan kepada masayarakat. spesifikasi alat pengolah limbah B3.(2) Ketentuan mengenai tata cara memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. ditetapkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. Rekomendasi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada hasil penelitian tentang dampak lingkungan dan kelayakan teknis lokasi sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 34 ayat (2) dan Pasal 36. Kegiatan pengolahan limbah B3 yang terintegrasi dengan kegiatan pokok wajib memperoleh izin operasi alat pengolahan limbah B3 yang dikeluarkan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. diangkut. f. nama dan alamat badan usaha yang memohon izin. d. dan ayat (1) huruf b dan huruf c ditetapkan oleh Kepala Instansi yang berwenang memberikan izin. dan tempat penampungan sementara limbah B3 sebelum diolah dah tempat penimbunan setelah diolah.

maka hanya rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui yang diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab bersama dengan permohonan izin operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40. maka terhadap kegiatan pengolahan limbah B3 tersebut berlaku ketentuan mengenai pengolahan limbah B3 dalam Peraturan Pemerintah ini. Syarat dan kewajiban yang tercantum dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. Pasal 45 (3) (1) Kegiatan baru yang menghasilkan limbah B3 yang melakukan pengolahan dan pemanfaatan limbah B3 yang lokasinya sama dengan kegiatan utamanya. Pasal 44 (3) (1) Keputusan mengenai permohonan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 diberikan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya. Apabila pengolahan limbah B3 dilakukan oleh penghasil dan pemanfaat limbah B3 di lokasi kegiatan utamanya. (2) Untuk kegiatan pemanfaatan limbah B3 sebagai kegiatan utamanya wajib dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan hidup sedangkan untuk kegiatan yang terintegrasi dengan kegiatan utamanya wajib membuat rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Keputusan mengenai permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang telah disetujui. Pasal 40 ayat (4) kepada instansi yang bertanggung jawab. maka analisis mengenai dampak lingkungan hidup untuk kegiatan pengolahan limbah B3 dibuat secara terintegrasi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup untuk kegiatan utamanya. . Keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup diberikan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab.(2) Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup diajukan bersama dengan permohonan izin operasi sebagaimana dimaksud dalam. Syarat dan kewajiban tersebut dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah disetujui merupakan bagian yang akan menjadi bahan pertimbangan dalam pemberian izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1). Pasal 46 (2) (3) (4) (1) Apabila penghasil dan/atau pemanfaat limbah B3 juga bertindak sebagai pengolah limbah B3 dan lokasi pengolahannya berbeda dengan lokasi kegiatan utamanya. (3) Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup diajukan kepada instansi yang bertanggung jawab dan persetujuan atas dokumen tersebut diberikan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab.

pemanfaat. b. meminta keterangan yang berhubungan dengan pelaksanaan pengelolaan limbah B3. pengangkut. Pelaksanaan pengawasan pengolahan limbah B3 di daerah dilakukan menurut tata laksana yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. pengumpul. mengambil contoh limbah B3 untuk diperiksa di laboratorium. Pengawasan pelaksanaan sistem tanggap darurat pada tingkat nasional dilaksanakan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pada tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan/atau Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 47 (1) (2) Pengawasan pengelolaan limbah B3 dilakukan oleh menteri dan pelaksanaannya diserahkan kepada instansi yang bertanggung jawab. Pasal 50 Apabila dalam pelaksanaan pengawasan ditemukan indikasi adanya tindak pidana lingkungan hidup maka pengawasan selaku penyidik pegawai negeri sipil lingkungan hidup dapat melakukan penyidikan. memasuki area lokasi penghasil. Pasal 49 (2) Penghasil. pengolah dan penimbun limbah B3 wajib membantu petugas pengawas dalam melakukan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (2). pengumpul. d. melakukan pemotretan sebagai kelengkapan laporan pengawasan. Pengawas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : a. (2) . pengumpulan. pengolah termasuk penimbun limbah B3. pemanfaat. pengangkut. c. Menteri mengevaluasi laporan tersebut guna menyusun kebijakan pengelolaan limbah B3. pemanfaatan. Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi pemantauan terhadap penaatan persyaratan serta ketentuan teknis dan administratif oleh penghasil. Pasal 48 (3) (4) (1) Pengawas dalam melaksanakan pengawasan pengelolaan limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (1) dilengkapi tanda pengenal dan surat tugas yang dikeluarkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab.(4) Syarat dan kewajiban yang tercantum dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah disetujui wajib dicantumkan dalam izin sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 40. Pasal 51 (1) Instansi yang bertanggung jawab menyampaikan laporan pelaksanaan pengelolaan limbah B3 secara berkala sekurang-kurangnnya satu kali dalam satu tahun kepada Presiden dengan tembusan kepada Menteri. pengolahan dan penimbunan limbah B3.

wajib memiliki persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Kepala Instansi yang bertanggung jawab. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata niaga limbah B3 ditetapkan oleh Menteri yang ditugasi dalam bidang perdagangan setelah mendapat pertimbangan dari Kepala insatnsi yang bertanggung jawab. Pasal 55 (3) (4) (5) (1) (2) Setiap orang berhak melaporkan adanya potensi maupun keadaan telah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh limbah B3. (3) . Pengangkutan limbah B3 dari luar negeri melalui Wilayah Negara Republik Indonesia wajib diberitahukab terlebih dahulu secara tertulis kepada Kepala Instansi yang bertanggung jawab. Insatnsi yang bertanggung jawab wajib memberikan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada setiap orang secara terbuka. Pengiriman limbah B3 ke luar negeri dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan tertulis dari pemerintah negara penerima dan Kepala instansi yang bertangung jawab. Aparat pemerintah yang menerima pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib meneruskan laporan tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah diterimanya pelaporan. Bagian Keempat Informasi dan Pelaporan Pasal 54 (1) (2) Setiap orang berhak atas informasi mengenai pengelolaan limbah B3.Pasal 52 (1) (2) (3) Untuk menjaga kesehatan pekerja dan pengawas yang bekerja di bidang pengelolaan limbah B3. Pelaporan tentang adanya peristiwa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup disampaikan secara lisan atau tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab atau aparat pemerintah terdekat. dilakukan uji kesehatan secara berkala Uji kesehatan pekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan pengelolaan limbah B3 Uji kesehatan bagi pengawas pengelolaan limbah B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang kesehatan tenaga kerja Bagian Ketiga Perpindahan Lintas Batas Pasal 53 (1) (2) Setiap orang dilarang melakukan impor limbah B3 Pengangkutan limbah B3 dari luar negeri melalui Wilayah Negara Indonesia dengan tujuan transit.

pengangkut. pengumpul. pengumpul. Bagian Keenam Pengawasan Penanggulangan Kecelakaan Pasal 59 (1) Pelaksanaan pengawasan penanggulangan kecelakaan di daerah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II untuk skala yang bisa ditanggulangi oleh kegiatan penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pengangkut dan/atau pengolah dan/atau pemanfaat dan/atau penimbun. Pelaksanaan pengawasan penanggulangan kecelakaan untuk skala yang tidak dapat ditanggulagi oleh Pemerintah Daerah Tingkat II. (2) (3) (4) (5) (2) (3) . pemanfaat. yang menjadi tanggung jawabnya Penghasil. pengolah dan penimbun limbah B3 wajib memiliki sistem tanggap darurat Penanggung jawab pengelolaan limbah B3 wajib memberikan informasi tentang sistem tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada masyarakat Penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pengangkut dan/atau pengolah dan/atau pemanfaat dan/atau penimbun limbah B3 wajib segera melaporkan tumpahnya bahan berbahaya dan beracun (B3) dan limbah B3 ke lingkungan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan/atau Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Ketentuan lebih lanjut mengenai penanggulangan kecelakaan dan pencemaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertangung jawab. Proses tindak lanjut maupun hasil laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberitahukan kepada pelapor dan/atau masyarakat yang berkepentingan Pasal 57 Tata cara dan mekanisme pelaporan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 55 dan Pasal 56 diatur lebih lanjut oleh Keputusan Menteri. pengolah dan penimbun limbah B3 bertanggung jawab atas penanggulangan kecelakaan dan pencemaran lingkungan hidup akibat lepas atau tumpahnya limbah B3. maka Pemerintah Daerah Tingkat I dan Pemerintah Daerah Tingkat II secara bersama-sama melakukan pengawasan. pemanfaat. Bagian Kelima Penanggulangan dan Pemulihan Pasal 58 (1) Penghasil. Pelaksanaan penanggulangan kecelakaan pada penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pengangkut dan/atau pengolah dan/atau pemanfaat dan/atau penimbun yang dampaknya sangat besar sehingga mencakup dua wilayah daerah tingkat II pengawasannya dilakukan secara bersama-sama oleh Pemerintah Daerah Tingkat II dan Pemerintah Daerah Tingkat I.Pasal 56 (1) (2) Instansi yang menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 wajib segera menindaklanjuti laporan masyarakat. pengangkut.

pengolah atau penimbun yang melanggar ketentuan Pasal 3. dan/atau pengangkut dan/atau pengolah. pengangkut. pemanfaat. Pasal 10. instansi yang bertanggung jawab daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Pasal 16. pengumpul. pengolah dan penimbun limbah B3 tidak melakukan penanggulangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pemanfaat. dan/atau penimbun limbah B3 yang bersangkutan melalui Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bagian Ketujuh Pembiayaan Pasal 61 (1) (2) (3) Segala biaya untuk memperoleh izin dan rekomendasi pengelolaan limbah B3 dibebankan kepada pemohon izin. Pasal 13. pasal 26. Pasal 35. instansi yang bertanggung jawab dibebabkan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pasal 22. Pasal 12. dan/atau pengumpul. pengangkut. Pasal 33. Pasal 60 (1) (2) Penghasil. BAB VI SANKSI Pasal 62 (1) Instansi yang bertanggung jawab memberikan peringatan tertulis kepada penghasil. Pasal 52 ayat (2). Pasal 11. Pasal 4. Pasal 9. Pasal 37. Pasal 31. atau tidak menanggulangi sebagaimana mestinya. pengumpulan. dan/atau pemanfaat. pengangkut. pengolah dan penimbun limbah B3 wajib segera menanggulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat kegiatannya Apabila penghasil. Pasal 36. pengumpul. Beban biaya permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya studi kelayakan teknis untuk proses perizinan. Pasal 39. Pasal 18. Pasal 40. Pasal 20.(4) Pelaksanaan penanggulangan kecelakaan pada penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pengangkut dan/atau pengolah dan/atau pemanfaat dan/atau penimbun yang dampaknya sangat besar sehingga Pemerintah Daerah Tingkat II tidak bisa mengawasi pengawasannya dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab bersama-sama dengan Pemerintah Daerah Tingkat II dan Pemerintah Daerah Tingkat I. Pasal 32. Pasal 43. maka Kepala instansi yang bertanggung jawab dapat menghentikan sementara atau mencabut izin penyimpanan. Pasal 38. pengolahan termasuk penimbunan limbah B3 sampai pihak (2) . Pasal 21. Pasal 24. Pasal 23. pasal 28. Pasal 19. pemanfaat. Pasal 34. pasal 29. b. Pasal 42. Pasal 25. Pasal 49. maka instansi yang bertanggung jawab dapat melakukan penanggulangan dengan biaya yang dibebankan kepada penghasil. Pasal 15. Pasal 30. Untuk pemantauan dan/atau pengawasan pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh: a. Pasal 17. pengumpul. Pasal 58 dan Pasal 60 Apabila dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari sejak dikeluarkannya peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pihak yang diberi peringatan tidak mengindahkan peringatan atau tetap tidak mematuhi ketentuan pasal yang dilanggarnya. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata laksana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab.

maka instansi yang bertanggung jawab dapat melakukan atau meminta pihak ketiga melakukan pembersihan dan pemulihan lingkungan dengan biaya yang dibebankan kepada orang yang menghasilkan. Pasal 30. Kepala instansi yang bertanggung jawab wajib dengan segera mencabut keputusan penghentian kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat 93 apabila pihak yang dihentikan sementara kegiatan operasinya telah mematuhi ketentuan yang dilanggarnya. pengumpulan. Pasal 37. mengangkut. pengolahan dan penimbunan pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Pasal 44. Pasal 62 Barangsiapa yang melanggar ketentuan Pasal 3. Pasal 45. Apabila orang atau badan usaha yang menghasilkan. (3) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dapat menghentikan sementara kegiatan operasi atas nama instansi yang berwenang dan/atau instansi yang bertanggung jawab apabila pelanggaran tersebut dapat membahayakan lingkungan hidup. Pasal 20. Pasal 19. Pasal 43. Pasal 14. Pasal 15. melakukan impor limbah B3 sebagai bahan baku sampai dengan Bulan September 2002. Pasal 4. Pasal 29. mengumpulkan. Pasal 10. (4) (2) (3) Bagi kegiatan yang memanfaatkan limbah B3 dari luar negeri dan telah memiliki izin hanya dapat Pasal 65 Setiap orang atau badan usaha yang sudah melakukan kegiatan penyimpanan. mengumpulkan. Pasal 34. Pasal 42. wajib meminta izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 selambat-lambatnya dalam waktu 1 (satu) tahun sejak saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini. mengolah atau menimbun limbah B3 baik masing-masing maupun bersama-sama secara proporsional wajib melakukan pembersihan dan/atau pemulihan lingkungan dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu tahun. Pasal 32. mengangkut dan mengolah limbah B3 baik secara sendiri maupun bersama-sama secara proporsional. pasal 46 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 64 (1) Apabila pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini telah dilakukan pengelolaan dan/atau pembuangan dan/atau penimbunan limbah B3 yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP . Pasal 9. mengumpulkan.yang diberi peringatan mematuhi ketentuan yang dilanggarnya. atau mengolah dan menimbun limbah B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan bilamana dalam batas waktu yang ditetapkan tidak diindahkan maka izin operasi dicabut. maka setiap orang atau badan usaha yang menghasilkan. mengangkut. pemanfaatan. tidak melakukan pembersihan dan pemulihan lingkungan. Pasal 39 dan Pasal Pasal 60 yang mengakibatkan dan/atau dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup diancam dengan pidana sebagaimana diatur pada pasal 41. Pasal 36.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 27 Februari 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Februari 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA Ttd AKBAR TANDJUNG LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 31 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3595) dinyatakan tidak berlaku lagi dan mengacu kepada Peraturan pemerintah ini. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan lembaran Negara 3551) yang telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 24.Pasal 66 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini maka Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Tahun 1994 Nomor 26. Pasal 67 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

DAFTAR LIMBAH B3 DARI SUMBER YANG TIDAK SPESIFIK KODE LIMBAH BAHAN PENCEMAR Pelarut Terhalogenasi D1001a D1002a D1003a D1004a D1005a D1006a D1007a D1008a D1009a D10010a Tetrakloroetilen Trikloroetilen Metilen Klorida 1. 1999 TABEL 1.2-Trifluoroetana Triklorofluorometana Ortho-diklorobenzena Klorobenzena Trikloroetana Fluorokarbon Terklorinasi Karbon Tetraklorida Pelarut Yang Tidak Terhalogenasi D1001b D1002b D1003b D1004b D1005b D1006b D1007b D1008b D1009b D1010b D1011b D1012b D1013b D1014b D1015b D1016b KODE LIMBAH D1017b D1018b Dimetilbenzena Aseton Etil Asetat Etil Benzena Metil Isobutil Keton n-Butil Alkohol Sikloheksanon Metanol Toluena Metil Etil Keton Karbon Disulfida Isobutanol Piridin Benzena 2-Etoksietanol 2-Nitropropana BAHAN PENCEMAR Asam Kresilat Nitrobenzena Asam/Basa D1001c D1002c D1003c D1004c D1005c D1006c D1007c D1008c Amonium Hidroksida Asam Hidrobromat Asam Hidroklorat Asam Hidrofluorat Asam Nitrat Asam Fosfat Kalium Hidroksida Natrium Hidroksida .1.LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 18 TAHUN 1999 TANGGAL : 27 FEBUARI .2-Trikloro-1.2.

D1009c D10010c Asam Sulfat Asam Klorida Yang Tidak Spesifik Lainnya D1001d D1002d D1003d D1004d D1005d PCB's (Polychlorinated biphenyls) Lead scrap Limbah Minyak Diesel Industri Fiber Asbes Pelumas bekas .

Pb. Produk yang tidak memenuhi persyaratan . rodensida. Zn dan Th) − Senyawa Sn-organik 1. Formulasi. Cu. herbisida .Logam Berat (terutama As. algasida. defoliant) .Sulfida/Senyawa amonia D202 PESTISIDA 2421 Bahan organik dan inorganik yang digunakan untuk pemebrantasan atau pengendalian hama atau gulma (insektisida. Distribusi dan Pemakaian 2. DAFTAR LIMBAH B3 DARI SUMBER YANG SPESIFIK KODE LIMBAH D201 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN PUPUK KODE KEGIATAN 2412 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − − Proses produksi amonia. Hg) .MFDP1 pestisida Penyimpanan dan pengemasan pestisida . fungisida. Manufaktur. urea dan/atau asam fosfat IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi di atas - Katalis bekas Sludge proses produksi Limbah laboratorium Sludge dari IPAL Karbon aktif bekas Sludge dari IPAL Alat pengemasan dan perlengkapan 2 Produk off-spec Residu proses produksi dan formulasi Pelarut bekas Absorban dan filter bekas Residu proses destilasi.TABEL 2.IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi pestisida − − − − Bahan aktif pestisida Hidrokarbon terhalogenasi Pelarut mudah terbakar Logam dan logam berat (terutama As. evaporasi Pengumpulan debu Limbah laboratorium Residu dari insinerator . Hg.

polyvinylchloride.2411 2413 ALKALI Umumnya merupakan 2429 kegiatan yang terkait dalam produksi senyawa kimia atau produk yang berbahan dasar plastik. urea formaldehide (UF). klorin. melamine formaldehide (MF). PROSES KLORO. asam hydrochloric . hypochlorites. dll 2429 − − IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi resin adesif MFDP resin adesif Bahan dan produk Off-spec Residue dari kegiatan produksi Katalis Bekas Pelarut Bekas Limbah laboratorium Sludge dari IPAL − − Bahan organik (terutanma senyawa fenol Hidrokarbon terhalogenasi . mengandung − − − − Proses produksi klorin (metoda electrolisis dengan menggunakan proses sel merkuril) Pemurnian garam Proses produksi soda kaustik (metoda sel merkuri) IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi di atas - Sludge dari IPAL Absorban dan filter bekas Alat yang terkontaminasi Hg Sludge hasil proses pengawetan Limbah laboratorium - Logam berat (terutama Hg) Hidrokarbon terhalogenasi ethylenedichloride. parafin klorin. D204 ADHESIVE RESIN Phenol formaldehide (PF). seperti : soda kaustik .KODE LIMBAH D203 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA vinylchloride. dll.

styrene acrylonitrile (AS). phenolic. acetate polyethylene (PE). amino. Sn) Sludge terkontaminasi Zn dari proses produksi rayon/resin akrilik − − MFDP monomer dan − polimer IPAL yang mengolah efluen − dari proses produksi − polimer − − − − − − Polyvinyl chloride polyvinyl . Phthalate polystyrene (PET). polypropilene (PP). polyurethane. (PS).KODE LIMBAH D205 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN POLIMER Kegiatan produksi. dengan cara polimerisasi yang menghasilkan produk. styrene butadiene rubber (SBR) (PVC). polyethylene terephthalate (PET). polystyrene (PS). polyester. KODE KEGIATAN 2413 2430 2520 2430 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH Monomer/oligomer yang tidak bereaksi Katalis bekas Residu produksi/reaksi polimer absorban (misalnya karbon aktif bekas) Limbah Laboratorium Sludge dari IPAL Sisa dan bekas stabiliser (misalnya dalma produksi PVC: Cd. Zn. synthetic resin (alkyd. Pb. Sb. epoxy. acrylonitrile butadiene styrene (ABS). As) Fire retardant (misalnya Sb dan senyawa bromin organik ) Senyawa Sn organik Residu dari proses destilasi PENCEMARAN UTAMA − − − − Berbagai senyawa organik Hidrokarbon terhalogenasi Logam berat (terutama Cd. baik khusus ataupun terintegrasi dalam manufaktur produk plastik atau serat. (PVA). vinyl acrylic). seperti misalnya .

toluen. propilen.Organik . Ni. asam asetat. termasuk produk turunan yang dihasilkan langsung dari produk dasarnya. − − − MFDP Produk Petrokimia − IPAL yang mengolah efluen proses − Pengolahan limbah − − − − − − − Sludge proses produksi dan fasilitas penyimpanan Katalis bekas Tar (residu akhir ) Residue proses produksi/reaksi Absorban (misalnya karbon aktif) bekas dan filter bekas Limbah Laboratorium Sludge dari IPAL Residu/ash proses spray drying Pelarut bekas .KODE LIMBAH D206 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN PETROKIMIA KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA 2320 2411 Industri yang 2413 menghasilkan produk 2429 organik dari proses pemecahan fraksi minyak bumi atau gas alam. xilene) dan seluruh produk turunannya. etana. asetilen. sikloheksana.Hidrokarbon terhalogenasi . naftalen. Sb) . etilen. butana. naftan dan Hidrokarbon aromatis (metana.Hidrokarbon aromatis . Misalnya: parafin olefin. propana. benzena.Logam berat (terutama Cr.

D 207 PENGAWETAN KAYU 2010 2021 2029 3511 4520 − − Proses pengawetan kayu − IPAL yang mengolah efluen dari proses pengawetan − kayu − − − − Sludge dari proses pengawetan − kayu dan fasilitas penyimpanan Sludge dari alat pengolahan − pengawetan kayu − Produk off-spec dan produk leftover Pelarut bekas Kemasan bekas Sludge dari IPAL Fenol terklorinasi (misalnya pentaklorofenol) Hidrokarbon terhalogenasi Senyawa Organometal .

residu dan/atau sludge dari fasilitas pengendali pencemaran − udara − Sludge dari IPAL − Pasir foundry dan debu cupola Emulsi minyak dari pendingin/pelumas Sludge dari Ammonia still lime Sludge dari proses rolling Larutan asam/alkali bekas dan residunya Residu terkontaminasi sianida (hot metal treatment) Slag dan residu lain yang terkontaminasi logam berat Sludge dari proses pengolahan residu Larutan pengolah bekas Fluxing agent bekas − − − − − Ash. slag from furnace Logam berat (terutama As. furnace − Coke manufacturing IPAL yang mengolah efluen − coke oven/blast − dari − − dan − − Debu. naftalen) Sianida Limbah minyak D 209 PELEBURAN PEMURNIAN TEMBAGA DAN 2710 2731 − − Steel surface treatment − (pickling. passivation. Cd. Ni. Th and Zn) Organik (fenolic. Pb.KODE LIMBAH D208 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA PELEBURAN/PENGOLA 2710 H-AN BESI DAN BAJA 2731 2891 − − − − − drawing. Ni. Pb. sheeting Proses peleburan besi/baja − − Proses casting besi/baja Proses besi/baja : rolling. Th and Zn) Larutan asam dan alkali Nitrat Fluorida Sianida (Kompleks) . cleaning) − − − − Penyempurnaan pemrosesan baja Logam berat (terutama As. Cr. Cd. Cr. dross.

Cd. Pb. Pb. Th) Larutan asam . slag dan dross yang merupakan residu dari proses peleburan Limbah dari proses skimming Larutan asam bekas Sludge dari IPAL Sludge dari fasilitas proses − peleburan dan penyempurnaan Debu dan/atau sludge dari fasilitas − pengendali pencemaran udara Larutan asam bekas Residu dari proses penyempurnaan secara electrolisis Sludge dari IPAL Sludge dari acid plant blowdown Ash. Th) Larutan asam D211 PELEBURAN PEMURNIAN TEMBAGA DAN 2720 2732 3720 − − − − Proses primer dan − sekunder peleburan dan penyempurnaan tembaga − Peleburan dengan electric arch furnace − Pabrik asam (Acid plant) − IPAL yang mengolah efluen dari proses peleburan − tembaga − − Logam berat (terutama Cu.KODE LIMBAH D210 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN PELEBURAN HITAM (Pb) KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA TIMAH 2720 2732 3720 − − Proses peleburan timah − sekunder dan/atau primer IPAL yang mengolah efluen − dari proses peleburan timah − − − − Sludge dari fasilitas proses − peleburan Debu dan/atau sludge dari fasilitas − pengendali pencemaran udara Ash. slag dan dross yang merupakan residu dari proses peleburan Logam berat (terutama As. Cd. Zn.

KODE LIMBAH D212 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN TINTA Kegiatan-kegiatan yang menggunakan tinta seperti percetakan pada kertas. tekstil. Pb. Pb) Pigmen dan zat warna Detergen Calico printing . dll. Cu. termasuk proses deinking pada pabrik bubur kertas TEKSTIL KODE KEGIATAN 2221 2102 2109 2422 2520 2211 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − − − MFDP Tinta Proses deinking pada pabrik bubur kertas IPAL yang mengolah efluen dari proses yang berhubungan dengan tinta − − − − − − − Sludge dari proses produksi dan − penyimpanan − Sludge terkontaminasi − Pelarut bekas − Sludge dari IPAL − Residue dari proses pencucian Kemasan bekas tinta − Produk off spec dan kadaluarsa − − Sludge dari IPAL yang mengandung − logam berat − Pelarut bekas (cleaning) Fire retardant (Sb/senyawa brom organik) − − Organik (binder dan resin) Hidrokarbon terhalogenasi Senyawa organometal Pelarut mudah terbakar Logam berat (terutama Cr. zat warna dan pelarut organic Tensioactive (surfactant) D213 1711/1712 1721/1722 1723/1729 1810/1820 − − − - − Proses finishing tekstil Proses dyeing bahan tekstil Proses printing bahan − tekstil − IPAL yang mengolah efluen proses kegiatan di atas . plastik. Cr.As Logam berat (terutama As. Zn) Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing) Pigment. Cd.

Pb. Termasuk kegiatan yang terkait dengan D215 dan D216 IPAL yang mengolah efluen dari proses di atas − − − − Sludge proses produksi − Pelarut bekas dan cairan pencuci (organik dan inorganik) Residu proses produksi − Sludge dari IPAL − − − − − − Logam dan Logam berat (terutama As. pesawat terbang. traktor. generator. kapal. sepeda. alat-alat berat. Zn.KODE LIMBAH D214 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN MANUFAKTUR DAN PERAKITAN KENDARAAN DAN MESIN Mencakup manufaktur dan perakitan kendaraan bermotor. Se. Ag. Hg. mesin-mesin produksi dll. Cu. Ni. Cr. Ba. manufaktur mesin dan suku cadang dan perakitan. Sn) Nitrat Residu cat Minyak dan gemuk Senyawa amonia Pelarut mudah terbakar Asbestos Larutan Asam . KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA 2813/29122 − 91 3/29152927 /3 1103410/34 20 3430/3530 3591/3592 − Seluruh proses yang berhubungan fabrikasi dan finishing logam. Cd.

− Semua proses yang berkaitan dengan kegiatan pelapisan logam termasuk perlakuan : phosphating. weld cleaning. Ba. As. anodizing − Pre-treatment: pickling. slag Sludge pengolahan dan pencucian Larutan pengolah bekas Larutan asam (pickling) − Pelarut bekas (terklorinasi) Larutan bekas proses degreasing Sludge IPAL Residu dari larutan batch − − − − − Logam dan Logam berat (terutama Cd.D215 ELEKTROPLATING DAN GALVANIS Mencakup kegiatan pelapisan logam pada permukaan logam atau plastik dengan proses elektris 2892 2710/2720 2811/2812 2891/2893 2899/2911 2912/2915 2919/2922 2924/2925 2926/2927 2930/3110 3120/3190 3210/3220 3230/3410 3420/3430 3530/3591 3592/3610 3699/4520 − − − degreasing. stripping. sand blasting. cleaning. Se. Cu. Ni. Cr. Zn. depainting IPAL yang efluen elektroplating galvanis mengolah proses dan − − − − etching. Sn) Sianida Senyawa Ammonia Fluorida Fenol Nitrat . polishing. − chemical conversion − coating. grinding. Dross. Pb. Hg. Ag.

Ag.KODE LIMBAH 216 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA 2422 CAT Termasuk varnish dan 2029/2811 bahan pelapis lain 2812/2892 2893/2899 2911/2912 2915/2919 2922/2924 2925/2926 2927/2930 3110/3120 3190/3150 3210/3220 3230 3410 3420/3430 3530/3591 3592/3610 3699/4520 3511/3694 3699 − − MFPD cat IPAL yang mengolah efluen proses yang berkaitan dengan cat − − − − − − − − − Sludge cat Pelarut bekas Sludge dari IPAL Filter bekas Produk off-spec Residu dari proses distilasi Cat anti korosi (Pb. Se. Ba. Hg. Zn) Senyawa Sn Organik . Pb. Cd. Cr. Cr) Debu dan/atau sludge dari unit pengendalian pencemaran udara Sludge proses dip painting − − − − − − − Caustic sludge Bahan organic (resin) Hidrokarbon terhalogenasi Pelarut mudah meledak Pigmen Logam dan logam berat (terutama As.

Ni. off specdan kadaluarsa Sludge dari IPAL Metal powder Dust. NI. Zn. Sb) Asam/alkali Sel mengandung Litium .KODE LIMBAH D217 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN BATERE SEL KERING KODE KEGIATAN 3140 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − − MFDP batere sel kering IPAL yang mengolah produksi batere efluen proses - Sludge proses produksi Residu proses produksi Batere bekas. ash Logam berat (terutama Cd. Pb.Hg) Residu padat mengandung logam D218 BATERE SEL BASAH 3140 − − MFDP batere sel basah IPAL yang mengolah produksi batere effluen proses - Sludge proses produksi Batere bekas. PB. off specdan kadaluarsa Sludge dari IPAL Larutan Asam/alkali Logam berat (terutama Cd.Zn. slag.

KODE LIMBAH D219 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KOMPONEN ELECTRONIK/ PERALATAN ELEKTRONIK KODE KEGIATAN 3110/3120 3150/3190 3210/3220 3230/3320 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − Manufaktur dan perakitan komponen dan peralatan elektronik − IPAL yang mengolah efluen proses − − − − − − − − − Mercury contactor/switch Sludge proses produksi Pelarut bekas - Coated glass Larutan etching untuk printed circuit Caustic stripping (photoresist) Residu solder dan fluxnya Limbah pengecatan Lampu Fluorescence (Hg) - Logam dan logam berat (terutama As. Ba. Sn. Pb. Ni. Sb) Nitrat Fluorida Residu cat Bahan Organikl Larutan asam/alkalin Pelarut terhalogenasi Residu proses etching (Fe Cl3) Bahan organik Bahan terkontaminsai Logam berat Merkuri (pada karbon aktif. Cd. Ag. dll) D220 EKSPLORASI DAN 1110 PRODUKSI MINYAK 1120 GAS DAN PANAS BUMI − Eksplorasi dan produksi − Pemeliharaan fasilitas produksi − Pemeliharaan fasilitas penyimpanan − IPAL yang mengolah efluen pemrosesan minyak dan gas alam − Tangki penyimpan − − − − − Slop minyak Lumpur bor (drilling mud) Sludge minyak Karbon aktif dan absorban bekas IPAL yang mengolah efluen pemroses minyak dan gas alam − Cutting pemboran − Residu dasar tangki (yang memiliki kontaminan di atas standar dan memiliki karakteristik limbah B3 . Cu. Hg. Se. molecular sieve. Zn. Cr.

dll − Sludge bekas Katalis bekas Karbon aktif bekas Sludge dari IPAL Filter bekas Residu dasar tangki (yang memiliki kontaminan diatas standar dan memiliki karakteristik limbah B3 ) Limbah Laboratorium Limbah PCB − − − − − Tensioactive (surfactant. emas. Cr. timah. Ni) Sulfida − − - yang memiliki kontaminan di atas standar dan memiliki karakteristik limbah B3) Pelarut bekas Limbah Laboratorium Limbah PCB Flotation Sludge pertambangan − terkontaminasi logam − berat − sludge/tailing Logam berat Residu pelarut Sianida . Pb. batubara.KODE LIMBAH D221 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA KILANG MINYAK DAN 2320 GAS BUMI − − − − − − Proses pengolahan IPAL yang mengolah efluen proses − pengolahan − Unit Dissolved Air Flotation (DAF) − Pembersihan heat exchanger − Tangki penyimpan − − − D222 PERTAMBANGAN 1320 1020 Kegiatan penambangan yang berpotensi − untuk menghasilkan limbah B3 seperti penambangan tembaga. etc) Bahan Organik Bahan terkontaminasi minyak Logam dan logam berat (terutama Ba.

KODE LIMBAH D223 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA PLTU YANG 4010 MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR BATUBARA PENYAMAKAN KULIT 1911 1912 1920 − Pembakaran batubara yang − digunakan untuk − pembangkit listrik − D224 − − − − − IPAL yang mengolah efluen − dari proses di atas Proses finishing Proses tanning dan − − (yang memiliki − kontaminan di atas standar dan memiliki karakteristik limbah B3) Limbah PCB − Sludge dari proses tanning and − Fly ash Bottom ash Heavy metals Organic materials (PNApolynuclear aromatics) finishing trimming/shaving/buffing Pelarut bekas Sludge dari IPAL Asam kromat bekas − − Heavy metals (especially Cr. Sulfida Arsen . Hg. Ni. Sn. Ba) Senyawa organometal Sianida Nitrat Fluorida. Zn. Cu. Pb) Organic solvent Acid solution D225 ZAT WARNA PIGMEN DAN 2422 2429 2411 − − MFDP zat warna dan pigmen IPAL yang mengolah efluen proses yang berkaitan dengan zat warna dan pigmen − − − − − − Sludge dari proses produksi dan − fasilitas penyimpanan − Pelarut bekas − Sludge dari IPAL Residu produksi/reaksi − Absorban dan filter bekas − Produk off-spec − − − Bahan organik Hidrokarbon terhalogenasi Logam dan logam berat (terutama Cr. Pb. Sb.

kadaluarsa dan sisa Sludge dari IPAL Peralatan dan kemasan bekas Residu proses produksi dan formulasi Absorban dan filter (karbon aktif) Residu proses destilasi.KODE LIMBAH D226 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN FARMASI KODE KEGIATAN 2423 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − − − MFDP produk farmasi IPAL yang mengolah efluen − proses manufaktur dan − produksi farmasi − − − − − − − Sludge dari fasilitas produksi Pelarut bekas Produk Off-spec. evaporasi dan reaksi Limbah laboratorium Residu dari proses insinerasi Limbah klinis Produk farmasi kadaluarsa Peralatan lab terkontaminasi Kemasan produk farmasi Limbah laboratorium Residu dari proses insinerasi − − − − − Bahan Organik Hidrokarbon terhalogenasi Pelarut mudah meledak Logam berat (terutama As) Bahan aktif D227 RUMAH SAKIT 7511 9309 − Seluruh RS laboratorium klinis dan − − − − − − − − − Limbah terinfeksi Residu produk farmasi Bahan-bahan kimia KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA .

dll − Seluruh jenis laboratorium − kecuali yang termasuk − D227 − Pelarut Bahan kimia kadaluarsa Residu sampel − Bahan kimia (murni atau terkonsentrasi) dan larutan kimia berbahaya atau beracun D229 FOTOGRAFI 2211/2221 2222/2429 − MFDP bidang fotografi − − − solution Larutan developer. bleach − − Pelarut bekas − Off-set Cr Residu proses produksi (tar) Residu minyak − − Perak Pelarut organik Senyawa pengoksidasi Hidrokarbon organik (PNA) Residu minyak D230 PENGOLAHAN 2310 BATUBARA DENGAN PIROLISIS − − Cokes productions Proses produksi − IPAL yang mengolah efluen − dari proses Proses purifikasi regenerasi dan − − − D231 DAUR ULANG MINYAK 9000 PELUMAS BEKAS − Filter dan absorban bekas − Residu proses destilasi dan evaporasi (tar) − Residu minyak/emulsi/sludge (DAF/dasar tangki) − − Material terkontaminasi minyak Logam berat (terutama Zn. fixer . Cr) Sludge minyak Hidrokarbon terhalogenasi . pulp & paper. penyempurnaan. Pb. karet.D228 LABORATORIUM 7310 RISET DAN 7422 KOMERSIAL Beberapa industri memiliki laboratorium misalnya : tekstil. makanan. cat. bahan kimia.

KODE LIMBAH D232 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN SABUNDETERJEN/PRODUK PEMBERSIH DESINFEKTAN/KOSME TIK KODE KEGIATAN 2424 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − Proses manufaktur formulasi produk dan − − − − − Rsidu produksi dan konsentrat Filter dan absorban bekas Pelarut bekas Konsentrat Off-spec dan kadaluarsa Limbah Laboratorium − − − − − − − − − − Bahan organik Hidrokarbon terhalogenasi Logam berat (Zn) Fluorida Nitrat Tensioactive kuat Residu asam Logam berat Cr. Zn) Residu minyak Residu asam (terutama D233 PENGOLAHAN LEMAK 1514 HEWANI/NABATI DAN DERIVATNYA − Proses manufaktur dan − formulasi produk lemak − nabati/hewani dan − turunannya − − Proses peleburan dan penyempurnaan (primer dan sekunder) Pelapisan aluminium IPAL yang mengolah efluen dari proses coating − − − − − − Residu filtrasi Sludge minyak/lemak Limbah Laboratorium Residu proses destilasi Katalis bekas (Cr) D234 ALLUMINIUM THERMAL METALLURGY ALLUMINIUM CHEMICAL CONVERSION COATING 2720 2732 − − − Manufaktur anoda – tar dan residu − karbon − Proses Skimming − Spent pot lining (katoda) Residu proses peleburan (slag dan dross) Sludge dari IPAL Logam berat (terutama) Residu asam Sianida (proses Cryolite) Anodizing sludge . Ni.

alloy) Pyrometallurgical Seng terelektrolisis dalam − proses peleburan dan penyempurnaan − zinc − − − − − − − − − − Sludge dari proses peleburan dan − fasilitas pemurnian udara Debu/sludge dari peralatan − pengendali pencemaran udara Slag dan dross (residu proses peleburan) Proses Skimming Sludge dari IPAL Sludge dari Acid plant blowdown Logam berat (terutama Zn.Zn − − − peleburan dan penyempurnaan IPAL yang mengolah efluen proses peleburan dan penyempurnaan Proses cold rolling. Cr. Pb) Nitrat. Cr. Cd. Th) Residu asam Electrolytic anode slime/sludge D236 PROSES LOGAM NONFERO − Larutan Oksalat dan sludgenya Larutan Permanganate (pickling) Residu asam pickling Larutan pembersih alkali Minyak emulsi pendingin/pelumas − − − − − Logam berat (terutama As. sheeting dan finishing logam non-ferro (misalnya Cu.KODE LIMBAH D235 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA PELEBURAN DAN 2720 PENYEMPURNAAN SENG . Ba. Al. drawing. Pb. Zn. Ni. Fluorida Asam Borat dan oksalat Larutan Asam/Alkali Limbah minyak .

filling. cutting. Cr. dll − Semua berkaitan Emulsi minyak (misalnya cairan cutting dan minyak pendingin) Sludge dari proses shaping Pelarut bekas − − − − Logam dan logam berat Emulsi minyak Hidrokarbon terhalogenasi Fluorida-Nitrat . Mn) Cyanides Metals and heavy metals D238 METAL/PLASTIC SHAPING − proses yang − termasuk : grinding. − (misalnya : carburizing) IPAL yang mengolah efluen proses Sludge Pelarut bekas − − (especially Ba. rolling.KODE LIMBAH D237 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN 2710/2720 2811/2812 2891/2892 2899/2911 2912/2915 2919/2922 2924/2926 2927/3110 3120/3190 3430/3530 2710/2720 2731/2732 2811/2812 2891/2893 2899/2911 2912/2915 2919/1922 2924/2925 2926/2927 2930/3110 3120/3130 3410/3420 3430/3511 3530/3591 3592/4520 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA METAL HARDENING − − Seluruh proses pengolahan − nitriding. − drawing.

KODE LIMBAH D239 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA LAUNDRY DAN DRY 9301 CLEANING − pelarut organik dan pelarut − kaustik kuat. Cu. Cr. D240 IPAL INDUSTRI Fasilitas pengolahan limbah cair terpadu dari kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam tabel ini − cleaning dan − Proses degreasing yang memakai − degreasing Pelarut bekas Larutan kostik bekas cleaning Sludge proses Sludge IPAL − − dan − − − − − − − Pelarut organik Hidrokarbon terhalogenasi Lemak dan gemuk Logam dan logam berat (terutama As. Ni) Hidrokarbon terhalogenasi Bahan Organik Ammonia Sulfida Fluorida Logam berat Residu pembakaran tidak sempurna Hidrokarbon terhalogenasi Bahan Organik D241 PENGOPERASIAN INSINERATOR LIMBAH DAUR ULANG 9000 PELARUT BEKAS − Proses insinerasi limbah − − − Fly ash Slag/bottom ash Residue pengolahan flue gas − − D242 − Recycle/ regenerasi/ − purifikasi pelarut organik bekas − Residu proses distilasi dan proses − evaporasi − Filter dan absorban bekas . Hg. Pb. Ag.. Se. Cd.

gasket dan − packing Asbestos Logam berat (terutama Pb. − hidrogen) Manufaktur dan formulasi − produk gelas dan − keramik/enamel − − − − − − Limbah Carbide-residu Katalis bekas (reformer/desulfurizer) − − Bubuk gelas . Cr.terlapis logam Emulsi minyak − Residu dari proses etching − Hg (glass switches) Debu/sludge dari peralatan pengendali pencemaran udara Residue Opal glass. Co. Zn) . Cd. Hg.KODE LIMBAH D243 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN GAS INDUSTRI KODE KEGIATAN 4020 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − Manufaktur dan formulasi − gas industri (asetilen. PACKING GASKET.As Sisa Asbestos Adhesive coating − − Residu Alkali Logam berat Logam berat (terutama Pb. Ni.As Bronzing and decolorizing agent . 3699 − Manufaktur dan formulasi − produk seal. Ba) Limbah minyak Fluorida D244 GELAS KERAMIK/ENAMEL 2610 − D245 SEAL.

− − − − Asbestos − − Asbestos D251 − Pelumas bekas Pelarut (cleaning. − phosphating. grease contaminated − alkaline. passivation. descaling. motor. derusting. acid solvent and/or oxydator solution Residue from cleaning activity Used toner PCB waste Larutan asam/alkali − − − Logam berat (terutama Se) PCB refilling. pesawat. − termasuk body repair. − reconditioning retrofitting dari atau transformer dan capacitor Proses D250 − fireproof − Penggantian insulation (ac). atap . refinishing.KODE LIMBAH D246 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN PRODUK KERTAS KODE KEGIATAN 2102 2109 SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA − − Manufaktur dan formulasi produk kertas Kegiatan pencetakan dan pewarnaan − − − − Expired and residue of glue adhesive − Used solvent Sludge of waste water treatment plant Printing residue (ink/dye) − Pelarut organik Logam berat tinta/pewarna dari D247 CHEMICAL /INDUSTRIAL CLEANING FOTOKOPI SEMUA JENIS INDUSTRI YANG MENGHASILKAN/MEN GGUNAKAN LISTRIK SEMUA INDUSTRI KONSTRUKSI BENGKEL PEMELIHARAAN KENDARAAN JENIS 4520 9309 − Degreasing. insulation Pemeliharaan mobil. etc − − Pemeliharaan peralatan MFDP toner D248 D249 5150 2429 − − − − Metal. degreasing) Limbah cat Asam Batere bekas − − − − Limbah minyak Pelarut mudah terbakar Asam Logam berat . − kereta api. replacement. oil.

TUMPAHAN. tri.3-Butadiena n-Butil alkohol Butana .4. KODE LIMBAH D3001 D3002 D3003 D3004 D3005 D3006 D3007 D3008 D3009 D3010 D3011 D3012 D3013 D3014 D3015 D3016 D3017 D3018 D3019 D3020 D3021 D3022 D3023 D3024 D3025 D3026 D3027 D3028 D3029 D3030 D3031 D3032 D3033 D3034 BAHAN PENCEMAR Asetaldehida Asetamida Asam asetat. ATAU BUANGAN PRODUK YANG TIDAK MEMENUHI SPESIFIKASI.1.TABEL 3. Arsen Triklorida Dietilarsina Barium dan senyawanya Chromated Copper Arsenate Benzena Klorobenzena 1.3. garam-garamnya dan ester-esternya Aseton Asetonitril Asetilklorida Akrolein Akrilamida Akrilonitril Aldrin Aluminium alkil dan turunannya Aluminium Fosfat Amonium Pikrat Amonium Vanadat Anilina Arsen dan senyawanya Arsen Oksida.2.3-Diisocyanatometil-Benzena Dietilbenzena Heksahidrobenzena Benzenasulfonic Klorida Benzenesulfonil Klorida Berilium dan senyawanya Bis(Klorometil)eter Bromoform 1. penta Arsen Disulfida.4-heksakloro-1. SISA KEMASAN. DAFTAR LIMBAH DARI BAHAN KIMIA KADALUARSA.

2-Dikloropropana 1.6-Dinitrotoluena Endrin dan senyawa metabolitnya Epiklorohidrin 2-Etoksi etanol . garam-garam dan esternya DDD DDT 1.2-Dikloroetana 1.3-Diklorobenzena 1.4-Dinitrotoluena 2. Isomer alfa & beta Kloretana (Etillklorida) Kloroetena (vinil klorida) Klorodibromometana Kloroform p-Khloroanilina 2-Kloroetil vinil eter Klorometil metil eter Asam Kromat Kromium dan senyawa-senyawanya Sianida dan senyawa-senyawanya Kreosot Kumena Siklohexana 2.3-Dikloropropena Dieldrin Dimetil ftalat Dimetil sulfat 2.KODE LIMBAH D3035 D3036 D3037 D3038 D3039 D3040 D3041 D3042 D3043 D3044 D3045 D3046 D3047 D3048 D3049 D3050 D3051 D3052 D3053 D3054 D3055 D3056 D3057 D3058 D3059 D3060 D3061 D3062 D3063 D3064 D3065 D3066 D3067 D3068 D3069 D3070 D3071 D3072 D3073 BAHAN PENCEMAR Butil aldehida Cadmium dan senyawanya Kalsium khromat Amoniacal copper arsenat Dikloro Karbonat Karbon disulfida Karbon tetrakhlorida Kloroasetaldehida Klorodana.2-Diklorobenzena 1.4-D.1 -Dikloroetene 1.

KODE LIMBAH D3074 D3075 D3076 D3077 D3078 D3079 D3080 D3081 D3082 D3083 D3084 D3085 D3086 D3087 D3088 D3089 D3090 D3091 D3092 D3093 D3094 D3095 D3096 D3097 D3098 D3099 D3100 D3101 D3102 D3103 D3104 D3105 D3106 D3107 D3108 D3109 D3110 D3111 BAHAN PENCEMAR 1-Fenil Etanon Etil akrilat Etil asetat Etilbenzena Etil karbamat (uretan) Etil eter Asam Etilen bisditiokarbamat dan senyawanya Etilen dibromida Etilen diklorida Etilen glikol (monoetil eter) Etilen oksida (Oksirana) Fluorin Fluoroasetamida Asam Fluoroasetat dan garam sodiumnya Formaldehida Asam Formiat Furan Heptaklor Heksaklorobenzena Heksaklorobutadiena Heksakloroetana Hidrogen Sianida Hidrazina Asam fosfat Asam fluorat Asam fluorida Asam sulfida Hidroksibenzena (fenol) Hidroksitoluen (cresol) Isobutil alkohol Timbal asetat Timbal kromate Timbal nitrat Timbal oksida Timbal fosfat Lindana Maleat anhidrida Maleat hidrazida .

KODE LIMBAH D3112 D3113 D3114 D3115 D3116 D3117 D3118 D3119 D3120 D3121 D3122 D3123 D3124 D3125 D3126 D3127 D3128 D3129 D3130 D3131 D3132 D3133 D3134 D3135 D3136 D3137 D3138 D3139 D3140 D3141 D3142 D3143 D3144 D3145 D3146 D3147 D3148 D3149 BAHAN PENCEMAR Merkuri dan senyawa-senyawanya Metil hidrazina Metil paration Tetraklorometana Tribromometana Triklorometana Triklorofluorometana Metanol (metil alkohol) Metoksiklor Metil bromida Metil klorida Metil kloroform Metilen bromida Metil isobutil keton Metil etil ketone Metil etil ketone peroksida Metil benzene (toluene) Metil iodida Naftalena Nitrat oksida Nitrobenzena Nitrogliserin Oksirana Paration Paraldehida Pentaklorobenzena Pentakloroetana Pentakloronitrobenzena Pentaklorofenol Perkloroetilen Phenil tiourea Fosgen Fosfin Fospor sulfida Fospor pentasulfida Ftalat anhidrida 1 -Bromo .2-propanon 2-Nitropropana. .

3.4.5-T 1 2.2-Tetrakloroetana 1.1.5-Trinitrobenzena Vanadium oksida Vanadium pentaoksida Vinil klorida Warfarin Dimetylbenzena Seng Fosfit PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I ttd dan cap Lambock V.5-Triklorofenol 2.4.1.6-Tetraklorofenol Tetraklorometana Tetra etil timbal 2. Nahattands .4.2.2-Tetrakloroetana 2.5-Tetraklorobenzena 1.KODE LIMBAH D3150 D3151 D3152 D3153 D3154 D3155 D3156 D3157 D3158 D3159 D3160 D3161 D3162 D3163 D3164 D3165 D3166 D3167 D3168 D3169 D3170 D3171 D3172 D3173 D3174 D3175 D3176 D3177 D3178 BAHAN PENCEMAR n-Propilamina Propilen Diklorida Pirene Piriden Selenium dan senyawanya Selenium dioksida Selenium sulfida Perak Sianida 2.6-Triklorofenol 1.3.1.4.4. Dimetil Ester Sulfat Sulfur Fosfit 2.5TP Silvex Natrium azida Striknidin 10-satu dan garamnya Asam sulfat.4.

4-Dicholorobenzene 1.004 0.01 5 5 0.2 0.5 0.005 100 0.19 0.01 50 0.LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 18 TAHUN 1999 TANGGAL : 27 FEBUARI 1999 BAKU MUTU TCLP ZAT PENCEMAR DALAM LIMBAH UNTUK PENENTUAN KARAKTERISTIK SIFAT RACUN PARAMETER Aldrin + Dieldrin Arsenic Barium Benzene Boron Cadmium Carbon tetrachloride Chlordane Cholorobenzene Chloroform Chromium Copper o-Cresol m-Cresol Total Cresol Cyanide (free) 2.2 5 0.4-D 1.4-Dinitrotoluene Endrin Fluorides Heptachlor+Heptachlor Epoxide Hexachlorobenzene Hexacholroethane Lead Lindane KONSENTRASI LIMBAH (mg/L) (TCLP) 0.5 1 5 0.3 2.05 0.2-Dicholoroethane 1.02 0.08 0.25 0.2 DALAM EKSTRASI .05 0.5 0.2 0.5 0.05 0.05 0.1-Dicholoroethylene 2.

3 2 1 1 1 1 40 1 0.5 DALAM EKSTRASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I ttd dan cap Lambock V.6-Tricholorophenol Vynil Choloride Zinc KONSENTRASI LIMBAH (mg/L) (TCLP) 0.05 2.01 3 0.5-Trichlorophenol 2.4.4.PARAMETER Mercury Methoxychlor Methyl Parathion Methyl Ethyl Ketone Nitrate+ Nitrite Nitrite Nitrobenzene Pentacholorophenol Pyridine PCBs Selenium Silver Tetracholoroethlene (PCE) Phenol DDT Cholorophenol (total) Choloronaphtalene Trihalomethanes 2.3 20 500 50 1 0.5 0.05 0.1 0.05 2 0. Nahattands .

c. berfungsi sebagai ruang bagi kehidupan Bangsa.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994). Menimbang : a. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landasan Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. 9. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut. bahwa meningkatnya kegiatan pembangunan di darat dan di laut maupun pemanfaatan laut beserta sumber daya alamnya dapat mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan laut yang akhirnya dapat menurunkan mutu serta fungsi laut. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22. 1 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274). Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. b. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. bahwa pengelolaan lingkungan laut beserta sumber daya alamnya bertujuan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dan kelangsungan makhluk hidup lainnya. 4. bahwa lingkungan laut beserta sumber daya alamnya berdasarkan Wawasan Nusantara merupakan salah satu bagian lingkungan hidup yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 5 ayat (2). 5. 3. Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945. 10. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 98. 8. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. 6.

11. Pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut adalah setiap upaya atau kegiatan pencegahan dan/atau penanggulangan dan/atau pemulihan pencemaran dan/atau perusakan laut. 8. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. 2 . Limbah cair adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair. 2. Laut adalah ruang wilayah lautan yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional. 13. Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup. dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya. 12. Pembuangan (dumping) adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau benda lain yang tidak terpakai atau daluarsa ke laut. zat.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 11. Limbah padat adalah sisa atau hasil samping dari suatu usaha dan/atau atau kegiatan yang berwujud padat termasuk sampah. Kriteria baku kerusakan laut adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan laut yang ditenggang. 3. Kerusakan laut adalah perubahan fisik dan/atau hayati laut yang melewati kriteria baku kerusakan laut. 10. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). energi. Limbah adalah sisa usaha dan/atau kegiatan. 6. 5. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 73. Perusakan air laut adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang melampaui kriteria baku kerusakan laut. Perlindungan mutu laut adalah setiap upaya atau kegiatan yang dilakukan agar mutu laut tetap baik. 13. zat. 4. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan: 1. 9. 12. atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemaran yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut. energi. Status mutu laut adalah tingkat mutu laut pada lokasi dan waktu tertentu yang dinilai berdasarkan baku mutu air laut dan/atau kriteria baku kerusakan laut. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3647). 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68.

(2) Lingkungan laut tidak memenuhi kriteria baku mutu kerusakan laut yang dinyatakan sebagai lingkungan laut yang status mutunya berada pada tingkatan rusak. (3) Dalam hal Gubernur Kepala Daerah Tingkat I tidak menetapkan status mutu laut. (2) Air yang mutunya tidak memenuhi baku mutu air laut dinyatakan sebagai air laut yang status mutunya berada pada tingkatan tercemar.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 14. (2) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dapat menetapkan status mutu laut berdasarkan pedoman teknis penetapan status mutu laut yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. Pasal 5 (1) Status mutu laut ditetapkan berdasarkan inventarisasi dan/atau penelitian data mutu air laut. BAB II PERLINDUNGAN MUTU LAUT Pasal 3 Perlindungan mutu laut didasarkan pada baku mutu air laut. kriteria baku kerusakan laut dan status mutu laut. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. dan/atau badan hukum. Pasal 2 Perlindungan mutu laut meliputi upaya atau kegiatan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut dengan tujuan untuk mencegah atau mengurangi turunnya mutu laut dan/atau rusaknya sumber daya laut. Pasal 8 (1) Lingkungan laut yang memenuhi kriteria baku kerusakan laut dinyatakan sebagai lingkungan laut yang status mutunya pada tingkatan baik. Pasal 4 Baku mutu air laut dan kriteria baku kerusakan laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ditetapkan oleh Menteri dengan mempertimbangkan masukan dari menteri lainnya dan Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen terkait lainnya. 15. 16. Pasal 7 (1) Air laut mutunya memenuhi baku mutu air laut dinyatakan sebagai air laut yang status mutunya berada pada tingkatan baik. Pasal 6 Kepala instansi bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis penilaian dan penetapan status mutu laut. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. maka Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan status mutu laut. Orang adalah orang perseorangan. kondisi tingkat kerusakan laut yang mempengaruhi mutu laut. dan/atau kelompok orang. 3 .

BAB V PENANGGULANGAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT Pasal 15 (1) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan laut wajib melakukan penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan laut yang diakibatkan oleh kegiatannya. wajib memenuhi persyaratan mengenai baku mutu air laut. (2) Pedoman mengenai penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan laut sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. baku mutu emisi dan ketentuan-ketentuan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VI PEMULIHAN MUTU LAUT Pasal 16 4 . (2) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang membuang limbahnya ke laut. wajib melakukan pencegahan terjadinya pencemaran laut. (2) Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis pencegahan perusakan laut. Pasal 12 Limbah cair dan/atau limbah padat dari kegiatan rutin operasional di laut wajib dikelola dan dibuang di sarana pengelolaan limbah cair dan/atau limbah padat sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 BAB III PENCEGAHAN PENCEMARAN LAUT Pasal 9 Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dilarang melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan pencemaran laut. BAB IV PENCEGAHAN PERUSAKAN LAUT Pasal 13 Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dilarang melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan laut. baku mutu limbah cair. Pasal 10 (1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dapat menyebabkan pencemaran laut. Pasal 14 (1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dapat mengakibatkan kerusakan laut wajib melakukan pencegahan perusakan laut. Pasal 11 Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis pencegahan pencemaran laut.

BAB VII KEADAAN DARURAT Pasal 17 (1) Dalam keadaan darurat. (2) Dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Tata cara dumping sebagaimana yang dimaksud ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri. (3) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pembuangan benda dimaksudkan untuk menjamin keselamatan jiwa kegiatan di laut. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 berwenang melakukan pemantauan. mengambil contoh. pembuangan benda ke laut yang berasal dari usaha dan/atau kegiatan di laut dapat dilakukan tanpa izin. a. jumlah dan langkah-langkah yang telah dilakukan. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. memeriksa peralatan. Pasal 20 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. BAB VIII DUMPING Pasal 18 (1) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan dumping ke laut wajib mendapatkan izin oleh Menteri. apabila. wajib menyebutkan tentang benda yang dibuang. waktu. serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggung jawab atas usaha dan/atau kegiatan. tempat tertentu.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 (1) Setiap orang penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan laut wajib melakukan pemulihan mutu laut. ditanggung oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. BAB IX PENGAWASAN Pasal 19 (1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan laut. (5) Biaya penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan laut serta pemulihan mutu laut yang ditimbulkan oleh keadaan darurat. membuat salinan dari dukumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. Pembuangan benda sebagaimana dimaksud pada huruf (a) dapat dilakukan dengan syarat bahwa semua upaya pencegahan yang layak telah dilakukan atau pembuangan tersebut merupakan cara terbaik untuk mencegah kerugian yang lebih besar. (2) Pedoman mengenai pemulihan mutu laut sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. 5 . pemilik dan/atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib dan segera memberitahukan kepada pejabat yang berwenang terdekat dan/atau instansi yang bertanggung jawab. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. (2) Untuk melakukan pengawasan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2). (4) Instansi yang menerima laporan wajib melakukan tindakan pencegahan meluasnya pencemaran dan/atau kerusakan laut serta wajib melaporkan kepada Menteri. meminta keterangan. lokasi. b.

mengizinkan pengawas untuk melakukan pengambilan contoh limbah atau barang lainnya yang diperlukan pengawas.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 (2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB X PEMBIAYAAN Pasal 23 (1) Biaya inventarisasi dan/atau penelitian dalam rangka penetapan status mutu laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan/atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. mengizinkan pengawas untuk melakukan pengambilan gambar dan/atau melakukan pemotretan di lokasi kerjanya. Pasal 22 (1) Setiap orang penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut yang telah dilakukan kepada instansi yang bertanggung jawab. (2) Biaya pengawasan penaatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. c. memberikan dokumen dan/atau data yang diperlukan oleh pengawas. wajib: a. BAB XI GANTI RUGI Pasal 24 (1) Setiap orang atau penaggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan laut wajib menanggung biaya penanggulangan pencemaran dan/atau perusakan laut serta biaya pemulihannya. (3) Setiap pengawasan wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. (2) Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain. mengizinkan pengawas memasuki lingkungan kerjanya membantu terlaksananya tugas pengawasan tersebut. memberikan keterangan dengan benar. 6 . b. (2) Pedoman dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. baik secara lisan maupun tertulis apabila hal itu diminta pengawas. wajib memenuhi permintaan petugas pengawasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 21 Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. d. instansi teknis dan instansi terkait lainnya. dan e. akibat terjadinya pencemaran dan/atau perusakan laut wajib membayar ganti rugi terhadap pihak yang di rugikan.

penagihan dan pembayaran ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 26 Setelah diundangkannya Peraturan Pemerintah ini. BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 27 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Agar setiap orang mengetahuinya. setiap usaha dan/atau kegiatan wajib menyesuaikan persyaratan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1999 Pasal 25 Tata cara perhitungan biaya. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 27 Pebruari 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta pada tanggal 27 Pebruari 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA Ttd AKBAR TANDJUNG 7 . memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 28 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. 3. MEMUTUSKAN PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: Menetapkan: 1. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. Hal 1/12 . Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). d.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. Mengingat: 1. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan sebagai upaya b. dasar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. Menimbang: a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. 2. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. c. e.

Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. pembangunan wilayah. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. 10. penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan 3. c. 12. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. Hal 2/12 . h. d. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya. i. 13. lingkungan buatan. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati. 2. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. 14. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. Menteri adalah Menteri yang ditugaskan untuk mengelola lingkungan hidup. f. 8. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. terpadu atau kegiatan dalam kawasan. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 9. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. b. Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. 11. serta lingkungan sosial dan budaya. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. Pasal 3 1. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/atau kegiatan dimaksud.4. 5. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan 6. g. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. Pasal 2 1. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. jenis hewan. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. dan jasad renik. e. 7.

berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. Pasal 7 1. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam waktu 5 (lima) tahun. analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. b. 4. Pasal 5 1. Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain: a. 2. luas wilayah persebaran dampak. Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. 2. 2. Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pasal 6 1.2. 5. d. Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. sifat kumulatif dampak. jumlah manusia yang akan terkena dampak. Hal 3/12 . Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. e. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki 3. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. f. 6. Pasal 4 1. Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.

b. Dalam menjalankan tugasnya. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. instansi yang ditugasi bidang kesehatan. di tingkat pusat : oleh Menteri. Pasal 9 1. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 6. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu 5. di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. Komisi penilai dibentuk: a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. analisis dampak lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional. Komisi penilai menilai kerangka acuan. analisis dampak lingkungan hidup. 4. oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. di tingkat daerah : oleh Gubernur. Dalam menjalankan tugasnya. 3. Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 1. ditetapkan oleh Menteri. rencana pengelolaan lingkungan hidup.2. b. 2. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha Hal 4/12 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan. Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. 3. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. 4. Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. analisis dampak lingkungan hidup. Departemen Dalam Negeri. Permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundangundangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) yang diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab. baik pusat maupun daerah. Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. 8. Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur- unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup. di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. 7. Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya.

serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. wakil masyarakat yang terkena dampak. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. 2. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan.dan/atau kegiatan yang bersangkutan. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur. rencana pengembangan wilayah. c. usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. b. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. 2. organisasi lingkungan hidup di daerah. instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah. Pasal 12 1. Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. serta anggota lain yang dipandang perlu. serta anggota lain yang dipandang perlu. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. ahli di bidang yang berkaitan. ahli di bidang lingkungan hidup. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. d. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). 2. Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. wakil masyarakat yang terkena dampak. Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 10 1. Tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. ahli di bidang lingkungan hidup. Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria: a. e. ahli di bidang yang berkaitan. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan. 2. Pasal 11 1. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. Komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. Hal 5/12 . rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji.

Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. dengan ketentuan: a. Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan.BAB III TATA LAKSANA BAGIAN PERTAMA KERANGKA ACUAN Pasal 14 1. BAGIAN KEDUA ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. 2. 2. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP. Pasal 15 1. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 17 1. 4. Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) 3. Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab. Hal 6/12 . Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis mengenai dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 16 dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama 1. 2.

Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup. Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal 19 1. Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan oleh pemrakarsa kepada: a. Analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah. Pasal 20 usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 3. Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 18 1. b. Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. rencana pengelolaan hidup. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu 1.2. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan hidup. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I 2. berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. 2. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) 2. dan pertimbangan terhadap saran. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup. Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. Hal 7/12 . b. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. Pasal 21 1. Analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup.

dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa: a. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan Pasal 20. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. Gubernur. dan instansi yang terkait. Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 19. di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh: 1. Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 24 1. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. 2. Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rencana pemantauan lingkungan hidup. 3. Pasal 18. BAGIAN KETIGA KADALUWARSA DAN BATALNYA KEPUTUSAN HASIL ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. 2. biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar daripada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. atau b. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. 2. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi terkait yang berkepentingan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17. dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. c. Hal 8/12 . apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya.2. Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 22 1.

rencana pengelolaan lingkungan hidup. Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 25 1. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. 2. Analisis dampak lingkungan hidup. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 1. pelatihan. 2. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. 2. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. Pendidikan. Pasal 29 1. Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2. Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Hal 9/12 . Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 27 1. atau b. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.3. Pasal 26 1. 2. Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan.

Saran. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup. 5. Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 1. diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. pendapat. Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib 2. 2. Hal 10/12 . Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. serta tata cara penyampaian saran. pendapat. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. b.Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan pengaturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur. BAB V PENGAWASAN Pasal 32 1. Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. pendapat. 4. 3. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendapat. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab. dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. c. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. 6. Pasal 31 Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. Saran.

3. analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. 2. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. 2. 2. Instansi yang bertanggung jawab wajib menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. analisis dampak lingkungan hidup. Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan: 1. Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. saran. Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan dan Pasal 32 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. pendapat. Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) Hal 11/12 . Pasal 38 1. Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup dibebankan kepada pemrakarsa. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini: 1. 2. Pasal 35 tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan.Pasal 34 1. penilaian kerangka acuan. kesimpulan komisi penilai. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum.

1. dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 (delapan belas) bulan sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di : Jakarta pada tanggal : 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA Ttd AKBAR TANDJUNG LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 59 Hal 12/12 . BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. 2. atau bersangkutan.

Udara ambien adalah udara bebas di permukaaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia. makhluk hidup dan unsur lingkungan hidup lainnnya. Mengingat: 1. MEMUTUSKAN : Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peratuan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. energi. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Status mutu udara ambien adalah keadaan mutu udara di suatu tempat pada saat dilakukan inventarisasi. 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat. 4. sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya. dan/atau komponen lain yang ada di udara bebas. energi. 2. Sumber pencemar udara adalah setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. energi. maka udara perlu dipelihara. Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat. dijaga dan dijamin mutunya melalui pengendalian pencemaran udara. 2. 2) bahwa agar udara dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi pelestarian fungsi lingkungan hidup. Menimbang: 1) bahwa udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya untuk pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan manusia serta perlindungan bagi makhluk hidup lainnya. dan/atau komponen yang ada atau yang seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien. dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia. 3. . Pengendalian pencemaran udara adalah upaya pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran udara serta pemulihan mutu udara. 5. Mutu udara ambien adalah kadar zat. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 7. 3) bahwa berdasarkan ketentuan tersebut diatas dan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Pencemaran Udara.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

sumber bergerak spesifik. 26. maupun sumber tidak bergerak spesifik. Sumber bergerak adalah sumber emisi yang bergerak atau tidak tetap pada suatu tempat yang berasal dari kendaraan bermotor. Sumber emisi adalah setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan emisi dari sumber bergerak. Kendaraan bermotor lama adalah kendaraan yang sudah diproduksi. 12. pesawat terbang. Sumber bergerak spesifik adalah sumber emisi yang bergerak atau tidak tetap pada suatu tempat yang berasal dari kereta api. energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkannnya ke dalam udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar. Perlindungan mutu udara ambien adalah upaya yang dilakukan agar udara ambien dapat memenuhi fungsi sebagaimana mestinya. sumber tidak bergerak. 20. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. dan sumber tidak bergerak spesifik yang dilakukan dengan upaya pengendalian sumber emisi dan/atau sumber gangguan yang bertujuan untuk mencegah turunnya mutu udara ambien. Uji tipe emisi adalah pengujian emisi terhadap kendaraan bermotor tipe baru. yang berasal dari sumber bergerak. sumber bergerak spesifik. Kendaraan bermotor tipe baru adalah kendaraan bermotor yang menggunakan mesin dan/atau transmisi tipe baru yang siap diproduksi dan dipasarkan. 23. 27. 15. kapal laut dan kendaraan berat lainnya. Inventarisasi adalah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan mutu udara. 25. Ambang batas kebisingan kendaraan bermotor adalah batas maksimum energi suara yang boleh dikeluarkan langsung dari mesin dan/atau transmisi kendaraan bermotor. 28. Sumber tidak bergerak spesifik adalah sumber emisi yang tetap pada suatu tempat yang berasal dari kebakaran hutan dan pembakaran sampah. atau kendaraan yang sudah beroperasi tetapi akan diproduksi ulang dengan perubahan desain mesin dan sistem transmisinya. yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia. 13. 29. Sumber tidak bergerak adalah sumber emisi yang tetap pada suatu tempat. 16. 22. Baku tingkat gangguan adalah batas kadar maksimum sumber gangguan yang diperbolehkan masuk ke udara dan/atau zat padat. 17. sumber bergerak spesifik. 11. 24. dirakit atau diimpor dan sudah beroperasi di jalan wilayah Republik Indonesia. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Pasal 2 Pengendalian pencemaran udara meliputi pengendalian dari usaha dan/atau kegiatan sumber bergerak. nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. Emisi adalah zat. Baku mutu emisi sumber tidak bergerak adalah batas kadar maksimum dan/atau beban emisi maksimum yang diperbolehkan masuk atau dimasukkan ke dalam udara ambien. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. 30. 9. Sumber gangguan adalah sumber pencemar yang menggunakan media udara atau padat untuk penyebarannya. . 18. 10. sumber tidak bergerak. Ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor adalah batas maksimum zat atau bahan pencemar yang boleh dikeluarkan langsung dari pipa gas buang kendaraan bermotor. 19. Uji tipe kebisingan adalah pengujian tingkat kebisingan terhadap kendaraan bermotor tipe baru. sumber tidak bergerak atau sumber tidak bergerak spesifik. 14. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu.8. Mutu emisi adalah emisi yang boleh dibuang oleh suatu kegiatan ke udara ambien. atau kendaraan bermotor yang diimpor tetapi belum beroperasi di jalan wilayah Republik Indonesia. 21.

. Baku mutu udara ambien nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali setelah 5 (lima) tahun. sebagaimana terlampir dalam Peraturan Pemerintah ini. ambang batas emisi gas buang. 4. Apabila Gubernur belum menetapkan baku mutu udara ambien daerah. 6. Gubernur menetapkan baku mutu udara ambien daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan baku mutu udara ambien nasional 3. 2. Baku mutu udara ambien nasional ditetapkan sebagai batas maksimum mutu udara ambien untuk mencegah terjadinya pencemaran udara. Baku mutu udara ambien daerah ditetapkan berdasarkan pertimbangan status mutu udara ambien di daerah yang bersangkutan. maka berlaku baku mutu udara ambien nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1). Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan daerah melakukan kegiatan inventarisasi dan/atau penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bagian Ketiga Status Mutu Udara Ambien Pasal 6 1. status mutu udara ambien. Status mutu udara ambien ditetapkan berdasarkan inventarisasi dan/atau penelitian terhadap mutu udara ambien. 2. kondisi meteorologis dan geografis. 2. potensi sumber pencemar udara. Gubernur menetapkan dan menyatakan status mutu udara ambien daerah yang bersangkutan sebagai udara tercemar. Apabila hasil inventarisasi dan/atau penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) menunjukkan status mutu udara ambien daerah berada di atas baku mutu udara ambien nasional. ambang batas kebisingan dan Indeks Standar Pencemar Udara Bagian Kedua Baku Mutu Udara Ambien Pasal 4 1. Gubernur menetapkan status mutu udara ambien daerah berdasarkan hasil inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).BAB II PERLINDUNGAN MUTU UDARA Bagian Kesatu Umum Pasal 3 Perlindungan mutu udara ambien didasarkan pada baku mutu udara ambien. 3. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis penetapan baku mutu udara ambien daerah. Pasal 7 1. Pasal 5 1. serta tata guna tanah. Baku mutu udara ambien daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali setelah 5 (lima) tahun. baku mutu emisi. baku tingkat gangguan. Baku mutu udara ambien daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (!) ditetapkan dengan ketentuan sama dengan atau lebih ketat dari baku mutu udara ambien nasional 4. 5. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis inventarisasi dan pedoman teknis penetapan status mutu udara ambien.

Bagian Kelima Baku Tingkat Gangguan dan Ambang Batas Kebisingan Pasal 10 1. Instansi yang bertanggung jawab melakukan pengkajian terhadap baku mutu emisi sumber tidak bergerak dan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis pengendalian pencemaran udara sumber tidak bergerak dan sumber bergerak.2. Baku mutu emisi sumber tidak bergerak dan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali setelah 5 (lima) tahun. 2. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan baku mutu emisi sumber tidak bergerak dan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor. Baku tingkat gangguan sumber tidak bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan memepertimbangakan aspek kenyamanan terhadap manusia dan/atau aspek keselamatan sarana fisik serta kelestarian bangunan. Pasal 11 1. Baku mutu emisi sumber tidak bergerak dan ambang batas emisi gas buang kendaran bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan mempertimbangkan parameter dominan dan kritis. kualitas bahan bakar dan bahan baku. getaran. 3. Baku tingkat gangguan sumber tidak bergerak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a) b) c) d) baku baku baku baku tingkat tingkat tingkat tingkat kebisingan. tipe baru dan kendaraan bermotor lama. kebauan dan. Dalam hal gubernur menetapkan dan menyatakan status mutu udara ambien daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan baku tingkat gangguan sumber tidak bergerak dan ambang batas kebisingan kendaraan bermotor. 2. 4. 3. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis pengendalian pencemaran udara sumber gangguan dari sumber tidak bergerak dan kebisingan dari sumber bergerak. . Gubernur wajib melakukan penanggulangan dan pemulihan mutu udara ambien. 2. serta teknologi yang ada. Ambang batas kebisingan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan mempertimbangkan aspek kenyamanan terhadap manusia dan/atau aspek teknologi. gangguan lainnnya. 5. Baku tingkat gangguan sumber tidak bergerak dan ambang batas kebisingan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali setelah 5 (lima) tahun. Instansi yang bertanggung jawab melakukan pengkajian terhadap baku tingkat gangguan sumber tidak bergerak dan ambang batas kebisingan kendaraan bermotor. Pasal 9 1. Bagian Keempat Baku Mutu Emisi dan Ambang Batas Emisi Gas Buang Pasal 8 1. 2.

Pelaksanaan koordinasi operasional pengendalian pencemaran udara di daerah dilakukan oleh Gubernur. serta pemulihan mutu udara dengan melakukan inventarisasi mutu udara ambien. Pelaksanaan operasional pengendalian pencemaran udara di daerah dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Kebijaksanaan teknis pengendalian pencemaran udara dan pelaksanaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali setelah 5 (lima) tahun. hewan. BAB III PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA Bagian Kesatu Umum Pasal 16 Pengendalian pencemaran udara meliputi pencegahan dan penanggulangan pencemaran. Pasal 13 Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis perhitungan dan pelaporan serta informasi Indeks Standar Pencemar Udara. baik dari sumber bergerak maupun sumber tidak bergerak termasuk sumber gangguan serta penanggulangan keadaan darurat. bangunan dan nilai estetika. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan Indeks Standar Pencemar Udara. Pasal 15 Indeks Standar Pencemar Udara yang diperoleh dari pengoperasian stasiun pemantau kualitas udara ambien sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) wajib diumumkan kepada masyarakat. Pasal 17 1. Indeks Standar Pencemar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dipergunakan untuk: a) bahan informasi kepada mesyarakat tentang kualitas udara ambien di lokasi tertentu dan pada waktu tertentu. Indeks Standar Pencemar Udara diperoleh dari pengoperasian stasiun pemantau kualitas udara ambien secara otomatis dan berkesinambungan. 2.Bagian Keenam Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Pasal 12 1. Indeks Standar Pencemar Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan mempertimbangkan tingkat mutu udara terhadap kesehatan manusia. Pasal 18 1. 2. Penyusunan dan pelaksanaan kebijaksanaan teknis pengendalian pencemaran udara secara nasional ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. Pasal 14 1. 3. . b) bahan pertimbangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam melaksanakan pengendalian pencemaran udara. Kebijaksanaan operasional pengendalian pencemaran udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali setelah 5 (lima) tahun. 2. tumbuh-tumbuhan. pencegahan sumber pencemar. 2.

Pasal 24 Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. 2. baku mutu emisi. Pasal 23 Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilarang membuang mutu emisi melampaui ketentuan yang telah ditetapkan baginya dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. menaati baku mutu udara ambien. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang mengeluarkan emisi dan/atau gangguan wajib memenuhi persyaratan mutu emisi dan/atau gangguan yang ditetapkan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. memberikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat dalam rangka upaya pengendalian pencemaran udara dalam lingkup usaha dan/atau kegiatannya. daerah menyusun dan menetapkan program kerja daerah di bidang pengendalian pencemaran udara. 2. Ketentuan mengenai pedoman penyusunan dan pelaksanaan operasional pengendalian pencemaran udara di daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. maka pejabat yang berwenang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan mewajibkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mematuhi ketentuan baku mutu emisi dan/atau baku 1. 3. Dalam rangka penyusunan dan pelaksanaan operasional pengendalian pencemaran udara di daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). melakukan pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran udara yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang dilakukannya. dan baku tingkat gangguan yang ditetapkan untuk usaha dan/atau kegiatan yang dilakukannya. . 2.Pasal 19 1. 2. Pasal 21 Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan emisi dan/atau gangguan ke udara ambien wajib: 1. Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. baku tingkat gangguan. Pasal 22 1. penetapan baku mutu udara ambien. ambang batas emisi gas buang dan kebisingan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Bab II Peraturan Pemerintah ini. penetapan kebijaksanaan pengendalian pencemaran udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. Bagian Kedua Pencegahan Pencemaran Udara dan Persyaratan Penaatan Lingkungan Hidup Pasal 20 Pencegahan pencemaran udara meliputi upaya-upaya untuk mencegah terjadinya pencemaran udara dengan cara: 1. 18 dan 19. baku mutu emisi sumber tidak bergerak. Tingkat gangguan untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran udara akibat dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatannnya.

2. 2. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis penanggulangan dan pemulihan pencemaran udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara dan/atau gangguan wajib melakukan upaya penanggulangan dan pemulihannya. pemantauan emisi yang keluar dari kegiatan dan mutu udara ambien disekitar lokasi kegiatan. Instansi yang bertanggung jawab mengkoordinasikan pelaksanaan penanggulangan pencemaran udara dari sumber tidak bergerak. dan pemeriksaan penaatan terhadap ketentuan persyaratan teknis pengendalian pencemaran udara. Apabila hasil pemantauan menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara mencapai nilai 300 atau lebih berarti udara dalam kategori berbahaya maka: a) Menteri menetapkan dan mengumumkan keadaan darurat pencemaran udara secara nasional. Pasal 29 1. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban mengenai baku mutu emisi dan/atau baku tingkat gangguan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. b) Gubernur menetapkan dan mengumumkan keadaan darurat pencemaran udara didaerahnya. Pengumuman keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara lain melalui media cetak dan/atau media elektronik. Pasal 27 Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis tata cara penanggulangan dan pemulihan keadaan darurat pencemaran udara. . Bagian Ketiga Penanggulangan dan Pemulihan Pencemaran Udara Pasal 25 1. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis penanggulanganb pencemaran udara sumber tidak bergerak. 3. Paragraf 1 Keadaan Darurat Pasal 26 1. Paragraf 2 Sumber Tidak Bergerak Pasal 28 Penanggulangan pencemaran udara sumber tidak bergerak meliputi pengawasan terhadap penaatan baku mutu emisi yang telah ditetapkan. 2. 2.

Uji tipe sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan.Pasal 30 1. bergerak yang mutu emisi. Pasal 33 Kendaraan bermotor tipe baru dan kendaraan bermotor lama yang mengeluarkan emisi gas buang wajib memenuhi ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor. 2. 2. 3. 3. pemeriksaan emisi gas buang kendaraan bermotor di jalan dan pengadaan bahan bakar minyak bebasa timah hitam serta solar berkadar belerang rendah sesuai standar internasional. Kendaraan bermotor tipe baru wajib menjalani uji tipe emisi. Pasal 34 1. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan tata cara dan metode uji tipe emisi kendaraan bermotor tipe baru. 2. pemeriksaan emisi gas buang untuk kendaraan bermotor tipe baru dan kendaraan bermotor lama. Hasil uji tipe kendaraan bermotor tipe baru yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4) wajib disampaikan kepada Kepala instansi yang bertanggung jawab dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. Instansi yang bertanggung jawab mengkoordinasikan pelaksanaan penanggulangan pencemaran udara dari sumber bergerak. dan bergerak yang dimkasud dalam . Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari sumber tidak mengeluarkan emisi wajib menaati ketentuan baku mutu udara ambien. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis penanggulangan pencemaran udara dari kegiatan sumber bergerak. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis tata cara pelaporan hasil uji tipe kendaraan bermotor tipe emisi kendaraan bermotor tipe baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib mengumumkan angka parameter-parameter polutan hasil uji tipe emisi kendaraan bermotor tipe baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baku baku tingkat gangguan. Pasal 32 1. Bagi kendaraan bermotor tipe baru yang dinyatakan lulus uji tipe emisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberi tanda lulus uji tipe emisi. Pasal 35 1. Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari sumber tidak mengeluarkan emisi wajib menaati ketentuan persyaratan teknis sebagaimana Pasal 9 ayat (2). pemantauan mutu udara ambien di sekitar jalan. 4. 2. Paragraf 3 Sumber Bergerak Pasal 31 Penanggulangan pencemaran udara dari sumber bergerak meliputi pengawasan terhadap penaatan ambang batas emisi gas buang.

dilakukan oleh Instansi yang bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 42 1. 3. Kendaraan bermotor tipe baru wajib menjalani uji tipe kebisingan. Instansi yang bertanggung jawab mengkoordiansikan pelaksanaan penanggung pencemaran udara dari sumber gangguan. 2.Paragraf 4 Sumber Gangguan Pasal 37 Penanggulangan pencemaran udara dari kegiatan sumber gangguan meliputi pengawasan terhadap penaatan baku tingkat gangguan. Pasal 38 1. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis tata cara dan metode uji tipe kebisingan kendaraan bermotor tipe baru. pemantauan gangguan yang keluar dari kegiatannya dan pemeriksaan penaatan terhadap ketentuan persyaratan teknis pengendalian pencemaran udara. Hasil uji tipe kebisingan kendaraan bermotor tipe baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (4). Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis tata cara pelaporan hasil uji tipe kebisingan kendaraan bermotor tipe baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 2. Pasal 43 1. 4. Pasal 39 1. Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari sumber tidak bergerak yang mengeluarkan gangguan wajib menaati ketentuan baku tingkat gangguan. 2. Pasal 41 1. Kepala instansi yang bertanggung jawab menetapkan pedoman teknis penanggulangan pencemaran udara dari kegiatan sumber gangguan. Gubernur melaporkan hasil evaluasi uji kebisinga berkala kendaraan bermotor lama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setiap 1 (satu) tahun sekali kepada Kepala instansi yang bertanggung jawab. Uji tipe kebisingan yang dimaksud pada ayat (1). . Setiap kendaraan bermotor lama wajib menjalani uji kebisingan berskala sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagi kendaraan bermotor tipe baru yang dinyatakan lulus uji tipe kebisingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberi tanda lulus uji tipe kebisingan 3. 2. 2. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib mengumumkan hasil uji tipe kebisingan kendaraan bermotor tipe baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wajib disampaikan kepada Kepala instansi yang bertanggung jawab dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari sumber tidak bergerak yang mengeluarkan gangguan wajib menaati ketentuan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) Pasal 40 Kendaraan bermotor tipe baru dan kendaraan bermotor lama yang mengeluarkan kebisingan wajib memenuhi ambang batas kebisingan.

3. Pasal 48 Setiap penanggung jawab dan/atau kegiatan wajib: 1. Gubernur/Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dapat melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang membuang emisi dan/atau gangguan. 2. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. 3. Mengizinkan pengawas untuk melakukan pengambilan contoh udara emisi dan/atau contoh udara ambien dan/atau lainnya yang diperlukan pengawas. Pasal 45 1. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) dan Pasal 45 ayat (2) berwenang melakukan pemantauan.BAB IV PENGAWASAAN Pasal 44 1. Pasal 49 Hasil inventarisasi dan pemantauan baku mutu udara ambien. meminta keterangan. Mengizinkan pengawas untuk melakukan pengambilan gambar dan/atau melakukan pemotretan di lokasi kerjanya. 2. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. 2. Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran udara. Pasal 46 Hasil pemantauan yang dilakukan oleh pejabat pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) wajib dilaporkan kepada Kepala instansi yang bertanggung jawab sekurang-kurangnya sekali dalam 1 (satu) tahun. 4. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. memasuki tempat tertentu. memeriksa instalasi serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggung jawab atas usaha dan/atau kegiatan. dan 5. Dalam melaksanakan tugasnya. Memberikan dokumen dan/atau data yang diperlukan oleh pengawas. Mengizinkan pengawas memasuki lingkungan kerjanya dan membantu terlaksananya tugas pengawasan tersebut. Penanggung jawab jawab usaha dan/atau kegiatan yang diminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (10). Pasal 47 1. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. mengambil contoh mutu udara ambien dan/atau mutu emisi. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Gubernur/Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. baku mutu emisi. wajib memenuhi permintaan petugas penagwas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. memeriksa peralatan. 2. Memberikan keterangan dengan benar baik secara lisan maupun tertulis apabila hal itu diminta pengawas. baku tingkat gangguan dan indeks standar pencemar udara yang dilakukan oleh pejabat pengawas sebagaimana .

Hasil pemantauan yang dilakukan oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat digunakan oleh instansi yang bertanggung jawab. instansi teknis dan instansi lainnya sebagai bahan pertimbangan penetapan pengendalian pencemaran udara. BAB VI GANTI RUGI Pasal 54 1. 2. 3. Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan hasil pemantauan pengendalian pencemaran udara yang telah dilakukan kepada instansi yang bertanggung jawab. instansi teknis dan instansi terkait lainnya. baik terjadinya pencemaran udara wajib membayar ganti rugi terhadap pihak yang dirugikan. pengimpor kendaraan bermotor. Hasil pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. instansi teknis dan instansi terkait lainnya. Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain. pembuat. Pasal 55 Tata cara perhitungan biaya. Pasal 51 1. 2. BAB V PEMBIAYAAN Pasal 52 Segala biaya yang timbul sebagai akibat dari upaya pengendalian pencemaran udara dan/atau gangguan dari sumber tidak bergerak yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dibebankan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. penagihan dan pembayaran ganti rugi sebagaimana dimaskud dalam Pasal 54 ayat (2) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri BAB VII SANKSI Pasal 56 .dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2) dan Pasal 45 ayat (2) wajib disimpan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Pedoman dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala instansi yang bertanggung jawab. Dalam rangka kegiatan pengawasan. masyarakat dapat melakukan pemantauan terhadap mutu udara ambien. Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan terjadinya pencemaran udara wajib menanggung biaya penanggulangan pencemaran udara serta biaya pemulihannya. Pasal 53 Segala pembiayaan yang timbul sebagai akibat pengujian tipe emisi dan kebisingan kendaraan bermotor tipe baru dan pelaporannya dalam rangka pengendalian pencemaran udara dan/atau gangguan dibebankan kepada perakit. 2. Pasal 50 1.

Pasal 30. Pasal 22 ayat (1). MULADI. Pasal 36 ayat (1). Pasal 44. Pasal 48. S. atau ambang batas kebisingan diancam dengan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 67 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal 25 ayat (1). dan Pasal 43 ayat (1) Peraturan Pemerintah ini yang tidak memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang.H. Pasal 43.1. Pasal 59 Peraturan Pemerintah ini dimulai berlaku pada tanggal diundangkan. Paal 23. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 26 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di : Jakarta Pada tanggal : 26 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd PROF. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 58 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang pengendalian pencemaran udara yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 24 ayat (1). Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 46 dan Psasal 47 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 42. dan Pasal 50 ayat (1) Peraturan Pemerintah ini yang diduga dapat menimbulkan dan/atau mengakibatkan pencemaran udara dan/atau gangguan diancam dengan pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 41. . memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. H. Barangsiapa melanggar ketentuan dalam Pasal 21. Pasal 47 ayat (2). Pasal 39. Pasal 45. Pasal 40 yang berkaitan dengan kendaraan bermotor lama. 2. Barangsiapa melanggar ketentuan dalam Pasal 33 yang berkaitan dengan kendaraan bermotor lama. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 57 Selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. DR.

000 ug/Nm3 (Karbon 24 Jam 10.5 ug/Nm3 40 ug/100 cm2dari kertas limed filter 150 ug/Nm3 1 mg SO3/100 cm3Dari Lead Peroksida Metode Analisis Pararosanilin NDIR Saltzman Chemilumines cent Flame Ionization Gravimetric Gravimetric Gravimetric Gravimetric Gravimetric Ekstratif Pengabuan Gravimetric Peralatan Spektrofotometer NDIR Analyzer Spektrofotometer Spektrofotometer Gas Chomatogarfi Hi .LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA BAKU MUTU UDARA AMBIEN NASIONAL Waktu No.000 ug/Nm3 Monoksida) 1 Thn 3 NO2(Nitrogen 1 Jam 400 ug/Nm3 Dioksida) 24 Jam 150 ug/Nm3 1 Thn 100 ug/Nm3 4 O3 (Oksidan) 1 Jam 235 ug/Nm3 1 Thn 50 ug/Nm3 5 HC (Hidro 3 Jam 160 ug/Nm3 karbon) 6 PM10 24 Jam 150 ug/Nm3 (Partikel <10 um) PM 2.Vol Hi – Vol Hi – Vol AAS Cannister 10 11 12 13 Total Fluorides (as F) Fluor Indeks Khlorine dan Khlorine Dioksida Sulphat Indeks 24 Jam 90 Hari 30 Hari 24 Jam 30 Hari Spesific ion Electrode Colourimetric Spesific ion Electrode Colourimetric Impinger atau Continous Analyzer Limed Filter Paper Impinger atau Continous Analyzer Lead Peroxida Candle Catatan: (*) PM25 mulai diberitahukan tahun 2002 Nomor 10 s/d 13 Hanya berlakukan untuk daerah/kawasan Industri Kimia Dasar Contoh: Industri Petro Kimia.5* 24 Jam 65 ug/Nm3 1 Jam 15 ug/Nm3 7 TSP 24 Jam 230 ug/Nm3 (Debu) 1 Jam 90 ug/Nm3 8 Pb(Timah 24 Jam 2 ug/Nm3 Hitam) 1 Jam 1 ug/Nm3 9 Dustfall (Debu Jatuh) 30 Hari 10 Ton/ Km2/ Bulan (Pemukiman) 20 Ton/Km2/ Bulan (Industri) 3 ug/Nm3 0. Industri Pembuatan Asam Sulfat .Vol Hi – Vol Hi . Parameter Baku Mutu Pengukuran 1 SO2 1 Jam 900 ug/Nm3 (Sulfur Dioksida) 4 Jam 365 ug/Nm3 1 Thn 60 ug/Nm3 2 CO 1 Jam 30.

d. dipandang perlu mengubah dan menyempurnakan beberapa ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Pasal 1 Mengubah ketentuan Pasal 6. sehingga keseluruhannya berbunyi sebagai berikut : “ Pasal 6 . Pasal 7. bahwa lingkungan hidup perlu dijaga kelestariannya sehingga tetap mampu menunjang pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. dan Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaga Negara Tahun 1997 Nomor 68. c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa dengan meningkatnya pembangunan di segala bidang. 3. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3815). sebagai berikut : 1. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN. semakin meningkat pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan beracun yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Mengingat: 1. b. khususnya pembangunan di bidang industri. bahwa untuk mengenali limbah yang dihasilkan secara dini diperlukan identifikasi berdasarkan uji toksikologi dengan penentuan nilai akut dan atau kronik untuk menentukan limbah yang dihasilkan termasuk sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun. Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 31. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Menimbang: a. Ketentuan Pasal 6 diubah.

(3) Pembuktian secara ilmiah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan : a. b. b. dan atau c. . Hasil studi yang menyimpulkan bahwa limbah yang dihasilkan tidak menimbulkan pencemaran dan gangguan kesehatan terhadap manusia dan makhluk hidup lainnya. d. (2) Limbah B3 dari kegiatan yang tercantum dalam Lampiran (I). Uji toksikologi. apabila dapat dibuktikan secara ilmiah bahwa limbah tersebut bukan limbah B3 berdasarkan prosedur yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab setelah berkoordinasi dengan instansi teknis. c. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. bersifat reaktif. c. bekas kemasan. mudah meledak. Ketentuan Pasal 8 diubah. lembaga penelitian terkait dan penghasil limbah. mudah terbakar. tumpahan. e. b. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. sehingga keseluruhannya berbunyi sebagai berikut : “Pasal 8 (1) Limbah yang dihasilkan dari kegiatan yang tidak termasuk dalam Lampiran I. (5) Daftar limbah dengan kode limbah D220. dan f. menyebabkan infeksi. Ketentuan Pasal 6 diubah. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi. Limbah B3 dari sumber spesifik. D221. sehingga keseluruhannya berbunyi sebagai berikut : “Pasal 7 (1) Jenis limbah B3 menurut sumbernya meliputi : a. Tabel 2 Peraturan Pemerintah ini dapat dikeluarkan dari daftar tersebut oleh instansi yang bertanggung jawab. Tabel 2 Peraturan Pemerintah ini. 3. beracun. (2) Perincian dari masing-masing jenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti tercantum dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah ini. D222 dan D223 dapat dinyatakan limbah B3 setelah dilakukan uji karakteristik dan ayau uji toksikologi. (4) Pengujian toksikologi untuk menentukan sifat akut dan atau kronik. “ 2. Uji karakteristik limbah B3. (3) Uji karakteristik limbah B3 meliputi : a.Limbah B3 dapat diidentifikasi menurut sumber dan atau uji karakteristik dan atau uji toksikologi. apabila terbukti memenuhi Pasal 7 ayat (3) dan atau ayat (4) maka limbah tersebut merupakan limbah B3. bersifat korosif.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 Oktober 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta pada tanggal 7 Oktober 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MULADI LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 190 . Agar setiap orang mengetahuinya.(4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) akan ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab setelah berkoordinasi dengan instansi teknis dan lemebaga penelitian terkait.

1.2. 1999 TABEL 1.LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 85 TAHUN 1999 TANGGAL : 7 OKTOBER .2-Trikloro-1. DAFTAR LIMBAH B3 DARI SUMBER YANG TIDAK SPESIFIK KODE LIMBAH BAHAN PENCEMAR Pelarut Terhalogenasi D1001a D1002a D1003a D1004a D1005a D1006a D1007a D1008a D1009a D10010a Tetrakloroetilen Trikloroetilen Metilen Klorida 1.2-Trifluoroetana Triklorofluorometana Orto-diklorobenzena Klorobenzena Trikloroetana Fluorokarbon Terklorinasi Karbon Tetraklorida Pelarut Yang Tidak Terhalogenasi D1001b D1002b D1003b D1004b D1005b D1006b D1007b D1008b D1009b D1010b D1011b D1012b D1013b D1014b D1015b D1016b KODE LIMBAH D1017b D1018b Dimethilbenzena Aseton Etil Asetat Etil Benzena Metil Isobutyl Keton n-Butil Alkohol Sikloheksanon Metanol Toluena Metil Etil Keton Karbon Disulfida Isobutanol Piridin Benzena 2-Etoksietanol 2-Nitropropana BAHAN PENCEMAR Asam Kresilat Nitrobenzena .

Asam/Basa D1001c D1002c D1003c D1004c D1005c D1006c D1007c D1008c D1009c D10010c Amonium hydroksida Asam Hidrobromat Asam Hidroklorat Asam Hidrofluorat Asam Nitrat Asam Fosfat Kalium Hidroksida Natrium Hidroksida Asam Sulfat Asam Klorida Yang Tidak Spesifik Lainnya D1001d D1002d D1003d D1004d D1005d PCB's (Polychlorinated biphenyls) Lead scrap Limbah Minyak Diesel Industri Fiber Asbes Pelumas bekas .

Limbah laboratorium . Zn dan Th) − Senyawa Sn-organik − − − − 1.Karbon aktif bekas .Sludge dari IPAL .Katalis bekas . herbisida .Residu proses produksi dan formulasi .Residu proses destilasi. Manufaktur. Distribusi dan Pemakaian 2.Produk off-spec .Alat pengemasan 2 dan perlengkapan . Hg. Hg) . DAFTAR LIMBAH B3 DARI SUMBER YANG SPESIFIK KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D201 PUPUK 2412 Proses produksi amonia. algasida.Residue dari insinerator Bahan aktif pestisida Hidrokarbon terhalogenasi Pelarut mudah terbakar Logam dan logam berat (terutama As.TABEL 2. Produk yang tidak memenuhi persyaratan . fungisida.Sulfida/Senyawa amonia D202 PESTISIDA Bahan organik dan inorganik yang digunakan untuk pemebrantasan atau pengendalian hama atau gulma (insektisida.Pengumpulan debu . rodensida.Pelarut bekas .MFDP1 pestisida .IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi pestisida . defoliant) 2421 .Logam Berat (terutama As. Pb.Sludge proses produksi .Penyimpanan dan pengemasan pestisida .Absorban dan filter bekas . urea dan/atau asam fosfat IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi di atas .Limbah laboratorium . Cu.Sludge dari IPAL . evaporasi . Formulasi.

KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D203 PROSES KLORO-ALKALI Umumnya merupakan kegiatan yanb terkait dalam produksi senyawa kimia atau produk yang berbahan dasar plastik.Sludge hasil proses pengawetan . vinylchloride. melamine formaldehide (MF). klorin. ethylenedichloride. dll. asam hidroklorat . urea formaldehide (UF). dll 2411 2413 2429 Proses produksi klorin (metoda electrolisis dengan menggunakan proses sel merkuril) Pemurnian garam Proses prooduksi soda kaustik (metoda sel merkuri) IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi di atas . hypochlorites.Limbah laboratorium - Logam berat (terutama Hg) Hidrokarbon terhalogenasi D204 2429 − − MFDP resin adesif IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi resin adesif - Bahan dan produk Off-spec Residue dari kegiatan produksi Katalis Bekas Pelarut Bekas Limbah laboratorium Sludge dari IPAL − − Bahan organik (terutanma senyawa fenol Hidrokarbon terhalogenasi . parafin mengandung klorin. polyvinylchloride.Alat yang terkontaminasi Hg .Absorban dan filter bekas . seperti : soda kaustik .Sludge dari IPAL . ADHESIVE RESIN Phenol formaldehide (PF).

KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D205 POLIMER Kegiatan produksi. acrylonitrile styrene (AS). Phthalate (PET). phenolic. polyester. styrene butadiene rubber (SBR) 2413 2430 2520 2430 MFDP monomer dan polimer IPAL yang mengolah efluen dari proses produksi polimer − − − − − − − − − Monomer/oligomer yang tidak bereaksi Katalis bekas Residu produksi/reaksi polimer absorban (misalnya karbon aktif bekas) Limbah Laboratorium Sludge dari IPAL Sisa dan bekas stabiliser (misalnya dalma produksi PVC: Cd. synthetic resin (alkyd. polypropilene (PP). Sb. polystyrene (PS). Pb. polyethylene terephthalate (PET). Zn. Polyvinyl chloride (PVC). epoxy. dengan cara polimerisasi yang menghasilkan produk. polyvinyl acetate (PVA). polyethylene (PE). seperti misalnya . polystyrene (PS). amino. vinyl acrylic). baik khusus ataupun terintegrasi dalam manufaktur produk plastik atau serat. As) Fire retardant (misalnya Sb dan senyawa bromin organik ) Senyawa Sn organik Residu dari proses destilasi − − − − Berbagai senyawa organik Hidrokarbon terhalogenasi Logam berat (terutama Cd. Sn) Sludge terkontaminasi Zn dari proses produksi rayon/resin akrilik . polyurethane. acrylonitrile butadiene styrene (ABS).

Organik . . 2320 2411 2413 2429 MFDP Produk Petrokimia IPAL yang mengolah efluen proses Pengolahan limbah − − − − − − − − − Sludge proses produksi dan fasilitas penyimpanan Katalis bekas Tar (residu akhir ) Residue proses produksi/reaksi Absorban (misalnya karbon aktif) bekas dan filter bekas Limbah Laboratorium Sludge dari IPAL Residu/ash proses spray drying Pelarut bekas . Ni. etana. termasuk produk turunan yang dihasilkan langsung dari produk dasarnya. butana. asam asetat. propana. naftalen.Hodrokarbon terhalogenasi . sikloheksana.Logam berat (terutama Cr. etilen. Misalnya : parafin olefin.Hidrokarbon aromatis D 207 PENGAWETAN KAYU 2010 2021 2029 3511 4520 − − Proses pengawetan kayu IPAL yang mengolah efluen dari proses pengawetan kayu − − − − − − Sludge dari proses pengawetan kayu dan fasilitas penyimpanan Sludge dari alat pengolahan pengawetan kayu Produk off-spec dan produk left-over Pelarut bekas Kemasan bekas Sludge dari IPAL − − − Fenol terklorinasi (misalnya pentaklorofenol) Hidrokarbon terhalogenasi Senyawa Organometal . xilene) dan seluruh produk turunannya. naftan dan Hidrokarbon aromatis (metana.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D206 PETROKIMIA Industry yang menghasilkan produk organik dari proses pemecahan fraksi minyak bumi atau gas alam . propilen. asetilen. toluen. Sb) . benzena.

dross. Cr. Ni. Cd. passivation. slag from furnace Debu. Th and Zn) Larutan asam dan alkali Nitrat Fluorida Sianida (Kompleks) . Cr. Pb. drawing. residu dan/atau sludge dari fasilitas pengendali pencemaran udara Sludge dari IPAL Pasir foundry dan debu cupola Emulsi minyak dari pendingin/pelumas Sludge dari Ammonia still lime Sludge dari proses rolling − − − − Logam berat (terutama As. sheeting Coke manufacturing IPAL yang mengolah efluen dari coke oven/blast furnace − − − − − − − Ash.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − − − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D208 PELEBURAN/PENGOLAH AN BESI DAN BAJA 2710 2731 2891 Proses peleburan besi/baja Proses casting besi/baja Proses besi/baja : rolling. Ni. naftalen) Sianida Limbah minyak D 209 PELEBURAN DAN PEMURNIAN TEMBAGA 2710 2731 − − Penyempurnaan dan pemrosesan baja Steel surface treatment (pickling. Th and Zn) Organik (fenolic. Cd. Pb. cleaning) − − − − − − Larutan asam/alkali bekas dan residunya Residu terkontaminasi sianida (hot metal treatment) Slag dan residu lain yang terkontaminasi logam berat Sludge dari proses pengolahan residu Larutan pengolah bekas Fluxing agent bekas − − − − − Logam berat (terutama As.

KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D210 PELEBURAN TIMAH HITAM (Pb) 2720 2732 3720 Proses peleburan timah sekunder dan/atau primer IPAL yang mengolah efluen dari proses peleburan timah − − − − − − Sludge dari fasilitas proses peleburan Debu dan/atau sludge dari fasilitas pengendali pencemaran udara Ash. Th) Larutan asam D211 PELEBURAN DAN PEMURNIAN TEMBAGA 2720 2732 3720 − − − − Proses primer dan sekunder peleburan dan penyempurnaan tembaga Peleburan dengan electric arch furnace Pabrik asam (Acid plant) IPAL yang mengolah efluen dari proses peleburan tembaga − − − − − − − − − Logam berat (terutama Cu. Zn. slag dan dross yang merupakan residu dari proses peleburan Limbah dari proses skimming process Larutan asam bekas Sludge dari IPAL Sludge dari fasilitas proses peleburan dan penyempurnaan Debu dan/atau sludge dari fasilitas pengendali pencemaran udara Larutan asam bekas Residu dari proses penyempurnaan secara electrolisis Sludge dari IPAL Sludge dari acid plant blowdown Ash. Pb. Cd. Cd. Th) Larutan asam . slag dan dross yang merupakan residu dari proses peleburan − − Logam berat (terutama As. Pb.

Pb) Pigmen dan zat warna Detergen Calico printing . tekstil.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D212 TINTA Kegiatan-kegiatan yang menggunakan tinta seperti percetakan pada kertas. termasuk proses deinking pada pabrik bubur kertas 2221 2102 2109 2422 2520 2211 MFDP Tinta Proses deinking pada pabrik bubur kertas IPAL yang mengolah efluen dari proses yang berhubungan dengan tinta − − − − − − − − − − Sludge dari proses produksi dan penyimpanan Sludge terkontaminasi Pelarut bekas Sludge dari IPAL Residue dari proses pencucian Kemasan bekas tinta Produk off spec dan kadaluarsa − − − − − − − − − − − − Organik (binder dan resin) Hidrokarbon terhalogenasi Senyawa organometal Pelarut mudah terbakar Logam berat (terutama Cr. Cu. plastik. zat warna dan pelarut organic Tensioactive (surfactant) . Cr. Zn) Hidrokarbon terhalogenasi (dari proses dressing dan finishing) Pigment.As D213 TEKSTIL 1711/1712 1721/1722 1723/1729 1810/1820 − − − - Proses finishing tekstil Proses dyeing bahan tekstil Proses printing bahan tekstil IPAL yang mengolah efluen proses kegiatan di atas Sludge dari IPAL yang mengandung logam berat Pelarut bekas (cleaning) Fire retardant (Sb/senyawa brom organik) Logam berat (terutama As. Cd. dll. Pb.

Zn.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D214 MANUFAKTUR DAN PERAKITAN KENDARAAN DAN MESIN Mencakup manufaktur dan perakitan kendaraan bermotor. Zn. Sn) Sianida Senyawa Ammonia Fluorida Fenol Nitrat . 2813/2912291 3/29152927/3 1103410/3420 3430/3530 3591/3592 − Seluruh proses yang berhubungan fabrikasi dan finishing logam. depainting IPAL yang mengolah efluen proses elektroplating dan galvanis − − − − − − − − Sludge pengolahan dan pencucian Larutan pengolah bekas Larutan asam (pickling) Dross. Cu. traktor. degreasing. slag Pelarut bekas (terklorinasi) Larutan bekas proses degreasing Sludge IPAL Residue dari larutan batch − − − − − − Logam dan Logam berat (terutama Cd. Ba. mesin-mesin produksi dll. Pb. pesawat terbang. Hg. Cr. generator. manufaktur mesin dan suku cadang dan perakitan. weld cleaning. Cu. Ba. chemical conversion coating. Ni. As. grinding. etching. sepeda. alat-alat berat. Hg. Se. Cr. Ag. polishing. cleaning. Ni. anodizing Pre-treatment: pickling. Pb. sand blasting. Se. Termasuk kegiatan yang terkait dengan D215 dan D216 IPAL yang mengolah efluen dari proses di atas − − − − Sludge proses produksi Pelarut bekas dan cairan pencuci (organik dan inorganik) Residu proses produksi Sludge dari IPAL − − − − − − − − Logam dan Logam berat (terutama As. stripping. kapal. Sn) Nitrat Residu cat Minyak dan gemuk Senyawa amonia Pelarut mudah terbakar Asbestos Larutan Asam D215 ELEKTROPLATING DAN GALVANIS Mencakup kegiatan pelapisan logam pada permukaan logam atau plastik dengan proses elektris 2892 2710/2720 2811/2812 2891/2893 2899/2911 2912/2915 2919/2922 2924/2925 2926/2927 2930/3110 3120/3190 3210/3220 3230/3410 3420/3430 3530/3591 3592/3610 3699/4520 − − − Semua proses yang berkaitan dengan kegiatan pelapisan logam termasuk perlakuan : phosphating. Cd. Ag.

Cr.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA 216 CAT Termasuk varnish dan bahan pelapis lain 2422 2029/2811 2812/2892 2893/2899 2911/2912 2915/2919 2922/2924 2925/2926 2927/2930 3110/3120 3190/3150 3210/3220 3230 3410 3420/3430 3530/3591 3592/3610 3699/4520 3511/3694 3699 MFPD cat IPAL yang mengolah efluen proses yang berkaitan dengan cat − − − − − − − − − Sludge cat Pelarut bekas Sludge dari IPAL Filter bekas Produk off-spec Residu dari proses distilasi Cat anti korosi (Pb. Hg. Se. Zn) Senyawa Sn Organik . Ba. Cr) Debu dan/atau sludge dari unit pengendalian pencemaran udara Sludge proses dip painting − − − − − − − Bahan organic (resin) Hidrokarbon terhalogenasi Caustic sludge Pelarut mudah meledak Pigmen Logam dan logam berat (terutama As. Cd. Ag. Pb.

NI.Hg) Residu padat mengandung logam D218 BATERE SEL BASAH 3140 − − MFDP batere sel basah IPAL yang mengolah effluen proses produksi batere - Sludge proses produksi Batere bekas. ash - Logam berat (terutama Cd. slag. off specdan kadaluarsa Sludge dari IPAL Metal powder Dust.Zn. PB. off specdan kadaluarsa Sludge dari IPAL Larutan Asam/alkali - Logam berat (terutama Cd. Ni. Sb) Asam/alkali Sel mengandung Litium .KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D217 BATERE SEL KERING 3140 MFDP batere sel kering IPAL yang mengolah effluen proses produksi batere - Sludge proses produksi Residu proses produksi Batere bekas. Pb. Zn.

Se. Cd. Sn. Sb) Nitrat Fluorida Residu cat Bahan Organikl Larutan asam/alkalin Pelarut terhalogenasi Residu proses etching (Fe Cl3) D220 EKSPLORASI DAN PRODUKSI MINYAK GAS DAN PANAS BUMI 1110 1120 Eksplorasi dan produksi Pemeliharaan fasilitas produksi Pemeliharaan fasilitas penyimpanan IPAL yang mengolah efluen pemrosesan minyak dan gas alam − Tangki penyimpan − − − − − − − − − − − Slop minyak Lumpur bor (drilling mud) Sludge minyak Karbon aktif dan absorban bekas IPAL yang mengolah efluen pemroses minyak dan gas alam Cutting pemboran Residu dasar tangki (yang memiliki kontaminan di atas standar dan memiliki karakteristik limbah B3 Bahan organik Bahan terkontaminsai Logam berat Merkuri (pada karbon aktif. Hg. molecular sieve. Cr. Zn. Ag. dll) . Cu.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D219 KOMPONEN ELECTRONIK/ PERALATAN ELEKTRONIK 3110/3120 3150/3190 3210/3220 3230/3320 − Manufaktur dan perakitan komponen dan peralatan elektronik − IPAL yang mengolah efluen proses − − − − − − − − − Sludge proses produksi Pelarut bekas Mercury contactor/switch Lampu Fluorescence (Hg) Coated glass Larutan etching untuk printed circuit Caustic stripping (photoresist) Residu solder dr fluxnya Limbah pengecatan - - Logam dan logam berat (terutama As. Ni. Pb. Ba.

timah. Ni) Sulfida Tensioactive (surfactant. Cr. emas. batubara. etc) − − − Logam berat Residu pelarut Sianida − − - .KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − − − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D221 KILANG MINYAK DAN GAS BUMI 2320 Proses pengolahan IPAL yang mengolah efluen proses pengolahan Dissolved Air Flotation Unit (DAF) Pembersihan heat exchanger Tangki penyimpan − − − − − − − − D222 PERTAMBANGAN 1320 1020 Kegiatan penambangan yang berpotensi untuk menghasilkan limbah B# seperti penambangan tembaga. Pb. dll − − Sludge bekas Katalis bekas Karbon aktif bekas Sludge dari IPAL Filter bekas Residu dasar tangki (yang memiliki kontaminan diatas standar dan memiliki karakteristik limbah B3 ) Limbah Laboratorium Limbah PCB Sludge pertambangan terkontaminasi logam berat Flotation sludge/tailing yang memiliki kontaminan di atas standar dan memiliki karakteristik limbah B3) Pelarut bekas Limbah Laboratorium Limbah PCB − − − − − Bahan Organik Bahan terkontaminasi minyak Logam dan logam berat (terutama Ba.

Zn. Hg. Ba) Senyawa organometal Sianida Nitrat Fluorida. Pb. Ni. Sb. Sulfida Arsen .KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D223 PLTU YANG MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR BATUBARA 4010 Pembakaran batubara yang digunakan untuk pembangkit listrik − − − Fly ash Bottom ash (yang memiliki kontaminan di atas standar dan memiliki karakteristik limbah B3) Limbah PCB Sludge dari proses tanning and finishing Pelarut bekas Sludge dari IPAL Asam kromat bekas Sludge dari proses produksi dan fasilitas penyimpanan Pelarut bekas Sludge dari IPAL Residu produksi/reaksi Absorban dan filter bekas Produk off-spec − − Heavy metals Organic materials (PNApolynuclear aromatics) D224 PENYAMAKAN KULIT 1911 1912 1920 − − − − − Prose tanning dan finishing Proses trimming/shaving/buffing IPAL yang mengolah efluen dari proses di atas MFDP zat warna dan pigmen IPAL yang mengolah efluen proses yang berkaitan dengan zat warna dan pigmen − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − − Heavy metals (especially Cr. Pb) Organic solvent Acid solution D225 ZAT WARNA DAN PIGMEN 2422 2429 2411 Bahan organik Hidrokarbon terhalogenasi Logam dan logam berat (terutama Cr. Cu. Sn.

KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D226 FARMASI 2423 MFDP produk farmasi IPAL yang mengolah efluen proses manufaktur dan produksi farmasi − − − − − − − − − − − − − − − − Sludge dari fasilitas produksi Pelarut bekas Produk Off-spec. evaporasi dan reaksi Limbah laboratorium Residu dari proses insinerasi Limbah klinis Produk farmasi kadaluarsa Peralatan lab terkontaminasi Kemasan produk farmasi Limbah laboratorium Residu dari proses insinerasi − − − − − Bahan Organik Hidrokarbon terhalogenasi Pelarut mudah meledak Logam berat (terutama As) Bahan aktif D227 RUMAH SAKIT 7511 9309 − Seluruh RS dan laboratorium klinis − − − Limbah terinfeksi Residu produk farmasi Bahan-bahan kimia . kadaluarsa dan sisa Sludge dari IPAL Peralatan dan kemasan bekas Residu proses produksi dan formulasi Absorban dan filter (karbon aktif) Residu proses destilasi.

makanan. dll 7310 7422 Seluruh jenis laboratorium kecuali yang termasuk D227 − − − Pelarut Bahan kimia kadaluarsa Residu sampel − Bahan kimia (murni atau terkonsentrasi) dan larutan kimia berbahaya atau beracun D229 FOTOGRAFI 2211/2221 2222/2429 − MFDP bidang fotografi − − − − − Larutan developer. cat.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D228 LABORATORIUM RISET DAN KOMERSIAL Beberapa industri memiliki laboratorium misalnya : tekstil. bleach solution Pelarut bekas Off-set Cr Residu proses produksi (tar) Residu minyak − − − − − Perak Pelarut organik Senyawa pengoksidasi Hidrokarbon organik (PNA) Residu minyak D230 PENGOLAHAN BATUBARA DENGAN PIROLISIS Cokes productions 2310 − − Proses produksi IPAL yang mengolah efluen dari proses D231 DAUR ULANG MINYAK PELUMAS BEKAS 9000 − Proses purifikasi dan regenerasi − − − Filter dan absorban bekas Residu proses destilasi dan evaporasi (tar) Residu minyak/emulsi/sludge (DAF/dasar tangki) − − − − Material terkontaminasi minyak Logam berat (terutama Zn. penyempurnaan. bahan kimia. fixer . Pb. karet. pulp & paper. Cr) Sludge minyak Hidrokarbon terhalogenasi .

Zn) Residu minyak Residue asam D233 PENGOLAHAN LEMAK HEWANI/NABATI DAN DERIVATNYA 1514 − Proses manufaktur dan formulasi produk lemak nabati/hewani dan turunannya − − − − − − − − − − − Residu filtrasi Sludge minyak/lemak Limbah Laboratorium Residu proses destilasi Katalis bekas (Cr) Manufaktur anoda – tar dan residu karbon Proses Skimming Spent pot lining (katoda) Residu proses peleburan (slag dan dross) Sludge dari IPAL Anodizing sludge D234 ALLUMINIUM THERMAL METALLURGY ALLUMINIUM CHEMICAL CONVERSION COATING 2720 2732 − − − Proses peleburan dan penyempurnaan (primer dan sekunder) Pelapisan aluminium IPAL yang mengolah efluen dari proses coating − − − Logam berat (terutama) Residue asam Sianida (proses Cryolite) .KODE LIMBA H D232 JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA SABUNDETERJEN/PRODUK PEMBERSIH DESINFEKTAN/KOSMETIK 2424 Proses manufaktur dan formulasi produk − − − − − Rsidu produksi dan konsentrat Filter dan absorban bekas Pelarut bekas Konsentrat Off-spec dan kadaluarsa Limbah Laboratorium − − − − − − − − − − Bahan organik Hidrokarbon terhalogenasi Logam berat (Zn) Fluorida Nitrat Tensioactive kuat Residu asam Logam berat (terutama Cr. Ni.

Fluorida Asam Borat dan oksalat Larutan Asam/Alkali Limbah minyak .Zn 2720 Seng terelektrolisis dalam proses peleburan dan penyempurnaan Pyrometallurgical zinc peleburan dan penyempurnaan IPAL yang mengolah efluen proses peleburan dan penyempurnaan − − − − − − − − − − − − Sludge dari proses peleburan dan fasilitas pemurnian udara Debu/sludge dari peralatan pengendali penecemaran udara Slag dan dross (residu proses peleburan) Proses Skimming Sludge dari IPAL Sludge dari Acid plant blowdown Electrolytic anode slime/sludge Larutan Oksalat dan sludgenya Larutan Permanganate (pickling) Residu asam pickling Larutan pembersih alkali Minyak emulsi pendingin/pelumas − − Logam berat (terutama Zn. Th) Residu asam D236 PROSES LOGAM NONFERO − Proses cold rolling. sheeting dan finishing logam nonferro (misalnya Cu. Cr. Cd. Pb. Cr. alloy) − − − − − Logam berat (terutama As. Ba. Ni.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D235 PELEBURAN DAN PENYEMPURNAAN SENG . Zn. Pb) Nitrat. Al. drawing.

dll − − − Emulsi minyak (misalnya cairan cutting dan minyak pendingin) Sludge dari proses shaping Pelarut bekas − − − − Logam dan logam berat Emulsi minyak Hidrokarbon terhalogenasi Fluorida-Nitrat . drawing. Mn) Cyanides D238 METAL/PLASTIC SHAPING − Semua proses yang berkaitan termasuk : grinding. rolling. carburizing) IPAL yang mengolah efluen proses − − Sludge Pelarut bekas − − Metals and heavy metals (especially Ba. Cr.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D237 METAL HARDENING 2710/2720 2811/2812 2891/2892 2899/2911 2912/2915 2919/2922 2924/2926 2927/3110 3120/3190 3430/3530 2710/2720 2731/2732 2811/2812 2891/2893 2899/2911 2912/2915 2919/1922 2924/2925 2926/2927 2930/3110 3120/3130 3410/3420 3430/3511 3530/3591 3592/4520 Seluruh proses pengolahan (misalnya : nitriding. cutting. filling.

Ni) Hidrokarbon terhalogenasi Bahan Organik Ammonia Sulfida Fluorida Logam berat Residu pembakaran tidak sempurna Hidrokarbon terhalogenasi Bahan Organik D240 IPAL INDUSTRI Fasilitas pengolahan limbah cair terpadu dari kegiatankegiatan yang termasuk dalam tabel ini D241 PENGOPERASIAN INSINERATOR LIMBAH DAUR ULANG PELARUT BEKAS 9000 − − Proses insinerasi limbah D242 Recycle/ regenerasi/ purifikasi pelarut organik bekas − − − − − Fly ash Slag/bottom ash Residue pengolahan flue gas Residu proses distilasi dan proses evaporasi Filter dan absorban bekas − − − − .. Cu. Hg.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D239 LAUNDRY DAN DRY CLEANING 9301 − Proses cleaning dan degreasing yang memakai pelarut organik dan − pelarut kaustik kuat. − − Pelarut bekas Larutan kaustik bekas Sludge proses cleaning dan degreasing Sludge IPAL − − − − − − − − − Pelarut organik Hidrokarbon terhalogenasi Lemak dan gemuk Logam dan logam berat (terutama As. Ag. Pb. Cr. Cd. Se.

Co.terlapis logam Emulsi minyak Residu dari proses etching Hg (glass switches) Debu/sludge dari peralatan pengendali pencemaran udara Residue Opal glass. GASKET.As Sisa Asbestos Adhesive coating − − − − − Residu Alkali Logam berat Logam berat (terutama Pb. PACKING 3699 − Manufaktur dan formulasi produk seal.As Bronzing and decolorizing agent . gasket dan packing − − − − Asbestos Logam berat (terutama Pb.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D243 GAS INDUSTRI 4020 Manufaktur dan formulasi gas industri (acetylene. Zn) . Cr. Cd. hidrogen) Manufaktur dan formulasi produk gelas dan keramik/enamel − − − − − − − − − Limbah Carbide-residu Katalis bekas (reformer/desulfurizer) Bubuk gelas . Ni. Hg. Ba) Limbah minyak Fluorida D244 GELAS KERAMIK/ENAMEL 2610 D245 SEAL.

gemuk Residu dari kegiatan pembersihan Toner bekas − − Pelarut organik Logam berat dari tinta/pewarna D247 CHEMICAL /INDUSTRIAL CLEANING 4520 9309 − Larutan asam/alkali D248 FOTOKOPI 5150 2429 − − − − Pemeliharaan peralatan MFDP toner Proses replacement. atap . degreasing) Limbah cat Asam Batere bekas − − − − Limbah minyak Pelarut mudah terbakar Asam Logam berat . refilling. etc − − − − − − Adesif/perekat sisa dan kadaluarsa Residu pencetakan (tinta/pewarna) Pelarut bekas Sludge dari IPAL Alkali. insulation − − Asbestos − − Asbestos D251 BENGKEL PEMELIHARAAN KENDARAAN − Pemeliharaan mobil. − − − − − Pelumas bekas Pelarut (cleaning. termasuk body repair.KODE LIMBAH JENIS INDUSTRI/KEGIATAN KODE KEGIATAN − − − SUMBER PENCEMARAN ASAL/URAIAN LIMBAH PENCEMARAN UTAMA D246 PRODUK KERTAS 2102 2109 Manufaktur dan formulasi produk kertas Kegiatan pencetakan dan pewarnaan Degreasing. phosphating. minyak. reconditioning atau retrofitting dari transformer dan capacitor − − − − − Logam berat (terutama Se) D249 SEMUA JENIS INDUSTRI YANG MENGHASILKAN/MENGGUNAKAN LISTRIK Limbah PCB PCB D250 SEMUA JENIS INDUSTRI KONSTRUKSI − Penggantian fireproof insulation (ac). motor. refinishing. kereta api. descaling. pesawat. pelarut asam dan/atau larutan oksidator yang terkontaminasi logam. derusting. passivation.

.

3-Diisocyanatometil-Benzena Dietilbenzena Heksahidrobenzena Benzenasulfonic Klorida Benzenesulfonil Klorida Berilium dan senyawanya Bis(Klorometil)eter Bromoform 1.3-Butadiena n-Butil alkohol Butana .2.3. penta Arsen Disulfida.4.4-heksakloro-1. TUMPAHAN. ATAU BUANGAN PRODUK YANG TIDAK MEMUHI SPESIFIKASI. Arsen Triklorida Dietilarsina Barium dan senyawanya Chromated Copper Arsenate Benzena Klorobenzena 1. garam-garamnya dan ester-esternya Aseton Asetonitril Asetilklorida Akrolein Akrilamida Akrilonitril Aldrin Aluminium alkil dan turunannya Aluminium Fosfat Amonium Pikrat Amonium Vanadat Anilina Arsen dan senyawanya Arsen Oksida.TABLE 3. SISA KEMASAN. DAFTAR LIMBAH DARI BAHAN KIMIA KADALUARSA. tri. KODE LIMBAH D3001 D3002 D3003 D3004 D3005 D3006 D3007 D3008 D3009 D3010 D3011 D3012 D3013 D3014 D3015 D3016 D3017 D3018 D3019 D3020 D3021 D3022 D3023 D3024 D3025 D3026 D3027 D3028 D3029 D3030 D3031 D3032 D3033 D3034 BAHAN PENCEMAR Asetaldehida Asetamida Asam asetat.1.

4-Dinitrotoluene 2.1 -Dikloroetene 1.2-Dikloropropana 1.KODE LIMBAH D3035 D3036 D3037 D3038 D3039 D3040 D3041 D3042 D3043 D3044 D3045 D3046 D3047 D3048 D3049 D3050 D3051 D3052 D3053 D3054 D3055 D3056 D3057 D3058 D3059 D3060 D3061 D3062 D3063 D3064 D3065 D3066 D3067 D3068 D3069 D3070 D3071 D3072 D3073 BAHAN PENCEMAR Butil aldehida Cadmium dan senyawanya Kalsium kromat Amoniacal copper arsenate Dikloro Karbonat Karbon disulfida Karbon tetraklorida Kloroasetaldehida Klorodana. garam-garam dan esternya DDD DDT 1.2-Dikloroetana 1.6-Dinitrotoluene Endrin dan senyawa metabolitnya Epiklorohidrin 2-Etoksi etanol .3-Diklorobenzena 1.4-D. Isomer alfa & beta Kloretana (Etillklorida) Kloroetena (vinil klorida) Klorodibromometana Kloroform p-Kloroanilina 2-Kloroetil vinil eter Klorometil metil eter Asam Kromat Chromium dan senyawa-senyawanya Sianida dan senyawa-senyawanya Kreosot Kumena Siklohexana 2.2-Diklorobenzena 1.3-Dikloropropena Dieldrin Dimetil Ftalat Dimetil sulfat 2.

KODE LIMBAH D3074 D3075 D3076 D3077 D3078 D3079 D3080 D3081 D3082 D3083 D3084 D3085 D3086 D3087 D3088 D3089 D3090 D3091 D3092 D3093 D3094 D3095 D3096 D3097 D3098 D3099 D3100 D3101 D3102 D3103 D3104 D3105 D3106 D3107 D3108 D3109 D3110 D3111 BAHAN PENCEMAR 1-Fenil Etanon Etil akrilat Etil asetat Etilbenzena Etil karbamat (uretan) Etil eter Asam Etilen bisditiokarbamic dan senyawanya Etilen dibromida Etilen diklorida Etilen glikol (monoetil ether) Etilen oksida (Oksirana) Fluorin Fluoroasetamida Asam Fluoroasetat dan garam sodiumnya Formaldehida Asam Formiat Furan Heptaklor Heksaklorobenzena Heksaklorobutadiena Heksakloroetana Hidrogen Sianida Hidrazina Asam fosfat Asam fluorat Asam fluorida Asam sulfida Hidroksibenzena (fenol) Hidroksitoluen (cresol) Isobutil alkohol Timbal asetat Timbal kromate Timbal nitrat Timbal oksida Timbal fosfat Lindana Maleat anhidrida Maleat hidrazida .

.KODE LIMBAH D3112 D3113 D3114 D3115 D3116 D3117 D3118 D3119 D3120 D3121 D3122 D3123 D3124 D3125 D3126 D3127 D3128 D3129 D3130 D3131 D3132 D3133 D3134 D3135 D3136 D3137 D3138 D3139 D3140 D3141 D3142 D3143 D3144 D3145 D3146 D3147 D3148 D3149 BAHAN PENCEMAR Mercuri dan senyawa-senyawanya Metil hidrazine Metil paration Tetraklorometana Tribromometana Triklorometana Triklorofluorometana Metanol (metil alkohol) Metoksiklor Metil bromida Metil klorida Metil kloroform Metilen bromida Metil isobutil keton Metil etil ketone Metil etil ketone peroksida Metil benzene (toluene) Metil iodid Naftalena Nitrat oksida Nitrobenzena Nitrogliserin Oksirana Paration Paraldehida Pentaklorobenzena Pentakloroetana Pentakloronitrobenzena Pentaklorofenol Perkloroetilen Phenil tiourea Fosgen Fosfin Fospor sulfida Fospor pentasulfida Ftalat anhidrida 1 -Bromo .2-propanon 2-Nitropropana.

4.1.5-TP (Silvex) Natrium azida Striknidin-10-satu dan garamnya Asam sulfat.5-Trinitrobenzena Vanadium oksida Vanadium pentaoksida Vinil klorida Warfarin Dimetylbenzena Seng Posfit PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI .1.6-Triklorofenol 1.4.4.2-Tetrakloroetana 1.3.4.4.4.2.3.6-Tetraklorofenol Tetraklorometana Tetra etil timbal 2.KODE LIMBAH D3150 D3151 D3152 D3153 D3154 D3155 D3156 D3157 D3158 D3159 D3160 D3161 D3162 D3163 D3164 D3165 D3166 D3167 D3168 D3169 D3170 D3171 D3172 D3173 D3174 D3175 D3176 D3177 D3178 BAHAN PENCEMAR n-Propilamina Propilen Diklorida Pirene Piriden Selenium dan senyawanya Selenium dioksida Selenium sulfida Perak Sianida 2.5-Tetraklorobenzena 1.5-Triklorofenol 2.1. Dimetil Ester Sulfat Sulfur Fosfit 2.2-Tetrakloroetana 2.5-T 1 2.

4-D 1.0 200.0 6.0 5.0 1.2-Dicholoroethane 1. 1999 BAKU MUTU TCLP ZAT PENCEMAR DALAM LIMBAH UNTUK PENENTUAN KARAKTERISTIK SIFAT RACUN KODE LIMBAH D 4001 D 4002 D 4003 D 4004 D 4005 D 4006 D 4007 D 4008 D 4009 D 4010 D 4011 D 4012 D 4013 D 4014 D 4015 D 4016 D 4017 D 4018 D 4019 D 4020 D 4021 D 4022 D 4023 D 4024 D 4025 D 4026 D 4027 D 4027 KONSENTRASI DALAM EKSTRASI LIMBAH (mg/L) (TCLP) 0.5 500.0 200.07 5.0 200.0 200.0 10.4-Dinitrotoluene Endrin Fluorides Heptachlor+Heptachlor Epoxide Hexachlorobenzene Hexachlorobutadiene Hexachloroethane .02 150.13 0.7 0.5 0.13 0.4-Dicholorobenzene 1.0 PARAMETER Aldrin + Dieldrin Arsen Barium Benzene Boron Cadmium Carbon tetrachloride Chlordane Cholorobenzene Chloroform Chromium Copper o-Cresol m-Cresol p-Cresol Total Cresol Cyanide (free) 2.5 0.0 0.LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 85 TAHUN 1999 TANGGAL : 7 OKTOBER.0 100 0.0 7.5 0.0 10.03 100.0 0.0 20.5 3.008 0.1-Dicholoroethylene 2.

000.5 35.0 5.4.4 0.0 3.0 2. Nahattands .0 2.0 5.4.0 100.3 1.0 0.4.6-Tricholorophenol 2.2 50.5 0.5 0.5-TP (Silvex) Vynil Choloride Zinc KONSENTRASI DALAM EKSTRASI LIMBAH (mg/L) (TCLP) 5.0 0.0 0.KODE LIMBAH D 4029 D 4030 D 4031 D 4032 D 4033 D 4034 D 4035 D 4036 D 4037 D 4038 D 4039 D 4040 D 4041 D 4042 D 4043 D 4044 D 4045 D 4046 D 4047 D 4048 D 4049 D 4050 D 4051 D 4052 D 4053 PARAMETER Lead Lindane Mercury Methoxychlor Methyl Ethyl Ketone Methyl Parathion Nitrate+ Nitrite Nitrite Nitrobenzene Nitrilotriacetic acid Pentacholorophenol Pyridine Parathio PCBs Selenium Silver Tetracholoroethylene (PCE) Toxaphene Trichloroethylene (TCE) Trihalomethanes 2.0 200.0 0.0 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I ttd dan cap Lambock V.7 1.0 1.5-Trichlorophenol 2.0 100.0 5.7 0.2 10.0 400.

NOS* Arsenic acid D 5031 … . NOS Any congenor polychlorinated dibenzo-furan Any congenor polychlorinated dibenzo-p-dioxin Aramite Arsenic Arsenic compounds.LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 85 TAHUN 1999 TANGGAL : 7 OKTOBER 1999 DAFTAR ZAT PENCEMAR DALAM LIMBAH YANG BERSIFAT KRONIS KODE LIMBAH D 5001 D 5002 D 5003 D 5004 D 5005 D 5006 D 5007 D 5008 D 5009 D 5010 D 5011 D 5012 D 5013 D 5014 D 5015 D 5016 D 5017 D 5018 D 5019 D 5020 D 5021 D 5022 D 5023 D 5024 D 5025 D 5026 D 5027 D 5028 D 5029 D 5030 NAMA UMUM Acethonitrile Acethophenone 2-Acetylaminefluorene Acetyl chloride 1-Acethyl-2-thiourea Acidic solutions or acid in solid form Acrolein Acrylamide Acrylonitrile Aflatoxins Aldicarb Aldicarb sulfone Aldrin Alkyl alcohol Alkyl chloride Aluminium phosphide 4-Aminobiphenyl 5(Aminomethyl)3-isoxazolol 4-Aminobiphenyl Amitrole Ammonium vanadate Aniline Antimony Antimony compounds.

KODE LIMBAH D 5031 D 5032 D 5033 D 5034 D 5035 D 5036 D 5037 D 5038 D 5039 D 5040 D 5041 D 5042 D 5043 D 5044 D 5045 D 5046 D 5047 D 5048 D 5049 D 5050 D 5051 D 5052 D 5053 D 5054 D 5055 D 5056 D 5057 D 5058 D 5059 D 5060 D 5061 D 5062 D 5063 D 5064 D 5065 D 5066 D 5067 D 5068 NAMA UMUM Arsenic pentoxide Arsenic trioxide Asbestos (dust & fibres) Auramine Azaserine Barban Barium Barium compounds. NOS Calcium chromate D 5069 … . NOS Barium cyanide Basic solutions or bases in solid form Bendiocarb Bendiocarb-phenol Benomyl Benz(e)acridine Benz(a)anthracene Benzal chloride Benzene Benzenearsonic acid Benzidine Benzo(b)fluoranthene Benzo(j)fluoranthene Benzo(k)fluoranthene Benzo(a)pyrene p-Benzoquinone Benzotrichloride Benzyl chloride Beryllium powder Beryllium compounds. NOS Bis (pentamethylene)-thiuram tetrasulfide Bromoaceton Bromoform 4-Bromophenyl phenyl ether Brucine Butyl benzyl phtalate Caodylie acid Cadmium Cadmium compounds.

NOS Chrysene Citrus red no. NOS* Chlornaphazine Choloroacetaldehyde Chloroalkyl ethers.KODE LIMBAH D 5069 D 5070 D 5071 D 5072 D 5073 D 5074 D 5075 D 5076 D 5077 D 5078 D 5079 D 5080 D 5081 D 5082 D 5083 D 5084 D 5085 D 5086 D 5087 D 5088 D 5089 D 5090 D 5091 D 5092 D 5093 D 5094 D 5095 D 5096 D 5097 D 5098 D 5099 D 5100 D 5101 D 5102 D 5103 D 5104 D 5105 D 5106 NAMA UMUM Calcium cyanide Carbaryl Carbendazim Carbofuran Carbofuran phenol Carbon disulfide Carbon oxyfluoride Carbon tetrachloride Carbosulfan Chloral Chlorambucil Chlordane Chlordane (alpha and gamma isomers) Chlorinated benzenes. NOS* Chlorinated fluorocarbons. NOS* p-Chloroaniline Chlorobenzene Chlorobenzilate p-Chloro-m-eresol 2-Chloroethyl vinyl ether Chloroform Chloromethyl methyl eter Beta-Chloronaphtalene o-Chlorophenol 1-(o-Chlorophenyl)thiourea Chloroprene 3-Chloropropionitrile Chromium Chromium compounds. NOS* Chlorinated phenol. NOS* Chlorinated naphtalene. NOS Chlorinated ethane. 2 Coal tar creosole .

NOS* 3.h)pyrene Dibenzo(a. esters Daunomycin Dazomet DDD DDE DDT Diallate Dibenza(a.e)pyrene Dibenzo(a.l)pyrene 1.6-dinitrophenol Cyclophosphamide 2.2-Dibromo-3-chloropropane Dibutyl pthalate o-Dichlorobenzene m-Dichlorobenzene p-Dichlorobenzene Dichlorobenzene.4-Dichloro-2-butene Dichlorodifluoromethane Dichloroethylene.4-D.g)carbazole Dibenzo(a.h)acridine Dibenza(a.4-D 2. salt.j)acridine Dibenza(a.3-Dichlorobenzidine 1.h)anthraene 711-Dibenzo(c.KODE LIMBAH D 5107 D 5108 D 5109 D 5110 D 5111 D 5112 D 5113 D 5114 D 5115 D 5116 D 5117 D 5118 D 5119 D 5120 D 5121 D 5122 D 5123 D 5124 D 5125 D 5126 D 5127 D 5128 D 5129 D 5130 D 5131 D 5132 D 5133 D 5134 D 5135 D 5136 D 5137 D 5138 D 5139 D 5140 D 5141 D 5142 D 5143 D 5144 NAMA UMUM Copper Cyanide Creosole Cresol (cresilic acid) Crotonaldehyde m-Cumenyl methyl carbamate Cyanides (soluble salt & complexes). NOS* D 5145 … . NOS* Cyanogen Cyanogen bromide Cyanogen chloride Cyeasin Cycloale 2-Cyclohexyl-4.

N’-Diethylhydrazine O.4-Dimethylphenol Dimethyl phtalate Dimethyl sulfate D 5184 … .12-Dimethylbenz(a)anthracene 3. NOS* Dichloropropene. NOS* Dichloropropanol.2.KODE LIMBAH D 5145 D 5146 D 5147 D 5148 D 5149 D 5150 D 5151 D 5152 D 5153 D 5154 D 5155 D 5156 D 5157 D 5158 D 5159 D 5160 D 5161 D 5162 D 5163 D 5164 D 5165 D 5166 D 5167 D 5168 D 5169 D 5170 D 5171 D 5172 D 5173 D 5174 D 5175 D 5176 D 5177 D 5178 D 5179 D 5180 D 5181 D 5182 D 5183 NAMA UMUM 1.4-Diethyleneoxyde Diethylhexyl phtalate N.3”Dimethoxibenzidine p-Dimethylaminoazobenzene 7.2-Dimethylhydrazine Alpha.4-Diepoxybutane Diethylarsine 1.3’-Dimethylbenzidine Dimethylcarbamyl chloride 1.alpha-Dimethylphenethylamine 2.4-Dichlorophenol 2.3.1-Dimethylhydrazine 1.1-Dichloroethylene 1. NOS* 1.O-Diethyl O-pyrazinyl phosporothioate Diethylene glycol.2-Dichloroethylene Dichloroethyl ether Dichloroisopropyl ether Dichloromethoxy ethane Dichloromethyl ether 2.6-Dichlorophenol Dichlorophenylarsine Dichloropropane.O-Diethyl S-methyl dithiophosphate Diethyl-p-nitrophenyl phosphate Diethyl phtalate O. dicarbamate Diethylstillbesterol Dihydrosafrole Diisopropylfluorophospahate (DTP) Dimethoate 3.3-Dichloropropene Dieldrin 1.

6-Dinitro-o-cresol 4. NOS* 4.6-Dinitro-o-cresol salts 2.KODE LIMBAH D 5184 D 5185 D 5186 D 5187 D 5188 D 5189 D 5190 D 5191 D 5192 D 5193 D 5194 D 5195 D 5196 D 5197 D 5198 D 5199 D 5200 D 5201 D 5202 D 5203 D 5204 D 5205 D 5206 D 5207 D 5208 D 5209 D 5210 D 5211 D 5212 D 5213 D 5214 D 5215 D 5216 D 5217 D 5218 D 5219 D 5220 D 5221 D 5222 NAMA UMUM Dimetilen Dinitrobenzene.2-Diphenylhydrazine Di-n-propylnitrosamine Disulfiram Disulfoton Dithiobiuret Endosulfan Endothall Endrin Endrin metabolites Epichlorohydin Epihephrine EPTC Ethyl carbamate (urethane) Ethers Ethyl cyanide Ethylenebisdithiocarbamic acid Ethylenebisdithiocarbamic acid. salts & esters Ethylene dibromide Ethylene dichloride Ethylene glicol monoethyl ether Ethyleneimine Ethylene oxyde Ethylenethiourea Ethylidene dichloride Ethylmethacrylate Ethyl methanesulfonate Ethyl ziram Famphur Ferbam .6-Dinitroluene Dinoseb Di-n-octylphtalate Diphenylamine 1.4-Dinitrophenol 2.4-Dinitroluene 2.

KODE LIMBAH D 5223 D 5224 D 5225 D 5226 D 5227 D 5228 D 5229 D 5230 D 5231 D 5232 D 5233 D 5234 D 5235 D 5236 D 5237 D 5238 D 5239 D 5240 D 5241 D 5242 D 5243 D 5244 D 5245 D 5246 D 5247 D 5248 D 5249 D 5250 D 5251 D 5252 D 5253 D 5254 D 5255 D 5256 D 5257 D 5258 D 5259 D 5260 NAMA UMUM Fluoranthene Fluorine Fluoroacetamide Fluoroacetic acid. gamma isomers) Heptachlorodibenzofurans Heptachlorodibenzo-p-dioxin Hexacchlorobenzene Hexachlorobutadiene Hexachlorodicyclopentadiene Hexachlorodibenzo-p-dioxin Hexachlorodibenzofurans Hexachloroethane Hexachlorophene Hexachloropropene Hexaethyl tetraphosphate Hexavalent chromium compounds Hydrazine Hidrogen cyanide Hydrogen fluoride Hydrogen sulfide Indenol(1.2. sodium salt Formaldehyde Formetanate hydrochloride Formic acid Formparanate Glycidylaldehyde Halogenated organic solvents Halomethanes.3-ed)pyrene 3-lodo-2-propynyl-n-butylearbamate Inorganic cyanides Inorganic fluorine compounds Isobutyl alcohol Isodrin Isolan Isosafrole D 5261 … . NOS Heptachlor Heptachlor Epoxide Heptachlor Epoxide (alpha. beta.

NOS* Lead acetate Lead phosphate Lead subacetate Lindane Malcic anhydride Malcic hydrazine Malononitrile Manganese dimethyldithio-carbamate Melphalan Mercury Mercury compounds. NOS* Mercury fulminate Metal carbonyl Metam sodium Methacrylonitrile Methapyrilene Methiocarb Methomyl Methoxychlor Methyl bromide Methyl chloride Methyl chlorocarbonate Methyl chloroform 3-Methylcholanthrene 4.4-Methylenebis(2-chloroaniline) Methylene bromide Methylene chloride Methyl ethyl ketone (MEK) Methyl ethyl ketone peroxide Methyl hydrazine Methyl iodide Methyl isocyanate 2-methyllactonitrile D 5298 … ..KODE LIMBAH D 5261 D 5262 D 5263 D 5264 D 5265 D 5266 D 5267 D 5268 D 5269 D 5270 D 5271 D 5272 D 5273 D 5274 D 5275 D 5276 D 5277 D 5278 D 5279 D 5280 D 5281 D 5282 D 5283 D 5284 D 5285 D 5286 D 5287 D 5288 D 5289 D 5290 D 5291 D 5292 D 5293 D 5294 D 5295 D 5296 D 5297 NAMA UMUM Kepone Lasiocarpine Lead Lead compounds.

hydrochloric salts Nitrogen mustard N-oxides Nitrogen mustard. NOS* N-Nitrosodi-n-butylamine N-Nitrosodiethanolamine N-Nitrosodiethylamine D 5333 … .KODE LIMBAH D 5298 D 5299 D 5300 D 5301 D 5302 D 5303 D 5304 D 5305 D 5306 D 5307 D 5308 D 5309 D 5310 D 5311 D 5312 D 5313 D 5314 D 5315 D 5316 D 5317 D 5318 D 5319 D 5320 D 5321 D 5322 D 5323 D 5324 D 5325 D 5326 D 5327 D 5328 D 5329 D 5330 D 5331 D 5332 NAMA UMUM Methyl methacrylate Methyl methanesulfonate Methyl parathion Methylthiouracil Metolcarb Mitomycin C MNNG Molinate Mustard gas Napthalene 1. N-oxide. NOS* Nickel carbonyl Nikel cyanide Nicotine Nicotine salts Nitric oxide p-nitroaniline Nitrobenzene Nitrogen dioxide Nitrogen mustard Nitrogen mustard. hydrochloride salt Nitroglycerin p-Nitrophenol 2-Nitrophropane Nitrosamines.4-Naphtoquinone Alpha-Naphtylamine Beta-Naphtylamine Alpha-Naphtylthiourea Nickel Nickel compounds.

KODE LIMBAH D 5333 D 5334 D 5335 D 5336 D 5337 D 5338 D 5339 D 5340 D 5341 D 5342 D 5343 D 5344 D 5345 D 5346 D 5347 D 5348 D 5349 D 5350 D 5351 D 5352 D 5353 D 5354 D 5355 D 5356 D 5357 D 5358 D 5359 D 5360 D 5361 D 5362 D 5363 D 5364 D 5365 D 5366 D 5367 D 5368 D 5369 D 5370 NAMA UMUM N-Nitrosedimenthylamine N-Nitroso-N-ethylurea N-Nitrosomethylethylamine N-Nitroso-N-methyleurea N-Nitroso-N-methylurethane N-Nitrosomethylvinylamine N-Nitosomorpholine N-Nitrosonornicotine N-Nitrosopiperidine N-Nitrosopirrolydine N-Nitrososarcosine 5-Nitro-o-toluidine Octamethylpyrophosphoramide Organic cyanides Organic phosphorous Organic solvents Organohalogen compounds Osmium tetroxide Oxamyl Paraldehide Parathion Pebulate Pentachlorobenzene Penthachlorodibenzo-p-dioxin Penthachlorodibenzofurans Penthachloroethane Penthachloronitrobenzene (PCNB) Phentachlorophenol Phenacetin Phenol Phenylenediamine Phenylmercury acetate Phenylthiourea Phosgene PHOSphine Phorate Phtalic acid esters. NOS* Phtalic anhydride D 5371 … .

tetrakis (dimethyldithiocarbamate) Selenourea Silver Silver compounds.4.KODE LIMBAH D 5371 D 5372 D 5373 D 5374 D 5375 D 5376 D 5377 D 5378 D 5379 D 5380 D 5381 D 5382 D 5383 D 5384 D 5385 D 5386 D 5387 D 5388 D 5389 D 5390 D 5391 D 5392 D 5393 D 5394 D 5395 D 5396 D 5397 D 5398 D 5399 D 5400 D 5401 D 5402 D 5403 D 5404 D 5405 D 5406 D 5407 D 5408 NAMA UMUM Phsostigmine Phsostigmine salicylate 2-Picoline Polychlorinated biphenyls.2-Propylenimine Propylthiouracil Prosulfocarb Pyridine Reserpine Resorcinol Saccharin Saccharin salts Safrole Selenium Selenium compounds.3-Propane sultone Propham Propoxur n-Propylamine Propargyl alcohol Propylene dichloride 1. NOS* Pottasium cyanide Pottasium dimethyldithiocarbamate Pottasium-n-hydroxymethyl-n-methyl-dithiocarbamate Pottasium-n-methyldithiocarbamate Pottasium penthachlorophenate Pottasium silver cyanide Promecarb Pronamide 1.5-TP) Sodium cyanide D 5409 … . NOS* Silver cyanide Silvex (2. NOS* Selenium dioxide Selenium sulfide Selenium.

NOS* 1.2-Tetrachloroethane 1. NOS* Thallic oxide Thallium (1) acetate Thallium (1) carbonite Thallium (1)chloride Thallium (1) nitrate Thallium Selenite Thallium (1) sulfate Thioacetamide Thiodicarb Thiofanox Thiomethanol Thiophanate-methyl D 5447 … .3.1.2.6-Tetrachlorophenol 2.2 Tetrachloroethane.1. potassium salt 2.4.3.1. sodium salt Tetraethyldithiopyrophosphate Tetraethyl lead Tetraethyl pyrophosphate Tetranitromethane Thallium Thamllium compounds.6-Tetrachlorophenol.4.5-Tetrachlorobenzene Tetrachlorodibenzo-p-dioxin Tetrachlorodibenzo-furans Tetrachloroethane.3.2.KODE LIMBAH D 5409 D 5410 D 5411 D 5412 D 5413 D 5414 D 5415 D 5416 D 5417 D 5418 D 5419 D 5420 D 5421 D 5422 D 5423 D 5424 D 5425 D 5426 D 5427 D 5428 D 5429 D 5430 D 5431 D 5432 D 5433 D 5434 D 5435 D 5436 D 5437 D 5438 D 5439 D 5440 D 5441 D 5442 D 5443 D 5444 D 5445 D 5446 NAMA UMUM Sodium dibuthyldithiocarbamate Sodium diethyldithiocarbamate Sodium dimethyldithiocarbamate Sodium penthachlorophenate Streptozotocin Strychnine Strychnine salts Sulafallate TCDD Tetrabuthylthiuram monosulfide 1.4. NOS* Tetrachloroethylene 2.6-Tetrachlorophenol.4.

KODE LIMBAH D 5447 D 5448 D 5449 D 5450 D 5451 D 5452 D 5453 D 5454 D 5455 D 5456 D 5457 D 5458 D 5459 D 5460 D 5461 D 5462 D 5463 D 5464 D 5465 D 5466 D 5467 D 5468 D 5469 D 5470 D 5471 D 5472 D 5473 D 5474 D 5475 D 5476 D 5477 D 5478 D 5479 D 5480 D 5481 D 5483 NAMA UMUM Thiphenol Thiosemicarbazide Thiourea Thiram Tirpate Tellurium.4-diamine Toluene-2.3.5-Trinitrobenzene Tris(1-aziridinyl)phosphine sulfide Tris(2.O-Triethyl phosphorothioate Triethylamine 1. NOS* 1.4.6-diamine Toluene-3.2.4.2-Trichloroethane Trichloroethylene Trichloromonofluoromethane 2.2.3-dibromopropyl) phosphate Trypan blue Uracil mustard Vanadium pentoxide Vinyl chloride D 5484 … .4-Trichlorobenzene 1.-Tribromophenol 1.3-Trichloropropane O.1.O. Tellurium compounds Toluene Toluenediamine Toluene-2.4.4.6-Trichlorophenol 2.5-Trichlorophenol 2.4-diamine Toluene diisocynate o-Toluidine o-Toluidine hydrochloride p-Toluidine Toxaphene Triallate 2.6.5-T Trichloropropane.

in smaller concentration than 0. Nahattands . in smaller concentration or same with 10% Ziram Singkatan NOS (not otherwise specified) menunjukkan bahwa anggota dari kelompok tersebut tidak terdaftar dengan nama secara spesifik dalam Lampiran III. in smaller concentration than 0.3% Warfarin.KODE LIMBAH D 5484 D 5485 D 5486 D 5487 D 5488 D 5489 D 5490 D 5491 NAMA UMUM Warfarin. in bigger concentration than 0. in bigger concentration than 10% Zinc phosphide.3% Warfarin salt.3% Zinc cyanide Zinc phospide. in bigger concentration than 0.3% Warfarin salt. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I ttd dan cap Lambock V.

Penentuan sifat akut limbah dilakukan dengan uji hayati untuk mengetahui hubungan dosis-respon antara limbah dengan kematian hewan untuk menetapkan nilai LD50. dan atau bersifat korosif. dan pengolahan limbah B3 termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Pengelolaan limbah B3 merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. Apabila suatu limbah tidak tercantum dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah ini. Sedangkan uji toksikologi digunakan untuk mengetahui nilai akut dan atau kronik limbah. Sedangkan sifat kronis limbah B3 ditentukan dengan cara mengevaluasi sifat zat pencemar yang terdapat dalam limbah dengan menggunakan metodologi tertentu. Di antara limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri tersebut terdapat limbah bahan berbahya beracun (limbah B3). Mengingat resiko tersebut. dan tidak bersifat kronis maka limbah tersebut bukan limbah B3. dan di lain pihak industri itu juga akan menghasilkan limbah. pengangkutan. Pembangunan di bidang industri tersebut di satu pihak akan menghasilkan barang yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup rakyat. pemanfaatan.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN UMUM Kegiatan pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat yang dilaksanakan melalui rencana pembangunan jangka panjang yang bertumpu pada pembangunan di bidang industri. lolos uji LD50. Untuk menghilangkan atau mengurangi resiko yang dapat ditimbulkan dari limbah B3 yang dihasilkan maka limbah B3 yang telah dihasilkan perlu dikelola secara khusus. lolos uji karakteristik limbah B3. dan atau beracun dan atau menyebabkan infeksi. Untuk mengidentifikasi limbah sebagai limbah B3 diperlukan uji karakteristik dan uji toksikologi atas limbah tersebut. Limbah B3 yang dibuang langsung ke dalam lingkungan dapat menimbulkan bahaya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengujian ini meliputi karakteristik limbah atas sifat-sifat mudah meledak dan atau mudah terbakar dan atau bersifat reaktif. namun pengelolaannya harus memenuhi ketentuan. pengumpulan. perlu diupayakan agar setiap kegiatan industri dapat meminimalkan limbah B3 yang dihasilkan dan mencegah masuknya limbah B3 dari luar Wilayah Indonesia. Dalam rangkaian kegiatan tersebut terkait beberapa . Pemerintah Indonesia dalam pengawasan perpindahan lintas batas limbah B3 telah meratifikasi Konvesi Basel pada tanggal 12 Juli 1993 dengan Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1993.

maka mata rantai siklus perjalanan limbah B3 sejak dihasilkan oleh penghasil limbah B3 sampai penimbunan akhir oleh pengolah limbah B3 dapat diawasi. f. Hal ini pada gilirannya akan mengurangi kecepatan pengurasan sumber daya alam. Pengumpul limbah B3. Setiap mata rantai perlu diatur. dan digunakannya teknologi bersih. perolehan kembali (recovery) dan penggunaan kembali (reuse) merupakan suatu mata rantai penting dalam pengelolaan limbah B3. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Pasal 6 Langkah pertama yang dilakukan dalam pengelolaan limbah B3 adalah mengidentifikasikan limbah dari penghasil tersebut apakah termasuk limbah B3 atau tidak.pihak yang masing-masing merupakan suatu mata rantai dalam pengelolaan limbah B3. pengolahan bahan. pengangkut. pengumpul. substitusi bahan. yaitu : a. pengaturan operasi kegiatan. Penimbunan limbah B3. Dengan melakukan pengolahan limbah B3 perlu diperhatikan hirarki pengelolaan limbah B3 antara lain dengan mengupayakan reduksi pada sumber. e. Pengolah limbah B3 wastes. Dengan pengolahan limbah sebagaimana tersebut di atas. Bilamana masih dihasilkan limbah B3 maka diupayakan pemanfaatan limbah B3. Pemanfaat limbah B3. b. Mengidentifikasi limbah ini akan memudahkan penghasil. Penghasil limbah B3. Dengan teknologi pemanfaatan limbah B3 di satu pihak dapat dikurangi jumlah limbah B3 sehingga biaya pengolahan limbah B3 juga dapat ditekan dan dilain pihak akan dapat meningkatkan kemanfaatan bahan baku. Dengan sistem manifest dapat diketahui berapa jumlah B3 yang dihasilkan dan berapa yang telah dimasukkan ke dalam proses pengolahan dan penimbunan tahap akhir yang telah memiliki persyaratan lingkungan. Pengangkut limbah B3. sedangkan perjalanan limbah B3 dikendalikan dengan sistem manifest berupa dokumen limbah B3. pemanfaat. c. pengolah. yang mencakup kegiatan daur ulang (recycling). Pemanfaatan limbah B3. atau penimbun dalam mengenali limbah B3 tersebut sedini mungkin. Mengidentifikasi limbah sebagai limbah B3 dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : . d.

Apabila kedua tahapan tersebut sudah dilakukan dan tidak memenuhi ketentuan limbah B3. b. dan atau bersifat reaktif. Hal yang sama juga berlaku untuk sisa kemasan limbah B3 dan bahan-bahan kimia yang kadaluarsa.a. pengemasan. tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat. pencegahan korosi (inhibitor korosi). Limbah diidentifikasi sebagai limbah B3 apabila memenuhi salah satu atau lebih karakteristik limbah B3. maka limbah tersebut termasuk limbah B3. maka suatu produk menjadi limbah B3 yang memerlukan pengelolaan seperti limbah B3 lainnya. dan atau mudah terbakar. maka dilakukan uji toksikologi. Ayat 2 Cukup jelas Ayat 3 Pengujian kareakteristik limbah dilakukan sebelum limbah tersebut mendapat perlakukan pengolahan. Apabila tidak cocok dengan daftar jenis limbah B3 sebagaimana pada Lampiran I Peraturan Pemerintah ini maka diperiksa apkah limbah tersebut memiliki karakteristik : mudah meledak. Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan : . Huruf b Limbah B3 dari sumber spesifik adalah limbah B3 sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdsarkan kajian ilmiah. pencucian. dan atau bersifat korosif. Mencocokkan jenis limbah dengan daftar jenis limbah B3 sebagaimana pada Lampiran I Peraturan Pemerintah ini. karena tidak memenuhi spesifikasi yang ditentukan atau tidak dapat dimanfaatkan kembali. c. dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi. tumpahan. dan atau beracun. dan lain-lain. bekas kemasan. Huruf c Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa. pelarutan kerak. dan atau menyebabkan infeksi. dan apabila cocok dengan daftar jenis limbah B3 tersebut. Angka (2) Pasal 7 Ayat (1) Huruf a Limbah B3 dari sumber tidak spesifik adalah limbah B3 yang pada umumnya berasal bukan dari proses utamanya.

6). . yang pada temperatur dan tekanan standar (25oC. menghasilkan gas. penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus. Limbah yang apabila bercampur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan.5 dapat menghasilkan gas. Merupakan limbah pengoksidasi. 760 mmHg) dapat mudah menyebabkan kebakaran melalui gesekan. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. b.a. 4). Limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi. Limbah mudah terbakar adalah limbah-limbah yang mempunyai salah satu sifat-sifat sebagai berikut : 1) Limbah yang berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume dan atau pada titik nyala tidak lebih dari 60oC (140 oF) akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. 3) Merupakan limbah yang bertekanan yang mudah terbakar. standar (25oC. Limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air. c. Limbah yang bersifat reaktif adalah limbah-limbah yang mempunyai salah satu sifat-sifat sebagai berikut : 1) Limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan. 760 mmHg). Sulfida atau Amoniak yang pada kondisi pH antara 2 dan 12. 4) Merupakan limbah Sianida. 3). 2). 2) Limbah yang bukan berupa cairan. uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan sushu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya. 5) Limbah yang dapat mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar (25oC. percikan api atau sumber nyala lain pada tekanan 760 mmHg. Limbah mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan.

limbah dari laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. konsentrasi sama atau lebih besar dari nilai dalam Lampiran II Peraturan Pemerintah ini. Bila nilai konsentrasi zat pencemar lebih kecil dari nilai ambang batas pada Lampiran II Peraturan Pemerintah ini maka dilakukan uji toksikologi. e. e.d. (3) Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk limbah bersifat asam dam sama atau lebih besar dari 12. untuk menetapkan nilai LD50. pembersih jalan dan masyarakat di sekitar lokasi pembuangan limbah. Limbah bersifat korosif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat sebagai berikut : (1) Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit (2) Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja (SAE 1020) dengan laju korosi lebih besar dari 6.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55oC. Apabila limbah mengandung salah satu pencemar yang terdapat dalam Lampiran II Peraturan Pemerintah ini. Ayat 4 Penentuan sifat akut limbah dilakukan dengan uji hayati untuk mengukur hubungan dosis-respons antara limbah dengan kematian hewan uji. Yang dimaksud dengan LD50 (Lethal Dose fifty) adalah dosis limbah yang menghasilkan 50% respons kematian pada populasi hewan uji. kulit atau mulut. Limbah beracun adalah limba yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan. Nilai tersebut diperoleh dari analisis data secara grafis dan atau statistik terhadap hasil uji . maka limbah tersebut merupakan limbah B3. Limbah yang menyebabkan infeksi yaitu bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terkena infeksi. Limbah ini berbahya karena mengandung kuman penyakit seperti hepatitis dan kolera yang ditularkan pada pekerja. Penetuan sifat racun untuk identifikasi limbah ini dapat menggunakan baku mutu konsentrasi TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedure) pencemar organik dan anorganik dalam limbah sebagaimana yang tercantum dalam Lampiran II Peraturan Pemerintah ini.5 untuk yang bersifat basa.

4. 9. 6. Potensi dari zat pencemar atau turunan/degradasi produk senyawa toksik untuk berubah menjadi tidak berbahaya. 10. Dampak kesehatan dan pencemaran/kerusakan lingkungan akibat pembuangan limbah yang mengandung zat pencemar pada lokasi yang tidak memenuhi persyaratan. Kebijaksanaan yang diambil oleh instansi Pemerintah lainnya atau program peraturan pundang-undangan lainnya bedasarkan dampak pada kesehatan dan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah atau zat pencemarnya. Apabila limbah tersebut mengandung salah satu dan atau lebih zat pencemar yang terdapat dalam Lampiran III Peraturan Pemerintah ini. Apabila setelah dilakukan uji penentuan toksisitas baik akut maupun kronis dan tidak memenuhi ketentuan di atas. karsinogenik. Tingkat dimana zat pencemar atau produk degradasi zat pencemar terbioakumulasi di ekosistem. tetatogenik dan lainlain) ditentukan dengan cara mencocokkan zat pencemar yang ada dalam limbah tersebut dengan Lampiran III Peraturan Pemerintah ini.hayati tersebut. 5. Faktor-faktor lain yang dapat dipetanggung jawabkan merupakan limbah B3. maka terhadap limbah yang mengandung salah satu zat pencemar pada Lampiran III Peraturan Pemerintah ini dilakukan evaluasi secara kronis. Sifat racun alami yang dipaparkan oleh zat pencemar. 2. maka limbah tersebut merupakan limbah B3 setelah mempertimbangkan faktor-faktor di bawah ini: 1. Ayat (5) . Apabila nilai LD50 secara oral lebih besar dari 50 mg/ kg berat badan. maka limbah tersebut dapat dinyatakan sebagai limbah non B3. Jumlah limbah yang dihasilkan pada satu tempat atau secara regional atau secara nasional berjumlah besar. Metodologi untuk evaluasi Lampiran III Peraturan Pemerintah ini ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab setelah berkoordinasi dengan instansi teknis dan lembaga penelitian terkait. Konsentrasi dari zat pencemar. 3. 8. 7. Potensi bermigrasinya zat pencemar dari limbah ke lingkungan bilamana tidak dikelola dengan baik. dan pengelolaannya dilakukan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab setelah berkoordinasi dengan instansi teknis terkait. 11. Sifat persisten zat pencemar atau produk degradasi racun pada zat pencemar. Jenis limbah yang tidak dikelola sesuai dengan ketentuan yang ada berpotensi mencemari lingkungan. Sifat kronis limbah (toksik. mutagenik. Metodologi dan cara penentuan nilai LD50 ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab.

Cukup jelas Angka 3 Pasal 8 Cukup jelas Pasal II Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3910 .

Ketelitian peta adalah ketepatan.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 4. kerincian dan kelengkapan data dan atau informasi georeferensi dan tematik. 2. Skala peta adalah angka perbandingan antara jarak dua titik di atas peta dengan jarak tersebut di muka bumi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah. yang berada di atas maupun di bawah per-mukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu. Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala. yang berada di permukaan bumi. 2. proyeksi dan georeferensi tertentu. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH. penomoran. 3. Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia. . Peta dasar adalah peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan atau buatan manusia. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945.

(3) Karakteristik ketelitian peta menjadi dasar ketelitian bagi pembuatan peta rencana tata ruang wilayah. meliputi: a. Instansi yang mengadakan peta tematik wilayah adalah instansi baik di tingkat pusat maupun daerah. 8. 7. dimaksudkan untuk mewujudkan kesatuan sistem penya-jian data dan informasi penataan ruang wilayah. BAB II RUANG LINGKUP DAN TUJUAN Pasal 2 Peraturan Pemerintah ini mengatur tingkat ketelitian berbagai jenis peta yang digunakan untuk penyusunan peta rencana tata ruang wilayah dan tingkat ketelitian peta rencana tata ruang wilayah. Peta rencana tata ruang wilayah adalah peta wilayah yang menyajikan hasil perencanaan tata ruang wilayah. BAB III JENIS PETA DAN TINGKAT KETELITIAN PETA RENCANA TATA RUANG WILAYAH Bagian Pertama Umum Pasal 4 (1) Jenis peta. b. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pada aspek administratif dan atau aspek fungsional. dan c. peta dasar. yang tugas dan fungsinya mengadakan peta tematik wilayah. peta tematik wilayah. Peta wilayah adalah peta yang berdasarkan pada aspek administratif yang diturunkan dari peta dasar. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pemetaan. 6. peta wilayah. Bagian Kedua Jenis Peta Pasal 6 . Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. 10. 9.5. Peta tematik wilayah adalah peta wilayah yang menyajikan data dan informasi tematik. Pasal 3 Tujuan pengaturan tingkat ketelitian peta untuk penataan ruang wilayah. (2) Jenis peta harus memiliki karakteristik ketelitian peta yang pasti. Pasal 5 Tingkat ketelitian peta untuk penataan ruang wilayah ditentukan berdasarkan pada skala minimal yang diperlukan untuk merekonstruksi informasi pada peta di muka bumi.

c. jalan arteri. sungai. berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. klasifikasi dan spesifikasi unsur-unsur tematik yang ditetapkan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. berupa jalan tol. diwujudkan dengan tingkatan skala peta rencana tata ruang wilayah. d. Pasal 7 Peta wilayah digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta tematik wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah.(1) Peta dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a.000. (2) Peta rencana tata ruang wilayah digambarkan dengan unsur-unsur peta wilayah dan unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah. garis pantai. dan daerah kota. permukiman. jalan lain. (2) Tingkat ketelitian peta sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000 meliputi unsur-unsur: a. daerah kabupaten. berupa kota. (2) Peta dasar digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta wilayah. c.000. . Bagian Ketiga Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Paragraf 1 Umum Pasal 9 (1) Peta rencana tata ruang wilayah meliputi tingkat ketelitian peta untuk: a. sistem proyeksi Transverse Mercator (TM) dengan sistem grid Universal Transverse Mercator (UTM) dan sistem penomoran lembar peta secara nasional. jalan kereta api. jalan kolektor. peta peta peta peta rencana rencana rencana rencana tata tata tata tata ruang ruang ruang ruang wilayah wilayah wilayah wilayah nasional. Paragraf 2 Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Pasal 10 Peta rencana tata ruang wilayah nasional menggunakan peta wilayah negara Indonesia dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. b. b.000. jaringan transportasi. (2) Peta wilayah negara Indonesia dengan skala 1:1. Pasal 11 (1) Peta wilayah negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. daerah propinsi. pelabuhan. berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya. danau. d. Pasal 8 (1) Peta tematik wilayah digambarkan berdasarkan pada kriteria. waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 125 meter. menggunakan sistem referensi menurut ketentuan Datum Geodesi Nasional 1995. bandar udara. hidrografi.

(2) Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah nasional. jalan arteri. sistem permukiman. jaringan telekomunikasi.000. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran I Peraturan Pemerintah ini. pelabuhan. batas kabupaten. batas administrasi. Pasal 12 Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). Pasal 17 Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2). dan 6) nama-nama unsur geografis. jalan kereta api. Pasal 13 (1) Peta rencana tata ruang wilayah nasional digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. sistem permukiman. jaringan . kawasan budidaya. batas kota. jaringan kelistrikan dan energi. dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 125 meter. jaringan transportasi. Pasal 16 1) Peta wilayah daerah propinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. meliputi kawasan lindung. jaringan transportasi. Paragraf 3 Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Propinsi Pasal 15 Peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi menggunakan peta wilayah daerah propinsi dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. danau. jalan kolektor. b) hidrografi. batas kota. batas propinsi.000 meliputi unsur-unsur: a) garis pantai. f.e. kawasan budidaya. 3) batas administrasi. d) jaringan transportasi. berupa jalan tol. c) permukiman. berupa batas negara. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran II Peraturan Pemerintah ini. berupa batas negara. sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VII Peraturan Pemerintah ini. bandar udara. (1) (2) Pasal 18 Peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi. dan nama-nama unsur geografis. batas propinsi. kawasan tertentu. 5) titik tinggi. berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1: 250. Pasal 14 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2). Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi. meliputi kawasan lindung. berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya. jalan lain. sungai. kawasan tertentu. 4) garis kontur. waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 35 meter. 2) Peta wilayah daerah propinsi dengan skala 1:250. batas kabupaten.

000 unsur-unsurnya meliputi: a. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) dan Pasal 24. dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 50 meter. Pasal 21 (1) Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:100. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VIII Peraturan Pemerintah ini. g. Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi digambarkan dalam peta wilayah daerah propinsi yang menggu-nakan skala 1:50. batas kecamatan. garis kontur. batas administrasi.000 atau skala 1:50. jalan arteri.kelistrikan dan energi. titik tinggi. b.000.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3). batas wilayah daerah kota. nama-nama unsur geografis. batas propinsi. Peta wilayah daerah kabupaten dengan skala 1:100. Peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:100.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2). berupa jalan tol. sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. batas kabupaten. dan h. berupa batas negara. Peta wilayah daerah propinsi yang menggunakan skala 1:50. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) dan Pasal 26. waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 15 meter. (2) . jalan lain. f. jalan kereta api. Paragraf 4 Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Kabupaten Pasal 22 Peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten menggunakan peta wilayah daerah kabupaten dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. jaringan telekomunikasi.000. d. hidrografi. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 33. berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya. bandar udara dan pelabuhan. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 31. sungai. garis pantai. Pasal 20 (1) (2) (3) Dalam hal wilayah daerah propinsi yang bentangan wilayahnya sempit dapat digunakan peta wilayah dengan skala 1:100. permukiman. bandar udara digambarkan sesuai dengan skala. danau. c. jaringan transportasi.000. jalan kolektor. Pasal 23 (1) (2) Peta wilayah daerah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:100.000. Pasal 19 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah propinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). e.

garis pantai. sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas.000.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2).000. Pasal 25 (1) (2) Peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta wilayah daerah kabupaten. sistem permukiman.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3). jaringan telekomunikasi. jaringan kelistrikan dan energi. Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:25.Pasal 24 Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran III Peraturan Pemerintah ini. Paragraf 5 Tingkat Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Kota Pasal 29 Peta rencana tata ruang wilayah daerah kota menggunakan peta wilayah daerah kota dan peta tematik wilayah dengan tingkat ketelitian peta pada skala yang sama. Pasal 28 (1) Dalam hal peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten digambarkan dalam peta yang menggunakan skala 1:50. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. jaringan transportasi. Peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:25. unsur-unsurnya meliputi: a. berpedoman pada tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. Pasal 30 (1) (2) Peta wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29. Peta wilayah daerah kota dengan skala 1:50. Pasal 26 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2).000.000 atau skala 1:25. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 33.000. Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten meliputi kawasan lindung.000. Pasal 27 (1) (2) (3) Dalam hal wilayah daerah kabupaten yang bentangan wilayahnya sempit dapat menggunakan peta wilayah dengan skala 1:50. (2) . Peta wilayah daerah kabupaten yang menggunakan skala 1:50. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dan Pasal 31. untuk unsur-unsur dan penggambarannya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35. kawasan budidaya. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran IX Peraturan Pemerintah ini.

000. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran V Peraturan Pemerintah ini. batas propinsi. Pasal 33 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2). Pasal 34 (1) (2) Dalam hal wilayah daerah kota yang bentangan wilayahnya sempit. permukiman. Pasal 31 Unsur-unsur peta wilayah daerah kota dengan skala 1:50. batas kabupaten. jalan kereta api. berupa batas negara. Pasal 32 (1) (2) Peta rencana tata ruang wilayah daerah kota digambarkan dalam peta wilayah daerah kota. jalan arteri. dan h. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran IV Peraturan Pemerintah ini. sungai. jalan setapak. Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota meliputi kawasan lindung.000 atau skala 1:10. nama-nama unsur geografis. berupa jalan tol. jalan arteri. waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 5 meter. batas administrasi. jalan lain. berupa batas negara. jalan kereta api. c. waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 7 meter. f. jalan kolektor. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2). c. e. saluran air. titik tinggi. jalan setapak. batas kelurahan. Pasal 35 Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2). jaringan kelistrikan dan energi. unsur-unsurnya meliputi: a. batas administrasi. jaringan telekomunikasi. kawasan budidaya. batas kabupaten. d. berupa jalan tol. permukiman. batas kota. batas kota. terusan. berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya. garis kontur dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 12. nama-nama unsur geografis. garis kontur dengan selang kontur yang mempunyai keli-patan 25 meter. jaringan transportasi. sistem permukiman. bandar udara digambarkan sesuai dengan skala. jaringan transportasi. garis pantai. jalan kolektor. dapat digunakan peta wilayah dengan skala 1:25. batas kecamatan. bandar udara dan pelabuhan. sungai. dan h. hidrografi.000. hidrografi.000 sebagaimana dimaksud pada ayat (1). g.b. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran X Peraturan Pemerintah ini. danau. titik tinggi. b. f. g. jalan lain. bandar udara dan pelabuhan. d. batas propinsi. danau. e. batas kecamatan. jaringan transportasi. berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya. Peta wilayah daerah kota yang menggunakan peta wilayah dengan skala 1:25. jalan lokal. sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas.5 meter. .

berupa jalan tol. dan h. peta wilayah daerah propinsi. jaringan transportasi.5 meter. jaringan transportasi. bandar udara. kawasan budidaya. sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. sistem permukiman. batas kabupaten. d. jaringan telekomunikasi. jalan arteri. jaringan transportasi. jalan lain. Pasal 41 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40. waduk atau bendungan yang digambarkan dengan skala untuk lebar minimal 1. pelabuhan. jaringan telekomunikasi. jalan lokal. unsur-unsurnya meliputi: a.000. . permukiman. batas kota. hidrografi. sarana dan prasarana air baku dan sistem jaringan utilitas. jalan setapak. saluran air.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). titik tinggi. danau. jaringan kelistrikan dan energi.000 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39. peta wilayah daerah kabupaten dan peta wilayah daerah kota diselenggarakan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pasal 39 Unsur-unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38. meliputi kawasan lindung. kawasan budidaya. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran VI Peraturan Pemerintah ini. jaringan kelistrikan dan energi. jalan kolektor. b. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran XII Peraturan Pemerintah ini. e. garis kontur dengan selang kontur yang mempunyai kelipatan 5 meter. sungai. c. Pasal 37 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36. batas kecamatan. digambarkan dengan simbol dan atau notasi pada Lampiran XI Peraturan Pemerintah ini. berupa batas negara. g. BAB IV PENGADAAN DAN PEMBINAAN TEKNIS Pasal 42 (1) Pengadaan peta wilayah negara Indonesia. Pasal 38 Peta wilayah daerah kota yang menggunakan peta wilayah dengan skala 1:10. batas desa. jalan kereta api. terusan. sistem permukiman. batas administrasi. batas propinsi. Pasal 40 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota yang menggunakan skala 1:10. f. nama-nama unsur geografis. berupa laut beserta unsur-unsur di perairan pantainya.Pasal 36 Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah daerah kota yang menggunakan skala 1:25. garis pantai. meliputi kawasan lindung.

unsur-unsurnya menggunakan simbol dan atau notasi sesuai dengan tingkatan ketelitian dan skala peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah. Pembinaan teknis untuk memelihara kualitas peta tematik wilayah diselenggarakan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. Masyarakat berhak mengetahui peta tematik wilayah melalui katalog peta tematik wilayah yang disusun oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. Pasal 44 Pembinaan teknis dilakukan melalui pengembangan keterpaduan sistem jaringan dalam pemetaan untuk penataan ruang wilayah dengan menggunakan sistem informasi geografis nasional sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 46 Masyarakat dapat berperan serta memberikan data dan informasi dalam pembuatan peta dasar.(2) (3) Pengadaan peta wilayah daerah propinsi. . maka semua peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah yang telah ada harus disesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. peta wilayah dan peta tematik wilayah. diatur lebih lanjut dengan keputusan instansi yang bertanggung jawab dengan mempertimbangkan masukan dari instansi terkait. Pasal 43 (1) (2) Pembinaan teknis untuk memelihara kualitas peta wilayah dan peta rencana tata ruang wilayah diselenggarakan oleh instansi yang bertanggung jawab. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 45 (1) (2) Masyarakat berhak mengetahui peta wilayah melalui katalog peta wilayah yang disusun oleh instansi yang bertanggung jawab. Pengadaan peta tematik wilayah diselenggarakan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. peta wilayah daerah kabupaten dan peta wilayah daerah kota dapat diselenggarakan oleh instansi terkait di daerah dengan mengikuti ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini. Pasal 48 Untuk penyusunan peta rencana tata ruang kawasan. BAB VI KETENTUAN LAIN Pasal 47 Simbol dan atau notasi unsur-unsur peta rencana tata ruang yang belum diatur dalam Lampiran Peraturan Pemerintah ini.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 21 Pebruari 2000 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. ttd ABDURRAHMAN WAHID Diundangkan di Jakarta pada tanggal 21 Pebruari 2000 Pj. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. BONDAN GUNAWAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2000 NOMOR 20 .(2) Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diselesaikan selambatlambatnya dalam tiga tahun setelah berlakunya Peraturan Pemerintah ini. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya.

penataan ruang dilaksanakan melalui proses perencanaan tata ruang yang menghasilkan rencana tata ruang. rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten. Dengan demikian. Rencana tata ruang wilayah nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. maka rencana tata ruang wilayah meliputi rencana tata ruang wilayah nasional. Peraturan Pemerintah ini hanya mengatur tentang ketelitian peta untuk keperluan penataan ruang saja. peta wilayah daerah kabupaten. Penggambaran rencana tata ruang wilayah pada peta wilayah tersebut berwujud peta rencana tata ruang wilayah. kualitas pemanfaatan ruang ditentukan antara lain oleh rencana tata ruang yang digambarkan dalam peta rencana tata ruang wilayah yang disusun dalam suatu sistem perpetaan dan disajikan berdasarkan pada unsur-unsur serta simbol dan atau notasinya yang dibakukan secara nasional. sedangkan rencana tata ruang wilayah daerah propinsi. maka peta rencana tata ruang wilayah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan rencana tata ruang wilayah harus mengandung tingkat ketelitian yang sesuai dengan skalanya. dan rencana tata ruang wilayah daerah kota. Proses penyusunan peta untuk penataan ruang diawali dengan ketersediaan peta dasar Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut. rencana tata ruang wilayah daerah propinsi. dan pengendalian pemanfaatan ruang agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. wilayah daerah kabupaten. menjadi dasar bagi pembuatan peta wilayah. dan peta wilayah daerah kota. Dan.000.000. Masing-masing rencana tata ruang wilayah tersebut secara berurutan digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. dan wilayah daerah kota. ruang lautan. Selanjutnya peta wilayah itu digunakan sebagai media penggambaran peta-peta tematik wilayah.000. penataan ruang wilayah daerah kabupaten.000. penataan ruang wilayah daerah propinsi. dengan segala karakteristik ketelitiannya. serta rencana tata ruang wilayah daerah kota ditetapkan dengan peraturan daerah masing-masing. ketelitian peta diperlukan untuk penataan ruang wilayah nasional. dan penataan ruang wilayah . pemanfaatan ruang berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. juga terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya.000. peta wilayah daerah propinsi. dan tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH UMUM Tujuan penataan ruang disamping terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. dan ruang udara dibagi dalam wilayah daerah propinsi. Peta-peta tematik wilayah menjadi bahan analisis bagi penyusunan rencana tata ruang wilayah. peta wilayah daerah kota berpedoman kepada tingkat ketelitian peta minimal berskala 1:50. rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten. Peta wilayah daerah propinsi berpedoman kepada tingkat ketelitian peta minimal berskala 1:250. Sesuai dengan ruang lingkup pengaturannya. dengan maksud agar peta wilayah tersebut tetap memiliki karakteristik ketelitian georeferensinya. Oleh karena ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi ruang daratan. Peta wilayah tersebut di atas diturunkan dari peta dasar sedemikian rupa sehingga hanya memuat unsur-unsur rupa bumi yang diperlukan saja dari peta dasar. Peta wilayah daerah kabupaten berpedoman kepada tingkat ketelitian peta minimal berskala 1:100. Peta dasar itu. Peta wilayah negara Indonesia berpedoman kepada tingkat ketelitian peta minimal berskala 1:1. Dengan perkataan lain. Oleh karena rencana tata ruang wilayah tersebut berkekuatan hukum.

000 cm = 500.000. kawasan perdesaan dan kawasan tertentu dalam rencana tata ruang wilayah nasional. maka tingkat ketelitian peta untuk penataan ruang wilayah perlu diatur dalam suatu Peraturan Pemerintah. diperlukan data dan informasi tentang tema-tema tertentu yang berkaitan dengan sumber daya alam dan sumber daya buatan. Dalam penataan ruang wilayah tersebut. lingkaran. dan unsur buatan seperti jalan. maka Peraturan Pemerintah ini erat kaitannya dengan peraturan perundang-undangan lain yang memuat ketentuan yang mengandung segi-segi penataan ruang. Alokasi pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung. .000 adalah lebih rinci daripada peta dengan skala 1:250. pembakuan dan keterpaduan secara nasional dalam penggambaran peta rencana tata ruang wilayah sesuai dengan tingkat ketelitian peta pada skala tersebut di atas.000. untuk mencapai keseragaman.000 = 10 cm. dan seterusnya. nama sungai. Penggambaran unsur-unsur tersebut disesuaikan dengan keadaan di muka bumi dan pemanfaatan ruang yang direncanakan. sedangkan pada peta dengan skala 1:250. pertahanan keamanan.000 cm = 2. bandar udara. kawasan budi daya. serta rencana tata ruang kawasan. kawasan perkotaan. Geometrik dimaksudkan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan besaranbesaran dan bentuk-bentuk yang dapat diukur. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah-istilah yang dirumuskan dalam pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Peraturan Pemerintah ini serta peraturan pelaksanaannya. jika jarak dua titik di peta pada skala 1:50. Kerincian data dan atau informasi tematik adalah kesesuaian jumlah unsur-unsur tematik dengan ketersediaan ruang pada peta sebagai wahana penggambarannya. serta unsur-unsur kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan batas wilayah administrasi dan nama kota. dan lain sebagainya. luas. rencana tata ruang wilayah daerah propinsi. Kelengkapan data dan atau informasi dimaksudkan sebagai keberadaan semua data dan informasi yang disajikan tanpa ada kekurangan sesuai dengan skala. Angka 3 Ketepatan data dan atau informasi georeferensi menunjukkan kebenaran posisi atau lokasi suatu obyek pada peta terhadap kedudukan sebenarnya di permukaan bumi dengan mengacu pada suatu sistem referensi di bumi. digambarkan dengan unsur alam seperti garis pantai. kandungan informasi pada peta dengan skala 1:50. pertambangan. permukiman. pengairan. maka jarak kedua titik tersebut menjadi 10 x 250.500. sudut. kawasan perkotaan.daerah kota. segitiga. Pengertian georeferensi memiliki persyaratan-persyaratan geometrik dan posisi yang benar. kependudukan. Peraturan perundang-undangan yang dimaksud mengatur antara lain tentang pemerintahan daerah. Oleh karena itu. kawasan budi daya. Misalnya. seperti jarak. Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Skala peta menunjukkan tingkat kerincian data dan atau informasi pada peta. tinggi. dan rencana tata ruang wilayah daerah kota. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.000 cm = 5 km. dan pengelolaan lingkungan hidup. rencana tata ruang wilayah daerah kabupaten. dan nama laut. kawasan perdesaan dan kawasan tertentu. kehutanan. Contoh. Oleh karena dalam perencanaan tata ruang wilayah dan kawasan. Peta skala besar lebih rinci kandungan informasinya daripada peta skala kecil. sungai.000 cm = 25 km. dicakup kawasan lindung. pertanahan. danau. segiempat. pelabuhan. maka jarak kedua titik tersebut di muka bumi adalah 10 x 50.

Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan karakteristik ketelitian adalah hal-hal yang khas mendukung terciptanya peta yang teliti. nama kota. peta wilayah daerah kabupaten dan peta wilayah daerah kota. Angka 4 Yang dimaksud dengan unsur alam. danau. geologi. Peta wilayah terdiri dari peta wilayah negara Indonesia.Data dan atau informasi tematik adalah hal-hal yang berhubungan dengan tema atau topik tertentu yang dipetakan. kota. antara lain: prasarana (jalan. antara lain: hipsografi. dan sebagainya). dan lain sebagainya. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pada aspek fungsional disebut kawasan. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 3 Pasal 4 . bandar udara. bukit dan sebagainya). Unsur hidrografi mencakup sungai. seperti kehutanan. Unsur hipsografi mencakup bentuk/relief permukaan bumi (gunung. pertanian. dan sebagainya. Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan pada aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. tempat permukiman: desa. dan unsur vegetasi mencakup semua jenis tanaman atau tumbuh-tumbuhan. dan vegetasi. pertanahan. peta wilayah daerah propinsi. nama laut. nama selat. dan ditambah dengan batas administrasi dan nama-nama unsur geografis (toponimi) : nama ibukota daerah propinsi. Termasuk dalam karakteristik ketelitian ini adalah karakteristik kebenaran dan kelengkapan kandungan informasinya. Angka 7 Peta tematik wilayah menyajikan data dan informasi tematik pada wilayah yang bersangkutan. bendungan. Penggambaran kembali dilakukan dengan mengutamakan batas-batas wilayah administratif dengan beberapa unsur rupa bumi yang diperlukan sebagai dasar untuk penyajian informasi tematik maupun informasi rencana tata ruang wilayah. garis pantai dan sebagainya. Angka 6 Diturunkan dari peta dasar artinya digambar kembali dari peta dasar. Unsur rupa bumi yang menjadi unsur pada peta wilayah adalah unsur yang saat ini ada di lapangan. sedangkan yang dimaksud dengan unsur buatan manusia. nama sungai. hidrografi.

Peta wilayah skala 1:10.000.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:1.000.000. Peta wilayah skala 1:50.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:100. Ayat (2) Karena peta dasar digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta wilayah.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:25.Pasal 5 Penetapan skala minimal dimaksudkan untuk menentukan skala minimal yang dapat digunakan sesuai dengan ketepatan yang dibutuhkan. Sebagai contoh. Transformasi tersebut dapat dilakukan baik oleh instansi yang bertanggung jawab maupun oleh instansi terkait.000 akan tergambar sepanjang 1 mm. setelah peta lain itu ditransformasikan ke sistem referensi dan sistem proyeksi yang ditentukan berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:50.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang. dan seterusnya) Pasal 6 Ayat (1) Sistem referensi merupakan sistem acuan atau pedoman tentang posisi suatu obyek pada arah horizontal dan arah vertikal. Peta wilayah skala 1:100.000. ketepatan suatu obyek di muka bumi sepanjang 100 meter. Sistem proyeksi merupakan sistem penggambaran permukaan bumi yang tidak beraturan pada bidang datar secara matematis sedemikian rupa sehingga mengurangi atau menghilangkan kesalahan yang dapat terjadi akibat perbedaan bentuk dari tidak beraturan ke bidang datar.000. Dengan demikian. Peta wilayah skala 1:250. Pasal 8 Ayat (1) .000. Pasal 7 Dalam hal tidak tersedia peta dasar. kenampakan suatu obyek sebesar 100 meter di muka bumi tersebut akan terlihat lebih jelas pada peta yang berskala 1:25. Yang dimaksud dengan instansi terkait adalah instansi pemerintah baik pusat maupun daerah yang tugas dan fungsinya berkaitan dengan pengadaan peta dasar dan peta wilayah. Peta wilayah skala 1:25.wilayah skala 1:10. maka peta lain dapat digunakan sebagai dasar bagi pembuatan peta wilayah.000. maka sistem referensi dan sistem proyeksi dari peta dasar digunakan sebagai sistem referensi dan sistem proyeksi peta wilayah. Sistem grid merupakan sistem yang menunjukkan tanda dua garis yang berpotongan tegak lurus untuk mengetahui dan menentukan koordinat titik-titik di atas peta. Peta tematik wilayah digunakan sebagai salah satu bahan analisis untuk penyusunan peta rencana tata ruang wilayah.000.000. sedangkan pada peta skala 1:25.000 menjadi dasar bagi penggambaran peta tematik wilayah maupun peta rencana tata ruang wilayah skala 1:250.000. Peta wilayah skala 1:1. pada peta skala 1:100.000 akan tergambar sepanjang 4 mm.000 dan akan lebih jelas lagi pada peta berskala yang lebih besar (1:10. 1:5. Sistem penomoran lembar peta adalah sistem penomoran lembar peta yang berlaku secara nasional.

000 1:250.000 sangat luas Pasal 10 Informasi Yang Termuat lebih rinci daripada skala1:100. misalnya: lahan. peta potensi sumber daya air. peta bentuk lahan. dan lain-lain.000 sangat umum Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Skala 1:1. dimaksudkan bahwa peta tematik itu digambar dan disiapkan oleh instansi yang tugas dan fungsinya mengelola sumber daya alam. maka perbandingan tingkat kerincian kandungan informasi untuk masing-masing skala adalah seperti pada tabel berikut: Skala 1:50.000. klasifikasi dan spesifikasi unsur-unsur tematik yang ditetapkan oleh instansi yang mengadakan peta tematik wilayah. dimungkinkan untuk menggunakan skala yang lebih besar.000.000.000 1:1. Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah adalah kawasan lindung dan kawasan budidaya.000 lebih rinci daripada skala 1:250. Dalam hal klasifikasi skala minimal yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Dengan demikian.000 Liputan Wilayah lebih sempit daripada skala 1:100. hutan.000 lebih rinci daripada skala 1:1. hidrografi. jaringan transportasi dan batas wilayah administratif.000.000 untuk peta wilayah negara Indonesia adalah skala minimal. . peta potensi ketersediaan lahan.000 lebih sempit daripada skala 1:1. peta daerah aliran sungai dan kerapatan aliran.000 dan lebih luas daripada skala 1:25. peta potensi hutan. mineral. Ayat (1) Cukup jelas Pasal 9 Ayat (2) Tingkatan skala menunjukkan tingkat kerincian kandungan informasi yang dipetakan. Sebagai contoh: peta liputan lahan. Peta tematik wilayah mengandung data dan informasi baik kualitatif maupun kuantitatif mengenai keberadaan dan macam sumber daya alam dan atau sumber daya buatan dengan ketelitian kandungan informasi sesuai dengan skala dari setiap tema petanya.000 lebih sempit daripada skala 1:250. Peta tematik wilayah merupakan peta yang memuat satu atau beberapa tema tertentu yang sesuai untuk keperluan penataan ruang. peta potensi mineral (bahan galian).000 dan lebih umum daripada skala 1:25. peta kemiringan lereng.Kriteria. Ayat (2) Unsur-unsur peta wilayah antara lain adalah garis pantai. peta potensi kawasan lindung dan peta sebaran penduduk.000 1:100. air. Unsur-unsur peta rencana tata ruang wilayah merupakan hasil analisis dari unsurunsur peta tematik wilayah yang terkait langsung untuk penataan ruang.

Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol. Pada skala ini terdapat kawasan tertentu. pelabuhan laut utama sekunder. danau. beting karang dan menara suar. Jaringan transportasi penyeberangan meliputi jembatan antar pulau. Jaringan transportasi laut meliputi: a. 3. waduk atau bendungan yang lebih kecil dari 125 meter digambarkan dengan simbol. dan kawasan lindung lainnya. Selain kawasan tersebut di atas.Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya. kawasan pertambangan. Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer. Sungai. kawasan hutan rakyat. kawasan suaka alam. dan kawasan permukiman. digambarkan kawasan andalan. . Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas Pasal 12 Yang dimaksud dengan simbol dan atau notasi dalam Lampiran adalah petunjuk penggambaran dan uraian teknis tentang unsur-unsur peta. kawasan pelestarian alam. 4. Jaringan transportasi udara meliputi : a. kawasan rawan bencana alam. batu karang. terumbu. Jaringan transportasi meliputi: 1. kawasan pariwisata. 5. 2. pelabuhan laut utama tersier. digambarkan pula sistem permukiman meliputi pusat permukiman perkotaan atau kota dan pusat permukiman perdesaan. jalan arteri primer dan jalan kolektor. kawasan pertanian. Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi. b. kawasan perlindungan setempat. kawasan peruntukan industri. Pada kawasan budidaya. Bandar udara pusat penyebaran primer. b. Bandar udara pusat penyebaran sekunder. Alur pelayaran laut. kawasan cagar budaya. Jaringan jalan kereta api. Ayat (1) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (2) Kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal.

digambarkan pula sistem permukiman. Bandar udara pusat penyebaran tersier. digambarkan kawasan andalan. Cukup jelas Cukup jelas Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Ayat (1) Skala 1:250.c. kawasan perlindungan setempat. Sarana dan prasarana air baku dalam hal ini bendungan. kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian. Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Pasal 17 Pasal 18 Ayat (2) Kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya. Sistem jaringan utilitas meliputi saluran air limbah primer dan saluran drainase primer. kawasan pertanian. dimungkinkan untuk menggunakan skala yang lebih besar.000 untuk peta wilayah daerah propinsi adalah skala minimal. Jaringan transportasi meliputi: . kawasan pertambangan. kawasan suaka alam. kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya dan kota tani (Agropolitan Centre). kawasan rawan bencana alam. kawasan peruntukan industri. pusat permukiman perdesaan. kawasan hutan rakyat. terumbu. beting karang dan menara suar. Jaringan telekomunikasi dalam hal ini stasiun bumi. kawasan pelestarian alam. Bandar udara bukan pusat penyebaran. Yang dimaksudkan dengan garis kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan titik-titik atau tempat-tempat di darat yang mempunyai ketinggian yang sama. 2) Jaringan gas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya. Selain kawasan tersebut di atas. dan kawasan lindung lainnya. meliputi pusat permukiman perkotaan atau kota. batu karang. kawasan pariwisata. dan kawasan permukiman. d. Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi. Yang dimaksud dengan kontur laut adalah garis pada peta yang menghubungkan titik-titik atau tempat-tempat di laut yang mempunyai kedalaman yang sama. Pada skala ini terdapat kawasan tertentu. Jaringan kelistrikan dan energi meliputi : 1) Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut. Pada kawasan budidaya. Dengan demikian. kawasan cagar budaya.

Hal ini akan menentukan skala peta sesuai dengan muatan informasi yang digunakan. tegangan tinggi dan bangunan pembangkit tenaga listrik. jalan arteri primer dan jalan kolektor. simbol dan atau notasi unsur-unsur dan tata cara penggambarannya mengikuti skala yang dipilih. mata air dan bendungan. Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan bentangan wilayah yang sempit adalah wilayah yang tidak begitu luas untuk dapat digambarkan pada peta dengan skala 1:250. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 .1) Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol. Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer. c. Hubungan antara luas bentangan dengan skala yang dipilih berdasarkan pada kerincian data dan informasi yang disajikan. b. d. Bandar udara pusat penyebaran tersier. Bandar udara pusat penyebaran primer. 4) Jaringan transportasi laut meliputi: a. 2) Jaringan jalan kereta api dalam hal ini jalan kereta api jalur tunggal. Sistem jaringan utilitas meliputi saluran air limbah primer dan saluran drainase primer. Ayat (2) Dalam kaidah perpetaan. Alur pelayaran laut. Bandar udara bukan pusat penyebaran. 3) Jaringan transportasi penyeberangan dalam hal ini jembatan antar pulau. sebagai contoh: daerah Propinsi Yogyakarta atau daerah yang berkembang dengan cepat seperti Kawasan Jabotabek digambarkan dengan lebih rinci. Penggunaan skala yang lebih besar dimungkinkan karena luas bentangan masing-masing daerah propinsi itu berbeda untuk digambarkan dalam skala yang sama. Jaringan telekomunikasi meliputi stasiun bumi. pelabuhan laut utama tersier. pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal.000 sedemikian rupa sehingga jika dipaksakan untuk digambarkan dalam skala tersebut akan menjadi gambaran peta yang terlalu kecil dalam ukuran lembar peta yang baku. 2) Jaringan gas dalam hal ini saluran primer jaringan gas. Sarana dan prasarana air baku meliputi fasilitas air bersih. b. 5) Jaringan transportasi udara meliputi : a. pelabuhan laut utama sekunder. Bandar udara pusat penyebaran sekunder. Jaringan kelistrikan dan energi meliputi : 1) Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut.

2) Jaringan jalan kereta api meliputi jalan kereta api jalur tunggal dan stasiun kereta api. b. dan kawasan lindung lainnya. menara suar dan kontur laut. kawasan pertanian. dan kawasan permukiman. kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian. Bandar udara pusat penyebaran sekunder.Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Pasal 22 Pasal 23 Ayat (2) Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya. Selain kawasan tersebut di atas. Pasal 24 Pasal 25 . Bandar udara pusat penyebaran primer. terumbu. pelabuhan laut utama sekunder. pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal. kawasan perlindungan setempat. pelabuhan laut utama tersier. kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya dan kota tani (Agropolitan Centre). batu karang. Yang dimaksud dengan kontur laut adalah garis pada peta yang menghubungkan titik-titik atau tempat-tempat di laut yang mempunyai kedalaman yang sama. c. tegangan tinggi dan bangunan pembangkit tenaga listrik. maka unsur garis pantai dan unsur-unsur perairan pantainya tidak diberlakukan dalam penggambarannya. pusat permukiman perdesaan. kawasan rawan bencana alam. beting karang. Bandar udara bukan pusat penyebaran. Untuk daerah kabupaten yang wilayahnya tidak berbatasan dengan laut. kawasan pariwisata. kawasan cagar budaya. Kawasan budidaya meliputi kawasan hutan produksi. jalan arteri primer dan jalan arteri sekunder. kawasan hutan rakyat. Bandar udara pusat penyebaran tersier. b. 4) Jaringan transportasi laut meliputi: a. kawasan pertambangan. Alur pelayaran laut. Jaringan transportasi meliputi: 1) Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol. kawasan pelestarian alam. dermaga. kawasan peruntukan industri. 5) Jaringan transportasi udara meliputi : a. d. Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer. 3) Jaringan transportasi penyeberangan dalam hal ini jembatan antar pulau. kawasan suaka alam. digambarkan pula sistem permukiman meliputi pusat permukiman perkotaan atau kota. Jaringan kelistrikan dan energi meliputi : 1) Jaringan listrik meliputi transmisi kabel laut. penahan ombak. Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan lindung meliputi kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.

2) Jaringan gas dalam hal ini saluran primer jaringan gas. terumbu. batu karang. maka unsur garis pantai dan unsur-unsur perairan pantainya tidak diberlakukan dalam penggambarannya. c. Kawasan pelestarian alam meliputi taman nasional. kawasan sekitar danau/waduk. Pasal 31 Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Pasal 32 Pasal 29 Pasal 30 Pasal 27 Pasal 28 Ayat (2) Kawasan lindung meliputi: a. Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai. d. Jaringan telekomunikasi meliputi: 1) Stasiun bumi. kawasan bergambut dan kawasan resapan air. Untuk daerah kota yang wilayahnya tidak berbatasan dengan laut. beting karang. Kawasan cagar budaya. Sarana dan prasarana air baku meliputi: 1) Fasilitas air bersih meliputi: a. Mata air. menara suar dan kontur laut. Pipa air bersih dalam hal ini pipa air bersih utama. e. 2) Bendungan. taman hutan raya. kawasan sekitar mata air dan kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota. dermaga. Pasal 26 Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan unsur-unsur perairan pantai misalnya. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya meliputi kawasan hutan lindung. b. 2) Jaringan transmisi. kawasan sempadan sungai. . b. penahan ombak. taman wisata alam dan taman buru. Kawasan suaka alam meliputi cagar alam dan suaka margasatwa. Sistem jaringan utilitas meliputi saluran air limbah primer dan saluran drainase primer.

pelabuhan laut utama sekunder. Kota tani (Agropolitan Centre). kawasan pertambangan golongan bahan galian vital dan kawasan pertambangan golongan bahan galian lainnya. Kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pertanian. jalan arteri sekunder dan jalan kolektor primer. Selain kawasan tersebut di atas. Pelabuhan laut utama meliputi pelabuhan laut utama primer. . 4) Jaringan transportasi laut meliputi: a. kawasan tanaman tahunan/perkebunan. 3. kawasan pengungsian satwa. jaringan transportasi penyeberangan dan jembatan antar pulau. pelabuhan laut utama tersier. c. kawasan rawan kekeringan dan kawasan rawan petir. 2. Pusat permukiman perdesaan meliputi pusat perbelanjaan dan niaga pedesaan. Kawasan perdesaan sebagai pusat pengolahan sumber daya lainnya. Pusat perbelanjaan dan niaga kota meliputi pusat perbelanjaan dan niaga kawasan. Kawasan rawan bencana alam meliputi kawasan rawan letusan gunung api. 4. Tempat pembuangan sampah akhir. 3) Jaringan transportasi sungai meliputi jaringan transportasi danau. dan kawasan pantai berhutan bakau. kawasan rawan gempa bumi. digambarkan pula sistem permukiman yang meliputi: 1. jalan kereta api jalur ganda dan stasiun kereta api. 2) Jaringan jalan kereta api meliputi jalan kereta api jalur tunggal. Jaringan transportasi meliputi: 1) Jaringan transportasi darat meliputi jalan bebas hambatan atau jalan tol. kawasan peternakan dan kawasan perikanan. b. Kawasan hutan rakyat. Kawasan hutan produksi meliputi kawasan hutan produksi terbatas. Kawasan budidaya meliputi: a. kawasan rawan tanah longsor.f. pelabuhan pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal. Kawasan peruntukan industri meliputi kawasan peruntukan industri dan kawasan industri. Kawasan pariwisata. b. Alur pelayaran laut. kawasan pertanian lahan kering. Kawasan lindung lainnya meliputi cagar biosfer. 5. Kawasan pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah. g. d. f. g. kawasan rawan banjir. jalan arteri primer. kawasan perlindungan plasma nutfah. b. e. Kawasan permukiman. kawasan rawan gelombang pasang. Pusat permukiman perkotaan atau kota meliputi: a. Kawasan pertambangan meliputi kawasan pertambangan golongan bahan galian strategis. kawasan hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi.

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG LEMBAGA PENYEDIA JASA PELAYANAN PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP DI LUAR PENGADILAN . 54 Tahun 2000 Tentang : Lembaga Penyedia Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Di Luar Pengadilan Oleh Nomor : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 54 TAHUN 2000 (54/2000) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 33 ayat (2) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Lembaga Penyedia Jasa Pelayanan Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Di Luar Pengadilan. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699).Peraturan Pemerintah No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3872). 2. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 138. 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68.

Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. . 3. 5. Pasal 2 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan merupakan pilihan para pihak dan bersifat sukarela. Pilihan penyelesaian sengketa lingkungan hidup adalah bentuk-bentuk penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela antara para pihak di luar pengadilan melalui pihak ketiga netral. 4. yang selanjutnya disebut lembaga penyedia jasa. Lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup. 6. 9.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. 8. Para pihak adalah subyek hukum baik menurut hukum perdata maupun hukum publik yang bersengketa di bidang lingkungan hidup. adalah lembaga yang bersifat bebas dan tidak berpihak yang tugasnya memberikan pelayanan kepada para pihak yang bersengketa untuk mendayagunakan pilihan penyelesaian sengketa lingkungan hidup dengan menyediakan pihak ketiga netraldalam rangka penyelesaian sengketa baik melalui arbiter maupun mediator atau pihak ketiga lainnya. 7. Pihak ketiga netral adalah pihak ketiga baik yang memiliki kewenangan mengambil keputusan (Arbiter) maupun yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan (Mediator atau Pihak Ketiga lainnya). 2. Arbiter adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa untuk memberikan putusan mengenai sengketa lingkungan hidup yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Mediator atau Pihak ketiga lainnya adalah seorang atau lebih yang ditunjuk dan diterima oleh para pihak yang bersengketa dalam rangka penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan.

Pasal 6 Lembaga penyedia jasa menyediakan pelayanan jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup dengan menggunakan bantuan arbiter atau mediator atau pihak ketiga lainnya. salah satu atau para pihak yang bersengketa menarik diri dari perundingan. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil secara tertulis oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa atau. Pasal 4 Para pihak bebas untuk menentukan lembaga penyedia jasa yang membantu penyelesaian sengketa lingkungan hidup. Pasal 7 Lembaga penyedia jasa memberikan jasa pelayanan terhadap penyelesaian sengketa lingkungan hidup di seluruh wilayah Republik Indonesia. BAB II KELEMBAGAAN Bagian Pertama Umum Pasal 5 Lembaga penyedia jasa dapat dibentuk oleh pemerintah dan/atau masyarakat.Pasal 3 Dalam hal para pihak telah memilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. .

Sekretariat wajib menyebarluaskan informasi kepada masyarakat mengenai daftar panggil tenaga arbiter dan tenaga mediator atau pihak ketiga lainnya yang telah diangkat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2). (3) (3) (4) (5) . Lembaga penyedia jasa yang dibentuk oleh pemerintah daerah ditetapkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan daerah yang bersangkutan. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk oleh pemerintah pusat ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.Bagian Kedua Lembaga Penyedia Jasa Yang Dibentuk Oleh Pemerintah Pasal 8 (1) (2) Lembaga penyedia jasa dapat dibentuk oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah. Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas menyediakan jasa pelayanan arbiter dan mediator atau pihak ketiga lainnya dengan menyediakan daftar panggil dari arbiter dan/atau mediator dan/atau pihak ketiga lainnya yang telah diangkat oleh Menteri/Gubernur/Bupati/Walikota. Sekretariat yang membantu lembaga penyedia jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan daerah yang bersangkutan. Pasal 9 (1) (2) Dalam melaksanakan tugas lembaga penyedia jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dibantu oleh Sekretariat. Sekretariat yang membantu lembaga penyedia jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.

b. kecuali : a. cakap melakukan tindakan hukum. (2) (3) (4) (2) . Masa jabatan keanggotaan lembaga penyedia jasa selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu periode berikutnya. tidak ada keberatan dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2). terbukti melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. d. eanggotaan lembaga penyedia jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan untuk mengetahui ada / tidaknya keberatan dari masyarakat. dan e. c. memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. Untuk menjadi anggota lembaga penyedia jasa harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. c. Pasal 11 (1) eanggotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 tidak dapat diberhentikan sebelum masa jabatannya berakhir. berumur paling rendah 35 (tiga puluh lima) tahun untuk arbiter dan paling rendah 30 (tiga puluh) tahun untuk mediator atau pihak ketiga lainnya. berfungsi sebagai arbiter dan/atau mediator dan/atau pihak ketiga lainnya. Keanggotaan lembaga penyedia jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di pemerintah pusat diangkat oleh Gubernur/Bupati/Walikota. memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidang lingkungan hidup paling sedikit 15 (lima belas) tahun untuk arbiter dan paling sedikit 5 (lima) tahun untuk mediator atau pihak ketiga lainnya. meninggal dunia. mengundurkan diri. b.Pasal 10 (1) Lembaga penyedia jasa yang dibentuk oleh pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) mempunyai keanggotaan terdiri dari tenaga profesional di bidang lingkungan hidup yang berasal dari pemerintah dan masyarakat.

memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidang lingkungan hidup paling sedikit 15 (lima belas) tahun untuk arbiter dan paling sedikit 5 (lima) tahun untuk mediator atau pihak ketiga lainnya. Untuk menjadi anggota lembaga penyedia jasa harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. BAB III PERSYARATAN PENUNJUKAN PIHAK KETIGA NETRAL Bagian Pertama Arbiter Pasal 14 Anggota lembaga penyedia jasa yang dapat ditunjuk sebagai arbiter oleh para pihak tunduk pada ketentuan arbitrase. di daerah pada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan daerah yang bersangkutan. (3) . etentuan lebih lanjut tentang lembaga penyedia jasa yang dibentuk oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya. dan d. Pasal 13 Pembentukan lembaga penyedia jasa oleh masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) wajib diberitahuklan : a. memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. berumur paling rendah 35 (tiga puluh lima) tahun untuk arbiter dan paling rendah 30 (tiga puluh) tahun untuk mediator atau pihak ketiga lainnya.Bagian Ketiga Lembaga Penyedia Jasa Yang Dibentuk Oleh Masyarakat Pasal 12 (1) (2) Pendirian penyedia jasa yang dibentuk oleh masyarakat dibuat dengan akta notaris. di pusat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. b. c. b. cakap melakukan tindakan hukum.

c. b. disetujui oleh para pihak yang bersengketa.Bagian Kedua Mediator atau Pihak Ketiga Lainnya Pasal 15 Anggota lembaga penyedia jasa yang dapat ditunjuk sebagai mediator atau pihak ketiga lainnya oleh para pihak harus memenuhi syarat : a. d. Pasal 16 Orang-orang yang menjalankan fungsi sebagai arbiter atau mediator atau pihak ketiga lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) dan Pasal 12 terikat pada kode etik profesi yang penilaian dan pengembangannya dilakukan oleh asosiasi profesi yang bersangkutan. tidak mempunyai kepentingan finansial atau kepentingan lain terhadap kesepakatan para pihak. BAB IV TATA CARA PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP MELALUI LEMBAGA PENYEDIA JASA Bagian Pertama Pengelolaan Permohonan Pasal 17 (1) Para pihak atau salah satu pihak yang bersengketa dapat mengajukan permohonan bantuan untuk penyelesaian sengketa lingkungan hidup kepada lembaga penyedia jasa dengan tembusan disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang Pengendalian Dampak Lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dan (3). tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai dengan derajat kedua dengan salah satu pihak yang bersengketa. tidak memiliki hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa. e. Instansi yang menerima tembusan permohonan bantuan untuk penyelesaian sengketa lingkungan hidup dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari wajib melakukan verifikasi tentang kebenaran faktafakta mengenai permohonan penyelesaian sengketa lingkungan hidup (2) .

Bagian Kedua Arbitrase Pasal 19 Tata cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui arbiter tunduk pada ketentuan arbitrase. Pasal 21 (1) Penyelesaian sengketa melalui mediator atau pihak ketiga lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 tunduk pada kesepakatan yang dibuat antara para pihak yang bersengketa dengan melibatkan mediator atau pihak ketiga lainnya. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak. Bagian Ketiga Mediator atau Pihak Ketiga Lainnya Pasal 20 Para pihak yang bersengketa berhak untuk memilih dan menunjuk mediator atau pihak ketiga lainnya dari lembaga penyedia jasa yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 12 ayat (1). c. nama lengkap dan tempat tinggal mediator atau pihak ketiga lainnya. masalah yang dipersengketakan. Pasal 18 Tata cara pengelolaan permohonan penyelesaian sengketa melalui lembaga penyedia jasa yang dibentuk pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 diatur lebih lanjut oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. (3) Lembaga penyedia jasa dalam waktu tidak lebih dari 14 (empat belas) hari sejak menerima hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib mengundang para pihak yang bersengketa. (2) . Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memuat antara lain : a. b.sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menyampaikan hasilnya kepada lembaga penyedia jasa yang menerima permohonan bantuan penyelesaian sengketa lingkungan hidup.

e. para pihak atau salah satu pihak berhak menghentikan penugasannya. Pasal 22 (1) Dalam proses penyelesaian sengketa. larangan pengungkapan dan/atau pernyataan yang menyinggung atau menyerang pribadi. larangan pengungkapan informasi tertentu dalam proses penyelesaian sengketa secara musyawarah kepada masyarakat. i. mediator atau pihak ketiga lainnya menyembunyikan informasi tentang syarat-syarat yang seharusnya dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. kehadiran pengamat. batas waktu atau lamanya penyelesaian sengketa. Pasal 23 (2) (1) Para pihak yang bersengketa atau salah satu pihak dalam proses penyelesaian sengketa setiap saat berhak menarik diri dari perundingan. atau b. Apabila para pihak yang bersengketa akan menarik diri dari perundingan wajib memberitahukan secara tertulis kepada mediator atau pihak ketiga lainnya. pernyataan kesediaan dari mediator atau pihak ketiga lainnya.d. penunjukan mediator atau pihak ketiga lainnya dapat dianggap tidak sah atau batal dengan alasan : a. f. j. mediator atau pihak ketiga lainnya menunjukan keberpihakan. tempat para pihak melaksanakan perundingan. (2) (3) . larangan pengungkapan catatan dari proses serta hasil kesepakatan. Dalam hal mediator atau pihak ketiga lainnya memenuhi alasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka : a. g. ahli dan/atau nara sumber. pernyataan kesediaan dari salah satu pihak atau para pihak yang bersengketa untuk menanggung biaya. dan/atau b. h. k. mediator atau pihak ketiga lainnya wajib mengundurkan diri. Apabila salah satu pihak akan menarik diri dari perundingan wajib memberitahukan secara tertulis kepada pihak lainnya dan mediator atau pihak ketiga lainnya.

uraian singkat sengketa. Isi kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f dapat berupa antara lain : a. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak. i. d. tempat pelaksanaan isi kesepakatan. e. bentuk dan besarnya ganti kerugian. lembar asliatau salinan otentik kesepakatan diserahkan dan didaftarkan oleh mediator atau pihak ketiga lainnya atau salah satu pihak atau para pihak yang bersengketa kepada Panitera Pengadilan Negeri. pertimbangan dan kesimpulan mediator atau pihak ketiga lainnya. (2) (3) (4) (5) . Biaya untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dibebankan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang telah mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup. dan/atau b. pendirian para pihak. pihak yang melaksanakan isi kesepakatan. Dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal ditandatanganinya kesepakatan tersebut. isi kesepakatan. batas waktu pelaksanaan isi kesepakatan. c.Pasal 24 (1) Kesepakatan yang dicapai melalui proses penyelesaian sengketa dengan menggunakan mediator atau pihak ketiga lainnya wajib dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis di atas kertas bermeterai yang memuat antara lain : a. b. g. Kesepakatan sebagaimana dimkasud pada ayat (1) ditandatangani oleh para pihak dan mediator atau pihak ketiga lainnya. nama lengkap dan tempat tinggal mediator atau pihak ketiga lainnya. h. f. melakukan tindakan tertentu guna menjamin tidak terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

Bagian Kedua Mediator atau Pihak Ketiga Lainnya Pasal 26 (1) Biaya untuk mediator atau pihak ketiga lainnya dibebankan atas kesediaan dari salah satu pihak atau para pihak yang bersengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) huruf g atau sumbersumber dana lainnya yang bersifat tidak mengikat. b. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 28 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku 8 (delapan) bulan sejak tanggal diundangkan. (2) . Pemerintah pusat pada anggaran belanja instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Bagian Ketiga Sekretariat Pasal 27 Segala biaya kesekretariatan yang diperlukan dibebankan kepada : a.BAB V PEMBIAYAAN LEMBAGA PENYEDIA JASA Bagian Pertama Arbitrase Pasal 25 Biaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui arbiter tunduk pada ketentuan arbitrase. Biaya untuk mediator atau pihak ketiga lainnya pada penyedia jasa yang dibentuk oleh Pemerintah selain dibebankan atas kesediaan dari salah satu pihak atau para pihak atau sumber-sumber dana lainnya yang bersifat tidak mengikat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat pula dibebankan kepada pemerintah. Pemerintah daerah pada anggaran belanja instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan daerah yang bersangkutan.

ttd DJOHAN EFFENDI Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I. memerintahkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Lambock V. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2000 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd ABDURRAHMAN WAHID Diundangkan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 2000 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Nahattands .Agar setiap orang mengetahuinya.

Dengan adanya alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diharapkan akan dapat meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai yang berasaskan musyawarah. Dalam hal terjadi sengketa lingkungan hidup para pihak yang bersengketa dapat memilih untuk menyelesaikan sengketanya baik melalui pengadilan atau di luar pengadilan. Prinsip mengutamakan penyelesaian sengketa lingkungan hidup adalah melalui kesepakatan secara musyawarah. yang berkaitan dengan kerugian yang diderita oleh salah satu pihak akibat perbuatan pihak lainnya. diharapkan lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh sebagai bagian dari kebijaksanaan penaatan lingkungan hidup dan landasan pengembangan stakeholdership dalam pengelolaan lingkungan hidup. pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak memihak yang pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Lembaga penyedia jasa sebagai alternatif. Menurut ketentuan Pasal 33 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang ditempuh di luar pengadilan pada prinsipnya adalah suatu upaya untuk mendorong peningkatan dan pengutamaan musyawarah dalam menyelesaikan setiap sengketa lingkungan hidup yang terjadi antara para pihak. Dengan demikian. Pembentukan lembaga ini dimaksudkan untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif di luar pengadilan baik melalui pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan memutus (arbiter) maupun mediator atau pihak ketiga lainnya yang tidak memiliki kewenangan memutus guna memperoleh hasil yang lebih adil dan dapat diterima oleh semua pihak dalam waktu yang cepat dengan biaya murah. . Hal ini terjadi karena adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. UMUM Dalam pengelolaan lingkungan hidup sering terjadi sengketa lingkungan hidup yang merupakan masalah perdata antara dua pihak atau lebih. Penggunaan prinsip musyawarah untuk menyelesaikan suatu sengketa berlaku secara umum di seluruh wilayah Republik Indonesia dan hal ini sesuai dengan budaya bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam sila keempat dari Pancasila yang menjadi dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2000 TENTANG LEMBAGA PENYEDIA JASA PELAYANAN PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP DI LUAR PENGADILAN I. oleh karena itu penggunaannya sangat tergantung dari kesepakatan para pihak untuk menentukan pilihannya baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun yang dibentuk oleh masyarakat.

media cetak dan media elektronik. Pasal 10 Ayat (1) Keanggotaan lembaga penyedia jasa yang dibentuk oleh pemerintah dari berbagai kalangan masyarakat dimaksudkan untuk dapat mencerminkan kepentingan dari berbagai pihak.Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup merupakan badan yang mandiri dan tidak memihak yang tugasnya memberikan bantuan kepada para pihak yang bersengketa dengan menggunakan pihak ketiga netral baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun yang dibentuk oleh masyarakat. II. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Huruf a Cukup Huruf b Cukup Huruf c Cukup Huruf d Cukup jelas jelas jelas jelas . PASAL DEMI PASAL Pasal 1 sampai pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Ayat (1) sampai ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Penyebarluasan informasi daftar panggil dapat dilakukan antara lain melalui papan pengumuman.

Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang-orang yang memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan adalah orang-orang yang telah memiliki pengalaman menyelesaikan sengketa lingkungan hidup atau telah mengikuti pendidikan / pelatihan perundingan yang diselenggarakan oleh lembaga yang terakreditasi. Pasal 12 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang-orang yang memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan adalah orang yang telah memiliki pengalaman menyelesaikan sengketa lingkungan hidup atau telah mengikuti pendidikan / pelatihan perundingan yang diselenggarakan oleh lembaga yang terakreditasi. Pasal 11 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman anggota lembaga penyedia jasa yang akan ditunjuk dilakukan antara lain melalui papan pengumuman. media cetak dan media elektronik. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 13 sampai pasl 15 Cukup jelas .

Cukup jelas Pasal 17 sampai pasal 20 Pasal 21 Ayat (1) Kesepekatan yang dibuat antara para pihak yang bersengketa dengan melibatkan mediator atau pihak ketiga lainnya dibuat dalam bentuk tertulis. Tindakan pemulihan mencakup kegiatan untuk mencegah timbulnya kejadian yang sama dikemudian hari.Pasal 16 Yang dimaksud dengan kode etik profesi adalah kode etik yang dibuat oleh asosiasi profesi di bidang penyelesaian sengketa lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Yang dimaksud dengan tindakan tertentu antara lain melakukan penyelamatan dan/atau tindakan penanggulangan dan/atau pemulihan lingkungan hidup. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Ayat (5) Cukup jelas Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas .

Tetapi karena keterbatasan dana pemerintah saat ini. Pembiayaan yang berasal dari sumber-sumber dana lainnya harus dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggung jawabkan kepada publik.Pasal 26 Ayat (1) Biaya penyelesaian sengketa oleh mediator atau pihak ketiga lainnya dapat meliputi honorarium dan biaya perjalanan. Oleh karena itu prinsipnya biaya untuk mediator atau pihak ketiga lainnya dapat dibebankan pada Pemerintah. Ayat (2) Ketentuan ini merupakan konsekuensi dari lembaga penyedia jasa yang dibentuk oleh Pemerintah yang merupakan pelayanan publik. maka dimungkinkan biaya tersebut dibebankan atas kesepakatan para pihak yang bersengketa dan/atau berasal dari sumber-sumber dana lainnya seperti digunakan mekanisme pendanaan lingkungan dan/atau sumber-sumber lainnya yang bersifat tidak mengikat. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas ______________________________________ .

media lingkungan. bahwa meningkatnya kegiatan produksi biomassa yang memanfaatkan tanah maupun sumber daya alam lainnya yang tak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa. 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3556).PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 150 TAHUN 2000 TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. 10. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1994 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 NOmor 115. 3. Mengingat: 1. Negara Nomor 41. dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biologocal Diserty (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 98. wilayah hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Pasal 5 ayat (2). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Peraturan Pemerintahan Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54. sehingga menurunkan mutu serta fungsi tanah yang pada akhirnyadapat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. b. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa. 8. Pasal 28.Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b serta untuk melaksanakan ketentuan pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Nomor 3478) 4. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA . Undang-undang Nomor 23 Tahun1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 98. Tambahan Lembaram Negara Nomor 3501). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). 2. 6. 5. dan faktor produksi biomassa yang mendukung kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya. bahwa tanah sebagai salah satu sumber daya alam. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167.

Pengendalian kerusakan tanah adalah upaya pencegahan dan penanggulangan kerusakan tanah serta pemulihan kondisi tanah. 13. timbulan (relief). 7. kimia. biologi. dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. 6. 17. geologi. Tanah adalah salah satu komponen lahan berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik. 15. 21. kimia dan biologi tanah. Sifat dasar tanah adalah sifat dasar fisika. Status kerusakan tanah adalah kondisi tanah di tempat dan waktu tertentu yang di nilai berdasarkan kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa. atmosfer. Tata laksana pencegahan dan penanggulangan kerusakan tanah serta pemulihan kondisi tanah. termasuk tanaman yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian. 2. 8. Orang adalah orang perseorangan dan/atau kelompok orang dan/badan hukum. Lahan adalah suatu wilayah daratan yang ciri-cirinya merangkum semua tanda pengenal biosfer. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. berkaitan dengan kegiatan produksi biomassa. 4. Gubernur adalah Kepala Daerah Propinsi. . hidrologi. ranting. 16. 11. dan hewan serta hasil kegiatan manusia masa lalu dan masa kini yang bersifat mantap atau mendaur. 10. tanah. biji. batang dan akar. Produksi biomassa adalah bentuk-bentuk pemanfaatan sumber daya tanah untuk menghasilkan biomassa.BAB 1 KETENTUAN UMUM Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan 1. 18. Penetapan kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa tidak termasuk biomassa dari kegiatan budi daya perikanan. perkebunan dan hutan tanaman. populasi tumbuhan. BAB II RUANG LINGKUP DAN TUJUAN Pasal 2 Ruang lingkup Peraturan Pemerintah ini meliputi: a. 9. 20. kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku karusakan tanah. Pemulihan kondisi tanah adalah upaya untuk mengembalikan kondisi tanah ke tingkatan yang tidak rusak. buah. Kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah ukuran batas perubahan sifat dasar tanah yang dapat ditenggang. 19. Kondisi tanah adalah sifat dasar tanah di tempat dan waktu tertentu yang menentukan mutu tanah. daun. dan b. Penaggulangan kerusakan tanah adalah upaya untuk menghentikan meluas dan meningkatnya kerusakan tanah. Pencegahan kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah upaya untuk mempertahankan kondisi tanah melalui cara-cara yang tidak memberi peluang berlangsungnya proses kerusakan tanah. 14. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan atau pengelolaan lingkungan hidup daerah. 5. Instansi teknis adalah instansi yang membidangi kegiatan di bidang produksi biomassa. 12. Biomassa adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yaitu bunga. Menteri lain adalah Menteri yang membidangi kegiatan di bidang produksi biomassa. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. 3. Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota.

Bagian Ketiga Kriteria Baku Kerusakan Tanah Daerah Pasal 6 (1) Kriteria baku karusakan tanah daerah ditetapkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota. BAB III KRITERIA BAKU KERUSAKAN TANAH Bagian Pertama Umum Pasal 4 Kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa meliputi: a. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan basah. Kriteria baku kerusakan tanah akibat erosi air: b.Pasal 3 Peraturan Pemerintah ini bertujuan untuk mengendalikan kerusakan tanah untuk produksi biomassa. Kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering: c. Gubernur/Bupati/Walikota wajib melakukan koordinasi dengan Menteri (6) Apabila kriteria baku kerusakan tanah di daerah belum ditetapkan. perkebunan dan hutan tanaman meliputi: a. (5) Dalam menetapkan tambahan parameter. Bagian Kedua Kriteria Baku Kerusakan Tanah Nasional Pasal 5 (1) Kriteria baku kerusakan tanah nasional untuk kegiatan pertanian. (2) Penetapan Kriteria baku kerusakan tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Berdasarkan kriteria baku kerusakan tanah nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) (3) Kriteria baku kerusakan tanah daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan ketentuan sama atau lebih ketat dari kriteria baku kerusakan tanah nasional (4) Gubernur/Bupati/Walikota dapat menambah parameter kriteria baku kerusakan tanah di daerah sesuai dengan kondisi tanah di daerahnya. (3) Kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini. Kriteria baku kerusakan tanah daerah. (2) Kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sekali. maka berlaku kriteria baku kerusakan tanah nasional. dan b. Kriteria baku kerusakan tanah nasional. . Bagian Keempat Tata Cara Pengukuran Kerusakan Tanah Pasal 7 Tatacara pengukuran kriteria baku kerusakan tanah nasional dan daerah ditetapkan oleh kepala instansi yang bertanggung jawab.

topografi. Bagian Kedua Penanggulangan Kerusakan Tanah Pasal 12 (1) Setiap penaggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa wajib melakukan penaggulangan kerusakan tanah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan penunjukan laboratorium tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur oleh kepala Instansi yang bertanggung jawab Pasal 10 Bupati/Walikota melakukan evaluasi untuk menetapkan status kerusakan tanah sesuai dengan parameter yang dilampaui nilai ambang kritisnya berdasarkan hasil inventarisasi. (2) Penetapan kondisi tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan terhadap areal tanah yang berpotensi mengalami kerusakan tanah.BAB IV PENETAPAN KONDISI DAN STATUS KERUSAKAN TANAH Pasal 8 (1) Kondisi tanah untuk penetapan status kerusakan tanah ditetapkan berdasarkan hasil: a. analisis. identifikasi. dan b. intervasi. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penanggulangan kerusakan tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh instansi teknis yang bersangkutan. intervasi kondisi iklim. . BAB V TATA LAKSANA PENGENDALIAN Bagian Pertama Pencegahan Kerusakan Tanah Pasal 11 Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dapat menimbulkan kerusakan tanah produksi biomassa wajib melakukan upaya pencegahan kerusakan tanah. analisis dan pemetaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1). Pasal 9 (1) Analisis sifat dasar tanah sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1) huruf a dilakukan oleh laboratorium tanah yang memenuhi syarat di daerah .000 dan untuk daerah kota 1 : 50. (3) Bupati/Walikota menetapkan kondisi tanah di daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) (4) Kondisi tanah untuk daerah kabupaten dipetakan dengan tingkat ketelitian minimal 1:100. Bagian Ketiga Pemulihan Kondisi Tanah Pasal 13 (1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa wajib melakukan pemulihan kondisi tanah. dan/atau identifikasi terhadap sifat dasar tanah. potensi sumber kerusakan dan penggunaan tanah. (2) Gubernur/Bupati/Walikota menunjuk laboratorium tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).000.

dampak kerusakan tanah yang terjadi. (3) Menteri dan/atau Kepala Instansi yang bertanggung jawab melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengendalian kerusakan tanah yang berdampak atau yang diperkirakan dapat berdampak lintas propinsi. pelaksanaan persyaratan dan kewajiban yang tercantum di dalam izin untuk usaha dan/atau kegiatan: b. secara intensif untuk menanggulangi kerusakan tanah dan memulihkan kondisi tanah. b. d. wajib meneruskanya kepada Guberhur/Bupati/Walikota yang bersangkutan. Pasal 15 Pengawasan pengendalian kerusakan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dilakukan terhadap: a. waktu dan tampat kejadian. tanggal pelaporan. (2) Pejabat daerah setempat yang menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib mencatat: a. secara periodik untuk mencegah kerusakan tanah. Bagian Keempat Pengawasan Pasal 14 (1) Bupati/Walikota melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan tanah di daerahnya. c. wajib melakukan verifikasi tentang kebenaran terjadinya kerusakan tanah. (3) Pejabat daerah setempat terdekat yang menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam jangka waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya laporan. wajib melaporkan kepada pejabat daerah setempat. Bagian Kelima Pelaporan Pasal 17 (1) Setiap orang yang menduga atau mengetahui terjadinya kerusakan tanah. identitas pelapor. e.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemulihan kondisi tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh instansi tenis yang bersangkutan. (2) Gubernur melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan tanah yang berdampak atau yang diperkirakan dapat berdampak lintas Kabupaten dan Kota. pemenuhan kriteria baku kerusakan tanah bagi usaha dan/atau kegiatan yang tidak memerlukan izin . Bagian Keenam Hasil Pengawasan dan Laporan Pasal 18 . Pasal 16 Pelaksanaan pengawasan atas pengendalian kerusakan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan Pasal 15 dilakukan: a. sumber yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan tanah. b. (4) Gubernur/Bupati/Walikota setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dalam jangka waktu selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja sejak diterimanya laporan.

dan d. b. Pasal 22 Setiap a. (2) Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melakukan tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Status kerusakan tanah. atau papan pangumuman. Kondisi tanah. Kondisi tanah. pelaksanaan dan hasil pengendalian kerusakan tanah. Pasal 16. BAB VIII PEMBIAYAAN Pasal 23 Biaya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam: . a. Kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerusakan tanah. media elektronik. c. Rencana. membuktikan telah terjadi kerusakan tanah maka Gubernur/Bupati/Walikota wajib memerintahkan penangung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menghentikan pelanggaran yang dilakukan dan melakukan tindakan penanggulangan kerusakan tanah serta pemulihan kondisi tanah. pelaksanaan. dan hasil pengendalian kerusakan tanah. c. orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan informasi tentang. (2) Pemberian informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui media cetak.ihan kondisi tanah atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. b. BAB VI PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT Pasal 20 (1) Gubernur/Bupati/Walikota/Kepala Instansi yang bertanggung jawab/Pimpinan instansi teknis/Menteri berkewajiban meningkatkan kesadaran masyarakat termasuk aparatur akan hak dan tanggung jawab serta kemampuannya untuk mencecgah timbulnya usaha dan/atau kegiatan yang merusak kondisi tanah. d. Pasal 15. (2) Peningkatan kesadaran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan dengan mengembangkan dan mempertahankan nilai-nilai dan kelembagaaan adat serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat tradisional yang mendukung perlindungan tanah. Pasal 17. Pasal 19 Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang wajib atau pihak ketiga yang ditunjuk untuk melakukan penanggulangan dan pemulihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) atau ayat (2) wajib menyampaikan laporan penanggulangan kerusakan tanah dan pemulihan kondisi tanah kepada Gubernur/Bupati/Walikota yang bersangkutan.(1) Apabila hasil pengawasan dan verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerusakan tanah. BAB VII KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERANAN MASYARAKAT (1) Gubernur/Bupati/Walikota wajib memberikan informasi kepada masyarakat tentang. Rencana. Gubernur/Bupati/Walikota dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan penanggulangan kerusakan tanah dan pemul. Rtatus kerusakan tanah.

ttd ABDURRAHMAN WAHID . Pasal 10.a. BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 24 Barangsiapa melakukan perbuatan yang melanggar kriteria baku kerusakan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan/atau Pasal 6 diancam dengan pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 12 ayat (2). Pasal 13 ayat (2). Pasal 14 ayat (3). BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 25 Peraturan Pemerintah ini berlaku pada tangggal diundangkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Desember 2000 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 5 ayat (2). Pasal 6 ayat (1) dan ayat (4). Pasal 15. Pasal 15. b. Pasal 8 ayat (3). memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2). dan Pasal 20 dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 20. Pasal 17 ayat (4). Pasal 9 ayat (2). Pasal 7. dan Pasal 21 dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah dan/atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Agar setiap orang mengetahui.

0 cm/jam < 4.Ketebalan solum . No. 6. ring timbangan analitik timbangan satuan lilin. > 70 % < 0. 1.2 . KRITERIA BAKU KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA A.0 mS/cm . dan berat jenis (BJ) analitik permeabilitas potensiometrik tahan listik tegangan listrik 0. ukur.< 4 4.Daya Hantar Listrik/DHL > 4.0 9.PH (H20) 1 : 2.3 .1.5 perhitungan berat isi (BI) piknometer. double ring permeameter pH meter.5 .< 9. 2.7 cm/jam.< 100 cm 100 .5 satuan EC meter ring sampler.0 . 9.Derajat pelulusan air .< 1.12 > 12 gravimetrik pengukuran langsung tabung timbangan.1 .Berat isi < 18 % koloid. sampler. . KRITERIA BAKU KERUSAKAN TANAH DI LAHAN KERING AKIBAT EROSI AIR AMBANG KRITIS EROSI TEBAL TANAH < 20 cm 20 .Kebatuan permukaan pengukuran langsung meteran. 7.< 1 1-<3 3-<7 7-9 >9 (2) mm/10 tahun > 0. penera debit (discharge) sungai dan peta daerah tangkapan air (catchment areal) patok erosi METODE PENGUKURAN PERALATAN B.Jumlah mikroba 200 mV < 102 cfu/g tanah pH meter.komposisi fraksi . 8. 80 % warna pasir. 4. Lampiran LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 150 TAHUN 2000 TANGGAL: 23 Desember 2000 2.< 50 cm 50 . timbangan tabung ukur. 10.Porositas total . 5.150 cm > 150 cm (1) Ton/ha/tahun > 0. pH stick skala .0 . gravimetrik pasir kuarsitik > 1.3 1. > 8. > 8.4 g/cm3 gravimetri volume pada tabung ukur. colony . platina elektroda plating technique cawan counter petri. counter imbangan batu dan tanah atau total) dalam unit luasan 3. KRITERIA BAKU KERUSAKAN TANAH DI LAHAN KERING AMBANG KRITIS < 20 cm < 40 % METODE PENGUKURAN pengukurann langsung PERALATAN meteran (line PARAMETER . .5 < 30 %.Redoks .

pH stick berpirit dari 2. Ketentuan . 4. 1. colony counter Catatan : o o Untuk lahan basah yang tidak bergambut dan kedalaman pirit > 100 cm. > 7.5 skala 0. stick skala satuan EC meter pH 0. KRITERIA BAKU KAERUSAKAN TANAH DI LAHAN BASAH No.100 mV berpirit Redoks untuk gambut > 200 mV pH ( H20) 1 : 2. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. oksidasi cepuk plastik kedalaman lapisan < 25 cm dengan pH < reaksi dan pengukuran H202. 6. 7. elektroda platina pH meter. Daya Hantar Listrik / > 4.0 .ketentuan subsidensi gambut dan kedalaman lapisan berpirit tidak berlaku jika lahan belum terusik/masih dalam kondisi asli/alami/ hutan alam.C.5 satuan. Ttd ABDURRAHMAN WAHID Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I ttd Lambock V. ketentuan kedalaman air tanah dan nilai redoks tidak berlaku. PARAMETER AMBANG KRITIS METODE PENGUKURAN PERALATAN patok subsidensi Subsidensi > 35 cm/5 tahun untuk pengukuran gambut di atas pasir ketebalan gambut > 3 m langsung atau 10%/ 5 tahun untuk kuarsa ketebalan gambut < 3 m 2.5 3. elektroda platina pH meter. langsung permukaan tanah meteran Kedalaman air tanah > 25 cm dangkal Redoks untuk tanah > .5 < 4. Nahattands . 8.0 mS/cm DHl Jumlaj mikroba < 102 cfu/g tanah tahanan listrik plating technicue cawan petri. 5.0 pengukuran langsung tegangan listrik tegangan listrik potensiometrik meteran pH meter.

kerusakan yang terjadi karena proses alam tidak berarti tidak ditanggulangi. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan tanah harus dilakukan dengan bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Di samping sebagai ruang hidup.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 150 TAHUN 2000 TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA UMUM Tanah sebagai salah satu komponen lahan. Selain itu. seperti bahan makanan. Kerusakan tanah untuk produksi biomassa dapat terjadi karena tindakan orang. perkebunan dan hutan tanaman) sangat diperlukan. serat. kerusakan tanah dapat pula terjadi akibat proses alam. yaitu antara lain sebagai penghasil biomassa. Ruang lingkup Peraturan Pemerintah ini hanya mengatur kerusakan akibat tindakan manusia. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 . Pemanfaatan tanah tidak dapat dipisahkan dari kegiatan yang dilakukan oleh orang pada hamparan lahan yang ditempatinya dan lingkungan hidup. merupakan Karunia Tuhan yang Maha Esa kepada Bangsa Indonesia. Oleh karena itu istilah yang dipakai dalam Peraturan Pemerintah ini adalah hutan tanaman. kayu dan bahan obat-obatan. bagian dari ruang daratan dan lingkungan hidup dalam wilayah Kedaulatan Republik Indonesia. tanah juga berperan dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan kelestarian lingkungan hidup secara umum. bangsa Indonesia berkewajiban untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi tanah. bukan hutan alami. Tanah memiliki banyak fungsi dalam kehidupan. Dengan demikian pemanfaatan tersebut berkaitan dengan pemanfaatan ruang kawasan dan pengelolaan lingkungan hidup yang pokok-pokok pengaturannya ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. tanah memiliki fungsi produksi. tanggung jawab penanggulanganya merupakan kewajiban Pemerintah. Karena itu. Meskipun demikian. Hutan tanaman merupakan hasil budi daya. Oleh karena itu adanya kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa (pertanian. dengan tujuan melestarikan dan meningkatkan kemampuan produksi dan pelestarianya. Namun. Penekanan pada produksi biomassa juga didasarkan pada pertimbangan bahwa kegiatan produksi biomassa sangat mutlak mempersyaratkan mutu tanah sebagai media pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Selain dari pada itu. Bagi pengendalian kerusakan tanah di luar areal produksi biomassa diatur dalam peraturan perundang-undangan lain. baik di areal produksi biomassa maupun karena adanya kegiatan lain di luar areal produksi biomassa yang dapat berdampak terhadap terjadinya kerusakan tanah untuk produksi biomassa. Agar tanah dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan maka kegiatan pengendalian perusakan tanah menjadi sangat penting. Indonesia adalah negara agraris dengan sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian.

maupun hasil bentukan buatan sebagai cerminan budaya (misalnya permukiman. dan taman). ketinggian (elevasi) dan morfologi. permuiman dan industri. Sifat fisik tanah antara lain meliputi kedalaman tanah. jika data sekunder belum mencukupi atau diperlukan data yang lebih mutakhir dari lapngan karena diduga telah terjadi perubahan yang mendasar. pori dan kandungan air. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Kegiatan inventarisasi. . Sifat kimia tanah antara lain meliputi pH. perkebunan dan hutan tanaman. Potensi sumber kerusakan tanah berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan penggunaan tanah untuk pertanian. intensitas penyinaran matahari. Pengamatan dilakukan untuk semua parameter sift dasar tanah. Sifat dasar tanah mencakup sifat fisik. potensi sumber kerusakan. kebun. kandungan garam. Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Penetapan Kriteria baku kerusakan tanah nasional tersebut didasarkan pada sifat-sifat dasar tanah yang menentukan mutu dan fungsi tanah sebagi faktor produksi biomassa.Pengendalian kerusakan tanah dilakukan dalam rangka Konservasi sehingga sumber daya tanah dapat didayagunakan sesuai dengan atau tidak melebihi daya dukungnya. termasuk kegiatan lainya yang berada di luar areal produksi biomassa antara lain kegiatan pertambangan. sifat kimia dan sifat biologi tanah. alang-alang dan semak). Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 6 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Penetapan kriteria baku kerusakan tanah di daerah yang lebih ketat diterapkan apabila kondisi tanah di daerah tersebut lebih rentan terhadap kerusakan dinbandingkan kondisi rata-rata nasional. Penggunaan tanah adalah wujud tutupan permukaan bumi baik yang merupakan hasil bentukan alami (misalnya hutan. tekstur. kondisi iklim dan topografi serta penggunaan tanah. identifikasi dan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi tanah dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi terkait yang telah ada (data sekunder) dan/atau melakukan pengamatan dan pengukuran sejumlah parameter langsung di lapangan. Kondisi iklim dan geografi yang perlu diteliti meliputi antara lain curah hujan. Sifat biologi tanah terutama berkaitan dengan jumlah jasad renik (mikroba) yang terkandung di dalam tanah.

e. Usaha dan/atau kegiatan yang tidak memerlukan izin antara lain kegiatan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (subsisten). Usaha dan/atau kegiatan yang memerlukan izin antara lain kegiatan yang wajib memiliki AMDAL dan melakukan UKL dan UPL.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (4) Peta kondisi tanah daerah kabupaten/Kota dapat digunakan untuk menyusun peta propinsi dengan cara menggabungkan peta kondisi tanah daerah Kabupaten/Kota. d.000 agar bisa didintegrasikan dengan peta tematik lain untuk merumuskan arahan kebijakan pembangunan daerah. Pasal 11 Pencegahan kerusakan tanah untuk produksi biomassa dapat dilakukan dengan cara antara lain : c. Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Cukup jelas Pasal 10 Yang dimaksud dengan evaluasi adalah membandingkan antara kondisi tanah degan kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa sehingga dapat diketahui rusak tidaknya tanah. mengurangi produksi. Setiap usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan tidak menimbulkan dampak besar dan penting tehadap tanah untuk produksi biomassa wajib untuk melakukan upaya pengelolaan lingkungan (UPL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Setiap usaha dan/atau kegiatan wajib menyesuaikan kegiatanya dengan peruntukan lahan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten/Kota. Pasal 12 Ayat (1) Penanggulangan kerusakan tanah dapat dilakukan dengan cara antara lain: f. dan/atau g. Peta kondisi tanah daerah Propinsi digambarkan dengan skala minimal 1 : 250. Contoh izin yang dimaksud antara lain izin usaha pertanian untuk usaha di bidang pertanian. Setiap uasaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap tanah untuk produksi biomassa wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) . memperbaiki pengolahan dalam proses produksi. izin usaha perkebunan untuk usaha di bidang perkebunan. Tanah dikatakan rusak apabila salah satu parameter kriteria baku kerusakan tanah terlampaui. Yang dimaksud dengan usaha dan/atau kegiatan meliputi usaha dan/atau kegiatan yang memerlukan izin dan yang tidak memerlukan izin. izin usaha kehutanan untuk usaha di bidang hutan tanaman.

Sedangkan pengawasan intensif dilakukan dengan frekuensi yang lebih sering daripada pengawasan periodik. Pasal 17 Ayat (1) Yang dimaksud pejabat daerah setempat antara lain Kepala desa. bahan organik dan kapur. o. Ayat (2) Yang dimaksud dengan instansi teknis yang bersangkutan adalah: k. pendidikan dan pelatihan. Camat. Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 yang dimaksud dengan pengawasan secara periodik misalnya pengawasan yang dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali. Lurah. penanaman tanaman penutup. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pihak ketiga adalah orang yang dinilai memiliki kemampuan untuk melakukan penanggulangan dan pemulihan kerusakan tanah. atau l. Ayat (2) . bimbingan teknis. melakukan tindakan ameliorasi dengan menggunakan bahan-bahan seperti pupuk. dan/atau j. i. peningkatan pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan bidang konservasi tanah. sehingga kerugian dapat dicegah sekecil mengkin. Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Peningkatan kesadaran masyarakat tersebut dapat dilakukan antara lain melalui: m. p. penanaman dengan tumbuhan yang cocok dengan kondisi tanah dan lingkungan sekitarnya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Tindakan penghentian pelanggaran tersebut dimaksudkan untuk menghentikan kerusakan dan memulihkan kerusakan tanah yang terjadi. instansi teknis yang bertanggung jawab di bidang kehutanan untuk kegiatan di bidang hutan tanaman. pemberian insentif bagi orang yang dianggap berjasa dalam bidang konservasi tanah untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dan dunia usaha dalam pengendalian kerusakan tanah. instansi teknis yang bertanggung jawab di bidang pertanian dan perkebunan untuk kegiatan di bidang pertanian dan perkebunan. melakukan tindakan konservasi tanah seperti pembuatan teras atau bangunan sipil teknis lain.Pemulihan kondisi tanah dilakukan dengan cara antara lain: h. n.

Hak masyarakat untuk mendapatkan informasi merupakan pendorong bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam pengendalian kerusakan tanah. pergiliran tanaman. Informasi tersebut dapat berupa data. keterangan.Yang dimaksud dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang mendukung perlindungan tanah antara lain membiarkan lahan pertanian tidak ditanami dalam kurun waktu tertentu. Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4068 . disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengendalian kerusakan tanah untuk produksi biomassa yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat. tumpang sari dan pembuatan terrasering. Hak atas informasi tersebut akan meningkatkan nilai dan efektivitas peran dalam pengendalian kerusakan tanah untuk produksi biomassa. Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Hak atas informasi tentang kondisi tanah. status kerusakan tanah untuk produksi biomassa. Peran masyarakat meliputi antara lain menyampaikan saran dan pendapat tentang kebijakan pengendalian kerusakan tanah serta berpartisipasi aktif dalam pengendalian kerusakan tanah. rencana pelaksanaan serta hasil pengendalian kerusakan tanah untuk produksi biomassa. dan kegiatankegiatan yang berpoptensi merusak tanah merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengendalian kerusakan tanah untuk produksi biomassa yang berlandaskan pada asas keterbukaan.

Menimbang 1. bahwa kebakaran hutan dan atau lahan merupakan salah satu penyebab kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. sosial maupun budaya. 2. ekonomi. . : bahwa hutan dan atau lahan merupakan sumber daya alam yang mempunyai berbagai fungsi. dan huruf c serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. bahwa kebakaran hutan dan atau lahan telah menimbulkan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. yang diperlukan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan. 3. yang mengakibatkan kerugian ekologi. karena itu perlu dilakukan pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. huruf b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. 4 Tahun 2001 Tentang : Pengendalian Kerusakan Dan Atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran Hutan Dan Atau Lahan Oleh Nomor Tanggal : : : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA 4 TAHUN 2001 (4/2001) 6 FEBRUARI 2001 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 4. baik berasal dari lokasi maupun dari luar lokasi usaha dan atau kegiatan.Peraturan Pemerintah No. ekonomi. baik nasional maupun lintas batas negara. sosial dan budaya. baik ekologi.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3557). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888). Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 46. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 9. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 2. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 53. . 5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 41. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419).Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3556). 10. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Undang-undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 41. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3481). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. 4. 6. 8. 3.

11. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. . Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. 12. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN ATAU PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN. Lahan adalah suatu hamparan ekosistem daratan yang peruntukannya untuk usaha dan atau kegiatan ladang dan atau kebun bagi masyarakat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2952). BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 86. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3853).

12. Pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya pencegahan dan penanggulangan serta pemulihan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. dan atau badan hukum. energi. Orang adalah orang perorangan. dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup akibat kebakaran hutan dan atau lahan sehingga kualitas lingkungan hidup menjadi turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. 11. 8. dan atau kelompok orang. Pemulihan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya untuk mengembalikan fungsi hutan dan atau lahan yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan sesuai dengan daya dukungnya. 9. 5. Penanggulangan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya untuk menghentikan meluas dan meningkatnya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup serta dampaknya yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang. Dampak lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang berupa kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang diakibatkan oleh suatu usaha dan atau kegiatan.4. 10. 7. Pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan adalah masuknya makhluk hidup. zat. 6. . Kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan hutan dan atau lahan tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Pencegahan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup adalah upaya untuk mempertahankan fungsi hutan dan atau lahan melalui cara-cara yang tidak memberi peluang berlangsungnya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan.

Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup nasional. yayasan atau organisasi. Penanggung jawab usaha adalah orang yang bertanggung jawab atas nama suatu badan hukum. dan pemulihan serta pengawasan terhadap pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. . penanggulangan. perserikatan. 15. Pasal 2 Ruang lingkup Peraturan Pemerintah ini meliputi upaya pencegahan. dan Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup daerah. Gubernur adalah Kepala Daerah Propinsi. BAB II KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN Bagian Pertama Umum Pasal 3 Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan meliputi: a. b. 14. 17. 16. Menteri adalah menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota. perseroan.13. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.

dan Kriteria teknis baku kerusakan lingkungan hidup nasional. Pasal 5 (1) Kriteria umum baku kerusakan lingkungan hidup nasional meliputi: a. (2) Kriteria umum baku kerusakan tanah mineral yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan.Bagian Kedua Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup Nasional Pasal 4 Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup nasional meliputi: a. Kriteria umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini. dan Kriteria umum baku kerusakan fauna yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. c. (2) . Kriteria teknis baku kerusakan lingkungan hidup nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Instansi yang bertanggung jawab. b. Kriteria umum baku kerusakan lingkungan hidup nasional. d. Kriteria umum baku kerusakan tanah gambut yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Pasal 6 (1) Kriteria teknis baku kerusakan lingkungan hidup nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b didasarkan pada kriteria umum baku kerusakan lingkungan hidup nasional. Kriteria umum baku kerusakan flora yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. b.

berdasarkan kriteria teknis baku kerusakan lingkungan hidup nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). b. menetapkan kriteria baku kerusakan Penetapan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maka berlaku kriteria umum baku kerusakan lingkungan hidup nasional. Dalam hal kriteria teknis baku kerusakan lingkungan hidup nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) belum ditetapkan. Baku mutu pencemaran lingkungan hidup nasional. dan Baku mutu pencemaran lingkungan hidup daerah. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup daerah ditetapkan dengan ketentuan sama atau lebih ketat daripada ketentuan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup nasional. (3) (4) BAB III BAKU MUTU PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 9 Baku mutu pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan meliputi : a. . maka penetapan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup daerah berdasarkan kriteria umum baku kerusakan lingkungan hidup nasional yang tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini. Bagian Ketiga Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup Daerah Pasal 8 (1) (2) Gubernur/Bupati/Walikota lingkungan hidup daerah.Pasal 7 Dalam hal kriteria teknis baku kerusakan lingkungan hidup nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) belum ditetapkan.

Pasal 10 Baku mutu pencemaran lingkungan hidup nasional dan baku mutu pencemaran lingkungan hidup daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 14 (1) Setiap penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk . Pasal 13 Setiap penanggung jawab usaha yang usahanya dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan wajib mencegah terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya. BAB IV TATA LAKSANA PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 11 Setiap orang dilarang melakukan kegiatan lahan. pembakaran hutan dan atau Bagian Kedua Pencegahan Pasal 12 Setiap orang berkewajiban mencegah terjadinya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan.

. e. perangkat organisasi yang bertanggung jawab dalam mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. d. pendapat masyarakat dan kepala adat. sistem deteksi dini untuk mengetahui terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. c. pelatihan penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan secara berkala. Pasal 15 Penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib melakukan pemantauan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya dan melaporkan hasilnya secara berkala sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali yang dilengkapi dengan data penginderaan jauh dari satelit kepada Gubernur/ Bupati/Walikota dengan tembusan kepada instansi teknis dan instansi yang bertanggung jawab.mencegah terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya. kebijakan nasional tentang pengelolaan hutan dan atau lahan sebagai bagian dari pendayagunaan sumber daya alam. prosedur operasi standar untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. b. kesesuaian dengan tata ruang daerah. c. (2) Sarana dan prasarana pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. dan pertimbangan dan rekomendasi dari pejabat yang berwenang. b. Pasal 16 Pejabat yang berwenang memberikan izin melakukan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib memperhatikan : a. alat pencegahan kebakaran hutan dan atau lahan. d.

(2) (3) Pasal 19 Dalam hal pedoman umum dan pedoman teknis penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dan ayat (3) belum ditetapkan. Pasal 18 (1) Setiap penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya dan wajib segera melakukan penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya. . maka penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan lebih lanjut tentang pedoman teknis penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan peraturan daerah. Pedoman umum penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Menteri yang bertanggung jawab di bidang kehutanan setelah berkoordinasi dengan Menteri lain yang terkait dan Instansi yang bertanggung jawab. Bagian Keempat Pemulihan Pasal 20 Setiap orang yang mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan wajib melakukan pemulihan dampak lingkungan hidup.Bagian Ketiga Penanggulangan Pasal 17 Setiap orang berkewajiban menanggulangi kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi kegiatannya.

Pedoman umum pemulihan dampak lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab. (2) (3) Pasal 22 Dalam hal pedoman umum dan pedoman teknis pemulihan dampak lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) dan ayat (3) belum ditetapkan. maka pemulihan dampak lingkungan hidup dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menteri yang bertanggung jawab di bidang kehutanan mengkoordinasikan : . Ketentuan lebih lanjut tentang pedoman teknis pemulihan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan peraturan daerah.Pasal 21 (1) Setiap penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib melakukan pemulihan dampak lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya. Pasal 24 Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23. BAB V WEWENANG PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN ATAU PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN Bagian Pertama Wewenang Pemerintah Pusat Pasal 23 Menteri yang bertanggung jawab di bidang kehutanan mengkoordinasikan pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan lintas propinsi dan atau lintas batas negara.

dan atau pelaksanaan kerja sama internasional untuk pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan. Pasal 26 Kepala Instansi yang bertanggung jawab mengkoordinasikan penanggulangan dampak dan pemulihan dampak lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang terjadi pada lintas propinsi dan atau lintas batas negara. Pasal 25 Dalam rangka pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. instansi yang bertanggung jawab mengembangkan kemampuan sumber daya manusia di bidang evaluasi dampak lingkungan hidup dan penyusunan strategi pemulihan dampak lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. . Bagian Kedua Wewenang Pemerintah Propinsi Pasal 27 Gubernur bertanggung jawab terhadap pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang dampaknya lintas kabupaten/kota. c. penyediaan sarana pemadam kebakaran hutan dan atau lahan. pengembangan sumber daya manusia untuk pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan. Gubernur wajib melakukan koordinasi penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan lintas kabupaten/kota. Pasal 28 (1) Dalam hal terjadi kebakaran hutan dan atau lahan di lintas kabupaten/kota. b.a.

wajib melakukan inventarisasi terhadap usaha dan atau kegiatan yang potensial menimbulkan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. Instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan biaya pemulihan dampak lingkungan hidup sebagai upaya pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang dampaknya lintas kabupaten/kota. Gubernur dapat meminta bantuan kepada Gubernur yang terdekat dan atau Pemerintah Pusat. Pasal 29 (1) Dalam melakukan koordinasi penanggulangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 Gubernur dapat membentuk atau menunjuk instansi yang berwenang di bidang pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan di daerahnya.(2) Dalam melakukan koordinasi penanggulangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Bagian Ketiga Wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota Pasal 30 Bupati/Walikota bertanggung jawab terhadap pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan di daerahnya. melakukan inventarisasi dan evaluasi dampak lingkungan hidup. penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan. rencana. penyusunan strategi. pemeriksaan kesehatan masyarakat di wilayahnya yang mengalami dampak kebakaran hutan dan atau lahan melalui sarana pelayanan kesehatan yang telah ada. b. maka Bupati/Walikota wajib melakukan tindakan : a. . Pasal 31 (1) Dalam hal terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan.

dapat meminta bantuan pada Bupati/Walikota terdekat. penyusunan strategi. Bupati/Walikota dapat membentuk atau menunjuk instansi yang berwenang di bidang pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan di daerahnya.c. pengukuran dampak. pengumuman pada masyarakat tentang pengukuran dampak dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib melakukan inventarisasi terhadap usaha dan atau kegiatan yang potensial menimbulkan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. d. rencana. Pasal 32 Bupati/Walikota yang melakukan penanggulangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) huruf a. melakukan inventarisasi dan evaluasi dampak lingkungan hidup. Pasal 33 (1) Dalam melakukan penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan. dan biaya pemulihan dampak lingkungan hidup sebagai upaya pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. . (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a. tidak mengurangi kewajiban setiap orang dan atau setiap penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dan Pasal 18 ayat (1). BAB VI PENGAWASAN (2) Pasal 34 (1) Bupati/Walikota melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan di daerahnya.

b. Pasal 36 Menteri dan atau Kepala Instansi yang bertanggung jawab.(2) Gubernur melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang berdampak atau yang diperkirakan dapat berdampak lintas kabupaten/kota. Pasal 35. dan Pasal 36 dilakukan : a. secara intensif untuk menanggulangi dampak dan pemulihan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Pasal 37 Pelaksanaan pengawasan atas pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34. dalam hal tertentu dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penaatan persyaratan yang diwajibkan bagi usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. secara periodik untuk mencegah kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. melakukan pengawasan atas pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang berdampak atau yang diperkirakan dapat berdampak lintas propinsi dan atau lintas batas negara. Pasal 35. (3) Pasal 35 Gubernur/Bupati/Walikota melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan penaatan persyaratan yang diwajibkan bagi usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Menteri dan atau Kepala Instansi yang bertanggung jawab. dan Pasal 37 menunjukkan ketidakpatuhan penanggung jawab . Pasal 38 Apabila hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34. Pasal 36.

Gubernur/Bupati/Walikota setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu kali dua puluh empat jam sejak tanggal diterimanya laporan. tanggal pelaporan. laporan sebagaimana (2) Pejabat daerah setempat yang menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu kali dua puluh empat jam terhitung sejak tanggal diterimanya laporan. (3) identitas pelapor. perkiraan dampak kebakaran hutan dan atau lahan yang terjadi. d. wajib melakukan verifikasi dari pejabat daerah yang menerima laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) untuk mengetahui tentang kebenaran terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. penanggulangan. waktu dan tempat kejadian. wajib melaporkan kepada pejabat daerah setempat.usaha. BAB VII PELAPORAN Pasal 39 (1) Setiap orang yang menduga atau mengetahui terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. c. e. Pejabat daerah setempat yang menerima dimaksud dalam ayat (1) wajib mencatat : a. dan atau pemulihan. sumber yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. melakukan tindakan penyelamatan. b. wajib meneruskannya kepada Gubernur/Bupati/Walikota yang bersangkutan. (4) . maka Gubernur/Bupati/Walikota wajib memerintahkan penanggung jawab usaha untuk menghentikan pelanggaran yang dilakukan dan melakukan tindakan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran.

dan Pasal 40. BAB VIII PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT Pasal 42 (1) Gubernur/Bupati/Walikota/Kepala Instansi yang bertanggung jawab/Pimpinan instansi teknis/Menteri berkewajiban meningkatkan kesadaran masyarakat termasuk aparatur akan hak dan tanggung jawab serta kemampuannya untuk mencegah kebakaran hutan dan atau lahan. maka Gubernur/Bupati/Walikota wajib memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan atau lahan serta dampaknya. wajib menyampaikan laporannya kepada Gubenur/Bupati/Walikota yang bersangkutan.(5) Apabila hasil verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan atau lahan. Peningkatan kesadaran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan dengan mengembangkan nilai-nilai dan kelembagaan adat serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat tradisional yang mendukung perlindungan hutan dan atau lahan. (2) . Pasal 41 Setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan atau pihak ketiga yang ditunjuk untuk melakukan penanggulangan dan pemulihan kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38. Pasal 40 Dalam hal penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melakukan tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan Pasal 39 ayat (5). Pasal 39 ayat (5). Gubernur/Bupati/Walikota dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakannya atas beban biaya penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan.

d. . Pasal 44 Dalam hal dampak kebakaran hutan dan atau lahan melampaui lintas propinsi dan atau lintas batas negara. hasil pengukuran dampak. c. peta peringkat bahaya kebakaran hutan dan atau lahan. langkah-langkah yang dilakukan untuk mengurangi dampak yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. e. dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. media elektronik atau papan pengumuman yang meliputi : a. peta daerah rawan kebakaran hutan dan atau lahan. Pasal 45 (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan informasi dalam rangka ikut serta melakukan upaya pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang meliputi : a. b. lokasi dan luasan kebakaran hutan dan atau lahan. bahaya terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem. informasi kepada atau lahan serta (2) Pemberian informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui media cetak. b.BAB IX KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 43 (1) Gubernur/Bupati/Walikota wajib memberikan masyarakat mengenai kebakaran hutan dan dampaknya. koordinasi pemberian informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dilakukan oleh Kepala Instansi yang bertanggung jawab.

Pasal 31. Pasal 8 ayat (1). Pasal 21 ayat (2). hasil penginderaan jauh dari satelit. Pasal 18 ayat (3). Pasal 23. Pasal 27. h. Pasal 39 ayat (2). Pasal 46 Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 36. e. ayat (3). Pasal 21 ayat (3).c. dokumen AMDAL. Pasal 34 ayat (3). . Pasal 28. BAB X PEMBIAYAAN Pasal 47 Biaya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam : a. rencana penyiapan/pembukaan hutan dan atau lahan. dan Pasal 42 dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). Pasal 6 ayat (2). Pasal 25. f. d. Pasal 33. dan ayat (2). Pasal 24. g. Pasal 32. Pasal 30. (2) Informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib diberikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota. Pasal 35. Pasal 29. dan ayat (4). Pasal 26. dan Pasal 42 dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah b. Pasal 18 ayat (2). Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2). laporan berkala dari penanggung jawab usaha mengenai status penaatan terhadap persyaratan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2). dokumen perizinan pengusahaan hutan dan atau lahan.

wajib untuk membayar ganti kerugian dan atau melakukan tindakan tertentu. Pasal 18 ayat (1). Pasal 14. Pasal 17. BAB XII GANTI KERUGIAN Pasal 49 (1) Setiap perbuatan yang melanggar ketentuan Pasal 11. Pasal 20. dan Pasal 21 ayat (1) yang menimbulkan akibat kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup.(APBD) dan atau sumber dana perundang-undangan yang berlaku. Pasal 12. hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. dan Pasal 15 dikenakan sanksi administrasi sebagaimana diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 27 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 14. (2) (3) Pasal 50 Dalam hal tata cara penetapan besarnya ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (3) belum ditetapkan. Pasal 13. Pasal 15. lain sesuai dengan peraturan BAB XI SANKSI ADMINISTRASI Pasal 48 Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 12. maka tata cara . Tata cara penetapan besarnya ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara tersendiri dengan Peraturan Pemerintah.

atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. (2) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c. dan atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Pasal 42. Pasal 17. Pasal 46. Pasal 14. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan.penetapan besarnya ganti kerugian dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. b. Pasal 51 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. diancam dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41. BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 52 Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 11. c. dan Pasal 18 yang mengakibatkan terjadinya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. Pasal 44. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. . pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti kerugian. Pasal 45. (3) adanya bencana alam atau peperangan. Pasal 15. dengan kewajiban membayar ganti kerugian secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. Pasal 43. dan Pasal 47 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini: a.

wajib menyesuaikan Pemerintah ini. BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 55 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. maka semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan. Pasal 54 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini.BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 53 Dengan diundangkannya Peraturan Pemerintah ini : a. izin usaha yang sudah diterbitkan sebelum Peraturan Pemerintah ini wajib menyesuaikan dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah ini. tetapi masih dalam proses dengan ketentuan Peraturan b. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 5 Februari 2001 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. izin usaha yang telah diajukan penyelesaian. ttd . dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.

ABDURRAHMAN WAHID Diundangkan di Jakarta pada tanggal 5 Februari 2001 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. bahwa pemanfaatan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup harus disertai dengan tindakan konservasi. Di lain pihak ketersediaan sumber daya alam juga terbatas.lV/MPR/1999 tentang Garis -garis Besar Haluan Negara. Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi akan meningkatkan pemanfaatan terhadap sumber daya alam. dan penghematan penggunaan. rehabilitasi. Di dalam pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara tegas dikemukakan dalam Tap MPR No. dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan. sehingga pada akhimya akan menimbulkan tekanan terhadap sumber daya alam un sendiri. Oleh karena itu. Penerapan kebijakan ini diharapkan dapat memperkecil dampak yang akan . Proses pelaksanan pembangunan itu sendiri disatu pihak menghadapi masalah karena jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi dan persebarannya tidak merata. ttd DJOHAN EFFENDI PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04 TAHUN 2001 TENTANG : PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN ATAU PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN I. pemanfaatan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu kehidupan rakyat harus disertai dengan upaya-upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. mutu kehidupan dan penghidupan seluruh rakyat Indonesia.UMUM Pembangunan yang dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Kegiatan ini dilakukan dengan membuka kawasan-kawasan hutan menjadi kawasan budidaya yang dalam proses pelaksanaan kegiatannya rawan terjadinya kebakaran hutan dan atau hutan. ekonomi. . seperti terjadinya kerusakan flora dan atau fauna . tanah. Dampak yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan adalah terjadinya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. yang mengakibatkan penutupan beberapa bandar udara. pneumonia (radang paru). sosial. Lahan tersebut mempunyai ciri— cirinya merangkum semua tanda pengenal biosfer. asma bronkial. intensitas. Pengendalian terhada terjadinya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri. pertambangan. seperti dalam Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Pencemaran Air. Singapura. Sektor pembanguan tersebut antara lain di bidang kehutanan. dan ladang dan kebun bagi masyarakat. Sedangkan pengertian lahan adalah suatu hamparan ekosistem daratan yang peruntukannya untuk usaha di bidang kehutanan. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. geologi. Hal ini akibat tingginya kadar debu di udara yang telah melampaui ambang batas. perkebunan. dan Brunai Darusalam. iritasi mata dan kulit. Akibatnya di beberapa kota jarak pandang kurang dari satu kilometer. asap dan kebakaran tersebut juga mempengaruhi negara tetangga di Asia Tenggara yakni Malaysia.atmosfer. Selain daripada itu dampak asap mengganggu aktivitas penduduk. maka Pemerintah melakukan pembangunan diberbagai sektor. pariwisata. dan luas arealnya berbeda. timbunan (relief). maupun budaya yang sulit dihitung besamnnya. Dampak asap menimbulkan gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pemafasan akut (ISPA). Dampak asap dan kebakaran hutan dan atau lahantelah mengganggu jarak pandang sehingga mempengaruhi jadual penerbangan. baik kerugian ekologi. serta hasil kegiatan manusia masa lalu dan masa kini yang bersifat mantap atau mendaur. Kebakaran paling besar terjadi pada tahun 1997/1998 di 25 (dua puluh lima) propinsi. bronkitis. transmigrasi. tanah . populasi tumbuhan dan hewan. terjadi setiap tahun walaupun frekuensi. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan devisa.pertanian. Pengertian hutan dalam Peraturan Pemerintah ini menggunakan batasan pengertian sebagaimana tercantum dalam Undang— undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. yaitu suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya.merugikan lingkungan lingkungan hidup dan keberlanjutan pembangunan itu sendiri. Kebakaran hutan dan ataa lahan di Indonesia. dan pertambangan serta pariwisata. transmigrasi . pertanian. Dampak dengan terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan yang terjadi setiap tahun tersebut telah menimbulkan kerugian. yang untuk pertama kali dinyatakan sebagai bencana nasional. Oleh karena itu perlu ditetapkan berbagai langkah kebijakan pengendaliannya. Bahkan. dan hutan. Sedangkan pencemaran dapat terjadi terhadap air dan udara. hidrologi.

terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.Dalam perist. Bagi kegiatan yang tidak memerlukan iziin seperti kegiatan perorangan atau kelompok orang yang k kebinsaan nya membuka lahan untuk ladang dan kebun. dan kebakaran karena sebab alamiah. bimbingan. maka tindakan pencegahan terjadinya kebakaran menjadi sangat penting dilakukan. Di dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 50 huruf d. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sarana dan prasana. . dana. dan letak lokasi yang sulit untuk dapat segera dijangkau serta memerlukan waktu yang cukup lama. antara lain pengendalian kebakaran hutan. pemadaman kebakaran memerlukan kecepatan dan keberhasilan untuk mengatasinya.wa kebakaran hutan dan atau lahan. Meskipun beberapa faktor tersebut di atas dapat mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kebakaran. yaitu Preraturan Pemerintah tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan dengan Kebakaran hutan dan atau Lahan. khususnya dalam pelaksanaan otonomi daerah diperlukan suatu kebijakan nasional. Padahal. termasuk juga karena kebiasaan masyarakat dalam membuka lahan. kehakaran yang tidak disengaja. Dengan demikian. Mengingat dampak akibat kebakaran hutan dan atau lahan sangat besar. baik untuk pemadaman kebakaran maupun pemulihan dampak dari kebakaran. Peraturan Pemerintah ini diperlukan selain karena alasan yang telah diuraikan di atas juga sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 1 4 ayat (2) dan ayat (3) Undang— undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Linkungan Hidup. Untuk dapat memberikan kejelasan dan peran masing-masing pihak terkait terhadap penanganan kebakaran hutan dan atau lahan. maka setiap orang yang melakukan usaha dan atau kegiatan dilarang dengan cara mebakar. antara lain dengan memperketat persyaratan dalam pemberian ijin. kebakanan yang disengaja (arson). Faktor tersebut adalah penyiapan lahan yang tidak terkendali dengan cara membakar. Larangan tersebut tidak berlaku bagi pembakaran hutan secara terbatas untuk tujuan khusus atau kondisi yang tidak dapat dielakan. Kebakaran karena sebab alamiah ini terjadi di daerah yang mengandung batu bara atau bahan lain yang mudah terbakar. kemampuan sumber daya manusia. Untuk itu. secara tegas dinyatakan bahwa setiap orang dilarang membakar hutan. serta pembinaan habitat tumbuhan dan satwa. maka untuk mencegah terjadinya kebakaran diperlukan pembinaan. pembasmian hama dan penyakit. Pelaksanaan pembakaran tersebut harus mendapat izin dari pejabat yang berwenang. Terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan sangat sulit untuk ditanggulangi. maka dalam melakukan tindakan atau kegiatanya tidak dilakukan dengan cara membakar yang dapat menimbulkan kebakaran hutan dan atau lahan. dan penyuluhan serta kebijakan khusus dari masing-masing propinsi/kabupaten/kota. tetapi faktor yang paling dominan penyebab terjadinya kebakaran adalah karena tindakan manusia.

PASAL DEMI PASAL Pasal 1 sampai pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) sampai ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Kriteria baku lingkungan hidup daerah dapat ditetapkan lebih ketat daripada kriteria baku kerusakan lingkungan hidup nasional apabila kondisi daerah tersebut memerlukannya dan bertujuan untuk memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap lingkungan hidup daerah. antara lain baku mutu udara. Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ketentuan tentanq. pertambangan. antara lain pengendalian kebakaran hutan. pembasmian hama dan penyakit. baku mutu pencemaran lingkungan hidup nasional untuk berbagai sumber daya alam telah di tetapkan dalam berbagai peraturan. transmigrasi. Oleh karena itu dalam melakukan usaha tersebut di larang dilakukan dengan cara pembakaran. kecuali untuk tujuan khusus atau kondisi yang tidak dapat dielakkan.pariwisata yang dilakukan dengan cara membakar.II. Untuk menghindarkan terjadinya kebakaran di luar lokasi lahannya perlu dilakukan upaya pencegahan melalui kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah masing— masing seperti melalui peningkatan kesadaran masyarakat adat atau tradisional . Pasal 11 Kegiatan yang menimbulkan kebakaran hutan dan atau lahan adalah antara lain kegiatan penyiapan latihan untuk usaha di bidang kehutanan. serta pembinaan habitat tumbuhan dan satwa. perkebunan. . Selanjutnya kebiasan masyarakat adat atau tradisional yang membuka lahan untuk ladang dan atau kebun dapat menimbulkan terjadinya kebakanan hutan dn atlaun lahan. pertanian . Pelaksanaan pembakaran secara terbatas tersebut harus mendapat izin dan pejabat yang berwenang.

Pasal 16 Yang dimaksud dengan pejabat yang berwenang memberikan izin melakukan usaha adalah pejabat dan instansi yang bertanggung jawab di bidang yang di mintakan permohonan izin usahanya.Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Yang dimaksud dengan penanggung jawab usaha yang usahanya dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. Huruf b sampai huruf d Cukupjelas Huruf c Yang dimaksud dengan pelatihan penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan secara berkala antara lain adalah setiap 6 (enam) bulan sekali. . Pasal 15 Laporan hasil pemantauan secara berkala dilengkapi antara lain dengan data pemantauan dan data penginderaanjauh dari satelit. dan pertambangan.antara lain usaha di bidang kehutanan perkebunan. Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Sistem deteksi dini dimaksudkan untuk mengetahui terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan. contohnya menara pemantau. Contohnya pejabat yang bertanggung jawab di bidang kehutanan dan pejabat yang bertanggung jawab di bidang pertanian Huruf a Yang dimaksud dengan kebijakan nasional tentang pengelolaan hutan dan atau lahan adalah strategi pengelolaan hutan dan atau lahan serta strategi pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan.

kecuali kebakaran lahan tersebut terjadi sampai di luar areal ladang dan kebunnya Pembakaran tersebut dilakukan dengan sengaja dalam rangka menyiapkan ladang dan kebun. Pasal 17 Penanggulangan kebakaran lahan tidak berlaku bagi masyarakat adat atau tradisional yang membuka lahan untuk ladang dan kebunnya. Pasal 13 Ayat (1) Yang dimaksud dengan segera melakukan penanggulangan adalah tindakan seketika untuk melakukan penanggulangan sejak diketahuinya terjadi kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi kegiatannya. Ayat (3) Penetapan pedoman teknis penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan dengan peraturan daerah dimaksudkan agar dapat disesuaikan dengan kondisi alamiah tentang hutan dan atau lahan daerah yang bersangkutan. Huruf d Yang dimaksud dengan Pertimbangan dan rekomendasi dan pejabat yang berwenang adalah antara lain rekomendasi dari Kepala Bapedal tentang kelayakan lingkungan hidup yang kewenangan penilaian komisi AMDAL nya dipusat. . sedangkan di daerah adalah pertimbangan dan rekomendasi kelayakan lingkungan hidup dan Gubemur yang kewenangan penilaian komisi AMDAL-nya ada di daerah.Huruf b Cukup jelas Huruf c Pendapat masyarakat termasuk di antaranya adalah pendapat pemerhati lingkungan dan organisasi lingkungan hidup. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dalam hal kegiatan yang berkait dengan pertambangan. Misalnya penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi yang mengandung batu bara atau gambut berbeda penanggulangannya dengan kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi lainnya. Ayat(2) Yang dimaksud dengan Menteri lain yang terkait adalah antara lain Menteri Pertanian dalam hal kegiatan perkebunan.

berarti udara dalam kategori berbahaya bagi kesehatan manusia. Huruf b Yang dimaksud dengan pemeriksaan kesehatan masyarakat adalah antara lain pemeriksaan gangguan pernafasan dan iritasi mata. dani kabupaten / kota. Pelaksanaan penanggulangan kebakaran tersebut dilakukan secara bejenjang dari tingkat desa/kelu rahan. .Pasal 19 yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah peraturan perundang— undangan yang selama ini telah ada seperti di bidang kehutanan. Pasal 20 sampai pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Pembentukan instansi yang berwenang tersebut dapat dilakukan bagi propinsi yang rawan terjadi kebakaran hutan dan atau lahan. sumber daya manusia untuk mencegah meluasnya kebakaran. hewan. kecamatan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan tindakan penanggulangan kebakaran adalah antara lain mobilisasi sarana dan prasarana. dan tumbuhan. lluruf C Pengukuran dampak dilakukan antara lain dengan menggunakan indeks standar pencemar udara dan jarak pandang. Apabila hasil pemantauan menunjukkan indeks standar pencemaran udara (ISPU) mencapai nilai 300 atau lebih.

terutama terhadap penanggulangan dan pemulihan lingkungan hidup.Huruf d Yang dimaksud dengan Pengumumnan mengenai langkah— langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan adalah antara lain mengumumkan kepada masyarakat agar mengurangi aktivitasnya. Pengawasan intensif dilakukan dengan frekuensi yang lebih sering daripada pengawasan periodik. . Pasal 37 Yang dimaksud dengan pengawasan secara periodik antara lain pengawasan yang dilakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Yang dimaksud dengan hal tertentu adalah antara lain pengecekan lapangan untuk mengetahui tentang kebenaran informasi yang disampaikan oleh Gubernur/Bupati/Walikota terhadap penanganan kasus kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. dan menggunakan masker untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pembentukan instansi yang berwenang secara khusus tersebut dapat dilakukan di kabupateu/kota yang rawan terjadi kebakaran hutan dan atau lahan.

antara lain. dan aparatur dilakukan melalui antara lain : a. Upaya untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dan aparatur dalam pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan dimaksud agar. Pasal 39 Ayat(1) Yang dimaksud pejabat daerah setempat adalah antara lain Kepala Desa/Lurah.Pasal 38 Yang dimaksud dengan ketidakpatuhan penanggung jawab usaha adalah antara lain tidak menyiapkan peralatan pemadaman. dilaporkan kepada Kepala lnstansi yang bertanggung jawab. d. dan Polisi. c. dan surat. Ayat (2) sampai ayat (5) Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Peningkatan kesadaran masyarakat. penanggung jawab usaha. dapat ikut serta dalam kegiatan fisik di lapangan. pemberian bimbingan teknis.dan atau standar operasi prosedur penanggulangan kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya. pendidikan dan pelatihan. Sedangkan informasi yang diperoleh dan media elektronik. pemberian insentif bagi orang yang dianggap berjasa dalam bidang konservasi hutan dan atau lahan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dan penanggung jawab usaha dalam pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup. sedangkan keterlibatan . Camat. media cetak. peningkatan pemahaman terhadap peraturan perundang— undangan yang berkaitan dengan bidang konservasi hutan dan atau lahan. b.

Sumatera. PM10. Jawa Darat. dan baku mutu udara ambien. Ayat (2) Kearifan tradisional adalah antara lain tradisi Karuhan pada masyarakat Kampung Naga. Huruf e Yang dimaksud dengan langkah-langkah untuk mengurangi dampak adalah antara lain mengurangi aktivitas masyarakat dan menggunakan maskerr untuk menghindari dari kerugian yang lebih besar bagi masyarakat Pasal 44 Cukup jelas . Yang dimaksud dengan pimpinan instansi teknis dalam pasal izin adalah antara lain Departemen Kehutanan untuk usaha kehutanan dan Departemen Pertanian untuk usaha perkebunan. Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Yang dimaksud dengan hasil pengukuran dampak adalah antara lain lndeks Standar Pencemar Udara (ISPU).tidak langsung dapat berupa bantuan pendanaan dalam pengendalian kebakaran hutan dan atau lahan. jarak pandang. Huruf c Cukup jelas Huruf d Yang dimaksud dengan dampak terhadap kehidupan masyarakat adalah antara lain dampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat masyarakat. dan tradisi 1hutan larangan pada masyarakat Siberut.

Hak atas informasi tersebut akan meningkatkan nilai dan efektifitas peran masyakat dalam pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup di samping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuan memang terbuka untuk diketahui masyarakat. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijakan pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan.Pasal 45 Ayat(1) Hak atas informasi tentang terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan merupakan konsekuen logis dan hak berperan dalam pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. baik dengan cara mengajukan keberatan maupun dengan pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-updangan. Informasi tersebut dapat berupa data. Ayat (2) Dalam hal informasi belum tersedia pada Gubenur/Bupati/WaLikota. Yang dimaksud dengan sumber dana lain adalah seperti dana lingkungan atau dana bantuan dari rganisasi/asosiasi tertentu. . Pasal 46 Peran yang dimaksud meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. . maka masyarakat yang berkepentingan dapat meminta informasi tersebut kepada Kepala Instansi yang bertangungjawab. Koordinasi penyediaan informasi dilakukan oleh Kepala Instansi yang bertanggurg jawab. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyakakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengendalian kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan. . misalnya informasi dampak kebakaran hutan dan atau lahan terhadap keselamatan penerbangan diberikan oleh instansi yang bertanuggung jawab di bidang perhubungan. Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Pasal 47. keterangan. Penyediaan informasi kepada masyarakat mengenai dampak kebakaran hutan dan atau lahan lintas propinsi dan lintas batas negara dilakukan oleh Pemerintah Pusat. dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

Tidakan pemulihan mencakup kegiatan untuk mencegah timbulnya kejadian yang sama di kemudian hari. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. Ayat(2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah. adalah jika menurut penetapan peraturanperundang— undangan yang berlaku. Bsamya nilai ganti kerugian yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu.Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Yang dimaksud dengan tindakan tertentu adalah antara lain melakukan penyelamatan dan atau tindakan penanggulangan dan atau pemulihan lingkungan hidup. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukupjelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Ayat (1) Pengertian bertanggungjawab secara mutlak atau strict liabilily. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. .

KRITERIA UMUM BAKU KERUSAKAN TANAH MINERAL YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN .Pasal 52 sampai pasal 55 Cukup jelas LAMPIRAN I Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No : 04 Tahun 2001 Tanggal : 15 Februari 2001 KRITERIA UMUM BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP NASIONAL YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN A.

.

KRITERIA UMUM BAKU KERUSAKAN TANAH GAMBUT YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN .B.

C. KRITERIA UMUM BAKU KERUSAKAN FLORA YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN .

ttd ABDURRAHMAN WAHID Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan I ttd LAmbock V. KRITERIA UMUM BAKU KERUSAKAN FAUNA YANG BERKAITAN DENGAN KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.D. Nahattands ______________________________________ .

2. dan huruf c serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 ayat (3) Undangundang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49. 4. bahwa untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493). Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1. dan makhluk hidup lainnya diperlukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun secara terpadu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480). Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 98. d. bahwa dengan meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang terutama bidang industri dan perdagangan. Undang. . bahwa sampai saat ini terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a. huruf b. akan tetapi masih belum cukup memadai terutama untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918).PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. terdapat kecenderungan semakin meningkat pula penggunaan bahan berbahaya dan beracun. 3. b. kesehatan manusia. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun. Menimbang : a.

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BERACUN. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3910) . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3612). 8. 7. dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup. kesehatan. Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 9. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3815) sebagaimana telah diubah de