Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II BAB I GERAK MOLEKUL : SIFAT PARTIKEL SUATU BAHAN

Nama: A. Kurnia Jaka Octavian NIM : 013021111004 Asisten Dosen: Anisa Khapiya

PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI


2011

GERAK MOLEKUL : SIFAT PARTIKEL SUATU BAHAN I. LATAR BELAKANG A. Keadaan Materi Atom, ion atau molekul dalam padatan terletak sangat berdekatan. Beberapa padatan, partikel-partikel penyusun ini tersusun dalam suatu kerangka yang sangat teratur yang disebut Kristal. Kristal mempunyai geometri yang dicirikan oleh

permukaan-permukaan bidang yang berpotongan pada sudut tertentu. Tidak semua zat padat berwujud Kristal. Jika partikelpartikel penyusun zat padat susunannya tidak teratur, zat padat tersebut dikatan amorf. Baik zat padat Kristal maupun amorf mempertahankan bentuk dan volume tertentu. Dengan demikian zat padat tak dapat dimanpatkan (incompressible) dan fenomena ini mendukung gagasan bahwa atom, ion atau molekul dalam padatan terletak sangat berdekatan. Dalam hal cairan, partikel-partikel penyusunnya juga terletak berdekatan, sekalipun tidak selalu bersinggungan. Demikian cairan lebih dapat dimanpatkan dibanding padatan, karena adanya volume bebas diantara partikel-partikel penyusunnya. Gaya-gaya antar molekul dalam cairan cukup kuat untuk mempertahankan bentuk yang tetap. Cairan juga cenderung mengalir dan

mempunyai bentuk sesuai dengan wdahnya. Gas juga bersifat mengalir, gas mengembang memenuhi wadahnya, sehingga tidak mempunyai bentuk yang tetap atau volume tetap. Demikian juga, karena atom atau molekul gas terletak relative berjauhan, maka gas sangat mudah dimanpatkan.

Perbandingan ketiga macam keadaan materi secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

PADATAN

CAIR

GAS

II. TUJUAN PERCOBAAN 1. Untuk mengembangkan konsep bahan sebagai partikel : metode seorang ahli kimia dalam menduga suatu bahan; 2. Untuk menguji beberapa fakta diskontinuitas suatu bahan dan gerak partikel dalam bahan; 3. Belajar bagaimana teori gerak molekul dalam menjelaskan gejalagejala yang umum terjadi dalam bahan gas, cairan dan padatan.

III. ALAT DAN BAHAN A. Alat Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas piala, gelas arloji, sudip, thermometer, gelas Erlenmeyer, kaki tiga, kassa dan pembakar bunsen. B. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah dietileter, air, NaCl dan Kristal I2. C. Prosedur Kerja Penguapan Suatu Cairan Menempatkan 3 ml dietileter pada gelas arlogi, lalu mengipasngipas gelas arlogi tersebut sampai semua eter menguap. Menentukan jumlah waktu dalam beberapa detik/menit semua eter menguap. Memeriksa suhu gelas arlogi setelah semua eter menguap.

Mendidihkan 50 ml air dalam gelas piala dan menentukan titik didihnya dengan alat termometer. Selanjutnya menempatkan 50 ml air pada 3 gelas piala dengan menambahkan NaCl pada masingmasing gelas berkadar 15%, 18% dan 20%. Mendidihkan larutan air+NaCl tersebut lalu mencatat titik didihnya. Penguapan Zat Padat Menempatkan beberapa butir Kristal I2 dalam gelas Erlenmeyer dan meletakkan di kassa yang ditopang oleh kaki tiga. Memanaskan secara perlahan gelas Erlenmeyer tersebut. Lalu mengamati yang terjadi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Pengamatan Penguapan Suatu Cairan

Percobaan Pertama Suhu Gelas Arloji Sebelum dietileter menguap 25,7oC Setelah dietileter menguap 25,5oC Waktu yang diperlukan 3 mL dietileter untuk menguap 2 menit 10 detik

Percobaan Kedua Larutan Air Air + NaCl 15% Air + NaCl 18% Air + NaCl 20% Suhu Awal 25oC 26oC 26oC 26oC Titik Didih 100oC 89,6oC 85oC 80,3oC

Penguapan Zat Padat Percobaan yang Dilakukan Perubahan yang Terjadi Kristal I2 menyublim (gas berwarna

Memanaskan Kristal I2 secara perlahan

ungu) Terjadi Deposisi I2 (terdapat kristalkristal pada dinding erlenmeyer)

4.2. Pembahasan Pada praktikum yang pertama yaitu menguapkan dietileter. Proses penguapan dicirikan oleh molekul-molekul yang mempunyai energi kinetika di atas energi kinetika rata-rata system dari permukaan zat cairnya. Molekul-molekul ini dapat melawan gaya tarik molekul-molekul tetangganya

sehingga dapat berubah ke dalam wujud gas atau uap. Hasil yang diperoleh dari praktikum ini yaitu 3mL dietileter
penguapan dietil eter

seluruhnya dapat menguap dalam waktu 2 menit 10 detik. Dan suhu gelas arloji

yang digunakan dietil eter menurun dari 25,7oC menjadi 25,5oC. Kedua hal tersebut terjadi karena dietileter mempunyai titik didih yang rendah yaitu 34,5oC. Jadi dalam suhu kamarpun dietileter dapat menguap.

Praktikum yang kedua yaitu menghitung titik didih pada air dan pada campuran air+NaCl. Hasil yang didapat yaitu titik didih air 100oC, pada campuran air+NaCl 15% yaitu 89,6oC, air+NaCl 18% yaitu 85oC, dan air+NaCl 20% yaitu 80,3oC. Adapun tujuan dari beragamnya konsentrasi pada larutan NaCl adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi tersebut terhadap kenaikan titik didih larutan NaCl. Terjadi kesalahan pada praktikum kali ini, dari literatur diketahui bahwa titik didih NaCl

adalah 1465oK atau 1192oC (Anonim,2009). Sehingga dapat dilihat bahwa NaCl memiliki titik didih lebih tinggi dari air (titik didih air 373oK atau 100oC). Adapun reaksi yang terjadi pada saat pelarutan NaCl dengan air adalah : NaCl + H2O Na+ + Cl- + H2O Larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih besar akan membutuhkan suhu yang lebih tinggi pula untuk mencapai titik didihnya. penambahan konsentrasi NaCl yang semakin besar akan menyebabkan kenaikan titik didih yang semakin besar pula. Penambahan konsentrasi larutan NaCl tersebut akan mengganggu kesetimbangan dari pelarut. Kecenderungan molekul air akan meninggalkan larutan menjadi uap semakin berkurang, sehingga tekanan parsial dari pelarut akan menurun. Dengan menurunnya tekanan parsial pelarut tersebut menyebabkan diperlukannya panas yang lebih tinggi agar tekanan parsial sama dengan atmosfer sehingga larutan dapat mendidih. Konsentrasi NaCl yang semakin besar disebabkan oleh penambahan komposisi solute (NaCl) dalam larutan. Semakin besar komposisi solute maka mol dari larutan juga semakin tinggi. Akibatnya fraksi mol pun semakin tinggi sehingga tekanan parsialnya semakin tinggi, seperti percobaan ini sesuai dengan hukum Roult yang berbunyi, semakin banyak zat yang terlarut di dalam larutan, maka semakin besar pula titik didihnya. Pada praktikum yang ketiga yaitu perubahan fasa pada I2 dengan memanaskan secara perlahan, jika pemanasan dilakukan tidak secara perlahan maka Kristal I2 akan meletup. Hasil yang didapat dari praktikum yaitu terjadi sublimasi pada Kristal I2 menjadi gas yang berwarna ungu yang diiringi oleh deposisi yaitu gas terdapat Kristal-kristal I2 pada dingding Erlenmeyer. Sehingga dicapai kesetimbangan dinamis, yaitu suatu keadaan dimana dua proses yang berlawanan satu sama lain berlangsung secara bersamaan di dalam suatu system yang tertutup.

V. KESIMPULAN Dari hasil pengamatan pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa: Titik didih suatu larutan bergantung pada tekanan luar, dimana suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama dengan tekanan luar, sehingga gelembung uap yang terbentuk dalam cairan dapat mendorong ke permukaan menuju fase gas (penguapan).
Kesetimbangan dinamis, yaitu suatu keadaan dimana dua proses

yang berlawanan satu sama lain berlangsung secara bersamaan di dalam suatu system yang tertutup. VI. DAFTAR PUSTAKA http://www.fuadshifu.info/kenaikan-titik-didih/ Sutresna, Nana. 2004. Sains Kimia. Bandung: Grafindo Media Pratama

VII. LAMPIRAN Pertanyaan: 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan titik didih, titik sublimasi, titik cair dan titik uap? 2. Apa perbedaan zat padat, zat cair dan gas? 3. Apa beda istilah mendidih dan menguap? Jawab: 1. -Titik didih adalah suhu (temperatur) dimana tekanan uap sebuah zat cair sama dengan tekanan eksternal yang dialami oleh cairan. -Titik sublimasi adalah suhu pada saat terjadi perubahan fasa dari zat padat ke gas. -Titik cair adalah suhu pada saat terjadi perubahan fasa dari zat padat ke zat cair. -Titik uap adalah suhu pada saat terjadi perubahan fasa dari zat cair ke gas.

2. Zat padat = partikel-partikel penyusunnya sangat berdekatan. Memiliki volume dan bentuk yang tetap. Zat cair = partikel-partikel penyusunnya berdekatan. Memiliki volume tetap dan bentuk yang berubah-ubah mengikuti ruang yang ditempatinya. Gas = partikelnya tersebar luad dan tidak tersusun. Memiliki volume dan bentuk yang tidak tetap, mengikuti ruang yang ditempatinya. 3. Mendidih = cairan dikatakan mendidih bila berlangsung penguapan di seluruh cairan (dalam cairan terbentuk banyak gelembung). Pada saat mendidih suhu cairan konstan, sampai seluruh cairan habis. Menguap = Lepasnya molekul-molekul yang mempunyai energy kinetika di atas energy kinetika rata-rata system dari permukaan zat cairnya. Proses penguapan tidak bergantung pada saat air mendidih.