Anda di halaman 1dari 5

DEFINISI Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun

n sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Gerontologi Gerontos usia lanjut Logos ilmu Gerontologi yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lansia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosial, kultural, ekonomi dan lain-lain (Depkes.RI, 1992:6) Geriatri Gerontos Iatros penyakit Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia. Psikogeriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lansia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lansia. Gerodontologi adalah ilmu yang mempelajari proses penuaan seluruh komponen gigi dan mulut yang mencakup system stomatognati. Dikaitkan dengan berbagai aspek Gerontologi, meliputi biopsikososial serta tidak lepas dari aspek Geriatri.

BATAS USIA LANSIA Menurut Undang-undang No.12/1998 tentang Kesejahteraan dan Burnside, dkk Usia lanjut adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Depsos,1999) Menurut WHO - Elderly (64 - 74 thn) s/d Old (75 - 90 thn) - Very Old (> 90 thn) Menurut Otto Von Bismarok Th. 1880, batas usia seseorang disebut lansia adalah usia 65 tahun. Definisi ini dianut untuk kepentingan sosial menentukan usia pensiun atau syarat-syarat untuk berbagai layanan yang tersedia untuk lansia. Menurut Gerontologis lansia dibedakan menjadi 2 grup : Early old age (65 74) Advanced old age (75 keatas)

KARAKTERISTIK UMUM LANSIA 1. Usia lanjut sehat 1. Definisi : Usia lanjut sehat adalah usia lanjut yang dapat mempertahankan kondisi fisik dan mental yang optimal serta tetap melakukan aktivitas sosial dan produktif. 2. Ciri : Memiliki tingkat kepuasan hidup yang relatif tinggi karena merasa hidupnya bermakna, mampu menerima kegagalan yang dialaminya sebagai bagian dari hidupnya yang tidak perlu disesali dan justru mengandung hikmah yang berguna bagi hidupnya. Memiliki integritas pribadi yang baik, berupa konsep diri yang tepat dan terdorong untuk terus memanfaatkan potensi yang dimilikinya. Mampu mempertahankan sistem dukungan sosial yang berarti, berada di antara orang-orang yang memiliki kedekatan emosi dengannya, yang memberi perhatian dan kasih sayang yang membuat dirinya masih diperlukan dan dicintai. Memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, didukung oleh kemampuan melakukan kebiasaan dan gaya hidup yang sehat. Memiliki keamanan finansial, yang memungkinkan hidup mandiri, tidak menjadi beban orang lain, minimal untuk memenuhi kebutuhan seharihari. Pengendalian pribadi atas kehidupan sendiri, sehingga dapat menentukan nasibnya sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Hal ini dapat menjaga kestabilan harga dirinya. 2. Pasien lanjut usia Definisi : usia lanjut yang memiliki kelainan fungsi yang bersifat patologis (sakit) 3. Pasien Geriatri Definisi : Pasien yang berusia 60 tahun atau lebih yang dicirikan / dikarakeristikkan dengan : 1. 2. memiliki lebih dari 1 macam penyakit (multipatologi) yang umumnya didominasi oleh penyakit kronik degeneratif, dicetuskan oleh penyakit akut adanya penurunan cadangan faali, yang ditandai dengan penurunan faal berbagai organ, penurunan daya tahan tubuh, kekuatan otot yang berkurang, dsb imobilisasi 3. 4. adanya tampilan klinis yang menyimpang gangguan fungsi dan nutrisi (gizi), dimana pada pasien geriatri selalu dijumpai kesulitan makan dan gangguan asupan makanan yang disebabkan oleh penyakitnya sendiri ataupun akibat sequelle (gejala sisa) penyakit sebelumnya 5. disertai dengan problema sosial dan psikologi

6. 7. 8. 9.

penurunan status fungsional sehingga menimbulkan ketergantungan terhadap keluarga atau orang lain adanya gangguan pendengaran, penglihatan, gangguan buang air kecil (inkontinensia) dan besar cenderung terkena gangguan ereksi pada pasien laki-laki instabilitas / jatuh isolasi sosial serta imobilisasi gangguan gerakan keterbatasan mobilitas dan iatrogenic (efek samping pemakaian banyak obat)

Menurut Drs. H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi., ada 4 ciri yang dapat dikategorikan sebagai pasien Geriatri dan Psikogeriatri, yaitu :

Keterbatasan fungsi tubuh yang berhubungan dengan makin meningkatnya usia Adanya akumulasi dari penyakit-penyakit degeneratif Lanjut usia secara psikososial yang dinyatakan krisis bila :

a) Ketergantungan pada orang lain (sangat memerlukan pelayanan orang lain)

b) Mengisolasi diri atau menarik diri dari kegiatan kemasyarakatan karena berbagai sebab, diantaranya setelah menajalani masa pensiun, setelah sakit cukup berat dan lama, setelah kematian pasangan hidup dan lain-lain.

Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia ke arah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik, depresif, apatis dsb. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat, terpaksa berurusan dengan penegak hukum, atau trauma psikis.

Penyebab utama pasien geriatri dirawat antara lain : 1. 2. adanya acute confusional state (dijumpainya gangguan mental organik) Demensia, yang secara umum sering disebut pikun, yaitu dijumpainya gangguan memori sehingga terdapat penurunan faal kognitif disertai gangguan dalam melaksanakan aktivitas hidup sehari-hari atau dengan gangguan fungsi sosial. 3. Instabilitas dan Jatuh : pasien usia lanjut mudah jatuh akibat ketidakstabilan berdiri atau saat berjalan sehingga dapat menyebabkan patah tulang atau cedera jaringan. Penyebab infeksi berat atau akibat patah tulang Akibat berbagai komplikasi antara lain dekubitus, yaitu terjadinya kematian jaringan di sekitar punggung, tumit, mata kaki sehingga dapat menyebabkan infeksi penyumbatan pembuluh darah kaki atau pembuluh darah paru dan dapat menyebabkan kematian. 4. Depresi: gangguan ini biasanya dicetuskan oleh kehilangan obyek yang disayanginya seperti kehilangan isteri, suami, anak kesayangan atau barang kesayangannya.

TIPE-TIPE PERILAKU LANSIA & KARAKTERISTIK PSIKOLOGISNYA (Brocklehurst dan Allen, 1987) Definisi Kepribadian 1. Kepribadian atau personality berasal dari kata persona yang berarti masker atau topeng maksudnya apa yang tampak secara lahir tidak selalu menggambarkan yang sesungguhnya (dalam bathinnya). Contoh: orang lapar belum tentu mau makan ketika ditawari makanan, padahal perutnya keroncongan. Orang tidak punya uang dapat berpura-pura punya uang atau sebaliknya. 2. Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992). Tipe kepribadian lansia Pada lansia yang sehat, kepribadiannya tetap berfungsi dengan baik, kecuali kalau mereka mengalami gangguan kesehatan jiwanya atau tergolong patologik. Sifat kepribadian seseorang sewaktu muda akan lebih nampak jelas setelah memasuki lansia sehingga masa muda diartikan sebagai karikatur kepribadian lansia. Kegunaan Dengan memahami kepribadian lansia tentu akan lebih memudahkan masyarakat secara umum dan anggota keluarga lansia tersebut secara khusus, dalam memperlakukan lansia dan sangat berguna bagi kita dalam mempersiapkan diri jika suatu hari nanti memasuki masa lansia. Adapun beberapa tipe kepribadian lansia adalah sebagai berikut: 1. Tipe konstruktif Tipe ideal seolah-olah orang tidak pernah menghadapi permasalahan yang menggoncangkan dirinya sehingga hidupnya terlihat stabil dan lancar a. Masa muda i. umumnya mudah menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan dan pola kehidupannya

ii. iii. b.

perilakunya positif dan konstruktif serta hampir tidak pernah bermasalah, baik di rumah, di sekolah maupun dalam pergaulan sosial Perilakunya baik, adaptif, aktif, dinamis, tenang dan damai semua berjalan dengan normatif dan lancar

Masa dewasa mempunyai rasa toleransi yang tinggi, sabar, bertanggung jawab dan fleksibel, sehingga dalam menghadapi tantangan dan gejolak selalu dihadapi dengan kepala dingin dan sikap yang mantap

c.

Masa lansia dapat menerima kenyataan, sehingga pada saat memasuki usia pensiun ia dapat menerima dengan suka rela dan tidak menjadikannya sebagai suatu masalah, karena itu post power sindrome juga tidak dialami sangat produktif dan selalu aktif walaupun sudah pensiun akan banyak yang menawari pekerjaan sehingga mereka tetap aktif bekerja di bidang lain ataupun ditempat lain mantap sampai lansia dan tetap eksis di hari tua

2.

Tipe mandiri a. Masa muda dikenal sebagai orang yang aktif dan dinamis dalam pergaulan sosial, senang menolong orang lain, memiliki penyesuaian diri yang cepat dan baik, banyak memiliki kawan dekat namun sering menolak pertolongan atau bantuan orang lain b. Masa dewasa Dalam dunia kerja ia sangat mandiri, mudah memperoleh fasilitas atau kemudahan-kemudahan lainnya dan sering menjadi pimpinan karena aktif dan dominan kariernya cukup menanjak Dalam kehidupan berkeluarga model kepribadian ini umumnya sangat dominan dalam mengurus keluarganya ayah atau ibu yang sangat perhatian pada anak-anak dengan segala kebutuhannya

3.

Tipe ketergantungan (dependent) Karakter : perilaku yang pasif dan tidak berambisi sejak anak-anak, remaja dan masa muda, perilakunya cenderung didasari oleh ikut-ikutan karena diajak oleh temannya atau orang lain, kurang memiliki inisiatif dan kreativitas untuk menghadapi hal-hal yang nyata a. Masa muda : siswa yang pasif, tidak menonjol, banyak menyendiri, pergaulannya terbatas sehingga hampir-hampir tidak dikenal kawan sekelasnya. b. Masa dewasa Dalam mencari pekerjaan biasanya tergantung pada orang lain masuk usia kerja lambat dan kariernya tidak menyolok. Dalam bekerja lebih senang jika diperintah, dipimpin dan diperhatikan oleh orang lain atau atasan, namun jika tidak ada perintah cenderung pasif seolah-olah tidak tahu apa yang harus dilakukan. c. Masa lansia senang hati menerima pensiun dan dapat menikmati hari tuanya. Masalah jika pasangan hidupnya meninggal duluan seringkali mengakibatkan mereka menjadi merana dan kadang-kadang juga cepat menyusul, karena kehilangan pasangan merupakan beban yang amat berat sehingga mengalami stress yang berat dan sangat menderita.

4.

Tipe defensif a. Masa dewasa b. mempunyai pekerjaan / jabatan tak stabil selalu menolak bantuan seringkali emosinya tdk dapat dikontrol memegang teguh pada kebiasaannya takut menghadapi menjadi tua dan tak menyukai masa pensiun

Masa lansia -

5.

Tipe bermusuhan (hostility) a. Karakter : tidak disenangi orang karena perilakunya cenderung sewenang-wenang, galak, kejam, agresif, semauanya sendiri dan sebagainya Masa muda Sejak masa sekolah dan remaja sudah banyak masalah, sering pindah-pindah sekolah, tidak disenangi guru, dijauhi kawan-kawan reputasinya negatif b. Masa dewasa c. Dalam dunia kerja mereka tidak stabil, senang pindah-pindah kerja atau pekerjaannya tidak menentu. tidak mau mengakui kesalahannya dan cenderung mengatakan bahwa orang lain yang berbuat salah banyak mengeluh dan bertindak agresif atau destruktif, padahal dalam kenyataan mereka lebih banyak berbuat kesalahan takut menghadapi masa tua sehingga mereka berusaha minum segala jenis jamu atau obat agar terlihat tetap awet muda, takut kehilangan power, takut pensiun dan paling takut akan kematian rakus, tamak, emosional dan tidak puas dengan kehidupannya, seolah-olah ingin hidup seribu tahun lagi

Masa lansia -

6.

Tipe membenci / menyalahkan diri sendiri (shelfhaters)

Karakter : sifat-sifat yang sering menyesali diri dan mengkritik dirinya sendiri. Misalnya merasa bodoh, pendek, kurus, terlalu tinggi, terlalu gemuk dan sebagainya, yang menggambarkan bahwa mereka tidak puas dengan keberadaan dirinya.

a.

Masa muda tidak memiliki ambisi namun kritik terhadap dirinya banyak dilontarkan

b.

Masa dewasa dalam mencari pekerjaan dan bekerja juga tidak berambisi yang penting bekerja namun karier tidak begitu diperhatikan kondisi sosial ekonominya juga menjadi pas-pasan, karena sulit diajak kerja keras kehidupan keluarga kurang hangat dan kurang membahagiakan dirinya

c.

Masa lansia Dalam menghadapi masa pensiun mereka akan menerima dengan rasa berat, karena merasa lebih tidak berharga lagi dan tidak terpakai. Antara suami dan istri menjadi tidak akur masing-masing mengurusi kebutuhan sendiri-sendiri, tidak saling menegur dan saling mengacuhkan walaupun hidup dalam satu atap

TEKNIK PENDEKATAN PADA LANSIA Komunikasi adalah proses mentransmisikan, mengetahui/menyadari, dan menginterpretasi informasi baik secara verbal maupun nonverbal. Baik pemberi maupun penerima informasi harus memiliki beberapa keterampilan. Verbal Keterampilan verbal berupa kemampuan untuk mengekspresikan sesuatu melalui arti dan nuansa bahasa, dan kemampuan untuk menerima dan menginterpretasi arti dan nuansa dari pesan yang disampaikan dengan tepat. Penerima juga harus memiliki sistem sensori auditori dan visual yang normal sebagai tahap pertama dalam menerima pesan secara akurat. Orang tua yang telah mengalami penurunan dalam pendengaran dan penglihatan akan sulit dalam menerima pesan verbal secara akurat.

Nonverbal Jalur-jalur komunikasi nonverbal meliputi ekspresi wajah, kontak dan tatapan mata, postur tubuh, jarak fisik, bahasa tubuh, dan sentuhan. Seperti komunikasi verbal, komunikasi nonverbal yang efektif juga membutuhkan keterampilan dari pemberi dan penerima. Beberapa ekspresi wajah adalah natural, bawaan lahir. Kebudayaan juga berpengaruh terhadap arti sebuah ekspresi wajah. Demikian juga postur tubuh dan jarak fisik, serta bahasa tubuh, kontak mata, dan sentuhan yang juga dipengaruhi budaya.

Rekomendasi untuk dokter gigi untuk meningkatkan komunikasi skill mereka : 1. Saat menulis pesan, gunakan huruf tebal dan besar. Hal ini sederhana dan efektif untuk membantu fungsi visual orang tua dan lebih menarik untuk dibaca.. 2. Gunakan warna yang kontras saat penulisan pesan. Tulisan biru diatas background kuning pucat sangat efektif, tinta hitam juga dapat digunakan, mereka dapat efektif sepanjang warna kontras kuat. 3. Saat berbicara dengan pasien tua, posisikan wajah langsung berhadapan dengan wajah pasien dan menjaga kontak mata. Hal ini akan membantu pasien yang kehilangan pendengaran yang berat untuk membaca gerakan bibir jika mereka memiliki kemampuan tersebut dan untuk memblok suara-suara asing. Ini juga membantu mengorientasikan seseorang dengan fungsi visual yang buruk. 4. Berdiri lebih dekat dengan pasien tua dari pada pasien muda juga membantu menerima informasi melalui jalur pendengaran dan penglihatan. Namun harus lebih sensitive bahwa orang tua bereaksi negative untuk mengurangi jarak antara dirinya dan drg. 5. Sentuhan dapat berguna dalam membentuk komunikasi dengan orang tua yang mengalami penurunan pendengaran dan penglihatan. Hal tersebut membuat berkurangnya interpersonal barriers dan meningkatkan empathy antara pembicara dan pendengar. Namun sentuhan dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi beberapa orang tua. sehingga lebih nyaman dengan tactile contact selama diskusi. 6. Pola dan volume berbicara harus diperhatikan. Agar pasien tua mudah memahami, dokter gigi harus berbicara lebih lambat dan jelas. Pengucapan yang jelas akan mengurangi kemungkinan kesulitan pembedaan konsonan seperti z, s, sh, t, th, f, p, dan k. memperbesar suara dapat membantu, namun jangan berteriak. 7. Untuk pasien yang pendengaran sangat lemah (namun tidak tuli) , dental team dapat menggunakan alat khusus yang diletakan secara langsung pada telinga penerima (harus dengan persetujuan pasien). Pembicara dapat berbicara langsung melalui alat seperti microphone. 8. Diskusi dengan pasien tua harus terjadi pada lingkungan yang tenang, dan tidak tergesa-gesa. Ruang dental office merupakan lingkungan yang lebih baik untuk memperoleh riwayat kesehatan pasien, mendengarkan keluhan pasien, serta membicarakan rencana perawatan disbanding dengan ruang tunggu. Ruang dental office harus merupakan private room dan sedikit background noise. 9. Terakhir, cukup membantu apabila menghindari batas fisik seperti meja antara dokter gigi dan pasien. Hal tersebut akan menciptakan barrier psikologis. Teknik pendekatan khusus pada lansia : Penting untuk membangun hubungan rasa saling percaya. Komunikasi efektif membutuhkan kesabaran, persepsi dan insight dengan banyak pasien lanjut usia. Pasien harus didukung (encourage) untuk berbicara secara bebas, tidak hanya pada komplain utama, tapi juga mengenai kemungkinan simptom, perasaannya dan ketakutannya.

Beberapa dari pasien ini pada kecemasannya, tidak melupakan sesuatu yang penting, sehingga memudahkan menceritakan simptomnya secara panjang. Klarifikasi harus dilakukan jika dokter gigi tidak yakin maksud yang diutarakan pasien. Penting untuk menggunakan sinonim lain agar mudah dimengerti pasien.

Keahlian dan pertanyaan langsung, dengan pengalaman, dapat menambah qualitas dan quantitas data yang diperoleh. Akan berguna untuk menanyakan kejadian medis dihubungkan dengan kejadian-kejadian dalam hidupnya misalnya ulang tahun atau musim. Jika pasien terputus-putus, atau tidak jelas, gunakan mental-status questionare. Lingkungan komunikasi juga berperan penting dalam proses komunikasi, lebih baik dilakukan pada ruang konsul, atau kantor private, daripada di dental operatory.

Dokter gigi harus memposisikan dirinya didepan pasien pada level yang sama dan harus berbicara pelan dan jelas. Perilaku caring dan menarik harus dilakukan untuk menghindari keburu-buruan, ketidak sabaran, dan pendekatan tidak simpatik. Dokter gigi harus menjadi pendengar yang aktif, sehingga menunjukkan respon empatik jika perlu. Normalnya, perubahan yang berhubungan dengan umur dalam hal belajar dan mengingat mempunyai beberapa konsekuensi pada komunikasi dental dan manajemen untuk pasien lansia.

Dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi terhadap perubahan baik mental dan fisik pada lansia, tim dental dapat menghasilkan rencana perawatan yang sesuai dan dapat menghindari kesalahpahaman dalam perawatan dan ketidaktepatan health histories.

Beberapa teknik yang dapat dilakukan : 1. 2. Penting untuk menyusun informasi yang akan diberikan kepada pasien lansia. Jangan memberikan informasi yang terlalu banyak secara langsung, sehingga menghindari overload informasi. Hindari memberikan instruksi yang harus dilakukan di rumah berlebihan dalam satu kunjungan. Lansia mungkin lebih dapat mengingat informasi pada ingatan sekunder jika digunakan technique of successive approximations. Dengan menggunakan pendekatan seperti ini, dokter gigi dapat menjelaskan prosedur p erawatan gigi di rumah terlebih dulu, diikuti deskripsi perawatan di kunjungan berikutnya, dan review pola makan dan konsultasi nutrisi dikunjungan berikutnya. 3. 4. Sediakan waktu lebih banyak untuk mendengar komplain pasien lansia untuk mendiskusikan prosedur dental dan bahkan untuk pengulangan pesannya. Gunakan cara yang bervariasi dalam komunikasi. Informasi yang diberikan secara tulisan dan lisan oleh drg. akan bertahan lama daripada pesan yang diinstruksikan untuk dibaca di rumah saja.

Elemen yang dibutuhkan untuk berhubungan dengan pasien lanjut usia

Saat pasien memasuki ruang kerja, kesan awal dari kondisi fisik pasien, kondisi nutrisi, gaya berjaan, postur, sikap, dan tingkah laku pasien harus dicatat.
Kesan ini dapat melengkapi petunjuk penting selama proses assesment dan diagnosis.

Langkah-langkah dalam proses assesment:


1. 2. 3. Identifikasi data Sumber informasi Riwayat medik dan evaluasi fisik Pasien questioner Interview pasien dan kesimpulan 4. Review medik Vital signs Kondisi mental Mobilitas Riwayat obat-obatan Updates

Riwayat dental dan evaluasi Keluhan utama atau komplain Pertanyaan penting seputar dental Pemeriksaan ekstraoral Pemeriksaan intraoral dan perioral Bantuan diagnosis Protesa

Daftar Pustaka: Kiyak, H. Asuman. Communication in the Practitioner-Aged Patient Relationship. In: Holm-Pedersen P and Le H, Geriatric Dentistry, 1986, Copenhagen: Munksgaard. Papas A., Niessen, L.C., Chauncey, H.H.Geriatric Dentistry, Aging, and Oral Health. Mosby Year Book 1991. http://www.padangekspres.co.id/content/view/4284/ http://www.depkes.go.id/downloads/Keswa_Lansia.pdf