Anda di halaman 1dari 13

I.

Pengertian Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi. Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu : 1. Refleks defekasi instrinsik Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden, kolon sigmoid, dan didalam rektum. Gelombang ini menekan feses kearah anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus, spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar. 2. Refleks defekasi parasimpatis Adanya faeses dalam rektum yangmerangsang syaraf rektum, ke spinal cord dan merangsang kolon desenden, kemudianke sigmoid, lalu ke rektum dengan gerakanperistaltik dan akhirnya terjadi relaksasisfingter interna, maka terjadilah proses defekasi saat sfingter interna berelaksasi. Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal, maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses.

II.

Anatomi fisiologi sistem Eliminasi fekal a. Lambung Dalam lambung, makanan disimpan sementara dan dipecahkan secara mekanik dankimiawi untuk pencernaan dan absorpsi. Lambung mensekresi HCl, mukus, enzim pepsi, danfaktor intrinsik. Konsentrasi HCl mempengaruhi keasaman lambung dan keseimbangan asamdalam tubuh. Setiap molekul HCl yang disekresi di lambung, sebuah

molekul bikarbonatmemasuki plasma darah. HCl membantu pencampuran dan pemecahan makanan di lambung,mukus melindungi mukosa lambung dari keasaman dan aktivitas enzim. Pepsin mencernaprotein, walaupun tidak banyak pencernaan yang terjadi di lambung. Faktor intrinsik merupakan komponen penting yagn dibutuhkan untuk penyerapan vitamin B12 di usus danpembentukan sel darah merah. Kekurangan faktor intrinsik menyebabkan anemia.Sebelum makanan meninggalkan lambung ia diubah menjadi bahan yang semifluid yangdisebut chime hyme lebih mudah dicerna dan diabsorpsi dari pada makanan yang padat. Klienyang sebagian lambungnya hilang atau menderita gastritis mempunyai masalah pencernaanyang serius karena makanan tidak diubah menjadi chyme. Makanan memasuki usus halussebelum dipecah menjadi makanan yang benar-benar semifluid. b. Usus Halus Selama proses pencernaan chyme meninggalkan lambung dan memasuki usus halus. Usushalus merupakan suatu saluran yang diameternya 2,5 cm dan panjangnya 6 m. Usus halus terdiridari 3 bagian yaitu duodenum, jejenum, ileum. Chyme tercampur dengan enzim pencernaan(seperti empedu dan amilase) ketika berjalan melewati usus halus. Segmentasi (berganti-gantinya kontraksi dan relaksasi dari otot polos) mengaduk chyme untuk selanjutnya memecahmakanan untuk dicerna ketika chyme diaduk, gerakan peristaltik berhenti sementara agarabsorpsi terjadi. Chyme berjalan dengan lambat di saluran cerna untuk diabsorpsi. Banyak makanan dan elektrolit yang diabsorpsi di usus halus. Enzim dari pankreas (amilase) danempedu dari kandung empedu. Usus memecah lemak, protein dan karbohidrat menjadi elemen-elemen dasar. Hampir seluruh makanan diabsorpsi oleh duodenum dan jejenum. Ileummengabsorpsi beberapa vitamin, zat besi dan garam empedu. Jika fungsinya terganggu, prosespencernaan berubah secara drastis. Contohnya inflamasi, bedah caesar, atau obstruksi dapatmengganggu peristaltik, mengurangi ares absorpsi, atau memblok jalan chyme. c. Usus Besar Bagian bawah dari saluran gastrointestinal adalah usus besar (kolon) karena diameternyalebih besar dari usus halus. Meski panjangnya lebih pendek yaitu antara 1,5-1,8 m. Usus besarterbagi atas caecum, kolon, dan rektum. Ini adalah organ penting dari eliminasi b.a.b. 1) CAECUMC

hyme yang diabsorpsi memasuki usus besar pada caecum melalui katup ileocecal, dimanalapisan otot sirkular mencegah regurgitasi (makanan kembali ke usus halus). 2) KOLONC hyme yang halus ketika memasuki kolon volume airnya berkurang. Kolon terdiri dari ascending, transverse, descending, & sigmoid. Kolon mempunyai 4 fungsi yaitu absorpsi,proteksi, sekresi, dan eliminasi. Sejumlah besar air dan sejumlah natrium dan clorida diabsorpsisetiap hati. Ketika makanan berjalan melalui kolon, terjadi kontraksi Haustral. Ini sama dengankontraksi segmental dari usus halus, tetapi lebih lama hingga mencapai 5 menit. Kontraksimenghasilkan pundipundi besar di dinding kolon yagn merupakan area untuk absorpsi.Air dapat diabsorpsi oleh kolon dalam 24 jam, rata-rata 55mEq dari natrium dan 23mEqdari klorida diabsorpsi setiap hari. sejumlah air yagn diabsorpsi dari chyme tergantung darikecepatan pergerakan kolon. Chyme biasanya lembut, berbentuk massa. Jika kecepatankontraksi peristaltik cepat (abnormal) berarti ada kekurangan waktu untuk mengabsorpsi air danfeses menjadi encer. Jika kontraksi peristaltik lambat, banyak air yang diabsorpsi dan terbentuk feses yang keras sehingga menyebabkan konstipasi. Kolon memproteksi dirinya sendiri dengan mengeluarkan sejumlah mucous. Mucousbiasanya bersih sampai buram dengan konsistensi berserabut. Mucous melumasi kolon,mencegah trauma pada dinding dalam. Pelumas adalah sesuatu yagn penting di dekat distal darikolon dimana bagiannya menjadi kering dan keras.Fungsi sekresi dari kolon membantu dalam keseimbanan elektrolit. Bikarbonat disekresiuntuk pertukaran clorida. Sekitar 4-9 mEq natrium dikeluarkan setiap hari oleh usus besar.Berubahnya fungsi kolon dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit.Akhirnya kolon memindahkan sisa produk dan gas (flatus). Flatus dihasilkan daritertelannya udara, difusi gas dari pembuluh darah ke usus dan kerja bakteri pada karbohidratyang tidak bisa diserap. Fermentasi dari karbohidrat (seperti kol dan bawang) menghasilkan gaspada usus yang dapat merangsang peristaltik. Orang dewasa biasanya membentuk 400-700 ml flatus setiap hari. III. Proses Defekasi

Defekasi adalah proses pembuangan atau pengeluaran isi metabolisme berupa feses dan flatus berasal dari saluran pencernaan melalui anus. Di dalam proses defekasi terjadi dua macam reflek yaitu : a. Refleksi Defekasi Reflek ini berawal dari fese yang masuk ke rectum sehingga terjadi distensi rectum yang kemudian menyebabkan rangsangan pada fleksus mesentrikus dan terjadilah pergerakan peristaltic. Setelah fese tiba di anus, secara sistematis spinker interna relaksasi maka terjadilah defekasi. Fisiologinya : Feses masuk rectum

Distensi / keterangan rectum

Rangsangan plektus mesentrikus

Terjadi peristaltic di colon askenden, sigmoid, rectum

Feses terdorong ke anus

Sfinger interna tidak menutup, sfinger eksterna relaksasi

b. Reflek defekasi parasimpatis Feses yang masuk ke rectum akan merangsang syaraf yang kemudian diteruskan ke spinal cord kemudian dikembalikan ke kolon desenden, sigmoid dan rectum yang menyebabkan intensitas peristaltic, relaksasi spinter internal, maka terjadilah defekasi. Fisiologisnya : Feses masuk rectum

Rangsangan saraf rectum

Dibawa ke spinal cord

Kembali ke kolon descenden, sigmoid dan rectum

Intensifkan peristaltic relaksasi sfinger internal, intensifkan reflek intrinsic

Rangasang defekasi

Kontraksi otot abdomen dan diafragma

Tekanan intra abdomen naik

Otot levantur anus kontraksi

Menggerakkan feses untuk melalui konal anal

Defekasi

Dorongan feses juga dipengaruhi oleh kontraksi otot abdomen , tekanan diafragma dan kontraksi otot elevator. Defekasi dipermudah oleh fleksi oto femurdan posisi jongkok. Gas yang dihasilkan dalam proses pencernaan normalnya 7-10 liter/24 jam. Jenis gas yang terbanyak adalah CO2, NH4, H2S, O2 dan N2. fese terdiri dari 75 % air dan 25% materi padat. Feses normal berwarna coklat karena pengaruh sterkobilin, mobilin dan aktifitas bakteri. Bau khas karena pengaruh dari mikroosganisme. Konsistensi lembek namun berbentuk. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan ke bawah ke arah rectum. Jika reflek defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan cara mengkontrasiakan muskulus spingter eksternal, maka rasa terdesak untuk defekasi secar berulang dapat menghasilkan rectum meluas untuk menampung kumpulan feses. Susunan feses terdiri dari: 1. Bakteri yang umumnya sudah mati 2. Lepasan epithelium dari usus 3. Sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin (mucus) 4. Garam terutama kalsium fosfat 5. Sedikit zat besi

6. Siasa zat makanan yabf tidak dicerna dan air (100 ml)

IV.

Faktor-faktor yang mempengaruhi a. Usia Pada usia bayi control defekasi belum berkembang, sedangkan pada usia manula control defekasi menurun. b. Diet Bergantung pada kualitas, frekuensi, dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Contohnya, makanan beserat akan mempercepat produksi feses, banyaknya makanan yang masuk kedalam tubuh juga mempengaruhi proses defekasi. c. Intake cairan Intake cairan yang berkurang akan menyebabkan feses menjadi lebih keras, disebabkan karena aabsorpsi cairan yang meningkat. d. Aktivitas Tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma akan sangat mebantu proses defekasi. Gerakan peristaltic akan memudahkan bahan feses bergerak sepanjang kolon. e. Fisiologis Keadaan cemas, takut, marah akan meningkatkan peristaltic, sehingga menyebabkan diare. f. Pengobatan Beberapa jenis obat dapat mengakibatkan diare dan konstipasi. Laktasi dan katarik dapat melunakkan feses dan meningkatkan peristaltic. Tetapi bila digunakan dalam waktu lama kedua obat tersebut dapat menurunkan tonus otot sehingga usus menjadi kurang responsive tyerhadap stimulus insaktif. Obat-obatan yang dapat mengganggu pola defekasi antara lain : narkotik, opiate, dan antikolinergik. g. Gaya hidup Kebiasaan untuk melatih pola buang air besar sejak kecil secara teratur, fasilitas buang air besar, dan kebiasaan menahan buang air besar h. Prosedur Diagnostik Pemeriksaan diagnostic tertentu, khususnya yang ditujukan untuk melihat struktur saluran pencernaan, mengharuskan dilakukan pengosongan lambung (misalnya enema atau katartik). Tindakan ini dapat mengganggu pola eliminasi sampai klien dapat makan dengan normal. Selain

itu, prosedur pemeriksaan dengan barium dapat menambah masalah. Sisa barium yang tertinggal dalam saluran pencernaan akan mengeras dan menyebabkan implikasi usus. i. Penyakit Beberapa penyakit pencernaan dapat menimbulkan diare dan konstipasi j. Anestesi dan Pembedahan Anestesi umum dapat menghalangi impuls parasimpatis sehingga kadang-kadang dapat menyebabkan ileus usus. Kondisi ini berlangsung 24-28 jam yang disebut dengan ileus paralitik. k. Nyeri Pengalaman nyeri waktu buang air besar seperti hemoroid, fraktur espubis, episiotomy akan mengurangi keinginan BAB l. Kerusakan sensorik dan motorik Kerusakan spinal cord dan injury kepala akan menimbulkan penurunan stimulasi sensorik untuk defekasi m. Posisi saat defekasi Posisi jongkok merupakan posisi paling sesuai untuk defekasi. Posisi ini memungkinkan individu mengerahkan tekanan intraabdomen dan mengerutkan otot pahanya sehingga memudahkan proses defekasi (Tarwoto, 2004).

5. Karakteristik Gangguan Eliminasi Bowel Mayor (harus terdapat) (carpenito, 1997) a. Feses keras, berbentuk b. Kebiasaan menggunakan laksatif/enema c. Buang air besar kurang dari 3 kali seminggu d. Feses cair tau lunak e. Frekuensi meningkat (lebih dari 3 kali sehari) Minor (mungkin terdapat) a. Rasa tidak enak pada abdomen b. Rasa penuh pada rectum c. Sakit kepala d. Anoreksia e. Dorongan f. Kram abdomen

g. Bising usus menurun atau meningkat

6. Masalah Umum pada Eliminasi Bowel Untuk eliminasi bowel terdapat beberapa masalah, seperti yang disebutkan dalam buku Tarwanto, 2004 antara lain: a. Konstipasi Gangguan eliminasi yang diakibatkan adanya feses yang kering dank eras melalui usus besar. Biasanya disebabkan pola defekasi yang tidak teratur, penggunaan laksatif yang lama, stress psikologis , obat-obatan, kurang aktivitas, usia. b. Fecal imfaction Masa feses keras di lipatan revtum yang diakibatkan oleh retensi dan akumulasi material feses yang berkepanjangan. Biasanya disebabkan oleh konstipasi, intake cairan kurang, kurang aktivitas, diet rendah serat, dan kelemahan tonus otot c. Diare Keluarnya feses caitan dan meningkatnya frekuensi buang air besar akibat cepatnya chime melewati usus besar, sehingga usus besar tidak mempunyai waktu cukup untuk menyerap air. Diare disebabkan karena stress fisik, obat-obatan, alergi, penyakit kolon, dan iritasi intestinal. d. Inkontinensia usus Hilangnya kemampua otot untuk mengontrol pengeluaran fesef dan gas melalui spinter anus akibat kerusakan fungsi spingter atau persarafan di daerah anus. Penyebabnya karena penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord, tumor spingter anus eksterna. e. Kembung Flatus berlebihan di daerah intestinal sehingga menyebabkan distensi intestinal, dapat disebabkan karena konstipasi, penggunaan obat-obatan (barbiturate, penurunan ansietas, penurunan aktivitas intestinal), mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gas dapat berefek anestesi f. Hemoroid Pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat pengikat tekanan didaerah tersebut. Penyebabnya adalah kostipasi kronis, peregangan maksimal saat defekasi, kehamilan dan obesitas.

B. Konsep Keperawatan Konsep asuhan keperawatan pada laporean ini mengacu pada teori Tarwoto-Wartonah 2004 1. Pengkajian a. Riwayat keperawatan 1) Pola defekasi : frekuensi, pernah berubah 2) Perilaku defekasi : penggunaan laksatif, cara mempertahankan pola 3) Deskripsi feses : JWBK (jumlah, warna, bau, konsistensi) 4) Diet : makanan yang mempengaruhi defekasi, makanan yang biasa dimakan, makanan yang dihindari, dan pola makan yang teratur atau tidak 5) Cairaan : jumlah dan jenis minumkan/hari 6) Aktivitas : kegiatan sehari-hari 7) Kegiatan spesifik 8) Penggunaan medikasi : obat-obat yang mempengaruhi defekasi 9) Stress : stress berkepanangan atau pendek, koping untuk menghadapi atau bagaimana menerima b. Pemerikasaan fisik 1) Abdomen : distensi, simetri, gerakan peristaltic, adanya masa pada perut, tenderness 2) Rektum dan anus : tanda-tanda inflamasi, perubahan warna, lesi, fistula, hemoroid, adanya masa, tenderness c. Keadaan feses Konsistensi, bentuk, warna, jumlah, unsur abnormal dalam feses : lendir, darah d. Pemeriksaan diagnosis 1) Anuskopi 2) Proktosigmoidoskopi 3) Rontgen dengan kontras

2. Diagnosa Keperawatan a. Gangguan eliminasi bowel : konstipasi (aktual/ resiko) Definisi : kondisi dimana individu mengalami perubahan pola yang normal berdefekasi dengan karakteristik menurunnya frekuensi BAB dan feses yang keras Kemungkinan berhubungan dengan : 1) Imobilitas

2) Menurunnya aktivitas fisik 3) Ileus 4) Stress 5) Kurang privasi 6) Menurunnya mobilitas intestinal 7) Perubahan atau pembatasan diet Kemungkinan ditandai oleh : 1) Menurunnya bising usus 2) Mual 3) Nyeri abdomen 4) Adanya masa pada abdomen kiri bawah 5) Perubahan konsistensi feses, frekuensi BAB Kondisi klinik yang mungkin terjadi : 1) Anemia 2) Hipotiroidism 3) Dialisa ginjal 4) Pembedahan abdomen 5) Paralisis 6) Cedera spinal cord 7) Imobilisasi lama

Tujuan yang diharapkan : a. Pasien kembali ke pola normal dari fungsi bowel b. Terjadi perbuahan pola hidup untuk menurunkan faktor konstipasi Intervensi 1. Catat dan kaji JWBK dan waktu BAB 2. Kaji dan catat pergerakan usus 3. Jika terjadi feces impaction a. Lakukan pengeluaran manual b. Lakukan gliserin klisme 4. Konsultasi dengan dokter tentang : a. Pemberian laksatif Rasional 1. Pengkaijan dasar untuk mengetahui adanya masalah bowel 2. Deteksi dini penyebab konstipasi 3. Membantu mengeluarkan feses 4. Mengingkatkan eliminasi 5. Membantu feses lebih lunak 6. Menurunkan konstipasi

b. Enema c. Pengobatan 5. Berikan cairan adekuat 6. Berikan makanan tinggi serat dan hindari makanan yang banyak mengandung gas dengan konsultasi bagian gizi 7. Bantu klien dalam melakukan aktivitas pasif dan aktif 8. Berikan pendidikan kesehatan tentang: a. Personal hygiene b. Kebiasaan diet c. Cairan dan makanan yang mengandung gas d. Aktivitas e. Kebiasaan BAB

7. Meningkatkan pergerakan usus 8. Menguatkan otot dasar pelvis, mengurangi inkontinensia

Sementara itu dari Carpenitto (1997) Kriteria hasil: Individu akan 1. Mengungkapkan nyeri berkurang saat defekasi 2. Menggambarkan faktor penyebab jika diketahui 3. Menggambarkan rasional dan prosedur tindakan

Intervensi 1. Kaji faktor penyebab : a. Jika disebabkan oleh diet, cairan, latihan, efek samping obat, perubahan lingkungan, stress, rujuk ke konstipasi kolonik b. Jika disebabkan oleh kebiasaan menggunakan laksatif atau enema dan salah penafsiran tentang eliminasi usus normal, rujuk ke konstipasi yang dirasakan.

c. Jika penyebabnya tidak diketahui, tangani seperti konstipasi kolonik dan teruskan untuk mengkaji penyebabnya d. Jika disebabkan oleh nyeri saat defekasi, gunakan tindakan untuk konstipasi yang berhubungan dengan nyeri defekasi 2. Kurangi nyeri rectal, jika mungkin dengan menginstruksikan pasien untuk melakukan tindakan korektif : a. Dengan lembut berikan pelumas pada anus untuk mengurangi rasa nyeri saat defekasi b. Kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri c. Lakukan rendam duduk atau merendam dalam bak atau air hangat (43-46 Celcius) selama interval 15 menit untuk menyejukkan d. Konsultasi dengan dokter tentang penggunaan anestesi local dan agen antiseptic 3. Lindungi kulit dari konstipasi : a. Evaluasi area kulit sekitar b. Bersihkan dengan benar dengan agen noniritasi c. Anjurkan rendam duduk setelah defekasi d. Dengan lembut beri emolin atau pelumas pelindung 4. Berikan penyuluhan kesehatan jika perlu a. Ajarkan metode untuk mencegah tekanan rectal yang menyebabkan hemoroid b. Hindari duduk terlalu lama dam menekan defekasi c. Pelunak feses

b. Gangguan eliminasi : Diare Definisi : keadaan dimana terjadi perubahan kebiasaan BAB dengan karakteristik feses berbentuk cairan atau setangah cair, dengnan demikian kandungan air pada feses lebih banyak dari keadaan normal yaitu 100-200 ml sekali defekasi Kemungkinan berhubungan dengan : 1) Inflamasi, iritasi, dan mal absorbs 2) Pola makan salah 3) PErubahan proses pencernaan 4) Efek samping pengobatan Kemungkinan data yang ditemukan : 1) Feses berbentuk cair

2) Meningkatnya frekuensi BAB 3) Meningkatnya peristaltic usus 4) Menurunnya nafsu makan Konsisi klinik yang mungkin muncul : 1) Peradangan bowel 2) Pembedahan saluran pencernaan bawah 3) Gastritis Tujuan yang diharapkan : 1) Pasien kembali BAB normal 2) Feses berbentuk dan lebih keras Intervensi 1. Monitor/ kaji kosistensi, warna, bau, pergerakan usus, cek berat badab tiap hari Rasional 1. Dasar memonitor kondisi 2. Mengkaji status pasien

2. Monitor dan cek elektrolit, intake dan output 3. Mengurangi kerja usus cairan 3. Kolaborasi dengan dokter pemberian cairan IV, oral, dan makanan lunak 4. Berikan antidiare, tingkatkan intake cairan 5. Cek kulit bagian epidermal dan jaga dari gangguan integritas kulit 6. Kolaborasikan dengan ahli diet tentang rendah serat dan lunak 7. Hindari stress dan lakukan istrirahat cukup 8. Berikan pendidikan kesehatan tentang : a. Cairan b. Diet c. Obat d. Perubahan gaya hidup 4. Mempertahankan status hidrasi 5. Frekuensi BAB yang meningkat menyebab iritasi kulit sekitar anus 6. Menurunkan stimulus bowel 7. Stress meningkatkan stimulus bowel 8. Meningkatkan pengetahuan dan mencegah diare

Anda mungkin juga menyukai