P. 1
IKM.docx

IKM.docx

|Views: 177|Likes:
Dipublikasikan oleh Raditya Erlangga
IKM
IKM

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Raditya Erlangga on Apr 01, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2013

pdf

text

original

Sections

  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • BAB I PENDAHULUAN
  • BAB II STRUKTUR ORGANISASI & TATA KERJA DINKES PROVINSI JATIM
  • A. Beberapa Definisi Umum 1. Administrasi (Luas) Administration
  • 2. Administrasi (Sempit) Administratie
  • 3. Organisasi
  • 4. Jabatan
  • 5. Jabatan Struktural
  • 6. Jabatan Fungsional
  • 7. Eselon
  • B. Dasar Hukum
  • C. Visi & Misi
  • D. Kedudukan, Tugas dan Fungsi Dinas Kesehatan I. Kedudukan:
  • II. Tugas:
  • III. Fungsi:
  • E. Susunan Organisasi Kesehatan
  • F. Unit Pelaksanaan I. Kedudukan:
  • II. Tugas/Fungsi:
  • III. Susunan Organisasi UPT:
  • Nomenklatur UPT DINKES PROV JATIM:
  • BAB III PELAKSANAAN PROGRAM GIZI
  • A. Tujuan Pelaksanaan Program Gizi
  • B. Dampak Gizi dan Kesehatan Terhadap Kualitas Manusia
  • C. Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
  • D. Cara-cara yang Dilakukan dalam Upaya Pemecahan Masalah Gizi
  • E. Alur terjadinya KEP
  • F. Status Gizi Berdasarkan RISKESDES 2007
  • G. Faktor yang Mempengaruhi Meningkatnya Prevalensi Gizi Kurang (RISKESDES 2007)
  • H. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek (menurut TB/Umur)
  • I. Penanggulangan KEP
  • J. Kerangka Kerja Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk
  • K. Penanggulangan KVA
  • L. Penanggulangan Anemia Gizi
  • M. Penanggulangan GAKY
  • N. Strategi Umum Perbaikan Gizi
  • BAB IV PROMOSI KESEHATAN
  • MISI PROMKES (KEPMENKES NO. 1193 TH 2004) :
  • SASARAN TH 2010 (KEPMENKES NO. 1202 TH 2003) :
  • PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS)
  • 2. Bina Suasana
  • 3. Advokasi
  • Jenis dan metoda komunikasi kelompok dalam penyuluhan:
  • Komponen komunikasi:
  • Tujuan Media Promosi Kesehatan :
  • Manfaat Media Promosi Kesehatan :
  • Jenis-jenis Media Promosi Kesehatan :
  • BAB V PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK
  • A. Visi
  • B. Misi
  • C. PROGRAM KESEHATAN IBU DAN BALITA
  • Bumil
  • Balita
  • Bufas / Buteki
  • Pelayanan Kesehatan Anak
  • BAB VI
  • PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN
  • PENYEHATAN LINGKUNGAN
  • LATAR BELAKANG
  • KONDISI SANITASI DI INDONESIA
  • ISSUE LINGKUNGAN YANG LAIN :
  • TEORI SIMPUL KESLING :
  • VISI PENYEHATAN LINGKUNGAN :
  • MISI PENYEHATAN LINGKUNGAN :
  • TUJUAN UMUM :
  • TUJUAN KHUSUS :
  • UPAYA YANG DILAKUKAN
  • SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT ( STBM )
  • PENYEHATAN PERUMAHAN DAN SANITASI DASAR
  • PENYEHATAN TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN ( TPM )
  • PENYEHATAN TEMPAT – TEMPAT UMUM
  • PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN KUALITAS LINGKUNGAN
  • PENGAWASAN DAN PENINGKATAN KUALITAS AIR
  • PENGEMBANGAN KONSEP KOTA SEHAT
  • KEGIATAN PENDUKUNG LAINNYA
  • BAB VII
  • Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan ( Farkalkes )
  • PROGRAM YANKES DASAR DAN PENUNJANG SUB DINAS PELAYANAN KESEHATAN
  • • PUSKESMAS
  • BAB IX PELAKSANAAN PROGRAM YANKES RUJUKAN DAN KHUSUS
  • Program Kegiatan
  • BAB XII
  • PELAKSANAAN PROGRAM KUSTA
  • Definisi
  • Sejarah penyakit kusta
  • Kebijakan Nasional tentang Pemberantasan Penyakit Kusta
  • Epidemiologi
  • Faktor–faktor yg menentukan terjadinya penyakit kusta
  • Diagnosis
  • Klasifikasi
  • Pengobatan
  • Reaksi Kusta dan Akibatnya
  • BAB XIII
  • PELAKSANAAN PROGRAM PEMBIAYAAN KESEHATAN
  • Pengertian JPKM (Pasal No.15 UU No.23 / 1992)
  • Sejarah Perkembangan Konsep Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)
  • 1. Tahun 1950 : Sistem Restitusi Pemeliharaan Kesehatan
  • 2. Tahun 1968 : Sistem Pembiayaan Pra-Upaya
  • 3. Tahun 1980 : Konsep Pembiayaan Pra - Upaya dengan KAPITASI
  • Tujuan JPKM
  • Operasional JPKM
  • Badan Pembina (BAPIM)
  • Badan Pelaksana (BAPEL)
  • Peserta Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK)
  • Bentuk Operasional Lain
  • Harkes Konvensional
  • Bayar langsung
  • Asuransi Ganti Rugi
  • Asuransi Tagihan Provider
  • JPKM Untuk Masyarakat Miskin (JPKMM)
  • a. Latar belakang :
  • Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS)
  • Landasan hukum:
  • Kondisi pelaksanaan Jamkesmas di Jawa Timur tahun 2009
  • Konsep dasar Jamkesmas
  • Payer
  • (DEPKES Pengelola)
  • Pendaftaran Pembayaran Yankes
  • Member Pelayanan Kesehatan Provider
  • Aspek-aspek penyelenggaraan program Jamkesmas meliputi:
  • ALUR REGISTRASI DAN DISTRIBUSI KEPESERTAAN
  • Jamkesda
  • Hak Pasien Miskin
  • Program Prioritas Jawa Timur
  • Masalah Pembiayaan Kesehatan
  • BAB XIV
  • PELAKSANAAN PROGRAM SURVEILANCE
  • •Surveilans AFP
  • Definisi AFP
  • Tujuan Surveilans AFP
  • Strategi Eradikasi Polio (pasca PIN)
  • Konsep Surveilans AFP
  • INDIKATOR
  • Strategi Surveilans AFP

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat (Public Health) di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Laporan ini kami susun berdasarkan ringkasan materi kuliah, dengan maksud agar dapat memberikan gambaran dan wawasan mengenai program, sistem, mekanisme kerja, serta strategi pelaksanaan program di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, akan tetapi tidak semua materi kuliah kami masukkan dalam laporan kami. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:     Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Semua Ka. Sub Dinas yang ada di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Semua Ka. Sie yang ada di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur Semua pihak yang telah membantu keberhasilan penyusun laporan ini. Kami pun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Oleh karena itu kami mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun yang berguna untuk kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Surabaya, 09 November 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................ Daftar Isi ................................................................................................................... BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI BAB VII Pendahuluan ........................................................................................... Struktur Organisasi & Tata Kerja Dinkes Provinsi Jatim ......................... Pelaksanaan Program Gizi ..................................................................... Program Promkes ................................................................................... Pelaksanaan Program KIA ...................................................................... Program Kesling ..................................................................................... Pelaksanaan Program Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan (FARKALKES) ....................................................................................... BAB VIII BAB IX BAB X BAB XI BAB XII BAB XIII Pelaksanaan Program Yankes Dasar dan Penunjang ............................ Pelaksanaan Program Yankes Rujukan dan Khusus ............................. Program Imunisasi .................................................................................. Pelaksanaan Program TB Paru .............................................................. Pelaksanaan Program Kusta .................................................................. Pelaksanaan Program Pembiayaan Kesehatan .....................................

BAB XIV Pelaksanaan Program Surveilance ......................................................... BAB XV Pelaksanaan Program AIDS ...................................................................

BAB XVI Pelaksanaan Program DBD .................................................................... Kesimpulan dan Saran .............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara berkembang dengan segala permasalahan yang kompleks. Pertumbuhan penduduk yang pesat mengakibatkan timbulnya berbagai masalah kependudukan seperti kepadatan penduduk dengan penyebaran yang tidak merata. Ditambah adanya tingkat sosial ekonomi penduduk dan tingkat pendidikan yang rendah terlebih dalam krisis kondisi ekonomi yang berkepanjangan membuat permasalahan semakin kompleks, sehingga secara berurutan

mengakibatkan terutama tingkat kesehatan yang makin menurun, karena biaya perawatan dan pengobatan yang tinggi. Disamping itu pula, higienitas dan sanitasi lingkungan saat ini dianggap masih belum memenuhi standar kesehatan, karena kurangnya pengetahuan dari masyarakat. Hal ini berdampak pada semakin besarnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dan infksi yang semakin berkembang. Untuk mencegah hal di atas, saat ini telah ditegakkan upaya peningkatan kesehatan secara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang menyeluruh dan terpadu dari tingkat ujung tombak yakni puskesmas sampai tingkat rumah sakit tipe A. Disamping itu perlu adanya penyediaan air minum yang mencukupi, perbaikan dan pengadaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai guna menunjang kepentingan di atas, sehingga diharapkan terjadi penurunan angka kesakitan dan kematian karena penyakit menular dan infeksi. Dalam menangani masalah penyakit menular mengenai upaya pencegahan dan pemberantasan maka sub dinas pencegahan dan pemberantasan penyakit menular yang merupakan bagian dari Dinas Kesehatan Tingkat I Jawa Timur sangat berperan dalam melaksanakan tugas tersebut. Berdasarkan Perda No. 37 Tahun 2000, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mempunyai struktur organisasi yang merupakan peleburan antara Dinkes dan Kanwil Kesehatan Provinsi.

4. UU No. wewenang dan hak seorang pegawai dalam suatu satuan organisasi. B. 3. Organisasi Adalah wadah sekelompok orang yang melakukan kegiatan kerjasama dalam rangka mencapai suatu tujuan. Dasar Hukum 1. Administrasi (Luas) Administration Adalah suatu proses kerja sama untuk mecapai suatu tujuan secara efektif dan efisien. tanggung jawab. Beberapa Definisi Umum 1. Administrasi (Sempit) Administratie Adalah suatu kegiatan tulis menulis atau penata usahaan.BAB II STRUKTUR ORGANISASI & TATA KERJA DINKES PROVINSI JATIM A. 38 / 2007 tentang Wewenang Pemerintah. PP No. 6. 7. 5. PP No. 2. Jabatan Fungsional Kedudukan yang menunjukkan tugas. 32 / 2004 tentang Pemerintahan Daerah 3. UU No. Eselon Tingkatan dalam jabatan struktural. wewenang dan hak seorang pegawai dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi. tanggung jawab. 2. Pemprov & Pemkab /Kota 4. Jabatan Struktural Kedudukan yang menunjukkan tugas. tanggung jawab. 41 / 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah . Jabatan Kedudukan yang menunjukkan tugas. wewenang dan hak seorang pegawai dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi dan keahlian dan atau ketrampilan untuk mencapai tujuan organisasi. 43 / 1999 tentang Pokok-pokok Kepeg.

Pergub Jatim No. 9 / 2008 tentang Organisasi & Tata Kerja Dinas Daerah Prov Jatim. yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui sekertaris daerah.5. dipimpin oleh seorang kepala dinas. Tugas dan Fungsi Dinas Kesehatan I. III. II. Sub Bagian. Fungsi: Dinas Kesehatan menyelenggarakan fungsi: 1. Jatim) 7. 3. memelihara dan meningkatkan upaya kesehatan yang bermutu. Jatim C. Bidang. Mewujudkan. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat 2. menata dan lengkap. dan Seksi (Dinas Prov. Visi & Misi Visi : Masyarakat Jatim mandiri untuk tetap sehat Misi : 1. Perda Prov Jatim No. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Gubernur . Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya 4. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang kesehatan 3. Kedudukan: Dinas Kesehatan merupakan pelaksana otonomi daerah. Pergub Jatim No. 2008 tentang Uraian Tugas Sekretariat. 6. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan. 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja UPT Dinkes Prov. 79 th. Meningkatkan dan mendayagunakan sumber daya serta manajemen kesehatan 4. 118 th. D. Tugas: Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan di bidang kesehatan. Kedudukan. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang kesehatan 2.

Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan. RS khusus ii. membawahi: i. Seksi Promosi Kesehatan iii. Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan iii. Seksi Informasi dan Penelitian Pengembangan Kesehatan VII. Seksi Pencegahan. Seksi Penyehatan Lingkungan V. Bidang Pelayanan Kesehatan. Balai Khusus iii. Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan. Seksi Kesehatan Keluarga IV. membawahi: i. membawahi: i. Seksi Kesehatan Rujukan dan Khusus iii. Pengamatan Penyakit dan Penanggulangan Masalah Kesehatan iii. Unit Pendidikan/Pelatihan . Unit Pelaksana Teknis Dinas: i. Seksi Pembiayaan Kesehatan VI. Seksi Pemberantasan penyakit ii. Seksi Kesehatan Dasar dan Penunjang ii. II. membawahi: i. Sub Bagian Penyusunan Program iii. Seksi Perencanaan Pendayagunaan dan Pengembangan SDM Kesehatan ii. Seksi Gizi ii. Sub Bagian Tata Usaha ii.E. Susunan Organisasi Kesehatan I. Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat. Sub Bagian Keuangan III. membawahi: i. Kepala dinas Sekretariat.

Apoteker iii. Kedudukan: UPT adalah unsur pelaksana teknis opersional dinas daerah di lapangan dan dipimpin oleh seorang Kepala yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas . Unit Pelaksanaan I.1 Struktur Organisasi Kesehatan F.. Perawat.VIII. Gambar 2. Dokter ii. Kelompok Jabatan Fungsional: i. Bidan iv... dst.

Susunan Organisasi UPT: i. Rumah Sakit Kusta Kediri 2. Rumah Sakit Kusta Sumberglagah – Mojokerto 3. Balai Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru Pamekasan 9. Balai Kesehatan Mata Masyarakat Surabaya 10. Balai Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru Surabaya 7. Kepala ii.II. Rumah Sakit Paru Dungus 6. Balai Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru Madiun 8. Pelaksanaan urusan administrasi teknis operasional III. Rumah Sakit Paru Batu 4.2 Struktur Organisasi UPT Nomenklatur UPT DINKES PROV JATIM: 1. Sub Bagian TU iii. UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati – Lawang 11. UPT Materia Medica Batu . Jabatan Fungsional Gambar 2. Rumah Sakit Paru Jember 5. Tugas/Fungsi: a. Pelaksanaan tugas dinas daerah sesuai dengan bidang operasionalnyadi lapangan b.

UPT Akademi Gizi Surabaya 13.12. UPT Akademi Keperawatan Madiun .

.

Kesetaraan gender b. air bersih. gizi seimbang c. Pola asuh gizi keluarga (ASI. Gizi kurang dan infeksi ― tumbuh kembang otak tidak optimal‖ (bersifat mutu SDM rendah beban mutu SDM tinggi permanen dan tidak terpulihkan) 2. Tujuan Pelaksanaan Program Gizi 1. . Gizi cukup dan sehat Aset amak cerdas dan produktif C. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam upaya peningkatan status gizi dan pelembagaan keluarga sadar gizi c. Dampak Gizi dan Kesehatan Terhadap Kualitas Manusia 1. Pokok masalah a. Persediaan pangan rumah tangga b. Meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan dalam mendukung upaya pemantapan swasembada pangan B. Pemanfaataan sumber daya keluarga dan masyarakat c. pelayanan kesehatan. 3. Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi 1. Pendidikan. Sanitasi lingkungan. pemantauan pertumbuhan. Umum Meningkatkan status gizi seluruh masyarakat Indonesia 2.BAB III PELAKSANAAN PROGRAM GIZI A. PASI. dan ketrampilan. Khusus a. Memperbaiki status gizi masyarakat terutama kelompok penduduk rawan gizi untuk mencapai gizi seimbang dengan menurunkan jumlah penduduk yang mengalami gizi kurang b. pengetahuan. Penyebab tidak langsung a. Akar masalah : status ekonomi 2.

dll) 3. Cara-cara yang Dilakukan dalam Upaya Pemecahan Masalah Gizi 1. Fortifikasi Upaya memperkaya bahan makanan dengan menambah gizi tertentu (yodiasi garam. Penyebab langsung a. dan tablet tambah) 2.4. kapsul yodium. Penyakit infeksi 5. Dampak : status gizi D. Alur terjadinya KEP F. informasi. penambahan Fe pada tepung terigu.4% . Kecukupan asupan gizi (jumlah dan keragaman) b. Status Gizi Berdasarkan RISKESDES 2007 Secara umum prevalensi balita gizi kurag dan gizi buruk di Jawa Timur adalah 17. Suplementasi Pemberian tambahan langsung zat gizi kepada tiap individu yang termasuk dalam kelompok sasaran rawan (Kapsul vitamin A. sirup Fe. Komunikasi. dan edukasi (penyuluhan gizi) E.

Faktor yang Mempengaruhi Meningkatnya Prevalensi Gizi Kurang (RISKESDES 2007) 1.6 20.9 24.4 24.4 31. Cakupan pemberian kapsul vitamin A 3. Target nasional perbaikan gizi tahun 2015 (maksimal 20%) 2.2 27 29. . Cakupan pemberian imunisasi 4.1. Cakupan sanitasi 5. Meningkatnya jumlah keluarga miskin % D/S atau D/K H. yaitu muncul akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Rata-rata Kab/kota di Jatim telah mencapai target 35 30 25 20 15 10 5 0 30. Cakupan penimbangan balita 2. dsb. pola asuh yang tidak tepat. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek (menurut TB/Umur) 1. Masalah pendek dan sangat pendek menggambarkan kekurangan gizi kronis.5%) 3. Target MDGs 2015 (maksimal 18. sering sakit.4 Gizi Kurang + Buruk G. Misalnya : kemiskinan.

2 21. Penanggulangan KEP 1. Termasuk kondisi yang dianggap serius (di atas 10%). PMT pemulihan b. Prevalensi balita kurus dan sangat kurus menggambarkan masalah gizi akut. Bantuan improved formula c.1 % 3.2 13.  Kecuali : Kota Mojokerto = 19.7%. Prevalensi balita kurus dan sangat kurus (menurut BB/TB) a. Di bawah rata-rata nasional : 36.5 % Semua Kabupaten/Kota memiliki prevalensi di atas : 20 %.8 %. Jangka waktu → intervensi gizi: a. 25 20 15 10 5 0 22. c. Indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Secara umum prevalensi balita kurus dan sangat kurus di Jawa Timur adalah 13. Bantuan MP-ASI .6 22.2. Terdapat 7 Kabupaten yang dianggap sangat serius yaitu memiliki prevalensi ≥ 20%. b. Prevalensi balita pendek dan sangat pendek : Secara umum prevalensi balita Pendek dan Sangat Pendek di Jawa Timur adalah : 34. akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu pendek.7 Kurus + Sangat Kurus I. d. Misalnya : nafsu makan turun karena sakit/diare.1 20 23.

2. Pelaksanaan rujukan gizi dan perawatan penderita balita gizi buruk ( KEP berat dan sedang ). 3. PMT penyuluhan di Posyandu. 4. Meningkatkan dukungan lintas sektoral → melalui timpangan dan gizi. 5. Pelatihan petugas dalam penanganan kasus balita gizi buruk → tatalaksana gizi buruk bagi tim asuhan gizi RS. 6. Bantuan sarana dan prasarana. 7. Peningkatan KIA.

J. Kerangka Kerja Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk

BB naik (N), sehat

SEMUA
BALITA PUNYA

T2, BGM, Gizi buruk, sakit Puskesmas BB Tidak naik (T1), Gizi kurang

KMS

RS

PMT pemulihan BB naik (N), sehat dan Konseling

Sembuh perlu PMT Sembuh, tidak perlu PMT

K. Penanggulangan KVA 1. Melaksanakan suplementasi kapsul vitamin A a. Bayi (6 – 11 bulan) = 100.000 SI (1 kali) kapsul biru

b. Anak balita (1 – 4 tahun) = 200.000 SI (2x/tahun) kapsul merah c. Ibu nifas = 2 x 200.000 SI kapsul merah 1 kapsul harus diberikan segera setelah melahirkan 1 kapsul dalam 24 jam dari pemberian pertama (maksimal hari ke-28)

2. Fortifikasi (dilaksanakan secara nasional) 3. Peningkatan K I E (Penyuluhan Gizi) untuk : a. Pemanfaatan bahan makanan sumber Vit. A. b. Peningkatan cakupan pemberian kapsul Vit. A.

L. Penanggulangan Anemia Gizi 1. Melaksanakan Suplementasi :  Tablet tambah darah untuk : WUS, Bumil/bufas/buteki.  Sirup Fe (uji coba) untuk : Balita. 2. Fortifikasi (dilaksanakan secara nasional)  Tepung Terigu dan Fe 3. Peningkatan K I E (Penyuluhan Gizi) untuk : a. Pemanfaatan bahan makanan sumber Zat Besi. b. Peningkatan cakupan pemberian TTD dan sirup Fe.

M. Penanggulangan GAKY 1. Melaksanakan Suplementasi: kapsul minyak beryodium.  terutama di daerah endemik gondok tingkat berat untuk mencegah kretinisme. 2. Peningkatan penggunaan Garam Beryodium.  garam halus (30 – 80 ppm) untuk mencegah gondok

3. Peningkatan K I E (Penyuluhan Gizi) untuk : a. Pemanfaatan bahan makanan sumber Yodium. b. Peningkatan penggunaan garam beryodium. c. Peningkatan cakupan pemberian kapsul Yodium

N. Strategi Umum Perbaikan Gizi 1. Jangka Pendek: SUPLEMENTASI dalam tubuh 2. Jangka Menengah: FORTIFIKASI  menambahkan zat gizi ke dalam bahan makanan 3. Jangka Panjang: K I E (penyuluhan) a. Meningkatkan konsumsi bahan makanan alami sumber zat gizi. b. Meningkatkan cakupan pemberian obat-obat gizi.  pemberian zat gizi langsung ke

integrasi promosi kesehatan. Memberdayakan individu. Mengadvokasi para pengambil keputusan. penentu kebijakan dan stakeholders lain untuk terciptanya kebijakan berwawasan kesehatan. 1193 TH 2004) : 1. 1202 TH 2003) : 65% Rumah tangga berprilaku hidep bersih dan sehat serta investasi di bidang promkes dan 40% Posyandu aktif (PURNAMA & MANDIRI) PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT (PHBS) PHBS merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Menimbang balita setiap bulan 4. sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. kesehatan. MISI PROMKES (KEPMENKES NO. Indikator PHBS dapat dinilai dari lingkungan rumah tangga seperti: 1. bersama masyarakat. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2. Memberi bayi ASI eksklusif 3. Menggunakan jamban sehat . SASARAN TH 2010 (KEPMENKES NO. Menggunakan air bersih 5. kelompok-kelompok dalam masyarakatn baik melalui pengorganisasian masyarakat untuk perilaku hidup bersih dan sehat.BAB IV PROMOSI KESEHATAN Promosi kesehatan merupakan upaya membantu masyarakat agar mampu meleksanakan perilaku hidup bersih dan sehat untuk menolong diri sendiri. kemitraan yang sinergis antara pusatdaerah-swasta-LSM. melalui pembelajaran dari. keluarga. 3. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6. Membina suasana/lingkungan yang kondusif bagi terciptanya perilaku hidup bersih dan sehat. dan penggerakan 2. oleh.

mampu melaksanakan perilaku mencegah &/ mengatasi masalah kesehatan Cara: memberi informasi terus menerus o Info bahwa suatu masalah kesehatan merupakan masalah bagi yang bersangkutan dan pengetahuan umum tentang masalah kesehatan tersebut sasarannya agar individu tahu perilaku mencegah&/mengatasi masalah kesehatan o Info tentang bahaya dan masalah kesehatan yang dapat dicegah/diatasi sasarannya agar individu mau berperilaku mencegah&/mengatasi masalah kesehatan o Info tentang bagaimana mengatasi/mencegah masalah kesehatan sasarannya agar individu mampu melaksanakan perilaku mencegah&/mengatasi masalah kesehatan   Pelaksanaan harus sinkron dengan program kesehatan dan yang terkait Penggerakan Sumberdaya Masyarakat merupakan upaya pemberdayaan masyarakat atau pengembanganperan aktif masyarakat melalui proses pembelajaran yang terorganisasi dengan baik (community organization) Langkah-langkah: 1) Mengidentifikasi masalah dan penyebabnya Dengan cara survei mawas diri(community self survey) . Makan sayur dan buah setiap hari 9. kelompok Tujuan: sasaran menjadi tahu. mau. Memberantas jentik nyamuk 8. Melakukan aktivitas fisik selama 30 menit setiap hari 10. keluarga. Gerakan Pemberdayaan    Sasaran: individu. Tidak merokok di dalam rumah STRATEGI DASAR PROMKES: 1.7.

selain diikuti kaser juga diikuti stakeholders (pemerintah. 4) Memantau dan mengevaluasi pelestarian Dengan cara menciptakan sistem informasi mencakup pencatatan. Bina Suasana Untuk menciptakan lingkungan sosial (opini publik) yang kondusif guna lebih menguatkan dukungan terhadap perubahan perilaku individu/keluarga/kelompok.Didahului dengan rekrutmen kader dan pelatihan kader tentang survey mawas diri 2) Merumuskan alternatif-alternatif pemecahan masalah Dengan cara lokakarya desa. Advokasi Merupakan upaya/proses strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukunganstakeholder/penentu kebijakan/pemilik dana dengan menggunakan informasi akurat & teknik yang tepat. 3) Menetapkan dan melaksanakan pemecahan masalah Dengan cara memilih alternatif – alternatif pemecahan masalah yang paling layak dan efektif dilaksanakan Didahului menyusun dengan prioritas pelatiham dan kader tentang cara menetapkan pelayanan pemecahan masalah. pelaporan. evaluasi dan pelestarian. 3. pengolahan data Didahului dengan pelatihan kader tentang cara-cara mengelola sistem informasi serta bagaimana memanfaatkan data untuk pemantauan. LSM. 2. dunia usaha) Didahului dengan pelatihan kader tentang hakikat masalah & cara-cara mengatasi masalah secara teoritis dan berdasar pengalaman di desa-desa lain. .

sarana komunikasi. Diantaranya mencakup metode komunikasi. peragaan Penyuluhan massa : penayangan film.Dalam strategi dasar Promkes dibutuhkan komunikasi yang efektif. Komponen komunikasi: Sumber : penyampai pesan Pesan : info yang disampaikan Saluran/Media : alat bantu Penerima : sasaran penyuluhan . diskusi. pendapat atau perasaan melalui kata-kata. Komunikasi adalah proses penyampaian informasi. isyarat (bahasa tubuh) ataupun bentuk perilaku keteladanan dari pemberi pesan kepada penerima pesan dengan harapan adanya pengaruh timbal balik. poster dll. tidak sulit. pikiran. dan menarik. tidak terlalu banyak. proses komunikasi. spanduk. Pesan yang disampaikan harus jelas. Jenis dan metoda komunikasi kelompok dalam penyuluhan: • • • • • • • Penyuluhan perorangan : wawancara (tatap muka) / mengobrol Penyuluhan kelompok : ceramah.

kartu permainan (flascard). Benda-benda seperti gantungan kunci. pesan dimasukan dalam segmen program. Jenis-jenis Media Promosi Kesehatan : 1. leaflet. (flier). selebaran 2. Iklan di media massa cetak (koran. lembar balik (flipchart). sticker. tas. flagchain. dll. Sponsorship (blocking time). Menghindari kesalahan persepsi 7. topi. dsb). membeli/ menumpang program selama 30-60 menit. Benda promosi yang ditempatkan di rak-rak pajangan (contoh botol. majalah). Tujuan Media Promosi Kesehatan : 1. Alat bantu untuk menghibur sasaran. Poster. Meningkatkan keefektifan berkomunikasi Manfaat Media Promosi Kesehatan : 1. . Alat bantu dalam menyampaikan pesan kesehatan. Mempermudah penyampaian pesan/infokes 2. Mempermudah pengertian pesan/ infokes 3. pin. Alat bantu untuk mendorong sasaran untuk mengetahui dan melakukan sesuai dengan pesan kesehatan yang disampaikan. 30 dan 60 detik.Media Promosi Kesehatan adalah saluran (alat bantu) yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan yang dapat dimengerti sasaran. Build in. Media Elektronik a. Membangkitkan minat dan perhatian 6. Memperjelas pesan/ infokes 4. 3. Media Cetak      Kumpulan berbagai media informasi yang diproduksi dan disampaikan kepada sasaran melalui tulisan dan visual. misalnya di Bajaj Bajuri. mug/gelas tokoh kartun seperti mickey mouse. brosur. Mempermudah sasaran untuk mengingat pesan kesehatan 5. 2. Televisi    Spot televisi dengan durasi 15.

suatu kegiatan yang diadakan di beberapa tempat atau kota sebagai suatu bentuk kampanye massa. . Mengadakan event. kereta api. Wayang. c. ditujukan pada target sasaran tertentu. Billboard. neon sign.         Adlips. poster. 4. Pameran. Penyampaian pesan massal lewat SMS. taxi. Dialog interaktif yang melibatkan pemirsa. Kuis. b. megatron. suatu kegiatan untuk menunjukkan informasi program dan pesan-pesan promosi. pesan singkat yang dibacakan disela-sela program. umbul-umbul. Dialog Interaktif yang melibatkan pendengar radio.    Road Show. 3. Media LuarRuang Spanduk. pesan yang disampaikan singkat. Contoh : Acara dialog interaktif Bincang-bincang Bareng Bu Menkes (B4M) dan Warung Sehat (Warseh). Sampling. contoh produk yang diberikan kepada sasaran secara gratis. 5. yaitu kain rentang yang berisi pesan. Radio  Radio Spot durasi 30-60 detik. Lenong. Ludruk. menggunakan slogan. Media Lain   Iklan di kendaraan seperti : bus. slogan atau logo. Media Tradisional Informasi kesehatan disampaikan dengan bentuk seni tradisional seperti Ketoprak. merupakan suatu bentuk kegiatan yang diadakan di pusat perbelanjaan atau hiburan yang menarik perhatian pengunjung. Internet & SMS Tayangan banner atau logo di website. berupa permainan dan hiburan.

ditandai dengan semua ibu dan anak ibup dengan perilaku sehat mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu.000 KH (SDKI 2007) Berarti :   Setiap jam ada 1. 2006 Th. Meningkatkan status kesehatan ibu dan anak. Misi 1. Visi Terwujudnya derajat kesehatan ibu dan anak yang optimal. B. Meningkatan peran serta dan kemandirian kelurga dan pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Menanggulangi berbagai masalah prioritas dalam kesehatan ibu dan anak. 4. 2008 = 79 = 94 = 72 = 79 = 69 = 92 = 72 = 73 = 83 Angka Kematian Ibu di Indonesia 228/100. Angka Kematian Ibu per 100. 2. 2000 Th. Latar Belakang 1. C. 2003 Th. 2004 Th. 2005 Th. PROGRAM KESEHATAN IBU DAN BALITA I. efektif dan efesien. Menyelenggarakan program KIA yang inovatif.BAB V PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK A. (Jatim: 2 kematian ibu) . 2001 Th.000 KH INDONESIA SKRT 1986 SKRT 1992 SKRT 1995 SKRT 1997 SDKI 02/03 SDKI 2007 = 450 = 390 = 373 = 334 = 307 = 228 JATIM Th.2 kematian Ibu (di Indonesia) Setiap hari ada 24 – 48 kematian Ibu (Indonesia). 2007 Th. 3. 2002 Th.

Status wanita 2. Geografis 5. gizi 3. 4 TERLALU 2. St. Kualitas Yankes 6. kesehatan 2. Angka kematian bayi per 100 KH INDONESIA Sensus 1980 = 112 Sensus 1990 = 70 Sensus 2000 = 44 Susenas 2001 = 51 SDKI 02/03 SDKI 2007 = 35 = 34 ----- JATIM Supas 1995 = 56 Susenas 1998 = 51 Sensus 2000 = 46 Susoda 2002 = 43 BPS 2004 BPS 2005 = 39 = 36 . keluarga 3. St. data SKRT 2001  Pendarahan 28%  Eklamsia 24%  Infeksi 11%  Lain – lain 11%  Komplikasi puerperium 8%  Abortus 5%  Trauma obstetrik 5%  Partus lama 5% Penyebab kematian ibu di jawa timur tahun 2008  Pendarahan 33%  Pre eklamsi/Eklamsi 25%  Lainnya 22%  Jantung 12%  Infeksi 8% Penyebab tidak langsung yang mendasari kematian ibu 1. Perilaku 1. Transportasi 6. St. Sumber daya masyarakat  4 TERLAMBAT. Budaya 4. Unit Yankes 4. Petugas 5.Penyebab langsung kematian ibu.

Bekerjasama dengan :  Lintas program  Lintas sektor  Unit swasta . Jatim: 3 kematian bayi Setiap hari ada 430 kematian Bayi Setiap minggu ada 3. c. Setiap komplikasi memperoleh pertolongan (maternal dan neonatal) adekuat. b.BPS 2006 BPS 2007 Catatan : Fenomena ―2/3‖ = 35 = 35 Angka Kematian bayi di Indonesia 34/1000 KH (SDKI 2007) Berarti : Setiap jam ada 18 kematian Bayi (Indonesia).090 kematian Bayi Setiap tahun ada 157. Setiap perasalinan dilayani yankes terlatih. b. Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan kebidanan.  Strategi MPS : a.080 kematian Bayi  BBLR 29%  Asfiksia 27%  Lain-lain 13%  Tetanus 10%  Infeksi 10%  Masalah hematologi 6% Sebab langsung kematian neonatal II. Setiap kehamilan → diinginkan dan penangann komplikasi paska keguguran adekuat.020 kematian Bayi Setiap bulan ada 13. Strategi Percepatan Penurunan AKI-AKB melalui Making Pregnancy Server (MPS)  3 Pesan Kunci / Fokus : a.

K1= 95%. Menghitung stok cairan RL. AKN turun 15 / 100. 2.000 IU : 100% x 50% x sasaran bayi 200. Volume= 100% x perkiraan sasaran bulin ditambah 40% x 20% x perkiraan bulan. K4= 90% d. Menghitung vitamin A kapsul.000 IU : 100% x anak 1-4 tahun x 2 + 100% x sasaran ibu nifas Pengobatan= 100% x jumlah kasus campak 100% x jumlah kasus malnutrisi Sasaran : Perkiraan penduduk sasaran KIA. Penanganan komplikasi minimal 80%. Pemberdayaan perempuan. Tersedia pelayanan kebidanan tiap desa.000 KH b. Lin Nakes= 90% e. AKI turun menjadi 1125 / 100. Volume= 20% x perkiraan balita x 2kolf 3. Contoh : 1. Pencegahan= 100.c. bersumber dari :     Sensusu penduduk atau Survey penduduk antar sensus atau Pendataan keluarga atau Registrasi penduduk Dalam sensus penduduk.  Harapan yang ingin dicapai : a. keluarga dan masyarakat.000 KH c. f. Menghitung stok Oxcitocyne injeksi sebulan per unit pelayanan. PONED dan POPNRK 24 jam dengan rasio standar. diperoleh angka CBR atau akan diperoleh jumlah penduduk bayi (0 tahun) :  Perkiraan sasaran bumil = 110% x CBR .

Tidak langsung :suami. Ruang Lingkup : Upaya meningkatkan status kesehatan : Ibu hamil dan ibu nifas. III. II.000 = 1.000 A.500 : 200% x 630. ibu nifas b. Langsung : ibu hamil. meliputi : o Pemeriksaan kehamilan o Pertolongan persalinan o Pelayanan nifas o GDON ODTK desa. program terkait.000     Sasaran bayi : 0. Puskesmas (PONED).260.000 = 593. Sasaran : a.000. FKM. masyarakat.000 = 661.000. . FK) o Pelatihan klinik o AMP o Kemitraan dengan sektor terkait o Kemitraan dengan organisasi profesi (IDI) nakes.000 Sasaran bumil Sasaran bulin Sasaran buteki : 110% x 630.018 x 35. sektor terkait Kegiatan :  Pelayanan kesehatan. kader. Kesehatan Ibu I.  Perkiraan sasaran bulin = 105% x CBR Perkiraan sasaran buteki= 200% x CBR Contoh : Diketahui : CBR Jawa Timur tahun 1999 0. organisasi profesi.018 Jumlah Penduduk Jatim 35.000 = 630. ibu bersalin.000 : 105% x 630. meliputi : o Kurikulum pendidikan (AKBID. RS (PONEK)  Memantau cakupan program  Meningkatkan kualitas pelyanan.

Apras → tumbuh kembang optimal. Tinggi badan. Perawatan payudara.  Tidak langsung : Ibu. Tinggi fundus uteri. III. Kegiatan :  Memberdayakan keluarga dan masyarakat  Menungkatkan kemampuan dan kemandirian dengan memperkuat peran dan fungsi Puskesmas dan kualitas pelayanan kesehatan → buku KIA dan KPKIA. . Balita. KE. Apras.B. Ruang Lingkup : Upaya kesehatan untuk menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak bayi → balita. Sasaran :  Langsung : Bayi. mulai trimester II. Lila. Pemeriksaan Hb.  Memperkuat sistem rujukan  Meningkatkan fungsi manajemen  Meningtlan fungsi RS  Neonatal esensial  PONED DDTK  AMP  ETN  KN  PWS-KIA  Bumil Pemeriksaan kehamilan : 1. Perbaikan gizi. II. keluarga. lembaga sosial. nakes. kematian balita. Tambah darah Fe (obat penambah darah)]. protein urin. 2. organisasi profesi. 3. kader. LSM> IV. ayah. masyarakat. 4. Tujuan : Menurunkan angka kesakitan. Pemeriksaan 5T [Timbang. IMT. Tensi. Kesehatan Balita : I.

 Bufas / Buteki 1. Merawat tali pusat. Pemberian ASI segera setelah bayi lahir. Pemberian vitamin A. 2. Imunisasi lengkap. Alat. Rujukan neo risti. Deteksi dini ibu hamil resiko tinggi. 5. 4. Penanganan ISPA. 3. 3. 3. 2. 4.5. Status gizi. Menilai Apgar Score. 3. 2 kali sehari. Pemeriksaan kesehatan → MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). Memotivasi pemberian ASI. 5. 2. ASI eksklusif. Pelayanan Kesehatan Anak  Neonatal 1.  Bayi 1. 6. Pemeriksaan kesehatan → MTBS. Tempat. Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir. Memonitor tumbuh kembang balita. vitamin A bayi 6 bulan. Penatalaksanaan rujukan kasus. 3. Deteksi dan risti bayi → MTBS. Penyuluhan bumil dan keluarga → buku KIA. Kapsul Iod untuk daerah endemis. diare → MTBS. Merawat bayi baru lahir.  Balita 1. Pertolongan persalinan 3 bersih : Penolong. 2. . 2. Deteksi dini risti dengan menggunakan Partogram. Penatalaksanaan rujukan khusus. 4.  Balita 1. 5.

BAB VI PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN .

PENYEHATAN LINGKUNGAN Suatu upaya promotif. pemantauan. dan lingkungan Lainnya. lingkungan pemukiman. LATAR BELAKANG     Teori Blum mengungkapkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh terbesar Dinamika pembangunan dan aktivitas manusia lainnya semakin meningkat sehingga masalah lingkungan makin besar Pertumbuhan penduduk menyebabkan kebutuhan fasilitas sanitasi dasar dan fasilitas umum yang ideal semakin meningkat Hygiene sanitasi masyarakat (pedesaan dan urban) termasuk PHBS masih belum memenuhi harapan sehingga menimbulkan ―man made breeding places‖    Tantangan di era globalisasi membuat negara harus mengejar ketinggalan dengan negara-negara lainnya di bidang kesehatan lingkungan Sumber daya manusia masih perlu ditingkatkan Masyarakat masih perlu penggalakan upaya pemberdayaan KONDISI SANITASI DI INDONESIA Selokan tersumbat MCK yang tidak berfungsi Efluen industri di kawasan pemukiman Buang air besar sembarangan Jamban yang asal-asalan Pembuangan liar lumpur tinja Mencuci dan mandi di sungai tercemar . penyelidikan. terhadap kesehatan lingkungan yang perlu dilakukan di tempat umum. pemulihan. link. preventif. angkutan umum. Kerja.

Pencemaran udara dan kebisingan 4.ISSUE LINGKUNGAN YANG LAIN : 1. Keracunan makanan dan bahan pangan 3. Vektor penyakit TEORI SIMPUL KESLING : VISI PENYEHATAN LINGKUNGAN : “ HIDUP SEHAT DALAM LINGKUNGAN SEHAT “ . Pencemaran akibat limbah padat dan cair 7. Bahan toksik dan B3 6. Kedaruratan lingkungan 5. Air bersih dan sanitasi dasar 2. Perubahan iklim 8.

Perumahan dan sanitasi dasarnya b. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam : a. Pengelolaan sarana umum d. Tempat pengelolaan makanan dan minuman c.MISI PENYEHATAN LINGKUNGAN : • Meningkatkan kemampuan Manusia untuk hidup serasi dengan lingkungannya agar tercapai kualitas hidup yang optimal • Mengupayakan Manusia dlm berinteraksi dengan lingkungan sehingga dapat melindungi dan meningkatkan kesehatan • Mengawasi dan mengubah unsur-unsur lingkungan sehingga memiliki dampak positif terhadap Manusia TUJUAN UMUM : Terwujudnya keadaan lingkungan yang terkendali. Tempat umum d. TUJUAN KHUSUS : 1. Penyehatan perumahan beserta sanitasi dasarnya b. Lingkungan lainnya . seimbang dengan dinamika pertumbuhan hidup manusia dalam menunjang terwujudnya derajat kesehatan individu dan masyarakat. Pengelolaan kualitas lingkungan 2. Pengelolaan makanan / minuman yang memenuhi syarat sanitasi makanan c. Terwujudnya lingkungan yang terkendali pada : a.

Pengawasan dan peningkatan kualitas air 7. iklim. bencana penyakt berbasis lingkungan dll ) 6. Mengelola makanan dan minuman yang aman 4. SPAL. peningkatan SDM. Upaya penyehatan tempat – tempat umum 5. Pengembangan konsep kota sehat 8. Sanitasi total berbasis masyarakat ( STBM ) 2.UPAYA YANG DILAKUKAN 1. vektor. Upaya penyehatan perumahan termasuk peningkatan sanitasi dasar ( SAB. Pengawasan dan pengendalian kualitas lingkungan yang berupaya melindungi masyarakat akibat dampak negatif lingkungan ( Misal pestisida. MCK / toilet ) 3. termasuk Depot air minum ( DAM ) 4. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan benar . limbah. Cuci tangan pakai sabun 3. Upaya penyehatan tempat pengelolaan makanan ( TPM ). tempat sampah. kajian lingkungan dll ) Semua upaya yang dilakukan ini mengutamakan prinsip pemberdayaan. Mengelola sampah yang memenuhi syarat kesehatan 5. SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT ( STBM ) Merupakan pendekatan untuk merubah perilaku hygiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan Kegiatan : 1. ODF ( Open Defecation Free ) = Tidak BAB sembarangan 2. Kegiatan pendukung lainnya ( Pengembangan lab.

kecacingan. Klinik sanitasi 2. diare.PENYEHATAN PERUMAHAN DAN SANITASI DASAR Tujuan : Meningkatkan kondisi rumah yang memenuhi syarat kesehatan dengan cara meningkatkan PHBS masyarakat ( pemberdayaan ) dan peduli terhadap sanitasi dasar ( SAB. Kunjungan rumah ( Kartu rumah ) 4. Intervensi ( Stimulan ) Sasaran : 1. ( ISPA. Daerah emukiman baru. malaria ) PENYEHATAN TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN ( TPM ) Tujuan :      Meningkatkan makanan dan minuman sehat agar dapat melindungi masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. tempat sampah. tb paru. Gerdu taskin 3. SPAL. MCK ) Kegiatan : 1. Meningkatnya TPM memenuhi syarat Meningkatnya pengrajin makanan rumah tangga di pedesaan melakukan pengelolaan makanan secara sehat Meningkatnya penjual makanan jajanan menempati lokasi dan lingkungan sehat teratur Meningkatnya pelaksanaan SKD – KM dan terselenggaranya penanggulangan KLB keracunan makanan . Daerah dengan prosentase rumah memenuhi syarat rendah. 2. dhf. Daerah rawan penyakit. 3.

Pedagang keliling 6. petugas dan sanitasi unit pengolah air. organisasi. Pedagang makanan jajanan 4. LSM. Faktor manusia ( Masyarakat  Toma. Depot air isi ulang ( DAM ) dimana dilakukan pembinaan hygiene sanitasi pengelola.Aspek penyehatan makanan : 1. yayasan konsumen dll ) :           Sasaran : 1. pengawasan mutu bahan baku Fisik tubuh dan pakaian yang dipakai Pengetahuan yang dimiliki Sikap atau pandangan hidup Perilaku atau tindakan yang biasa dilakukan 3. asosiasi. Faktor lingkungan termasuk fasilitas sanitasi     Bangunan dan lokasi Peralatan untuk proses pengolahan Perabot kerja Fasilitas sanitasi 2. Jasa boga 3. Restoran / rumah makan 2. Pengrajin makanan 5. Faktor makanan : Pemilihan makanan Penyaitumpanan bahan Pengelolaan / proses Penyaitumpanan makanan matang Pengangkutan Penyajian .

2. Pondok pesantren. Peningkatan jejaring lintas sektor PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN KUALITAS LINGKUNGAN Tujuan : Melindungi masyarakat dari dampak negatif lingkungan ( Pestisida. vector. Pembinaan ( Inspeksi sanitasi sampai dengan tindak lanjut ) 2. penyakit berbasis lingkungan ) termasuk peningkatan kualitas air Kegiatan : 1. Terminal stasiun. sarana penghasil limbah. 6. Sekolah. Hotel. bencana.PENYEHATAN TEMPAT – TEMPAT UMUM Tujuan : Meningkatkan tempat – tempat umum sehingga tidak menimbulkan dampak negatif pengguna dan masyarakat sekitar Tempat . Tempat wisata ( Kolam renang ) Kegiatan : 1. iklim. 7. limbah. Pembinaan dan pengendalian sumber pencemar ( Tempat pengelolaan pestisida. Pengawasan bio maker dan tindak lanjut yang diperlukan. Rumah sakit. Intervensi fisik ( Stimulan ) 4. 4. rumah tangga dan rumah sakit ) 2. Pemberdayaan komunitas tempat – tempat umum 3. 5. Peningkatan sumber daya manusia 5. 3.tempat umum : 1. . Pasar.

Manusia ( Biomarker ) 5. Inspeksi sanitasi 3. Air kolam renang / pemandian 3. dan sehat untuk dihuni penduduk yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang terintegerasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah. Pembinaan pokmair 4.Sasaran : 1. Lingkungan sekitar PENGAWASAN DAN PENINGKATAN KUALITAS AIR Tujuan : Meningkatkan kualitas air sehingga masyarakat terlindungi dari dampak negatif karena air yang tidak sehat Kegiatan : 1. Tanah 3. . Air 2. Air buangan industri PENGEMBANGAN KONSEP KOTA SEHAT Tujian : Kondisi kabupaten atau kota yang bersih. Pemetasan akses air minum 2. Sumber air minum 2. Udara 4. Pengawasan kualitas air dan tindak lanjut Sasaran : 1. Air badan 4. aman.

Pengembangan laboratorium 2. Kehidupan sosial yang sehat Kegiatan : 1. Pelaksana adalah masyarakat melalui kesepakatan forum KEGIATAN PENDUKUNG LAINNYA Tujuan : Merupakan kegiatanpendukung terhadap kegiatan lainnya agar memiliki daya ungkit yang lebih besar Kegiatan : 1. Ketahanan pangan dan gizi 8. Pengembangan lingkungan 3.Tatanan : 1. Peningkatan sumber daya manusia baik petugas kesehatan ataupun non kesehatan ( Masyarakat ) 4. Fasilator adalah lintas sector dengan leading sector badan perencanaan 2. Kawasan pariwisata sehat 7. Kawasan industri dan perkantoran sehat 6. 9. . Kawasan sarana lalu lintas tertib dan pelayan transportasi. Kawasan hutan sehat 5. 2. 3. Kegiatan kajian lingkungan dll. Kawasan pertimbangan sehat 4. Kawasan pemukiman. Kehidupan masyarakat sehat yang mandiri. sarana dan prasarana umum.

6.min yang beredar Terhindarnya masyarakat dari informasi penggunaan farmakmin yang tidak obyektif dan menyesatkan Terjaminnya kecukupan obat esensial generik bagi pelayanan dasar Terjaminnya mutu desentralisasi pengelolaan obat di kab/ kota dalam rangka 4. Jatim : Perda 37 tahun 2000. 3. 25 Tahun 2000. min dinkes prov. keterjangkauan dan pemerataan obat yang bermutu dan dibutuhkan masyarakat Meningkatkan potensi daya saing industri farmasi terutama yang berbasis sumber daya alam dalam negeri 3. pengadaan. makanan dan minuman. 4. Sasaran: 1. bertujuan : 1. merumuskan kebijakan teknis operasional. makanan dan bahan berbahaya. C. Tapoksi subdin farmak.BAB VII Seksi Kefarmasian dan Perbekalan Kesehatan ( Farkalkes ) A. Tugas : Menyusun perencanaan. PROPERNAS Tahun 2000-2004 Program obat. psikotropika. penggunaan sediaan farmasi. zat adiktif dan bahan berbahaya. 7. Melindungi masyarakat dari penyalahgunaan obat dan napza Melindungi masyarakat dari pengunaan sediaan farmasi. kosmetika. . Terkendalinya penyaluran obat dan napza Terhindarnya masyarakat dari penyalahgunaan obat dan napza Dicegahnya resiko akibat sampingan pengunaan bahan kimia. narkotika. 2. UU no. dam melaksanakan pembinaan teknis produksi. berbahaya bagi akibat pengelolaan Terjaminnya mutu produk farmak. B. alat kesehatan. 5. D. 2. makanan dan minuman yang tidak memenuhi persyaratan Menjamin ketersediaan. distribusi.

3. Meningkatkan pengamanan bahaya penyalahgunaan dan kesalahgunaan obat dan napza Meningkatkan pengamanan dan pengawasan BTM Meningkatkan pengawasan obat.. kosmetika.digit F. alkes. 4. . 2. 4.E.1…. 5./13…. Obat Kosmetika PKRT ALKES : Depkes RI : Depkesi RI CD/ CL : Depkes RI PDA/PL : Depkes RI KD/KL : 15 digit : 10 digit : 11 digit : 11 digit : 9 digit : 12 digit Obat tradisional : Depkes RI TI/TR/TL MAKMIN i. 6. 7. obat tradisonal. 3. Produk berbatasan : QD/QL/QI/……. : Depkes RI MD : SP:…. Produk harus terdaftar 1. Kegiatan pokok 1. pengawasan terhadap promosi pada makanan dan minuman Meningkatkan penggunaan obat rasional Mengembangkan obat asli Indonesia 2. 5.

keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. MISI  Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya  Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya  Memelihara dan meningkatkan mutu. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas. TUJUAN Mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran. . PENGERTIAN Unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja. VISI Tercapainya     kecamatan sehat menuj u terwuj udnya Indonesia sehat. 2. pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan  Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan. Indikator keberhasilan Lingkungan sehat Perilaku sehat Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu Derajat kesehatan masyarakat kecamatan 3.BAB VIII PROGRAM YANKES DASAR DAN PENUNJANG SUB DINAS PELAYANAN KESEHATAN • PUSKESMAS 1. 4.

  Pelayanan kesehatan perorangan Pelayanan kesehatan masyarakat. terpadu dan berkesinambungan. Sistem Pemerintahan Daerah Sebagai unit struktural pemerintah daerah kabupaten/ kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan . FUNGSI a. menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan. Sistem Kesehatan Nasional Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama b. ORANGANISASI DAN TATA KERJA • KEDUDUKAN a. 6. c. kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat   Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan Ikut menetapkan. KEDUDUKAN. Pusat Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama Pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh. Pusat Pemberdayaan Masyarakat  Usaha memiliki kesadaran. Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota Sebagai unit pelaksana teknis dinas Kesehatan Kabupaten/ kota c. Pusat penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan  Berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usia di wilayah kerjanya  Melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya b.5.

menjalin kerjasama memantau kegiatan yang diselenggarakan. Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama : Mitra. Upaya Kesehatan Masyarakat Upaya Kesehatan perorangan JARINGAN PELAYANAN Puskesmas pembantu Puskesmas Keliling Bidan di Desa/Komunitas Dengan Kantor Kecamatan: Berkoordinasi dengan kantor kecamatan melalui pertemuan berkala b. e. Dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota: Secara teknis dan administratif.• ORGANISASI STRUKTUR ORGANISASI – – – Kepala Puskesmas Unit Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Fungsional • • – • • • • TATA KERJA a. Dengan Lintas sector : Koordinasi dengan pelbagai lintas sektor terkait yang ada di tingkat kecamatan. d. c. . Puskesmas bertanggung jawab kepada dinas kesehatan kabupaten/ kota. Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatn Rujukan: Menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai pelayanan kesehatan rujukan. f. Dengan masyarakat : Memerlukan dukungan aktif dari masyarakat sebagai objek dan subjek pembangunan. Diwujudkan melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas (BPP).

UPAYA DAN AZAS PENYELENGGARAAN Bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat pada tingkat pertama (primer). Dibedakan atas dua macam : 1. MANAJEMEN PUSKESMAS a. b. 2. Langkah kegiatan perencanaan : 1. Rumah dokter serta perawat/ bidan. dsb) dan perbaikan sarana Puskesmas. Identifikasi masalah Menyusun usulan kegiatan Mengajukan usulan kegiatan Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan.7. Perencanaan upaya kesehatan wajib Perencanaan upaya kesehatan pengembangan. Pelaksanaan dan Pengendalian Dilakukan kegiatan :     Mengkaji ulang rencana pelaksanaan Menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan jadwal pemantauan Menyusun jadwal kegiatan bulanan unytuk tiap penanggungjawab Memeriksa penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai dibandingkan dengan rencana  Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan . 4. 3. Termasuk kegiatan operasional pusk (Pusling. Perencanaan Proses penyusunan rencana tahunan puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan diwilayah kerja Puskesmas. Upaya dijabarkan dalam bentuk kegiatan yang ditetapkan dinas kesehatan kab/ kota bersama Puskesmas. Manajemen. 8. 2.

Lingkungan sehat 2. Penggerak pembangunan berwawasan kes 2. kecuali untuk penduduk miskin yang tetap ditanggung oleh Pemerintah dalam bentuk pembayaran premi . SISTEM PEMBIAYAAN Sumber : a. Perilaku sehaT 3 . b.9.d11 Retribusi d. f. • • • Pemerintah daerah b. Apabila sistim Jaminan Kesehatan Nasional telah berlaku akan terjadi perubahan pada sistim pembiayaan Puskesmas. c. Masyarakat : JPKM. INDIKATOR KEBERHASILAN a. ASKES. Pemberdayaan masyarakat & keluarga 3. Ya n ke s 4. Swasta / LSM Pemerintah Pusat Bantuan lainnya. Status kesehatan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama 10. e. Direncanakan pada masa yang akan datang pemerintah hanya bertanggungjawab untuk membiayai upaya kesehatan masyarakat Untuk upaya kesehatan perorangan dibiayai melalui sistim Jaminan Kesehatan Nasional. Pencapaian program Puskesmas Diukur : 1. Pencapaian kecamatan sehat 2010 Diukur : 1. Dana Sehat.

TUGAS DAN FUNGSI RUMAH SAKIT RS Umum mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu . PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN PENGERTIAN RUJUKAN Suatu upaya pelempahan tanggung jawab dan wewenang secara timbal balik dalam pelayanan kesehatan untuk menciptakan suatu pelayanan kesehatan yang paripurna.BAB IX PELAKSANAAN PROGRAM YANKES RUJUKAN DAN KHUSUS A. PENGERTIAN RUMAH SAKIT (RS): Rumah pelayanan sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan secara merata dengan mengutamakan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit dalam suatu tatanan rujukan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga dan penelitian. RS Pendidikan adalah RS Umum Pemerintah Kelas A dan Kelas B yang dipergunakan sebagai tempat pendidikan tenaga medis oleh Fakultas Kedokteran. 2. spelistik dan subspealistik. terkait dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta upaya yang mendukung • RUMAH SAKIT 1. RS Umum adalah RS yang memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar.    Menunjang pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas) Meliputi program rujukan kesehatan dan medik Rujukan kesehatan bersifat vertikal dan horisontal dan reversibel.

RSU Kelas A (RSU Pendidikan) Adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spealistik luas dan subspealistik luas.Jumlah tempat tidur 400-1000 TT. jumlah tempat tidur > 1000 TT. a.dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. •Fungsi RS   Menyelenggarakan pelayanan medis Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non medis      Menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan Menyelenggarakan pelayanan rujukan Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan • Kegiatan RS meliputi pelayanan:    gawat darurat rawat jalan rawat inap. 3. b. . RSU Kelas B (RSU Pendidikan dan Non Pendidikan) Adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis sekurang-kurangnya 11 spealistik dan subspealistik terbatas. KLASIFIKASI RS Klasifikasi RSU adalah pengelompokan RSU berdasarkan pembedaan tingkatan menurut kemampuan pelayanan kesehatan yang disediakan.

pribadi). mata.Pratama .c. Kandungan. patologi anatomi dan pelayanan spealistik lain sesuai dengan kebutuhan. anestesi.Pelayanan Medis Spealistik luas dan pelayanan medis spealistik dasar ditambah dengan pelayanan spelistik telinga. RSU Kelas C Adalah RSU yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis spealistik dasar.Pelayanan Medis spealistik Dasar adalah pelayanan penyakit Dalam. TINGKAT PELAYANAN MEDIS DAN RUJUKAN a. jantung. jiwa. radiologi. syaraf.       MENURUT PENGELOLAAN/ KEPEMILIKAN RUMAH SAKIT RS Vertikal (milik Depkes) RS Propinsi RS Kabupaten/ Kota RS TNI/ POLRI (milik DEPHANKAM) RS BUMN (milik Perusahaan Negara) RS Swasta (milik yayasan. hidung dan tenggorokan. Bedah dan Kesehatan Anak.Madya . kelompok. kulit dan kelamin. Pelayanan Medis : . paru. . Jumlah tempat tidur 100-400 TT KLASIFIKASI RS SWASTA . Pelayanan medis subspealistik luas adalah pelayanan subspealistik disetiap spealistik yang ada . 5. \ rehabilitasi medis.Utama 4. patologis Minis.

Rujukan  Rujukan Vertikal Mis: RS Kelas C dirujuk ke kelas B sesuai dengan tingkat kemampuan fasilitas pelayanan  Rujukan Horizontal Mis: RS Kelas C dirujuk ke Kelas C sesuai dengan fungsi koordinasi dan jenis kemampuan yang dimiliki. yang tidak dapat diatasi sendiri. pemeliharaan. • Bantuan sarana Berupa Biaya.tenaga. .b. perbaikan dan kalibrasi peralatan kesehatan. • Bantuan Operasional Berupa permintaan bantuan kepada unit di RS untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu. Contoh: pembuatan sarana pembuangan limbah. Lingkup rujukan • Rujukan Teknologi Rujukan berupa permintaan bantuan teknologi tertentu dalam bidang yang terkait dengan unit RS yang mampu memberikan teknologi tersebut.  Jenjang Rujukan RS Kelas A RS Kelas B RS Kelas B RS Kelas C RS Kelas C Puskesmas Puskesmas Pembantu Polindes/Masyarakat c. peralatan dan obat.

159 b tahun 1988 tentang Pengaturan Cara-cara akreditasi RS. nilai atau mutu Suatu norma atau kesepakatan mengenai keadaan atau prestasi yang sangat baik. 983/Menkes/SK/X1/92 tentang Pedoman Oranganisasi RSU. AKREDITASI RS a. 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang standar pelayanan RS. Pelaksana Komisi Gabungan Akreditasi. b. . • Kepmenkes No. f. 5 kegiatan — 12 kegiatan pelayanan — 18 kegiatan pelayanan. Standar Standar pelayanan RS. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Landasan Hukum • UU RI No. d. 7 . c. Pengertian Standar :   Suatu ukuran atau patokan untuk mengukur kuantitas. Definisi Pengakuan yang diberikan oleh Pemerintah kepada RS yang memenuhi standar. • Rujukan Keahlian . e.• Rujukan pasien dan specimen RS setelah menangani pasien atau memeriksa spesimen hares mengirim kembali pasien atau hash pemeriksaan spesimen tersebut ke unit yang dirujuk sebagai informasi dan nutuk tindak lanjut. • Kepmenkes No. • Permenkes No. Tujuan Memacu RS untuk menerapkan standar sehingga mutu pelayanan RS dapat di pertanggung jawabkan.

Pelayanan farmasi •16 Kegiatan pelayanan a. - Standar dalam tiap kegiatan pelayanan : Standar 1 : Falsafah dan tujuan Standar 2 : Administrasi dan pengelolaan Standar 3 : Staf dan pimpinan Standar 4 : Fasilitas dan peralatan Standar 5 : Kebijakan dan procedural Standar 6 : Pengembangan staf. Pelayanan Radiologi 9. Pelayanan darah 14. Pelayanan gizi. kebakaran. Pelayanan Rehabilitasi Medis 16. Kamar operasi 7. Pelayanan Perinatal Resiko tinggi 8. Keselamatan kerja.I : 12 kegiatan pelayanan ditambah 13. Rekam medis •12 Kegiatan Pelayanan a. g. Pelayanan Laboratorium 10. kewaspadaan bencana (K3) 12. Pengendalian Infeksi di RS 11.1: 1. . program pendidikan - Standar 7 : Evaluasi dan pengendalian mutu. Standar Pelayanan RS •5 kegiatan pelayanan a. Pelayanan gawat darurat 4.1 : 5 kegiatan pelayanan ditambah 6.g. Pelayanan keperawatan 5. Pelayanan Intensif 15. Administrasi dan manajemen (termasuk Pemeliharaan Sarana dan Perpustakaan) 2. Pelayanan Medis 3.

keamanan dan kesadaran dalam tugas dan tanggung jawabnya. k. • Bagi Pemerintah : Potret RS terakreditasi • Bagi Perusahaan : Asuransi-Mitra Kerja • Bagi masyarakat : aman dilayani RS terakreditasi • Bagi pemilik RS : kebanggaan • Bagi Petugas RS : memberikan kenyamanan. Manfaat Akreditasi • Bagi RS :    RS menyadari tingkat pelayanan sesuai standar Sebagai alat untuk negosiasi dengan perusahaan asuransi Sebagai simbol RS untuk meningkatkan citra dan kepercayaan terhadap masyarakat  Permohonan bantuan kepada donor untuk pengembangan RS.i. Program Lain  GKM RS. RS Swadana .    RSSI & RSSB. RS Proaktif. Status Akreditasi :  Tidak lulus akreditasi nilai < 65%  Akreditasi bersyarat ( 1 tahun) nilai minimal 65%  Akreditasi penuh (3 tahun) nilai minimal 75%  Akreditasi istimewa (5 tahun) : 3 X berturut-turut akreditasi penuh j.

Kesehatan Jiwa .Kanker .Pusat Kesehatan Kerja .Institusi Kesehatan Khusus .• PELAYANAN KESEHATAN KHUSUS •Departemen Kesehatan RI • Setjen Depkes .Kesehatan Gigi & Mulut .P3K • PERDA 37/2000 PROP JATIM: .Pusat Penanggulang Masalah Kerja • Ditjen Yanmedik -Dityanmed Dasar -Dityankes Jiwa •Ditjen Binkesmas -Ditkes Kerja -Ditkes Komunitas  Sub Dit Institusi & UKBM  Sub Dit Kes Indera  Sub Dit Kes Olahraga  Sub Dit Kes Tradisional • SEKSI PELAYANAN KESEHATAN KHUSUS • Dulu : .Kesehatan Mata .Kesehatan Indra -Kesehatan Gigi & Mulut -Kesehatan Jiwa -Institusi Kesehatan Khusus -Kesehatan Kerja .

 Khusus : .Meningkatkan kesadaran. baik dalam jangkauan maupun kualitas pelayanan . secara bertahap & berkesinambungan  Terbentuknya BKOM • Tujuan:  Umum : Meningkatkan kesegaran derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan jasmani dengan aktifitas fisik dan / olahraga yang baik & benar.-Kesehatan Olahraga -Pengobatan Tradisional • Program Tambahan : -P3K -Protokoler 1. yankes OR pd masyarakat & pengembangan Kesehatan OR  Pemetaan tingkat kesegaran jasmani di Ind. teratur dan terukur. sikap & perilaku masyarakat . • Sasaran : Primer : Masyarakat umum Masyarakat khusus Sekunder Tersier • Cakupan Program:  : : Mitra kerja Perkembangan IPTEK Pemerintah pusat Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berolah raga secara baik & benar. PROGRAM KESEHATAN OLAHRAGA Adalah Upaya kesehatan yang memanfaatkan olahraga atau latihan fisik untuk meningkatkan derajat kesehatan.Meningkatkan Yankes melalui kegiatan aktifitas fisik & atau OR.

tingkat kesehatan. PROGRAM KESEHATAN KERJA Adalah upaya kesehatan yang diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa mem bahayakan diri sendiri &masyarakat sekeliling. berlari) c. K3 adalah salah satu syarat yang hrs dipenuhi 3.. debu.kerja (th 2000). Beban Kerja : beban fisik (mengangkat. Lingkungan Kerja : kebisingan. 3 Komponen Utama : a. dll b.PROGRAM KESEHATAN INDRA Adalah upaya kesehatan dasar di bidang kesehatan mata & telinga yang dilaksanakan di tk. umur. 70-80% di sektor informal belum mendapat yankes yang memadai -Anggapan pengusaha bhw UKK adalah pengeluaran dana Tambahan -Terbatasnya SDM dalam upaya K3 & belum adanya koordinasi yang baik -Era globalisasi.Meningktakan kemapuan fungsi tubuh melalui OR 2.Menurunkan angka kesakitan penyakit tidak menular & kejadian cedera . Puskesmas. sempitnya ruangan • Masalah Kesehatan Kerja di Indonesia -Sistim Informasi Manajemen Kesehatan Kerja belum ada muatan K3 -Dari 100 jt angk. Kapasitas / Kemamapuan Kerja : sex. keadaan fisiologis tubuh. postur . pendidikan jasmani. diselenggarakan secara khusus maupun terpadu dengan kegiatan pokok lain . gizi. tinggi meja.

Rujukan kasus ke Puskesmas • Di Dalam Gedung PKM . mata dasar : di luar & di dalam gedung •Pembinaan PSM •Pengembangan UKM di Puskesmas •Di Luar Gedung PKM: .Penyuluhan . No.kes mata & telinga serta pencegahan kebutaan & ketulian •Menurunnya prevalensi kesakitan mata & telinga serta kebutaan & ketulian Meningkatnya jangkauan pelayanan refraksi Program Kegiatan •Pelayanan kes.Penanganan kasus penyakit mata 4. sikap& perilaku masyarakatarakt dalam pemeliharaan diri di bid. 23/ 1992) :  Menerima diri sendiri & perasaan aman. PROGRAM KESEHATAN JIWA •Menurut UU Kes.Penjaringan .Pengobatan . nyaman & tentram  Menerima orang lain apa adanya  Sikap positif terhadap diri sendiri & orang lain  Melaksanakan fungsi sehari-hari dan tanggung jawab  Mampu mengatasi masalah kehidupan .Penjaringan .Penyuluhan .•Tujuan Umum : •Meningkatnya derajat kesehatan mata & teliga masyarakatakat secara optimal Khusus : •Meningkatnya kesadaran.

yang asli atau dari luar Indonesia & diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat terlindungi dari negatif batantra . Khusus : 1. mencakup cara. pengalaman. Meluaskan penggalian. pengkajian penelitian & pengujian battra & pembinaannya di setiap jenjang administrative demi derajat kesehatan yang optimal. Masyarakat mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan dengan upaya batantra 2. Meningkatkan Penggunaan obat & batantra yang aman & bermanfaat 4. • Tujuan Umum : Meningkatkan pendayagunaan obat & cara battra yang terbukti aman & bermanfaat baik secara tersendiri atau terpadu dalam yankes paripurna melalui penggalian. pengkajian.• Prioritas sasaran adalah pendekatan ketahanan keluarga untuk mencegah  Kenakalan Remaja  Penyalahgunaan NAPZA  Gangguan Kesehatan Jiwa  Disfungsi Keluarga  Penyimpangan Perilaku Sosial 5. penelitian & pengujian berbagai batantra 3. obat & pengobatnya yang mengacu pada pengetahuan. PROGRAM PENGOBATAN TRADISIONAL Adalah salah satu upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran atau keperawatan. Mantapnya pembinaan batantra di setiap jenjang 5. & ketrampilan turun temurun.

3. 4.Terlaksananya pembinaan sarana yankes gilut.Bertambah mampunya masyarakat memelihara kesgi berdasar standar .Masyarakat  Kualitas pelayanan  Sumberdaya  Institusi yankesgi  Daerah 1. akreditasi sumber daya berdasar pengamatan epidemiologi serta peran swasta menuju pengembangan kemandirian institusi Khusus  Diterapkannya standar yankes gigi di Kab/Kota serta sarkes Iainny  Diterapkannya standar sumber daya yankes gigi di seluruh sarana Kesehatan . PROGRAM KESEHATAN GIGI & MULUT •Tujuan : Umum : Terwujudnya sistem yankes gilut melalui standarisasi. sertifikasi di bidang kesgi  Terwujudnya kerjasama den gan pihak terkait dalam rangka peningkatan yankes gilut pada masyarakat Sasaran . PROGRAM KANKER Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna adalah program penanggulangan kanker menyeluruh yang dilaksanakan oleh semua potensi yang ada baik pemerintah maupun swasta secara lintas sektor melalui paliatif : tindakan aktif untuk meringankan kanker terutama yang tidak mungkin disembuhkan 7. Meningkatkan kualitas yankesgi secara bermakna di institusi yankes Meningkatnyakualitas sumbe daya Meratanya yankes gilut bagi masyarakat Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kes. gilut Terlindunginya masyarakat di bidang kesehatan gigi dan mulut Terwujudnya jejaring kesehatan gigi dan mulut . 5. 6. 2. pengamatan epidemiologis & advokasi yankes gilut.6.

25 Thn. Diphteria ) Kecenderungan meningkatnya KLB PADA3I ( Campak ) II. ETN & Recam mk dalam pelaksanaannya masih ditentukan bersama-sama antara pusat. APBD. Operasional imunisasi baik APBN. 2000 Program imunisasi sebagian besar menjadi tanggung jawab kabupaten / kota Komitmen global : Erapa. TUJUAN Mencegah berjangkitnya & menurunkan angka kesakitan / kematian serta akibat buruk dari PADA3I sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat •Tercapainya pemerataan UCI di seluruh desa •Tercapainya sertifikasi bebas Polio di Jawa Timur •Tercapainya eliminasi Tetanus neonatorum tingkat propinsi •Tercapainya reduksi Campak di tingkat propinsi •Terlaksananya bulan imunisasi anak sekolah pada tiap bulan November dengan cakupan min 90% •Tercapainya cakupan imunisasi Hepatitis B utamanya 0-7 hari min. KEBIJAKSANAAN  Mutu pelayanan imunisasi diarahkan untuk menjamin safe injection & potensi vaksin  Kelangsungan program imunisasi dijaga dengan berupaya mencukupi kebutuhan tenaga pelaksana imunisasi.BAB X PROGRAM IMUNISASI I. 1999 & PP No. BULAN & dr sumber lain . provinsi & daerah Re-emerging diseases ( Tb paru. 22 Thn. LATAR BELAKANG Pemberlakuan UU No.70 % di setiap kabupaten / kota •Meningkatnya rasio tenaga terlatih sesuai standart secara bertahap • Tercukupnya ratio peralatan imunisasi sesuai standart secara bertahap • Terlaksananya pelayanan imunisasi di unit2 pelayanan swasta terutama di daerah perkotaan III. vaksin serta kebutuhan min.

Mopping up atau sub pin di wilayah yang ditemukan virus Polio liar . operational research.Identifikasi daerah resiko tinggi Tetanus neonatorum .Mengupayakan cakupan imunisasi TT WUS min. ETN & reduksi Campak serta optimalisasi imunisasi Hepatitis B  Kegiatan program imunisasi dilaksanakan secara terpadu bersama L P & LS terkait serta upaya pemberdayaan masyaraka  Pemantauan program imunisasi diarahkan pada aspek input. 3 dosis dengan prioritas di daerah resiko tinggi . proses & output maupun dampak termasuk kejadian ikutan pasca imunisasi ( KIPI )  Ekstensifikasi & inovasi kegiatan imunisasi dilaksanakan setelah dilakukan studi operasional. Intensifikasi kegiatan imunisasi diarahkan untuk mendukung tercapainya pemerataan UCI. uji coba yang perlu ditindaklanjuti dengan deseminasi informasi IV. STRATEGI • Pemerataan UCI desa dilakukan dengan cara : .Secara selektif melakukan backlog fighting ( melengkapi imunisasi Polio pada anak balita di desa yang tidak mencapai UCI ) .Secara konsisten melaksanakan bias • Eradikasi Polio dilakukan dengan cara : . Erapo .Memperbaiki standart imunisasi  Melakukan revitalisasi PWS .Melakukan revitalisasi Posyandu  Melakukan perencanaan kegiatan khusus  Melakukan pemantauan dengan supervisi check list • Eliminasi Tetanus neonatorum dilakukan dengan cara :  Meningkatkan cakupan imunisasi TT ( TT 5 dosis) .

Identifikasi unit2 pelayanan swasta  Pertemuan desiminasi informasi pelayanan imunisasi swasta  Pelaksanaan pelayanan imunisasi swasta  Monitoring ( termasuk monitoring cold chain ) .• Reduksi Campak dipercepat dengan :  Melakukan crash program Campak pada anak balita di daerah pemukiman baru termasuk daerah pengungsi  Melaksanakan catch up campaign Campak pada anak kelas I s/d VI .Bagi daerah yang sudah melaksanakan catch up campaign diteruskan dengan pemberian imunisasi Campak dosis kedua pada anak kelas I baru • Imunisasi Hepatitis B :  Memberikan imunisasi Hepatitis B ( HB-1 ) sedapat mungkin pada usia 0-7 hari  Intensifikasi imunisasi Hepatitis B menggunakan HB uninject  Pengembangan imunisasi Hepatitis B perlu dilaksanakan secara mandiri di unit2 pelayanan swasta  K e g ia t a n b ia s se t i a p d ila n g su n gka n p a d a b u la n No ve m b e r d e n ga n mempertimbangkan pencapaian hasil bias thn sebelumnya • Pengembangan SDM dilakukan dengan :  Melakukan evaluasi terhadap ratio tenaga imunisasi terlatih  Mengusulkan kegiatan pelatihan imunisasi / cold chain secara bertahap • Kecukupan peralatan imunisasi :  Melakukan evaluasi terhadap ratio peralatan imunisasi  Mengusulkan perencanaan peralatan imunisasi sesuai kebutuhan standart ratio yang telah ditetapkan • Pengembangan pelayanan imunisasi swasta dengan cara : .

POL-2 DAPAT.Pelaporan & pelacakan kasus KIPI  Pengembangan software KIPI  Sosialisasi pencegahan & penanggulangan KIPI •TT 5 kali bila interval benar ibu kebal seumur hidup bayaitu terlindungi Tetanus neonatorum DOSIS TT 1 TT 2 TT 3 TT 4 IT 5 INTERVAL MINIMAL 171 + 4 L A M A PERLINDUNGAN MGG TIDAK ADA 3 TAHUN 5 TAHUN 10 TAHUN 25 TAHUN 172 + 6 BULAN TT3 + 1 THN TT4 + 1 THN Keterangan : tidak ada interval maximal JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI Lahir di RS / Praktek dokter / RB / Bidan praktek : 0 bulan 2 bulan 3 bulan HB-1. POL-3 POL-4 Yandu Tempat Rumah Yandu Yandu Yandu Yandu .HB1.HB3. POL-1 DAPAT.HB3.• Pengembangan sistem pemantauan KIPI .HB2. POL -1 DAPAT. POL-2 DAPAT-HB2.HB1.-POL-3 4 bulan 9 bulan DAPAT. POL-4 CAMPAK Lahir di rumah : Bulan 0 bulan 1 bulan 2 bulan 3 bulan 4 bulan 5 bulan Antigen HB-1 BCG DAPAT. BCG.

5 ml 0.5 ml Penyuntikan Intracutan insertio M.25°C + 2°C s/d + 8°C Suhu Kamar 2 Tahun 2 Tahun 5 Tahun Pelarut CPK POL CAMPAK.9 bulan CAMPAK Yandu DOSIS VAKSIN & TEMPAT PENYUNTIKAN Antigen BCG DA PAT TT DT POL Campak HB 1X 3X 2X 1X 4X 1X 3X Dosis 0.25°C CAMPAK DAPAT — HB Pelarut BCG + 2°C s/d + 8°C 2 Tahun 2 Tahun .5 ml 0.15°C s/d . BCG Suhu Kamar 27°C s/d 33°C 27°C s/d 33°C 5 Tahun 2 hari 7 hari 3.5 ml 0.5 ml 0.Semua vaksin akan rusak bila kena sinar matahari langsung .15°C s/d .5 ml 2 tetes 0.05 ml 0.25°C DAPAT HB TT DT POL + 2°C s/d + 8°C + 2°C s/d + 8° C + 2°C s/d + 8°C + 2°C s/d + 8°C + 2°C s/d + 8°C 1 Tahun 1 Tahun 26 Bulan 2 Tahun 2 Tahun 6 Bulan .D Intramuscular Intramuscular Intramuscular Mulut Intramuscular Intramuscular Intramuscular DAPAT-HB 3X MASA SIMPAN VAKSIN Antigen BCG Suhu Penyimpanan + 2°C s/d + 8°C Umur 1 Tahun -15°C s/d .

Bengkak-kemerahan ditempat suntikan sekitar 10 % Bengkak pada DPT. yang disebabkan oleh sifat-sifat yang dimiliki vaksin. berupa kecemasan atau rasa sakit karena penyuntikan dan bukan karena vaksin. Kesalahan Program – Kejadian yang disebabkan oleh kesalahan dalam menyiapkan. • Reaksi Vaksin secara local Rasa sakit di tempat suntikan. Koinsiden – Kejadian yang terjadi sesudah imunisasi tetapi bukan disebabkan oleh vaksin (faktor kebetulan). Reaksi injeksi – Kejadian. koreksi & pencegahan programme errors Identifikasi KIPI yang tidak biasa Membedakan ko-insiden & KIPI Mempertahankan kepercayaan thd program imunisasi Membuktikan adanya hipotesis KIPI dari vaksin tertentu Estimasi KIPI-rate dalam masyarakat • Klasifikasi KIPI Reaksi vaksin – Kejadian yang disebabkan atau dipicu oleh vaksin yang telah diberikan secara benar. menangani atau cara pemberian vaksin. Tidak diketahui Penyebab kejadian belum dapat ditentukan. tetanus sekitar 50% Parut BCG terjadi setelah 6 minggu kemudian ulserasi dan sembuh setelah beberapa bulan .•Survailen Keamanan Imunisasi Mendeteksi.

dapat disembuhan tanpa gejala sisa Ensefalopati akibat imunisasi campak atau DTP .  Rubella nyeri sendi 15 %  pembengkaan kelenjar limfe •Reaksi vaksin berat Kejang Trombositopeni Hypotonic hyporesponsive episode/ HHE Persistent inconsolable screaming bersifat self-limiting Anafilaksis. kecuali DPT hampir 50%.•Reaksi vaksin secara sistemik  Demam 10%. gejala sistemik  MMR dan campak  Demam dan atau rash  Konjungtivitis 5-15%  Lebih ringan dibandingkan infeksi campak  berat pada imunodefisiensi  Mumps  pembengkaan parotis gland.  Iritabel. potential menjadi fatal. malaise.

transmisi infeksi virus) .000/1000 X 3 = 3000 akan mengalami kematian dalam satu tahun Maka pd bulan imunisasi diperkirakan akan terjadi 250 kematian atau 8 kematian pada hari imunisasi sebagai koinsidensi .Suntikan tidak steril : Infeksi (abses. •Kejadian Koinsidens Suatu kejadian dapat terjadi pada waktu atau setelah imunisasi dan secara salah dianggap disebabkan oleh imunisasi.000.Persiapan vaksin yang salah : • • • • Pelarutan tidak steril : infeksi Menggunakan vaksin setelah lewat masa pakai : infeksi kurang kocok : reaksi lokal Pelarut tertukar dgn obat : efek obat yg disuntikan . inf.Mengabaikan kontra indikasi : reaksi berat/kematian •Pencegahan Kesalahan Program Gunakan pelarut dari produsen sesuai dgn vaksin Buang vaksin yg telah dilarutkan setelah habis masa toleransi (tidak lebih dari 6 jam: campak. BCG : 3 jam) Dalam lemari es tidak boleh menyimpan obat lain Menggunakan alat suntik steril untuk tiap suntikan Jurim harus mendapat cukup pelatihan dan supervisi ketat utk menjamin SOP diikuti secara benar Investigasi epidemiologi secara hati-hati terhadap KIPI utk mencari penyebab dan utk memperbaiki praktek imunisasi yg benar. Jumlah kejadian tergantung dari besarnya populasi & insidensi penyakit atau kematian di masyarakat Misal : 1 juta anak 1-15 tahun ikut imunisasi masal mortality rate populasi : 3 per 1000 per tahun maka 1 juta anak yg ikut imunisasi: 1.• Kesalahan Program .sistemik. hal ini tidak dapat dihindari terutama pada pemberian imunisasi masal. selulitis.

Demikian juga kematian wanita akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah :   Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat. Hal ini diakibatkan oleh : o o Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan. Masalah Tuberkulosis Tuberkulosis adalah penyakit menular berbahaya dan mematikan.BAB XIV PROGRAM PEMBERANTASAN TUBERKULOSIS A. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh mycobacterium tuberculosis. dan nifas. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). obat tidak terjamin penyediaannya. o o o Tidak memadainya tata laksana kasus (diagnosa dan paduan obat yang idak standar. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. penemuan kasus atau diagnosis yang tidak standar. TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat. diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru. Diperkirakan seorang pasien TB dewasa akan kehilangan waktu kerjanya 3-4 bulan. seperti pada Negara berkembang. Selain merugikan secara ekonomis. Jika ia meninggal akibat TB. Pada tahun 1995. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia terjadi di Negara-negara berkembang. Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat. pencatatan dan pelaporan yang tidak standar. . tidak dilakukan pemantauan. gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis). tapi dapat disembuhkan. persalinan. Infrastruktur kesehatan yang buruk pada Negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.maka akan kehilangan pendapatammya sekitar 15 tahun. Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. dan 3 juta kematian akibat TB di seluruh dunia. dan sebagainya). Kegagalan program TB selama ini.

Bulgaria 24. China India Russian Federation Pakistan Bangladesh South Africa Ukraine Indonesia Philippines 10. Nigeria 11. 9. 8. Estonia . Viet Nam 15. 7. terutama pada Negara yang dikelompokkan dalam 27 negara dengan masalah TB besar (High burden countries). Kazakhstan 14. Latvia 27. Republic of Moldova 20. Tajikistan 18. Kyrgyzstan 21. Myanmar 17. Belarus 22.  Perubahan demografi karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. 5. Georgia 23. Azerbaijan 19. Armenia 26. Ethiopia 16. 4. 3. Lithuania 25. Uzbekistan 12. 2. Urutan 27 Negara dengan beban pasien kebal obat TB adalah sebagai berikut: 1. jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan. 6. Dampak pandemi HIV Situasi TB didunia semakin memburuk. Democratic Republic of Congo 13.

 Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan  dari parunya. sebagian besar kuman TB menyerang paru. sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 kuman.000 orang.  Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. dan kematian 101. pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). B. Munculnya pandemic HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. setiap tahun ada 539.000 kasus baru. tapi dapat juga mengenai organ lainnya. Kuman ini akan segera mati bila terkena sinar matahari dan cairan pembunuh kuman. a) Cara penularan TB   Sumber penularan adalah pasien TB BTA (+). Pada waktu batuk atau bersin. Tuberkulosis dan Kejadiannya Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung akibat kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemic TB yang sulit ditangani. pada tahun 1993 WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (Global emergencies). b) Risiko Penularan . makin menular psien tersebut. Pada saat yang sama. TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan yang terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sebanyak 10% dari seluruh penderita TB dunia. sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB(Multi Drug Ressistance =MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Insidensi kasus TB BTA(+) 110/100. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan.000 penduduk. Diperkirakan pada 2004.Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. Di Indonesia.Menyikapi hal tersebut. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan lembab dan gelap. Koinfeksi dengan HIV meningkatkan resiko kejadian TB secara signifikan.

Fakta.  Putus obat dan reaksi efek samping meningkat. PAsien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar daripada pasien TB paru dengan BTA negative. ARTI sebesar 1% berarti 10 orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun.000 penduduk.  Meningkatkan beban layanan. c) Risiko Menjadi sakit TB  Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.  HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat.  Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang renah. rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun.  Akses layanan terhambat akibat stigma . sedikitnya 1 dari 3 ODHA akan menderita TB.. Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. sehingga jika terjadi infeksi penyerta (opportunistic) seperti tuberkulosis.  Dengan ARTI 1% diperkirakan diantara 100.  Risiko penularan setiap tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity). maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bias mengakibtkan kematian. maka jumlah pasien TB akan meningkat. diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).  Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberculin negative menjadi positif.  ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. d) Dampak HIV pada program TB  Beban kasus (morbiditas dan mortalitas) TB dri kasis HIV meningkat. dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

disamping secara cepat menekan penularan. Strategi ini akan memutuskan penularan TB .  25% menjadi kasus kronis yang sangat menular.TB dan Infeksi HIV Lifetime Risk 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% of TB 60% 10% PPD+/HIV-negative PPD+/HIV+ e) Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati Pasien yang tidak diobati. dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua decade. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuan pasien. prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. setelah 5 tahun. juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Strategi ini dikembangkan dari berbagai studi. C. Upaya Penanggulangan TB Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang seara ekonomis paling efektif (cost-efective). pengalaman-pengalaman terbaik (best practices). akan:  50% meninggal. Peneapan strategi DOTS secara baik.  25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi. uji coba klinik (clinical trials).

2. Komitmen politis. WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB sejak tahun 1995. 3. Bank dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Melaksanakan dan mengembangkan riset. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. 2. Memberdayakan pasien dan masyarakat. Mencapai. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan. termasuk pengawasan langsung pengobatan. Diagnosa utama : Pemeriksaan dahak mikroskopis Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS. Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan 4. Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci : 1. mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS. 3. . setiap dolar yang digunakan untuk membiayai program penanggulangan TB. Merespon masalah TB-HIV. 5. 6. 5. Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. 4. Strategi DOTS diatas telah dikembangkan oleh kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) dengan memperluas strategi DOTS sebagai berikut: 1. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu. akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun. MDR-TB dan tantangan lainnya.dan dengan demikian menurunkan insidensi TB di masyarakat. Integrasi ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya.

Resistensi OAT Penyebab utama resistensi OAT antara lain: 1) Penatalaksanaan yang tidak adekuat     2)    3)   Diagnosis tidak tepat Paduan OAT yang tidak tepat Dosis. jenis.D. jumlah obat dan jangka waktu pengobatan : tidak adekuat Penyuluhan pasien : tidak adequat Pasien : Ketidak patuhan menelan OAT : waktu. dosis menghentikan pengobatan Gangguan penyerapan OAT Program Penanggulangan TB : Suplai OAT yang kurang Kualitas OAT yang rendah Resistensi kuman TB >> Ulah manusia • • • MONO RESISTEN : salah satu jenis OAT POLI RESISTEN : lebih dari satu jenis OAT MULTI DRUG RESISTANT : H + R PENEMUAN PASIEN TB DI JAWA TIMUR TAHUN 2004 .2010 ALL CASES NEW POSITIVE SPUTUM SMEAR .

RS.CDR AND SUCCESS RATE PASIEN TB DI JAWA TIMUR TAHUN 2004-2010 CDR 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 86 SUCCESS RATE 87 89 88 90 86 55 42 59 58 59 54 58 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 CDR SUCCESS RATE DAHAK PENDERITA DIPERIKSA DENGAN MENGGUNAKAN TERSANGKA TBC YANG DITEMUKAN DI UNIT PELAYANAN KESEHATAN (PUSKESMAS. BP4) MIKROSKOP DIKONSELING. DIBERI OBAT DAN DITUNJUK PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) MINUM OBAT SELAMA 6 BULAN SECARA TERATUR DAN DIAWASI OLEH PMO .

BAB XII PELAKSANAAN PROGRAM KUSTA Definisi Penyakit kusta adalah suatu penyakit menular yang menahun yang menyerang primer syaraf tepi sekunder kulit yang disebabkan oleh M. Masyarakat masih salah kaprah dalam menganggap bahwa penyakit ini disebabkan oleh karena kutukan atau keturunan. Zaman Pertengahan Obat kusta belum ditemukan sehingga penderita kusta dikucilkan di leprosaria /koloni/ perkampungan kusta seumur hidup 3. pemberantasan mulai dilakukan di Puskesmas • Pada tahun 1982 mulai menggunakan Multi Drug Therapy (MDT)  selama 12 – 24 bulan . keamanan dan ketahanan Nasional. Juga tertulis di kitab Weda (1400 SM)  Kustha. India. Perkembangan pengobatan Penyakit Kusta : • Pada tahun 1951. Zaman Modern Kuman kusta ditemukan oleh Gerhard Armauer Hansen 1873. Dr. ekonomi. Zaman Purbakala Kusta dikenal hampir 2000 SM.Leprae. hal ini dapat diketahui dari peninggalan di Mesir. Tiongkok dan Mesopotania. kitab agama Kong Hu Cu  Ta Feng. dan di Al-Qur’an  Al Abras / Al Majrum 2. Pada umumnya penyakit kusta ini sering terdapat di negara-negara yang sedang berkembang Sejarah penyakit kusta 1. pengobatan kusta menggunakan DDS  minum obat seumur hidup • Pada tahun 1969. Penyakit ini dapat menimbulkan problem sosial. Sitanala mempelopori perubahan sistim pengobatan secara isolasi dengan rawat jalan. dalam kitab Injil  Zaraath. budaya. Di Indonesia.

4).Kebijakan Nasional tentang Pemberantasan Penyakit Kusta Berikut adalah kebijakan nasional yang diambil pemerintah Indonesia dalam memberantas penyakit kusta: • • • • • Kegiatan pemberantasan kusta diintegrasikan kedalam pelayanan kesehatan umum Pengobatan kusta diberikan secara cuma-cuma Regimen pengobatan MDT mengikuti rekomendasi WHO Penderita kusta tidak diisolasi Peningkatan layanan untuk menurunkan angka kecacatan kasus baru sebesar 35% pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2010 Epidemiologi • Pengertian : – Ilmu yang mempelajari distribusi dan faktor-faktor yang menentukan dari suatu kejadian yg berhubungan dengan penyakit pd sekelompok masyarakat. Sumber penularan : Hanya manusia satu-satunya sebagai sumber penularan c. Cara penularan. – 6 komponen rantai infeksi yang sangat berperanan dalam proses penularan penyakit kusta: 1). bisa hidup diluar tubuh manusia sampai 9 hari.Penyebab. 5).Penjamu Faktor–faktor yg menentukan terjadinya penyakit kusta.Cara masuk ke penjamu. 2). Penyebab : ―Mycobacterium leprae‖ • Waktu belah 12 – 14 hari. Cara keluar dari Host Luka dikulit dan mucosa hidung yg merupakan sumber keluarnya kuman dan tipe MB merupakan sumber penularan dan penderita yg belum berobat sekali bernafas 10 – 10. a.Sumber Penularan. . 6).Cara keluar dari sumber penularan. 3). petumbuhan optimal pd suhu 27 – 30 C b.

Cardinal Sign: 1. Cara masuk ke dalam Host Tempat masuk kuman kusta sampai saat ini belum diketahui secara pasti.d. 2 orang jadi sakit dan perlu pengobatan untuk dpt sembuh. Penjamu (Host) Hanya orang yg mempunyai imunitas rendah thd kuman kusta yg dpt tertular. Diagnosis Seseorang bisa dinyatakan positif kusta apabila ditemukan minimal 1 (satu) cardinal sign pada diri penderita. di evaluasi 3 – 6 bulan kemudian dilakukan pemeriksaan ulangan. 2. Berdasarkan hasil penelitian para ahli didapat bahwa : Dari 100 orang yang terpapar dg penderita kusta maka 95 % kebal (tidak tertular). 3 orang ditemukan gejala klinis tapi sembuh dg sendirinya. • Butuh waktu yg lama dan terus menerus untuk dapat ketularan e. Cara penularan • Masa inkubasi 2 – 5 th • Hanya kuman yg solid yang bisa menularkan. 3. Ditemukan lesi kulit yang mati rasa {kelainan kulit ini bisa berwarna kemerah-merahan(eritematous) atau hypopigmentasi}. Penebalan syaraf tepi yg disertai dengan gangguan fungsi (sensoris. motoris & otonom). Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA +). . para ahli sepakat bahwa masuknya kuman melalui saluran pernafasan bagian atas & kulit yg tidak utuh. f. Apabila seseorang tersebut tidak ditemukan cardinal sign maka dianggap sebagai suspek.

Posterior Pada permukaan kaki Klasifikasi 1.jari telunjuk &jari tengah Nervi Ulnaris Pada jari kelingking.Syaraf tepi yg biasa terganggu Nama syaraf Organ yang terganggu Nervi Fasialis Mata Nervi Radialis Motorik tangan Nervi Medianus Ibu jari. Dasar Klasifikasi 1) Manifestasi klinik. 2) Hasil pemeriksaan bacteriologis. 2. Tujuan 1) Menentukan jenis & lamanya pengobatan peny 2) Waktu penderita dinyatakan RFT 3) Perencanaan logistik 3. Jenis klasifikasi 1) Madrid 2) Ridley – Jopling 3) India 4) WHO .jari manis Nervi Perineos Motorik Kaki Nervi Tb.

Bacterisid lemah – Anti reaksi – Bentuknyakapsul berwarna coklat. bentuknya kapsul atau tablet dg takaran 150. Lamprene (B663) / Clofazimine – Sifatnya Bacteriostatik. Diamino Diphenyl Sulfone) • Bentuknya tablet berwarna putih dg takaran 100 mg dan 50 mg dan dosisnya harian • Sifatnya bacteriostatik (menghambat pertumbuhan kuman) • Efek samping : yang paling sering Anemia B. Obat yang dipakai A. 450 dan 600 mg – Pemberiannya bulanan. dengan efektifitas 1 x minum 99% kuman akan mati. air seni berwarna merah . Tujuan – – – Memutus matai rantai penularan Menyembuhkan penyakit penderita Mencegah terjadinya cacat 2. 300. dg takaran 100 dan 50 mg dosisnya bulanan dan harian. – Efek samping : Flu syndrum. DDS (Dapsone. – Efek samping : Dapat merubah warna kulit C. Rifampicin – Sifatnya Bacteriosid.• Untuk kepentingan program pemberantasan kita menggunakan klasifikasi WHO yaitu : Tanda Utama Bercak kusta Gangguan fungsi Sediaan hapusan Pausi Basiler (PB) Jumlah 1 s/d 5 Hanya 1 syaraf BTA Negatif Multi Basiler (MB) Jumlah > 5 Lebih dari 1 Syaraf BTA Positif Pengobatan 1.

3. b) Reaksi ini merupakan penyulit dari pada program.2 mg/kg/bb : 10 – 15 mg/kg/bb. Kehamilan. : bulanan 100 mg. c) Reaksi kusta dapat terjadi Sebelum pengobatan. Regimen Pengobatan MDT Jenis Obat PB Dewasa PB Anak (10-14 th) Rifampisin Lamprene DDS Lamprene 600 mg 100 mg 450 mg 50 mg 600 mg 300 mg 100 mg 50 mg 450 mg 150 mg 50 mg 50 mg / 3x / minggu Bulanan Bulanan Harian Harian MB Dewasa MB Anak (10-14 th) Keterangan (minumnya) Untuk kasus anak umur < 10 th dengan mengunakan kg/Bb yaitu DDS Rifampicin Lamprene : 1 . Hal-hal yg mempermudah(pencetus) terjadinya reaksi kusta. tetapi tidak semua penderita mengalami reaksi berdasarkan penelitian bahwa penderita yg mengalami reaksi sekitar 20 – 30 % dari jumlah penderita diobati. setelah melahirkan. selama dan setelah pengobatan Reaksi ini dapat menyebabkan kecacatan yang permanen kalau tidak diketahui dengan cepat baik oleh penderita sendiri maupun petugas kesehatan. • • Penderita dalam keadaan kondisi lemah. . harian 50mg/2x/mgg Reaksi Kusta dan Akibatnya Reaksi kusta: a) Suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yg merupakan suatu reaksi antigen antibodi yang kejadiannya mendadak kelihatan penyakitnya lebih parah dari sebelumnya serta merugikan penderita.

bisul & cacingan dll. Stres fisik dan mental. Kurang gizi. Infeksi. Reaksi kusta tipe 1 (Reversal Reaction) Reaksi kusta tipe 2 (Erythema nodosum) .• • • • Sesudah mendapat imunisasi. Malaria. karies gigi.

.

BAB XIII PELAKSANAAN PROGRAM PEMBIAYAAN KESEHATAN

Pengertian JPKM (Pasal No.15 UU No.23 / 1992) Cara penyelenggara pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan asas UBK, yang berkesinambungan dan dengan mutu yang terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara pra-upaya. Sejarah Perkembangan Konsep Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) 1. Tahun 1950 : Sistem Restitusi Pemeliharaan Kesehatan. Semua pengeluaran kesehatan langsung dari pegawai & keluarga diganti pemerintah ( out of pocket ). 2. Tahun 1968 : Sistem Pembiayaan Pra-Upaya. Keppres No.230 tahun 1968, berupa pemotongan 2% gaji pegawai negeri sipil dan pensiunan. Sebagai pengelola adalah BPDPK ( Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan ). 3. Tahun 1980 : Konsep Pembiayaan Pra - Upaya dengan KAPITASI. Berkembang menjadi konsep DUKM ( Dana Upaya Kesehatan Masyarakat ). 4. Tahun 1992 : JPKM mewujudkan “ Managed Care “. Peningkatan Mutu dan Kendali Biaya Kesehatan. Tercantum dalam UU No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan.

Tujuan JPKM Setiap warga negara terlindung dengan pemeliharaan kesehatan paripurna (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif) yang terkendali mutu dan biayanya.

Operasional JPKM Badan Pembina (BAPIM)

Badan Pelaksana (BAPEL)

Peserta

Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK)

Penjelasan

:

Pra Upaya : Jasa pelayanan kesehatan yang diberikan kepada peserta JPKM telah dibayar oleh Bapel kepada PPK sebelum pelayanan kesehatan diterima peserta JPKM (pembayaran di muka). Kapitasi : pembayaran yang dilakukan Bapel kepada PPK atas jasa pelayanan kesehatan yang di berikan oleh PPK kepada peserta dengan membayarkan sejumlah dana sebesar perkalian jumlah anggota/peserta dengan satu satuan harga sebelum pelayanan diberikan. Bentuk Operasional Lain Harkes Konvensional Bayar langsung
PASIEN

PPK Yankes (kuratif)

Asuransi Ganti Rugi BAPEL

PESERTA

PPK

Asuransi Tagihan Provider BAPEL

PESERTA

PPK

JPKM Untuk Masyarakat Miskin (JPKMM) a. Latar belakang :
1. Kesehatan adalah investasi, hak fundamental, dan kewajiban setiap warga Negara. (WHO, UUD 1945, UU 23/1992). 2. Negara bertanggung jawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya.

b. Upaya dalam pemberian pelayanan kesehatan masyarakat miskin:
1. SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) 2. Kartu Sehat

UU 01/2004 3. Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) Jamkesmas adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu yang dapat diperoleh secara gratis. UU 17/2003 4. Pola Asuransi Sosial (semester 1) b. PKPS/ Program Kompensasi Pengurangan Subidi BBM Bidang Kesehatan ( 2002 – 2004) 5. Tujuan program Jamkesmas adalah meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan yang optimal secara efektif dan efisien.3. UU 32/2004 6. PDPSE/ Program Dampak Pengurangan Subsidi Energi ( 2001) 4. UU 40/2004 5. PP 38/2007 . Sebelum terbentuk Jamkesmas. UUD 1945 2.Perpaduan: Penyaluran langsung ke Puskesmas (UKM dan UKP) dan dengan mekanisme asuransi sosial untuk pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit (semester 2). APBN (DEPKES) dan PKPS BBM 2005 (APBNP): a. JPS BK ( 1998 – 2002). program bantuan sosial untuk masyarakat miskin dan tidak mampu dilaksanakan melalui program JKMM ( tahun 2005) dan ASKESKIN (20052007). Landasan hukum: 1.

dll) Aspek-aspek penyelenggaraan program Jamkesmas meliputi: 1. Selain itu juga ada kelompok peserta baru.742 : 26.265. yaitu penghuni lapas / rutan (Keterangan Karutan / Kalapas). masyarakat yang masuk dalam Program Keluarga Harapan (PKH).309 Konsep dasar Jamkesmas Payer (DEPKES Pengelola) Pendaftaran Pembayaran Yankes Member (Masyarakat Miskin) Pelayanan Kesehatan Provider (Puskesmas. 3.387.051 : 1.411. Aspek Kepesertaan Aspek Pelayanan Aspek Pendanaan dan Mekanisme Keuangan Aspek Pengorganisasian Penjelasan: 1. gelandangan. 2. pengemis.102 jiwa terdiri dari: .Kondisi pelaksanaan Jamkesmas di Jawa Timur tahun 2009 Penduduk Jawa Timur tahun 2009 adalah 38.710.Non Quota (termasuk Jamkesda) . dan bayi yang terlahir dari keluarga Jamkesmas. panti-panti (mendapat kartu peserta dari kementerian .Non Maskin : 10.Maskin Quota (Jamkesmas) . RS. Aspek kepesertaan : Peserta Jamkesmas adalah masyarakat miskin dan tidak mampu yang ditetapkan oleh Bupati / Walikota. 4. anak terlantar dan masyarakat tidak memiliki identitas ditetapkan oleh Dinas Sosial Kabupaten / Kota.

4 juta jiwa) kuota Sasaran Kabupaten / Kota berdasarkan Entry Data Terbit Kartu Base Penetapan SK Bupati / Walikota Kepesertaan dan Updating Data (penyiapan blanko kartu) Distribusi Kartu Keterangan: Peserta  Sasaran Kepesertaan 2010 masih didasarkan kepada baseline data tahun 2008 meski publikasi data BPS menunjukkan penurunan jumlah masyarakat miskin dari 76. c. .  Data BPS 60. Aspek Pelayanan: Pelayanan kesehatan yang komprehensif (promotif.4 juta.39 juta akan menjadi sasaran Jamkesmas pada tahun 2011 ditambah sasaran sejumlah 16.39 juta. dan balai kesehatan yang lain. Peserta Jamkesmas yang memerlukan pelayanan YANKESDAS dapat ke Puskesmas dan jaringannya (PUSTU. masyarakat miskin daerah bencana pasca tanggap darurat (mendapat kartu peserta). POLINDES.  Perhatian Khusus: Bayi baru lahir dari keluarga miskin. dan korban KDRT (dalam proses teknis). yaitu: a. Terdapat prosedur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan baik di puskesmas. anak terlantar/ gelandangan/pengemis (rekomendasi dinas sosial). POSKESDES). PUSKEL. Adapun prosedur untuk mendapatkan pelayanan di puskesmas.01 yang akan ditetapkan dengan ketentuan. SKTM di luar kota menjadi tanggungan PEMDA. b.kesehatan). Puskesmas dan jaringannya memberikan YANKESDAS sesuai kebutuhan dan standar pelayanan. Membawa kartu JAMKESMAS. 2. ALUR REGISTRASI DAN DISTRIBUSI KEPESERTAAN Sasaran Nasional (76. peserta PKH. rumah sakit. BIDES. rehabilitatif) dan berjenjang. kuratif. sehungga jumlah yang dijamin dalam Jamkesmas tetap 76.4 juta menjadi 60. preventif.

3. Rumah sakit wajib memberikan rujukan balik ke Puskesmas apabila kasusnya sudah dapat ditangani oleh Puskesmas. Dana pelayanan kesehatan lanjutan dibayarkan langsung ke BKIM/BKMM/BP4/BKPM/BBKPM Perbendaharaan Negara (KPPN). Rajal Tingkat Lanjutan (RJTL). Prosedur untuk mendapatkan pelayanan di RS. BP4. b. Dalam kondisi gawat darurat. peserta dapat langsung memperoleh pelayanan kesehatan rumah sakit melalui UGD. dilaksanakan pada Puskesmas yang menyediakan pelayanan spesialistik. BBKPM. BKMM.BKIM: a.d. Pelayanan Gawat Darurat. BKMM. BP4. POSKESDES). Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL) dilaksanakan pada ruang perawatan kelas III RS Pemerintah. b. PKPM. BIDES. f. c. dan RS oleh Kantor Pusat 4. d. PUSKEL. BBKPM. BKIM. Aspek Pengorganisasian . poliklinik spesialis RS Pemerintah. membawa Surat Rujukan dari Puskesmas dan jaringannya. Peserta harus menunjukkan kartu JAMKESMAS dan membawa Surat Rujukan dari Puskesmas dan jaringannya (PUSTU. Dana awal untuk Balai Kesehatan di atas dan RS diluncurkan sejak bulan Februari via Bank BRI. c. Dana pelayanan kesehatan dasar disalurkan langsung ke Puskesmas melalui PT POS. e. BKPM. Aspek Pendanaan dan Mekanisme Keuangan a. Peserta Jamkesmas bila memerlukan Yankes Rujukan. POLINDES.

Hal ini nantinya akan melahirkan program Jamkesmada ataupun terbitnya SKM ataupun Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). yakni: Mewujudkan makmur bersama wong cilik melalui APBD untuk rakyat. Sumber . Anggota Jamkesda sendiri adalah masyarakat miskin dan tidak mampu non kuota (yang belum terdaftar dalam Jamkesmas).PT ASKES Dalam program Jamkesmas diamanatkan: apabila masih terdapat masyarakat miskin dan tidak mampu. Jamkesda Progam Jamkesda sesuai dengan RPJMD Jawa Timur 2009-2014 dimana visi RPJMD sendiri adalah ―terwujudnya Jawa Timur makmur dan berakhlak dalam kerangka NKRI‖. Dan dengan misi. tidak masuk SK Bupati / Walikota pembiayaan kesehatannya menjadi tanggung jawab Pemda setempat dan mekanisme pengelolaannya seyogyanya mengikuti Jamkesmas.

Identitas Maskin : . Pelaksanaannya adalah. Untuk cara pembayaran Jamkesda sesuai dengan PERDA Kab/Kota. Gelandangan / T-4 (Tempat Tinggal Tidak Tetap ) dengan surat dinsos dapat mengikuti Jamkesmas e.Kartu Jamkesmas ( Kuota ) . Perhatian: a. Untuk Bayi : . Yan dan Obat Provinsi Per 1-7-2010 INA-DRG. Kadinsos).pembiayaan adalah lewat APBD I dan APBD II. Sedangkan yang belum masuk data base dapat menerima SKM atau SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Asisten. SPM ditandatangani oleh pejabat yg ditunjuk minimal Eselon II (Bupati./Kota 3.Surat Kelahiran . Untuk mendapat pelayanan gratis di RS Provinsi syarat administrasi harus lengkap: 1.Kartu Jamkesda / SPM Bupati ( Non Kuota ) 2. Pelaksanaan SPM masih tidak seragam. . sebut nama bayi c. KSK / KTP b.Ikut Kartu Orang Tua . Pergub Jatim (Jamkesmas 2008). dimana masih ada kabupaten / kota yang tidak mau menerbitkan SPM . Kadinkes. Sekda.Bila memakai SPM. d. dimana mereka (masyarakat miskin dan tidak mampu) yang sudah masuk data base akan menerima kartu Jamkesda Provinsi. Rujukan harus dari RS Kab.

Program Perbaikan sistem rujukan dan mutu Pelayanan Rumah Sakit. 5. pengelola biaya. analisis. Peran DHA antara lain: 1.Hak Pasien Miskin a. 3. Droping pasien jiwa Program Prioritas Jawa Timur 1. Program Penuntasan Jaminan Yan Kes Maskin. Program Percepatan Penurunan AKI dan AKB. Untuk meningkatkan kinerja program kesehatan di Kabupaten/Kota 3. Manfaat DHA adalah diperolehnya gambaran yang komprehensif tentang situasi pembiayaan kesehatan di Kabupaten / Kota yang bersangkutan. 4. 6. Untuk menyusun PHA (skala nasioal) / NHA (skala provinsi) . Kamar /Perawatan Kelas III e. Untuk menyusun strategi perbaikan sistem pembiayaan kesehatan 2. misalnya: total biaya yang tersedia. Mendapat obat sesuai ketentuan c. Ambulance jenazah f. District Health Account (DHA) Merupakan pencatatan. Mendapat pelayanan sesuai ketentuan b. dan pelaporan situasi pembiayaan kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota. Program Pengendalian Penyakit Menular ATM dan KIDD. Program perbaikan gizi buruk masyarakat. Program Pemerataan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan. biaya kesehatan per kapita. 2. Mendapat alat implant sesuai ketentuan d. sumber biaya kesehatan baik dari pemerintah ataupun non pemerintah.

NHA/PHA/DHA menghasilkan informasi tentang: 1. JENIS PROGRAM (PR) yang dibiayai  PP#38. PENERIMA MANFAAT (PM) : menurut ciri demografi. swasta. biaya operasional. Berbagai sumber pembiayaan terfragmentasi c. MDGs 7. LSM. Terlalu banyak untuk kegiatan tidak langsung e. kab/kota. MATA ANGGARAN (MA)  barang modal. PENYELENGGARA PELAYANAN (PL)  Dinkes. JENJANG KEGIATAN (JJ)  Jenjang administratif dimana kegiatan tsb dilakukan : propinsi. Kekurangan biaya operasional d. Alokasi tidak sesuai dengan program prioritas f. Puskesmas. kecamatan. RS. masyarakat 8. biaya Pemeliharaan. RT 3. PENGELOLA ANGGARAN (PA)  pemerintah. desa. dll 6. SPM. asuransi. JENIS KEGIATAN (JK) yang dibiayai  kegiatan langsung dan tidak langsung/ penunjang 5. Permendagri 59. klinik dll 4. SUMBER BIAYA (SB) kesehatan  pemerintah dan non-pemerintah 2. Jumlah yang terlalu kecil b. Realisasi anggaran terlambat . status sosioekonomi dan kategori masalah kesehatan (penyakit)  berdasar umur Masalah Pembiayaan Kesehatan a.

Mengidentifikasi daerah berisiko transmisi virus-polio liar (terdapat penderita polio lumpuh) Imunisasi Rutin PIN Sweeping BIAS Polio Mopping Up Perlindungan Masal ? Bebas Polio Fokus Polio Bebas Polio Surveilans AFP Diagram Eradikasi Polio .BAB XIV PELAKSANAAN PROGRAM SURVEILANCE •Surveilans AFP Definisi AFP • • • • • Semua anak usia < 15 tahun Kelumpuhan yang sifatnya lemas (flaccid) Terjadi mendadak dalam 1 – 14 hari Bukan disebabkan rudapaksa / trauma Bila ada keraguan laporkan sebagai kasus AFP Tujuan Surveilans AFP 1. Sertifikasi Indonesia bebas polio tahun 2010 2.

mopping up dapat segera dilakukan pada daerah terbatas sehingga efisien dan dipertahankan tetap bebas polio. .Tahap Pemantauan Virus Polio Baru (import) Masih banyak negara-negara yang mempunyai penderita polio baru yang mungkin masuk ke Indonesia dan beredarnya VAPP dan VDVP yang beredar pada anak imunitas rendah. Oleh karena itu diperlukan surveilans AFP (SAFP) yang berkualitas tinggi dapat menuntun kita mendeteksi daerah yang diserang oleh virus polio liar (import) atau VDVP. Apabila ditemukan.

Semua penderita lumpuh layuh akut yang telah ditemukan (dini) harus diperiksa laboratorium dengan teliti untuk diidentifikasi apakah polio atau bukan. harus dibuktikan bahwa anak tersebut bukan penderita polio.Strategi Eradikasi Polio (pasca PIN) ←Imunisasi Rutin ←BIAS ←SubPIN Daya lindung Anak terhadap Polio Tinggi Pemantauan virus polio baru harus ketat dan teliti Surveilans AFP Mopping Up Konsep Surveilans AFP Gejala polio adalah lumpuh layuh akut. Jika ditemukan anak dengan gejala lumpuh layuh akut. oleh karena itu diperlukan biakan virus. Sulit ditetapkan secara klinis adanya polio diantara semua penderita dengan gejala lumpuh layuh akut yang ditemukan. maka dapat dinyatakan bebas polio Konsep Surveilans AFP Penemuan kasus lumpuh layuh akut secara intensif Indikator Laboratorium Tangguh Indikator . Hal ini dikarenakan penderita lumpuh belum tentu akibat virus polio. Bila tidak ada satupun yang polio menurut laboratorium.

supervisi dan konsultasi Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Lanjutan • • • Membentuk tim inti yang kuat Memperkuat motivasi dan kerjasama Melakukan perbaikan terus menerus . Semua anak lumpuh ditemukan (AFP Rate non polio  1) 2.INDIKATOR 1.000 penduduk < 15 tahun Upaya penemuan : – – • • • • di Rumah Sakit di Puskesmas dan Masyarakat Pemeriksaan Klinis dan Laboratorium Keterlibatan ahli Pemeriksaan Ulang 60 hari Zero Reporting Langkah Kegiatan • • • • • • • • Pemasaran Sosial Merumuskan Pedoman Sistem Surveilans Menetapkan Organisasi dan Mekanisme Kerja Sumberdaya Manusia Sarana Pendukung Kegiatan Surveilans Umpan balik. Spesimen adekuat  80% (Tinja anak dapat diambil pada saat awal sakitnya dan dikirim ke laboratorium dengan benar) 3. Kemampuan petugas untuk menemukan anak lumpuh (zero reporting ê  90%) Strategi Surveilans AFP • • Menemukan kasus AFP minimal 1/100.

• • • Komunikasi yang efektip dan efisien Evaluasi yang bermutu Umpan balik yang efektip Active hospital based surveillance • Ketenagaan di Rumah Sakit – – • Contact Person (Jumlah dan Tempat) supervisor Manajemen – – – – – Mobilisasi Evaluasi Pemeriksaan Buku Register Semua entry dijaga Zero reporting Community based surveillance • Ketenagaan – – • Tenaga (Jumlah dan Tempat) Rate pergantian tetap/sementara Manajemen – – – – Sosialisasi (petugas dan kader) Mobilisasi Pemeriksaan Buku Register Zero Reporting • Sarana .

tatalaksana kasus AFP dan campak Pelaporan AFP akan meningkat bila pengamatan pasien rawat inap – rawat jalan di bangsal lebih ditingkatkan Apabila ada KLB CPL & VDPL.Pencarian kasus AFP di RS-Puskesmas • • • • • Harus melibatkan dokter dan perawat Perhatikan kasus anak dengan muntah-muntah. efek samping obat Tanyakan setiap pasien di rawat apa ada kelemahan pada ekstremitas Laporkan dahulu kasus yang dicurigai AFP tanpa menunggu diagnosis Perlu penyegaran ilmu kembali perawat-perawat di bangsal tentang kasus AFP Kesimpulan • Mari kita buat mudah pelaporan AFP – – • • Anak < 15 tahun lumpuh layuh Terjadi dalam 2 minggu Perlu mengingatkan kembali dokter/perawat tentang diagnosis . diare. gizi buruk. yang harus dilakukan adalah: Tingkatkan sosialisasi dan penemuan kasus secepatnya Inventarisasi daerah resiko tinggi Tingkatkan kualitas cakupan imunisasi Pelaksanaan PIN harus sukses ( semua balita dapat tetesan) Pemantauan daerah resiko tinggi Kualitas specimen harus benar-benar adekuat .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->