Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kesehatan merupakan sesuatu yang kompleks dan menjadi perhatian utama berbagai negara di dunia. Sehat menurut WHO merupakan keadaan yang lengkap meliputi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial tidak hanya terbebas dari penyakit dan kecacatan. Sidang kesehatan sedunia (World Essembly) di tahun 1977 telah melahirkan kesepakatan global untuk mencapai Kesehatan Bagi Semua (KBS) pada tahun 2000, yaitu tercapainya suatu derajat kesehatan yang optimal yang memungkinkan setiap orang hidup produktif baik secara social maupun ekonomi. Selanjutnya di tahun 1978, dalam konfrensi Alma Ata ditetapkanlah prinsip-prinsip Primary Health Care (PHC) sebagai pendekatan atau strategi global guna mencapai Kesehatan Bagi Semua (KBS), dan Indonesia ikut menandatangani, menyatakan bahwa Health for All pada tahun 2000 Primary Health Care adalah kuncinya. Sejatinya PCH merupakan hasil pengkajian, pemikiran, pengalaman dalam pembangunan kesehatan di banyak negara, mengingat banyak isu yang berkembang tentang kurangnya pemerataan pelayanan kesehatan di daerah-daerah pedesaan. Pembangunan kesehatan sendiri harus dipandang sebagai suatu investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah sendiri telah menetapkan strategi nasional menuju Indonesia Sehat dan puskesmas adalah unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia. Konsep puskesmas dilahirkan pada tahun 1968 ketika dilangsungkan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakernas) I di Jakarta. Pelayanan kesehatan pada tingkat pertama pada waktu itu dirasakan kurang menguntungkan dan kegiatan-kegiatan seperti BKIA, BP, dan sebagainya masih berjalan sendiri-sendiri, selain itu pelayanan kesehatan serta keberadaan dokter masih minim di pedesaan karena cenderung berada di kota, serta biaya pelayanan di RS dan dokter swasta yang lebih banyak bersifat kuratif (pengobatan jauh lebih mahal dibandingkan program pencegahan). Melalui rakernas inilah timbul gagasan untuk menyatukan semua pelayanan kesehatan di tingkat pertama kedalam suatu organisasi yang kemudian dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). pelayanan kesehatan dasar Untuk jangka panjang (Primary Healh Care) yang dikembangkan melalui 1

Puskesmas dinilai jauh lebih efisien dan efektif jika dibandingkan pengembangan pelayanan melalui RS. Dalam pelaksanaannya untuk mencapai Indonesia yang sehat, indikator pencapaian yang digunakan untuk mengukur keberhasilan puskesmas antara lain lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta derajat kesehatan penduduk kecamatan yang optimal. Konsekuensinya, upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas tidak hanya dalam hal pengobatan (kuratif) tetapi juga meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Kompleksnya upaya pelayanan kesehatan yang ada di puskesmas yang terdiri dari upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan serta adanya kerjasama lintas program dan lintas sector tersebut menuntut adanya sebuah sistem manajemen puskesmas yang baik meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Berdasarkan hal tersebut maka dalam makalah yang berjudul Analisis Manajamen Pelayanan Kesehatan Dasar (Studi Kasus Manajemen Program Gizi Kesehatan Masyarakat Di puskesmas II Denpasar Utara) ini akan dianalisis proses manajemen program gizi di Puskesmas II Denpasar Utara yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi berdasarkan prinsip-prinsip pelayanan kesehatan dasar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Manajemen 1. Pengertian Dalam bahasa Indonesia, istilah manajemen sering diidentikkan dengan pengertian pengelolaan, kepengurusan, pembinaan, tata laksana, dan lain sebagainya. Secara klasik manajemen merupakan ilmu atau seni yang mempelajari penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga bisa dikatakan manajemen adalah bagaimana untuk memecahkan masalah, yang mengandung tiga prinsip pokok yaitu efesien, efektif dan rasional, yang merupakan cirri utama dari manajemen. Yaitu effisien dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memilih alternative kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi, serta rasional dalam mengambil keputusan manajerial. Untuk menerapkan batasan manajemen yang pertama kali harus dilakukan adalah menetapkan rumusan masalah atau kendala untuk mencapai tujuan organisasi. Masalah adalah kesenjangan antara apa yang ingin dicapai dengan apa yang di capai (das sollen and dos sein). Di bidang pelayanan kesehatan, terdapat dua jenis masalah yang perlu dirumuskan yaitu masalah kesehatan dan masalah program, yang saling berkaitan satu sama lain. Dalam memecahkan masalah kesehatan yang ada, perumusan masalah ini merupakan hal utama yang harus dilakukan sebab tujuan utama dari pelaksanaa manajemen kesehatan sejatinya adalah untuk memecahkan masalah kesehatan tersebut. 2. Fungsi Manajemen Manajemen sebagai suatu proses dipelajari melalui fungsi-fungsi manajemen. Fungsi manajeman adalah langkah-langkah penting yang wajib dilaksanakan oleh seorang manajer untuk mencapai tujuan organisasi. Di Indonesia, oleh Kementrian kesehatan digunakan empat fungsi manajemen yang mengacu pada George Terry, yaitu :

a. Planning (perencanaan) Merupakan suatu proses yang dimulai dari merumuskan tujuan organisasi, sampai dengan menetapkan alternative kegiatan untuk mencapainya. Dengan perencanaan maka akan ada kejelasan kegiatan, apa yang akan dilakuakan atau tugas-tugas dibutuhkan. b. Organizing (pengorganisasian) Pengorganisasian adalah rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Dengan kata lain pada fungsi ini berbgai macam kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya akan mulai digolongkan dan diatur sedemikian rupa sehingga terintegrasi dengan baik, termasuk pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf untuk mencapai tujuan organisasi. c. Actuating (penggerak dan pelaksanaan) Adalah proses bimbingan kepada staf agar mampu bekerja secara optimal atau menggerakkan sumber daya yang ada terutama sumber daya manusia untuk mecapai tujuan yang telah ditetapkan. Kejelasan komunikasi, pengembangan motivasi dan penerapan kepemimpinan yang efektif sangat membantu suksesnya pelaksanaan pada fungsi ini. d. Controlling (pengawasan dan pengendalian) Merupakan proses mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang telah disusun, sehingg dapat dilakukan koreksi jika terjadi kesalahan. B. Pelayanan Kesehatan Dasar (Primary Health Care) 1. Pengertian PHC adalah pelayanan kesehatan pokok yang berdasarkan kepada metoda dan teknologi praktis, ilmiah dan social yang dapat diterima secara umum baik oleh individu maupun keluarga dalam masyarakat, melalui partisipasi mereka sepenuhnya, serta dengan biaya yang dapat terjangkau oleh masyarakat dan negara untuk memelihara setiap tingkat perkembangan mereka dalam semangat untuk hidup mandiri (self reliance) dan menentukan nasib sendiri (self determination). 4 oleh staf, peran pimpinan, serta sumber-sumber daya yang

2. Tujuan PCH a. Tujuan Umum Adalah mencoba menemukan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan yang diselenggarakan, sehingga akan dicapai tingkat kepuasan pada masyarakat yang menerima pelayanan b. Tujuan Khusus 1) Pelayanan harus mencapai keseluruhan penduduk yang dilayani 2) Pelayanan harus dapat diterima oleh penduduk yang dilayani 3) Pelayanan harus berdasarkan kebutuhan madis dari populasi yang dilayani 4) Pelayanan harus secara maksimum menggunakan tenaga dan sumbersumber daya lain dalam memenuhi kebutuan masyarakat 3. Fungsi PHC PHC hendaknya memenuhi fungsi-fungsi berikut ini : a. Pemeliharaan kesehatan b. Pencegahan penyakit c. Diagnosis dan pengobatan d. Pelayanan tindak lanjut e. Pemberian sertifikat 4. Tiga unsur utama PHC a. Mencakup upaya-upaya dasar kesehatan b. Melibatkan peran serta masyarakat c. Melibatkan kerjasama lintas sektoral 5. Elemen PHC Dalam pelaksanaan PHC paling sedikit harus memiliki 8 elemen, yaitu : a. Pendidikan mengenai masalah kesehatan dan cara pencegahan penyakit serta pengendaliannya b. Peningkatan penyediaan makanan dan perbaikan gizi c. Penyediaan air bersih dan sanitasi dasar d. Kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana 5

e. Imunisasi terhadap penyakit-penyakit infeksi utama f. Pencegahan dan pengendalian penyakit endemic setempat g. Pengobatan penyakit umum dan ruda paksa h. Penyediaan obat-obat esensial 6. Ciri-ciri PHC a. Pelayanan yang utama dan intim dengan masyarakat b. Pelayanan yang menyeluruh c. Pelayanan yang terorganisasi d. Pelayanan yang mementingkan kesehatan individu maupun masyarakat e. Pelayanan yang berkesinambungan f. Pelayanan yang progresif g. Pelayanan yang berorientasi pada keluarga h. Pelayanan yang tidak berpandangan kepada salah satu aspek saja 7. Prinsip utama PHC a. Partisipasi b. Keadilan (equity) c. Integrasi d. Kerjasama lintas sektoral C. Puskesmas 1. Pengertian Puskesmas merupakan unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan dengan misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang tugasnya melaksanakan pembinaan, pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di suatu wilayah tertentu. Pelayanan kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh, meliputi aspek-aspek; promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat. Kecamatan Sehat adalah gambaran masayarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan berperilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan 6

yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggitingginya. Rumusan visi untuk masing-masing puskesmas harus mengacu pada visi pembangunan kesehatan puskesmas di atas yakni terwujudnya Kecamatan Sehat, yang harus sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah kecamatan setempat. Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut adalah: a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas akan selalu menggerakkan pembangunan sektor lain yang diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek kesehatan, yakni pembangunan yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan perilaku masyarakat. b. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya di bidang kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan menuju kemandirian untuk hidup sehat. c. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota masyarakat. d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat berserta lingkungannya. Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang dilakukan puskesmas mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan.

2. Fungsi Puskesmas Terdapat 3 fungsi pokok puskesmas, yaitu : a. b. c. Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahknya Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya 3. Kegiatan Pokok Puskesmas Kegiatan-kegiatan pokok puskesmas yang diselenggaraka sejak berdirinya semakin berkembang. Saat ini kegiatan puskesmas dibagi menjadi upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. a. Upaya Kesehatan Wajib 1) Upaya kesehatan ibu dan anak (KIA) 2) Upaya promosi kesehatan (Prokes) 3) Upaya kesehatan lingkungan (Kesling) 4) Upaya perbaikan gizi 5) Upaya pencegahan & pemberantasan penyakit menular 6) Upaya pengobatan dasar b. Upaya Kesehatan Pengembangan 1) Upaya Kesehatan Sekolah 2) Upaya Kesehatan Olah Raga 3) Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat 4) Upaya Kesehatan Kerja 5) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut 6) Upaya Kesehatan Jiwa 7) Upaya Kesehatan Mata 8) Upaya Kesehatan Usia Lanjut 9) Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional

4. Asas Penyelenggaraan Puskesmas Dalam penyelenggaraan puskesman, ada beberapa asa yang dijadikan pegangan, yaitu : a. Azas pertanggungjawaban b. Asas pemberdayaan c. Asas keterpaduan d. Lintas program Lintas sektoral

Asas rujukan Rujukan medis Rujukan kesehatan masyarakat

D. Penerapan Manajemen di Tingkat Puskesmas Untuk dapat melaksanakan usaha pokok Puskesmas secara efisien, efektif, produktif dan berkualitas, pimpinan puskesmas harus memahami dan menerapkan prinsip-prinsip manajemen. Manajemen merupakan sebuah ilmu terapan yang dapat dimanfaatkan di berbagai jenis organisasi untuk membantu manajer memecahkan masalah organisasi. Oleh karena itu, ilmu manajemen juga diterapkan di bidang kesehatan untuk membantu manajer kesehatan memecahkan masalah kesehatan. Manajemen akan bermanfaat untuk membantu pimpinan dan pelaksana program agar kegiatan program puskesmas dilaksanakan secara efektif dan efisien. Penerapan fungsi manajemen di puskesmas sendiri yaitu : 1. Perencanaan Kegiatannya adalah merencanakan kegiatan yang akan dilakukan oleh puskesmas selama setahun. Perencanaan tingkat puskesmas yang dilakukan setahun sekali, unsur yang direncanakan meliputi jenis kegiatan, kebutuhan tenaga, alat dan sarana, serta penunjang lainnya. Sedangkan perencanaan obat dan alat kesehatan dilakukan setiap bulan, dengan cara mengajukan usulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 2. Pengorganisasian Berdasarkan struktur organisasi puskesmas, dengan jabatan struktural kepala puskesmas, sedangkan lainnya bersifat fungsional . pembagian tugas, yang 9

berdasarkan program pokok puskesmas, yang melibatkan tenaga perawat dan bidan. Dalam pembagian wilayah kerja, setiap petugas puskesmas melakukan pembinaan ke desa-desa. 3. Pelaksanaan a. Lokakarya mini puskesmas, dilakukan tiap bulan dalam rangka koordinasi lintas program dan sektor. b. Adanya proses kepemimpinan c. Dilakukan koordinasi secara lintas program & sektor d. Pelaksanaan program pokok puskesmas yang melibatkan seluruh staf 4. Monitoring dan Evaluasi a. Melalui pemantauan laporan kegiatan b. Pemantauan wilayah setempat (PWS) c. Supervisi d. Rapat rutin (staff meeting)

10

BAB III PEMBAHASAN A. Ruang Lingkup Puskesmas II Denpasar Utara UPT Puskesmas II Denpasar Utara berlokasi di Desa Pamecutan Kaja Kecamatan Denpasar Utara yang terletak di Jalan Gunung Agung Gg. II. Puskesmas ini berdiri sejak tanggal 1 September 1982. Luas wilayah kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara 10,17 km2 yang meliputi 2 desa dan 1 kelurahan dengan 30 banjar dan 4 lingkungan yaitu: 1. Desa Pemecutan Kaja yang terdiri dari 13 dusun. 2. Desa Ubung Kaja yang terdiri dari 17 dusun. 3. Kelurahan Ubung yang terdiri dari 4 lingkungan Adapun batas-batas wilayah kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara adalah sebagai berikut : Disebelah Utara : Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi, Badung. Disebelah Timur : Kelurahan Dauh Puri dan Kelurahan Peguyangan Disebelah Selatan : Kelurahan Pemecutan. Disebelah Barat : Kelurahan Padang Sambian dan Desa Padang Sambian Kaja.

B. Visi dan Misi Puskesmas 1. Visi UPT Puskesmas II Denpasar Utara Visi adalah suatu keadaan atau arah masa depan yang ingin dicapai oleh sebuah organisasi. Adapun visi dari UPT Puskesmas II Denpasar Utara adalah Prima dalam pelayanan dengan semangat kebersamaanmenuju masyarakat sehat merata tahun 2015 2. Misi UPT Puskesmas II Denpasar Utara Misi merupakan tujuan atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai visi yang telah ada. Adapun misi dari UPT Puskesmas II Denpasar Utara adalah : a. Meningkatkan profesional sumber daya manusia UPT Puskesmas II Denpasar Utara.

11

b. Menggerakkan pembangunan yang berwawasan kesehatan dan mendorong kemandirian masyarakat melalui PHBS. c. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau melalui peningkatan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. d. Mendorong dan memilihara kesehatan lansia C. Kegiatan yang dilakukan di Puskmas II Denpasar Utara 1. Kegiatan Pokok a. Upaya Promosi Kesehatan b. Upaya Kesehatan Lingkungan c. Upaya KIA dan KB d. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat e. Upaya Pencegahan Pemberantasan Penyakit Menular (P3M) f. Upaya Pengobatan 2. Kegiatan Integrasi a. Upaya Kesehatan Pengembangan 1) Upaya Kesehatan Sekolah 2) Perkesmas 3) Puskesmas Rawat Inap 4) Upaya Kesehatan Kerja b. Upaya Kesehatan Penunjang 1) Laboratorium 2) Surveilance 3) Gudang obat 4) Apotek 5) Loket D. Analisis Manajemen Program Gizi Puskesmas II Denpasar Utara (Tahun 2011) 1. Perencanaan a. Kegiatan Perencanaan tingkat puskesmas adalah proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. 12

Perencanaan ini mencakup semua kegiatan yang termasuk dalam upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan dan upaya kesehatan penunjang. Perencanaan ini disusun sebagai Rencana Tahunan Puskesmas yang dibiayai oleh Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat serta sumber dana lainnya. Berdasarkan Rencana Pelaksanaan Kegiatan Tahunan tersebut, kegiatankegiatan program gizi di Puskesmas II Denpasar Utara adalah : a. Penanggulangan gizi makro; dengan subkegiatannya meliputi : 1) Penyuluhan gizi masyarakat 2) Melaksanakan kegiatan dan pelayanan posyandu 3) Melatih dan membina kader posyandu 4) Pemetaan dan pemantauan KADARZI 5) Pemantauan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) 6) Pemanfaatan pekarangan b. Penanggulangan gizi mikro; dengan subkegiatannya meliputi : 1) Pemantauan penggunaan garam beryodium 2) Pemberian vitamin A 3) Pemberian zat bezi 4) Pojok laktasi 5) Penanganan gizi lanjut usia c. Upaya perbaikan gizi institusi; dengan subkegiatannya meliputi : 1) Pemantauan ASI Eksklusif 2) Konseling gizi melalui pojok gizi (POZI) d. Sistem Kewaspadaan pangan dan gizi; kegiatannya meliputi: 1) Pemantauan perubahan pola konsumsi 2) Pemantauan status gizi 3) Intervensi penanggulangan kasus b. c. Tenaga Terdiri dari petugas gizi, dokter Puskesmas, Petugas PKM, Bidan KIA, kader Dana Sumber Dana yang digunakan untuk pelaksanaan program gizi di UPT Puskesmas II Denpasar Utara berasal dari Pemerintah Kota Denpasar (APBD Kota). Untuk penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk, UPT Puskesmas II Denpasar Utara memperoleh dana dari APBD I selama 1 bulan APBD II selama 13

4 bulan masing-masing dalam bentuk barang, yaitu : susu, biskuit, kacang ijo, dan kupon bensin. d. Alat Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan program gizi berupa blanko, vitamin A, sirup zat besi, tablet zat besi, yodium tes, biskuit. e. Sasaran Program Tabel 1 Jumlah Penduduk Dan Data Sasaran Program Gizi Di Wilayah Puskesmas II Denpasar Utara Tahun 2011
Desa/kelurahan Pemecutan Kaja Kel. Ubung Ubung Kaja Puskesmas Luas (Km2) 3.85 1.73 4.59 10,17 Pddk (Jiwa) 26995 9141 11242 47,379 Jumlah Kader 70 20 85 175 Bayi 567 192 236 994 Vit. A Bayi 312 106 130 547 Sasaran Anak Balita 2338 1096 1348 5682 Bumil 632 211 260 1094 Bulin 594 202 248 1045

Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 2. Pengorganisasian Proses pengorganisasian yang ada di puskesmas II Denpasar Utara, dipimpin oleh seorang kepala puskesmas yang membawahi upaya-upaya wajib dan upayaupaya pengembangan, salah satunya adalah program gizi. Program gizi sendiri di koordinasi oleh satu petugas gizi yang membawahi beberapa kader yang dibentuk di setiap banjar yang terdapat di 2 desa dan 1 kelurahan. Unsur- unsur yang terlibat dalam proses pengorganisasian ini yaitu kepala puskesmas yang bertangguang jawab terhadap seluruh program puskesmas, petugas program gizi bertugas mengkoordinir seluruh pelaksaaan kegiatan gizi yang dilaksanakan dilapangan yang juga bekerja sama dengan bidan KIA, petugaspetugas dari program KIA serta berkoordinasi dengan kader- kader di setiap banjar yang ikut membantu pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di setiap banjar mereka. Program gizi juga berkoordinasi dengan sekolah- sekolah dasar yang ada di wilayah kerja puskesmas II Denpasar Utara. 3. Pelaksanaan Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan program gizi, petugas gizi dibantu oleh berbagai pihak, antara lain kader-kader dan ibu-ibu PKK yang ada di setiap banjar 14

dari dua desa dan satu kelurahan yang ada di wilayah kerja Puskesmas II Denpasar Utara untuk menggerakan masyarakat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan program gizi. Hal ini dikarenakan minimnya tenaga gizi yang hanya berjumlah satu orang. Selain itu, untuk kegiatan tertentu seperti pemberian tablet besi kepada ibu hamil, petugas gizi bekerjasama dengan bidan KIA. Pelaksanaan kegiatan program gizi di Puskesmas II Denpasar Utara yaitu : a. Penanggulangan gizi makro Masalah gizi makro adalah masalah gizi yang disebabkan oleh kekurangan atau ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Subkegiatannya meliputi : 1) Penyuluhan gizi Penyuluhan Gizi Masyarakat masyarakat adalah suatu upaya dalam rangka memasyarakatkan pengetahuan gizi secara luas guna meningkatkan status gizi, menanamkan sikap dan prilaku yang mendukung kegiatan hidup sehat dengan makan makanan yang bermutu gizi seimbang. Tujuan penyuluhan adalah dengan menginformasikan tentang makanan yang bergizi dan sumber bahan makanan yang bergizi sesuai dengan kebutuhan usianya dan bisa berpartisipasi turut menginformasikan pengetahuannya tentang gizi kepada anggota keluarganya. Adapun sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, ibu balita,wanita usia subur, anak usia sekolah dan remaja. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 12 kali setahun dengan sasaran kegiatan adalah masyarakat. Tenaga pelaksananya petugas gizi, PKM dan dokter. Waktu pelaksanaan setiap bulan. Tempat pelaksanaannnya di posyanduposyandu, maupun di sekolah-sekolah. 2) Melaksanakan kegiatan dan pelayanan posyandu Kegiatan dilakukan dengan sistem lima meja dan dilakukan secara terpadu. Hasil pemantauan penimbangan Balita ditulis dalam KMS dan buku KIA. Adapun hasil penimbangan tahun 2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

15

Tabel 2 Hasil Penimbangan Tahun 2011 Tolak ukur Pencapaian Jumlah balita yang ada (S) 2006 Jumlah balita yang punya KMS (K) 2006 Jumlah balita yang ditimbang (D) 1711 Jumlah balita yang naik BB (N) 1096 Jumlah balita dibawa garis merah (BGM) 2 Tingkat Pencapaian K/S (%) D/S (%) N/D (%) BGM/D (%) Posyandu yang ada Posyandu yang aktif Jumlah kader yang ada Frekuensi penimbangan posyandu/tahun

Target 100 % 100 % 80 % 60 % 0.33 %

100 85.29 86.83 0.16 35 35 175 12 kali

100 % 80 % 60 % 0.33 % 35 35 175 12 kali

Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Jumlah balita yang ada di wilayah UPT Puskesmas II Denpasar Utara sebanyak 2006 orang dengan balita yang mempunyai KMS sebanyak 2006 anak balita (100%). Dari hasil penimbangan tiap bulan rata-rata balita yang hadir sebanyak 1711 balita dengan balita yang naik BB sebanyak 1096 balita. Cakupan penimbangan K/S sudah mencapai 100% dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap penimbangan mencapai 85,29%. Tingkat keberhasilan program penimbangan (N/D) di tingkat UPT Puskesmas II Denpasar Utara sebanyak 86,83% ini berarti bahwa banyak yang berat badannya tidak naik setiap penimbangan. Kegiatan posyandu dilakukan setiap bulan dengan sasaran bumil, bayi, balita, bufas, dan buteki. Tenaga pelaksananya dokter dan petugas gizi, dan kader.

3)

Melatih dan membina kader posyandu Kader merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam Program Gizi Posyandu. Kader adalah siapa saja dari anggota masyarakat yang mau bekerja secara sukarela dan iklas, mau dan sanggup melaksanakan kegiatan 16

posyandu, mau dan sanggup menggerakan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan. Di UPT Puskesmas II Denpasar Utara terdapat 175 kader yang tersebar di 2 desa dan 1 kelurahan. Dari 175 kader yang ada, hampir semua kader aktif melaksanakan kegiatan posyandu, namun ada beberapa kader yang tidak aktif. Adapun tugas kader adalah : 1. Mencatat setiap bayi/balita yang datang pada saat posyandu. 2. Menimbang bayi/balita. 3. Mencatat berat badan bayi/balita pada KMS dan buku KIA. 4. Melaporkan hasil pencatatan kepada petugas kesehatan yang ditunjuk oleh UPT Puskesmas II Denpasar Utara. 5. Selain itu kader juga bertugas memantau berat badan bayi/balita, jika ada kasus gizi buruk atau gizi kurang, kader harus melaporkannya ke puskesmas. Pelatihan kader dilakukan sebanyak 2 kali setahun dengan sasaran adalah kader posyandu. Tenaga pelaksananya adalah dokter puskesmas, petugas gizi dan petugas PKM. Waktu pelaksanaan bulan Maret dan Agustus. 4) Pemetaan dan pemantauan KADARZI Keluarga sadar gizi adalah keluarga yang mempunyai sikap dan prilaku keluarga dapat secara mandiri bisa mewujudkan keadan gizi yang sebaikbaiknya yang tercermin dalam pola konsumsi pangan yang beraneka ragam dan bermutu gizi seimbang. Tujuan dari KADARZI adalah agar setiap keluarga: 1. Menimbang balita ke posyandu secara berkala. 2. Mampu mengenali tanda-tanda sederhana keadaan kelainan gizi (gizi kurang dan gizi lebih). 3. Mampu menghidangkan susunan makanan yang baik dan benar sesuai dengan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). 4. Mampu mencegah dan mengatasi kejadian atau mencari rujukan apabila terjadi kelainan gizi dalam keluarga. 5. Menghasilkan makanan melalui pemanfaatan pekarangan.

17

Sasaran pembinaan KADARZI adalah semua keluarga di wilayah kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara yang ditunjuk terutama pada keluarga yang mempunyai kelainan gizi, keluarga prasejahtera, dan keluarga sejahtera. Adapun indikator yangdipakai dalam mewujudkan KADARZI adalah 1. Keluarga bisa mengkonsumsi aneka ragam makanan. 2. Keluarga selalu memantau status gizi anggota keluarga khususnya balita dan ibu hamil dengan cara menimbang berat badannya. 3. Keluarga biasa atau selalu menggunakan garam beryodium dalam memasak makanan sehari-hari. 4. Keluarga memberikan dukungan pada ibu yang melahirkan untuk memberi ASI Eksklusif dari usia bayi 0-6 bulan. 5. Keluarga memberikan Sumplemen Gizi seperti kapsul Vitamin A, tablet besi, dan kapsul yodium. Penentuan sampel pemantauan KADARZI ditentukan oleh dinas kesehatan pusat. Pada tahun 2011 di UPT Puskesmas II Denpasar Utara sampel yang diambil adalah Desa Ubung Kaja dengan jumlah sampel pemantauan KADARZI adalah sebanyak 95 KK dengan jumlah keluarga yang sudah KADARZI 45 KK. Untuk lebih jelasnya hasil pemetaan KADARZI tahun 2011, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3 Laporan HAsil Pemetaan KADARZI Tahun 2011
Desa/kelurahan Jumlah KK Sampel Ubung Kaja 98 Jumlah KK Belum KADARZI 53 Jumlah KK sudah KADARZI 45 Persentase (%) 45.91

Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Pemetaan KADARZI dilakukan sebanyak 1 kali setahun dengan sasaran kegiatan adalah kepala keluarga yang telah dijadikan sampel. Tenaga pelaksananya yaitu petugas gizi. Waktu pelaksanaan bulan Juli. Untuk pemantauan KADARZI dilakukan sebanyak 12 kali setahun dengan sasaran kegiatan adalah keluarga yang merupakan sampel. 5) Pemantauan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Pemantauan BBLR bekerjasama dengan program KIA dengan memantau BB bayi yang lahir dengan BB < 2500 gram sampai bayi mencapai BB normal 18

sesuai dengan umurnya. Tenaga pelaksananya yaitu petugas gizi. Waktu pelaksanaan setiap saat ada bayi BBLR. 6) Pemanfaatan pekarangan Tujuan pemanfaatan pekarangan adalah untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Pekarangan mempunyai fungsi antara lain sebagai penyedia bahan kebutuhan sehari-hari, sebagai sumber tambahan penghasilan, dan sebagai tempat yang dapat memberikan kenyamanan. Di UPT Puskesmas II Denpasar Utara pemanfaatan pekarangan dikaitkan dengan kegiatan diversifikasi pangan dan gizi serta lebih banyak merupakan tugas terpadu bersama intansi terkait misalnya dinas pertanian dan peternakan. Dalam upaya ini berbagai kegiatan penyuluhan bagi pembudidayaan pekarangan lebih ditingkatkan sebagai bagian dari program diversifikasi pangan dan gizi yang dipadukan dengan kegiatan Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Pelaksananya adalah Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT), PKK serta kader lain. Sebagian dari hasil produksi pekarangan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan PMT diposyandu. b. Penaggulangan Gizi Mikro Tujuan umum dari program penanggulangan gizi mikro adalah mencegah dan menurunkan prevalensi masalah gizi mikro. Sedangkan tujuan khususnya adalah mencegah dan menurunkan prevalensi GAKY serta mencegah terjadinya bayi lahir dengan kretin, mencegah dan menurunkan prevalensi anemia gizi, menurunkanprevalensi dan mencegah Kekurangan Vitamin A pada balita. Adapun subkegiatannya meliputi : 1) Pemantauan Penggunaan Garam Beryodium Kekurangan zat yodium dalam waktu tertentu akan dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan fisik, keterbelakangan mental, dan penurunan kecerdasan yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Untuk penanggulangan masalah tersebut dilakukan melalui program jangka panjang yaitu distribusi garam beryodium dengan kadar 30-80 ppm yang bertujuan untuk mencegah timbulnya kasus kritin pada balita, menurunkan prevalensi

19

gondok endemik total (TGR), dan iodisasi garam secara nasional melalui iodisasi semua garam. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu pemetaan penggunaan garam beryodium untuk memperoleh gambaran berkala tentang cakupan konsumsi garam yodium yang memenuhi syarat masyarakat. Penggumpulan data dilaksanakan pada tiap desa/kelurahan dengan memilih SD secara acak. Masing-masing sampel diambil 21 orang anak murid kelas 4 dan kelas 5. Anak diminta membawa garam dapur yang biasa dipakai sehari-hari dan juga membawa bungkus garam yang dipakai tersebut. Pemantauan dilakukan sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Adapun hasil pemetaan penggunaan garam beryodium di wilayah kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara tahun 2011 adalah seperti pada tabel berikut :

20

Tabel 4. Hasil Pemetaan Penggunaan Garam Beryodium Diwilayah Kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara
Katagori Desa Desa/Kel Baik Februari Pemecutan Kaja Kel. Ubung Ubung Kaja Jumlah Agustus Pemecutan Kaja Kel. Ubung Ubung Kaja Jumlah V V V 3 21 21 21 63 0 0 0 0 0 0 0 0 21 21 19 61 0 0 2 2 18 21 19 58 3 0 2 5 4 8 13 25 17 13 8 38 0 0 0 0 0 0 0 0 Tidak Halus Krosok Briket Bentuk Garam Nama Merek Dagang Ada Tidak No.MD/IP Tempat Beli Agram Tukang Sayur

Ada

Tidak

Pasar

Warung

Lain-lain

V 1

V V 2

9 19 17 45

0 2 0 2

12 0 4 16

7 5 10 22

14 14 11 41

7 5 10 22

14 16 11 41

3 5 12 21

16 16 18 40

0 0 0 0

2 0 0 2

Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011

21

Dapat dilihat bahwa pada pemantauan bulan Februari masih ada desa/kelurahan yang masuk katagori desa tidak baik yaitu desa pemecutan kaja dan ubung kaja. Katagori ini diberikan berdasarkan penggunaan garam yodiumnya yang masih kurang baik. Seperti sebagian gram masih berbentuk masih berbentuk briket, tidak ada merek dagang, tidak ada nomor MD/IP. Namun setelah diberikan intervensi berupa penyuluhan-penyuluhan tentang garam berodium dan pemberian garam beryodium, pada bulan Agustus masyarakat sudah beralih kegaram yang beryodium, sehingga semua desa/kelurahan dikatagorikan sudah merupakan desa/kelurahan yang baik. 2) Pemberian vitamin A Penanggulangan KVA yaitu kegiatan menurunkan prevalensi KVA melalui upaya peningkatan konsumsi vitamin A dengan makan makanan sumber vitamin A dan suplemen kapsul vitamin A dosis tinggi. Tujuan adalah untuk mencegah KVA, menurunkan prevalensi KVA pada anak balita, dan meningkatkan status balita dan meningkatkan vitamin A pada ibu nifas. Sasaran pemberian vitamin A : a. Bayi dari umur 6-11 bulan, baik sehat maupun sakit dengan dosis 1 tablet vitaminA 100.000 IU warna biru, serentak pada bulan Februari dan Agustus. b. Anak balita umur 1-5 tahun baik sehat maupun sakit dengan dosis 1 tablet warna merah (vitamin A 200.000 IU) diberikan serentak pada bulan Februari dan Agustus. c. Ibu nifas, ibu melahirkan (masa nifas) sehingga bayinya akan mendapatkan vitamin A melalui ASI dengan dosis 1 tablet 200.000 IU warna merah paling lambat 30 hari setelah melahirkan. d. Kejadian tertentu : bagi balita dengan kasus campak, diare, pneumonia, gizi buruk segera diberikan kembali 1 kapsul vitamin A yang telah ditentukan. Hasil pencapaian pemberian vitamin A tahun 2011 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

22

Tabel 5 Hasil Pencapaiana Penaggunalang Anemia Di wilayah Kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara Tahun 2011 Tolak Ukur Pencapaian Target N % FE I Bumil 1229 100 100 FE III Bumil 1184 100 90 Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Pemberian vitamin A baik pada bayi, balita, maupun ibu hamil sudah mencapat target tang ditetapkan. 3) Pemberian Zat Besi Penanggulangan anemia gizi besi adalah kegiatan menurunkan prevalensi anemia gizi besi melalui upaya peningkatan konsumsi zat besi melalui suplemen tablet/sirup besi dan konsumsi sumber zat besi. Tujuan kegiatan yaitu : mencegah terjadinya anemia gizi besi pada semua kelompok sasaran serta untuk menurunkan anemia gizi besi pada ibu hamil, bayi dan balita. Sasaran kegiatan adalah : ibu hamil sampai nifas, bayi (0-6 bulan), dan anak balita. Kegiatannya yaitu : pemberian tablet besi pada kelompok sasaran, penyuluhan pada masyarakat dengan pendekatan pemasaran sosial untuk mengkomsunsi makanan alami sumber zat besi, dan pemanfaatan pekarangan dengan tanaman sumber besi. Tenaga pelaksana yaitu : petugas Puskesmas, bidan desa, kader posyandu, dan tenaga lainnya yang bisa bekerja sama antara bidan praktek swasta, rumah bersalin dan dokter praktek swasta. Penanggulangan Anemia di UPT Puskesmas II Denpasar Utara : a. Penanggulangan anemia pada Balita dengan memberikan sirup besi kepada bayi berumur 6-11 bulan dengan: Pemberian setengah sendok takar obat (2,5 ml) berturut-turut selama 60 hari. Pada bayi yang lahir dengan BBLR pemberian sirup besi dimulai saat umur 5 bulan Diberikan sirup besi pada balita 1-5 tahun sehari 1 sendok takar obat (5ml) berturut-turut selama 60 hari.

23

b. Penanggulangan anemia pada anak usia sekolah yaitu dengan pemberian 1 tablet besi setiap minggu selama 3 bulan. c. Penanggulangan anemia pada WUS, ibu hamil, nifas, remaja putri dan pekerjawanita dianjurkan minum tablet tambahan darah dengan dosis 1 tablet (yang mengandung 60 mg elemental dan 0,25 mg asam polat sesuai rekomendasi WHO), setiap hari selama masa kehamilan dan 42 hari setelah melahirkan (minimal 90 tablet). Adapun hasil pencapaian penanggulangan anemia dapat dilihat pada tabelberikut ini : Tabel 6 Hasil Pencapaiana Penaggunalang Vitamin A Di wilayah Kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara Tolak Ukur Pencapaian Target N % Vit. A Bayi 6-12 Tahun - Februari 324 100 100 - Agustus 244 100 100 Vit. A Anak Balita - Februari - Agustus

1618 1767

100 100

100 100

Vit. A Ibu Nifas 1020 100 90 Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Dari data diatas dapat dilihat pemberian vitamin A pada bayi, balita dan ibu nifas tahun 2011 sudah mencapai target yang telah ditetapkan 4) Pojok Latasi Merupakan suatu tempat ini ibu menyusui atau calon ibu diajarkan cara memberi ASI yang benar, cara memeras ASI, cara menyimpan ASI dan sekaligus sebagai tempat pengeluaran dan penyimpanan ASI selama waktu bekerja. Tujuan pojok laktasi adalah meningkatkan penggunaan ASI yang diberikan secara eksklusif sampai dengan bayi berumur 6 bulan. Secara khusus bertujuan untuk memberikan konsultasi tentang cara supaya produksi ASI lancar, memberikan konsultasi tentang cara memberikan ASI dan cara memeras ASI yang benar, memberikan konsultasi tentang masalah-masalah yang dihadapi selama menyusui, danmenyediakan tempat untuk memeras ASI dan menyimpan dengan baik sebelumdibawa pulang.

24

Sasaran pojok laktasi adalah calon ibu, ibu hamil, dan ibu menyusui. Kegiatan yang dilakukan di pojok lakasi antara lain memberikan konsultasi tentang tatalaksana menyusui, serta menyediakan tempat untuk memeras ASI dan menyimpannya. Tempat pelaksanaan di puskesmas dan di posyanduposyandu. 5) Penanganan Gizi Usia Lanjut Penanganan gizi usia lanjut merupakan cakupan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut. Pra usia lanjut dan usia lanjut yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar di suatu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu. Tujuan penanganan gizi usia lanjut adalah mengetahui beberapa akibat dari proses menua terhadap status gizi. Ada beberapa proses penuaan yang dapat mempengaruhi status gizi lansia, misalnya penurunan kecepatan metabolisme basal (setelah usia 30 tahun). Penurunan ini mengakibatkan kebutuhan kalori menurun, sehingga cenderung untuk menderita kegemukan atau obesitas. Masalah gizi pada lansia ini akan berdampak pada penyakit jantung koroner, hipertensi, DM, sirosis hepatis ,osteoporosis, anemia, gout, KEK, kurang zat gizi mikro (vitamin A, B1, asam folat, B12, C, D, E, dan Zn), dan kekurangan serat. Kegiatan penanganan gizi usia lanjut yaitu senam lansia, pemeriksaan kesehatan lansia (tekanan darah), pengobatan dan penyuluhan dari dinas terkait. Kegiatan ini dilakukan pada pelaksanaan Posyandu Paripurna yang dilakukan setiap bulan. c. Upaya Perbaikan Gizi Institusi Tujuan dari perbaikan gizi institusi adalah untuk meningkatkan perbaikan gizi institusi serta mendukung pola pelayanan dari segi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi warga institusi melalui pelayanan makanan maupun aspek pengobatan. Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu :

1)

Pemantauan ASI Eksklusif

25

ASI Eksklusif adalah perilaku dimana bayi dari 0-6 bulan hanya diberikan ASI (Air Susu Ibu) saja tanpa ada makanan tambahan dan minuman lain, kecuali pemberian obat bila sakit. Pemberian ASI secara eksklusif dapat mempercepat penurunan angka kematian bayi dan sekaligus meningkatkan status gizi masyarakat untuk menuju tercapainya kualitas sumber daya manusia yang memadai. Untuk lebih jelasnya pencapaian ASI Eksklusif di wilayah kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 7 Hasil Pencapaian Penanggulangan Asi Eksklusif Di wilayah Kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara Tolak Ukur Pencapaian Target (%) n % Bayi 0-6 bulan yang lulus Asi Eksklusif 21 38.37 80 Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Dari data tersebut dapat dilihat pencapaian ASI Ekslusif di Puskesmas II Denpasar Utara belum mencapai target. Dimata tahun 2011 pencapaiannya yaitu 38,37% dengan targetnya 80%. 2) Konseling Gizi Melalui Pojok Gizi (POZI) POZI adalah pelayanan gizi professional yang diberikan di puskesmas oleh tenaga gizi terdidik/terlatih kepada setiap pengunjung puskesmas yang membutuhkan dan bertujuan untuk pencegahan, penanggulangan, penyembuhan, dan pemulihan penyakit yang berkaitan dengan gizi. Secara professional POZI terdiri dari konseling, anjuran dietetik, dan intervensi berdasarkan hasil pengkajian. Ruang lingkup meliputi preventif, kuratif dan rehabilitatif, pelayanan oleh tenaga terlatih sesuai dengan protap, berlaku untuk setiap individu yang membutuhkan, dan pedoman pelaksanaan POZI berlaku secara nasional Dilakukan setiap hari, dengan sasaran kegiatan adalah pengunjung puskesmas. Tenaga pelaksananya yaitu dokter puskesmas dan petugas gizi. d. Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi (SKPG)

26

Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) merupakan suatu system pengelolaan informasi yang dilaksanakan secara terus menerus untuk mendukung perencanaan dan penetapan langkah-langkah tindakan penanggulangan jangka pendek/panjang berkaitan dengan masalah pangan dan gizi di suatu wilayah tertentu. Oleh karena itu, kegiatan SKPG dilaksanakan secara terpadu dengan lintas sector terkait lainnya seperti pertanian, perternakan, perikanan, perkebunan, perdagangan dan industri, kesehatan dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan SKPG. Sektor kesehatan berperan dalam memberikan informasi komsumsi pangan serta keamanan pangan. Komsumsi pangan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan melalui peningkatan surveilen gizi sedangkan keamanan pangan bekerja sama dengan Balai Besar POM. Sasaran kegiatan SKPG adalah meliputi seluruh desa yang ada di wilayah kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara, dengan kegiatannya adalah : 1) Pemantauan Perubahan Pola Konsumsi Pemantauan/pengamatan perubahan pola konsumsi dilakukan terhadap rumah tangga pra-sejahtera di semua desa, Pengamatan dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 20 KK miskin. Waktu pelaksanaannya yaitu setiap bulan. Hasil pelaksanaan SKPG adalah sepeti tabel berikut ini : Tabel 8 Hasil Pelaksanaan Kegiatan SKPG Di wilayah Kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara
Desa/kel Indikator Jumlah sampel Jumlah sampel yang frekuensi makan - 3 kali/hari - 2 kali/hari - 1 kali/hari Jumlah KK yang berubah jenis pangan dari bahan makan pokok ke jenis makanan lainnya Jumlah KK yang pengan pokoknya dimasak kurang Jumlah 0 20 0 20 0 20 0 60 Pemucutan Kaja 20 20 0 0 0 Kel. Ubung 20 20 0 0 0 Ubung Kaja 20 20 0 0 0 Jumlah 60 60 0 0 0

Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Berdasarkan sampel yang diambil, semua KK mempunyai pola komsumsi yang baik dan masih bisa memenuhi kebutuhan pokoknya. 2) Pemantauan Status Gizi 27

Pemantauan status gizi dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan Agustus dengan jumlah sampel 182 balita yang tersebar di 2 desa dan 1 kelurahan yaitu Desa Pemecutan Kaja, Desa Ubung Kaja, dan Kelurahan Ubung Kaja dengan metode pemilihan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Hasil kegiatan PSG dapat dilihat pada tabel berikut ini :

28

Tabel 9 Hasil Pelaksanaan Kegiatan SKPG Di wilayah Kerja UPT Puskesmas II Denpasar Utara Balita Jumlah Anak Menurut Status Gizi Desa/Kelurahan yang diukur L P Pemecutan Kaja Kelurahan Ubung 53 15 25 11 Buruk N % 0 0 0 0 Laki-laki Kurang n % 3 5.66 0 0 Baik N 43 14 34 91 Lebih Buruk N % n % 7 13.2 0 0 1 6.67 0 0 1 9 2.6 8.5 0 0 0 0 Perempuan Kurang Baik Lebih n % n % n % 1 4.0 22 88.0 2 8.0 0 0 11 10.6 0 0 2 3 5.0 4.0 37 70 92.5 92.1 1 3 2.5 4.0

% 81.3 93.3 89.5 85.9

Ubung Kaja 38 40 0 0 3 7.9 Jumlah 106 76 0 0 6 5.7 Sumber : Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Berdasarkan data pada tabel di atas ditemukan :

- Di Desa Pemecutan Kaja tidak ditemukan kasus gizi buruk, tetapi ditemukan 4 kasus gizi kurang pada anak balita - Di Kelurahan Ubung hanya terdapat 1 kasus gizi lebih pada anak balita laki-laki - Di Desa Ubung Kaja ditemukan 6 kasus gizi kurang pada anak balita 4 kasus gizi lebih pada anak balita.

29

3) Intervensi Penanggulangan Kasus Kegiatan penanganan status gizi yaitu sebagai berikut: Tingkat Rumah Tangga : Menimbang anak secara teratur ke Posyandu, Bayi umur 0-6 bulan di berikan hanya ASI saja, berikan makanan yang beraneka ragam,dan Anak yang sakit atau mengalami gangguan pertumbuhan diberitahukan kepada petugas atau kader. Tingkat Posyandu : lakukan penimbangan dan pencatatan di KMS, berikan nasehat tentang ASI, penyuluhan MP ASI, anjurkan makanan beraneka ragam, apabila berat badan balita tidak naik, maka berikan PMT, dan apabila tiga kali berturut-turut berat badan tidak naik berikan PMT pemulihan, serta rujuk balita ke puskesmas bila gizi buruk dan lakukan kunjungan rumah untuk pemantauan perkembangan kesehatan. Tenaga pelaksananya yaitu dokter puskesmas, petugas gizi dan dokter. Untuk mempercepat meningkatkan gizi balita yang status gizinya kurang dilakukan beberapa kegiatan meliputi : 4. Penyuluhan dan konsultasi gizi melalui posyandu melibatkan kader maupun yang datang ke puskesmas melalui pojok gizi (POZI) Pemberian makanan tambahan berupa roti, susu dan vitamin. Melaksanakan kunjungan rumah pada kasus gizi buruk.

Monitoring Dan Evaluasi Pemantauan keberhasilan setiap kegiatan program gizi di 2 desa dan 1 kelurahan

yang ada di wilayah kerja Puskesmas II Denpasar Utara dilakukan dengan teknik monitoring bulanan. Monitoring bulanan ini dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan yang dilaksanakan pada bulan tertentu di kelurahan dan setiap desa telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Bila hasilnya belum sesuai dengan harapan, maka akan dicari penyebabnya untuk kemudian dilakukan intervensi. Evaluasi program gizi di Puskesmas II Denpasar Barat dilakukan sebanyak dua belas kali dalam setahun yaitu setiap bulan. Evaluasi dilakukan dengan membuat pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan serta menilai cakupan setiap kegiatan program gizi. Cakupan kegiatan ini dinilai dengan cara membandingkan persentase 30

target kegiatan dengan persentase hasil kegiatan. Selisih antara persentase target kegiatan dengan hasil kegiatan dijadiakn patokan untuk menentukan tercapai tidaknya pelaksanaan suatu kegiatan. Apabila selisih yang diperoleh bernilai positif, maka dapat dikatakan bahwa kegiatan yang telah dilakukan telah tercapai sebaliknya bila selisihnya negatif dikatakan kegiatan yang dilaksanakan tidak tercapai. Pada akhir tahun, eveluasi juga dilakukan dengan membuat pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan dan cakupannya dari bulan Januari sampai Desember. E. Masalah Dan Hambatan Program Gizi di Puskesmas II Denpasar Barat Dari kegiatan yang telah dilaksanakan oleh program gizi pada tahun 2008 di UPT Puskesmas II Denpasar Utara, ada beberapa permasalahan yang dihadapi sebagaiberikut : 1. Dari hasil pemetaan KADARZI pada sampel sebanyak 98 KK hanya 45 KK yang KADARZI atau sekitar 45,92% dari target 80%. Sehingga masih masih cukup banyak keluarga yang tidak memantau kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga terutama anak balita dan ibu hamil, serta masih banyak juga ibu yang belum memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya dengan alasan ibunya bekerja. Pemecahan masalah : Peningkatan keaktifan petugas maupun kader dalam melakukan penyuluhan dan sosialisasi kepada masayarkat untuk memperhatikan pentingnya KADARZI seperti pentingnya Posyandu dan Pentingnya ASI bagi pertumbuhan bayinya. 2. Program pemberian ASI Eksklusif pada ibu menyusui sebanyak 1103 Buteki. Adapun hasil pencapaian ASI Eksklusif yaitu 38,10% dengan target pencapaian ASI Eksklusif sebanyak 80%. Pencapaian program ASI Eksklusif masih jauh dari target yang ditentukan. Beberapa hal yang menyebabkan bayi tidak lulus ASI Eksklusif adalah keadaansosial ekonomi keluarga yang tidak mendukung, seperti ibu harus bekerja disektor swasta maupun pemerintah untuk membantu kebutuhan keluarga sehingga tidak memungkinkan memberikan ASI saja. Pemecahan masalah yang dilakukan :

31

- Peningkatan promosi pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan sejak bayi lahir sampai berumur 6 bulan melalui kerjasama lintas sektor dan lintas program baik oleh petugas maupun kader. - Mengadakan pencatatan dan pemantauan setiap ibu menyusui selama pemberianASI Eksklusif - Mengadakan pendekatan pada keluarga (suami dan mertua) ibu menyusui mengenai program pemberian ASI Eksklusif - Meningkatkan program pojok laktasi 3. Masih adanya balita yang mengalami gizi kurang selama tahun 2011 Pemecahan masalah : Peningkatan penyuluhan bahayanya gizi buruk dan pelacakan gizi buruk 4. Kurangnya sumber daya manusia dengan program yang menumpuk pada waktu yang sama. Dalam program gizi tenaga yang ada hanya satu orang sedangkan kegiatan seringkali dilaksanakan pada saat yang berdekatan bahkan pada waktu yang sama, meskipun tetap dibantu oleh tenaga- tenaga. Hal ini seringkali menjadi hambatan dalam pelaksanaan program. Pemecahan masalah : Pengusulan penambahan tenaga Tetap melakukan koordinasi yang baik dengan pemegang program maupun kader-kader yang telah dibentuk. 5. Ada kader yang tidak aktif di beberapa desa. Tidak semua kader aktif dalam setiap kegiatan posyandu sehinggga pelayanan tidak berjalan lancar. Keterbatasan kader disebabkan adanya kader drop out karena lebih tertarik bekerja di tempat lain yang memberikan keuntungan ekonomis, karena ada kesibukan tersendiri, kader pindah karena ikut suami, dan juga setelah bersuami tidak mau lagi menjadi kader. Pemecahan masalah : Melakukan follow up kembali kader yang tidak aktif dan dalam pemelihan kader berikutnya lebih memilih kader yang berkomitmen dan pembekalan yang mendalam kepada kader yang telah ada, sehingga mempunyai komitmen yang tinggi.

32

F. Penerapan Keempat Prinsip Pelayanan Kesehatan Dasar Dalam Pelaksaaan Program Di Puskesmas II Denpasar Utara 1. Partisipasi Partisipasi adalah keterlibatan masyrarakat dalam suatu kegiatan. Pada puskesmas II Denpasar Utara partisipasi masyarakatnya sudah cukup baik, hal ini di terbukti dengan keikut sertaan mayarakat dalam berbagai kegiatan program gizi seperti penyuluhan gizi dan mengadakan pemanfaatan pekarangan dan posyandu. Selain itu, bentuk partisipasi masyarakat berupa kesediaan masyarakat untuk menjadi kader dalam membantu petugas gizi dalam melaksanakan kegiatannya. Namun seiring berjalannya waktu ada beberapa kader yang menjadi tidak aktif. 2. Equity Pelayanan program gizi Puskesmas II Denpasar Utara telah mencakup kelurahan dan desa yang berada di wilayah kerjanya karena sasaran kegiatan program gizi telah ditentukan dari dinas. Dinas kesehatan menentukan sampel yang akan di intervensi untuk setiap kegiatan yang diambil dari setiap desa dan kelurahan. 3. Integrasi Program gizi Puskesmas II Denpasar Utara, melakukan kerjasama dengan program lain yang ada di puskesmas tersebut seperti program KIA. Bentuk kerjasama antara program gizi dan program KIA dalam hal pemberian zat besi kepada ibu hamil karena untuk pemberian zat besi petugas gizi memerlukan informasi dari bidan KIA tentang kondisi ibu hamil. Selain itu, program gizi bekerja sama dengan program KIA dalam kegiatan imunisasi. 4. Kerjasama Untuk melaksanakan kegiatan yang direncanakan, Puskesmas II Denpasar Barat melakukan kerjasama dengan pemerintah kecamatan dan desa, pihak- pihak sekolah, dan PKK. Rapat paripurna yang dilaksanakan 3 bulan sekali untuk membahas masalah- masalah di setiap sektor termasuk sektor kesehatan dihadiri oleh dinas komunikasi, pertanian, dan dinas- dinas lainnya.

33

BAB III KESIMPULAN Puskesmas mempunyai peran yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Puskesmas sebagai pelayanan kesehatan strata pertama mempunyai upaya-upaya kesehatan wajib dan upaya-upaya kesehatan pengembangan yang memungkinkan terwujudnya derajat kesehatan yang optimal. Penerapan tahap-tahap manajemen dan kerjasama lintas program puskesmas dan lintas sektor serta keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan upaya-upaya puskesmas tersebut. Program gizi yang merupakan bagian dari upaya kesehatan wajib di Puskesmas II Denpasar Utara sudah menerapkan tahap-tahap manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, dan puskesmas sudah melakukan kerjasama lintas program puskesmas dan lintas sektor, serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan programnya. Keberhasilan Program gizi di Puskesmas II Denpasar Utara diketahui dari tercapainya target dari semua kegiatan dalam program gizi. Namun tetap ada beberapa program yang belum mencapat target yang disebabkan oleh beberapa hambatan-hambatan dalam pelaksanaan program di Puskesmas II Denpasar Utara yaitu kurangnya sumber daya manusia, program yang menumpuk pada waktu yang sama, ibu-ibu yang bekerja, ada kader yang tidak aktif di beberapa desa karena mempunyai kesibukan sendiri. Namun hal ini telah berusaha diatasi oleh Puskesmas II Denpasar Utara. Berdasarkan hasil analisis , Puskesmas II Denpasar utara juga telah menerapan keempat prinsip pelayanan kesehatan dasar dalam pelaksaaan program- programnya.

34

DAFTAR PUSTAKA Anonim. (2007). Proses Pelaksanaan Manajemen Pelayanan Posyandu Terhadap Intensitas Posyandu (online). Available from: : http://lrc-kmpk.ugm.ac.id Depkes RI. 2007. Pedoman Strategi Kie Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi (online). Available from : http://www.depkes.go.id Effendy, N. 1998. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004 tentang Konsep Dasar Puskesmas Laporan Tahunan Program Gizi Tahun 2011 Muninjaya, A.A.G. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta : EGC Trihono. 2005. Arrimes Manajemen Puskesmas Berbasis Paradigma Sehat : CV. Sagung Seto, Jakarta Wijayanti dan Baraba. 2008. Implementasi Total Quality Management: Studi pada Puskesmas di Kabupaten Sleman dengan Sertifikat ISO 9001;2000 . (online). Available from : http://www.ejournal.umpwr.ac.id (Jurnal Manajemen dan Bisnis No. 2, Juli 2008, ISSN 0216-93807).

35

36

ANALISIS MANAJAMEN PELAYANAN KESEHATAN DASAR STUDI KASUS PROGRAM GIZI KESEHATAN MASYARAKAT DI PUSKESMAS II DENPASAR UTARA TAHUN 2011

OLEH : (KELOMPOK II) 1. DESAK NYM WIDYANTHINI 2. YUNETI OCTAVIANUS NYOKO 3. ELVERA SUKMA DANIEL 4. I GEDE BUDI KRISARA (1292161003) (1219161005) (1292161011) (1292161019)

MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS UDAYANA 2012

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................................i DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... ...1 A. Latar Belakang ...1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...3 A. Manajemen ... . ..3 B. Pelayanan Kesehatan Dasar (Primary Health Care/PHC) ....... ..4 C. Puskesmas .6 D. Penerapan Manajemen di Tingkat Puskesmas ..................................................9 BAB III PEMBAHASAN .. ........11 A. Ruang Lingkup Puskesmas II Denpasar Utara.. ...11 B. Visi dan Misi Puskesmas II Denpasar Utara.11 C. Kegiatan yang Dilakukan di Puskesmas II Denpasar Utara..12 D. Analisi Manajemen Program Gizi di Puskesmasn II Denpasar Utara Tahun 2011.. .12 E. Masalah dan hambatan Program Gizi di Puskesmas II Denpasar Utara...32 F. Penerapan Keempat Prinsip Pelayanan Kesehatan Dasar di Puskesmas II Denpasar Utara.33 BAB IV KESIMPULAN34 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 35

ii