Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Hukum Islam Kopertais Wilayah IV Surabaya

PEMBERIAN WASIAT WAJIBAH KEPADA ANAK ANGKAT ( PASAL 209 KHI): ANALISIS TERHADAP AL- BAQARAH: 180
Makinudin: IAIN Sunan Ampel Abstrak: This article investigates the practices of handing in the so-called wasiat wajibah (compulsory will) to an adopted child based on the article number 209 of the so-called KHI and the Quran 1:180. Employing descriptive analyses, this study aims at reinterpreting these two legal sources. The article argues that the adopted child can be regarded as one of dzawi al- qurba (those who have a genealogical line) through parents-child based affection. For this reason, this child is entitled the inheritance with no more than 1/3 of it. The rest is for the blood line-based beneficiaries. Through this distribution mechanism, the harmony can be achieved between the adopted child and the blood line-based beneficiaries. Keywords: Wasiat Wajibah, foster child (section 209 KHI) and versus 180 surah al-Baqarah. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara merdeka dan berdaulat sekaligus sebagai negara hukum, yang mayorittas penduduknya memeluk agama Islam,bahkan terdapat lembaga peradilan agama yang berasas personalitas keislaman yang keberadaannya sama dengan persoalan lainnya yang berpuncak pada mahkamah agung sebagai lembaga yudikatif tertinggi di indonesia. Salah satu hukum materiil peradilan agama di indonesia yang di jadikan rujukan oleh para hakim adalah kompilasi hukum Islam walaupun berlakunya hanya melalui intruksi dari dalam hasil dalam republik indonesia nomor 1 tahun 1951, sedangkan salah satu materi KHI adalah pemberian wasiat wajibah kepada anak angkat pasal 209 KHI, hal ini merupakan terobosan baru dalam hukum Islam yang tidak di temukan dalam kitab- kitab klasik bahkan undang- undang mesir dan siria pun tidak menyatakan wasiat wajibah kepada anak angkat. Pasal 209 KHI tidak mungkin tanpa dasar hukum baik melalui istimbat atau istidlal hal ini karena keduanya merupakan metode ijtihad yang tidak boleh di tinggalkan dalam penemuan hukum Islam, terutama hal- hal yang tidak di atur secara jelas dalam nas syara. Dengan hal tersebut penulis akan menelaah pasal 209 KHI melalui pendekatan pemahaman petunjuk al- Baqarah ayat : 180 sehingga gerak pasal tersebut tetap berpijak pada nas syara walaupun tidak menafikan metode nas lain. PEMBAHASAN Kata wasiat secara bahasa bermakna suatu bentuk perjanjian yang di buat oleh seseorang agar melakukan sebuah perbuatan, baik orang tersebut masih hidup maupun setelah meninggal dunia1 Dalam pengertian ini termasuk wasiat (pesan) oleh seorang khotib di waktu khutbah jumat, begitu juga wasiat seorang bapak kepada anaknya dengan pesan jika saya meninggal dunia kamu harus menikah dengan halimah (keponakan) saya. Sedangkan secara istilah ( terminologi) para ulama mengartikan bahwa wasiat adalah perbuatan yang berupa pemberian milik dari seseorang kepada yang lain yang pelaksanaannya setelah meninggalnya pemberi wasiat baik berupa benda atau berupa manfaat dari benda, dengan jalan tabarru ( sedekah)2 dengan pembahasan ini objek suatu wasiat dapat berupa benda atau manfaat. Bahkan, batas kepemilikannya dapat selama- lamanya atau sementara waktu. Pengertian wasiat sebagaimana pengertian istilah tersebut sering tidak sama dengan pelaksanaan di tengah- tengah masyarakat, artinya, masyarakat meskipun tokoh agama sering menggunakan wasiat yang objeknya suatu perbatan (tasarruf), bukan mutu benda ( mal) sebagaiman ulama mengartikan . Pada surat al- Baqarah: 180 dengan ., bukan kebaikan. Hal ini sering di jumpai pada seorang tokoh agama (kiai) yang berwasiat kepada anak- anaknya, yang isinya jika saya meninggal dunia kuburkanlah saya digaransi milik saya,kejadian ini sering mengundang polemik antara anak- anak dari tokoh agama tersebut dengan santrisantrinya yang menghendaki lain dan anak- anaknya
76

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

Makinudin :

Pemberian Wasiat Wajibah Kepada Anak Angkat (Pasal 209 KHI): Analisis terhadap Al-Baqarah: 180 Wasit Alawi menjelaskan bahwa salah satu wujud pelaksanaan tersebut ialah berupa cucu yang kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Dalam hal ini wasiat adalah pemberian sejumlah harta sebesar yang diterima oleh ayah atau ibunya jika mereka masih hidup dengan jumlah maksimal 1/3 harta warisan, sedangkan pelaksanaan tersebut harus di penuhi beberapa persyaratan yaitu (1) cucu tersebut belum pernah menerima wasiat atau hibah,(2) jika telah menerima wasiat atau hibah yang besarnya memiliki haknya maka kelebihannya dipandang sebagai wasiat iktiyariah (3) jika wasiat atau hibah kurang dari ialah yang seharusnya di terima, maka berkurangnya akan di penuhi dari harta warisan atau wasiat ikhtiyariah (4) wasit wajibah ini di laksanakan sebelum pelaksanaan wasiat ikhtiyariah, mendahului pembagian harta warisan kepada ahli waris lain.7 Sedangkan dalam wasiat wajibah bagi anak angkat termaktub dalam pasal 171 KHI. Jika ada anak angkat maka ada orang tua angkat, dalam hal ini, KHI menjelaskan bahwa anak angkat adalah anak yang dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari- hari, sebagaimana tanggung jawab orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan. 8 Dengan pasal 171 KHI ini dapat dipahami sebagai berikut: a. Status anak angkat hanya terbatas pada peralihan, pemeliharaan hidup sehari- hari, tanggung jawab biaya pendidikan. b. Keabsahan stat us anak angkat harus berdasarkan atas keputusan pengadilan. c. Disamping pasal 171 pasal 209 KHI memberikan hak wasiat wajibah 1/3 kepada anak angkat 9 Status anak angkat tidak berkedududkan sebagaimana anak kandung, oleh karena itu orang tua angkat tidak menjadi ahli waris anak angkatnya, akan tetapi, kenyataan hubungan itu tidak dapat dipungkiri scara hukum, kerana itu untuk tidak membohongi diri atas fakta yuridis tersebut pasal 209 (2) KHI memodifikasi suatu kesimpulan hak dan kedudukan anak angkat dan orang tua angkat dalam hubungan waris muwaris adalah sebagai berikut: (a) anak angkat berhak mendapat 1/3 berdasarkan kontuksi hukum wasiat wajibah, (b) orang tua angkat berhak mendapat 1/3 berdasarkan kontuksi hukum wasiat wajibah.10 Berhubungan dengan bunyi pasal 205 KHI sebagai berikut: 1. Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan pasal- pasal 176-193 tersebut, sedangkan terhadaporang tua angkat yang tidak menerima wasiat, diberi wasiat wajibah sebanyak 1/3 dari harta warisan anak angkatmya
77

bersikukuh dengan kewajiban menjalankan wasiat orang tuanya, namun demikian ada juga yang menerima tujuan santri- santrinya sehingga tidak melakukan wasiat kiai mereka, hal ini karena mereka mengaggap merubah wasiat tersebut lebih maslahah dan manfaat bagi kiai dan masyarakat umumnya. Pengertian istilah tersebut kemudian di kemukakan dalampasal 171 KHI yang berbunyi wasiat adalah pemberiansuatu benda dan pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia3 namun halinikita sudah memasukkan penerima wasiat (musalah) berupa orang pribadi (naturlijke person) dan badan hukum atau lembaga (rechts person) atau shahos maani Pengertian Wasiat Wajibah Istilah wasiat wajibahtidak dikemukakan dalam kitab- kitab klasik, sehingga sewaktu istilah ini muncul diartikaan dengan wasiat yang hukumnya wajib dilaksanakan, padahal pengertian ini kurang tepat atau tidak tepat artinya, istilah wasiat wajibahmerupakanistilah tersendiri yang pengertiannya hukum wasiat yang wajib. Oleh karena itu perlu dijelaskan pengertian, sebagai berikut: 1. Wasiat wajibah adalah yang dilakukan penguasa atau hakim sebagai aparat negara untuk memaksa atau memberi putusan wajib wasiat bagi orang yang telah meninggal dunia, yang diberikan kepada orang tertentu dalam keadaan tertetu. Suatu wasiat, disebut wasiat wajibah karena dua hal yaitu: a. hilangnya unsur ihtiyar bagi si pemberi wasiat dan muncullahunsurkewajibanmelaluisebuahperundangan atau surat keputusan tanpa tergantung kerelaan orang yang berwasiat dan persetuuan sipenerima wasiat b. ada kemiripannya dengan ketentuan pembagian harta warisan dalam hal penerimaan laki- laki 2 (dua) kali lipat bagian perempuan. 44 2. Makna wasiat wajibah, seseorang di anggap menurut hukum telah menerima wasiat meskipun tidak ada wasiat secara nyata, anggapan hukuman itu lhir dari asas apabila dalam suatu hal hukum telah menetapkan wajib berwasiat maka ada atau tidak ada wasiatdibuat, wasiat di aggap ada dengan sendirinya. 5 3. Wasiat wajibah adalah interpretasi atau bahkan pelaksanaan firmanAllah di dalam al-quran ( surat al- Baqarah: 180-181), sedangkan inti ayat ini yaitu orang yang merasa dekat dengan ajalnya, sementara ia memilikiharta peninggalan yang cukup banyak, maka ia wajib melakukan wasiat untuk kedua orang tuanya dan kerabatnya, dan bahwa orang yang mengubah isi wasiat tersebut maka menanggung akibatnya.6

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

Jurnal Hukum Islam Kopertais Wilayah IV Surabaya 2. Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat, diberi wasiat wajibah sebanyak 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. 11 Dengan hal tersebut KHI menjelaskaan bahwa antara anak angkat dengan orang tua angkatnya tidak ada hubungan kewarisan, tetapi sebagai pengetahuan tentang baiknya lembaga pengangkatan anak tersebut, oleh karena itu hubungan antara keduanya dikukuhkan dengan perantaraan wasiat waijabah. Pengertian wasiat wajibah antara anak angkat dengan orang tua angkatnya dapat mencegah atau menghindari konflik atau sengketa antara anak angkat dengan keluarga orang tua angkat yang seharusnya menjadi ahli waris dari orang tua angkat tersebut. Deimikian pula kemungkinan terjadinya konflik antara orang tua angkat yang masih hidup dengan angkat, mereka mempunyai pedoman dalam menyelesaikan sendiri tentang kewarisan yang mereka hadapi. apakah ayat tersebut muhkamat atau mutasyabihat, dengan adanya perbedaan ini akan berdampak pada kandungan atau isi ayat tersebut. Al-Zuhaili dalam kitabnya tersebut at-tafsir al-munir menjelaskan bahwa pandangan ulama adalah sebagai berikut: 1. Pendapat ibnu Abbas, Al- Hasan Al- Basri Taus Masruq Al- Dahhaq, mereka berpendapat bahwa wasiat kepada kedua orang tua dan para kerabat yangg memperoleh harta warisan telah di hapus, sedangkan mereka yang tidak mendapatkan harta warisan tetap memikul wasiat yang wajib. Hal ini karena ayat tersebut mencakup keduanya, kemudian mereka yang mendapatkan warisan terhapus. Dan mereka yang tidak mendapatkan waisan masih berlaku, dalam hal iniibnu jarir at- tabari dalam tasirnya memilih pendapat ini. Akan tetapi ulama mutakhhirin menyebutnya dengan istilah tahsis bukan nasakh. Wasiat Dalam Al-Baqarah: 180 2. Pendapat Ibnu Umar, Abu Musa Al- Ashari Kata wasiat dalam bentuk masdar disebutkan dan Said Ibnu Musayyib, mereka berpendapat dalam al-Quran lima kali yaitu: (1) al-Baqarah 180 bahwa seluruh kandungan ayat ini dihapus dengan dan 240 (2) an-Nisa: 11 dan 12 (3) al- maidah: 106, ayat muwaris, hal ini berdasarkan dalil yang sedangkan kata wasiat dalam al-baqarah 180 diriwayatkan al- syafiI dari imron bin husaen merupakan ayat yang pailng lengkap berkaitan dengan bahwa rasulullah telah menetapkan hukum pada wasiat, karena dilanjutkan dengan pembahasan ayat enam budak milik seorang lelaki yang tidak berikutnya. al-Baqarah: 180 yangArtinya: Diwajibkan mempunyai harta selain mereka dan mereka atas kamu, apabila seorang di antara kamu merdeka setelah orang tersebut telah meninggal kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia dunia. Kemudian nabi membagi meeka menjadi meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk tiga. Bagian beliau memerdekakan dua orang ibu-bapak dan karib kerabatnya secara maruf (ini budak dan budak kepada yang empat. Dalam hal adalah) kewajiban atas orang-orang yang ini jika wasiat itu diwajibkan para kerabat, batal 12 bertakwa. untuk mereka, maka nabi tidak akan membolehkan Al-Baqarah: 180 tidak menjelaskan tentang wasiat pada dua budak. Hal ini karena merdekanya kesaksian pada waktu berwasiat, padahal jika tidak di dua orang budak merupakan wasiat, padahal kedua lakukan di depan saksi akan menimbulkan masalah di budak ini tidak sebagai kerabat. kemudian hari, untuk itu dalam al- maidah 106 mengatur 3. ImamAl-Razi meriwayatkan dariAbu MuslimAltentang persaksian, baik saksiitu beragama Islamataupun Astihani, kedua ayat ini adalah muhkamah, bukan nonmuslim, akan tetapi adanya persaksian ini mutasyabihat, sesungguhnya ini dijelaskan oleh diperselisihkan olehpara ulama- ulama karena ada syarat ayat muwaist karena itu ayat ini yakni diwajibkan sebagai pembatasan (taqyid) yaitu in antum darabtum kepadamu apa yang telah diwaiskanAllah berupa fi al- ard ( jika kamu bepergian). Pembatasan ini perolehan warisan kedua orang tua dan para sebenarnya hanyalah bersifat penguat, artinya walaupun kerabat sebagaimana dalam an- nisa: 11 yang tidak sedang bepergian persaksian tetap dilaksanakan artinya ayat al- bawarah ini tidak bertentangan hal ini dalam al- ala fadakkir in nafaat al- dikra ( dengan ayat muwaris namun menguatkannya. 13 oleh sebab itu berikanlah peringatan jika peringatan itu al- Qurtuby dalam tafsirnya menjelaskan bermanfaat), dalam halini kata in nafaat al- dikra tidak pendapat ulama tentang makna al- Baqarah: 180. berpengaruh pada memberikan peringatan. Dalam hal ini ada ulama yang menjelaskan sebagai ayat yang muhkamat, secara tafsir menunjukkan Pandangan Ulama Tentang makna ayat 180 umum akan tetap maknanya khusus, yakni orang tua surat Al-Baqarah yang tidak memperoleh warisan dan kerabat yang Ulama berbeda pandangan terhadap makna termasuk ahli waris. Sedangkan ulama lain al-baqarah: 180 perbedaan ini terletak pada penilain berpendapat bahwa ayat tersebut terhapus dengan Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 78

Makinudin :

Pemberian Wasiat Wajibah Kepada Anak Angkat (Pasal 209 KHI): Analisis terhadap Al-Baqarah: 180 ahli waris yang lebih dekat seperti cucu laki- laki terhalang oleh paman, dan tergolong dawi al- arkham seperti cucu laki- laki atau perempuan dari anak perempuan, dengan demikian pendapat ini dapat mengatasi konflik yang terjadi dalam keluarga. Pendapat di atas hanya digunakan oleh sebagian oleh undang- undang mesir dalam menetapkan kandungan wasiat wajibah, yaitu cucu bersama paman. Artinya, cucu tersebut tidak dapat bagian warisan karena adanya paman sebagaimana sistem waris Islam. Untuk itu perlu adanya terobosan baru yaitu cucu diberi bagian melalui sistem wasiat wajibah, hal inidi lakukan dengan berpedoman pada jiwa syariat Islam dalam penerapan keadilan pembagian harta kekayaan. Kompilasi hukum Islam hanya menentukan penggunaan wasiat wajibah untuk anak angkat, berbeda dengan wasiat yang dilakukan dimesir, tunis dan maroko. Artinya, UU negara tersebut masih mudah di cari centolan atau sumber dari al- Baqarah: 180 dan sudah di buat tabir dari para ulama dalam kitab fiqh. Sebagaimana di maklumi, bahwa KHI menempatkan wasiat wajibah untuk anak angkat atau orang tua angkat, padahal kebanyakan yang terjadi anak angkat atau orang tua angkat bukan ahli waris dan bukan mahrom, seperti anak dari saudara kandung sendiri, artinya, hubungan antara anak dan orang tua angkat tidak bebas, bahkan anak angkat perempuan boleh dinikahi bapak angkatnya, oleh karena itu sebaiknya tidak menempatkan keduanya dalam satu rumah jika sudah dewasa. A. Wasit Aulawi menjadikan al- Baqarah: 180 sebagai rujukan wasiat wajibah, akan tetapi dia tidak menjadikan anak angkat sebagai contoh melainkan cucu yang kedua orang tuanya, baik ayah maupun ibunya telah meninggal dunia dengan pemberian sejumlah harta sebesar yang diterima oleh ayah atau ibunya jika masih hidup dengan jumlah maksimum 1/ 3 harta warisan. Hal ii mengacu pada wasiat wajibah yang telah dilaksanakan di mesir (UU No 71 tahun 1976) di tunis (UU hukum keluarga tahun 1976) dan di maroko. 17 Dengan demikian, A. Wasil aulawi bukan menjadikan al- Baqarah: 180 sebagai rujukan wasiat wajibah untuk anak angkat (pasal 209 KHI). Bahkan prihan A. Rasyid dalam tulisannya menyatakan, rasanya tidak ada alasan untuk mempertanyakan pasal 209 KHI.18 Dalam menyikapi pasal 209 KHI, penulis mengangap bahwa pasal 209 KHI ini masih dijiwai mufassir yang tetap menjadikan al- Baqarah: 180 sebagai ayat muhkamat, bukan mansukhat dengan ayat muwaris dan hadist la wasiyyata li waris. Dalam hal ini menjadikan hubungan antara ayat al- Baqarah: 180 dan ayat muwaris serta hadist sebagai tahsis atau
79

ayat muwaris atau faraid dan diperkuat dengan hadis yang artinya: Allah telah memberikan orang yang punya hak akan haknya, maka tidak boleh wasiat kepada ahli waris Sementara itu ulama lain berpendapat bahwa wasiat kepada kedua orang tua dihapus dengan bagian tertentu yang pada wasiat masih tetap berlaku bagi kerabat yang tidak dapat warisan. 14 Sebenarnya bila diperhatikan pendapat Abu Muslim al-Asfihani, sebagaimana yang dikutip oleh al-Razi bahwa tidak ada hal yang meniadakan antara ayat tentang wasiat dan ayat tentang waris, artinya, ayat waris untuk kerabat yang mendapat warisan, sedangkan ayat wasiat untuk kerabat yang tidak dapat warisan karena ada penghalang seperti kafir dan budak, terhijab atau tertutup ahli wari yang lebih dekat dan tergolong dawi al- arham.15 Analisis terhadap makna al- Baqarah: 180 1. Analisis makna al- Baqarah: 180 al- Baqarah: 180 merupakan salah satu ayat yang diperdebatkantentang maknanya, apakahtergolong ayat yang muhkamat atau mutasyabihat, dalam hal ini pendapat yang masih menganggap muhkamat, merupakan pendapat yang perlu dipegangi daripada yang memandang mansukhat, hal ini agar seluruh ayat- ayat al- Quran tetap berlaku sepanjang zaman. Jika ada yang mengatakan bahwa ayat wasiat dihapus dengan ayat muwaris dan atau hadist, maka lebih baik menggunakan metode al- jamI wa al- taufiq dengan jalan masingmasing ayat atau hadist yang kelihatannya bertentangan ditempatkan pemahaman sendiri- sendiri dan metode tahsis tidak pelu nasakh apalagi yang menasakh ayat adalah hadist ahad. Hal ini karena pemakaian nasakh harus berdasarkan ayat yang sahih. Padahal dalam kitab hadist tidak dikemukakan secara jelas bahwa al- Baqarah: 180 di hapus oleh hadis, artinya jika diketemukan bahwa al- Baqarah: 180 telah dihapus, maka hanya dalam kitab- kitab hadist atau dalam kitab tafsir. Untuk itu kaidah yang memiliki makna: jika memungkinkan melakukan penjelasan atau klarifikasi tanpa naskh maka wajib kembali kepada penjelasan tersebut 16 Harus di gunakan dalam menjelaskan keberadaan al- Baqarah: 180 bukan menggunakan naskh. 2. AnalisisAl- Baqarah: 180 Terhadap Pasal209 KHI Pendapat ulama yang menyatakan bahwa makna al- Baqarah: 180 masih berlaku untuk dijadikan dalil tentang wasiat wajibah bagi ahli waris yang karena sesuatu hal tidak mendapatkan warisan. Hal ini dapat terjadi karena faktor penghalang (mani) seperti beda agama dan status budak, terhalang oleh

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

Jurnal Hukum Islam Kopertais Wilayah IV Surabaya menggunakan al- jamu wa at- atufiq. Oleh karena itu makna al- Baqarah: 180 tetap diberlakukan untuk orang tua dan kerabat yang karena ssuatu hal tidak mendapatkan warisan, baik karena mani, mahjub, ataupun dar al- alkham. Untuk memepertegas keberadaan alBaqarah: 180 perlu menghubungkan dengan an- nisa: 8. Dalam hal ini al- Razi dalam tafsirnya, mafatih alghaib menjelaskan (an-nisa8) Dengan demikian hubungan kerabat yang memperoleh harta warisan dan yang tidak tetap mesra, tidak terjadi dengki, sekaligus hubunga silaturrahim tercapai serta mensyukuri nikmat Allah. 19 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Melihat penjelasan tersebut, anak angkat dapat ditempatkan dawi al- qurba walupun dekatnya tidak melalui keturunan, tetapi melalui kasih sayang, apalagi dalam an- nisa:8 di teruskan al- yatama dan almasakin, bahkan, jika di telusuri tentang alasan pengangkatan anak akan di temukan kesamaan dengan rujukan perkawinan, yaitu mendapatkan anak, disamping tujuan lainnya, sementara itu ada pasangan suami istriyang sudah lama perkawinannya, tetapi belum dikarunia anak, padahal dalam rumah tangga tanpa anak akan menjadi sepi atau hampa apalagi pasangan tersebut menginginkan doa dari anak yang saleh dan mengurusnya ketika dia sakit atau umurnya sudah lanjut usia, oleh karena itu tujuan mengangkat anak angkat baik dari kerabatnya atau mungkin dari orang lain. Dengan alasan tersebut sangat wajar jika anak angkat dapat bagian, yang bagiannya tidak boleh lebih 1/ 3 denganketentuan- ketentuankhusus yangtermuat dalam kompilasi hukum Islam, artinya, ahli waris dari pewaris masih mendapat bagiansesuaidenganhukumwaris Islam, halinitidak akan menimbulkan konflik antara anak angkat dengan ahliwaris, bahkan akan menjadihubungan yang harmonis antara mereka dan sesuai dengan tujuan perkawinan yaitu memperbanyak keluarga. Bagi umat Islam Indonesia harus bersyukur dengan adanya pengaturan wasiat wajibah dalam KHI dan menjadi kompetensi peradilan agama di Iindonesia sebagaimana tertuang dalam pejelasan UU No 3 tahun 2006 pasal 49 huruf a umur 20 berisikan penetapan asal usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam. Saran Namun penulis menyadari terhadap kekurangan artikel ini baik dalam hal penelaahan, analisa, penggalian data, serta aspek akademis lainnya. Oleh karena itu dari seluruh pihak dan pembaca penulis harapkan kritik konstruktif pada tulisan ini. Dengan memandang hasil penelitian ini, kami menyarankan pada peneliti untuk mengkaji ulang pembahasan ini, dan juga melengkapi segala kekurangan karena setiap penelitian adalah cermin kesetiaan manusia kepada pengetahuan. Wallahu Alam

Pembahasan dalam Artikel ini telah dipaparkan secara maksimal. Ini adalah titik awal untuk melakukan penelitian dan kajian yang akan datang tentang tema tersebut selayaknya tetap diusahakan. Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

(Footnotes) 1 Wahbah al- Zuhaili, al-fiqh al- Islami wa adillatuh, vol. 8 ( Bairut: Dar Al- Fikr,1989):8 2 Ibid 3 Abdurrahman , Kompilasi Hukum Islamdi Indonesia ( Jakarta: Akademika Presindo, 1992): 156 Umar Said, Hukum Islam Di Indonesia tentang waris wasiat, hibah dan waqaf ( Surabaya: CV.Cempaka, 1997): 146 4. Ahmad Rofiq, Hukum Islam Di Indonesia, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003): 462 5 M. Yahya Harahap, Informasi Materi Kompilasi Hukum Islam, Memposotifkan Abtraksi Hukum Islam,Dalam Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam Dan Peradilan Agama Dalam Istem Hukum Nasional ( Jakarta: Logos Wacana Ilmu , 1999): 71 6 A, Wasit Alawi, Sejarah Perkembangan Hukum Islam Dalam Amrullah Ahmad, Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional ( Jakarta: Gema Insani Press, 1996): 65 7 Ibid: 66 8 Abdurrahman, Kompilasi,: 156 9 M yahya Harahap, Informasi,:67 10 Ibid: 71 11 Abdurrahman, Kompilasi: 164 12 Depag, AlQur an Dan Terjemahannya .(Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al- Quran, 1983): 43 13 Depag, AlQur an Dan Terjemahannya .(Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al- Quran, 1983): 44 14 Wahbah al- Zuhaili, al- tafsir al- munir fi al- aqidah wa al- syariah wa al- manhaj, vol, 2 ( bairut: darul al- fikr, 1951): 121- 122 15 Al- razi, Mafatih: 54 16 Abd al- hamid al- hakim al- sulam ( jakarta: ghalia indonesia, t.t): 49 17 Al- Wasil Aulawi Sejarah.., 66 18 Raihan A. Rasyid, Pengganti Ahli Waris Dan Wasiat Wajibah, dalam Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam Dan Peradilan Agama Dalamsistem Hukum Nasional ( Jakarta: Logo Wacana Ilmu , 1990), 96
80

Makinudin :

Pemberian Wasiat Wajibah Kepada Anak Angkat (Pasal 209 KHI): Analisis terhadap Al-Baqarah: 180

19

Muhammad abduh, tafsir al- manar vol,4 ( mesir: analaat al- manar, 1953): 296

DAFTAR PUSTAKA
1. Abduh, Muhammad. (1953) tafsir al- manar vol,4. Mesir: analaat al- manar. 2 Abdurrahman. (1992) Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademika Presindo. 3. Alawi, A, Wasit. (1996) Sejarah Perkembangan Hukum Islam DalamAmrullah Ahmad, Dimensi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional. Jakarta: Gema Insani Press. 4. Depag. (1983) Al- Quran Dan Terjemahannya. Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab SuciAl- Quran. 5. Fathurrahman. (1981) Ilmu Waris, Bandung: PT. Al-maarip. 6. Hakim, Abd al- hamid al-. (Tt) al- sulam. Jakarta: ghalia indonesia. 7. Harahap, M. Yahya.( 1999) Informasi Materi Kompilasi Hukum Islam, Memposotifkan Abtraksi Hukum Islam, Dalam Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam Dan Peradilan Agama Dalam Istem Hukum Nasional. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 8. Raihan A. Rasyid. (1990) Pengganti Ahli Waris Dan Wasiat Wajibah, dalam Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam Dan Peradilan Agama Dalamsistem Hukum Nasional. Jakarta: Logo Wacana Ilmu. 9. Rofiq, Ahmad. (2003) Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. 10. Said,Umar. (1997) Hukum Islam Di Indonesia tentang waris wasiat, hibah dan waqaf. Surabaya: CV.Cempaka. 11. Zuhaili, Wahbah al-. (1951) al- tafsir al- munir fi al- aqidah wa al- syariah wa al- manhaj, vol, 2. bairut: darul al- fikr. 12. Zuhaili, Wahbah al-.( 1989) al-fiqh al- Islami wa adillatuh. Bairut: Dar Al- Fikr.

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

81

Jurnal Hukum Islam Kopertais Wilayah IV Surabaya

METODE (ISTIMBAT) HUKUM ISLAM KHALED M. ABOU EL-FADL


Drs. H. Misbahul Munir, MM. Abstrak: Fiqh is law product have been resulted from approach and method various have attended final
punish, it is cant be changed. This matter proved with ijtihad is closed. But, the history of fiqh, some people attended more law pattern of popular and progressive. One of them is Khaled M. Abou El-Fadl with his though of method. He is have been hermeneutic method with the character multi discipliner by entangling various approach linguistic. In this method, human life can be better than old life. This article with deskriptif-analisys method.

Keywords: method, Islamic law, Khaled M.Abou Al-Fadl PENDAHULUAN Fiqh sebagai produk hukum yang dihasilkan dari berbagai pendekatan dan metode telah menghadirkan hukum final yang tidak dapat diganggu gugat. Hal ini telah terjadi sejak awal munculnya fiqh, karena fiqh dianggap sebagai consensus metode yang dihasilkan dari pembacaan teks suci al-Quran dan hadits. Oleh karena itulah, pada abad ketujuh, fiqh berada di puncak kesakralannya. Hal ini dapat dibulktikan dengan banyaknya gerakan yang memaksa untuk menutup pintu ijtihad. Dengan artian setiap orang yang hidup zaman sekarang dipaksa untuk tunduk pada hukum fiqh klasik yang tampak subjektif: hitamputih, benar-salah, dan halal-haram.1 Ilustrasi diatas dipahami oleh sebagian muslim yang memandang fiqh sebagai produk hukum final dan baku tanpa mempertimbangkan aspek metode dan sosio-kulturalnya. Pada taraf ini sebagian muslim tersebut memperlakukan fiqh sebagai kehendak mutlak Tuhan dengan sikap otoriter dan sewenangwenang.2 Perjalanan waktu yang panjang telah banyak melahirkan para pemikir Islam yang dikenal sebagai pembaharu Islam. Sebagian lahir dengan corak yang sama dengan fiqh klasik seperti jamal al-banna, ibn Taimiyah, Abduh dan lainnya. Sebagian terlahir dengan corak yang lebih popular dan progressif seperti Hanafi, al-Jabiri dan juga termasuk dalam garda progressif adalah Khaled M. Abou El-Fadl (ditulis; Abou Fadl) melalui tawaran metode istimbat al-hukmi dalam Islam. Tawaran metode istimbat al-hukmi yang diperkenalkan abou fadl adalah hermeneutik yang bersifat inter dan multidispliner dengan melibatkan berbagai pendekatan seperti: linguistik, interpretative social sciences, literary criticism, selain menggunakan ilmu-ilmu keIslaman yang baku mulai dari mualhal-had,rijlulhad,fiqh,ulfqh, tafsr, kalm yang kemudian dipadukan dengan humaniora kontemporer.3 Sebagai seorang akademisi Islam, Abou fadl sangat akrab dengan diskursus hukum Islam. Abou Al Fadl berpandangan bahwa hukum Islam adalah jantung, inti dari agama Islam dan puncak prestasi peradaban Islam. Namun disadari atau tidak hukum Islam merupakan konstruksi khazanah klasik masa lalu yang tidak mampu membendung arus modernisasi yang menimbulkan berbagai problematika hukum dan kemanusiaan yang terjadi di tengah-tengah manusia dewasa ini. Modernisasi yang berkembang mengantarkan hukum Islam klasik berada di ambang kepunahan.4 Hal ini yang membuat gelisah abou fadl dan memaksa berfikir ulang untuk merevitalisasi dan mengkonstruksi hukum Islam yang lebih relevan dan popular. Ditengah-tengah kegelisahan tersebut, Abou El Fadl hendak menghidupkan kembali hukum Islam klasik yang cukup dinamis sehingga dapat menjangkau yang tak dipikirkan (limpens/unthought), yang tak terpikirkan (limpensable/unthinkable) dan sesutau yang telah terlupakan.5 PEMBAHASAN Mengenal Abou El-Fadl Khaled Medhat Abou El-Fadl dilahirkan di Kuwait. Dia dibesarkan dengan tempaan pendidikan dasar keIslaman seperti al-Quran, hadis, tafsir, tata
82

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

Misbahul Munir,:
Metode (Istimbat) Hukum Islam; Khaled M. Aboe El-Fadl

bahasa Arab, tasawuf dan filsafat. Komponen keilmuan yang digeluti semasa dini menjadikan dia sebagai seorang pemikir Islam terkemuka. Model pembelajaran yang dipakai tidak berbeda dengan dengan kebanyakan murid-murid lainnya, namun yang membedakan adalah kecerdasan dan ketekunanya untuk mendialektikakan hasil pemahaman teks dengan realitas budaya setempat yang dikenal dengan tradisi.6 Pendidikan dasar dan menengahnya ditamatkan di Kuwait. Di samping itu, juga aktif mengikuti kelas-kelas al-Quran dan ilmu-ilmu Syariah setiap liburan musim panas di MasjidAl-Azhar Kairo, Mesir. Ia hafal al-Quran sejak berumur 12 tahun dan dikenal paling cerdas di antara teman sekelasnya. Abou El-Fadl adalah pemuda yang dibesarkan dalam kondisi sosial Mesir, termasuk orang mengalami kekecewaan mendalam atas kegagalan pan Arabisme dalam perang 1967. Kekalahan tersebut, baik oleh keluarga maupun para guru Azharnya, dinyatakan sebagai kekalahan nasionalisme Pan-Arab, dan bahwa jalan keluar yang paling masuk akal hanyalah kembali kepada autentisitas Islam. Dari sinilah Abou El-Fadl muncul sebagai pemikir Islam yang sangat disegani. Hukum Islam dan Problem Penafsiran Teks Al-Quran sebagai mashdaar al-tashri menampilkan kaidah-kaidah hukum yang abadi dalam menyiapkan segala yang diperlukan manusia baik yang berkaitan dengan spiritual maupun material. Tidaklah mengherankan jika dikatakan bahwa Al-Quran adalah kitab yang kompleks dan berisi petunjuk yang komprehensif dalam seluruh aktivitas kehidupan manusia. Dalam rangka mengungkap isi yang terkandung dalam Al-Quran dengan maksud dapat dimanfaatkan sesuai dengan petunjuk di atas, maka manusia wajib mempelajari dan memahaminya.7 Usaha untuk memahaminya adalah melalui apa yang disebut dengan interpretasi untuk memunculkan standart hukum Islam yang sempurna.8 Teks memainkan peranan sangat penting dalam penyusunan kerangka dasar referensi metode (istimbat) hukum Islam.9 Namun membaca sebuah teks tidak mudah seperti membalik telapak tangan. Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa terdapat tiga komponen di dalam teks yaitu author (pengarang), teks, dan reader (pembaca). Bagi umat Islam, variabel teks berarti Nash Syari, variabel author berartiAllah (Syri), dan variabel reader atau otoritas penafsir berarti umat Islam itu sendiri (Mufassir atau Fuqah).10 Masing-masing unsur dalam proses pemahaman memiliki peran dan fungsinya tersendiri.

Ketiga unsure tersebut tidak dapat dipisahkan dan bahkan dikalahkan antara satu dengan lainnya, melainkan dengan keseimbangan porsi pemahaman dan sungsi yang dimiliki. Pada taraf ini abou fadl mengatakan tidak ada wakil khusus untuk memunculkan hukum Islam. Oleh karena itulah abou fadl lebih menitik beratkan pada relativitas kebenaran pemahaman. Relativitas kebenarana pemahaman akan menampakkan banyak perbedaan pemahaman tergantung pada keilmuan masing-masing penggagas. Perbedaan ini tidak jarang menimbulkan problem yang serius dalam membinan peradaban Islam dengan bangunan hhukum yang popular dan humanis. Oleh karena itulah Abou Fadl membangun metode hukum Islam dengan doktrin kedaulatan Tuhan dan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan dijelaskan melalui kalam-Nya yang telah tertulis. Demikian juga nabisebagaipemegang otoritas kedua setelah Tuhan. Setelah wafat, Beliau meninggalkan tradisinya berupa sunnah yang telah terkodifikasi. Pada konteks ini terjadi proses pengalihan suara Tuhan dan Nabi pada teks-teks yang tertulis dalam al-Quan (mushf) dan kitab-kitab Sunnah. Setelah periode ini kemudian muncul fuqaha yang meneruskan warisan ini, sehingga lahirlah imam-imam mazhab yang mempunyai otoritas dalam penetapan dan penggalian hukum yang kemudian melahirkan varian mekanisme ijtihad, seperti (al-qiys,al-ijm,malihal-mursalah, syarmanqablan), dan seterusnya. Metode istimbat hukum Islam dipahami sebagai proses untuk membentuk produk hukum yang dapat dipertanggung jawabkan secara rasional dan relevansinya terhadap kehidupan manusia. Pembahasan mengenai Metode istimbat hukum Islam tidak bisa lepas dari asumsi-asumsi yang memasuki wilayah apriori, dugaan mendahului pengalaman. Oleh karena itu, metode istimbat hukum Islam dengan pemahaman awal dan tidak dimaksudkan sebagai langkah-langkah metodis.11 Sebelum menyajikan asumsi metodologis terlebih dahulu Abou Fadl menampilkan basis pemehaman yang merupakan landasan dalam merumuskan berbagai gagasan yang diklaimnya merupakan konsepsi pemikiran baru yang tidak dijumpai dalam karya-karya sebelumnya.12 1. Keterkaitan antara kesadaran dan pengetahuan manusia dengan wujud materi. Sumber pengetahuan manusia adalah alam materi yang bersifat eksternal. Pengetahuan didapat melalui proses penginderaan terhadap sesuatu yang konkrit.
83

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

Jurnal Hukum Islam Kopertais Wilayah IV Surabaya 2. Manusia dengan kemampuan nalarnya dapat menyingkap seluruh misteri alam. 3. Kemampuan manusia bersifat evolutif, bermula dari hal-hal yang empirik-konkrit lewat pendengaran dan penglihatan, hingga akhirnya memiliki pengetahuan yang abstrak. Dengan demikian alam al-syahadah dan alam al-ghaib bersifat materi.Sesuatu yang belum bisa diketahui manusia saat ini (alam al-ghaib) bukan berarti tidak bersifat materi hanya saja perkembangan pengetahuan belum memungkinkan untuk mengetahuinya. 4. Tidak ada pertentangan antara pengetahuan yang didapat dari al-Quran dan filsafat. Berangkat dari pemahaman tersebut diatas, Metode istimbat hukum Islam dapat dilakukan melalui tahapan prinsip-prinsip metodik yaitu: 1. Mengkaji secara komprehensif dan mendalam terhadap Bahasa Arab dengan berlandaskan pada metode linguistik 2. Memperhatikan temuan-temuan baru dalam wacana linguistik kontemporer yang pada prinsipnya menolak adanya taraduf dalam bahasa dan yang benar adalah sebaliknya. Sebuah kata dalam koridor historisitasnya, mengalami dua alternatif proses akan mengalami kehancuran atau membawa makna baru selain makna asalnya. 3. Memperlakukan kitab suci totalitas sebagai wahyu yang baru saja diturunkan kepada generasi Islam saat ini dengan anggapan seolaholah Nabi Muhammad baru saja wafat. Sikap seperti ini mengarahkan pemahaman umat Islam terhadap al-Kitab selalu bersifat kontekstual, menjadikannya selalu relevan dalam konteks apapun. Sejalan dengan sikap di atas umat Islam harus melakukan desakralisasi terhadap semua produk hukum yang telah dihasilkan oleh ulama terdahulu, karena pada hakikatnya yang sakral hanyalah teks kitab suci itu sendiri. 4. Tidak pertentangan antara wahyu dan akal. 5. Ijtihad-ijtihad Tuhan yang termanifestasikan dalam Kedaulatan Tuhan dan mengakomodasi kewakilan manusia dan akan menaikkan derajat mereka sebagai sebuah kontribusi mereka atas penjagaan dan penegakan hukum Tuhan di muka bumi ini. Meskipun manusia dipandang sebagai pelaksana kehendak Tuhannya, sebenarnya mereka sebagai pelaksana tidak sepenuhnya bebas, karena terikat dengan seperangkat instruksi yang dikeluarkan Tuannya. Mereka tidak boleh bertindak melampui mandate hukum qathi.14 Petunjuk untuk mengetahui Kehendak Tuhan adalah dalil yang akan menjadi petunjuk, pemandu, tanda atau bukti mengenai Kehendak Tuhan. Pada garis ini, ditegaskan bahwa Tuhan tidak mengharapkan sebuah kebenaran yang obyektif atau tunggal. Tuhan menginginkan agar manusia mencari dan menemukan Kehendak Tuhan. Kebenaran adalah pencarian itu sendiri. Umat manusia bukan penerima komunikasi yang langsung dan personal dari Tuhan, oleh karena itu, manusia harus menyelidiki Kehendak Tuhan melalui suatu medium. Medium atau dalil untuk mengetahui, memahami dan menjalankan Kehendak Tuhan sangat beragam seperti yang telah diperdebatkan oleh umat Islam dan para Islamisist selama-selama berabad-abad, yang di antaranya adalah akal dan nalar (aql dan ray), intuisi (fitrah), kebiasaan dan praktik manusia (urf dan dah), dan teks (nash). Pergumulan seorang wakil untuk mengetahui dan memahami Kehendak Tuhan dengan berbagai medium di atas, telah menimbulkan problem hermeneutis yang cukup serius dan beragam. Salah satunya adalah ketika seorang wakil berpetualang untuk mengetahui dan memahami Kehendak Tuhan dengan menggunakan medium teks, juga akan menimbulkan problem hermeneutis tersendiri. Sebagian wakil menundukkan keinginannya dan menyerahkan sebagian keputusannya kepada sekelompok orang atau wakil dari golongan tertentu (ulama). Mereka melakukan hal tersebut karena, dan hanya karena, mereka memandang wakil dari Hermeneutika sebagai new method dalam golongan tertentu memiliki otoritas. Kelompok khusus hukum Islam ini menjadi otoritatif karena dipandang memiliki Gagasan Abou El Fadl tentang hermeneutika kompetensi dan pemahaman yang khusus terhadap dalam Islam sangat menarik untuk memahami gagasan perintah atau kehendak Tuhan. Kelompok khusus Quraniknya dalam menentukan hukum Islam yang (disebut dengan wakil khusus) ini dipandang otoritatif relevan dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini bukan karena mereka memangku otoritas15 berlandaskan pada keinginan Allah yang telah jabatan formal tidak relevan sama sekali tetapi menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. karena persepsi wakil umum menyangkut otoritas Khalifah bisa berarti pewaris, wakil atau pelaksana, mereka berkaitan dengan seperangkat perintah tetapi gagasan dasarnya adalah bahwa manusia (petunjuk) yang mengarah pada Jalan Tuhan. Proses 13 diciptakan sebagai wakil Tuhan di bumi. Kehendak penyerahan keputusan untuk mengetahui dan Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025 84

Misbahul Munir,:
Metode (Istimbat) Hukum Islam; Khaled M. Aboe El-Fadl

memahami Kehendak Tuhan, dari wakil umum kepada wakil khusus juga memiliki problem hermeneutis tersendiri misalnya, pada proses tindak komunikasi dan dialog di antara keduanya. Sampai di sini, dapat kita tarik sebuah pemahaman, bahwa kerja hermeneutika dalam Islam, memiliki beberapa subyek, yang antara lain Tuhan, medium (teks dan lainnya), dan manusia (yang terbagi ke dalam wakil khusus dan wakil umum). Selain itu dapat ditegaskan pula bahwa Kehendak Tuhan terwujud sebagai Kedaulatan Tuhan yang diekspresikan melalui berbagai medium, salah satunya adalah teks. Manusia sebagai wakil Tuhan berkewajiban untuk merealisasikan Kedaulatan Tuhan tersebut di muka bumi ini, dengan mengetahui dan memahami Kehendak Tuhan melalui berbagai medium, tetapi sebagai medium yang terpenting adalah teks. Dalam proses pemahaman terhadap teks muncullah problem hermeneutis, pada tingkat pertama. Wakil Tuhan terbagi menjadi dua kategori, wakil umum dan wakil khusus. Di mana yang pertama menyerahkan tugas mencari dan mengetahui kehendak Tuhan kepada yang terakhir, lagi-lagi di sini juga memunculkan problem hermeneutis tersendiri. Menarik untuk ditambahkan bahwa dalam melakukan pelimpahan otoritas wakil khusus dan untuk menghindari penyelewengan otoritas tersebut, Abou El Fadl mengajukan lima syarat keberwenangan yang harus dipenuhi wakil khusus ketika ia menerima otoritas yang diberikan wakil umum dan agar wakil khusus tidak menyelewengkannya yang menurut hemat penulis bisa disebut sebagi rinsipprinsip penafsiran, karena tidak hanya berbicara tentang penjagaan otoritas, tapi juga menggagas bagaimana sebuah proses penafsiran menjadi bertanggung jawab. Lima syarat keberwenangan adalah Pertama, kejujujuran (honesty), meiliki kejujuran, dapat dipercaya untuk menjadi wakil dalam memahami perintah Tuhan. Kedua, Kesungguhan (diligence), mengerahkan segenap upaya rasional dalam menemukan dan memahami Kehendak Tuhan. Ketiga kemenyeluruhan (comprehensiveness), melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk memahami Kehendak Tuhan. Keempat, rasionalitas (reasonableness) melakukan upaya penafsiran dan menganalisis perintah-perintah Tuhan secara rasional.

Kelima pengendalian diri (self-restraint) memiliki kerendahan hati dan pengendalian diri dalam menjelaskan Kehendak Tuhan.16 Seorang wakil harus memiliki kewaspadaan untuk menghindari penyimpangan atas peran Tuhan, berarti dia harus mengenal batasan peran yang menjadi haknya saja. Seorang wakil khusus jika tidak memiliki syarat di atas maka akan mudah melakukan pemahaman dan tindakan yang otoriter dengan mengatas namakan Tuhan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Gerak hermenutika tersebut antara lain adalah membutuhkan keseimbangan kekuatan yang harus ada antara maksud teks, pengarang dan pembaca. Dengan kata lain, penetapan makna berasal dari proses yang kompleks, interaktif, dinamis dan dialektis antara ketiga unsur di atas (teks, pengarang dan pembaca). Sementara itu seorang pembaca/penafsir dalam membaca teks agar tidak terjadi penyelewengan otoritas harus memenuhilima syarat keberwenangan sebagai prinsip-prinsip penafsiran yang bertanggung jawab. Antara lain, kejujujuran, kesungguhan, kemenyeluruhan, rasionalitas, dan pengendalian diri. Pada taraf inilah metode istimbat hukum Islam dapat diejawantahkan dalamnorma dan hukum formal syariah yang relevan dan populis dalam kehidupan masyarakat. Hukum Islam yang populis dapat menjadikan masyarakat sejahtera, damai dan ketenangan. Saran Pembahasan dalam Artikel ini telah dipaparkan secara maksimal. Ini adalah titik awal untuk melakukan penelitian dan kajian yang akan datang tentang tema tersebut selayaknya tetap diusahakan. Namun penulis menyadari terhadap kekurangan artikel ini baik dalam hal penelaahan, analisa, penggalian data, serta aspek akademis lainnya. oleh karena itu dari seluruh pihak dan pembaca penulis harapkan kritik konstruktif pada tulisan ini. Dengan memandang hasil penelitian ini, kami menyarankan pada peneliti untuk mengkaji ulang pembahasan ini, dan juga melengkapi segala kekurangan karena setiap penelitian adalah cermin kesetiaan manusia kepada pengetahuan. Wallahu Alam

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

85

Jurnal Hukum Islam Kopertais Wilayah IV Surabaya


(Endtnotes) 1 Muhammad Salman Ghanim, Kritik Ortodoksi: Tafsir Ayat Ibadah, Politik, dan Feminisme, (Yogyakarta: LKiS, 2004), hlm. viii. Lihat juga, Nurcholis Madjid dkk, Fiqh Lintas Agama, Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, (Jakarta: Paramadina, 2004), hlm. 135. Lihat juga, Zuhairi Misrawi dkk, Islam Negara dan Civil Society, Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer, (Jakarta: Paramadina, 2005), hlm. 282300. 2 Khaled M. Abou El-Fadl, Melawan Tentara Tuhan yang Berwenang dan Sewenang-wenang dalam Wacana Islam , Alih Bahasa: Kurniawan Abdullah, (Jakarta: Serambi, 2003), hlm. 25-34. 3 Ibid. 4 Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, terj. R. Cecep Lukman Yasin (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2004), 1. 5 Menurut Arkoun, ada persoalan-persoalan tertentu dalam kultur Islam yang masih tak terpikirkan, sementara itu persoalan-persoalan lainnya tak terpikir. Dengan kata lain, ada sikap mental tertentu yang mencegah umat Islam untuk menggunakan pemikiran atau menggali ideide tertentu. Lihat Ibid., 142; Untuk pemahaman yang lebih komprehensif, lihat Mohammed Arkoun, Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, terj. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: INIS, 1994), bandingkan El Fadl pada abad pra-modern diskusi mengenai persoalan, otoritas mujtahid, keberwenangan sumber dan wakilwakilnya, dan resiko despotisme intelektual ( alistibdd bi al-ray) telah menjadi perdebatan yang sengit tetapi kini mulai terlupakan. El Fadl, Atas, 142; M. Arwan Hamidi, Menghidupkan Kembali Tradisi?, Al-Milah, Edisi XIII (2004), 28-30; Ahmad Baso, Militerisasi Islam: Tesis-tesis Kritik Nalar Politik Islam, materi Belajar Bersama (Yogyakarta: LKiS, tt.), 3-4 6 Zuhairi Misrawi, Khaled Abou El-Fadl Melawan Atas Nama Tuhan, dalam jurnal Perspektif Progresif, Humanis, Kritis, Transformatif, Prastis, Edisi Perdana, Juli-Agustus 2005, hlm. 15. 7 Lihat QS Yusuf: 2. 8 Muhammad Ibnu Luthfi, Lamhat Fi Ulum AlQuran Wa Ittihat Al-tafsir (Beirut: Al-Kutub AlIslami,1990), 151. 9 Khaled M. Abou El-Fadl, Melawan Tentara Tuhan yang Berwenang dan Sewenang-wenang dalam Wacana Islam , Alih Bahasa: Kurniawan Abdullah, (Jakarta: Serambi, 2003) hlm. 54. 10 Ibid., hlm. xvii. 11 Rizal Munstansyir dan Misnal Munir, Filsafat ilmu(yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 107 dan 118-119
12

Sahiron Syamsudi, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Quran Kontemporer. Yogyakarta: Elsaq Press,2008 13 Lihat Al-Baqarah (2): 30, al-Anm (6): 165, alArf (7): 69, 14 Ibid., 26-7 15 Abou El Fadl dengan merujuk kepada R.B. Friedman membedakan antara orang yang memangku otoritas being in authority) dan memegang otoritas (being an authority). Yang pertama diartikan suatu otoritas didapatkan dengan jabatan struktural dan cenderung memaksa kepada orang lain untuk menerima otoritas tersebut. Sedangkan yang kedua suatu otoritas yang didapatkan tanpa jabatan struktural dan paksaan, lebih terbangun dari kesadaran orang lain untuk menerimanya. Lihat ibid., El Fadl, Atas, 37-40 16 Ibid 97-101.

DAFTAR PUSTAKA 1. Khaled M. Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, terj. R. Cecep Lukman Yasin (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2004) 2. Khaled M. Abou El-Fadl, Melawan Tentara Tuhan yang Berwenang dan Sewenangwenang dalam Wacana Islam, Alih Bahasa: Kurniawan Abdullah, (Jakarta: Serambi, 2003) 3. Mohammed Arkoun, Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, terj. Rahayu S. Hidayat (Jakarta: INIS, 1994) 4. Muhammad Ibnu Luthfi, Lamhat Fi Ulum AlQuran Wa Ittihat Al-tafsir (Beirut: Al-Kutub AlIslami,1990) 5. Muhammad Salman Ghanim, Kritik Ortodoksi: Tafsir Ayat Ibadah, Politik, dan Feminisme, (Yogyakarta: LKiS, 2004), hlm. viii. 6. Rizal Munstansyir dan Misnal Munir, Filsafat ilmu(yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001) 7. Sahiron Syamsudi, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al-Quran Kontemporer. Yogyakarta: Elsaq Press,2008 8. Zuhairi Misrawi dkk, Islam Negara dan Civil Society, Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer, (Jakarta: Paramadina, 2005) 9. Zuhairi Misrawi, Khaled Abou El-Fadl Melawan Atas Nama Tuhan, dalam jurnal Perspektif Progresif, Humanis, Kritis, Transformatif, Prastis, Edisi Perdana, JuliAgustus 2005.

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

86