Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN DEPARTEMEN SURGICAL Di Ruang 12 ICU Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang

Oleh : Sri Weni 0810723024

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

1. Pengertian Tumor otak adalah tumor jinak pada selaput otak atau salah satu otak (Rosa Mariono, MA, Standard Asuhan Keperawatan, St. Carolus, 2000) Tumor otak adalah lesi intra kranial yang menempati ruang dalam tulang tengkorak (buku ajar patofisiologi) Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas (maligna), membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase. Apabila selsel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri, disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti ; kanker paru, payudara, prostate, ginjal dan lain-lain, disebut tumor otak sekunder.

2. Epidemiologi Penderita tumor otak lebih banyak pada laki-laki (60,74 persen) dibanding perempuan (39,26 persen) dengan kelompok usia terbanyak 51 sampai 60 tahun (31,85 persen); selebihnya terdiri dari berbagai kelompok usia yang bervariasi dari 3 bulan sampai usia 50 tahun. Dari 135 penderita tumor otak,

hanya 100 penderita (74,1 persen) yang dioperasi penuli,s dan lainnya (26,9 persen) tidak dilakukan operasi karena berbagai alasan, seperti; inoperable atau tumor metastase (sekunder). Lokasi tumor terbanyak berada di lobus parietalis (18,2 persen), sedangkan tumor-tumor lainnya tersebar di beberapa lobus otak, suprasellar, medulla spinalis, cerebellum, brainstem , cerebellopontine angle dan multiple. Dari hasil pemeriksaan Patologi Anatomi (PA), jenis tumor terbanyak yang dijumpai adalah; Meningioma (39,26 persen), sisanya terdiri dari berbagai jenis tumor dan lain-lain yang tak dapat ditentukan. 3. Etiologi Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu : Herediter

Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggotaanggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.

Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)

Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.

Radiasi

Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.

Virus Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.

Substansi-substansi Karsinogenik Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan

Trauma Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf pusat belum diketahui.

4. Klasifikasi a. Berdasarkan jenis tumor 1) Jinak - Acoustic neuroma - Meningioma - Pituitary adenoma - Astrocytoma (grade I) 2) Malignant - Astrocytoma (grade 2,3,4) - Oligodendroglioma - Apendymoma b. Berdasarkan lokasi 1) Tumor intradural a) Ekstramedular - Cleurofibroma - Meningioma

b) Intramedular - Apendymoma - Astrocytoma - Oligodendroglioma - Hemangioblastoma 2) Tumor ekstradural Merupakan metastase dari lesi primer, biasanya pada payudara, prostal, tiroid, paruparu, ginjal dan lambung. 5. Patofisiologi Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor : gangguan fokal disebebkan oleh tumor dan kenaikan tekanan intracranial. Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron. Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer. Serangan kejang sebagai gejala perunahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompesi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Bebrapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat ganggguan neurologist fokal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor : bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Beberapa tumor dapat menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan edema yang disebabkan oleh kerusakan sawar darah otak, semuanya menimbulkan kenaikan volume intracranial dan meningkatkan tekanan intracranial. Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan subaraknoid menimbulkan hidrosefalus. Peningkatan tekanan intracranial akan membahayakan jiwa. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu lama untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat.

Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah intracranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan mengurangi sel-sel parenkim, kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi unkus atau serebelum yang timbul bilagirus medialis lobus temporalis bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesensenfalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak ketiga. Kompresi medula oblogata dan henti pernafasan terjadi dengan cepat. Perubahan fisiologi lain terjadi akibat peningkatan intracranial yang cepat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi), dan gangguan pernafasan. 6. Gejala Klinik Tumor otak merupakan penyakit yang sukar terdoagnosa secara dini, karena pada awalnya menunjukkan berbagai gejala yang menyesatkan dan eragukan tapi umumnya berjalan progresif. Manifestasi klinis tumor otak dapat berupa:

Gejala serebral umum Dapat berupa perubahan mental yang ringan (Psikomotor asthenia), yang dapat dirasakan oleh keluarga dekat penderita berupa: mudah tersinggung, emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial, kehilangan inisiatif dan spontanitas, mungkin diketemukan ansietas dan depresi. Gejala ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus 1. Nyeri Kepala Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut diketemukan 70% kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut, umumnya bertambah berat pada malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Adanya nyeri kepala dengan psikomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak.

2. Muntah Terdapat pada 30% kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior, umumnya muntah bersifat proyektif dan tak disertai dengan mual. 3. Kejang Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila: Bagkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun Mengalami post iktal paralisis Mengalami status epilepsy Resisten terhadap obat-obat epilepsy Bangkitan disertai dengan gejala TIK lain Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak dikorteks, 50% pasen dengan astrositoma, 40% pada pasen meningioma, dan 25% pada glioblastoma.

4. Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial Berupa keluhan nyeri kepala di daerah frontal dan oksipital yang timbul pada pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan enurunan kesadaran. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem. Keadaan ini perlu tindakan segera karena setiap saat dapat timbul ancaman herniasi. Selain itu dapat dijumpai parese N.VI akibat teregangnya N.VI oleh TTIK. Tumor-tumor yang sering memberikan gejala TTIK tanpa gejala-gejala fokal maupun lateralisasi adalah meduloblatoma, spendimoma dari ventrikel III, haemangioblastoma serebelum dan craniopharingioma. Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi: 1. Lobus frontal

Menimbulkan gejala perubahan kepribadian Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral, kejang fokal Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia

2. Lobus parietal

Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmanns

3. Lobus temporal

Akan menimbulkan gejala hemianopsi, bangkitan psikomotor, yang didahului dengan aura atau halusinasi Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala choreoathetosis, parkinsonism.

4. Lobus oksipital

Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang menjadi hemianopsia, objeckagnosia

5. Tumor di ventrikel ke III

Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial mendadak, pasen tiba-tiba nyeri kepala, penglihatan kabur, dan penurunan kesadaran

6. Tumor di cerebello pontin angie

Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma

Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin angel

7. Tumor Hipotalamus

Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan perkembangan seksuil pada anak-anak, amenorrhoe,dwarfism, gangguan cairan dan elektrolit, bangkitan

8. Tumor di cerebelum

Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat erjadi disertai dengan papil udem Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari otot-otot servikal

9. Tumor fosa posterior

Diketemukan gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan nystacmus, biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma.

7. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat kita temukan pada pasien yang menderita tumor otak ialah : a. Gangguan fisik neurologist b. Gangguan kognitif c. Gangguan tidur dan mood d. Disfungsi seksual 8. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan yang dilakukuan untuk mengkaji tumor otak adalah :

Pengkajian saraf Pergerakan mata Penglihatan : penurunan lapang pandang, penglihatan kabur

o o o o o o

Pendengaran : tinitus, penurunan pendengaran, halusinasi Pengkajian reflek Keseimbangan dan koordinasi Penciuman dan sentuhan Abstract thinking Memori Motorik : hiperekstensi, kelemahan sendi Jantung : bradikardi, hipertensi Sistem pernafasan : irama nafas meningkat, dispnea, potensial obstruksi jalan nafas, disfungsi neuromuskuler Sistem hormonal : amenorea, rambut rontok, diabetes melitus

9. Pemeriksaan Diagnostik 1. Arterigrafi atau Ventricolugram ; untuk mendeteksi kondisi patologi pada sistem ventrikel dan cisterna. 2. CT SCAN ; Dasar dalam menentukan diagnosa. 3. Radiogram ; Memberikan informasi yang sangat berharga mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi; posisi kelenjar pinelal yang mengapur; dan posisi selatursika. 4. Elektroensefalogram (EEG) ; Memberi informasi mengenai perubahan kepekaan neuron. 5. Ekoensefalogram ; Memberi informasi mengenai pergeseran kandungan intra serebral. 6. Sidik otak radioaktif ; Memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat radioaktif. Tumor otak mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif 10. Penatalaksanaan Medis a. Pembedahan Pembedahan dilaksanakan untuk menegakkan diagnosis histologik dan untuk mengurangi efek akibat massa tumor. Kecuali pada tipe-tipe tumor tertentu yang tidak dapat direseksi. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pembedahan tumor otak yakni: diagnosis yang tepat, rinci dan seksama, perencanaan dan persiapan pra bedah yang lengkap, teknik neuroanastesi yang baik, kecermatan dan

keterampilan dalam pengangkatan tumor, serta perawatan pasca bedah yang baik, Berbagai cara dan teknik operasi dengan menggunakan kemajuan teknologi seperti mikroskop, sinar laser, ultrasound aspirator, bipolar coagulator, realtime ultrasound yang membantu ahli bedah saraf mengeluarkan massa tumor otak dengan aman. b. Radiotherapi Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan therapi tunggal.Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan.

c. Chemotherapy Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi tetap diperlukan sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada tumor-tumor tertentu seperti meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak, terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif.Pemberian obat-obatan anti tumor yang sudah menyebar dalam aliran darah.Efek samping : lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah terserang penyakit.

d. Manipulasi hormonal. Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah bermetastase e. Terapi Steroid Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak berefek langsung terhadap tumor.

TREPANASI 1. Definisi Craniopharyngioma adalah Tumor otak yang terletak di area hipotalamus di atas sella tursica. Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak. Trepanasi/ kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitif. 2. Indikasi a. b. c. d. e. f. g. h. i. Pengangkatan jaringan abnormal Mengurangi tekanan intracranial Mengevaluasi bekuan darah Mengontrol bekuan darah Pembenahan organ-organ intracranial Tumor otak Perdarahan Peradangan dalam otak Trauma pada tengkorak

3. Manifestasi klinis

1. Penurunan kesadaran 2. Bila hematoma semakin meluas akan timbul gejala di serebri dan gangguan tanda-tanda vital dan pernafasan 3. Terjadi peningkatan TIK setelah pembedahan ditandai dengan muntah proyektil, pusing dan peningkatan tanda-tanda vital

4. Komplikasi Post Operasi 1. Edema cerebral. 2. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral. 3. Hypovolemik syok. 4. Hydrocephalus. 5. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus). 6. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini. 7. Infeksi.

5.Penatalaksanaan

Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. Mempercepat penyembuhan. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. Mempertahankan konsep diri pasien. Mempersiapkan pasien pulang.

6.Perawatan Pasca Pembedahan

Tindakan keperawatan post operasi. 1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output 2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.

3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut. 4. Perawatan luka operasi secara steril. 5. Makanan Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi. Pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral). Biasanya makanan baru diberikan jika: Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif

1. Mobilisasi Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus. Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi dini.

2. Pemenuhan kebutuhan eliminasi Sistem Perkemihan :

Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal. Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi retensio urine. Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah (distensi bulibuli). Dower catheter kaji warna, jumlah urine, out put urine < 30 ml / jam komplikasi ginjal.

Sistem Gastrointestinal :

Mual muntah 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat. Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus. Kaji paralitic ileus suara usus (-), distensi abdomen, tidak flatus. Jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam. Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung. Meningkatkan istirahat. Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah. Memonitor perdarahan. Mencegah obstruksi usus. Irigasi atau pemberian obat.

7.Kriteria Evaluasi Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi; 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan. Luka insisi normal tanpa infeksi. Tidak timbul komplikasi. Pola eliminasi lancar. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :

Pengobatan lanjutan. Jenis obat yang diberikan. Diet. Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan dan kesehatan Riwayat keluarga denga tumor Terpapar radiasi berlebih. Adanya riwayat masalah visual-hilang ketajaman penglihatan dan diplopia Kecanduan Alkohol, perokok berat

Terjadi perasaan abnormal Gangguan kepribadian / halusinasi

b. Pola nutrisi metabolik Riwayat epilepsi Nafsu makan hilang Adanya mual, muntah selama fase akut Kehilangan sensasi pada lidah, pipi dan tenggorokan Kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan Faringeal)

c. Pola eliminasi Perubahan pola berkemih dan buang air besar (Inkontinensia) Bising usus negative

d. Pola aktifitas dan latihan Gangguan tonus otot terjadinya kelemahan otot, gangguan tingkat kesadaran Resiko trauma karena epilepsi Hamiparase, ataksia Gangguan penglihatan Merasa mudah lelah, kehilangan sensasi (Hemiplefia)

e. Pola tidur dan istirahat Susah untuk beristirahat dan atau mudah tertidur f. Pola persepsi kognitif dan sensori Pusing Sakit kepala Kelemahan Tinitus Afasia motorik Hilangnya rangsangan sensorik kontralateral Gangguan rasa pengecapan, penciuman dan penglihatan Penurunan memori, pemecahan masalah kehilangan kemampuan masuknya rangsang visual

Penurunan kesadaran sampai dengan koma. Tidak mampu merekam gambar Tidak mampu membedakan kanan/kiri

g. Pola persepsi dan konsep diri Perasaan tidak berdaya dan putus asa Emosi labil dan kesulitan untuk mengekspresikan

h. Pola peran dan hubungan dengan sesama Masalah bicara Ketidakmampuan dalam berkomunikasi ( kehilangan komunikasi verbal/ bicara pelo )

i. Reproduksi dan seksualitas Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas

j. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah Mekanisme koping yang biasa digunakan Perasaan tidak berdaya, putus asa Respon emosional klien terhadap status saat ini Orang yang membantu dalam pemecahan masalah Mudah tersinggung k. Sistem kepercayaan Agama yang dianut, apakah kegiatan ibadah terganggu Diagnosa Keperawatan Pre-Operasi 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan / pertumbuhan sel-sel kanker 2. Nyeri kepala berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker pada otak/mendesak otak. 3. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan pergerakan dan

kelemahan. 4. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral. 5. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi 7. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan

Post-Operasi 1. Nyeri yang berhubungan dengan efek dari pembedahan 2. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri. 3. Kurang pengetahuan tentang tumor otak yang berhubungan dengan ketidaktahuan tentang sumber informasi 4. Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit kronis dan masa depan yang tidak pasti. Rencana Keperawatan Pre-Operasi Dx 1. Nyeri berhubungan dengan proses pertumbuhan sel-sel kanker Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang Rencana Tindakan: 1. Kaji karakteristik nyeri, lokasi, frekfensi R/ mengtahui tingkat nyeri sebagai evaluasi untuk intervensi selanjutnya 2. Kaji faktor penyebab timbul nyeri (takut , marah, cemas) R/ dengan mengetahui faktor penyebab nyeri menentukan tindakan untuk mengurangi nyeri 3. Ajarkan tehnik relaksasi tarik nafas dalam R/ tehnik relaksasi dapat mengatsi rasa nyeri 4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik R/ analgetik efektif untuk mengatasi nyeri Dx 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan. Tujuan : Kebutuhsn nutrisi dapat terpenuhi setelah dilakukan keperawatan Hasil yang diharapkan: - Nutrisi klien terpenuhi - Mual berkurang sampai dengan hilang.

Rencana tindakan : 1. Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat. R/ Makanan yang hangat menambah nafsu makan. 2. Kaji kebiasaan makan klien. R/ Jenis makanan yang disukai akan membantu meningkatkan nafsu makan klien. 3. Ajarkan teknik relaksasi yaitu tarik napas dalam. R/ Tarik nafas dalam membantu untuk merelaksasikan dan mengurangi mual. 4. Timbang berat badan bila memungkinkan. R/ Untuk mengetahui kehilangan berat badan. 5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin R/ Mencegah kekurangan karena penurunan absorsi vitamin larut dalam lemak Dx 3. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan pergerakan dan kelemahan. Tujuan : Gangguan mobilitas fisik teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Pasien mendemonstrasikan tehnik / prilaku yang memungkinkan dilakukannya kembali aktifitas. Rencana tindakan : 1. Kaji derajat mobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan ( 0-4 ) R / : seseorang dalam semua kategori sama-sama mempunyai resiko kecelakaan. 2. Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan. R / : Perubahan posisi yang teratur meningkatkan sirkulasi pada seluruh tubuh. 3. Bantu untuk melakukan rentang gerak R / : Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi 4. Tingkatkan aktifitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan R / : Proeses penyembuhan yang lambat sering kali menyertai trauma kepala, keterlibatan pasien dalam perencanaan dan keberhasilan. 5. Berikan perawatan kulit dengan cermat, masase dengan pelembab. R / : Meningkatkan sirkulasi dan elastisitas kulit Dx 4. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral. Tujuan : Klien dapat membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat di ekspresikan Kriteria Hasil : Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi Membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan

Menggunakan sumber-sumber dengan tepat Intervensi : 1. Kaji tipe/derajat disfungsi seperti pasien tidak tampak memahami kata atau mangalami kesulitan berbicara atau membuat pengertian sendiri R/ : Membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam bebrapa atau seluruh tahap proses komunikasi. 2. Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik R/ : Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapn yang keluar dan tidak menyadari bahwa komunikasi yang diucapkan tidak nyata. 3. Minta pasien untuk mengikuti perintah sederhana R/ : menilai adanya kerusakan motorik 4. Katakan secara langsung pada pasien, bicara perlahan dan tenang R/ : menurunkan kebingungan/ansietas selama proses komunikasi dan respon pada informasi yang lebih banyak pada satu waktu tertentu. Dx 5. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri. Tujuan : Gangguan harga diri teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Klien dapat percaya diri dengan keadaan penyakitnya. Intervensi: 1. Kaji respon, reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya. R/: Untuk mempermudah dalam proses pendekatan. 2. Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat. R/: Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan. 3. Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di rumah. R/ : Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah. 4. Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan. R/: Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi. Dx 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan penanganan penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi. Tujuan : Pengetahuan pasien bertambah mengenai kondisi dan penanganan penyakit setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Pasien mengerti penyebab ginjal dan komplikasinya. Rencana Keperawatan : 1. Kaji pemahaman pasien, keluarga mengenai penyebab gagal ginjal dan penanganannya. R / : Instruksi dasar untuk penyuluhan lebih lanjut. 2. Jelaskan fungsi renal dan konsekuensinya sesuai dengan tingkat pemahaman

klien. R / : Menambah pengetahuan pasien. 3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara memahami perubahan akibat penyakit. R / : Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah. Dx 7. Kecemasan berhubungan dengan rencana pembedahan Tujuan : Kecemasan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan Hasil yang diharapkan : Kecemasan pasien berkurang Rencana Tindakan: 1. Jelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien R/ pasien kooperatif dalam segala tindakan dan mengurangi kecemasan pasien 2. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan akan ketakutannya R/ untuk mengurangi kecemasan 3. Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa medik R/ memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat 4. Akui rasatakut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan R/ dukungan memampukan pasien memulai membuka/ menerima kenyataan penyakit dan pengobatan Post Operasi Dx 1 : Nyeri yang berhubungan dengan efek dari pembedahan. Tujuan : Nyeri berkurang sampai hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : - Pasien dapat menjalani aktivitas tanpa merasa nyeri - Ekspresi wajah rileks - Klien mendemonstrasikan ketidaknyamananya hilang Rencana Keperawatan : 1. Kaji tingkat nyeri (lokasi, durasi, intensitas, kualitas) tiap 4 6 jam R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya 2. Kaji keadaan umum pasien dan TTV R/ : Sebagai indikator awal dalam menentukan intervensi berikutnya 3. Beri posisi yang menyenangkan bagi pasien R/ : Untuk membantu pasien dalam pengontrolan nyeri 4. Beri waktu istrahat yang banyak dan kurangi pengunjung sesuai keinginan pasien R/ : Dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional 5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat R/ : Membantu dalam penyembuhan pasien

Dx 2. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan, perubahan peran, perubahan citra diri. Tujuan : Gangguan harga diri teratasi setelah dilakuakn tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Klien dapat percaya diri dengan keadaan penyakitnya. Rencana keperawatan : 1. Kaji respon, reaksi keluarga dan pasien terhadap penyakit dan penanganannya. R / : Untuk mempermudah dalam proses pendekatan. 2. Kaji hubungan antara pasien dan anggota keluarga dekat. R / : Support keluarga membantu dalam proses penyembuhan. 3. Libatkan semua orang terdekat dalam pendidikan dan perencanaan perawatan di rumah. R / : Dapat memudahkan beban terhadap penanganan dan adaptasi di rumah. 4. Berikan waktu/dengarkan hal-hal yang menjadi keluhan. R / : Dukungan yang terus menerus akan memudahkan dalam proses adaptasi. Dx 3. Kurang pengetahuan tentang tumor otak yang berhubungan dengan ketidaktahuan tentang sumber informasi Tujuan : Informasi tentang perawatan diri dan status nutrisi dipahami setalah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Sasaran : - Klien menyatakan pemahaman tentang informasi yang diberikan - Klien menyatakan kesadaran dan merencanakan perubahan pola perawatan diri Intervensi : 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien R/ : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dalam penerimaan informasi, sehingga dapat memberikan informasi secara tepat 2. Diskusikan hubungan tentang agen penyebab terhadap penyakit Ca. Paru R/ : Memberikan pemahaman kepada pasien tentang hal-hal yang menjadi pencetus penyakit 3. Jelaskan tanda dan gejala perforasi R/ : Gejala perforasi adalah nyeri pada dada 4. Jelaskan pentingnya lingkungan tanpa stress R/ : Untuk mencegah peningkatan stimulasi simpatis 5. Diskusikan tentang metode pelaksanaan stress R/ : Cara penatalaksanaan stress : relaksasi, latihan dan pengobatan Dx 4 Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit kronis dan masa depan yang tidak pasti. Tujuan : Kecemaskan dapat diminimalkan setelah dilakukan tindakan keperawatan Kriteria Hasil : Kecemasan berkurang. Intervensi :

1. Mendengarkan keluhan klien dengan sabar. R / : Menghadapi isu pasien dan perlu dijelaskan dan membuka cara penyelesaiannya. 2. Menjawab pertanyaan klien dan keluarga dengan ramah. R / : Membuat pasien yakin dan percaya. 3. Mendorong klien dan keluarga mencurahkan isi hati. R / : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi. 4. Menggunakan teknik komunikasi terapeutik. R / : Menjalin hubungan saling percaya pasien. 5. Berikan kenyamanan fisik pasien. R / : Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ketidaknyamanan fisik menetap.

Daftar Pustaka

A.K. Muda, Ahmad, (2003). Kamus Lengkap Kedokteran.Edisi Revisi. Jakarta : Gitamedia Press. Juall Carpenito, lynda RN,(1999).Diagnosa dan Rencana Keperawatan. Ed 3. Jakarta : Media Aesculappius.

Purnawan Ajunadi, Atiek S.seomasto, Husna Ametz,(1982). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius.Fakultas Kedokteran : UI. Syaifuddin.(1997). Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC). Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : Penerbit Kedokteran (EGC)