Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

PNEUMONIA Di Ruang HCU Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang Dengan Kasus Gizi Buruk

Oleh : Sri Weni 0810723024

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

1. Definisi Gizi Buruk Gizi buruk merupakan istilah teknis yang biasanya digunakan oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah kondisi seseorang yang nutrisinya di bawah rata-rata. Hal ini merupakan suatu bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Balita disebut gizi buruk apabila indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) < -3 SD. Keadaan balita dengan gizi buruk sering digambarkan dengan adanya busung lapar. 2. Pengukuran Gizi Buruk Gizi buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain: Pengukuran klinis : metode ini penting untuk mengetahui status gizi balita tersebut gizi buruk atau tidak.Metode ini pada dasarnya didasari oleh perubahanperubahan yang terjadi dan dihubungkan dengan kekurangan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit,rambut,atau mata. Misalnya pada balita marasmus kulit akan menjadi keriput sedangkan pada balita kwashiorkor kulit terbentuk bercak-bercak putih atau merah muda (crazy pavement dermatosis). Pengukuran antropometrik : pada metode ini dilakukan beberapa macam pengukuran antara lain pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan atas. Beberapa pengukuran tersebut, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas sesuai dengan usia yang paling sering dilakukan dalam survei gizi. Di dalam ilmu gizi, status gizi tidak hanya diketahui dengan mengukur BB atau TB sesuai dengan umur secara sendirisendiri, tetapi juga dalam bentuk indikator yang dapat merupakan kombinasi dari ketiganya. Berdasarkan Berat Badan menurut Umur diperoleh kategori : 1. Tergolong gizi buruk jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD. 2. Tergolong gizi kurang jika hasil ukur -3 SD sampai dengan < -2 SD. 3. Tergolong gizi baikjika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD. 4. Tergolong gizi lebih jika hasil ukur > 2 SD.

Berdasarkan pengukuran Tinggi Badan (24 bulan-60 bulan) atau Panjang badan ( 0 bulan-24 bulan) menurut Umur diperoleh kategori : 1. 2. 3. 4. Sangat pendek jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD. Pendek jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD. Tinggi jika hasil ukur > 2 SD.

Berdasarkan pengukuran Berat Badan menurut Tinggi badan atau Panjang Badan: 1. 2. 3. 4. Sangat kurus jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD. Kurus jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD. Gemuk jika hasil ukur > 2 SD.

Balita dengan gizi buruk akan diperoleh hasil BB/TB sangat kurus, sedangkan balita dengan gizi baik akan diperoleh hasil normal. 3. Klasifikasi Gizi Buruk Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 : 3.1 Marasmus Kata marasmus berasal dari bahsa Yunani yang artinya kurus kering. Marasmus merupakan defisiensi intake energi yang umumnya terjadi pada anak-anak sebelum 18 bulan karena terlambat di beri makanan tambahan. Hal ini terjadi karena penyapihan mendadak, formula pengganti ASI yang terlalu encer dan tidak higienis atau sering terkena infeksi terutama gastroentritis. Penyakit ini sering terjadi pada sosial ekonomi yang relatif rendah. Adapun gejala yang ditimbulkan adalah: a. Keterlambatan pertumbuhan yang parah b. Kurus sehingga hampir tidak ada lemak dibawah kulit c. Otot-otot berkurang dan melemah d. Rambut jarang dan tipis e. Kulit tidak elastis dan keriput f. Wajah seperti orang tua g. Cengeng dan rewel h. Perut cekung i. Iga gambang j. Sering terjadi dehidrasi, ISPA, tuberkulosis, cacingan berat dan penyakit kronis lainnya k. Sering disertai defisiensi vitamin A dan D

3.2 Kwashiorkor Kata kwarshiorkor berasal dari bahasa Ghana yang artinya penyakit yang terjadi ketika bayi berikutnya lahir. Istilah kwarshiorkor pertama diperkenalkan oleh Dr. Cecile Williams tahun 1933. Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang inadekuat. Hal ini seperti marasmus, kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk. Penyakit ini lebih banyak diderita pada anak berumur 2-3 tahun, terjadi pada anak yang terlambat pada masa penyapihan. Hal ini menyebabkan komposisi makanan terutama makanan yang mengandung protein kurang dikonsumsi. Adapun gejala yang ditimbulkan adalah: a. b. c. d. e. f. g. Oedema (pembengkakan), moonface dan gangguan psikomotor Anak menjadi apatis, tidak mau makan, suka merengek. Kulit dan rambut mengalami depigmentas, kulit bersisi. Hati membesar dan berlemak. Sering disertai anemia dan xeroftamia. Pandangan mata sayu. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata diperiksa pada posisi berdiri atau duduk. h. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas. i. Sering disertai: penyakit infeksi, umumnya akut, anemia dan diare. Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat menyebabkan perlemakan hati dan oedema. Pada penderita defisiensi protein tidak terjadi proses katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi dengan jumlah kalori yang cukup dalam asupan makanan. Kekurangan protein dalam diet akan menimbulkan kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk sintesis. Asupan makanan yang terdapat cukup karbohidrat menyebabkan produksi insulin meningkat dan sebagian asam amino dari dalam serum yang jumlahnya sudah kurang akan disalurkan ke otot. Kurangnya pembentukan albumin oleh hepar disebabkan oleh berkurangnya asam amino dalam serum yang kemudian menimbulkan oedema. 3.3 Marasmiks-Kwashiorkor Marasmus-kwarshiorkor merupakan gabungan dari keduanya dan tanda-tanda adalah gejala dari keduanya, dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok. ( Modul Gizi Ksehatan Masyarakat, 2008 ).

4. Proses Terjadinya Gizi Buruk Proses terjadinya gizi buruk dimulai dari tahapan ketika seorang anak mengalami gizi kurang (undernutrition). Keadaan ini mengkibatkan anak menglami kegagalan pertumbuhan yang kemudian ia termasuk kedalam tahapan gizi buruk tingkat sedang. Jika asupan zat gizi nya tidak cepat terpenuhi maka berat badan anak akan semakin turun. Hal ini akan menjadi lebih parah jika disertai dengan penyakit infeksi yang disebabkan dari kondisi lingkungan yang tidak sehat. Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya marasmus atau kwashiorkor atau juga kedunya, dan itu artinya bahwa anak sudah masuk kedalam kategori gizi buruk tingkat berat. (Supariyasa, dkk, 2002) 4.1 Penanggulangan Balita Gizi Buruk Dengan dibuatnya prosedur penanggulangan balita gizi buruk oleh (Depkes RI, 2006) dari tingkat Rumah Tangga, tingkat Kecamatan (Puskesmas) sampai tingkat Kabupaten didapatkan hasil sebagai berikut: 4.1.1 Penjaringan kasus balita gizi buruk Diketahui jumlah kasus balita gizi buruk dan gizi kurang masingmasing desa di 25 wilayah kerja puskesmas se-Kabupaten Purworejo. Pada tahun 2004 jumlah bayi dan balita gizi buruk sebanyak 309 anak sedangkan jumlah bayi dan balita gizi kurang sebanyak 1526 anak. 4.1.2 Pelayanan Balita Gizi Buruk di Puskesmas Semua kasus gizi buruk yang dirujuk mendapatkan pelayanan di puskesmas (baik puskesmas dengan rawat inap ataupun tanpa rawat inap maupun rujukan perawatan di Rumah Sakit Umum). Pada tahun 2004 ada tiga balita gizi buruk tanpa komplikasi di rawat di Rumah Sakit Umum Purworejo dan mendapatkan bantuan terapi gizi pasca perawatan serta satu balita mendapatkan bantuan untuk pemberdayaan keluarga. 4.1.3 Pelacakan Balita Gizi Buruk dengan Cara Investigasi Diketahui identitas responden ( data penderita ), keluarga, status kesehatan, kebiasaan makan dan lingkungan tempat tinggal ( rumah ). Semua balita gizi buruk telah dilacak baik oleh Bidan Desa, Petugas Gizi Puskesmas maupun Petugas Gizi Kabupaten 4.1.4 Koordinasi Lintas Sektor Diperoleh dukungan / kesepakatan dengan sektor terkait dalam penanggulangan balita gizi buruk. Pada tahun 2004 bekerjasama

dengan Dinas Pertanian dalam penanggulangan balita gizi buruk dengan memberikan bantuan pangan kepada keluarga miskin di kecamatan Bruno. 5. Faktor risiko Faktor risiko gizi buruk antara lain : - Asupan makanan Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan bergizi seimbang, dan pola makan yang salah. Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan balita adalah air, energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Setiap gram protein menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori, dan karbohidrat 4 kalori. Distribusi kalori dalam makanan balita dalam keseimbangan diet adalah 15% dari protein, 35% dari lemak, dan 50% dari karbohidrat. Kelebihan kalori yang menetap setiap hari sekitar 500 kalori menyebabkan kenaikan berat badan 500 gram dalam seminggu. Setiap golongan umur terdapat perbedaan asupan makanan misalnya pada golongan umur 1-2 tahun masih diperlukan pemberian nasi tim walaupun tidak perlu disaring. Hal ini dikarenakan pertumbuhan gigi susu telah lengkap apabila sudah berumur 2-2,5 tahun. Lalu pada umur 3-5 tahun balita sudah dapat memilih makanan sendiri sehingga asupan makanan harus diatur dengan sebaik mungkin. Memilih makanan yang tepat untuk balita harus menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien, menentukan jenis bahan makanan yang dipilih, dan menentukan jenis makanan yang akan diolah sesuai dengan hidangan yang dikehendaki. Sebagian besar balita dengaan gizi buruk memiliki pola makan yang kurang beragam. Pola makanan yang kurang beragam memiliki arti bahwa balita tersebut mengkonsumsi hidangan dengan komposisi yang tidak memenuhi gizi seimbang. Berdasarkan dari keseragaman susunan hidangan pangan, pola makanan yang meliputi gizi seimbang adalah jika mengandung unsur zat tenaga yaitu makanan pokok, zat pembangun dan pemelihara jaringan yaitu lauk pauk dan zat pengatur yaitu sayur dan buah. Konsumsi protein(OR 2,364) dan energi (OR 1,351) balita merupakan faktor risiko status gizi balita. - Status sosial ekonomi Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup. Sosial ekonomi

merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan. Rendahnya ekonomi keluarga, akan berdampak dengan rendahnya daya beli pada keluarga tersebut. Selain itu rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita. Keadaan sosial ekonomi yang rendah berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapi karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut. Balita dengan gizi buruk pada umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi. Bekerja bagi ibu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Ibu yang bekerja mempunyai batasan yaitu ibu yang melakukan aktivitas ekonomi yang mencari penghasilan baik dari sektor formal atau informal yang dilakukan secara reguler di luar rumah yang akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki oleh ibu untuk memberikan pelayanan terhadap anaknya. Pekerjaan tetap ibu yang mengharuskan ibu meninggalkan anaknya dari pagi sampai sore menyebabkan pemberian ASI tidak dilakukan dengan sebagaimana mestinya. Masyarakat tumbuh dengan kecenderungan bahwa orang yang bekerja akan lebih dihargai secara sosial ekonomi di masyarakat. Pekerjaan dapat dibagi menjadi pekerjaan yang berstatus tinggi yaitu antara laintenaga administrasi tata usaha, tenaga ahli teknik dan ahli jenis, pemimpin, dan ketatalaksanaan dalam suatu instansi baik pemerintah maupun swasta dan pekerjaan yang berstatus rendah antara lain petani dan operator alat angkut. Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kampar Kepulauan Riau terdapat hubungan bermakna status ekonomi dengan kejadian gizi buruk p=0,0001. - Pendidikan ibu Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi. Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang rendah. Adanya pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupan. Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita. Tingkat pendidikan terutama tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi derajat kesehatan karena pendidikan ibu berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan anak. Tingkat pendidikan yang tinggi

membuat seseorang mudah untuk menyerap informasi dan mengamalkan dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan adalah usaha yang terencana dan sadar untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri dan ketrampilan yang diperlukan oleh diri sendiri, masyarakat, bangsa,dan negara. - Penyakit penyerta Balita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya status gizi anak. Penyakitpenyakit tersebut adalah: 1. Diare persisten : Sebagai berlanjutnya episode diare selama 14 hari atau lebih yang dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri). Kejadian ini sering dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal. Diare persisten tidak termasuk diare kronik atau diare berulang seperti penyakit sprue, gluten sensitive enteropathi dan penyakit Blind loop. 2. Tuberkulosis : Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di berbagai organ tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. Bakteri ini tidak tahan terhadap ultraviolet, karena itu penularannya terjadi pada malam hari. Tuberkulosis ini dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru. 3. HIV AIDS : HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiencyvirus. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia ( terutama CD4 positive Tsel dan macrophages komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Penyakit tersebut di atas dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan makanan dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Terdapat hubungan timbal balik antara kejadian penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk. Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap penyakit. Di sisi lain anak yang menderita sakit akan cenderung menderita gizi buruk. - Pengetahuan ibu

Ibu merupakan orang yang berperan penting dalam penentuan konsumsi makanan dalam keluaga khususnya pada anak balita. Pengetahuan yang dimiliki ibu berpengaruh terhadap pola konsumsi makanan keluarga. Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi menyebabkan keanekaragaman makanan yang berkurang. Keluarga akan lebih banyak membeli barang karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan lingkungan. Selain itu, gangguan gizi juga disebabkan karena kurangnya kemampuan ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari.

- Berat Badan Lahir Rendah Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu ini pada umumnya disebabkan oleh tidak mempunyai uterus yang dapat menahan janin, gangguan selama kehamilan,dan lepasnya plasenta yang lebih cepat dari waktunya. Bayi prematur mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim sehingga semakin muda umur kehamilan, fungsi organ menjadi semakin kurang berfungsi dan prognosanya juga semakin kurang baik. Kelompok BBLR sering mendapatkan komplikasi akibat kurang matangnya organ karena prematur. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga dapat disebabkan oleh bayi lahir kecil untuk masa kehamilan yaitu bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan saat berada di dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh keadaan ibu atau gizi ibu yang kurang baik. Kondisi bayi lahir kecil ini sangat tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan. Peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus, bayi,dan anak merupakan faktor utama yang disebabkan oleh BBLR. Gizi buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang.Pada BBLR zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama penyakit infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga asupan makanan yang masuk kedalam tubuh menjadi berkurang dan dapat menyebabkan gizi buruk. - Kelengkapan imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun yaitu resisten atau kebal. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya dapat memberi kekebalan terhadap penyakit tersebut sehingga bila balita kelak terpajan antigen yang sama, balita tersebut tidak akan sakit dan untuk menghindari

penyakit lain diperlukan imunisasi yang lain. Infeksi pada balita penting untuk dicegah dengan imunisasi. Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan terhadap suatu antigen yang dapat dibagi menjadi imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Imunisasi juga dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian, menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit, memperbaiki tingkat kesehatan,dan menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara. Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan sistem kekebalan tubuh balita masih belum sebaik dengan orang dewasa. Sistem kekebalan tersebut yang menyebabkan balita menjadi tidak terjangkit sakit. Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan tubuh balita akan berkurang dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini mempunyai dampak yang tidak langsung dengan kejadian gizi. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali tetapi dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit. Macam- macam imunisasi antara lain: a. BCG : vaksin untuk mencegah TBC yang dianjurkan diberikan saat berumur 2 bulan sampai 3 bulan dengan dosis 0,05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml pada anak disuntikkan secara intrakutan. b. Hepatitis B : salah satu imunisasi yang diwajibkan dengan diberikan sebanyak 3 kali dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.Usia pemberian dianjurkan sekurangkurangnya 12 jam setelah lahir. c. Polio : imunisasi ini terdapat 2 macam yaitu vaksi oral polio dan inactivated polio vaccine.Kelebihan dari vaksin oral adalah mudah diberikan dan murah sehingga banyak digunakan. d. DPT : vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang diinaktivasi. e. Campak : imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Pemberian yang dianjurkan adalah sebanyak 2 kali yaitu pada usia 9 bulan dan pada usia 6 tahun. f. MMR : diberikan untuk penyakit measles,mumps,dan rubella sebaiknya diberikan pada usia 4 bulan sampai 6 bulan atau 9

bulan sampai 11 bulan yang dilakukan pengulangan pada usia 15bulan-18 bulan. g. Typhus abdominal : terdapat 3 jenis vaksin yang terdapat di Indonesia yaitu kuman yang dimatikan, kuman yang dilemahkan, dan antigen capsular Vi polysaccharida. h. Varicella : pemberian vaksin diberikan suntikan tunggal pada usia diatas 12 tahun dan usia 13 tahun diberikan 2 kali suntikan dengan interval 4-8mg. i. i. Hepatitis A: imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya hepatitis A yang diberikan pada usia diatas 2 tahun. j. HiB : Haemophilus influenzae tipe b yang digunakan untuk mencegah terjadinya influenza tipe b dan diberikan sebanyak 3 kali suntikan. Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur, imunisasi yang tidak lengkap terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian gizi buruk OR(95%CI) dari 10,3; p<0.001. ASI Hanya 14% ibu di Indonesia yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI eksklusif kurang dari dua bulan. Hasil yang dikeluarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia periode 1997-2003 yang cukup memprihatinkan yaitu bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sangat rendah.9 Sebanyak 86% bayi mendapatkan makanan berupa susu formula, makanan padat, atau campuran antara ASI dan susu formula. Berdasarkan riset yang sudah dibuktikan di seluruh dunia, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi sampai enam bulan, dan disempurnakan sampai umur dua tahun.29 Memberi ASI kepada bayi merupakan hal yang sangat bermanfaat antara lain oleh karena praktis,mudah,murah,sedikit kemungkinan untuk terjadi kontaminasi,dan menjalin hubungan psikologis yang erat antara bayi dan ibu yang penting dalam perkembangan psikologi anak tersebut. Beberapa sifat pada ASI yaitu merupakan makanan alam atau natural, ideal, fisiologis, nutrien yang diberikan selalu dalam keadaan segar dengan suhu yang optimal dan mengandung nutrien yang lengkap dengan komposisi yang sesuai kebutuhan pertumbuhan bayi. Selain ASI mengandung gizi yang cukup lengkap, ASI juga mengandung antibodi atau zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi. Hal ini yang menyebabkan balita yang diberi ASI, tidak rentan terhadap penyakit dan dapat berperan langsung terhadap status gizi balita. Selain itu, ASI disesuaikan dengan sistem pencernaan bayi sehingga zat gizi cepat terserap. Berbeda dengan susu formula atau makanan tambahan yang diberikan secara dini pada bayi. Susu formula

sangat susah diserap usus bayi. Pada akhirnya, bayi sulit buang air besar. Apabila pembuatan susu formula tidak steril, bayi akan rawan diare. 6.Tatalaksana Anak Gizi Buruk 10 langkah utama tatalaksana gizi buruk, yaitu (Depkes RI, 1999): 1. Pengobatan atau pencegahan hipoglekimia adalah bila anak sadar berikan makanan saring/cair 2-3 jam sekali, atau larutan air gula dengan sendok bila anak tidak dapat makan. Jika terdapat gangguan kesadaran diberikan infuse cairan glukosa dan segera dirujuk ke RSU kabupaten. 2. Pengobatanh dan pencegahan hypothermia adalah menghangatkan anak dengan mendekap anak di dada ibu/ orang dewasa lainnya dan ditutupi selimut atau membungkus anak dengan selimut tebal dan meletakkna lampu di dekatnya. Pada masa ini dilakukan pengukuran suhu anak pada dubur setiap setengah jam sekali. 3. Pengobatan dan pencegahan kekurangan cairan adalah dengan tetap memberikan ASI setiap setengah jam sekali jika anak masih menyusui dan memberikan minum 3 sendok makan setiap 30 menit, jika anak tidak dapat minum diberikan infuse cairan ringer lactate/glukosa 5% NaCl dengan perbandingan 1:1. 4. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit dengan memberikan makanan tanpa garam/rendah garam dan bila balita bisa makan maka diberikan makanan banyak mengandung mineral dalam bentuk lunak. 5. Pengobatan dan pencegahan infeksi, yaitu pada KEP berat/gizi buruk, umunya menunjukkan adanya infeksi seperti demam, oleh karena itu pada semua KEP berat/ gizi buruk secara rutin diberikan antibiotik, serta vaksinasi campak bila anak belum di imunisasi dan umur sudah mencapai > 9 bulan. 6. Pemberian makanan balita KEP berat/gizi buruk dibagi atas tiga fase, yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi. Pada awal fase stabilisasi perlu dilakukan pendekatan yang sangat hati-hati, disebabkan keadaan faal anak sangat lemah dan kapasitas homeostatik berkurang. 7. Perhatikan masa tumbuh kejar balita yang meliputi dua fase, yaitu fase transisi dan fase rehabilitasi. 8. Penanggulangan kekurangan zat gizi mikro dilakukan dengan hati-hati, jangan memberikan zat besi pada masa stabilisasi karena dapat memperburuk keadaan infeksi, berikan pada saat anak sudah mau makan dan berat badannya sudah mulai naik (biasanya pada minggu ke 2).

9. Memberikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional, yaitu berupa kasih sayang, ciptakan lingkungan yang menyenangkan, berikan terapi bermain terstruktur selama 15-30 menit/hari, rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh meningkatkan keterlibatan ibu. 10. Tindak lanjut perawatan dirumah dilakukan bila berat badan anak sudah berada di garis warna kuning dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan desa. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah setelah pasien dipulangkan.

Pathway

ASUHAN KEPERAWATAN MARASMUS

A. Pengkajian 1. Identitas a. Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan & kontak dengan klien tentang : nama perawat, nama klien, panggilan perawat, panggilan klien, tujuan waktu, tempat, pertemuan, dan topik yang akan dibicarakan. b. Usia dan nomor Rekam Medik. c. Mahasiswa menuliskan sumber data yang di dapat. 2. Alasan Masuk a. Tanyakan kepada klien / keluarga yang datang : b. Apa yang menyebabkan klien / keluarga datang ke rumah sakit ini? 3. Focus pengkajian marasmus menurut Mi Ja Kim adalah : a. Data Subjektif 1) Rasio berat badan a) Kehilangan BB dengan asupan makan yang adekuat. b) BB 20% atau lebih dibawah BB ideal untuk tinggi badan & bentuk tubuh yang normal. 2) Tinggi aktivitas Berkurangnya aktivitas tampak pada kebanyakan kasus marasmus. Anak tampak lesu dan tidak bergairah & pada anak yang lebih tua terjadi penurunan produktivitas kerja. 3) Masukan atau intake nutrisi a) Melaporkan asupan makan yang tidak adekuat kurang dari jumlah harian yang dianjurkan. b) Melaporkan / terlihat kurang makan. 4) Diet Melaporkan perubahan dalam hal merasakan makanan. 5) Pengetahuan tentang nutrisi Memperlihatkan / terobservasi kurangnya pengetahuan dalam perilaku peningkatan kesehatan. b. Data Objektif 1) Data umum a) Perubahan rambut Warnanya lebih muda (coklat, kemerah-merahan dan lurus, panjang, halus, mudah lepas bila ditarik). b) Warna kulit lebih muda Seluruh tubuh / lebih sering pada muka, mungkin menampakan warna lebih muda daripada warna kulit anak sehat. c) Tinja encer Disebabkan gangguan penyerapan makan, terutama gula. d) Adanya ruam bercak bersepih Noda warna gelap pada kulit, bila terkelupas meninggalkan warna kulit yang sangat muda / bahkan ulkus di bawahnya. e) Gangguan perkembangan & pertunbuhan f) Hilangnya lemak di otot & bawah kulit karena makanan kurang mengandung kalori dan protein. g) Adanya perut yang membuncit atau cekung dengan gambaran

usus yang jelas. h) Adanya anemia yang berat Kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi, asam folat dan berbagai vitamin. i) Mulut dan gigi Adanya tanda luka di sudut-sudut mulut. j) Kaji adanya anoreksia, mual. B. Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakseimbangan nutisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. 2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi. 3. Resiko infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun. 4. Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan malnutrisi. 5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, diit, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. C. Intervensi 1. Diagnosa : Ketidakseimbangan nutisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. NOC : status nutrisi : intake nutrisi dan cairan. Kriteria hasil : a Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan. b Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi. c Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. d Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti. Skala Nilai : 1 : tidak pernah menunjukkan 2 : jarang menunjukkan 3 : kadang-kadang menunjukkan 4 : sering menunjukkan 5 : selalu menunjukkan NIC : Nutrition Monitoring Intervensi : 1. BB pasien dalam batas normal. 2. Monitor adanya penurunan berat badan. 3. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi. 4. Monitor turgor kulit. 5. Monitor kekeringan,rambut kusam dan mudah patah. 6. Monitor pertumbuhan dan perkembangan. 7. Monitor kalori dan intake nutrisi.

2. Diagnosa : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi. NOC : Tissue Integrity : skin and mucous membranes. Kriteria hasil : a. Integritas kulit yang baik bias dipertahankan. b. Tidak ada luka / lesi pada kulit. c. Perfusi jaringan baik. d. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang. e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan perawatan alami. Skala Nilai : 1 : tidak pernah menunjukkan 2 : jarang menunjukkan 3 : kadang menunjukkan 4 : sering menunjukkan 5 : selalu menunjukkan NIC : Tissue integrity;skin and mucous. Intervensi : 1. Monitor kulit akan adanya kemerahan. 2. Oleskan lotion pada derah yang tertekan. 3. Mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali. 4. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering. 3. Diagnosa : Resiko infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun NOC : Risk Control Kriteria hasil : a. Kenali faktor resiko infeksi b. Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko. c. Monitor perubahan status kesehatan. d. Mendorong gaya hidup status kesehatan (dari status kesehatan yang buruk ke status kesehatan yang baik). e. Menunjukan perilaku hidup sehat. Skala Nilai : 1 : tidak pernah dilakukan 2 : jarang dilakukan 3 : kadang dilakukan 4 : sering dilakukan 5 : selalu dilakukan NIC : Infection Protection Intervensi : 1. Monitor tanda dan gejala infeksi. 2. Monitor kerentanan terhadap infeksi. 3. Batasi pengunjung.

4. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan dan panas. 5. Ajarkan cara menghindari infeksi. 6. Instrusikan pasien untuk minum obat antibiotik sesuai resep. 4. Diagnosa : Keterlambatan tumbuh kembang berhubungan dengan malnutrisi NOC : Neglect Recorvery Kriteria hasil : a. Nutrisi adekuat. b. Mendapatkan diet yang dianjurkan. c. Pertumbuhan & perkembangan dalam batas normal. d. Kemampuan kognitif dalam batas yang sesuai. e. Mendapat perawatan yang sesuai. Skala Nilai : 1 : tidak pernah menunjukkan 2 : jarang menunjukkan 3 : kadang menunjukkan 4 : sering menunjukkan 5 : selalu menunjukkan NIC : Management behavior Intervensi : 1.Gunakan suara yang lembut dan pelan dalam berbicara dengan pasien. 2. Tingkatkan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuan. 3. Diskusikan dengan keluarga untuk membuat dasar kognitif prainjury. 4. Buat rutinitas untuk pasien. 5. Hindari untuk menyudutkan pasien. 6. Hindari untuk membantah pasien. 5. Diagnosa : Kurang pengetahuan mengenai kondisi, diit, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. NOC : Knowledge : disease process Kriteria hasil : a. Menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis, dan program pengobatan. b. Mampu malaksanakan prosedur yang dijelaskan. c. Mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat / tim kesehatan lainnya. Skala Nilai : 1 : tidak pernah dilakukan 2 : jarang dilakukan 3 : kadang dilakukan 4 : sering dilakukan

5 : selalu dilakukan

NIC : Teaching ;Disease Process Intervensi : 1.Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit. 2. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit. 3. Gambarkan proses penyakitnya. 4. sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara tepat. 5. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.

DAFTAR PUSTAKA

Behrman, R. E. 1999. Ilmu Kesehatan Anak:Nelson, Edisi 15, vol 1. Jakarta:EGC Johnson, Marion dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). Mosby Lubis, N. U. 2002. Penatalaksanaan Busung Lapar Pada Balita. http://www.cermin dunia kedokteran.com. diperoleh tanggal 4 Juni 2008 Mansjoer,Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2. Jakarta: Media Aescullapius. Markum, A, H. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 1. Jakarta : FKUI. McCloskey, Joanne C. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC). Mosby NANDA .2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 20052006: Definisi & Klasifikasi, Alih Bahasa: Budi Santoso. Prima Medika Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit, Edisi . Jakarta : EGC No Name. 2008. Marasmus. http://www.dokterfoto.com. diperoleh tanggal 4 Juni 2008 Staf pengajar ilmu keperawatan anak. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI.

Anda mungkin juga menyukai