Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN KISTA OVARIA

1. Definisi Kista adalah pembesaran suatu organ yang didalamnya berisi cairan/ jenistumor yang berupa kantung abnormal yang berisi cairan. Kista ovari adalah: tumor yang berupa kantung abnormal yang berisi cairan yang terdapat di indung telur yang biasanya bertangkai, bilateral (Saraswati,2002:138).

2. Patofisiologi (Smeltzer, Suzanne C. 2005) Sebuah ovarium terletak disetiap sisi uterus, di bawah dan di belakang tubafalopii. Dua ligamen mengikat ovarium pada tempatnya, yakni bagian messovariumligamen lebar uterus, yang memisahkan ovarium dari sisi dinding pelvis lateral kira-kira setinggi spina illiaka anterior superior, dan ligamentum ovarii propium, yangmengikat ovarium ke uterus. Pada palpasi, ovarium dapat digerakkan. Ovarium memiliki asal yang sama (homolog) dengan testis pada pria.Ukuran dan bentuk ovarium menyerupai sebuah almond berukuran besar. Saatovulasi, ukuran ovarium dapat berubah menjadi dua kali lipat untuk sementara.Ovarium yang berbentuk oval ini memiliki konsistensi yang padat dan sedikitkenyal. Sebelum menarche, permukaan ovarium licin. Setelah maturasi seksual,luka parut akibat ovulasi dan ruptur folikel yang berulang membuat permukaannodular menjadi kasar. Ovarium terdiri dari dua bagian: 1) Korteks Ovarii Mengandung folikel primordial, berbagai fase pertumbuhan folikel menujufolikel degraf, serta terdapat korpus luteum dan albicantes 2) Medula Ovarii Terdapat pembuluh darah, limfe, dan serat saraf Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan memproduksihormon. Saat lahir, ovarium wanita normal mengandung sangat banyak ovum primordial (primitive). Di antara interval selama masa suburnya (umumnya setiap bulan), satu atau lebih ovum matur dan mengalami ovulasi. Ovarium juga

merupakan tempat utama produksi hormone seks steroid (estrogen, progesterone,dan androgen) dalam jumlah banyak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan fungsi wanita normal.
1

Kista tumbuh pada jaringan sisa ovarium atau pada ovarium kontralateral,dan berkembang dari sel-sel otot polos di ovarium. Kemudian kista terbentuk akibatsuatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung telur yang dibungkus olehsemacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar ovarium.

3. Etiologi Sampai sekarang ini penyebab dari kista ovarium belum sepenuhnyadimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovarium-hipotalamus (Anurogo, 2009). Kista ovarium disebabkan oleh gangguan
2

(pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis, dan ovarium. Gagalnya sel telur (folikel) untuk berovulasi. Adapun faktor predisposisi dari kista ovarium menurut (Smeltzer,Suzanne C. 2005) antara lain: 3.1 Gaya hidup tidak sehat. 1) Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang seratLemak susah dipecah oleh tubuh, dan dapat berlanjut dengan gangguanhormon sehingga dapat berlanjut dengan kista 2) Zat tambahan pada makanan, merokok, konsumsi alcohol, terpapar oleh polusi dan agen infeksiusZat tambahan pada makanan yang mengandung MSG serta pengawet,terpapar oleh polusi, kebiasaan mengkonsumsi alkhohol, dan

seringnyamenghisap rokok menambah jumlah zat karsinogenik dalam tubuh yang dapatmemicu terjadinya kista. 3) Kurang olah raga 4) Sering stressPola hormon sangat dipengaruhi oleh stres, sehingga menyebabkan jumlahhormon tidak terkendali/terganggu. Hal ini berdampak pada perkembangankista yang tergantung pada hormonal, seperti endometriosis dan kista polikistik.

3.2 UsiaKista ovarium fungsionl terjadi pada semua umur, tetapi kebanyakan padawanita di masa reproduksi. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahankadar hormon yang terjadi selama siklus haid. 3.3 Ovulasi yang terus berlangsung tanpa interupsi dalam waktu yang lama 3.4 Penggunaan pil KBKontrasepsi pil mengandung hormone yang berfungsi menekan terjadinyaovulasi sehingga dapat mempengaruhi terjadinya kista. 3.5 Nulipara dan InfertilitasKedua faktor ini dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya kista karena pada nulipara (Individu yang belum pernah melahirkan) dan infertilitas tidak pernah mengalami proses laktasi yang berkaitan dengan sistem hormonalwanita. 3.6 Faktor genetik 3 Dalam tubuh kita terdapat gen-gen yang berpotensi memicu kanker, yaituyang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karenamakanan yang bersifat karsinogen, polusi, atau terpapar zat kimia tertentuatau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitugen pemicu kanker.
3

4. Manifestasi Klinis Menurut Smeltzer (2005:1159) banyak tumor ovarium tidak menunjukangejala dan tanda terutama tumor ovarium yang kecil. Sebagian gejala dan tandaadalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi dari tumor tersebut. Gejala umum kista bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal berupa: 1. Haid tidak teratur 2. Nyeri pada saat haid 3. Menoragia 4. Nyeri tekan pada payudara 5. Menopause dini 6. Rasa tidak nyaman pada abdomen 7. Sering berkemih atau bisa juga retensi urine 8. Lingkar abdomen yang terus meningkat

5. Klasifikasi Diantara tumor-tumor ovarium, ada yang bersifat neoplastik dan ada yang bersifat nonneoplastik (Lukman, 2010 dan Prawirohardjo, 1999:355): 5.1 Kista neoplastik Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan tumor ganas. 5.1.1 Bersifat jinak berupa spot dan benjolan yang tidak menyebar. Meski jinak kista ini dapat berubah jadi ganas 1. Kista dermoid Merupakan jenis tumor jinak kadang-kadang disebut sebagai dewasa teratomakistik. Ini adalah kista abnormal yang biasanya mempengaruhi wanita mudadan dapat tumbuh sampai 6 inci diameter. Sebuah kista dermoid dapat berisi jenis lain pertumbuhan jaringan tubuh seperti lemak dan kadang-kadangtulang, rambut, dan tulang rawan.

2. Kista endometroid Kista jenis ini terbentuk ketika jaringan endometrium (jaringan lapisan rahim)hadir pada ovarium. Ini mempengaruhi perempuan selama tahun-tahunreproduksi dan dapat menyebabkan nyeri panggul kronis yang berhubungandengan menstruasi. Kista endometrioid, seringkali isi cairan berwarna gelapatau darah coklat kemerahan, dengan ukuran 0,75-8 inci.

3. Cystadenoma5 Cystadenoma adalah jenis tumor jinak yang berkembang dari jaringanovarium, berisi bahan cairan lendir dan dapat menjadi sangat besar sekitar 12inci atau lebih.

5.1.2 Bersifat ganas Kista ini biasanya mengarah ke kanker dan biasanya bersekat dengan dinding sel tebal dan tak teratur.

5.2 Kista ovari non neoplastik 1. Follicular kista ini jenis kista sederhana dapat terbentuk ketika ovulasi tidak terjadi atauketika involutes folikel matang (runtuh dengan sendirinya). Sebuah kistafolikuler
5

biasanya bentuk pada saat ovulasi dan dapat tumbuh menjadi sekitar 2,3 inci diameter. Pecahnya kista jenis ini dapat membuat sakit parah yangtajam di sisi kista ovarium yang muncul. Biasanya, kista ini tidak menghasilkan gejala dan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan.

2. Kista Corpus luteum Jenis kista ovarium fungsional terjadi setelah telur telah dilepaskan darifolikel. Setelah ini terjadi, folikel menjadi korpus luteum. Jika kehamilantidak terjadi, korpus luteum biasanya rusak dan hilang. Biasanya, kista iniditemukan hanya pada satu sisi dan tidak menghasilkan gejala.

3. Kista Dengue Merupakan jenis kista fungsional terjadi ketika perdarahan terjadi di dalam kista. Gejala sepertisakit perutpada satu sisi tubuh.

6. Komplikasi Menurut Sjamsuhidajat (2004:962) komplikasi dari kista adalah: 1. Adanya perdarahan kedalam kista sehingga menyebabkan pembesaran kistadan menimbulkan gejala klinik yang minimal tetapi jika perdarahan banyak akan terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perutmendadak. 2. Infeksi pada tumor jika dekat tumor ada sumber kuman pathogen sepertiapendiksitis. 3. Putaran tangkai menyebabkan tarikan gangguan melalui sirkulasi. Adanya putaran

tangkaimenimbulkan

ligamentum

infundibulopelvikum

terhadap peritoneum parietal dan ini menimbulkan rasa sakit. 4. Perubahan keganasan yang terjadi pada kista yang jinak.

7. Pemeriksaan Klinis (Sjamsuhidajat, 2004) Kebanyakan wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki gejala. Namun kadangkadang kista dapat menyebabkan beberapa masalah seperti: 1. Berdasarkan keluhan a. Discomfort perut bagian bawah b. Teraba benjolan pada perut bawah 2. Pemeriksaan teraba tumor diluar uterus a. Terpisah dengan uterus diluar uterus atau masih melekat b. Konsistensi kistik atau solid c. Permukaan dapat rata atau berbenjol-benjol d. Masih dapat digerakkan atau terfiksir

8. Pemeriksaan Diagnostik Menurut Sjamsuhidajat (2004:961) metode yang digunakan dalammendiagnosa kista: 1. Laparas copy Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak dan untuk menentukan sifat dari tumor itu 2. Ultrasonografi.Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakahtumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat dibedakan pula antara cairan dalam rongga perutyang bebas dan yang tidak.
7

3. Pemeriksaan hormon dalam darah akan memperlihatkan kadar androgen danestrogen sehingga FSH dan LH meningkat dan merangsang ovulasi.

9. Penatalaksanaan Menurut Lukman (2010) dan Smeltzer (2005) penatalaksaan dari kista adalah: 1) Konservatif Biasanya melalui pemberian dilakukan klomifem pada dan kista pemberian yang obat bersifat anti non neoplastik untuk

estrogen

menurunkanestrogen sehingga FSH dan LH meningkat dan merangsang ovulasi. 2) Pembedahan a) Jika tumornya tidak memberi gejala atau keluhan dan besarnya tidak lebih dari 5 cm, kemungkinan kista tersebut adalah kista folikel. b) Tindakan operasi pada tumor neoplastik yang tidak ganas adalah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovariumyang mengandung tumor. c) Jika tumornya besar dan perlu dilakukan pengangkatan ovarium biasanya disertai dengan pengangkatan tuba (salpingo-offorektomi). d) Jika terdapat keganasan operasi yang tepat adalah histerektomi

dansalpingoovarektomi bilateral. 3) Ciri kista yang perlu dioperasi diantaranya dengan indikasi: a) Kista berdiameter lebih besar dari 5 cm dan telah diobservasi 6-8 minggu tanpa ada pengecilan tumor. b) Ada bagian padat dari dinding tumor. c) Dinding tumor bagian dalam berjonjot. d) Dugaan terpelintir atau pecah.

B. Konsep Pembiusan Anestesi (pembiusan; aesthtos,"persepsi, berasal dari bahasa merasa"), Yunani an-"tidak, secara umum tanpa" berarti dan suatu

kemampuan

untuk

tindakanmenghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Konsep Pembiusan menurut (Oswari E, 2003: 34-37) antara lain:
8

1. Anastesi General (umum) Anastesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa sakit/nyeri secara sentraldan disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible). Obat untuk anastesi umum ada yang berupa gas dan cairan. Cara pemberian obat bius dapatdilakukan melalui tiga cara yaitu melalui isapan gas obat bius, menyuntikkan cairanobat bius, dan memasukkan obat bius kedalam rektum. Anastesi umummenyebabkan mati rasa karena obat ini masuk kejaringan otak dengan tekanansetempat yang tinggi.

1.1 Alat dan Obat Terdiri dari mesin anastehesi (general-dreger) yang dilengkapi mesin

monitor.Obat: yang terdiri dari analgesic, obat untuk melemaskan otot atau merelaksasi,antara lain: Fortanes, Propofol, Fentanyl, Notrixum, Lidocain, Recofol, Remopain,Sulfas Atrophin, Cedantron. Semuanya terlebih dahulu telah disiapkan dalamspuit.Intubasi: xylocain spray. ETT dalam beberapa ukuran, laryngoscope, stilet, fiksasi, spuit 25cc, suction, oksigen bag and mask, stestoskop.

1.2 Tahapan Pembiusan Kedalaman anastesi umum dibagi dalam empat stadium, yaitu: 1) Stadium I atau stadium analgesia Stadium ini tercapai pada saat pasien menghirup obat bius. Saat ini pasienmerasa pusing dan seakan-akan melayang, telinga merasa berdenging dan bising. Kesadaran pasien masih ada tapi tidak dapat berbuat apa-apa, merasaseakan-akan seluruh badan lumpuh. Pasien menjadi sangat perasa terhadapsuara, suara bisikan terdengar sebagai teriakan yang menggaum.Tanda-tanda stadium I: ukuran pupil masih seperti biasa, refleks pupil masihkuat, pernafasannya tidak teratur, nadi tidak teratur sedangkan tekanan darah tidak berubah. 2) Stadium II Pada stadium ini operasi belum boleh dimulai, ukuran pupil seperti biasa, refleks pupilkuat, pernapasannya tidak teratur, nadi tidak teratur dan cepat,tekanan darah meninggi 3) Stadium III
9

Pada stadium ini telah tercapai mati rasa sempurna. Semua refleks permukaan telah hilang, tetapi refleks vital seperti denyut jantung dan pernapasan seperti biasa. Ukuran pupil mulai mengecil, tidak bergerak bila diberi cahaya, danrefleks bola mata tidak ada, pernapasan teratur dan dalam, denyut nadi agak lambat. 4) Stadium IV Pusat pernapasan yang terletak dibatang otak (medulla oblongata) menjadi lumpuh, sehingga pernapasan berhenti sama sekali. Bila pembiusan tidak segera dihentikan dan dibuat nafas buatan, jantungpun akan segera berhenti,disusul dengan kematian.

1.3 Teknik anestesi general Terbagi atas tiga tahapan, yaitu: 1) Induksi 2) Intubasi 3) Rumatan 4) Ekstubasi (1) Induksi dan oksigenasi a) Pemberian obat-obat induksi intravena b) Pemberian O2 menggunakan sungkup minimal 2 menit (2) Intubasi trakea Adalah memasukkan pipa endotrakeal kedalam trachea sehingga jalan nafas bebas dan nafas mudah dikendalikan. Tujuannya dan mempertahankan jalan nafas, aspirasi,

mempermudah

pemberian

ventilasi

oksigenasi,

mencegah

pembersihansaluran trakeobronkial. (3) Rumatan anastesi Mengacu pada trias anastesi, yaitu: a) Tidur ringan (hipnosis) b) Selama pembedahan tidak merasa nyeri (analgesia) c) Relaksasi otot cukup Bisa dengan: a) Intravena (anastesi intravena total/TIVA) b) Inhalasi (gas) Pemantauan anastesi selama operasi berlangsung:
10

a) TTV (pernafasan, tekanan darah, nadi) b) Kedalaman anastesi (adanya gerakan, batuk, mengedan, perubahan polanafas, takikardia, hipertensi, keringat, airmata) c) Cairan: pemasukan dan pengeluaran

(4) Ekstubasi Melepas pipa endotrakeal. Ekstubasi terbaik pada saat pasien dalam anastesiringan dengan catatan tidak ada spasme laring. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar bila instubasi mengalami kesulitan, pasca intubasi ada resikoaspirasi. Bila keadaan pasien tidak memungkinkan dilakukan anastesi umum, makadilakukan anastesi regional.

2. Anastesi regional Anastesi regional dapat dilakukan melalui: 1) Anastesi lumbalYaitu dengan menyuntik obat anastesi melalui pungsi lumbal kedalam ronggasubaraknoid, obat yang masuk itu akan mematirasakan akar saraf yang keluar darisumsum tulang belakang, Anstesi untuk dada, perut, anggota bawah dapatdilakukan melalui suntikan obat bius kedalam rongga subaracnoid yang disebutanastesi lumbal. Obat disuntikan melalui pungsi llumbal yaitu sekutar tulang lumbalketiga dan kelima (L3-L4-L5). Tidak boleh ditusuk lebih tinggi agar tidak menusuk sumsum tulang belakang. Bila disuntikan kedalam rongga epidural, maka terjadilah blockade kaudal yang disebut anastesi epidural. Pasien yang mendapat anastesispinal tetap sadar, sehingga dapat mendengar semua pembicaraan. Oleh karena itu jangan membicarakan keadaan pasien didepannya. Obat yang dipakai adalah prokain, pantokain, intrakain, nuperkain, dan sebagainya. Keuntungan anastesispinal ialah menimbulkan kelumpuhan otot (relaksasi otot) yang juga sempurna.Kerugiannya adalah cara ini tidak cocok untuk anak-anak. Selain itu, sekali obat dimasukkan, tidak dapat dikeluarkan lagi dan lamanya terjadi anastesi pun agak kurang pasti walaupun kita dapat mengarungginya. Tekanan darah menurun, hal inidisebbakan terjadinya kelumpuhan saraf pembuluh darah (vasomotor).

Untuk mencegah penurunan tekanan darah itu, sebelum dilakukan anstesi lumbal
11

(spinal)terlebih dahulu disuntik ependrin atau atau methoxamine. Selama anastesi lumbalatau setelah selesai pemberian mual, muntah dan sakit kepala 2) Anastesi peridural Yaitu, obat dimasukkan melalui pungsi lumbal , tetapi jarum suntik dimasukansampai ke rongga peridural saja 3) Anastesi blok Yaitu obat langsung disuntikkan kesekitar saraf atau ke pangkal saraf Bila ahli badah hendak mengoprasi lengan, maka dapat dilakukan anastesi blok pada pleksusbrakialis. Daerah yang akan disayat atau dioperasi , disuntik secara meratadengan obat anastesi local. Untuk mengurangi perdarahan dapat dicampur denganadrenalin sebab adrenalin yang menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah. 4) Anastesi infiltrasiYaitu dengan menyuntikan obat anastesi langsung ke ujung-ujung saraf dibawahkulit 5) Anastesi topicalYaitu dengan mengoleskan atau menyemprokan obat anstesi ke permukaan kulitatau selaput lender, sehingga ujung-ujung saraf dibawahnya menjadi mati rasa.

2.2 Indikasi Anastesi SAB Menurut Mangku (2010), indikasi SAB adalah sebagai berikut : 1) Abdominal bawah dan inguinal 2) Anorektal dan genetalia eksterna 3) Ekstermitas interior

2.3 Kontraindikasi Anastesi SAB Menurut Mangku (2010), Kontarindikasi anastesi SAB adalah sebagai berikut :13 1. Pasien tidak kooperatif 2. Gangguan faal hemostatis 3. Penyakit-penyakit saraf otot 4. Infeksi diderah lumbal 5. Dehidrasi 6. Syok 7. Anemia 8. SIRS (systemic inflamator response syndrom)
12

9. Kelainan tulang belakang (termasuk arthritis dan kelainan anatomi tulang belakang). 2.4 Komplikasi post anastesi SAB Menurut Mangku (2010), Kontarindikasi anastesi SAB adalah sebagai berikut : 1. Bradikardi dan hipotensi 2. Hipoventilasi sampai henti nafas 3. Blok spinal total 4. Mengigil 5. Nyeri kepala dan nyeri pinggang 6. Retensi urine 7. Kegagalan blok.

KONSEP KEPERAWATAN PERIOPERATIF Menurut Fransiska. B (2009) dan Sylvia, (2006) istilah yang digunakan

untuk menggambarkan fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan:Praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif. 1. Fase praoperatif Dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktifitas keperawatan, penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik atau di rumah, menjalani wawancara praoperatif, dan menyiapkan pasien untuk anestesi pada pembedahan. 2. Fase Intraoperatif Dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau departemen bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Lingkup aktifitas keperawatan:memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauanfisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. 3. Fase Pascaoperatif Dimulai pada saat pasien masuk ke ruang pemulihan dan berakhir denganevaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah.

13

1. Pengkajian 1. 1 Pengumpulan data 1. Identitas klienSering terjadi pada wanita berusia 20-50 tahun 2. Keluhan utamaPre Operasi: Biasanya timbul nyeri mendadak saat haid diperut bagian bawah.Intra operasi: Tidak ada keluhan karena masih dalam pengaruh anastesigeneral.Post operasi: Nyeri pada bagian insisi. 3. Riwayat penyakit sekarang Pre Operasi: Biasanya adanya gangguan pada siklus mensturasi, disminorea, amenorea. 4. Riwayat penyakit dahuluKeadaan atau penyakit-penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang berhubungan dengan tumor. 5. Riwayat obstetricMeliputi kapan mendapat menarce pertama kali, berapa lama siklus haid, jumlah darah yang keluar, keluhan waktu haid, riwayat penggunaan KB(Sarwono, 1994). 6. Data psikososialPre Operasi: adanya benjolan yang membesar disertai rasa nyeri saat haid,menimbulkan kecemasan, stress, takut tentang diagnose, tindakan, prognosa,harapan yang akan datang.Intra operasi: Pasien tidak merasakan apapun karena dalam pengaruh anastesigeneral.Post Operasi: Merasa sedikit tenang karena operasi sudah selesai dilakukan.

1.2 Pola kebutuhan dasar sehari-hari 1. Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi Pre Operasi: Kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, aditif, bahan pengawet), anoreksia, mual muntah, perubahan berat badan.Intra operasi: Pasien masih dalam pengaruh anastesi.Post operasi: klien masih puasa, mual-muntah efek anastesi, kembung. 2. Pola eliminasi miksi, defekasi Pola eliminasi alvi pre operasi: Adanya perubahan pola eliminasi defekasiseperti nyeri saat defekasi.Post operasi: Akibat pengaruh anastesi peristaltic menurun menyebabkankembung.Pola eliminasi urine pre operasi: perubahan eliminasi urinarius misalnyasering berkemih.Post operasi: Post operasi: Terjadi retensi urine akibat efek anasthesi.
14

3. Pola kebutuhan aktivitas dan istirahat Pre Operasi: Kelemahan dan keletihan. Perubahan pada pola istirahat, dan jam kebiasaan tidur malam karena adanya ansietas.Intra operasi: Pasien tidak sadarkan diri karena masih dalam pengaruhanastesi.Post operasi: Pasien masih dalam pengaruh bius namun bisa diajak berbicara . 4. Pola kebutuhan hygiene perseorangan

1.3 Pemeriksaan fisik 1. Sistem pernapasan Pre operasi: Dapat terjadi gangguan pernafasan jika kista membesar dandisertai ascites, timbul sesak nafas , takipnue.Intraoperasi: Pasien dibantu pernafasannya dengan menggunakan ETT jikaanastesi yang digunakan anastesi general.Post operasi: pernafasan meningkat akibat nyeri 2. Sistem kardiovaskuler Pre operasi : Perdarahan abnormal pervagina dapat menimbulkan

anemia,gangguan perfusi jaringan, tekanan darah turun, takikardia, syok hipovolemik.Intra operasi: Bisa terjadi resiko perdarahan.Post operasi : Adanya peningkatan tekanan darah, nadi meningkat karenaadanya nyeri, akral dingin, CRT > 3 detik 3. Sistem persyarafan Pre dan post operasi : raut wajah kesakitan akibat nyeriIntraoperasi: pasien nampak tenang karena efek anastesi 4. Sistem perkemihan Pre operasi: Akibat penekanan kandung kemih oleh tumor

menyebabkanterjadinya dysuria, dapat juga menyebabkan hydronephrosis akibattertekannya ureter sehingga terjadi retensi urine.Intra operasi: Selama proses operasi kebutuhan eliminasi pasien dibantudengan penggunaan kateter.Post operasi: Dampak dari anestesi yaitu melemahnya kontraksi otot destrusor vesica urinaria dan pulih kembali dalam waktu 6-8 jam.

15

5. Sistem pencernaan Pre operasi : Dapat terjadi konstipasi akibat penekanan rectum oleh tumor, pada abdomen ditemukan benjolan pada perut bawah, terasa berat, nyeri.Post operasi : penurunan atau tak ada bising usus (dampak anestesi terjadi <6-8 jam pasca operasi) 6. Sistem musculoskeletal Pre operasi : Didapatkan nyeri panggul, edema tungkai hingga varices,kelelahan dan kelemahan.Post operasi : Kelemahan. 7. Sistem reproduksi Adanya benjolan diperut bagian bawah, rasa tidak enak.

2. Diagnosa Keperawatan 2.1 Pre Operasi 1) Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan degan adanya putarantangkai tuba 2) Penurunan Perfusi jaringan sehubungan dengan penurunan kadar Hb dalam darah. 3) Perubahan pola eliminasi miksi (peningkatan frekuensi berkemih) sehubungan dengan pembesaran tumor. 4) Konstipasi sehubungan dengan pembesaran tumor. 5) Cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitserta penatalaksanaannya 6) Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan mual, muntah.

2.2 Intra operasi 1) Resiko perdarahan sehubungan dengan adanya proses insisi padadaerah operasi.

2.3 Post operasi 1) Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan trauma jaringandan reflex spasme otot sekunder akibat operasi yang ditandai dengan pasienmengeluh nyeri, raut wajah kesakitan, TTV (nadi, RR dan tensi meningkat),diaphoresis, VAS meningkat 2) Resiko infeksi (ISK) berhubungan dengan pemasangan kateter tetap
16

3) Risiko infeksi berhubungan dengan adanya port de entrymikroorganisme. 4) Gangguan rasa nyaman (kembung) berhubungan dengan penurunan peristaltic usus. 5) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan efek anastesiregional ditandai dengan keterbatasan pergerakan dan enggan untuk bergerak.

3. Intervensi Keperawatan
No

Diagnosa keperawatan dan tujuan

Intervensi

Rasional

1.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) 1. Jelaskan pada berhubungan dengan trauma pasien penyebab nyeri jaringan dan reflex spasme otot dan jelaskan tindakan untuk sekunder akibat operasiyang mengatasi nyeri ditandai dengan pasien 2. Ajarkan pada pasien teknik mengeluh nyeri, raut wajah pengurangan rasa nyeri kesakitan, TTV (nadi, RR dan dengan teknik tensi meningkat), -Relaksasi diaphoresis,VAS meningkat. -Distraksi -Skin stimulation Tujuan:Setelah dilakukan 3. Kolaborasi dengan dokter tindakan keperawatan klien di dalampemberian analgesic. harapkan mampu menunjukan 4. Observasi keluhan,TTV, adanya penurunan rasa nyeri VAS dan rautwajah pasien dengan criteria: Pasienmengungkapkann yeri berkurang Raut wajah tidak kesakitan TTV dalam batasnormal Tidak diaphoresis VAS dalam batasnormal (0-1)

Trauma jaringan, refleks spasmeotot , meningkatkan pelepasanmediator kimia (bradikinin,histamine, prostaglandin)

Relaksasi meningkatkan produksiendorfin dan enfekalin pada selinhibitor kornudorsalis medulla yang dapat menghambat transmisi nyeri

Meningkatkan aktivitas dalam system control desenden pada kornu dorsalis untuk menghambat transmisi nyeri

Mengaktifkan substansi agelatinosa dalam pengendalian nyeri sehingga menghambat transmisi nyeri ke SSP

Analgesic merupakan obat golongan penghilang rasa nyeridengan menghambat sintesis prostaglandin sehingga nyeri berkurang

Peningkatan TD, Nadi, RR,ekspresi kesakitan, VAS >2sebagai indikator 17

adanya nyeri 2. Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan aliran darah sekunder akibat perdarahan yang ditandaidengan akral dingin, kulit tampak sianosis, lembab,Tekanan darah sistolik <90mm Hg dan diastolic<70mmHg, nadi>100x/menit dan lemah, CRT>2 detik Tujuan:Perfusi jaringan kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan criteria hasil: Pasien tidak sianosis Akral hangat, kering, merah Tekanan darahnormal sistolik 110-130 mmHg dandiastolic 70-90mmHg Nadi 60-100 CRT <2 detik 1. Jelaskan pada pasiententang penyebabketidakefektifan perfusi jaringan 2. Beri posisi syok 3. Berikan cairan IV atautransfuse darah sesuaiindikasi 4. Observasi nadi dantekanan darah, CRT,akral Pendarahan saat operasi menyebabkan penurunan Hb sebagai elemen yang berperan mentanspor oksigen ke seluruh pembuluh darah termasuk pembuluh darah perifer menyebabkan oksigen ke jeringan menurun dan terjadigangguan perfusi jaringan

Mengutamakan suplay darah danoksigen untuk organ-organ penting seperti jantung dan otak

Menggantikan kehilangan darahdan memepertahankan volume sirkulasi dan pervusi jaringanTekanan darah normal (60-100x/menit), tekanan normalsistolik 110-130 mmHg dandiastolic 70-90 mmHg, CRT <2detik dan akral hangat menandakan keadekuatan perfusi jaringan

Risiko infeksi (ISK) berhubungan dengan pemasangan kateter tetapTujuan: infeksi (ISK) tidak terjadi setelah dilakukantindakan keperawatanselama perawatan dengancriteria hasil: Pasien tidak nyerisaat berkemih Suhu normal 36,4-37,40C Tidak ada kemerahan, pembengkakan, nyeri pada

1. Jelaskan kepada pasienmengenai tandaterjadinya infeksi pada pemasangan kateter 2. Rawat kateter setiap hari 3. Observasi keluhan pasien, warna urine, nadi,suhu

Tanda jika terjadi infeksimeliputi adanya nyeri saat berkemih, lokasi pemasanganketeter bengkak, kemerahan,urine berwarna keruh/kadang ada darah mencegah dan menghindari terjadinya infeksi pada pemasangan keteter Pasien tidak mengeluh nyerisaaat berkemih, warna urine kuning jernih, nadi dan suhu dalam batas 18

daerah pemasangan kateter

normal menunjukaninfeksi tidak terjadi

4.

Gg. Rasa nyaman distensi abdomen berhubungan dengan efek anastesi sekunder akibat pembedahan yang ditandai dengan pasien mengeluh kembung, belum flatus, tidak ada peristalticusus, tekanan darah dan nadi meningkat. Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi setelah dilakukan penyuluhan keperawatan dengan kriteria hasil pasien mengungkapkan sudah kentut dan perutnya terasa lapar

1. Jelaskan kepada pasienfisiologi dari distensiabdomen. 2. Anjurkan pasien untuk sering mobilisasi miringkanan, miring kiri danduduk bila kuat. 3. Libatkan keluarga pasienuntuk memotivasi danmembantu pasien bergerak 4. Observasi keluhan danmotilitas usus

Distensi abdomen disebabkan oleh efek anastesi yang bersifat mempengaruhi saraf simpatis dan parasimpatis sehingga menurunkan tonus dan kontraksiotot baik otot polos maupun ototlurik sehingga usus tidak berkontraksi dan terjadi distensi.

Aktivitas akan memicu saraf simpatis sehingga akanmempengaruhi aktivitas otot digit

Dukungan dan motivasi akanmenimbulkan dorongan dankepercayaan diri pasien untuk beraktivitas

Pemantauan gerakan usus merupakan tanda pemulihan otot tubuh 5 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan efek anastesi 1. Jelaskan pada klien alasan pembatasan mobilitas fisik pada SubArachnoid Blok Regionalanastesi 2. Jelaskan pada klientahapan mobilitas fisik pasca SAB anastesi, yaitu: Pasca operasi 0-6 jamklien tidur terlentang 6-24 jam klien bolehmiring ke kiri dan kekanan dengan bantuan Lebih dari 24 jam Pembatasan mobilitas fisik dapatmembantu meminimalkan risikoterjadi hipotensi ortostatik

Mempertahankan tekanan liquor cerebral dalam medulla spinalis

Aktivitas mempertahankan 19

kliendapat bangun dan duduk 3. Bantu dan motivasi klien dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas, higiene perseorangan dan nutrisi secara bertahap 4. Observasi kemampuan beraktivitas setiap 3 jam

kelancaran sirkulasi darah. HP meningkatkan kenyamanan klien, nutrisi meningkatkan regenerasisel

Mengetahui pemulihan fungsineuro muskuler ekstremitas bawah

20

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.JakartaLukman. (2010). Kista ovari pada wanita. http://www.net/cgi-

bin/berita/fullnews.cgi?newsid1200624282,53419. Diakses tanggal 9Desember 2011, pukul 22.30Mansjoer, Arief dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : MediaAesculapiusSaraswati. 2002. Asuhan Keperawatan Kista Ovari.http://kandunganbedah. Diakses tanggal tagl 21 mei 2010 pukul 12.28Sjamsuhidajat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta : EGCSmeltzer, Suzanne C. 2005. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Alih bahasa: Agung Waluyo. Jakarta : EGC

21