Anda di halaman 1dari 18

LANDASAN TEORI Dapat diketahui parameter farmakokinetik adalah besaran yang diturunkan secara matematis dari model berdasarkan

hasil pengukuran kadar utuh dan atau metabolitnya dalam darah, urin atau cairan hayati lainnya. Program Farmakokinetik dirancang untuk mengolah data konsentrasi obat yang diperoleh dari sample darah menjadi parameter farmakokinetik secara otomatis pada rute pemberian intravena dan oral dengan permodelan satu dan dua kompartemen terbuka. Untuk memberikan efek biologis, obat dalam bentuk aktifnya harus berinteraksi dengan reseptor atau tempat aksi atau sel target, dengan kadar yang cukup tinggi. Sebelum mencapai reseptor, obat terlebih dahulu harus melalui proses farmakokinetik. Fasa farmakokinetik meliputi proses fasa II dan fasa III. Fasa II adalah proses absorpsi molekul obat yang menghasilkan ketersediaan biologis obat, yaitu senyawa aktif dalam cairan darah yang akan didistribusikan kejaringan atau organ tubuh. Fasa III adalah fasa yang melibatkan proses distribusi, metabolisme dan ekskresi obat, yang menentukan kadar senyawa aktif pada kompartemen tempat reseptor berada. Faktor faktor penentu dalam proses farmakokinetik adalah : 1. Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti : cairan intrasel, ekstrasel (plasma darah, cairan interstitial, cairan cerebrospinal) dan berbagai fasa lipofil dalam tubuh. 2. Protein plasma, protein jaringan dan berbagai senyawa biologis yang mungkin dapat mengikat obat. 3. Distribusi obat dalam berbagai sistem kompartemen biologis, terutama hubungan waktu dan kadar obat dalam berbagai sistem tersebut, yang sangat menentukan kinetika obat. 4. Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses absorpsi, bioaktivasi, biodegradasi dan ekskresi yang menentukan lama obat dalam tubuh (Siswandono, 1998). Aplikasi computer yang dibuat, digunakan untuk mengolah data konsentrasi obat dalam plasma terhadap waktu untuk mendapatkan nilai parameter farmakokinetik setelah pemberian obat secara intravena dan oral. Data input berupa konsentrasi obat dalam darah diolah dengan pendekatan model satu atau dua kompartemen terbuka. Parameter yang dihasilkan adalah : a) Parameter regresi seperti gradient kemiringan garis, factor korelasi, dan persamaan garis regresi; b) Kriteria perbandingan model yaitu AIC (Akaike Information Criterion); c) Parameter farmakokinetik seperti Cmax, AUC (Area Under Curve), tmax, t1/2 (waktu paruh), Vd (volume distribusi), ke (konstanta kecepatan eliminasi), ka (konstanta kecepatan absorpsi), k12 dan k21 (konstanta kecepatan perpindahan antar kompartemen). Proses pengembangan perangkat lunak ini secara skematis disajikan pada diagram alir Kegunaan menetapkan parameter farmakokinetik suatu obat adalah untuk mengkaji kinetic absorpsi, distribusi dan eliminasi didalam badan. Dimana hasil kajian ini, diantaranya memiliki arti penting dalam penetapan aturan dosis. Profil farmakokinetik obat didapat dari kurva kadar obat dalam plasma terhadap waktu pengambilan. Dari kurva tersebut selanjutnya ditentukan parameter farmakokinetik laju absorpsi (ka) dengan metoda residual; waktu paruh(t) eliminasi (order satu), kadar puncak (C maks.), waktu kadar puncak (t maks.), dan jumlah absorpsi obat dari area bawah kurva (AUC) Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan tubuh), metode yang digunakan harus tepat, dan dalam pengerjaannya diperlukan suatu ketelitian yang cukup tinggi agar diperoleh hasil yang akurat. Sehingga nantinya dapat menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis ini, kesalahan hasil tidak

boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang digunakan dalam analisis) (Ritschel, 1976). Cepat, simpel, dan sensitive telah membuat spektrofotometer UV-VIS menjadi suatu metode analisis farmasetika yang sangat popular untuk pengukuran secara kuantitatif obat dan metabolit dalam sampel biologi. Salah satu alasan karenapenting atas kepopulerannya g/ml. Identifikasi kualitatif sensitivitas dari metode ini 1-10 dari obat atau metabolit menggunakan pada panjangspektrofotometri UV-VIS berdasarkan max). Perhitungan konsentrasi obat ataugelombang maksimum yang diabsorpsi ( max. Pada metabolit menggunakan hukum Beer pada absorpsi yang maksimum, sensitivitas optimum akan didapat. Karena perubahan absorbansi minimal untuk sedikit perubahan panjang gelombang, error diminimalkan. Hasilnya akurasi dan presisi yang baik didapatkan (Smith,1981). HPLC merupakan istilah yang dipakai di dunia internal yang mengandung dualisme pengertian, yaitu High Performance Liquid Chromatography atau High Pressure Liquid Chromatography. Jika ditinjau dari sistem peralatannya, maka HPLC termasuk kromatorafi kolom karena dipakai fase diamnya yang diisikan atau terpacking di dalam kolom. Tetapi, bila ditinjau dari proses pemisahannya, HPLC dapat digolongkan sebagai kromatografi adsorbsi atau partisi, tergantung daripada butiran-butiran adsorben yang ada pada kolom (Roth,1994). HPLC telah berkembang ke arah yang lebih luas, yaitu proses pemisahan berdasarkan aktifitas, filtrasi gel, dan ion yang berpasangan, akan tetapi proses pemisahannya tetap dilaksanakan di dalam kolom isertai pemakaian pelarut pengimbangan dengan tekanan tinggi (Khopkar, 2002). Simulasi In Vivo Metode analisis yang digunakan untuk penentuan kuantitatif kadar obat dalam suatu sampel biologis merupakan hal yang sangat penting dalamevaluasi dan interpretasi dalam farmakokinetika. Berbagai sampel biologis dapat di ambil untuk penentuan kadar dalam tubuh untuk pengertian farmakokinetika sebagai contoh darah, urine, feses, saliva, jaringan tubuh, cairan blister, cairan spinal, dan cairan sinovial. Penetuan kadar suatu obat dalam sampel biologis adalah hal yang kompleks disebabkan sampel biologis pada umumnya merupakan suatu matriks yang kompleks. Darah merupakan sampel biologis yang paling umum di gunakan dengan mengandung berbagai komponen selular seperti sel darah merah, sel darah putih, platelet, dan berbagai protein seperti albumin dan globulin. Pada umumnya bukan darah utuh tapi plasma ataupun serum yang digunakan untuk penetuan kadar obat. Serum diperoleh dengan membiarkan darah untuk menggumpal dan supernatan yang dikumpulkan setelah sentrifugasi adalah serum sedangkan plasma diperoleh dengan penambahan anti koagulan pada darah yang diambil dan supernatan yang diperoleh setelah sentrifugasi merupakan plasma. Jadi plasma dan serum dibedakan dari protein yang dikandungnya. Berbagai prosedur untuk mendenaturasi protein dapat digunakan sebagai perlakuan awal sampel biologis yang diperoleh dari suatu penelitian farmakokinetika, meliputi penggunaan senyawa yang disebut sebagai zat pengendap protein seperti asam tungstat, ammonium sulfat, asam triokoroasetat (tricloro acticacid, TCA ), asam perklorat, menthanol, dan asetonitril. Penggunaan pelarut organik seperti metanol dan asetonitril sebagai zat pengendap protein sangat umum digunakan terutama yang melibatkan metode analisis HPLC. Suatu model dalam farmakokinetik adalah struktur hipotesis yang dapat digunakan untuk karakteristik suatu obat dengan meniru suatu

perilaku dan nasib obat dalam sistem biologik jika diberikan dengan suatu pemberian rute utama dan bentuk dosis tertentu. Parasetamol atau asetaminophen, N-asetil-4Aminofenol (C8H9NO2), denganBM 151,16 dan mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 101,0%C8H9NO2. Pemerian :hablur atau serbuk hablur berwarna putih tidak berbau dan rasa pahit. Kelarutan :Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol(95%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilen glikol; larut dalam larutan alkali hidroksida. Khasiat dan kegunaan yaitu analgetikum, antipiretikum. (Farmakope Indonesia edisi ketiga tahun 1979) Absorpsi asetaminofen tergantung pada kecepatan pengosongan lambung, dan kadar puncak di dalam darah biasanya tercapai dalam waktu 30-60menit. Asetaminofen sedikit terikat dengan protein plasma dan sebagiandimetabolisme oleh enzim mikrosom hati dan diubah menjadi asetaminofensulfat dan glukuronida, yang secara farmakologi tidak aktif. Kurang dari 5%diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. Suatu metabolit minor tetapi sangatreaktif (N-asetil p-benzo kuinon), penting pada dosis besar, karena toksisitasnyayang besar terhadap hati dan ginjal. Waktu paruh asetaminofen 2-3 jam danrelative tidak dipengaruhi oleh fungsi ginjal. Pada jumlah toksik atau adanya penyakit hati, waktu paruhnya bisa meningkat dua kali lipat atau lebih. Pada pemakaian 15 gram asetaminofen bisa berakibat fatal; kematian disebabkanoleh hepatotoksisitas yang berat dengan nekrosis lobules sentral, kadangberhubungan dengan nekrosis tubulus ginjal akut. (Bertram G. Katzung;Farmakologi dasar dan klinik edisi VI)

II. ALAT DAN BAHAN Alat 1. Alat Suntik 2. Sonde 3. Kapas 4. Tabung Eppendorf 5. Kuvet 6. Vortex 7. Centrifuge 8. Mikro Pipet volume 0.5, 1 ml 9. Spektrofotometer Bahan 1. Sampel Darah (Darah Kelinci) 2. Sirup Parasetamol 3. EDTA 4. Asam Trikloroasetat (TCA) 5. Alkohol 6. Metanol

CARA KERJA

III. HASIL PENGAMATAN Standart kalibrasi Tabel kalibrasi Konsentrasi Absorbansi 200 0,023 400 0,050 600 0,082 a = -7,3333 x 10-3 b = 1,475 x 10-4 r = 0,998 Sehingga persamaannya menjadi : y = a + bx y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x Perhitungan konsentrasi T (menit) Absorban Konsentrasi (C) Log C 19 -0,302 -1997,74 -3,30 21 -0,239 -1570,62 -3,19

44 -0,139 -892,65 -2,95 60 0,053 409,03 2,61 92 -0,191 -1245,19 -3,09 96 -0,264 -1740,11 -3,24 136 -0,295 -1950,28 -3,29 150 -0,543 -3631,63 -3,56

Konsentrasi menit ke-19 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x -0,302 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = -1997,74 Konsentrasi menit ke-21 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x -0,239 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = -1570,62 Konsentrasi menit ke-44 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x -0,139 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = -892,65559 Konsentrasi menit ke-60 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x 0,053 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = 409,039 Konsentrasi menit ke-92 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x -0,191 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = -1245,198 Konsentrasi menit ke-96 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x -0,264 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = -1740,113 Konsentrasi menit ke-136 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x -0,295 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = -1950,2827 Konsentrasi menit ke-150 y = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x -0,543 = -7,3333 x 10-3 + 1,475 x 10-4 x X = -3631,6386

Perhitungan nilai K Log C = log Co Kt / 2,303 2,61 = -3,30 K.19 / 2,303 2,61 + 3,30 (2,303)/19 = -K 0,716 = -K K = -0,716

IV. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini kita akan melihat kadar suatu obat (parasetamol) secara in vivo mengunakan plasma darah kelinci. Langkah awal yang kami kerjakan adalah mengambil sample darah kelinci sesaat sebelum pemberian parasetamol dan Setiap menit ke 10, 15 30, 45 60, 90 120, dan 150 setelah pemberian obat tersebut. Setelah itu, Darah yang di ambil dimasukkan kedalam tabung eppendorf yang telah diberi larutan EDTA sebagai zat anti kaogulan agar darah tidak menggumpal dan kita dapat memisahkan plasmanya. Kemudian di sentrifuge selama 2 menit dengan kecepatan 10.000 rpm, Supernatant yang diperoleh di ambil dengan mikropipet ditambahkan TCA.penambahan zat tersebut berguna untuk mengendapkan protein yang terdapat di dalam plasma agar tidak mengganggu hasil pembacaan absorbansi pada alat spektrofotometer UV-Vis nantinya. Dan yang terakhir plasma sentrifus kembali selama 15 menit dengan kecepatan 12000 rpm, Supernatan yang diperoleh diambil dengan mikropipet sebanyak kemudian ditambahkan Metanol agar parasetamol terlarut sempurna dalam plasma tersebut sehingga absorbansi yang di hasilkan optimal dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Dari hasil pembacaan di spektrofotometer dan perhitungan yang dilakukan konsentrasi parasetamol dalam plasma yang didapatkan pada kelinci ke-19,21,44 dan 60 secara berturut-turut adalah 1731.07, 2158.19, 2836.16 dan 4137.85. terlihat bahwa dengan seiring bertambahnya waktu konsentasi tersebut semakin bertambah. Hal inilah yang kita sebut dengan fase distribusi obat. Fase distibusi terjadi karena tubuh terdiri dari banyak kompartement(multikompatrement) . Lain halnya dengan konsentrasi parasetamol dalam plasma yang didapatkan pada menit ke-92,96,136 dan 150,nilai yang dihasilkan semakin menurun, yaitu : 3703.95 1988.70 1778.53 97.17. Hal ini menandakan sedang terjadinya fase elimnasi obat di dalam tubuh. Dari data konsentrasi yang didapat kita juga dapat mengetahui kecepatan eliminasi paarasetamol dalam tubuh adalah 0,385 dan waktu yang di perlukan sehingga konsentrasi obat hanya bersisa 50% di dalam plasma (t ) dari obat tersebut adalah 1,8 jam sedangan kliren dari parasetamol adalah 7,13 V. KESIMPULAN - Fungsi EDTA adalah sebagai anti koagulan (agar darah tidak menggumpal). - Fungsi penambahan TCA sebagai pengendap protein. - Kecepatan eleminasi parasetamol dalam tubuh adalah 0,385 . - Waktu yang digunakan obat mencapai 50% dalam plasma t adlah 1,8 jam. - Kliren dari parasetamol 7,13 VI. DAFTAR PUSTAKA

- Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition,Lange Medical Books/McgrawHill: New York, Hal : 6, 152 (e-book version of the text). - Universitas Indonesia. 2008. Farmakologi dan Terapi. DepartemenFarmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia. - Shargel, Leon. 2005.Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi II. Surabaya: Airlangga UniversityPress. - Anonim. 1979.Farmakope Indonesia edisi ketiga. Jakarta: Depkes RI

LAPORAN HASIL PERCOBAAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA ANALISIS PARASETAMOL DALAM CAIRAN HAYATI
A. Tujuan 1. Dapat memahami langkah-langkah analisa parasetamol dalam cairan hayati. 2. Dapat melakukan analisa parasetamol dalam cairan hayati. B. Dasar Teori Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan / atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh lainnya). Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi dan akurasi. Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari 10% (Pasha dkk, 1986).

Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi: 1. Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk reaksi warna). 2. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimum (parasetamol). 3. Pembuatan kurva baku (parasetamol). 4. Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik. Parasetamol Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, dan demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi. Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada janin. N-acetyl-para-aminofenol (parasetamol):

Farmakokinetika Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat protein plasma, dan dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Obat ini diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. C. Alat dan Bahan Alat: 1. Neraca analitik 2. Beker glass 3. Pipet tetes 4. Gelas ukur 5. Spet dan jarum suntik 6. Tabung sentrifus 7. Labu ukur 8. Tabung reaksi 9. Vortex 10. Sentrifuge 11. Spektrofotometer Bahan: 1. Larutan parasetamol : A. Konsentrasi 0,5 mg/ml B. Konsentrasi 1 mg/ml 2. Larutan HCl 6 N

3. Larutan NaNO2 10% 4. Larutan NaOH 10% 5. Larutan TCA 10% 6. Darah Manusia D. Prosedur Kerja A. Prosedur Penetapan Kadar 1. Larutan parasetamol dalam air suling dibuat dengan konsentrasi 0,5 mg/ml ( larutan A) dan 1 mg/ml (larutan B) masing-masing dibuat 5 ml. 2. Satu seri larutan parasetamol dalam darah (1 ml) dibuat dengan kadar: 50, 100, 150, dan 200 g/ml menggunakan larutan parasetamol 0,5 mg/ml; kadar 300 dan 400 g/ml menggunakan larutan parasetamol 1 mg/ml dimasukkan dalam tabung ependrof, yang kemudian divortex. 1 ml darah + 0,1 ml larutan parasetamol (larutan A, 50 ppm) 1 ml darah + 0,2 ml larutan parasetamol (larutan A, 100 ppm) 1 ml darah + 0,3 ml larutan parasetamol (larutan A, 150 ppm) 1 ml darah + 0,4 ml larutan parasetamol (larutan A, 200 ppm) 1 ml darah + 0,3 ml larutan parasetamol (larutan B, 300 ppm) 1 ml darah + 0,4 ml larutan parasetamol (larutan B, 400 ppm) 3. Tiap-tiap kadar diambil 0,1 ml dan dimasukkan ke dalam ependrof lain yang telah berisi 0,9 ml air. 4. Larutan TCA 10 % ditambahkan sebanyak 0,5 ml, didiamkan selama 10 menit dan disentrifus selama 5 menit menggunakan kecepatan 2000 rpm.

5. Semua supernatan diambil dan dipindahkan ke dalam tabung reaksi. 6. Ditambahkan HCl 6 N sebanyak 0,5 ml dan NaNO2 10 % sebanyak 1 ml, dicampur baik-baik dan didiamkan selama 5 menit. 7. Kemudian dengan hati-hati ditambahkan NaOH 10 % sebanyak 2,5 ml dan didiamkan selama 3 menit. 8. Intensitas warna dibaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 435 nm. E. Data Hasil Pengamatan Panjang gelombang maksimum = 435 nm Konsentrasi 0 50 100 150 200 300 400 Absorbansi 0 0,0328 0,0779 0,1437 0,1773 0,1400 0,1661

* Keterangan: Lebih jelasnya ada pada lampiran. Data ke-6 dan ke-7 dihilangkan.

Perhitungan: Jika data ke-6 dan ke-7 dihilangkan, maka regresinya menjadi: a= -6,76 x 10-3 b= 9,31 x 10-4 r= 0,99344 Jadi, C1: 0,0328 = -6,76 x 10-3 + 9,31 x 10-4 * x x = 0,0328 (-6,76 x 10-3) 9,31 x 10-4 = 42,4919. C2: x = 0,0779 (-6,76 x 10-3) 9,31 x 10-4

= 90,9345. C3: x = 0,1437 (-6,76 x 10-3) 9,31 x 10-4 = 161,6112. C4: x = 0,1773 (-6,76 x 10-3) 9,31 x 10-4 = 197,7014. Perolehan kembali: % P = kadar terukur x 100% kadar diketahui = 42,4919 x 100% 50 = 84,98% % P = kadar terukur x 100% kadar diketahui = 90,9345 x 100% 100 = 90,93%

% P = kadar terukur x 100% kadar diketahui = 161,6112 x 100% 150 = 107,74% % P = kadar terukur x 100% kadar diketahui = 197,7014 x 100% 200 = 98,85% Kesalahan Sistematik: Kesalahan sistematik = 100 - % P = 100 84,98% = 15,02% Kesalahan sistematik = 100 90,93% = 9,07% Kesalahan sistematik = 100 107,74% = 7,74% Kesalahan sistematik = 100 98,85% = 1,15%

Kesalahan Acak: Kesalahan acak = simpangan baku x 100% harga rata-rata Harga rata-rata = 42,4919 + 90,9345 + 161,6112 + 197,7014 4 = 123,18475 Simpangan baku (2) = (-80,69)2 + (-32,25)2 + (38,43)2 + (74,52)2 4 = 14.581,034 4 = 3645,26 Jadi = 3645,26 = 60,38 Sehingga kesalahan acak adalah = 60,38 x 100% 123,185 = 49,016% F. Pembahasan Pada praktikum kali ini, kami melakukan uji analisis parasetamol dalam cairan hayati. Menggunakan larutan parasetamol dengan konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 1 mg/ml. Dan dibuat pula satu seri konsentrasi larutan parasetamol dalam darah 50, 100, 150, 200 ppm

dari konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 300, 400 ppm dari konsentrasi larutan induk 1 mg/ml. Konsentrasi yang telah dibuat dicampur dengan 1 ml darah dan divortex agar dapat bercampur secara merata dan terbentuk ikatan antara obat dengan protein plasma. Kemudian diambil 0,1 ml dari tiap-tiap kadar dan diencerkan dengan 0,9 ml air. Pengenceran ini diasumsikan sebagai pengenceran yang terjadi karena proses masuknya makanan dan minuman ke dalam tubuh. Setelah pengenceran, perlu ditambahkan dengan antikoagulan, yaitu TCA. Kemudian dilakukan proses sentrifugasi. TCA berfungsi untuk mengendapkan protein dalam plasma darah, sehingga yang tersisa dibagian atas atau yang dikenal dengan supernatan hanyalah ikat obat dengan plasma. Supernatan yang diperoleh dari hasil proses sentrifus dipindahkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan HCl 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO2 10% sebanyak 1 ml. Kemudian didiamkan selama 5 menit dan setelah itu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 2,5 ml, lalu didiamkan selama 3 menit. Penambahan NaOH bertujuan untuk penetralan. Reaksi yang terjadi adalah: HCl (aq) + NaNO2 (aq) HNO2 (aq) + NaCl (aq) 2 HNO2 (aq) 2 H+ (aq) + 2 NO2 (g) Reaksi penetralan: 2 H+ (aq) + NaOH (aq) Na+ (aq) + H2O (l) Setelah perlakuan di atas, sampel diambil untuk diukur serapannya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang maksimum 435 nm. Pada grafik yang diperoleh, dapat dilihat bahwa kurva terus menaik hingga konsentrasi 200 ppm, tetapi pada konsentrasi 300 dan 400 ppm kurvanya menurun kembali, sehingga data ini dihilangkan. Hasil yang kami dapatkan adalah terjadi penurunan absorbansi pada konsentrasi 300 dan 400 ppm, yang seharusnya linear (semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula

absorbansinya/sebanding). Hal ini kemungkinan dikarenakan konsentrasi larutan induk yang berbeda (0,5 dan 1 mg/ml). Sedangkan regresi yang kami dapatkan adalah: r = 0,827751; a = 3,568 x 10-2; dan b = 4,0634 x 10-4. Tetapi, apabila data yang ke-6 dan ke-7 dihilangkan lalu dicari regresinya kembali, maka nilai regresinya menjadi a= -6,76 x 10-3; b= 9,31 x 10-4; dan r= 0,99344. Dilihat dari kelinearannya dan nilai kepercayaan yang besar, maka kami menggunakan nilai regresi ini dalam perhitungan selanjutnya. Dari hasil perhitungan yang diperoleh, didapatkan bahwa konsentrasi yang terukur mendekati konsentrasi yang diketahui, sehingga didapatkan % perolehan kembali/recovery yang besar (mendekati 100%). G. Kesimpulan Dari berbagai hasil yang kami dapatkan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Langkah-langkah analisis parasetamol dalam cairan hayati: 1. Dibuat satu seri larutan parasetamol dalam darah yang di vortex, setelah itu dilakukan pengenceran sekaligus ditambahkan TCA. Kemudian di sentrifus. 2. Supernatan diambil dan ditambahkan HCl dan NaNO2, didiamkan 5 menit. Baru kemudian ditambahkan NaOH. 3. Diukur serapannya pada spektrofotometer. 4. Dihitung konsentrasi terukur sesuai dengan absorbansi dan dihitung pula nilai perolehan kembali, kesalahan sistematika, dan kesalahan acaknya.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen FKUI. 1995. Farmakologi dan Terapi edisi IV. Jakarta: Gaya Baru. Walpole, R.E. Pengantar Statistika. Azrifitria, dkk. 2007. Modul Praktikum Biofarmasetika dan Farmakokinetika. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.