Anda di halaman 1dari 7

Seminar Nasional: Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, ISBN 978-979-3450-28-5

PENDAPATAN USAHATANI TANAMAN TAHUNAN DENGAN SISTEM TUMPANGSARI DI DESA KERTA, KECAMATAN PAYANGAN, GIANYAR
Jemmy Rinaldi dan I Ketut Kariada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali ABSTRAK Tanaman tahunan merupakan jenis tanaman yang dapat menghasilkan lebih dari satu tahun. Dari berbagai macam jenis tanaman tahunan ada beberapa jenis tanaman yang tidak secara langsung dapat berproduksi. Pemilihan komoditas yang akan dikembangkan di suatu daerah seharusnya yang memiliki keunggulan kompetitif, sehingga menguntungkan dan berkesinambungan. Pada era perdagangan bebas, semua komoditas pertanian dapat secara bebas diperdagangkan antar daerah, bahkan negara. Konsekuensi dari perdagangan bebas adalah hanya komoditas yang mempunyai keunggulan kompetitif saja yang mampu bersaing. Kajian mengenai analisis pendapatan usahatani tanaman tahunan dengan sistem tumpangsari ini dilakukan di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar pada tahun 2008. Tujuan dari pengkajian ini adalah (1) mengetahui seberapa besar pendapatan petani dari usahatani tanaman tahunan yang diusahakan secara tumpangsari dan tradisional, (2) mengetahui jenis tanaman tahunan yang memperoleh nilai ekonomis tertinggi dan berpotensi untuk diusahakan secara intensif, dan (3) Mengetahui nilai kelayakan usahatani tanaman tahunan yang diusahakan dengan sistem tumpangsari. Pengkajian dilakukan dengan metode survei/wawancara menggunakan kuesioner sederhana terstruktur. Wawacara dilakukan di Desa Kerta dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden yang ditentukan secara sengaja (purposive sampling). Untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan maka indikator analisis yang digunakan yaitu analisis kontribusi penerimaan, analisis pendapatan usahatani dan kelayakan usahatani dengan indikator BCR. Berdasarkan hasil analisis komoditas perkebunan yang mendominasi di Desa Kerta adalah kakao, kopi, jeruk, pisang dan kelapa. Penerimaan tertinggi usahatani tanaman tahunan dengan sistem tumpangsari yang dilakukan diperoleh pada komoditas kakao dengan nilai penerimaan per tahun sebesar Rp. 804.333,33 atau berkontribusi sebesar 39,86% dari total penerimaan uasahatani tanaman tahunan sebesar Rp. 2.018.133,34. Hasil analisa diperoleh bahwa usahatani tanaman tahunan yang diusahakan masyarakat desa Kerta tidak layak untuk diusahakan dengan nilai BCR yang diperoleh sebesar 0,96. Kata kunci : Tanaman tahunan, penerimaan, tumpangsari PENDAHULUAN Tanaman tahunan biasanya identik dengan komoditas perkebunan yang merupakan salah satu andalan ekspor non migas Indonesia. Komoditas perkebunan mendapatkan porsi perhatiaan cukup besar. Berbagai kebijakan telah ditetapkan pemerintah untuk mendorong peningkatan produksi komoditas perkebunan tertentu yang mempunyai potensi besar untuk pasar internasional. Karet, kelapa, sawit, kopi, teh, cengkeh dan kakao adalah beberapa dari sekian banyak komoditas andalan Indonesia untuk pasar luar negeri (Erwidodo dkk, 1994). Dibandingkan sektor-sektor lainnya, sektor pertanian (termasuk tanaman tahunan) dianggap sektor yang lentur dalam menghadapi krisis moneter dan ekonomi, karena selain merupakan sumber mata pencaharian sebagian besar masyarakat, ternyata juga mampu meningkatkan kapasitas penyerapan tenaga kerja. Hal ini membuktikan bahwa usaha yang berbasis pada sumberdaya domestik masih menunjukkan keunggulannya dalam menghadapi krisis ekonomi dibandingkan usaha yang berbasis sumberdaya impor (G. Kartono dkk, 2004).

519

Seminar Nasional: Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, ISBN 978-979-3450-28-5

Menurut Rachmadi Ramli dan Dewa K.S. Swastika (2005) pemilihan komoditas yang akan dikembangkan di suatu daerah seharusnya yang memiliki keunggulan kompetitif, sehingga menguntungkan dan berkesinambungan. Pada era perdagangan bebas, semua komoditas pertanian dapat bebas diperdagangkan antar daerah, bahkan negara. Konsekuensi dari perdagangan bebas adalah hanya komoditas yang mempunyai keunggulan kompetitif saja yang dapat bersaing. Tanaman tahunan merupakan jenis tanaman yang dapat menghasilkan lebih dari satu tahun. Dari berbagai macam jenis tanaman tahunan ada beberapa jenis tanaman yang tidak secara langsung dapat berproduksi. Seringkali petani dalam hal ini tidak memperhatikan jenis tanaman tahunan apa yang dapat menghasilkan pendapatan yang dapat menghidupi keluarganya. Oleh karena itu para petani biasanya melakukan usahatani dalam satu kawasan dengan cara tumpangsari. Tumpangsari dari dua atau lebih tanaman banyak dipraktekkan pada daerah beriklim tropik. Keuntungan dari tumpangsari adalah : (a) dengan tumpangsari penggunaan sumberdaya alam lebih optimal (sinar matahari, nutrisi dan air), (b) meningkatkan produktivitas tenaga kerja dibandingkan dengan pertanaman secara monokultur (Mutsaers et al., 1993 dalam Arsana, I GKD, 2004). Di propinsi Bali terdapat 170.000 ha tanaman tahunan, seperti perkebunan kopi (40.000 ha), kakao (6.500 ha) dan cengkeh (26.000 ha), 99% diantaranya perkebunan rakyat. Meskipun areal perkebunan kopi, kakao dan cengkeh tidak seluas perkebunan kelapa, namun ketiganya memiliki arti ekonomi strategis, karena merupakan komoditas ekspor yang penting. Dari aspek lingkungan, sebagian besar tanaman kopi, kakao dan cengkeh dibudidayakan di daerah medium dan tinggi dengan topografi yang miring bergelombang memiliki fungsi hidrologis (penyimpan air) serta menekan terjadinya erosi (Guntoro dkk, 2004). Pada umumnya petani menentukan komoditas yang diusahakan adalah merespon kenaikan tingkat harga satu komoditas dalam jangka pendek. Padahal komoditas tersebut belum tentu mempunyai keunggulan wilayah itu. Sering terjadi kelebihan produksi di suatu wilayah karena petani menanam komoditas yang sama pada waktu yang sama dan jumlah banyak serta mutu hasil yang kurang diperhatikan sehingga berdampak pada harga jual. Tujuan dari pengkajian ini adalah (1) mengetahui seberapa besar pendapatan petani dari usahatani tanaman tahunan yang diusahakan secara tumpangsari dan tradisional, (2) mengetahui jenis tanaman tahunan yang memperoleh nilai ekonomis tertinggi dan berpotensi untuk diusahakan secara intensif, dan (3) Mengetahui nilai kelayakan usahatani tanaman tahunan yang diusahakan dengan sistem tumpangsari. METODOLOGI Pengkajian dilakukan dengan metode survei/wawancara menggunakan kuesioner sederhana terstruktur. Wawacara dilakukan di Desa Kerta, Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden yang ditentukan secara sengaja (purposive sampling). Kajian ini dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan Nopember tahun 2008 dengan melakukan wawancara mengenai usahatani tanaman tahunan yang diusahakan secara tumpangsari. Untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan maka indikator analisis yang digunakan yaitu analisis kontribusi penerimaan, analisis pendapatan usahatani dan analisis kelayakan usahatani. Analisis kelayakan finansial usahatani dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan tabulasi silang dan statistik sederhana yakni analisis anggaran parsial dengan indikator BCR (Benefit Cost Ratio).

520

Seminar Nasional: Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, ISBN 978-979-3450-28-5

Analisis pendapatan digunakan rumus (Downey dan Erickson, 1985 dan Suratiyah, 1997) : I = (y . Py ) - (Xi . Pxi ) = = = = = Pendapatan (Rp/ha) Output/hasil (kg) Harga input (Rp) Harga output (Rp) Jumlah input (i = 1,2,3.n) Keterangan : I Y Pxi Py Xi

Analisis Benefit Cost Ratio (B/C ratio) dengan menggunakan rumus (Kadariah, 1988 dan Soetrisno, 1982) : BPV ------CPV

BCR =

Keterangan : BCR = Rasio pendapatan terhadap biaya BPV = Totan pendapatan dalam rupiah pada tingkat nilai sekarang CPV = Total biaya dalam rupiah pada nilai sekarang BCR > 1, usahatani dianggap layak (menguntungkan) BCR < 1, usahatani dianggap tidak layak (tidak menguntungkan) BCR = 1, impas (tidak untung maupun merugi) HASIL DAN PEMBAHASAN Penerimaan Usahatani Tanaman Tahunan Tanaman tahunan merupakan jenis tanaman yang dapat menghasilkan lebih dari satu tahun. Dari berbagai macam jenis tanaman tahunan ada beberapa jenis tanaman yang tidak secara langsung dapat berproduksi. Jenis tanamanan tahunan yang diusahakan masyarakat Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar yaitu jenis tanaman kakao, kopi, jeruk, pisang dan kelapa. Tabel 1. Rata-rata Penerimaan Usahatani Tanaman Tahunan pada Luas Lahan 0,49 Ha dengan Sistem Tumpangsari di Desa Kerta, Payangan, Gianyar Tahun 2008
No. 1 2 3 4 5 Jenis Tanaman Tahunan Kakao Kopi Jeruk Pisang Kelapa Total Jumlah Pohon 13.60 29.50 7.50 3.47 3.67 57.74 Produksi/Tahun (kg/butir) 93.33 68.83 148.33 35.17 9.87 355.53 Nilai Produksi (Rp) 804,333.33 550,666.67 296,666.67 351,666.67 14,800.00 2,018,133.34

Berdasarkan Tabel 1 dari kelima jenis tanaman tahunan yang diusahakan masyarakat desa Kerta diperoleh bahwa jenis tanaman tahunan yang produktif atau yang menghasilkan yaitu ratarata sebanyak 57,7 pohon. Dari jumlah tanaman produktif yang diusahakan masyarakat Desa Kerta, jenis tanaman yang banyak diusahakan adalah tanaman kopi dan tanaman kakao dengan rata-rata jumlah tanaman yang diusahakan sebanyak 29,50 pohon dan 13,60 pohon.

521

Seminar Nasional: Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, ISBN 978-979-3450-28-5

Gambar 1. Kontribusi Penerimaan Usahatani Tahunan di Desa Kerta Tahun 2008

Berdasarkan hasil wawancara, rata-rata penerimaan dari jenis tanaman tahunan yang diusahakan masyarakat Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar yaitu sebesar Rp. 2.018.133,34,-. Dari rata-rata penerimaan per tahun dari usahatani tanaman tahunan yang diusahakan, jenis tanaman tahunan yang memiliki kontribusi tertinggi yaitu tanaman kakao dengan nilai kontribusi sebesar 39,86% atau senilai Rp. 804.333,33,-. Kemudian diikuti oleh jenis tanaman tahunan lain yang mendominasi yaitu tanaman kopi dan pisang yang rata-rata berkontribusi selama setahun terhadap penerimaan usahatani tanaman tahunan yaitu sebesar 27,29% dan 17,43% atau senilai Rp. 550.666,67 dan Rp. 351,666.67,- (Tabel 1 dan Gambar 1). Biaya Usahatani Tanaman Tahunan Berdasarkan hasil wawancara di Desa Kerta, biaya usahatani tanaman tahunan yang diusahakan adalah pupuk, pestisida, herbisida dan tenaga kerja. Jenis pupuk yang digunakan masyarakat desa Kerta dalam berusahatani tanaman tahunan yaitu urea, KCl, Sp36, NPK dan pupuk kandang. Berdasarkan Tabel 2 rata-rata jumlah biaya pupuk dan pestisida yang dikeluarkan dalam berusahatani tanaman tahunan yaitu sebesar Rp. 541.285,71. Dari rata-rata tersebut pembiayaan tertingi dalam berusahatani tanaman tahunan dalam kurun waktu satu tahun yaitu biaya pupuk kandang yaitu sebesar Rp. 408.333,33. Kemudian diikuti dengan biaya penggunaan pestisida yaitu sebesar Rp. 51.666,67. Tabel 2. Rata-rata Biaya Pupuk pada Usahatani Tanaman Tahunan pada Luas Lahan 0,49 Ha dengan Sistem Tumpangsari di Desa Kerta, Payangan, Gianyar Tahun 2008.
No. 1 2 3 4 5 6 Urea KCl SP36 NPK Pukan Pestisida Jumlah Jenis Pupuk/Pestisida Jumlah Pupuk (kg) 17.86 7.20 6.80 8.00 816.00 1.78 857.64 Biaya Pupuk (Rp) 26,785.71 18,000.00 16,500.00 20,000.00 408,333.33 51,666.67 541,285.71

Berdasarkan Tabel 3 rata-rata total curahan tenaga kerja dalam berusahatani tanaman tahunan yang diusahakan masyarakat desa Kerta sebesar 15,81 HOK dengan rata-rata curahan tenaga kerja laki-laki sebesar 9,05 HOK dan rata-rata curahan tenaga kerja perempuan sebesar

522

Seminar Nasional: Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, ISBN 978-979-3450-28-5

6,76 HOK. Hal ini berarti untuk berusahatani tanaman tahunan dalam kurun waktu satu tahun usaha tersebut biasa dilakukan bersama-sama dalam satu keluarga baik laki-laki maupun perempuan dengan komposisi curahan tenaga prja yang hampir sama. Tabel 3. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Tanaman Tahunan pada Luas Lahan 0,49 Ha dengan Sistem Tumpangsari di Desa Kerta, Payangan, Gianyar Tahun 2008
No. 1 2 Tenaga Kerja Laki Tenaga Kerja Perempuan Jumlah Catatan : Biaya Tenaga Kerja Laki = Rp. 25.000/HOK Biaya Tenaga Kerja Perempuan = Rp. 20.000/HOK Uraian Jumlah Tenaga Kerja (HOK) 9.05 6.76 15.81 Biaya Tenaga Kerja (Rp) 226,250.00 135,200.00 361,450.00

Sedangkan rata-rata total biaya tenaga kerja yang dikeluarkan masyarakat Desa Kerta dalam berusahatani tanaman tahunan yaitu sebesar Rp. 361.450,- dengan rata-rata biaya tenaga kerja tertinggi diperoleh pada biaya tenaga kerja laki-laki yaitu sebesar Rp. 226.250,-. Sedangkan untuk rata-rata biaya tenaga kerja perempuan dalam berusahatani tanaman tahunan dalam kurun waktu satu tahun sebesar Rp. 135.200,-. Perbedaan rata-rata biaya tenaga kerja laki-laki maupun perempuan disebabkan biaya tenaga kerja laki-laki dan perempuan per HOK berbeda yaitu laki-laki sebesar Rp.25.000/HOK dan biaya tenaga kerja perempuan sebesar Rp. 20.000/HOK. Berdasarkan Tabel 4 bahwa total biaya usahatani tanaman tahunan rata-rata sebesar Rp. 1.028.055,71. biaya tertinggi yang dikeluarka dalam berusahatani tanaman tahunan yaitu biaya pupuk dan tenaga kerja yaitu sebesar Rp. 489.619,04 dan Rp. 361.450,-. Sedangkan untuk biaya lain seperti pestisida, penyusutan alat dan bunga modal berturut-turut sebesar Rp. 51.666,67; Rp. 10.000,- dan Rp. 115.320,-. Tabel 4. Rata-rata Total Biaya Usahatani Tanaman Tahunan pada Luas Lahan 0,49 Ha dengan Sistem Tumpangsari di Desa Kerta, Payangan, Gianyar Tahun 2008
No 1 2 3 4 5 Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Penyusutan Alat Bunga Modal Total Biaya Jenis Biaya Jumlah Biaya (Rp) 489,619.04 51,666.67 361,450.00 10,000.00 115,320.00 1,028,055.71

Analisa Usahatani Tanaman Tahunan Berdasarkan Tabel 5 Rata-rata jumlah pendapatan usahatani tanaman tahunan yang diusahakan masyarakat Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar yaitu sebesar Rp. 990.077,63 dengan rata-rata jumlah penerimaan yang dihasilkan sebesar Rp. 2.018.133,34 dan rata-rata jumlah biaya yang dikeluarkan dalam berusahatani tanaman tahunan sebesar Rp. 1.028.055,71.

523

Seminar Nasional: Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, ISBN 978-979-3450-28-5

Tabel 5. Rata-rata Pendapatan dan Kelayakan Usahatani Tanaman Tahunan pada Luas Lahan 0,49 Ha dengan Sistem Tumpangsari di Desa Kerta, Payangan, Gianyar Tahun 2008
No I II 1 III 1 2 3 IV 1 V VI VII Uraian Penerimaan Biaya Tetap Penyusutan Alat Biaya Variabel Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Biaya Lain-lain Bunga Modal Total Biaya Pendapatan B/C Ratio Jumlah Biaya (Rp) 2,018,133.34 10,000.00 10,000.00 902,735.71 489,619.04 51,666.67 361,450.00 115,320.00 115,320.00 1,028,055.71 990,077.63 0.96

Dari rata-rata jumlah pendapatan yang dihasilkan dalam berusahatani tanaman tahunan yang diusahakan masyarakat desa Kerta, kecamatan Payangan, kabupaten Gianyar, maka dapat dihasilkan nilai kelayakan usahatani atau efisiensi usaha tersebut. Hasil analisa diperoleh bahwa usahatani tanaman tahunan yang diusahakan masyarakat desa Kerta tidak layak untuk diusahakan dengan nilai B/C ratio yang diperoleh yaitu sebesar 0,96. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian pendapatan tanaman tahunan dengan sistem tumpangsari di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar diperoleh bahwa : 1. Rata-rata pendapatan usahatani tanaman tahunan pada luas lahan sebesar 0,49 Ha dengan sistem tumpangsari yang diusahakan diperoleh sebesar Rp. 990,077.63/Tahun. 2. Jenis tanaman tahunan yang memperoleh nilai ekonomis tertinggi diperoleh pada tanaman kakao dengan nilai kontribusi penerimaan sebesar 39,86%. 3. Usahatani tanaman tahunan dengan sistem tumpangsari yang diusahakan tidak layak untuk diusahakan dengan nilai BCR sebesar 0,96. DAFTAR PUSTAKA Downey, W.D. dan S.P. Erickson. 1985. Manajemen Agribisnis. Dialihbahasakan oleh Rochidayat, Gonda S dan Alfonsus. Penerbit Erlangga. Jakarta. 516 hal. Erwidodo; K. Noekman; M. Syukur; Sugiarto; A. Zulham; G.S. Hardono; T.B. Purwantini; I. Setiaji dan H. Tarigan. 1994. Potensi, Peluang dan Kendala Produksi dan Ekspor Beberapa Komoditas Pertanian dalam Monograph Series No.16. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Guntoro, S., M. Rai Yasa, N. Suyasa dan Rubiyo. 2004. Success Story Integrasi Tanaman Industri dengan Kambing. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek. Analisis Ekonomi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi (LPFE). Univesitas Indonesia. Jakarta.

524

Seminar Nasional: Inovasi untuk Petani dan Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian, ISBN 978-979-3450-28-5

Kartono G., Suyamto, F. Kasijadi, R. Hardianto, B. Irianto dan Z. Arifin. 2004. Prosiding Seminar Prospek Sub Sektor Pertanian Menghadapi Era AFTA Tahun 2003, Malang 4 Juni 2003. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Mutsaers,H.J.W., H.C.E.Z.U. Mah and D.S.O. Osiro. 1993. Cassava-Based Inter Croping dalam Arsana, IG.K.D. 2004. Pengkajian Sistem Usahatani di Lahan Kering Dataran Medium Beriklim Basah. Prosiding Semnas Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Lokal untuk Mendukung Pembangunan Pertanian. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Rachmadi Ramli dan Dewa K.S. Swastika. 2005. Analisis Keunggulan Kompetitif Beberapa Tanaman Palawija di Lahan Pasang Surut Kalimantan Tengah. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.1, Maret 2005 : 67 77. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Soetrisno. 1982. Dasar-dasar Evaluasi Proyek. Jilid II. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta. Suratiyah, K. 1997. Analisis Usahatani. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

525

Beri Nilai