Anda di halaman 1dari 23

NAVIGASI DARAT Navigasi darat, adalah bagian dari ilmu untuk menentukan posisi suatu objek dan arah

perjalanan baik pada medan sebenarnya maupun pada peta. Kemampuan membaca dan memahami peta, menggunakan alat navigasi untuk menentukan posisi serta menganalisa dan memberikan asumsi awal terhadap medan yang dilalui merupakan salah satu dari keahlian dasar yang perlu dimiliki oleh setiap penggiat alam bebas. Hal tersebut merupakan bekal awal dalam merencanakan dan melakukan kegiatan di alam terbuka maupun dalam usaha pencarian atau penyelamatan korban kecelakaan / tersesat. Berikut beberapa pemahaman dasar yang dapat digunakan untuk mempelajari dan berlatih lebih lanjut mengenai ilmu medan, peta dan kompas (IMPK) Peta Peta adalah gambaran unsur unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas atau bawah permukaan bumi dan digambarkan pada bidang datar dengan proyeksi tertentu dalam ukuran yang diperkecil yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara visual maupun matematis. Peta Topografi Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang bersifat natural dan buatan yang terlihat dari atas dan diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk garis-garis kontur. Unsur unsur Peta Judul Peta Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol Letak Peta dan Diagram Lokasi Petunjuk Letak Peta , menunjukan nomor dan nama lembar peta terhadap peta sekelilingnya. Biasanya dalam bentuk matrikini berukuran 3 x 3 dan lembar peta yang sesuai judul berada di tengah-tengah. Petunjuk letak peta sangat membantu pengguna di dalam mencari nomor lembar peta-peta yang bersebelahan. Diagram lokasi menunjuk letak nomor peta pada area yang lebih luas, misalnya bagian dari Provinsi Jawa Barat. Sistem Referensi, terdiri dari sistem proyeksi, sistem grid, datum horizontal, datum vertikal, satuan tinggi dan selang kontur Keterangan Pembuatan Peta dan Penerbit Peta Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta Nama dan Nomor Lembar Peta (Indeks Peta) Adalah angka yang menunjukan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas. Legenda, merupakan petunjuk tanda atau simbol konvensional yang digunakan pada peta disertai warna dan deskribsi Keterangan Riwayat Peta ,Catatan riwayat peta diletakkan pada sebelah kanan di bawah daftar keterangan (legenda) yang menerangkan tentang sumber data untu k penyusunan peta, metode kompilasi, tahun pemotretan foto udara, survey lapangan, catatan penting lain misalnya Peta ini bukan referensi resmi bata s administrasi nasional atau internasional. Petunjuk Pembacaan Koordinat ,Tabel petunjuk pembacaan koordinat geografi dan koordinat grid UTM diletakkan di sebela kanan bawah. Tulisan berwarna biru untuk pembacaan koordinat Geografi dan tulisan berwarna hitam untuk koordinat grid UTM. Petunjuk koordinat bertujuan memberikan ilustrasi bagaimana pengguna membaca koordinat geografi atau koordinat grid UTM. Salah satu indikasi biasanya diberikan contoh titik tinggi beserta nilai ketinggian atau symbol bangunan dan nama obyek (misalnya: Kebonpedes) Pembagian Daerah Administrasi ,Pembagian daerah administrasi merupakan sketsa dari gambaran pembagian wilayah administrasi sebenarnya yang ada pada isi peta. Gambar ini dapat membantu para

pembaca peta mengetahui cakupan wilayah yang dipetakan. Pembagian wilayah administrasi tersebut meliputi wilayah propinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa Pembagian Lembar Peta Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolangan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas. Skala Grafis ,Terdapat 2 (dua) tipe skala, yaitu skala numerik dan skala grafis. Skala numerik adalah skala yang dinyatakan dengan angka, misalnya 1:25.000, diletakkan secara jelas di bagian kanan atas peta dan juga di bagian tengah bawah, biasanya di atas skala grafis. Skala grafis diletakkan di bagian tengah bawah dan umumnya dinyatakan dalam kilometer. Skala grafis digambarkan dalam bentuk unit batang disertai nilai per unit. Contoh: satu unit batang mempunyai satuan panjang 2 km; satuan ini dapat dibagi lagi menjadi 10 bagian. Jadi satu bagian kecil adalah 200 meter . Singkatan atau Kesamaan Arti(Glosari) ,Peta umumnya menampilkan sejumlah singkatan atau kesamaan arti(glossary).Singkatan atau nama-nama geografi antara satu daerah dengan daerah lainnya tidak selalu sama. Glosari diletakkan di bagian bawah, sebelah kanan/kiri skala grafis. Sebagai contoh, sebutan sungai di daerah Jawa barat (Ci) tidak sama dengan di Pulau Bali (Tukad, Yeh, Pangkung). Contoh singkatan, Tel = Teluk; Tg = Tanjung, dan sebagainya.

Arah Peta Utara Sebenarnya / Utara Geografi (Truth North / Geographical North, US / TN) diberi simbol * , arah utara yang ditunjukan garis bujur (meridian) dan menuju ke kutub utara bumi atau titik pertemuan garis bujur bumi. Utara peta / Utara Grid (Grid North, UP / GN) diberi simbol GN, arah utara yang ditunjukan garis koordinat tegak peta ke arah atas Utara magnetik (Magnetic North, UM) diberi simbol T (anak panah separuh) , arah utara yang ditunjukan jarum kompas menuju kutub utara magnetik bumi

Iktilaf Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan sudut, antara lain: Penyimpangan sudut antaraUS UP baik ke Barat maupun ke Timur, disebut ikhlaf Peta (IP) atau Konvergensi Meridian. Yang menjadi patokan adalah Utara Sebenarnya (US). Penyimpangan sudut antara US -UM baik ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yang menjadi patokan adalah I Utara Sebenarnya (IS). Penyimpangan sudut antara UP UM baik ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Utara Peta-Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah Utara Peta .

Variasi Magnetik Adalah perbedaan besar ikhtilaf magnetik pada waktu yang berlainan. Hal ini diakibatkan oleh kutub magnetis selalu berubah tiap tahunnya karena pengaruh rotasi bumi .Karena itu perlu adanya koreksi sudut.Jika variasi magnetis ini bertambah maka disebuti Increase dan jika berkurang maka disebut Decrease. Skala Peta dan Pengukuran Jarak 1.Skala Peta a. Pengertian Skala ,skala peta adalah angka perbandingan antara jarak dua titik di atas peta dengan jarak tersebut di permukaan bumi. Pada peta skala 1:50.000, jarak 1 cm di peta berati 50.000 cm atau 500 meter di lapangan.

Andaikan kita mengukur jarak = 3 cm di peta skala 1:50.000, ini berarti jarak di lapangan adalah: 3 cm di peta = 3 x 50.000 cm atau 150.000 cm, atau = 1500 meter = 1,5 km di lapangan. b.Pernyataan Skala Peta Ada dua (2) cara menyatakan skala pada peta, yaitu: 1. Cara numerik atau angka, misalnya 1:25.000, 1:50.000, 1:100.000, dan lainnya. 2.Cara grafis, seperti gambar di bawah ini

Skala 1:250.000 Skala 1:50.000 Skala 1:25.000

Gambar 1.1. Skala-skala grafis pada peta rupabumi c.Perbandingan Antar Skala Peta Kedetilan isi peta akan bergantung pada tingkat di mana peta akan digambar. Peta berskala besar kedetilannya lebih lengkap dibandingkan dengan peta berskala kecil. Batasan antara peta berskala besar, menengah dan kecil tidak dijelaskan secara baku. Namun, untuk kebutuhan praktis dapat dipakai pengelompokkan produk peta rupabumi BAKOSURTANAL, sebagai berikut: Skala peta Jarak 1 cm di peta mewakili jarak horisontal di lapangan: 1 : 10.000 100 meter 1 : 25.000 250 meter = km 1 : 50.000 500 meter = km 1 : 100.000 1.000 meter = 1 km 1 : 250.000 2.500 meter = 2 km d. Dampak Perubahan Skala pada Peta Seorang pengguna peta perlu juga memahami dampak perubahan skala dalam membaca peta. Proses pengecilan peta dikenal dengan istilah generalisasi,misalnya dari skala 1:50.000 menjadi skala 1:250.000 (lihat gambar 1.2.). Generalisasi adalah suatu proses penyederahanaan peta yang disebabkan adanya pengecilan atau turunan peta dari skala besar ke skala kecil dengan mempertahankan ciri/karakteristik utama dari peta yang bersangkutan. Hal-hal yang dilakukan dalam generalisasi adalah: Pemilihan; dalam proses ini dilakukan pemilihan terhadap obyek yang harus dipertahankan atau dihilangkan, tetapi hasil akhirnya obyek tersebut harus tetap mempertahankan ciri aslinya. Contoh pada gambar 1.2 adalah pemilihan sungai atau anak sungai mana yang akan dipertahankan dan yang harus dihilangkan. Penyederhanaan; dilakukan penghilangan sebagian bentuk ketidakteraturan akibat proses pengecilan skala. Pada gambar ditunjukan penyederhanaan terhadap garis tepi danau. Kombinasi; umumnya dilakukan terhadap area pemukiman, sebagaimana nampak pada gambar 1.2. Pembesaran; obyek ditampilkan tidak dengan ukuran sebenarnya tetapi perlu dilakukan pembesaran. Umumnya dilakukan terhadap obyek yang berupa jalan.

Gambar 1.2 Penyederhanaan obyek dengan skala yang berbeda dari 1:50.000 ke 1:250.000 dengan cara generalisasi 2. Mengukur Jarak a. Jarak Lurus Untuk mengukur suatu jarak lurus antara dua titik dengan cara meletakkan sepotong kertas yang bertepi lurus tepat pada dua titik tersebut. Pada masing - masing titik diberi tanda dengan garis pendek. Lalu letakkan kertas tadi pada skala grafis peta dengan titik yang sebelah kanan ada pada salah satu titik angka skala di sebelah kanan, sehingga titik yang sebelah kiri berada pada pembagian sebelah kiri titik nol. Total jarak adalah dari pembagian angka yang besar (sebelah kanan) dan ditambah dengan yang ada pada pembagian sebelah kiri dari titik nol. b. Menggunakan Skala Tersendiri Skala yang tersendiri, misalnya dalam bentuk protaktor (busur derajat) dapat digunakan untuk mengukur jarak pendek pada peta. Tapi perlu diketahui bahwa pada saat mengukur jarak yang panjang, kertas peta bisa mengembang atau menyusut cukup besar. Padahal bahan dari metal, plastik, dan kayu tidak demikian. Skala yang digambar pada peta juga akan mengembang dan menyusut bersama peta tersebut. Untuk mengatasi masalah ini maka perlu digunakan skala yang konformal dengan detil pada peta. c.Menggunakan Garis-garis Grid Garis-garis grid dalam peta rupabumi diwakili oleh garis-garis tanda pendek (garis tik). Jarak antar garis-garis tik ini selalu tetap dan dapat digunakan untuk menentukan jarak antara dua titik secara cepat. Skala yang tersendiri bisa

diperiksa atau dicocokkan terhadap garis-garis tik ini sebelum digunakan untuk menyakinkan bahwa antara peta dan skala ini cocok. d.Mengukur Suatu Jarak Jalan Untuk mengukur suatu jarak yang tidak lurus, misal sepanjang jalan atausungai, maka anggaplah obyek tersebut sebagai beberapa potongan garisgaris lurus atau hampir lurus. Letakkan sepotong kertas dengan tepi yang lurus pada potongan pertama. Berilah tanda pada titik awal dan titik akhir potongan pertama tersebut ,terletak berhimpit dengan potongan kedua. Tandai titik akhir potongan kedua ini, dan ulangi terus proses ini sampai titik terakhir ditandakan pada tepi kertas. Jarak total sepanjang jalan sekarang telah berpindah pada kertas tersebut sebagai garis yang lurus, dan selanjutnya dapat dibaca terhadap garis skala. Koreksi Sudut Pada pembahasan utara telah dijelaskan bahwa utara sebenarnya dan utara kompas berlainan. Hal ini sebetulnya tidaklah begitu menjadi masalah penting jika selisih sudutnya sangat kecil, akan tetapi pada beberapa tempat, selisih sudut/deklinasi sangat besar sehingga perlu dilakukan perhitungan koreksi sudut yang didapat dari kompas(azimuth)yaitu : A. Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (DM +/- VM) B. Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (DM +/- VM) Keterangan: Tanda +/- diluar kurung untuk DM (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis) = dari K ke P: DM ke timur tanda (+), DM ke barat tanda (-) = dari P ke K: DM ke timur tanda (-), DM ke barat tanda (+) Tanda +/- di dalam kurung untuk VM (variasi magnetis) =tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun. Contoh Perhitungan: Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: DM 1 derajat 30 menit ketimur, VM 2 menit increase, lalu berapa sudut yang akan kita pindahkan ke peta? P= K=+/- (DM +/- VM) ingat! kompas ke peta, DM ke timur VM increase besar VM sekarang (2002)= (2002-1942)x 2 menit = 120 menit= 2 derajat (1 derajat=60 menit) sudut P= 120 derajat + (1 menit 30 detik + 2 derajat) = 123 derajat 30 menit, jadi sudut yang dibuat di peta adalah 123 1/2 derajat

Sistem Koordinat Koordinat adalah titik yang terbentuk berdasarkan sistem sumbu yaitu dari perpotongan garis koordinat horizontal / absis dan vertikal / ordinat yang terdapat dipeta. Koordinat peta berguna untuk menunjukan suatu posisi pada permukaan bumi di peta. Pada penyebutan, garis mendatar diinformasikan terlebih dahulu lalu garis tegak. Garis Koordinat ini membagi peta dalam kotak kotak (karvak). Sistem Koordinat yang lazim digunakan yaitu :

1) Geografi / gratikul (Geographical Coordinat) Menyatakan posisi suatu titik dalam satuan derajat , menit , dan detik dari garis lintang (Utara dan Selatan) dan bujur (Barat dan Timur) 2) Grid / UTM (Grid Coordinat) Menyatakan posisi suatu titik dalam ukuran jarak (meter) dari perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinalt(y) pada koordinat grid sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan. Penyebutan dengan koordinat grid dapat dilakukan dengan 4 Angka, 6 Angka, atau 8 Angka. Garis Kontur Adalah garis khayal diatas permukaan bumi yang menghubungkan titik- titik yang tingginya sama sehingga dapat mengetahui bentuk medan yang sebenarnya (menunjukan ketinggian, perbedaan ketinggian, kemiringan, proyeksi 3D). Sifat sifat garis kontur meliputi: Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu sama lain dan tidak bercabang. Garis kontur yang rendah selalu mengelilingi garis kontur yang tinggi. Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama. Interval Kontur, jarak tegak 2 garis kontur yang berdekatan / jaran bidang datar yang berdekatan. Rumus : Interval kontur atau Ci = 1/2000 x skala peta Namun rumus ini tidak selamanya dapat digunakan karena garis kontur pada daerah terjal berbeda dengan daerah landai Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal untuk membantu pembacaan kontur Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal. Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir sama atau sama dengan 90. Garis kontur yang berbentuk U dan menjorok keluar merupakan punggungan Garis kontur yang berbentuk U dan menjorok ke dalam merupakan lembah

Orientasi 1.Orientasi peta Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya ( atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta: 1. Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok. 2. Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar 3. Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya

4. Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan 5. Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.

**Cari tanda medan sebanyak mungkin sehingga anda sudah mulai paham dengan daerah tersebut dan sudah dapat memperkirakan posisi anda di peta. 2.Orientasi Medan Merupakan cara untuk membaca kenampakan medan dan disesuaikan dengan peta, juga untuk mengetahui arah dan posisi kita di lapangan. Ada dua cara orientasi medan, yaitu: 1. Orientasi medan dengan kompas Untuk mengetahui posisi kita saat berada di alam bebas, yang penting untuk dilakukan adalah menentukan arah mata angin (U,S,B dan T), lalu menentukan arah utara peta. Setalah itu menentukan posisi kita dengan pasti. Ada 2 cara yang dapat digunakan untuk menentukan posisi kita, yaitu a.Resection Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dan dapat dibidik (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebon teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas). Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.

Langkah-langkah melakukan resection: 1. Lakukan orientasi peta 2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah 3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan ersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik). 4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat. 5. Pindahkan sudut bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan. 6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.

b.Intersection Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai. Sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu. Langkah-langkah melakukan intersection adalah: 1. Lakukan orientasi peta 2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta. 3. Bidik obyek yang kita amati 4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta 5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3 6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.

Susut Azimuth - Back Azimuth Sudut adalah besaran selisih derajat yang dibentuk oleh 2 buah garis, dimana yung satu menuju ke utara magnetis dan yang lain menuju ke sasaran.

1) Sudut Azimuth Sudut mendatar yang besarnya dihitung sesuai dengan arah jarum jam dari arah utara. Azimuth ditujukkan untuk menentukan arah di medan atau di peta, melakukan pengecekkan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tsb adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan kita. 2) Sudut Back Azimuth Sudut arah dari suatu garis dilihat menurut arah kebalikkan. Cara menghitung nya : Jika azimuth lebih dari 180, maka back azimuth sama dengan azimuth dikurangi 180. Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180, maka back azimuthnya sama dengan 180 ditambah azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara: a. Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180 maka back azimuth sama dengan azimuth dikurangi 180. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200. Back azimuthnya adalah 200- 180 = 20 b. Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180, maka back azimuthnya dama dengan 180 ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, seiperoleh azimuth 160, maka back azimuthnya adalah 180+160 = 340

2.Orientasi medan tanpa peta dan kompas Bila kita berada di alam bebas tanpa membawa peta dan kompas, kita dapat menggunakan tanda-tanda alam untuk menunjukkan arah perjalanan kita, diantaranya adalah a. Matahari. Hanya dapat digunakan pada slang hari, yaitu mengetahui arah barat dan timur b. Bintang. Pada malam hari dapat menggunakan bintang untuk mengetahui arah perjalanan kita, antara lain Bintang Pari menunjukkan arah selatan Bintang Orion menunjukkan arah timur dan barat c. Tanda-tanda lain Tanda-tanda lain yang dapat digunakan antara lain Kuburan orang Islam membujur kearah utara - selatan Masjid menghadap kearah barat timur Teknik Passing Compass Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man) . Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu. Teknik ini sering digunakan dalam rnelakukan sebuah operasi SAR. Teknik ini lebih mudah dilakukan pada medan yang landai dan luas, digunakan pula untuk mengatasi rintangan yang menghalangi perjalanan kita, misal sungai atau jurang.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth. Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui. Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth. Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth). Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.

Teknik Contouring Contouring dapat diartikan dengan salah satu penerapan ilmu medan peta yaitu menempuh perjalanan tanpa menggunakan kompas. Dalam melakukan teknik contouring dituntut untuk lebih teliti dalam pengamatan medan. Karena jika kita sudah salah menentukan posisi dengan contouring maka akan mempersuli perjalanan kita dan mungkin akan tersesat. Jika kita di lapangan dengan membawa peta maka teknik contouring dapat dilakukan, dengan mengamati bentukan dengan acuan arah KAKIBATAS (Kanan, Kiri, Bawah, Atas). Tanda-tanda medan yang dapat digunakan adalah + Puncak-puncak bukit + Bentukan sungai + Punggungan bukit dan terjal/landainya bukit + Percabangan sungai + Patahan tebing + Waterfall (air terjun) Untuk selalu dapat berhasil melakukan teknik ini adalah dengan selalu berlatih di lapangan yang sebenarnya. Yang perlu dicamkan adalah :"Tentukan secara pasti titik awal keberangkatan, menghitung jarak tempuh dan selalu menghitung ,sudah berapa kali kita menyeberangi sungai atau lembah atau berpindah punggungan bukit".

Menentukan posisi dan cross bearing. 1. Hitung deviasi pada peta: A=B+(CxD) Dimana : A. B. C. D. = Deklinasi magnetis pada saat tertentu. = Deklinasi pada tahun pembuatan peta. = Selisih tahun pembuatan. = Variasi magnetis.

Contoh: Diketahui bahwa : Deklinasi magnetis tahun 1943 (pada saat peta dibuat) adalah: 0 30'(=B). Variasi magnet pertahun: 2'(=D)

Pertanyaan: Berapa deviasi bila pada peta tersebut digunakan pada tahun 1988 ? (=A) Perhitungannya: A = B + (CxD) = 0 30' + {(88-43)x 2'} = 0 30' + 90' = 120' = 20' 2. Mengukur sudut a. Mengukur dari peta : Sudut peta - deviasi (jika deviasi keTimur) Sudut peta + deviasi (jika deviasi ke Barat) b. Mengukur dari kompas : Deviasi Timur: sudut kompas + deviasi Deviasi Barat sudut kompas - sudut = sudut peta. = sudut peta. = sudut kompas. =sudut kompas.

3. Setelah mengukur utara kompas, sesuaikan garis bujur dengan utara kompas kurang lebih deviasi . 4. Membuat cross bearing

1. 2. 3. 4.

Hitung sudut dari dua kenampakan alam atau lebih yang dapat kita kenali di alam dan di peta. Buat garis sudut dengan menghitung deviasi sehingga menjadi sudut peta pada kertas transparan Letakkan di atas peta sesuai dengan kedudukannya. Tumpuklah.

Merencanakan rute 1. 2. 3. 4. Pilihlah jalur perjalanan yang mudah dengan memperhatikan sistim kontur. Bayangkan kemiringan lereng dengan memperhatikan kerapatan kontur (makin rapat makin terjal). Hitung jarak datar (perhatikan kemiringan lereng). Hitung waktu tempuh dengan prinsip : jalan datar 1 jam untuk kemiringan lebih 4 km. kemiringan 1 jam tiap kenaikkan 100 m.

Pembagian pengajaran di atas berdasarkan kebutuhan seseorang di alam bebas. Idealnya, dalam melakukan kegiatan di alam bebas seseorang itu dapat menentukan arah, tujuan yang akan dicapai. Dan untuk ini ia butuh mengkomunikasikan lokasi dengan pihak lain. Bisa saja ini dilakukan dengan misalnya : Saya berada di sebelah pohon karet yang tingginya kira-kira lima kali badan saya. Cara seperti ini tidak akurat dan juga tidak praktis, salah satu sarana yang dapat dipakai untuk ketepatan komunikasi adalah peta. Pengetahuan tentang grid point ini, memberikan cara penyampaian yang paling mudah dan akurat. Dan cara penyampaian seperti ini mutlak perlu untuk melakukan Search and Rescue. Perjalanan di alam bebas, tentu memerlukan juga petunjuk, sama seperti jika anda berada di kota dan mengamati tanda lalu lintas. Petunjuk ini bisa didapatkan pada peta topografi, foto udara, atau laporan perjalanan yang telah lalu. Untuk ini, ditekankan pada peta topografi, karena yang satu ini memberikan data yang paling akurat dan juga paling mungkin didapat.Foto udara bukan merupakan sesuatu yang umum di negara kita, jadi kurang tepat untuk panjang lebar membahas ini walau bagi para pelancong alam bebas di Eropa dan Amerika Utara, hal ini umum dan lebih tepat karena medan salju yang mereka miliki tidak dipetakan secara kontur. Untuk pengenalan peta topografi, disajikan contohnya serta penekanan pada pemahaman akan simbol yang mewakili benda-benda asli di alam. Pemahaman ini akan dapat membuka kegunaan peta sebagai sumber informasi dan bahkan penentuan rute perjalanan. Pemakaian peta pada kenyataannya tidak seperti pemakaian dalam ilmu medan yang sering diberikan oleh pelatih dari militer. Tidak setiap saat, dalam perjalanan dengan peta, kompas, dan altimeter (alat pengukur ketinggian), semua perlengkapan ini dikeluarkan dan dipakai. Lebih banyak seseorang itu melakukan pengamatan awal pada peta untuk memahami medan yang akan dihadapi. Pemahaman akan bentuk wilayah yang akan dilalui, dapat membantu untuk menentukan lokasi serta tujuan anda. Contohnya, dari peta dapat dilihat bahwa di utara anda akan ada sungai besar yang melintang di perjalanan, di satu sisi ada desa, di sisi lain ada bukit. Jika di perjalanan nanti anda berada di tepi sungai, maka anda tahu arah untuk pulang, berarti ke selatan. Menuju desa berarti menyusuri satu sisi. Menuju bukit menyusuri sisi lainnya. Ini contoh sederhana sekali. Kenyataan alam itu tidak sesederhana contoh diatas. Banyak sekali bentuk alam , dan bahkan lebih banyak yang tidak tergambar di peta skala 1:50.000 yang umumnya kita pakai. Untuk mendaki gunung beberapa kenampakan perlu dipahami di antaranya ; punggungan, lembah, sungai sadel, pass, dan col. Tetapi ini tidak berarti bahwa kompas ,altimeter serta peta tidak perlu terpakai, dan cukup ditengok bila berangkat dan kemudian ditinggalkan. Pemakaian kompas lebih banyak untuk menentukan posisi awal kita, caranya adalah dengan cross bearing.

Pertama , dalam perjalanan tentu kita akan memasuki wilayah yang tergambar pada peta. Tepatnya ada titik dimana kita berada biasanya sulit ditentukan. Lebih mudah ditentukan bila kita berada di suatu desa dan nama desa itu ada pada peta. Tetapi jika bukan daerah pemukiman, maka pemakaian peta, altimeter, sangat berperan untuk menentukan posisi. Perjalanan, terutama pendakian gunung lebih sering menggunakan altimeter. Setelah posisi kita sendiri diketahui dan perjalanan yang akan ditempuh telah ditentukan, maka untuk mengecek posisi saat terakhir adalah dengan mencocokkan ketinggian, mengurut jalan kita pada peta, dan melihat garis ketinggian atau ketinggian yang sama. Merencanakan rute sendiri bukan hanya dari peta topografi belaka, bisa juga kita menggunakan laporan yang telah/ pernah dibuat atau bahkan dari pengalaman sebelumnya. Perlu juga pemahaman ini melalui foto, tetapi ini lebih banyak digunakan untuk medan tebing batu atau gunung salju dan daerah yang belum dipetakan, atau belum secara detail (skala besar ), misalnya Irian Jaya. Pengetahuan medan dan peta kompas ini memiliki keterbatasan hanya pada pengertian medan gunung, lebih terinci lagi pada gunung yang terdapat di daerah rawa, dan dataran tertutup hutan, seperti misalnya Amazon di Brazil. Untuk ini perlu lebih mendalam lagi dengan bacaan atau referensi lain, diskusi atau presentasi hasil perjalanan yang biasanya juga ada uraian tentang medannya. Jika hanya sebatas gunung, pengetahuan yang disajikan ini dapat menjadi dasar bagi semua orientasi gunung. Variasi pada kenampakan alamnya bisa jauh berbeda pada medan salju, tapi kenampakan utamanya seperti saddle, col, pass, masih bisa terlihat. Sedangkan untuk detailnya harus menambah pengetahuan dari tulisan geomorfologi glasial. MENGGAMBAR PENAMPANG LINTASAN Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan.. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan. Beberapa manfaat penampang lintasan : 1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan 2. Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan 3. Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang. Langkah-langkah membuat penampang lintasan: a. Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing, penggaris dan penghapus b. Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya. c. Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu peda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir. d. Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar. e. Tembahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi

tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat. Dalam banyak kasus, penggambaran penampang melintang (cross section) dari rute perjalanan mempunyai manfaat yang cukup besar, terutama untuk daerah yang belum pernah dikunjungi. Penggambaran penampang melintang bertujuan untuk memperlihatkan bentuk topografi dalam tiap segmen. Segmen disini diartikan sebagai titik ketinggian dan jarak. Pada ketinggian berapa keadaan topografi berlereng landai, terjal sampai sangat terjal dan beberapa derajat kemiringan lereng tiap segmen adalah salah satu contoh yang bisa diketahui dari penampang melintang. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggambar penampang adalah: 1. 2. 3. Skala Peta. Semakin kecil skala peta yang digunakan (angka penyebut skala besar ), detil relif yang ditampilkan semakin kurang dalam artian banyak kenampakan yang telah mengalami generalisasi. Skala Vertikal (ketinggian) dan horizontal (jarak sebenarnya) Harus benar-benar proporsional guna mendapatkan penampang yang ideal. Tidak boleh mengabaikan setiap detail medan, seperti adanya lembah,sungai, sadel, puncak bukit/gunung.

Metode penggambaran: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tarik garis transis yang dikehendaki diatas peta, bisa berupa garis lurus maupun mengikuti rute perjalanan. Beri tanda (huruf atau angka) pada titik awal dan akhir. Buat grafik pada milimeter blok.untuk sumbu x dipakai sekala horizontal dan sumbu y sekala vertikal. Ukur pada peta jarak sebenarnya (jarak pada peta x angka penyebut skala peta) dan ketinggian (beda tinggi) pada jarak yang diukur tadi. Pindahkan setiap angka beda tinggi dan jarak sebenarnya tadi sebanyak-banyaknya pada grafik. Hubungkan setiap titik pada grafik (lihat gambar)

Kompas Adalah alat penunjuk arah, yaitu arah utara magnetis bumi yang disebabkan oleh sifat kemagnetisannya. Karena sifatini, maka dalam penggunaannya jauhkan kompas dari pengaruh benda-benda yang terbuat dari baja atau besi, karena akan menyebabkan penunjukkan yang salah pada jarumnya. Ada banyak macam kompas yang dapat dipakai dalam kegiatan di alam, tentunya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Macam kompas yang digunakan antara lain : Kompas Prisma, Kompas Lensa dan Kompas Silva (Kompas Orientasi). Namun pada dasarnya fungsi kompas adalah sama, yaitu 1. Mengetahui arah 2. Membidik sasaran Kompas yang digunakan untuk navigasi : 1. Kompas Lensa Kompas Lensa merupakan kompas yang dilengkapi dengan lensa biconcav untuk mempermudah dalam pembacaannya. Bahan lensa ini dapat dari logam maupun dari fiber. Kelebihan dari lensa ini adalah: + Keringanannya sehingga mudah untuk dibawa dan digunakan, selain harganya yang cukup murah. + Memiliki pengait untuk memudahkan dalam mendatarkan kompas. Kekurangannya adalah: + Piringan kompas mudah sekali bergerak sehingga mempersulit kita dalam penghitungan besar sudut kompas. + Skala pada kompas tiap strip rnewakili dua skala, validitas pengukuran besarnya sudut kompas kurang, terutama untuk pengukuran sudut kompas dengan angka ganjil, pengukurannya berdasarkan perkiraan saja. 2. Kompas Silva Kompas ini sering disebut juga Kompas Orientasi, ini disebabkan oleh kemudahan penggunaan kompas ini untuk orientasi medan. Kompas ini memiliki tanda panah penyesuai yang terdapat di dasar piringan kompas, dilengkapi pula dengan cermin. Selain itu disekitar piringan kompas terdapat konektor dan penggaris. Kelebihannya adalah : + Memiliki cermin untuk memudahkan dalam pembacaan dan pembidikan + Dilengkapi dengan penggaris (dalam cm dan inchi). + Untuk jenis tertentu memiliki kaca pembesar dan konektor untuk peta berskala I : 50.000 dan I : 25.000. + Untuk jenis tertentu dilengkapi dengan lensa pembidik. + Dapat digunakan untuk mengukur besar sudut peta (pengganti busur derajat). Kekurangannya adalah: + Untuk membuat kompas terdebut datar kita harus menggunakan alat bantu yang datar. + Bila membidik besar sudut kornpas tidak dapat langsung diketahui. 3.Kompas Prisma Kompas ini memiliki prisma pada bagian dekat pengait. Kompas ini terbuat dari bahan logam, dengan jarum kompas mengandung zat phosphoric yang akan memudahkan pembacaan sudut bila pada atempat gelap. Kelebihannya adalah: + Besar sudut bidikan bisa langsung di baca melalui prisma. + Dapat langsung diketahui azimuth dan back azimuthnya. + Mudah digunakan, mudah didatarkan. Kekurangannya adalah + Terbuat dari logam sehingga berat. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Menggunakan KOMPAS 1. Set semua kompas yang akan dipakai (seragamkan dengan kompas yang standar). Untuk checking yang paling mudah yaitu kita pergi ke titik Triangulasi, dengan catatan daerah tersebut telah kita ketahui SPM-nya (misal 0 00' 00"). Plot salah satu tanda medan yang terlihat jelas dari Triangulasi dan juga terdapat di peta, catat besar sudut petanya, misal 50'.

** Untuk kompas standar, besar sudut kompas bila kita membidik tanda medan tersebut dan' titik Tnangulasi juga harus sebesar 50'. (Catatan : Cara kita membidik dan plotting sudah benar). 2. Perhatikan angka-angka pembagian derajat yang terdapat pada piringan kompas (untuk keseragaman sebaiknya menggunakan kompas dengan pembagian derajat sampai 360). Bila kita menggunakan kompas dengan pembagian derajat 6400, maka di lapangan kita harus menghitung lagi Kalibrasi Kompas Kahbrasi kompas merupakan standarisasi antara satu kompas dengan kompas lain yang sudah dikalibrasi atau lebih akurat. Contoh, kita akan mengkalibrasi dua buah kompas, yaitu A dan B, kemudian kita akan menggunakan kompas C sebagai kompas standar. Untuk sasaran bidikan kita gunakan Bukit X. Langkah I : bidikkan kompas C ke arah Bukit X, dan catat sudut kompasnya (misal 45) Langkah ll : Bidikkan kompas A dan B ke arah Bukit X, dan catat sudut kompasnya, misal A = 47 dan B = 42 Maka kalibrasi kompas A adalah : 47 - 45 = 20 (selisih), jadi untuk hash bidikan kompas A di medan harus dikurangi 2, karena hasil bidikannya kelebihan 2 dari kompas standar (kompas C). Sedangkan kalibrasi kompas B adalah : 45 - 42 _ 30 (selisih), jadi untuk hasil bidikan kompas B di medan harus dikurangi 3, karena hasil bidikannya kelebihan 3~' dari kompas standar (kompas C). Catatan Untuk menghidari terjadinya penyimpangan sudut kompas pada ikhtilafnya maka harus dihindarkan dari 1. Senjata berat, sejauh 60 meter 2. Senjata ringan, sejauh 40 meter 3. Pagar kawat, sejauh 10 meter 4. Parang, pisau dan logam kecil lainya, sejauh 3 meter atau lebih NAVIGASI SUNGAI 1. Pendahuluan Dalam perjalanan menyusuri sungai, baik berjalan kaki atau dengan perahu, kita dituntut untuk menguasai navigasi sungai seperti halnya navigasi darat dalam perjalanan gunung hutan. Secara praktis ilmu navigasi sungai telah lama dikenal oleh orang dayak di pedalaman kalimantan. Sebab sungai merupakan satu-satunya sarana angkutan bagi mereka. Dan dalam penentuan kedudukannya di sungai, mereka menggunakan tanda-tanda alam yang berupa riam, belokan sungai, penyempitan/pelebaran sungai, muara dan lainnya. 2. Pengertian Navigasi Sungai Navigasi sungai adalah teknik untuk menentukan kedudukan secara tepat dalam perjalanan penyusuran sungai. Perbedaan yang mendasar antara navigasi sungai dan navigasi darat terletak pada acuan dasar untuk menentukan kedudukan. Pada navigasi darat, yang diambil sebagai acuan dasar adalah bentuk permukaan fisik bumi yang digambarkan oleh garis kontur, sedang pada navigasi sungai acuan dasarnya adalah bentuk dari tepi kiri dan kanan sungai, yaitu belokan-belokan sungai yang tergambar di peta. 3. Perlengkapan Navigasi sungai a. Peta Ada dua macam peta yang digunakan yaitu: 1. Peta situasi sungai, peta ini tidak mempunyai garis kontur, yang tergambar adalah sungai dan desa yang ada di sepanjang daerah aliran sungai. Skala peta yang dipakai sebaiknya 1:50.000 atau 1:25.000, yang cukup jelas menggambarkan kondisi fisik sungai. Peta ini umumnya dibuat oleh perorangan yang pernah tinggal atau melakukan survey dan pemetaan disepanjang sungai tersebut. 2. Peta topografi, mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan peta situasi karena dapat membantu membaca kondisi alam di sekitar sungai seperti berupa rawa, tebing, bukit maupun pegunungan.

b. Kompas Digunakan untuk menentukan sudut belokan-belokan sungai, kompas bidik dan kompas orienteering dengan keakuratan yang baik dapat digunakan untuk keperluan ini. c. Alat Tulis Berupa kertas tulis, busur derajat, penggaris dan alat tulis. Dipakai untuk menentukan posisi, setelah terlebih dahulu membidik sudut kompas dari sungai dan melakukan penaksiran jarak.

d. Altimeter Altimeter bukan merupakan peralatan yang paling utama untuk menentukan posisi, tetapi lebih tepat untuk mengetahui gradien sungai, yaitu beda tinggi antara dua titik di sungai dalam jarak 1 km (contoh gradien sungai 9 m/km, yaitu beda tinggi 9 m antara dua titik yang berjarak 1 km). Karena perbedaan tinggi pada penurunan sungai relatif kecil untuk tiap km panjang sungai, maka sebaiknya digunakan altimeter yang cukup teliti, misalnya dengan kemampuan membaca perbedaan tinggi sampai 10 meter (sebagai gambaran, untuk sungai yang berarus deras dan banyak air terjunnya, perbedaan sungai rata-rata untuk tiap kilometer hanya sekitar 40 meter). 4. Menentukan Kedudukan Pada Peta Dilakukan dengan cara bergerak menyusuri sungai sambil memperhatikan perubahan arah belokan sungai, dibantu dengan tanda-tanda alam tertentu yang terdapat disepanjang sungai. Ada dua cara yang dapat dipakai untuk menentukan kedudukan: a. Dengan Bantuan Tanda-Tanda alam Misalnya kita sedang melakukan penyusuran sungai dari titik A ke titik B, kemudian pada suatu tempat dijumpai sebuah muara anak sungai di sebelah kiri, untuk menentukan kedudukan pada saat ini adalah: Lakukan orientasi peta, kemudian amati sekitar medan dengan teliti, ukur sudut kompas (azimuth) dari lintasan sungai pada belokan di depan dan di belakang dengan menggunakan kompas, ingat tanda alam sebelumnya yang terdapat di belakang ( misalnya di belakang kita terdapat sebuah delta) dan lihat juga tanda alam di depan (misalnya belokan sungai ke arah kiri), kemudian gambar situasi sungai yang telah di dapat, kemudian cari padanannya pada peta (perlu diketahui bahwa delta yang terdapat pada sungai adalah delta yang cukup besar, tidak tertutup pada saat banjir, dan di tumbuhi pepohonan, jika tidak memenuhi persyaratan tersebut tidak akan digambarkan pada peta.) apabila masih kurang jelas, maka perlu dilakukan penyusuran sampai pada tanda alam berikutnya yang dapat lebih memperjelas kedudukan kita. b. Membuat Peta Sendiri Teknik pelaksanaannya yaitu dengan penaksiran jarak dan pengukuran sudut kompas (azimuth). Sebelum melakukan cara ini, sebaiknya mata kita di latih dahulu untuk menaksir jarak, misalnya untuk jarak 50 meter atau 100 meter. Cara termudah adalah dengan berlatih di jalan raya dengan bantuan sepeda motor atau mobil yang penunjuk jaraknya masih berlaku dengan baik, dapat juga dengan bantuan tiang listrik (setiap 50 meter), patok kecil di sepanjang jalan raya (100 meter). Jika mata sudah terlatih, dapat dipraktekkan pada jalan dalam kota yang banyak belokannya. Untuk sungai di daerah hulu yang sempit dan banyak tikungannya, maka di pakai patokan jarak setiap 50 meter dengan sisa ukuran terkecil adalah 10 meter. Sedangkan untuk sungai di daerah tengah dan hilir yang relatifr lebih lebar dan lurus (kecuali pada daerah meander), atau jari-jari belokan besar (sudut belokannya relatif kecil untuk jarak 100 meter), maka dipakai patokan jarak setiap kelipatan 100 meter dengan sisa ukuran terkecil 25 meter. Jadi kita membuat sungai menjadi sebuah batang yang terdiri dari banyak ruas panjang dan pendek, yang berbelok-belok sesuai dengan sudutnya. Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan sungai adalah : sediakan peralatan yang diperlukan, buat tabel pada kertas yang terdiri dari dua kolom, kolom pertama untuk derajat (azimuth)dan kolom kedua untuk jarak (meter). Jika ingin lebih teliti dapat ditambahkan dua kolom lagi, yaitu untuk lebar sungai dan keterangan yang diperlukan (misalnya jika ada penyempitan, batu besar di tengah sungai, tebing terjal di kiri dan kanan sungai dan lainnya), bidik kompas pada awal pergerakan, dan taksir jaraknya dengan mata yang sudah terlatih, isikan hasil bidikan pada kolom 1 dan 2, jika menggunakan perahu

sebaiknya dilakukan dari tengah sungai, hitung jaraknya sambil bergerak maju setiap 50 dan 100 meter. Setelah sampai pada batas yang telah ditentukan dari ruas sungai, lakukan pembidikan dan taksirkan jaraknya kembali, ulangi sampai melampaui 3 belokan sungai, kemudian buat gambar sungai tersebut berdasarkan hasil catatan yang ada pada tabel, skala dapat di misalkan 1 cm untuk 100 meter atau lebih kecil lagi, kemudian cari padanan atau bentuk yang mirip dari gambar sungai yang kita buat dengan peta sungai yang kita bawa, dengan demikian kedudukan kita di peta dapat ditentukan yaitu pada titik terakhir yang kita buat, jika belum di dapat juga ulangi sampai beberapa belokan lagi. NAVIGASI RAWA Navigasi rawa adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di medan rawa. Navigasi rawa merupakan navigasi pada daerah dataran sehingga prinsipnya sama dengan navigasi gurun pasir. Tidak ada tanda ekstrim (bukit atau lembah) yang dapat dijadikan patokan. Jika pada rawa daerahnya datar dan kadang di penuhi aliran sungai yang dapat berubah akibat banjir, maka pada gurun pasir pun daerahnya selalu berubah-ubah akibat tiupan angin. Seperti pada navigasi darat (gunung hutan), maka langkah pertama yang paling penting sebelum memulai perjalanan adalah mengetahui letak titik pemberangkatan di peta. Tanda-tanda medan yang dapat dijadikan sebagai patokan adalah sungai, lokasi desa terdekat, garis pantai (jika dekat dengan pantai), jadi perlu diperhitungkan kecermatan orientasi medan yang teliti. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam navigasi rawa adalah: 1) tentukan titik pemberangkatan kita di peta; 2) bidik arah perjalanan yang diambil, catat sudut kompasnya; 3) ukur dan catat jarak tempuh perjalanan dengan sudut kompas tersebut, lakukan terus untuk setiap bagian perjalanan sampai menemukan tanda yang dapat dijadikan patokan, misalnya sungai, jika belum dijumpai, lakukan terus sambil mencari tempat beristirahat. Cara mengukur jarak: a) Dengan penaksiran jarak (jika sudah mahir), seperti navigasi man to man atau pemakaian back azimuth pada navigasi gunung hutan, pemegang kompas berjalan di belakang dan rekan lainnya berjalan menurut sudut kompas. Batas jarak pengukuran untuk satu segmen tergantung dari mata dan telinga, artinya sampai batas pengelihatan jika medannya tertutp atau sampai batas pendengaran jika medannya terbuka, jadi panjang suatu segmen relatif, tergantung medan yang dihadapi; b) Dengan menggunakan pita ukur atau tali, caranya sama seperti di atas, tetapi didapat hasil yang lebih teliti; c) Dengan alat bantu ukur yang di pasang pada pinggang pemegang kompas, yaitu pemegang kompas berjalan paling belakang, rekan yang di depan membuka jalur sesuai arah sudut kompas, ikat ujung benang pada titik awal pada saat membelok atau merubah arah, lihat angka yang tertera pada alat pengukur tersebut. Putuskan benang dan ikat kembali ujung yang baru pada titik belok; d) Dengan alat pengukur langkah yang dipasang pada pinggang bagian depan. Catat jumlah langkah untuk setiap arah sudut kompas. Ambil patokan 10 langkah sama dengan beberapa meter, atau kelipatan yang habis dibagi dengan 10; 4. Plot hasil pengukuran tersebut pada peta, pergunakan skala peta yang sesuai dengan skala peta yang dimiliki, jika pengukuran jarak dan sudut kompas teliti maka akan didapat hasil yang akurat. 5. Pemeriksaan posisi akhir dengan orientasi medan. Jika tersesat, minimal kita mempunyai catatan perjalanan untuk kembali ke tempat semula. 6. Jika sudut kompas dan jarak tempuh sudah ditentukan, maka plot di peta arah lintasan kita. Lakukan perjalanan dengan sudut kompas tersebut dan pergunakan cara melambung jika medannya tidak memungkinkan untuk dilalui, dengan tidak melupakan poin 2 dan 3. Catatan: cara berjalan di rawa a. Bawa tongkat dan tali. Tongkat untuk mengukur kedalaman lumpur rawa, dan tali untuk membantu menarik teman yang terbenam.

b. Berjalan secara beriringan. Usahakan bejalan berdekatan dengan tanaman yang ada, injak bekas tumbuhan semak, rumput, atau akar tumbuhan yang ada kaarena tanahnya relatif lebih keras. c. Tebas ranting pohon, dan letakkan secara melintang pada jalur yang akan diinjak, gunanya untuk menahan lajunya turunnya badan kita ke dalam rawa, prinsipnya sama seperti orang berjalan di atas salju yang lunak dengan menggunakan sepatu ski, semakin luas permukaan yang diinjak, maka semakin ringan beban yang ditanggung oleh salju. d. Waspadalah terhadap binatang yang banyak terdapat di sekitar tanaman yang tumbuh di daerah rawa, umunya mereka berbisa. NAVIGASI PANTAI Navigasi pantai adalah teknik berjalan dan menentukan posisi dengan tepat di daerah pantai. Navigasi pantai jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan navigasi rawa dan sungai, sebab sebuah garis posisi sudah diketahui, yaitu sebuah garis tepi pantai, jadi hanya dibutuhkan sebuah tanda lagi untuk melakukan resection. Tanda-tanda medan yang dapat dijadikan patokan adalah: - sudut arah dari garis pantai; - tanjung atau teluk; - muara sungai;- pulau atau karang yang terdapat disekitar pantai; - bukit yang terdapat didaerah pantai; - kampung nelayan Jika sudah terlatih navigasi gunung hutan, maka navigasi di daerah pantai tidak menjadi masalah, karena pada navigasi pantai lebih ditekankan pembacaan peta. Tanpa bantuan kompaspun sebenarnya kita dapat berjalan di tepi pantai, kompas dibutuhkan jika harus melakukan perjalanan potong kompas, menghindari rintangan yang berupa tebing terjal yang tidak mungkin untuk dilewati. Langkah-lagkah yang harus dilakukan dalam navigasi pantai: 1) Plot posisi kita dengan cara resection. 2) Berjalan mengikuti garis pantai selama masih memungkinkan. 3) Catat waktu perjalanan untuk waktu yang berbeda atau tiap menjumpai tanda yang mudah dikenal. Ini dilakukan untuk mempermudah kita jika kehilangan posisi. Periksa posisi kita di peta setiap menjumpai tandatanda medan yang mudah dikenal, misalnya tanjung dan muara sungai. 4) Jika menemui rintangan yang berupa tebing karang yang tidak mungkin dilewati, lakukan resection untuk menentukan posisi terakhir sebelum tebing tersebut. Setelah itu rencanakan perjalanan melambung dengan bantuan kompas sampai melewati rintangan. Pada tebing karang, umumnya perjalanan harus melewati tanjakan dan turunan yang terjal. Sistem Penomoran Peta

Penomoran Peta Topografi proyeksi LCO Batas peta wilayah indonesia yaitu : Barat : 940 40 BT, Timur : 1410 BT, Utara : 60 LU, Selatan : 110 LS. Penomoran dimulai dari meridian 0 di jakarta yaitu 1060 48 27,29 BT (120 barat bujur 1060 40 27,29 timur green wich) 1) Lembar Peta skala 1 : 100.000 (Petainduk) - Ukuran 1 lembar peta adalah 20 bujur x 20 lintang. Sehingga terdapat 7089 Lembar Petaindonesia skala 1 : 100.000. -Penomoran tiap 20 lintang dari 94.50 BT 1410 BT dengan angka latin 1-139 -Penomoran tiap 2 bujur dari 110 LU 60 LU dengan huruf latini LI Contoh penomoran : 58/XLII berarti lembar ke 58 mendatar dari kiri, lembar ke XLII vertikal dari atas. 2) Lembar Peta skala 1 : 50.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 10 bujur x 10 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 terdapat 2 x 2 = 4

lembar peta skala 1 : 50.000 -Penomoran dengan huruf latin A D mulai pojok kanan bawah berlawanan arah jarum jam.

Contoh penomoran : 58/XLII B berarti lembar ke 58 mendatar dari kiri, lembar ke XLIi vertikal dari atas peta 1 : 100.000, lembar ke 2 dari pojok kanan bawah berlawanan arah jarum jam. 3) Lembar Peta skala 1 : 25.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 5 bujur x 5 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 terdapat 3 x 3 = 9 lembar peta skala 1 : 25.000 -Penomoran dengan huruf latin a q tanpa hurufi mulai dari pojok kanan atas searah jarum jam. Contoh penomoran : 58/ XLIi f berarti lembar ke 58 mendatar dari kiri, lembar ke XLIi ver tikal dari atas peta 1 : 100.000, lembar ke 6 dari pojok kanan atas searah jarum jam. Sistem Penomoran Peta Topografi proyeksi UTM/AMS Batas peta wilayah indonesia yaitu : Barat : 940 30 BT, Timur : 1410 BT, Utara : 60 LU, Selatan : 120 LS 1) Lembar Peta UTM global skala 1 : 1.000.000 -Penomoran tiap 60 bujur dari 1800 BB 1800 BT dengan angka latin 1 60 -Penomoran tiap 80 lintang dari 840 LU 800 LS dengan huruf latin dari huruf C X tanpa huruf I dan O. -Dengan penomoran seperti ini (885 km x 665 km) maka indonesia berada pada zona 46 dengan bujur sentral 930 BT zona 54 dengan bujur sentral 1410 BT serta arah lintang L,M,N,P mulai 150 LS 100 LU 2) Lembar Peta skala 1 : 250.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 10 30 bujur x 10 30 lintang. Sehingg a terdapat 4 x 8 = 32 lembar peta wilayah indonesia skala 1 : 250.00 -Penomoran tiap 1.50 bujur dari 94.50 BT 1410 BT dengan angka latin 1-31 -Penomoran tiap 10 lintang dari 60 LU 120 LS dengan angka romawii XVII 3) Lembar Peta skala 1 : 1 00.000 indonesia ( Peta Induk) -Ukuran 1 lembar peta adalah 30 bujur x 30 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 250.000 terdapat 2 x 3 = 6

lembar peta skala 1 : 100.000 -Penomoran tiap 30 bujur dari 94.50 BT 1410 BT dengan angka latin 1-94 Penomoran tiap 30 lintang dari 60 LU 110 LS dengan angka latin 1-36 Contoh penomoran : 2145 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal. 4) Lembar Peta skala 1 : 50.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 15 bujur x 15 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 ter dapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 50.000 -Penomoran dengan angka romawii iV mulai dari pokok kanan atas searah jarum jam Contoh penomoran : 2145-iv berarti lembar 2145, urutan ke 4 dari pojok kanan atas searah jarum jam. 5) Lembar Peta skala 1 : 25.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 730 bujur x 730 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 50.000 terdapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 25.000 -Penomoran dengan huruf latin a d mulai dari pokok kanan atas searah jarum jam Contoh penomoran : 2145-iVa berarti lembar 2145, urutan ke 4 dari pojok kanan atas searah jarum jam dan pertama dari pojok kanan atas searah jarum jam. Sistem Penomoran Peta Topografi BAKOSURTANAL Batas peta wilayah Indonesia yaitu : Barat : 900 BT, Timur : 1410 BT, Utara : 60 LU, Selatan : 150 LS 1) Lembar Peta UTM global skala 1 : 1.000.000 Ukuran 1 lembar peta adalah 40 bujur x 60 lintang. Karena peta BAKOSURTANAL mengikuti proyeksi UTM, maka maka tiap 40 bujur dibagi menjadi 2 penomoran lagi : A dan B. Utk arah lintang Selatan makin besar ke bawah (A, B) , utk lintang Utara makin kecil ke bawah (B, A).

2) Lembar Peta skala 1 : 500.000 indonesia Ukuran 1 lembar peta adalah 20 bujur x 30 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 1.000.000 terdapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 500.000

3) Lembar Peta skala 1 : 2 50.000 indonesia ( Peta Induk) -Ukuran 1 lembar peta adalah 10 bujur x 10 30 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 500.000 terdapat 2 x 2 = 2 lembar peta skala 1 : 250.000 -Penomoran tiap 1.50 lintang dari 94.50 BT 1410 BT dengan angka latin 1-31 -Penomoran tiap 10 bujur dari 110 LU 60 LU dengan angka latin 1 17 Contoh penomoran : 2145 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal. 4) Lembar Peta skala 1 : 100.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 30 bujur x 30 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 250.000 terdapat 3 x 2 = 6 lembar peta skala 1: 100.000 5) Lembar peta skala 1 : 100.000 -Penomoran dengan angka latin 1 6 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam Contoh penomoran : 2145-1 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal, urutan ke 1 dari pojok kiri bawah ber lawanan arah jarum jam. 6) Lembar Peta skala 1 : 50.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 15 bujur x 15 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 100.000 terdapat 2 x 2 = 4 lembar peta skala 1 : 50.000 -Penomoran dengan angka latin 1 4 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam Contoh penomoran : 2145-12 berarti lembar ke 21 mendatar dari 45 vertikal peta 1 : 250.000, urutan ke 1 dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam peta 1 : 100.00, urutan ke 2 dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam peta 1 : 50.000. 7) Lembar Peta skala 1 : 25.000 -Ukuran 1 lembar peta adalah 730 bujur x 230 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 50.000 terdapat 2 x 2 = 4 lembar peta skala 1 : 25.000 -Penomoran dengan angka latin 1 4 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam 8.) Lembar Peta skala 1 : 10.000 Ukuran 1 lembar peta adalah 230 bujur x 230 lintang. Sehingga 1 lembar peta skala 1 : 50.000 terdapat 2 x 2 = 4 9) Lembar peta skala 1 : 25.000 Penomoran dengan angka latin 1 9 mulai dari pojok kiri bawah berlawanan arah jarum jam