Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN AKHIR PROGRAM PENERAPAN IPTEKS

PENGENALAN FORMULA WHO DALAM PENANGANAN GIZI BURUK PADA KELUARGA BALITA DAN KADER POSYANDU DI KABUPATEN MAROS

Oleh: Dr. Nurhaedar Jafar, Apt.,M.Kes. 19641231 199002 2 001 Healthy Hidayanti, SKM, M.Kes 19810407 200801 2 013

Dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, sesuai Surat Perjanjian Pelaksanaan Hibah Kompetitif Pengabdian Pada Masyarakat Berbasis Riset Dalam Rangka Publikasi Domestik Tahun Anggaran 2009 Nomor : 035/SP2H/PPM/DP2M/IV/2009, tanggal 26 April 2009

LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN TAHUN ANGGARAN 2009


HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN HASIL PENERAPAN IPTEKS

1. Judul

2. Bidang 3. Ketua Tim Pengusul a. Nama Lengkap b. Jenis Kelamin c. NIP d. Pangkat/Golongan e. Jabatan f. Fakultas/Jurusan h. Alamat i. Telp/Fax/Email j. Alamat Rumah k. Telp/Fax/Email

: Pengenalan Formula WHO dalam Penanganan Gizi Buruk pada Keluarga Balita dan Kader di Kabupaten Maros : Ipteks (Kesehatan) : : Dr. Nurhaedar Jafar, Apt., M.Kes : Perempuan : 19641231 199002 2 001 : Penata Tk.I;III/d : Ketua Prodi S1 Gizi FKM Unhas : Kesehatan Masyarakat/Gizi : Gedung FKM Kampus UNHAS Tamalanrea Jl. Perintis Kemerdekaan, Makassar 90245 : Telp/Fax (0411) 585 087, email: gizifkmuh@gmail.com : Jl. Racing Centre Perumahan UMI B5 : telp. 0411-445411 email: eda_jafar@yahoo.co.id : Healthy Hidayanti, SKM, M.Kes : Kelurahan Maccini Baji Kab. Maros : Rp 7.500.000

4. Nama Anggota Tim 5. Lokasi Kegiatan 8. Jumlah Biaya yang diusulkan

Makassar, 28 Oktober 2009 Mengetahui, Dekan FKM Ketua Tim Peneliti,

Prof. dr. Veni Hadju, Ph.D, Sp.GK MKes NIP 19620318 198803 1 004

Dr. Nurhaedar Jafar, Apt, NIP 19641231 199002 2 001

Menyetujui, Ketua LPPM UNHAS u.b. Sekretaris

Prof. Dr. Ir. H. Sudirman, MP NIP 19641212 198903 1 004 ABSTRAK

Tingginya prevalensi gizi buruk dan tidak bersedianya orang tua anak gizi buruk untuk dirujuk ke rumah sakit menunjukkan bahwa sangat penting dilakukannya penanganan gizi buruk di tingkat rumah tangga dan masyarakat (community care). Kegiatan ini bertujuan melihat sejauh mana model penanganan gizi buruk di community care dapat dilakukan baik oleh ibu balita dan kader posyandu. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah peningkatan pengetahuan, keterampilan kader posyandu dan orang tua balita melalui pendampingan. Materi yang diberikan mencakup pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dan orang tua balita dalam penanganan gizi buruk melalui pengenalan formula WHO, intervensi dilakukan selama satu bulan. Berdasarkan hasil kegiatan disimpulkan bahwa pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam penanganan anak gizi buruk cukup tinggi, sedangkan ibu balita dalam penanganan anak gizi buruk masih rendah karena masih sangat tergantung pada kehadiran tim pendamping. Penerimaan anak terhadap formula WHO masih rendah (rata-rata dibawah 70% yang dapat dihabiskan dari formula yang diberikan). Keberhasilan penanganan anak gizi buruk di community care belum memberikan hasil yang optimal

PRAKATA

Alhamdulillah, puji shukur kami panjatkan kepada Allah Subhana Wataalla atas segala Rahmat dan Petunjuk-Nya sehingga pelaksanaan kegiatan pengabdian dan selanjutnya penulisan laporan dapat dilaksanakan dengan baik. Kegiatan pengabdian masyarakat tentang Pengenalan formula WHO dalam penanganan gizi buruk pada keluarga balita dan kader posyandu Di Kabupaten Maros tahun 2009 memberikan banyak informasi yang sangat bermanfaat. Kami mengucapkan terima kasih kepada orang tua balita khususnya responden kami yang mau menyisihkan waktunya disela-sela kesibukannya bekerja di rumah dan di sawah. Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada Bidan, dan para Kader Posyandu yang mau bekerja sama dengan kami juga kepada Kepala Lurah Kelurahan Maccini Baji yang mengijinkan kami malaksanakan kegiatan pengabdian ini. Kepada semua pihak yang turut terlibat dalam penelitian ini; kepada rekan dosen di Program Studi Ilmu Gizi FKM terima kasih atas dukungannya, staf Prodi Gizi FKM Unhas yang banyak membantu selama pelaksanaan penelitian ini dan semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Kami menyadari bahwa laporan penelitian ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik dari semua pembaca. Semoga Allah SWT memberi Ridhlo atas semua niat dan amal baik kita.

Makassar, November 2009

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................... ABSTRAK ................................................................................................................

ii iii

PRAKATA................................................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................................. DAFTAR TABEL...................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1.1. Analisis Situasi ................................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ............................................................................ 1.3. Tujuan ................................................................................................. 1.4. Manfaat ............................................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 2.1. Tinjauan tentang Gizi Buruk ............................................................... 2.2. Penilaian Gizi Buruk ........................................................................... 2.3. Mekanisme Monitoring Pertumbuhan Anak ....................................... 2.4. Prinsip Penanganan ............................................................................. BAB III MATERI DAN METODE ......................................................................... 3.1. Kerangka Pemecahan Masalah ........................................................... 3.2. Realisasi Pemecahan Masalah ............................................................ 3.3. Khalayak Sasaran ................................................................................ 3.4. Metode Penerapan Ipteks .................................................................... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 4.1. Hasil Kegiatan ..................................................................................... 4.2. Pembahasan ........................................................................................ BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................

iv v vii viii ix 1 1 2 2 3 4 4 5 8 10 13 13 14 14 15 17 17 22 26

5.1. Kesimpulan ......................................................................................... 5.2. Saran ................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

26 26

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Tabel 2.2. Tabel 4.1.

Bagan dan Jadwal Pengobatan Kebutuhan Gizi Menurut Fase Pemberian Makan Distribusi Balita (Umur 6-59 Bulan) Berdasarkan Tempat Tinggal Balita (Umur 6-59 Bulan) yang terjaring

11 12 17

Tabel 4.2.

18

Tabel 4.3. Tabel 4.4. Tabel 4.5. Tabel 4.6. Tabel 4.7.

Karakteristik Sosial Ekonomi Orang Tua Balita Kader yang Mengikuti Pelatihan Rata-rata Penerimaan Anak terhadap Formula WHO Berat Badan Anak pada Awal dan Akhir Intervensi Status Gizi Z-score Anak pada Awal dan Akhir Intervensi

18 19 20 21 21

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1.

Diagram alur penanganan anak gizi buruk tingkat posyandu/ community care Model penanganan gizi buruk dengan pendampingan oleh kader Persentase status gizi anak 6-59 bulan sebelum dan sesudah intervensi

13

Gambar 3.2. Gambar 4.1.

14 21

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8

Jadwal, jnis, dan jumlah makanan yang diberikan Formula WHO dan modifikasinya serta petunjuk pembuatan Kuesioner kegiatan Formulir Pencatatan Konsumsi Formula WHO/Modifikasi Formulir Recall 24 jam Formulir Pencatatan Penimbangan Berat Badan Anak Contoh Makanan PMT Lokal Pembiayaan

28 29 31 36 37 38 39 40

Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11

Foto Balita dan Hasil Kegiatan Organisasi Pelaksanaan Daftar Riwayat Hidup Peneliti

41 43 44

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Analisis Situasi Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Sulsel (2006) menyebutkan bahwa kabupaten dengan prevalensi kurang gizi tinggi (diatas 30%) antara lain Kabupaten Maros, Takalar, Pangkep, Jeneponto, Luwu dan Selayar. Sejalan dengan data tersebut survei gizi dan kesehatan di Kabupaten Maros tahun 2005 diperoleh angka kurang gizi 34,3% (9,6% gizi buruk dan 24,7% gizi kurang). Hasil survei gizi (2005) di kelurahan Maccini Baji telah ditindak lanjuti (dipilih Lingkungan Belang-belang karena memiliki balita kurang gizi tetinggi) dengan berbagai intervensi seperti optimalisasi peran kader posyandu, penyuluhan pola asuh dan bantuan modal usaha bagi orangtua yang memiliki anak kurang gizi. Hasil dari intervensi belum menggembirakan karena cakupan D/S masih rendah rata rata per bulan di bawah 50%, usaha kejar timbang oleh kader kurang maksimal, walaupun prevalensi anak gizi buruk turun dari 15,6% menjadi 11,5% (per Januari 2006). Upaya merujuk balita gizi buruk ke rumah sakit belum dapat diterima oleh keluarga, dengan alasan-alasan 1. trauma, 2. tidak ada yang mengurus keluarga, 3. waktu, dan 4. ekonomi. Sebagai jalan keluar, maka telah dilakukan pelatihan penanggulangan gizi buruk melalui pemberian formula WHO/Modisco kepada seluruh kader posyandu di Kelurahan Maccini Baji oleh TP PKK Prop. Sulsel bekerja sama dengan FKM Unhas. Tujuan utama pelatihan ini adalah agar kader posyandu dapat mendampingi ibu penderita gizi buruk dalam pemberian makanan (Community care). Hasil di lapangan

10

menunjukkan bahwa apa yang diberikan pada pelatihan belum sepenuhnya dilaksanakan oleh kader posyandu dengan alasan keluarga balita belum mau menerima dengan berbagai alasan. Untuk memberi pemahaman pentingnya Formula WHO (dan Modisco) yang harus diberikan pada anak balita gizi buruk maka perlu sosialisasi langsung pada tingkat rumah tangga (keluarga).

1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan tingginya prevalensi gizi buruk dan tidak bersedianya orang tua anak gizi buruk untuk dirujuk ke rumah sakit menunjukkan bahwa sangat penting dilakukannya penanganan gizi buruk di tingkat rumah tangga dan masyarakat (community care). Kader posyandu sebagai pilar kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat di Kelurahan ini telah mendapatkan pelatihan tentang pemberian makanan pada anak gizi buruk berupa diet berbasis susu (Formula WHO dan Modisco). Oleh karena itu penting kiranya kegiatan ini dapat dilakukan agar anak gizi buruk dapat tertangani dengan segera tanpa harus dipisahkan dari keluarganya.

1.3. Tujuan Kegiatan Tujuan umum kegiatan ini adalah untuk melihat sejauh mana model penanganan gizi buruk di community care dapat dilakukan baik oleh ibu balita dan kader posyandu. Tujuan khusus kegiatan ini adalah : 1. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam penanganan anak gizi buruk.

11

2.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam penanganan anak gizi buruk.

3. 4.

Menilai besar penerimaan anak terhadap formula WHO. Untuk melihat tingkat keberhasilan penanganan anak gizi buruk di community care

1.4. 1.

Manfaat Kegiatan Pengetahuan dan keterampilan Kader Posyandu bertambah dalam hal penanganan anak balita gizi buruk. 2. Angka status gizi baik meningkat dan anak yang mengalami gangguan gizi dapat tertangani.

12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan tentang Gizi Buruk Gizi Buruk adalah akibat dari kegagalan untuk memenuhi persyaratan energi dan gizi yang sudah bersifat kumulatif dan kronis. Manifestasi proses ini tergantung pada beberapa faktor, seperti: usia, infeksi, kondisi gizi sebelumnya, dan keterbatasan makanan, dan sebagainya. Studi eksperimental klasik terhadap kekurangan energi makanan dan kelaparan para hewan dan manusia dan penelitian pada anak yang kekurangan gizi parah pada awal penelitian dan selama penyembuhan telah menambah pemahaman kita, walaupun situasi ini semakin dipersulit dengan berbagai penyebab malnutrisi pada kebanyakan anak. Tanpa adanya infeksi, kondisi kelaparan bisa menyebabkan berkurangnya simpanan lemak dan simpanan glikogen yang dimediasi oleh perubahan metabolik dan endokrin yang memiliki fungsi umum untuk menjaga fungsi-fungsi vital, sehingga memungkinkan hewan atau manusia bertahan hidup sampai energi makanan bisa dipulihkan. Perubahan-perubahan secara dini antara lain berkurangnya aktivitas yang menghemat pengeluaran energi. Pertumbuhan lambat, mengurangi energi yang diperlukan untuk mempertahankan kondisi ini, dan perubahan terjadi pada komposisi tubuh. Laju metabolisme dinyatakan dalam kaitannya dengan tinggi atau pengurangan massa tubuh. Otak dan viscera relatif terlindungi, yang menghasilkan komposisi tubuh yang merupakan ciri khas dari anak penderita marasmus. Ada peningkatan total air dalam tubuh, yang utamanya berada di luar sel tapi bisa juga berada dalam sel.

13

Penyebab utama timbulnya kurang gizi yaitu konsumsi makanan yang rendah gizi dan kualitasnya disamping keadaan kesehatan atau penyakit infeksi yang mungkin diderita anak. Anak yang mendapat makanan cukup baik tetapi sering diserang diare, demam, ISPA, akhirnya dapat menderita kurang gizi. Demikian juga pada anak yang konsumsi makanannya kurang, maka daya tahan tubuhnya (imunitas) dapat melemah, sehingga dalam keadaan demikian mudah diserang infeksi yang dapat mengurangi nafsu makan, dan akhirnya menderita kurang gizi. Dalam kenyataannya keduanya (konsumsi makanan dan infeksi penyakit) secara bersamasama merupakan penyebab langsung kurang gizi. Kurang gizi berarti pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu baik fisik maupun mental. Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di tingkat rumah tangga yang tidak cukup (dapat juga akibat kemiskinan), pelayanan kesehatan (anak tidak diimunisasi, tidak menimbang berat badan di posyandu secara teratur, tidak membawa anak ke yankes jika sakit) dan sanitasai lingkungan yang tidak mendukung. Pengasuhan anak yang kurang, sanitasi dan penyediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat merupakan agen utama infeksi penyakit.

2.2. Penilaian Gizi Buruk a. Tanda-tanda dan gejala Anak tampak sangat kurus, kadang-kadang disertai pembengkakan (edema) di kedua kaki, mata cekung yang baru saja muncul, adanya kejadian muntah/diare, tangan dan kaki teraba dingin, sering merasa kehauasan/dehidrasi, perut kembung, suara usus, dan adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal splash), pucat yang sangat berat terutama pada telapak tangan,

14

telinga, mulut dan tenggorokan terdapat tanda-tanda infeksi dan terdapat purpura (tanda-tanda infeksi) pada kulit. Tanda lainnya adalah kebiasaan makan yang menurun dibanding biasanya dan anak selalu gelisah dan rewel (Depkes 2007). Gizi buruk dengan gejala klinis yaltu kwarshiorkor, marasmus dan kombinasi kwarshiorkor-marasmus, dengan ciri-ciri sebagai berikut: Kwashiorkor Edema, umumnya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki (dorsum pedis) Wajah membulat dan sembab Pandangan mata sayu Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok Perubahan status mental, apatis, dan rewel Pembesaran hati Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crazy pavement dermatosis) Sering disertai : penyakit infeksi, umumnya akut, anemia, diare.

Marasmus: Tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit Wajah seperti orang tua

15

Cengeng, rewel Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar)

Perut cekung Iga gambang Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) dan diare kronik atau konstipasi/susah buang air

Marasmik-Kwashiorkor: Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik Kwashiorkor dan Marasmus, dengan BB/U <-3 SD Z-Score disertai edema yang tidak mencolok.

b. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dapat dilakukan secara antropometri dan biokimia. Secara antropometri status gizi buruk dapat diukur melalui berat badan dan tinggi badan anak, umumnya menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/u) Z-Score dan berat badan menurut tinggi badan (panjang badan) atau BB/TB-PB Z-Score. Anak diklasifikasikan gizi buruk jika indeks BB/u Z-Score atau BB/TB-PB Z-Score < -3 SD. Pemeriksaan fisik secara biokimia dilakukan untuk melihat apakah ada komplikasi dan menentukan keadaan beratnya. Pemeriksaan meliputi denyut nadi (bila denyut nadi 25 kali/menit), pernafasan cepat ( 40 kali permenit untuk anak usia 12 bulan ke atas, dan peningkatan pernafasan 5 kali/menit), suhu/hipotermia (naik/turun secara tiba-tiba dan suhu aksiler <36,5oC),

16

hipoglikemia (kadar gula darah < 54 mg/dl), capilay refill (bila perubahan warna putih menjadi merah kembali pada kuku ibu jari yang ditekan > 3 detik tanda-tanda renjatan.syok), anemia dan lain-lain.

2.3. Mekanisme Monitoring Pertumbuhan Anak a. Posyandu Mekanisme monitoring pertumbuhan anak adalah setelah anak ditimbang maka hasil penimbangannya akan diisikan ke dalam KMS (Kartu Menuju Sehat). Jika hasil penimbangan menunjukkan bahwa BB/U kurang dari 60% atau berada pada >-3SD<-2SD maka anak Berat Badannya Kurang. Namun jika terjadi edema perlu diwaspadai anak menderita gizi buruk. Bila hasil penimbangan BB/U menunjukkan hasil kurang dari 60% atau <-3 SD maka tentukan status gizi anak dengan BB/TB-PB. menunjukkan BB/TB Ibu memperoleh penyuluhan gizi/kesehatan serta demontrasi cara menyiapkan makanan untuk anak KEP Kader menganjurkan pada ibu untuk tetap melaksanakan nasehat yang diberikan tentang gizi dan kesehatan Kader melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan dan gizi anak b. Puskesmas Puskesmas menerima rujukan KEP Berat/Gizi buruk dari posyandu dalam wilayah kerjanya serta pasien pulang dari rawat inap di rumah sakit, kemudian menyeleksi kasus dengan cara menimbang ulang dan dicek dengan Jika hasilnya

17

Tabel BB/U Z-Score WHO-NCHS apabila ternyata berat badan anak berada di bawah garis merah (BGM) dianjurkan kembali ke PPG/posyandu untuk mendapatkan PMT pemulihan, apabila anak dengan KEP berat/gizi buruk (BB < 60% Tabel BB/U Baku Median WHO-NCHS) tanpa disertai komplikasi, anak dapat dirawat jalan di puskesmas sampai berat badan nya mulai naik 0,5 Kg selama 2 minggu dan mendapat PMT-P dari PPG, apabila setelah 2 minggu berat badannya tidak naik, lakukan pemeriksaan untuk evaluasi mengenai asupan makanan dan kemungkinan penyakit penyerta, rujuk ke rumah sakit untuk mencari penyebab lain Anak KEP berat/Gizi Buruk dengan komplikasi serta ada tanda-tanda kegawatdaruratan segera dirujuk ke rumah sakit umum, tindakan yang dapat dilakukan di puskesmas pada anak KEP berat/ gizi buruk tanpa komplikasi : Memberikan penyuluhan gizi dan konseling diet KEP berat/Gizi buruk (dilakukan di pojok gizi) Melakukan pemeriksaan fisik dan pengobatan minimal 1 kali per minggu Melakukan evaluasi pertumbuhan berat badan balita gizi buruk setiap dua minggu sekali Melakukan peragaan cara menyiapkan makanan untuk KEP berat/Gizi buruk Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang perkembangan berat badan dan kemajuan asupan makanan Untuk keperluan data pemantauan gizi buruk di lapangan, posyandu, dan puskesmas diperlukan laporan segera jumlah balita KEP berat/gizi buruk

18

ke Dinas kesehatan kabupaten/kota dalam 24 jam dengan menggunakan formulir W1 dan laporan mingguan dengan menggunakan formulir W2

Apabila berat badan anak mulai naik, anak dapat dipulangkan dan dirujuk ke posyandu/PPG serta dianjurkan untuk pemantauan kesehatan setiap bulan sekali. Petugas kesehatan memberikan bimbingan terhadap kader untuk melakukan pemantauan keadaan balita pada saat kunjungan rumah

2.4. Prinsip Penanganan Dalam proses penangnan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase. tata laksana ini digunakan pada pasien Kwashiorkor, Marasmus maupun Marasmik-Kwashiorkor. Pada KEP berat/gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental dan perilaku, karenanya stimulasi harus diberikan dengan cara : Kasih sayang Ciptakan lingkungan yang menyenangkan Lakukan terapi bermain terstruktur selama 15 30 menit/hari Rencanakan aktifitas fisik segera setelah sembuh Tingkatkan keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dan sebagainya)

19

Tabel 2.1. Bagan dan jadwal pengobatan sebagai berikut:


FASE STABILISASI H1 - 2 1 2 3 4 5 6 Hipoglikemia Hipotermia Dehidrasi Elektrolit Infeksi Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro Memberikan makanan untuk stabilisasi & transisi Makanan tumbuh kejar Stimulasi Tindak lanjut H3-7 FASE TRANSISI H 8 - 14 FASE REHABILI TASI Minggu Ke 3 - 6 FASE TINDAK LANJUT*) Minggu ke7-26

Tanpa Fe

Dengan Fe

8 9 10

*) Pada fase tindak lanjut dapat dilakukan di rumah, dimana anak secara berkala (1 minggu/kali) berobat jalan ke puskesmas atau rumah sakit.

Bila berat badan anak berada di garis warna kuning anak dapat dirawat di rumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan puskesmas atau bidan di desa. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap diberikan dirumah dan ikuti pemberian makanan seperti pada lampiran 5, dan aktifitas bermain. Kader Posyandu yang pernah dilatih sebelumnya tentang penilaian anak gizi buruk, pencatatan dan tatalaksana diet untuk balita gizi buruk berdasarkan Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk Depkes 2007 dapat melakukan penanganan awal pada anak yang mulai terdeteksi KEP ringan. Kader Posyandu dapat menjaring anak yang berisiko mengalami gizi buruk serta menetapkan

penanggulangannya dan menangani jika terdapat anak balita gizi buruk (tanpa edema) lebih cepat agar balita tersebut tidak jatuh lebih parah.

20

Tabel 2.2. Kebutuhan Gizi Menurut Fase Pemberian Makan FASE STABILISASI Energi Protein Vitamin A Asam Folat Zink Cuprum Fe Cairan 100 Kkal/kgbb/hr 1-1,5 g/kgbb/hr Lihat langkah 6 Idem Idem Idem Idem 130 ml/Kgbb/hr atau 100 ml/kgbb/hr bila ada edema TRANSISI 150 Kkal/kgbb/hr 2-3 g/kgbb/hr Lihat langkah 6 Idem Idem Idem Idem 150 ml/Kgbb/hr REHABILITASI 150-200 Kkal/kgbb/hr 4-6 g/kgbb/hr Lihat langkah 6 Idem Idem Idem Idem 150-200 ml/Kgbb/hr

21

BAB III MATERI DAN METODE

3.1. Kerangka Pemecahan Masalah :

Penimbangan anak balita 659 bulan

Gizi Kurang

Penanganan di Community Care Penanganan di Community Care Dirujuk ke Puskesmas atau RS

Gizi Baik Gizi Buruk

Tanpa Gejala Klinis

Dengan Gejala Klinis

Gambar 3.1. Diagram Alur Penanganan anak gizi buruk tingkat Posyandu/ community care. Semua balita sasaran (S) di suatu daerah harus dipantau pertumbuhannya melalui penimbangan rutin setiap bulan di posyandu (D). Jika cakupan D/S 100%, pemantauan status gizi balita dapat tertangani dengan baik, sehingga jika ada balita yang mengalami gizi buruk dengan disertai gejala klinis dapat cepat dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit. Jika ada balita yang mengalami gizi buruk tanpa disertai gejala klinis maka dapat ditangani segera di tingkat posyandu atau community care (post pelayanan gizi/PPG) demikian halnya pada balita yang mengalami gizi kurang. Penanganan balita yang mengalami gangguan pertumbuhan berupa gizi kurang dan gizi buruk harus ditangani dengan segera, agar jatuh pada kondisi kronik (marasmus

22

dan kwarsiorkor), untuk itu diperlukan kader-kader posyandu yang dapat memiliki skill yang baik dalam hal ini.

3.2. Realisasi Pemecahan Masalah Studi intervensi ini dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan status gizi anak, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dan kader dalam menangani anak gizi buruk dan sebagai cikal bakal (model) pusat pelayanan gizi di tingkat kelurahan. Pemberian formula WHO Pendampingan oleh kader
Penerimaan terhadap Formula WHO

Status Gizi

Pelayanan Kesehatan

Infeksi Penyakit

Gambar 3.2. Model penanganan gizi buruk dengan pendampingan oleh kader

3.3. Khalayak Sasaran Balita gizi buruk usia 6 59 bulan merupakan sasaran dalam pelaksanaan kegiatan intervensi ini. Kriteria anak balita gizi buruk yakni tanpa ada indikasi komplikasi dan edema akan diberikan intervensi berupa larutan berbasis susu (formula WHO) sesuai dengan kebutuhan anak (umur dan tingkat status gizinya).

23

Kader posyandu sebagai mitra dalam pelaksanaan kegiatan ini, dimana kader yang terlatih akan memantau anak setiap hari dan mendampingi ibu dalam memberikan formula ini kepada anaknya dan menjalankan fungsi pencatatan.

3.4. Metode Penerapan Ipteks 1. Tahap Persiapan a. melakukan koordinasi dengan lintas sektor terkait b. pengurusan administrasi c. pengembangan kuesioner dan persiapan bahan d. inventarisir kader posyandu dan anak 6-59 bulan yang menderita gizi buruk. e. mengundang kader posyandu mengikuti pelatihan peningkatan tata laksana pananganan gizi buruk di community care.

2. Tahap pelaksanaan a. Pelaksanaan intervensi dilakukan oleh peneliti ditambah kader yang memantau pelaksaan intervensi setiap hari. b. Peneliti turun ke lapangan satu minggu sekali untuk evaluasi pelaksanaan tiap minggu. c. Pencatatan penerimaan anak terhadap formula WHO dilakukan tiap hari oleh kader. d. Penimbangan berat badan anak sebagai indikator keberhasilan kegiatan ini dilakukan tiap 1 minggu sekali oleh peneliti.

24

3. Tahap evaluasi 1. Evaluasi input : a. Partisipant : dengan melihat status gizi anak (BB dan BB/U Z-Score). b. Jumlah Formula WHO yang diberikan dan sisa. c. Waktu yang digunakan untuk memberikan Formula WHO kepada balita dengan status gizi buruk 2. Evaluasi proses : sejauh mana balita dapat menerima pemberian formula WHO setiap fase, cara pemberian kepada anak, peran serta ibu balita, dan kinerja kader dalam mendistribusikan bahan, pendampingan, pencatatan, dan

memonitoring pemberian Formula WHO kepada balita dengan status gizi buruk. 3. Evaluasi Output : berupa peningkatan berat badan/status gizi anak 4. Evaluasi Out Come : pertumbuhan dan perkembangan balita yang lebih baik.

25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Kegiatan 4.1.1. Karakteriktik Balita Kegiatan ini dilaksanakan mulai bulan September sampai dengan November 2009. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah screening balita. Dari data yang diterima dari posyandu di 6 lingkungan se Kelurahan Maccini Baji ada 3,8 % balita gizi buruk, tetapi cakupan balita yang datang ke posyandu rata-rata hanya mencapai 58,9 % dari jumlah balita sasaran (D/S). Hal ini berarti ada 42,1 % yang belum termonitor pertumbuhannya oleh posyandu. Balita yang terjaring pada kegiatan ini merupakan kombinasi dari balita yang datang ke posyandu (5 orang) dengan yang tidak (5 orang) dari tiga lingkungan di Kelurahan Maccini Baji. Tabel 4.1. Distribusi balita (umur 6-59 bulan) berdasarkan tempat tinggal No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 9. 10. Nama Anak Ilh Nis Sel Dir Was Sar Ahm Put Nur Ind Lingkungan Maccini Ayo Maccini Ayo Maccini Ayo Maccini Ayo Bonto Kadato Bonto Kadato Belang-belang Belang-belang Belang-belang Belang-belang Keterangan Tidak ke posyandu Ke posyandu Tidak ke posyandu Tidak ke posyandu Ke posyandu Tidak ke posyandu Ke posyandu Ke posyandu Tidak ke posyandu Ke posyandu

Balita gizi buruk yang terjaring dengan berbagai riwayat masa lalunya yang tidak baik. 4 anak lahir dengan berat badan rendah, dan saat dalam kandungan 3 orang ibu balita tersebut menderita KEK. Rata-rata anak mengalami penyakit infeksi

26

satu bulan terakhir, antara lain panas/demam, ISPA dan diare. Semua anak mengalami gangguan makan seperti kurang nafsu makan. Tabel 4.2. Balita (umur 6-59 bulan) yang terjaring No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 9. 10. Nama Anak Ilh Nis Sel Dir Was Sar Ahm Put Nur Ind Sex Laki-laki Perempuan Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki Laki-laki Perempuan Perempuan Laki-laki Umur (bulan) 11 24 35 16 10 12 24 19 11 27 Berat Badan (kg) 5,8 7,5 8,0 7,2 5,4 6,0 8,0 7,0 5,8 8,7 Tinggi Badan (cm) 66,2 74,8 80,0 70,5 62,4 62,0 74,6 75,0 72,0 82,3 Status Gizi (BB_u Z-Score) -4,21 -3,59 -4,27 -3,38 -3,74 -4,14 -3,61 -3,38 -3,42 -3,28 Keterangan Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk Gizi buruk

Tabel 4.3. Karakteristik sosial ekonomi orang tua balita No. 1. 2. 3. Nama Anak Ilh Nis Sel Umur Umur Bapak Ibu 23 21 35 32 20 20 Kerja Bapak Nelayan Nelayan Petani penggarap Tukang ojek Tukang Petani Tukang Petani penggarap Petani Pemulung kerja Ibu IRT Jualan IRT/ buruh tani IRT IRT IRT IRT IRT IRT IRT Pddkn Bapak SD Tamat SD Tamat SD pernah sekolah SMA pernah sekolah SMP Tamat SD SMA Tamat SD Pddkn ibu SD Tamat SD SMP anak 1 2 2

4. 5. 6. 7. 8 9. 10.

Dir Was Sar Ahm Put Nur Ind

35 40 25 30 42 25 26

30 40 23 28 32 22 23

Tamat SD SMA Tamat SD SMP Tamat SD SMA SMP

4 4 2 1 3 2 4

Tabel 4.3. menunjukkan karakteristik orang tua balita gizi buruk. Terlihat bahwa semua pengasuh balita adalah ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga,

27

sehingga intervensi dapat dilakukan mengingat alokasi waktu ibu untuk kegiatan ini cukup longgar.

Tabel 4.4. Kader yang mengikuti pelatihan No. 1. 2. 3. 4. 5. Ham Kas Fat Nur Har Kader Maccini ayo Maccini ayo Bonto Kadato Belang-belang Belang-belang Alamat

Proporsi kader dan balita pada kegiatan ini adalah 1 kader menangani 2 orang balita gizi buruk. Pelatihan yang diberikan mencakup tata laksana penanganan gizi buruk termasuk menilai gizi buruk baik secara fisik maupun antropometri; pembuatan formula WHO dan Makanan lokal (MP-ASI/PASI); pengetahuan mengenai pola asuh balita yang baik termasuk penanganan anak saat sakit dan higiene anak serta sanitasi; cara memotivasi ibu agar anak mau makan, dan cara pendistribusian bahan.

4.1.2. Penerimaan anak terhadap formula WHO Penerimaan anak terhadap formula WHO yang diberikan kurang

menggembirakan. Tabel 4.5. memperlihatkan rata-rata penerimaan kurang dari 80%, bahkan ada anak yang tidak mau lagi diberikan formula ini karena rasanya enek sehingga peneliti menukar dengan makanan formula dengan bahan lokal.

28

Tabel 4.5. Rata-rata penerimaan anak terhadap formula WHO No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 9. 10. Nama Anak Ilh Nis Sel Dir Was Sar Ahm Put Nur Ind Rata-rata % penerimaan anak Minggu II Minggu III 67,0 87,5 50,8 60,3 70,4 74,8 53,4 10,5* 47,4 62,3 45,5 67,0 75,6 80,5 80,4 75,2 54,3 67,5 83,2 80,5 62,8 66,6

Minggu I 45,6 37,8 62,5 55,6 40,0 45,0 60,5 65,0 57,5 65,0 53,5

Minggu IV 70,3 10,1* 74,6 0* 82,3 74,8 90,1 93,4 76,9 85,4 65,8

Keterangan:* diganti dengan PMT Lokal

Selain pemberian formula WHO, ibu balita juga diajarkan oleh kader resep berbahan dasar lokal (telur, ubi, teri, beras, bayam, kangkung, ikan, tempe, tahu, dll) untuk menambah asupan makan anak dan agar lebih bervariasi, tetapi dengan harga yang terjangkau dan anak mau makan. Berdasarkan laporan dari kader pendamping, rata-rata anak suka dengan resep baru ini.

4.1.3. Status gizi balita selama intervensi Status gizi anak diukur berdasarkan pertambahan berat badan. Berat badan anak ditimbang pada awal, selama intervensi (setiap minggu) dan akhir intervensi. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan alat weight scale digital.

Penimbangan dilaksanakan oleh kader, mahasiswa pendamping dan peneliti (awal dan akhir). Analisis data antropometri untuk indikator berat badan menurut umur menggunakan standar WHO 2005. dengan memakai software Antro-WHO 2005.

29

Tabel 4.6. Berat badan anak pada awal dan akhir intervensi No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 9. 10. Nama Anak Ilh Nis Sel Dir Was Sar Ahm Put Nur Ind Berat badan (kg) Awal Akhir 5,8 6,2 7,5 7,6 8,0 8,5 7,2 7,4 5,4 6,3 6,0 6,5 8,0 8,9 7,0 7.6 5,8 6,1 8,7 9,3

Tabel 4.7. Status Gizi Z-Score anak pada awal dan akhir intervensi No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 9. 10. Nama Anak Ilh Nis Sel Dir Was Sar Ahm Put Nur Ind
100
100 80

BB_u Z-Score Awal Akhir -4,21 -3,89 -3,59 -3,62 -4,27 -3,93 -3,38 -3,31 -3,74 -2,74 -4,14 -3,71 -3,61 -2,86 -3,38 -2,87 -3,42 -3,23 -3,28 -2,84

Status Gizi Awal Akhir Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Buruk Gizi Kurang

60
60

40
40 20

0
0 Status Gizi Awal Gizi Buruk Status Gizi Akhir Gizi Kurang

Gambar 4.1. persentase status gizi anak 6-59 bulan sebelum dan setelah intervensi 4.2. Pembahasan

30

Telah dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kelurahan Maccini Baji Kecamatan Lau Kabupaten Maros melibatkan kader posyandu sebagai mitra dan orang tua balita gizi buruk yang merupakan sasaran yang strategis mengingat perannya sebagai pengasuh, serta balita yang menderita gizi buruk (umur 6 59 bulan) sebagai objek intervensi. Respon kader posyandu pada kegiatan ini cukup memuaskan. Kader posyandu sangat koperatif dalam hal kerjasama baik dengan tim peneliti, pendamping (mahasiswa), maupun dengan ibu balita. Selain itu, mereka juga memberi masukan, berupa kebiasaan masyarakat setempat (budaya) dan kondisi sosial ekonomi, utamanya bahan pangan (sumber, ketersediaan, dan harga). Dalam hal penguasaan materi, kader posyandu bisa sangat cepat menangkap, karena model pelatihan kader yang diberikan berupa diskusi, pemecahan kasus, dan keterampilan secara langsung. Hal-hal yang mereka tidak mengerti atau terdapat kendala selama intervensi berlangsung, mereka komunikasikan dengan peneliti atau pun pendamping. Komunikasi dengan ibu pengasuh cukup bagus, bahasa yang sering dipakai oleh kader adalah bahasa daerah setempat (bugis). Pemakaian bahasa setempat memberi hubungan emosional yang positif sehingga proses transfer pengetahuan dan keterampilan dapat lebih mudah dipahami oleh ibu pengasuh. Banyak kendala selama kegiatan ini berlangsung, terutama dari ibu pengasuh dan balita itu sendiri. Pada awal kegiatan intervensi dilakukan, kader dan tenaga pendamping kesulitan untuk memberi pembelajaran kepada ibu pengasuh. Umumnya ibu pengasuh tidak menerima kalau anaknya dikatakan gizi buruk, karena dalam persepsi mereka anak gizi buruk adalah anak yang kurus kering dan tidak dapat beraktivitas secara normal (dalam hal ini anak gizi buruk yang dimaksud adalah anak

31

yang sudah menderita gizi buruk kronik yang biasa dikenal sebagai marasmus, kwarsiorkor atau marasmic-kwarsiorkor). Rendahnya tingkat pendidikan ibu pengasuh (80%) memberi kendala dalam hal penerimaan pengetahuan dan keterampilan yang diberikan. Solusi mengatasi hal ini dilakukan dengan memberitahukan dampak gizi buruk yang terjadi jika anak tidak diintervensi dan pemberian motivasi kepada ibu pengasuh berupa motivasi pengasuhan yang mengangkat antusiasme ibu sehingga dapat menerima program ini dengan baik. Pada minggu pertama, kader yang membuat formula WHO dibantu oleh ibu pengasuh. Ibu pengasuh diberitahu takaran bahan dengan memakai ukuran rumah tangga dan banyaknya yang harus diberi ke anak balitanya. Pada minggu ke dua, ibu pengasuh sudah dapat membuat sendiri, didampingi oleh kader, akan tetapi bahan diberikan untuk keperluan satu hari (2-3 kali pembuatan/hari). Minggu selanjutnya, bahan diberikan untuk waktu 3 hari sekali ke ibu balita agar penggunaan tidak berlebihan. Rata-rata anak yang diintervensi memberikan ciri-ciri fisik anak kurang gizi, seperti kulit muka yang kusam, rambut kuning kemerahan, keriput di bagian pantat (3 anak), penurunan nafsu makan, dan anak sangat rewel. Berdasarkan recall konsumsi sebelum intervensi, rata-rata konsumsi makanan hanya mencapai 20-55% dari angka kebutuhan gizi yang dianjurkan. Pola konsumsi mereka pun tidak

bervariasi, hanya seputar nasi, ikan (rebus/goreng), telur dan snack (kerupukkerupuk). Bahkan, anak lebih suka makan snack kerupuk dibanding makan nasi. Selain itu, semua anak menderita/pernah (1 bulan terakhir) penyakit infeksi seperti diare (4 anak), demam-flu (6 anak), dan batuk-pilek (4 anak). Penerimaan formula WHO oleh anak pada awalnya tidak menggembirakan. Hal ini disebabkan adanya gangguan nafsu makan sebelum intervensi ini

32

berlangsung dan ibu pengasuh cepat putus asa jika anak sudah tidak mau mengonsumsi formula yang diberikan (lihat Tabel 4.5). Selain memberi keterampilan membuat formula WHO kepada ibu pengasuh, kader dan pendamping juga mengajari bagaimana cara mengolah bahan pangan yang tersedia dan terjangkau oleh mereka (rata-rata peserta adalah rumah tangga miskin) menjadi makanan bergizi seimbang yang dapat dikonsumsi oleh anak mereka. Hal ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan asupan makanan anak sehingga kebutuhan minimal metabolisme basal (70%) terpenuhi. Rata-rata konsumsi makanan selama intervensi mencapai 60-96% dari angka kebutuhan gizi yang dianjurkan. Penderita gizi buruk umumnya rentan terhadap penyakit infeksi (diare, malaria/DBD, infeksi pernapasan) dan menderita penyakit ini dengan durasi yang lebih lama. Penderita gizi buruk mengalami penurunan laju metabolisme serta pergantian protein yang menurun. Untuk itu, pemberian formula WHO dimaksudkan untuk memulihkan tingkat absorpsi zat gizi sehingga laju metabolisme dapat ditingkatkan. Pada kasus sepuluh balita yang diintervensi ini, dikategorikan menderita gizi buruk tahap awal, sehingga frekuensi pemberian formula WHO dilakukan 2-3 kali per hari dibantu dengan makanan lunak. Kerentanan terhadap penyakit infeksi dapat dicegah dengan konsumsi makan yang cukup, higiene dan sanitasi lingkungan yang baik dan menjauhkan anak dari sumber penularan penyakit. Cara ini cukup ampuh, terbukti hanya 3 orang anak yang menderita penyakit infeksi selama intervensi perlangsung, itu pun durasinya tidak panjang ( 4 hari). Pengetahuan pola pengasuhan yang baik, dan penanganan anak ketika sakit perlu diberikan kepada ibu pengasuh, agar penanganan gizi buruk lebih mudah dilakukan.

33

Dari data terlihat (Tabel 4.7 dan Gambar 4.1), bahwa intervensi ini belum optimal untuk memulihkan anak gizi buruk. Walaupun demikian, melihat status gizi BB-u Z-score sebelum dan sesudah intervensi terdapat peningkatan (1 anak menurun karena sakit ISPA), atau terdapat 40% anak (4 orang) yang status gizinya meningkat dari gizi buruk ke gizi kurang. Dengan demikian, waktu intervensi selama 4 minggu belum cukup optimal untuk intervensi ini, sekiranya diperlukan waktu yang lebih lama agar intervensi ini dapat optimal.

34

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. KESIMPULAN 1. Pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam penanganan anak gizi buruk cukup tinggi 2. Pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam penanganan anak gizi buruk masih rendah karena masih sangat tergantung pada kehadiran tim pendamping. 3. Penerimaan anak terhadap formula WHO.masih rendah (rata-rata dibawah 70% yang dapat dihabiskan dari formula yang diberikan) 4. Keberhasilan penanganan anak gizi buruk di community care belum memberikan hasil yang optimal

5.2. SARAN 1. Perlu dilakukan sosialisasi secara periodik tentang penanganan KEP khususnya gizi buruk pada masyarakat 2. Penanganan gizi buruk pada masyarakat masih harus dibantu dengan tenaga pendamping gizi.

35

DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 1999. Pedoman Tata Laksana Kurang Energi-Protein pada Anak di Puskesmas dan di Rumah Tangga, Buku II, Direktorat Bina Gizi Masyarakat Ditjen Bina Kesmas Depkes RI. Jakarta Depkes. 2007. Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Buku I dan II, Direktorat Bina Gizi Masyarakat Ditjen Bina Kesmas Depkes RI. Jakarta Dinkes Propinsi Sulsel. 2007. Profil Status Gizi Kabupaten Propinsi Sulawesi Selatan. Diop, El Hadji Issakha et al. 2003. Comparison of the Efficacy of Solid Ready-to-use Food and a Liquid, Milk-based Diet for rehabilitation of severely malnaurished children: a randomized trial. Am J Clin Nutr 2003;78:302. Downloade April 2007. Jurusan Gizi. 2005. Laporan Survei Gizi dan Kesehatan di Kelurahan Maccini Baji Kecamatan Lau Kabupaten Maros. Jurusan Gizi Masyarakat FKM Unhas,. Makassar. Manary, M.J. dan Solomons. N.W. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat: aspek kesehatan masyarakat pada gizi kurang. EGC. Jakarta. Hal. 216. Menkes RI, 2002. Keputusan menteri kesehatan RI Nomor 920 tentang Klasifikasi Status Gizi Anak Bawah Lima Tahun (Balita). Subinarto, D., 2005. Super Food for Children: tuntunan gizi dan makanan untuk anak. Nexx Media Inc. Bandung. Supariasa. IDN, Bachyar B, dan Ibnu, F. 2002. Penilaian Status Gizi. EGC. Jakarta Walker, W. Alan, Watkins, John B., Duggan, C. 2003. Nutrition in Pediatrics: basic science and clinical applications. 3rd ed. BC Decker Inc. London.

36

37

LAMPIRAN 1 : Jadwal, Jenis, Dan Jumlah Makanan Yang Diberikan


JUMLAH CAIRAN (ml) SETIAP MINUM MENURUT BB ANAK 4 Kg 6 Kg 8 Kg 10 Kg 45 65 45 65 90 110

FASE Stabilisasi Hari 1-2 F75/modifikas i/Modisco 12 x ( dg ASI ) 12 x ( tanpa ASI) 8 x ( dg ASI) 8 x (tanpa ASI)

Hari 3-4

F75/modifikas i/Modisco

65 65

100 100

130

160

Hari 5-7 Transisi Hari 8-14

6 x (dg ASI) F75/Modifikas 6 x (Tanpa ASI) i/Modisco F100/modifi 4 x ( dg ASI ) kasi/Modisco I 6 x ( tanpa Atau II ASI) F135/modifi kasi/Modisco III, ditambah Makanan lumat/makan lembik sari buah 3 x ( dg/tanpa ASI )

90 90 130 90

130 130 195 130

175 175

220 220

Rehabilitasi

Minggu 3-6

90

100

150

175

BB < 7 Kg 3 x 1 porsi -

1x 3 x 1 porsi

100 -

100 -

100 -

100 -

BB >7 Kg

Makanan lunak/makan An biasa Buah

1 2 x 1 buah

*) 200 ml = 1 gelas Contoh : Kebutuhan anak dengan berat badan 6 Kg pada fase rehabilitasi diperlukan : Energi : 1200 Kkal 400 kalori dipenuhi dari 3 kali 100 cc F 135 ditambah 800 kalori dari 3 kali makanan lumat/makanan lembik dan 1 kali 100 cc sari buah

38

LAMPIRAN 2: Formula WHO dan Modifikasinya serta Petunjuk Pembuatan Formula WHO
Bahan FORMULA WHO Susu skim bubuk Gula pasir Minyak sayur Larutan elektrolit Tambahan air s/d NILAI GIZI Energi Protein Lactosa Potasium Sodium Magnesium Seng Copper % energi protein % energi lemak Osmolality Per 100 ml g g g Ml Ml Kalori g g Mmol Mmol Mmol Mg Mg Mosm/l F 75 25 100 30 20 1000 750 9 13 36 6 4.3 20 2.5 5 36 413 F 100 85 50 60 20 1000 1000 29 42 59 19 7.3 23 2.5 12 53 419 F 135 90 65 75 27 1000 1350 33 48 63 22 8 30 3.4 10 57 508

Modifikasi Formula WHO FASE STABILISASI Bahan Makanan F75 I F75 F75 M II III Susu skim bubuk (g) 25 100 Susu full cream (g) 35 Susu sapi segar (ml) 300 Gula pasir (g) 70 70 70 50 Tepung beras (g) 35 35 35 Tempe (g) Minyak sayur (g) 27 17 17 25 Margarine (g) Lar. Elektrolit (ml) 20 20 20 Tambahan air (L) 1 1 1 1 *) M : Modisco

TRANSISI F100 M1 MII 110 50 30 20 1 100 50 50 1 100 50 50 1

REHABILITASI F135 MIII 25 75 50 150 60 27 1 120 75 50 1

Keterangan :
1. Fase stabilisasi diberikan Formula WHO 75 atau modifikasi. Larutan Formula WHO 75 ini mempunyai osmolaritas tinggi sehingga kemungkinan tidak dapat diterima oleh semua anak, terutama yang mengalami diare. Dengan demikian pada kasus diare lebih baik digunakan modifikasi Formula WHO 75 yang menggunakan tepung 2. Fase transisi diberikan Formula WHO 75 sampai Formula WHO 100 atau modifikasi 3. Fase rehabilitasi diberikan secara bertahap dimulai dari pemberian Formula WHO 135 sampai makanan biasa

39

CARA MEMBUAT 1. Larutan Formula WHO75 Campurkan susu skim, gula, minyak sayur, dan larutan elektrolit, diencerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum Larutan modifikasi : Campurkan susu skim/full cream/susu segar, gula, tepung, minyak. Tambahkan air sehingga mencapai 1 L (liter) dan didihkan hingga 5-7 menit. 2. Larutan Formula WHO 100 dan modifikasi Formula WHO 100 Cara seperti membuat larutan Formula WHO 75 Larutan modifikasi : Tempe dikukus hingga matang kemudian dihaluskan dengan ulekan (blender, dengan ditambah air). Selanjutnya tempe yang sudah halus disaring dengan air secukupnya. Tambahkan susu, gula, tepung beras, minyak, dan larutan elektrolit. Tambahkan air sampai 1000 ml, masak hingga mendidih selama 5-7 menit. 3. Larutan elektrolit Bahan untuk membuat 2500 ml larutan elektrolit mineral, terdiri atas : KCL Tripotassium Citrat MgCL2.6H2O Zn asetat 2H2O Cu SO4.5H2O 224 81 76 8,2 g 1,4 g g g g

Air sampai larutan menjadi 2500 ml (2,5 L) Ambil 20 ml larutan elektrolit, untuk membuat 1000 ml Formula WHO 75, Formula WHO 100, atau Formula WHO 135. Bila bahan-bahan tersebut tidak tersedia, 1000 mg Kalium yang terkandung dalam 20 ml larutan elektrolit tersebut bisa didapat dari 2 gr KCL atau sumber buah-buahan antara lain sari buah tomat (400 cc)/jeruk (500cc)/pisang (250g)/alpukat (175g)/melon (400g) LAMPIRAN 3 : Kuesioner Kegiatan

40

KUESIONER KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT PENGENALAN FORMULA WHO DALAM PENANGANAN GIZI BURUK PADA KELUARGA BALITA DAN KADER POSYANDU DI KABUPATEN MAROS

PROGRAM STUDI ILMU GIZI JURUSAN GIZI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNHAS
A. KETERANGAN RUMAH TANGGA

1 2 3 4 5 6

Nama kepala rumah tangga: Banyaknya anggota rumah tangga: Nama Ayah : Nama Ibu :

/ tahun

1=Tdk pernah sekolah; 2= Kejar paket ; 3=Tdk tamat SD; 4=Tamat SD; 5=SMP; 6=SMA; 7= PT/Akademi

Umur Ayah/Ibu Pendidikan Ayah/ibu

7a Pekerjaan Ayah : 7b Pekerjaan Ibu 8

Jumlah balita (umur di bawah 5 tahun):


B. KEADAAN LINGKUNGAN, PERUMAHAN DAN STATUS EKONOMI

01

Tempat BAB (berak)


1=Toilet; 2=Cemplung; 3=Sungai/rawa/parit; 4=Pekarangan/kebun; 5=Tempat lainnya

02

Tempat membuang sampah


1 = Dibuang ke got, 2 =Langsung dibakar, 3 = Langsung dikubur, 4 =Tempat pembuangan sampah umum, 5 = Dibuang di jalan tanpa dibungkus tertutup, 6= Sembarang tempat , 7 = Lainnya

03 04

Jarak Rumah ke tempat pembuangan sampah (meter) Sumber air minum keluarga
1 =ledeng (PAM), 2 = Sumur tembok, 3 = Sumur tidak tembok, 4 = Pompa tangan/mesin, 5 = Artesis, 6= Dibeli, 7 = Lainnya

05 06

Apakah air minum dimasak sebelum diminum Bangunan/Rumah a. Luas luas lantai bangunan rumah (m2) b. Bahan lantai terluas c. Bahan dinding terluas

1 = Ya, 2 =Tidak

1=Tanah,2=Bambu,3=Semen/batu merah,4=Kayu,5=Tegel 1=Kardus,2=Bambu,3=Tembok,4=Kayu,5=Seng

41

d. Bahan atap e. Kepemilikan rumah 07 08

1=Rumbia,2=Seng,3=Bambu,4=Kayu,5=Genteng 1=Milik Sendiri,2=Milik bersama,3=Menempati,4=Sewa 1 = Ya, 2 =Tidak

a. Apakah di Keluarga ibu Melaksanakan 3 M? b. Jika Ya, Berapa kali dalam 1 bulan ?

a. a.

b. b.

09 10 11 12 13 14

a. Apakah di daerah ini terdapat pasar b. Jika ya, berapa kali (hari pasar) dalam seminggu, hari apa saja c. Selain pasar, dimanakah keluarga ibu memperoleh bahan pangan d. Jarak rumah dengan pasar Siapa dari anggota keluarga yang menghasilkan uang?
1. Ayah; 2=Ibu; 3=Anak; 4=Ayah&Ibu; 5=Ayah&Anak; 6=Ayah&keluarga; 7=lainnya

c. _____/_________ d. _________ km

Siapa yang terbanyak menghasilkan uang?


1 = Ayah, 2 = Ibu, 3 = Anak, 4 = Lainnya

Penghasilan keluarga rata-rata per hari: Rp. ______________


1 = <Rp. 5000, 2 = Rp. 5000 - 10000, 3 = 10000 - 15000, 4 = >Rp. 15000

Pengeluaran rata-rata keluarga per hari? (keseluruhan) Rp. ____


1 = <Rp. 5000, 2 = Rp. 5000 - 10000, 3 = 10000 - 15000, 4 = >Rp. 15000

Pengeluaran rata-rata keluarga per hari untuk makanan Rp. ___


1 = <Rp. 5000, 2 = Rp. 5000 - 10000, 3 = 10000 - 15000, 4 = >Rp. 15000

a. Adakah penghasilan keluarga berupa bahan pangan (beras, sayur,buah, ternak dll) termasuk yang diberi oleh keluarga lain untuk dikonsumsi sendiri? b. Jika ada, sebutkan dan berapa jumlahnya (per bulan)?

1 = Ya, 2 =Tidak

15

16

a. Menurut ibu, apakah keluarga ibu termasuk keluarga miskin ? b. Jika ya, apakah ibu mendapatkan bantuan beras miskin (raskin)? c. Berapa (kg) raskin yang ibu terima _____kg/ berapa kali /bulan __________ a. Apakah ibu memiliki pekarangan ? b. Jika Ya, apakah ibu memanfaatkan (termasuk ternak ?) c. Jika dimanfaatkan, sebutkan jenisnya 1. Tanaman buah : _______________________ 2. Tanaman sayur : _______________________ 3. Tanaman obat : _______________________ 4. Tanaman lainnya : _______________________ 5. Ternak : _______________________ d. Luas Pekarangan : _______________ m2

a.

b. 1 = Ya/ 2 =Tidak

a.

b.
1 = Ya, 2 =Tidak

42

C. UPAYA MENCARI PENGOBATAN 01 Apakah di daerah ini terdapat : 1 = Ya, 2 =Tidak a. Puskesmas b. Pustu/polindes c. Posyandu Apakah ada Anak yang sakit dalam 3 bulan terakhir
a. b. c.

Nama Posyandu : ___________________


1 = Ya, 2 =Tidak

03 04

a. Bila Ya, Sebutkan: 1. __________ 2. __________ 3. ____________ b. Sakit apa : 1. __________ 2. __________ 3. _____________ Bila Tidak, langsung ke pertanyaan no. 09 Adakah upaya mencari pengobatan ? Bila Ya, Kemana mencari pengobatan
1 = RS Pemerintah, 2 = RS Swasta, 3 = Puskesmas, 4 = Pustu, 5 = Dokter praktek, 6 = Petugas Kes. (praktek), 7 = Klinik, 8 = Polindes, 9 = Posyandu, 10 = Dukun terlatih, 11 = Dukun tdk terlatih, 12 = Pengobatan Sendiri

05 06

1 = Ya, 2 =Tidak lanjut ke no.07

1.

2.

3.

1.

2.

3.

07

Jika Tidak mencari pengobatan, mengapa?


1 = Bisa sembuh sendiri, 2 =Tidak ada dana, 3 = Fasilitas Kes jaraknya jauh 4 = Tidak ada waktu, 5 = Tidak tahu harus kemana

1.

2.

3.

08

Bila melakukan pengobatan sendiri, jenis pengobatan apa yang dilakukan?


1 = Ramuan tradisional (Tanaman obat), 2 = Obat dijual bebas, 3 = Makanan obat, 4 = Lainnya

1.

2.

3.

09

a. Apakah ibu dalam 1 tahun terakhir pernah ke tempat pelayanan kesehatan? b. jika ya, tempat yang paling sering dikunjungi?
1 = Ya, 2 =Tidak

a.
b.

1. Puskesmas; 2=Polindes; 3=Posyandu; 4=BKIA; 5=Dokter praktek/klinik; 6=RS; 7=dll

10

c. Alasan ke tempat pelayanan tersebut ___________________________ a. Apakah keluarga ini mempunyai kartu sehat? (agar gratis berobat) 1 = Ya, 2 =Tidak b. Bila Ya, apakah pernah dimanfaatkan c. Bila Tidak dimanfaatkan, mengapa? _______________________ d. Bila tidak mempunyai kartu sehat, mengapa? ______________________

D. IBU DAN ANAK 01 a. Berapa umur ibu waktu menikah b. Apakah ibu sudah pernah melahirkan c. Berapa jumlah anak hidup
tahun
1 = Ya, 2 =Tidak

tahun orang bulan

43

d. Jarak anak terakhir dengan anak sebelumnya

02

a. Apakah ibu melaksanakan Kelurga Berencana (KB)? b. Jika Ya, Metode kontrasepsi apa yang digunakan?

1 = Ya, 2 =Tidak

a. b. _____________
gram

03 04 05

Berapa berat bayi ibu waktu lahir? Apakah anak ibu ini pernah memperolah ASI? Jika Tidak langsung ke no. 07
1 = Ya, 2 =Tidak

a. Bila Ya, Apakah sekarang masih memperoleh ASI (masih menyusu)


1 = Ya, 2 =Tidak

b. Bila Tidak, Mengapa


1 = ASI tdk ada lagi, 2 = Anak tdk mau menyusu, 3 = Ibu sakit, 4 = Ibu tidak mau menyusui, 5=anak sudah disapih, 6= ibu hamil lagi, 7=lainnya 5 = lainnya, Sebutkan,

06 07

Bila anak ibu tidak lagi menyusui, sejak umur berapa?

bulan Bila anak ibu tidak pernah memperoleh ASI, mengapa ?


1 = ASI tidak keluar, 2 = Anak tdk mau menyusu, 3 = Ibu sakit, 4 = Ibu tidak mau menyusui, 5=Lainnya, 5 = lainnya, Sebutkan,

08

a. Apakah anak ibu saat ini telah memperoleh makanan pendamping ASI (MPASI) 1 = Ya, 2 =Tidak b. Bila Ya, Sejak umur berapa bulan? Apakah anak ibu ini pernah dibawa ke Posyandu Bila Ya, Berapa kali dalam 2 bulan terakhir? Bila Tidak, Mengapa ? a. Apakah anak ibu pernah memperoleh bantuan makanan tambahan? b. Bila Ya, apa jenisnya? ________________________ c. Bila Ya, darimana bantuan tersebut?
1 = Tidak tahu kegiatan Posyandu, 2 = Posyandu jauh, 3 = Anak sudah besar, 4 = Tidak ada waktu, 5=Lainnya, 5 = lainnya, Sebutkan, 1 = Ya, 2 =Tidak

bulan
1 = Ya, 2 =Tidak

09 10 11 12

1 = Instansi pemerintah, 2 =NGO/LSM

FREKUENSI MAKANAN/MINUMAN ANAK BALITA Dalam sebulan yang lalu sampai kemarin (sebagai patokan tanggal wawancara) apakah anak ibu menkonsumsi bahan makanan tersebut dibawah ini : 13 1-2 hari 3-6 hari Tidak Tiap Bahan Makanan hari per per per Pernah Hari bulan minggu minggu 13 Formula: SGM/S26/Promil/Enfamil/Bebelac/dll 1 2 3 4 5 14 Bubur buatan pabrik : Sun/Promina/Cerelac//dll 1 2 3 4 5 15 16 Susu sapi segar/susu kental manis/bubuk/kedelai Daging : Sapi/kerbau/kambing 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5

44

17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Ikan : Segar/Asin/makanan laut (kepiting, udang, kerang, tripang, dll) Daging : Ayam/Itik/unggas (burung dara) Hati : Ayam/sapi/kambing/kerbau/dll Telur : Ayam/Itik/Burung Tempe, Tahu, Oncom Kacang hijau/tanah Sayuran berwarna hujau tua (bayam, kangkung, dll) Sayuran berwarna merah/kuning (wortel, labu kuning, ubi jalar, dll) Buah berwarna merah/kuning (pepaya, mangga, dll) Buah lainnya (pisang, apel, dll) Jus buah Snack : Taro/chiki/kerupuk/dll

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Pengukuran Antropometri dan Pemeriksaan Ciri-ciri fisik tubuh 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nama Anak : Tanggal Lahir : Tanggal Pengukuran : Umur Anak : Tanggal pengukuran tanggal lahir (bulan) Jenis Kelamin Anak : Berat Badan Anak : Panjang/Tinggi badan anak : Ciri-ciri Fisik : a. Rambut ________________________________________________ b. Mata ______________________________________________ c. Muka (secara keseluruhan) _____________________________ d. Bibir _____________________________________ e. Lidah ____________________________________ f. Kulit _____________________________________ g. Kuku _____________________________________ h. Tubuh ____________________________________

8:

LAMPIRAN 4 : Formulir Pencatatan Konsumsi Formula WHO/Modifikasi

Nama Anak

: ___________________

45

Minggu Waktu

: ___________________ : ___________________

Nama Ortu/Ibu: ___________________ Kader : ___________________

Petunjuk pengisian : 1. Perhatikan volume Formula WHO yang akan diberikan (ukuran per gelas, isi tidak penuh biarkan kosong 1 cm). 2. Catat jumlah yang diberikan 3. Perhatikan berapa banyak yang dikonsumsi anak (ukuran per gelas) Hari/tgl Jenis Formula Jumlah diberi Jumlah dikonsumsi Jumlah Sisa

Kader Pendamping _______________________ ___ LAMPIRAN 5 : Formulir Recall 24 jam Nama Anak : ___________________

46

Minggu

: ___________________

Nama Ortu/Ibu: ___________________ Kader : ___________________

Waktu Pagi

Resep Makanan

Jenis Bahan Makanan

Jumlah konsumsi uRT gram

Selingan

Siang

Selingan

Malam

LAMPIRAN 6: Formulir Pencatatan Penimbangan Berat Badan Anak

No.

Nama Anak

Berat Badan (kg)

47

Awal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Catatan : 1. Sebelum intervensi anak terlebih dahulu ditimbang 2. Penimbangan Anak sebagai evaluasi dilakukan pada akhir minggu (hari ke tujuh) 3. Perhitungan 1 bulan intervensi adalah 4 minggu atau 28 hari.

Penanggung Jawab

______________________

LAMPIRAN 7: Contoh Makanan PMT Lokal

Resep : Bubur Nasi Telur Untuk Balita 12-23 Bulan

48

Bahan : 20 g Beras 25 g Tempe 25 g Daun kangkung 25 g Tomat buah (tanpa isi dalamnya) 1 butir telur ayam 1 sdm margarin (dapat diganti dengan minyak kelapa) 625 ml air Cara Membuat 1. 2. 3. 4. Masak beras dan tempe dengan air sampai menjadi bubur. Masukkan kangkung dan tomat, masak hingga matang. Masukkan telur ayam dan margarine sambil diaduk hingga matang. Sajikan hangat.

Untuk 1 Porsi.

Kandungan Gizi: Energi (kkal) 236 Protein (g) 11,9 Lemak (g) 11,4 Karbohidrat (g) 22,3

LAMPIRAN 8 : Pembiayaan

No. URAIAN 1 Persiapan - Pengembangan proposal: 1 pkt x Rp 500.000 - Koordinasi ke Kab. Maros : 2 akt x Rp 100.000

BIAYA Rp. Rp. 500.000 200.000

49

- Dukungan Administrasi: 4 bln x Rp 250.000 - Penggandaan materi sosialisasi: 10 exp x Rp 15.000 2 Pelaksanaan Pelatihan Kader Konsumsi (snack dan makan siang):10 org x Rp. 40.000 Pembelian bahan intervensi : 10 balita x 30 hari x Rp. 5.000 Transport kader: 5 org x 1 bln x Rp. 150.000 Transport Peneliti : 2 org x 4 akt x Rp. 100.000 Tranport Mahasiswa: 2 org x 4 akt x Rp. 100.000

Rp. Rp.

1.000.000 150.000

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

400.000 1.500.000 750.000 800.000 800.000

4 Pelaporan Analisis Data dan Laporan: 2 akt x Rp 550.000 Penggandaan Laporan: 10 exp x Rp. 30.000 Total Biaya

Rp. Rp. Rp

1.100.000 300.000 7.500.000

LAMPIRAN 9: Foto Balita dan Hasil Kegiatan.

50

Ilm, 11 bulan

Was, 10 bulan

Nis, 24 bulan

Put, 19 bulan

Sel, 35 bulan

Ind, 27 bulan

51

Nur, 11 bulan,

Dir, 16 bulan,

Sar, 12 bulan

Ahm, 24 bulan,

Suasana Saat Pelatihan

LAMPIRAN 10: ORGANISASI PELAKSANAAN

52

1. Ketua Pelaksana Penanggung Jawab kegiatan NIP/pangkat/golongan Jabatan Fakultas/jurusan Waktu Kegiatan 2. Anggota Pelaksana Nama NIP/pangkat/golongan III/b Jabatan Fakultas/jurusan Waktu Kegiatan 3. Mahasiswa Nama Stambuk Nama Stambuk : Iwan : K211 08 556 : Sri Wahyuni : K211 07 502 : Dosen : Kesehatan Masyarakat/Gizi Masyarakat : 6 bulan : Healthy Hidayanti, SKM, M.Kes : 19810407 200801 2 013/ Penata Muda Tk.I, : Dra. Nurhaedar Jafar, Apt. M.Kes : 19641231 199002 2 001 /Lektor/III/d : Dosen : Kesehatan Masyarakat/Program Studi Ilmu Gizi : 6 bulan

LAMPIRAN 11. DAFTAR RIWAYAT HIDUP

53

Nama NIP Instansi tetap Tempat/tanggal lahir Agama/Jenis Kelamin Pangkat/Golongan Jabatan Struktural Akademik Alamat Kantor Alamat Rumah

: Dr. Nurhaedar Jafar, Apt., M.Kes. : 19641231 199002 2 001 : FKM Unhas : Sewo / 13 Juli 1964 : Islam / Perempuan : Penata Tk.I, III/d : Sekretaris Program Studi Ilmu Gizi FKMUH : Lektor : Jl. P. Kemerdekaan Km.11 Tamalanrea Makassar (0411)585087, Fax. (0411) 586013 : Jl. Racing Center Perumahan Umi B5 (0411) 445411 / HP. 081342768385 : SDN 19 Sewo Watansoppeng : SMPN 1 Watansoppeng : SMUN 200 Watansoppeng : Farmasi Unhas, Makassar, 1988 : Prog. Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya, 1994 : Apoteker, 1989 : Program Ilmu Kedokteran, Universitas Hasanuddin,

Riwayat Pendidikan:
SD SMP SMU S1 S2 Profesi S3 2009

Pengalaman Penelitian:
1.Daya hambat ekstrak buah dan klika Ketjapi terhadap pertumbuhan mikroba penyebab diare 1998. 2. Studi kualitas air sungai Buntung terhadap terjadinya penyakit diare & kulit yang ditimbulkan melalui sumur gali penduduk di Kec. Waru, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur, 1994 3.Identifikasi sumber dan jenis bahan makanan keluarga di Pesisir Pantai Ajakkang Kecamatan Soppengriaja, Kab. Barru Sulsel 1995 4.Pola pemberian ASI di daerah Kepulauan Kec. Liukang Tupabiring Kabupaten Pangkep, Sulsel 1996 5.Prevalensi GAKY dan Fluorisis di Kecamatan Malunda, Kebupaten Majene Sulsel 1996 6.Analisis Faktor-faktor risiko dan intervensi penanggulangan GAKY di wilayah pantai Kepulauan Maluku 1997 7.Dampak PMT-AS terhadap status gizi dan prestasi belajar di Kecamatan Watang Pulu Kab. Sidrap Sulsel 1997 8. Gambaran Makanan jajanan pada program Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) di Kelurahan Tamarunang Kec. Sombaopu Kab. Gowa 1998-1999. 9. Fortifikasi zat besi & yodium pada laru tempe dan analisis efektifitas biologis tempe yang dihasilkan tahun 2000

54

10. Pengaruh Suplementasi Besi, Vitamin A dan Vitamin C Sekali Seminggu terhadap Peningkatan Kadar Haemoglobin dan Kognitif Siswa Sekolah Dasar Makassar, tahun 2004. 11. Penanggulangan Gizi Buruk pada Bayi Melalui Pendampingan dan Pemberian MP-ASI Lokal di Sulawesi Selatan, tahun 2006. 12. Hubungan antara infestasi cacing dengan status gizi anak umur 24-59 bulan di Kelurahan Maccini Baji Kecamatan Lau Kabupaten Maros 13. Hubungan sosial ekonomi dan investasi cacing terhadap kadar hemoglobin (status gizi) anak umur 24-59 bulan di kabupaten maros tahun 2008.

Makassar, November 2009

Dra. Nurhaedar Jafar, Apt.,M.Kes

01. Nama 02. NIP

: Healthy Hidayanty, SKM.,M.Kes : 19810407 200801 2 013

55

03. 04. 05. 06. 07. 08. 09.

Instansi tetap Tempat/tanggal lahir Agama/Jenis Kelamin Pangkat/Golongan Jabatan Struktural Akademik Alamat Kantor

10. Alamat Rumah

: FKM Unhas : Kendari, 7 April 1981 : Islam/Perempuan : Penata Muda Tk.I ; III/b :: Asisten Ahli : Gedung FKM Kampus UNHAS Tamalanrea Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar 90245. Telp: 0411-585 087, Fax. (0411) 586013 : Kompleks Perumahan Unhas Blok EC/15 Tamalanrea, Makassar

Riwayat Pendidikan:
SD SMP SMU S1 S2 : SDN I Kemaraya Kendari, 1993 : SMPN I Kendari, 1996 : SMUN I Kendari, 1999 : FKM Unhas, Makassar, 2003 : Program Studi Kesehatan Masyarakat, PPS Universitas Hasanuddin, Makassar, 2007

Pengalaman Penelitian:
1. Pengaruh Pemberian Kapsul Ekstrak Ikan Gabus Pada Pasien Pasca Operasi di RSU. Wahidin Sudirohusodo Makassar, 2007. 2. Enumerator Pada Penelitian Evalusi Proyek Intensifikasi Penanggulangan GAKY, Kendari, Sultra, 2003. 3. Enumerator Pada Penelitian Studi Kualitatif Penguatan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Pertisipasi Sadar Sehat di Kec. Ranomeeto Kab.Konsel Sultra, 2003. 4. Enumerator pada penelitian Studi Kulitatif Analisis Kemitraan Pendampingan Bidan di Desa terhadap Pertolongan Persalinan oleh Dukun Bayi di Kec. Duruka Kab. Muna, Sultra, 2003. 5. Studi Pola Konsumsi dan Status Gizi Atlet Dayung Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Kendari, Sultra, 2003 6. Hubungan sosial ekonomi dan investasi cacing terhadap kadar hemoglobin (status gizi) anak umur 24-59 bulan di kabupaten maros tahun 2008 Makassar, November 2009

Healthy Hidayanty, SKM.,M.Kes

56

57