ANALISIS MASALAH: 1.

Premature coronary disease: Penyakit koroner primer yang terjadi pada kerabat tingkat

pertama yang menjadi riwayat keluarga dengan <55 tahun pada pria dan <65 tahun pada wanita.
(It would have been important if the authors had analysed the proper significance of the commonly used definition of premature coronary artery disease that has been utilized in the Framingham study (family history of <55 years in men and <65 years in women, first degree relatives) and others. As the average age was 53–54 years, this study does not clearly define the significance of true family history of premature coronary artery disease in younger populations where this risk might be more important in overall control of other modifiable risk factors and prevention of coronary artery disease. However, it is clear from table 3 of the paper, that patients with positive family history of coronary artery disease had a higher prevalence of established coronary artery disease at entry and this further strengthens the implications of established coronary disease, as both men and women with previous myocardial infarction (in table 2 of the paper) had highest hazard ratios of future coronary events.) Daftar Pustaka: ParmarMS. Family History of Coronary Artery Disease: Need to Focus on Proper Definition. Eur Heart J. 2003; 24(22): 2073.

2. a. ETIOLOGI dan MEKANISME: Batuk pada malam hari Gagal jantung kongestif adalah suatu kompleks gejala. Istilah ini melukiskan komplikasi penyakit jantung primer: hipertensi, penyakit arteri koroner, penyakit jantung valvuler, kardiomiopati, atau insufisiensi kronis pada traktus respiratorius. Gejala-gejala gagal jantung kongestif adalah: kelelahan, dispnea eksersional, ortopnea, dispnea nocturnal paroksismal, nokturia, dan edema pergelangan kaki. Semua gejala-gejala gagal jantung dapat dijelaskan dengan retensi cairan sekunder terhadap mekanisme kompensasi yang tidak lagi dapat memberikan kompensasi. Miokardium yang melemah tersebut memerlukan peningkatan regangan diastolic pada miofibrilnya untuk mempertahankan kontraksinya. Volume intravaskuler bertambah melalui retensi garam dan air yang dilakukan ginjal. Bertambahnya volume tersebut akhirnya membebani jantung secara

Kalau berdiri tegak. curah jantung yang tidak memadai. Ortopnea adalah istilah yang dipakai untuk melukiskan sesak napas yang dialami seorang pasien kalau berada dalam posisi telentang. posisi paru-paru menjadi lebih rendah daan mengumpulkan cairan lebih banyak. dan cairan merembes ke dalam jaringan lunak sebagai edema pergelangan kaki. Pasien harus buang air kecil beberapa kali di malam hari. Batuk di malalm hari kadang-kadang menjadi manifestasi paruparu basah ini. kongesti vaskuler pulmoner secara pasif. Gagal ventrikel kanan menyebabkan hipertensi vena sistemik ketika bertambahnya volume menggelembungkan pembuluh-pembuluh darah ini. Keluhan ini disebut dispnea nocturnal paroksisimal. Dengan gagalnya ventrikel kiri. Episode merasa tercekik secara tiba-tiba sering membangunkan pasien di malam hari ketika curah jantung menurun karena beristirahat dan paru-paru dibanjiri dengan cairan. . Ini disebut nokturia. Meskipun terjadi peningkatan kongesti pulmoner. meregangkan kapsulnya. bronkospasme dengan batuk. Karena perfusi ginjal bertambah. Gejala-gejala dan tanda-tand gagal jantung kongestif sisi kiri disebabkan oleh berkurangnya fungsi ventrikel kiri yang efektiff. Kalau timbul secara tiba-tiba. bendunngan vena membesarkan hati. Ini sering terjadi pada awal perjalanan gagal jantung kongestif. hipertensi vena ini memperbesar tekanan kolom darah dari atrium kanan ke pergelangan kaki. Tekanan ini melebihi tekanan onkotik intravaskuler. Pasien tersebut kemudian duduk tegak lurus sampai merasa lebih baik. demikian pula halnya dengan aliran urin. dan retensi cairan yang disebabkan oleh penurunan perfusi ginjal.berlebihan. Kalau pasiennya berbaring. daya pompa jantung menjadi lebuh efisien di malam hari ketika sedang beristirahat. dan menimbulkan nyeri tumpul pada kuadran kanan atas abdomen. Sering kali. Pasien mengeluh dispnea kalau bekerja atau terengah-engah kalau melakukan aktivitas fisik. Mungkin ia akan memberitahukan Anda bahwa tidurnya akan menjadi lebih baik dengan memakai dua atau tiga bantal di bawah kepala dan bahunya. gejala-gejala yang menonjol pada edema pulmoner akut adalah dispnea akut dan berat pada waktu beristirahat. Peninggian tekanan vena pulmoner secara kronis karena gagal ventrikel kiri atau karena obstruksi ventrikel kiri. sehingga timbul gejala-gejala gagal jantung kongestif. dan wheezing. terjadi hipertensi vena pulmoner dan akumulasi cairan yang berlebihan di dalam paru-paru.

b. Faktor pencetus termasuk meningkatnya asupan garam. CHEST DISCOMFORT: Apa hubungan dengan gejala utama? (jelaskan perjalanan penyakitnya sampai shortness of breath. Diff count: 0/2/10/60/22/6. serangan hipertensi. infark miokard akut (mungki yang tersembunyi). aritmia akut.a. . persentase) 6. Platelet: 225. INTERPRETASI dan MEKANISME ABNORMAL: Hemoglobin:12. PROGNOSIS LEARNING ISSUES HEART FAILURE Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolism jaringan dan/atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian volume diastolik secara normal. dan sering pula ditemukan bunyi jantung keempat 3. tirotoksikosis. ketidakpatuhan menjalani anti gagal jantung.8 g/dl. penyakit jantung kongenital) dan keadaan yang membatasi pengisian ventrikel (stenosis mitral.Bunyi jantung pertama yang lemah mencerminkan lambatnya laju ejeksi. kardiomiopati. PATOGENESIS L. anemia. penyakit pembuluh darah. 7. infeksi atau demam. INTERPRETASI dan MEKANISME ABNORMAL dan GAMBARAN NORMALNYA: Chest X-ray: CTR>50%. factor pencetus. emboli paru.500/mm³. atau penyakit perikardial). WBC: 8. dan bunyi jantung kedua mengalami splitting paradoksal. Faktor predisposisi gagal jantung adalah penyakit yang menimbulkan penurunan fungsi ventrikel (seperti penyakit arteri koroner. sign of cephalization G. Biasanya ditemukan bunyi jantung ketiga.a. kehamilan dan endokarditis infektif. shoe-shaped cardiac. hipertensi. ESR 20 mm/jam.000/mm³. Kerley’s line (+). kardiomiopati.

edema. Pada gagal jantung kiri terjadi dyspneu d’effort. Ronki basah tidak nyaring 4. Kelas 4. gagal jantung terbagi atas gagal jantung kiri. Kelas 2. Pada gagal jantung kanan. bunyi derap S3 dan S4. bunyi P2 mengeras. timbul fatigue. hidrotoraks. Dispnea nocturnal paroksismal atau ortopnea 2. pernapasan Cheyne Stokes. Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas apapun dan harus tirah baring. Diagnosis Gagal Jantung Kongestif (Kriteria Framingham) Kriteria Mayor 1. dan kembung. tekanan vena jugularis meningkat. fatigue. irama derap atrium kanan. Gejala dan tanda yang timbul pun berbeda. dispnea nocturnal paroksismal. pulsus alternans. peningkatan tekanan vena. hepatomegali. dan kongesti vena pulmonalis. dan gagal jantung kongestif. ortopnea.Manifestasi Klinis Berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan pemompaan. liver enlargement. takikardi. murmur. terjadi manifestasi gabungan gagal jantung kiri dan kanan. Peningkatan tekanan vena jugularis 3. Kelas 3. Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas lebih berat dari aktivitas sehari-hari tanpa keluhan. anoreksia. ventricular heaving. Pada pemeriksaan fisik. New York Heart Association (NYHA) membuat klasifikasi fungsional dalam 4 kelas: Kelas 1. Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa keluhan. Kardiomegali . ronki. pada gagal jantung kongestif. batuk. gagal jantung kanan. heaving ventrikel kanan. sesuai dengan pembagian tersebut. pembesaran jantung. asitea. Bila pasien dapat melakukan aktivitas berat tanpa keluhan. tanda-tanda penyakit paru kronik. Sedang. irama gallop. bisa didapatkan hipertrofi jantung kanan. dan edema pitting.

Penatalaksanaan . Kapasitas vital berkurang menjadi 1/3 maksimum 7. angiografi. Edema paru akut 6. Takikardi (>120x/menit) Kriteria mayor atau minor Penurunan berat badan >4. Peningkatan tekanan vena > 16cm H2O 8. Efusi pleura 6. corakan vascular paru menggambarkan kranialisasi. dan fungsi tiroid dilakukan atas indikasi. elektrolit.5 kg dalam 5 hari setelah terapi. Hepatomegali 5. Dyspneu d’effort 4. Diagnosis ditegakkan dari 2 kriteria mayor. Fungsi elektrokardiografi (EKG) untuk melihat penyakit yang mendasari seperti infark miokard dan aritmia.5. Pemeriksaan lain seperti pemeriksaan Hb. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan foto toraks dapat mengarah ke kardiomegali. Edema pergelangan kaki 2. garis Kerley A/B. dan efusi pleura. fungsi ginjal. infiltrate prekordial kedua paru. ekokadiografi. Irama derap S3 7. atau 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor harus ada pada saat yang bersamaan. Refluks hepatojugular Kriteria Minor 1. Batuk malam hari 3.

Digitalisasi cepat diberikan untuk mengatasi edema pulmonal akut yang berat:   Digoksin 1-1.2-1. Untuk pasien usia lanjut dan gagal ginjal. miksedema. Digoksin IV 0. Memperbaiki kontraktilitas otot jantung. Dosis digitalis :    Digoksin oral untuk digitalisasi cepat 0. c. Cara dan pemberian digitalis: CORONARY ARTERY DISEASE .5 mg selama 2-4 hari.6 mg dalam 24 jam. b. Digitalisasi: a. Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan kenurunkan konsumsi O2 melalui istirahat/ pembatasan aktivitas.5 mg IV perlahan-lahan. Cedilanid 0. d.25 mg sehari.1.4-0. Mengatasi keadaan yang reversibel. 2. Cedilanid IV 1.75-1 mg dalam 4 dosis selama 24 jam.8 mg IV perlahan-lahan. dosis disesuaikan. Dosis penunjang untuk gagal jantung: digoksin 0. dan aritmia.5-2 mg dalam 4-6 dosis selama 24 jam dan dilanjutkan 2×0.25 mg. termasuk tirotoksikpsis. Dosisi penunjang digosin untuk fibrilasi atrium 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful