Anda di halaman 1dari 15

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Perjanjian 2.1.1 Pengertian Perjanjian Istilah perjanjian berasal dari bahasa Belanda, yaitu overeenkomst. Untuk menerjemahkan istilah overeenkomst dikalangan ahli hokum masih banyak perbedaan pendapat. Ada yang menerjemahkan overeenkomst dengan perjanjian, tetapi ada pula yang menerjemahkan menjadi persetujuan. Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Dari peristiwa ini, timbullah suatu hubungan antara dua orang yang membuatnya. Dalam bentuknya, perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. (Subekti, 1987:1). Didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), diatur pula mengenai perjanjian yang terdapat didalam buku ketiga KUHPerdata tentang perikatan. Menurut ketentuan pasal 1313 KUHPerdata, Suatu perjanjian adalah perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Mengenai pengertian perjanjian yang terdapat didalam ketentuan pasal 1313 KUHPerdata tersebut, oleh para sarjana hukum dianggap terlalu luas dan tidak lengkap. Dikatakan terlalu luas sebab tidak adanya pembatansan pada kata perbuatan. Hakikat perbuatan dapat mencakup perbuatan hukum dan bukan perbuatan hukum, dengan demikian semua perbuatan tercakup didalamnya. Dipandang tidak lengkap karena pada kata-kata

mengikatkan diri mengandung arti perjanjian sepihak saja, padahal pada kenyataannya perjanjian yang bersifat timbal baliklah yang sering digunakan (Setiawan R., 1994: 99). Dari beberapa pengertian mengenai perjanjian diatas, secara umum dapat disebutkan bahwa pada umumnya pejanjian itu adalah suatu peristiwa dimana para pihak saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal yang disepakati itu tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum dan kesusilaan.

2.1.2 Asas-Asas Perjanjian Hukum perjanjian mengenal beberapa asas yang merupakan dasar kehendak para pihak dalam mencapai tujuan. Asas-asas ini harus diperhatikan oleh para pihak yang akan membuat suatu perjanjian. Asas-asas tersebut antara lain: 1. Asas Kebebasan Berkontrak; Yang dimkasud kebebasan berkontrak ini adalah setiap orang bebas mengadakan suatu perjanjian apa saja, baik perjanjian itu sudah diatur maupun belum diatur dalam undang-undang. Dalam ketentuan pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata disebut bahwa: Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Pasal ini menyatakan bahwa diperbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan berisi apa saja meskipun hal tersebut belum diatur oleh undang-undang asalkan tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan. 2. Asas Konsensualisme; Konsesualisme berasal dari kata concensus, yang berarti sepakat atau persetujuan. Asas ini lahir atau ada pada saat terjadinya kata sepakat antara para pihak yang membuat perjanjian. Pada umumnya suatu perjanjian sudah ada sejak adanya atau tercapainya kata sepakat diantara para pihak dalam perjanjian tersebut walaupaun hanya menyangkut ha l-hal yang pokok saja dari perjanjian tersebut, maka perjanjian tersebut sudah dianggap sah dan mengikat para pihak yang membuatnya. 3. Asas Itikad Baik; Itikad baik pada waktu membuat perjanjian adalah kejujuran para pihak, karena orang yang beritikad baik menaruh kepercayaan yang besar pada pihak lawannya sebagai orang yang dianggap jujur yang tidak menyembunyikan hal-hal yang buruk yang akan mendatangkan kesulitan dikemudian hari (Subekti, 1980: 17). Mengenai itikad baik

ini diatur dalam ketentuan Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata yang berbunyi: Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik. Itikad baik yang dimaksud adalah untuk menilai pelaksanaan perjanjian harus mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan

(Setiawan R., 1994: 99). 4. Asas Pelengkap (Optional); Asas pelengkap ini mempunyai arti bahwa para pihak yang membuat perjanjian dapat menyingkirkan pasal-pasal dalam undang-undang dan dapat membuat sendiri ketentuan-ketentuan yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal undang-undang apabila mereka menghendakinya, tetapi apabila dalam perjanjian yang mereka buat tidak ditentukan maka berlaku ketentuan undang-undang. Karena berlaku sebagai undang-undang, maka perlu para pihak harus melaksanakan apa yang telah mereka sepakati dan wajib mentaatinya (Sudikno M., 1988: 97).

2.1.3 Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian Suatu perjanjian dinyatakan sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila perjanjian tersebut memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh undangundang. Syarat-syarat yang berlaku bagi sahnya suatu perjanjian ditetapkan dalam ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu: 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian; 3. Suatu hal tertentu, dan; 4. Suatu sebab yang halal. Syarat 1 dan 2 diatas dinamakan syarat-syarat subjektif karena menyangkut subjek-subjek yang membuat perjanjian, sedangkan syarat 3 dan 4 dinamakan syarat-syarat objektif karena kalau syarat-syarat subjektif tidak terpenuhi maka perjanjiannya dapat dibatalkan oleh hakim atas permintaan pihak yang tidak cakap atau yang memberikan kesepakatan tanpa kehendaknya sendiri. Sedangkan apabila syarat-syarat objektif yang tidak terpenuhi maka perjanjiannya

dinyatakan batal demi hokum, artinya dari semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada perikatan (Riduan Syahrani, 1989: 222). Untuk selanjutnya akan diurai satu persatu mengenai syarat-syarat sahnya perjanjian, yaitu: 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; Dalam membuat suatu perjanjian agar sah dan mempunyai kekuatan hukum maka, setiap pihak yang membuat perjanjian itu harus saling bersepakat, setuju dan seiasekata mengenai hal-hal pokok yang menjadi isi dari perjanjian. Kesepakatan yang dicapai oleh para pihak harus dibuat berdasarkan kemauan sendiru secara sukarela tanpa adanya paksaan dari pihak lain (Subekti, 1987: 12). Apabila perjanjian itu dibuat oleh para pihak yang bersepakat bukan karena kemauannya sendiri maka perjanjian itu menjadi cacat hukum dan dapat dimintakan pembatalannya kepada hakim. 2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian; Perjanjian akan sah apabila dibuat atas dasar kesepakatan para pihak yang cakap menurut hukum. Pada dasarnya setiap orang yang sudah dewasa dan sehat pikirannya adalah cakap menurut hukum. Kecakapan para pihak ini dimaksudkan agar para pihak dapat dan mau mempertanggungjawabkan segala akibat dan resiko dalam perjanjian yang telah dibuatnya. Ketentuan Pasal 1330 KUHPerdata

menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian adalah: (1) orang yang belum dewasa, yaitu mereka yang belum genap berusia 21 tahun dan tidak lebih dahulu kawin, (2) mereka yang ditaruh dibawah pengampuan, (3) orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang. Dengan demikian orang-orang yang dinyatakan cakap untuk membuat perjanjian dalah mereka yang berada diluar ketentuan Pasal 1330 KUHPerdata tersebut diatas, dan apabila mereka yang membuat perjanjian tersebut termasuk salah satu yang disebutkan dalam ketentuan pasal tersebut, maka

terhadap perjanjian yang telah dibuatnya dapat dibatalkan oleh hakim (J. Satrio, 1992: 277). 3. Suatu hal tertentu, dan; Hal yang menyangkut apa yang menjadi objek suatu perjanjian haruslah jelas, paling tidak harus ditentukan jenisnya. Ditentukannya syarat ini adalah perlu untuk menetapkan hak dan kewajiban dari para pihak jika timbul perselisihan dikemudian hari. Jika apa yang menjadi objek perjanjian tersebut tidak jelas atau tidak ditentukan, maka perjanjian tersebut akan menjadi batal demi hukum. 4. Suatu sebab yang halal. Kata sebab yang halal dalam ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata bukan dalam arti yang menyebabkan terjadinya perjanjian tersebut, akan tetapi dimaksudkna kepada tujuan yang hendak dicapai oleh para pihak dalam membuat perjanjian itu. Suatu sebab dikatakan halal apabila tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan, seperti yang terdapat dalam ketentuan Pasal 1337 KUHPerdata. Perjanjian yang dibuat berdasarkan sebab yang halal itu diperbolehkan, sedangkan perjanjian yang dibuat berdasarkan sebab yang tidak halal tidak diperbolehkan. Akibat hukum terhadap suatu perjanjian yang dibuat berdasarkan sebab yang tidak halal adalah batal demi hukum.

2.1.4 Prestasi Dalam Perjanjian Ketentuan Pasal 1234 KUHPerdata berisi tentang bentuk-bentuk prestasi yang harus dilakukan oleh para pihak dalam suatu perjanjian. Bentuk prestasi dalam perjanjian yang ditentukan dalam pasal itu, yaitu: untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu dan untuk tidak berbuat sesuatu. Prestasi merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para pihak yang terlibat dalam perjanjian. Akan tetapi adakalanya dalam sebuah perjanjian, salah satu pihak melanggar atau lalai dalam melaksanakan prestasi yang menjadi kewajiban,

apabila hal tersebut terjadi maka pihak yang melanggar prestasinya disebut telah melakukan wanprestasi. Wanprestasi menurut bahasa adalah lalai, ingkar, tidak memenuhi kewajiban dalam suatu perikatan. Untuk kelalaian ini, maka pihak yang lalai harus memberikan ganti rugi, biaya dan bunga. Apabila para pihak mengadakan perjanjian maka tujuan mereka adalah memperoleh prestasi dari pihak lawannya. Prestasi tersebut dapat berupa memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu. Dan apabila karena suatu kesalahan pihak yang wajib memberikan prestasi tidak melakukan prestasi, maka pihak tersebut dikatakan cidera janji atau wanprestasi (Subekti, 1987:45). Mengenai wanprestasi itu sendiri diatur dalam ketentuan pasal 1239 KUHPerdata berbunyi: Tiap-tiap perikatan untuk berbuat sesuatu atau tidak untuk berbuat sesuatu apabila si berutang tidak memenuhi kewajibannya mendapat penyelesaian dalam kewajiban memberikan penggantian biaya dan bunga. Wanprestasi dianggap ada pada saat debitur lalai dengan lewatnya waktu yang telah ditentukan. Wanprestasi yang terjadi dalam suatu perjanjian mempunyai akibat-akibat hukum penting yang berhubungan dengan kelangsungan dari perjanjian itu sendiri. Oleh karena itu pihak-pihak yang dianggap melakukan wanprestasi harus dibuktikan terlebih dahulu apalagi jika pihak yang dianggap melakukan wanprestasi menyangkal terhadap kelalalian yang secara langsung dibuatnya. Hal ini dapat terjadi karena kadang-kadang dalam suatu perjanjian tidak diatur secara tegas kapan pihak-pihak tersebut diharuskan melaksanakan prestasinya.

2.2 Perjanjian Pembiayaan Konsumen 2.2.1 Pengertian Perjanjian Pembiayaan Istilah pembiayaan sebenarnya merupakan terjemahan dari kata leasing yang berasal dari kata lease, yang berarti sewa menyewa. Karena memang dasarnya leasing adalah sewa-menyewa, jadi leasing merupakan suatu bentuk derivative dari sewa-menyewa. Tetapi kemudian dalam dunia bisnis

berkembanglah sewa-menyewa dalam bentuk khusus yang disebut leasing, dan

telah berubah fungsinya menjadi salah satu jenis pembiayaan. (Munir Fuady, 1995:8) Menurut Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

1169/KMK.01/1991 tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (leasing) dalam Pasal 1, yang disebut dengan leasing adalah Kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk dipergunakan oleh leassee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Dari definisi tersebut, awal mulanya leasing memang dimaksudkan sebagai usaha memberikan kemudahan pembiayaan kepada perusahaan tertentu yang memerlukannya. Tetapi dalam perkembangan kemudian, bahkan leasing dapat pula diberikan kepada individu dengan peruntukan barang belum tentu untuk kegiatan usaha. (Munir Fuady, 1995:11).

2.2.2 Pengertian Pembiayaan Konsumen Pembiayaan konsumen merupakan salah satu model pembiayaan yang dilakukan oleh perusahaan financial, disamping kegiatan seperti leasing, factoring, kartu kredit dan sebagainya. Istilah Pembiayaan Konsumen dipakai sebagai terjemahan dari Istilah Consumer Finance. Pembiayaan konsumen ini tidak lain dari sejenis kredit konsumsi (Consumer Credit). Hanya saja, jika pembiayaan konsumen dilakukan oleh perusahaan pembiayaan, sementara kredit konsumsi diberikan oleh bank. (Munir Fuady, 1995:204) Didalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan Pasal 1, pembiayaan konsumen diartikan sebagai suatu kegiatan pembiayaan yang dilakukan dalam bentuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan system pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen. Dari pengertian tersebut, bahwa dalam hal pembiayaan konsumen, perusahaan pembiayaan konsumen berkewajiban untuk menyediakan barang yang

diperlukan oleh konsumen dan konsumen membayar harga barang tersebut kedapa perusahaan pembiayaan konsumen secara angsuran atau berkala. Berdasarkan definisi tersebut dapat disebutkan dan dirinci mengenai unsur-unsur dari pembiayaan konsumen itu sendiri yang meliputi sebagai berikut: a. Subjek adalah pihak-pihak yang terkait dalam hubungan hukum pembiayaan konsumen, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen (kreditur), konsumen (debitur), dan penyedia barang (supplier); b. Objek adalah barang bergerak keperluan konsumen yang akan dipakai untuk keperluan hidup atau keperluan rumah tangga; c. Perjanjian adalah perbuatan persetujuan pembiayaan yang diadakan antara perusahaan pembiayaan konsumen dengan konsumen, serta jual beli antara supplier dengan konsumen. Perjanjian tersebut didukung dengan dokumen-dokumen; d. Hubungan kewajiban dan hak, dimana perusahaan pembiayaan wajib membiayai harga pembelian barang keperluan konsumen dan membayar secara tunai kepada supplier untuk kepentingan konsumen, sedangkan konsumen wajib membayar harga barang secara angsuran atau berkala kepada perusahaan pembiayaan konsumen, dan para supplier wajib menyerahkan barang kepada konsumen; e. Jaminan berupa kepercayaan terhadap konsumen merupakan jaminan utama bahwa konsumen dapat dipercaya untuk membayar angsurannya sampai selesai. Barang yang dibiayai oleh perusahaan pembiayaan konsumen merupakan jaminan pokok secara fidusia, dan semua dokumen kepemilikan barang dikuasai oleh perusahaan pembiayaan konsumen sampai angsuran terakhir dilunasi. Berdasarkan unsure-unsur pengertian pembiayaan konsumen diatsa, dapat didefinisikan sebagai berikut: Perjanjian pembiayaan konsumen adalah perbuatan persetujuan pembiayaan yang diadakan antara perusahaan pembiayaan konsumen dan konsumen dengan system pembayaran berkala oleh konsumen (Abdulkasir Muhammad, 1993:247).

Kegiatan pembiayaan konsumen ini dilakukan oleh lembaga pembiayaan yang berupa badan usaha dalam bentuk menyediakan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari pihak konsumen atau masyarakat. Kegiatan usaha lembaga pembiayaan ini dapat dilakukan oleh bank, lembaga keuangan bukan bank dan perusahaan pembiayaan. Dalam hal ini penulis hanya meneliti pembiayaan konsumen yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan.

2.2.3 Pihak-Pihak Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen Dalam suatu perjanjian terdapat beberapa pihak yang bersepakat, ada tiga pihak yang terlibat dalam transaksi pembiayaan konsumen, yaitu: 1. Perusahaan Pembiayaan Konsumen; Perusahaan pembiayaan konsumen adalah badan usaha berbentuk perseroan terbatas atau koperasi, yang melakukan kegiatan

pembiayaan untuk mengadakan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen. Pihak pemberi biaya disebut sebagai kreditur dan pihak penerima biaya (konsumen) disebut sebagai pihak debitur. Antara pihak kreditur dengan pihak konsumen terdapat hubungan kontraktual dalam hal ini kontrak pembiayaan konsumen. Pihak kreditur berkewajiban utama untuk memberikan sejumlah uang kepada konsumen untuk pembelian suatu barang konsumsi yang dibutuhkan oleh kosnumen, sementara konsumen berkewajiban utama untuk membayar kembali uang tersebut secara cicilan kepada pihak kreditur. Jadi hubungan kontraktual antara pihak penyedia dana (kreditur) dengan pihak konsumen (debitur) adalah sejenis perjanjian kredit. Sehingga ketentuan-ketentuan tentang perjanjian kredit (dalam KUHPerdata) berlaku, sementara ketentuan perkreditan yang diatur dalam peraturan perbankan secara yuridis formal tidak berlaku berhubung pihak pemberi biaya bukan pihak bank sehingga tidak yunduk dengan peraturan perbankan. Dengan demikian, sebagai konsekuensi yuridis dari perjanjian kredit tersebut, maka setelah

seluruh kontak ditandatangani, dan dana sudah dicairkan serta barang sudah diserahkan oleh supplier kepada konsumen, maka barang yang bersangkutan sudah langsung menjadi milik konsumen, walaupun kemudian biasanya barang tersebut dijadikan jaminan hutang lewat perjanjian fidusia. 2. Konsumen; Konsumen adalah pihak pembeli barang dari supplier atas pembayaran dari pihak ketiga, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen. Konsumen dalam hal ini mempunyai 2 (dua) hubungan kontraktual, yaitu: a. Perjanjian pembiayaan yang bersifat pemeberian kredit antara perusahaan dengan konsumen; b. Perjanjian jual beli antara pemasok (supplier) dan konsumen yang bersifat tunai. Pihak konsumen umumnya masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah yang belum tentu mampu bila membeli barang kebutuhannya itu secara tunai. Dalam pembelian kredit, resiko menunggak angsuran oleh konsumen merupakan hal yang biasa terjadi. Oleh karena itu pihak perusahaan dalam memberikan kredit kepada konsumen masih memerlukan jaminan terutama jaminan fidusia atas barang yang dibeli itu, disamping pengakuan hutang (promissory notes) dari pihak konsumen. Dalam perjanjian jual beli antara supplier dan konsumen, pihak supplier menetapkan syarat bahwa harga akan dibayar oleh pihak ketiga, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen. Apabila karena alas an apapun, perusahaan pembiayaan konsumen tersebut melakukan wanprestasi dengan tidak melakukan pembayaran sesuai kontrak, maka jual beli barang antara supplier dengan konsumen akan dibatalkan. 3. Supplier. Supplier adalah pihak penjual (pemasok) barang kepada konsumen atas pembayaran oleh pihak ketiga, yaitu perusahaan pembiayaan konsumen. Dalam hal ini antara pihak penyedia dana (kreditur) dengan pihak supplier (penyedia barang) mempunyai suatu hubungan

kerjasama, yaitu pihak penyedia dana sebagai pihak ketiga disyaratkan untuk menyediakan dana untuk digunakan dalam perjanjian jual beli antara pihak supplier dengan pihak konsumen. Karena itu, apabila pihak penyedia dana melakukan wanprestasi dalam menyediakan dananya, sementara kontrak jual beli maupun kontrak pembiayaan konsumen telah selesai dilakukan, jual beli bersyarat antara pihak supplier dengan pihak konsumen akan batal, sementara pihak konsumen dapat menggugat pihak pemberi biaya karena wanprestasi tersebut (Abdulkadir Muhammad dan Rilda Murniani 2000:247).

2.3 Jaminan Fidusia 2.3.1 Pengertian Jaminan Fidusia Istilah jaminan berasal dari kata jamin yang berarti tanggung, sehingga jaminan dapat diartikan sebagai tanggungan. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah tanggungan atas segala perikatan dari seseorang seperti yang ditentukan dalam pasal KUHPerdata maupun tanggungn atas perikatan tertentu dari seseorang. Tanggungan atas segala perikatan seseorang disebut jaminan secara umum sedangkan tanggungan atas perkatan tertentu dari seseorang disebut jaminan secara khusus (Oey Hoey Tiong, 1985:14). Salah satu macam jaminan tersebut adalah jaminan fidusia. Fidusia menurut asal katanya berasal dari bahasa Romawi fides yang berarti kepercayaan. Fidusia merupakan istilah yang sudah lama dikenal dalam bahasa Indonesia. Begitu pula istilah ini digunakan dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Dalam terminologi Belanda istilah ini sering disebut secara lengkap yaitu Fiduciare Eigendom Overdracht (F.E.O.) yaitu penyerahan hak milik secara kepercayaan. Sedangkan dalam istilah bahasa Inggris disebut Fiduciary Transfer of Ownership. Pengertian fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda (http://id.wikipedia.org/wiki/jaminanfidusia).

Fidusia adalah salah satu bentuk jaminan kebendaan atas benda bergerak. Penyerahan hak milik secara fidusia, sebagai jaminan adalah lembaga jaminan bentuk baru atas benda bergerak. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia memberikan pengertian yang berbeda antara fidusia dengan jaminan fidusia. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, memberikan pengertian fidusia adalah sebagai Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Sedangkan ketentuan Pasal 1 angka 2 UndangUndang Fidusia, memberikan pengertian jaminan fidusia adalah sebagai Hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada didalam penguasaan pemberian fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan uang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya. Adapun pengertian mengenai fidusia dari para ahli hukum, ada yang mendefinisikan fidusia sebagai perjanjian yang lahir dan tidak terpisahkan dan tidak mungkin ada tanpa didahului oleh suatu perjanjian lain yang disebut perjanjian pokoknya (Tan Kamelo, 2004:194). Dari definisi yang diberikan jelas bagi kita bahwa fidusia dibedakan dari jaminan fidusia, dimana fidusia merupakan proses pengalihan hak kepemilikan terhadap suatu benda dan jaminan fidusia adalah jaminan yang diberikan dalam bentuk fidusia.

2.3.2 Objek Jaminan Fidusia Pasal 2 Undang-Undang Fidusia memberikan batas ruang lingkup berlakunya Undang-Undang Fidusia yaitu berlaku terhadap setiap perjanjian yang bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia, yang dipertegas kembali oleh rumusan yang dimuat dalam pasal 3 Undang-Undang Fidusia ini tidak berlaku terhadap:

a. Hak tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan, sepanjang peraturan perundang-undangan yang berlaku menentukan jaminan atas benda-benda tersebut wajib didaftar. Namun demikian bangunan diatas milik orang lain yang tidak dapat dibebani hak tanggungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, dapat dijadikan objek jaminan fidusia; b. Hipotik atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran 20 (duapuluh) M3 atau lebih; c. Hipotik atas pesawat terbang, dan; d. Gadai. Dengan lahirnya Undang-Undang Fidusia, yaitu dengan mengacu pada Pasal 1 angka 2 dan 4 serta Pasal 3 Undang-Undang Fidusia, dapat dikatakan yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda apupun yang dapat dimiliki dan dialihkan hak kepemilikannya. Benda itu dapat berupa benda berwujud maupun yang tidak berwujud, terdaftar maupun tidak terdaftar, bergerak maupun tidak bergerak, dengan syarat bahwa benda tersebut tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan atau Hipotik. Terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia hak kepemilikan atas jaminan diserahkan kepada, kreditur/penerima fidusia, sedangkan benda jaminan secara fisik masih berada dibawah penguasaan debitur/pemberi fidusia. Demikian pula dengan pembebanannya, benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam prakteknya dapat dibebankan berkali-kali kepada kreditur yang berbeda (dengan mengesampingkan ketentuan pasal 17 Undang-Undang Fidusia), jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu penerima fidusia atau kuasa/wakil penerima fidusia, dalam rangka pembiayaan kredit konsorsium.

2.3.3 Sifat-Sifat Jaminan Fidusia Lahir dan berakhirnya penyerahan hak milik secara fidusia tergantung pada perjanjian pokok. Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok, dan bukan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi.

Perjanjian fidusia tidak disebut secara khusus dalah KUHPerdata. Karena itu, perjanjian ini tergolong dalam perjanjian tak bernama (Onbenoem De Overeenkomst). Fidusia bersifat memaksa, karena dalam hal ini terjadi penyerahan hak milik atas benda yang dijadikan objek jaminan fidusia, walaupun tanpa penyerahan fisik benda yang dijadikan objek jaminan. Selain sifat-sifat tersebut, fidusia juga memiliki sifat-sifat lain, yaitu: 1. Dapat digunakan, digabungkan, dicampur atau dialihkan terhadap benda atau hasil dari benda yang menjadi objek jaminan fidusia dengan persetujuan dengan penerima fidusia; 2. Bersifat individual, bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia melekat secara utuh pada utangnya sehingga meskipun sudah dilunasi sebagian, namun hak fidusia atas benda yang dijadikan objek jaminan tidak dapat dihapus dengan begitu saja hingga seluruh hutang telah dilunasi; 3. Bersifat menyeluruh, berarti hak kebendaan atas fidusia mengikuti segala ikutannya yang melekat dan menjadi satukesatuan dengan benda terhadap mana hak kebendaan diberikan; 4. Tidak dapat dipisah-pisahkan, berarti pemberian fidusia hanya dapat diberikan untuk keseluruhan benda yang dijadikan jamianan dan tidak mungkin hanya sebagian saja; 5. Bersifat mendahulu (droid de preference), bahwa penerima fidusia mempunyai hak yang didahulukan terhadap kreditur lainnya untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang dijadikan objek jaminan fidusia; 6. Mengikuti bendanya (Droit de duite), pemegang hak fidusia dilindungi hak kebendaannya, jaminan fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda itu berada, kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi objek jaminan fidusia; 7. Harus diumumkan (asas publisitas), benda yang dijadikan objek jaminan fidusia wajib didaftarkan, hal ini merupakan jaminan

kepastian terhadap kreditur lainnya mengenai benda yang telah dibebani dengan jaminan fidusia; 8. Berjenjang/Prioriteit (ada prioritas yang satu atas yang lainnya), hal ini sebagai akibat dari kewajiban untuk melakukan pendaftaran dalam pembebanan jaminan fidusia dan apabila atas benda yang sama menjadi objek lebih dari 1 (satu) perjanjian jaminan fidusia; 9. Sebagai Jura in re Aliena (yang terbatas), fidusia adalah ahak kebandaan yang bersifat terbatas, yang tidak memberikan hak kebendaan penuh kepada pemegang atau penerima fidusia. Jaminan fidusia hanya ditujukan bagi pelunasan utang. Fidusia hanya memberikan hak pelunasan mendahulu, dengan cara menjual sendiri benda yang dijaminkan dengan fidusia (Sie Infokom Ditama Binbangkum JDIH BPK RI).

2.3.4 Pembebanan Jaminan Fidusia Dalam hal pembebanan jaminan fidusia, Undang-Undang Jaminan Fidusia menetapkan harus dilakukan dengan akta notaries. Ditetapkannya akta notaris dalam pembebanan jaminan fidusia dimaksudkan untuk mendapatkan nilai otentisitas dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat sebagai alat bukti yang kuat bagi para pihak dan pihak ketiga termasuk ahli waris maupun orang yang meneruskan hak tersebut. Dengan dasar itu dibuat title eksekutorial pada sertifikat fidusia (Martin Roestamy dalam Tan Kamelo, 2004:131). Pendaftaran jaminan fidusia dilakukan pada Kantor Pendaftaran Fidusia. Setelah dilakukan pendaftaran jaminan fidusia, Kantor Pendaftaran Fidusia menerbitkan sertifikat jaminan fidusia. Dalam sertifikat tersebut dicantumkan irah-irah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga memiliki kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Berdasarkan ketentuan ini, apabila debitur pemberi menerima jaminan fidusia wanprestasi, kreditur penerima jaminan fidusia berhak untuk menjual benda jaminan fidusia.