Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS TRAUMA TUMPUL

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Di RS Bhayangkara Semarang

Pembimbing : dr. Sofwan Dahlan, Sp.F (K) Disusun oleh : Hadwer Wicaksono Pandjaitan 01. 207. 5381 Rhabiatul Adhawiyah 01. 207. 5552 Siti Aisah 01. 207. 5563 Ula Faza Nayli R 01. 207. 5571

1. 2. 3. 4.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas jaringan tubuh yang masih hidup (living tissue) sedangkan logos berarti ilmu. Jadi traumatologi adalah ilmu yang mempelajari semua aspek yang berkaitan dengan kekerasan terhadap jaringan tubuh manusia yang masih hidup, juga mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan. Sedangkan yang dimaksud dengan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan. Kegunaannya selain untuk kepentingan pengobatan juga dalam kepentingan forensik sebab dapat diaplikasikan guna membantu penegak hukum dalam rangka membuat terang tindak pidana kekerasan yang menimpa tubuh seseorang.1 Trauma merupakan hal yang biasa dijumpai dalam kasus forensik. Trauma dalam bidang forensik sudah dikenal sejak lama. Pada masa Persia kuno, telah dikenal atau tingkat kualifikasi luka dan pemeriksaan dilakukan pada orang-orang yang mengalami perlukaan. Antistius memeriksa bahwa ada dua puluh tiga luka pada tubuh Julius Caesar (100-44 SM), tetapi luka yang mematikan hanya satu-satunya tusukan pada jantung 2 . Trauma dapat menjadi penyebab kematian, baik kematian yang mendadak atau tidak. Untuk itu, diperlukan pengetahuan yang teliti apakah perlukaan pada seseorang dapat

berakibat fatal atau tidak, dan ini merupakan poin penting untuk membantu proses peradilan.1 Salah satu dari cedera ini adalah cedera oleh karena benda tumpul. Trauma tumpul ini juga dapat menyebabkan kematian yang diakibatkan oleh kerusakan organ vital seperti otak, jantung dan paru-paru, adanya perdarahan, shock, thrombosis, emboli dan infeksi atau sepsis.3

1.2. TUJUAN 1.2.1. Mahasiswa mampu mengetahui kasus penganiyayaan dan kekerasan benda tumpul. 1.2.2. Mahasiswa mampu mendiskripsikan luka dalam pembuatan Visum et Repertum.

1.3. MANFAAT 1.3.1. Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pemahaman kami selaku penyusun, serta para pembaca mengenai kasus penganiyayan dan kekerasan benda tumpul, serta mampu mendiskripsikan luka dalam pembuatan visum et repertum.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. TRAUMA TUMPUL 2.1.1. Definisi Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungan dengan berbagai kekerasan (rudapaksa). Sedangkan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan tubuh akibat kekerasan 4. Trauma tumpul sendiri diakibatkan oleh benda dengan yang tidak bermata tajam, konsistensi keras atau kenyal dan memiliki permukaan halus atau kasar.3 2.1.2. Akibat Trauma Tumpul Kekerasan oleh benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan berbagai macam jenis luka, antara lain : a. Memar (Kontusio) Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat pecahnya kapiler dan vena. Merupakan salah satu bentuk luka yang ditandai oleh kerusakan jaringan tanpa disertai discontinuitas permukaan kulit. Mula-mula memar akan berwarna merah kebiruan dan bengkak. Setelah 4-5 hari berubah menjadi kuning kehijauan, dan setelah lebih dari seminggu berwarna kehijauan 1. Pada orang yang menderita penyakit defisiensi atau menderita kelainan darah, kerusakan yang terjadi akan lebih besar dibanding

orang normal. Oleh sebab itu, besar kecilnya memar tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan besar kecilnya benda penyebabnya atau keras tidaknya pukulan.1 Dilihat sepintas luka memar terlihat seperti lebam mayat, tetapi jika diperiksa dengan seksama akan dapat dilihat perbedaannya 1 : Memar Bisa dimana saja Positif Warna tetap Reaksi jaringan (+) Lebam Mayat Pada bagian terendah Negatif Memucat / hilang Reaksi jaringan (-)

Lokasi Pembengkakan Bila ditekan Mikroskopik

b. Luka Lecet (Abrasi) Luka lecet atau abrasi adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri-cirinya adalah : Bentuk luka tidak teratur Batas luka tidak teratur Tepi luka tidak rata Kadang-kadang ditemukan sedikit perdarahan Permukaan tertutup oleh krusta Warna coklat kemerahan Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya beberapa bagian yang masih tertutup epitel dan reaksi jaringan.1 Umur luka lecet secara makroskopis maupun mikroskopis dapat diperkirakan sebagai berikut: Hari ke 1 3 berwarna coklat kemerahan karena eksudasi darah dan cairan limfe.

2-3 hari kemudian pelan-pelan bertambah suram dan lebih gelap. Setelah 1-2 minggu mulai terjadi pembentukan epidermis baru. Dalam beberapa minggu akan timbul penyembuhan lengkap.3

Walaupun kerusakan yang ditimbulkan minimal sekali, luka lecet mempunyai arti penting di dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman, oleh karena dari luka tersebut dapat memberikan banyak hal, misalnya: i) Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat dalam tubuh, seperti hancurnya jaringan hati, ginjal, atau limpa, yang dari pemeriksaan luar hanya tampak adanya luka lecet di daerah yang sesuai dengan alat-alat dalam tersebut. ii) Petunjuk perihal jenis dan bentuk permukaan dari benda tumpul yang menyebabkan luka, seperti : Luka lecet tekan pada kasus penjeratan atau penggantungan, akan tampak sebagai suatu luka lecet yang berwarna merahcoklat, perabaan seperti perkamen, lebarnya dapat sesuai dengan alat penjerat dan memberikan gambaran/cetakan yang sesuai dengan bentuk permukaan dari alat penjerat, seperti jalianan tambang atau jalinan ikat pinggang. Luka lecet tekan dalam kasus penjeratan sering juga dinamakan jejas jerat, khususnya bila alat penjerat masih tetap berada pada leher korban.

Di dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban terlindas oleh ban kendaraan, maka luka lecet tekan yang terdapat pada tubuh korban seringkali merupakan cetakan dari ban kendaraan tersebut, khususnya bila ban masih dalam keadaan yang cukup baik, dimana kembang dari ban tersebut masih tampak jelas, misalnya berbentuk zig-zag yang sejajar. Dengan demikian di dalam kasus tabrak lari, informasi dari sifat-sifat luka yang terdapat pada tubuh korban sangat bermanfaat di dalam penyidikan.

Dalam kasus penembakan, yaitu bila moncong senjata menempel pada tubuh korban, akan memberikan gambaran kelainan yang khas yaitu dengan adanya jejas laras, yang tidak lain merupakan luka lecet tekan. Bentuk dari jejas laras tersebut dapat memberikan informasi perkiraan dari bentuk moncong senjata yang dipakai untuk menewaskan korban.

Di

dalam

kasus

penjeratan

dengan

tangan

(manual

strangulation), atau

yang lebih dikenal dengan istilah

pencekikan, maka kuku jari pembunuh dapat menimbulkan luka lecet yang berbentuk garis lengkung atau bulan sabit; dimana dari arah serta lokasi luka tersebut dapat diperkirakan apakah pencekikan tersebut dilakukan dengan tangan kanan, tangan kiri atau keduanya. Di dalam penafsiran perlu hati-hati khususnya bila pada leher korban selain didapatkan luka lecet

seperti tadi dijumpai pula alat penjerat; dalam kasus seperti ini pemeriksaan arah lengkungan serta ada tidaknya kuku-kuku yang panjang pada jari-jari korban dapat memberikan kejelasan apakah kasus yang dihadapi itu merupakan kasus bunuh diri atau kasus pembunuhan, setelah dicekik kemudian digantung. Dalam kasus kecelakaan lalu-lintas dimana tubuh korban bersentuhan dengan radiator, maka dapat ditemukan luka lecet tekan yang merupakan cetakan dari bentuk radiator penabrak. iii) Petunjuk dari arah kekerasan, yang dapat diketahui dari tempat dimana kulit ari yang terkelupas banyak terkumpul pada tepi luka; bila pengumpulan tersebut terdapat di sebelah kanan maka arah kekerasan yang mengenai tubuh korban adalah dari arah kiri ke kanan. Di dalam kasus-kasus pembunuhan dimana tubuh korban diseret maka akan dijumpai pengumpulan kulit ari yang terlepas yang mendekati ke arah tangan, bila tangan korban dipegang; dan akan mendekati ke arah kaki bila kaki korban yang dipegang sewaktu korban diseret. 5 Sesuai dengan mekanisme terjadinya luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai: i) Luka lecet gores Diakibatkan oleh benda runcing, misal kuku jari, yang menggeser lapisan permukaan kulit (epidermis) dan menyebabkan lapisan

tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi. ii) Luka lecet serut Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel. iii) Luka lecet tekan Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul terhadap kulit. Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka belum tentu sama dengan permukaan benda, tetapi masih mungkin untuk mengidentifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk khas, misal kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dsb. Gambaran yang ditemukan adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya. iv) Luka lecet geser Disebabkan oleh tekanan linier kulit disertai gerakan bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jerat. Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup sulit dibedakan dari luka lecet geser yang terjadi segera pasca mati. 4

Perbedaan luka lecet ante motem dan post mortem 3 ANTE MORTEM 1. Coklat kemerahan 2. Terdapat sisa sisa-sisa epitel 3. Tanda intravital (+) 4. Sembarang tempat POST MORTEM 1. Kekuningan 2. Epidermis terpisah sempurna dari dermis 3. Tanda intravital (-) 4. Pada daerah yang ada penonjolan tulang

c. Luka Robek (Lacerasi) Luka robek (vulnus laceratum) / luka terbuka adalah luka yang disebabkan karena persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya, yang ciri cirinya sebagai berikut : Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tidak rata Bila ditautkan tidak dapat rapat (karena sebagaian jaringan hancur) Tebing luka tidak rata serta terdapat jembatan jaringan Di sekitar garis batas luka di temukan memar Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang langsung berbatasan dengan tulang (misalnya daerah kepala, muka atau ekstremitas). Karena terjadinya luka disebabkan oleh robeknya jaringan maka bentuk dari luka tersebut tidak menggambarkan bentuk dari benda penyebab. Jika benda tumpul mempunyai permukaan yang bulat

10

atau persegi dipukulkan pada kepala maka luka robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi.1 d. Fraktur Fraktur karena benda tumpul mudah sekali dibedakan dengan fraktur karena benda tajam atau senjata api. Pada kasus dimana kepala seseorang dipukul dengan benda tumpul, maka akan terjadi fraktur kompresi. Pada kasus kecelakaan lalu lintas dengan korban yang terlempar sering dijumpai fraktur pada tulang dengan garis patah linier. 5 2.1.3. Klasifikasi Trauma Tumpul Berdasarkan Jaringan atau Organ yang Terkena 1. Kulit - Luka Lecet - Luka Memar - Luka Robek 2. Kepala Tengkorak Jaringan Otak

3. Leher dan Tulang Belakang Patah tulang leher Robek pembuluh darah, otot, oesophagus,t rachea, larynk Kerusakan syaraf

4. Dada

11

Tulang Organ dalam dada

5. Perut 6. Organ Parenkim Organ berongga Anggota Gerak 3

2.2. ASPEK YURIDIS Jika dari sudut medik, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai atau tidak disertai diskontinuitas permukaan kulit) akibat trauma maka dari sudut hukum, luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak pidana, baik yang bersifat intensional (sengaja), recklessness (ceroboh) atau negligence ( kurang hati-hati). Untuk menentukan berat ringannya hukuman perlu ditentukan terlebih dahulu berat ringannya luka. Kebijakan hukum pidana didalam penentuan berat ringannya luka tersebut didasarkan atas pengaruhnya terhadap : Kesehatan jasmani Kesehatan rohani Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan Estetika jasmani Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencarian Fungsi alat indra

12

Dalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang mengalami luka karena kekerasan, dokter diwajibkan menanyakan beberapa hal sebagai berikut : 1. Jenis luka apa yang terjadi ? 2. Jenis kekerasan atau senjata apakah yang menyebabkan luka ? 3. Bagaimanakah kualifikasi luka itu ? Kualifikasi luka disini yang dimaksudkan adalah kualifikasi luka berdasarkan Undang-Undang Hukum Pidana Bab XX (Tentang Penganiayaan) Pasal 351 dan 352. Pasal 351 : 1. Penganiayaan diancam pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus juta rupiah. 2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, maka yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tiga tahun. 3. Jika mengakibatkan mati, maka dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. 4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. 5. Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 352 : 1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan harian, diancam sebagai penganiayaan ringan, dengan

13

hukuman pidana penjara paling banyak 3 bulan atau denda paling banyak tiga ratus juta rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja kepadanya atau menjadi bawahannya. 2. Percobaan melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 90 : Luka berat berarti : 1. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak member harapan untuk sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut. 2. Tidak mampu untuk terus-menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencaharian. 3. Kehilangan salah satu panca indra 4. Mendapat cacat berat (verminking) 5. Menderita sakit lumpuh. 6. Terganggunya daya piker selama empat minggu lebih. 7. Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. Dari pasal-pasal diatas, maka dapat dibedakan empat jenis tindak pidana yaitu : 1. Penganiayaan ringan, yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan jabatan atau pekerjaan pencaharian (luka derajat pertama).

14

2. Penganiayaan, yaitu bila luka menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan jabatan atau pekerjaan pencaharian (luka derajat ke dua). 3. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat, sesuai dengan KUHP pasal 90. 4. Penganiayaan yang menyebakan kematian

15

BAB III LAPORAN KASUS

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH JAWA TENGAH RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG PRO JUSTICIA VISUM ET REPARTUM Nomor : 02 / VeR / II / 2013

Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resor Semarang Timur melalui suratnya tanggal 28 bulan Februari tahun 2013, Nomor polisi: B/18/II/2013/Reskrim, yang ditandatangani oleh Soeprapto, SH pangkat AKP, NRP 62120577 dan diterima pada tanggal 28 bulan Februari tahun 2013, jam 18.30 Waktu Indonesia Barat, maka dengan ini, saya, dr. Sofwan Dahlan, Sp. F sebagai dokter yang bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara Semarang menerangkan bahwa pada hari Kamis tanggal 28 Februari 2013 jam 18.45 WIB, di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Bhayangkara Semarang telah memeriksa dan merawat orang, yang berdasarkan surat permintaan tersebut diatas dan telah dibenarkan oleh yang bersangkutan bernama Abdul Rasit, umur empat puluh tiga tahun, jenis kelamin laki-laki, agama Islam, pekerjaan guru SMA, alamat jalan Nangka Selatan nomor dua Semarang---------------------------------------------------------------------------------Berdasarkan surat permintaan itu, orang tersebut diduga telah mengalami peristiwa kekerasan---------------------------------------------------------------------------

16

HASIL PEMERIKSAAN Dari pemeriksaan yang telah saya lakukan, ditemukan fakta-fakta sebagai berikut : -----------A. FAKTA DARI PEMERIKSAAN -------------------------------------------------------------1. KEADAAN UMUM : ----------------------------------------------------------------------a. Kesadaran : Baik ------------------------------------------------------------------------b. Nadi : delapan puluh sembilan kali per menit --------------------------------------c. Pernapasan : dua puluh dua kali permenit-------------------------------------------d. Tekanan darah : seratus lima puluh per seratus milimeter air raksa -------------e. Suhu : tiga puluh enam koma tujuh derajat celcius --------------------------------2. KELAINAN-KELAINAN FISIK : -------------------------------------------------------Bagian luar tubuh : --------------------------------------------------------------------------a. Kepala : pada pemeriksaan ditemukan satu luka terbuka di daerah wajah dengan lokasi di bawah alis mata kanan, dengan titik tengah empat koma tiga sentimeter sebelah kanan garis tengah tubuh dan satu sentimeter di atas garis mendatar yang melewati kedua matanya. Bentuk berupa luka terbuka, tidak teratur dan jika ditautkan tidak rapat. Ukuran dengan panjang satu koma enam sentimeter, lebar nol koma enam sentimeter dan dalamnya nol koma dua sentimeter. Sifat luka garis batas luka teratur tetapi tepinya tidak rata, terdapat tiga buah sudut dengan sudut runcing, tebing luka tidak rata, terdiri atas jaringan kulit dan jaringan ikat, terdapat jembatan jaringan------------------------------------------------b. Leher : tidak ada kelainan--------------------------------------------------

17

c. Bahu : tidak ada kelainan-------------------------------------------------d. Dada : tidak ada kelainan-------------------------------------------------e. Punggung : tidak ada kelainan-------------------------------------------f. Perut : tidak ada kelainan-------------------------------------------------g. Bokong : tidak ada kelainan----------------------------------------------h. Dubur : tidak ada kelainan------------------------------------------------i. Anggota gerak : tidak ada kelainan--------------------------------------Bagian Dalam Tubuh : tidak diperiksa-------------------------------------B. FAKTA YANG DIALAMI SELAMA PERAWATAN : ---------------------1. Fakta berupa akibat : tidak ada-----------------------------------------------2. Fakta berupa tindakan medik : tidak ada------------------------------------C. FAKTA DARI PEMERIKSAAN TERAKHIR :-------------------------------Tanggal dua puluh delapan bulan Februarir tahun dua ribu tiga belas-------1. Fakta yang berkaitan dengan kondisi jasmaniah :-------------------------Sembuh sempurna-------------------------------------------------------------2. Fakta yang berkaitan dengan pekerjaannya :------------------------------Tidak menimbulkan halangan dalam menjalani pekerjaan mata pencahariannya atau jabatannya-----------------------------------------------

KESIMPULAN Dari fakta-fakta yang saya temukan sendiri dari pemeriksaan atas orang tersebut, maka saya simpulkan bahwa telah diperiksa seorang laki-laki, umur empat puluh

18

tiga tahun, ditemukan luka robek pada wajah akibat kekerasan benda tumpul, luka tidak dapat mendatangkan bahaya maut dan menimbulkan penyakit atau halangan dalam melakukan pekerjaan----------------------------------------------------------------PENUTUP Demikian keterangan tertulis ini saya buat dengan sesungguhnya, dengan mengingat sumpah pada waktu menerima jabatan sebagai dokter.--------------------

Semarang, 28 Februari 2013 Tanda tangan

Dr. Sofwan Dahlan, Sp. F.

19

BAB IV PEMBAHASAN

Pasien yang diperiksa bernama Abdul Rasit, umur 43 tahun, jenis kelamin laki-laki, agama Islam, pekerjaan guru SMA, alamat jalan Nangka Selatan No 2 Semarang. Pada kasus ini ditemukan tanda-tanda kekerasan berupa luka robek. Tidak ditemukan patah tulang. Luka robek ditemukan pada wajah dengan lokasi di bawah alis mata kanan, dengan titik tengah empat koma tiga sentimeter sebelah kanan garis tengah tubuh dan satu sentimeter di atas garis mendatar yang melewati kedua matanya. Bentuk berupa luka terbuka, tidak teratur dan jika ditautkan tidak rapat. Ukuran dengan panjang satu koma enam sentimeter, lebar nol koma enam sentimeter dan dalamnya nol koma dua sentimeter. Sifat luka garis batas luka teratur tetapi tepinya tidak rata, terdapat tiga buah sudut dengan sudut runcing, tebing luka tidak rata, terdiri atas jaringan kulit dan jaringan ikat, terdapat jembatan jaringan. Luka ini terjadi akibat pukulan yang diterima secara tiba-tiba.

20

BAB V KESIMPULAN

Dari pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami luka robek. Kami menyimpulkan luka ini luka robek karena dilihat dari ciri-ciri luka robek yang berupa bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tidak rata, apabila ditautkan tidak dapat rapat (karena sebagaian jaringan hancur), tebing luka tidak rata serta terdapat jembatan jaringan, di sekitar garis batas luka di temukan memar, serta lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang langsung berbatasan dengan tulang yang pada kasus ini terjadi daerah muka.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik. Cetakan Pertama Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2000. 2. Satyo, Alfred, 2006, Aspek Medikolegal Luka pada Forensik Klinik. Dalam : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15636/1/mkn-

des2006-%20%289%29.pdf. Dikutip tanggal 01 Maret 2013. 3. Apuranto Hariadi. Luka Akibat Benda Tumpul. Diunduh

dari http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen//LUKA%20TUM PUL.pdf. Dikuti tanggal 01 Maret 2013. 4. Budiyanto A, Widiatmika W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. FK-UI. Jakarta. 1997. 5. Idris, Abdul M. Pedoman Ilmu Keokteran Forensik. Jakarta : Binarupa Aksara, 1997. 6. Dahlan, Sofwan. Pembuatan Visum et Repertum. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2008.

22