Anda di halaman 1dari 45

LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH I

GAMBARAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI, LEMAK DAN NATRIUM TERHADAP PROFIL LIPID PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUANG RAWAT INAP RSUD WALUYOJATI KRAKSAAN

Oleh : Hermansyah NIM : 1003000064

Telah Diperiksa dan Disetujui untuk Diujikan Malang Januari 2013

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Endang Widajati, SST., M. Kes NIP : 19670210 199103 2 001

Dwie Soelistyorini, SST.,M. Kes NIP : 19690214 199303 2 001

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul Gambaran Tingkat Konsumsi Lemak dan Serat Terhadap Profil Lipid Pasien Penderita Penyakit jantung Di RSUD Waluyojati Kraksaan sehubungan dengan selesainya karya tulis ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada : 1. B. Doddy Riyadi. SKM.,MM selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang 2. I Dewa Nyoman Supariasa, MPS selaku Ketua Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang 3. I Nengah Tanu Komalyna, DCN. SE., selaku Ketua Program Study DIII Jurusan Gizi Politeknik KesehatanKemenkes Malang 4. Direktur RSUD Waluyojati yang telah memberikan izin penelitian 5. Sutomo Rum Teguh K, SKM, M. Kes. selaku ketua penguji Karya Tulis Ilmiah 6. Endang Widjayati, SST, M.Kes selaku pembimbing 1 Karya Tulis Ilmiah 7. Dwie Soelistiyorini, SST, M.Kes selaku pembimbng II Karya Tulis Ilmiah 8. Direktur Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan probolinggo 9. Kepala ruang rekam medik Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan 10. Kepala Instalasi Gizi RSUD Waluyojati Kraksaan yang telah memberikan arahan selama proses penelitian 11. Pasien yaitu penderita penyakit jantung yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan penelitian 12. Kedua orang tua, teman-teman dan berbagai pihak yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan doa. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. Malang, 8 Februari 2013

Hermansyah

ii

DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN..................................................................................... i KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1 A. Latar Belakang ............................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3 C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 3 D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 5 A. Penyakit Jantung .......................................................................................... 5 1. 2. 3 4 5 Definisi ..................................................................................................... 5 Patofisiologi.............................................................................................. 6 Etiologi....................................................................................................... 6 Gejala Klinik .............................................................................................. 8 Faktor Resiko penyebab Jantung menurut Price (2006) .......................... 10

B. Tingkat konsumsi Lemak dan kolesterol ................................................... 11 C D. Tingkat Konsumsi Serat ............................................................................. 13 Profil Lipid ............................................................................................... 18

E. Terapi diet penyakit jantung ....................................................................... 20 1. Menurut Persagi, 1996 ............................................................................. 20 2. Menurut Almatsier, 2004 sebagai berikut : ............................................ 22

F. Intervensi dan pendidikan pasien ................................................................ 22 BAB III. KERANGKA KONSEP ........................................................................ 27 A. Kerangka Konsep ....................................................................................... 27

iii

BAB IV. METODE PENELITIAN ...................................................................... 29 A. Desain Penelitian ........................................................................................ 29 B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................... 29 C. Instrumen Pengumpulan Data .................................................................... 29 D. Definisi Operasional Variabel .................................................................... 30 E. Metode Sampling .......................................................................................... 31 F. Metode Pengumpulan Data ........................................................................ 31

G. Metode Pengolahan dan Analisi Data ........................................................ 33 H. Etika Penelitian .......................................................................................... 35 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 36 Lampiran-lampiran ................................................................................................ 39 Lampiran 1. Diet Jantung Rumah Sakit Waluyojati Kraksaan. .................... 39 Lampiran 2. Surat Pernyataan ........................................................................ 41

iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit jantung merupakan penyakit nomor satu di dunia dalam artian penyakit yang paling banyak ditemukan diseluruh dunia (J.B. Suharjo, 2008). Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa penyakit jantung, infeksi dan kanker masih tetap mendominasi peringkat teratas penyebab utama kematian di dunia, serangan jantung dan problem seputarnya masih menjadi pembunuh nomor satu dengan raihan 29 persen kematian global setiap tahun. Peringkat kedua diduduki penyakit infeksi dengan 16,2 persen kematian, disusul kanker yang diklaim menyebabkan 12,6 persen kematian di dunia. Adapun menurut Soediawan 2009, Indonesia merupakan salah satu negara yang menduduki sebagai penyebab kematian yang banyak (17,5 juta) ditahun 2005. Pendapat ini setara dengan Lenterabiru 2002, angka kematian akibat Penyakit jantung yang diperkirakan meningkat 11 juta pada tahun 2020. Penyakit jantung ini disebabkan penyumbatan pembuluh darah atau disebut aterosklerosis yang faktor utamanya disebabkan gizi yang tidak benar atau salah dalam asuhan gizi khususnya kandungan lemak dan kolesterol dalam darah. Peningkatan kolesterol dalam darah adalah faktor yang paling mendominasi terjadinya penyakit jantung (aterosklerosis) sedang pengaruh karena trigliserida masih belum pasti ( Winarno, 2002) dalam (Huda Paramita, 2007). Winarno 2002, faktor yang paling mendominasi terjadinya penyakit jantung adalah kadar kolesterol darah sedang pengaruh karena trigliserida masih belum pasti. Hiperkolesterolemia adalah kadar kolesterol tinggi di dalam darah. Tingginya kadar kolesterol darah merupakan problem yang serius karena merupakan salah satu faktor resiko utama terjadinya penyakit jantung. Telah dibuktikan bahwa dengan turunnya kadar kolesterol darah dapat mengurangi risiko penyakit jantung. Faktor risiko lainnya yaitu merokok, riwayat penyakit jantung dalam keluarga pada umur kurang dari 55 tahun, penyakit gula , penyakit pembuluh darah, kegemukan dan jenis kelamin laki-laki (Bahri, 2004).

Faktor risiko terjadinya penyakit jantung antara lain asupan lemak yang tinggi dan kurangnya tubuh dalam melakukan aktivitas fisik. Menurut Diet-Heart hipotesis asupan tinggi lemak, kolesterol, dan asupan rendah lemak tidak jenuh akan meningkatkan kadar total kolesterol (Willett, 1998). Kadar kolesterol darah tinggi, dipengaruhi oleh seringnya mengkonsumsi makanan yang tinggi kolesterol. Semakin banyak konsumsi makanan berlemak, akan semakin besar peluangnya untuk menaikkan kadar kolesterol total dan menurunkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar HDL darah yang rendah akan berpengaruh pada rasio total kolesterol dan HDL, yang dapat digunakan untuk memprediksi risiko penyakit jantung. Semakin tinggi angka rasio total kolesterol dan HDL akan semakin tinggi pula risiko kejadian penyakit jantung (Bronchu et al., 2000). Asupan lemak yang berlebihan didalam tubuh mengakibatkan timbunan plak pada arteri koronaria sehingga mempersempit pembuluh darah koroner yang dapat menyebabkan serangan jantung. Peningkatan asupan lemak jenuh berhubungan dengan tingginya total kolesterol dan kematian akibat penyakit jantung (Kromhout et al., 2000). Konsumsi garam memiliki efek langsung terhadap tekanan darah (beevers 2002,(beevers, prof.d.g.2002. SERI KESEHATAN bimbingan dokter pada tekanan darah . jakarta:dian rakyat) pengaruh konsumsi garam terhadap timbul nya hipertensi tejadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung, dan tekanan darah (suyono 2001. Suyono. Slamet. 2001. Ilmu penyakit dalam jilid 3. Jakarta :fkui.) Krause, 1972 menyebutkan bahwa tekanan darah tinggi menyumbang angka degeneratif tertinggi, yang sebagian besar berhubungan dengan ateroklerosis. (krause, 1972. Food nutrition an d diet therapy. Philadelphia; SAUNDERS company). Rumah Sakit Waluyojati Kraksaan merupakan salah satu rumah sakit rujukan di daerah probolinggo. Berdasarkan hasil studi pendahuluan penyakit jantung merupakan peringkat dua dari `lima peringkat besar penyakit di RSUD Waluyojati, disamping itu jumlah pasien yang membutuhkan diet jantung sebagian besar mengalami penambahan ( laporan bulanan instalasi gizi RSUD Waluyojati Kraksaan tahun 2012) yaitu pada bulan Agustus sebanyak 58 dan pada bulan September 69 pasien. Sedangkan dari hasil rekam medik terkait dengan

persentase pasien yang terdiagnosa penyakit jantung dan menjalani rawat inap mengalami peningkatan yaitu pada tahun 2009 sebanyak 241 pasien, 2010 sebanyak 247 pasien, dan pada tahun 2011 sebanyak 288 pasien, sehingga persentase pada tahun 2009 ke 2010 sebesar 2,4% dan pada tahun 2010 ke 2011 sebesar 14%. Hasil wawancara dengan pihak instalasi gizi menyebutkan bahwa belum tersedia standar diet pasien penyakit jantung. Adapun diet yang diberikan oleh pihak instalasi gizi yaitu diet orang normal namun ada beberapa pembatasanpembatasan makanan misalnya seperti makanan yang digoreng dan makanan yang berlemak tinggi (gajih, susu full cream). Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian untuk mengakaji Gambaran Tingkat Konsumsi Energi, Lemak Dan Serat Terhadap Profil Lipid Pasien Penyakit Jantung Koroner di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan

B. Rumusan Masalah Bagaimana Tingkat Konsumsi Energi, Lemak dan Natrium Terhadap Profil Lipid Pasien Penderita Penyakit jantung Koroner di RSUD Waluyojati Kraksaan.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Gambaran Tingkat Konsumsi Energi, Lemak Dan Natrium Terhadap Profil Lipid Pasien Penyakit Jantung Koroner di RSUD Waluyojati Kraksaan.

2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini adalah : a. Mengetahui karakteristik (umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, dan riwayat gizi) pasien penyakit jantung koroner di Rumah Sakit Umum Daerah Waluyojati Kraksaan b. Mengetahui terapi diet yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Daerah Waluyojati Kraksaan

c. Mengetahui tingkat konsumsi lemak dan kolesterol pasien penyakit jantung di Rumah Sakit Umum Daerah Waluyojati Kraksaan d. Mengetahui tingkat konsumsi natrium pasien penyakit jantung koroner di Rumah Sakit Umum Daerah Waluyojati Kraksaan e. Mengetahui profil lipid pasien penyakit jantung (HDL, LDL, TG, Kolesterol total)

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Rumah Sakit Meningkatkan upaya pelayanan maksimal dalam memberikan terapi diet pada pasien penyakit jantung koroner khususnya standar diet untuk menstabilkan kadar profil lipid pasien. 2. Bagi Peneliti Memberikan wawasan serta pengalaman nyata kepada peneliti mengenai gambaran tingkat konsumsi lemak dan natrium terhadap profil lipid pasien penyakit jantung koroner.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyakit Jantung Koroner 1. Definisi Pembuluh darah koroner merupakan penyalur aliran darah (membawa 02 dan makanan yang dibutuhkan jantung agar dapat berdifusi dengan baik. penyakit jantung koroner adalah salah satu akibat utama arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah nadi) yang dikenal sebagai atherosklerosis. Pada keadaan ini pembuluh darah nadi menyempit karena terjadi endapan-endapan lemak (atheroma dan plaques) pada dinding pembuluh darah (Price, 2006). Aterosklerosis merupakan suatu penyakit pengerasan dinding pembuluh darah baik arteri yang kecil maupun yang besar yang disebabkan penimbunan lemak, trombosit, leukosit dan makrofag di lapisan sel endotelium dan akhirnya ke lapisan otot polos. Infeksi atau kelainan pada sel endotelium meningkatkan

permeabilitas komponen plasma seperti trigliserida, fosfolipid, dan kolesterol sehingga zat-zat tersebut masuk ke dalam arteri dan mengalami penyempitan (Price, 2006). Oksidasi asam lemak tersebut menghasilkan radikal bebas yang merusak pembuluh darah. Hal itu merupakan awal terjadinya inflamasi dan gangguan pada imun yaitu sel darah putih yang mengeluarkan sitokin proinflanmatori poten dan dapat mengaktifkan sel T dan sel B, sel tersebut menarik lebih banyak sel darah putih dan menstimulasi proses koagulasi darah ke area lesi (Taylor 2006). Pada saat penempelan di lapisan endotelium terjadi osmolaritas interstisial yang dapat memperburuk siklus inflamasi. Akumulasi sel darah putih dan pelepasan mediator inflamasi merupakan suatu akibat dari gabungan penyebab terbentuknya lesi di dinding pembuluh darah. Selain itu kolesterol dan asam lemak mendapat akses ke tahap indikasi kerusakan arteri dan agregasi trombosit mulai meningkat dan membentuk koagulasi darah yang menumpuk (trombus). Penimbunan kolesterol dan asam lemak membentuk deposit jaringan parut dan profilerasi sel otot polos (Price, 2006).

2.

Patofisiologi Aterosklerosis koroner pembuluh arteri, semakin bertambahnya umur dalam

arteri juga terjadi proses seperti penebalan lapisan intima, berkurangnya elastisitas, penumpukan kalsium dan bertambahnya lapisan intima , perubahan variabel intima arteri yang merupakan akumulasi fokal lemak, kompleks karbohidrat, darah dan hasil produk darah, jaringan fibrous dan deposit kalsium yang kemudian diikuti oleh perubahan lapisan media (WHO, 1958). Menurut Price, 2006 pembuluh arteri koroner terdiri dari tiga lapisan yaitu : Tunika intima yang terdiri dari dua bagian. Lapisan tipis sel-sel endotel merupakan lapisan yang memberikan permukaan licin antara darah dan dinding arteri serta lapisan sub endotelium. Sel ini menghasilkan prostaglandin, heparin dan aktivator plasminogen yang membantu mencegah agregasi trombosit dan vasokonstriksi, dan juga jaringan ikat yang memisahkan dengan lapisan yang lain. Lapisan otot jantung yaitu tunika media merupakan lapisan otot dibagian tengah dinding arteri yang mempunyai tiga bagian; bagian sebelah dalam disebut membran elastin internal kemudian jaringan fibrus otot polos dan sebelah luar memberana elastika eksterna.Tunika adventisia umumnya mengandung jaringan ikat dan dikelilingi oleh vasavasorum yaitu jaringan arteriol (Price, 2006). Pada pembuluh koroner terlihat penonjolan yang diikuti dengan garis lemak (fattystreak) pada intima pembuluh yang timbul sejak umur di bawah 10 tahun. Pada kebanyakan orang umur 30 tahun garis lemak ini tumbuh lebih progresif menjadi fibrous plaque yaitu suatu penonjolan jaringan kolagen dan sel-sel nekrosis.Lesi ini padat, pucat berwarna kelabu yang disebut ateroma. Lesi kompleks terjadi apabila pada plak fibris timbul nekrosis dan terjadi perdarahan trombosis, ulserasi, kalsifikasi atau aneurisma (Price, 2006).

Etiologi a. ateroklerosis Penyumbatan pembuluh darah di tunika intima karena adanya penimbunan lipid dan jaringan fibrosa dalam arteri koronaria. Akibat itu terjadi

penyempitan pembuluh darah. Secara otomatis terjadi resistensi terhadap aliran darah meningkat. Kemungkinan yang terjadi yaitu penurunan

vaskularisasi untuk melebar. Vaskularisasi menyebabkan nutrisi dan oksigen tidak terbawa ke jantung dengan baik dan pada tahap selanjutnya terjadi \iskemik. Plak ateroma juga sering menonjol melalui intima masuk aliran darah dan permukaan plak yang kasar menyebabkan terbentuknya bekuan darah, dengan akibatnya trombus atau embolus ( Guyton, Arthur C, 1997). Penyebab ateroklerosis berdasarkan Elizabeth J. Corwin (2009) antara lain yaitu : 1) Kolesterol serum yang tinggi Kadar kolesterol serum dan trigliserida yang tinggi dan dapat menyebabkan pembentukan aterosklerosis. Kolesterol dalam darah tebungkus oleh lipoprotein. Lipoprotein yang tinggi (HDL) membawa lemak keluar sel untuk diuraikan dan diketahui bersifat protektif terhdap ateroklerosis. Lipoprotein yang berdensitas rendah (LDL) dan yang sangat rendah (VLDL) membawa lemak ke sel tubuh. 2) Obesitas Masalah obesitas meningkat pada pria maupun wanita, yang berhubungan dengan gaya hidup yang kurang gerak (olahraga). Peningkatan Body Mass Index (BMI) menambah rasio kejadian serangan jantung dan kematian karenanya. Berbagai penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara BMI dengan lemak tubuh dan risiko terkena penyakit degeneratif atau risiko kematian karena penyakit degeneratif ( Riyadi, 2001). 3) Tekanan darah tinggi Tekanan darah yang tinggi secara kronis dapat menimbulkan gaya regang/potong yang merobek lapisan endotel arteri dan arteriol. Gaya regang terutama timbul ditempat-tempat arteri bercabang (bifurkasi) atau membelok. Robeknya lapisan endotel maka timbul kerusakan yang berulang-ulang sehingga terjadi peradangan, penimbunan sel darah putih dan trombosit, serta pembekuan (Elizabeth J. Corwin, 2009). 4) Trombosis Trombosis adalah pemadatan isi darah yang pembentukannya terjadi di dalam sistem pembuluh darah. Ada tiga faktor predisposisi terbentuknya trombus yaitu :

Perubahan pada permukaan intima pembuluh darah Perubahan pada pola aliran darah Perubahan pada kandungan darah (Elizabeth J. Corwin, 2009).

5) Emboli Embolus adalah masa yang beredar dalam sistem pembuluh darah dan kemudian dapat berhenti serta menutup lumen pembuluh darah. Bahan embolus tersebut dapat berasal dari tubuh atau dari luar tubuh baik berupa padat, cairan maupun gas. Emboli beredar dalam peredarah darah melewati cabang pembuluh darah sampai mencapai pembuluh darah kecil sehingga masa emboli tersebut berhenti karena tidak dapat melewati dan berefek pada sirkulasi kolateral yang menuju pada arteri tersebut tidak sampai (Elizabeth J. Corwin, 2009).

b.

Infark Miokard Kebanyakan pasien dengan infark miokard akut mencari pengobatan karena

rasa sakit didada. Namun demikian ,gambaran klinis bisa bervariasi dari pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan rutin, sampai pada pasien yang merasa nyeri di substernal yang hebat dan secara cepat berkembang menjadi syok dan edem pulmonal, dan ada pula pasien yang baru saja tampak sehat lalu tiba-tiba meninggal.

Gejala Klinik Gejala klinik penyakit jantung pada usia dewasa muda jarang sekali

dinyatakan oleh pasien secara langsung, tanda dan gejala tidak khas dan asimtomatic.banyak studi menunjukkan hanya sekitar 3 % dari semua kasus penyakit jantung tejadi dibawah 40 tahun. Yang menjadi ciri khas dan merupakan faktor tunggal yang berhubungan kuat atas kejadian penyakit jantung pada usia muda adalah merokok sigaret menemukan pada pasien yang menjadi kajian pada framingham heart study memiliki resiko 3 kali lebih tinggi pada perokok usia 35 45 tahun. Berdasarkan Price, 2006 gejala klinik pada penyakit jantung sebagai berikut :

a. Angina pektoris Angina pektoris adalah jeritan otot jantung yang merupakan sakit dada kekurangan oksigen. Satu gejala klinik yang disebabkan oleh iskemia miokard yang sementara. Akibat dari ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen dan kemampuan pembuluh darah koronaria untuk menyediakan oksigen secukupnya guna kontraksi miokard. Ada beberapa subyek klinik terkait dengan angina pektoris antara lain yaitu :

1) Angina pektoris stabil. Angina pektoris stabil yaitu frekuensi gejala yang timbul tetap baik lamanya maupun kadar pencetusnya. Rasa nyeri sering menjalar ke lengan kiri atas/bawah bagian medial leher, daerah maksila hingga dagu atau punggung, tetapi jarang menjalar ke tangan. 2) Angina pektoris tidak stabil. Angina pektoris tidak stabil yaitu pola gejala yang timbul berubahberubah, baik frekuensinya, lamanya, maupun yang dirasakan. Nyeri bersifat progresif dengan frekuensi timbulnya nyeri yang sering bertambah. 3) Angina variant Angina variant disebabkan karena terjadinya spasme arteri koroner. Kejadian tidak didahului oleh meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Hal ini dapat terjadi pada arteri koroner yang mengalami stenosis ataupun normal. Proses spasme biasanya bersifat lokal hanya melibatkan satu arteri koroner, dan sering terjadi pada daerah arteri koroner yang mengalami stenosis. 4) Gejala dan Tanda angina pekoris Nyeri seperti dipukul/ditimpa benda berat disertai nyeri abdomen (kadangkadang) dan bangguan pencernaan (mual, muntah-muntah dan anoreksia). Nyeri timbul secara tiba-tiba lebih hebat dan lebih lama dari angina pektoris Faktor-faktor yang dihubungkan dengan nyeri : Aktifitas

Stress Istirahat.

Faktor Resiko penyebab Jantung menurut Price (2006) a. Terkendali 1) Hipertensi Peningkatan tekanan darah merupakan beban yang berat untuk jantung,

sehingga menyebabkan hipertropi ventrikel kiri atau pembesaran ventrikel kiri (faktor miokard). Keadaan ini tergantung dari berat dan lamanya hipertensi. Serta tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya aterosklerosis koroner (faktor koroner). Hal ini menyebabkan angina pektoris, insufisiensi koroner dan miokard infark lebih sering didapatkan pada penderita hipertensi dibandingkan orang normal. 2) Kadar Kolesterol dalam Darah Kolesterol, lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh derah tersebut menyempitdan proses ini disebut aterosklerosis. Penyempitan pembuluh darah ini akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat sehingga aliran darah pada pembuluh derah koroner yang fungsinya memberi suplay oksigen dan nutrisi terganggu atau menjadi kurang. Itu akan menyebabkan otot jantung menjadi lemah,sakit dada, serangan jantung bahkan kematian. 3) Merokok Efek rokok adalah menyebabkan beban miokard bertambah karena rangsanganoleh katekolamin dan menurunnya konsumsi 02 akibat inhalasi CO. Katekolamin juga dapat menambah reaksi trombosis dan juga menyebabkan kerusakan dindingarteri, sedangkan glikoprotein tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif dinding arteri. Di samping itu rokok dapat menurunkan kadar HDL kolesterol tetapi mekanismenya belum jelas. Makin banyak jumlah rokok yang diisap, kadar HDL kolesterol makin menurun.

10

4) Kegemukan Obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol total dan LDL kolesterol. Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah. Mekanismenya belum jelas, akan tetapi terjadi peningkatan tipe IV hiperlipidemia dan hipertrigliserid, pembentukan platelet yang abnormal dan DM yang disertai obesitas dan hipertensi. 5) Diabetes Mellitus Diabetes mellitus (DM) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi normal. Menurut WHO (1985), kadar gula darah normal waktu puasa tidak boleh melebihi 120 mg/dl dan kadar gula darah 2 jam setelah makan kurang dari 200 mg/dl. Penderita DM memilliki resiko relatif 2 kali lebih besar terkena penyakit jantung dibanding yang bukan DM. 6) Stres Ketegangan saraf (stres) juga berperan atas terjadinya penyakit jantung. Sebab dampak stres dan selalu tegang akan menimbulkan gangguan irama jantung yang bisa berakibat fatal. Selain itu juga secara langsung maupun tidak langsung dapat mengganggu aliran darah koroner, karena stres memicu pengeluaran zat katekolamin yang dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah jantung serta peningkatan denyut jantung, sehingga dapat menyebabkan terganggunya suplai darah ke jantung. b. Tidak Terkendali Ini merupakan faktor yang tidak dapat dirubah yaitu : 1) Jenis kelamin 2) Usia > 35 tahun 3) Keturunan

B. Tingkat konsumsi Lemak dan kolesterol Lemak atau lipid adalah ikatan organik yang terdiri dari unsur-unsur karbon, hidorgen dan oksigen yang bersifat larut dalam pelarut lemak seperti benzena dan eter (Lubis, 2009). Lemak adalah makanan terdiri dari trigliserida, kolesterol dan fosfolipid dan terbanyak dalam bentuk trigliserida.

11

Berdasarkan ikatan lemaknya dan kemudahan proses pencernaan, lemak yang mengandung asam lemak jenuh tunggal yang mudah dicerna, dan lemak mengandung asam lemak jenuh sulit dicerna. Makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan tunggal umumnya berasal dari makanan nabati, kecuali minyak kelapa. Makanan sumber asam lemak jenuh umumnya berasal dari hewan. Mengkonsumsi lemak hewani secara berlebih dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah arteri sehingga dapat menyebabkan penyakit jantung dan menderita penyakit jantung. Namun membiasakan makan ikan dapat mengurangi risiko menderita penyakit jantung, karena lemak ikan mengandung omega 3. Asam lemak omega 3 berperan mencegah terjadinya penyumbatan lemak pada dinding pembuluh darah (lubis, 2009). Lemak didasarkan struktur dan fungsinya berbeda-beda. Komponen utama lemak terdiri dari : asam lemak, turunan asam lemak (ester gliserol, ester kolesterol, dan glikolipid), dan sterol beserta turunannya (kolesterol, asam empedu, steroid, dan komponen minor yaitu vitamin-vitamin yang larut lemak dan prostaglandin). Fungsi utama lemak yaitu menyuplai sejumlah energi dengan volume relatif sedikit, membantu absorpsi vitamin-vitamin larut lemak, sumber asam lemak esensial yang tidak dapat disintesa oleh tubuh ( Piliang & Al-Haj, 2006). Kolesterol adalah salah satu turunan dari lemak yang saat in banyak diteliti karena keterkaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif. kolesterol adalah lemak berwarna kekuning-kuningan dan berupa seperti lilin yang diproduksi oleh tubuh terutama di liver (Heslet, 2007). WHO (1990) dalam Almatsier (2009) menganjurkan konsumsi kolesterol kurang dari 300 mg sehari. Hasil penelitian Jonnalagadda dkk pada tahun 1996 dalam linder 1992, konsumsi tinggi asam lemak jenuh akan meningkatkan kadar koleterol dalam plasma, diperkirakan setiap penambahan asam lemak jenuh 1% dari totral kalori terjadi peningkatan kolesterol darah sebanyak 1, 9 mg/dl. Selain konsumsi yang berpengaruh terhadap penyakit jantung yaitu kurangnya aktifitras fisik. Kolesterol dari penguraian lemak adalah faktor yang mendominasi penyakit degeneratif, salah satunya penyakit jantung. WHO (1997) diacu dalam Almatsier (2009) menganjurkan konsumsi kolesterol kurang dari 300 mg perhari.

12

Kolesterol dalam jumlah banyak yang terdapat dalam darah akan membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan arteri yang disebit artheroklerosis. Anjuran asupan kolesterol dalam pecegahan penyakit degeneratif menurut PERKI (2002) bahwa asupan kolesterol harus dibatasi yakni < 300 mg/hari dengan membatasi konsumsi kolesterol dari makanan yang tinggi lemak hewani. Pengurangan konsumsi kolesterol sampai kadar yang lebih rendah yaitu 200 mg/hari harus dilakukan pembatasan dari diet serta dianjurkan bagi individu yang memiliki kadar kolesterol LDL yang meningkat, diabetes mellitus dan atau penyakit kardiovaskuler.

Tingkat Konsumsi Serat Natrium bersifat mengikat air . pada saat garam dikonsumsi, maka garam

tersebut akan mengikat air sehingga air akan diserap masuk dalam intravaskuler yang menyebabkan meningkatnya volume darah. Apabila volume darah meningkat maka mengakibatkan tekanan darah juga meningkat. Selain itu natrium merupakan salah satu komponen zat terlarut dalam darah. Dengn mengkonsumsi garam konsentrasi zat terlarut akan tinggi sehingga penyerapan air masuk dan selanjutnya menyebabkan peningkatan tekanan darah puspitorini 2008 ( puspitorini, Mira. 2008. Hipertensi cara mudah mengatasi tekanan darah tinggi. Jojakarta. Image press) Ada berbagai komponen kimiawi dan sifat-sifat fisik spesifik yang ditemukan dalam serat makanan., dan hal ini akan mempengaruhi kondisinya didalam usus. Menurut Mendeloft (1975), meskipun proses pengunyahan sayuran dan buah didalam mulut dapat menstimulasi kerja maksimal dari bagian faring, namun saat terjadi proses penelanan seratnya belum mengalami perubahan. Demikian juga pada bread-cereals tidak berbeda nyata dengan yang ada pada whitebread. Didalam lambung, kelompok sayuran berserat tinggi, bila dimakan mentah akan lama berada didalam lambung dibadingkan dengan yang sudah dimasak sedangkan kelompok kacang-kacangan yang berserata tinggi

membutuhkan waktu pengosongan lebih lama dibandingkan dengan jenis makanan lainnya, karena lebih banyak mengandung lemak dirombak menjadi. 1. 50% serat tidak dicerna (Undigested Celulose)

13

2. 50% asam lemak berantai pendek (Short Chain Fatty Acid), air, CO2, H, dan, Metana. Dan yang Dipergunakan oleh tubuh. 1. Sedikit fraksi air akan diserap oleh bakteri usus atau diserap oleh serat melalui hiropobik binding 2. Asam empedu deoksikolat ( Deoxi cholic Acid), asam Litokola ( lithocholic acid) diserap untuk membentuk koloni bakteri. Asam empedu ini bersifat kokarsinogen atau membantu mempercepat pertumbuhan

karsinoma. Stalder 1984, membuktikan korelasi positif kadar asam empedu dengan insiden kanker kolon 3. Asam lemak folatil ( acetat, butirat, propianat) merupakan anion utama dalam feses, kemurnian lemak larut air mempunya efek osmotik, dan efek pencahar untuk peristaltik. 4. H dan CO2, gas metana yang meningkatkan flatulen, sebagai hidrodgen bebas melalui nafas/breaath hidrogen Serat makanan dapat berkaitan dengan garam asam lemak didalam usus halus, dan kemudian dilepaskan untuk kinerja bakteri didalam kolon. kandungan serat yang tinggi dalam diet akan meningkatkan fecal output. Easwood et al., 1968, menyatakan asam empedu bebas akan banyak diserap oleh serat makanan di dalam kolon. tingginya serat dalam sayuran dapat memperlambat penyerapan glukosa dalam darah dan dapat mengurangi peningkatan kadar kolesterol darah (lanny dkk, 2005). Menurut Astawan dan Tutik (2004), serat mempunyai karakteristik fisik dan pengaruh terhadap tubuh, serat pangan digolongkan menjadi dua yaitu serat pangan larut air (Soluble Dietary Fiber) dan serat pangan tidak larut air (Insoluble Dietary Fiber). 1. Serat pangan larut air (Soluble Dietary Fiber). Serat pangan larut air merupakan komponen serat yang dapat larut dalam air dan dalam saluran pencernaan. Komponen serat dapat membentuk gel dengan cara menyerap air.

Fungsi utama serat pangan larut air yaitu:

14

a. Memberikan perasaan kenyang cukup lama b. Memperlambat kecepatan pencernaan dalam usus c. Memperlambat penyerapan glukosa dalam darah d. Mengurangi peningkatan kadar kolesterol darah e. Meningkatkan kesehatan saluran pencernaan f. Mengikat asam empedu 2. Serat pangan tidak larut air (Insoluble Dietary Fiber) Serat pangan tidak larut air adalah serat yang tidak larut dalam air dan dalam saluran pencernaan. Sifat yang menonjol dari komponen serat tidak larut air yaitu kemampuan dalam menyerap air serta meningkatkan tekstur dan volume feses sehingga dapat melewati usus besar dengan cepat dan mudah, kelompok serat pangan tidak larut air adalah selulosa (contohnya wortel, bit, umbi-umbian) hemiselulosa (didapat pada kulit ari yang menutupi beras dan serealia) Ada beberapa jenis serat sebagaimana yang di sebutkan oleh Zaimah, 2009 yaitu : Pengertian jenis serat makanan secara fisiologis serat makanan didefinisikan sebagai karbohidrat yang

resisten terhadap hidrolisis oleh enzim pencernaan manusia (karena itu tidak dapat dicerna) dan lignin. Termasuk didalamnya adalah selulosa, hemiselulosa, pektin , lignin, gum, -glukan, fruktan, dan resistant starch). Fungsional fiber adalah karbohidrat yang tidak dapat dicerna tetapi dapat diisolasi, diekstraksi atau difabrikasi dan telah menunjukkan efek yang menguntungkan bagi manusia. Termasuk didalamnya selulosa, pektin, lignin, gum, -glukan, fruktan, chitin, chitosan, polydextrose dan polyols, psilium, resistant dextrin dan resistant starch. Beradasarkan kelarutan dalam air yaitu serat larut (hemiselulosa, pektin, gum, psilium, -glukan, dan musilages) dan serat tidak larut (selulosa dan hemiselulosa). Lignin termasuk dalam kelompok ini meskipun sebenarnya bukan karbohidrat. Adapun jenis-jenis serat menurut Zaimah, 2009 berikut: a. Selulosa Selulosa merupakan komponen utama dinding sel. Bahan ini adalah polimer linier unit glukosa dengan ikatan 1.4. Susunan yang terdiri dari ikatan tersebut membentuk ikatan hidrogen inter dan intra molekul yang kuat, sehingga menjadikannya tidak dapat larut dala air. Selulosa ditemukan pada dinding
15

yaitu sebagai

parenkim tumbuhan, kurang lebih 30% dari berat keringnya. Saat ini sudah dapat dimodifikasi secara kimiawi menjadi lebih larut dan digunakan sebagai tambahan makanan seperti karboksimeti lselulosa, metil selulosa dan hidrosipropil metilselulosa. Degradasinya oleh bakteri usus bervariasi tetapi secara umum tidak dapat difermentasikan dengan baik. Bahan makanan yang kaya selulosa contohnya bekatul, biuji-bijian, kacangkacangan, sayuran dari keluarga kol dan apel. Selulosa dalam bentuk biasa ditambhkan pada makanan yang dipakai untuk pembuatan roti, kue, dan produk daging beku seperti nugget ayam dan beberapa jus ampuran buah. b. Hemiselulosa Hemiselulosa adalah kelompok heterogen dari senyawa-senyawa yang mengandung sejumlah gula pada rantai utama dn cabangnya. Gula ini adalah yang menentukan klasifikasi hemiselulosa, terdiri dari xilosa, manosa, dan galaktosa pada rantai utama sedangkan pada rantai cabang ditemukan arabinosa, asam glukoronat dan galaktosa. Jenis gula yang terdapat pada rantia cabang memberikan karakteristik penting bagi hemiselulosa. Hemiselulosa yang mempunyai molekul asam pada rantai cabangnya akan sedikit bermuatan listrik dan larut dalam air, sedangkan hemiselulosa yang lainnya tidak larut dalam air. Hal ini juga mempengaruhi fermentabilitas bakteri usus terhadap hemiselulosa. Bahan makanan yang mengandung hemiselulosa berkadar tinggi adalah molekul biji-bijian yang utuh.

c. Lignin Lignin adalah komponen non karbohidrat utama dari serat. Merupakan polimer tiga dimensi yang terdiri dari unit-unit fenol dengan ikatan intra molekuler yang kuat. Lignin biasanya tidak termasuk dalam komponen penting makanan manusia, karena umumnya berhubungan dengan jaringan-jaringan keras dan berkayu membentuk komponen struktural tumbuhan. Lignin tidak larut air dan tidak difermentasi oleh bakteri usus. Kandungan lignin yang tinggi ditemukan pada wortel, gandum dan buah yang bijinya dapat dimakan seperti abrei. d. Pektin

16

Pektin adalah sekelompok komponen yang mengandung pektik yang terdiri dari pectin dan pectic acid. Merupakan dietary fiber sekaligus funcional fiber. Pektin juga merupakan kelompok polisakarida yang unsur utamanya asam Dgalakturonat dengan ikatan 1,4 yang terdapat pada rantai utama sedangkan pada rantai cabang terdapat ramnosa, arabinosa, xylosa, fruktosa dan galaktosa. Pektin membentuk sebagian dinding utama sel tumbuhan dan sebagian lamella bagian tengah. Merupakan serat larut air yang membentuk gel dan hampir seluruhnya dapat dimetabolisir oleh bakteri kolon dan stabil pada pH rendah oleh karena itu dapat dijumpai pada makanan yang asam. Bahan makanan yang mengandung pektin adalah apel, strawberi dan jeruk. e. Gum Gum adalah salah satu kelompok senyawa yang dapat disebut sebagai hidrokoloid. Gum terdiri dari berbagai jenis gula dan derivatnya. Jenis gula yang paling utama adalah galaktosa, asam glukoronat, asa uronat, arabinosa, ramnosa, dan manosa. Di usus besar difermentasi dengan sangat baik oleh bakteri usus. Gum arabikum merupakan hidrokoloid tumbuhan yang paling sering digunakan sebagai bahan makana tambahan. Gum sangat dikenal karena mudah larut, pH stabil dan sifat khasnya pada pembentukan gel. Bahan makanan yang mengandung gum seperti oat, barley, dan tumbuhan polong. f. -glukan Adalah polimer glukosa yang mempunyai ikata campuran antara ikatan 1,4 D-glukosa dengan ikatan 1,3 D-glukosa. Setiap 2 atau 3 unit kelompok 1,4 Dglukosa dipisahkan oleh satu unit kelompok ikatan 1,3 D-glukosa. -glukan sangat baik difermentasi oleh bakteri di dalam usus besar. Saat ini ekstraksi glukan dipakai sebagai funcional fiber karena efeknya yang dapat menurunkan kadar kolesterol serum dan kadar gula darah post prandial. Bahan makanan yang mengandung komponen -glukan adalah oat dan barley, dimana sekitar 70% dari dinding endospermanya terdiri dari -glukan. g. Fruktan Inulin, oligofruktosa dan fruktooligosakarida Fruktans termasuk ke dalam inulin, oligofruktosa, dan fruktooligosakarida mengandung rantai fruktosa dengan panjang dengan bervariasi. Inulin terdiri dari 2 60 unit fruktosa. Oligofruktosa berasal dari hidrolisis parsial inulin dan

17

biasanya mengandung 2 8 unit fruktosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi fruktooligosakarida dapat merangsang pertumbuhan bifidobakteria yang bekerja sebagai prebiotik. Salah satu Bahan makanan yang mengandung fruktans, inulin dan oligofruktosa yaitu bawang merah dan diperoleh dari sintises sukrosa. h. Resistent starch Merupakan zat pati yang tidak bisa dicerna secara enzimatis. Salah satu contohnya adalah zat pati yang ditemukan di dinding sel tanaman yang tahan terhadap aktivitas amilase (RS1). Gelatinisasi dapat mempermudah aksesnya

terhadap enzim ini (RS2). Resistant starch juga bisa terbentuk akibat pengolahan bahan makanan seperti proses pemasakan atau pendingininan (RS3) atau modifikasi kimiawi dari zat pati tersebut (RS4). RS1 dan RS2 termasuk golongan dietary fiber sedangkan RS3 dan RS4 adalah funcional fiber. i. Chitin dan Chitosan Chitin merupakan amino-polisakarida yang tidak larut air sedangkan chitosan adalah bentuk deasetilasi dari chitin. Pada beberapa tanaman rendah chitin dapat menggantikan selulosa pada dinding sel. Chitin merupakan komponen eksoelektron dari insekta dan ditemukan juga krustakea. Beberapa penelitian menunjukkan chitosan efektif menurunkan kadar kolesterol darah. j. Psilium Psilium dimasukkan ke dalam golongan fungsional fiber yang didapat dari getah tumbuhan berbiji platago ovata yang bersifat hidrofilik dan dapat membentuk gel.

D.

Profil Lipid Lipid merupakan suatu subtansi atau zat yang hanya larut dalam pelarut

organik dan tidak larut dalam air. Sifatnya yang tidak larut air menjelaskan bahwasanya lemak atau lipid dalam plasma darah (yang mengandung air) harus dibawa dalam bentuk ikatan kimia dengan protein plasma yang bersifat hidrofolik dan berukuran relatif besar ( Andry, 2007). Metabolisme lemak dalam tubuh dilakukan di dalam sel lemak dalam jaringan adiposa. Sel-sel adiposa mempunyai enzim khusus pada permukaanya, yaitu lipoprotein lipase (LPL) yang dapat melepas trigliserida dan lipoprotein

18

untuk dihidrolisis dan meneruskan hasil hidrolisis ke dalam sel. Terdapat enzim lain dalam sel yang merakit kembali hasil hidrolisa, sehingga menjadi trigliserida untuk disimpan sebagai cadangan energi ( Andry, 2007). Bahan makanan yang termasuk lemak hewani yaitu udang (lobster, ebi, rebon), otak (sapi, kerbau, domba, kambing, ayam , bebek dll), sumsum, jerohan (hati, paru-paru, usus dll), susu sapi, dan produk olahannya (yogurt, keju, butter, mentega), kuning telur, ikan ( ikan laut, ikan tawar dll), madu. Sedangkan bahan makanan yang termasuk lemak nabati diantaranya minyak goreng (minyak kelapa sawit, minyak jagung, minyak wijen dll), margarine, kacang-kacangan ( kemiri, kacang tanah, kacang kedelai, kacang mente dll), kelapa parut, santan, dan alpukat (Almatsier, 2004). Profil lipid merupakan penguraian dari lemak. Adapun macam-macam lipid yaitu sebagai berikut : 1 Kadar Kolesterol Kolesterol lemak dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh derah tersebut menyempitdan proses ini disebut aterosklerosis. Penyempitan pembuluh darah ini akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat sehingga aliran darah pada pembuluh derah koroner yang fungsinya memberi suplay oksigen dan nutrisi terganggu atau menjadi kurang. Itu akan menyebabkan otot jantung menjadi lemah,sakit dada, serangan jantung bahkan kematian. Adapun untuk mengetahui tingkat kolesterol yaitu dikategorikan sebagai berikut : a. Normal b. Sedang c. Tinggi : 200 mg/dl : 200 239 mg/dl : 240 mg/dl

(Mary Courtney Moore, 1997) Makin itnggi kadar kolesterol total dalam darah terjadinya penyakit jantung semakin meningkat. 2 LDL ( Low Density Lipoprotein ) LDL merupakan jenis kolesterol yang bersifat merugikan karena LDL yang meninggi akan menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah. Kadar kolesterol LDL dalam darah dikategorikan menjadi: a. Normal : 130 mg/dl

19

b. Sedang c. Tinggi

: 130 159 mg/dl : 160 mg/dl

(Mary Courtney Moore, 1997) Makin tinggi kadar LDL dalam darah maka resiko untuk terjadinya penyakit jantung semakin meningkat. 3 HDL ( High Density Lipoprotein ) HDL merupakan jenis kolesterol yang bersifat baik karena dapat mengangkut kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati dibuang sehingga mencegah penebalan dinding pembuluh darah atau mencegah terjadinya proses

ateriosklerosis. Kadar HDL dalam darah dikategorikan menjadi : a. Normal b. Sedang c. Rendah : 60 mg/dl : 40 59 mg/ dl : < 40 mg/dl

(Sizer F dan Whiney E, 2006). Makin rendah kadar HDL dalam darah maka resiko terjadinya penyakit jantung akan semakin meningkat. Kadar HDL dalam darah dapat dinaikkan dengan mengurangi berat badan, berolahraga, dan berhenti merokok. 4 Kadar Trigliserida Kadar trigliserida dalam darah dikategorikan menjadi : a. Normal b. Sedang c. Tinggi : < 150 mg/dl : 150 199 mg/dl : > 200 499 mg/dl

(Sizer F dan Whiney E, 2006). Makin tinggi kadar trigliserida dalam darah maka resiko terjadinya penyakit jantung akan semakin meningkat.

E. Terapi diet penyakit jantung 1. Menurut Persagi, 1996 Penatalaksanaan gizi adalah menurunkan resiko penyakit jantung pada orang dewasa dengan kadar LDL kolesterol tinggi dengan :

20

a. Menurunkan kadar kolesterol LDL di bawah 130 mg/dl pada individu dengan penyakit jantung definitif atau dua faktor resiko penyakit jantung selain resiko tinggi kolesterol LDL. b. Menurunkan kadar kolesterol LDL di bawah 160 mg/dl pada individu yang tidak mempunyai penyakit jantung definitif ataupun dua faktor resiko penyakit jantung selain tingkat resiko tinggi kolesterol LDL. c. Diet penyakit jantung 1) Tujuan diet penyakit jantung adalah : Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung. Menurunkan berat badan bila terlalu gemuk. Mencegah dan menghilangkan penimbunan garam dan atau air. (Persagi, 1996). 2) Prinsip diet penyakit jantung Energi cukup Karbohidrat, lemak, dan protein cukup Vitamin dan Mineral cukup Serat tinggi

3) Syarat diet penyakit jantung Energi cukup, untuk mencapai danmempertahankan berat badan normal. Protein cukup yaitu 0,8 g/kg BB Lemak sedang, yaitu 25 30 % dari kebutuhan total, 10% berasl dari lemak jenuh, dan 10 15 % lemak tidak jenuh Kolesterol rendah, terutama jika disertai dengan dislipidemia Vitamin da mineral cukup. Hindari penggunaan suplemen kalium, kalsium, dan magnesium jika tidak dibutuhkan. Garam rendah, 2 3 gram per hari, jika disertai hipertensi dan edema. Makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas. Serat cukup untuk menghindari konstipasi. Cairan cukup, 2 liter/hari sesuai dengan kebutuhan. Bentuk makanan disesuaikan dengan penyakit, diberikan dalam porsi kecil.

21

Bila kebutuhan gizi tidak dipenuhi melalui makanan dapat diberikan tambahan berupa makanan enteral, parenteral, atau suplemen gizi. ( Rahardja dkk, 2002 )

2.

Menurut Almatsier, 2004 sebagai berikut : 1) Diet jantung 1 Diet jantung 1 diberikan kepada pasien penyakit jantung akut seperti

infark miokard atau dekompensasi kordis berat. Diet diberikan berupa 1-1,5 liter cairan / hari pertama bila pasien dapat menerimanya. Diet ini sangat rendah energi dan semua zat gizi, sehingga hanya diberikan selama 1 3 hari (Almatsier, 2004) 2) Diet jantung II Diet jantung II diberikan dalam bentuk makanan saring atau lunak. Dieta diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung I, atau setelah fase akut dapat diatasi. Jika disertai hipertensi atau edema, diberikan sebagai diet jantung II rendah. Diet ini rendah energi, protein, kalsium, dan tiamin (Almatsier, 2004). 3) Diet jantung III Diet jantung III diberikan dalam bentuk makanan lunak atau biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung II atau kepada pasien jantung dengan kondisi yang tidak terlalu berat. Jika disertai hipertensi dan atau edema, diberikan sebagai diet jantung III garam rendah. Diet ini rendah energi dan kalsium, tetapi cukup zat gizi lain (Almatsier, 2004). 4) Diet Jantung IV Diet jantung IV diberikan dalam bentuk makanan lunak atau biasa. Diet diberikan sebagai perpindahan dari diet jantung III atau kepada pasien jantung dengan keadaan ringan. Jika disertai hipertensi dan atau edema, diberikan diet jantung IV garam rendah. Diet ini cukup energi dan zat gizi lain , kecuali kalsium (Almatsier, 2004).

F. Intervensi dan pendidikan pasien menurut (Mary Courtney Moore, 1997) 1. Kenali kebutuhan untuk perubahan permanen pada diet dan gaya hidup untuk mengurangi risiko.

22

Perubahan diet dan gaya hidup yang permanen termasuk pencapaian pengaturan berat badan, penurunan lemak dan kolesterol diet, tidak merokok, dan mengembangkan cara-cara membangun dalam menghapai stres. Perubahan ini mungkin dapat lebih diterima dan kurang mengecewakan jika pasien dikonsultasikan untuk membuat perubahan secara perlahan. Misalnya, mereka dituntun untuk memilih satu atau dua kebiasaan, seperti merokok atau makan daging 250 gram setiap hari, dan membuat rencan mengubahnya. Ketika perubahan awal ini dibuat, pasien dapat memilih beberapa kebiasaan lainnya yang dikerjakan. 2 Kurangi lemak dan kolesterol dalam diet National Cholesterol Education Program (suatu badan di Amerika Serikat) telah mengkampanyekan bahwa individu dengan kolesterol LDL lebih besar dari atau sama dengan 160 mg/dl dan mereka dengan batas risiko tinggi kolesterol LDL yang juga memiliki penyakit jantung koroner definitif atau dua faktor risiko lainnya maka harus mendapat terapi diet intensif. Program diet dua tahap atau mengurangi pemasukan lemak jenuh dan kolesterol telah dikembangkan. Pemasukan total juga dibatasi untuk menurunkan berat badan. Pada awalnya, pasien mendapat konseling tentang tahap pertama, yaitu mengurangi sumbersumber utama dan yang paling umum dan sangat nyata dari asam lemak jenuh dan kolesterol dalam diet dan dapat dilaksanakan tanpa perubahan drastis pada diet dan gaya hidup untuk hampir seluruh pasien. jika telah melaksanakan diet tersebut selama tiga bulan, pasien tidak berhasil dalam menurunkan kolesterol LDL ke kadar yang diinginkan, dia dapat dipindah ke diet tahap kedua. Sementara dokter dan perawat dapat sering menyediakan pendidikan tentang diet tahap pertama, pengiriman konsul ke ahli gizi sangat berharga bagi pasien yang mempunyai kesulitan dalam mempertahankan dietnya untuk mendapat respon diet yang mengecewakan. Bantuan ahli gizi teruatama diperlukan oleh pasien yang berpindah ke diet tahap dua. Pendidikan diet harus menekankan fakta bahwa perubahan tdak harus berakibat pada makanan yang sangat ketat atau tidak enak dimakan. Makanan yang enak dan menarik dapat disiapkan. Informasi lebih lanjut yang berguna untuk pendidikan yaitu seperti yang telah dikeluarkan oleh American Heart

23

Association yang memerlukan pedoman khusus terhadap diet trahap pertama dan tahap kedua. Informasi khusus tentang setiap kelompok makanan : a. Daging : tidak lebih dari 150 g daging tanpa lemak, ayam, kalkun, dan ikan setiap harinya. Sajian 75 g daging kira-kira sebesar dek kartu bridge. Potongan daging tanpa lemak harus digunakan : daging cincang extra lean (sangat kurus), sirloin tip, round steak, rum panggang, lengan panggang, lengan panggang atau center cut ham, loin chops, dan tender loin.potong dan buang semua bentuk lemak yang kelihatan sebelum memasaknya. Dan tuang atau buang semua lemak yang meleleh setelah dagingnya matang. Kulit dan semua lemak yang terdapat diantara jaringan daging ayam harus dibuang sebelum diamasak. Bagian anggota daging termasuk otak, hati, jantung, buah pinggang, dan daging kelenjar perut dan kerongkongan adalah bagian yang kaya kolesterol dan karenanya harus dihindari. Udang secara relatif kaya akan kolesterol tetapi rrendah lemak dan dapat dimakan sekali-kali. Beberapa jenis ikan ( misal : salmon, sardin, herring, tuna/tongkol, dan ikan pedang) adalah sumber dari asam lemak omega 3 yang baik. Asam-asam lemak ini dilaporkan dapat menurunkan trigliserida serum dan menghambat penggumpalan trombosit dan peradangan, yang mempunyai kotribusi terhapadap penyakit jantung, walaupun tidak ada bukti pengaruh terhadap kolesterol LDL namun pada studi epidemiologi, konsumsi ikan yang sering baik yang mengandung omega 3 atau tidak tetap berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Untuk menghindari sajian tampaknya kurang banyak dan untuk menekankan pentingnya pergeseran perencanaan makanan sekitar daging, kombinasikan sejumlah daging dengan sejumlah besar nasi, pasta, atau sayuran untuk memenuhi sajian. Kacang-kacangan keringdan kapri dan tahu rendah lemak dan tinggi protein, dan bebas kolesterol dan dapat digunakan untuk menggantikan daging. b. Bahan olahan dari susu : sedikitnya dua sajian susu skim atau equivalennya setiap hari. Lemak susu pada umumnya jenuh, dan karena itu

24

bahan olahan dari susu direkomendasikan dibuat dair susu skim. Keju alami dan olahan pada umumya kaya akan lemak. Keju cottage rendah lemak atau yogurt dapat disubsitusikan ke sour cream untuk saos celupan dan kuah salad pada kentang. c. Telur : batasi kuning telur sampai tiga perminggu pada diet tahap pertama dan satu perminggu pada diet tahap kedua. Kuning telur kaya akan lemak dan kolesterol. Putih telur bebas lemak dan kolesterol dan dapat digunakan sering. d. Buah-buahan dan sayuran : gunakan secara bebas. Buah-buahan dan sayuran memberikan warna, tekstur, vitamin, mineral, dan serat digunakan sebagai bagian dari makanan setiap bersantap. Bahan nabati tidak mengandung kolesterol, dan hampir semua buah-buahan dan sayuran rendah lemak. Terkecuali buah alpukat dan zaitun, yang didiskusikan pada lemak dan minyak. Gorengan atau penambahan mentega, krim atau saos keju meningkatkan kandungan lemak buah-buahan dan sayuran samapai kadar yang tidak diinginkan. e. Sereal dan roti : tingkatkan penggunaannya untuk menggantikan daging dalam diet. Roti dan sereal merupakan sumber yang baik dari vitamin dan mineral dan biji-bijian utuh juga menyediakan serat. Walaupun demikian roti-rotian yang dijual dan bahkan beberapa sereal (seperti granola) sering tinggi lemak. Selain itu roti intan (muffin), pisang dan buah lainnya seperti kacang, roti jagung, pancakes, dan waffles mengandung sejumlah telur yang bermakna. Bahan yang dibuat dirumah dengan putih telur atau pengganti telur dan lemak ataupun minyak yang dapat diberikan. f. Lemak dan minyak : batasi 6 8 sendok teh perhari . lemak dan minyak yang tinggi akan lemak jenuh dan atau kolesterol harus sebisa mungkin dihindari. Mentega, lard, dan lemak hewan lainnya yang kaya lemak jenuh dan kolesterol. Minyak ini sering digunakan dalam roti-rotian, makanan olahan, minyak popcorn, dan nondairy creamer. Lemak tidak jenuh adalah lemak yang mengandung satu (monounsaturated) atau lebih (polyunsaturated) ikatan rangkap. Lemak in

25

tidak meningkatkan kolesterol darah, tetapi tinggi kalori dan rendah zat gizi lainnya.

26

BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep Terapi diet

Tingkat konsumsi energi, lemak dan natrium panyakit jantung koroner

Profil lipid Kolesterol,: HDL, LDL dan Keterangan Trigliserida

Pasien Penyakit Jantung Terkendali

Faktor Resiko Penyakit Jantung koroner

1. Penyakit Hipertensi Hiperkolesterol Diabetes Milletus 2. Life Stile Gaya hidup tidak sehat Merokok Tidak berolahraga
Tidak terkendali Usia Jenis kelamin Keturunan Ras

Diteliti Tidak diteliti

: :

27

Keterangan : Penyakit jantung dipengaruhi banyak faktor risiko. Salah satu faktor risikonya yang dapat dirubah yaitu konsumsi makan. Dalam kerangka konsep peneliti ingin mengetahui tingkat konsumsi energi, lemak dan serat pasien

terhadap profil lipid yang mempengaruhi terjadinya penyakit jantung.

28

BAB IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan

desain penelitian berupa studi kasus yang memberikan gambaran tentang tingkat konsumsi energi, lemak dan serat terhdap profil lipid pasien penderita penyakit jantung di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan Probolinggo.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Probolinggo. 2. Waktu : Bulan Februari akhir sampai bulan Maret 2013 : Ruang rawat inap RSUD Waluyojati Kraksaaan

C. Instrumen Pengumpulan Data 1. Alat tulis dan alat hitung 2. Rekam medik 3. Form plate waste 4. Formulir pernyataan kesediaan pasien 5. Form recall 6. Mikrotoa 7. DKBM 8. Daftar URT 9. CD menu 10. Daftar bahan makanan penukar 11. Laptop

29

D. Definisi Operasional Variabel Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Variabel Tingkat konsumsi Energi dan lemak Devinisi Rata-rata jumlah asupan zat gizi yang diperoleh (energi dan lemak) dari makanan dan minuman dibandingkan dengan kebutuhan pasien. Cara dan Alat Skala ukur ukur - Wawancara Rasio Food recall 3x24 jam (makanan dari luar rumah sakit) -Metode Come stok -Wawancara Rasio Food recall 3x24 jam (makanan dari luar rumah sakit) Metode Come stok Hasil Rasio Laboratorium dari rekam medik Kategori -Baik : 80% -Sdg : 70 79% -Kurang : 60 69 % -Defisit : < 60% (DEPKES RI, 1994) Tinggi : >30 g/hr Normal : 25 30 g/hr Rendah : <25 g/hr (Soetiono Mangoen Prasodjo, 2005) Kolesterol Normal <200 Sdg 200 239 Tinggi 240 LDL Normal 130 Sedang 130 159 Tinggi 160 HDL: -Normal 60 -Sedang 40 59 -Rendah < 40 Trigliserida Normal <150 Sdg 150 199 Tinggi 200 499 (Sizer F dan Whiney E, 2006).

Tingkat konsumsi natrium

Jumlah asupan natrium dalam makanan (g/hari) dibandingkan dengan angka kebutuhan pasien

Profil lipid

Data laboratorium kadar profil lipid pasien meliputi kadar Kolesterol, HDL, LDL, Trigliserida

30

E. Metode Sampling 1. Populasi Populasi yang digunakan dalam penellitian adalah pasien penyakit jantung koroner yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaaan Probolinggo. 2. Kriteria sampel a. Inklusi 1) Penderita yang sedang menjalani rawat inap di Poli penyakit jantung rumah sakit Waluyojati Kraksaan Probolinggo. 2) Diijinkan oleh pihak rumah sakit untuk diteliti. 3) Pasien bersedia menjadi sampel penelitian. 4) Jenis kelamin laki-laki atau perempuan. 5) Usia 35 tahun b. Eklusi 1) Pasien meninggal selama penelitian berlangsung. 2) Pasien menolak prosedur penelitian. c. Besar sampel Besar pasien dalam penelitian ini berjumlah 10 orang yang merupakan pasien penyakit jantung yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Waluyojati Kraksaan selama penelitian berlangsung.

F. Metode Pengumpulan Data 1. Data Karakteristik Pasien Data karakteristik pasien didapat dengan wawancara langsung dengan pasien meliputi umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, dan riwayat gizi. Data karakteristik pasien dari data rekam medik dan wawancara dengan pasien. 2. Data terapi diet yang diberikan Data terapi diet yang diberikan oleh pihak rumah sakit meliputi jenis diet, komposisi zat gizi, bentuk makanan, dan cara pemberian makan yang diperoleh dengan cara observasi langsung dan wawancara dengan ahli gizi.

31

3. Data tingkat konsumsi energi, lemak dan kolesterol Data tingkat konsumsi energi diperoleh dengan mengumpulkan data sebagai berikut: a. Asupan energi, lemak dan kolesterol dengan metode come stok dan food recall untuk mengetahui asupan dari luar rumah sakit. b. Menghitung kebutuhan dengan rumus Harris Bennedict sebagai berikut: TEE = BEE x Faktor aktifitas x Faktor stres BEE (Laki-laki) BEE (Perempuan) = 66,4 + 13,7 BB + 5 TB 6,7 U = 665 + 9,6 BB + 1,8 TB 4,6 U

Keterangan : BB = Berat Badan (Kg) TB = Tinggi Badan (cm) U = Umur (tahun)

Dengan memperhatikan faktor aktifitas dan faktor stress sebagai berikut : Tabel 2. Kebutuhan Energi Berdasarkan Kategori Aktivitas Fisik Aktivitas Nilai Istirahat total 1,05 Mobilisasi ditempat tidur 1,10 Jalan disekitar kamar 1,20 Ringan ( pegawai, ibu RT dll) 1,40 Sedang (mahasiswa, pegawai pabrik dll 1,50 (Sumber : Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang, 2011)

Tabel 3. Kebutuhan Energi Berdasakan Kategori Faktor Stres Stres Ringan (peradangan saluran cerna, kanker, bedah elektif dll) Sedang (sepsis, bedah tulang, trauma kerangka mayor dll) Berat (trauma multipel, bedah multisistem) Sangat berat (luka kepala berat, luka bakar dll) (Sumber : Almatsier, 2004).
32

Nilai 1,4 1,5 1,6 1,7

c. Menghitung tingkat konsumsi energi, lemak, dan kolesterol dengan rumus x100% 4. Data tingkat natrium Data tingkat konsumsi serat diperoleh dengan menghitung asupan serat perhari dan dibandingkan dengan kebutuhan. 5. Data profil lipid darah Data profil lipid (Kolesterol, LDL, HDL, Trigliserida) diperoleh dari Pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan oleh pihak rumah sakit kemudian dibandingkan dengan nilai normal atau standar Rumah sakit.

G. Metode Pengolahan dan Analisi Data 1. Data karakteristik pasien penelitian yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan editing, coding/pengkodean, pemasukan data, tabulasi dan analisis secara deskriptif dalam bentuk tabel. Tabel 4. Identitas Pasien Penelitian Keterangan 1 Umur Jenis kelamin BB TB Riwayat gizi 2. Data terapi diet rumah sakit Data terapi diet yang diberikan meliputi jenis terapi diet, komposisi zat gizi, dan bentuk makanan disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Tabel 5. Terapi Diet Rumah Sakit Kode Jenis Pasien Diet 1 2 Dst Bentuk makanan Cara pemberian E Kal P (g) L (g) Standar Diet KH Serat (g) (g) Kolesterol (mg) Kode Pasien 2 3 Dst

33

3. Data tingkat konsumsi energi, lemak dan kolesterol disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Tingkat konsumsi tersebut dikategorikan berdasarkan kriteria Depkes RI (1994), yaitu : a. b. c. d. Baik Sedang Kurang Defisit : 80 % : 70 79 % : 60 69 % : < 60 %

4. Data tingkat konsumsi natrium disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Data tingkat konsumsi serat dikategorikan sebagai berikut (Soetiono, 2005) : a. Tinggi : > 30 g/hari b. Normal : 25 30 g/hari c. Rendah : < 25 g/hari 5. Data profil lipid darah (kolesterol, LDL, HDL, Trigliserida) yang diperoleh dari hasil laboratorium (rekam medik) dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Adapun nilai normal untuk pemeriksaan profil lipid sebagai berikut : Tabel 4. Kadar Lipid Serum Normal Lipid Serum (mg/dl) Kolesterol <200 200-239 240 LDL 130 130 159 160 HDL: 60 40 59 < 40 Keterangan Normal Sedang Tinggi Normal Sedang Tinggi

Normal Sedang Rendah

Trigliserida <150 Normal 150 199 Sedang 200 499 Tinggi Sumber : Sizer F dan Whiney E, 2006.

34

H. Etika Penelitian Sebelum melakukan pengambilan data peneliti memberikan informed concent dan lembar persetujuan menjadi pasien dengan tujuan agar pasien mengerti maksud dan tujuan penelitian, jika pasien bersedia maka pasien harus menandatangani lember persetujuan dan jika pasien tidak bersedia maka peneliti tetap menghormati hak dari pasien.

35

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama Astawan, M. dan Tutik, W. 2004. Diet Sehat dengan Makanan Berserat. Solo : Tiga Serangkai. Bahri. 2004. Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner. Sumatera: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Eastwood. Commite Research. 1968. Diet and Healt. Washington : National Academic Press Elizabeth J. Corwin. 2009. Buku saku: Patofisiologi Edisi 3. Jakarta : EGC

Guyton, Arthut C. & John E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9 Editor : Irawati Setiawan. Jakarta : EGC. Hernawati. 2009. Pengaruh Penambahahan Bekatul Pada Pakan Terhadap Gambaran Histologi Organ Hati Mencit (Mus Musculus L.) Jantan Galur Swiss Webster. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia Heslet L. 2007. Kolesterol Yang Perlu Anda Ketahui. Anton Adiwiyoto (Penerjemah). Jakarta : Kesain Blanc. J.B. Suharjo B. Cahyono 2008. Gaya Hidup Dan Penyakit Modern. Yogyakarta: Kanisius hal 25. Kromhout et al 2000. Dietary Reference Intakes for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids (Macronutrients). Washington. DC : National Academies Press Lanny. Dewani. Sitanggan, Maloedyn. 2005. Terapi Jus & 38 Ramuan Tradisional. Tangerang : PT. Agromedia Pustaka Linder. 1992. Dietary Reference Intakes for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids (Macronutrients). Washington DC : National Academic Press.
36

Linder, 1998. Nutirisi dan Metabolisme Lemak. Jakarta : EGC

Mangoenprasodjo, A. Setiono. 2005. Makanan Berkhasiat Agar Jantung Sehat. Yogyakara : Think Fresh

Moore Mary Courtney. 1997. Pocket Guide To Nutritional Assessment And Care. America : Elsevier Mosby Soediawan. 2009 Moore Mary Courtney. 1997. Terapi Diet dan Nutrisi, edisi II. Jakarta : Hipokrates Piliang WG dan SD Al-Haj. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume 1. Bogor. : IPB Press

Price, Silvia Anderson dan Wilson L M. 2006. Patofisiologi, volume 1. Jakarta : EGC. Rahardja. Ekky. 2002. Suatu Faktor Risiko pada Kesehatan Tubuh, Simposium Mengenal Lebih Dini serta Penanganan Penyakit Stroke dan Penyakit Jantung Koroner. Jakarta : R.S. Husada Riyadi H. 2001. Metode Penelitian Status Gizi Secara Antropometri. [Diktat Kuliah]. Bogor : Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Sizer F and Whitney E. 2006. Nutrition Concept and Controversies. USA : Thomson Wadsworth Tala, Zaimah Z. 2009. Manfaat Serat Bagi Kesehatan. Sumatera : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Taylor, Clive R dan Candrasoma P. 2006. Patologi Anatomi, edisi 2. Jakarta : EGC Tirtawinata. 2006. Hubungan Asupan Serat Dan Asupan Kolesterol dengan Kadar Kolesterol Total dan Kadar Trigliserida Penderita Jantung Koroner Rawat Jalan di RSUD Tugurejo Semarang. Weijenberg, M.P., Feskens, E.J., Kromhout, D. 2000. White blood cell count and the risk of tolerance . Atherosclerosis 163: 17581 Willet. 1998. Nutritional Epidemiology. Newyork : Oxford University Press

37

Winarno F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

38

Lampiran Lampiran 1. Diet Jantung Rumah Sakit Waluyojati Kraksaan.

a. Makanan yang tidak diberikan Makanan yang digoreng dan berlemak tinggi yaitu gajih, santan dan susu full cream Sayuran yang menimbulkan gas : sawi, kol, nangka muda Buah yang berlemak tinggi dan menimbulkan gas : durian, nangka

b. Makanan yang dibatasi Daging diberikan tidak lebih 1x seminggu, tidak lebih 100 gram sehari Ayam diberikan tidak lebih 3x seminggu, tidak lebih 100 gram sehari Telur diberikan tidak lebih 3x seminggu, tidak lebih 1 butir sehari Kacang tanah tidak lebih 25 gram sehari

Pembagian makananan sehari Makan pagi Nasi/tim/bubur kasar/bubur halus : sesuai standar porsi Lauk hewani : daging 50 gram Lauk nabati : tempe 25 gram Sayur : sesuai standar porsi

Snack pagi untuk pasien R. Tengger, Utama, Kelas I, Kelas II. Bubur sumsum / kentang rebus / kue tanpa soda kue / digoreng / buah Kacang ijo / teh

Makan siang

39

Nasi/tim/bubur kasar/bubur halus : sesuai standar porsi Lauk hewani : daging 50 gram Lauk nabati : tempe 25 gram Sayur : sesuai standar porsi

Snack siang untuk pasien Ruang Tengger, Utama, Kelas I. Bubur sumsum / kentang rebus / kue tanpa soda kue / digoreng / buah Air putih (untuk pasien di R. Tengger).

Makan sore/malam Nasi / tim / bubur kasar/ bubur halus : sesuai standar porsi Laukhewani : ayam : 75 gram Lauk nabati : tempe : 25 gram Sayur : sesuai standar porsi Buah selain pisang (untuk pasien di R. Tengger).

40

Lampiran 2. SURAT PERNYATAAN BERSEDIA MENJADI PASIEN Saya yang bertanda tangan dibawah ini brsedia menjadi pasien dalam penelitian mengenai GAMBARAN TINGKAT KONSUMSI ENERGI, LEMAK, DAN SERAT TEHADAP PROFIL LIPID PASIEN PENDERITA PENYAKIT JANTUNG RAWAT INAP RSUD WALUYOJATI KRAKSAAN yang dilakukan oleh : Nama Nim : Hermansyah : 1003000064

Selanjutnya pasien bersedia mengikuti pelaksanaan penelitian tersebut dengan kemampuan dan prosedur yang telah ditetapkan. Nama :

Diagnosa Px : Umur BB TB Alamat : : : :

Kraksaan, Peneliti

2013 Pasien

Hermansyah

...................

41