Anda di halaman 1dari 11

II.A Tinjauan Pustaka 2.1. Kecemasan a.

Definisi Kecemasan Kecemasan dikarakteristikan oleh sensasi rasa takut atau sedih yang meluas, tidak menyenangkan, dan tidak jelas yang disertai dengan gejala gejala otonom seperti sakit kepala, berkeringat, palpitasi, takikardia rasa tidak nyaman di perut dan sebagainya. Kecemasan melibatkan baik komponen fisiologis dan psikologis, dimana individu yang cemas menyadari kedua komponen tersebut. Kecemasan dapat memengaruhi proses pikir, persepsi dan proses belajar, serta dapat menyebabkan distorsi persepsi, gangguan konsentrasi, daya ingat dan asosiasi.

b. Etiopatogenesis Kecemasan i. Teori Psikoanalitik Sebelumnya, Freud membagi neurosis menjadi dua kelas, yaitu neurosis aktual dan psikoneurosis. a) Neurosis Aktual Neurosis aktual termasuk neuroastenia, ansietas neurosis dan hipokondriasis. Hal tersebut dianggap memiliki asal somatik, dimana kecemasan merupakan hal yang sering dialami pada kelainan seksual, dengan kata lain, transformasi langsung energi sekual menjadi kecemasan merupakan pandangan yang diaggap bertanggung jawab terhadap terjadinya neurosis aktual. Penjelasan mengenai teori tersebut berdasarkan bahwa terjadinya peningkatan ketegangan seksual yang merupakan fenomena fisiologis menyebabkan peningkatan libido secara bersamaan, yang merupakan representasi mentalnya.

b) Psikoneurosis Psikoneurosis ditandai dengan adanya histeria, fobia dan neurosis obsesif. Tidak seperti neurosis aktual yang asalnya somatik, psikoneurosis bersifat psikologis, dimana ketegangan dibangkitkan oleh impuls seksual yang tidak dapat diterima, akibat konflik intrapsikis. Menurut Freud, kecemasan tersebut kurang kuat dibandingkan yang terjadi pada neurosis aktual.

ii.

Teori kognitif Behavioral Sama seperti para psikoanalis, pendukung teori kognitif behavior menganggap hipotesis

biologis tidak cukup untuk menjelaskan semua gejal klinis gangguan panik. Berawal dari penjelasan bahwa kecemasan merupakan respons yang dipelajari, dengan pembelajaran terjadi baik sebagai hasil dari pengkondisian klasik (classical conditioning) maupun dengan mengikuti model perilaku orang tua (teori pembelajaran sosial), maka diajukan berbagai penjelasan mengenai etiologi gangguan panik. Sama halnya dengan teori Freud, teori kognitif behavioral telah mengalami berbagai modifikasi dan perbaikan dalam beberapa waktu. Beberapa teori tersebut yaitu : pengkondisian klasik, Prinsip fear of fear dan

pengkondisian interoseptif, misinterpretasi katastrofik, dan sensitivitas terhadap kecemasan.

iii.

Faktor neurobiologis

Stimulasi terhadap sistem saraf otonom (SSO) menyebabkan gejala gejala kardiovaskular, respiratorik, muskular dan gastrointestinal seperti sakit kepala, tremor, diare, hipertensi, palpitasi, takikardia, midriasis dan rasa tidak nyaman di perut. Gejala gejala tersebut merupakan manifestasi perifer kecemasan. Epinefrin dan norepinefrin merupakan agen yang merangsang rasa panik. Keduanya disekresikan sebagai respons terhadap stress. Epinefrin merangsang reseptor beta adrenergik, sedang norepinefrin merupakan agonis alfa

adrenergik yang menyebabkan vasokonstriksi perifer, meningkatkan tekanan darah dan menurunkan denyut jantung. Epinefrin dan norepinefrin tidak dapat melalui sawar darah otak. Neurotransmitter utama yang terlibat dalam kecemasan adalah norepinefrin, serotonin dan gamma aminobutyric acid (GABA).

c. Klasifikasi Gangguan Kecemasan i. Generalized Anxiety Disorder (GAD) : dikarakteristikan oleh adanya kecemasan

berlebihan yang disertai rasa khawatir mengenai suatu kejadian atau aktivitas. Rasa khawatir berkepanjangan yang dirasa oleh pasien sulit diatasi dan seringkali menyebabkan rasa gelisah, kelelahan, iritabilitas, ketegangan otot dan gangguan tidur. ii. Gangguan Panik : gangguan panik primer ditandai dengan adanya serangan panik

rekuren, dan tidak terduga, yang diikuti adanya rasa khawatir, gelisah dan perubahan perilaku yang berhubungan dengan serangan tersebut. Serangan panik tidak disebabkan oleh kondisi medis umum atau akibat pengaruh zat. iii. Gangguan Obsesif Kompulsif : Pikiran obsesif merupakan ide, gambaran atau impuls

yang masuk dalam pikiran individu lagi dan lagi dalam bentuk stereotipik. Kompulsif/ritual merupakan perilaku stereotipik yang berulang ulang. iv. Acute Stress Disorder (ASD) : melibatkan adanya paparan terhadap kejadian yang

mengancam nyawa atau kejadian traumatis yang menyebabkan gejala gejala disosiatif, reexperiencing trauma, menghindari rangsangan yang berhubungan, peningkatan kesadaran, dan distress atau keterbatasan pekerjaan atau sosial yang signifikan. v. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) : diagnosis PTSD melibatkan trauma akan

kejadian mengancam nyawa yang dialami berulang ulang dan menetap dimana durasi gejala lebih dari 1 bulan, serta terdapat kekakuan emosional, peningkatan kesadaran dan menghindari rangsangan terhadap trauma tersebut.

d. Gejala Kecemasan Kecemasan dapat tampak sebagai aspek yang berbeda. Kecemasan dapat dirasakan sebagai perasaan yang tidak dapat dipahami, sebagai rasa khawatir yang tidak berdasar dan berlebihan dalam kehidupan sehari hari (kesehatan anak, masalah pekerjaan atau finansial) atau sebagai rasa takut yang tidak pada tempatnya terhadap situasi tertentu (perjalanan dengan bus) dalam suatu aktivitas (menyetir mobil) atau pada suatu objek (takut terhadap benda tajam atau hewan). Pasien biasanya menggambarkan tanda tanda fisik dan psikis berikut : Rasa khawatir yang berlebihan dan tidak realistis Rasa takut tanpa sebab Rasa takut yang tidak nyata terhadap bahaya yang tidak diketahui Flashback trauma masa lalu Perilaku kompulsif (ritual) sebagai cara untuk mengurangi kecemasan Gemetar, nyeri otot, berkeringat, mual, tegang, kelelahan, palpitasi, mulut kering, rasa tidak nyaman diperut, berdebar debar. Tidak dapat rileks insomnia

e. Terapi Kecemasan i. Kecemasan akut dan gangguan kecemasan menyeluruh Benzodiazepin merupakan ansiolitik yang efektif. Beberapa sifatnya menyebabkan benzodiazepin memiliki potensi berbahaya bagi pasien yang sakit, khususnya untuk penggunaan jangka pendek. Efek samping benzodiazepin yang paling sering adalah sedasi. Buspiron merupakan agen antiansietas nonbenzodiazepin yang memiliki beberapa keuntungan bila digunakan pada pasien yang sakit, karena tidak menyebabkan sedasi dan

tidak berpotensi untuk disalahgunakan. Antidepresan, khususnya selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) dan serotonin-norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs), efektif terhadap terapi GAD dan gangguan kecemasan lainnya. Neuroleptik dosis rendah dapat digunakan pada kasus yang disertai rasa takut, agitasi atau delirium. -Blocker seperti propanolol dapat digunakan untuk mengontrol gejala gejala kecemasan yang berkaitan dengan sistem saraf simpatis, seperti palpitasi dan berkeringat. Psikoterapi suportif dapat membantu pasien beradaptasi dengan stressor akut selama masa hospitalisasi atau sejumlah kunjungan klinik. Terapi perilaku membantu mengurangi kecemasan akut, meningkatkan rasa kuasa pasien, dan klarifikasi tujuan tujuan yang dapat diukur. Intervensi perilaku yang biasa dilakukan adalah teknik relaksasi, desentisisasi sistematik, biofeedback, meditasi, hipnosis dan menetapkan tujuan bertahap dengan jadwal penguatan sederhana.

ii.

Gangguan panik Golongan benzodiazepin seperti alprazolam dan klonazepam telah diizinkan oleh FDA

untuk digunakan dalam terapi gangguan panik. Sebagian besar antidepresan menunjukan efek antipanik. Tiga antidepresan SSRI (paroxetin, fluoxetin dan sertralin) telah menerima izin FDA AS untuk gangguan panik. Neuroleptik efektif untuk mengatasi serangan panik akut yang membahayakan nyawa atau keadaan medis. Propanolol dapat memblok beberapa manifestasi perifer serangan panik. Terapi perilaku, kognitif behavioral dan relaksasi merupakan terapi utama atau tambahan yang efektif untuk gangguan panik.

iii.

Fobia sosial dan spesifik

Pilihan terapi fobia spesifik yaitu eksposur bertahap. Pada pasien yang dihospitalisasi, terapi eksposur tidak perlu in vivo. Eksposur berupa gambar dapat digunakan sebagai

stimulus kecemasan bertahap yang efektif untuk terapi. Fobia sosial diatasi dengan terapi menggunakan SSRIs dan SNRIs.

iv.

Gangguan obsesif kompulsif Klomipramin merupakan serotonin reuptake blocker yang poten namun tidak ditoleransi

dengan baik karena efek sampingnya. SSRIs juga efektif untuk gejala gejala obsesif kompulsif, serta tidak menyebabkan efek samping antikolinergik dan sedasi. Tiga Antidepresan SSRI, paroxetin, sertralin dan fluoxetin telah diizinkan oleh FDA untuk terapi gangguan obsesif kompulsif. Terapi gangguan obsesif kompulsif yang paling berhasil dapat tercapai bila dikombinasikan dengan terapi perilaku, seperti eksposur bertahap dan teknik respons pencegahan.

v.

ASD dan PTSD Terapi ASD dan PTSD berupa psikoterapi kelompok dan individu. Terdapat penelitian

berupa laporan kasus yang membuktikan keberhasilan terapi PTSD dengan medikasi antidepresan SSRI. Benzodiazepine juga dapat meredakan gejala PTSD, namun perlu waspada karena risiko komorbiditas dengan gangguan penyalahgunaan zat.

2.3 Hubungan Morbus Hansen dengan Kecemasan MH menyebabkan deformitas dan kecacatan fisik pada penderitanya, mengacaukan penderitanya secara psikologis, menyebabkan disabilitas vokasional, dan mengganggu kehidupan sosialnya.A Banyak pasien mengalami keterbatasan aktivitas fisik yang disebut disabilitas. Sebagai akibat keterbatasan tersebut, atau karena kecacatan fisik yang tampak,

atau hanya karena diagnosis MH, banyak pasien yang menarik diri dari partisipasi sosial mereka yang disebut handicap.C Selama bertahun tahun telah diketahui adanya stigma sosial dan deformitas fisik akibat MH.C Penyakit tersebut menyerang saraf saraf perifer, dimana pasien kehilangan sensasi di tangan, kaki, dan mata mereka bila lesi lesinya tidak diobati dengan baik, dimana bagian tubuh yang insensitif dapat menyebabkan kecacatan.D MH dapat menyebabkan kecacatan pada wajah, tangan dan pembentukan ulkus pada kaki. Kecacatan tersebut bertanggung jawab terhadap penderitaan akibat disabilitas, yang menyebabkan pasien MH tidak bisa menjadi anggota masyarakat yang produktif.D Hal tersebut merupakan konsekuensi utama MH yang menimbulkan stigma dan diskriminasi terhadap pasien MH.C,E Pasien mengalami penolakan sosial akibat kepercayaan bahwa MH bersifat herediter dan menular. Perilaku negatif ditemukan pula khususnya pada hubungan pernikahan, penggunaan akomodasi yang sama, dan kontak fisik dengan pasien MH. C Deformitas/disabilitas tersebut seringkali menyebabkan prasangka sosial dimana

kemungkinan lebih melemahkan daripada deformitas fisik. Disabilitas menyebabkan berbagai handicap dan memaksa beberapa dari pasien MH untuk diasingkan dari masyarakat (dehabilitasi), dan berakhir mengalami kemiskinan. D

Stigma MH Suatu penelitian di Bangladesh dan negara lain menunjukan bahwa masyarakat melahirkan stigma yang lebih kuat terhadap MH dibandingkan penyakit lainnya seperti epilepsi, Tuberkulosis, dan penyakit kulit lainnya. E Rasa takut terhadap MH dapat menimbulkan stigma dan diskriminasi, serta akibat kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai MH dapat meningkatkan miskonsepsi mengenai transmisi penyakit dan terapinya. Fakta bahwa sebagian besar pasien dengan MH

yang tidak diterapi berakhir dengan deformitas berat dan kecacatan turut berkontribusi terhadap stigma. Memiliki penyakit dengan stigma seperti MH sangat memengaruhi aspek kehidupan pasien, seperti status sosial, kesempatan kerja, pernikahan dan kehidupan keluarga.B

i.

Dampak pada individu

Individu dengan MH mengalami kecemasan dan stress emosional yang dapat menyebabkan morbiditas psikologis dan psikiatris, seperti menurunnya kualitas hidup. Pasien menjadi terisolasi dan kekurangan motivasi untuk melanjutkan terapi. Terdapat risiko berkembangnya penyakit yang dapat menyebabkan disabilitas dan komplikasi. Individu dapat mengalami penurunan status di masyarakat akibat kondisi mereka. Pada kasus tersebut, kemungkinan mereka menjadi miskin dan mengemis merupakan satu satunya cara bertahan hidup.

ii.

Dampak terhadap interaksi masyarakat

Partisipasi sosial pasien MH lebih menyulitkan bagi mereka dibandingkan dengan dampak individu. Hal tersebut mengganggu kualitas kehidupan mereka dengan berbagai cara. Pasien dengan stigma terhadap kondisi mereka mengalami masalah dalam pernikahan atau kesulitan untuk menikah serta pada pekerjaan mereka. Interaksi dengan masyarakat terpengaruh, seperti hubungan sosial dan persahabatan. Keluarga mereka dapat mengalami berkurangnya kesempatan mendapatkan pendidikan, mengakibatkan kesenjangan yang makin jauh antara pasien MH dengan yang bukan. Semua dampak negatif tersebut diakibatkan oleh karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai MH serta adanya miskonsepsi diantara mereka.

iii.

Dampak terhadap program kesehatan masyarakat

Pasien dengan stigma terhadap penyakit mereka dapat menyembunyikan atau menolak kondisi mereka dan menunda dalam mencari pengobatan, yang dapat menyebabkan penyakit memburuk dan meningkatkan risiko komplikasi, meningkatkan transmisi penyakit di komunitas, menyulitkan untuk mencari kontak dan mereka yang seharusnya diterapi. Beberapa pasien kemungkinan tidak patuh terhadap resimen terapi ketika didiagnosis karena waktu terapi yang panjang. Risiko resistensi obat dapat pula berkembang. Secara umum, stigma dapat meningkatkan beban pusat pelayanan kesehatan.

Stress yang dialami seseorang akibat MH seringkali terlalu berat untuk dapat diatasi karena adanya penolakan oleh masyarakat. Pasien MH mengalami penderitaan yang bahkan tidak berhenti meskipun penyakitnya telah sembuh, karena penolakan oleh keluarga dan teman teman, yang mengakibatkan banyak dari pasien tersebut menjadi pengemis.A,C Penolakan oleh keluarga dan masyarakat menyebabkan masalah emosional dan ekonomi. Kehilangan pekerjaan merupakan masalah bukan hanya pada pasien, namun bagi stabilitas ekonomi dan emosional keluarga. A Pasien MH yang mengalami penolakan oleh masyarakat lokal dan anggota keluarga seringkali dipaksa untuk tinggal di asrama atau rumah khusus MH. Akibatnya, pasien MH sering berisiko tinggi mengalami gangguan psikiatri. Prevalensi gangguan psikiatri di antara pasien MH lebih tinggi daripada populasi umum. Temuan penting lainnya yaitu bahwa durasi penyakit yang panjang dan handicap fisik meningkatkan risiko gangguan psikiatri. Komorbiditas pada pasien MH sering ditemukan dan kemungkinan memiliki implikasi signifikan dalam pemilihan terapi. F Suatu penelitian pada wanita dengan MH menunjukan bahwa gangguan kecemasan sering ditemukan pada pasien MH. Bhatia dan kawan-kawan melakukan penelitian mengenai morbiditas dan pola disfungsi pasien MH yang menunjukan gangguan psikiatri dominan yaitu

GAD (27,8%), diikuti dengan campuran kecemasan dan depresi (13,3%), gangguan psikoseksual (2,2%) dan satu kasus (1,1%) parasitosis delusional.F

1. Podea DM, Ratoi F. Anxiety disorder. Dalam : Szirmai A, editor. Anxiety and related disorders. Kroasia :InTech;2011.h.3-9. 2. Wise MG. Clinical manual of psychosomatic medicine : a guide to consultation liaison psychiatry. Washington : American psychiatric publishing inc;2005.h.103-16. 3. Leigh H. Anxiety and anxiety syndromes. Dalam : Leigh H, Streltzer J, editor. Handbook of consultation liaison psychiatry. New York: Springer;2008.h.89-96. 4. Verma KK, Gautam S. Effect of rehabilitation on the prevalence of psychiatric morbidity among leprosy patients. Indian J. Psychiat. 1994;36:183-6. 5. Luka EE. Understanding the stigma of leprosy. SSMJ. 2010;3:1-4. 6. Kaur H, Van Brakel W. Dehabilitation of leprosy-affected people a study on leprosy-affected beggars. Lepr Rev. 2002;73:346-55. 7. Mishra CP, Gupta MK. Editorial : leprosy and stigma. Indian J. Prev. Soc. Med. 2010;41:1-7. 8. Tsutsumi A, Izutsu T, Islam MDA, Amed JU, Nakahara S, Takagi F, dkk. Depressive status of leprosy patients in Bangladesh : association with perception of stigma. Lepr Rev. 2004;75:57-66. 9. Singh GP. Psychosocial aspects of Hansens disease (leprosy). Indian dermatology online journal. 2012;3:166-70.