Anda di halaman 1dari 3

PATOFISIOLOGI

1. TBC PRIMER Pada seseorang yang belum pernah kemasukan basil TBC, tes tuberkulin akan negatif karena sistem imunitas seluler belum mengenal basil TBC. Bila orang ini mengalami infeksi oleh basil TBC, walaupun segera difagositosis oleh makrofag, basil TBC tidak akan mati, bahkan makrofagnya dapat mati. Dengan demikian, basil TBC ini lalu dapat berkembang biak secara leluasa dalam 2 minggu pertama di alveolus paru-paru. Selama 2 minggu ini, sel-sel limfosit T akan mulai berkenalan dengan basil TBC untuk pertama kalinya dan akan menjadi limfosit T yang tersensitisasi. Karena basil TBC akan sempat berkembang bebas, perkenalan ini juga akan berlangsung terus, sehingga limfosit T yang sudah tersensitisasi ini akan menggunakan berbagai jenis limfokin, yang masing-masing mempunyai khasiat yang khas. Beberapa limfokin mempunyai khasiat yang merangsang limfosit dan makrofag untuk membunuh basil TBC (Macrophage Activating Factor = MAF, Macrophage linhibity factor = MIF, Chemotatic Factor = CF, dll). Di samping itu, juga terbentuk limfokin lain, yaitu Skin Reactivity Factor atau SRF, yang akan menyebabkan timbulnya reaksi hipersensivitas tipe lambat pada kulit berupa indurasi dengan diameter 10 mm atau lebih sedikit. Hal ini secara klinis dikenal dengan reaksi tuberculin (tes Mantoux). Adanya konversi reaksi tuberculin dari negative ke positif belum tentu menjadi indikator bahwa sudah ada kekebalan, tetapi yang pasti konversi ini merupakan indikator bahwa baru saja terjadi infeksi M. tuberkulosis. Terkadang makrofag tidak dapat membedakan antara kawan dan lawan, sehingga mungkin juga sel ini dapat menimbulkan kerusakan jaringan dalam bentuk nekrosis, yang kemudian disusul dengan likuifikasi (pencairan). Pada tahap ini bentuk patologi klasik TBC dapat ditemukan dalam proporsi yang tidak sama, berupa tuberkel-tuberkel, yang masing-masing terdiri atas pengkejuan sentral, dikelilingi sel-sel epitheloid (yang berasal dari sel-sel makrofag), sel-sel datia langhans (juga berasal dari makrofag), dan sel-sel limfosit. Kombinasi tuberkel dalam paru (focus primer), limfangitis dan limfadenitis regional disebut juga kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai terbentuknya kompleks primer disebut masa inkubasi. Dalam waktu kurang dari 1 jam setelah berhasil masuk dalam alveoli, basilbasil TBC sebagian terangkut aliran limfe ke dalam kelenjar-kelenjar limfe regional dan sebagian malah dapat ikut masuk ke dalam aliran darah dan tersebar ke organ lain. Perubahan

seperti di atas juga akan dialami oleh kelenjar-kelenjar limfe serta organ-organ yang sempat yang dihinggapi basil-basil TBC. Perkijuan akan disertai dengan penimbunan garam-garam kalsium (kalsifikasi) secara progresif. Proses ini dimulai dalam beberapa bulan dan dapat berlangsung terus sampai bertahun-tahun kemudian. Di samping kalsifikasi, dapat pula terjadi fibrosis, yang juga merupakan salah satu tanda proses telah tenang. Implikasi praktis dari semua ini ialah bahwa orang tersebut sekarang sudah kebal terhadap TBC, tetapi perlu diingat kekebalan ini tidak kekal ( tidak seumur hidup). Biasanya suatu lesi primer TBC akan mengalami penyembuhan spontan dengan atau tanpa kalsifikasi, tetapi perlu diingat bahwa basil-basil TBC yang dikandung lesi-lesi primer ada yang tetap hidup walaupun sekarang sedang tidur (dormant). Bukti akan kebenaran ini akan tampak pada otopsi, yang menunjukkan bahwa 20% lesi-lesi TBC primer yang ditemukan akan menghasilkan perbenihan yang positif.

2. TBC SEKUNDER TBC sekunder adalah penyakit TBC yang baru timbul setelah lewat 5 tahun sejak terjadinya infeksi primer. Dengan demikian, mulai sekarang apa yang disebut TBC post-primer, secara internasional diberi nama baru TBC sekunder. Patogenesisnya mencakup 2 jalur yaitu reinfeksi endogen dan eksogen. Bila karena sebab tertentu sistem pertahanan tubuh (dalam hal ini sistem imunitas seluler) melemah, basil-basil TBC yang sedang tidur dapat aktif kembali. Proses ini juga disebut reinfeksi endogen. Dapat pula juga terjadi super infeksi basil-basil TBC baru dari luar. Cara infeksi dengan basil baru ini disebut reinfeksi eksogen. Walaupun reinfeksi endogen atau eksogen pada awalnya berhasil menyebabkan seseorang menderita penyakit TBC sekunder, tetapi tidak selalu penyakitnya akan berkelanjutan terus secara progresif dan berakhir dengan kematian. Hal ini terutama ditentukan oleh efektivitas sistem imunitas seluler dan jumlah serta virulensi basil TBC. Walaupun sudah sampai timbul TBC, selama masih minimal, masih ada kemungkinan bagi tubuh untuk menyembuhkan dirinya sendiri, bila sistem imunitas seluler masih berfungsi dengan baik, dengan meninggalkan bekas-bekas berupa jaringan parut (proses fibrotik) dan bercak-bercak kapur. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa TBC pada anak-anak umumnya adalah TBC primer, sedangkan TBC pada orang dewasa adalah TBC sekunder. Pada anak lesi dalam paru dapat terjadi dimana pun, terutama di perifer dekat pleura. Lebih banyak terjadi di lapangan bawah paru dibanding dengan lapangan atas.

Pembesaran kelenjar regional lebih banyak terdapat pada anak dibanding orang dewasa. Pada anak, penyembuhan terutama ke arah kalsifikasi, sedangkan pada orang dewasa terutama ke arah fibrosis. Penyebaran hematogen lebih banyak terjadi pada bayi dan anak kecil.