Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PENERAPAN PANCASILA SILA KE-3

BIDAN SANGGUP DAN RELA BERKORBAN UNTUK


KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGARA

Disusun oleh Kelompok 3 Kelas IIID Anggota:

1. Sefti Nova Librayani 2. Amanda Fanduwina Modok 3. Hana Sista Ardhiana 4. Winda Mailanita 5. Ana Paramita Prastiwi 6. Riska Puspita Sari 7. Feri Ikawati 8. Dwi Nur Hayati

(110129) (110143) (110150) (110161) (110163) (110167) (110171) (110172)

AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA 2012/2013

KATA PENGANTAR

Dengan rahmat Allah SWT dan mengucap puji syukur kehadirat-Nya kami telah dapat menyusun makalah ini. Adapun judul makalah ini, Bidan Sanggup dan Rela Berkorban untuk Kepentingan Bangsa dan Negara Penulisan makalah ini di samping untuk menyelesaikan tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila juga digunakan untuk mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan bagi tim penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Oleh karena itu apabila pembaca berkenan menelaah dan mengkaji penulisan makalah ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga dukungan maupun bantuan yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Akhirnya semoga Allah meridhoi semua langkah menuju kebaikan dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, 18 Oktober 2012

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN .......................................................................................... KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... A. Latar Belakang ........................................................................................ B. Tujuan ..................................................................................................... 1. Tujuan Umum ................................................................................. 2. Tujuan Khusus ................................................................................ C. Rumusan Masalah ...................................................................................

1 1 2 2 2 3

BAB II TINJAUAN TEORI ............................................................................... A. Pengertian ................................................................................................ B. Arti dan Makna Sila Persatuan Indonesia ............................................... C. Nilai-Nilai Sila Persatuan Indonesia .......................................................

4 4 5 7

BAB III PEMBAHASAN ................................................................................... 11

BAB IV PENUTUP ............................................................................................ A. Kesimpulan ............................................................................................. 17 B. Saran ........................................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sila Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa Negara ialah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Negara adalah merupakan suatu persekutuan hidup bersama diantara elemen-elemen yang membentuk negara yang berupa suku, ras, kelompok, golongan, maupun kelompok agama. Oleh karena itu, perbedaan adalah bawaan kodrat manusia dan juga ciri khas elemen-elemen yang membentuk Negara. Konsekuensinya Negara adalah beraneka ragam, tetapi satu, mengikatkan diri dalam suatu persatuan yang dilukiskan dalam suatu seloka, Bhinneka Tunggal Ika. Negara mengatasi segala paham golongan, etnis, suku, ras, individu maupun golongan agama. Mengatasi dalam arti memberikan wahana atas tercapainya harkat dan martabat seluruh warganya. Negara memberikan kebebasan atas individu, golongan,suku, ras maupun golongan agama untuk merealisasikan seluruh potensinya dalam kehidupan bersama yang bersifat integral. Sebagai salah satu profesi dalam bidang kesehatan, bidan memiliki kewenangan untuk memberikan Pelayanan Kebidanan Kesehatan Reproduksi kepada perempuan remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, bersalin, nifas, masa interval, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir, serta anak balita dan prasekolah. Selain itu, bidan juga berwenang untuk memberikan Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Masyarakat. Dari tahun ke tahun, permintaan masyarakat terhadap peran aktif bidan dalam memberikan pelayanan terus meningkat. Ini merupakan bukti bahwa eksistensi bidan di tengah masyarakat semakin memperoleh kepercayaan, pengakuan, dan penghargaan. Berdasarkan hal inilah, bidan dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanannya termasuk pelayanan Keluarga Berencana

dan Kesehatan Reproduksi. Hanya melalui pelayanan berkualitas pelayanan yang terbaik dan terjangkau yang diberikan oleh bidan, kepuasan pelanggan baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat dapat tercapai. Menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan Indonesia sesuai dengan sifat ideologi pancasila yang terbuka berarti mengharuskan setiap warga Negara Indonesia agar tetap mempertahankan keutuhan dan tegak kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila menjadi inspirasi berbagai macam kebudayaan yang ada di Indonesia. Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang semakin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Bahwasanya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia. Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah. B. TUJUAN 1. Tujuan Umum Memberikan gambaran atau wawasan tentang implementasi sila ke tiga yaitu Persatuan Indonesia dalam lingkup kebidanan.

2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa mampu memahami tentang arti dan makna Pancasila sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia.

b. Mahasiswa mampu mengetahui nilai-nilai sila ketiga Pancasila c. Mahasiswa mampu mengimplementasikan sila ketiga Pancasila dalam lingkup kebidanan C. Rumusan Masalah 1. Apa arti dan makna Pancasila sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia? 2. Bagaimana nilai-nilai Pancasila sila ketiga? 3. Bagaimana implementasi Pancasila sila ketiga dalam lingkup kebidanan?

BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian Persatuan adalah kata yang diucapkan oleh hampir seluruh anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI dalam merumuskan dasar negara tahun 1945. Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 merupakan pidato yang mendapat sambutan sangat meriah dari para anggota BPUPKI yang menegaskan tentang hal ini. Kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua. Negara itu tentu didiami oleh bangsa. Menurut Renan, syarat bangsa adalah kehendak untuk bersatu. Soekarno menambahkan dengan mengutip anggota BPUPKI yang lain. Bagus Hadikusumo, yang dibutuhkan adalah persatuan antara orang dengan tempat, antara manusia dengan tempatnya. Tempat itu tidak lain dari tanah air. Tanah air itu adalah suatu kesatuan. Pidato 1 Juni 1945 dimulai dengan bagian pengantar yang sangat diharapkan pendengarnya tentang merdeka selekas-lekasnya. Rumusan Pancasila 1 Juni 1945 itu mendapatkan tantangan dengan tambahan tujuh kata dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya yang kemudian diakomodasi dalam apa yang disebut Mukadimah (Sukarno) atau Piagam Jakarta (Muhammad Yamin) tanggal 22 Juni 1945. Namun, ketika Pancasila disahkan sebagai dasar negara, maka ungkapan yang terdapat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tidak lagi menggunakan rumusan Piagam Jakarta. Ketiga peristiwa proses Pancasila sejak dicetuskan oleh Bung Karno, lalu menjadi Piagam Jakarta sampai dijadikan sebagai dasar negara, 18 Agustus memperlihatkan sikap

kenegarawanan founding fathers dan founding mothers kita saat itu. Rumusan tertanggal 18 Agustus itu meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam teksnya sebagai Pancasila sudah kita terima secara resmi. Rumusan itu

merupakan kompromi yang memperlihatkan bahwa pendiri bangsa kita lebih mengutamakan persatuan karena musuh sudah berada di depan pintu. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa persatuan Indonesia mengandung arti persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Persatuan yang didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat. Persatuan Indonesia mengandung arti kebangsaan (nasionalisme), yaitu bangsa Indonesia harus memupuk persatuan yang erat antara sesama warga negara, tanpa membeda-bedakan suku atau golongan serta berdasarkan satu tekad yang bulat dan satu cita-cita bersama.

B. Arti dan Makna sila Persatuan Indonesia Sila Persatuan Indonesia terdiri dari dua kata yang penting yaitu persatuan dan Indonesia. Persatuan berasal dari kata satu, yang berarti utuh, tidak pecah-belah. Sedangkan persatuan mengandung pengertian disatukannya berbagai macam corak yang beraneka ragam menjadi satu kesatuan. Keanekaragaman masyarakat Indonesia diharapkan dapat diserasikan menjadi satu dan utuh, tidak bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Indonesia dapat diartikan secara geografis, atau dapat dilihat sebagai bangsa. Indonesia dalam pengertian geografis adalah bagian bumi yang membentang dari 95-141 derajat Bujur Timur dan 6 derajat Lintang Utara sampai dengan 11 derajat Lintang Selatan. Sedangkan Indonesia dalam pengertian bangsa adalah suatu bangsa yang secara politis hidup dalam wilayah tersebut. Persatuan Indonesia mengandung arti persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Persatuan yang didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat. Persatuan Indonesia mengandung arti kebangsaan (nasionalisme), yaitu bangsa Indonesia harus memupuk persatuan yang erat antara sesama warga negara, tanpa membeda-bedakan suku atau golongan serta berdasarkan satu tekad yang bulat dan satu cita-cita bersama. Kebangsaan Indonesia bukanlah kebangsaan yang sempit, yang hanya mengagungkan bangsanya sendiri dan merendahkan

bangsa lain, tetapi kebangsaan yang menuju persaudaraaan dunia, yang menghendaki bangsa-bangsa saling menghormati dan saling menghargai Sila ketiga pancasila yaitu Persatuan Indonesia yang merupakan dasar filsafat negara kita, telah diketahui bahwa biarpun didalam susunannya rakyat dan tanah air tumpah darah kita terdiri atas bagian-bagian yang mengandung unsur-unsur perbedaan dan pertentangan, namun bagian-bagiannya itu hanya dalam hubungan kesatuan sebagai bangsa dan wilayah negara sehingga dapat memperoleh bentuk sifat penjelmaan dirinya yang selengkap-lengkapnya. Dengan demikian persatuan dan kesatuan bangsa dan wilayah negara kita sesuai dengan yang disebut hakekat satu, dan oleh karena itu kesatuan sifatnya mutlak tidak dapat terbagi dan terpisah dari bangsa dan wilayah negara-negara lain atas dasar kesatuan rakyat Indonesia dengan tanah air tumpah darahnya yang merupakan satu-satunya pokok dasar bagi terwujudnya kepribadian bangsa Indonesia. Makna persatuan hakikatnya adalah satu, yang artinya bulat tidak terpecah. Jika persatuan Indonesia dikaitkan dengan pengertian modern sekarang ini, maka disebut nasionalisme. Nasionalisme adalah perasaan satu sebagai suatu bangsa, satu dengan seluruh warga yang ada dalam masyarakat. Oleh karena rasa satu yang begitu kuatnya, maka timbul rasa cinta bangsa dan tanah air. Akan tetapi perlu diketahui bahwa rasa cinta bangsa dan tanah air yang kita miliki di Indonesia bukan yang menjurus kepada chauvinisme, yaitu rasa yang mengagungkan bangsa sendiri, dengan merendahkan bangsa lain. Walaupun ditulis cinta bangsa dan tanah air, tidak dimaksudkan untuk chauvimisme. Dengan demikian jelaslah bahwa konsekuensi lebih lanjut dari kedua hal tadi adalah menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, yang pada akhir akhir ini justru menunjukkan gejala disintegrasi bangsa. Hal ini sejalan dengan pengertian persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu hal-hal yang sifatnya tidak sejalan dengan persatuan dan kesatuan, misalnya penonjolan kekuasaan, penonjolan keturunan, harus diusahakan agar tidak terwujud sebagai suatu prinsip dalam masyarakat Indonesia.

Perlu diketahui bahwa ikatan kekeluargaan, kebersamaan di Indonesia sejak dulu sampai sekarang lebih di hormati daripada kepentingan pribadi. Namun, tentunya semangat ini bagi bangsa Indonesia mengalami dinamikanya sendiri. Kadang menjadi kuat, tapi pada suatu saat akan melemah. Pada saat ini justru nasionalisme bangsa Indonesia ditantang dan dalam kondisi yang agak rapuh, karena banyak dari elemen bangsa yang lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan daripada kepentingan bangsa dan negara. Misalnya, fenomena disintegrasi, munculnya gejala primor-dialisme dan separatisme. Secara keseluruhan arti dan makna Pancasila sila ketiga adalah: 1. Nasionalisme 2. Cinta bangsa dan tanah air 3. Menggalang persatuan dan kesatuan bangsa 4. Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit 5. Menumbuhkan rasa senasib dan sepenangungan 6. Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya 7. Tidak memaksa warga negara untuk beragama 8. Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama 9. Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agamanya masing-masing 10. Menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia 11. Rela berkorban demi bangsa dan negara 12. Berbangga sebagai bagian dari Indonesia 13. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang berBhinneka Tunggal Ika. C. Nilai nilai Sila Persatuan Indonesia Negara Indonesia bersatu mempunyai makna kesatuan, maka bangsa Indonesia merupakan satu negara dan tidak terpecah didalam negara-negara yang berfederasi. Sebagaimana diketahui kesatuan kebangsaan merupakan

dasar sendi negara, baik di dalam negara sendiri maupun terhadap dunia Internasional. Dalam hakikatnya sifat kesatuan kebangsaan dan wilayah negara kita pada saat proklamasi menjadi sifat mutlak, yang selanjutnya dalam kenyataannya harus selalu diamalkan. Mengapa demikian, tiada lain karena susunan wilayah Indonesia atas kepulauan yang sangat besar jumlah dan luasnya, dan arena susunan bangsa kita atas suku-suku bangsa, meskipun mempunyai dasar corak yang sama, beraneka warna bentuk sifat susunan keluarga dan masyarakat, adat istiadatnya, kesusilaannya, kebudayaannya, hukum adatnya dan tingkah hidupnya. Keadaan yang telah demikian itu ditambah dengan terdapatnya golongan bangsa keturunan asing dan kemungkinan kewarganegaraan orang asing tulen. Diantara warga golongan bangsa ini terdapat perbedaan yang lebih besar daripada yang ada pada golongan bangsa Indonesia yang asli. Selain daripada itu masih ada perbedaan pula antara mereka dengan golongan bangsa Indonesia yang asli. Kalau masih ditambahkan lagi terdapatnya berbagai agama dan kepercayaan hidup ditanah air kita, maka makin menjadi besar perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat dan bangsa Indonesia. Ditambah lagi sumber perbedaan yaitu ideologi-ideologi politik yang setelah proklamasi kemerdekaan kita ternyata menjadi meluap melampaui batas kelayakan bagi persatuan dan kesatuan. Bentuk-bentuk pokok pelaksanaan daripada sila persatuan Indonesia itu telah ditentukan pada proklamasi kemerdekaan kita di dalam UndangUndang Dasar 1945, yaitu dalam pasal 26 tentang warga Negara, dalam pasal 31 tentang pengajaran nasional, dalam pasal 32 tentang kebudayaan nasional, dalam pasal 35 tentang bendera negara dan dalam pasal 36 yang menetapkan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Wilayah negara yaitu lambang negara Bhineka Tunggal Ika yang merupakan suatu keseimbangan suatu harmoni. Adanya unsur-unsur perbedaan di dalam suatu lingkungan bangsa disamping menimbulkan daya penarik kearah kerjasama dan kesatuan, menimbulkan juga suasana dan kekuatan tolak menolak, tentang-menentang

yang mungkin mengakibatkan perselisihan, pertikaian, dan perpecahan akan tetapi mungkin pula apabila dipenuhi syarat-syarat kesadaran akan

kebijaksanaan dan nilai-nilai hidup yang sewajarnya, menyatukan diri dalam suatu resultan atau sintesa yang justru akan memperkaya masyarakat dan memungkinkan timbulnya persatuan dan kesatuan. Dalam hal perbedaan di lingkungan bangsa haruslah ada kesediaan untuk tidak membiarkan atau untuk tidak memelihara dan membesar-besarkan perbedaan dengan berpegang teguh pada golongan-golongan bangsa, sukusuku bangsa dan keadaan hidupnya yang bermacam-macam. Akan tetapi seharusnya ada kesediaan dan kecakapan serta usaha dengan kebijaksanaan untuk melaksanakan pertalian kesatuan bangsa, dengan berpegangan kepada berbagai asas pedoman bagi pengertian kebangsaan sebagaimana disusun oleh para ahli kenegaraan, diambil kesemuanya dalam suatu susunan majemuktunggal untuk menyatukan daerah (geopolitis), menyatukan darah,

membangkitkan, memelihara, dan memperkuat kehendak untuk bersatu dengan memiliki satu sejarah dan senasib, satu kebudayaan di dalam lingkungan hidup bersama dalam satu negara yang sama-sama diselenggarakan dan

dikembangkan.. Demikianlah didalam Persatuan Indonesia terkandung kesadaran akan adanya perbedaan-perbedaan sebagai keadaan yang biasa di dalam masyarakat dan bangsa, untuk menghidupkan perbedaan yang mempunyai daya penarik ke arah kerja sama dan kesatuan dalam suatu resultan, dalam suatu sintesa, dan untuk mengusahakan peniadaan serta pengurangan perbedaan. Sifat mutlak kesatuan bangsa, wilayah dan negara Indonesia yang terkandung dalam sila Persatuan indonesia, dengan segala perbedaan dan pertentangan didalamnya, memenuhi sifat hakekat daripada satu, yaitu mutlak tidak dapat terbagi. Segala perbedaan dan pertentangan adalah hal yang biasa, yang justru pasti akan dapat disalurkan untuk memelihara dan mengembangkan kesatuan kebangsaan.

Dengan demikian, secara lebih rinci sila Persatuan Indonesia mengandung nilai-nilai sebagai berikut: 1. Dapat menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. 2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. 3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. 4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. 5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan sosial. 6. Mengembangkan persatuan berdasar Bhineka Tunggal Ika. 7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

10

BAB III PEMBAHASAN

A.

Bidan Rela Keluar Masuk Hutan Untuk Mencari Ibu Hamil

Seorang bidan yang profesional, perlu mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-harinya. Pelaksanaan Pancasila secara subyektif yaitu sesuai dengan butir-butir Pancasila. Dalam hal ini adalah contoh implementasi Pancasila sila ketiga dan lebih spesifiknya yaitu nilai cinta tanah air dan bangsa Indonesia, serta sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Salah satu contoh rela berkorban demi bangsa dan negara dalam bidang kesehaatan adalah pengorbanan seorang bidan yang biasa disebut dengan bidan Aminah. Siti aminah merupakan salah satu bidan terbaik di Indonesia saat ini. Bidan yang bertugas di Puskesmas Desa Loa Janan Ulu, Kutai Kertanegara, Kaltim, itu memiliki peran penting dalam menekan angka kematian bayi di daerahnya, yang sebagian besar wilayahnya berupa hutan. Perempuan 31 tahun itu memelopori perbaikan gizi keluarga untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga, terutama ibu hamil. Cerita Aminah, dari program yang dijalankan itu dirinya tak berpikir bakal mendapat anugerah Srikandi Award untuk kategori penurunan angka kematian bayi. Yang hanya dalam pikiran Bidan Aminah adalah bagaimana upaya dia untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama ibu hamil. Namun, siapa sangka, upaya Bidan Aminah berkunjung dari rumah ke rumah warga bisa mengantarkannya menjadi yang terbaik. Dia menjelaskan, tidak mudah mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan. Karena itu, pendekatan yang dia pakai adalah persuasif dengan turun langsung ke lapangan. Tak hanya memberi bimbingan terhadap ibu hamil, tapi juga seluruh keluarga mereka. Baik suami, mertua, nenek, pokoknya semua anggota keluarga. Tujuannya, agar kesadaran mereka terhadap kesehatan berubah. Tentunya bidan Aminah perhatian utamanya terhadap ibu hamil.

11

Bidan Aminah mengatakan, upaya menekan angka kematian bayi sejatinya harus dimulai dengan memperhatikan kesehatan sang ibu. Jika ibu kurang gizi dan kesehatannya buruk, sudah pasti janin yang dikandungnya terpengaruh. Sehingga dapat menyebakan bayi lahir dengan berat badan rendah. Edukasi yang diberikan bidan Aminah ini dimulai dari hal-hal sederhana. Contohnya saja, kebanyakan masyarakat kalau memasak sayuran jangan dipotong dulu, baru dicuci. Yang benar, dicuci dulu baru dipotong, karena nilai gizinya masih tinggi. Kelihatannya sederhana, tapi amat penting. Para ibu hamil juga terus dipantau. Upaya pemantauan bumil dilakukan tanpa kenal waktu. Maklum, Puskesmas Loa Janan Ulu membawahkan tiga desa. Tak urung, bidan Aminah harus pergi ke sana kemari untuk menolong pasien yang membutuhkan. Bukan hanya itu, ibu hamil juga diajari membuat perencanaan persalinan. Termasuk, mempersiapkan ASI sejak dini. Cara-cara itulah yang akhirnya berimbas pada menurunnya angka kematian bayi. Tahun ini hanya satu bayi meninggal di wilayahnya. Sehingga itu merupakan suatu wujud bahwa bidan aminah rela berkorban demi bangsa dan negaranya dengan mau ditempatkan di daerah terpencil. Terbukti bahwa Bidan aminah dapat menurunkan angka kematian ibu dan anak dan mengubah mensaid masyarakat agar menyadari pentingnya gizi ibu hamil. Dedikasi bidan Aminah terhadap masyarakat tak perlu diragukan. Selama 12 tahun menjadi bidan, suka duka kerap mewarnai hari-harinya. Tugasnya kerapkali pindah dari satu daerah ke daerah. Setelah lulus D-1 Poltekkes di Banjarmasin, Aminah bertugas di sebuah desa terpencil di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel, sebagai PTT (pegawai tidak tetap) selama tiga tahun. Kemudian, dia dimutasi ke Kutai Timur dan bekerja di sana tiga tahun. Pada 2001, Aminah dipindah ke Muara Leka, Kutai Kertanegara. Pada 2002, dia akhirnya diangkat sebagai PNS. Setahun kemudian, ibu dua anak itu kembali dimutasi. Kali ini Aminah merasa beruntung lantaran kembali ke tempat kelahirannya, Muara Muntai, Kutai Kertanegara. Namun, dia hanya satu tahun bertugas di sana. Setelah itu dia dipindahtugaskan ke Loa Janan Ulu, Kutai Kertanegara. Di tempat itu bidan

12

Aminah bertugas hingga sekarang. Bahkan, saat ini dia mengambil D-4 jurusan bidan pendidikan di Poltekkes, Kaltim. Sembari bekerja, setiap hari dia juga harus belajar. Jarak yang ditempuh untuk menuju ke kampusnya sekitar 26 km dari Loa Janan Ulu. Bagi bidan Aminah, menjadi bidan itu adalah sebuah panggilan jiwa. Hatinya tergerak ketika kecil, di Muara Muntai belum ada satu pun bidan. Selain itu, ibunya menyarankan dirinya mengambil profesi luhur itu. Selama perjalanan karirnya, suka-duka kerap mengiringinya. Pernah suatu kali dia merujuk bumil ke RS, namun upaya itu terlambat. Di perjalanan, ibu hamil itu meninggal. Karena jarak hutan itu dengan Rumah Sakit amat jauh. Saat itu, bidan Aminah bercita-cita menurunkan angka gizi buruk di desanya. Dia ingin mengentaskan bayi-bayi yang statusnya masih di bawah garis merah.

B.

IBI Wujudkan Persatuan Bangsa Ikatan Bidan Indonesia (IBI) merupakan organisasi profesi bidan di

Indonesia. Wadah Para bidan dalam mencapai tujuan melalui kebijakan peningkatan profesionalisme anggota guna menjamin masyarakat mendapatkan pelayanan berkualitas. IBI didirikan pada tanggal 24 Juni 1951, menjadi anggota Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) pada tahun 1951 dan bergabung menjadi anggota ICM (International Confederation of Midwives) pada tahun 1956. Kantor pusat berkedudukan di Jakarta, IBI memiliki perwakilan di 33 Provinsi, 445 kota/kabupaten dan 1944 ranting diseluruh indonesia.. Organisasi ini telah berhasil meletakkan landasan yang kuat serta arah yang benar bagi perjuangan bidan selanjutnya. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) berbentuk kesatuan, bersifat Nasional, berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pada konferensi IBI tersebut juga dirumuskan tujuan IBI, yaitu: 1. Menggatang persatuan dan persaudaraan antar sesama bidan serta kaum wanita pada umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa.

13

2. Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan KIA serta kesejahteraan keluarga. 3. Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 4. Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat. Visi IBI adalah mewujudkan bidan profesional berstandar global. Misi IBI adalah meningkatkan kekuatan organisasi, meningkatkan peran IBI dalam meningkatkan mutu pendidikan bidan serta pelayanan, meningkatkan

kesejahteraan anggota dan mewujudkan kerjasama dengan jejaring kerja. Nilainilai yang mendasari IBI adalah mengutamakan kebersamaan, mempersatukan diri dalam satu wadah, pengayoman terhadap anggota, pengembangan diri, peran serta dalam komunitas, mempertahankan citra Bidan dan pelayanan berkualitas kepada Ibu dan Anak. Dengan landasan dan arah tersebut, dari tahun ke tahun IBI terus berkembang dengan hasil-hasil perjuangannya yang semakin nyata dan telah dapat dirasakan manfaatnya baik oleh masyarakat maupun pemerintah sendiri. Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir harus melalui jalan yang terjal. Terlebih kala itu dikaitkan dengan target Millenium Development Goals (MDGs) 2015, yakni menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup, dan angka kematian bayi (AKB) menjadi 23 per 100.000 kelahiran hidup yang harus dicapai. Waktu yang tersisa hanya tinggal tiga tahun ini, tidak akan cukup untuk mencapai sasaran itu tanpa upaya-upaya yang luar biasa. Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk menurunkan kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita. Antara lain melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri

14

Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit. Melalui program ini, pada tahun 2012 Pemerintah menjamin pembiayaan persalinan sekitar 2,5 juta ibu hamil agar mereka mendapatkan layanan persalinan oleh tenaga kesehatan dan bayi yang dilahirkan sampai dengan masa neonatal di fasilitas kesehatan. Program yang punya slogan Ibu Selamat, Bayi Lahir Sehat ini diharapkan memberikan kontribusi besar dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Pemerintah daerah, baik itu di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota juga diharapkan memiliki komitmen untuk terus memperkuat sistem kesehatan. Pemerintah provinsi diharapkan menganggarkan dana yang cukup besar untuk mendukung peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. Pelayanan kesehatan dasar yang diberikan melalui Puskesmas hendaknya diimbangi dengan ketersediaan RS Rujukan Regional dan RS Rujukan Provinsi yang terjangkau dan berkualitas. Dukungan pemerintah provinsi diharapkan juga diimbangi dengan dukungan pemerintah kabupaten/kota dalam implementasi upaya penurunan kematian ibu dan bayi. Antara lain melalui penguatan SDM, ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan, anggaran, dan penerapan tata kelola yang baik (good governance) di tingkat kabupaten/kota. Keberhasilan percepatan penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pelayanan kesehatan namun juga kemudahan masyarakat menjangkau pelayanan kesehatan disamping pola pencarian pertolongan kesehatan dari masyarakat. Perbaikan infrastruktur yang akan menunjang akses kepada pelayanan kesehatan seperti transportasi, ketersediaan listrik, ketersediaan air bersih dan sanitasi, serta pendidikan dan pemberdayaan masyarakat utamanya terkait kesehatan ibu dan anak yang menjadi tanggung jawab sektor lain memiliki peran sangat besar. Demikian pula keterlibatan masyarakat madani, lembaga swadaya masyarakat dalam pemberdayaan dan

15

menggerakkan masyarakat sebagai pengguna serta organisasi profesi sebagai pemberi pelayanan kesehatan.

16

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Sifat dan keadaan-keadaan dinegara Indonesia harus sesuai dengan hakekatnya, yaitu satu (mutlak dan tidak dapat terbagi oleh apapun) 2. Perbedaan dan pertentangan-pertentangan menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan bagi bangsa ini. 3. Mengingat sifat persatuan dan kesatuan dari Pancasila, Persatuan Indonesia adalah persatuan yang berke-Tuhanan YME , yang

berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yg dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan serta yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga pertalian dan hidup kebangsaan kita, pertalian hidup dan kenegaraan kita terang sekali bukan merupakan tujuan rakyat Indonesia, akan tetapi tidak lain dari alat atau cara kita yang sesuai dengan tujuan manusia untuk hidup bersama. 4. Bahwa hal sebenarnya berbeda dengan yang banyak dibicarakan orang tentang perbedaan-perbedaan serta pertentangan-pertentangan di dalam bangsa dan negara kita dianggap atau dikuatirkan bertentangan dengan kesatuan kebangsaan kita.

B. Saran 1. Sebagai bagian dari Negara Indonesia, sudah sepantasnya kita menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. 2. Mengamalkan sila Persatuan Indonesia sebagai hakikat dasar filsafat negara Indonesia. 3. Menjadikan perbedaan menjadi satu kesatuan yang utuh.

17

DAFTAR PUSTAKA

Budi,2012,makalah pendidikan kewarganegaraan, http://teretaro.wordpress.com/2012/05/22/makalah-pendidikankewarganegaraan/. Di akses pada tanggal 17 oktober 2012 Pormadi,2007, nilai-nilai pancasila; http://pormadi.wordpress.com/2007/10/01/nilai-nilai-pancasila-dan-uud1945/, di akses pada tanggal 17 oktober 2012 Willynricie,2010, makna sila-sila pancasila; http://willynricie.blogspot.com/2010/09/makna-sila-sila-pancasila.html, di akses pada tanggal 17 oktober 2012

18