Anda di halaman 1dari 2

Menyambut Bonus Demografi OPINI | 08 May 2012 | 09:30 Dibaca: 157 Komentar: 0 Nihil

Salah satu hal yang kerap dilupakan dalam diskusi mengenai persiapan untuk menyambut era globalisasi adalah bagaimana perubahan global itu sendiri serta pemanfaatannya bagi kita. Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya ada satu kesempatan emas perubahan penting dalam perekonomian dunia di masa depan, yaitu perubahan struktur demografi. Data sementara menunjukkan bahwa persentase penduduk dunia usia 65 tahun keatas pada tahun 2025 akan semakin meningkat seperti di Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan juga Thailand. Implikasi dari peningkatan penduduk lanjut usia ini akan membawa berbagai perubahan serius terhadap perekonomian negara-negara diatas.

Menurut pakar ekonomi Muhammad Chatib Basri, pengaruh pertama perubahan demografi tersebut adalah kemungkinan produktivitas yang menurun. Hal ini terjadi karena penurunan jumlah penduduk usia produktif. Dimana selanjutnya penurunan usia produktif akan mengakibatkan menurunnya pendapatan nasional.

Kedua, peningkatan penduduk lansia akan menimbulkan beban didalam pembiayaan anggaran. Peningkatan penduduk lansia tentunya akan menimbulkan beban yang lebih berat di dalam jumlah tunjangan sosial yang harus ditanggung oleh negara. Sementara di sisi penerimaan akan semakin kecil seperti yang telah disebut pada poin pertama. Akibatnya dapat diduga, defisit anggaran akan semakin membengkak. Resiko inilah yang akan dihadapi oleh negara-negara dengan karakteristik perubahan demografi yang sama.

Lalu bagaimana dengan posisi Indonesia? Menarik untuk melihat bahwa berdasarkan pergeseran demografi ini Indonesia ternyata memiliki potensi untuk unggul di masa depan. Sementara negaranegara lain di dunia akan mengalami kesulitan akibat struktur demografinya yang berubah, Indonesia justru akan mendapatkan bonus demografi dalam beberapa tahun kedepan. Beberapa ahli memperkirakan bonus demografi ini akan dicapai Indonesia sekitar tahun 2020.

Bonus demografi adalah sebuah fenomena dimana jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak. Syaratnya adalah program Keluarga Berencana (KB) yang telah dicanangkan pemerintah tetap berjalan dan berhasil. Keberhasilan program tersebut dalam tiga puluh tahun diperkirakan akan menggeser anak-anak dan remaja berusia dibawah

15 tahun, yang biasanya besar dan berat dibagian bawah piramida penduduk Indonesia, ke penduduk usia produktif yang melimpah.

Menurut Prof. Dr. Sri Moertiningsih Setyo Adioetomo dari UI, struktur penduduk seperti ini akan menyebabkan beban ketergantungan atau dukungan ekonomi yang harus diberikan oleh penduduk usia produktif kepada anak-anak dan lansia menjadi lebih ringan. Selain itu Indonesia juga akan memiliki banyak tenaga kerja produktif yang dapat bersaing di dunia internasional, sementara negara lain harus menanggung beban akibat perubahan demografinya.

Angkatan kerja yang besar di masa depan dengan tanggungan yang relatif terus menurun akan menyebabkan peningkatkan akumulasi tabungan domestik yang pada akhirnya akan menjadi sumber pembiayaan investasi pembangunan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kita mempersiapkan diri agar bonus demografi tersebut dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya? Jawabannya akan sangat bergantung kepada upaya perbaikan kualitas tenaga kerja di masa depan. Meskipun sudah terprediksi, bonus demografi tidak akan tercapai jika tidak disertai dengan langkah peningkatan pendidikan, akses pelayanan kesehatan, dan peningkatan gizi. Jika tidak disiapkan, bonus demografi malah akan menimbulkan banyak masalah, terutama meningkatkan angka pengangguran yang justru semakin membebani negara.

Program wajib belajar 9 tahun yang telah dijalankan oleh pemerintah selama ini hendaknya segera ditingkatkan menjadi wajib belajar 12 tahun. Selain itu kita perlu lebih banyak tenaga kerja terdidik lulusan S1, S2, dan S3 di masa depan. Tenaga kerja yang dilahirkan hendaknya adalah tenaga kerja yang benar-benar profesional berdasarkan KSA (skill, ability, dan knowledge) yang kuat. Dengan adanya persiapan yang matang seperti ini, kita tidak perlu lagi gamang ketika menghadapi era globalisasi. Bila selama ini Indonesia lebih banyak berperan sebagai konsumen dari negara-negara ekonomi raksasa, kesempatan untuk mengambil alih peran sekarang mulai terlihat di depan mata