Anda di halaman 1dari 16

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan

Kecamatan Cibeber

BAB 2 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Cianjur

Kondisi Geografis
Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak di tengah Propinsi Jawa Barat, dengan jarak sekira 65 Km dari Ibu Kota Propinsi Jawa Barat (Bandung) dan 120 Km dari Ibu Kota Negara (Jakarta), dan terletak diantara 6021 - 7025 Lintang Selatan dan 106042 - 107025 Bujur Timur. Kabupaten Cianjur luasnya mencapai 350.148 hektar. Pada tahun 2008 luas tanah sawah mencapai 65.483 hektar dan luas lahan darat 284.665 hektar dengan batasbatasnya adalah sebagai berikut: Sebelah Utara : Berbatasan dengan Wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Samudra Indonesia Sebelah Barat: Berbatasan dengan Wilayah Kabupaten Sukabumi Sebelah Timur : Berbatasan dengan Wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut Keadaan alam daerah Kabupaten Cianjur terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian sekitar 7 - 2.962 meter diatas permukaan laut. Secara geografis wilayah ini terbagi dalam 3 bagian yaitu : 1. Cianjur Bagian Utara : Merupakan dataran tinggi terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian 2.962 meter, sebagain besar ini merupakan daerah dataran tinggi pegunungan dan sebagian lagi merupakan dataran yang dipergunakan untuk areal perkebunan dan pesawahan. 2. Cianjur Bagian Tengah, merupakan daerah yang berbukit-bukit kecil dikeliling dengan keadaan struktur tanahnya labil sehingga sering terjadi tanah longsor dan daerah inipun merupakan daerah gempa bumi, dataran lainnya terdiri dari areal perkebunan dan daerah persawahan. 3. Cianjur Bagian Selatan, merupakan dataran rendah akan tetapi terdapat banyak bukitbukit kecil yang diselingi oleh pegunungan yang melebar sampai kedaerah pantai Samudra Indonesia, seperti halnya daerah Cianjur Bagian Tengah, bagian selatanpun tanahnya labil dan

Bab 2 |Halaman 1

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

sering terjadi longsor dan daerah gempa bumi, disini terdapat pula areal untuk perkebunan dan pesawahan tetapi tidak begitu luas.

Bab 2 |Halaman 2

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

Gambar 2.1 Peta Ketinggian Kabupaten Cianjur Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buahbuahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi. Sebagai daerah agraris yang pembangunananya bertumpu pada sektor pertanian, kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah swa-sembada padi. Produksi padi pertahun sekitar 625.000 ton dan dari jumlah sebesar itu telah dikurangi kebutuhan konsumsi lokal dan benih, masih memperoleh surplus padi sekitar 40 %. Produksi pertanian padi terdapat hampir di seluruh wilayah Cianjur. Kecuali di Kecamatan Pacet dan Sukanagara. Di kedua Kecamatan ini, didominasi oleh tanaman sayuran dan tanaman hias. Dari wilayah ini pula setiap hari belasan ton sayur mayur dipasok ke Jabotabek. Pengembangan usaha perikanan air tawar dan laut di Kabupaten Cianjur cukup potensial. Baik untuk usaha berskala kecil maupun besar. Beberapa faktor pendukungnya adalah : jumlah penduduk yang relatif besar serta tersedianya lahan budi daya ikan air tawar dan ikan laut. Usaha pertambakan ikan dan penagkapan ikan laut memiliki peluang besar di wilayah Cianjur selatan, khususnya di sepanjang pantai Cidaun hingga Agrabinta. Di wilayah ini, mulai dirintis dan di kembangkan pertambakan budi daya udang. Sedangkan budi daya ikan tawar terbuka luas di cianjur utara dan cianjur tengah. Di wilayah ini terdapat budi daya ikan hias, pembenihan ikan, mina padi, kolam air deras dan keramba serta usaha jaring terapung di danau Cirata, yang sekaligus merupakan salah satu obyek wisata yang mulai berkembang. Sementara itu , potensi perkebunan di Kabupaten Cianjur cukup besar dimana sekitar 19,4 % dari seluruh luas merupakan areal perkebunan . Selama in dikelola oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) seluas 10.709 hektar, Perkebunan Besar Swasta (PBS) sekitar 20.174 hektar dan Perkebunan Rakyat (PR) seluas 37.167 hektar. Peningkatan produksi perkebunan, terutama komoditi teh cukup baik. Produktivitas teh rakyat mampu mencapai antara 1.400 - 1.500 kg teh kering per hektar. Sedangkan yang di kelola oleh perkebunan besar rata-rata mencapai di atas 2.000 kg per hektar.

Tata Guna Lahan dan Hutan


Penggunaan lahan di Kabupaten Cianjur mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1997 penggunaan lahan didominasi oleh hutan negara, tegal/kebun, dan perkebunan. Sedangkan pada tahun 2002
Bab 2 |Halaman 3

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

didominasi oleh tegal/kebun, hutan negara, sawah, dan perkebunan. Penggunaan lahan yang mengalami kenaikan secara signifikan adalah hutan rakyat, sedangkan permukiman mengalami kenaikan namun tidak terlalu signifikan. Sedangkan penggunaan lahan yang mengalami penurunan signifikan adalah hutan negara. Berdasarkan State of Environmental Report (SoE) tahun 2003 dilaporkan bahwa ditinjau dari tutupan vegetasinya, luas lahan yang terbuka telah mengalami peningkatan sebesar 22,75% selama lima tahun terakhir. Kemudian pada tahun 2006, luas hutan negara kembali mengalami peningkatan menjadi 61.453 hektar dan mendominasi penggunaan lahan di Kabupaten Cianjur. Sumber daya hutan yang ada di Kabupaten Cianjur terdiri dari hutan produksi, hutan lindung, hutan alam dan hutan wisata. Untuk kawasan hutan produksi eksisting yang terdapat di Kabupaten Cianjur antara lain BKPH Cianjur, BKPH Ciranjang Utara, BKPH Ciranjang Selatan, BKPH Gede Timur, BKPH Sukanagara Utara, BKPH Sukanagara Selatan, BKPH Tanggeung, BKPH Cibarengkok dan BKPH Sindangbarang, dengan luas total kawasan hutan yaitu 67.589,31 hektar, dengan perincian sebagai berikut. Sampai tahun 2007, laju kerusakan hutan produktif adalah sebesar 1,9% pertahun. Namun pada akhir tahun 2006 luas lahan kritis telah berkurang dari 22.916,52 hektar menjadi 21.571,52 hektar karena adanya program penghijauan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi hutan di Kabupaten Cianjur mulai dalam tahap mengkhawatirkan.

2.2.1 Tekanan terhadap lahan dan hutan


Aktivitas manusia yang banyak memanfaatkan lahan hutan akan mengakibatkan berkurangnya luas hutan. Wilayah Kabupaten Cianjur merupakan salah satu tujuan wisata karena kondisi alam dan udaranya yang sejuk. Namun jika alam dan hutan dieksploitasi secara besarbesaran dan terus menerus bukan tidak mungkin kondisinya akan menurun dan mengalami kerusakan. Selain itu, aktivitas pertambangan juga berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan. Aktivitas pertambangan yang ditinggalkan tanpa rehabilitasi akan menyebabkan tanah menjadi tandus dan berubah menjadi lahan kritis. Hal ini dapat dilihat pada kondisi perbukitan yang mulai rusak di Kecamatan Cilaku. Akibat penambangan pasir dan batu, lama kelamaan bukit akan habis dan saat ini berpotensi menimbulkan bencana longsor. Meningkatnya kegiatan pertambangan khususnya galian C yang tidak disertai dengan rehabilitasi lahan akan mengakibatkan tanah menjadi tandus/miskin akibat hilangnya lapisan top soil. Bekas galian juga jelasjelas merusak landscape. Kegiatan penambangan di Kabupaten Cianjur banyak terdapat di wilayah Kecamatan Cilaku dan Cikalongkulon, sedangkan areal penambangan yang terluas teradapat di Kecamatan Naringgul seluas 7.608 hektar.

Bab 2 |Halaman 4

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

Sektor pariwisata juga sedikit banyak menyumbang kerusakan lingkungan. Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa sektor pariwisata di Kabupaten Cianjur lebih banyak menjual objek pegunungan dan hutan. Kegiatan pariwisata yang memanfaatkan keindahan alam/hutan dikhawatirkan justru akan merusak kawasan hutan jika penanganannya tidak disertai dengan pengetahuan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari pembangunan villa dan hotel yang terus terjadi di kawasan Puncak. Pendirian bangunan permanen di kawasan berbukit tanpa mempedulikan lingkungan justru akan menimbulkan bencana. Selain faktor-faktor tersebut, kerusakan lahan dan hutan juga disebabkan oleh hal-hal lain seperti pencurian pohon, rambahan, bencana alam, kebakaran hutan, dan perusakan. Kerusakan hutan akibat pencurian pohon masih sering terjadi walaupun kecenderungannya menurun dari tahun ke tahun. Kasus pencurian pohon pada tahun 2006 adalah sebanyak 377 pohon, sedangkan pada 2005 adalah 533 pohon.

Bab 2 |Halaman 5

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

Gambar 2.2 Peta Penggunaan Lahan

Kondisi Administrasi Kepemerintahan


Kabupaten Cianjur secara geografis terbagi dalam 3 wilayah yaitu Wilayah Utara, Wilayah Tengah dan Wilayah Selatan dengan jumlah kecamatan sebanyak 32 Kecamatan, jumlah desa sebanyak 342 desa dan jumlah kelurahan sebanyak 6 kelurahan diwilayah kota Cianjur. Sebagai gambaran Pemerintahan Kabupaten Cianjur, dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Wilayah Selatan, meliputi; Kecamatan Agrabinta Kecamatan Leles Kecamatan Sindangbarang Kecamatan Cidaun Kecamatan Naringgul Kecamatan Cibinong Kecamatan Cikadu 2. Wilayah Tengah, meliputi : Kecamatan Tanggeung Kecamatan Pasirkuda Kecamatan Pagelaran Kecamatan Kadupandak Kecamatan Cijati Kecamatan Takokak Kecamatan Sukanagara Kecamatan Campaka Kecamatan Campakamulya 3. Wilayah Utara, meliputi : Kecamatan Cibeber

Bab 2 |Halaman 6

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan

Bojongpicung Haurwangi Ciranjang Karangtengah Cianjur Warungkondang Gekbrong Cugenang Pacet Cipanas Mande Cikalongkulon Sukaluyu Sukaresmi

Tabel 2.1 Jumlah Desa dan Kelurahan Berdasarkan Kecamatan


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kecamatan Agrabinta Leles Sindangbarang Cidaun Naringgul Cibinong Cikadu Tanggeung Pasirkuda Kadupandak Cijati Takokak Sukanagara Pagelaran Campaka Campakamulya Cibeber Warungkondang Gekbrong Cilaku Sukaluyu Bojongpicung Haurwangi Ciranjang Mande Karangtengah Cianjur Desa/Kelurahan Desa 10 11 9 13 10 13 9 12 8 13 9 9 10 13 11 5 18 11 8 10 11 11 8 9 12 16 5 Kelurahan 6

Bab 2 |Halaman 7

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

No 28 29 30 31 32

Kecamatan Cugenang Pacet Cipanas Sukaresmi Cikalongkulon Total

Desa/Kelurahan Desa 16 7 7 11 18 342 Kelurahan 6

Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2008

Kondisi Sosial Kependudukan 2.4.1 Kependudukan


Pembangunan kependudukan merupakan langkah penting dalam mencapai pembanguna berkelanjutan. Upaya ini di selenggarakan melalui dua langkah pokok pengendalian kuantitas penduduk. Pengendalian kuantitas dilaksanakan melalui program Keluarga Berencana dan Kesehatan reproduksi, pengaturan mobiltas penduduk dan penyelenggaraan administrasi kependudukan.Sedangkan peningkatan kualitas penduduk dapat dilihat melalui pencapaian indek pembangunan manusia (IPM). Data kependudukan yang ada di BPS diperoleh melalui : a. Sensus penduduk Sensus penduduk dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka nol. Sensus penduduk yang sudah dilakukan di Indonesia yaitu pada tahun 1970, 1980, 1990 dan 2000. Sensus penduduk terakhir dilaksanakan pada tahun 2000, sebelumnya pada tahun 1990 dan sensus penduduk berikutnya pada tahun 2010. Pelaksanaan Sensus Penduduk bersifat menyeluruh dengan metode De Jure dan De Facto. b. Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Supas merupakan kegiatan survey kependudukan yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali yang pelaksanaannya dilakukan pada pertengahan duasensus. Supas terakhir dilaksanakan pada tahun 2005 dan supas berikutnya akan dilaksanakan pada tahun 2015. c. Registrasi Penduduk Cara dan waktu pengumpulan data registrasi penduduk sangat berbeda dengan sensus atau survey. Registrasi penduduk mencatat kejadian-kejadian yang mengubah jumlah dan susunan penduduk selama jangka waktu tertentu, yaitu sejak awal periode sampai akhir periode.

d. Susenas Susenas dilaksanakan setiap tahun untuk melihat tingkat kesejahteraan masyarakat mulai tingkat Kabupaten/Kota sampai tingkat nasional, namun Suseda juga dapat digunakan untuk

Bab 2 |Halaman 8

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

memperkirakan jumlah penduduk pada tahun pelaksanaan Suseda tersebut. Perbedaan cara pengumpulan data penduduk tersebut menyebabkan adanya perbedaan antara hasil sensus, registrasi dan survey. Penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2008 menurut hasil Survei IPM adalah 2.211.138 jiwa yang terdiri dari 1.137.895 jiwa laki-laki dan 1.073.243 jiwa perempuan dengan sex ratio 106,02. Kepadatan rata-rata penduduk Kabupaten Cianjur tahun 2008 adalah 631 jiwa per Km persegi. Jumlah penduduk Kabupaten Cianjur tahun 1995 sebanyak 1.745.763 jiwa tahun 2000 sebanyak 1.922.106 jiwa, dan pada thun 2006 sebanyak 2.125.023 jiwa. Selama periode tahun 1995-2006 laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Cianjur rata-rata sebesar 1,86% per tahun. Angka laju pertumbuhan penduduk berdasarkan data Susenas lebih tinggi bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk berdasarkan pencacahan sensus penduduk (SP) tahun 2000 sebesar 1,57% tahun 0,25persen dibanding laju pertumbuhan penduduk hasil sensus penduduk (SP) tahun 1990 yaitu sebesar 1,82%. Angka itu masih berada diatas laju pertumbuhan penduduk secara nasional yaitu 1,49%, namun masih dibawah rata-rata jawa barat pada periode 2004-2006 sebersar 2,09%. Dilihat dari setiap Kecamatan , angka laju pertumbuhan penduduknya sangat fluktuatif, dengan angka tertinggi derada diatas rata-rata kebupaten ditepati oleh kecamatan Karangtengah (3,72%), Mande (2,75%), Ciranjang (2,20%), Cugenang (1,96%), Bojongpicung (1,87%), dan Pacet (1,96%). Masih tinggiya angka laju pertumbuhan penduduk di kabupaten Cianjur selama periode tahun 1995-2005 ini antara lain disebabkan oleh masih belum terkendalinya angka kelahiran total ( Total Ferlity Rate/TFR). Idealnya laju pertumbuhan ini harus dapat ditekan sampai mendekati angka 1% atau bahkan kurang.Berdasarkan series tahun 1995-2005, pencacahan sensus diprediksikan untuk kurun waktu 2005-2015, perkiraan laju pertumbuhan penduduk Kabupten Cianjur ratarata akan jatuh pada angka 1,62%-1,86%. Kepadatan penduduk Kabupten Cianjur pada tahun 2005 sekitar 548,94 jiwa per km. laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Cianjur ini tidak merata, terlihat bahwa sekitar 63,90% penduduk Kabupaten Cianjur terkonsentrasi di bagian utara, 19,19% mendiami berbagai kecamatan dibagian tengah dan sisanya sebanyak 17,12% berada di berbagai Kecamatan di bagian selatan kabupaten Cianjur. Kepadatan penduduk di kecamatan-kecamatan wilayah utara jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah selatan dan tengah, dengan demikian pengembangan potensi ekonomi kecamatan-kecamatan di wilayah tengah dan selatan menghadapi kendala untuk dikembangkan, antara lain karena penduduknya masih jarang dan terpencar sehingga secara ekonomis pengembangan di wilayah tersebut kurang menguntunkan. Terjadinya kesenjangan penyebaran penduduk secara geografis dimungkinkan berklaitan erat dengan faktor daya tarik wilayah,terutama,dengan asfek ekonomi serta ketersediaan sarana
Bab 2 |Halaman 9

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

tempat tinggal yang memadai. Beberapa Kecamatan yang memperlihatkan kepadatan penduduk cukup tinggi di wilayah Cianjur utara antara lain Kecamatan Cianjur (6.275,98 jiwa/km), Karangtengah (3.073,68 jiwa/km), Kercamatan Ciranjang (2.276,76 jiwa/km), Cipanas (1.834,47 jiwa/km), Pacet (1.495,03 jiwa/km), Sukaluyu (1.546,96 jiwa/km), Cugenang (1.424,14 jiwa/km), Cilaku (1.455,18 jiwa/km), dan Warungdoyong ( 1.279,57 jiwa/km). Sementara itu kecamatan yang mempunyai kepadatn penduduk geografis terkecil adalah kecamatan Naringul (180,75 jiwa/km) dan kecamatan Agrabinta (184,40 jiwa/km).Sedangkan berdasarkan hasil proyeksi pada tahun 2011 kepadatan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Karang Tengah dengan jumlah kepadatan penduduk sebesar 10.014jiwa/km. Sementara kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah pada tahun 2011 adalah kecamatan Cidaun dan Naringgul,masing-masing memiliki kepadatan penduduk sebesar 165 jiwa/km dan 194 jiwa/km. Dalam sensus atau survey penduduk yang dicatat adalah penduduk yang sah di suatu daerah dan mereka yang sudah tinggal selama enam bulan atau lebih di daerah itu. Sebaliknya penduduk yang syah di suatu daerah yang sudah meninggalkan daerah tersebut selama enam bulan atau lebih tidak dicakup dalam sensus. Selain itu sensus atau survey hanya menerangkan keadaan penduduk pada waktu pencacahan sensus. Kepadatan terbesar ada di Kecamatan Cianjur yaitu 6.757 jiwa per Km persegi dan kepadatan terendah ada di Kecamatan Naringgul yaitu 192 jiwa per Km persegi. Tabel 2.2 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Jumlah KK Berdasarkan Kecamatan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kecamatan Agrabinta Leles Sindangbarang Cidaun Naringgul Cibinong Cikadu Tanggeung Pasirkuda Kadupandak Cijati Takokak Sukanagara Pagelaran Campaka Campakamulya Cibeber Warungkondang Gekbrong Cilaku Luas Wilayah (km2) 200,67 94,10 167,95 320,72 243,78 225,33 173,09 114,15 *) 104,79 49,81 135,76 164,84 235,50 135,47 59,96 130,96 48,75 46,50 60,46 Penduduk (Jiwa) 39.468 36.218 52.186 66.559 46.956 61.348 37.772 48.441 37.290 50.466 33.725 53.570 49.576 71.683 64.950 25.326 122.301 67.330 49.368 94.704 KK 12.864 11.835 17.443 19.415 13.136 18.923 10.594 14.165 11.538 14.568 10.609 16.090 14.515 21.998 21.052 8.758 35.210 18.613 14.932 27.487

B a b 2 | H a l a m a n 10

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

No 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

Kecamatan Sukaluyu Bojongpicung Haurwangi Ciranjang Mande Karangtengah Cianjur Cugenang Pacet Cipanas Sukaresmi Cikalongkulon Total

Luas Wilayah (km2) 43,10 123,53 *) 37,52 105,20 39,25 23,44 65,37 54,11 58,03 113,31 126,02 3.501,47

Penduduk (Jiwa) 71.878 74.675 52.360 73.670 66.959 129.504 158.382 97.818 102.750 95.274 81.267 97.364 2.211.138

KK 19.636 21.135 15.541 20.771 19.720 34.913 42.860 26.637 24.333 26.528 22.127 25.821 633.767

Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2008

2.4.2 Sosial
Kebijakan pembangunan di bidang sosial menyangkut berbagai aspek. Selain berdampak pada ekonomi juga dalam sosial politik masyarakat. Keberhasilan pembangunan dibidang sosial tidak hanya dapat dilihat dari bentuk fisik saja, namun harus dapat dilihat secara kesluruhan yaitu segi fisik dan mental. Segi fisik meliputi pembangunan sarana dan prasarana.

2.4.3 Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk menuju masyarakat yang cerdas, terampil dan sejahtera. TK/TKA merupakan tahap awal dimulainya kegiatan belajar informal karena diharapkan melalui tahapan ini anak-anak lebih siap menerima pelajaran di pendidikan formal nanti seperi SD/MI. Pada Tahun 2008 di Kabupaten Cianjur jumlah TK menncapai136 buah, jumlah RA/BA 289 buah, Jumlah SD sebanyak1.242, Jumlah MI 202 buah, SMP sebanyak 141, SMPT 41 buah, MTs sebanyak 89, SMA sebanyak 43, MA sebanyak 26 dan SMK sebanyak 52 buah.

2.4.4 Kesehatan
Jumlah Rumah Sakit di Kabupaten Cianjur Tahun 2008 meliputi RSU Pemerintah 2 buah dan Rumah Sakit Khusus 1 buah semuanya berada pusat kota yaitu di Kecamatan Cianjur. Dari 10 Besar Penyakit Keseluruhan Rawat Jalan jumlah pasien terbanyak berada di Poli Penyakit Dalam mencapai 21.223 pasien atau 31,33 persen, peringkat kedua di poli klinik Syaraf 14,40 persen. Sedangkan dari 10 Besar Penyakit Keseluruhan Rawat Inap jumlah pasien terbanyak berada di Poli Penyakit anak mencapai 35,10 persen dengan jumlah pasien 3.872.

2.4.5 Perumahan dan Lingkungan


B a b 2 | H a l a m a n 11

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

Jumlah rumahtangga yang menggunakan jenis atap terluas yaitu menggunakan genteng mencapai 95,01 persen, sedangkan menurut dinding terluas paling banyak menggunakan tembok yaitu 49,43 persen, jumlah rumahtangga menurut sumber penerangan sebagian besar menggunakan listrik PLN (90,94 persen), jumlah rumah tangga menurut sumber air minum sebagian besar sumur terlindung (45,78 persen), jumlah rumahtangga menurut tempatpembuangan tinja sebagian besar masih pembuangan akhirnya ke sungai/danau/laut mencapai 43,78 persen. Tabel 2.3 Jumlah Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sumber Air Minum Air Kemasan Air Isi Ulang Leding Meteran Leding Eceran Sumur bor/Pompa Sumur Terlindung Sumur Tak Terlindung Mata Air Terlindung Mata Air Tak Terlindung Air Sungai Air Hujan Jumlah Jumlah Rumah Tangga 3.058 1.383 29.558 1.092 51.862 259.695 74.391 53.864 72.354 19.109 837 567.203 Prosentase 0,54 0,24 5,21 0,91 9,14 45,78 13,11 9,50 12,76 3,37 0,15 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2008

Tabel 2.4 Jumlah Rumah Tangga Menurut Fasilitas Air Minum


No 1 2 3 4 Sumber Air Minum Sendiri Bersama Umum Tidak Ada Jumlah Jumlah Rumah Tangga 280.897 136.530 117.748 26.495 561.670 Prosentase 50,01 24,31 20,96 4,72 100,00

Sumber : BPS Kabupaten Cianjur, 2008

Fokus Pembangunan Kabupaten Cianjur


Apabila kita amati perkembangan ekonomi 5 tahun ke depan maka perekonomian di Kabupaten Cianjur akan meningkat dengan adanya 5 unggulan bisnis yang diperkirakan mampu memacu pertumbuhan perekonomian wilayah, penetapan keenam sektor unggulan tersebut dilakukan dengan memperhatikan kontribusinya saat ini dan berdasarkan

B a b 2 | H a l a m a n 12

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

peluang pengembangan yang dimiliki pada masing- masing sektor. Lima unggulan bisnis tersebut adalah: Agribisnis, Agromarine bisnis, Pariwisata, Kerajinan rumah tangga, Industri manufaktur perdagangan dan jasa. 1. Agribisnis /Agromarine bisnis Komoditi padi sawah merupakan basis kegiatan perekonomian pada sebagian besar kecamatan di Kabupaten Cianjur, Hal ini di tunjukan pada beberapa kecamatan yang memiliki kekhasan dan produk yang dihasilkan, diantaranya Kecamnatan Warungkondang yang telah ditunjang pula oleh sarana dan prasarana produksi hasil pertanian yang relatif telah memadai.Selain padi sawah, kelapa dan cengkeh merupakan komoditas peternakan dan perikanan yang menjadi unggulan di Kabubaten Cianjur, adalah Sapi potong, domba, ayam ras, ikan mas, ikan mnila, lele, lobster, dan tuna. Hal ini terceermin dan kemampuan komoditas tersebut menjadi sektor basis pada beberapa kecamatan. 2. Pariwisata Dengan kekayaan alam dan budaya yang lengkap serta posisi geografisnya, Kabupaten Cianjur memiliki prospek yang cukup potensial dalam perdagangan pariwisatanya. Khusus mengenai potensi wisata agro,Kabupaten Cianjur mempunyai potensi yang cukup besar karena sesuai dengan kondisi alamnya yang bersifat agraris. Apabila wisata agro ini diartikan sebagai kegiatan wisata yang dihubungkan dengan pertanian dalam arti luas (meliputi pertanian, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan), Maka Kabupaten Cianjur memiliki kegiatan pertanian yang hampir tersebar di seluruh bagian wilayah dengan variasi dan jenis komoditinya yang meliputi hamparan pertanian sawah yang luas, perkebunan, (the, karet, buah-buahan dan bagainya), kawasan hutan wisata dan sentra-sentra kegiatan peternakan. 3. Kerajinan Rumah Tangga Kabupaten Cianjur merupakan wilayah yang memiliki potensi untuk mengembangkan kerajinan rumah tangga yang selama ini hanya menjadi sektor informal. Indikasi yang menunjukan sektor ini memiliki potensi adalah telah terbentuknya beberapa kegiatan produksi di beberapa kecamatan, dimana produksi yang dihasilkan telah memiliki pangsa pasar yang cukup luas bahkan dapat melakukan ekspor ke luar propinsi. 4. Industri Manufuktur Industri manufuktur yang telah berkembang di Kabupaten Cianjur antara lain meubel dan konveksi. Khusus untuk industri meubel telah menjadi sektor basis di Kecamatan Cibinong, Takokak, Sukanagara, Campaka, dan Pacet.Sementara untuk jenis industri lainnya masih belum teridentifikasi 5. Perdagangan dan jasa Berdasarkan nilai PDRB Kabupaten Cianjur, sektor perdagangan pada tahun 2005 atas harga berlaku memberikan kontribusi sebesar 13,79
B a b 2 | H a l a m a n 13

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

% dari total PDRB : sedangkan atas harga konstan memberikan sumbangan sebesar 3,54% sektor jasa atas harga berlaku memberikan sumbangan sebesar memberikan kontribusi sebesar 16,68% dari total PDRB: sedangkan atas dasar harga konstan sebesar 3,40%. Sementara berdasarkan nilai LQ sebesar 1,44. dengan demikian kedua sektor tersebut merupakan sektor unggulan di kabupaten Cianjur dan merupakan kegiatan inti perekonomian yang dapat memacu pertumbuhan. Peningkatan produktifitas keenam unggulan/ core bisnis tersebut diatas dapat dilakukan dengan kemampuan sumberdaya manusia serta peningkatan implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi.Selain itu peningkatan laju pertumbuhan ekonomi harus dilakukan dengan peningkatan investasi yang masuk ke sektor unggulan, terutama yang Bersifat padat karya.

Perkembangan Kabupaten Cianjur


Sebagai pusat pelayanan jasa dan perdagangan, kota Cianjur harus berperan dalam melayani kegiatan pemasaran komoditi perdagangan ke wilayah lebih luas. Peningkatan berbagai hasil produksi masyarakat di sekitarnya, terutama di sektor pertanian jelas memerlukan sarana pemasaran yang lebih memadai. Demikian pula masyarakat konsumen dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya, memerlukan tempat belanja yang lebih baik dan lengkap. Oleh karena itu, di kota Cianjur kini terdapat pusat-pusat perdagangan tradisional tetapi berwajah modern yaitu dengan di bangunnya Pasar Induk Cianjur dan Pasar Muka Cianjur yang di lengkapi departement store Ramayana. Disamping tempat pembelanjaan lainnya seperti Pusat Glosir dan Super Mall Mayofield, yang terletak di Jl. Dr. Muwardi -Rancagoong.Toserba Selamat, di jl.Siliwangi perempatan Joglo Cianjur.

Gambar 2.3 Lapangan Prawatasari Joglo Cianjur Sebagai Salah Satu Sarana Olahraga Masyarakat Cianjur Pertumbuhan dan Perkembangan kota Cianjur pada dasarnya saling bergantungan dengan daerah yang lebih luas (regional), yaitu berupa interaksi kegiatan-kegiatan sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Selaras dengan hal tersebut, di dalam konsep pengembangan wilayah regional Jawa Barat, kota Cianjur termasuk daerah penyangga pengaruh
B a b 2 | H a l a m a n 14

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

pengembangan wilayah Bandung Raya.Beberapa fungsi yang sangat menonjol, yaitu sebagai pusat pemerintah, perdagangan dan jasa, serta pusat pengembangan sosial budaya. Disamping itu, kota Cianjur di lintasi jaringan jalan antara kota-kota besar, seperti Bandung dan Jakarta sehingga potensi itu memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan Kabupaten Cianjur maupun bagi kota Cianjur sendiri.

Gambar 2.4 Pasar Muka : Pasar Semi Modern Wujud Kemajuan Perekonomian Masyarakat Untuk memperluas jaringan jalan di kota Cianjur, Pemerintah daerah membangun jaringan-jaringan jalan baru. Salah satu adalah Jalan Dr. Muwardi-Rancagoong sepanjang 3,6 km di sebelah timur kota Cianjur. Jaringan jalan ini menghubungkan arus bolak balik kendaraan dari Jakarta - Bogor - Bandung yang melewati Sukabumi tanpa harus melewati jaringan jalan di pusat kota Cianjur yang kepadatannya sudah cukup tinggi. Dengan di bangunnya jalan tersebut, disamping dalam rangka pengembangan kota Cianjur serta untuk memperluas pergerakan aktivitas masyarakat perkotaan, juga akan mendorong perkembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Gambar 2.5 Pusat perbelanjaan : Aman, Nyaman & Lengkap Ruas jalan lainnya yang dibangun ialah jalan lingkar belakang terminal bis Rawabango - Bojong - Maleber di Kecamatan Karangtengah sepanjang
B a b 2 | H a l a m a n 15

Laporan Pendahuluan Penyusunan Master Plan Sarana Air Bersih/Minum Untuk Kecamatan Gekbrong, Warung Kondang, Cilaku dan Kecamatan Cibeber

3 km. Ruas jalan ini di bangun untuk mengurangi kepadatan lalu lintas pada ruas jalan di depan terminal bus Rawabango. Sebuah kota tanpa dilihat ukuran besar kecilnya akan selalu dipengaruhi oleh perkembangan mobilitas dan aktivitas penduduk. Kota Cianjur yang dilintasi kota-kota besar (Bandung-Jakarta) menuntut adanya peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan yang ingin dicapai yaknimewujudkan kota Cianjur yang nyaman dan membetahkan sebagai salah satu tujuan investasi dan pariwisata andalan.Untuk itu dilakukan re-design / penataan dan pembenahan kembali kota Cianjur melalui Revisi Tata Ruang Kota Cianjur. Dalam rangka memperluas kota Cianjur, ada obsesi yang ingin diwujudkan dalam strategi jangka panjang yaitu ; pembangunan jalan lingkar timur dari awal ruas Workshop sampai akhir ruas Rawabango, pembangunan jalan tembus awal ruas jalan Sindanglaka sampai akhir ruas Rawabango dan pembangunan/relokasi sub terminal di Kawasan , Sindanglaka, Karangtengah dan Warungbatu Panembong. Masyarakat Cianjur dikenal sebagai masyarakat yang 'nyantri' religius. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin menguatnya komitmen masyarakat Cianjur untuk melaksanakan Syari'at Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan tetap berada dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B a b 2 | H a l a m a n 16