Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Industri perkapalan saat ini telah berkembang pesat yang di dukung dengan alatalat yang canggih dan para tenaga kerja yang berkualitas dan profesional. Dampaknya sangat besar bagi dunia industri perkapalan di Indonesia sebagai negara berkembang yang dituntut dengan adanya peningkatan industri untuk mengimbangi produk dari Negara - negara maju lainnya. Pemanfaatan sumber daya alam dan para tenaga kerja sebagi modal dasar yang kuat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Adapun persiapan pada bidang ilmu perkapalan di perlukan adanya generasi muda yang aktif terampil dan penuh inovasi. Mengingat akan pentingnya hal itu, taruna/taruni Akademi Teknik Perkapalan (ATP) Veteran Semarang mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang ditujukan untuk memenuhi beban kridit semester dan syarat untuk mengikuti Tugas Akhir (TA) sekaligus sebagai kegiatan yang mampu memberikan informasi dan pengetahuan di industri perkapalan. Nantinya taruna/taruni diharapkan selesai melaksanakan studinya mampu menjadi tenaga kerja yang terampil dan profesional sesuai dengan bidangnya masing - masing dan turut serta membawa industri perkapalan Indonesia ke dunia perkapalan internasional.

Syahrodin NIT : 12.010 008 AKADEMI TEKNIK PERKAPALAN VETERAN SEMARANG

B. Maksud dan Tujuan Pelaksanaan Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini penulis bagi menjadi dua yaitu: 1. Tujuan Akademis a. Memenuhi beban kredit semester dan sebagai salah satu syarat mengikuti Tugas Akhir (TA) Jurusan Teknik Bangunan Kapal di Akademi Teknik Perkapalan (ATP) Veteran Semarang, b. Memperkenalkan Akademi teknik perkapalan (ATP) Veteran semarang pada masyarakat luas khususnya PT.PAL INDONESIA dan PT.DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA. c. Menjalin hubungan kerja sama antara Akademi Teknik Perkapalan (ATP) Veteran semarang dengan instasi-instasi yang telah dikunjungi. 2. Tujuan Ilmiah a. Mengetahui secara langsung proses produksi dan penerapan teknologi yang sedang berkembang di industri perkapalan sekarang. b. Menyesuaikan teori yang disampaikan dikampus dengan kenyataan di lapangan kerja atau praktek langsung dengan cara pengamatan. c. Manerapkan ilmu yang dimiliki setiap taruna di bidangnya masing-masing. d. Menambah nilai-nilai kebangsaan taruna-taruni untuk mencintai dan

memajukan dunia maritim.

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini telah dilaksanakan pada: 1. Waktu Berdasarkan rapat bersama, Kuliah Kerja Lapangan 2012 angkatan 2010 di berangkatkan pada hari selasa, 22 februari 2012 pada pukul 19.00 wib dan tiba di surabaya pada hari rabu, 23 februari 2012. 2. Tempat Tempat pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan tahun 2012 adalah: a. PT.PAL Indonesia b. PT. DOK DAN PERKAPALAN Surabaya

D. Metode Pengumpulan Data Untuk dapat menyajkan suatu laporan dengan baik yang dapat di percaya, maka di butuhkan adanya pengumpulan data. Dalam hal ini penulis menggunakan beberapa cara: 1. Interview, yaitu tanya jawab langsung dengan nara sumber yang berhubungan dengan tujuan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL), 2. Observasi, yaitu melalui pengamatandan tanya jawab secara langsung ke lapangan mengenai obyek yang diteliti, 3. Referensi, yaitu berupa studi pustaka dan data - data dari hasil kegiatan Kuliah Kerja Lapangan.

E. Sistematika Penulisan Dalam penyusunan laporan KKL penulis bai menjadi 5 bab yaitu : BAB I : PENDAHULUAN Dalam bab ini, penulisan di arahkan pada pengulasan latar belakang, maksud dan tujuan pelaksanaan, waktu dan tempat pelaksanaan, metode penulian dan sistematika penulisan. BAB II : Dalam bab ini, berisi tentang ulasan sejarah singkat perusahaan PT. PAL INDONESIA, pelaksanaan program ahli tekhnologi, program produksi,

pengembangan perusahaan dan ketenagakerjaan di PT. PAL INDONESIA. BAB III : Dalam Bab III berisi tentang ulasan sejarah singkat dari perusahaan PT. DOK DAN PEKAPALAN SURABAYA, serta fasilitas-fasilitas dari perusahaan tersebut. BAB IV : PENUTUP 1. Kesimpulan 2. Saran

BAB II PT. PAL INDONESIA

A. Sejarah Berdirinya PT. PAL Indonesia Pada awalnya industri perkapalan di Surabaya dibangun atas gagasan dari Gubernur Jendral C.D Capellen pada tahun 1822 guna menunjang armada laut Belanda di kawasan Asia. Gagasan ini terwujud tahun 1849 dengan membangun sarana pendukung dan pada tahun 1939 sarana tersebut resmi menjadi milik pemerintah Belanda dengan nama Marine Estalishment , kemudian dikembangkan lagi menjadi pangkalan angkatan laut kerajaan Belanda. Ketika kekuasaan Belanda jatuh ke tangan Jepang Fungsu, dari Merine Estalishment tidak mengalami perubahan yaitu tetap digunakan sebagai sarana perbaikan dan pemeliharaan kapal terutama kapal-kapal angkatan laut Jepang di bawah pengawasan koigensi, tidak lama kemudian dikuasai oleh Belanda dan pada tanggal 27 Desember 1949 diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Sarana itu diberi nama Penataran Angkatan Laut (PAL) yang digunakan sebagai perbaikan dan pemeliharan kapal serta sebagai pangkalan angkatan laut. Menurut peraturan pemerintah No. 4 tahun 1980 dengan akta pendirian tanggal 15 April 1980 nama PAL (Penataran Angkatan Laut) diubah menjadi PT. PAL Indonesia di bawah pimpinan Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie.

B. Latar Belakang Pembentukan Pusat Industri Maritim Keadaan industri perkapalan sebelum PT. PAL berdiri kegiatan industri perkapalan nasional mengarahkan pada masalah-masalah di bidang: 1. Pertahanan dan keamanan armada niaga dan armada keamanan. 2. Perhubungan antarpulau armada niaga dan ferry. 3. Kapal penelitian, rambu-rambu, kapal tunda, kapal bantu dan kapal inspeksi. Yang secara bertahap mampu melayani sebagian besar permintaan dalam negeri dan bahkan telah mampu menerima pesanan dari luar negeri. Namun demikian industri ini masih banyak ketergantungan dengan negara lain terutama mengenai perangkat keras telah mengalami banyak kemajuan. Sebagai contoh saat PT. PAL didirikan di Indonesia terdapat 99 galangan dengan 40 perusahaan dan kapasitas yang dapat dibangun 38000 BRT dan kapasitas docking 1.000.000 BRT pertahun. Sehinga kehadiran PT. PAL sangat diperlukan dan dijadikan sentral industri perkapalan nasional.

C. PT. PAL Sebagai Pusat Industri Maritim Mulai tahun 1980 PT. PAL Indonesia sebagai pusat industri berat di bidang perkapalan yang paling menonjol. Hal ini didukung dari segi teknologi, penyiapan program dan pelaksanaan produksi kemudian dijadikan salah satu industri strategis nasional di bawah langsung Menteri Riset dan Teknologi.

Dengan semakin majunya PT. PAL diharapkan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab antara lain: 1. Mengusahakan dan mengembangkan perbaikan dan pemeliharaan industri perkapalan untuk menunjang pertahanan nasional. 2. Menjamin perbaikan dan pemeliharaan kapal-kapal TNI-AL RI. 3. Sebagai pusat penelitian dan pengembangan industri perkapalan di Indonesia.

D. Pelaksanan Program Alih Teknologi di PT. PAL Indonesia Industri perkapalan dalam kaitannya dengan pembangunan mempunyai peranan yang cukup penting baik untuk sistem pertahanan dan keamanan nasional, kelancaran mekanisme perdagangan dalam dan luar negeri maupun bagi kelancaran pemerataan hasil pembangunan. Oleh karena itu, sektor industri ini perlu terus ditumbuhkembangkan agar dapat berproduksi sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan pembangunan dari segi jumlah, kapasitas dan kualitasnya. Dalam melakukan program alih diperlukan tahap-tahap: 1. Penggunaan teknologi yang ada untuk proses nilai tambah dalam rangka memproduksi barang yang laku di pasaran. 2. Mengembangan teknologi yang ada untuk menghasilkan barang baru yang laku di pasaran. 3. Integrasi yang ada untuk merangsang barang yang diperlukan untuk masa mendatang.

Gambar 2.1
LAY OUT PT. PAL INDONESIA

E. Program Produksi PT. PAL Indonesia Program produksi PT. PAL Indonesia dilaksanakan oleh lima divisi sebagai berikut: 1. Divisi Kapal Perang Pengembangan kapal perang di PT. PAL ditangani oleh divisi kapal perang yang telah dilaksanakan oleh teknologi yang mulanya dengan mentransfer teknologi kapal perang dan melalui proses nilai tambah dengan memproduksi kapal patroli, kapal jet foil, berdasarkan lisensi dari galangan kapal Jerman Barat dan Amerika Serikat. Kapal yang pernah dibuat PT. PAL : a. FPB 57 Kerja sama PT. PAL dengan galangan kapal FWL dari Republik Federasi Jerman. Kapal patroli cepat dengan panjang 57 m, diplasemen 400 ton, kecepatan jelajah 28,0 knots dan kecepatan maksimum 29,6 knots.

Gambar 2.2 kapal perang jenis FPB 57

10

b. FPB 28 Kapal patroli cepat dengan panjang 28 m dan berat mati 60 DWT dirancang untuk patroli pengamanan untuk pelabuhan dan pantai pengawasan lalu lintas dan keperluan patroli lainnya. Kapal ini terbuat dari kayu yang terdiri dari dua lapis, pada lapisan dalam kayu meranti merah dan bagian dalam kayu jati dengan menggunakan rangka dari aluminium alloy. Kapal ini mempunyai kecepatan jelajah 28,50 knots dan kecepatan maksimum 30 knots.

Gambar 2.3 kapal perang FPB 28 c. Jet foil Jet foil model 119 dan 120 didisain untuk tugas pengangkutan pasukan dengan daya angkut 100 pasukan senjata lengkap dan kecepatan jelajah 45 knots. Jet foil ini mempunyai ukuran panjang 21,45 m dan lebar 9,10 m

11

dengan

sistem

pendorong

sebagai

penggeraknya

yaitu

turbin

gas

menggerakkan water jet propulsion.

Gambar 2.4 Salah satu kapal jet foil 2. Divisi Kapal Niaga Divisi ini pada tahap awal telah memproduksi kapal dan dok apung serta memproduksi kapal-kapal antara lain: a. Kapal tanker 3500 DWT Kapal ini merupakan kapal pesanan dari pertamina dengan tipe kapal product carrier. b. Kapal caraka jaya Kapal caraka jaya diproduksi untuk mengganti kapal-kapal yang telah tua dan tidak mengaktifkan pelayaran nasional. Semua kapal-kapal tersebut

merupakan karya dari putra Indonesia bekerja sama dengan Jepang. Kapal ini diproduksi dengan beberapa jenis, yaitu:

12

1) Caraka jaya 1000 DWT 2) Caraka jaya 2500 DWT 3) Caraka jaya 3000 DWT Divisi ini juga memproduksi kapal utility vessel yang merupakan kapal pelayaran proyek pengembangan lepas pantai dari pertamina. 3. Divisi Perbaikan dan Pemeliharaan Kapal Pengembangan dan perbaikan kapal merupakan salah satu kegiatan pengembangan teknologi perkapalan. Pemeliharaan dan perbaikan kapal merupakan bagian dari manajemen kapal yang ke semuanya telah dirancang dan diperhitungkan sejak kapal masih dalam tahap perencanaan. Indonesia memerlukan armada kapal yang besar untuk melayani pelayaran nasional dan menunjang pembangunan. Bidang pemeliharaan dan perbaikan harus direncanakan dan dilaksanakan dengan baik sebagaimana disyaratkan dalam pengembangan teknologi. Dalam hal ini PT. PAL mendapatkan tugas sebagai pusat pengembangan teknologi perkapalan yang harus memperbaiki dan memelihara secara terus menerus. Melihat kebutuhan kapal yang terus meningkat kagiatan pemeliharaan dan perbaikan kapal juga terus bertambah. Kesulitan akan terus dihadapi industri perkapalan di Indonesia karena beban kerja yang belum teratur dengan baik sehingga perlu diupayakan untuk menjaga keseimbangan produksi, pembaharuan, peningkatan, kreatifitas tenaga kerja.

13

PT. PAL adalah BUMN yang bertugas untuk mendapatkan keuntungan bagi negara, maka biaya operasi kegiatan pemeliharaan dan perbaikan yang harus di perhatikan adalah modal kerja, investor, biaya pemasaran dan bunga modal yang ditanam. Biaya pemeliharaan dan perbaikan merupakan perpaduan antara unit organisasi teknis sehingga dalam pengembangan kemampuan karyawan dalam bidang perbaikan dan pemeliharaan di PT. PAL dilaksanakan dalam bidang: a. Sistem informasi, manajemen produksi, rencana pengawasan. b. Teknik produksi, prosedur, pengolahan, pemeliharaan, dan perbaikan kapal. c. Jaminan dan kendali mutu. d. Pemasukan bahan. e. Peningkatan sumber daya manusia. Pemeliharaan dan perbaikan kapal meliputi bidang pekerjaan lambung mesin, listrik, elektronika, dan senjata. Divisi ini merupakan divisi yang paling sibuk di mana harus melayani kapal-kapal dari perusahaan dan kapal-kapal dari angkatan laut. Oleh karena itu, perlu didukung oleh fasilitas yang memadai seperti: a. Graving dock 20000 TLC b. Graving dock 30000 TLC c. Graving dock 5000 TLC d. Graving dock 1500 TLC e. Shift lift 2000 TLC (divisi kapal perang) f. Floating 200 ton dan 50 ton

14

Perbengkelan: a. Bengkel lambung b. Hull construction c. Machine shop d. Alat-alat navigasi e. Alat-alat komunikasi Sistem penunjang : a. Sistem udara tekan b. Sistem air laut dan air tawar c. Sistem gas oksigen d. Sistem pemadam kebakaran e. Sistem uap air Untuk kelancaran dalam pemeliharaan dan perbaikan kapal dikenal prinsip yang berlaku yaitu: kapal selam akan direparasi oleh galangan kapal tertentu tidak akan diganti oleh galangan yang lain. Untuk itu harus memiliki catatan riwayat reparasi sehingga lebih mudah dan cepat dalam penanganan. Keuntungan dari sistem ini adalah : a. Catatan riwayat reparasi tersimpan di galangan yang menangani sehingga memudahkan dalam perbaikan berikutnya. b. Jadwal reparasi dapat direncanakan secara teratur dan membantu kesiapan dari galangan. c. Pekerjaan reparasi dapat diketahui oleh galangan secara teratur.

15

4. Divisi Rekayasa Umum Dalam pengembangan, PT. PAL juga menangani industri di luar industri perkapalan di bidang rekayasa. Rekayasa ini meliputi rakayasa bidang industri, rekayasa konstruksi baja rekayasa komponen kapal. Rekayasa dalam bidang industri yaitu memproduksi peralatan energi antara lain komponen pembangkit listrik tenaga uap berupa storage tank sebagai komponen rekayasa ini adalah kepercayaan yang diberikan perusahaan Mitsubishi kepada PT. PAL untuk melaksanakan pekerjan tersebut. Selain itu juga memproduksi beberapa peralatan yang menunjang industri berat maupun ringan yaitu mesin-mesin diesel hasil rekayasa yang mendapat lisensi dari luar negeri. PT. PAL mengadakan kerja sama dengan beberapa perusahaan untuk membuat mesin diesel. Mesin diesel yang telah diproduksi antara lain: a. MAN 4 silinder b. WARTSILA 4 silinder c. MAK 4 silinder Kegiatan rakayasa di bidang mesin dilakukan secara bertahap mulai dari kegiatan assembling, uji coba, pembuatan konstruksi dan sistem perpipaan. Program pembuatan mesin diesel ini diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan kapal. Selain itu juga dapat meningkatkan ketrampilan dalam perbaikan dan overhoul mesin diesel, ketelitian dan kepekaan dalam mencari

16

kerusakan mesin diesel serta meningkatkan keahlian dalam penyetelan mesin diesel. Keuntungan lain yang didapat oleh PT. PAL adalah dapat memungkinkan pemasaran suku cadang dan komponen mesin diesel dan dapat memanfaatkan fasilitas untuk menjual jasa uji coba mesin pada pihak luar PT. PAL juga mampu membuat terobosan dalam bidang rekayasa. Konstruksi baja yaitu untuk membangun jembatan penghubung antara pulau Jawa dan Madura. Untuk melengkapi kebutuhan komponen kapal PT. PAL juga telah berhasil memproduksi berbagai kelengkapan lainnya yang diharapkan mampu mencukupi kebutuhan dalam industri perkapalan. 5. Divisi lain-lain Dalam mencukupi kebutuhan tenaga kerja yang terampil PT. PAL mendidik anak muda yang beminat yaitu bekerja sama dengan pihak Depdikbud dengan sarana gedung PUSDIKLAT yang mampu menampung 1000 siswa dengan fasilitas bengkel, kelas dan aula. Pembangunan ini bekerja sama dengan pihak Jerman. PT.PAL juga memperoleh arealnya dari 140 Ha menjadi 450 Ha untuk menunjang perkembangan yang semakin pesat.

17

F. Pengembangan Perusahaan 1. Bidang Nonkapal (General Engineering) Dengan bekal keahlian di bidang perkapalan, perusahaan telah memasuki bidang produksi nonkapal. Keterampilan yang telah dipupuk tahap demi tahap yang ditunjang oleh fasilitas mesin NC dan CNC yang modern serta diesel engine test bench telah menghasilkan kemampuan untuk memproduksi balance of paint. Komponan stasiun pembangkit listrik sampai dengan 6000 MW (Boiler, Steam, Turbine) serta merakit dan menguji mesin diesel sampai dengan 10000 BHP. Di samping itu, perusahaan juga mengembangkan kemampuan untuk memproduksi baja berat seperti berbagai jenis crane bejana bertekanan untuk industri, produk nonkapal yang telah dihasilkan: a. Komponen pembangkit tenaga berkapasitas sampai dengan 600 MW untuk PLTU/PLTG Surabaya Paiton dan Muara karang. b. Komponen untuk stasiun pembangkit tenaga Fukuyama dan Chita di Jepang. c. Assembling mesin diesel: 1) 18 unit mesin diesel 2050 HP, 2) 15 unit mesin diesel 1,2 MW sampai dengan 2,8 MW untuk generator pembangkit tenaga listrik PLTD. d. Peralatan angkat (overheat crane) peralatan mekanik dan peralatan pabrik baja nasional PT. Krakatau Steel. e. Peralatan angkat level lifting crane 15 ton sebanyak 3 unit.

18

f. Turbin compression module seberat 250 ton dengan turbin penggerak kekuatan 5500 TK untuk mendukung pengeboran minyak di laut. g. Satu unit Low Pressure Casing dan massa unit Start Up komponen 1400 MW Bursa Turkey Natural Gas Combined Cycle Power Plant pesanan dari Turki. 2. Bidang Rancang Bangun Sebagai pusat indurtri maritim PT. PAL perlu terus meningkatkan kemampuan rancang bangun, rekayasa dan manufacturing yang dibantu komputer. Saat ini PT. PAL telah memiliki fasilitas rencana bangun dan rekayasa canggih berbasis komputer berupa CAD CAM (Computer Audit Design and Computer Audit Manufacturing). Sistem dengan softwere CAD CAM dan FORAN V.30 serta mesin-mesin NC dan CNC untuk proses manufakturingnya. 3. Pengembangan Sumber Daya Manusia Pada tahap pertama alih teknologi di mana perusahaan dituntut untuk dapat memahami dan menguasai teknologi yang telah ada dan mengaplikasikannya dalam suatu proses produksi, maka perusahaan telah mengkonsentrasikan sumber daya manusia dengan kualifikasi tenaga terampil melalui penyelenggaraan pelatihan program terhadap karyawan yang ada dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dasar serta penyelenggara program pendidikan sistem ganda. Pada tahap kedua keahlian yang dituntut adalah penguasaan bidang rancang bangun dan rekayasa di samping manajerial untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai teknologi. Untuk itu perusahaan pada penyiapan tenaga engineer/desingner dengan kualifikasi SI dan penyelenggaraan program

19

pendidikan master untuk memberi keahlian tambahan sebagai mediator antara engineer dan tenaga terampil. Pada tahap ketiga merupakan tahap dilakukan inovasi dan penciptaan teknologi untuk merancang produk masa depan. Dalam hal ini PT. PAL dengan melakukan sendiri atau kerjasama dengan BPPT dalam program STAID dengan meningkatkan program pendidikan karyawan ke jenjang S1, S2, S3 dengan pemberian beasiswa baik di dalam maupun di luar negeri bagi karyawan atau nonkaryawan yang berpotensi. Untuk menunjang proses alih teknologi secara keseluruhan, maka karyawan juga dibekali dengan sikap mental yang mendorong untuk selalu ingin berinovasi dengan melalui penyelenggaraan pelatihan pengendalian mutu dan penyelenggaraan konvensi gugus kendali mutu. Sampai saat ini perusahan telah berhasil menyelenggarakan pelatihan manajemen berjenjang yang terdiri pelatihan manajemen puncak yang ditujukan terutama bagi karyawan di posisi manajerial. Sedang bagi karyawan di posisi lain diberikan fasilitas atau kesempatan latihan spesialisasi di bidang tertentu seperti produksi, komputer, pengoperasian peralatan produksi, akuntansi sekretariatan dan lain sebagainya. PT. PAL sebagai salah satu perusahaan milik negara yang bergerak di bidang industri perkapalan sangat membutuhkan banyak tenaga kerja baik tenaga kerja profesional maupun tenaga kerja non profesional, disamping itu juga membutuhkan berbagai keahlian dari mulai desain, rekayasa, permesinan, dan electric.

20

G. Ketenagakerjaan PT. PAL dalam melaksanakan produksi membutuhkan tenaga kerja yang terlatih terdidik dan berpengalaman. Adapun karyawan PT. PAL dibagi dalam: 1. Karyawan tetap Karyawan tetap adalah karyawan yang telah resmi bekerja di PT. PAL ternasuk penerima beasiswa di luar negeri dan harus mentaati semua peraturan di PT. PAL dan bertanggung jawab terhadap semua kemampuan dan kemajuan di PT. PAL, jumlah karyawan di PT. PAL kurang lebih 6500 orang yang mempunyai tingkat pendidikan yang beragam dan untuk meningkatkan QDC (Quality, Cost, Delivery), maka PT PAL meningkatkan kemampuan SDM-nya dengan cara mengirim karyawanya yang berpotensi ke luar negeri. 2. Karyawan tidak tetap Karyawan tidak tetap adalah karyawan yang bekerja di PT. PAL, tetapi tidak ikut dalam keorganisasian di PT. PAL melainkan ikut dalam salah satu dari perusahaan atau kontraktor yang menjalin suatu proyek kerjasama dan hanya beberapa waktu tertentu. Adapun perbedaan karyawan tetap dan karyawan tidak tetap adalah karyawan tetap dalam sehari-harinya harus mengenakan seragam lengkap dengan tanda pengenal yang ditetapkan oleh PT. PAL sedangkan karyawan tidak tetap memakai seragam yang berbeda dengan karyawan tetap di PT. PAL.

21

BAB III PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA

A. Sejarah Berdirinya PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA Sejarah singkat PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (PERSERO). Didirikan pada tanggal 22 September 1910 oleh pengusaha Belanda di Amsterdam, dihadapan Notaris J.P. Smits dengan nama NV. DROOGDOK MATSCHAPPIJ SOERABAJA. 1. Tahun 1942 1945 selama pendudukan Jepang, perusahaan dipegang oleh Jepang dan diberi nama HARIMA ZOSEN. 2. Tanggal Indonesia. 3. Tahun 1945 1957 dikuasai kembali oleh Belanda dengan nama NV. DROGGDOK MATSCHAPPIJ SOERABAJA. 4. Akibat konfrontasi Indonesia dengan Belanda (Trikora) dengan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958 NV. DROGGDOK MATSCHAPPIJ SOERABAJA diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dikelola oleh B.P.U. Maritim. 5. Tanggal 1 Januari 1961 melalui Peraturan Pemerintah No.109/1961, tanggal 17 April 1961, resmi menjadi Perusahaan Negara dengan nama P. N. DOK 17 Agustus 1945 menjadi milik Pemerintah Republik

DAN PERKAPALAN SURABAYA.

22

6. Melalui Peraturan Pemerintah No.24 tahun 1975 P.N. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA berubah status dan nama dari Perusahaan Negara (PN), menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO) 7. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.10 tahun 1984, tanggal 28 Nopember 1984 PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO) yang semula berada dalam pengawasan / pembinaan Departemen Perhubungan, dialihkan menjadi dalam pengawasan/pembinaan Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) 8. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.50 tahun 1998, tanggal 13 April 1998 kedudukan tugas dan kewewenangan Menteri keuangan selaku Pemegang Saham dan RUPS atas Perseroan Terbatas dialihkan menjadi tanggung jawab Menteri Negara Pendayagunaan BUMN.

23

Visi dan Misi Perusahaan Visi : a. PT. Dok Dan Perkapalan mampu menjadi galangan kapal yang mampu bersaing di pasar internasional. Misi a. PT.Dok dan Perkapalan menjadi perusahaan yang tanguh dan mampu memenuhi apa yang dibutuhkan oleh castumer. b. PT.Dok dan Perkapalan terus berkembang menjadi perusahaan yang besar dibidang perkapalan. c. PT.Dok Dan Perkapalan memberikan pelayanan yang optimal sehingga mampu memberikan kepuasan kepada pelangaan dan share holder.

B. Kegiatan Usaha PT. Dok dan Perkapalan Surabaya sebagai perusahaan galangan kapal melayani kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 1. Perbaikan Kapal PT. Dok dan Perkapalan Surabaya melayani perbaikan kapal besar/kecil, kapal dengan pelayaran samudra atau pantai untuk segala macam tipe sesuai dengan kapasitas flotaing dock yang dimiliki. 2. Ship Convertion Melakukan modifikasi bentuk maupun fungsi dari kapal.

24

3.

Running Repair PT. Dok dan Perkapalan Surabaya melayani perbaikan kapal yang dilakukan pada saat kapal berlayar atau kapal mengalami kerusakan di pelabuhan lain.

4.

New Building (kapal baru) PT. DPS dapat membuat kapal baru dengan berbagai tipe.

5.

Off Shore Construction Selain bergerak dibidang perkapalan, PT. DPS juga menerima pesanan pembangunan bangunan lepas pantai dll.

C. Fasilitas Galangan PT. Dok dan Perkapalan Surabaya memiliki fasilitas pendukung pembuatan kapal serta management yang baik sehingga mendapatkan ISO 9001, hal ini sebagai bukti bahwa management yang mengolah PT. Dok dan Perkapalan bekerja dengan baik.

D. Fasilitas pengedokan Kapal Fasilitas-fasilitas yang telah dimiliki PT. Dok dan Perkaplan Surabaya sebagai penunjang proses perbaikan kapal antara lain sebagai berikut : 1. Floating Dock Surabaya I a. Sistematika Pengedokan Secara umum proses sistematika dalam pengedokan tersendiri dapat diuraikan dalam beberapa item sebagai berikut:

25

1) Perusahaan (Owner) Menghubungi perusahaan galangan kapal (dalam hal ini PT. Dok & Perkapalan Surabaya) guna minta antrian pengedokan perbaikan kapal. 2) PT. Dok & Perkapalan Surabaya memproses berdasarkan data yang diberikan oleh owner (dijelaskan lebih lanjut pada proses pengedokan) 3) Kemudian dilakukan langkah: a) Docking Space b) Repair list 4) Calculation 5) Pranegitiation 6) Contract 7) Dock Regulation 8) Draft Bill 9) Final Calculation 10) Pada langkah tersebut pihak owner diwakoli oleh OS (Owner Surveyor) 11) Setelah mencapai titik kesepakatan maka pihak owner maupun pihak galangan kapal, menghubungi anak buah kapal untuk naik dok guna persiapan

peralatan yang dibutuhkan dalam proses pengedokan. 12) Selama kapal yang akan melakukan pengedokan (antri masuk dok) pihak PT. Dok & Perkapalan Surabaya melakukan floating Repair dengan tujuan untuk efisiensi waktu yang digunakan dalam proses perbaikan kapal.

26

13) Setelah mooring quay habis, kapal mulai memasuki dok yang sebelumnya telah dipersiapkan bantalan-bantalan yang telah disesuaikan peletakannya sesuai alur gading-gading utama kapal yang akan melakukan pengedokan, dengan fasilitas-fasilitas yang telah dipersiapkan oleh PT. Dok & Perkapalan Surabaya antara lain: a) Diberikan asistensi tug boat untuk sandar atau datang dan saat kapal meninggalkan galangan hal ini membutuhkan waktu sekitar 2 3 hari b) Diberikan asistensi line handler saat kapal datang, naik turun dok serta saat kapal meninggakan galangan. c) Diberikan fasilitas sandar kade sebelum/sesudah docking. d) Kapal dinaikkan diatas dock guna dilakukan pengerjaan dibawah garis air e) Disupply aliran listrik kekapal untuk lampu penerangan/power consumption dikapal selama perbaikan; 380V/50Hz, 3Phase, 60A f) Diberikan 2 buah selang air laut untuk pemadam kebakaran selama kapal dalam perbaikan g) Diberikan 5 ton air tawar setiap hari untuk keperluan MCK ABK selama kapal dalam perbaikan. h) Diberikan 1 buah bak sampah dikapal selama kapal dalam proses perbaikan dan sampah dibuang 3 hari sekali.

27

i) Setelah proses perbaikan dibawah garis air selesai maka kembali dilakukan floating repair dengan tujuan effisiensidock space, sehingga dok bisa digunakan kapal yang lainnya. b. Proses Pengedokan 1) Proses persiapan kapal a) Kapal ditambatkan di Dermaga dan mematikan semua mesin utama kapal. b) Menurunkan barang-barang yang tidak dipelukan dalam proses perbaikan kapal, misalnya drum dan barang lainnya yang mudah bergeser. c) Memasukan alat-alat yang menonjol keluar kapal misalnya stabilisato kapal. d) Kapal diusahakan tegak tidak dalam posisi miring ataupun nungging. e) Kapal yang naik dock diusahakan dalam keadaan free gas demi keselamatan karyawan dalam proses perbaikan. f) Menyediakan tali temali, fender dan peralatan yang lain yang dapat digunakan sewaktu-waktu. g) Menyediakan kapal tunda sebagai pemandu kapal. h) Pengosongan tangki, baik tangki bahan bakar, pelumas, ballast dll. i) Menyediakan gambar yang dibutuhkan dalam proses pengedokan, seperti a. General arrangement b. Midshipman section c. Lines plan d. Shell expantion

28

j)

Memperhatikan posisi waktu gelombang air (pasang/ surut) untuk proses pemasukan kapal maupun pengeluaran kapal dari dock dengan dibantu kapal bantu dantug boat. a. General arrangement b. Midshipman section c. Lines plan d. Shell expantion e. Lainnya yang dibutuhkan. Memperhatikan posisi waktu gelombang air (pasang/ surut) untuk proses pemasukan kapal maupun pengeluaran kapal dari dock dengan dibantu kapal bantu dantug boat.

c. Persiapan Docking Oleh Pihak Galangan 1) Pengosongan kolam dok dengan menutup pintu air (ponton) dimana pintu air ini sendiri merupakan pintu berbentuk balok yang bagian tengahnya terdapat ruangan untuk air, dan menyedot air yang ada dalam kolam dengan menggunakan pompa. 2) Setelah dok kolam kosong maka dilakukan pemasangan bantalan dudukan kapal, peletakannya disesuaikan gading-gading utama daripada kapal itu tersendiri. 3) Kemudian dilakukan pengisian air kembali pada kolam setinggi water float dengan membuka pintu induk .

29

4) Pengosongan air dalam ponton agar massa dalam ponton tersebut menjadi ringan sehingga mengapung dan dapat dengan mudah dipindahkan. Dengan bantuan tali dan ditarik ke bagian samping dok kolam. 5) Kapal dimasukkan dengan bantuan tali temali dan di tempatkan pas terhadap bantalan yang telah di sediakan sebelumnya sesuai center line yang ada. 6) Penutupan ponton kembali dengan bantuan tali temali di paskan pada gerbang dan kembali diisi air pada bagian dalamnya, dan kemudian dilakukan pengosongan kolam dengan bantuan pompa. d. Proses Pemasukan dan Pengeluaran Kapal dari Dok 1) Proses Pemasukan Kapal Sebelum memasukkan kapal perlu kita perhatikan hal-hal sebagai berikut: Mesin harus mati kecuali mesin winch a) Kapal diatur supaya trim yang terjadi adalah trim minimum, dimana jarak antara trim haluan dan buritan adalah 2 meter. b) Kapal harus bebas dari muatan berbahaya dan gas c) Kesiapan fasilitas sandar (bolder, tali, crew dock dll) Selain memperhatikan hal-hal tersebut diatas perlu juga dipersiapkan hal-hal sebagai berikut: a) Pengaturan keel block dan side block, pada side block mengacu pada docking line plan b) Pada keel block 1 m terdiri dari beton cor setinggi 70cm dan bantalan kayu keras setinggi 30 cm.

30

c) Peninggian side block diatur sesuai bentuk gading-gading kapal. d) Kapal-kapal dengan lebar sama atau lebih dari 16m dibuat side block antara, dimana jarak antar block maksimal 2 m atau diatur tumpuan maksimal pada landasan graving tidak lebih. e) Posisi bottom plug, peralatan elektronik dibawah kulit lambung, sea chest, dan sepatu kemudi tidak boleh bertumpu pada stop block. f) Jarak pengaturan lock sebagai berikut: a. Penempatan keel block, side block dan side block antara diusahakan bertumpu pada wrang-wrang double bottom, sekat melintang dan memanjang sekat melintang dan memanjang untuk menghindari deformasi pada plat bottom. b. Penandaan garis, titik, untuk posisi acuan pembentukan kapal. c. Persiapan tug boat, dock master dan crew dock,batang stut ukuran, tali-temali, tangga dan lain-lain. d. Setelah pekerjaan persiapan selesai, kapaldapat dimasukkan, urutan sesuai dengan proses docking. 2) Proses Pengeluaran Kapal dari Dock Apabila proses perbaikan selesai, maka kapal telah siap dikeluarkan dan dapat melakukan prises finising di dermaga. Adapun proses pengeluaran kapal dari dock adalah sebagai berikut: a) Semua perlatan kerja dalam graving dock dikeluarkan semuanya terlebih dahulu, begitu pula kotoran hasil reparasi.

31

b) Kran pintu induk dock dibuka sehingga air masuk ke dalam graving dock, setelah air yang masuk setinggi permukaan air laut maka pintu ponton akan terangkat dengan sendirinya. c) Pada waktu kapal mulai terapung side block yang terikat dengan tali ditarik dari posisinya kemudian diletakkan disamping.
d) Stoot-stoot samping diambil dan kapal ditarik keluar denga e) n bantuan tug boat.

e. Fasilitas Bengkel PT. Dok dan Perkapalan Surabaya memiliki fasilitas bengkel untuk bangunan baru dan reparasi, antara lain : 1) Bengkel Plat a) Mesin cutting plat otomatis b) Mesin press 5 ton c) Mesin bending sampai dengan 30 ton d) Over head Traveling Crane 5 ton dan 15 ton e) Mesin pelipat plat f) CNC 2) Bengkel MesiN a) b) c) d) Propeler Balancer Mesin Bubut dengan berbagai ukuran Peralatan Las Perkakas Overhaul mesin

32

e) f) g)

Mesin Fraise dan Drill dengan kecepatan tinggi Dan peralatan penunjang lainnya Dan peralatan penunjang lainnya

3) Bengkel Outfitting a) b) c) Outfitting pipa Outfitting kayu Outfitting layer dan cat

4) Bengkel Pipa Sistem pipa merupakan bagian utama suatu sistem yang

menghubungkan titik dimana fluida disimpan ke titik pengeluaran semua pipa baik untuk memindahkan tenaga atau pemompaan harus

dipertimbangkan secara teliti karena keamanan dari sebuah kapal akan tergantung pada susunan perpipaan seperti halnya pada perlengkapan kapal lainnya. Selain itu fungsi dari bengkel pipa yaitu untuk merancang dan menyusun sistim instalasin perpipaan pada kapal, sistem instalasi ini harus disusun sedemikian rupa agar sistim pipa tersebut memenuhi syarat klasifikasi yang di gunakan. Setelah tahap tersebut selesai maka pipa-pipa tersebut dibawa ke tempat pemasangan atau tempat docking kapal.

33

f. Bahan Pipa Bahan pipa yang digunakan di kapal adalah : 1) pipa baja tanpa sambungan (Seamless Drawing Steel Pipe)

Gambar 3.1 Seamless Drawing Steel Pipe Pipa jenis ini digunakan untuk semua penggunaaan dan dibutuhkan untuk pipa tekan dan sistem bahan bakar dari pompa injeksi bahan bakar motor pembakaran dalam. 2) Seamless Drawn Pipe dari Tembaga atau Kuningan Pipa jenis ini tidak boleh digunakan pada temperatur lebih dari 406 F dan tidak boleh digunakan pada super heater (uap dan panas lanjut).

34

Gambar 3.2 Seamless Drawn Pipe 3) Lap Welded / Electric Resistence Welded Steel Pipe

Gambar 3.3 Lap weldede steel pipe Electric

gambar 3.4 resistence welded steel pipe

Pipa jenis ini tidak diijinkan untuk digunakan dalam sistem di mana tekanan kerja melampaui 350 Psi atau pada temperatur di mana sistem yang dibutuhkan pipa tekanan tanpa sambungan.

35

4) Baja Schedule 40 Pipa ini dilindungi terhadap kerusakan mekanis yaitu perlindungan menyeluruh dengan sistem galvanis. Dengan sistem perlindungan tersebut maka pipa dapat digunakan untuk supplai air laut, dapat juga untuk saluran sistem bilga, kecuali dalam ruangan yang kemungkinan mudah terkena api sehingga dapat melebar dan merusak sistem bilga.

Gambar 3.5 Baja Schedule 40 5) Pipa Schedule 80 120 Pipa jenis ini diisyaratkan mempunyai ketebalan yang lebih tebal dibandingkan dengan jenis pipa yang lain. Dalam penggunaan pipa schedule 80 120 dapat difungsikan sebagai pipa hidrolis yaitu pipa dengan aliran fluida bertekanan tinggi.

36

6) Pipa Galvanis

Gambar 3.6 Pipa Galvanis Pipa jenis ini digunakan untuk supplai air laut (sistem Ballast dan Bilga). g. Bahan katup dan peralatan 1) Kuningan (Bross) Katup dengan bahan ini digunakan untuk temperatur di bawah 450 F. Bila temperatur lebih besar dari 550 F maka digunakan material perunggu. Biasanya mempunyai diameter 3 inchi dan tekanan kerja dapat lebih besar dari 330 Pcs. 2) Baja Cor/Tuang Dapat dipakai pada setiap sistem dan untuk semua tekanan/ temperatur. 3) Besi Cor dan Campuran Setengah Baja Dapat digunakan untuk temperatur yang tidak melebihi 450 F. Kecuali jika untuk sistem yang bersangkutan diperlukan bahan lain.

37

h. FLENS Flens dipakai untuk sistem pipa, dapat dipasang pada pipa pipa dengan salah satu cara di bawah ini dengan mempertimbangan bahan yang dipakai. 1) Pipa Baja Pipa baja dengan diameter normal lebih dari 12 inchi harus dimuaikan (expanded) ke dalam flens baja atau dapat dibaut pada flens atau dilas. 2) Pipa non ferro Harus dipatri (solder trased) tetapi untuk diameter lebih kecil atau sama dengan 2 inchi dapat dibaut i. Ketentuan Umum Sistem Pipa Inside Diameter (mm) 6 10 15 20 25 32 40 50 65 80 100 Nominal Size (inch) 3/8 1 1 1 2 2 3 4 Outside Diameter (mm) 10.5 17.3 21.7 27.2 34.0 42.7 48.6 60.5 76.3 89.1 114.3 SGP Tebal (mm) 2.0 2.3 2.8 3.2 3.5 3.5 3.8 4.2 4.2 4.5 4.5 1.7 2.3 2.8 2.9 3.4 3.6 3.7 3.9 5.2 5.5 6.0 2.4 3.2 3.7 3.9 4.5 4.9 5.1 5.5 7.0 7.6 8.6 Schedule (mm) Schedule (mm)

38

125 150 200 250 300 250 400 450

5 6 8 10 12 14 16 18 20

139.8 165.2 216.3 267.4 318.5 355.6 406.4 457.2 508.0

5.0 5.8 6.6 6.9 7.9 7.9 -

6.6 7.1 8.2 9.3 10.3 11.1 12.7 -

9.5 11.0 12.7 -

500

Sumber : JIS Th. 2002 Tabel 3.1 Standart Ukuran Pipa 2. Floating Dock Surabaya II a. Menggunakan sistem pengapungan dok yang sama seperti floating dock yang lain. b. Mempunyai dimensi panjang 84,97 m; tinggi 9,9 m; dan lebar 16,4 meter. c. Mempunyai kapasitas apung 2500 TLC. ( ton lifting capacity ). d. Dilengkapi dengan 2 buah Crane yang berada di sisi floating dock. 3. Floating Dock Surabaya IV a. Mempunyai kapasitas apung 2000 TLC. b. Mempunyai fasilitas 2 buah Crane yang berada disisi floating dock. c. Menggunakan sistem perpompaan elektrik yang dioperasikan di Control House. d. Mempunyai dimensi panjang 92 m; tinggi 9,9 m; dan lebar 16 m.

39

4. Floating Dock Surabaya V a. Mempunyai kapasitas apung 6000 TLC. b. Menggunakan sistem perpompaan elektrik yang dioperasikan dari Control House. c. Mempunyai fasilitas Crane dengan kapastias 6 ton. d. Mempunyai Dimensi panjang 152,52 m; tinggi 14 m; dan lebar 24 m.

Gambar 3.7 Floating dock PT. Dok dan Perkapalan Surabaya 5. Fasilitas Transportasi

Sarana transportasi merupan saraba yang dibutuhkan dalam jalannya proses produksi.

40

a. Fork Lift Sarana kendaraan sebagai pengangkut bahan-bahan material dan peralatan lainnya. b. Crane 1) Rail Way Crane Berbentuk Crane yang dapat berjalan dengan kapasitas 7 ton, tinggi 20 meter dan kapasita 60 ton dengan tinggi 75 meter. Crane tersebut sangat berguna sebagai alat angkut untuk proses assembly kapal baru.

Gambar 3.8
Rail Way Crane

2) Floating Crane Floating Crane terdapat di sisi floating Dock dengan kapasitas 75 ton dan ketinggian 15 m. Crane ini dapat dipindahkan dengan menggunakan Tug boat.

41

Crane ini mempunyai fungsi yang cukup baik dan sebagai pendukung reparasi diatas air.

Gambar 3.9
Floating Crane

3) Over Head Crane Crane ini terdapat di setiap bengkel dan memiliki rel melintang dan memanjang dengan kapasitas 315 ton. c. Tug Boat Merupakan sarana penunjang operasional harian. Fungsi Tug Boat ini antara lain : 1) Untuk menarik dan mendorong kapal yang akan masuk atau keluar dari Floating Dock 2) Untuk menarik kapal baru setelah diluncurkan. 3) Untuk menarik ponton / Barge

42

Beberapa Tug boat yang dimiliki oleh PT. Dok & Perkapalan Surabaya antara lain : a. b. c. d. DS VI DS VIII DS IX DS X : mempunyai daya 270 PK : mempunyai daya 120 PK : mempunyai daya 360 PK : mempunyai daya 400 PK

Gambar 3.10 Tug Boat yang dimiliki PT. Dok dan Surabaya

6. Fasilitas Peluncuran Kapal PT. Dok dan Perkapalan Surabaya memiliki tempat peluncuran untuk membangun bangunan kapal baru dengan dimensi Panjang : 110 meter Kapasitas: 6500 Dwt Dimensi ini tidak tetap karena dimensi dapat disesuaikan dengan kebutuhan maupun kapasitas kapal.

43

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Dengan melihat perkembangan yang telah dicapai institut-institut yang telah mampu mengemban misi yang dibebankan dan terus maju kesasaran jangka panjang. Maka dengan keberhasilan itu akan memberikan prestasi yang cukup besar untuk membangun institut-institut yang telah dikunjungi menjadi pusat perkembangan institut maritim yang sejajar dengan institut sejenis di negara-negara maju. Hal-hal yang telah dicapai dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dapat memberikan manfaat antara lain: 1. Dapat memberikan wawasan tentang teknologi ataupun wawasan tentang industri perkapalan. 2. Mengetahui secara langsung kinerja dan proses produksi dari institut-institut yang telah dikunjungi. 3. Menambah nilai wawasan kebangsaan karena akan tahu nilai historis dari sejarah institusi-institusi tersebut. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: 1. Institusi-institusi perlu mempersiapkan sumber daya manusia untuk menjawab tantangan masa depan dalam upaya meningkatkan produktifitas.

44

2. Kuliah Kerja Lapangan (KKL) sebagai salah satu sarana untuk mengenalkan lingkungan industri kerja dan sebagai sarana untuk memperkenalkan lembaga pendidikan bersangkutan. B. Saran Kuliah Kerja Lapangan (KKL) telah terlaksana dengan lancar dan mampu memberikan serapan ilmu yang berguna bagi taruna dan taruni yang pada akhirnya dapat bermanfaat untuk tahun-tahun yang akan datang. Kuliah Kerja Lapangan (KKL) telah memberikan gambaran yang telah jelas. Kami sebagai penulis perlu memberikan saran-saran antara lain: 1. Untuk lebih mendisiplinkan diri sebaiknya para taruna-taruni menyiapkan lebih awal tentang Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang pada akhirnya tidak menyulitkan diri sendiri. 2. Sebaiknya ada kerjasama yang konduktif antara lembaga pendidikan industriindustri dan biro tour sehinga meminimalkan terjadinya missed

communication yang tidak diharapkan. 3. Keterbatasan waktu yang tersedia dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) akan mengurangi dari para taruna-taruni dalam memahami dan menyerap ilmu pengetahuan.

45

DAFTAR PUSTAKA

1. Data Data dari PT. DOK dan PERKAPALAN SURABAYA Tahu 2012. 2. Data Data dari PT. PAL SURABAYA. 3. www.google.com 4. www.palindonesia.com 5. Laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahun 2004 Angkatan 2002 dan Tahun 2010 Angkatan 2008.