Anda di halaman 1dari 21

1

DIKTAT

LABORATORIUM KELISTRIKAN

Laboratorium Kelistrikan Fakultas Teknologi Informasi

UNIVERSITAS BUDI LUHUR


JAKARTA 2009

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

DAFTAR ISI

I. TATA TERTIB LABORATORIUM II. MENGOPERASIKAN OSILOSKOP III. HUKUM OHM IV. HUKUM KIRCHOFF DAN THEOREMA SUPERPOSISI V. METODA THEVENIN DAN NORTON

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

Tata Tertib Laboratorium


Berikut ini adalah Tata Tertib Umum yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa yang melaksanakan tugas laboratorium: 1. Setiap pemakai laboratorium harus bertingkah laku yang bertanggung jawab selama berada di dalam lab. 2. Jangan bekerja sendirian di dalam laboratorium. Mahasiswa tidak diperkenankan melakukan kegiatan lab. tanpa kehadiran seorang asisten. 3. Lakukanlah hanya tugas atau percobaan yang diijadwalkan. Percobaan lain tidak dibolehkan. Ikuti semua petunjuk tertulis maupun lisan dari asisten. 4. Peralatan hanya boleh dihidupkan dengan persetujuan asisten. 5. Setelah selesai melakukan tugas atau percobaan, mahasiswa wajib mengembalikan alat-alat yang dipakai. 6. Dilarang makan, minum merokok dan mengunyah permen di dalam lab. 7. Dilarang membuat kegaduhan, berteriak yang tidak perlu di dalam lab.

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

Fakultas Teknologi Informasi

UNIVERSITAS BUDI LUHUR


Laboratorium Kelistrikan
Percobaan I

MENGOPERASIKAN OSILOSKOP
I. Tujuan

1. Melihat bentuk - bentuk gelombang listrik dalam layar osiloskop. 2. Mengukur besar tegangan maksimum maupun puncak kepuncak dari masing masing bentuk gelombang listrik. 3. Mengukur besar frekwensinya. 4. Mengukur beda phasa dengan metoda dua saluran dan metoda X-Y. 5. Mengukur perbandingan frekwensi dari dua gelombang listrik.
2 PENDAHULUAN Osiloscop adalah alat ukur listrik yang menunjukkan besaran di ukur sesungguhnya, berbeda dengan alat ukur listrik lainnya yang mengukur besaran efektifnya. Dari besaran sesungguhnya yang terukur dapat diketahui besar tegangan maksimum dan tegangan puncak ke puncak maupun besar frekuensinya, misal besaran terukur berbentuk sinusoida seperti gambar 1 berikut.

vm

vp-p

Gambar 1 Vm = Vp p = T = F = Tegangan maksimum (volt) Tegangan puncak ke puncak (volt) Waktu 1 prioda (detik) 1/t (Hertz)

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

5 Pemakaian osiloscop dua saluran untuk mengukur beda phasa akan menghasilkan gambar 2 berikut ini. Untuk melihat bentuk gelombang listrik gambar 1. Hanya diperlukan osiloscop satu saluran, tetapi jika diperlukan melihat dua bentuk gelombang listrik atau lebih diperlukan osiloscop 2 saluran atau lebih.

V1

V2

= Sudut beda phasa

Gambar 2

Jika osiloscop diatur pada kedudukan X-Y, pada layar akan tampak di antaranya seperti gambar 3 (gambar lisaayous).

Y Y

B A X

Gambar 3

Besar beda phasa : = arc Sin A/B

Perbandingan frekuensi : fx/fy = ny/nx dimana : fx = frekuensi pada colok y

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

nx = jumlah lengkung yang menyinggung garis horisontal. Ny = jumlah lengkung yang menyinggung vertikal. Disamping kegunaan di atas ada satu hal yang sangat menguntungkan adalah resistansi masukannya sangat besar, umumnya di atas 1 Mega ohm. III. Peralatan 1. Resistor 33 K, 1 buah. 2. Kapasitor 0,01 F, 1 buah. 3. Transformator 220/3 Volt, 1 buah. 4. Audio Frekwensi Generator. 5. Osiloskop Dua Saluran 6. Kabel secukupnya. III. Jalannya Percobaan A. Percobaan menghidupkan Osiloskop 1. Siapkan Osiloskop dua saluran, tanpa sumber AC. Amati Osiloskop tersebut dengan berpedoman pada buku petunjuk pemakaian osiloskop. 2. Tombol Power pada posisi Off, yakinkanlah posisi memilih tegangan pada posisi 220 volt, masukkan kabel supply di sumber 220 V. 3. Putar tombol power ke posisi On, lihat apakah lampu sudah menyala dan tunggu sekitar 30 detik. 4. Putar tombol intensitas kira kira setengah putaran penuh. Periksalah tombol level apakah sudah posisi Pull - Auto, jika belum tariklah secara perlahan dan putarlah ke kanan dan kekiri, sehingga pada layar akan tampak garis cahaya (tombol Sweep time/div tidak pada x-y). Jika garis cahaya belum tampak, atur tombol position, atur intensitarnya (tombol Intent) dan fokus (tombol Focus) untuk mendapatkan garis cahaya yang tipis dengan keterangan yang cukup. 5. Jika garis tidak sejajar dengan skala horizontal, maka aturlah sekrup pada tombol Rotation sehingga garisnya sejajar. 6. Masukkan Probe pada saluran Ch-1 dan Ch-2 sesuaikan selektor Mode pada posisi dual. 7. Kalibrasi skala Volt divisi, masukkan ujung Probe pada jack Cal dengan pemilih besar diukur pada posisi DC. Selektor Sweep time/div pada posisi selain x-y. Atur posisi kedua saklar Volt/div pada 1 volt dan atur pula tombol variabel sehingga pada layar tampak gelombang kotak dengan tinggi 1 devisi. Ubah posisi saklar Volt/div pada posisi 0,2 volt maka tinggi gelombang sekarang haruslah 5 devisi. Untuk selanjutnya tombol variabel tidak boleh diubah - ubah selama pengukuran. 8. Kalibrasi Sweep time/div, caranya sama dengan langkah no.7 pikirkan dan praktekkan, serta laporkan pada langkah kerja yang saudara buat. 9. Lepaskan kedua ujung probe dari/ jack Cal, Osiloskop siap untuk digunakan. B. Mengukur besar tegangan dan frekwensi. 1. Osiloskop pada percobaan A, gunakan salah satu saluran saja, sehingga saklar

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

7 mode perlu disesuaikan dengan saluran yang akan digunakan. Ukur tegangan keluar dari AFG dengan voltmeter sebesar 5 volt, serta atur frekwensinya 1 Hz. Ukur keluaran AFG dengan Osiloskop, atur skala Volt/Div maupun Sweep Time/Div sehingga diperoleh gambar yang jelas. Gambar bentuk - bentuk gelombangnya pada skala milimeter blok lengkap dengan skala volt/div dan sweep time/div nya. Tunjukkan pula besar frekwensi yang ditunjukkan pada layar Osiloskop.

2. 3. 4.

C. Mengukur beda phasa. 1. Rangkailah seperti gambar dibawah ini. 2. Ukur AFG pada sinusoidal 1 KHz.dan tegangannya 2 volt, atur pula osiloskop pada mode Dual dan skala sweep time/div sedemikian sehingga diperoleh gambar yang jelas. 3. Gambar bentuk gelombangnya lengkap dengan skala volt / div dan sweep time / div, tunjukkan besar beda phasanya. 4. Ubah saklar sweep time / div pada posisi x-y, dengan saklar pemilih pada posisi Ground, atur tombol posisi sehingga diperoleh titik cahaya ditengah skala sumbu. 5. Ubah posisi pemilih ke posisi AC, Gambar hasil pengukuran lengkap dengan skala volt/div dan sweep time/div serta hitung beda phasanya.

x AFG
vm

OSILOSCOP

D. Pengukuran frekuensi dengan Lissayous. 1. Buat rangkaian seperti gambar 7 dibawah ini : 2. Atur tegangan keluar AFG sama dengan 3 volt. Osiloscop diatur seperti pada percobaan C. 3. Atur frekuensi AFG hingga didapat gambar pada layar seperti gambar 7a, 7b, dengan 7c. 4. Hitung perbandingan frekuensi trafo dengan frekuensi AFG, bandingkan dengan yang tertera dalam skala AFG. 5. Matikan osiloscop dengan skala volt/div pada skala terbesar. E. Tugas. 1. Gambarkan proses terjadinya gambar Lissayous percobaan D3.? 2. Berapa beda phasa antara AFG dengan trafo pada percobaan D ? 3. Sebutkan keuntungan dan kerugian osiloscop sebagai tegangan.

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

Fakultas Teknologi Informasi

UNIVERSITAS BUDI LUHUR


Laboratorium Kelistrikan
Percobaan II HUKUM O H M
I Pembagi Tegangan Tanpa Beban

A. Tujuan 1. Menyelidiki hubungan antara V1 dan V2 dengan bermacam - macam harga tahanan. 2. Menyelidiki pengaruh kedudukan potensiometer terhadap harga V 1 dan V2.
B. Peralatan Yang Digunakan 1. Multitester Sanwa, 2 buah. 2. Power Supply DC, 1 buah. 3. Kabel Penghubung. PENDAHULUAN : Suatu rangkaian pembagi tegangan dapat terdiri dari dua buah resistor yang dihubungkan seri (gambar 1).

R + -

I V
R2
VO

Gambar 1 (pembagi tegangan ) Tegangan output Vo adalah: Vo = IR2 ..1 V 2 R1 + R 2 Karena tidak ada arus yang mengalir melalui RL maka persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut R2 V 3 R 1 + R2 Dari persamaan 3 ternyata tegangan output sepenuhnya tergantung kepada harga R1 dan R2. Dalam hal potensiometer, tegangan output Vo adalah sebanding dengan V tergantung pada posisi terminal tengahnya. Vo = I. R2 = I =.

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

A + V Rv B

Vo

Gambar 2. Pembagi tegangan dengan potensiometer 3. Jalannya Percobaan 1. Pembagi Tegangan dengan R1 dan R2 a. b. c. Hubungkan rangkaian seperti gambar dibawah ini. Ukurlah tegangan power supply V = 6 volt. Untuk harga RL1 = RL2 = 100 , ukurlah tegangan pada R1 (V1) dan R2 (V2) dan isilah tabel 1 dibawah ini.

R1

+ -

V1 R2 V2

Gambar 3
d. Ulangi langkah ( c ) untuk harga RL1 dan RL2 seperti tertera pada tabel 1

Tabel 1. RL1 ( ) 100 330 560 680 1000

RL2 ( ) 100 100 100 100 100

V1 (Volt)

V2 (Volt)

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

10

2.

Pembagi Tegangan dengan Potensio meter.


V1

V2

a. b. c. d.

Buatlah rangkaian seperti gambar 4 Aturlah tegangan power supply V = 6 volt. Dalam posisi nol, ukurlah tegangan V1 dan V2 dan isilah tabel 2 dibawah ini. Ulangi langkah ( c ) untuk enam kedudukan potensiometer yang berbeda.

Tabel 2 Posisi Potensiometer 1 2 3 4 5 6 Pertanyaan :

V1 (Volt)

V2 (Volt)

1. Dari tabel 1. Gambarlah grafik R1 vs V1 ? R2 V2 2. Dari tabel 2. Gambarlah V2 vs kedudukan potensiometer ? 3. Apakah pembagi tegangan tanpa beban mempunyai kesalahan ? Jelaskan pendapat saudara. 4. Apakah kesimpulan saudara dari percobaan ini ?

II. Pembagi Tegangan Dengan Beban. A. Tujuan Menyelidiki ketergantungan dari V1 dan V2 pada kedudukan pengaturan potensiometer untuk harga beban RL yang berbeda. B. Peralatan yang digunakan 1. Multimeter Sanwa, 2 buah. 2. DC Power Supply, 1 buah 3. Potensiometer 1 K. 4. Resistor RL = 100 dan RL = 470 5. Kabel Penghubung secukupnya.
Pendahuluan :

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

11 Dalam pembagi tegangan tanpa beban, tegangan output Vo tergantung pada perbandingan R2/RL. Sebaliknya jika dibebani tahanan beban RL, arus yang mengalir melalui RL adalah : I = I1 + I2 (Gambar 1)

I
V

I2

R 2

I1

RL

Vo

Gambar 1
Tegangan output adalah : Vo = = (R2 // RL) R1 + (R2 // RL) R2 V

V R2 = R1 + (1 + RL )+ R2

(Bandingkan tegangan output diatas dengan tegangan output pembagi tegangan tanpa beban) C. Jalan percobaan a. Buatlah Rangkaian seperti pada gambar dibawah ini.

V1

RL

V2

Gambar 2

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

12

b. c. d. e. f.

Pilihlah RL = 100 . Aturlah potensiometer pada kedudukan nol. Ukurlah tegangan V1 dan V2 Ulangi langkah ( d ) untuk kedudukan potensiometer yang berbeda, sesuai dengan tabel 3 dibawah ini Ulangi langkah c, d dan e untuk beban RL = 470

Tabel 3. Kedudukan Potensiometer 0 1 2 3 4 5 6

RL = 100 V1 V2

RL = 470 V1 V2

RL = V1 V2

Pertanyaan : 1. Berapa tegangan total V untuk setiap pengukuran ? 2. Gambarlah grafik dari V2 sebagai fungsi dari kedudukan potensiometer P untuk setiap harga R. 3. Diketahui : RAB = 200 Ohm RAC = 120 Ohm RCD = 80 Ohm Berapa teganagn antara C dan D, jika tegangan pada A-b = 10 volt ? 4. Dari percobaan ini apa kesimpulan saudara ?

A C B D

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

13

Fakultas Teknologi Informasi

UNIVERSITAS BUDI LUHUR


Laboratorium Kelistrikan
Percobaan III

HUKUM KIRCHOFF DAN TEOREMA SUPERPOSISI.


I. Tujuan Mempelajari penggunaan Hukum Kirchoff dan teorema Superposisi untuk menghitung arus atau tegangan pada suatu cabang. 2. Peralatan yang digunakan

1. 2. 3. 4.

DC Power Supply, 2 buah. Multimeter Sanwa, 2 buah. Kit praktikum Hukum Kirchoff dan Superposisi, 1 buah Kabel Penghubung.

III. PENDAHULUAN : Untuk memecahkan persoalan rangkaian yang kompleks (rangkaian terdiri dari beberapa buah sumber tegangan atau sumber arus serta beberapa beban), maka diperlukan hukum-hukum rangkaian. Hukum-hukum rangkaian yang sering digunakan antara lain : 1. Hukum Kirchoff. 2. Teorema superposisi. Hukum Kirchoff ada dua, yaitu hukum Kirchoff untuk arus dan hukum kirchoff untuk tegangan. Hukum kirchoff ada dua, yaitu hukum Kirchoff untuk arus yang keluar (meninggalkan) pada suatu junction sama dengan nol. I=0 i1 + i 2 + i 3 + i 4 = 0 di mana : Arus yang masuk diberi tanda positip (i1,i2,i3) Arus yang keluar diberi tanda negatif (i4)

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

14

i1

i2

i4 Gambar 1.

i3

Hukum Kirchoff II : Menyatakan bahwa jumlah aljabar dari suatu tegangan pada suatu tegangan lintasan tertutup sama dengan nol.

e
Gambar 2. Lintasan tertutup : V = 0 Vab + Vbc + Vcd + Vde + Vea =0

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

15

Teorema super posisi : Dalam rangkaian yang bersifat linier (memenuhi persamaan V = iR, v = L di/dt Atau V = 1/c I dt), maka respon yang disebabkan oleh beberapa buah sumber tegangan atau sumber arus sama dengan jumlah aljabar respon yang diakibatkan oleh sumber-sumber itu jika bekerja sendiri-sendiri, sedangkan sumber yang lain diganti diganti dengan tahanan dalamnya. Respon dapat berupa arus dan tegangan.

+ -

R1 R2

R3

+ V i= i

2 1 +i 2

Gambar 3.1
R1 R3 R2

+ -

I1

i1

Rd=0 i1 = I
3

I1
2

Gambar 3.2
R1 R3 R2

R 1 +R

Rd=0

i2

I2

+ V -

i2 = I

R 1 +R 2 Gambar 3.3 Hukum hukum rangkaian di atas dapat berlaku untuk arus searah atau arus bolakbalik, dalam percobaan ini hanya dilakukan untuk rangkaian arus searah.
3. Jalannya Percobaan. A. Dengan Hukum Kirchoff 1. Buatlah rangkaian seperti pada gambar dibawah ini.

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

16

Ukurlah tegangan dan arus untuk tiap-tiap tahanan yang terdapat pada rangkaian (catat V hasilnya pada tabel-1). V
V R1=2,2K V1 + 12V V V R3 4,7K R2=1K + 6V V2 V

Gambar 4

Resistor R1 R2 R3

Besaran Yang Diukur Tegangan (Volt) Tegangan ( Volt ) Pengukuran Perhitungan Pengukuran Penghitungan

Tabel-1 Dengan Teorema Superposisi 1. Buatlah rangkaian seperti pada A.1 2. Gantilah sumber tegangan V2 dengan tahanan dalamnya (terminal dihubung singkat) 3. Ukurlah arus dan tegangan pada setiap resistor dan catat hasilnya pada tabel 2. 4. Ulangi langkah 2 dan 3 untuk sumber tegangan V 1. 5. Pasanglah V1 dan V2 bersama - sama, ukurlah tegangan dan arus setiap resistor.

Pertanyaan : 1. Bandingkanlah hasil perhitungan dan pengukuran baik dengan hukum kirchoff atau dengan theorema super posisi ! 2. Menurut pendapat saudara, kapankah theorema super posisi digunakan ? 3. Apakah multimeter yg saudara pergunakan mempengaruhi hasil pengukuran ? jelaskan ? 4. Dari percobaan ini apakah kesimpulan saudara ?

Fakultas Teknologi Informasi


LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

17

UNIVERSITAS BUDI LUHUR


Laboratorium Kelistrikan
Percobaan IV

METODA THEVENIN DAN NORTON


I. Tujuan

1. Membandingkan hasil perhitungan metoda Thevenin dengan pengukuran langsung. 2. Membandingkan hasil perhitungan metoda Norton dengan pengukuran langsung. 3. Membandingkan hasil perhitungan antara metoda Thevenin dan metoda Norton.
II. Pendahuluan : Untuk mengetahui arus atau tegangan pada suatu cabang rangkaian dapat dicari dengan hukum-hukum ataupun teori=teori rangkaian ada pada prinsipnya untuk menyederhanakan rangkaian. Diaturnya adalah metode Thevenin dan metode Norton. Metode Thevenin : Suatu rangkaian aktif (memakai sumber arus dan atau sumber tegangan tetap maupun variabel), yang bersifat linier dengan 2 kutub (terminal) A dan B dapat diganti dengan suatu sumber tegangan Vt seri dengan suatu tahanan Rt. Gambar 1

A RANGKAIN AKTIF LINIER B RL VT RT

A RL B

VT = tegangan pada terminal A B dalam keadaan terbuka (tanpa beban) RT = tahanan pada rangkaian dilihat dari terminal A B dengan sebua sumber tegangan diganti dengan tahanan dalamnya. Contoh : Suatu rangkain listrik seperti gambar berikut ini, akan dihitung arus yang mengalir pada tahanan RL (lihat gambar 2).

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

18

R1

+ -

R2

RL

Untuk mencari tegangan Thevenin (VT) bukalah terminal A-B (open circuit), sehingga rangkaian menjadi seperti berikut :

R1

A + V
R2

VT

B
Gambar 3 R2 VAB = VT . V R1 + R2 Untuk mencari tahanan Thevenin (RT), sumber tegangan V diganti dengan tahanan dalamnya (Rd = 0).
R1

+ -

R2

B
Gambar 4 R1 . R2 RAB = RT = --------------R1 + R2 Apabila VT dan RT sudah diperoleh maka rangkaian pada gambar 2 dapat diganti menjadi :

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

19

A
R1

+ -

IRL VT
RL

VT Maka arus yang melalui RL adalah IRL = -----------RL + RT

B. Metode Norton : Pada prinsupnya metode Norton sama dengan metode Thevenin, hanya pada metode Norton rangkian aktif linier diganti dengan sumber arus I N yang paralel dengan yang satu tahanan RN.

A RANGKAIN AKTIF LINIER RL B


Gambar 6

A RN RL B

IN = Arus melalui A-B dalam keadaan hubung singkat. RN = Tahanan pada rangkaian dilihat dari terminal A-B dengan semua sumber arus dihubungkan singkat. Dimana : Vo RN = RT = ---Ihs VT IN = Ihs = ----RT III. Peralatan yang digunakan

1. DC Power Supply, 1 buah.


LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

20

2. 3. 4. 5.

Multimeter Sanwa, 2 buah. Potensiometer 1 K Tahanan 2K2, 4K7 dan 1K Kabel Penghubung.

III. Jalannya percobaan. A. Metoda Thevenin 1.


R1 R2 Teliti semua peralatan sebelum praktikum dimulai.

2K2 + A 12v
RL

1K + 4K7 V2=6v

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Buatlah rangkaian seperti pada gambar diatas ini : Tutup Saklar S, Catat arus dan tegangan pada beban R L. Bukalah Saklar S sehingga A-B terbuka, ukurlah tegangan (V T) pada terminal A-B. Gantilah kedua sumber tegangan dengan rangkaian hubung singkat. Ukurlah harga tahanan antara terminal A-B. Gantilah rangkaian pada gambar tersebut diatas dengan rangkaian dibawah ini.

RT

VT

RL 4K7

Gambar 8 8. B. Catat arus dan tegangan pada tahanan R T.

Metoda Norton. 1. 2. 3. Buatlah rangkaian seperti pada gambar 9 dengan R L dihubung singkat. Ukurlah IN yang melalui terminal A-B. Ukur besar tahanan Norton RN, caranya seperti mengukur RT.

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA

21 4. Gantilah rangkaian pada gambar 8,dengan rangkaian dibawah ini.

R1

A A + V B RN 1K RL

5. 6. 7.

Aturlah tahanan variabel, sehingga sama dengan R NORTON. Aturlah sumber tegangan V, sehingga arus yang terbaca pada ampermeter akan sama dengan IN. Catat besar arus dan tegangan pada tahanan RL.

Tugas dan pertanyaan: 1. Bandingkan hasil pengukuran secara langsung dengan : a. Metode Thevenin b. Metode Norton 2. Apa fungsinya R1 dan pada gambar diatas (metode norton) Apa yang terjadi jika menggantinya dengan harga : R1 = 1 K, 10 K ? 3. Jelaskan perbedaan antara metode thevenin dan norton ?

LABORATORIUM SISTEM KOMPUTER UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA