Anda di halaman 1dari 14

KAJIAN ILMIAH PENYAKIT KHUSUS KELAMIN SIFILIS DALAM ASPEK BUDAYA

OLEH IFFAH DESI R. NIM 110601052

STIKES PEMKAB JOMBANG TAHUN AJARAN 2011/2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah , segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, hidayah dan karunianya yang tiada ternilai kepada penulis, atas terselesainya makalah KAJIAN ILMIAH PENYAKIT KELAMIN SIFILIS DALAM ASPEK BUDAYA untuk memenuhi tugas. Banyak rintangan dan hambatan yang penulis hadapi dalam penyusunan makalah ini. Namun berkat bantuan dan dukungan berbagai pihak , baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikannya. Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan dan doa. Maka dari itu harapan saya sebagai penyusun mohon kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun untuk tercapainya kesempurnaan makalah ini.

23 Desember 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.i DAFTAR ISI.ii BAB 1..1 Pendahuluan....1 BAB 2..2 Perkembangan sifilis.2 etiologi.2 klasifikasi.3 cara penularan IMS..4 ciri-ciri..5 ciri pada wanita dan pria...5 pengobatan..7 seks oral dan sifilis.7 PENUTUP...9 Daftar pustaka..10

ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sesuai dengan tutntutan materi/ kebutuhan bagi setiap mahasiswa keperawatan untuk mengerti tentang ambulasi, mobilitas dan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan ambulasi dan mobilitas. Sehingga diharapkan dengan adanya makala ini perawat dapat mengetahui bentuk-bentuk tindakan ambulasi untuk member tindakan kepada pasien-pasien yang membutuhkan tindakan ambulasi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan yang ada dalam materi ini maka perumusan masalahnya sebagai berikutnya. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 1.3 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Apa yang dimaksud penyakit sifilis ? Apa yang di maksud perkembangan penyakit sifilis ? Apa yang dimaksud pengertian perkembangan sifilis Apa yang dimaksud pengertian etiologi Apa yang dimaksud dengan klasifikasi pada sifilis Apa yang dimaksdu dengan penularan pada IMS Apa yang dimaksud ciri-ciri sifilis Apa yang dimaksud ciri pada wanita dan pria Apa yang dimaksud dengan pengobatan pada sifilis Apa yang dimaksdu seks oral dan sifilis Tujuan Pembahasan Untuk mengetahui pengertian perkembangan sifilis Untuk mengetahui pengertian etiologi Untuk mengetahui klasifikasi pada sifilis Untuk mengetahui penularan pada IMS Untuk mengetahui ciri-ciri sifilis Untuk pengetahui ciri pada wanita dan pria Untuk mengetahui pengobatan pada sifilis Untuk pengetahuan seks oral dan sifilis

BAB II SIFILIS

1. Perkembangan SifiliS Sifilis ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema Pallidum sangat kronik dan bersifat sistematik. Pada perjalanannya dapat menyerang hamper semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin. Menurut sejarahnya terdapat banyak sinonim sifilis yang tak lazim dipakai.sinonim yang umum ialah lues venerea. Dalam istilah Indonesia disebut raja singa. Asal penyakit ini tidaj Jelas. Sebelum tahun 1942 belum dikenal di Eropa. Ada yang menggangap penyakit ini berasal dari penduduk Indian yang di bawa oleh anak buah colombus waktu mereka kembali ke Spanyol pada tahun 1492. Pada tahun 1494 terjadi epidemic di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis dan gonorea disebabkan oleh sanggama dan keduanya dianggap disebabkan oleh infeksi yang sama. Pada abad ke-15 terjadi wabah di Eropa, sesudah tahun 1860 morbilitas sifilis di Eropa menurun cepat, mungkin karena perbaikan sosioekonomi. Selama perang dunia kedua insidennya meningkat dan mencapai puncaknya pada tahun 1946, kemudian makin menurun. Insiden sifilis diberbagai Negara di seluruh dunia pada tahun 1996 berkisar antara 0,04-0,52%. Insiden yang terendah di China, sedangkan yang tertinggi di Amerika Selatan. Di Indonesia insidennya 0,61%. Di bagian kami penderita yang terbanyak ialah stadium laten, disusul sifilis stadium I yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium II.

2. Etiologi Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman ialah Treponema Pallidum, yang termaksud orto Spirochaetales, familia Spirochaetaceae, dan genus Treponema bentuknya sebagai spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri atas delapan sampai dua puluh empat lekukan aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol. Pembiakan pada umumnya tidak dapat dilakukan di luar badan. Di luar badan kuman tersebut cepat mati, sedangkan dalam darah untuk transfuse dapat hidup tujuh puluh dua jam.

3. Klasifikasi Menurut Hakim (2009) dalam Daili (2009), perubahan pola distribusi maupun pola perilaku penyakit tersebut di atas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, yaitu: 1. Faktor dasar a) Adanya penularan penyakit b) Berganti-ganti pasangan seksual 2. Faktor medis a) Gejala klinis pada wanita dan homoseksual yang asimtomatis b) Pengobatan modern c) Pengobatan yang mudah, murah, cepat dan efektif, sehingga risiko resistensi tinggi, dan bila disalahgunakan akan meningkatkan risiko penyebaran infeksi.

3. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan pil KB hanya bermanfaat bagi pencegahan kehamilan saja, berbeda dengan kondom yang juga dapat digunakan sebagai alat pencegahan terhadap penularan IMS. 4. Faktor sosial a) Mobilitas penduduk b) Prostitusi c) Waktu yang santai d) Kebebasan individu e) Ketidaktahuan Peningkatan insidens tidak terlepas dari kaitannya dengan perilaku risiko tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa penderita sifilis melakukan hubungan seks rata-rata sebanyak 5 pasangan seksual yang tidak diketahui asal-usulnya. Menurut Hakim (2009) dalam Daili (2009), yang tergolong kelompok risiko tinggi adalah:

1. Usia

a) 20-34 tahun pada laki-laki b) 16-24 tahun pada wanita c) 20-24 tahun pada kedua jenis kelamin 2. Pelancong 3. Pekerja seksual komersial atau wanita tuna susila 4. Pecandu narkotik 5. Homoseksual

4.

Cara penularan IMS

adalah dengan cara kontak langsung yaitu kontak dengan eksudat infeksius dari lesi kulit atau selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang telah tertular. Lesi bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas. Pemajanan hampir seluruhnya terjadi karena hubungan seksual (vaginal, oral, anal). Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu Melalui darah : 1. transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV. 2. saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba. 3. tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/ tidak sengaja. 4. menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril. 5. penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika terluka dan menyisakan darah pada alat). 6. dari ibu kepada bayi: saat hamil, saat melahirkan, dan saat menyusui.
Infeksi Menular Seksual (IMS) menyebar cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Baik jenis gonorchea maupun sifilis. Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, Treponema pallidum. Penularan biasanya melalui kontak seksual; tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).

Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut Peniru Besar karena sering dikira penyakit lainnya. Data yang dilansir Departemen Kesehatan menunjukkan penderita sifilis mencapai 5.000 10.000 kasus per tahun. Sementara di Cina, laporan menunjukkan jumlah kasus yang dilaporkan naik dari 0,2 per 100.000 jiwa pada tahun 1993 menjadi 5,7 kasus per 100.000 jiwa pada tahun 2005. Di Amerika Serikat, dilaporkan sekitar 36.000 kasus sifilis tiap tahunnya, dan angka sebenarnya diperkiran lebih tinggi. Sekitar tiga per lima kasus terjadi kepada lelaki. Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung, atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal. Orang yang memiliki kemungkinan terkena sifilis atau menemukan pasangan seks-nya mungkin terkena sifilis dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin. 5. Ciri-ciri Kuman penyebabnya disebut Treponema pallidum. Masa tanpa gejala berlangsung 3-4 minggu, kadang-kadang sampai 13 minggu. Kemudian timbul benjolan di sekitar alat kelamin. Kadang-kadang disertai pusing-pusing dan nyeri tulang seperti flu, yang akan hilang sendiri tanpa diobati. Ada bercak kemerahan pada tubuh sekitar 6-12 minggu setelah hubungan seks. Gejala ini akan hilang dengan sendirinya dan seringkali penderita tidak memperhatikan hal ini. Selama 2-3 tahun pertama penyakit ini tidak menunjukkan gejala apa-apa, atau disebut masa laten. Setelah 5-10 tahun penyakit sifilis akan menyerang susunan syaraf otak, pembuluh darah dan jantung. Pada perempuan hamil sifilis dapat ditularkan kepada bayi yang dikandungnya dan bisa lahir dengan kerusakan kulit, hati, limpa dan keterbelakangan mental.

6. Ciri Pada Wanita dan Pria Namun demikian bagaimana penyakit sifilis ini sesungguhnya? Mungkin sedikit uraian berikut ini bisa membantu Anda. Sifilis atau yang disebut dengan raja singa disebabkan oleh sejenis bakteri yang bernama treponema pallidum. Bakteri yang berasal dari famili spirochaetaceae ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelaminkelamin) maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan. Anda tidak dapat tertular oleh sifilis dari handuk, pegangan pintu atau tempat duduk WC. Gambaran tentang penyakit sifilis seperti yang dikemukakan tersebut mungkin masih membuat Anda penasaran, karena wanita yang tidak tahu kalau suaminya sering jajan mungkin tidak menyadari kalau dirinya sudah mengidap penyakit sifilis. 5

Jadi uraian selanjutnya adalah mengenali gejala yang mungkin terjadi pada wanita, yang terurai dalam empat stadium berbeda. Stadium satu. Stadium ini ditandai oleh munculnya luka yang kemerahan dan basah di daerah vagina, poros usus atau mulut. Luka ini disebut dengan chancre, dan muncul di tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Pembengkakan kelenjar getah bening juga ditemukan selama stadium ini. Setelah beberapa minggu, chancre tersebut akan menghilang. Stadium ini merupakan stadium yang sangat menular.

Stadium dua. Kalau sifilis stadium satu tidak diobati, biasanya para penderita akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. Gejala-gejala yang mirip dengan flu, seperti demam dan pegal-pegal, mungkin juga dialami pada stadium ini. Stadium ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua minggu. Stadium tiga. Kalau sifilis stadium dua masih juga belum diobati, para penderitanya akan mengalami apa yang disebut dengan sifilis laten. Hal ini berarti bahwa semua gejala penyakit akan menghilang, namun penyakit tersebut sesungguhnya masih bersarang dalam tubuh, dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh. Sifilis laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya. Stadium empat. Penyakit ini akhirnya dikenal sebagai sifilis tersier. Pada stadium ini, spirochaeta telah menyebar ke seluruh tubuh dan dapat merusak otak, jantung, batang otak dan tulang. Sedangkan pada lelaki yang telah tertular oleh sifilis memiliki gejala-gejala yang mirip dengan apa yang dialami oleh seorang penderita wanita. Perbedaan utamanya ialah bahwa pada tahap pertama, chancre tersebut akan muncul di daerah penis. Dan pada tahap kedua, akan muncul luka-luka di daerah penis, mulut, tenggorokan dan dubur. Orang yang telah tertular oleh spirochaeta penyebab sifilis dapat menemukan adanya chancre setelah tiga hari tiga bulan bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh. Kalau sifilis stadium satu ini tidak diobati, tahap kedua penyakit ini dapat muncul kapan saja, mulai dari tiga sampai enam minggu setelah timbulnya chancre. Sifilis dapat mempertinggi risiko terinfeksi HIV. Hal ini dikarenakan oleh lebih mudahnya virus HIV masuk ke dalam tubuh seseorang bila terdapat luka. Sifilis yang diderita juga akan sangat membahayakan kesehatan seseorang bila tidak diobati. Baik pada penderita lelaki maupun wanita, spirochaeta dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan rusaknya organ-organ vital yang sebagian besar tidak dapat dipulihkan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati, juga dapat menyebabkan terjadinya cacat lahir primer pada bayi yang ia kandung.

7. Pengobatan

Sifilis dapat dirawat dengan penisilin atau antibiotik lainnya. Menurut statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding perawatan lainnya, karena pasien biasanya tidak menyelesaikan pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan untuk mengurangi rasa sakit); dosis harus diberikan setengah di setiap pantat karena bila dijadikan satu dosis akan menyebabkan rasa sakit. Cara lain adalah memberikan kapsul azithromycin lewat mulut (memiliki durasi yang lama) dan harus diamati. Cara ini mungkin gagal karena ada beberapa jenis sifilis kebal terhadap azithromycin dan sekitar 10% kasus terjadi pada tahun 2004. Perawatan lain kurang efektif karena pasien diharuskan memakan pil beberapa kali per hari. Perawat kesehatan profesional mengusulkan seks aman dilakukan dengan menggunakan kondom bila melakukan aktivitas seks, tapi tidak dapat menjamin sebagai penjaga yang pasti. Usul terbaik adalah pencegahan aktivitas seksual dengan orang yang memiliki penyakit kelamin menular dan dengan orang berstatus penyakit negatif. 8. Seks Oral dan Sifilis

Banyak orang salah meyakini. Mereka pikir seks oral aman. Padahal, hubungan seks dengan cara ini sudah terbukti bisa menularkan penyakit sifilis. Begitu laporan yang disiarkan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDCP) dalam Morbidity and Mortality Weekly Report. Ditambahkan, luka di mulut akibat sifilis, pada gilirannya semakin meningkatkan risiko terkena infeksi HIV. Mereka yang dalam jangka panjang tidak terikat hubungan monogami dan melakukan hubungan seks oral, sebaiknya tetap menggunakan pelindung, semisal kondom, untuk mengurangi risiko terkena penyakit seksual menular, kata tim peneliti dari Chicago Department of Public Health yang dipimpin oleh Dr. C. Ciesielski. Dalam pemantauan yang mereka lakukan, tim itu mendapati bahwa sifilis terus menyebar lewat seks oral. Pola penularan yang mereka pantau sangat berubah dalam periode tahun 1998 hingga 2002. Bila di tahun 1990-an sifilis hanya terjadi pada kaum heteroseksual, sejak 2001 jumlah pria yang melakukan hubungan seks dengan sesama pria tercatat hampir 60 persen. Antara tahun 2000 hingga 2002 tim yang dipimpin Ciesielski juga mewawancarai mereka yang terkena sifilis. Hasilnya, lebih dari 14 persen kasus penularan sifilis terjadi melalui seks oral. Jumlah ini dlaporkan oleh 20 persen gay dan 7 persen pria dan wanita heteroseksual.

Angka itu belum termasuk penularan melalui seks oral yang mungkin terjadi pada saat yang bersangkutan juga melakukan hubungan badan. Bahayanya, orang dengan sifilis di mulut mungkin tidak memperlihatkan gejala. Luka di mulut lazim disalahmengerti sebagai sariawan atau herpes. Padahal, di dalam luka itu tersembunyi kuman penyebab sifilis. Semua data ini menggarisbawahi perlunya edukasi pada mereka yang aktif secara seksual untuk menghindari sifilis.

PENUTUP

Makalah KAJIAN ILMIAH PENYAKIT KHUSUS KELAMIN SIFILIS DALAM ASPEK BUDAYA pada intinya, bahwa perawat dapat mempelajari tentang penyakit kelamin sifilis dalam aspek kebudayaan.
Sifilis ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema Pallidum sangat kronik dan bersifat sistematik. Pada perjalanannya dapat menyerang hamper semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin. Oleh karena

itulah,kita sebagai perawat harus mengerti bagaimana bentuk kebudayaan terhadap penyakit kelamin sifilis.

Kritik & Saran Karena terbatasnya kemampuan kami dalam menyusun makalah Ambulasi ini. Oleh karena itu, agar sempurnanya makalah ini kritik dan saran kami persilahkan.

DAFTAR PUSTAKA Tjokronegoro, atmatmo dan Hendra utama. 1987. ILMU PENDIDIKAN KULIT DAN KELAMIN. Jakarta: Fakulatas Kedokteran UM. Masisjoer, arif. 2000. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Jakarta: media Aesculapius.

10