Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1.2 Permasalahan


Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini mengenai Sindrom Gigantisme dan Akromegali, dimana terdapat kasus seorang klien berusia 9 tahun dengan keluhan sering BAB dan berbagai tanda dan gejala lainnya yang menunjukan klien tersebut KEP. Makalah ini berisi anatomi dan fisiologi digestive, pembahasan kasus dan penjelasan mengenai KEP (konsepKEP, penatalaksanaanKEP, patofisiologi KEP, dan asuhan keperawatan klien dengan KEP).

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah KEP adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah digestive system in nursing dan memperbanyak ilmu kita tentang anatomi dan fisiologi mulai dari konsep KEP, penatalaksanaan KEP, digestive dan materi KEP

patofisiologi KEP, dan asuhan keperawatan klien dengan KEP.

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah: - Membaca buku (studi literature) - Mencari sumber dari media elektronik. - Berdiskusi dengan teman sekelompok

BAB II ISI
KASUS 2 Ny. E berumur 44 tahun. Suku Sunda. Golongan darah B. sudah menikah. Datang ke Poli Endokrin dengan keluhan utama pembesaran pada telapak tangan dan kaki. Tiga bulan yang lalu Klien mulai merasakan kulit yang melapisi hidung, bibir, dan bagian dari wajah menjadi tebal dan kasar, rahang menjadi lebih menonjol, kulit lebih berlemak, lidah kian besar dan suara memberat . Klien mengatakan malu dengan kondisi tersebut. Tanda Tanda vital : Nadi 78 x / menit, Suhu : 35.10 C, Tekanan Darah : 120/90 mmHg, RR : 20x/menit. Hasil Lab : Hb : 12.8. Leukosit : 5.900. Hct : 37%. Eritrosit : 4.31. Trombosit : 215.000. Pemeriksaan kadar growth Hormon menunjukkan peningkatan IGF-I dan tanda Sindroma Gigantisme Akromegali/SGA. Pada MRI kepala tampak adenoma hipofisis.

FISIOLOGI HIPOFISIS Kelenjar hipofisis serta hubungannya denganhipotalamus Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar kecil-kecil diameternya kira-kira 1 cm dan beratnya 0,5-1 gram yang terletak di sela tursika, rongga tulang basis otak, dan dihubungkan dengan hipotalamus oleh tungkai hipofisis atau hipofisial. Dipandang dari sudut fisiologi, kelenjar hipofisis dibagi menjadi: 1) Hipofisis Anterior (Adenohipofisis) Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam pengaturan fungsi metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormonnya yaitu: Hormon Pertumbuhan Meningkatkan sel. Adrenokortikotropin (Kortikotropin) Mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolism glukosa, protein dan lemak. Hormon perangsang Tiroid (Tirotropin) Mengatur kecepatan sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar tiroid, dan selanjutnya mengatur kecepatan sebagian besar reaksi kimia diseluruh tubuh. Prolaktin Meningkatkan pertunbuhan kelenjar payudara dan produksi air susu. Hormon Perangsang Folikel dan Hormon Lutein Mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan aktivitas reproduksinya. 2) Hipofisis Posterior (Neurohipofisis) Ada 2 jenis hormon: i. Hormon Antideuretik (disebit juga vasopresin) Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam urin dan dengan cara ini akan membantu mengatur konsentrasi air dalam cairan tubuh. ii. Oksitosin pertumbuhan seluruh tubuh dengan cara mempengaruhi pembentukan protein,pembelahan sel, dan deferensiasi

Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu selama pengisapan dan mungkin membantu melahirkan bayi pada saat akhir masakehamilan. 3) Pars Intermedia Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative avaskular, yang pada manusia hamper tidak ada sedangkan pada bebrapa jenis binatang rendah ukurannya jauh lebih besar dan lebih berfungsi. Pembuluh darah yang menghubungkan hipotalamus dengan sel- sel kelenjar hipofisis anterior. Pembuluh darah ini berkhir sebagai kapiler pada kedua ujungnya, dan makanya disebut system portal.dalam hal ini system yang menghubungkan hipotalamus dengan kelenjar hipofisis disebut juga system portal hipotalamus hipofisis. System portal merupakan saluran vascular yang penting karena memungkinkan pergerakan hormone pelepasan dari hypothalamus ke kelenjar hipofisis , sehingga memungkinkan hypothalamus mengatur fungsi hipofisis. Rangsangan yang berasal dari tak mengaktifkan neuron dalam nucleus hypothalamus yang menyintesis dan menyekresi protein degan berat molekul yang rendah. Protein atau neuro hormone ini dikenal sebagai hormone pelepas dan penghambat. Hormon hormon ini dilepaska kedalam pembuluh darah system portal dan akhirnya mencapai sel sel dalam kelenjar hipofisis. Dalam rangkaian kejadian tersebut hormonhormon yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis diangkt bersama darah dan merangsang kelenjar-kelenjar lain ,menyebabkan pelepasan hormon hormon kelenjar sasaran. Akhirnya hormon hormon kelenjar sasaran bekerja pada hipothalamus dan sel sel hipofisis yang memodifikasi sekresi hormone. Sistem porta hipothalamus hipofisis 1) Sekresi hormon pelepas hipothalamus dan hormon penghambat ke eminensia mediana. Neuron-neuron khusus di dalam hypothalamus mensintesis dan mensekresi hormone pelepas hypothalamus dan hormone penghambat yang mengatur sekresi hormone hipofisis anterior. Neuron neuron ini berasal dari berbagai bagian hypothalamus dan mengirimkan serat serat sarafnya nenuju ke eminensia mediana da tuber sinerum , jaringan hypothalamus yang menyebar

menuju tangkai hipofisis. Bagian ujung serat serat saraf ini berbeda dengan ujung- ujung serat saraf umum yang ada di dalam system saraf pusat.dimana funsi serat ini tidak menghantarkan sinyal sinyal yang berasal dari neuron ke neuron yang lain namun hanya mensekresi hormone pelepas dan hormone penghambat hypothalamus saja ke dalam cairan jaringan. Hormone- hormone ini segera diabsorbsi ke dalam kapiler system porta hypothalamus dan hipofisis dan langsung diangkut ke sinu kelenjar hipofisis anterior. 2) Fungsi hormon pelepas dan hormon penghambat dalam hipofisis anterior. Hormone hormon pelepas dan hormone hormone pnghambat berfungsi mengatur sekresi hormone hipofisis anterior. Untuk sebagian besar hormone hipofisis , yang penting adalah hormone pelepas ,tetapi untuk prolaktin ,mungkin sebagian besar hormone penghambat yang mempunyai pengaruh paling banyak terhadap pengaturan hormone. Hormone hormone pelepas dan penghambat hypothalamus yang terpenting adalah : TRH : hormone pelepas tiroid yang menyebabkab pelepasan hormone perangsang tiroid. Hormone pelepaS kortikotropin(CRH) : menyebabkan pelepasan adenokortikotropin. Hormone pelepas hormone pertumbuhan (GHRH) : menyebabkan pelepasan hormone pertumbuhan dan hormone penghambat hormone pertumbuhan (GHIH) yang mirip dengan hormone somatostatin dan menghambat pelepasan hormone pertumbuhan. Hormone pelepas gonadotropin(GnRH) : menyebabkan pelepasan dari dua hormone gonadotropik, hormone lutein dan hormone perangsang folikel. Hormone penghambat prolaktin (PIH) : menghambat sekresi prolaktin. 3) Daerah daerah spesifik dalam hipothalamus yang mengatur sekresi faktor pelepas dan faktor penghambat hipothalamus yang spesifik. Sebelum diangkut ke kelenjar hipofisis anterior , semua atau hamper semua hormone hypothalamus disekresi ke ujung serat saraf yang terletak di dalam

eminensia mediana. Perangsangan listrik pada daerah ini merangsang ujungujung saraf dan oleh karena itu pada dasarnya menyebabkan pelepasan semua hormone hypothalamus. Akan tetapi badan sel neuron yang menyebar ke eminensia mediana ini terletak di daerah khusus dalam hypothalamus atau pada daerah yang berdekatan dengan bagian basal otak.

KONSEP PENYAKIT A. DEFINISI Gigantisme dan akromegali adalah kelainan yang disebabkan oleh karena sekresi hormone pertumbuhan (HP) atau Growth Hormon (GH) yang berlebihan. (Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 1, edisi 3) Gigantisme dan akromegali merupakan peningkatan hormone protein dalam banyak jaringan, meningkatkan penguraian asam lemak dan jaringan adipose dan kadar glukosa darah. (Keperawatan Medikal Bedah, Bruner&Suddarth, 2001) Gigantisme adalah pertumbuhan abnormal, terutama dalam tinggi badan (melebihi 2,14 m) yang disebabkan oleh karena sekresi Growth Hormone (GH) yang berlebihan dan terjadi sebelum dewasa atau sebelum proses penutupan epifisis (Brooker, 2008). Akromegali berasal dari bahasa Yunani, akros yang berarti ekstremitas, dan megas, yang berarti besar. Penyakit ini merupakan penyakit kronis yang ditandai oleh pertumbuhan tulang ekstremitas, muka, rahang, dan jaringan lunak secara berlebihan dan kelainan metabolik sekunder akibat hipersekresi hormone pertumbuhan yang berlebihan sesudah terjadi penutupan lempeng epifiseal (Sudiono, 2007). Perbedaan antara akromegali dan gigantisme adalah akromegali timbul apabila hipersekresi Growth Hormone terjadi pada masa dewasa dan mengenai pertumbuhan jaringan lunak dan struktur tulang, misalnya hidung, bibir, rahang, dahi, tangan , dan kaki, karena pertumbuhan atau pembesaran berlangsung secara progresif. Sedangkan

gigantisme terjadi pada masa kanak-kanak dan masa pubertas sebelum lapisan epifisis menutup, sehingga pertumbuhan tulang proporsional (Baradero, 2005). B. ETIOLOGI Gigantisme disebabkan oleh sekresi Growth Hormone yang berlebihan pada masa kanak-kanak sebelum tertutupnya lempeng epifisis. Penyakit, kelainan, dan kondisi yang menyebabkan kelebihan sekresi Growth Hormone adalah: a) Tumor jinak pada kelenjar hipofisis Tumor ini menekan kelenjar hipofisis dan menyebabkan sekresi Growth Hormone yang berlebih. Inilah penyebab utama gigantisme. b) Carney Complex Carney Complex merupakan mutasi gen yang jarang ditemukan, dapat menyebabkan risiko tinggi tumor, termasuk hipofisis adenoma. c) Multiple endocrine neoplasia type 1 Kelainan yang diturunkan yang dapat menyebabkan tumor di kelenjar endokrin dan menyekresikan hormon secara hiperaktif, teemasuk Growth Hormone. d) Neurofibromatosis Kelainan genetis yang dapat menyebabkan tumor. Sedangkan akromegali disebabkan oleh sekresi Growth Hormone berlebih oleh kelenjar hipofisis. Sekresi yang berlebih ini menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), 95 % disebabkan karena adanya hipofisis adenoma, yaitu tumor jinak di kelenjar hipofisis. Tumor di luar kelenjar hipofisis juga dapat menyebabkan akromegali, namun hal ini jarang ditemukan. Penyebab gigantisme dan akromegali dapat digolongkan sebagai berikut: a) GA (Gigantisme Akromegali) Primer atau Hipofisis, dimana penyebabnya adalah adenoma hipofisis. b) GA Sekunder atau Hipotalamik, disebabkan oleh karena hipersekresi GHRH dari Hipotalamus. c) GA yang disebabkan oleh karena tumor ektopik (paru, pancreas, dll) yang mensekresi HP atau GHRH. C. MANIFESTASI KLINIS

Klien dengan gigantisme dapat memiliki manifestasi klinis sebagai berikut : a. Berperawakan tinggi lebih dari 2 meter, dengan proporsi tubuh yang normal. Hal ini terjadi karena jaringan lunak seperti otot tetapi tumbuh. b. Memiliki gangguan penglihatan, seperti diplopia atau penglihatan ganda apabila tumor pada kelenjar hipofisis menekan chiasma opticum yang merupakan jalur saraf mata. c. Hiperhidrosis. Gigantisme dapat menyebabkan hipermetabolisme pada tubuh penderita, termasuk hiperhidrosis. Hiperhidrosis adalah keadaaan dimana terjadi pengeluaran keringat yang berlebih (Schwartz, 1999) d. Jadwal menstruasi yang tidak teratur pada usia remaja. e. Rahang yang membesar, tulang dahi yang menonjol, dan penampakan wajah yang kasar. f. Kelemahan dan sensasi kesemutan di lengan dan kaki akibat perbesaran jaringan dan saraf yang tertekan g. Sakit kepala akibat tekanan dari tumor yang menyebabkan kenaikan tekanan intrakranial h. Galacthorrea, atau keluarnya air susu secara spontan saat kanakkanak. i. Endocrinopathies (misalnya, hipogonadisme, diabetes dan / atau toleransi glukosa, hiperprolaktinemia) j. Ditemukan juga manifestasi klinis sesuai dengan pembesaran tumor, yaitu: 1. Pembesaran keatas (Superior) a) Sakit kepala b) Gangguan penglihatan 2. Pembesaran ke lateral a) Kelumpuhan saraf III, IV, V, dan VI b) Penyumbatan pembuluh darah (sinus kavenosus) c) Kejang (temporal lobe seizures)

3. Pertumbuhan ke inferior (dasar sella), menimbulkan CSF Rinorea 4. Pertumbuhan ke anterior, kepribadian Manifestasi klinis akromegali dapat muncul selama 5-10 tahun menyebabkan terdapatnya rentang waktu yang lama antara diagnosis dan terjadinya penyakit. Pada hampir 70% kasus saat diagnosis akromegali ditegakkan, ukuran tumor telah mencapai >10 mm (makro adenoma) (Rahmat,2010). Manifestasi klinis akromegali yaitu sebagai berikut : Perubahan pada bentuk wajah: hidung, bibir, dahi, rahang, serta lipatan kulit menjadi besar dan kasar secara progresif. Rahang bawah menjadi besar dan menonjol ke depan sehingga gigirenggang. Jaringan lunak juga tumbuh sehingga wajah nampak seperti edema. Tangan dan kaki yang membesar secara progresif. Lidah, kelenjar ludah, limpa, jantung, ginjal, hepar, dan organ lainnya juga membesar. Gangguan toleransi glukosa bisa berkembang hingga diabetes mellitus. Gangguan metabolisme lemak dengan akibat hiperlipidemia. Rambut di tubuh menjadi kasar Warna kulit menggelap Hiperhidrasi dan bau badan Suara menjadi lebih dalam Tulang rusuk menjadi lebih tebal, menunjukkan adanya barrel chest Nyeri pada persendian Snoring Sakit kepala Impoten pada pasien akromegali laki-laki, apabila tumor menggeser sel penyekresi gonadotropin di hipofisis anterior. menyebabkan perubahan

Penyakit kardiovaskuler mencakup hipertensi, LVH dan kardiomiopati. Kardiomiopati ditandai oleh disfungsi diastolik dan aritmia.

D. KLASIFIKASI E. KOMPLIKASI Carpal Tunnel Syndrome Penyakit dipegerlangan tangan akibat penekanan syaraf atau neruus medianus pada saat melalui terowongan carpal dipergelangan tangan Penyakit arteri koroner Menyempit atau tersumbatnya pembuluh arteri karena penimbunan plak di dinding arteri Kardiomiopati yang disertai aritmia, hipertrofi ventrikular kiri, dan fungsi diastolik menurun Penyakkit yang melemah dan memperbesar otot jantung atau disebut juga miokardium Hipertensi Obstruksi jalan nafas Diabetes Melitus Kebutaan Kelumpuhan saraf III, IV, V, & VI dini terhadap acromegaly dapat mencegah komplikasi dari

F. PENCEGAHAN Pengobatan berkembang atau menjadi lebih buruk. G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a) Pengukuran kadar GH melalui radio immunoassay, kadarnya hanya meningkat pada penyakit aktif dan tidak ditekan oleh glukosa standar b) Perimetri untuk mencari defek lapang pandang visual bitemporal c) Rontgen tengkorak untuk melihat pembesaran sella, erosi prosesua klinoid, alur supraorbita, dan rahang bawah. d) Ct scan atau MRI untuk melihat ekstensi suprasellar

e) Rontgen tangan untuk mencari bentuk lempeng pada falang distal dan peningkatan jarak rongga antara sendi karena hipertrofi kartilago. f) Kadar glukosa serum meningkat g) Kadar fosfat dalam serum saat puasa bisa meningkat namun tidak memiliki manfaat diagnostic h) Rontgen dada dan EKG bisa menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri akibat hipertensi i) Pemeriksaan kadar GH sewaktu, tidak bernilai diagnostik oleh karena sekresi GH yang episodik, waktu paroh yang pendek dan terdapat tumpang tindih nilai GH akromegali dan sehat. Yang bernilai diagnostik adalah test supresi GH untuk melihat kemampuan pembebanan glukosa oral dalam menekan kadar GH. Diperiksa kadar GH pada sebelum, 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120 menit setelah pemberian 75 100gr glukosa oral. Pada pasien dengan akromegali, glukosa tidak dapat menekan kadar GH sampai < 2 ng/ml (atau < 1 mcg/l dengan metoda IRMA). Pemeriksaan IGF-1 (waktu paruh lebih panjang) lebih berguna untuk menilai sekresi GH secara terintegrasi, untuk skrining akromegali dan memantau hasil pengobatan. Perlu dicatat bahwa IGF-1 menurun pada kelaparan, obesitas dan DM, serta meningkat pada kehamilan. Pemeriksaan IGFBP-3 (IGF-binding protein-3) bernilai diagnostik bagi akromegali, disamping berguna untuk menilai aktifitas penyakit selama pengobatan. Pemeriksaan kadar PRL (prolaktin) perlu dilakukan oleh karena sekitar 20% adenoma hipofisis menghasilkan PRL bersamaan dengan GH. Prolaktin biasanya meningkat pada anak-anak dengan kelebihan GH. Pemeriksaan lain yang jarang dilakukan adalah kadar GHRH. Peninggian GHRH menunjukkan adanya GHRH ektopik. Pada penyakit hipofisis (GHRH independen), kadar GHRH normal atau menurun. Apabila diperlukan, dilakukan pemeriksaan hormon hipofisis lainnya, seperti TRH (thyrotropic hormone), ACTH (adrenocorticotrophic hormone) dan gonadotropin.

Disamping itu perlu dilakukan pemeriksaan kadar gula darah, trigliserida, kalsium urine dan fosfat darah. Diagnosis akromegali / gigantisme ditegakkan atas dasar gambaran klinis yang cukup jelas dan dipastikan oleh ditemukannya : a) Kadar GH tidak bisa ditekan sampai < 2 ng/ml dalam 2 jam setelah pembebanan dengan glukosa sebanyak 75 100 gr. b) Peningkatan kadar IGF-1 berdasarkan nilai normal untuk usianya. c) Peningkatan kadar IGFBP-3. d) Tumor hipofisis atau tumor-tumor lain (hipotalamus, paru, pankreas, dll) pada pemeriksaan CT-Scan atau lebih baik MRI. F. PENATALAKSANAAN Tujuan pengobatan adalah: Menormalkan tubuh kembali kadar GH atau IGF-1 Memperkecil tumor atau menstabilkan besarnya tumor Menormalkan fungsi hipofisis Mencegah komplikasi akibat kelebihan kadar GH/IGF-1 akibat

pembesaran tumor Terdapat 3 macam pengobatan akromegali yaitu pengobatan medis, bedah dan radiasi. 1. Pembedahan Untuk adenoma hipofisis, pembedahan transsphenoid merupakan pilihan dan dapat menyembuhkan. Walaupun pembedahan tidak dapat menyembuhkan pada sejumlah pasien, namun terapi perbedahan disepakati sebagai terapi lini pertama. Pada pasien-pasien dengan gejala sisa setelah pembedahan dapat diberikan pengobatan penunjang (medis dan radiasi). Hipofisektomi transsfenoid akan segera menghilangkan keluhan-keluhan akibat efek lokal massa tumor sekaligus menekan / menormalkan kadar GH / IGF-1. Remisi tergantung pada besarnya tumor, kadar GH dan

keterampilan ahli bedahnya. Angka remisi mencapai 80 85% pada mikroadenoma dan 50 65% pada makroadenomia. Pembedahan hipofisis transsphenoid berhasil pada 80 90% pasien dengan tumor < 2 cm dan kadar GH < 50 ng/ml. Hal hal yang harus diperhatikan pasca operasi : insulin tolerance test (ITT) : diperlukan untuk memantau aksis ACTH-kortisol, pada kasus yang membutuhkan pengobatan dengan kortisol sebagai terapi substitusi. OGTT, dikerjakan apabila kadar hormone pertumbuhan menetap diatas 2 g/l. TRH test harus dibuat untuk menunjukan test positif pre operatif. Fungsi kelenjar tiroid, apabila terjadi penurunan sekresi hormone tiroid, maka terapi substitusi hormone tiroid harus diberikan. 2. Radiasi. Untuk tercapainya hasil yang diharapkan dengan terapi radiasi diperlukan waktu bertahun-tahun. Terapi radiasi hanya diberikan sebagai terapi penunjang untuk tumor besar dan invasif dan apabila terdapat kontraindikasi operasi. Apabila mungkin, terapi radiasi harus dihindari untuk pengobatan gigantisme. Tindakan radiasi dapat dilaksanakan dalam 2 cara, yaitu: a. Radiasi secara konvensional menggunakan sinar energi proton dimulai dengan dosis kecil ( waktu 5 minggu) tujuannya adalah untuk mencegah kerusakan jaringan sehat. Misalnya khiasma optikum atau hipotalamus. Total radiasi dengan cara ini dapat mencapai 4500 rad. Radiasi memberikan manfaat pengecilan tumor, menurunkan kadar hormone pertumbuhan, tetapi dapat pula mempengaruhi fungsi Fungsi gonad, dengan melakukan pemeriksaan hormone testoreron dan FSH/LH.

hipofisis. Penurunan kadar hormone pertumbuhan umunya mempunyai korelasi dengan lamanya radiasi dilaksanakan. b. Radiasi dengan energy tinggi partikel berat dapat memberikan hasil yang lebih baik tetapi membawa resiko lebih besar pada gangguan penglihatan. Radiasi ini dilaksanakan dengan dosis 12.000 cGy atau 12.000 rad, dan diarahkan kesentral adenoma. 3. Pengobatan medis. Tujuan pengobatan medis adalah menghilangkan keluhan / gejala efek lokal dari tumor dan / atau kelebihan GH / IGF-1. Untuk itu sasaran pengobatan adalah kadar GH < 2 ng/ml pada pemeriksaan setelah pebebanan dengan glukosa ( < 1 mcg / l dengan cara IRMA), disamping tercapainya kadar IGF-1 normal. Pengobatan medis utama adalah dengan analog somatostatin dan analog dopamin. Oleh karena somatostatin, penghambat sekresi GH, mempunyai waktu paruh pendek maka yang digunakan adalah analog kerja panjang yang dapat diberikan 1 kali sebulan. Ocriotide adalah reseptor somatostatin sub tipe II dan V dan menghambat sekresi GH. Lanreotide, suatu analog somatostatin sustained-release yang dapat diberikan satu kali dua minggu ternyata efektif dan aman untuk pengobatan akromegali. Cara pemberian melalui subkutan. Dosis: dosis rata-rata adalah 100-200 mikrogram diberikan setiap 8 jam. Perbaikan klinis yang dicapai: Menurunkan kadar GH sampai <5ng/ml pada 50% pasien Menormalkan kadar IGF-1 pada 50% kasus Penyusunan tumor Efek samping: ringan dan mempunyai sifat sementara yaitu nyeri local/di daerah suntikan dank ram perut Brokriptin

Bromokriptin merupakan suatu antagonist dopamin yang banyak digunakan dalam menekan kadar GH / IGF-1, akan tetapi kurang efektif dibandingkan dengan oktreotid Dianjurkan memberikan dosis 2,5 mg sesudah makan malam, dan dinaikkan secara berkala 2,5 mg setiap 2-4 hari. Perbaikan klinis yang dicapai antara lain adalah: Ukuran tangan dan jari mengecil, dan Terjadi perbaikan gangguan toleransi glukosa Efek samping yang terjadi adalah vaso spasme digital, hipotensi ortostatik, sesak napaf ringan, nausea, konstipasi, dll Suatu agonist dopamin yang baru, yaitu cabergoline ternyata lebih efektif dan lebih dapat ditolerir dalam menekan GH terutama apabila terdapat kombinasi dengan hiperprolatinemia. Akhir-akhir ini pegvisomant, suatu antagonist reseptor GH terbukti dapat menormalkan kadar IGF-1 dan memperbaiki gejala klinis. G. PERAN PERAWAT Perawat sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memerhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan sesuai kebutuhan dasar manusia, kemudian dpat dievaluasi tingkat perkembangannya. Perawat sebagai Advokat Klien Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien, juga dapat berperan memertahankan dan melindungi hak-hak klien yang meliputi hak atas pelayanan sebaikbaiknya, hak atas informasi penyakit, hak atas privasi, hak untuk

memnentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. Perawat sebagai Edukator Peran ini dilakukan dengan membantu klien dapat meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Perawat sebagai Koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisir pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah sesuai dengan kebutuhan klien. Perawat sebagai Kolaborator Perawat melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya dalam mengidentifikasi pelayan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya. Perawat sebagai Konsultan Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan. Perawat sebagai Pembaharu Peran ini dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan sistematis dan terarah sesuai metode pemberian pelayanan kesehatan. Perawat dapat membaharui/merubah system atau metode terdahulu apabila metode yang ada sekarang lebih sistematis dan terarah. Peran perawat menurut hasil lokakarya keperawatan tahun 1983: (tambahan untuk peran perawat yang diatas) Perawat sebagai Pelaksana Pelayanan Keperawatan (= Pemberi Asuhan Keperawatan)

Perawat sebagai Pengelola Pelayanan dan Institusi Keperawatan (= Koordinator) Perawat sebagai Pendidik (= Edukator) Perawat sebagai Peneliti dan Pengembang Pelayanan Keperawatan Perawat ikut berperan dalam pengembangan body of knowledge keperawatan dan perawat perlu menciptakan tambahan pendidikan tingkat tinggi sehingga proses kreativitas juga pemikiran yang lebih kritis dapat tercapai.

I. PENGKAJIAN Identias klien nama : Ny. E usia suku Status : 44 Tahun : sunda : sudah menikah

golongan darah : B Diagnosa Medis: syndrome gigantisme akromegali Riwayat kesehatan a. Keluhan utama kaki b. Riwayat kesehatan masa lalu : 3 bulan yang lalu klien mulai merasakan kulit yang melapisi hidung, bibir, dan bagian dari wajah menjadi tebal dan kasar, rahang menjadilebih menonjol, kulit lebih berlemak, lidah kian besar, dan suara membesar. Riwayat psikologis Klien mengatakan malu dengan kondisi tersebut TTV e) Nadi f) Suhu g) TD h) RR Hasil LAB Hb : 12.8 : 78x/menit : 35.1C : 120/90 mmHg : 20x/menit : terjadi pembesaran pada telapak tangan dan

Leukosit : 5900 Ht Trombosit : 37% : 215.000

MRI kepala tampak adenoma hipofisis

Pola fungsi kesehatan a. Aktivitas : terganggu karena terjadi pembesaran pada telapak tangan dan kaki, suara memberat

b. Cairan dan nutrisi : terganggu karena rahanng menjadi menonjol, lidah membesar, kulit bibir menebal Pemeriksaan B6 a. Breath (B1) b. Blood (B2) c. Brain (B3 ) penglihatan d. Bladder (B4) e. Bowel (B5) membesar f. Bone (B6) Pengkajian fokus Inspeksi : pembesaran telapak tangan dan kaki, kulit yang melapisi hidung, bibir, dan bagian dari wajah menjadi tebal dan kasar, rahang menjadi lebih menonjol, lidah kian besar No 1 Data DS : i) Klien mengeluh pada Masa post pubertas 3 bulan Lempeng epifisis sudah pembesaran j) Sejak Palpasi : kulit yang melapisi hidung, bibir, dan bagian dari : deformitas tulang belakang, nyeri sendi pada bahu, tulang, dan lutut. : biasanya pertumbuhan alat kelamin tak : pola BAB normal, terjadi gigantisme, gigi sempurna, penurinan lipido, impotensi meregang sehingga sulit menggigit dan sulit makan, lidah : biasanya terjadi gangguan nafas biasanya : jantung biasanya membesar dan fungsinya : terjadi nyeri kepala bitemporal, gangguan terjadi akibat adanya tumor terganggu. Sering terjadi gagal jantung

wajah menjadi tebal dan kasar, kulit lebih berlemak Auskultasi: suara kian memberat Kemungkinan Etiologi Hipersekresi GH Masalah Keperawatan Gg. Konsep diri : body image

J. ANALISIS DATA

telapak tangan dan kaki yang lalu klien mulai menutup merasakan kulit yang

melapisi hidung, bibir Penebalan dan bagian dari wajah pertumbuhan menjadi tebal dan abnormal kasar, rahang menjadi lebih menonjol, kulit lebih berlemak, lidah kian besar dan suara memberat k) malu kondisinya DO : Pemeriksaan Growth tanda kadar : Hormone Klien mengatakan dengan

tulang

dan jar.lunak

Pembesaran

telapak

tangan dan kaki Raut wajah, hidung dan bibir semakin kasar dan tebal lidah membesar Rahang menonjol ke depan Suara lebih dalam dan berat Malu dengan kondisinya Gg. Konsep diri : body image Hipersekresi GH Gg. Integritas kulit

peningkatan IGF-I dan Sindroma Gigantisme Akromegali Pada MRI kepala tampak adenoma hipofisis

DS : l) Klien mengeluh pembesaran m) Sejak 3

pada Masa post pubertas bulan Lempeng epifisis sudah

telapak tangan dan kaki yang lalu klien mulai menutup merasakan kulit yang melapisi hidung, bibir Penebalan dan bagian dari wajah pertumbuhan menjadi kasar, berlemak tebal kulit dan abnormal lebih Pembesaran telapak tulang dan jar.lunak

DO : Pemeriksaan Growth tanda kadar : Hormone

tangan dan kaki Raut wajah, hidung dan bibir semakin kasar dan tebal

peningkatan IGF-I dan Sindroma

Gigantisme Akromegali Gg. Integritas kulit 3 DS : DO : Penekanan struktur sekitar oleh massa tumor Risiko komplikasi dan Hipersekresi GH gg. metabolik pemakaian glukosa di tubuh Glukosa banyak beredar di sirkulasi Glukosa darah Hiperglikemia Diabetes mellitus Risiko komplikasi Pembesaran tumor Risiko komplikasi

K. NURSING CARE PLANNING Diagnosa Tujuan : klien : klien Intervensi Kaji karakteristik nyeri Ciptakan lingkungan yang nyaman Berikan kompres panas Ajarkan relaksasi nyeri Kolaborasi : Terapi medikamentosa : diberikan brokriptin ocreotide acting somatostatin analogue) Terapi pembedahan mikro : bedah makro dan agosis dan (long Bedah ini dilakukan tergantung besarnya tumor Sebagai terapi pilihan secara tunggal, apabila tindakan operasi tidak memungkinkan dengan dopamine seperti lembab teknik bila Untuk menurunkan Dapat mengalihkan pada kepala Rasional Membantu dalam Keperawatan Gangguan rasa Tupen nyaman berhubungan dengan tumor hipofisis) ditandai adanya hipofisis adanya (adenoma Tupan yang nyeri dengan hilang adenoma nyeri nyeri berkurang

membuat diagnose Lingkungan nyaman Untuk yang membantu mengurangi

klien untuk beristirahat sakit kepala klien

pada MRI kepala

persepsi nyeri klien

kadar HP dalam darah

Terapi radiasi : secara konvensional atau dengan energy Agar pasien dapat

Ganguan

Konsep Tupen: jam bisa

pqrtikel berat n) Pertahankan lingkungan yang kondusif perubahan tubuh menjalin kepada pasien o) Kaji klien dengan mengidentifikasi dan mengembangkan mekanisme koping pasien p) Bantu pasien untuk citra dan trust membicarakan

Diri : Body Image dalam waktu berhubungan dengan 7x24 perubahan tubuh dengan tangan yang hidung, dan membesar, bibir struktur pasien

mengungkapkan tentang perasaan dan anggapan keadaanya mengenai

ditandai menerima telapak kondisinya. kaki kulit Tupan: tidak melapisi terjadi dan penurunan

Untuk membantu pasien dalam mengatasi perubahan fisik

bagian dari wajah body image menjadi tebal dan yang kasar, menjadi menonjol, mengatakan dengan sekarang rahang berlebihan lebih pada pasien pasien malu

Membantu pasien untuk mengalihkan perhatian tentang positif keadaannya dengan melakukan ha

mengidentifikasi kekuatannya serta segi-segi yang oleh pasien positif dapat

kondisinya

dikembangkan Gaya hidup pasien sangat q) Bantu dalam mengembangkan rencana untuk menyelaraskan pasien berpengaruh mengembangkan mengontrol pasien dalam dan koping terhadap

perubahan tubuh

semua perubahan dalam gaya hidup r) Berikan support penyakit pasien dan pasien Agar pasien merasa tidak Kolaborasi : Kolaborasi pasien klien dengan untuk anggota keluarga selalu mensupport sendiri meningkatkan kepercayaan pasien diri dan Meningkatkan koping dan kepercayaan terhadap kesembuhan penyakitnya

keyakinan bahwa dapat sembuh