Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Tumor esofagus merupakan jenis tumor yang paling sering terjadi di dalam sel yang melewati dinding kerongkongan. Tumor esofagus ada yang bersifat jinak dan ada yang bersifat ganas. Tumor jinak yang paling sering terdapat pada esofagus adalah tumor berasal dari lapisan oto yang disebut leiomioma. Sedangkan tumor yang bersifat ganas sering dikenal dengan kanker esofagus. Jenis yang paling sering terjadi pada kanker esofagus adalah squamous cell carcinoma dan adenokasinoma. Dari kedua tumor tersebut sekitar 95% tumor yang ada di esofagus adalah tumor yang bersifat ganas.1 Kanker esofagus termasuk kanker peringkat ke sembilan yang paling sering terjadi dan peringkat ke tujuh penyebab utama kematian di seluruh dunia kanker. Insidensi secara dramatis meningkat terutama adenokarsinoma esofagus. Berbagai terapi telah dikembangkan untuk meningkatkan kelangsungan hidup pasien dengan kanker esofagus namun tetap saja kelangsungan hidup secara keseluruhan masih tetap rendah dengan kelangsungan hidup 5 tahun sekitar 15 %.1 Di Amerika Serikat kejadian kanker esofagus secara dramatis meningkat terutama adenokarsinoma esofagus yang memiliki pertumbuhan tercepat angka kejadiannya di semua kanker di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat karsinoma esofagus terjadi dua kali lebih sering pada pria dari pada wanita, lebih sering terjadi pada kulit hitam dari pada kulit putih.2 Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi para peneliti percaya bahwa beberapa faktor resiko seperti merokok dan alkohol dapat menyebabkan kanker esofagus dengan cara merusak DNA sel yang melapisi bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel tersebut menjadi abnormal. Iritasi ini berlangsung lama pada dinding esofagus, seperti pada Gastro esophageal reflux disease, Barrets esophagus dan akhalasia dapat memicu terjadinya kanker. Beberapa faktor resiko yang dapat mepertinggi kejadian kanker esofagus diantaranya adalah merokok dan konsumsi alkohol, obesitas, gastro esophageal reflux disease, Barrets esophagus, diet, akhalasia dan helikobateri pylori.3

Kanker esofagus adalah salah satu tumor dengan tingkat keganasan tinggi, prognosisnya buruk, walaupun sudah dilakuakn diagnosis dini dan penatalaksanaan. Kanker esofagus juga merupakan salah satu kanker dengan tingkat kesembuhan terendah, dengan 5 year survival ratarata kira-kira 10 %, survival rates ini terburuk setelah kanker hepatobilier dan kanker pankreas.4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Esofagus Esofagus merupakan organ berupa tabung muskular yang berfungsi dalam transport bahan-bahan yang ditelan. Panjangnya kira-kira 24 cm, menghubungkan faring yang terletak sekitar vertebra servikal 6 dan esophagogastric junction yang berada tepat di bawah diafragma pada ketinggian vertebra torakal 11. Esofagus dibagi menjadi tiga daerah anatomis yaitu sepertiga atas, tengah dan bawah. Sepertiga atas adalah bagian esofagus sampai arkus aorta, sepertiga tengah adalah bagian esofagus sampai vena pulmonalis inferior dan sepertiga bawah adalah esofagus sampai esophagogastric junction.5 Dinding esofagus memiliki beberapa lapisan yaitu inner layer atau mukosa : lapisan dari esofagus yang lembab sehingga makanan dapat lolos ke perut, submukosa : kelenjar dalam lapisan ini menghasilkan lender,lender menjaga kelembaban esofagus dan outer layer : lapisan luar yang melindungi esofagus.3

Gambar 1. Anatomi Esofagus 3 Mukosa esofagus terdiri atas epitel berlapis gepeng (stratified squamous epithelium) yang merupakan kelanjutan dari mukosa faring, lamina propia verupa jaringan ikat longgar yang berada langung dibawah epitel dan lamina muskularis mukosa. Daerah esophagogastric junction
3

ditandai dengan perubahan mendadak epitel berlapis gepeng yang berwarna pucat pada esofagus menjadi epitel torak yang berwarna merah tua pada kardia yang mudah dikenali. Daerah perbatasan ini tampak sebagai garis yang irregular atau bergerigi disebut Zigzag-line atau Z-line yang dalam keadaan normal berada pada lower esophageal sphincter. Dibawah mukosa terdapat lapisan submukosa yang terdiri atas serat elastik dan kolagen. Lapisan muscular pada 50% sampai 60% bagian bawah esofagus merupakan otot polos, pada 5% bagian proksimal adalah otot skeletal, sisanya berupa campuran otot polos dan otot skeletal.5 2.2. Tumor Ganas Esofagus ( Kanker Esofagus )

2.2.1. Definisi Tumor ganas esofagus adalah karsinoma yang berasal dari sel epitel berlapis gepeng yang melapisi lumen esofagus. Tumor ganas esofagus dimulai dari lapisan dalam (mukosa) dan tumbuh hingga ke submukosa dan lapisan otot.3 2.2.2. Epidemiologi Kanker esofagus menunjukkan gambaran epidemiologi yang unik berbeda dengan keganasan lain. Kanker esofagus memiliki variasi angka kejadian secara geografis berkisar dari 3 per 100.000 penduduk di negara barat sampai 140 kejadian per 100.000 penduduk di Asia Tengah.. Di Pakistan keganasan ini relative sering dan merupakan keganasan terbanyak ke-6 pada pria dank ke-6 terbanyak pada wanita di Karachi. Data di Karachi menunjukkan bahwa secara histopatologi dominasinya adalah karsinoma sel skuamosa diikuti oleh adenokarsinoma, dimana adenokarsinoma ini di negara barat justru lebih sering.4 Kematian akibat kanker esofagus di Jepang semakin meningkat dengan korelasi usia yang lebih tua. Selama dua dekade terakihr angka kematian akibat kanker esofagus pada pria telah meningkat 2 kali lipat sedangkan wanita 1,3 kali lipat. Tingkat kematian secara keseluruhan pada populasi umum dari kanker esofagus pada tahun 2011 adalah 14,7 per 100.000 orang pada pria dan 2,6 per 100.000 orang pada wanita.6

2.2.3. Faktor Resiko Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi para peneliti percaya bahwa beberapa faktor resiko seperti merokok dan alkohol dapat menyebabkan kanker esofagus dengan cara merusak DNA sel yang melapisi bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel tersebut menjadi abnormal. Iritasi ini berlangsung lama pada dinding esofagus, seperti pada GERD, Barrets esophagus dan akhalasia dapat memicu terjadinya kanker. Beberapa faktor resiko yang dapat mepertinggi kejadian kanker esofagus diantaranya adalah : 3,7,8 1. Merokok dan konsumsi alkohol Konsumsi alcohol dan merokok berkaitan dengan kejadian kanker esofagus. Alkohol dan rokok dapat menyebabkan iritasi kronik pada mukosa esofagus. Orang yang merokok 1 bungkus perhari memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk menderita adenokarsinoma esofagus dibandingkan dengan yang tidak merokok. 2. Obesitas Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki resiko tinggi untuk menderita adenokarsinoma esofagus. Hal ini berkaitan dengan peningkatan intra abdomen dan refluks esofagus. 3. Gastro esophageal reflux disease (GERD) Orang yang menderita gastro esophageal reflux disease beresiko 2 hingga 16 kali lebih tinggi untuk menderita adenokarsinoma esofagus dibandingkan dengan orang normal. Resiko bergantung pada seberapa panjang refluk dan gejala yang terjadi. Sekitar 30 % kejadian kanker esofagus dikaitkan dengan kejadian gastro esophageal reflux disease. 4. Barrets esophageal Hal ini disebabkan refluk asam dari lambung ke esofagus (kerongkongan) yang dialami dengan jangka waktu yang lama. Kebanyakan orang dengan Barrets esophagus telah mengalami gejala sakit maag tetapi banyak juga yang tidak mengalami gejala sama sekali. Seiring waktu refluk asam lampung dapat mengubah sel-sel di esofagus. Hal ini menimbulkan resiko ademokarsinoma dari esofgaus. Tetapi tdk semua orang yang menderita Barrets esophagus mendapatkan kanker esofagus.

5. Diet Studi menunjukkan bahwa memiliki diet rendah buah-buahan dan sayuran meningkatkan resiko terkena kanker esofagus, karena terkandungnya vitamin dan mineral dalam buah dan sayur yang dapat mencegah kanker. Namun hal ini juga belum jelas dan belum dapat dibuktikan. Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana diet mempengaruhi resiko terkena kanker esofagus. 6. Akhalasia Pada penyakit ini, otot pada bagian bawah esofagus tidak berfungsi dengan baik. Makanan dan cairan yang masuk kedalam lambung menjadi tertahan dan cenderung berkumpul di esofagus. Akibatnya esofagus mengkompensasi dengan melakukan dilatasi. Seiring waktu hal ini dapat meningkatkan resiko terkena kanker esofagus. Orang dengan akhalasia memiliki resiko untuk mengalami kanker esofagus 15 kali lebih besar dibandingkan dengan orang normal. Sekitar 6 % (1 daari 20 orang) dari semua kasus akhalasia berkembang menjadi squamous cell carcinoma. 7. Helikobateri pylori Adanya infeksi helikobakteri pylori dikaitkan dengan peningkatan 2-3 kali lipat terkena kanker lambung. Hubungan helikobakteri pylori dengan kanker esophagogastric junction masih belum jelas. Meskipun ada penelitian meta-analisis menimbulkan bahwa tidak ada hubungan dari keduanya. Sedangkan penelitian lain menggunakan meta-analisis mempertimbangkan masalah ini namun data yang tersedia sangat terbatas sehingga tidak ada kesimpulan yang dipata dengan jelas. 2.2.4. Klasifikasi Tumor ganas esofagus secara histopatologi digolongkan menjadi adenokarsinoma esofagus dan karsinoma sel skuamosa esofagus.3 Adenokasinoma esofagus Tipe ini biasanya ditemukan di bagian bawah esofagus dekat dengan lambung. Di Amerika Serikat adenokarsinoma adalah tipe yang paling sering terjadi dari kanker esofagus. Semakin meningkat sejak tahun 1970. Karsinoma sel skuamosa

Tipe ini biasanya di bagian atas esofagus. Tipe ini jarang ditemukan di Amerika Serikat. Namun di seluruh dunia tipe ini yang paling sering ditemukan. 2.2.5. Manifestasi Klinis Gejala tumor ganas esophagus dapat digolongkan dalam gelaja sumbatan, gejala penyebaran tumor ke mediastinum dan gejala metastasis ke kelenjar limfa. Gejala sumbatan dapat berupa disfagia yang progresif, regurgitasi dan penurunan berat badan. Gejala penyebaran tumor ke mediastinum akan menyebabkan suara parau, nyeri di daerah retrosternal, nyeri di daerah punggung, di daerah servikal dan gejala bronkopulmoner. Gejala metastasis ke kelenjar limfa dapat berupa terabanya massa tumor di daerah supraklavikula. Gejala dini tumor ganas esophagus dapat berupa bolus makanan terasa tertahan di suatu tempat pada saat menelan, rasa nyeri pada waktu menelan yang dapat menjalar ke telinga, tenggorok, dada dan lengan serta spasme esophagus di bagian proksimal dari tumor. Gejala disfagia biasanya timbul jika lumen esophagus sudah terisi maasa tumor lebih dari 50%. Pada permulaan disfagia terjadi bila pasien makan makanan padat. Dengan meningkatnya derajat sumbatan pasien akan mengeluh sulit menelan makanan lunaka dan akhirnya makanan cair. Jika tumor telah menginfiltrasi trakea akan timbul gejala batuk, stridor ekspirasi dan sesak nafas.9 2.2.6. Diagnosis Diagnosis kanker esofagus dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologi dan endoskopi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsi dari massa tumor atau pemeriksaan sitologi. Biopsi dapat dilakukan dengan pemeriksaan endoskopi.3,9,10 1. Pemeriksaan Radiologi a. Barium swallow Pada uji ini, cairan yang disebut barium di telan. Barium akan melapisi dinding esofagus. Ketika dilakukan X-ray barium akan membentuk esofagus dengan jelas. Tes ini dapat digunakan melihat apakah ada kelainan pada permukaan dinding esofagus. Tes barium biasanya menjadi pilihan utama untuk melihat penyebab

disfagia. Tes barium tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa jauh kanker telah bermetastase. b. CT scan Periksaan CT scan dapat membantu menegakkan diagnose dengan tepat. CT scan dapat menetukan ukuran tumor primer dan mencari adanya pembesaran kelenjar limfa disepanjang esofagus. Sebelum gambar diambil pasien diminta untuk minum cairan kontras sehingga esofagus dan bagian usus dapat terlihat jelas dan tidak terjadi pembiasan pada daerah sekitarnya. 2. Endoskopi a. Upper Endoscopy Endoskopi merupakan uji diagnostic yang paling utama untuk mendiagnosis kanker esofagus. Dengan bantuan endoskopi, dokter dapat melihat kanker melalui selang dan melakukan biopsy terhadap jaringfan kanker maupun jaringan lain yang ada di sekitar kanker yang tampak tidak normal. Jaringan yang telah diambil kemudian dikirim ke laboratorium dan dengan bantuan mikroskop dapat ditentukan apakah jaringan tersebut merupakan jaringan yang bersifat ganas (kanker). Pada tumor ganas yang eksofitik akan tampak berwarna merah atau keabu-abuan, ireguler dan mudah berdarah. b. Endoscopy ultrasound Merupakan jenis endoskopi yang menggunakan gelombang suara untuk melihat gambar bagian dalam tubuh. Endoskopi jenis ini sangat berguna untuk mementukan ukuran dari kanker esofagus dan seberapa jauh kanker tersebut telah menyebar ke jaringan lain. Uji ini tidak memiliki dampak radiasi sehingga aman untuk digunakan. 2.2.7. Stadium The American Joint Committee on Cancer Staging System 2002 membagi tumor berdasarkan TNM sistem. T adalah tumor primer, N adalah pembesaran kelenjar limfe regional dan M adalah metastase jauh. TNM sistem ditegakkan dari hasil pemeriksaan klinis, esofagoskopi dan CT scan.2,9

Tumor Primer (T) TX: Tumor primer tidak dapat dinilai T0: Tidak ada bukti ada tumor primer Tis: Carsinoma in situ T1: Invasi ke lamina priopia atau submukosa T2: Invasi ke tunika musku laris propia T3: Invasi ke tunika adventitia T4: Invasi ke struktur sekitar

Regional Lymph Nodes (N) NX: Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai N0: Tidak ada metastase ke kelenjar getah bening regional N1: Ada metastase ke kelen jar getah bening regional

Metastase (M) MX: Metastase tidak dapat dinilai M0: Tidak ada metastase jauh M1: Ada metastase jauh

Klasifikasi Metastase Tumor pada bagian bawah esofagus M1a: Metastase di limfa nodus celiac M1b: Metastase jauh lainnya Tumor pada bagian tengah esofagus M1a: Not applicable M1b: Nonregional lymph nodes and/or other distant metastasis Tumor pada bagian atas esofagus M1a: Metastase ke nodus servikal M1b: Metastase ke tempat lain

Stage Grouping Stage 0 Stage I Stage IIA Stage IIB Tis T1 T2 T3 T1 T2 T3 T4 Any T Any T Any T N0 N0 N0 N0 N1 N1 N1 Any N Any N Any N Any N M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M0 M1 M1a M1b

Stage III

Stage IV Stage IVA Stage IVB

2.2.8. Penatalaksanaan Pengobatan tumor ganas esofagus tergantung pada lokasi tumor, jenis tumor dan adanya metastasis. Pengobatan yang diberikan dapat berupa tindakan operasi, radioterapi, kemoterapi, operasi dan radioterapi, operasi dan kemoterapi serta operasi, radioterapi dan kemoterapi. Tindakan operasi dapat dilakukan untuk tujuan kuratif dan paliatif. Pada tumor stadium dini dilakukan operasi Enbloc esophagectomy. Pada tumor stadium lanjut pengobatan hanya bersifat palatif dengan melakukan operasi by pass berupa end to end esophagogastrostomy atau side to end esophagocolostomy.9 1. Operasi Operasi telah lama menjadi pengobatan andalan pada kanker esofagus. Ada beberapa jenis untuk kanker esofagus. Jenis tergantung dimana kanker itu berada. Untuk pembedahan harus ditentukan apakah dapat dioperasi atau tidak berdasarkan keadaan umum pasien secara klinis, tidak adanya fiksasi tumor ke jaringan sekitar atau tidak adanya metastasis ke organ lain. Penderita akan merasakan nyeri pada masa awal setelah operasi. Namun obat-obatan akan membantu dalam mengurangi rasa sakit tersebut. Efek samping yang ditimbulkan dari tindakan operasi diantaranya adalah meningkatnya resiko infeksi termasuk pneumonia, perdarahan setelah pembedahan dan gangguan pernapasan.3,10 Esofagektomi Merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat semua bagian dari esofagus, termasuk sebagian kecil dari lambung. Saat esofagus diangkat maka limfa nodus yang berada dekat dengan esofagus juga terangkat. Bagian atas esofagus sering dihubungkan dengan bagian lambung yang tersisa, bagian lambung tersebut ditarik kea rah dada atau leher menjadi bagian baru dari esofagus. Banyaknya esofagus yang diangkat, bergantung pada stadium tumor dan lokasi tumor berada. Jika tumor terletak di bagaian distal esofagus, maka bagian esofagus yang diangkat bisa mencapai 8 hingga 10 cm dari normal esofagus.10 2. Radioterapi Tindakan radioterapi telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dengan metode plaksanaan yang tepat. Radioterapi (terapi radiasi) menggunakan sinar berenergi tinggi untuk
10

membunuh sel-sel kanker. Sinar tersebut hanya mempengaruhi sel-sel kanker tidak untuk sel-sel disekitarnya. Terpi radiasi dapat digunakan sebelum atau sesudah operasi. Bahkan dapat digunakan sebagai terapi tunggal pengganti operasi. Terapi radiasi biasanya dikombinasikan dengan kemoterapi untuk mengobati kanker esofagus. Ada dua jenis terapi radiasi dalam pengobatan kanker esofagus. Terapi radiasi eksternal : radiasi berasal dari sebuah mesin besar di luar tubuh. Mesin ini bertujuan radiasi pada kanker. Perawatan biasanya 5 hari seminggu selama beberapa minggu. Terapi radiasi internal : radiasi jenis ini menggunakan semprotan anastesi untuk daerah esofagus sehingga pasien merasa lebih nyaman sepanjang terapi. Sebuah tabung/selang ditempatkan ke dalam esofagus. Zat radiasi akan keluar melalui tabung tersebut., ketika tabung diangkat zat radioaktif juga akan hilang bersamaan dengan keluarnya tabung diangkat, zat radioaktif juga akan hilang bersaman dengan keluarnya tabung, sehingga tidak meninggalkan sisa di dalam tubuh. Untuk jenis terapi radiasi ini, biasanya pengobatan tidak dilakukan secara kombinasi dengan terapi lainnya. Efek samping dari radioterapi bergantung pada dosis dan tipe radiasi. Terapi radiasi eksternal yang dilakukan pada daerah dada dan abdomen dapat menyebabkan radang tenggorokan atau nyeri pada perut dan usus. Efek samping lainnya yaitu mual dan muntah. Selain itu kulit di daerah yang mendapat terapi dapat menjadi merah, kering dan nyeri.10 3. Kemoterapi Kebanyakan orang dengan kanker esofagus mendapatkan kemoterapi. Kemoterapi menggunakan obat untuk menghancurkan sel-sel kanker. Obat-obat untuk kanker esofagus biasanya diberikan dalam beberapa siklus. Setiap siklus memiliki masa perawatan dan diikuti oleh masa istirahat. Kombinasi yang paling banyak digunakan adalah cisplatin dan 5-fluorouracil telah menjukkan respon objektif dalam 20-40% dari kasus kanker esofagus. Kemoterapi dapat membunuh sel kanker dengan cepat akan tetapi obat tersebut dapat membahayakan sel-sel normal yang ada di dalam tubuh yang membelah dengan cepat.10 4. Terapi paliatif Pada stadium lanjut dilakukan tindakan terapi paliatif agar pasien dapat menikmati makanan peroal.
11

Dilatasi mekanik : digunakan ketika tindakan pembedahan dan radioterapi bersifat kontraindikasi. Teknik dilatasi ini menggunakan balon dilatators yang dimasukkan ke esofagus dengan bantuan endoskopi. Karena resiko perforasi esofagus cukup tinggi pada tindakan ini maka dilatasi mekanik harus dilakukan secara perlahan dan hati-hati.

Terapi laser : terapiu ini cukup efektif untuk mengobati obstruksi yang disebabkan oleh tumor esofagus. Massa tumor dapat dihancurkan dengan menggunakan laser sehingga lumen bebas dari massa.8,10

2.2.9. Komplikasi Komplikasi terjadi akibat invasi jaringan dan efek kompresi oleh tumor. Selaim itu, komplikasi dapat timbul karena terapi terhadap tumor. Invasi oleh tumor sering terjadi ke struktur di sekitar mediastinum. Invasi ke aorta mengakibatkan perdarahan massif, ke pericardium terjadi tamponade jantung atau sindrom vena kava superior. Invasi ke saluran nafas mengakibatkan fistula trakeo-esofageal dan esofagopulmonal, uang merupakan komplikasi serius dan progresif mempercepat kematian. Sering terjadi obstruksi esophagus dan menimbulkan komplikasi yang paling sering terjadi yaitu pneumonia aspirasi yang pada gilirannya menyebabkan abses paru dan empiema. Selain itu, juga dapat terjadi gagal nafas yang disebabkan oleh ostruksi mekanik atau perdarahan. Perdarahan yang terjadi pada tumornya sendiri dapat menyebabkan anemia defisiensi besi sampai perdarahan akut massif. Pasien sering tampak malnutrisi, lemah, emasiasi dan gangguan sistem imun yang kemudian akan menyulitkan terapi.5 2.2.10. Prognosis Kanker esofagus adalah salah satu tumor dengan tingkat keganasan tinggi, prognosisnya buruk, walaupun sudah dilakuakn diagnosis dini dan penatalaksanaan. Kanker esophagus juga merupakan salah satu kanker dengan tingkat kesembuhan terendah, dengan 5 year survival ratarata kira-kira 10 %, survival rates ini terburuk setelah kanker hepatobilier dan kanker pankreas.4

12

BAB III KESIMPULAN Tumor ganas esofagus adalah karsinoma yang berasal dari sel epitel berlapis gepeng yang melapisi lumen esofagus. Tumor ganas esofagus dimulai dari lapisan dalam (mukosa) dan tumbuh hingga ke submukosa dan lapisan otot. Kanker esofagus menunjukkan gambaran epidemiologi yang unik berbeda dengan keganasan lain. Kanker esofagus memiliki variasi angka kejadian secara geografis berkisar dari 3 per 100.000 penduduk di negara barat sampai 140 kejadian per 100.000 penduduk di Asia Tengah.. Di Pakistan keganasan ini relative sering dan merupakan keganasan terbanyak ke-6 pada pria dank ke-6 terbanyak pada wanita di Karachi. Data di Karachi menunjukkan bahwa secara histopatologi dominasinya adalah karsinoma sel skuamosa diikuti oleh adenokarsinoma, dimana adenokarsinoma ini di negara barat justru lebih sering. Beberapa faktor resiko yang dapat mepertinggi kejadian kanker esofagus diantaranya adalah merokok dan konsumsi alkohol, obesitas, gastro esophageal reflux disease, Barrets esophagus, diet, akhalasia dan helikobateri pylori. Diagnosis kanker esofagus dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologi dan endoskopi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsi dari massa tumor atau pemeriksaan sitologi. Pengobatan tumor ganas esofagus tergantung pada lokasi tumor, jenis tumor dan adanya metastasis. Pengobatan yang diberikan dapat berupa tindakan operasi, radioterapi, kemoterapi, operasi dan radioterapi, operasi dan kemoterapi serta operasi, radioterapi dan kemoterapi.

13

DAFTAR PUSTAKA

1. Park, J.,Gene Therapy for Esophageal Cancer. In: Cancer Therapy. 2008.Vol 6: 35-37. 2. Layke, C.J.,et al. Esophageal Cancer. 2006.Vol 73: 2189-2191. 3. National Cancer Institute. Cancer of The Esophagus.2008:2-13. 4. Kartikawati, H., Data Survival dan Faktor Prognosis Pasien Kanker Esofagus di Pakistan. 2004: 1-3. 5. Abdurachman, S.A., Tumor Esofagus. In.Sudoyo, A.W.,et al. (eds.). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Keempat. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2006: 326-327. 6. Fujita, H., Present Status of Esophageal Cancer and its Treatment in Japan. 2004.Vol 10:135-136. 7. American Cancer Society. Esophageal Cancer Overview.2012 8. Ray, M., Management of Esophageal and Gastric Cancer.2006: 11-20. 9. Hadjat, F., Penyakit dan Kelainan Esofagus. In.Soepardi, E.A.,et al. (eds.). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2009: 296-297. 10. Lightdale, C.J., Esophageal Cancer.2002.Vol 94: 24-26.

14