Anda di halaman 1dari 8

BEBERAPA KENDALA DALAM MEMPRODUKSI PESTISIDA NABATI

W. Darajat Natawigena
Staf Pengajar Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UNPAD (Disajikan dalam Seminar Nasional PHT Promo 2000 tanggal 29 Juni 200)

I PENDAHULUAN
Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas produk yang berorientasi eksport, khususnya kekuatan ekonomi di Eropa dan AS yang dengan ketat telah mensyaratkan peraturan bebas residu pestisida, maka aplikasi perstisida nabati pada tanaman hias dan hortikultura, perlu memperoleh perhatian untuk dikembangkan, karena relatif tidak mencemari lingkungan, efek residunya relatif pendek dan kemungkinan hama tidak mudah berkembang menjadi tahan teerhadap pesrisida nabati. Di lain pihak, kebijaksanaan Pemerintah yang memperhatikan kelestarian lingkungan secara global dan keprihatinan kita tentang akibat samping yang tidak diinginkan dari penggunaan pestisida anorganik sintetik, mendorong minat untuk mengembangkan pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan sehingga dapat diterima sebagai salah satu komponen penting dalam PHT (Pengendalian Hama Secara Terpadu). Prospek pengembangan pstisida nabati di Indonesia cukup baik karena ditunjang oleh sumber daya alam yang berlimpah. Indonesia memiliki salah satu kebun raya terbaik di dunia. Masih banyak tanaman di Kebun Raya Bogor maupun cabangnya di Purwodadi yang manfaatnya belum diketahui sepenuhnya. Sifat dari tumbuhan yang berkerabat dekat dengan tumbhan yang telah diketahui mengandung bahan aktif pestisida perlu diteliti. Salah satu hal menarik (yang mungkin patut disayangkan) ialah bahwa banyak peneliti di negara-negara lain, missal Jepang, Jerman dan Kanada, yang mengambil contoh tumbuhan dari Kebun Raya Bogor untuk diteliti kandungan senyawa bioaktifnya. Di beberapa negra maju, jika ditemukan bahan alami yang berpotensi sebagai pestisida maka lebih dulu diidentifikasi ssenyawa (bahan aktif) apa yang paling berperan. Sifat fisik dan kimiawi dari senyawa tersebut dipelajari sebagai prototip untuk dapat disintetis di laboratorium. Dengan senyawa murni dilakukan pengujian-pengujian meliputi daya bunuhnya, cara kerjanya (mode of action), daya racunnya terhadap hewan bukan sasaran dan sifat-sifatnya di lingkungan. Bentuk formulasi dipelajari untuk dapat menghasilkan produk yang efektif. Dengan prosedur demikian diperoleh pestisida yang jelas spesifikasinya, sehingga dapat diproduksi secara industri. Dengan demiian hutan trofika dan salah satu kebun raya terbaik di dunia, sebenarnya kita memiliki kesempatan yang baik dalam pengembangan produksi pestisida nabati. Namun demikian dalam rangka pengembangan produksi pestisida nabati kita masih mengalami beberapa kendala dan beberapa hambatan, serta masih kurangnya pemahaman tentang pengembangan pestisida nabati yang berorientasi industri maupun yang berorientasi pada

penerapan usaha tani berinput rendah. Dalam rangka pengembangan pestisida nabati, masih diperlukan penelitian- penelitian yang mendasar tentang mekanisme kerja masingmasing jenis pestisida nabati, masalah pengaruh suhu, sinari matahari (radiasi UV), kelembaban, bagaimana mengawetkan, standarisasi dan lain-lain. Di samping itu juga diperlikan strategi pengembangan pemanfaatan pestisida nabati yang dapat diproduksi secara murah dan dapat diterapkan di masyarakat. II. KENDALA PENGEMBANGAN PESTISIDA NABATI
Kurang berkembangnya penggunaan pestisida nabati selain kalah bersaing dengan pestisida sintetis juga karena ekstrak dari tanaman biasanya kadar bahan aktifnya tidak tetap, bervariasi dan tidak stabil. Nikotin, walaupun sudah lama diketahui sebagai pestisida, tetapi kurang diminati karena hanya efektif terhadap jenis-jenis serangga hama kecil yang berkulit tipis. Di Indonesia Rotenon, yang berasal dari tanaman D. elliptica, terdesak oleh pestisida sintetik karena harganya lebih murah. Untuk memasyarakatkan kembali penggunaan pestisida nabati, diperlukan kegiatan penelitian yang berkelanjutan, mengubah kebiasaan petani (social-budaya), penguasaan teknologi dan mampu bersaing di pasaran. 1. Kegiatan Penelitian Pestisida Nabati Masih Belum Terpadu

Saat ini kerjasama antar disiplin ilmu di perguruan tinggi (khususnya UNPAD) untuk mengembangkan pestisida nabati masih kurang. Hal ini terbukti dari belum terbentuknya unit jasa dan industri (UJI) tentang pestisida yang sebenarnya pembentukan UJI ini telah diharapkan oleh DIKTI semenjak Desember 1999. beberapa disiplin ilmu yang diperlukan untuk mengembangkan pestisida nabati secara komersial di antaranya adalah : Ahli Ilmu Hama & Penyakit Tumbuhan; Ahli Kimia (Kimia Organi & Anorganik); Ahli Biologi; Ahli Ekonomi; dll.
Pelaksanaan penelitian terhadap pestisida masih terputus-putus, menyebabkan informasi dan data yang dihasilkan belum dapat dijadikan dasar bagi pengembangan pestisida nabati selanjutnya. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang berkelanjutan dan terpadu, mulai dari apek tanamannya sendiri sampai kepada aspek pemasaran, sehingga dapat sitentukan arah dan strategi dari pengembangan pemenfaatan pstisida nabati secara jelas dan tuntas. 2. Mahalnya Biaya Untuk Mengembangkan pestisida Nabati

pengembangan pestisida nabati dari mulai pemilihan jasad sasaran, pemilihan jenis bahan aktif, penyediaan bahan baku, ekstraksi, pemurnian, pembuatan formulasi, paten, registrasi, pabrikasi dan pemasaran, memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Karena menyangkut biaya yang mahal maka dalam pelaksanaannya diperlukan suatu kerjasama dengan pengusaha. Sampai saai ini masih sedikit pengusaha yang tertarik untuk mengembangkan pestisida nabati, hal ini dimungkinkan karena tidak jelasnya jaminan ketersediaan bahan baku juga karena terlalu mahalnya biaya pengurusan perizinan serta panjangnya birokrasi yang perlu ditempuh untuk sampai dapat memesarkan suatu jenis produk racun hama/pestisida nabati.
3. Kebiasaan Petani (Sosial-Budaya) dalam Menggunakan Pestisida Sintetik

Dalam periode ini masih banyak petani beranggapan bahwa penggunaan pestisida sintteik dapat menjamin keselamatan hasil tanamannya. Oleh karena itu, ada atau tidak ada hama

terutama pada tanaman ekonomis dilakukan aplikasi pestisida (hal ini menyalahi aturan strategi PHT). Sebagai akibat dari pengertian yang dianut tersebut, muncul dampak negatif yang tidak diharapkan. Kebiasaan penggunaan pestisida sintetik dengan sistem kalendeer tersebut merupakan masalah yang sangat serius dalam rangka pemasyarakatan penggunaan dan pemanfaatan pestisida nabati. Untuk mengubah kebiasaan mereka perlu ditingkatkan kegiatan penyuluhan mengenai pemanfaatan pestisida nabati, dan mereka perlu bukti bahwa pestisida nabati memang lebih baik dari pestisida sintetik. Untuk itu perlu waktu yang relatif lama, kerja keras dari semua pihak dan kesadaran petani untuk kembali memanfaatkan dan menggunakan pestisida nabati.
4. Rendahnya Penguasaan Teknologi Pembuatan Pestisida Nabati

Masih terbatasnya penguasaan teknologi dalam pembuatan pestisida nabati, dari mulai teknik penyediaan bahan baku sampai produksi. Sampai saat ini tanaman penghasil pestisida nabati belum ada yang dibudidayakan petani. Belum dibudidayakannya tanaman tersebut di Indonesia antara lain disebabkan oleh penguasaan teknologi yang masih rendah, baik teknik budidayanya maupun teknologi pengolahan produk siap pakai. Oleh karena itu untuk memasyarakatkan penggunaannya, pemilihan bahan baku, teknik budidaya, manipulasi bahan dan atau teknoligo tepat guna lainnya perlu diteliti dan dikaji sebelum dikembangkan untuk pestisida nabati.
5. Pestisida Sintetik Mendominasi Pasar Pestisida sintetik mudah dipakai dan mudah didapat serta hasilnya segera terlihat merupakan suatu keunggulan yang telah mendesak/melenyapkan penggunaan pestisida nabati di pasaran. Juga dari segi harga kalah bersaing, sebab pestisida sintetik dibuat dari bahan kimia dan bahan bakunya tersedia dalam jumlah banyak menyebabkan harga produk relatif lebih murah. Sedangkan pestisida nabati yang dibuat dari bahan alamiah dan bahan bakunya terbatas (belum dibudidayakan secara luas) menyebabkan harga produknya relatif mahal.

III. PENGEMBANGAN PESTISIDA NABATI SECARA INDUSTRI Pengembangan industri pestisida nabati sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pengembangan industri pestisida sintetis. Perbedaannya terletak pada cara memperoleh bahan aktif. Pada industri pestisida nabati, bahan aktif telah disintesa oleh tumbuhan dan tinggal dilakukan proses ekstraksi. Selanjutnya adalah proses yang sama yaitu pembuatan formulasi, mendaftarkan paten, malakukan pengujian, registrasi dan memproduksi pestisida itu sendiri.
1. Penyediaan bahan aktif

Bahan aktif dari tumbuhan dengan pelarut tertentu; setelah ekstraksi seringkali diikuti dengan proses teertentu untuk meningkatkan kadar bahan aktifnya, kemudian ekstrak dikemas dalam formulasi yang sesuai. Saat ini proses ekstraksi dengan pelarut organic merupakan proses yang mahal sehingga harga formulasi pestisida nabati tidak selalu murah daripada harga formulasi pestisida sintetik. Harga formulasi pestisida nabati akan makin mahal bila di negara produsen formulasi tersebut pasokan bahan mentah (tumbuhan sumber ekstrak, pelarut untuk ekstraksi dan bahan tambahan untuk formulasi)

terbatas. Untuk penyediaan bahan aktif dapat dipilih gabungan beberapa senyawa bioaktif dalam bentuk teknis berupa ekstrak. Bahan aktif ini lebih ekonomis penyediaannya dan diduga mempunyai keuntungan memperlambat timbulnya resistensi terhadap senyawasenyawa bioaktifnya. 2. Pembuatan formulasi Kandungan bahan aktif perlu diatur sedemikian rupa agar formulasi yang diperoleh selain stabil juga mudah larut dalam air. Ke dalam formulasi juga ditambahkan bahan pelarut, bahan pengemulsi serta bahan pembawa. Formulasi yang diperoleh kemudian diuji untuk menentukan sifat fisik dan kimia serta ketahanannya pada penyimpanan. 3. Paten Pengembangan suatu formulasi pestisida nabati memerlukan waktu lama dan dana yang sangat besar. Untuk itu telah dimintakan perlindungan hokum atas proses pembuatan formulasi pestisida dalam bentuk paten ke Direktorat Jendral Hak Cipta, Paten dan Merek atau Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Permohonan dapat diajukan dengan melengkapi persyaratan administrasi berupa surat permintaan paten dan persyaratan fisik berupa uraian penemuan. 4. Pengujian efikasi dan toksisitas Pengujian efikasi formulasi perlu dilakukan di laboratorium sebagai uaya mengendalikan mutu formulasi yang diperoleh. Uji toksikologi juga perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat toksisitas pestisida nabati terhadap mamalia dan hewan bukan sasaran lainnya. 5. Registrasi Formulasi pestisida perlu diproses dan didaftarkan di Komisi Pestisida. Kendala yang dihadapi dalam proses registrasi diantaranya adalah dalam melengkapi data toksikologi. Tidak seperti pestisida sintetis, literature yang tersedia untuk data toksikologis mamalia dan lingkungan untuk pestisida nabati sangat terbatas. Perlu dilakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga yang berwenang untuk melakukan pengujian toksikologi jangka pendek dan jangka panjang. 6. Produksi Dalam rangka pembangunan pabrik, perlu dilakukan studi perbandingan ke pabrik pestisida yang telah maju di luar negeri. Juga perlu dipelajari cara-cara penanganan limbah industri dari pestisida nabati tersebut. IV. PENGEMBANGAN PESTISIDA NABATI SECARA SEDERHANA Yang dimaksud dengan pengembangan pestisida nabati secara sederhana adalah memanfaatkan pestisida nabati yang berorientasi pada penerapa usaha tani berinput

rendah. Para petani sering menggunakan sediaan sederhana tumbuhan untuk prngrndalian hama. Pengetahuan tersebut biasanya diwarisi dari generasi sebelumnya atau diperoleh dari petani tetangganya, dan bahan tumbuhan yang digunakan adalah yang mudah diperoleh di sekitar lahan pertanian atau tempat tinggalnya. Pengetahuan tersebut perlu diteliti kembali dan diuji keampuhannya oleh Perguruan Tinggi, untuk disempurnakan dan dibuat standarisasinya. Cara sederhana pemanfaatan pestisida nabati yang umum dilakukan oleh petani di Indonesia dan di negara berkembang lainnya adalah penyemprotan cairan perasan tumbuhan (ekstraksi dengan air), pengolahan sederhana, penempatan langsung atau penyebaran bagian tumbuhan di tempat-tempat tertentu pada lahan pertanaman, pengasapan (pembakaran bagian tanaman yang mengandung bahan aktif pestisida), penggunaan serbuk tumbuhan untuk mengendalikan hama di penyimpanan, dan pembuatan pestisida nabati dengan cara fermentasi. 1. Penggunaan cairan perasan tumbuhan Sebelum insektisida anorganik sinteetik digunakan secara luas, para petani di Jawa sering menggunakan cairan perasan daun tembakau dan akar tuba untuk mengendalikan kutu tanaman dan beberapa jenis hama ulat pada tanaman palawija dan sayuran tertentu. Cairan perasan umbi gadung (Dioscorea hispida) dan biji anona (Annona reticulate) sering digunakan oleh petani di Jawa Barat untuk mengendalikan berbagai jenis hama ulat. Petani sayur di daerah Pangalengan, Jawa Barat pernah menggunakan cairan perasan kacang babi (Mucuna sp.) untuk mengendalikan ulat grayak (Spodoptera exigua) pada bawang. Salah satu pondok pesantren di Ciwidey Al Ittifaq, membuat fungisida nabati dengan cara menggiling cikur (kencur) dan bawang putih kemudian diperas untuk mendapatkan cairannya. Untuk mengendalikan jamur cairan cikuer dan bawang putih tersebut dicampur dulu dengan air. Air rebusan biji mahoni (Swietenia macrophylla) di daerah Lebak, Jawa Barat, sering digunakan untuk mengendalikan hama kepindinng tanah (Scotinophara cinerea) dan walang sangit (Leptocorixa acuta) pada tanaman padi. Sejumlah petani padi di daerah Yogyakarta menggunakan campuran cairan perasan daun banglai (Zingiber casswnunar) dan jeringau (Acorus calamus) untuk mengusir jenis hama wereng.

Alkaloid Dioscorine dalam umbi gadung dan alkaloid Nicotine dalam daun tembakau bersifat cukup polar dan mudah diekstraksi dengan menggunakan air biasa. Namun, kemampuan air dalam mengekstrak bahan aktif pestisida dari tumbuhan umumnya terbatas, karena senyawa aktif tersebut merupakan senyawa organic yang kesetimbangan kepolarannya umumnya lebih cenderung non polar. Sehingga dalam ekstraksi dengan air diperlukan lebih banyak bahan tumbuhan bila dibandingkan dengan ekstraksi dengan bahan pelarut organic. Namun demikian, kelebihan bahan yang diperlukan tersebut mungkin masih lebih murah dari pada perbedaan biaya antara ekstraksi dengan menggunakan pelarut organic dan ekstraksi dengan air. Bahan aktif pestisida dalam tumbuhan tertentu, terutama dalam biji yang mengandung cukup banyak minyak, dapat

diekstrak secara lebih baik menggunakan air yang ditambah pengemulsi (missal Triton 0.2 %). Bila harga pengemulsi tersebut dirasakan mahal, sebagai gantinya dapat digunakan deterjen bubuk (1 g/lt air). Cairan perasan pestisida dari biji sejumlah tumbuhan Meliaceae, seperti Azadirachta indica, Melia excelsa serta dari biji tumbuhan Annonaceae, seperti Annona squamosa, A. glabra, dan A. reticulate dapat dibuat dengan cara sederhana tersebut. 2. Pengolahan Sederhana Pak keme, seorang anggota Kelompok Tani Marga Rahayu Desa Jangraga Kecamatan Padaherang Kabupaten Ciamis, telah berhasil membuat rodentisida nabati . rodentisida nabati tersebut dioleh secara sederhana dari bahan umbi gadung (Dioscorea hispida), buah aren (Arenga pinnata), singkong (Manihot utilissima), nenas (Ananas sativus) dan kelapa (Cocos nucifera). Cara pembuatannya adalah sebagai berikut : Buah aren dipotong dua dan direbus agak lama, setelah itu buah-buah arennya diangkat, dan masukkan umbu gadung, singkong dan nenas yang telah dicincang ke dalam air rebusan buah aren tadi. Kemudian dimasak sambil diaduk-aduk sampai matang dan terbentuk seperti agar. Setelah itu didinginkan, sebelum diumpankan di lapangan terlebih dahulu ditaburi kelapa parut. Kabarnya campuran tersebut disuaki oleh tikus dan sekaligus membunuhnya. 3. Penempatan Langsung beberapa bahan tumbuhan disebarkan atau ditempatkan secara langsung untuk mengusir hama dari pertanaman tertentu. Sebagai contoh, kulit batang suren (Toona sureni) digunakan oleh petani di Jawa Barat untuk mengusir hama walang sangit pada tanaman padi. Di daerah persawahan pasang surut di Delta Upang, Sumatera Selatan, daun serai (Andropogon nardus) disebarkan di pematang saawah untuk mengusir hama padi. Di beberapa daerah di Jawa Timur, kulit buah durian diletakkan dibawah balai-balai untuk mengusir kutu busuk Cimex lectularius. 4. Pengasapan Pengendalian hama dengan cara pembakaran bagian tanaman yang diduga mengandung bahan yang dapat membunuh atau mengusir serangga hama lebih terbatas bila dibandingkan dengan penggunaan cairan perasan tumbuhan. Sebagai contoh, di Jawa daun Achasma walang Val. (Zingiberaceae) setengah kering dibakar pada sudut-sudut sawah untuk mengusir sejenis walang sangit Leptocorixa acuta dan asap bakaran kulit buah duku kering dilaporka dapat megusir nyamuk (Heyne, 1987). 5. Penggunaan Serbuk Tumbuhan Serbuak daun srikaya (Annona squamosa) dilaporkan digunakan untuk melindungi bijibijian yang disimpan. Selain itu biji srikaya dapat digunakan untuk embasmi kutu anjing (Heyne, 1987), serta campuran serbuk biji srikaya dan minyak kelapa di Jawa digunakan untuk membuhuk kutu kepala Pediculus humanus L.

6. Pembuatan pestisida nabati dengan fermentasi Pembuatan pestisida nabati melalui fermentasi telah dilakukan di Pondok Pesantren Al Ittifaq di daerah Ciwidey. Insektisida nabati dibuat dengan cara mencampurkan kacang babi, gula merah, bawang putih, bawang merah, cabe rawit, temu lawak dan MFA (mikroorganisme fermentasi alami). MFA tersebut mengandung bakteri Saccharomyces sp., Lactobacillus sp., Cellulomonas sp. dan Rhizobium sp. Semua bahan tadi digiling lalu dicampur dengan air beras, lalu dibiarkan selama 14 hari. Pestisida tersebut kabarnya ampuh dalam mengendalikan Plutella xylostella yang menyerang kubis. Selain contoh-contoh temuan pestisida nabati yang telah diuraikan di atas, sebenarnya masih banyak temuan-temuan pestisida nabati lain yang dikembangkan sendiri oelh kalangan masyarakat secara sederhana yang berorientasi pada penerapan usahan tani berinput rendah, namun biasanya informasi tentang formulasi dan pembuatannya kurang lengkap. Hal ini diduga menyangkut masalah hak paten dari penemu pestisida tersebut. Sehingga perlu suatu sinergi kerjasama antara penemu pestisida nabati dengan Llembaga Pemerintah atau Perguruan Tinggi, Lembagai Swadaya Masyarakat dan Pengusaha, agar pestisida nabati tersebut dapat dikembangkan, dan dapat memasyarakat dan dapat diproduksi secara massal. V. KESIMPULAN DAN SARAN Beberapa kendala dalam pengembangan pestisida nabati di Indonesia antara lain adalah : kegiatan penelitian antar disiplin ilmu ahli pestisida masih belum terpadu; Masih sedikit pengusaha yang tertarik untuk mengembangkan pestisida nabati, karena ketidakjelasan jaminan penyediaan bahan baku serta bahan aktif dari tanaman yang tidak sama/tetap, bervariasi dan tidak stabil; Terlalu mahalnya biaya pengurusan perizinan serta panjangnya birokrasi yang perlu ditempuh untuk estisida nabati; Masih berakarnya ketergantungan dan kebiasaan petani (social-budaya) dalam menggunakan pestisida sintetik; Masih rendahnya penguasaan teknologi pembuatan pestisida nabat: Pestisida sintetik telah mendominasi pasar daripada pestisida nabati dan masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang manfaat penggunaan pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan. Indonesia dengan kekayaan sumber daya yang tidak ternilai besarnya, mempunyai potensi untuk mengembangkan berbagai jenis tanaman penghasil pestisida nabati. Dalam rangka pengembangan pembangunan dan pemanfaatan pestisida nabati perlu dilakukan penelitian yang berkelanjutan dan terpadu mulai dari aspek tanamannya hingga aspek pemasarannya, sehingga arah dan strategi pengembangannya dapat diselesaikan secara jelas dan tuntas. Pengetahuan pembuatan pestisida nabati yang ada di kalangan masyarakat perlu diteliti kembali dan diuji keampuhannya oleh Perguruan Tinggi, untuk disempurnakan dan dibuat standarisasinya. Berbagai langkah yang menyangkut identifikasi bahan aktif, pengembangan formulasi, validasi, efikasi, uji keamanan terhadap tanaman dan jasad bukan sasaran, toksikologi, pendaftaran dan penjajagan pasar perlu ditempuh untuk mengembangkan pestisida nabati

berskala industri. Pengembangan penyediaan bahan baku, efektivitas dan kestabilan formulasi merupakan kata kunci untuk keberhasilan pengembangan industri pestisida. PUSTAKA Djoko Prijono dan Hermanu Triwidodo, 1993. Pemanfaatan Insektisida Nabati di Tingkat Petani, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, IPB Bogor. Heyne, K., 1987. Denuttige planten van Indonesie. NV. Uitgeverijw. Van Hoeve Sgravenhage, Bandung. Natawigena, H., 1990. Pengendalian Hama Terpadu, Penerbit CV. Armico Bandung. Natawigena, H., 1992. Pengendalian Hama Secara Hayati. Penerbit TRON, Bandung. Natawigena, H., 1993. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Penerbit Trigenda Karya, Bandung. Permana, AD., T. Aditya dan S. Sastrodihardjo, 1993. Pengembangan Pestisida Mimba, PAU Ilmu Hayati ITB. Sjafril Kemala dan Ludi Mauludi, 1993. Potensi Sumberdaya dan permasalahan Pengembangan Pestisida Nabati di Indonesia, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.