Anda di halaman 1dari 8

MASUKAN NASKAH AKADEMIK

BAB .. PARTISIPASI MASYARAKAT


Dielaborasi dari berbagai bahan oleh: Suhirman Konsultan DRSP-USAID

Policy Goals

Berdasarkan diskusi yang berkembang di Depdagri, Tim Pakar sepakat untuk memasukan Partisipasi Masyarakat sebagai salah satu bab dalam Naskah revisi UU 32/2004. Tujuan utama dimasukannya Bab ini adalah: mewujudkan demokrasi partisipatif sekaligus meningkatkan kesejahteraan dan keadilan dalam tata pemerintahan lokal.

Masalah yang Ingin Dipecahkan oleh Regulasi

Bab Revisi UU 32/2004 disusun untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat di tingkat lokal yaitu: 1. Relasi antara pemerintah daerah dan masyarakat ditandai dengan miniminya disclosure dan diseminasi informasi kepada masyarakat. Hal ini karena pemerintah daerah merasa tidak berkewajiban untuk menyampaikan informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat, karena belum ada peraturan yang mewajibkan hal tersebut. Meskipun telah mulai tumbuh inisiatif masyarakat untuk ingin tahu dan bahkan ingin berpartisipasi dalam proses pembuatan kebijakan publik, perencanaan, penganggaran dan pelayanan publik di daerah-daerah, tetapi tidak ditemukan adanya inisiatif dari pemerintah untuk disclosure dokumen publik yang detail bagi akses publik sebagai imbangannya. Dokumen publik seperti peraturan daerah, dokumen perencanaan, anggaran, sumber daya alam dan aset daerah- di banyak daerah hanya dapat diakses dengan cara-cara pintu belakang. Cara-cara seperti ini mengakibatkan main besarnya asimetri informasi antara masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap informasi dengan pejabat dan pengusaha yang memiliki akses terhadap sumber-sumber data tersebut. Informasi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat lebih dipandang sebagai kebaikan bukan sebagai kewajiban pemerintah daerah kepada masyarakat. 2. Masih besarnya dominasi pemerintah dalam proses-proses pembuatan kebijakan, perencanaan pembangunan, pengganggaran, penyelenggaraan pelayanan publik serta pengelolaan sumber daya dan aset daerah. Dalam banyak kasus, proses-proses penyelenggaraan pemerintah juga ditandai oleh adanya patron-klien antara pemerintah, pejabat, dan pihak-pihak yang ingin memanfaatkan keputusan dan sumber daya lokal untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Masyarakat hanya dilibatkan pada tahapan paling awal sebagai bentuk pencarian legitimasi, tetapi masih sulit untuk memantau status aspirasi mereka di tingkat berikutnya, termasuk ketika telah menjadi dokumen peraturan daerah, perencanaan dan anggaran untuk diimplementasikan. Di sini terbentang hambatan

struktural bagi partisipasi masyarakat yang murni (genuine) dan substantif sabgai salah satu tujuan desentralisasi- dengan pelaksanaannya. Partisipasi yang dikembangkan baru sebatas partisipasi simbolik (degree of tokenism), bahkan masih ditemukan partisipasi yang bersifat manipulatif sehingga tidak layak disebut sebagai partisipasi. Hal ini disebabkan banyak Pemerintah Daerah masih memandang bahwa masyarakat bukan elemen penting dalam proses pembuatan kebijakan, perencanaan dan penganggaran karena sudah terwakili di DPRD. Klaim ini menyebabkan tidak ada kewajiban dan keinginan yang kuat (terutama dalam level institusional dan operasional) untuk melibatkan masyarakat dan memperhatikan secara sungguh-sungguh keingginan dan harapan masyarakat dalam proses-proses kepemerintahan. Atas dasar temuan tersebut, sangat dibutuhkan instrumen kebijakan yang memberikan kewajiban kepada pemerintah daerah untuk menjamin keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan, perencanaan, penganggaran, pengelolaan aset daerah dan pelayanan publik dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh kebutuhan, aspirasi dan harapan masyarakat. 3. Masih sedikitnya akses dan kesempatan yang dimiliki oleh masyarakat untuk mempersoalkan kinerja pemerintah daerah. Dalam banyak penelitian yang dilakukan oleh pemerintah, perguruan tinggi dan LSM, di hampir di semua daerah tidak ditemukan mekanisme dan prosedur terlembaga yang memungkinkan masyarakat mengontrol kinerja pemerintahan. Pemerintah daerah belum memiliki mekanisme menampung, menindaklanjuti dan menyelesaikan keluhan (complaint mechanism). Keluhan masyarakat terhadap kinerja dan kebijakan pemerintahan daerah nyaris tidak pernah diketahui hasilnya. Karena tidak ada kepastian mekanisme dan hasil yang akan didapat, maka masyarakat juga menjadi enggan untuk menyampaikan keluhan pelayanan publik kepada pemerintah. Di hampir semua kabupaten/kota tidak ditemukan payung hukum bagi kontrol masyarakat terhadap kinerja pemerintahan daerah. Kontrol masyarakat dilakukan secara spontan dengan cara-cara konvensional yang tidak terlembaga, serta tidak memiliki dampak bagi perubahan kinerja yang lebih baik. Dengan kondisi ini maka kinerja pelayanan yang diklaim pemerintah merupakan klaim yang semu karena tidak dapat dikonfirmasi langsung kepada masyarakat. 4. Dalam pelembagaan partisipasi, pemerintah daerah seringkali hanya mengakui dan melibatkan kelompok-kelompok organisasi masyarakat sipil yang berbadan hukum formal. Hal ini menyebabkan organisasi masyarakat di tingkat lokal dan atau organisasi yang tidak berbadan hukum misalnya asosiasi petani lokal, subak (asosiasi warga pengelola irigasi), kelompok nelayan, kelompok kesenian lokal, dan asosiasi masyarakat adat- tidak dilibatkan dalam proses-proses pembuatan kebijakan, perencanaan, penganggaran, pelayanan publik serta pengelolaan sumber daya alam dan aset daerah. Padahal peran mereka sebagai organisasi sosial, ekonomi dan budaya sangat kongkrit dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan baik secara ekonomi, sosial maupun budaya. 5. Hampir di seluruh daerah tidak ditemukan peraturan daerah yang mengatur tentang partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Padahal Peraturan Daerah merupakan sarana hukum yang penting bagi jaminan pengakuan keterlibatan masyarakat dalam pemerintahan. Dalam konteks partisipasi, peraturan daerah juga penting ditetapkan terutama yang berkaitan dengan pelembagaan partisipasi di tingkat daerah. Karena karakteristik sosial dan budaya daerah beragam, maka tidak mungkin ketentuan pelembagaan publik ini ditetapkan di tingkat pusat. Secara umum, ruang bagi publik untuk berpartisipasi saat ini lebih bersifat spontan melalui beberapa wahana. Diantara wahana utama yang sering dipergunakan sebagai media partisipasi adalah dengar pendapat publik

(public hearing) di DPRD, pengaduan di kotak-kotak saran, dan melalui lembaga-lembaga resmi lainnya di desa seperti Badan Permusyawaratan Desa. Meskipun demikian keterlibatan masyarakat tidak sampai padatingkatan pengambilan keputusan bersama dan kontrol oleh warga, melainkan hanya sampai pada tingkat informasi dan konsultasi. 6. Seringkali pemerintah daerah tidak melaksanakan kewajiban untuk melibatkan warga dalam proses-proses kepemerintahan karena tidak adanya insentif dan dis-insentif dari pemerintah pusat untuk menjalankan hal tersebut. Karena itu kewajiban untuk menjalankan proses kepemerintahan yang partisipatif wajib didorong melalui mekanisme insentif dan dis-insentif oleh pemerintah pusat. Mekanisme insentif dan dis-insentif harus dilakukan baik terhadap kelembagaan maupun terhadap pejabat publik yang mendorong atau menghambat partisipasi masyarakat.

Materi Muatan Revisi UU 32/2004 Bab Partisipasi Masyarakat

Untuk menjawab persoalan-persoalan di atas, maka tim Revisi UU 32/2004 merumuskan Bab Partisipasi Masyarakat dalam Revisi UU 32/2004 dengan materi muatan: 1. Mewajibkan Pemerintahan daerah untuk menjamin hak-hak masyarakat dalam mendapatkan informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, sekurang-kurangnya terkait dengan peraturan daerah, perencanaan pembangunan daerah, anggaran dan keuangan daerah, pengelolaan aset/sumber daya alam, dan pelayanan publik. 2. Mewajibkan Pemerintahan Daerah untuk memberikan akses dan melibatkan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan sekurang-kurangnya terkait dengan penyusunan peraturan daerah, perencanaan pembangunan daerah, penganggaran daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan pelayanan publik. Keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahanan sekurang-kurangnya dalam bentuk konsultasi publik, penyelenggaraan musyawarah, kemitraan, pembuatan keputusan bersama, penyusunan rencana bersama, pelaksanaan dan pengawasan oleh masyarakat. Pemerintahan Daerah wajib memberikan keterangan kepada masyarakat tentang hasil dari keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan. 3. Mewajibkan Pemerintah Daerah untuk menyediakan mekanisme pengaduan masyarakat. Mekanisme pengaduan masyarakat harus mencantumkan hak-hak masyarakat, perlindungan bagi pelapor, pihak pemerintah daerah yang menyelesaikan pengaduan, proses dan batas waktu penyelesaian pengaduan, proses mengolah laporan dan informasi mengenai status pengaduan kepada pelapor. 4. Mewajibkan pemerintahan daerah untuk mengakui keberadaan dan hak organisasi warga baik yang berbasis komunitas maupun berbasis fungsi yang bebas dan mandiri dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sekurang-kurangnya terkait dengan pembuatan peraturan daerah, perencanaan pembangunan daerah, penganggaran daerah, pengelolaan sumber daya alam dan pelayanan publik. Yang dimaksud dengan organisasi warga adalah organisasi formal atau non formal yang ada di dalam masyarakat untuk memperjuangkan kepentingan tertentu seperti kepentingan ekonomi, sosial dan budaya. Yang dimaksud dengan hak organisasi warga adalah kesempatan untuk terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan meliputi konsultasi publik, penyelenggaraan musyawarah, kemitraan, pembuatan

keputusan bersama, penyusunan rencana bersama, pelaksanaan dan pengawasan oleh masyarakat. 5. Mewajibkan pemerintah daerah untuk menyusun peraturan daerah mengenai tata cara memperoleh informasi publik, partisipasi, mekanisme pengaduan, dan penjaminan terhadap organisasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sekurang-kurangnya mencakup: a. Tata cara untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang setidak-tidaknya berisi tentang: waktu, prosedur, media, penanggungjawab pemberian informasi, dan sumber informasi. b. Tata cara pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan setidak-tidaknya mencakup tata cara pelibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan publik (perda), perencanaan, penganggaran, pelayanan publik serta pengelolaan sumber daya alam dan aset daerah. c. Tata cara mekanisme pengaduan masyarakat mencakup hak-hak masyarakat, perlindungan bagi pelapor, pihak pemerintahan daerah yang menyelesaikan pengaduan, proses dan batas waktu penyelesaian pengaduan, proses mengolah laporan dan informasi mengenai status pengaduan kepada pelapor. d. Jaminan yang memungkinkan organisasi warga mengembangkan peran aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah melalui akses terhadap informasi, sumber daya, proses dan model pengembangan kapasitas institusi. 6. Pemerintah memberikan sanksi kepada daerah yang tidak melaksanakan proses-proses pemerintahan secara partisipatif berupa pengurangan formasi kepegawaian, pengurangan dana perimbangan dan lain-lain sanksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pemerintah memberikan penghargaan kepada daerah yang memiliki indeks partisipasi masyarakat yang baik. Yang dimaksud dengan indeks partisipasi masyarakat adalah tingkatan yang menunjukkan kemajuan daerah dalam mendorong partisipasi masyarakat. 7. Memasukan aspek-aspek penting pelembagaan partisipasi dalam bab-bab yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat yaitu: Peraturan Daerah, Perencanaan Daerah, Penganggaran, Pengelolaan Asset Daerah, dan Pelayanan Publik.

Implikasi terhadap pasal-pasal lain yang dimuat dalam Revisi UU 32/2004 Bab Partisipasi Masyarakat

Materi Muatan Revisi UU 32/2004 Bab Partisipasi Masyarakat memiliki implikasi terhadap berbagai pasal yang mengatur asoek lain dari undang-undang ini yaitu: 1. Perlu adanya mekanisme yang memungkinkan masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap mandat yang diberikan kepada pemerintah dan lembaga perwakilan. Mekanisme kontrol tersebut dapat berupa dengar pendapat publik (yang paling rendah tingkatannya) sampai dengan mekanisme untuk mencabut mandat anggota DPRD yang tidak menjalankan fungsi dan mandat yang diberikan kepadanya (mekanisme peblisit). Khusus untuk mekanisme peblisit, perlu dipertimbangkan keuntuan dan kerugiannya yaitu di satu
4

sisi dapat meningkatkan akuntabilitas anggota DPRD tetapi di sisi lain dapat menimbulkan gejolak yang terus-menerus di kalangan masyarakat. 2. Perlu dituangkan aspek-aspek yang lebih teknis dari partisipasi masyarakat dalam pasalpasal yang mengatur: a. Mekanisme penyusunan perda dengan memuat kewajiban daerah untuk mengumumkan rancangan perda agar mendapatkan masukan dari masyarakat. b. Prosedur perencanaan daerah dengan memuat prinsip perencanaan partisipatif dalam perencanaan daerah. c. Prosedur penganggaran daerah dengan memuat keterbukaan dan kemungkinan masyarakat terlibat dalam proses pemrograman dan penganggaran. d. Pelayanan publik dengan memuat prinsip kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik. e. Pengelolaan sumber daya alam dan aset daerah dengan memuat prinsip keterbukaan infomrasi mengenai sumber daya alam dan aset daerah dan menetapkan prinsip-prinsip dasar keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan aset daerah. 3. Pasal-pasal mengenai kepegawaian (aparatur) daerah dengan menetapkan kemungkinan adanya sanksi terhadap aparatur daerah yang secara sengaja mengabaikan hak masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses kepemerintahan.

-------Rujukan: Makalah Tim Pakar Depdagri dan DRSP-USAID 1. Eko Prasodjo, Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, Paper Dipresentasikan dalam Diskusi Depdagri dan Tim Pakar di Jakarta 1 Oktober 2007 dan diskusi Bab Partisipasi Masyarakat dalam revisi UU 32/2004 yang diselenggarakan DRSP-USAID dan LGSP-USAID di Medan, 15 November 2007 2. Yeremias Kaban, Tanggapan Terhadap Topik Partisipasi Masyarakat, Paper dipresentasikan dalam diskusi Bab Partisipasi Masyarakat dalam revisi UU 32/2004 yang diselenggarakan DRSPUSAID dan LGSP-USAID di Surabaya, 13 November 2007. 3. Siti Djuhro, Partisipasi dan Tata Pemerintahan Daerah: Beberapa Pokok Pikiran untuk Revisi UU 32/2004. Paper dipresentasikan dalam diskusi Bab Partisipasi Masyarakat dalam revisi UU 32/2004 yang diselenggarakan DRSP-USAID dan LGSP-USAID di Surabaya, 13 November 2007 dan di Medan 15 November 2007. 4. Suhirman, Input Paper: Partisipasi Warga dan Tata Pemerintahan Daerah, Paper dipresentasikan dalam diskusi Bab Partisipasi Masyarakat dalam revisi UU 32/2004 yang diselenggarakan DRSPUSAID dan LGSP-USAID di Surabaya, 13 November 2007 dan di Medan 15 November 2007

Hasil Diskusi dan FGD

1. Masukan peserta FDG Pembahasan Bab Partisipasi Masyarakat dalam Revisi UU 32/2004 di Surabaya (13 November 2007) dan di Medan (15 November 2007). Diskusi ini melibatkan Tim Pakar Depdagri, NGO dan Pemerintahn Daerah untuk membahas Draft Bab Partisipasi Masyarakat dalam Revisi UU 32. FGD yang didukung oleh LGSP-USAID dan DRSP-USAID.

2. Masukan diskusi Forum Warga, di Makasar 14-18 April 2008. Dalam forum Jambore dibahas mengenai Partisipasi Masyarakat dalam Tata Pemerintahan. Peserta diskusi adalah NGO dan Organisasi Komunitas yang aktif berpartisipasi dalam proses-proses kepemerintahan di tingkat lokal. 3. FDG di Kabupaten Jeparan (3 Juli 2008), Kota Pontianak (10 September 2008, Kabupaten Buleleng (23 Oktober 2008) , dan Kota Bandar Lampung (28 Oktober 2008) yang diselenggarakan oleh Kaukus 17++ dengan dukungan DRSP-USAID. Peserta FGD adalah Pemerintah, NGO dan komunitas lokal. FGD membahas mengenai Partisipasi masyarakat dalam tata pemerintahan lokal dan pelayanan publik. 4. Pembahasan dalam Tim Kecil OTDA di Kantor Dirjen OTDA Jakarta.

-------Pasal-pasal yang diturunkan dari NASKAH AKADEMIK (Berdasarkan Hasil Diskusi Tim Kecil OTDA).

BAB XIII PARTISIPASI MASYARAKAT Bagian Kesatu Hak Masyarakat atas Informasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Pasal 194 (1) Pemerintahan daerah wajib menjamin hak-hak masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, sekurang-kurangnya terkait dengan peraturan daerah, perencanaan pembangunan daerah, anggaran dan keuangan daerah, pengelolaan aset/sumber daya alam, dan pelayanan publik. Pemerintah daerah menyusun tata cara untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang setidak-tidaknya berisi tentang: waktu, prosedur, media, penanggungjawab pemberian informasi, dan sumber informasi. Bagian Kedua Akses dan Tatacara Partisipasi Masyarakat Pasal 195 (1) Pemerintahan Daerah wajib memberikan akses dan melibatkan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan sekurang-kurangnya terkait dengan penyusunan peraturan daerah, perencanaan pembangunan daerah, penganggaran daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan pelayanan publik. Keterlibatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 sekurang-kurangnya dalam bentuk konsultasi publik, penyelenggaraan musyawarah, kemitraan, pembuatan keputusan bersama, penyusunan rencana bersama, pelaksanaan dan

(2)

(2)

pengawasan oleh masyarakat. (3) (4) Pemerintahan Daerah wajib memberikan keterangan kepada masyarakat tentang hasil dari keterlibatannya dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pemerintah daerah wajib menyusun tata cara pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Bagian Ketiga Pengaduan Masyarakat Pasal 196 (1) (2) Dalam penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah daerah wajib menyediakan mekanisme pengaduan masyarakat. Mekanisme pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencantumkan hak-hak masyarakat, perlindungan bagi pelapor, pihak pemerintahan daerah yang menyelesaikan pengaduan, proses dan batas waktu penyelesaian pengaduan, proses mengolah laporan dan informasi mengenai status pengaduan kepada pelapor.

Bagian Keempat Organisasi Warga Pasal 197 (1) Pemerintahan daerah mengakui keberadaan dan hak organisasi warga baik yang berbasis komunitas maupun berbasis fungsi yang bebas dan mandiri dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah sekurang-kurangnya terkait dengan pembuatan peraturan daerah, perencanaan pembangunan daerah, penganggaran daerah, pengelolaan sumber daya alam dan pelayanan publik. Catatan penjelasan: Yang dimaksud dengan hak dalam pasal ini adalah kesempatan untuk terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan meliputi konsultasi publik, penyelenggaraan musyawarah, kemitraan, pembuatan keputusan bersama, penyusunan rencana bersama, pelaksanaan dan pengawasan oleh masyarakat. Yang dimaksud dengan organisasi warga adalah organisasi formal atau non formal yang ada di masyarakat untuk memperjuangkan kepentingan tertentu seperti kepentingan ekonomi, sosial dan budaya. (2) Pemerintahan daerah memberikan jaminan yang memungkinkan organisasi warga mengembangkan peran aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah melalui akses terhadap informasi, sumber daya, proses dan model pengembangan kapasitas institusi.
7

Pasal 198 Tata cara memperoleh informasi publik, partisipasi, mekanisme pengaduan, dan penjaminan terhadap organisasi warga untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan selanjutnya diatur dengan peraturan daerah.

Bagian Kelima Penghargaan dan Sanksi Pasal 199 (1) Pemerintah memberikan sanksi kepada daerah yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 194 sampai dengan pasal 198 berupa pengurangan formasi kepegawaian, pengurangan dana perimbangan dan lain-lain sanksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Sanksi yang diberikan oleh pemerintah kepada daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan setelah melalui tahap teguran dan peringatan. Pemerintah memberikan penghargaan kepada daerah yang memiliki indeks partisipasi masyarakat yang baik. Penjelasan : Yang dimaksud dengan indeks partisipasi masyarakat adalah tingkatan yang menunjukkan kemajuan daerah dalam mendorong partisipasi masyarakat. (4) Tata cara pemberian penghargaan dan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

(2) (3)