Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN TUTORIAL 20 MODUL ILMU BEDAH TRIGGER 1

Fasilitator Ketua Sekertaris Anggota

: dr. H. Zulbadar Panil, DABK : Herin Elfani : Younki Adi putra : Gazia Fitri F Ari Saputra Setiowati Barkah Adina Putra Fifil R. S. Arrasyid Lia U. Freshi M. Fitri A. 10-197 10-198 10-199 10-200 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH PADANG 2013 10-194 10-195 10-196 10-193 10-192 10-191

Trigger 1 Ali yang ceroboh Seorang pasien ,Ali , laki laki , 22 tahun .datang kerumah sakit dengan patah tulang terbuka pada daerah tungkai bawah 1/3 distal 3 hari yang lalu. Sudah terlihat tanda2 infeksi pada daerah yang terluka. Pasien dating dengan demam, nyeri hebat didareha yang terlukadan terlihat sangat kesakitan . bagaimana langkah langkah yang tepat untuk pasien ini Step 1 CLARIFY UNFAMALIAR TERMS 1. Patah tulang terbuka : bentuk patah tulang yang patahannya tampak keluar 2. Tungkai bawah 1/3 distal : regrio cruris 3. Infeksi : masuknya dan berkembangnya mikroorganisme pathogen kedalam tubuh yang mengakibatkan radang.

Step 2 DEFINE THE PROBLEMS 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa keluhan utama pasien ? Bagaimana pemeriksaan fisik pada pasien patah tulang? Kenapa bisa terjadi infeksi pada pasien ? Apa yang menyebabkan pasien demam dan nyeri hebat ? Bagaimana langkah langkah penatalaksanaan yang tepat untuk pasien ? Daerah pada tungkai yang sering mengalami patah tulang ?

Step 3 BRAINSTORM POSSIBLE HYPOTHESIS OR EXPLANATION 1. Keluhan utama : demam dan nyeri hebat 2. LO 3. Terjadi infeksi pada pasien dikarenakan terjadinya patah tulang terbuka sehingga mudahnya mikroorganisme masuk 4. Demam karena terjadi infeksi Nyeri hebat patah tulang yang terbuka 5. Penatalaksanaan a. Rawat luka suntik TT dan antibiotic b. Lakukan pembidaian c. LO 6. Tungkai bawah

Step 4 ARRANGE EXPLANATION INTO A TENTATIVE SOLUTION


Ali

Demam dan nyeri hebat

Infeksi

Patah tulang

Definisi

Jenis dan Etiologi

Lokasi yang rawan

Gejala dan tanda

Pemeriksaan

Penatalaksanaan

Step 5 DEFINE LEARNING OBJECTIVE 1. 2. 3. 4. 5. 6. Definisi Jenis dan lokasi rawan Etiologi Gejala dan tanda Anamnesa dan pemeriksaan Penatalaksanaan berdasarkan patah tulang

Step 6 GATHERING INFORMATION AND PRIVATE STUDY Step 7 SHARE THE RESULT OF INFORMATION AND PRIVATE STUDY Patah Tulang 1. Definisi Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontuinitas jaringan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang dapat menyebabkan patah tulang, patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radikdan ulna dan dapat berupa trauma tidak langsung , misalnya jatuh tertumpu tangan yang menyebabkan tulang klavikuka atau radik distal patah.

2. Jenis dan lokasi yang kena a. Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar: 1. Patah tulang tertutup 2. Patah tulang terbuka b. Menurut garis frakturnya: 1. Fisura : diafisis metatarsal 2. Patah sederhana : diafisis metakarpal 3. Comunitif : diafisis femur 4. Segmental : diafisis tibia 5. Dahan hijau : diafisis radius pada anak 6. Impaksi : episis radius distal, kolumna femur lateral 7. Kompresi : korpus vertebra T. XII 8. Impresi : tengkorak 9. Patologis : tumor c. Dislokasi d. Berhubungan dengan patofisisologi dan perjalanan penyakit 3. Etiologi Cedera dapat terjadi karena : Gaya langsung : tulang langsung menerima gaya yang besar sehingga patah Gaya tak langsung : gaya yang terjadi pada suatu bagian tubuh lain yang relative lemah sehingga akhirnya bagian yang lain patah Gaya punter :gaya yang diterima dapat berupa putaran Fraktur terjadi karena penyakit tulang seperti tumor tulang. Osteoporosis yang disebut fraktur patologis Fraktur stress atau fatique, dimana frkatur ini b iasanya terjadi akibat di pengguanaan tulang secara belebihan berulang ulang

4. Gejala dan tanda a. Tanda i. Edem ii. Nyeri iii. spasme iv. echimosis

v. kehilangan fungsi b. gejala i. nyeri ii. deformitas iii. pembengkakan 5. Anamnesa a. Adanya trauma tertentu b. Berapa kuat trauma c. Ada keluhan nyeri Pemeriksaan a. Inspeksi Kesakitan Pembengkakan Perubahan bentuk Terputar Pemendekan Gerakan abnormal b. Palpasi Analisis nyeri Perubahan suhu disekitar trauma dan kelembapan kulit Otot tonus pada waktu relaksasi/kontraksi Pemeriksaan penunjang a. Laboratorium Hb, ht, LED, ca, F b. radiologi 6. Penatalaksanaan - Prinsip pengobatan 1. Reposisi mengembalikan posisi tulang keposisi semula 2. Imobilisasi mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan - Penanganan patah tulang dengan dislokasi fragmen patahan yang minimal/ tidak menimbulkan kekacauan o Cara pertama proteksi tanpa imobilisasi o Cara kedua imobilisasi + fiksasi tampa reposisi tapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi o Cara ketiga reposisi dengan cara manipulasi + imobilisasi o Cara keempat reposisi dengan fiksasi terus menerus selama masa tertentu o Cara kelima reposisi + imobilisasi dengan fiksasi o Cara keenam reposisi non operatif

o Cara ketujuh reposisi secara operatif + fiksasi patahan tulang dengan pemasangan fiksasi interna o Cara kedelapan eksisi dan mengganti jaringan yang rusak dengan prostesis

Penanggulangan fraktur terbuka: 1. Obati sebagai suatu kegawatan 2. Evaluasi awal dan diagnosis kelainan yang mungkin akan menjadi penyebab kematian 3. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi dan setelah operasi 4. Segera lakukan debridement dan irigasi yang baik 5. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya 6. Stabilisasi fraktur 7. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari 8. Lakukan bone graft autogenous secepatnya 9. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena Tahap pengobatan patah tulang terbuka 1. Pembersihan luka 2. Eksisi jaringan yang mati dan disangka mati 3. Pengobatan patah tulang dan penentuan jenis traksi 4. Penutupan kulit 5. Pemberian antibiotik 6. Pencegahan tetanus Komplikasi patah tulang terbuka 1. perdarahan, syok septik kematian 2. septikemi, toksemia oleh karena infeksi piogenik 3. tetanus 4. gangren 5. non union dan ma union 6. kekakuan sendi 7. perdarahan sekunder 8. osteomielitis kronik 9. delayed union Perawatan lanjut dan rehabilitasi patah tulang terbuka 1. Hilangkan nyeri 2. Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dan flagmen patah tulang 3. Mengusahakan terjadinya union

4. Mengembalikan fungsi secara optimal dengan mempertahankan fungsi otot dan sendi dan pencegahan komplikasi. 5. Mengembalikan fungsi secara maksimal dengan fisioterapi. Prinsip Operasi Prinsip debridement adalah untuk membersihkan kontaminasi yang terdapat di sekitar fraktur dengan melakukan pengangkatan terhadap jaringan yang non viabel dan material asing, seperti pasir yang melekat pada jaringan lunak. Dilakukan penilaian pada sekitar jaringan sekitar tulang, cedera pembuluh darah, tendon, otot, saraf. Debridement jaringan otot dipertimbangkan jika otot terkontaminasi berat dan kehilangan kontraktilitas. Debridement pada tendon mempertimbangkan kontraktilitas tendon, sedangkan debridement pada kulit dilakukan hingga timbul perdarahan. Pada fraktur terbuka grade IIIb dan IIIc dilakukan serial debridement yang diulang dalarn selang waktu 24-72 jam untuk tercapainya debridement definitif. Tehnik Operasi Sebelum dilakukan debridement, diberikan antibiotik profilaks yang dilakukan di ruangan emergency. Yang terbaik adalah golongan sefalosforin. Biasanya dipakai sefalosforin golongan pertama. Pada fraktur terbuka Gustilo tape III, diberikan tambahan berupa golongan aminoglikosida, seperti tobramicin atau gentamicin. Golongan sefalosforin golongan ketiga dipertimbangkan di sini. Sedangkan pada fraktur yang dicurigai terkontaminasi kuman clostridia, diberikan penicillin. Peralatan proteksi diri yang dibutuhkan saat operasi adalah google, boot dan sarung tangan tambahan. Sebelum dilakukan operasi, dilakukan pencucian dengan povine iodine, lalu drapping area operasi. Penggunaan tidak dianjurkan, karena kita akan melakukan pengamatan terhadap perdarahan jaringan. Debridement dilakukan pertama kali pada daerah kulit. Kemudian rawat perdarahan di vena dengan melakuan koagulasi. Buka fascia untuk menilai otot dan tendon. Viabilitas otot dinilai dengan 4C, Color, Contractility, Circulation and Consistency. Lakukan pengangkatan kontaminasi canal medullary dengan saw atau rongeur. Curettage canal medulary dihindarkan dengan alasan mencegah infeksi ke arah proksimal. Irigasi dilakukan dengan normal saline. Penggunaan normal saline adalah 6-10 liter untuk fraktur terbuka grade II dan III. Tulang dipertahankan dengan reposisi. Bisa digunakan ekternal fiksasi pada fraktur grade III4. Penutupan luka dilakukan jika memungkinkan. Pada fraktur tipe III yang tidak bisa dilakukan penutupan luka, dilakukan rawat luka terbuka, hingga luka dapat ditutup sempurna.

Kesimpulan Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontuinitas jaringan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. Trauma yang dapat menyebabkan patah tulang, patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radikdan ulna dan dapat berupa trauma tidak langsung , misalnya jatuh tertumpu tangan yang menyebabkan tulang klavikuka atau radik distal patah. Dan dengan pengoobatan dengan prinsip reposisi dan imobilisasi