Anda di halaman 1dari 46

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN KARDIOVASKULER PADA BAYI DAN ANAK : RHD (REMATOID HEART DESEASE)

Di Susun Oleh : Aprilia Mustika Diana Wahyuni Aziz Husna Ardiana L. Wira Hadi Dwi Praja Ni Kadek Risa Ugia Andariyani Restu Wahyu Rizki Ar. Sutrisnadi

KONSEP DASAR PENYAKIT


PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI PENYEBAB PATOFISIOLOGI

PROGENESIS

MANIFESTASI KLINIS DAN KRITERIA DIAGNOSIS PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG

PENGERTIAN DEMAM REUMATIK ATAU PENYAKIT JANTUNG REUMATIK

RHD adalah suatu penyakit peradangan autoimun yang mengenai jaringan konektif seperti pada jantung,tulang, jaringan subcutan pembuluh darah dan pada sistem pernapasan yang diakibatkan oleh infeksi streptococcus hemolitic-b grup A. Rematoid heart disease ( RHD ) merupakan penyebab terpenting dari penyakit jantung yang didapat,baik pada anak maupun pada dewasa. Rematoid fever adalah peradangan akut yang sering diawali oleh peradangan pada farings. Sedangkan RHD adalah penyakit berulang dan kronis. Pada umumnya seseorang menderita penyakit rematoid fever akut kira-kira dua minggu sebelumnya pernah menderita radang tenggorokan.

EPIDEMIOLOGI / INSIDEN KASUS

RHD terdapat diseluruh dunia. Lebih dari 100.000 kasus baru demam rematik didiagnosa setiap tahunnya, khususnya pada kelompok anak usia 6-15 tahun. Cenderung terjangkit pada daerah dengan udara dingin, lembab, lingkungan yang kondisi kebersihan dan gizinya kurang memadai

PENYEBAB / FAKTOR PREDISPOSISI


Penyebab secara pasti dari RHD belum diketahui, namun penyakit ini sangat berhubungan erat dengan infeksi saluran napas bagian atas yang disebabkan oleh streptococcus hemolitik-b grup A yang pengobatanya tidak tuntas atau bahkan tidak terobati. Pada penelitian menunjukan bahwa RHD terjadi akibat adanya reaksi imunologis antigenantibody dari tubuh.Antibody yang melawan streptococcus bersifat sebagai antigen sehingga terjadi reaksi autoimun.

A. Faktor-faktor pada individu Faktor Genetik Jenis Kelamin Golongan Etnik dan Ras Umur B. Faktor-faktor lingkungan Keadaan sosial ekonomi yang buruk Iklim dan geografis Cuaca C. Demam reumatik dinyatakan sebagai autoimun. Streptococcus diketahui dapat menghasilkan kurang lebih 20 produk ekstasel; diantaranya yang penting ialah streptolisin o, streptolisin S, hialuronidase, streptokinase, diposforidin,dan masih ada beberapa lagi. Produk-produk tersebut meransang timbulnya antibodi. DR di duga merupakan akibat kepekaan tubuh yang berlebihan terhadap beberapa produk ini .

PATOFISIOLOGI
Hubungan yang pasti antara infeksi streptococcus dan demam rematik akut tidak diketahui. Cedera jantung bukan merupakan akibat langsung infeksi, seperti yang ditunjukkan oleh hasil kultur streptokokus yang negative pada bagian jantung yang terkena.

PROGENESIS

Stadium I Stadium ini berupa adanya infeksi saluran napas bagian atas oleh kuman sterptococus beta-hemolyticus golongan A, dengan keluhan demam, batuk, sakit menelan, kadang disertai muntah atau diare. Pada pemeriksaan tonsil terdapat eksudat dan tanda-tanda peradangan lainnya.infeksi ini biasanya berlangsung 2-4 hari dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Terjadi infeksi ini 10-14 hari sebelum serangan demam reumatik. Stadium II Disebut periode laten; ialah masa antara infeksi streptokok dengan permulaan gejala demam reumatik. Biasanya dalam waktu 1-3 minggu, kecuali korea yang dapat timbil dalam 6 minggu atau beberapa bulan kemudian.

Stadium III Ialah fase akut demam reumatik, saat timbulnya pelbagi manifestasi klinik demam reumatik. Gejala tersebut ialah gejala minor dan mayor. Gejala minor berupa gejala peradangan umum dengan didapatkannya demam tidak begitu tinggi, lesu, lekas tersinggung, berat badan menurun, anoreksia. Anemia dijumpai sebagai akibat tertekannya system eritropoietik, bertambahya volume plasma, memendeknya umur eritrosit dan adanya perdarahan dari hidung (epistaksis). Sakit sendi dan sekitarnya (artralgia) terutama setelah latihan dan menghebat bila dikompres panas. Terdapat juga keluhan sakit perut yang menjadi berkurang jika diberi salisilat. Laju endap darah (LED) meninggi, protein C-reaktif dan ASTO juga meninggi.

Stadium IV Disebut juga stadium inaktif. Baik pasien DR tanpa kelainan jantung maupun dengan kelainan jantung reumatik tanpa gejala sisa katup tidak menunjukkan gejala kelainan. Tetapi pasien yang dengan gejala sisa kelainan pada katub jantung, gejala timbul sesuaikelainannya. Pada fase ini pasien DR?PJR dapat mengalami reaktivitas penyakitnya. Penyakit demam reumatik mempunyai beberapa gejala yang secara garis besar dibagi menjadi gejala mayor dan minor, yang berasal dari criteria yang disusun oleh DR. T.Ducket Jones pada tahun 1944 dan dimodifikasi oleh The American Heart Association pada tahun 1955 dan direvisi pada tahun 1965.

MANIFESTASI KLINIS DAN KRITERIA DIAGNOSIS


a. Kriteria Mayor Carditis Yaitu terjadi peradangan pada jantung ( miokarditis dan atau endokarditis ) yang menyebabkan terjadinya gangguan pada katup mitral dan aorta dengan manifestasi terjadi penurunan curah jantung ( seperti hipotensi, pucat, sianosis, berdebar-debar dan heart rate meningkat ), bunyi jantung melemah, dan terdengar suara bising katup pada auskultasi akibat stenosis dari katup terutama mitral ( bising sistolik ), Friction rub. Polyarthritis Klien yang menderita RHD biasanya datang dengan keluhan nyeri pada sendi yang berpindah-pindah, radang sendi-sendi besar, lutut, pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku ( polyarthritis migrans ), gangguan fungsi sendi. Khorea Syndenham Merupakan gerakan yang tidak disengaja / gerakan abnormal , bilateral,tanpa tujuan dan involunter, serta sering kali disertai dengan kelemahan otot ,sebagai manifestasi peradangan pada sistem saraf pusat.

Eritema Marginatum Eritema marginatum merupakan manifestasi RHD pada kulit, berupa bercak-bercak merah dengan bagian tengah berwarna pucat sedangkan tepinya berbatas tegas , berbentuk bulat dan bergelombang tanpa indurasi dan tidak gatal. Biasanya terjadi pada batang tubuh dan telapak tangan. Nodul Subcutan Nodul subcutan ini terlihat sebagai tonjolan-tonjolan keras dibawah kulit tanpa adanya perubahan warna atau rasa nyeri. Biasanya timbul pada minggu pertama serangan dan menghilang setelah 1-2 minggu. Ini jarang ditemukan pada orang dewasa.Nodul ini terutama muncul pada permukaan ekstensor sendi terutama siku,ruas jari,lutut,persendian kaki. Nodul ini lunak dan bergerak bebas.

b. Kriteria Minor

Memang mempunyai riwayat RHD Artralgia atau nyeri sendi tanpa adanya tanda obyektif pada sendi, klien kadang-kadang sulit menggerakkan tungkainya Demam namun tidak lebih dari 39 derajat celcius dan pola tidak tentu Leukositosis Peningkatan laju endap darah ( LED ) C- reaktif Protein ( CRP ) positif P-R interval memanjang Peningkatan pulse/denyut jantung saat tidur ( sleeping pulse ) Peningkatan Anti Streptolisin O ( ASTO )

Selain kriteria mayor dan minor tersebut, terjadi juga gejalagejala umum seperti , akral dingin, lesu,terlihat pucat dan anemia akibat gangguan eritropoesis.gejala lain yang dapat muncul juga gangguan pada GI tract dengan manifestasi peningkatan HCL dengan gejala mual dan anoreksia Diagnosis RHD ditegakkan apabila ada dua kriteria mayor dan satu kriteria minor, atau dua kriteria minor dan satu kriteria mayor.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK / PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO, peningkatan laju endap darah ( LED ),terjadi leukositosis, dan dapat terjadi penurunan hemoglobin . Radiologi Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung. Pemeriksaan Echokardiogram Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi

Pemeriksaan Elektrokardiogram Menunjukan interval P-R memanjang. Hapusan tenggorokan :ditemukan steptococcus hemolitikus b grup A

Komplikasi Penyakit jantung rematik merupakan komplikasi dari demam rematik dan biasanya terjadi setelah serangan demam rematik. Insiden penyakit jantung rematik telah dikurangi dengan luas penggunaan antibiotic efektif terhadap streptokokal bakteri yang menyebabakan demam rematik.

THERAPY / PENATALAKSANAAN
Kelompok Klinis Tirah baring ( minggu ) Mobilisasi bertahap ( minggu)

- Karditis ( - ) - Artritis (+) 2 2

- Karditis

(+) 4 4

- Kardiomegali (-)

- Karditis ( + ) - Kardiomegali(+) 6 6

- karditis ( + ) - Gagal jantung (+ ) >6 > 12

Eradikasi dan selanjutnya pemberian profilaksis terhadap kuman sterptococcus dengan pemberian injeksi Benzatine penisillin secara intramuskuler. Bila berat badan lebih dari 30 kg diberikan 1,2 juta unit dan jika kurang dari 30 kg diberikan 600.000-900.000 Unit. Untuk antiradang dapat diberikan obat salisilat atau prednison tergantung keadaan klinisnya. Salisilat diberikan dengan dosis 100 mg/kg BB/hari selama kurang lebih 2 minggu dan 25 mg/ Kg BB/hari selama 1 bulan. Prednison diberikan selama kurang lebih 2 minggu dan teppering off ( dikurangi bertahap ). Dosis awal prednison 2 mg/ kg BB/hari. Pengobatan rasa sakit dapat diberikan analgetik Pengobatan terhadap khorea hanya untuk symtomatik saja, yaitu klorpromazin,diazepam atau haloperidol. Dari pengalaman ternyata khorea ini akan hilang dengan sendirinya dengan tirah baring dan eradikasi. Pencegahan komplikasi dari carditis misal adanya tanda-tanda gagal jantung dapat diberikan terapi digitalis dengan dosis 0,040,06 mg/kg BB. Pemberian diet bergizi tinggi mengandung cukup vitamin

Penatalaksanaan keperawatan

Bahaya terjadi gagal jantung. Kurang masukan nutrisi . Resiko terjadi infeksi. Gangguan rasa aman dan nyaman . Perubahan emosi (ganguan psikososial) . Persiapan pasien untuk tindakan medis. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.

Hal-hal yang perlu dijelaskan pada orang tua ialah Kebersihan lingkungan; Perlunya anak dibawa berobat ke puskesmas/dokter; Adanya perubahan psikososial ; Perawatan anak selama di rumah ; Memerlukan pengobatan yang lama ;

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN DIAGNOSA TINDAKAN

PENGKAJIAN
Data fokus: Peningkatan suhu tubuh tidak terlalu tinggi kurang dari 39 derajat celcius namun tidak terpola Adanya riwayat infeksi saluran nafas. Tekanan darah menurun, denyut nadi meningkat, dada berdebar-debar.. Nyeri abdomen, Mual, anoreksia dan penurunan hemoglobin Arthralgia, gangguan fungsi sendi Kelemahan otot Akral dingin Mungkin adanya sesak. Manifestasi khusus:

carditis Polyarthritis Nodul subcutaneous Khorea Eritema marginatum

DIAGNOSIS KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


Penurunan curah jantung b/d adanya gangguan pada penutupan pada katup mitral ( stenosis katup ) Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan metabolisme terutama perifer akibat vasokonstriksi pembuluh darah Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada membran synovial Hipertermia berhubungan dengan Peradangan pada membran sinovial dan peradangan katup jantung Ketidakseimbangan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan asam lambung akibat kompensasi sistem saraf simpatis. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot, tirah baring atau imobilisasi Syndrome kurang perawatan diri berhubungan Gangguan muskuloskeletal ; Poltarthritis/arthalgia dan therapi bed rest . Kerusakan integritas kulit behubungan dengan peradangan pada kulit dan jaringan subcutan. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penumpukan darah diparu akibat pengisian atrium yang meningkat Resiko cidera berhubungan dengan Gerakan involunter,irrigulaer, cepat dan kelemahan otot/khorea

TINDAKAN
MEMASANG NGT

MEMBERIKAN NUTRISI MELALUI NGT

PEMBERIAN OBAT PERORAL

MEMASANG NASOGASTRIC TUBE ( NGT ) PADA ANAK

Definisi : Memasang NGT adalah melakukan pemasangan NGT pada anak, dimana anak tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya secara oral (tidak mampu menelan,tidak sadar,muntah berlebih,pembedahan (Tracheostomi,Labopalascizis). Tujuan : Tujuan pemasangan NGT adalah : Memenuhi kebutuhan nutrisi (makanan dan cairan) Memenuhi kebutuhan pengobatan

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan terkait dengan pemasangan NGT adalah : Perubahan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat Perubahan polanpemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan intake nutrisi secara oral

Pengkajian Kaji fungsi saluran pencernaan : bising usus, tipe feces Kaji riwayat kesehatan terkait dengan masalah nutrisi : kemampuan menelan, muntah, alergi terhadap makanan/susu, kondisi sakit pada saluran pencernaan. Kaji usia anak, tingkat perkembangan dan kemampuan kooperatif

Perencanaan Cek instruksi dokter : tipe nutrisi , cara pemberian, jumlah, dan frekuensi pemberian Persiapkan alat : NGT sesuai ukuran : prematur : 5 atau 6 F BBL < 4 Kg : 6 F BBL > 4 Kg : 8 F Bayi, toddler, dan PraSekolah : 8 F Usia sekolah Remaja : 10 F Sarung tangan Stetoskop Air matang dalam tempatnya (untuk pelumas NGT) Bengkok Spuit 5 cc Sudip lidah bila perlu Plester Gunting Peniti Cuci tangan

Implementasi Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan kepada orang tua atau anak Mengatur posisi anak dengan kepala lebih tinggi (30 derajat) Menggunakan sarung tangan Mengukur panjang NGT untuk masuk kesaluran pencernaan : hidung ke telinga sampai pertengahan antara prosesus xifoideus dan umbilicus (beri tanda bila perlu) Melumasi bagian ujung NGT dengan air (1-3 inci) Memasukkan NGT secara perlahan lewat hidung dan menganjurkan anak untuk menelan saat dimasukkan NGT (bila anak kooperatif) Pada bayi dilakukan pengecekan dengan sudip lidah untuk melihat apakah selang NGT tertekuk dalam mulut Melakukan pengecekan ketepatan masuknya selang NGT : Aspirasi cairan gaster (3-5 cc) Masukkan udara lewat spuit (3-5 cc) kemudian dengarkan dengan stetoskop pada gaster Memfiksasi selang NGT dengan plester (sekitar hidung) Memfiksasi selang NGT dengan peniti pada pakaian anak

Evaluasi Mengevaluasi respon anak Mengevaluasi kepatenan selang NGT


Dokumentasi Melakukan pendokumentasian dengan tepat

MEMBERIKAN NUTRISI MELALUI NGT PADA ANAK

Definisi : Memberikan nutrisi melalui NGT adalah memberikan makanan cair dan minuman kedalam lambung melalui NGT Tujuan : Tujuan memberikan nutrisi melalui NGT adalah Memenuhi kebutuhan nutrisi (makanan dan cairan) Memenuhi kebutuhan pengobatan

Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan terkait pemberian nutrisi melalui NGT Perubahan pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat Perubahan pola pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan intake nutrisi secara oral

Pengkajian Kaji fungsi saluran pencernaan : bising usus, tipe feces Kaji riwayat kesehatan terkait dengan masalah nutrisi : kemampuan menelan, muntah, alergi terhadap makanan/susu, kondisi sakit pada saluran pencernaan. Kaji usia anak, tingkat perkembangan dan kemampuan kooperatif

Perencanaan Cek instruksi dokter : tipe nutrisi , cara pemberian, jumlah, dan frekuensi pemberian serta pengobatan jika ada Persiapkan alat : Makanan atau cairan sesuai kebutuhan Obat yang telah dicairkan (jika ada) Spuit berukuran 20-50 cc Pengalas Bengkok Spuit (3-5 cc) untuk pengecekan Cuci tangan

Implementasi Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan kepada orang tua atau anak Mengatur posisi anak dengan kepala lebih tinggi (30 - 45derajat) Memasang pengalas Membuka tutup selang NGT dan memasang spuit pada pangkal slang Menuangkan air matang sesuai kebutuhan, kemudian memberikan makanan cairan (ketinggian NGT 45 cm dari abdomen) (hindari masuknya udara pada selang NGT) Menuangkan air matang sesuai kebutuhan bila makanan sudah habis Memberikan obat jika ada dan menuangkan air matang sesuai kebutuhan Menutup pangkal slang dan memfiksasi pada pakaian

Evaluasi Mengevaluasi respon anak Mengevaluasi kepatenan selang NGT


Dokumentasi Melakukan pendokumentasian dengan tepat

MELAKUKAN PEMBERIAN OBAT PERORAL

Definisi : Pemberian obat per oral adalah memberikan obat yang dimasukkan melalui mulut. Tujuan : Untuk memudahkan dalam pemberian Proses reabsorbsi lebih lambat sehingga bila timbul efek samping dari obat tersebut dapat segera diatasi Menghindari pemberian obat yang menyebabkan nyeri Menghindari pemberian obat yang menyebabkan kerusakan kulit dan jaringan

Persiapan Alat :
Baki berisi obat Kartu atau buku berisi rencana pengobatan Pemotong obat (bila diperlukan) Martil dan lumpang penggerus (bila diperlukan) Gelas pengukur (bila diperlukan) Gelas dan air minum Sedotan Sendok Pipet

Spuit sesuai ukuran untuk mulut anak-anak

Tahap orientasi Memberi salam,panggil klien dengan panggillan yang disenangi Memperkenalkan nama perawat Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien atau keluarga Menjelaskan tentang kerahasiaan Tahap Pre interaksi Cuci tangan Siapkan alat-alat

Tahap kerja

Periksa keakuratan dan kelengkapan setiap kartu ,format.periksa nama klien dan nama,dosis,rute pemberian dan waktu pemberian obat. Siapkan peralatan dan cuci tangan Kaji kemampuan klien untuk dapat minum obat per oral (menelan, mual, muntah, adanya program tahan makan atau minum, akan dilakukan pengisapan lambung dll) Periksa kembali perintah pengobatan (nama klien, nama dan dosis obat, waktu dan cara pemberian) periksa tanggal kedaluarsa obat, bila ada kerugian pada perintah pengobatan laporkan pada perawat/bidan yang berwenang atau dokter yang meminta. Ambil obat sesuai yang diperlukan (baca perintah pengobatan dan ambil obat yang diperlukan yang mana obat di ambil dilemari, rak atau lemari es) Siapkan obat-obatan yang akan diberikan. Siapkan jumlah obat yang sesuai dengan dosis yang diperlukan tanpa mengkontaminasi obat (gunakan tehnik aseptik untuk menjaga kebersihan obat). Ingat untuk jangan menyentuh obat dan cocokkan dengan order pengobatan.

Tablet atau kapsul Tuangkan tablet atau kapsul ke dalam mangkuk disposibel tanpa menyentuh obat. Gunakan alat pemotong tablet bila diperlukan untuk membagi obat sesuai dengan dosis yang diperlukan. Jika klien mengalami kesulitan menelan, gerus obat menjadi bubuk dengan menggunakan martil dan lumpang penggerus, kemudian campurkan dengan menggunakan air. Cek dengan bagian farmasi sebelum menggerus obat, karena beberapa obat tidak boleh digerus sebab dapat mempengaruhi daya kerjanya.

Obat dalam bentuk cair Kocok /putar obat/dibolak balik agar bercampur dengan rata sebelum dituangkan, buang obat yang telah berubah warna atau menjadi lebih keruh.

Buka penutup botol dan letakkan menghadap keatas. Untuk menghindari kontaminasi pada tutup botol bagian dalam. Pegang botol obat sehingga sisa labelnya berada pada telapak tangan, dan tuangkan obat kearah menjauhi label. Mencegah obat menjadi rusak akibat tumpahan cairan obat, sehingga label tidak bisa dibaca dengan tepat. Tuang obat sejumlah yang diperlukan ke dalam mangkuk obat berskala. Sebelum menutup botol tutup usap bagian tutup botol dengan menggunakan kertas tissue. Mencegah tutup botol sulit dibuka kembali akibat cairan obat yang mengering pada tutup botol. Bila jumlah obat yang diberikan hanya sedikit, kurang dari 5 ml maka gunakan spuit steril untuk mengambilnya dari botol. Berikan obat pada waktu dan cara yang benar.

Identifikasi klien dengan tepat. Menjelaskan mengenai tujuan dan daya kerja obat dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh klien. Atur pada posisi duduk, jika tidak memungkinkan berikan posisi lateral. Posisi ini membantu mempermudah untuk menelan dan mencegah aspirasi. Beri klien air yang cukup untuk menelan obat, bila sulit menelan anjurkan klien meletakkan obat di lidah bagian belakang, kemudian anjurkan minum. Posisi ini membantu untuk menelan dan mencegah aspirasi. Catat obat yang telah diberikan meliputi nama dan dosis obat, setiap keluhan, dan tanda tangan pelaksana. Jika obat tidak dapat masuk atau dimuntahkan, catat secara jelas alasannya. Kembalikan peralatan yang dipakai dengan tepat dan benar, buang alat-alat disposibel kemudian cuci tangan.

Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada klien.

Tahap terminasi Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan setelah dilakukan kegiatan Menyimpulkan hasil prosedur yang dilakukan Melakukan kontrak untuk tindakan selanjut nya Berikan reinforcement sesuai dengan kemampuan klien Tahap dokumentasi Catat seluruh hasil tindakan dalam catatan keperawatan

TERIMA KASIH