Anda di halaman 1dari 24

MENGENAL GEJALA DAN PENGOBATAN PEMBESARAN LIMPA

Limpa menghasilkan, memantau, menyimpan dan menghancurkan sel darah. Limpa merupakan organ sebesar kepalan tinju yang lembut dan berongga-rongga, dan berwarna keunguan. Limpa terdapat dibagian atas rongga perut, tepat dibawah lengkung tulang iga di sebelah kiri. Limpa berfungsi sebagai 2 organ. Bagian yang putih merupakan sistem kekebalan untuk melawan infeksi dan bagian yang merah bertugas membuang bahan-bahan yang tidak diperlukan dari dalam darah (misalnya sel darah merah yang rusak). Sel darah putih tertentu (limfosit) menghasilkan antibodi pelindung dan memegang peranan penting dalam melawan infeksi. Limfosit dapat dibentuk dan mengalami pematangan di dalam bagian putih limpa. Bagian merah limpa mengandung sel darah putih lainnya (fagosit) yang mencerna bahan yang tidak diinginkan (misalnya bakteri atau sel yang rusak) dalam pembeluh darah. Bagian merah memantau sel darah merah (menentukan sel yang abnormal atau terlalu tua atau sel yang mengalami kerusakan) dan menghancurkannya. Karena itu, bagian merah ini kadang disebut sebagai kuburan

sel darah merah. Bagian merah juga berfungsi sebagai cadangan untuk elemenelemen darah, terutama sel darah putih dan trombosit. Pada banyak binatang, bagian merah ini melepasakan elen darah ke dalam darah sirkulasi pada saat tubuh memerlukannya; tetapi pada manusia pelepasan elemen ini bukan merupakan fungsi limpa yang penting. Jika limpa diangkat melalui pembedahan (splenektomi), tubuh akan kehilangan beberapa kemampuannya untuk menghasilkan antibodi pelindung dan untuk membuang bakteri yang tidak diinginkan dari tubuh. Sebagai akibatnya, kemampuan tubuh dalam melawan infeksi akan berkurang. Tidak lama kemudian, organ lainnya (terutama hati) akan meningkatkan fungsinya dalam melawan infeksi untuk menggantikan kehilangan tersebut, sehingga peningkatan resiko terjadinya infeksi tidak akan berlangsung lama. Jika limpa membesar (splenomegali), kemampuannya untuk menangkap dan menyimpan sel-sel darah akan meningkat. Splenomegali dapat menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah, sel darah putih dan trombosit dalam sirkulasi. Jika limpa yang membesar menangkap sejumlah besar sel darah yang abnormal, sel-sel ini akan menyumbat limpa dan mengganggu fungsinya. Proses ini menyebabkan suatu lingkaran setan, yaitu semakin banyak sel yang terperangkap dalam limpa, maka limpa akan semakin membesar; semakin membesar limpa, maka akan semakin banyak sel yang terperangkap.

Jika limpa terlalu banyak membuang sel darah dari sirkulasi (hipersplenisme), bisa timbul sejumlah masalah, seperti: - anemia (karena jumlah sel darah merah berkurang) - sering mengalami infeksi (karena jumlah sel darah putih berkurang) - kelainan perdarahan (karena trombosit berkurang). Pada akhirnya limpa yang sangat membesar juga menangkan sel darah merah yang normal dan menghancurkannya bersama dengan sel-sel yang abnormal. PENYEBAB Penyebab pembesaran limpa: Infeksi - Hepatitis - Mononukleosis infeksiosa - Psitakosis - Endokarditis bakterialis subakut - Bruselosis - Kala-azar - Malaria - Sifilis - Tuberkulosis Anemia - Elliptositosis herediter - Sferositosis herediter - Penyakit sel sabit (terutama pada anak-anak) - Thalassemia Kanker darah dan penyakit proliferatif

- Penyakit Hodgkin dan limfoma lainnya - Leukemia - Mielofibrosis - Polisitemia vera Penyakit peradangan - Amiloidosis - Sindroma Felty - Sarkoidosis - Lupus eritematosus sistemik Penyakit hati - Sirosis Penyakit penimbunan - Penyakit Gaucher - Penyakit Hand-Sch?ller-Christian - Penyakit Lettere-Siwe - Penyakit Niemann-Pick Penyebab lain - Kisata dalam limpa - Penekanan terhadap vena dari limpa atau vena yang menuju ke hati - Bekuan darah dalam vena dari limpa atau vena yang menuju ke hati. GEJALA

Limpa yang membesar tidak menyebabkan banyak gejala, dan tidak satupun gejala yang menunjukkan penyebab membesarnya limpa. Limpa yang membesar terletak di dekat lambung dan bisa menekan lambung, sehingga penderita bisa merasakan perutnya penuh meskipun baru makan sedikit makanan kecil atau bahkan belum makan apa-apa. Penderita juga bisa merasakan nyeri perut atau nyeri punggung di daerah limpa, yang bisa menjalar ke bahu, terutama jika sebagian limpa tidak mendapatkan cukup darah dan mulai mati. DIAGNOSA Biasanya pada pemeriksaan fisik, seorang dokter dapat merasakan adanya pembesaran limpa. Pembesaran limpa juga bisa terlihat pada foto rontgen perut. Kadang diperlukan CT scan untuk menentukan besarnya limpa dan melihat adanya penekanan terhadap organ di sekitarnya. MRI scan juga memberikan hasil yang sama dengan CT scan dan juga bisa mengikuti aliran darah yang melalui limpa. Pemeriksaan penyaringan lainnya menggunakan partikel radioaktif yang ringan untuk mengukur besarnya limpa dan fungsinya serta untuk menentukan apakah terdapat penumpukan atau penghancuran sel darah dalam jumlah besar.

Pemeriksaan darah menunjukkan berkurangnya jumlah sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Pada pemeriksaan dibawah mikroskop, bentuk dan ukuran sel darah bisa memberikan petunjuk mengenai penyebab membesarnya limpa. Pemeriksaan sumsum tulang dapat menemukan adanya kanker sel darah (misalnya leukemia atau limfoma) atau penumpukan bahan-bahan yang tidak diinginkan. Pengukuran protein darah bisa membantu menyingkirkan beberapa keadaan, seperti multipel mieloma, amiloidosis, malaria, kala-azar, bruselosis, tuberkulosis dan sarkoidosis. Kadar asam urat (produk sisa yang ditemukan dalam darah dan air kemih) dan kadar alkalin fosfatase (suatu enzim yang ditemukan pada beberapa sel darah) dalam leukosit, juga diukur untuk menentukan apakah terdapat leukemia atau limfoma. Pemeriksaan fungsi hati membantu menentukan adanya kerusakan hati. PENGOBATAN Jika memnungkinkan, dilakukan pengobatan terhadap penyakit yang menyebabkan terjadinya pembesaran limpa. Pengangkatan limpa melalui pembedahan jarang diperlukan dan bisa menyebabkan masalah, seperti kepekaan terhadap infeksi yang serius. Tetapi pada keadaan tertentu resiko ini lebih baik dihadapi, yaitu jika:

limpa dengan sangat cepat menghancurkan sel darah merah sehingga terjadi anemia yang berat cadangan sel darah putih dan trombosit sangat berkurang, sehingga mudah mengalami infeksi dan perdarahan limpa sangat membesar sehingga menyebabkan nyeri atau menekan organ lainnya limpa sangat membesar sehingga sebagian dari limpa mengalami perdarahan atau mati.

Sebagai alternatif lain dari pembedahan, kadang dilakukan terapi penyinaran untuk memperkecil limpa.

2.1 Pengertian Schistosomiasis atau disebut juga demam keong merupakan penyakit parasitik yang disebabkan oleh infeksi cacing yang tergolong dalam genus Schistosoma. (Miyazaki, 1991) Schistosomiasis (bilharziasis) adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing pipih (cacing pita). Ini seringkali menyebabkan ruam, demam, panas-dingin, dan nyeri otot dan kadangkala menyebabkan nyeri perut dan diare atau nyeri berkemih dan pendarahan. Schistosomiasis mempengaruhi lebih dari 200 juta orang di daerah tropis dan subtropis di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Lima jenis schistosoma yang paling menyebabkan kasus pada schistosomiasis pada orang:

Schistosoma hematobium menginfeksi saluran kemih (termasuk kantung kemih) Schistosoma mansoni, Schistosoma japonicum, Schistosoma mekongi, dan Schistosoma intercalatummenginfeksi usus dan hati. Schistosoma mansoni menyebar luas di Afrika dan satu-satunya schistosome di daerah barat.

Di Indonesia, schistosomiasis disebabkan oleh Schistosoma japonicum ditemukan endemik di dua daerah di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu dan Dataran Tinggi Napu. Secara keseluruhan penduduk yang berisiko tertular schistosomiasis (population of risk) sebanyak 15.000 orang. Penelitian schistosomiasis di Indonesia telah dimulai pada tahun 1940 yaitu sesudah ditemukannya kasus schistosomiasis di Tomado, Dataran Tinggi Lindu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada tahun 1935. Pada tahun 1940 Sandground dan Bonne mendapatkan 53% dari 176 penduduk yang diperiksa tinjanya positif ditemukan telur cacingSchistosoma. 2.2 Etiologi Schistosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit schistosoma, yaitu sejenis parasit berbentuk cacing yang menghuni pembuluh darah usus atau kandung empedu orang yang dijangkiti. Schistosomiasis diperoleh dari berenang, menyeberangi, atau mandi di air bersih yang terkontaminasi dengan parasit yang bebas berenang. Schistosomes berkembang biak di dalam keong jenis khusus yang menetap di air, dimana mereka dilepaskan untuk berenang bebas di dalam air. Jika

mereka mengenai kulit seseorang, mereka masuk ke dalam dan bergerak melalui aliran darah menuju paru-paru, dimana mereka menjadi dewasa menjadi cacing pita dewasa. Cacing pita dewasa tersebut masuk melalui aliran darah menuju tempat terakhir di dalam pembuluh darah kecil di kandung kemih atau usus, dimana mereka tinggal untuk beberapa tahun. Cacing pita dewasa tersebut meletakkan telur-telur dalam jumlah besar pada dinding kandung kemih atau usus. Telur-telur tersebut menyebabkan jaringan setempat rusak dan meradang, yang menyebabkan borok, pendarahan, dan pembentukan jaringan luka parut. Beberapa telur masuk ke dalam kotoran(tinja)atau kemih. Jika kemih atau kotoran pada orang yang terinfeksi memasuki air bersih, telur-telur tersebut menetas, dan parasit memasuki keong untuk mulai siklusnya kembali. Schistosoma mansoni dan schistosoma japonicum biasanya menetap di dalam pembuluh darah kecil pada usus. Beberapa telur mengalir dari sana melalui aliran darah menuju ke hati. Akibatnya peradangan hati bisa menyebabkan luka parut dan meningkatkan tekanan di dalam pembuluh darah yang membawa darah antara saluran usus dan hati (pembuluh darah portal). Tekanan darah tinggi di dalam pembuluh darah portal (hipertensi portal) bisa menyebabkan pembesaran pada limpa dan pendarahaan dari pembuluh darah di dalam kerongkongan. Telur-telur pada schistosoma hematobium biasanya menetap di dalam kantung kemih, kadangkala menyebabkan borok, ada darah dalam urin, dan luka parut. Infeksi schistosoma hematobium kronis meningkatkan resiko kanker kantung kemih.

Semua jenis schistosomiasis bisa mempengaruhi organ-organ lain (seperti paru-paru, tulang belakang, dan otak). Telur-telur yang mencapai paru-paru bisa mengakibatkan peradangan dan peningkatan tekanan darah di dalam arteri pada paru-paru (hipertensi pulmonari). 2.3 Masa Inkubasi dan Diagnosis 1. a. Masa Inkubasi Ketika schistosomes pertama kali memasuki kulit, ruam yang gatal bisa terjadi (gatal perenang). Sekitar 4 sampai 8 minggu kemudian (ketika cacing pita dewasa mulai meletakkan telur), demam, panas-dingin, nyeri otot, lelah, rasa tidak nyaman yang samar (malaise), mual, dan nyeri perut bisa terjadi. Batang getah bening bisa membesar untuk sementara waktu, kemudian kembali normal. kelompok gejala-gejala terakhir ini disebut demam katayama.

Gejala-gejala lain bergantung pada organ-organ yang terkena: 1. Jika pembuluh darah pada usus terinfeksi secara kronis : perut tidak nyaman, nyeri, dan pendarahan (terlihat pada kotoran), yang bisa mengakibatkan anemia. 2. Jika hati terkena dan tekanan pada pembuluh darah adalah tinggi : pembesaran hati dan limpa atau muntah darah dalam jumlah banyak. 3. Jika kandung kemih terinfeksi secara kronis : sangat nyeri, sering berkemih, kemih berdarah, dan meningkatnya resiko kanker kandung kemih.

4. Jika saluran kemih terinfeksi dengan kronis : peradangan dan akhirnya luka parut yang bisa menyumbat saluran kencing. 5. Jika otak atau tulang belakang terinfeksi secara kronis (jarang terjadi) : Kejang atau kelemahan otot. 6. b. Diagnosis Wisatawan dan imigran dari daerah-daerah dimana schistosomiasis adalah sering terjadi harus ditanyakan apakah mereka telah berenang atau menyeberangi air alam. Dokter bisa memastikan diagnosa dengan meneliti contoh kotoran atau urin untuk telur-telur. Biasanya, beberapa contoh diperlukan, tes darah bisa dilakukan untuk memastikan apakah seseorang telah terinfeksi dengan schistosoma mansoni atau spesies lain, tetapi tes tersebut tidak dapat mengindikasikan seberapa berat infeksi atau seberapa lama orang tersebut telah memilikinya. Untrasonografi bisa digunakan untuk mengukur seberapa berat schistosomiasis pada saluran kemih atau hati. 2.4 Cara Penularan Schistosomiasis adalah penyakit menular; penularannya melalui air. Mulamula schistosomiasis menjangkiti orang melalui kulit dalam bentuk cercaria yang mempunyai ekor berbentuk seperti kulit manusia, parasit tersebut mengalami transformasi yaitu dengan cara membuang ekornya dan berubah menjadi cacing. Selanjutnya cacing ini menembus jaringan bawah kulit dan memasuki pembuluh darah menyerbu jantung dan paru-paru untuk selanjutnya menuju hati. Di dalam hati orang yang dijangkiti, cacing-cacing tersebut menjadi dewasa dalam bentuk jantan dan betina. Pada tingkat ini, tiap cacing betina memasuki celah tubuh cacing jantan dan tinggal di dalam hati orang yang dijangkiti untuk selamanya. Pada akhirnya pasangan-pasangan cacing

Schistosoma bersama-sama pindah ke tempat tujuan terakhir yakni pembuluh darah usus kecil yang merupakan tempat persembunyian bagi pasangan cacing Schistosoma sekaligus tempat bertelur. 2.5 Pencegahan dan Penanggulangan 1. a. Pencegahan Schistosomiasis paling baik dicegah dengan menghindari berenang, mandi, atau menyeberang di air alam di daerah yang diketahui mengandung schistosomes. 1. b. Penanggulangan Pemberantasan schistosomiasis telah dilakukan sejak tahun 1974 dengan berbagai metoda yaitu pengobatan penderita dengan Niridazole dan pemberantasan siput penular (O. hupensislindoensis) dengan molusisida dan agroengineering. Pemberantasan yang dilakukan dengan metodatersebut dapat menurunkan prevalensi dengansangat signifikan seperti di Desa Anca dari 74% turun menjadi 25%. Kegiatan pemberantasan schistosomiasis secara intensif dimulai pada tahun 1982. Pemberantasan pada awalnya dititikberatkan pada kegiatan penanganan terhadap manusianya yaitu pengobatan penduduk secara masal yang ditunjang dengan kegiatan penyuluhan, pengadaan sarana kesehatan lingkungan, pemeriksaan tinja penduduk, pemeriksaan keong penular dan tikus secara berkala dan rutin. Hasil pemberantasan tersebut mampu menurunkan prevalensi schistosomiasis.`

Masalah schistosomiasis cukup komplekskarena untuk melakukan pemberantasan harusmelibatkan banyak faktor, dengan demikian pengobatan massal tanpa diikuti oleh pemberantasan hospes perantara tidak akan mungkin menghilangkan penyakit tersebut untuk waktu yang lama. Selain itu schistosomiasis di Indonesia merupakan penyakit zoonosis sehingga sumber penular tidak hanya pada penderita manusia saja tetapi semua hewan mamalia yang terinfeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penularan schistosomiasis di Desa Dodolo dan Mekarsari. MALARIA
Apa saja tipe - tipe demam ? a. Demam septik : Suhu berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat di atas normal pada pagi hari. Sering disertia keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam tinggi lalu turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik. b. Demam Remiten: Suhu badan turun setiap hari tapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. c. Demam Intermiten: Suhu badan turun ke tingkat normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut tertiana dan bila terjadi dua hari bebas demam di antara dua serangan demam disebut kuartana. d. Demam Kontinyu: Suhu tubuh saat demam tidak memiliki variasi signifikan (tidak sampai satu derajat). Bila demam yang terus menerus tinggi maka disebut hiperpireksia. Bagaimana mekanisme menggigil dan demam pada malaria ?

Mekanisme demam dan menggigil


Mengapa pada malaria mengalami nyeri kepala, dan nyeri di sekitar bola Vasodilatasi pembuluh darah di otak disebabkan oleh invasi parasit, sehingga pasokan darah ke otak berkurang, tubuh mengkompensasi dengan melakukan vasokontriksi pembuluh darah agar pasokan darah tercukupi. Lalu parasit yang masih ada akan menginvasi kembali sehingga terjadi kembali vasodilatasi dan kembali dikompensasi dengan vasokonstriksi. Terjadi berulang ulang yang akan menimbulkan sakit kepala. Apa hubungan kunjungan siti ke papua dengan penyakitnya? Papua merupakan daerah endemik malaria Apa saja daerah endemik malaria di Indonesia? Daerah dengan kasus klinik tinggi di indonesia: Papua, NTT, Maluku, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Bengkulu dan Riau, serta timur-timur merupakan daerah endemis malaria dengan plasmodium falcifarum dan plasmodium Vivax. Apa saja macam - macam tingkat kesadaran?

1. Compos Mentis(conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.. 2. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. 3. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. 4. Somnolen(Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 5. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.

6. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). Mengapa pada malaria bisa menyebabkan kesadaran menurun (pada kasus ini somnolen)? Karena eritrosit yang matur membentuk knop sehingga menyebabkan terjadinya sekuestrasi. Sekuestrasi paling sering terjadi di otak sehingga menyebabkan kesadaran menurun. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik? Tekanan darah normal : Sistol 120mmHg Diastol 80mmHg Nadi : 72 x/menit (60 x/menit 100 x/menit)

Respirasi/Pernapasan : 14 18 x/menit Suhu normal : 36,5-37,2 C (untuk suhu 37 C denyut nadi 72 x/menit dan untuk setiap kenaikan suhu tubuh 1 C maka denyut nadi mengalami kenaikan 20 x/menit) Kadar Hb normal menurut Dacie : Dewasa laki-laki 12,5 18,0 gr% Dewasa Wanita 11,5 16,5 gr % Bayi < 3 bulan 13,5 19,5 gr % Bayi >3 bulan 9,5 13,5 gr% Umur 1 tahun 10,5 13,5 gr% Umur 3-6 tahun 12,0 14,0 gr% Umur 10 12 tahun 11,5 14,5 gr% Hasil pemeriksaan: 1. Tekanan darah 100/70 tidak normal, penyebab : hemolisis eritrosit, sehingga volume darah yang menuju dan keluar jantung berkurang. 2. Nadi 170x/menit tidak normal(nadi cepat) penyebab : Jantung berusaha mencukupi kebutuhan darah diseluruh tubuh akibat hemolisis darah (kontraksi jantung meningkat)

3. Frekuensi nafas 30x/menit tidak normal (nafas cepat) penyebab : eritrosit yang mengandung Hb(F/Hb mengikat 02), banyak pecah , sehingga tubbuh kekurangan O2, dikompensasi dengan pernafasan yang cepat. 4. Suhu 40o tidak normal, suhu meningkat penyebab : mekanisme demam 5. Hb : 8 gr% tidak normal , penyebab : plasmodium menyerang eritrosit sehingga eritrosit lisis dan gangguan dari eritropoesis 6. Petekie 7 masih normal 7. Limpa teraba pada scuffner 1 terjadi splenomegali 8. Hepar teraba 1 cm bawah arkus costa dan 1cm bawah processus xyphoideus terjadi hepatomegali. Mengapa terjadi konjungtiva anemis pada malaria? Kurangnya Hb dalam darah yang dikarenakan penurunan eritrosit, sedangkan darah yang ada di perifer di pasokkan ke organ organ vital sehingga pasokan darah di perifer berkurang.

Mengapa sklera ikterik pada malaria ?

Mekanisme Ikterik pada Malaria


Mengapa terjadi pembesaran limpa pada malaria? Limpa merupakan organ RES yg berfungsi memfagositosis kuman pada kasus ini eritrosit terinfeksi oleh plasmodium sehingga kerja limpa semakin berat karena banyaknya infeksi dari plasmodium. Mengapa terjadi pembesaran hati pada malaria? Sebagai kompensasi hemolisis dan memperbanyak jumlah sel (hiperplasi) dan adanya sporozoit yang masuk kedalam hepar banyak, maka hepar melakukan kompensasi dengan memperbanyak jumlah sel. Apa penyebab peteki? Bila terjadi bendungan pembuluh darah vena dan kapiler melebar, trombosit kan membuat sumbatan platelets agar tidak terjadi rembesan darah melalui elah celah endotel kapiler. Jika terjadi penurunan trombosi, sehingga mengakibatkan gangguan pembentukan sumbatan platelets, timbul manifestasi perdarahan beberapa titik titik perdarahan di bawah kulit. Apa saja DD (Diagnosis Banding) pada malaria ? Demam thypoid

Masa inkubasi 2 minggu gejala bervariasi. Minggu pertama demam pada sore hari dan malam hari(febris remiten), adanya nyeri kepala, myalgia, anoreksia, mual, muntah,diare, batuk dan epistaksis. Minggu keduanya demam terus menerus tinggi (febris continu) kemudian turun secara lisis, demam ini tidak hilang dengan pemberian antipiretk, tidak menggigil dan tidak berkeringat, kadang disertai dengan epistaksis, bradikardi, lidah yang khas, hepatomegali,splenomegali, meteorismus, dan gangguan mental. Leptopspirosis - Masa inkubasi 2 26 hari, biasanya 7-13 hari dan rata-rata 10 hari. - Mempunya 2 fase yang khas yaitu fase lepthospirenia dan vasoimun. - Yang sering berupa demam, menggigil, sakit kepala, meningismus, anoreksia, mialgia, konjungtiva supusian, mual, muntah, nyeri abdomen, disterus, hepatomegali, ruam kulit dan fotofobia. - Yang jarang berupa delirium, perdarahan, diare, edema, splenomegali.

Diagnosis Banding malaria berat


1. Meningoencefalitis

2. Stroke 3. Tifoid ensefalopati 4. Hepatitis 5. Leptospirosis berat 6. Glomerulonefritis akut atau kronik 7. Sepsis 8. DHF atau DSS

Bagaimana etiologi penyakit yang dialami Siti ? Malaria di sebabkan oleh protozoa dari genus plasmadium. Plasmadium ada 4 facies : 1. P. falcifarum ( menyebabkan malaria tropika ) 2. P. vivak (menyebabkan malaria tertiana) 3. P. malariae (menyebabkan malaria quartiana) 4. P. ovale (menyebabkan malaria ovale)

Daur Hidup Plasmodium

Daur hidup Malaria di tubuh manusia dan nyamuk

Bagaimana Manifestasi Klinis Malaria berdasarkan penyebabnya?

Ciri Inkubasi Panas Relaps Recrudensi Manifestasi klinis

M. falcifarum 9-14 hari 24,36,48jam vv Menggigil

M.Tertiana 12-17 hari 48jam vv Jarang menggigil

M.Kuartana 18-40 hari 72jam vv Menggigil

M.Ovale 16-18 hari 48jam v v Jarang menggigil

Splenomegali

Splenomegali

Jarang splenomegali Jarang anemia

Jarang splenomegali Anemia kronik

Anemia Hemolisis

Anemia akronik

Syok Gejala serebral Edema paru Hipoglikemi Kelainan retina Demam berlangsung cepat

Demam lama sampai 5 minggu

Jarang terjadi syok Jarang terjadi syok

Jarang terjadi syok

Bagaimana tatalaksana dan pegobatan malaria

Pengobatan yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan membunuh semua stadium parasit yang ada di dalam tubuh manusia. Adapun tujuan pengobatan radikal untuk mendapat kesembuhan kilinis dan parasitologik serta memutuskan rantai penularan. Semua obat anti malaria tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung, oleh sebab itu penderita harus makan terlebih dahulu setiap akan minum obat anti malaria.

Pada Malaria Falciparum: 1. Lini Pertama: Artesunat + Amodiakuin + Primakuin 2. Lini Kedua: Kina + Doksisilin / tetrasiklin + Primakuin 3. Malaria Mix: Artesunat + Amodiakuin + Primakuin Pada Malaria Vivaks, Ovale, Malariae 1. Lini Pertama: Klorokuin + Primakuin 2. Lini Kedua: Kina + Primakuin 3. Malaria Vivaks relaps Klorokuin + Primakuin

Cara Kerja / Sifat Obat Klorokuin : - Sizontosid darah - anti gametosid, P.vivax dan P.malarie SP : - Sizontosid darah - Sporontosidal Kina : - Sizontosid darah - Anti gametosid, P.vivax dan P.malarie Primaquin : - Anti gametosid - Anti hipnosoit, Artesunat : - Sizontosid darah, Amodiakuin : - Struktur dan aktivitas sama dgn klorokuin Tetracyclin :

- Sizontosid darah

Bagaimana pencegahan malaria ? Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah, kurangi berada di luar rumah pada malam hari. Pengobatan pencegahan : 2 hari sebelum berangkat ke daerah endemi malaria, minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria. Membersihkan lingkungan, Menimbun genangan air, membersihkan lumut, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, mencegahnya dengan kentongan. Menebar kan pemakan jentik, Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik. Seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, mujair dll.

Baca : Pedoman Pengobatan Malaria WHO