Anda di halaman 1dari 164

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori Umum II.1.1 Defenisi Suspensi a. FI III (32) Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. b. DOM Martin(537) Suspensi adalah proses penyiapan bahan homogen yang terdiri dari fase terdispersi atau fase internal yaitu padatan dan fase kontinyu yaitu cairan. c. Farfis (477) Suatu suspensi dalam bidang farmasi adalah suatu dispersi kasar dimana partikel zat padat yang tidak aktif larut terdisperi dalam suatu medium cair. d. RPS 18th (1538) Fisika kimia mendefinisikan kata suspensi sebagai sistem dua fase yang terdiri dari serbuk terbagi halus yang didispersikan dalam padatan, cairan atau gas.

e. Lachman (479) Suspensi adalah sistem heterogen dari 2 fase. Fase kontinyu atau eksternal biasanya berupa cairan atau semipadat dan fase terdispersi atau internal terdiri dari bahan partikulat yang tidak larut tetapi terdispersi dalam fase kontinyu, bahan tidak larut dapat ditujukan untuk absorbsi fisiologis atau fungsi penyalutan internal atau eksternal. f. Parrot (341) Suspensi farmasetik adalah suatu dispersi dari serbuk terbagi halus dalam medium cair g. Scoville (298) Suspensi adalah sediaan farmasi dimana cairan mengandung zat/bahan yang tidak larut h. Prescription (201) Suspensi farmsetik mungkin didefenisikan sebagai dispersi kasar yang mana partikel padat (obat) terbagi halus tidak larut, biasanya lebih besar daripada 0,1 mikron diameternya,

didispersikan dalam medium cair ( air atau cairan minyak). Kesimpulan : Suspensi adalah sistem heterogen yang terdiri dari dua fase. Fase kontinyu atau eksternal biasanya cairan atau semi padat dan fase dispersi atau internal terdiri dari partikulat atau serbuk padat terbagi

halus yang diameternya lebih besar dari pada 0,1 mikron yang didispersikan dalam padatan, cair atau gas yang ditujukan untuk absorbsi fisiologis atau untuk fungsi penyalutan internal atau eksternal.

II.2.2 Suspensi sebagai sistem termodinamika tidak stabil : Menurut Farfis (47) Kerja harus dilakukan untuk megurangi padatan menjadi partikel kecil dan mendispersikannya dalam suatu pembawa. Besarnya luas zat permukaan padat partikel yang diakibatkan energi oleh bebas

mengecilnya

berhubungan

dengan

permukaan yang membuat sistem tersebut tidak stabil secara termodinamik., dimana dimaksudkan di sini bahwa partikel-partikel tersebut berenergi tinggi dan cenderung untuk mengelompok kembali untuk mengurangi luas permukaan total dan memperkecil energi bebas permukaan. Oleh karena itu partikel-partikel dalam suspensi cair cenderung untuk berflokulasi yakni membentuk suatu gumpalan yang lunak dan ringan yang bersatu karena gaya van der Walls yang lemah. Pada keadaan tertentu misalnya dalam suatu lempeng padat partikel tersebut dapat melekat dengan gaya yang lebih kuat membentuk suatu gumpalan (aggregates). Pembentukan setiap jenis gumpalan (agglomerates), apakah itu flokulat atau

aggregat dianggap sebagai suatu ukuran dari suatu sistem utnuk mencapai keadaan yang lebih stabil secara termodinamik. Kenaikan dalam kerja W atau energi bebas permukaan total F diperoleh dengan membagi zat padat menjadi partikel yang lebih kecil dan mengakibatkan meningkatnya luas permukaan total A yang digambarkan dengan : F = SL . A dimana SL adalah tegangan antar muka antara medium cair dan partikel padat. Agar mencapai suatu keadaan stabil, sistem tersebut cenderung untuk mengurangi energi bebas permukaan:

keseimbangan dicapai bila F = 0 keadaan ini dapat dicapai dengan pengurangan tegangan permukaan atau mungkin dapat didekati dengan pengurangan luas antar muka. Kemungkinan terakhir ini, mengakibatkan flokulasi atau agregasi yang diinginkan atau tak diinginkan dalam suatu suspensi farmasi seperti yang

dipertimbangkan dalam bagian terakhir. Tegangan antar muka dapat dikurangi dengan penambahan suatu surfaktan , tapi biasanya mempunyai suatu tegangan antar muka positif tertentu dan partikelpartikel tersebut cenderung untuk berflokulasi. Kesimpulan: Suatu suspensi dikatakan sebagai termodinamika tidak stabil karena suatu sistem dikatakan stabil jika energi bebas

permukaannya (F) sangat kecil atau mendekati 0. F diperoleh dari hasil perkalian antara tegangan antarmuka dan luas permukaan. Suspensi memiliki ukuran partikel yang lebih besar dari partikel larutan dan partikel-paartikel ini tidak larut tetapi hanya terdispersi dalam medium pemdispersinya sehingga tegangan antarmuka partikel padat dan medium pendispersinya besar. Walaupun partikelpartikel berusaha memperkecil luas permukaan dengan

mengadakan flokulasi tetapi tegangan antarmukanya tetap ada. Jadi suspensi tidak dapat mencapai kestabilan secara termodinamika.

II.2.3 Kestabilan fisika suspensi a. Menurut RPS 18th(1321) Ukuran partikel adalah suatu pertimbangan penting untuk stabilitas fisik dari suspensi seperti yang diprediksikan oleh Hukum Stokes. Partikel dengan diameter kecil dimaksudkan agar mengendap lebih lambat dibanding dengan partikel yang lebih besar, bagaimanapun partikel yang kecil akan lebih cenderung untuk membentuk cake selama pengendapan jika partikel-partikel tersebut deflukolasi tidak deflokulasi. Tambahan lagi, interaksi partikel dapat juga memiliki efek yang signifikan terhadap stabilitas suspensi. Untuk suspensi dengan kadar zat

padat

yang

relatif

tinggi,

interaksi

intrepartikel

dapat

menghasilkan dispersi yang lebih viskos atau tiksotropik. b. Menurut Parrot (341) Satbilitas fisika dari suspensi dihubungkan dengan

sedimentasi dan caking serta suspensi, suspensi tidak boleh mengendap dengan cepat dan caranya harus cukup mengalir dengan mudah selama pemakaian. Sehingga suatu suspensi yang tidak stabil merupakan partikel-partikel yang berinteraksi membentuk cake atau jaringan kristal yang keras. Ahli farmasi mencoba memformulasi suatu suspensi di mana proses caking diminimalkam kembali dengan pengocokan. Kesimpulan : Stabilitas fisika suspensi didefenisikan sebagai kondisi di mana partikel tidak membentuk agregat bebas dan partikel tetap terdistribusi secara seragam di seluruh medium pendispersi. Namun situasi ini jarang terjadi maka jika partikel mengendap maka partikel tersebut harus dengan mudah disuspensikan kembali dengan pengocokan minimal.

II.2.4 Keuntungan dan Kerugian Suspensi a. Keuntungan RPS18th (1539) Beberapa obat yang tidak larut dalam semua media penerima, oleh karena itu harus dibuat sebagai padatan, bentuk sediaan bukan larutan (tablet, kapsul dll) atau sebagai suspensi. Rasa yang tidak enak dapat ditutupi dengan penggunaan suspensi dari obat atau derivatif dari obat sebagai contoh yang terikat kloramfenikol palmitat. Suspensi dibuat dari pertukaran ion damar yang

mengandung obat bentuk ion dapat digunakan tidak hanya untuk meminimalkan rasa dari obat tetapi juga untuk menghasilkan produksi beraksi lama, sebab obatobatan mengalami pertukaran yang lambat untuk ion-ion lain dalam saluran pencernaan. Suspensi juga secara kimia lebih stabil dibanding larutan Suspensi merupakan bentuk sediaan yang ideal untuk pasien untuk pasien yang sulit menelan tablet atau kapsul yang mana penting dalam pembuatan obat untuk anakanak.

Scoville (298-299) Cairan yang mengandung bahan tidak larut memberikan keuntungan baik untuk pemakaian dalam maupun untuk pemakaian luar untuk aksi perlindungan dan juga aksi diperpanjang. Kedua efek ini dapat dicapai secara relatif dari obat yang tidak larut. Dalam kasus suspensi untuk injeksi intramuskular bahan pensuspensi diinginkan

sebagai cadangan untuk menyakinkan aksi diperpenjang dari obat. Suspensi juga mempunyai keuntungan dalam

kestabilannya dibanding dengan bentuk larutan Rasa merupakan keuntungan lain dari suspensi

dibandingkan larutan. Suspensi dari quinin pahit tetapi tidak sepahit dengan sejumlah quinin dalam larutan. Parrot (344) Suspensi oral merupakan bentuk sediaan yang

menguntungkan untuk penggunaan pada anak-anak atau orang dewasa yang mengalami kesulitan dalam menelan tablet atau kapsul.

b. Kerugian suspensi Modern Pharmaceutical : 339 Keseragaman dan keakuratan dari dosis saat sediaan digunakan untuk pengobatan tidak mungkin dibandingkan rasanya yang diperoleh dengan menggunakan tablet atau kapsul. Sedimentasi atau endapan yang kompak menyebabkan masalah dimana tak berarti selalu mudah untuk dilarutkan. Produknya cair dan secara relatif massanya berat. Sifat ini tidak menguntungkan bagi farmasis dan pasien Keefektifan dari formulasi dan suspensi secara farmasetik bagus biasanya sulit untuk dicapai dari sediaan

tablet/kapsul pada obat yang sama. Prescription : 201 Masalah yang ditimbulkan dalam pencampuran atau industri farmasi dalam formulasi keduanya baik suspensi maupun emulsi sangat berhubungan erat dengan

kestabilan termodinamik dari bentuk sediaan ini. Pengaruh gravitasi menyebabkan sedimentasi fase padat terdispersi dari suspensi.

Pemisahan fase dalam emulsi harus dicegah jika pasien diberikan dengan dosis yang seragam dari obat yang terkandung di dalamnya.

Kesimpulan : a. Keuntungan suspensi adalah: Rasa yang tidak enak dapat ditutupi karena ukuran partikel suspensi besar jadi kontak dengan lidah kecil. Suspensi lebih stabil secata kimia dibandibgkan dengan larutan. Dapat digunakan untuk obat-obat yang tidak larut. Mudah diatur penyesuaian dosis untuk anak-anak. Bisa diatur warna dan bau

b. Kerugian suspensi Tidak stabil secara termodinamika Ketidakseragaman dosis Adanya pengaruh gravitasi menyebabkan terjadinya

sedimentasi Ada obat yang tidak stabil dengan adanya air pada penyimpanan, misalnya bebrapa antibiotik. Volumenya besar. Penampilan suspensi tidak elegan.

II.2.5 Sifat suspensi yang ideal a. RPS 18th : 296 Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi dalam formulasi

suspensi yang baik : Partikel yang terdispersi harus memiliki ukuran yang sama dimana partikel ini tidak mengendap dengan cepat dalam wadah. Bagaimanapun juga, dalam peristiwa terjadinya sedimentasi, sedimen harus tidak membentuk endapan yang keras. Endapan tersebut harus dapat terdispersi kembali dengan usaha yang minimum dari pasien Produk harus mudah untuk dituang, memiliki rasa yang menyenangkan dan tahan terhadap serangan mikroba. b. Farmasi Fisika (477) Suatu suspensi yang dapat diterima mempunyai kualitas tertentu yang diinginkan: Zat yang tersuspensi tidak boleh cepat mengendap Partikel-partikel tersebut walaupun mengendap pada dasar wadah tidak boleh membentuk suatu gumpalan padat tetapi harus dengan cepat terdispersi kembali menjadi suatu

campuran homogen bila wadahnya dikocok dari botolnya atau untuk mengalir melewati jarum injeksi. Untuk cairan obat luar, produk tersebut harus cukup cair sehingga dapat tersebar dengan mudah ke seluruh daerah yang sedang diobati tetapi juga tidak boleh sedemikian mudah bergerak sehingga gampang hilang dari permukaan dimana obat tersebut digunakan. Cairan tersebut dapat kering dengan cepat dan membentuk suatu lapisan pelindung yang elastis sehingga tidak akan mudah terhapus, juga harus mempunyai warna dan bau yang nyaman. Kesimpulan : Sifat suspensi yang ideal : Mengendap dengan lambat, dan bila dikocok dapat dengan mudah terdispersi kembali. Ukuran partikel tetap dan konstan. Dituang dari wadah dnegan cepat dan homogen. Tidak mengendap dan distribusinya seragam. Tidak ada interaksi antarpartikel (agregasi) Walaupun partikel mengendap, tidak terbentuk cake keras dan mudah didispersikan kembalu.

Dapat diterima dari segi rasa, warna dan tampakan untuk suspensi topikal.

Viskositasnya cukup untuk mengurangi penendapan. Jika didispersikan kembali dosisnya tetap seragam.

II.2.6 Hukum stokes dan hubungannya dengan farmasi a. Menurt Farmasi Fisika (477) Kecepatan pengendapan dijelaskan dengan hukum Stokes : V = d2 (s o)g 18 o dimana v adalah kecepatan pengendapan dalam cm/sec, d adalah diameter partikel dalam cm, s dan o adalah berat jenis dari fase terdispersi dan medium pendispersi berturut-turut, g adalah percepatan gravitasi medium pendispersi dalam poise. b. Menurut RPS18th (295) Jumlah partikel yang mengendap dalam suspensi berhubungan dengan ukuran partikelnya dan berat jenis dan kecepatan dari medium suspensi. Gerak Brown atau acak mungkin memberikan efek yang signifikan, akan ada atau tidaknya flokulasi dalam sistem.

Hukum Stokes kecepatan sedimentasi yang seragam dari partikel spheris diatur oleh hukum stokes dijelaskan sebagai berikut : V = 2r2 (1- 2) g 9 dimana v adalah kecepatan pengendapan dalam cm/sec, r adalah jari-jari dari partikel dalam cm, 1 dan 2 berturut-turut adalah berat jenis (g/cm3) dari fase terdispersi dan medium pendispersi, g adalah percepatan gravitasi (980,7 cm/sec 2) dan adalah viskositas Newtonian dari medium pendispersi dalam poise (g/cm sec). Kesimpulan : Hukum Stokes berlaku untuk partikel yang berbentuk bulat dan seragam : Makin besar ukuran partikel, maka makin cepat pengendapan. Makin besar kerapatan partikel, makin besar laju turunannya. Berat jenis partikel besar, maka laju pengendapan cepat. Viskositas tinggi, laju sedimentasinya tinggi

II.2.7 Tipe-Tipe aliran: Menurut Farmasi Fisika (522) 1. Sistem Newtonian Aliran hukum Newton. Pertimbangan block dari cairan yang terdiri dari molekul dengan lempeng sejajar sama dengan kartu deck, yang ditunjukkan oleh gambar : F dv dr A

Lapisan di bawah dijelaskan untuk pencampuran dalam tempat. Jika cairan pada bagian atas dipindahkan pada kecepatan konstan, setiap lapisan lebih rendah dipindahkan dengan kecepatan yang proporsional secara langsung sampai jarak pembentukan lapisan stationer paling dasar. Perbedaan

kecepatan (dv) antara dua bidang cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil sekali (dr) adalah perbedaan kecepatan atau rate of shear dv/dr. Gaya per satuan luas F/A diperlukan untuk menyebabkan aliran, ini disebut shearing stress. Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kuantitatif. Dia menemukan bahwa makin besar viskositas

suatu cairan akan makin besar pula gaya per satuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rate of shear tertentu. Oleh karena itu, rate of shear harus berbanding langsung dengan shearing stress atau : F = dv

A dr Dimana adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan hanya sebagai viskositas saja. 2. Sistem Non- Newtonian Farmasis mungkin lebih sering menyertai bahan nonNewtonian daripada larutan sederhana dan farmasis seharusnya mempunyai metode yang cocok untuk memepelajari substansi yang kompleks ini. Non Newtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton, dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan, koloid, emulsi suspensi cair, salep dan produk-produk serupa masuk dalam kelas ini. Jika bahan-bahan non-Newtonian dianalisis dalam suatu viskometer putar dan hasilnya diplot, diperoleh berbagai kurva konsistensi yang menggambarkan adanya 3 kelas aliran yaitu plastis, pseudoplastis, dan dilatan.

a. Aliran Plastis Seperti material diketahui sebagai Bingham bodies dalam mengambil reologi modern yang utama dan

pemasukan pertama untuk mempelajari bahan plastik dalam suatu cara yang sistematik. Kurva aliran plastis tidak melalui titik asal tetapi memotong sumbu shearing stress (atau akan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolarisasikan ke sumbu) pada suatu titik tertentu yang dikenal sebagai nilai yield . Bingham bodies tidak akan mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar nilai yield tersebut. Pada harga stress dibawah nilai yield zat bertindak seperti bahan elastis. Ahli reologi menggolongkan Bingham Bodies sebagai suatu bahan yang memperlihatkan nilai yield, sepeti halnya zat padat. Sedang zat-zat yang mulai mengalir pada shearing stress terkecil didefinisikan sebagai cairan nilai yield adalah suatu sifat yang terpenting dari dispersi-dispersi tertentu. Slop dari reogram diistilahkan dengan mobility, yang sama dengan aliran dalam sistem newtonian dan aliran ini kebalikan dari viskositas plastik. Persamaan aliran plastik dijelaskan :

(Ff) U= G Dimana f adalah nilai yield atau intersep pada sumbu shear stress dalam dynes cm-2 dan F dan G telah didefinisikan sebelumnya. b. Aliran pseudoplastis Produk farmasetik dalam jumlah besar, termasuk bahan alam tragacan, dan gum sintetik seperti dispersi cairan dari alginat, metilselulosa, dan natirum

natrium

karboksimetilselulosa, menunjukkan aliran pseudoplastis. Sebagai diperlihatkan aturan oleh umum, aliran dalam pseudoplastis larutan yang

polimer-polimer

merupakan kebalikan dari sistem plastis yang tersusun dari partikel-partikel yang terflokulasi dalam suspensi kurva konsistensi. Untuk bahan pseudoplastis mulai pada titik asal atau paling tidak mendekatinya pada rate of shear rendah. Akibatnya berlawanan dengan Bingham Bodies tidak ada nilai yield. Tetapi karena tidak ada bagian kurva yang linier maka kita tidak dapat menyatakan viskositas dari suatu bahan pseudoplastis dengan suatu harga tunggal. Viskositas zat pseudoplastis berkurang dengan

meningkatnya rate of shear viskositas nyata bisa diperoleh

pada setiap kurva rate of shear dan kemiringan tangga (garis singgung) pada kurva pada titik yang tertentu (khas). Viskositas pseudoplastis dari bahan menurun dan meningkatnya rate of shear, viskositas yang nyata diperoleh dari rate of shear yang membentuk tangen-slope dari kurva pada titik spesifik. Tipe yang paling baik diwakili oleh pseudoplastis pada waktu yang sama, bagaimanapun

mungkin kurva konsistensi keseluruhan diplot. c. Aliran dilatan Suspensi-suspensi tertentu dengan persentse zat padat terdispersi yang tinggi menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan meningkatnya rate of shear, system seperti itu sebenarnya volumenya meningkat jika terjadi shear dan oleh karena itu diberi istilah dilatan. Seharusnya tangen segera terlihat bahwa tipe aliran ini adalah kebalikan dari tipe yang dipunyai oleh sistem pseudoplastis. Sementara bahan pseudoplastis seringkali diberi shear thickening system. Jika stress dihilangkan, suatu sistem dilatan kembali ke keadaaan fluiditas aslinya. Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatan adalah suspensi-suspensi yang berkonsentrasi tinggi (kira-kira 50%

atau lebih) dari partikel-partikel kecil yang mengalami deflokulasi.

shearing stress ( aliran newtonian)

shearing stress (aliran plastis sederhana)

shearing stress (aliran pseudoplastis sederhana)

shearing stress (aliran dilatan)

Aliran yang diinginkan : a. Menurut Physical Pharmacy (530) Tiksotropik adalah suatu sifat yang diinginkan dari suatu sistem farmastika cair yang idealnya harus mempunyau konsentrasi yang tinggi dalam wadah namun dapat dituang dan disebar dengan mudah.

b. Parrot (344) Kombinasi dari aliran pseudoplastis dan bahan pensuspensi tiksotropik seperti natrium karboksimetilselulosa dan bentonit memberikan karakteristik yang diinginkan dalam suspensi. Selama penyimpanan, partikel membentuk struktur gel jika dikocok suspensi akan mengalir dengan mudah.

Sifat termodinamika tidak stabil Ukuran Partikel Suspensi

RPS 18th: 1538 Batas terendah dari ukuran partikel mendekati 0,1 m Parrot : 344 Ukuran partikel suspensi 1-50 m Scoville : 295 Partikel padat sekecil 1 m dalam diameter mengandung lebih dari 100 juta molekul setiapnya. Kriteria Suspensi yang ideal Hukum Stokes Farmasi fisika : 547 Kecepatan pengendapan dijelaskan dengan hukum Stokes : V = d2 (s o)g 18 o dimana v adalah kecepatan pengendapan dalam cm/sec, d adalah diameter partikel dalam cm, s dan o adalah berat jenis dari fase terdispersi dan medium pendispersi berturut-turut, g adalah percepatan gravitasi medium pendispersi dalam poise. RPS 18 th : 295

Jumlah partikel yang mengendap dalam suspensi berhubungan dengan ukuran partikelnya dan berat jenis dan kecepatan dari medium suspensi. Gerak Brown atau acak mungkin memberikan efek yang signifikan, akan ada atau tidaknya flokulasi dalam sistem. Hukum Stokes kecepatan sedimentasi yang seragam dari partikel spheris diatur oleh hukum stokes dijelaskan sebagai berikut : V = 2r2 (1- 2) g 9 dimana v adalah kecepatan pengendapan dalam cm/sec, r adalah jari-jari dari partikel dalam cm, 1 dan 2 berturut-turut adalah berat jenis (g/cm 3) dari fase terdispersi dan medium pendispersi, g adalah percepatan gravitasi (980,7 cm/sec2) dan adalah viskositas Newtonian dari medium pendispersi dalam poise (g/cm sec). Kesimpulan : Keceparan pengendapan tergantung dari ukuran partikel dan viskositas dimana ukuran partikel yang kecil maka partikel lambat untuk

mengendap dan cenderung untuk membentuk agregat dan flokulasi dan jika mengendap dapat menyebabkan caking dan bila viskositas besar sulit dibuang dari botol. Tipe-tipe aliran (Farmasi Fisika : 522)

3. Sistem Newtonia Aliran hukum Newton. Pertimbangan block dari cairan yang terdiri dari molekul dengan lempeng sejajar sama dengan kartu deck, yang ditunjukkan oleh gambar :

Lapisan di bawah dijelaskan untuk pencampuran dalam tempat. Jika cairan pada bagian atas dipindahkan pada kecepatan konstan, setiap lapisan lebih rendah dipindahkan dengan kecepatan yang proporsional secara langsung sampai jarak pembentukan lapisan stationer paling dasar. Perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil sekali (dr) adalah perbedaan kecepatan atau rate of shear dv/dr. Gaya per satuan luas F/A diperlukan untuk menyebabkan aliran, ini disebut shearing stress. Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kuantitatif. Dia menemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan akan makin besar pula gaya per satuan luas

(shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rate of shear tertentu. Oleh karena itu, rate of shear harus berbanding langsung dengan shearing stress atau : F A = dv dr

Dimana

adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan hanya

sebagai viskositas saja. 4. Sistem Non- Newtonian Farmasis mungkin lebih sering menyertai bahan non-Newtonian daripada larutan sederhana dan farmasis seharusnya mempunyai metode yang cocok untuk memepelajari substansi yang kompleks ini. Non Newtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran Newton, dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan, koloid, emulsi suspensi cair, salep dan produk-produk serupa masuk dalam kelas ini. Jika bahan-bahan non-Newtonian dianalisis dalam suatu viskometer putar dan hasilnya diplot, diperoleh berbagai kurva konsistensi yang menggambarkan adanya 3 kelas aliran yaitu plastis, pseudoplastis, dan dilatan.

a.

Aliran Plastis

Seperti material diketahui sebagai Bingham bodies dalam mengambil reologi modern yang utama dan pemasukan pertama

untuk mempelajari bahan plastik dalam suatu cara yang sistematik. Kurva aliran plastis tidak melalui titik asal tetapi memotong sumbu shearing stress (atau akan memotong jika bagian lurus dari kurva tersebut diekstrapolarisasikan ke sumbu) pada suatu titik tertentu yang dikenal sebagai nilai yield . Bingham bodies tidak akan mengalir sampai shearing stress dicapai sebesar nilai yield tersebut. Pada harga stress dibawah nilai yield zat bertindak seperti bahan elastis. Ahli reologi menggolongkan Bingham Bodies sebagai suatu bahan yang memperlihatkan nilai yield, sepeti halnya zat padat. Sedang zat-zat yang mulai mengalir pada shearing stress terkecil didefinisikan sebagai cairan nilai yield adalah suatu sifat yang terpenting dari dispersi-dispersi tertentu. Slop dari reogram diistilahkan dengan mobility, yang sama dengan aliran dalam sistem newtonian dan aliran ini kebalikan dari viskositas plastik. Persamaan aliran plastik dijelaskan :

(Ff) U= G

Dimana f adalah nilai yield atau intersep pada sumbu shear stress dalam dynes cm-2 dan F dan G telah didefinisikan sebelumnya. b. Aliran pseudoplastis Produk farmasetik dalam jumlah besar, termasuk bahan alam dan gum sintetik seperti dispersi cairan dari tragacan, natrium alginat, metilselulosa, dan natirum karboksimetilselulosa, menunjukkan aliran pseudoplastis. Sebagai aturan umum, aliran pseudoplastis diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan yang merupakan kebalikan dari sistem plastis yang tersusun dari partikel-partikel yang terflokulasi dalam suspensi kurva konsistensi. Untuk bahan pseudoplastis mulai pada titik asal atau paling tidak mendekatinya pada rate of shear rendah. Akibatnya berlawanan dengan Bingham Bodies tidak ada nilai yield. Tetapi karena tidak ada bagian kurva yang linier maka kita tidak dapat menyatakan viskositas dari suatu bahan pseudoplastis dengan suatu harga tunggal. Viskositas zat pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya rate of shear viskositas nyata bisa diperoleh pada setiap kurva rate of shear dan kemiringan tangga (garis singgung) pada kurva pada titik yang tertentu (khas). Viskositas pseudoplastis dari bahan menurun dan

meningkatnya rate of shear, viskositas yang nyata diperoleh dari rate

of shear yang membentuk tangen-slope dari kurva pada titik spesifik. Tipe yang paling baik diwakili oleh pseudoplastis pada waktu yang sama, bagaimanapun mungkin kurva konsistensi keseluruhan diplot. c. Aliran dilatan Suspensi-suspensi tertentu dengan persentse zat padat terdispersi yang tinggi menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan meningkatnya rate of shear, system seperti itu sebenarnya volumenya meningkat jika terjadi shear dan oleh karena itu diberi istilah dilatan. Seharusnya tangen segera terlihat bahwa tipe aliran ini adalah kebalikan dari tipe yang dipunyai oleh sistem pseudoplastis. Sementara bahan pseudoplastis seringkali diberi shear thickening system. Jika stress dihilangkan, suatu sistem dilatan kembali ke keadaaan fluiditas aslinya. Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatan adalah suspensi-suspensi yang berkonsentrasi tinggi (kira-kira 50% atau lebih) dari partikel-partikel kecil yang mengalami deflokulasi.

shearing stress ( aliran newtonian) plastis

shearing stress (aliran

sederhana)

shearing stress (aliran pseudoplastis dilatan) sederhana)

shaering stress (aliran

Gambar Aliran Dilatan (Farfis :

partikel yang sangat berdekatan volume rongga minimum pembawanya tidak cukup

partikel berjauhan volume rongga

maksimum

pembawanya cukup

konsentrasi relatif rendah

konsentrasinya

relatif tinggi Thiksotropi (Farfis : 527) Sistem thiksotropi biasanya mengandung partikel-partikel asimetris yang melalui berbagai titik hubungan menyusun kerangka 3 dimensi diseluruh sampel tersebut. Pada keadaan diam struktur ini mengakibatkan suatu derajat kekakuan pada sistem tersebut dan menyerupai suatu gel. Ketika digunakan shear dan aliran dimulai, struktur ini mulai memecah apabila titik-titik hubungan tersebut memisah dan partikel-partikel menjadi lurus. Bahan tersebut mengalami transformasi dari gel ke sol dan menunjukkan shear-thinning.

Aliran yang diinginkan (Farfis : 530) Thiksotropi adalah suatu sifat yang diinginkan dalam suatu sistem farmasetis cair yang idealnya harus mempunyai konsistensi tinggi dalam wadah namun dapat dituang dan disebar dengan mudah. (Parrot : 344) Kombinasi dan aliran pseudoplastis dan bahan pesuspensi

thiksotropik seperti natrium, karboksimetilselulosa, dan bentonit, memberikan karakteristik yang diinginkan dalam suspensi. Selama penyimpanan, partikel membentuk struktur gel jika dikocok suspensi akan mengalir dengan mudah. Cara Formulasi Suspensi (RPS 18 th : 296) Formulasi suspensi yang mempunyai stabilitas fisika yang optimal tergantung pada partikel dalam suspensi apakah menjadi flokulasi atau deflokulasi. Salah satu yang biasa digunakan adalah pembawa berstruktur untuk menjaga deflokulasi partikel dalam suspensi, yang kedua tergantung pada flokulasi terkontrol yang berarti mencegah pembentukan cake, yang ketiga kombinasi dari dua metode sebelumnya, hasilnya adalah produk dengan stabilitas yan optimum.

partikel

penambahan pembasah dan medium pendispersi

partikel terdeflokulasi secara seragam

penambahan struktur penambahan bahan pembawa

penambahan bahan

pengflokulasi

flokulasi

suspensi terdeflokulasi dalam struktur pembawa sebagai hasil akhir. pembawa

suspensi flokulasi sebanyak produk akhir

suspensi flokulasi

penambahan

berstruktur suspensi flokulasi dalam struktur pembawa sebagai hasil akhir Perbedaan suspensi flokulasi dengan deflokulasi (RPS 18 th : 295) Deflokulasi 1) Partikel berada dalam suspensi dalam wujud yang memisah 2) Laju pengendapan lambat karena partikel mengendap terpisah dan 2). Laju pengendapan tinggi karena Flokulasi 1) Partikel membentuk agregat bebas

ukuran partikel minimal. 3) Enadapan yang terbentuk lambat 4) Endapan biasanya menjadi samgat padat karena berat dari lapisan atas dari bahan endapan yang mengalami gaya tolakmenolak antara partikel dan cake yang keras terbentuk dimana merupakan kesulitan jika mungkin didispersi kembali. 5) Suspensi penampilan menarik karena tersuspensi untuk waktu yang lama supernatannya juga keruh bahkan ketika pengendapan terjadi.

partikel mengendap sebagai flokulasi yang merupakan komposisi partikel. 3). Endapan yang terbentuk cepat 4). Partikel tidak mengikat kuat dan keras satu sama lain tidak terbentuk lempeng. Endapan mudah untuk didispersikan kembali dalam bentuk suspensi aslinya.

5). Suspensi menjadi keruh karena pengendapan yang optimal dan supernatannya jernih. Hal ini dapat dikurangi jika volume endapan dibuat besar, idealnya volume endapan harus meliputi volume suspensi.

Parameter Pengendapan Suspensi (RPS 18th :296)

Suspensi deflokulasi Fn = 0,15 5,0

Suspensi terflokulasi F = 0,75 =

Pembawa Berstruktur (RPS 18th ; 297) Pembawa berstruktur secara umum pada larutan yang mengandung air dari bahan polimer seperti hidroklorida yang mana biasanya bermuatan negatif dalam larutan berair, contoh dari tipe ini adalah metil selulosa, karboksi metilselulosa, bentonit, dan karbopol. Konsentrasi yang digunakan tergantung pada konsistensi yang diinginkan pada suspensi, selanjutnya ,akan disesuaikan dengan ukuran dan berat jenis partikel tersuspensi. Fungsinya sebagai bahan pensuspensi yang memberikan kekentalan dan mengurangi rata-rata pengendapan dari partikel terdispersi. Reologi bahan-bahan pensuspensi dipertimbangkan di tempat lain (bab 20). Idealnya, pembentukan sistem pseudoplastis atau plastis yang sedang mengalami shear thinning. Beberapa derajat dari thiksotropi juga dinginkan

bahan-bahan non-Newton pada tipe ini lebih dipilih dari sistem NonNewtonian karena jika partikel-partikel akhirnya mengendap pada dasar wadah. , pendispersiannya kembali dibantu oleh pembawa thinning jika dikocok. Ketika pengocokan tidak dilanjutkan pembawa memperoleh konsistensi awalnya dan partikel yang terdispersi kembali tetap tersuspensi. Proses ini didispersi kembali, dibantu oleh pembawa shear thinning, maksud awal bahwa partikel-partikel terdeflokulasi belum membentuk cake.Jika sedimentasi dan packing telah terbentuk menjadi caking yang terjadi, dispersi kembali tidak mungkin terjadi. Flokulasi Terkontrol (RPS 18th: 297) Flokulasi terkontrol, jika menggunakan pendekatan formulasi suspensi, formulator mengambil bahan terdispersi yang terdeflokulasi dan terbasahi berusaha membawa ke sekitar flokulasi dengan penambahan bahan pengflokulasi yang sangat umum, bahan pengflokulasi ialah elektrolit, polimer atau surfaktan. Tujuan umum untuk mengontrol proses flokulasi dengan penambahan sejumlah bahan pengflokulasi yang menghasilkan jumlah sedimen maksimum. Jenis-jenis agregat (Lachman 482-483) Pertama perlu dicatat agregat jaringan terbuka atau flokula, agregat ini dikarakteristikkan dengan suatu jaringan terbuka, lunak, dan berserat dari partikel-partikel yang teragregasi, strukturnya kaku sekali maka agregat agregat ini mengendap dengan cepat membentuk sedimen yang tinggi

dengan mudah dapat didispersikan kembali, karena partikel-partikel yang membentuk agregat masing-masing cukup jauh terpisah dengan lainnya untuk menghindarkan caking. Catatan kedua, agregat tertutup atau koagula, agregat ini dikarakteristikkan oleh suatu kemasan kuat yang dihasilkan oleh pengikatan lapisan permukaan. Agregat ini mengendap perlahan-lahan ke ketinggian sedimen rendah yang mendekati kerapatan sedimen dari suatu sistem partikel kecil yang terdispersi yang dibicarakan dalam paragraf berikut. Dilihat dari sifatnya endapan yang tersusun dari agregat tertutup tidak didispersikan kembali. Afinitas dari lapisan tipis permukaan satu dengan lainnya bertanggung jawab untuk keuletan agregat, tak hanya dalam agregat cenderung membentuk suatu agregat tunggal besar yang terikat lapisan, yang sulit untuk terdispersi kembali (jika mungkin). Lapisan tipis permukaan yang mengakibatkan pembentukan koagula seringkali adalah surfaktan, gas, cairan-cairan yang tidak saling bercampur dengan air (dalam hal suspensi bukan air). Selain 2 tipe agregasi yang baru dibicarakan, seseorang harus mengetahui tentang bentuk teragregasi atau bentuk terdispersi sebagai kesatuan diskret. Seperti digambarkan dalam gambar, sedimen sedimen dari tipe suspensi ini secara perlahan-lahan (jika dibandingkan dengan tipe agregat terbuka dan tertutup) mencapai ketinggian sedimen yang rendah dan karena permukaan partikel berdekatan dengan sedimentasi maka memiliki

potensial tinggi untuk caking, karena mudahnya pembentukan jembatan kristal yang meluas, yang disebutkan nanti dalam bab ini. Jelaslah bahwa suspensi farmasi harus dapat terdispersi kembali hanya dengan pengadukan ringan untuk menjaga keseragaman pemberian dosis.

Suatu gambaran agregat

suatu gambaran agregat bentuk suspensi

gambaran

Suspensi jaringan terbuka Komposisi suspensi Lachman PDF (180)

suspensi tertutup

terdispersi

2. Komponen dari sistem suspensi a. Bahan pembasah b. Bahan pendispersi atau deflokulasi c. Bahan pengflokulasi d. Bahan pengental 3. Komponen dari pembawa suspensi e. pengontrol pH/buffer

f. g. h. i. Scoville: -

bahan osmotik bahan pewarna, pengaroma dan pengharum pengawet untuk mengontrol pertumbuhan mikroba Cairan pembawa

Bahan pensuspensi Bahan pembasah Tambahan suspensi Pengawet

Bahan Pembasah Scoville : 306 Bahan pembasah. Penmbahan bahan yang menurunkan tegangan permukaan dari air sangat membantu dalam peningkatan dispersi bahan tidak larut, dioktil, natrium sulfasuksinat dan natrium lauril sulfat, walaupun rata-rata tidak toksik, sangat sering digunakan dalam sediaan eksternal. Sebagai contoh telah ditemukan dalam penambahan 1 fl.oz dari 10 % larutan dioktil natrium sulfasuksinat ke galon sanagt meningkatkan kualitas larutan kalamin. Farfis : 465 Bahan pembasah adalah surfaktan bahwa ketika dilarutkan dalam air, menurunkan kemajuan sudut kontak dan membantu dalam mengganti tempat dari fase udara pada permukaan dan menggantinya dengan fase

cairan, contoh aplikasi dari pembasahan dalam afrmasi dan obat yang termasuk penggantian dari udara dari permukaan sulfur, arang dan serbukserbuk lain untuk tujuan dari dispersi obat-obatan ini dalam larutan pembawa, penggantian udara dari matriks dari blok kapas dan perlu sehingga larutan obat dapat diabsorbsi untuk aplikasinya ke berbagai area tubuh, pemindahan dari kotoran dengan menggunakan deterjen dalam pencucian luka-luka dan penggunaan larutan obat dan disemprotkan ke permukaan kulit dan membran mukosa. Lachman : 168 Tehnik farmasetika sering membantu untuk memodifikasi karakteristik pembasahan dari serbuk meliputi dengan pengunaan surfaktan (kadangkadang dengan pengadukan) untuk menurunkan tegangan antar muka padat-cair. Mekanisme pembasahan (RPS 18th: 254) Tahap pertama dalam pembasahan suatu serbuk adalah pembasahan adhesional dimana permukaan padat berhubungan dengan permukaan cairan. Tahap ini ekuivalen dengan perubahan dari tahap a ke tahap b dalam gambar. Partikel kemudian ditekan di bawah permukaan cairan ketika pembasahan pencelupan terjadi ( b ke c) selama tahap ini terbentuk antar muka padat-cair dan antar muka padat-udara hilang. Akhirnya cairan menyebar ke seluruh permukaan zat padat apabila pembasahan penyebaran terjadi. Kerja pembasahan penyebaran sama dengan kerja untuk membentuk

antar muka padat-cair dan cair-gas dikurangi hilangnya antar muka padatgas.

Bahan pembasah (Lachman PDF : 181) Menurut Idson dan Scheer (62) , tentu zat padat sangat mudah dibasahi dengan cairan, meskipun ada yang lain tidak. Sudut pembasahan tergantung pada afinitas obat terhadap air dan sebaliknya bahan padatan hidrofilik atau hidrofobik. Padatan hidrofilik sangat mudah dibasahkan dengan air dan dapat meningkatkan viskositas dari cairan pensuspensi. Padatan hidrofobik menolak air tetapi dapat dibasahkan dengan larutan non polar. Ketika pembasahannya tepat. Selanjutnya biasanya dapat digabungkan dalam suspensi tanpa menggunakan bahan pembasah . Obat mayoritas dalam cairan suspensi adalah hidrofobik. Ini sulit untuk disuspensikan dan sering terflokulasi pada permukaan air dan larutan polar untuk memerangkap udara dan kurang terbasahi. Bahan pembasah adalah surfaktan yang menurunkan tegangan antar muka dan sudut kontak antara partikel padat dan cairan pembawa, Jika menurut Hienstan (8), bahan pembasah adalah kehadiran di saat serbuk ditambahkan dengan cairan pembawa. Penetrasi dari fase cair ke dalam serbuk dengan kecepatan yang cocok untuk mengeluarkan udara dari

partikel dan dihasilkan pembasahan partikel akan tercelup atau terbagi dengan sedikit pengadukan. Menurut teori HLB (9), Range yang paling baik untuk pembasahan dan penyebaran dengan surfaktan non ionik antara 7 dan 10. Sejumlah surfaktan mungkin digunakan sebagai bahan pembasah farmasetik didaftarkan dalam tabel 8. Catatan bahwa harga HLB didaftarkan dalam tabel untuk pembasahan optimum yang lebih besar daripada range normal yang direkomendasikan. Konsentrasi dari surfaktan biasanya bervariasi dari 0,05 s/d 0,5 % dan tergantung pada bahan padat yang dimaksudkan untuk suspensi. Penggunaan surfaktan sebagai bahan pembasah juga akan memperlambat pembentukan kristal. Pada lain pihak, konsentrasi surfaktan kurang dari 0,05 % dapat menghasilkan pembasahan yang tak sempurna. Konsentrasi yang lebih besar dari 0,5 % surfaktan mungkin melarutkan partikel-partikel yang lebih halus dan peran penting akhirnya untuk muatan dalam distribusi ukuran partikel dan pembentukan kristal. Surfaktan HLB tinggi juga bahan pembusa, bagaimanapun, busa tidak diinginkan selama pembasahan dari formulasi suspensi. Tambahan, tipe oinik, tuntutan lebih efektif pada range konsentrasi daripada tipe nonionik, adalah pertimbangan kepekaan pH dan ketidakcampuran dengan banyak zat tambahan.

Surfaktan paling banyak kecuali polimer rasa pahit sering melawan peraturan surfaktan digunakan sebagai suspensi oral. Meskipun demikian polisorbat 80 masih paling digunakan secara luas sebagai surfaktan untuk formulasi suspensi karena kurang toksik dan kecampuran dengan zat tambahan formulasi. Sterik stabilisasi dari suspensi dengan poloxamer telah diterima kembali oleh Rawlins dan kayes (63). Nonoksinal dan polimer juga ditemukan menjadi bahan yang efektif di bawah konsentrasi misel kritiknya. Jumlah pembasahan sering ditentukan dengan ukuran tempat dari sejumlah serbuk yang permukaannya tidak terganggu oleh air yang dikandung memberikan konsentrasi surfaktan. Ukuran waktu yang diperlukan untuk terbasahi secara sempurna dan serbuk tercelup. Sebagai contoh, Carino dan Morlet (64) menemukan waktu pencelupan yang cepat untuk padatan hidrofobik (SpG > 1) dengan konsentrasi 0,015% Natrium USP dalam air yang mana konsentrasi misel kritik di atas surfaktan. Penulis juga menunjukkan bahwa proses pembasahan melalui penetrasi air masuk ke dalam pori-pori serbuk dengan penyebaran dari pembasahan agregat

serbuk yang utama dari pencelupan. Penambahan sejumlah kecil elektrolit netral seperti KCl, telah ditemukan (65) untuk menurunkan konsentrasi misel kritikal dan tegangan antar muka dari larutan surfaktan dan kemudian memperbaiki pembasahan. Suspensi yang dihasilkan , bagaimanapun lebih mudah membentuk agregat atau flok.

Istilah yang diperkenalkan oleh W. Griffin untuk menjelaskan keseimbangan hidrofilik lipofilik atau bagian dari surfaktan non ion yang telah memiliki nilai numerik antara 1 dan 20. Bahan deflokulasi dan dispersi sejati (Lachman PDF: 183) Mitsui dan katada (60) menunjukkan bahwa kemampuan terdispersi dari serbuk dalam air tergantung dari besarnya jarak dari permukaan muatan dan berat jenis partikel, apakah serbuk telah terdispersi dengan penampakan pengadukan mekanik atau tidak. Bahan pendeflokulasi adalah garam organik polimerisasi dari asam sulfonat dari kedua tipe alkil aril atau aril alkil dapat mengubah permukaan muatan dari partikel melalui absorbsi fisika. Polielektrolit spesial ini mengikuti trade names Daxad (Dewey and almay chemical Co, Cambridge, MA). Darvan(RT. Vanderbit Co., New York, NY), Maras pere (Marathon Corp, Rothschild, Wi) dan orzan (Crown zeiter-bach, camas, WA). Mekanisme aksinya tidak begitu dipahami, tetapi polielektrolit ini ada untuk berfungsi memproduksi muatan negatif atau meningkatkan muatan negatif yang sudah ada untuk membantu meningkatkan

pendispersian. Pengurangan gaya kohesiv antara partikel primer melalui gaya tolak menolak dari muatan sejenis membantu menghancurkan flok dan aglomerat dan juga membantu dispersi. Tidak seperti surfaktan, bahan ini tidak menurunkan tegangan antarmuka. Sebab itu mereka tidak atau sedikit memiliki tendensi untuk menghasilkan busa atau partikel basah. Kebanyakan deflokulan,

bagaimanapun secara umum tidak semuanya dianggap aman untuk penggunaan internal dan sebagai hasilnya, pendispersi yang hanya dapat terdispersi untuk produk internal adalah lecithin (secara alami terjadi campuran dari fosfomida dan fosfolipida) ,yang berhubungan dengan aktivitas untuk mendeflokulasi dijelaskan di atas . Sejak lecithin adalah substansi yang alami terjadi dan bervariasi dalam kelarutan airnya dan sifat kemampuan terdispersinya agar memperoleh hasil yang reprodusibel, spesifikasi bahan mentah yang pantas dari lecithin harus dikontrol keras. Bahan pengflokulasi Elektrolit netral sederhana (1:1) dan (2:1 atau 3:1) dalam larutan mampu mengurangi zeta potensial dari muatan partikel tersuspensi menjadi nol dianggap sebagai bahan pengflokulasi primer. Mekanisme dari aktivitasnya membentuk flok yang stabil telah dijelaskan secara gamblang dalam bab ini. Konsentrasi kecil (0,01-1%) dari elektrolit netral, seperti NaCl atau KCl, sering cukup untuk menginduksi flokulasi dari muatan yang lemah, tidak larut air, non elektrolit organik, seperti steroid. Pada kasus ini dari muatan yang lebih tinggi, polimer tidak larut dan jenis elektrolit pada konsentrasi yang sama (0,01-1%) dari ion divalen atau trivalen larut air, seperti garam kalsium dan aluminium atau sulfat , sitrat, dan fosfat, biasanya diterima untuk mencapai bentuk flok tergantung muatan partikel , positif atau negatif, sering garam-garam ini

digunakan berssama-sama dalam formula sebagai pH buffer dan bahan pengflokulasi. Pengental dan Pelindung koloid Koloid pelindung atau hidrofilik seperti gelatin, gum (tragakan, Xantin dll) dan derivat selulosa (Na-CMC, hidroksi profil selulosa, dan hidroksi propil metil selulosa) yang diserap meningkatkan kekuatan dari bentuk lapisan hidrasi sekeliling partikel yang tersuspensi melalui ikatan hidrogen dan interaksi molekul . Sejak bahan-bahan ini mengurangi tegangan antar muka dan tegangan permukaan lebih besar, fungsinya menjadi sangat baik dengan adanya surfaktan .Banyak bahan-bahan pelindung koloid dalam konsentrasi rendah (< 0,1 %) dan penambah kekentalan dalam konsentrasi yang relatif tinggi (> 0,1%).

Bahan Pengontrol pH dan buffer Suatu formulasi suspensi farmasetis yang pantas seharusnya

stabilitas fisikanya baik selama range yang luas dari nilai pH. Pada pihak lain, jika nilai pH yang spesifik ditemukan penting untuk menghasilkan stabilitas yang optimum dan atau kelarutan minimal dalam pembawa suspensi.Sistem dapat dipertahankan pada nilai pH yang diinginkan dengan penggunaan konsentrasi yang spesifik dari buffer farmasetik yang diterima. Ini khusus penting untuk obat yang mempunyai ionisasi asam atau gugus dasar, kemudian pH dari pembawa sering mempengaruhi kestabilan obat atau kelarutannya. Kurangnya perawatan atau indiskriminasi kegunaan dari garam dan buffer dan bagaimanapun, akan sering mengubah muatan permukaan atau dari partikel tersuspensi. Beberapa efek dapat

mempengaruhi kealamian dan stabilitas dari suspensi terflokulasi. Ini khusus nyata saat ion polivalen seperti sitrat dan fosfat digunakan sebagai sistem pembuffer. Suspensi stabil, obat-obat netral , yng tidak memiliki muatan formal, seperti kortikosteroid biasanya insensitif kepada perubahan pH. Kontrol pH oleh pembuffer dari suspensi. Normal diterima sebagai quality control untuk menentukan pH spesifik yang diinginkan. Dan lagi, komponen pembuffer dan konsentrasinya sering dipilih dalam suatu percobaan dasar agar tidak berefek samping pada stabilitas fisika dari suspensi.

Bahan osmotik dan penstabil Diskusi selanjutnya juga menuliskan tentang kegunaan bahan osmotik (NaCl, dll) dan penstabil ( dinatrium edetat dll) kebanyakan adalah yang elektrolit atau partikel elektrolit dalam produk suspensi. Penggantian non elektrolit organik seperti dekstrosa , manitol atau sorbitol untuk garam inorganik dan elektrolit untuk menyeimbangkan osmolaritas dan tonisitas dalam suspensi opthalmik dan injeksi akan sering mengurangi variasi batch yang berhubungan dengan stabilitas fisika ketika bahan-bahan ini digunakan sebagai bahan osmotik dan penstabil. Pewarna, pengaroma dan pewangi Bahan organoleptis seperti pewarna, pengaroma dan pewangi seharusnya tidak mempengaruhi stabilitas fisika dari suspensi topikal atau oral sepanjang formulator menyatakan bahan kationik akan berinteraksi dengan muatan negatif partikel suspensi dan dengan cara demikian berefek samping pada kestabilan fisika. Pada pihak lain, sejak banyak bahan pengaroma dan pewangi tidak larut dalam air. Cairan berminyak biasanya ditambahkan ke dalam batch dalam fase terakhir setelah stabilitas fisika primer dari suspensi telah di susun, formulator harus berjaga-jaga pada kemungkinan bahwa bahan berminyak dapat diserap pada pemukaan partikel tersuspensi dan dengan cara demikian berpengaruh pada kestabilan fisika dari suspensi akhir.

Pengawet Pengawet melawan pertumbuahn mikroba merupakan anggapan penting tidak hanya dalam istilah dari efeknya pada stabilitas kimia dari bahan-bahan tetapi juga integritas fisika dalam sistem. Riddick

mengindikasikan bahwa banyak sistem dispersi koloidal dinilai tidak stabil karena mereka beraglomerasi dalam waktu itu. Efek ini rupanya tidak disebabkan oleh pengadukan tetapi untuk melanjutkan aktivitas mikroba, yang secara berangsur-angsur mengurangi zeta potensial dari sistem. Jika beberapa sistem telah disiapkan secara tepat, mereka tidak akan mempunyai aglomerasi tetapi telah meninggalkan keadaan koloidal dalam suspensi. Hal yang sama mungkin dikatakan dari sistem yang disiapkan pada awalnya dengan prosedur flokulasi terkontrol dan kemudian deflokulasi dengan tidak adanya pengawet yang cukup. Kemampuan pengawet merupakan masalah serius dalam suspensi antasid dimana nilai pH lebih besar dari 6 atau 7 sering berkompromi dengan keefektifan yang umum digunakan secara oral diterima, sebagai pengawet seperti paraben, benzoat, dan sorbat. Pemanis surfaktan nonionik dan bahan pensuspensi seperti tanah liat, gelatin, lecithin, gum alam dan derivat selulosa adalah bagian suspensi yang cenderung untuk pertumbuhan seperti mikroba. Penggunaan klorida , bahan

antimikroba

kationik

benzalkonium

biasanya

dikontraindikasikan karena bahan kationik dapat diinaktifkan oleh komponen formulasi atau mereka dapat mengubah muatan dari partikel tersuspensi. Penyiapan yang baik pada suspensi oral atau topikal tidak harus steril untuk mencegah pertumbuhan mikroba. Penggunaan sejumlah kecil dari propilenglikol (5-15%) dan dinatrium edetat (sekitar 0,1 %) atau pengurangan pH semuanya telah digunakan untuk meningkatkan efisiensi dari sistem pengawet tanpa mengurangi stabilitas fisika dari suspensi farmasetik. Daftar pengawet antimikroba yang umum diguanakan dalam suspensi farmasetik terdapat dalam tabel berikut: Bahan Konsentrasi (%) Paraben (Me, Et, Pr, 0,2 Bu) Pensentisisasi potensial, aktivitas kurang di atas pH 7, diinaktivasi oleh konsentrasi Keterangan

tinggi dari surfaktan, stabilitas kurang dalam air, aktif dalam melawan jamur dan ragi, waktu membunuh lambat, sifat rasa 0,2 Asam sitrat kurang Pensensitisasi rendah, potensial yang kurang di

aktivitas

bawah pH 6, tidak stabil dalam keadaan polietilen, larut dalam

air, 0,01 Garam kuartener amonium

kompatibel

dengagn

surfaktan, sifat rasanya baik. Pensensitisasi potensial, aksi

pada pH netral, diinaktivasi oleh surfaktan anionik dan polimer, akan mempengaruhi muatan

negatif partikel ,larut dalam air, aktivitas kuat oleh EDTA, untuk 0,01 membunuh optalmik. Thimerasol Pensensitisasi kuat, aktivitas cepat, pengawet

baik pada pH 7, diinaktivasi oleh 1,0 EDTA, waktu membunuh lambat, digunakan dalam injeksi. Benzilalkohol Pensensitisasi potensial yang

rendah, aktif pada pH rendah, penggunaan dakam volume

besar parenteral dibatasi , larut dalam air, diinaktivasi dengan konsentrasi tinggi dari surfaktan , 0,2 pengawet injeksi dan topikal Aktivitas kurang di atas pH 5,

Asam benzoat

0,01

larut dalam air,sifat rasa baik Aktif pada pH 7, larut dalam air,

Glukonat klorheksida

incomp

dengn

borat,

untuk

membunuh 1,0 optahlmik

cepat,

pengawet

Meningkatkan aktivitas paraben , Fenil etanol garam amonium kuartener, dan klorheksidin, larut dalam air,

pengawet topikal dan opthalmik.

Sudut kontak (Farfis:384) Aksi yang paling penting dari suatu bahan pembasah adalah

menurunkan sudut kontak antara prmukaan dan cairan pembasah. Sudut kontak adalah sudut antara tetes cairan dan permukaan yang mana partikel itu akan menyebar. Sepeerti ditunjukkan pada gambar berikut. Sudut kontak antara padatan dengan cairan dapat 0 o, terbasahi secara sempurna atau ini dapat kira-kira 180o, dimana pembasahan tidak sempurna, sudut kontak dapat juga mempunyai beberapa nilai antara batasannya, seperti

digambarkan dalam sketsa, Pada persamaan tegangan permukaan atau tegangan antar muka dapat dinyatakan dalam: s = SL + L cos

Yang dikenal sebagai persamaan Young

Saat persamaan (14.59) disubstitusikan ke dalam persamaan akan menjadi: S = L ( cos 1 ) Penggabungan persamaan dihasilkan : a = SL = L( 1+ cos ) Yang adalah suatu bentuk pilihan dari persamaan Young. Persamaan di atas adalah hal yang sangat berguna sejak tidak mengandung atau , yang

dapat lebih mudah diukur dengan tepat. Sudut kontak antara suatu tetesan air dengan permukaan berlemak, saat cairan yang digunakan, air, membasahi permukaan berlemak tidak sempurna. Saat satu tetes air ditempatkan dalam permukaan gelas yang bersih secara cermat ini akan menyebar secara spontan dan tidak ada sudut kontak.Hasil ini dapat dijelaskan dengan menempatkan air suatu koefisien penyebaran yang tinggi pada gelas bersih, atau dengan menetapkan sudut kontak antara air dan gelas adalah nol. Jika bahan pembasah yang tepat ditambah dalam air, larutan akan menyebar secara spontan pada pemukaan berlemak. Untuk bahan pembasah agar berfungsi efisien , dengan kata lain, untuk menunjukkan sudut kontak yang rendah, ini seharusnya mempunyai HLB sekitar 6-9.

= 0o

= 180o

s < 90o = 90o Sudut kontak antara 0o 180o >90o

SL

(Lachman: 118) Persamaan Young menyatakan bahwa sudut kontak akan <90 o , jika interaksi antara padatan dan cairan lebih besar daripada interaksi antara padatan dan udara, misalnya S/ L > s/A.. Di bawah kondisi ini, pembasahan terjadi, Garis pedoman umumnya adalah padatan yang siap dibasahi jika sudut

kontaknya dengan fase cair adalah kurang dari 90 o . Tabel ini menunjukkan aturan ini, saat padatan diketahui mudah dibasahi, seperti KCl , NaCl dan laktosa yang mempunyai sudut kontak paling rendah. Sudut kontak yang

menarik dari kloramfenikol meningkat dari 59 o-125o mengindikasikan suatu prubahan menjadi permukaan yang tidak terbasahi ketika ester palmitat

dibentuk. Bahan lain yang diketahui susah utnuk dibasahi seperti polietilen densitas tinggi, dimagnesium stearat memiliki sudut kontak lebih besar dari 90o. Bahan KCl Sudut kontak (o) 21 Bahan Sulfadiazin Sudut kontak (o) 71

NaCl Laktosa Kofein Acetaminofen Kloramfenikol Fenobarbital Kloramfenikol palmitat

28 30 43 59 59 70 125

Aspirin Fenasetin Heksobarbital Polietilen (densitas tinggi) Asam salisilat Mg stearat

75 78 88 100

103 121

Volume sedimentasi (RPS 18th : 296) Volume sedimentasi volume sedimentasi, F, merupakan

perbandingan keseimbangan volume dari sedimen, Vu, dengan volume total dari suspensi , Vo, sehingga : F = Vu/Vo

Volume suspensi dimana tampak didiami atau ditempati oleh peningkatan endapan, nilai dari F dimana range yang normal peningkatannya mendekati 0 sampai 1. Suatu sistem dimana F = 0,75 sebagai contoh, 75 % dari total volume dalam wadah rupanya didiami secara bebas, Bentuk pori-pori flok sedimen. Dapt diilustrasikan pada gmbar 9.23, ketika F= 1, tidak ada endapan, rupanya melewati sistem yang terflokulasi. Suspensi yang ideal ini di bawah kondisi, tidak ada endapan yang terjadi, caking juga kadang tidak ada, Sejauh itu, suspensi merupakan mempunyai estetik yang

menyenangkan tidak nampak, supernatannya keruh.

Pembasahan (Lachman: 163) Kesulitan yang banyak ditemui, yang merupakan faktor yang amat penting dalam formulasi suspensi, adalah pembasahan fase padat oleh medium suspensi. Secara defenisi, suspensi pada pokoknya adalah suatu sistem yang tidak dapat bercampur, tetapi untuk keberadaannya suspensi memerlukan beberapa derajat kompatibilitas, dan pembasahan bahan-bahan tersuspensi dengan baik sangat penting dalam pencapaian akhir ini. Bila antara cairan dan zat padat ada suatu afinitas kuat cairan akan dengan mudah membentuk lapsan tipis pada permukaan zat padat.Tetapi bila afinitas ini tidak ada atau lemah, maka cairan akan sulit untuk

memindahkan udara atau substansi lain di sekitar zat padat tersebut dan di sana ada suatu kontak antara cairan dan zat padat. Sudut kontak, dihasilkan dari kesetimbangan yang melibatkan tiga tegangan antar muka , secara spesifik, yang bereaksi pada antar muka antara fase cair dan fase uap, pada fase padat dan fase cair, serta pada fase padat dan fase uap. Tegangan ini disebabkan karena ketidakseimbangan gaya antar molekul dalam berbagai fase yang sama dengan fenomena yang terkenal analog dari pembentukan kulit konveks di atas permukaan segelas air yang diisi sampai ke bibir gelas tersebut. Konsep sudut kontak adalah penting karena ia menghasilkan metode pertimbangan derajat pembasahan dan

menunjukkan bahwa sifat-sifat permukaan adalah sangat penting. Perlakuan matematis yang terlibat tentang pembasahan adalah memungkinkan, tetapi

data yang diperlukan biasanya tidak tersedia untuk menjadikan tiap persamaan berguna. Pembuat formulasi lebih mudah mencoba beberapa surfaktan untuk mendapatkan bahan pembasah yang baik. Ada zat padat yang mudah dibasahi dengan cairan dan ada pula yang tidak. Dalam batasan suspensi air, zat padat dikatakan hidrofilik (liofilik atau suka pelarut, kadang-kadang disebut liotropik) atau hidrofobik (liofobik). Zatzat hidrofilik dibasahi dengan mudah oleh air atau cairan-cairan polar lainnya, zat-zat hidrofilik ini bisa meningkatkan viskositas suspensi-suspensi air dengan besar.Zat-zaat hidrofobik menolak air, tetapi biasanya dapat dibasahi oleh cairan-cairan non polar, zat-zat hidrofobik ini biasanya tidak mengubah viskositas dispersi air. Zat padat hidrofilik biasanya dapat digabung menjadi suspensi tanpa menggunakan zat pembasah ,tetepi bahan-bahan hidrofobik sangat sukar untuk mendispersi dan sering kali

mengambang pada permukaan cairan karena pembasahan yang buruk dari partikel , atau adanya kantung-kantung udara yang kecil. Tehnik farmasi yang seringkali berguna untuk memodifikasi

karakteristik-karakteristik pembasah dari serbuk meliputi penggunaan surfaktan (kadang-kadang dengan shearing) untuk mengurangi tegangan antar muka padat-cair. Mekanisme aksi surfaktan diperkirakan meliputi adsorpsi pilihan dari rantai hidrokarbon oleh permukaan hidrofobik, dengan bahan polar dari surfaktan kemudian diarahkan ke fase air. Bahan-bahan lain yang dapat digunakan untuk membantu dispersi zat padat hidrofobik adalah

polimer-polimer hidrofilik seperti Na-CMC, dan bahan-bahan hidrofilik tertentu yang tidak larut dalam air seperti bentonit, aluminium magnesium silikat, dan silika koloid, baik sendiri atau dalam bentuk kombinasi. Bahanbahan ini juga mempengaruhi pembentukan viskositas, tergantung pada tipe dan konsentrasi spesifik yang digunakan. Zat-zat hidrofilik ini jika digunakan dalam konsentrasi yang terlalu tinggi, menyebabkan pembentukan gel yang tidak dikehendaki dan bukannya derajat viskositas atau thiksotropi yang dikehendaki , batasan terakhir menunjukkan pembentukan struktur seperti gel yang pecah dengan mudah daan menjadi cair pada pengadukan. Secara rheologis, cairan tersebut dikatakan mempunyai suatu yield value. Secara sekilas Carless dan Ocran melepaskan bahwa yang mempunyai kerapatan air harus kira-kira 0,3 dyne cm -3 untuk menunjang partikel-partikel padat yang mempunyai garis tengah 1,5. Berbagai tehnik penyeleksian telah dirancang untuk membantu

pembandingan dari alternatif-alternatif yang mungkin selama pemisahan zat pembasah. Beberapa contoh berikut: dalam suatu ulasan yang baik sekali tentang suspensi, menyarankan penggunaan palung (bak) liofobik yang sempit, pada salah satu ujungnya ditaruh serbuk, sedangkan larutan zat pembasah ditempatkan pada ujung yang lain. Laju penetrasi relatif dari zat yang berbeda dapat langsung diamati, zat-zat yang lebih baik menunjukkan laju yang lebih cepat. Tehnik lain melibatkan pengukuran kemampuan relatif larutan dari zat pembasah yang berbeda untuk membawa serbuk melalui

suatu gauze (kassa) ketika larutan tersebut jatuh ke atas gauze yang menopang serbuk.Jelaslah, pembasah yang lebih baik sanggup berfungsi lebih efektif sebagai pembawa dan membawa lebih banyak serbuk melewati gauze dibandingkan dengan pembasah yang lebih buruk. Dengan melihat pada penentuan daya membasahi, menarik utnuk dicatat bahwa sudah dikembangkan serbuk metode pembandingan pembasah

dengan pembawa cair bukan air, pembasahan seperti itu dapat

ditambah dengan turunan lanolin tertentu. Turunan lanolin yang ada dalam tipe-tipe lipofilik dan hidrofilik banyak digunakan pada preparat yang dipakai secara topikal. Dua tehnik yang dikembangkan oleh industri cat yang dapat diterapkan secara farmasi meliputi penentuan apa yang disebut titik basah dan titik alir. Titik basah mengukur jumlah pembawa yang diperlukan untuk membasahi seluruh serbuk. Pengurangan titik basah oleh suatu bahan penambah menunjukkan pembasahan permukaan awal dengan zat itu dalam kombinasi serbuk pembawa. Titik alir mengukur jumlah pembawa yang diperlukan untuk menghasilkan kemampuan tuang. Biasanya titik alir suatu sistem serbuk-pembawa dikurangi oleh suatu zat aktif permukaan yang mengukur derajat kemana zat tersebut mendeagregasi sistem itu, yakni menghambat pembentukan struktur seperti jaringan oleh fase padat. Suatu titik basah rendah bersama dengan suatu titik alir rendah (dan perbedaan kecil antara keduanya) menunjukkan deagregasi atau dispersi yang baik.

Metode titik basah meliputi penggabungan aditif dalam serbuk dengan menggosokkan campuran tersebut pada suatu lempeng gelas dengan sebuah sudip. Pembawa kemudian ditambahkan tetes demi setetes dan dikerjakan pada seluruh massa sesudah penambahan masing-masing. Titik akhir dicapai bila cukup pembawa digunakan membentuk massa yang saling melengket. Yang tidak pecah atau memisah. Dalam penentuan titik akhir dapat diperoleh hasil ulang yang baik. Ketajaman harga titik akhir tergantung padsa serbuk, pembawa, dan aditif yang digunakan. Titik basah dinyatakan sebagai mm per 100 gram atau sebagai contoh , bisa mempunyai harga 15 sampai 45 dengan konsentrasi bahan penambah 10 % > makin baik zat pembasah, makin kecil harga titik basahnya. Titik alir juga diukur dengan mencampur bahan penambah dengan serbuk, tetapi dalam suatu gelas piala (beaker gelas), bukan di atas lempeng. Pembawa ditambahkan dan digabungkan dengan pencampuran menyeluruh. Titik akhir dicapai bila cukup pembawa ditambahkan untuk menyebabkan campuran tersebut mengalir dari sudip dalam aliran yang seragam. Titik alir bisa dinyatakan sebagai mm per 100 gram. Ketajaman titik akhir bervariasi seperti dalam penentuan titik basah, tergantung pada serbuk, pembawa dan penambah. Tititk akhir bisa mempunyai harga dalam kisaran 50 sampai 250 pada level penambah 10 %, bila digunakan zat pembasah yang lebih baik akan menghasilkan harga yang lebih rendah.

Menguji suatu bahan penambah hanya pada satu konsentrasi mungkin tidak menampilkan evaluasi tepat dari efektivitasnya sebagai suatu dispersi, karena berkurangnya titik alir dan titik basah secara dramatis yang mungkin disebabkan oleh perubahan konsentrasi dari hanya suatu persentase kecil adalah bijaksana apabila beberapa konsentrasi bahan penambah diteliti dahulu sebelum menarik kesimpulan sehubungan dengan penggunaan zat tertentu. Tehnik serupa dapat diterapkan ke sistem air dalam metode yang sama, air ditambahkan ke campuran bahan yang akan dibasahkan dan berbagai bahan pembawa yang akan dievaluasi. Beberapa modifikasi metode uji dibutuhkan untuk menjamin bahwa serbuk dan bahan penambah dicampur dengan baik, yakni dalam kedua uji, bahan penambah dan serbuk harus kontak dengan baik. Ini mungkin paling baik dicapai dengan melapisi serbuk tersebut dengan bahan penambah dengan alkohol, yang kemudian diuapkan dari bubur tersebut. Bila turunan lanolin digunakan dengan serbukserbuk seperti talk, titanium dioksida atau feri oksida, harga untuk titik alir dan titik basahnya berada dalam kisaran umum yang sama seperti yang disebutkan sebelumnya, walaupun cenderung terlihat harga-harga yang agak lebih rendah. Bahan pembasah (Scoville : 323) Banyak bahan pengemulsi dan pendispersi telah digunakan secara luas dalam sediaan eksternal. Senyawa ini dikarakteristikkan dengan

adanya baik gugus hirofilik dan lipofilik. Gugus hidrofilik berupa SO 4 H, -SO3H, -PO4H2 COOH, -NH2 dan lain-lain. Gugus lipofilik biasanya berupa hidrokarbon rantai lurus atau bercabang. Substansi-substansi ini bervariasi dalam keefektifannya tergantung dari pH dari medium, beberapa dari substansi ini lebih efektif dalam larutan asam daripada dalam larutan alkali dan sebaliknya.; bahan pembasah anionik mempunyai molekul dengan bagian non polar atau aktif membawa muatan negatif, aerosol adalah contoh kelas ini. Bahan pembasah kationik membawa muatan positif pda gugus non polar atau aktif, senyawa amonium kuartener seperti benzelonium klorida, cetil piridin klorida dan benzalkonium klorida adalah contoh dari kelas ini. Bahan pembasah anionik dan kationik incompabilitas satu sama lain dan dengan sabun. Bahan nonionik seperti tween dan spans tidak terionisasi. 1. Bahan pembasah : Menurut Idson dan Scheer (62), padatan tertentu siap terbasahi oleh cairan, dimana bahan lain tidak. Derajat dari pembasahan tergantung pada afinitas dari obat untuk air dimana zat padat berupa hidrofilik. Zat padat yang hidrofilik lebih mudah terbasahi oleh air dan dapat meningkatkan kekentalan dari cairan suspensi. Zat padat yang hidrofobik air tetapi dapat terbasahi oleh cairan nonpolar. Ketika dengan pantas terbasahi, belakangan terakhir biasanya tidak akan mengubah viskositas dari cairan suspensi. Zat padat hidrofilik biasanya tidak dapat tergabung ke dalam suspensi tanpa

menggunakan bahan pembasah. Kebanyakan dari obat dalam cairan suspensi kadang-kadang berupa hidrofobik. Hal ini sangat susah untuk disuspensikan dan sering mengapung pada permukaan air dan cairan polar menjadi tergantikan oleh udara dan pembasahan buruk. Bahan pembasah berupa surfaktan dimana tegangan antar mukanya lebih rendah dan sudut kontak antara partikel padat dan pembawa cair. Jika menurut Hiestand (8) suatu bahan pembasah ada ketika serbuk ditambahkan ke dalam pembawa caior. Penetrasi dari fase cair ke dalam serbuk akan cukup cepat untuk membolehkan udara ke permukaan dari partikel dan hasil partikel yang terbasahi akan tenggelam dan berkumpul/bergabung atau pemisahan dengan pengadukan yang rendah. Menurut teori HLB (9), range terbaik untuk pembasahan dan penyebaran dengan surfaktan nonionic antara 7 10. Jumlah surfaktan mungkin digunakan sebagai bahan pembasah farmasi yang digambarkan dalam tabel 8. Data bahwa nilai HLB digambarkan dalam tabel untuk pembasahan optimum yang lebih besar daripada range normal yang direkomendasikan. Biasanya konsentrasi dari surfaktan bervariasi dari 0,05 0,5% dan tergantung pada kandungan padatan yang termasuk dalam suspensi. Penggunaan surfaktan sebagai bahan pembasah juga akan

mencegah adanya kristal. Dipihak lain penggunaan surfaktan pada konsentrasi yang rendah berkisar 0,05% dapat menghasilkan pembasahan

yang tidak sempurna. Konsentrasi yang lebih besar dari 0,5% dari surfaktan dapat melarutkan partikel yang sangat halus dan menyebabkan penggantian di dalam distribusi ukuran partikel dan tumbuhnya kristal. Surfaktan dengan HLB juga sebagai bahan pembusa, meskipun pembusa merupakan sifat yang tidak diinginkan karena pembasahan dari formulasi suspensi . Sebagai tambahan, tipe ionic lebih efektif disukai dengan konsentrasi daripada tipe nonionic, dipertimbangkan pada PH sensitive dan tidak sempurna dengan banyak zat tambahan. Kebanyakan dari surfaktan, kecuali polixamer, mempunyai rasa yang lebih pahit dan aturan sering berlawanan dengan penggunaan dalam suspensi oral. Meskipun polisorbat 80 masih digunakan secara luas sebagai surfaktan utuk formulasi suspensi karena kurang toksik dan cocok dengan kebanyakan bahan formulasi. Stabilisasi steril dari suspensi dengan piloxamer yang juga telah ditemukan sebagai bahan yang efektif dengan konsentrasi micel yang kritis. Kecepatan pembasahan sering ditentukan dengan jumlah yang tepat yang diukur dari serbuk pada permukaan yang tidak terganggu dari kandungan air yang memberikan konsentrasi surfaktan ukuran waktu yang diperlukan utuk terbasahi secara sempurna dengan serbuk yang tercelup , sebagai contoh (SP 6.1). Table 8. surfaktan yang digunakan sebagai bahan pembasah farmaseutikal.

Tegangan Keterangan Bil. Surfaktan HLB Tipe Anionik Sodium Sodium sulfat Tipe Non ionic Polisorbat 65 10,5 12,2 13,2 14,9 Polisorbat 60 USP Polisorbat 80 USP Polisorbat 40 USP Polixamer 235 Polisorbat 20 USP Polisorbat 80 USP Lapisan Listrik Ganda (Physphar; 466) Anggaplah suatu permukaan padatan berhubungan dengan larutan polar yang mengandung ion-ion misalnya larutan air dari suatu elektrolit. Lenih lanjut, anggaplah bahwa sejumlah kation diabsorbsi di 15,0 15,6 16 16,7 29 33 30 29 44 42 41 42 37 50 Rasa pahit Rasa pahit Rasa pahit Rasa pahit Paling banyak digunakan, rasa pahit Sifat toksik rendah, rasa pahit Sifat toksik rendah, rasa baik Rasa pahit Bahan pembusa lauril >24 40 41 43 Rasa pahit, bahan pembusa Rasa pahit, bahan pembusa (dyne/cm dalam 0,8 b/v air) permukaan

permukaan memberikan muatan positif untuk permukaan tersebut. Yang tertinggal dalam larutan adalah sisa kation ditambah jumlah anion yang ditambahkan. Anion-anion inin ditarik ke permukaan yang bermuatan positif oleh gaya listrik yang juga bekerja untuk menolak pendekatan kation lebih lanjut, begitu absorbsi permukaan telah sempurna. Sebagai tambahan pada gaya listrik ini, pergerakan yang disebabkan oleh panas cenderung menghasilkan distribusi yang sama dari semua ion dalam larutan. Hasilnya kejelasan seimbang tercapai dengan sejumlah

kelebihan anion mendekati permukaan sementara sisanya terdistribusi dalam jumlah yang menunjukkan makin menjauh dari permukaan yang bermuatan. Bila jarak tertentu dari permukaan konsentrasi kation dan anion sama yaitu keadaan dimana penetralan listrik tercapai. Penting untuk mengingat bahwa keseluruhan sistem adalah bersifat netral,

walaupun ada daerah-daerah dengan distribusi anion dan kation yang tidak sama. Keadaan tersebut ditunjukkan pada gambar 16.22 dimana aa adalah permukaan padatan. Ion-ion teradsorbsi yang membuat

permukaan tersebut bermuatan positif disebut ion-ion penentu potensial. Gambar 16.22. lapisan listrik ganda pada permukaan pemisah antara 2 fase, menunjukkan distribusi ion-ion. Keseluruhan sistem bersifat listrik netral.

Tepat setelah lapisan permukaan tersebut adalah daerah molekulmolekul terlarut, yang terikat erat, bersama dengan ion-ion negatif juga terikat erat pada permukaan. Batas daerah ini ditunjukkan oleh garis bb. Ion-ion ini yang memiliki muatan berlawanan dengan ion penentu potensial disebut counter ion atau gegenion. Derajat penarikan molekulmolekul ini dan counter ion sedemikian rupa jika permukaan bergerak relatif terhadap cairan, bidang irisnya adalah bb, bukan aa yang merupakan permukaan sebenarnya. Pada daerah yang dibatasi oleh garis bb dan cc ada kelebihan ion negatif. Potensial pada bb ini positif, karena seperti telah dijelaskan sebelumnya terdapat sedikit anion dalam lapisan yang terikat erat dibandingkan kation yang diadsorbsi pada permukaan padatan. Diluar cc distribusi ion-ion seragam dan kenetralan listrik tercapai. Jadi, distribusi listrik pada antar muka ekuivalen dengan muatan lapisan ganda. Lapisan pertama (memanjang dari aa ke bb) terikat erat dan lapisan kedua (dari bb ke cc) lebih memungkinkan. Oleh karena itu lapisan listrik ini menghambur dari aa ke cc. Terdapat dua kemungkianan keadaan selain yang yang

ditunjukkan pada gambar 16.22 yaitu : 1) Bila Counterion dalam lapisan terionisasi yang terikat erat dengan muatan positif pada permukaan padatan, maka kenetralan listrik terjadi pada bb bukan cc. Bila mauatn total caonterion pada daerah aa-bb melebihi muatan bersih pada bb

akan negatif, dan bukan kurang positif. Hal ini berarti dalam contoh ini untuk memperoleh kenetralana listrik pada cc, ion positif berlebih harus ada pada daerah bb ke cc.

Potensial Nerst dan Potensial Zeta (Physphar;467)

Perubahan potan sial terhadap jarak dari permukaan pada berbagai keadaan ditunjukkan pada gambar 16.23. potensial pada permukaan padatan aa akibat ion penentu potensial adalah potensial akibat elektrotermodinamika, potensial nerst, E, dan didefinisikan sebagai perubahan potensial permukaan sebenarnnya dan daerah netral listrik larutan. Potensial yang terletak pada bidang bb disebut potensial elektrokinetik. Potensial Zeta didefinisikan sebagai perbedaan potensial antar permukaan lapisan yang terikat lemah dan daerah netral listrik dari larutan. Seperti yang ditunjukkan pada gambar 16.23, potensial menurun dengan cepat pada mulanya. Diikuti dengan penurunan yang lebih perlahan, sering dengan peningkatan dari permukaan. Hal ini disebabkan karena counterion yang dekat dengan permukaan bertindak sebagai penahan yang mengurangi gaya tarik menarik elektrostatik antara permukaan yang bermuatan dengan conterion tersebut yang lebih jauh dari dindind permukaan. Potensian zeta memiliki penerapan praktis dalam stabilitas sistem yang mengandung partikel terdifusi karena partikel potensial minilah yang mengatrur derajat tarik menarik antara partikel terdispersi bermuatan yang saling berdekatan, dan bukanlah potensial nesrt jika jika potensial zeta dikurangi hingga dibawah nilai tertentu (tergantung pada sistem yang digunakan). Gaya tarik menarik melebihi gaya tolak menolak dan partikel-pertikel menjadi bersatu. Fenomena ini dikenal sebagai flokulasi.

Gambar kinetik

16.23 pada

Potensial batas

elektro

padat-cair.

Kurva-kurva ditunjukkan untuk tiga hal karakteristik ion atau molekul dalam fase cair. Walaupun E sama dengan 3 hal tersebut, potensial zeta adalh positif. Zeta 2 adalah nol dan zeta satu adalah negatif.

Formula I I. Formula Asli

Kloramfenikol Suspensi

II. Rancangan Formula Tiap 5 mL mengandung : Kloramfenikol Polisorbat-80 Na-CMC Metil Paraben Sirup USP (85% b/v) Spirit Jeruk Tartrazin Aquadest ad 0,2 % 0,0005% 5 mL Palmitat ~ 125 mg Kloramfenikol

0,2 % 1% 0,2 % 30 %

II. Master Formula Nama produk Jumlah produk Tanggal produksi No. Registrasi No. Batch : IDARKOL Suspensi : 1 botol @ 100 mL : 15 November 2003 : DKL 0378300433 A1 : E 22783

PT. RAHAYU FARMA LABORATORI No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. ES Kode bhn CLP 01 PLS 02 NAC 03 MTP 04 SRU 05 SPJ 06 TAR 07 AQU - 08 Tgl. Formula 15 02 - 2003

IDARKOL Suspensi Tgl. Produksi Dibuat oleh: 15 -11- 2003 Yuliana I. R.

Disetujui Oleh: Junita T.

Nama Bahan Kloramfenikol Polisorbat 80 Na-CMC Metil Paraben Sirup USP(85%b/v) Spirit Jeruk Tartrazin Air Suling

Kegunaan Zat aktif Surfaktan&penflok Pensuspensi Pengawet Pemanis Pengaroma Pewarna Pelarut

Per dosis 125 mg 0,2 % 1% 0,2 % 30 % 0,2 % 0,0005 % ad 5 mL

Per batch 4,78 g 0,2376 g 1,1 mL 0,22 g 33 mL 0,22 mL 0,00055 g ad 110 mL

III. Dasar Formulasi 1. KLORAMFENIKOL a. Kloramfenikol sukar larut dalam air dimana kelarutannya yaitu : larut dalam lebih kurang 400 bagian air (FI III : 143) Oleh karena itu dibuat suspensi. b. Kloramfenikol memiliki rasa yang sangat pahit (FI III : 143) sehingga digantikan dengan kloramfenikol palmitat yang memiliki rasa tawar (FI III : 145). c. Kloramfenikol palmitat dapat terhidrolisis menjadi kloramfenikol dengan saluran pencernaan sebelum diabsorbsi ke dalam peredaran darah (Kenneth : 411). d. Ester-ester Kloramfenikol (Kenneth ; 418) -) Ester Palmitat -) Ester Benzoat -) Ester Stearoil glikolat Ester palmitat mencapai aras darah lebih baik dibandingkan dengan bentuk ester stearoit glikokal. Ester benzoat mencapai aras darah yang lebih tinggi. d.1 Polimorfisme (MD
30th

: 142). Kloramfenikol palmitat ada dalam

3 bentuk kristal & 1 bentuk polimorf yang amorf ( tidak berbentuk). Kadar kloramfenikol dalam darah sangat tinggi setelah pemakaian bentuk polimorf B atau bentuk amorf.

Selanjutnya dosisnya sama dengan polimorf A. Polimorf B metastabil tetapi dilaporkan memiliki kestabilan yang bagus pada suhu kamar; polimorf C tidak stabil dan dengan cepat berubah menjadi bentuk A pada suhu yang tinggi. d.2 bentuk Polimorfisma ( Kenneth; 410) Kloramfenikol palmitat memiliki 2 bentuk polimorfis, yaitu bentuk A dan B yang merupakan bentuk metastabil pada suhu kamar, kelarutannya lebih cepat, dengan lebih cepat mencapai aras darah yang lebih tinggi. e. Mekanisme kerja antibiotik (Farmakologi & Terapi : 572) e.1 Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam lima kelompok : Yang menghambat Metabolisme Sel Mikroba. Contoh : sulfonamid, trimetoprim, asam p-aminosalisilat (PAS) & Sulfon. Yang menghambat sintesis dinding sel mikroba. Contoh : Penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, & sikloserin. Yang mengganggu keutuhan membran sel mikroba. Contoh : polimiksin, golongan polien. Yang menghambat sintesis protein sel mikroba. Contoh :

aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin & kloramfenikol. Yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba. Contoh : rifampisin & golongan kuinolon.

e.2 Mekanisme Kerja Kloramfenikol (Ama Drug : 1529) Aksi kloramfenikol yaitu dengan menghambat sintesis protein bakteri. Antibiotik ini secara reversibel terikat dengan sub-unit 50S dari ribosom 70S bakteri dan mencegah penarikan dari bagian yang mengandung asam amino oleh t-RNA aminoacyl pada reseptor di ribosom. Jadi, substrat asam amino tidak dapat berinteraksi dengan enzim peptidil transferase & pembentukan ikatan peptida tidak terjadi. Kloramfenikol

biasanya bakteriostatik tetapi dapat bersifat bakterisid melawan patogen meningeal (Hemophylus influenzae, Neisseria

meningitidis, Streptococcus pneumoniae ) pada konsentrasi pengobatan. e.3 Spektrum Antimikroba/bakteri yang diserang (Ama Drug : 1529) Kloramfenikol aktif secara in vitro melawan semua jenis bakteri termasuk gram (+), gram (-), organisme aerobik & anaerobik sebagai tambahan, antibiotik ini efektif melawan ricketsia, chlamydae, spirochetes dan micoplasma. 1. Bakteri gram (+) Diantara coccus gram (+), Streptococcus pneumoniae, S. pyogenes, S. agalactiae, dan Viridans streptococchi

biasanya sangat rentan. Enterococchi (E. faecalis) sangat

bervariasi

kerentanannya.

Beberapa

jenis/strain

dari

Staphylococcus aureus sangat rentan, tetapi bervariasi pada penggunaan lokal. S. aureus biasanya resisten. Peptococcus dan peptostreptococcus, dan coccus

anaerobik gram (+) mudah terkena. Mudah pengena basilus gram (+) termasuk Bacillus sp., Listeria monocytogenes, Corynebacterium diphteriae, Clostridia termasuk

(perfringens) & eubacterium. 2. Bakteri gram (-) Banyak dari strain Neiseria meningitidis dan N.

gonorrhoeae, Coccus gram (-) mudah terserang Voillenella sp., anaerob obligat, juga mudah terkena (rentan). Diantara Bacillus gram (-), Haemophylus influenza bisanya rentan. Kloramfenikol juga aktif melawan Brucella sp., Bordetella pertusis, Pasteurella moltocida, Pseudomonas

pseudomallei, P. malles, P. cepacin, Yersinin pestis, Vibrio cholerae, Francisella tularensis, Campylobacter jejuni , dan anaerobik gram (-), termasuk serum strain dan grup bacterioides fragilis, Bacterioides sp. Lainnya dan

Fusobacterium. Respon dari famili enterobacteria bervariasi beberapa bakteri yang biasanya rentan sekarang resisten. Salmonella termasuk Salmonella thyposa, biasanya rentan

di US, walaupun jenis lain (seperti di India) mungkin lebih resisten. Kloramfenikol aktif melawan banyak strain dari Shigella, Eschericia coli, Klebsiella pneumoniae, & Proteus mirabilis. Akan tetapi, banya strain dari Serralia,

Enterobacter, Providensia & Proteus rettegri resisten. Pseudomonas aeroginosa resisten. 3. Rickettsia (R. akari, R. ricketsii, R. prowazekii, R. rooseri, Coxiella burnettii) 4. Chlamydae ( C. trachomatis, C. psittaci) Micoplasma cendawan, & Virus treponemus dan biasany rentan. Fungi, terhadap

protozoa

resisten

kloramfenikol. e.4 Efek Samping (Farmakologi & Terapi; 658) a. Reaksi Hematologik Terdapat dalam 2 bentuk, yang pertama adalah reaksi toksik dan manifestasi depresi sumsum tulang. Darah yeng terlihat ialah anemia, retikulositopenia, peningkatan serum besi & kapasiras ikatan besi serta vakuolisasi seri eritrosit bentuk muda. Bentuk yang ke-2 prognosinya sangat buruk karena anemia yang timbul bersifat irreversibel. Bentuk

yang hebat bermanifestasi sebagai anemia aplastik dengan pensitopenia. b. Reaksi alergi Kloramfenikol menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis. c. Reaksi saluran cerna Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis. d. Sindrom Gray pada bayi baru lahir atau beyi prematur dengan tubuh berwarna abu-abu. e. Reaksi neurologik. Depresi, bingung, delirium, sakit kepala. f. Absorbsi ( Ama Drug ; 1532) Kloramfenikol base diabsorbsi dari saluran cerna,

bioavailabilitasnya 76-93% telah dilaporkan. Konsentrasi puncak plasma berada antara 0,5 dan 6 jam. Dan terjadi antara 0,5 dan 2 jam pada produk yang memiliki disolusi & kecepatan degradasi cepat. Setelah dosis tinggal 1g, berarti konsentrasi puncak plasma dari 11,2 mg/mL dilaporkan 1 jam. Dosis ganda pada interval 6 jam dihasilkan agak berlebih konsentrasi plasma dari hari ke dua (18,4 mg/mL setelah dosis ke-5) dengan tidak ada penambahan berikutnya.

Kloramfenikol palmitat harus dihidrolisis oleh enzim pankreatik esterase dalam usus halus menjadi bau kloramfenikol akut, yang kemudian akan diadsorbsi. Bioavailabilitas dari kloramfenikol kurang lebih 80% ketika digunakan sebagai ester palmitat & konsentrasi puncak plasma biasanya terjadi 2-3 jam setelah pemakaian. Absorbsi dari kloramfenikol setelah pemakaian oral dari ester palmitat dilaporkan menjadi tidak lengkap, diperpanjang edan tidak menentu pada bayi (baru lahir) prematur. g. Indikasi (Farmakologi & terapi; 658-659) Demam tifoid yang disebabkan oleh Salmonella thypi (infeksi saluran cerna). Meningitis pirulenta disebabkan oleh H. influenzae. Infeksi kuman anaerob. Riket Srosis Infeksi lain

h. Dosis : FI III : Anak-anak : 25 50 mg/kg BB Dewasa : 250 500 mg/1g-2g i. Tipe suspensi yang dibuat yaitu tipe flokulasi. Kelebihan (RPS 18th; 295) Partikel terikat longgar dan struktur tangga.

Endapan mudah terdispersi kembali sehingga tidak terbentuk caking.

Kekurangan (RPS 18th; 295) Laju pengendapan tinggi Endapan cepat terbentuk

Cara mengatasi (RPS 18th; 295) Ditambahkan bahan pembawa berstruktur. Pembawa berstruktur, umumnya larutan encer dari bahan polimer seperti hidrokoloid yang mana biasanya bermuatan negtatif dalam larutan air. Contoh utamanya adalah : CMC, metilselulosa, bentonilit & karbopol. Konsentrasi yang digunakan tergantung pada kekentalan yang diinginkan dari suspensi yang mana sebaliknya volume endapan dibuat besar. Idealnya volume endapan meliputi volume suspensi.

2. PEMBASAH Alasan penambahan pembasah a. Penambah bahan yang menurunkan tegangan permukaan dari air sangat membantu dalam peningkatan dispersi bahan yang tidak larut, dioktil, Natrium sulfasuksinat & Natrium lauril sulfat (Scovilles : 306).

b. Bahan pembasah ketkika dilarutkan dalam air, menurunkan kemajuan sudut kontak dan membantu dalam mengganti tempat dari fase udara pada permukaan & menggantikannya dengan fase cairan (Farmasi Fisika : 465). c. Surfaktan cenderung untukberakumulasi pada antarmuka, karena ampifilik alaminya. Proses ini merupakan orientasi adsorbsi fisika. Molekul surfaktan disusun oleh molekul itu sendiri pada antarmuka antara cairan dan padatan organik atau cairan yang memiliki kepolaran yang rendah dalam jalan seperti inilah rantai

hidrokarbon mengalami kontak dengan permukaan partikel. Padat atau menancap di dalam tetesan minyak ketika gugus pemimpin polar diorientasikan ke fase air. Orientasi ini dipindahkan ke rantai hidrokarbon hidrofobik dari granul besar dari air, dimana ini tidak dapat diterima karena pencampuran dengan ikatan hidrogen dalam molekul air, ketika meninggalkan gugus polar dan kontak dengan air sehingga dihidrasi (RPS 18th: 287) d. Surfaktan baik nonionik, telah digunakan untuk menghasilkan flokulasi dari partikel yang tersuspensi. Konsentrasi yang

diperlukan untuk mencapai efek ini

merupakan

hal yang

menentukan karena senyawa ini bisa dengan bekerja sebagai zat pembasah untuk mencapai dispersi (Farmasi Fisika : 1137) a. Konsentrasi : 0,1 3 % (Excip; 227)

Tidak lebih dari 0,1 0,2 % (PDF; 122)

3. PEMFLOKULASI a. Bahan pemflokulasi adalah bahan yang memungkinkan partikel untuk berhubungan satu dengan yang lain dalam agregat yang longgar atau flok (PDF : 166) b. Ada 3 macam pemflokulasi yaitu : elektrolit, polimer & surfaktan (RPS 18th : 297). c. Baik surfaktan nonionik maupun surfaktan ionik telah digunakan sebagai bahan pemflokulasi. Konsentrasinya berkisar 0,001% 1,0% (b/v). Surfaktan nonionik lebih disukai karena lebih dapat bercampur secara kimia dengan bahan lain (PDF : 166)

4. PENDISPERSI a. Bahan pendispersi (pensuspensi) adalah bahan yang meningkatkan viskositas dari suspensi sehingga pengendapan dapat dihambat. Bahan pendispersi yang ideal seharusnya tidak bereaksi atau inert dan secara kimia stabil pada semua atau range pH yang luas; pada konsentrasi yang rendah seharusnya menyediakan viskositas yang cukup & secara fisika stabil untuk sistem polifase (Parrot : 349).

b.

Pada sediaan ini, bahan pensuspensi digunakan untuk menghambat pengendapan, sehingga keseragaman dapat dipertahankan, konsentrasinya mencegah sulit pengendapan dari massa yang

disuspensikan

kembali

dan

mencegah

koagulasi dari resin dan bahan-bahan lemak. Bahan pensuspensi bekerja dengan meningkatkan viskositas dari cairan (Scovilles : 300,305). c. d. Kenneth ; pH kloramfenikol : 2-7, optimumnya 6 Na-CMC disiapkan dengan pemurnian selulosa dengan panas tinggi dengan alkali dan reaksi yang cukup dengan natrium monokloroasetat, Na-CMC berserat & serbuk granul, kuning sampai putih dan sangat larut dalam air dingin dan air panas. Ini bertentangan dengan metilselulosa, viskositas dari NaCMC menurun dengan meningkatnya temperatur. Dan terdispersi pada range pH 6,5-8 (Prescription : 210). e. Sediaan yang dibuat untuk penggunaan internal mengandung bahan pensuspensi, akasia, metilselulosa, atau derivat selulosa yang lain, Na-alginat untuk tragakan. Sediaan suspensi untuk penggunaan internal yang menunjukkan aliran yang bagus dan bentuk yang bagus ditunjukkan oleh Na-CMC 2,5 %, tragakan 1,25 % dan gum 0,5% (RPS 18th : 1539).

5. PENGAWET a. Pengawet surfaktan nonionik dan bahan pensuspensi seperti tanah liat, gelatin, lecithin, gum alam dan derivat selulosa adalah bagian suspensi yang cenderung untuk pertumbuhan mikroba. Penggunaan antimikroba kationik seperti benzalkonitin, klorida biasanya dikontraindikasikan karena bahan kationik dapat

diinaktifkan oleh komponen formulasi atau mengubah muatan dari partikel tersuspensi (Lachman : 185). b. Adanya bahan pensuspensi dan obat-obat yang mendukung pertumbuhan mikroba sehingga diperlukan pengawet dalam sediaan jika tidak ada komposisi seperti alkohol kehadirannya dapat menghambat pertumbuhan tersebut (Scovilles : 305). c. Parrot : 320 5 % polisorbat hanya 22 % metil paraben tidak aktif 78 5% polisorbat = 100 0,1 0,1% polisorbat = 5 Metil paraben yang tidak aktif = 1,56 x 0,2% = 0,0312% x 78% = 1,56% x metil paraben

100 Metil Paraben yang aktif = 0,2 0,0312 = 0,1688%

6. PEMANIS Digunakan pemanis karena untuk anak-anak yang biasanya suka rasa manis. Bahan-bahan pemanis antara lain : Nasiklamat, Na-sakarin, Sakarin, Aspartam, Xylisol, sukrosa, sorbitol, mannitol, gliserin, laktosa, dekstrosa (Excipient : 2). Sirup USP merupakan larutan sukrosa 85% b/v atau 65% b/b (parrot : 171) Konsentrasi = 30-60% (parrot : 171)

7. PEWARNA a. Pewarna digunakan utamanya untuk tujuan artistik sebagai simbol yang biasa dipakai dalam makanan, obat dan kosmetik untuk efek psikologik (RPS 18th : 1227). b. Tartrazin lebih mudah larut dibandingkan pewarna lain (Excip : 83). c. Sebagai pewarna (warna kuning, sesuai dengan minyak jeruk) dalam sediaan obat dan kosmetik (MD 30th : 815). d. Konsentrasi pewarna dalam sediaan cair dan larutan biasanya berada dalam range 0,001 0,005% (RPS 18 th : 1289).

8. PENGAROMA Pengaroma merupakan campuran sensasi dari rasa, sentuhan, bau, penglihatan, suara dan kesemuanya meliputi kombinasi dari aksi psikologik yang mempengaruhi persepsi terhadap bahan-bahan. Sekarang ini, formula farmasi harus secara organoleptis dapat diterima (DOM Martin : 858-859). Konsentrasi sebagai pengaroma yaitu : 0,2 1 % (Prescrip : 180).

URAIAN BAHAN 1. Kloramfenikol Palmitat (FI III; 145, Scovilles; 497) Nama Resmi Sinonim Rumus Molekul Berat Molekul Rumus Bangun : Chloramphenicoli Palmitas : Kloramfenikol Palmitat : C27H42Cl2N2O6 : 561,56 : OH H

-C - C-CH2OH

H NHCOCHCl2

O 2N Pemerian : Serbuk hablur halus, licin; putih; bau lemah; rasa tawar. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam 45 bagian etanol (95%)P, dalam 6 bagian kloroform P dan dalam 14 bagian eter P. Jarak lebur Penyimpanan : 860 sampai 920 : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya. Khasiat : Antibiotikum

Kegunaan Incompatibilitas

: Sebagai zat aktif : Jarang digunakan dalam kombinasi dengan obat lain.

2. Polisorbat-80 (FI III; 509, Excip; 227) Nama Resmi Sinonim Pemerian : Polysorbatum-80 : Polisorbat-80 : Cairan kental seperti minyak; jernih, kuning; bau asam lemak, khas. Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)P, dalam etil asetat P & dalam metanol P; sukar larut dalam parafin cairan P dan dalam minyak biji kapas P. Penyimpanan Khasiat Kegunaan Incompatibilitas : Dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan : Surfaktan non-ionik atau zat pembasah. : Perubahan warna dan atau pengendapan terjadi dengan berbagai bahan khususnya dengan fenol, tannin, tars dan atau zat yang mirip tars.

3. Na-CMC (FI III; 401, Excp ; 45) Nama Resmi Sinonim Pemerian : Natrii Carboxymethylcellulosum : Natrium Karboksimetilselulosa : Serbuk atau butiran; putih atau putih kuning gading; tidak berbau atau hampir tidak berbau; higroskopis. Kelarutan : Mudah suspensi terdispersi koloidal; dalam tidak air, membentuk dalam etanol

larut

(95%)P, dalam eter P dan dalam pelarut organik lain. Penyimpanan Khasiat Kegunaan Incompatibilitas : dalam wadah tertutup rapat : Zat tambahan : Sebagai bahan pensuspensi : Asam kuat dalam larutan dan dengan garam larut dari besi dan beberapa logam lain seperti Al, Hg & Zn. Stabilitas : Sterilisasi dalam bentuk kering dan dalam larutan menyebabkan penurunan viskositas, irradiasi

pada larutan juga akan menyebabkan penurunan viskositas Na-CMC serbuk stabil pada

penyimpanan.

4. Metil paraben (Exp ; 184) Nama resmi : Sinonim RM / BM Rumus bangun Methyl hydroxybenzoate : Nipagin : C8H8O3/152,15 : COOCH3 OH

Pemerian

: Putih, hamper tidak berbau, serbuk dengan rasa agak terbakar.

Kelarutan

: Larut dalam 400 bagian air, 1 dalam 3 bagian alcohol dan dalam 10 bagian eter, larut bebas dalam metil alcohol.

Kegunaan Incomp

: Sebagai pengawet : Metil paraben seharusnya disimpan pada wadah tertutup baik, larutan cair pada 3-6 dapat disterilkan pada 120oC selama 20 menit tanpa terurai. Larutan encer pada pH 3 6 stabil (kurang dari 10% terurai) sampai kira kira 4 % pada suhu kamar, larutan air pada pH 8 atau lebih tinggi sebagai bahan penghidrolisis yang cepat (10%) atau lebih setelah 60 hari pada suhu kamar.

Konsentrasi Penyimpanan

: 0,05 0,25% (Exp; 185) : Dalam wadah tertutup rapat

5. Sirup USP (RPS 18 th ; 1302) Sukrosa 850 gram Aquadest ad 1000 mL Nama resmi Sinonim BM Pemerian : Sucrose : Gula beck sugar : 342,30 : Kristal tidak berwarna, kristal atau batang, putih, tidak berbau,dan terasa manis Kelarutan : 1 gram dalam 0,5 ml air, 170 alkohol atau lebih larut pada 0,2 ml air mendidih, tidak larut dalam kloroform atau eter (RPS 18 th; 1298) Kegunaan Incomp Kestabilan : Pemanis : Serbuk sukrosa dapat terkontaminasi oleh sulfit : Stabil pada suhu kamar dan kelembaban relative sedang, Mengabsorbsi di atas 1% kelembaban, yang diberikan oleh panas sampai 90 oC. Menjadi karatol pada suhu di atas 160 oC, larutan encer dapat diserang mikroba. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

6. Air suling (FI III ; 96, Exp ; 336) Nama resmi : Aqua destillata

Sinonim RM / BM Pemerian Kegunaan Incomp

: Air suling : H2O/18,02 : Cairan jernih, tidak berbau, tidak berasa. : Pembawa dan pelarut bahan : Bereaksi dengan bahan obat yang mudah

terhidrolisa, bereaksi kuat dengan logam alkali dan oksidasinya dengan garam anhidrat. Kestabilan Penyimpanan : Secara kimia stabil dalam semua bentuk fisika. : dalam wadah tertutup baik.

7. Tartrazin (Excp ; 82) Nama Resmi Pemerian Kelarutan : Tartrazine (FD & C Yellow No.5) : Serbuk kuning, orange kuning : 1 g dalam 200 L air, 11 liter etanol (75%). 100 Liter gliserol. Incompatibilitas : Asam askorbat, laktosa, 10% glukosa dan larutan encer jernih dari NaOH. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup baik : Pewarna.

8. Minyak Jeruk (FI III : 445) Nama Resmi Sinonim Pemerian : Oleum Citri : Minyak Jeruk : cairan, kuning pucat atau kuning kehijauan, bau khas, rasa pedas & agak pahit. Kelarutan : Larut dalam 12 bagian etanol (()%)P, larutan agak beropalesensi, dapat bercampur dengan etanol mutlak P. Penyimpanan : Wadah terisi penuh & tertutup rapat, terlindung dari cahaya & di tempat sejuk. Kegunaan : Pengaroma.

IV. PERHITUNGAN BAHAN 1. Kloramfenikol 1,74 g kloramfenikol palmitat ~ 1 g kloramfenikol (FI IV; 66) Jadi, kloramfenikol yang ditimbang untuk 5 mL = 0,125 g x 1,74 g 1g = 217,5 mg Untuk 100 mL dilebihkan 10% = 110/5 x 217,5 mg = 4780,6 mg = 4,78 g 2. Polisorbat 80 0,2%

0,2 ----- x 110 mL = 0,22 mL 100

3. Na-CMC 1% 1 ----- x 110 mL = 1,1 g 100 4. Metil Paraben 0,2% 0,2 ----- x 110 mL = 0,22 g 100 5. Sirup USP 30% 30 ----- x 110 mL = 33 mL 100 6. Spirit Jeruk 0,2% 0,2 ----- x 110 mL = 0,22 mL 100

7. Tartrazin 0,0005% 0,0005 --------- x 110 mL = 0,00055 g 100

Pengenceran - Spirit Jeruk 0,22 mL 1 mL 4,4 mL alkohol

1 mL 0,22 mL - Tartrazin 0,00055 g = 0,55 mg 55 mg 10 mL air

1 mL 5,5 mg

10 mL

1 mL0,55 mg - Polisorbat 80 = 0,22 mL BJ = 1,08 m BJ = ----V

m 1,08 = ----0,22 m = 0,2376 g = 237,6 mg

VII PERHITUNGAN DOSIS Kloramfenikol suspensi tiap 5 mL mengandung ~ 125 kloramfenikol DL untuk anak-anak = 50 mg/kg BB dibagi dalam 4 dosis Jadi, 1 x pakai = 50 mg = 12,5 mg/kg BB 4 - Untuk anak (bayi baru lahir) = 3 kg DL 1 x pakai = 3 x 12,5 mg = 37,5 mg Sehari = 3 x 50 mg = 150 mg 1 x pakai = 37,5 mg x 1 cth = 0,3 cth 125 mg Sehari = 37,5 mg x 1 cth = 1,2 cth ~ 1 cth 125 mg - Untuk anak 2 bulan (4,5 kg) DL 1 x pakai = 4,5 x 12,5 mg = 56,25 mg Sehari = 4,5 x 50mg = 225 mg 1 x pakai = 56,25 mg x 1 cth = 0,45 cth ~ cth

125 mg Sehari = 225 mg x 1 cth = 1,8 cth ~ 2 cth 125 mg Untuk anak 2 bulan = 4 x sehari cth - Untuk anak 4 bulan (6 kg) DL 1 x pakai = 6 x 12,5 mg = 75 mg Sehari = 6 x 50 mg = 300 mg 1 x pakai = 75 mg x 1 cth = 0,6 cth ~ cth 125mg sehari = 300 mg x 1 cth = 2,4 cth ~ 2 cth 125 mg Untuk anak 4 bulan = 4 x sehari cth - Untuk anak 12 bulan (10 kg) DL 1 x pakai = 10 x 12,5 = 125 mg Sehari = 10 x 50 mg = 500 mg 1 x pakai = 125 mg x 1 cth = 1 cth 125 mg sehari = 500 mg x 1 cth = 4 cth 125 mg Untuk anak 12 bulan = 4 x sehari 1 cth MD 27th : 1111 1 5 tahun = 125 mg 250 mg tiap 6 jam

6 12 tahun = 250 mg 500 mg tiap 6 jam Dewasa = 1,5 g 3 g dalam dosis yang dibagi Untuk 1 5 tahun = 125 mg 250 mg = 1 2 cth 125 mg Untuk 6 12 tahun = 250 mg 500 mg = 2 4 cth Dewasa = 1500 mg 3000 mg = 12 cth 24 cth 125 mg Untuk 1 x pakai = 12 cth 24 cth = 3 cth 6 cth ~ 1 2 sdm 4 Aturan Pakai : 2 11 bulan = 4 x sehari cth 1 5 tahun = 4 x sehari 1 2 cth 6 12 tahun = 4 x sehari 2 4 cth Dewasa = 4 x sehari 1 2 sdm

VIII CARA KERJA 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Botol ditarer 100 mL dan gelas kimia 110 mL 3. Dilakukan penimbangan bahan sesuai dengan perhitungan 4. Dibuat pengenceran tartrazin dengan cara : 50 mg tartrazin yang dilarutkan dalam 10 mL air kemudian dipipet 1 mL dan dicukupkan 10 mL, diambil 1 mL yang setara dengan 0,55 mg tartrazin. 5. Dibuat dispersi Na-CMC dengan cara : metil paraben dilarutkan dalam air panas (700C) dalam 30 mL air, kemudian Serbuk Na-CMC ditaburkan ke dalam larutan metil paraben lalu diaduk dengan pengaduk elektrik dengan kecepatan tetap sehingga terbentuk dispersi Na-CMC yang homogen. 6. Dibuat pengenceran spirit jeruk dengan cara 1 mL minyak jeruk dicukupkan hingga 4,4 mL dengan alkohol. Setelah itu dipipet 1 mL yang setara dengan 0,22 mL. 7. Kloramfenikol digerus dalam lumpang sampai halus kemudian ditambahkan cairan polisorbat sampai terbentuk pasta yang lembut, kemudian dipindahkan ke dalam gelas kimia yang telah ditarer. 8. Setelah itu ditambahkan dispersi Na-CMC ke dalam gelas kimia, lalu dihomogenkan dan ditambahkan 33 mL sirup USP (85% b/v), lalu dihomogenkan.

9. Ditambahkan hasil pengenceran tartrazin sebanyak 1 mL lalu spirit jeruk 1 mL, lalu dicukupkan volumenya hingga 110 mL dan dihomogenkan. 10. Suspensi dipindahkan ke dalam botol dan diberi etiket.

Definisi Antimikroba (Farmakologi & Terapi ; 571) : Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Dalam

pembicaraan disini, yang dimaksudkan degan mikroba jasad renik yang tidak termasuk kelompok parasit.

terbatas pada

(OOP ; 64) : Dalam bab bab berikut akan dibicarakan berturut turut golongan golongan kemoterapeutika besar, yaitu : Antibiotik,

fungistatika dan virustatika, Sulfonamida, dan antiseptic saluran kemih, Tuberkulostatik, Leprostatika, Obat malaria, sitostika dan antiseptic local. Definisi Antibiotik (Farmakologi & Terapi ; 571) : Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Penggolongan Sulfonamida (OOP ; 110 114) Sulfonamida Short acting, kelompok ini terdiri dari : Sulfathiazol, sulfisoksazol, dan sulfasomidin. Sulfonamida Medium acting, kelompok ini meliputi derivate pirimidin (sulfamerazin, sulfamezatin, dan sulfadiazine) dan sulfametoksazol. Sulfonamida Long acting, antara lain dapat disebut sulfametoksi piridazin, sulfadimetoksin, sulfaduksin dan sulfalen.

Sulfonamida usus. Contoh : Suksinil sulfathiazole, Ftalil sulfathiazole, Salasulfapiridin

Sulfonamida peggunaan local, contoh : Sulfasetamid, sulfadikramida, silversulfadiazin

Kotrimoksazol

(GG ; 1110) : Sulfonamida dapat diklasifikasikan kedalam 4 kelompok besar berdasarkan kecepatan absorbsi dan ekskresinya : 1. Sulfonamida yang diabsorbsi dan diekskresi dengan cepat seperti sulfathiazole dan sulfadiazine. 2. Sulfa yang diserap cepat tapi diekskresi dengan lambat, contoh Sulfamethopiridazin dan sulfadimetoksin. 3. Sulfonamida yang sangat sedikit diabsorbsi jika diberikan secara oral dan aktif pada lumen usus besar seperti suksinil sulfathiazole, dan pthalysulfathiazol. 4. Sulfonamid yang digunakan secara khusus untuk pemakaian topical seperti sulfasetamida, menida dan sulfadiazine perak. (Farmakologi & Terapi) : Berdasarkan kecepatan absorbsi dan

ekskresinya, sulfonamide dibagi 4 golongan besar : 1. Sulfonamida dengan absorbsi dan ekskresi cepat antara lain sulfadiazine dan sulfisoksazol.

2. Sulfonamida yang hanya diabsorbsi sedikit bila diberikan per oral dan karena itu kerjanya dalam lumen usus antara lain ftalilsulfathiazol dan sulfaselazin. 3. Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pemberian topical, antara lain sulfa setamida, mafenid dan Ag-sulfadiazin. 4. Sulfonamida dengan masa kerja panjang, seperti sulfadoksin,

absorbsinya cepat dan ekskresinya lambat. Penggolongan antimikroba (Farmakologi & Terapi ; 572) : Berdasarkan mekanisme kerjanya, antimikroba dibagi dalam 5 kelompok : 1. Yang mengganggu metabolisme sel mikroba. 2. Yang menghambat sintesis dinding sel mikroba 3. Yang mengganggu permeabilitas membrane sel mikroba 4. Yang menghambat sintesis dinding sel mikroba, dan 5. Yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba. (OOP : 58) Kemoterapetika antibakteri dapat digolongkan atas dasar

mekanisme kerjanya sebagai berikut : a. Zat zat bakterisid (pada dosis biasanya terutama berkhasiat mematikan kuman) 1. Yang bekerja terhadap fase tumbuh : Penisilin dan sefalosporin 2. Yang bekerja terhadap fase istirahat : Aminoglikosida,

nitrokurantoin, INH, kotrimoksazol.

b. Zat zat bakteriostatik yang pada dosis biasa terutama berkhasiat menghentikan pertumbuhan dan pembiakan bakteri. Misal : sulfonamide, kloramfenikol, tetrasikin, klindamisisn, makrolida. Suatu penggolongan lain yang juga seringkali digunakan adalah berdasarkan luas aktifitasnya, artinya terhadap sedikit atau banyak jenis kuman. Zat zat dengan aktifitas sempit (hanya aktif pada beberapa jeis bakteri saja) misalnya penisilin G dan V, eritromisin, kanamisisn dan asam fusidat terhadap bakteri- bakteri Gram positif, streptomisisn, polimiksin B, gentamisisn. Dan asam nalidiksat terutama aktif pada bakteri Gram negative Zat zat dengan aktiftas lebar (broad spectrum) yang berkhasiat terhadap banyak bakteri Gram positif dan Gram negative, antara lain sulfonamide, ampisilin dan sefalosporin, kloramfenikol, tetrasiklin dan rifampisin. Alasan pemilihan sulfonamide (GG : 1107) : Sulfonamida memiliki range yang luas terhadap aktifitas antimikroba untuk melawan mikroorganisme baik Gram negative maupun Gram positif dengan sedikit pengecualian bahwa ada korelasi langsung antara efisiensi pada penggunaan invitro dan invivo, secara umum sulfonamide hanya memberikan efek bakteriostatik pada tubuh dan sel

pertahanan humoral dari inang yang sangat penting untuk membasmi infeksi aktifitas bakteri gram positif. (Ama drug ; 1569): Trimetoprim/sulfametoksazol (juga disebut

kotrimoksazol) dapat menghambat rangkaian tahap sintesis asam tetrahidrofolat, yang merupakan metabolit ko-faktor esensial pada sintesis bakteri yaitu purin, piridin tumidin, glisin, dan asam dihidrofolat PABA dan piridin. (RPS ; 1174): Sulfonamid secara alami menghasilkan spectrum pada

antimikroba yang luas yang temasuk di dalamnya yaitu coccus, Gram positif kecuali enterococcus, semua basil Gram negative, khususnya semua enterobakteriase dan Coccus Gram negative, H. Influenza, Pertusis, Pasteurella, beberapa Pseudomonas, Clamydia, Psitracoccis, Trichomae, Limphogranuloma fencreum, Actinomycetes, Nocardia, dan beberapa toxoplasma dan Malaria. (farmakologi & Terapi ; 584 589) : Sulfonamid mempunyai spectrum antibakteri yang luas (584) Penggunaan sulfonamide sebaga obat pilihan I dan untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu makin terdesak oleh perkembangan

antimikroba lain yang lebih efektif serta meningkatnya jumlah mikroba yang resisten terhadap sulfa namun peranannya meningkat kembali dengan ditemukannya kotrimoksazol.

(OOP ; 169): Sulfonamid adalah kemoterapetika yang pertama- tama digunakan secara sistemik untuk mengobati penyakit penyakit infeksi dan telah banyak digunakan dengan sukses banyak penyakit. Alasan Sulfonamid dibuat suspensi : (RPS; 1178) : Sulfamethoxazol larut dalam 1 gram dalam 3400 mL air (MD 28 th; 218) : Sulfamethoxazol cepat diabsorbsi pada saluran

pencernaan dan konsentrasi puncak plasma paling banyak setelah 2 jam. Mekanisme Kerja Sulfonamid (OOP ; 107) : Mekanisme kerjanya berdasarkan antagonisme saingan yang dapat dijelaskan sebagai berikut : banyak bakteri memerlukan asam folat untuk membangun asam asam, intinya DNA dan RNA. Asam folat ini dibentuknya sendiri dari bahan pangkal PABA yang terdapat dimanamana dalam tubuh manusia dan memiliki rumus yang banyak mirip rumus sulfonamide yaitu H2N-, CNH4. COOH-. Dengan adanya sulfonamide bakteri menjadi keliru dan menggunakannya sebagai bahan untk mensintesa asam folatnya. Jelaslah sintesa ini menjadi gagal hingga DNA/RNA tidak terbuat lagi dan pertumbuhan bakteri terhenti. Mausia dan beberapa bakteri (misalnya Streptococcus faecalis, Enterococci lainnya) (tidak mebuat asam folat sendiri tetapi menerimanya dalam bentuk sudah jadi dari bahan bahan pangan maka tidak mengalami gangguan pada metabolismenya. Rumus bangun Sulfamethoxazol dan PABA (Farmakologi & Terapi ; 584)

SO2NH Sulfamethoxazol NH2 O CH3

COOH PABA NH2

(GG ; 1108): Sulfonamid adalah struktur yang analog dan merupakan antagonis kompetitif dari PABA dan mencegah pertumbuhan normal bakteri yang menggunakan PABA untuk sintesis asam folat. Secara spesifik sulfonamide adalah inhibitor kompetitif enzim bakteri yang bertanggung jawab pada penggabungan PABA dengan asam

dihidrofteroid yang merupakan precursor dari asam folat. (Farmakologi & Terapi ; 585) : Kuman memerlukan PABA untuk membentuk asam folat (Gbr. 40) yang digunakan untuk sintesis purin dan asam nukleat sulfonamide merupakan penghambat bersaing PABA. PABA Dihidrofteroat PABA sintetase Asam dihidrofolat Dihidrofolat Reduktase Asam tetrahidrofolat Sulfonamid berkompetisi dengan

Purin

DNA

Efek antibakteri sulfonamide dihambat oleh adanya darah, nanah dan jaringan nekrosin karena kebutuhan akan asam folat berkurang dalam basa yang mengnadung purin dan timidin. Manusia tidak mengalami gangguan metabolisme asam folat karena sel sel mamalia tidak dipengaruhi oleh sulfonamide karena menggunakan folat, jadi yang terdapat dalam makanan (tidak mensintesis sendiri senyawa tersebut). Jenis jenis mikroba yang dihambat Kuman yang sensitive secara invitro adalah Streppyogenas, Strep. Pnaumoniae, beberapa galur Bacillus anthiasia, dan Coryne bacterium diphterae, Haemophyllus Influenzae, Cyano bacterium diphterae, H. Derey, Brucella, Vibro cholerae, Nokardia, Actinomyces, clymma tobacterium granulomatis, Chlamidia tracomatis dan beberapa Protozoa. Beberapa kuman enteric juga dihambat Pseudomonas serration, Proteus, dan kuman kuman multiresisten tidak peka terhadap obat ini. Kombinasi Sulfametoksazol dengan Trimetoprim (Farmakologi & Terapi : 580, 590, 592): Sulfametoksazol umumnya digunakan dalam bentuk kombinasi tetap dengan trimetoprim (586)

Trimetoprim dan sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatis obligat pada dua tahap yang berurutan pada mikroba, sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergis.

Pengobatan infeksi ringan saluran kemih bagian bawah, dengan kotrimoksazol ternyata sangat efektif, bahkan untuk infeksi oleh mikroba yang telah rentan terhadap sulfonamide sendiri (592)

Pemberian dosis tunggal (320 mg Trimetoprim dengan 1000 mg Sulfametoksazol) selama 3 hari juga efektif untuk pengobatan infeksi akut saluran kemih yang ringan. Dosis kecil (200 mg Sulfametoksazol dan 40 mg Trimetoprim per hari, atau 2 4 kali dosis tersebut yang diberikan 1 atau 2 kali perminggu) efektif untuk mengurangi tumbuhanya infeksi saluran kemih pada wanita (592)

(GG

1116)

Pengenalan

trimetprim

dengan

sulfametoksazol

memberikan keuntungan yang penting pada kemajuan klinis dari bahanbahan yang efektif sebagai antimikroba dan menghadirkan penggunaan yang praktis pada konstribusi secara teoritik yaitu jika 2 obat ini bekerja pada rangkaian tahap jalur pada obligat reaksi enzimatis pada bakteri, hasil dari kombinasi ini dapat memberikan efek sinergis. (OOP ; 109) : Sulfametoksazol 1 / dihidrofolic tetrahidrofilic Trimetoprim folinic Purin DNA

acid RNA PABA DHFA THFA

acid

acid

Sebagaimana yang telah kita lihat, sulfonamide mengganggu proses diantara langkah 1 dan 2 dengan jalan saingan substrat (bahan pangkal), sedangkan trimetoprim mengintervensi antara langkah 2 dan 3 dengan merintangi enzim dihidrofolat reduksi mereduksi dihidro menjadi asam tetrahidrofolat. Akibatnya sintesis fiolinic acid dihentikan, yang merupakan bahan pangkal untuk sintesis purin DNA / RNA, dan pembentukan sel bakteri dihentikan. Keuntungan penting lainnya dari kombinasi ini adalah timbulnya resistensi diperlambat, dibandingkan dengan komponen komponen sendiri. Hal ini dapat dimengerti karena bakteri yang menjadi resisten untuk salah satu komponen, masih dapat dimusnahkan oleh yang lain. (GG ; 1118) : Tidak ada fakta bahwa trimetoprim dan sulfametoksazol ketika diberikan dalam dosis yang direkomendasikan menginduksi kekurangan polar pada orang normal, namun batas antara toksisitas untuk bakteri dan untuk manusia relative sempit ketika sel pasien kekurangan folat dalam berbagai kasus, trimetoprim sulfametoksazol mungkin disebabkan oleh pengendapan megaloblastosis leucopenia atau

trombositopenia. Pada penggunaan rutin, kombinasi menunjukkan sedikit toksik. Dosis Kombinasi (RPS ; 1172) : trimetoprim / 5 mL Oral : dewasa dan anak anak = >40 Kg melawan bakteri; 800 mg sulfametoksazol dan 100 mg trimetoprim. Tiap 12 jam selama 10 14 hari ; dewasa dan anak anak ; BB > 32, untuk melawan Pneumocytis; 25 mg/Kg. Sulfametoksazol dan 5 mg/kg sulfametoksazol dan 4 mg / kg trimetoprim tiap 12 jam, anak- anak di bawah 32 kg untuk melawan pneumocytis, 25 mg / kg sulfametoksazol dan 5 mg/kg trimetoprim tiap 6 jam. (MD; 198): Oral 960 mg (trimetoprim 160 mg dan sulfametoksazol 800 mg) 2 kali Anak- anak 6 minggu 5 bulan : 120 mg 6 bulan 5 tahun : 240 mg Suspensi oral : 200 mg sulfametoksazol dan 40 mg

6 tahun 12 tahun : 480 mg (Ama drug ; 1574) : Untuk anak- anak : 8 mg/kg trimetoprim dan 40 mg/kg sulfametoksazol 2 kali sehari setiap 12 jam selama 10 hari.

Aluminium klorida (Elektrolit)

(Farfis ; 483):

Aksi elektrolit sebagai bahan pemflokulasi dimana

mengurangi barier elektrik antara partikel yang dibutuhkan dengan penurunan zeta potensial dan pembentukan jembatan antara partikel partikel tersebut bersama sama dalam struktur yang longgar. (farfis ; 550) : Pekerja juga mendemostrasikan hubungan yang sama ketika aluminium klorida ditambahkan ke dalam suspensi dari

sulfamerazin dalam air. Dalam system, zeta potensial awal dari partikel sulfamerazin adalah negative secara bertahap mengurangi adsorbsi dari kation aluminium trivalen. Ketika ditambahkan elektrolit yang cukup, zeta potensial mencapai 0 dan kemudian meningkatkan kearah positif. (RPS ; 297): Elektrolit mungkin digunakan sebagai bahan pemfloklasi secara luas. Elektrolit bertindak dengan mengurangi gaya listrik tolak menolak antara partikel partikel, kemungkinan partikel membentuk flok bebas yang menjadi karakteristik dari suspensi flokulasi. Sejak adanya partikel yang bersama- sama dan membentuk flok tergantung pada muatan permukaannya, pengukuran zeta potensial pada suspensi, sebagai elektrolit tambahan, menyediakan informasi berharga sebagai flokulasi yang meluas dalam system. Prinsip ini ditambahkan dengan referensi yang mengikuti contoh dari Haines dan Martin. Partikel sulfamerazin dalam air bermuatan negative. Dengan penambahan elektrolit yang cocok seperti aluminium klorida menyebabkan reduksi dalam zeta potensial dari partikel. Ini adalah

mekanisme adsorbsi istimewa dari kation aluminium trivalen. Akhirnya zeta potensial menjadi 0 dan kemudian menjadi positif dengan penambahan aluminium klorida dilanjutkan. (lach ; 482): Dengan mengikuti konsentrasi elektrolit yang digunakan untuk membentuk agregasi yang memuaskan dengan mengikuti

konsentrasi 25 150 mmol/L untuk ion monovalen, 0,5 2 mmol/L untuk ion divalen dan 0,01 0,1 mmol/L untuk ion trivalen.

Tween 80 (lach; 181): Konsentrasi sebagai pembasah bervariasi antara 0,05 0,5%. Konsentrasi kurang dari 0,05% dapat menyebabkan pembasahan yang tidak sempurna dan konsentrasi yang lain besar dari 0,5% menyebabkan larutnya partikel yang berukuran kecil. Digunakan pembasah karena : Trimetoprim sangat sukar larut dalam air (MD ; ) Sulfametoksazol 1 g larut dalam 3400 mL air.

(lach ; 495) : Contoh formula : Bahan Cortison asetat, USP microfine Polysorbat 80 USP (bahan pembasah) Na- CMC, USP (pensuspensi) 0,5 Persentase dalam formula 2,5 0,4

NaCl, USP (isotonisasi) Benzil alcohol, NF (pengawet) Air untukinjeksi, q.ss untuk membuat Bahan pensuspensi

0,9 0,9 100,0

(Scov ; 309) ; Methyl selulosa adalah produk sintesis yang sesuai dalam bentuk yang besar karena luasnya kualitas viskositasnya yaitu sejumlah 15 hingga 4000 (400 dan 1500 untuk tingkat sedang) dimana kekentalannya 2% dalam campuran air pada suhu 20 o C dalam centipoises. Bahan ini dapat membentuk massa atau bubuk serat. Campuran berairnya bersih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, inert secara kimia, stabil baik pada range pH yang luas, tidak toksik, tidak mengiritasi, inert secara fisiologis, resisten terhadap serangan bakteri, dan stabil pada pemanasan, cahaya dan pengadukan. (RPS 18th ; 1306): dalam farmasi metil selulosa digunakan sebagai bahan pendispersi , bahan pengantal, bahan pengemulsi, dan perekat dan penyalut. (DOM ; 549) : Methyl selulosa larut dalam air dingin, tidak diabsorbsi pada saluran gastrointestinal, tidak tokis dan digunakan secara luas pada produk makanan. (DOM ; 549) : Methyl selulosa bersifat nonionic sehingga stabil pada range pH yang luas.

Tidak digunakan karena : (DOM ; 546) : Methyl selulosa tidak larut dalam air panas, penambahan temperature pada cairan suspensi menghasilkan penurunan viskositas, pada temperature sekitar 50 o C methyl selulosa akan terdehidrasi, Dehidrasi ini akan membentuk gel pada system, yang akan kembali ke keadaan semula jika suhu turun. (RPS ; 1307) : Pengganti sintetik gom alami yang memiliki keduanya, aplikasi farmasetik dan terapeutik. Dalam bidang farmasi digunakan sebagai bahan pendispersi, pengental, pengemulsi, bahan pensizing (seperti lilin) dan bahan penyalut. Berfungsi sebagai koloid pelindung untuk beberapa tipe dari pendispersi dan efek penstabil untuk emulsi minyak dalam air . (Exp ; 183) : Incomp telah dilaporkan dengan aminacrin hidroklorida, klorokresol, merkuriklorida, fenol, resorsinol, asam tannin, perak nitrat, cetil piridinum klorida, asam Cp-hidroksi benzoate, propil p-hidroksi benzoate dan butyl p-hidroksibenzoat. Kompleksasi dari metil selulosa juga telah ditemukan dari senyawa surfaktan kuat seperti tetracaine dan dibutalin sulfat. Jumlah besar dari elektrolit meningkatkan viskositas dari muciilage metil selulosa menyebabkan pengandapan (salting out) metil selulosa. Pada konsentrasi tinggi elektrolit, metil selulosa, dapat dipercepat secara sempurna dalam bentuk gel.

CMC/NaCMC (Exp : 183 : Produknya tidak toksik dan digunakan sebagai penstabil dalam makanan terutama untuk produk susu. (DOM; 547): CMC a gram yang mana larut dan stabil pada range pH dari 5 -10, tipe asam khusus. Stabil, juga ada (7 hof). CMC incomp dengan beberapa elektrolit, dan anionic juga kationik seperti senyawa ammonium kuartener. (Exp ; 45): Digunakan sebagai pensuspensi dan atau bahan peningkat viskositas. (Exp ; 45) : Incomp dengan larutan asam kuat dan dengan garam dari besi dan logam lainnya seperti aluminium, mekuri dan zink. Veegum (Mg Aluminium silikat) (DOM; ) : Digunakan sebagai bahan pensuspensi / peningkat viskositas (DOM ; 548) ; sulfametoksazol) Bentonit (DOM ; 548) ; Bentonit tidak dapat diabsorbsi dari saluran pencernaan dan tidak toksik. Bentonit adalah serbuk keabu-abuan dan menjadi gelap ketika terbasahi. Karbopol cairan veegum terdispersi dalam alkalin (termasuk

(DOM ; 540) ; Karbopol sensitive terhadap elektrolit. Perbandingan sejumlah kecil karbopol dapat menyebabkan kekentalan dari cairan dispersi yang dinetralkan berkurang Hidroksi etil selulosa (MD 28 th ; 955) ; Larut dalam air dingin dan panas. (MD 28th ; 955) ; Hidroksi etil selulosa digunakan untuk tujuan yang sama dengan metil selulosa dan memberikan larutan yang jernih. (MD 28 th ; 955) ; Pembuatan hidroksi etil selulosa : Larutan dalam air disiapkan dalam pembasahan hidroksietil selulosa secara perlahan lahan ke dalam pusaran air yang terbentuk dengan stirer mekanik. Ketika larutan dipanaskan, viskositasnya menurun, tidak seperti larutan metil selulosa, larutan dari hidroksi etil selulosa tidak membentuk gel, larutan stok sebaiknya mengandung pengawet antimikroba yang sesuai. (DOM ; 547) : Viskositas dari hidroksi etil selulosa ditunjukkan dengan angka yang mana menggambarkan viskositas kira kira 2% cps dari disperse. (DOM ; 547) : Seperti hidrokoloid non ionic lainnya, hidroksi etil selulosa membentuk dispersi kental dalam air yang tidak dipengaruhi dengan pH bervariasi antara 4 10. Berat molekul besar, dispersinya lebih sensitive untuk mengubah pH . (DOM ; 547): Bila pH meningkat sekitar 10, viskositas menurun secara signifikan (nyata) tetapi bersifat reversible. Dalam larutan lebih asam,

viskositas menurun secara lambat dan tidak nyata, tetapi tidak reversible. Efek dari garam dari sifat aliran dari hidroksi etil selulosa dapat diabaikan. Tidak seperti metil selulosa, hidroksi etil selulosa tidak diendapkan dalam air dengan kenaikan suhu. Sirup USP (Parrot ; 171) : Rasa manis dari sirup membuat pembawa yang menyenangkan pada pemberian oral dari obat. (RPS 18 th ; 1527) : Sirup memiliki sifat yang kuat untuk menutupi rasa pahit dan asam dari obat. (Ansel ; 326) : Sirup ini dimaksudkan sebagai pembawa yang memberikan rasa enak pada zat obat yang ditambahkan kemudian, baik dalam peracikan resep secara mendadak atau dalam pembuatan formula standar. Metil paraben (pengawet) (Exp ; 245); Digunakan sebagai pengawet pada konsentrasi 0,05 0,25 % baik tunggal maupun kombinasi dengan ester asam p

hidroksibenzoat atau dengan kombinasi antimikroba lainnya. (FI III ; 378) ; Dapat larut dalam 20 bagian air mendidih, 3,5 bagian etanol. (Parrot; 320) : 5% polisorbat 80, hanya 22% dari total metil paraben yang terdapat dalam fase air digunakan sebagai pengawet yang efektif.

(Parrot; ) : pengawet yang ideal harus (1) efektif melawan semua mikroorganisme, (2) efektif dalam konsentrasi rendah, (3) tidak toksik, (4) cocok, (5) tidak berasa dan tidak berbau. Essence Vanili (pengaroma) (DOM ; 654) ; Pemilihan pengaroma kategori obat antibiotic : Cherymaples, nenas, jeruk, raspberry, pisang, nenas, pisang vanili, butterscotch maple, kelapa mustar, strawberry, vanili, buah buahan, kayu manis. (Presc ; 180) ; Konsentrasi pengaroma yang digunakan 0,2 1% Pembuatan Suspensi (Ansel ; 362); dalam pembuatan suatu suspensi, ahli farmasi harus

mengetahui dengan baik karakteristik fase terdispersi dan medium dispersinya. Dalam beberapa hal fase terdispersi mempunyai afinitas terhadap pembawa untuk digunakan dan dengan mudah dibasahi oelh pembawa tersebut selama penambahannya. Obat obat lain tidak dipenetrasi dengan mudah oleh pembawa tersebut dan mempunyai kecenderungan untuk bergabung menjadi 1 atau mengembang di atas pembawa tersebut. Dalam hal yang terakhir, serbukmula mula harus dibasahi dahulu dengan medium pendispersi. Alkohol, gliserin dan cairan higroskopis lainnya digunakan sebagai zat pembasah bila suatu pembawa air akan digunakan sebagai fase disperse. Bahan- bahan tersebut berfungsi menggantikan udara dicelah celah partikel,

mendispersikan partikel tersebut dan kemudian meyebabkan terjadinya penetrasi medium dispersi ke dalam serbuk. V. Uraian Bahan 1. Sulfametoksazol (FI III ; 586, RPS 16 th ; 118) Nama resmi : Sulfamethoxazolum Sinonim isoxadyl BM : 253,28 SO2NH : Benzenesulfonamida, 4-amino-N-15-methyl 3-

Rumus bangun: H2N

O Pemerian : Putih, sampai sedikit putih, serbuk kristal, praktis tidak berbau. Kelarutan : 1 gram dalam 3400 ml air, 100 ml kloroform, 50 ml alcohol, 1000 ml eter Kegunaan Kestabilan Dosis : Antibakteri : Stabil dalam air : DL dosis awal Dosis suspensi : 2 gram : 500 mg/5 ml

Kombinasi

: 200 mg sulfametoksazol dan 400 mg trimetoprim dalam 5 ml

pH

: 4 -6 dalam 10% suspensi dalam air (MD 28 th ; 1497)

2. Trimetoprim (RPS 16 th ; 1165) Nama resmi : Trimetorimum Sinonim BM : Trimetoprim : 290,32 N NH 2

Rumus bangun:

H3 C

H3CO OCH3

OCH3

Pemerian

: Kristal warna putih sampai krem, atau serbuk kristal tidak berbau, sedikit berasa.

Kelarutan

: sangat sedikit larut dalam air; 1 gram larut dalam kira kira 285 ml alcohol absolute, 53 ml kloroform

Kegunaan

: Antibakteri Pada pengobatan infeksi saluran kemih yang akut (MD 28th ; 1484)

Dosis

: Kombinasi : 200 mg sulfametoksazol dan 400 mg trimetoprim dalam 5 ml

pKa

: 7,3 (farmakologi & Terapi) : Dalam wadah tertutup rapat

Penyimpanan

terlindung dari cahaya. 3. Polisorbat 80 (MD 28 th ; 377) Nama resmi : Polysorbate 80 Sinonim : Polysorbatum monooleat tween RM / BM Pemerian : C6H124O26/1309,7 : Cairan berminyak kuning jernih atau kuning kecoklatan dengan bau yang agak karakteristik dan dengan rasa yang agak pahit. Kelarutan : Bercampur dengan alcohol, kloroform, eter, etil asetat dan metil alcohol, larut dalam 125 bagian. Minyak biji kapas, praktis tidak larut dalam petroleum ringan, paraffin cair dan campuran minyak. 80, polyoxyetilene 20 sorbiton

Kegunaan Incomp

: Surfaktan : Perubahan warna dan atau pengendapan terjadi pada beberapa bahan, terutama dengan fenol, tannin, tar dan atau sejenis tar (Exp ; 227)

Kestabilan

: Stabil dalam elektrolit juga pada asam dan basa. Ada saponifikasi secara bertahap denngan asam dan basa kuat. Ester asam oleat sensitive dengan adanya oksidasi.

Viskositas

: Kira kira 400 dp pada 25o C (Exp; 227)

Konsentrasi : 0,1 0,3% (RPS 18th; 1314) 4. Aluminium klorida Nama resmi : Aluminii chloridum Sinonim RM / BM Pemerian : Aluminium klorida : AlCl3. 8H2O/241,4 : Serbuk kristal putih atau putih kekuningan, manis, berasa, adstringen bereaksi asam pada lakmus (RPS 18 th ; 721) Kelarutan Kegunaan Incomp : 1 dalam 0,9 bagian air dan 1 dalam 4 bagian alkohol : Sebagai elektrolit pemflokulan : Alkali hidroksida karbonat, dorax dan endapan air kapur. 5. Hidroksi Etil selulosa RPS 18 th ; 1306)

Nama resmi : Hydroxyethyl cellulose Sinonim : Cellulose, 2-hydroxy ethyl ether, Natrosol,cellulose hydroxyethyl ether. Pemerian : Putih, tidak berbau, tidak berasa, serbuk bebas, lembut sekitar 137oC pH Kelarutan : sekitar 7 : Larut dengan cepat dalam air dingin atau air panas untuk memberikan kejernihan, lembut, larutan kental, sebagian larut dalam asam asetat, tidak larut dalam kebanyakan pelarut organik Kegunaan : Pensuspensi

Konsentrasi : Viskositas dari hidroksi etil selulosa ditunjukkan dengan angka yang mana menggambarkan viskositas kira kira 2% cps dari disperse (DOM ; 547). 6. Sirup USP (RPS 18 th ; 1302) Sukrosa 850 gram Aquadest ad 1000 mL Nama resmi : Sucrose Sinonim BM Pemerian : Gula beck sugar : 342,30 : Kristal tidak berwarna, kristal atau batang, putih, tidak berbau,dan terasa manis

Kelarutan

: 1 gram dalam 0,5 ml air, 170 alkohol atau lebih larut pada 0,2 ml air mendidih, tidak larut dalam kloroform atau eter (RPS 18 th; 1298)

Kegunaan Incomp Kestabilan

: Pemanis : Serbuk sukrosa dapat terkontaminasi oleh sulfit : Stabil pada suhu kamar dan kelembaban relative sedang, Mengabsorbsi di atas 1% kelembaban, yang diberikan oleh panas sampai 90 oC. Menjadi karatol pada suhu di atas 160oC, larutan encer dapat diserang mikroba.

Penyimpanan :

Dalam wadah tertutup rapat

7. Essence vanili (RPS 18th ; 1299) Nama resmi : Vanilla Sinonim RM / BM : Vanilla : C8H6O3/152,1 CH3

Rumus bangun:

OCH3 OH

Pemerian

: Kristal putih atau agak kuning, serbuk dengan baud an rasa vanilla, bias diekstraksi dari vanilla atau dibuat sintesis.

TL Kelarutan

: 81,82o C : Larut dalam 100 bagian air pada 20 o C, 1 dalam 20 bagian air pada 80o C, 1 dalam 20 bagian gliserol, juga mudah larut dalam alcohol dan dalam kloroform, larut sampai sangat mudah larut dalam eter, dalam minyak lemak dan minyak menguap dan dalam larutan alkali hidroksida.

Kegunaan

: Pengaroma dan pewangi

Konsentrasi : 0,2 1% 8. Metil paraben (Exp ; 184) Nama resmi : Methyl hydroxybenzoate Sinonim RM / BM : Nipagin : C8H8O3/152,15

Rumus bangun: COOCH3 OH

Pemerian

: Putih, hamper tidak berbau, serbuk dengan rasa agak terbakar.

Kelarutan

: Larut dalam 400 bagian air, 1 dalam 3 bagian alcohol dan dalam 10 bagian eter, larut bebas dalam metil alcohol.

Kegunaan Incomp

: Sebagai pengawet : Metil paraben seharusnya disimpan pada wadah tertutup baik, larutan cair pada 3-6 dapat disterilkan pada 120oC selama 20 menit tanpa terurai. Larutan encer pada pH 3 6 stabil (kurang dari 10% terurai) sampai kira kira 4 % pada suhu kamar, larutan air pada pH 8 atau lebih tinggi sebagai bahan

penghidrolisis yang cepat (10%) atau lebih setelah 60 hari pada suhu kamar. Konsentrasi : 0,05 0,25% (Exp; 185) Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat 9. Air suling (FI III ; 96, Exp ; 336) Nama resmi : Aqua destillata Sinonim RM / BM Pemerian Kegunaan : Air suling : H2O/18,02 : Cairan jernih, tidak berbau, tidak berasa. : Pembawa dan pelarut bahan

Incomp

: Bereaksi dengan bahan obat yang mudah terhidrolisa, bereaksi kuat dengan logam alkali dan oksidasinya dengan garam anhidrat.

Kestabilan

: Secara kimia stabil dalam semua bentuk fisika. dalam wadah tertutup baik.

Penyimpanan :

VI. Perhitungan b. Perhitungan Dosis Dewasa ; Oral 960 mg (Trimetoprim 160 mg dan sulfametoksazol 800 mg) 2 kali. 960 mg /240 mg x 5 ml = 20 ml Aturan pakai Dewasa 2 kali sehari 4 sendok teh Anak anak : 6 minggu 5 bulan : 120 mg = 120 mg/240 mg x 5 ml = 2,5 ml 6 bulan 5 tahun : 240 mg = 240 mg/240 mg x 5 ml = 5 ml

6 tahun 12 tahun : 480 mg = 480 mg/240mg x 5 ml = 10 ml Aturan pakai : 6 minggu 5 bulan = sendok teh 6 bulan 5 tahun = 1 sendok teh 6 tahun 12 tahun = 2 sendok teh c. Perhitungan Bahan

Dibuat 120 ml dilebihkan 10% = 132 ml Sulfametoksazol Trimetoprim Aluminium klorida mg Tween 80 Hidroksi etil selulosa Sirup USP Metil paraben Essence vanili Air suling d. Perhitungan pengenceran Aluminium klorida 52,8 mg 2 ml 1 ml ( 26,4 mg) VII. Cara Kerja 1. Alat dan bahan disiapkan 2. Dikalibrasi 132 ml, botol 120 ml 3. Ditimbang sulfametoksazol 5,28 g dan trimetoprim 1056 mg sesuai perhitungan bahan, digerus dalam lumpang hingga homogen. 4. Ditimbang polisorbat 80 105,6 mg, dicampur dengan bahan No. 3, aduk hingga homogen dalam lumpang. 0,4% / 5ml x 132 ml 2 % / 5ml x 132 ml 40 % / 5ml x 132 ml 0,25%/5ml x 132 ml 0,2%/5ml x 132 ml = = = = = 105,6 mg 528 mg 10,5 mg 66 mg 52,8 mg ad 120 ml 200 mg / 5 ml x 132 ml 40 mg / 5ml x 132 ml = = 5280 mg 1056 mg = 26,4

0,1% / 5ml x 132 ml

5. Dibuat pengenceran aluminium klorida dengan cara ditimbang sebanyak 52,8 mg dan dilarutkan dalam 2 ml air. 6. Dibuat dispersi hidroksi etil selulosa dengan cara : sebanyak 528 mg, dimasukkan secara perlahan lahan ke dalam pusaran air dengan menggunakan stirer magnetic, hingga homogen. 7. Ditimbang metil paraben sebanyak 66 mg dan dimasukkan ke nomor (6). 8. Diambil 1 ml dari hasil pengenceran aluminium klorida dimasukkan ke dalam campuran nomor (4) kemudian dimixer. 9. Larutan nomor (6) dicampur dengan suspensi nomor (8) dan dimixer 10. Ke dalam suspensi nomor (9) ditambah sirup USP 10,50 ml dan kemudian dimixer. 11. Ditambahkan essence vanili sebanyak 52,8 mg. 12. Dicukupkan volume hingga 132 ml 13. Dipindahkan ke dalam botol. 14. Dimasukkan ke dalam wadah dan diberi etiket dan brosur.

Brosur XOPRIM SUSPENSI Isi bersih : : 60 Isi bersih 60mL mL Komposisi :


Tiap 5 mL mengandung Sulfamethoxazol Komposisi Trimetoprim : 200 mg 40 mg

Farmakologi : Tiap 5 mL mengandung Xolprim suspensi mengandung kombinasi 2 macam kemoterapeutik perbandingan 1 : 5
yang memberikan efek sinergis, bakterisid dengan spectrum luas. Xolprim suspensi menghambat biosintesa asam folat mikroorganisme pada tahap yang berbeda Sulfamethoxazol 200 mg secara beruntun. Apabila kedua zat aktif tersebut dipergunakan masing masing, biasanya hanya bersifat bakteriostatik. Trimetoprim 40 mg terhadap Xolprim suspensi seringkai efektif terhadap mikroorganisme yang resisten sulfamethoxazol tunggal. Xolprim Suspensi in vitro efektif terhadap kiman kuman Gram negative dan Gram Farmakologi : positif termasuk Staphylococci, E. coli, H. Influenza, Proteus, Salmonellae, Shigellae, Klebsiella dan Enterobacter. Xolprim suspensi juga mempunyai khasiat sebagai Xolprim suspensi mengandung kombinasi 2 macam kemoterapeutik antiprotozoa misalnya terhadap pneumocytis dan Nocardia. Sulfamethoxazol dan Trimetoprim diabsorbsi dan dieliminasi dengan kecepatan yang sama, setelah pemberian perbandingan : 5 yang memberikan sinergis, oral, konsentrasi1puncak dalam darah tercapai 1efek 4 jam dengan bakterisid waktu paruh dengan 12 jam. Xolprim suspensi diekskresikan melalui ginjal.

Indikasi :luas. Xolprim suspensi menghambat biosintesa asam folat spectrum

Infeksi saluran kemih seperti plelonefritis, pielitis dan prostatitis akut dan kronik yang disebabkan oleh kumanyang yang berbeda sensitive seperti E. beruntun. coli, Klebsiella, Enterobacter mikroorganisme pada tahap secara Apabila kedua dan Proteus. Infeksi saluran pencernaan, terutama disebabkan oleh kuman Salmonella dan zat aktif tersebut masing biasanya hanya bersifat Shigellae seperti dipergunakan demam tifoid, paratifoid danmasing, disentri basiler. Infeksi saluran pernapasan seperti bronchitis dan sinusitis akut yang disebabkan bakteriostatik. oleh kuman H. Influenza atau S. Pneumoniae. Infeksi lain seperti toksoplasma dan infeksi lainnya dimana obat terpilih tidak dapat Xolprim diberikan. suspensi seringkai efektif terhadap mikroorganisme yang resisten

Kontraindikasi : Wanita hamil, penderita kerusakan hati. terhadap sulfamethoxazol tunggal. Efek samping : Gangguan lambung dan usus, alergi, sakit kepala, anemia, purpura, kristaluria Xolprim Suspensi in vitro efektif terhadap kiman kuman Gram negative Aturan pakai : dan Gram E. coli, H. Influenza, Proteus, 6 bulan 5positif tahun termasuk 2 x sehariStaphylococci, 1 sendok teh
6 tahun 12 tahun 2 x sehari 2 sendok the Simpan di tempat sejuk terlindung dari cahaya . matahari Salmonellae, Shigellae, Klebsiella dan Enterobacter Xolprim suspensi HARUS DENGAN RESEP DOKTER No. Reg : DKL 0314512336 A1 6 minggu 5 bulan 2 x sehari sendok teh

juga

mempunyai

khasiat

sebagai

antiprotozoa

misalnya

terhadap

pneumocytis dan Nocardia. Sulfamethoxazol dan Trimetoprim diabsorbsi dan PT. ERMIA FARMA
MAKASSAR INDONESIA

Diproduksi oleh :

dieliminasi dengan kecepatan yang sama, setelah pemberian oral, konsentrasi puncak dalam darah tercapai 1 4 jam dengan waktu paruh 12 jam. Xolprim suspensi diekskresikan melalui ginjal. Indikasi : Infeksi saluran kemih seperti plelonefritis, pielitis dan prostatitis akut dan kronik yang disebabkan oleh kuman yang sensitive seperti E. coli, Klebsiella, Enterobacter dan Proteus. Infeksi saluran pencernaan, terutama disebabkan oleh kuman Salmonella dan Shigellae seperti demam tifoid, paratifoid dan disentri basiler. Infeksi saluran pernapasan seperti bronchitis dan sinusitis akut yang disebabkan oleh kuman H. Influenza atau S. Pneumoniae. Infeksi lain seperti toksoplasma dan infeksi lainnya dimana obat terpilih tidak dapat diberikan. Kontraindikasi : Wanita hamil, penderita kerusakan hati. Efek samping : Gangguan lambung dan usus, alergi, sakit kepala, anemia, purpura, kristaluria Aturan pakai : 6 minggu 5 bulan 2 x sehari 6 bulan 5 tahun 2 x sehari sendok teh 1 sendok teh 2 sendok the

6 tahun 12 tahun 2 x sehari

Simpan di tempat sejuk terlindung dari cahaya matahari HARUS DENGAN RESEP DOKTER No. Reg : DKL 0314512336 A1

Diproduksi oleh : PT. ERMIA FARMA Formula II

I. Formula Asli Amoksisilin suspensi kering II. Rancangan Formula yang disetujui A. Suspensi kering bentuk serbuk Tiap 5 ml mengandung : Amoksisilin Na-CMC Na-benzoat Strawberry flavour dry Eritrosin Sukrosa 125 mg 1% 0,1% 0,5% 0,005% ad 50%

B. Suspensi kering bentuk granul Tiap 5 ml mengandung : Amoksisilin 125 mg

Na-CMC Metil paraben Strawberry flavour dry Eritrosin Sukrosa

1% 0,1% 0,5% 0,005% ad 50%

III. Master Formula A. Suspensi kering bentuk serbuk Nama produk : Oxycillin suspensi kering

Jumlah produk : 1 botol @ 60 ml Tanggal produksi : 15 Desember 2003 No. Registrasi No. Batch : DKL 0315128138 A1 : B 03975

BIDADARI FARMA MKS IN No Kode bhn Tgl. Formula 4 Maret 2003 Nama Bahan

Oxycillin Suspensi Tgl. Produksi Dibuat oleh : 15 -12- 2003 Kegunaan Bidasari Per dosis Oleh:

Disetujui

Sumarheni Per batch

1. 2.

AMK 01 NCM

Amoksisilin Na-CMC Na-benzoat Strawbery

Zat aktif Pensuspesni / pengikat flavour Pengawet Pengaroma Pewarna Pemanis/ pengisi

125 mg

1500 mg

0,01 g 0,001 g 0,005 g 5 x 10-5 g

600 mg 60 mg 300 mg 3 mg 9,6 m

3. 4. 5. 6. .

02

NBZ 03 dry STB 04 ERT 05 SKR 06 Eritrosin Sukrosa

ad 50%

ad 50%

B. Suspensi kering bentuk granul Nama produk : Mikafasilin suspensi kering

Jumlah produk : 1 botol @ 60 ml Tanggal produksi : 15 Desember 2003 No. Registrasi No. Batch : DKL 0328047838 A1 : B 03281

BIDADARI FARMA MKS INA Tgl. Formula 4 Maret 2003

Mikafasilin Suspensi Tgl. Produksi Dibuat oleh : 15 -12- 2003 Bidasari Oleh:

Disetujui

Sumarheni

No Kode 1. 2. bhn AMK 01 NCM 3. 4. 5. 6. . MTP 03 STB 04 ERT 05 SKR 06 02

Nama Bahan Amoksisilin Na-CMC

Kegunaan Zat aktif Pensuspesni /

Per dosis 125 mg

Per batch 1500 mg

0,01 g 0,001 g 0,005 g 5 x 10-5 g

600 mg 60 mg 300 mg 3 mg 9,6 m

Metil paraben Strawbery dry Eritrosin Sukrosa

pengikat

flavour Pengawet Pengaroma Pewarna Pemanis/ pengisi

ad 50%

ad 50%

Alasan Amoksisilin dibuat suspensi Amoksisilin sedikit larut dalam air, dalam metil alkohol dan dalam alkohol, praktis tidak larut dalam karbon tetraklorida, kloroform, eter dan minyak (MD32th; 152). Amoksisilin : larit 1 g dalam 370 ml air atau 2000 ml alkohol. Kelembaban tinggi dan suhu diatas 37 o berefek merugikan pada kestabilan (RPS 18th; 1186).

Beberapa

antibiotik

(misalnya:

Na-klosaksilin,

Na-nafallin,

dan

vankomisin), karena antibiotik ini tidak stabil secara relatif dalam larutan encer, disiapkan oleh pabrik sebagai serbuk atau granul dalam kombinasi pendapar yang cocok, pewarna, pengisi, pendispersi, pengaroma dan atau pengawet. Sediaan ini, Na-klosaksisilin untuk larutan oral. Nafallin untuk larutan dan vankomisin untuk larutan oral memenuhi persyaratan dari USP. Pada pemberian untuk pasien, farmasis menambahkan sejumlah air (Ansel; 374). Kebanyakan dari obat-obat yang dibuat sebagai campuran kering untuk suspensi adalah obat-obat antibiotik (Ansel; 374). Kebanyakan bahan-bahan antibiotik tidak stabil bila berada dalam larutan untuk waktu yang lama yang diinginkan dan oleh sebab itu dilihat dari stabilitas, bahan obat dengan bentuk tidak larut dalam suspensi berair atau serbuk kering untuk dioplos sangat menarik bagi pabrik obat (Ansel; 373). Obat seperti itu tidak stabil untuk disimpan dalam waktu tertentu dengan adanya cairan pembawa air (sebagai contoh banyak obat-obatan antibiotik) lebih sering diberikan sebagai campuran serbuk kering untuk dibuat suspensi pada waktu akan diberikan (Ansel; 373). Suspensi Kering Suspensi farmaseutical adalah dispersi zat padat yang terbagi-bagi halus dalam medium cair. Suspensi tertentu diperdagangkan sebagai serbuk

kering yang mana diresepkan dengan penambahan volume tertentu cairan pembawa untuk membentuk dispersi cair sebelum terdispersi (Parrot; 341). Produk kering yang dibuat secara komersial guna mengandung obat-obat antibiotik dengan bahan-bahan tambahan untuk pewarna, pemanis, pengaroma, penstabil, dan pensuspensi, atau zat pengawet yang mungkin diinginkan untuk meningkatkan stabilitas dari, baik serbuk kering atau campuran granul atau dasar suspensi cair. Apila akan dioplos dan diberikan kepada pasien, salah satu dari obat ini, ahli farmasi membuka serbuk yang ada pada wadah dengan menusuk perlahan-lahan dengan benda keras lalu menambahkan sejumlah air murni sesuai dengan yang ditunjukkan pada label, biasanya sebagian-sebagian dan kocok yang keras sampai semua serbuk kering tersuspensi (Ansel; 374). Preparat lain yang tersedia adalah serbuk kering yang dimaksudkan untuk disuspensikan dalam cairan pembawa. Jenis produk ini umumnya campuran serbuk yang mengandung obat dan bahan pensuspensi maupun pendispersi yang dengan melarutkan dan pengocokan dengan sejumlah tertera cairan pembawa (biasanya air murni) menghasilkan bentuk suspensi yang cocok untuk diberikan (Ansel; 354).

IV. Dasar Formulasi Amoksisilin Amoksisilin ecara kimia p-hidroksiampisilin, mempunyai spektrum antibakteri yang mirip dengan ampisilin, termasuk tidak aktif melawan Strepcocus, N. meningitis, clostridum, salmonella, dan shigella. Seperti ampisilin, amoksisilin dirusak oleh -laktamase dan oleh karena itu tidak digunakan untuk pengobatan injeksi disebabkan oleh rsistensi terhadap tipe bakteri dari strain yang menghasilkan laktamase (RPS18th; 1186). Kelebihan amoksisilin dibandingkan ampisilin (OOP; 72) Amoksisilin sama speltrum aktifitasnya dengan ampisilin, tetapi reabsorbsinya lebih cepat dan lengkap, 90% dengan kadar plasma berganda. PP-nya lebih rendah sedikit (Ca17%), plasma t1/2 lebih kurang sama, yakni Ca 1 jam. Difusinya ke jaringan dan cairan-cairan tubuh lebih baik, terutama ke dalam ludah penderita bronchitis menurun. Begitu pula keduanya dalam kemih sebagai bentuk aktif jauh lebih daripada ampisilin, yakni 70% hingga lebih layak digunakan pada injeksi saluran kemih. Absorbsi amoksisilin di saluran cerna jauh lebih baik daripada ampisislin, dengan dosis awal yang sama. Amoksisilin mencapai kadar dalam darah yang tingginya kira-kira 2 kali lebih tinggi daripada yang dicapai oleh ampisilin, sedangkan masa paruh eliminasi kedua

obat ini hampir sama. Penyerapan ampisislin terhambat oleh adanya makanan di lambung sedang amoksisilin tidak (Terapi; 627). Amoksisilin lebih stabil dalam asam dibandingkan ampisislin dan oleh karena itu lebih baik digunakan untuk oral, tidak dapat diberikan secara parenteral (RPS18th; 1186). Sifat amoksisilin (Terapi; 625) Penisilin menghambat pembentukkan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba terhadap mikroba yang sensitif, penisislin akan menghasilkan efek bakterisid pada mikroba yang disebut juga sebagai persisters, praktis tidak dipengaruhi oleh penisislin; kalaupun ada pengaruhnya hanya bakteriostatik (Terapi; 625). Biotransformasi dan ekskresi Biotransformasi penisislin umumnya dilakukan oleh mikroba. Proses biotransformasi oleh hospes tidak bermakna berdasarkan pengaruh enzim penisilinase dan amidase. Akibat pengaruh penisilinase terjadi pemecahan cincin betalaktam, dengan kehilangan seluruh aktifitas antimikroba. Amidase memecah rantai samping (radikal ekor), dengan akibat penurunan potensi antimikroba yang sangat mencolok. Diantara semua penisilin, hanya penisislin, isoksazolil, metisilin dan nafsislin yang tahan terhadap pengaruh penisilinase, sedangkan

amidase dapat mempengaruhi semua penisilin tanpa kecuali. Untungnya tidak banyak mikroba yang menghasilkan enzim amidase. Penisilinase umumnya diekskresi melalui proses sekresi ditubuli ginjal yang dapat dihambat oleh probenesid. Masa paruh eliminasi penisilin dalam darah diperpanjang oleh probenesid menjadi 2 3 kali lebih lama. Selain probenesid, beberapa obat lain juga meningkatkan masa paruh eliminasi penisislin dalam darah, antara lain fenilbutazon, sulfaferazin, asetosal dan indometazin. Kegagalan fungsi ginjal sangat memperlambat ekskresi penisilin. Sebagai contoh, masa paruh eliminasi karbenisilin yang pada ginjal sehat sekitar 1 jam dapat memanjang menjadi 15 jam, akumulasi umumnya tidak terjadi karena peningkatan biotransformasi di hepar (hati). Mekanisme amoksisilin (Terapi; 825) Mekanisme kerja antibiotik betalaktam dapat diringkas dengan urutan sebagai berikut: 1. Obat bergabung dengan penisilin binding protein (PBPs) pada kuman. 2. Terjafi hambatan sintesis dinding sel kuman karena proses transpeptida antar rantai peptidoglikon terganggu. 4. Kemudian terjadi aktivitas enzim proteolitik pada dinding sel.

Dosis (RPS 18th; 1186)

Dewasa dan anak-anak: 20 kg atau lebih : 250 500 mg tiap 8 jam Sebanyak 4,5 g sehari. Untuk gonorhea: 3 g diberikan dalam dosis tunggal dengan 1 g prebenesid. Bagi dengan BB < 6 kg: 25 50 mg setiap 8 jam 6 8 kg: 50 100 mg setiap 8 jam. Dosis sediaan Suspensi oral: 125 mg/ 5 ml (Terapi; 631). Suspensi oral: 50 mg/ml; 125 mg/ml. 125 mg/5ml, dan 250 mg/5ml (RPS 18th; 1186). Efek samping amoksisilin (MD 32th; 152) 1. Kurang terjadi diare dengan amoksisilin dibanding ampisislin. 2. Hepatitis dan penyakit kuning kolestatik telah dihapuskan dengan kombinasi amoksisilin dengan klavulanat. 3. Eritema dengan berbagai bentuk (termsuk sindrom Steve-Jonsen), epidermal toksik nekrolisis dan dermatitis exfoliative juga kadangkadang ditimbulkan amoksisilin dan klavulanat. Farmakokinetik amoksisilin (MD 32th; 152) Amoksisilin resisten terhadap aktivitas oleh asam lambung, lebih cepat dan lebih lengkap diabsorbsi daripada ampisislin jika diberikan lewat mulut. Puncak plasma konsentrasi amoksisilin sekitar 5 mh/ml, telah diamati 1 2 lam setelah pemberian 250 mg. Yang dapat

dideteksi jumlah yang ada sampai 8 jam. Penggandaan dosis dapat mempergandakan konsentrasi. Kehadiran makanan dalam perut tidak muncul untuk mengurangi jumlah total yang diabsorbsi. Amoksisilin diberikan dengan injeksi sebagai garam natrium dan umumnya, konsentrasi yang serupa lewat i.m sebagaimana

penggunaan oral plasma protein meningkat dalam sirkulasi dan plasma dapat lebih lama dalam neonatus dan usia lanjut, dalam kerusakan ginjal, t-nya 7 20 jam. Amoksisilindidistribusikan secara luas pada plasenta, sejumlah kecil didistribusi ke ASI. Komposisi amoksisilin suspensi oral Contoh formula (Drug Form; 545) Amoksisilin trihidrat Na-CMC Aerosil Pewarna tartrazine Na-benzoat 12 g 270 g 3,8 kg 1,1 kg 450 g

Sugar pharm grade 54 kg Pineaple flavour dry 600 g

Contoh formula (Drug ex manual; 645) Tiap 5 ml sirup mengandung:

Amoksisilin trihidrat setara dengan Amoksisilin Ukuran Batch 125 mg 60 kg 20 g/70 ml x 100% =

Kemasan biasa 20 kg dalam 70 ml 28,57% Komposisi suspensi kering (Ansel; 374) 1. Bahan aktif Iantibiotik) 2. Pewarna 3. Pemanis 4. Flavour 5. Penstabil 6. Pensuspensi 7. Zat pengawet.

Komposisi granulasi dalam pembuatan tablet (Scoville; 94) 1. Zat aktif 2. Pengisi 3. Pengikat 4. Pewarna 5. Penghancur 6. Pengaroma 7. Lubrikan.

Granulasi basah (PDF; 137)

1. Penghalusan obat dan bahan tambahan 2. Pencampuran serbuk yang halus 3. Penyiapan larutan pengikat 4. Campurkan larutan pengikat dengan campuran serbuk ke dalam bentuk massa basah 5. Pengayakan kasar dari massa basah menggunakan mesh 6 12 6. Pengeringan granul lembab 7. Pengayakan massa kering dengan lubrikan dan penghancur 8. tablet dicetak.

Natrium Carboksimetilsellulosa (Na-CMC) Larutan berair dari Na-CMC menunjukkan aliran pseudoplastik (Excipients; 45). Na-CMC larut air digunakan dalam farmasi digantikan selulosa mengandung dari 0,65 0,85 kelompok karboksil per glukosa anhidrat unit (Parrot; 353). Digunakan sebagai pensuspensi dan atau bahan pengikat tablet, bahan penyalut, lainnya: penghancur, pengental, penstabil suspensi (Excipients; 45). Bahan pengemulsi 0,25 1,0% Pembentuk gel 4,5 6,0 %

Pengikat diterima.

1,6 % dalam larutan atau sebagai padatan yang

Konsentrasi sebagai bahan pensuspensi 0,5 2% (Scoville; 303). Na-CMC larut dalam air dingin atau air panas (Parrot; 353). Na-CMC adalah bahan pembantu anionik, larut dalam air dengan ion dipol dan interaksi dipol-dipol (Parrot; 353).

Larutan Na-CMC sedikit basa dan stabil dari pH 6 10. Pada pH diturunkan larutan akan kehilangan viskositas dan pada pH 2, asam bebas akan diendapkan (Parrot; 353).

Incompabilitas: Na-CMC incomp dengan asa kuat dan dengan garam larut dari besi dan beberapa logam seperti aluminium, merkuri dan zink (Excipient; 45).

Natrium Benzoat dan Metil Paraben Digunakan pada formula farmasetik sebagai antifungi dan pengawet antibakteri pada konsentrasi 0,1% (EXP; 202). Efek pengawetnya bagus dalam media yang agak asam (MI 9 th; 8330). Sebagai bahan pengawet yang baik pada makanan, dengan sediaan farmasetik hanya bersifat bakteriostatik (menghambat) tetapi tidak bakterisid dan bersifat fungistatik (RPS 18th; 1173).

Konsentrasi metil paraben 0,05 0,25% (Excipient; 185).

Eritrosin Pewarna makanan dan farmasetik (Excipients; 81). Bercampur dengan 10% larutan sukrosa, 1% larutan NaHCO 3 cair jenuh, gelatin-gelatin (Excipients; 81). Warna pada larutan beraur: merah cerry, penambahan HCl

menyebabkan endapan kuning coklat (Excipients; 82). Stabilitas: baik pada suhu 105o, pH > 7 (Excipients; 80). Konsentrasi pewarna 0,0005 0,01% (Parrot; 180).

Stawberry Flavour Dry Konsentrasi pengaroma 0,2 1% (Prescriptions; 180). Pilihan pengaroma untuk obat antibiotik, chery maple, jeruk nenas, rasberry, pisang nenas, pisang vanilla, butterscoth maple, kelapa mustard, strawberry vanila, buah-buahan, kayu manis (DOM; 654).

Sukrosa Digunakan sebagai bahan pemanis, pengisis tablet dan atau kapsul, bahan penyalut (Excipients; 304). Konsentrasi sebagai pemanis 85% (Excipient; 308).

IV. Uraian Bahan 1. Amoksisilin (RPS 18th; 1186, Kenneth; 190) Nama resmi Sinonim RM/BM Rumus bangun : Amoxicillum : p-hidroksi ampisislin : C16H19O5S. 3H2O / 419,45 : H HO-NH2 - C CONH ---S N H COOH CH3 CH3

Pemerian

: Halus, putih, serbuk kental, rasa pahit, kelembaban tinggi dan temperatur lebih 37 o mungkin mempengaruhi kestabilan.

Kelarutan Khasiat Penyimpanan Stabilitas

: 1 g dalam 370 ml air atau 2000 ml alkohol : Sebagai antibakteri : Dalam wadah tertutup rapat : Sebagaimana ampicilin, pada temperatur tinggi dan kelembaban molekul air dari kristal akan cukup bebas untuk ikut serta dalam reaksi hidrolisis. Selanjutnya harus berhati-berhati untuk

mempertahankan temperatur dan kelembaban tetap terjaga pada penyimpanan sediaan.

2. Na-CMC (RPS 18th; 1305, Excipients; 45) Nama resmi Sinonim: RM/BM : Carboxymethilcellulose Sodium : Na-CMC : [C8H2O2(OH)3-x(OCH2-COONa)x]n 200.000 Pemerian : Serbuk atau granul putih sampai krem, / 90.000 -

higroskopik. PH sekitar 7,5, tidak berbau. Kelarutan : Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal, tidak larut dalam alkohol, eter dan pelarut organik lainnya. Kegunaan Stabilitas : Sebagai bahan pensuspensi : Sterilisasi baik bentuk padat maupun larutan menurunkan penyimpanan. Incompabilitas : Dengan larutan asam kuat dan garam besi larut air serta beberapa logam lain seperti aluminium, Hg dan Zn. 3. Sukrosa (RPS 18th; 1298, Excipients; 304) Nama resmi : Sucrose viskositas, bahan stabil dalam

Sinonim RM/BM Pemerian

: Gula : C12H22O4 / 342,30 : Kristal tidak berwarna, atau kristal putih, tidak berbau, dan rasa manis.

Kelarutan

: 1 g dalam 0,5 ml air, 170 ml alkohol atau 0,2 ml air mendidih, tidak larut dalam kloroform atau eter.

Kegunaan Incompabilitas

: Sebagai pemanis, pengisi : Serbuk sukrose sering terkontaminasi dengan mineral logam berat. Incompabilitas bahan

(misalnya vitamin C) juga terkontaminasi dengan sulfit. Pada kehadiranasam encer sukrosa

terhidrolisis atau berubah menjadi glukosa dan fruktosa. Stabilitas : Kestabilan yang baik pada suhu kamar dan kelembaban sedang, menguap 1% dalam air jika dibiarkan pada pemanasan sampai 90o C. 4. Natrium Benzoat (FI III; 395) Nama resmi Sinonim RM/BM Rumus bangun : Natrii benzoas : Na-Benzoat : C7H6NaO2 / 144,11 :

------- --

--CO2Na

pemerian

: Butiran atau erbuk hablur; putih; tidak berbau atau hampir tidak berbau.

Kelarutan

: Larut dalam 2 bagian air dan dalam 90 bagian etanol (95%) P.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

Khasiat/kegunaan : Zat pengawet. 5. Metil paraben (Exp ; 184) Nama resmi Sinonim RM / BM Rumus bangun: COOCH3 OH : Methyl hydroxybenzoate : Nipagin : C8H8O3/152,15

Pemerian

: Putih, hamper tidak berbau, serbuk dengan rasa agak terbakar.

Kelarutan

: Larut dalam 400 bagian air, 1 dalam 3 bagian alcohol dan dalam 10 bagian eter, larut bebas dalam metil alcohol.

Kegunaan

: Sebagai pengawet

Incomp

: Metil paraben seharusnya disimpan pada wadah tertutup baik, larutan cair pada 3-6 dapat disterilkan pada 120oC selama 20 menit tanpa terurai. Larutan encer pada pH 3 6 stabil (kurang dari 10% terurai) sampai kira kira 4 % pada suhu kamar, larutan air pada pH 8 atau lebih tinggi sebagai bahan penghidrolisis yang cepat (10%) atau lebih setelah 60 hari pada suhu kamar.

Konsentrasi Penyimpanan

: 0,05 0,25% (Exp; 185) : Dalam wadah tertutup rapat

V. Perhitungan 1. Perhitungan Dosis Amoksisilin a. Dewasa dan anak-anak dengan BB > 20 kg: 250 mg 500 mg/8 jam 250 mg 500 mg x 5 ml = 10 20 ml (2 4 sdt) ~ 15 ml (1 sdm) 125 mg Aturan pakai: 1 sdm tiap 8 jam atau 3 kali sehari 1 sdm.

b. anak-anak dengan BB , 20 kg: 125 mg 250 mg/8 jam

125 mg 250 mg x 5 ml = 5 10 ml (1 2 sdt) 125 mg

Aturan pakai: 1 2 sdt tiap 8 jam atau 3 kali sehari 1 2 sdt. Keterangan: sdt = Sendok teh Sdm = Sendok makan 2. Perhitungan Bahan Untuk formula bentuk granul Dibuat 60 ml + 10% = 66 ml ~ 30 g + 10% = 33 g a. Amoksisilin : 125 mg/5 ml x 66 ml = 1650 mg

b. Na-CMC : 1% x 66 ml = 0,66 g = 660 mg c. Eritrosin : 0,005% x 66 ml = 3,3 x 10-3g = 3,3 mg d. Strawberry flavour dry : 0,5% x 66 ml = 0,33 g = 330 mg e. Metil paraben : 0,1% x 66 ml = 0,066 g = 66 mg

f. Sukrosa : 50% - (2,5% + 1% + 0,005% + 0,5% + 0,1%) = 45,895% = 45,895% x 66 ml = 30,29 g = 30290 mg Untuk formula bentuk serbuk kering Dibuat 60 ml + 10% = 66 ml ~ 30 g + 10% = 33 g a. Amoksisilin : 125 mg/5 ml x 66 ml = 1650 mg

b. Na-CMC : 1% x 66 ml = 0,66 g = 660 mg c. Eritrosin : 0,005% x 66 ml = 3,3 x 10-3g = 3,3 mg d. Strawberry flavour dry : 0,5% x 66 ml = 0,33 g = 330 mg e. Na-Benzoat : 0,1% x 66 ml = 0,066 g = 66 mg

f. Sukrosa : 50% - (2,5% + 1% + 0,005% + 0,5% + 0,1%) = 45,895% = 45,895% x 66 ml = 30,29 g = 30290 mg 3. Perhitungan Pengenceran 66 mg 10 ml

5 ml (~ 33 mg)

10 ml

1 ml (~ 3,3 mg) VI. Cara Kerja 1. Untuk Formulasi Serbuk Kering a. Alat dan bahan disiapkan b. Ditimbang bahan sesuai perhitungsn c. Amoksisilin, sukrosa (serbuk gula), Na-CMC dihaluskan terlebih dahulu dalam lumpang. d. Serbuk gula dikeringkan pada suhu 40 oC selama 30 menit dan dimasukkan ke dalam wadah pencampur.

e. Amoksisilin 1650 mg, Na-CMC 660 mg, Strawberry flavour dry 330 mg, Na-benzoat 66 mg dan eritrosin 3,3 mg dimasukkan ke dalam sukrosa yang telah dikeringkan. f. Dicampur hingga homogen g. Ditimbang 30 g lalu dimasukkan ke dalam wadah botol h. Diberi etiket dan brosur. 2. Untuk Formulasi Bentuk Granul a. Alat dan bahan disiapkan. b. Ditimbang bahan sesuai perhitungan c. Disiapkan mucilago Na-CMC dengan cara: Dilarutkan metil paraben ke dalam 100 ml air panas, kemudian ditambahkan 660 mg Na-CMC dan dimikser hingga homogen, lalu ditambahkan hasil pengenceran eritrosin dan pengaroma

strawberry, diaduk hingga homogen. d. Campuran (c) ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam serbuk sukrosa hingga membentuk massa yang lembab. e. Massa dibuat granul dengan meletakkannya pada ayakan dengan no mesh 8 -12 f. Granul dikeringkan pada suhu 60oC selama 8 jam. g. Granul kering dicampurkan dengan amoksisilin. h. Ditimbang 30 g lalu dimasukkan ke dalam wadah botol. i. Diberi etiket dan brosur.

A. Brosur formula bentuk serbuk kering

Mikafasilin Suspensi Kering Isi Bersih : 60 ml Komposisi Tiap 5 ml mengandung : Amoksisilin Farmakologi OXYCILIN merupakan senyawa Penisilina semi sintetik dengan aktivitas antibakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid, dengan mengahambat pembentukan dinding sel, kemudian membentuk spheroblast akhirnya terjadi lyssis diding sel bakteri. Indikasi OXYCILIN efektif terhadap penyakit: Infeksi saluran pernapasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis 125 mg

gonore), bronkitis, laringitis. Infeksi saluran cerna: disentri basiler. Infeksi saluran kemih: gonore tidak terkomplikasi,

uretritis, sistitis, pielonefritis. Infeksi lain: septikemia, endokarditis. Kontra Indikasi Pasien dengan reaksi alergi terhadap Penisilina. Efek Samping Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit,

pruritus, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis. Aturan Pakai Dewasa dan anak-anak dengan berat badan > 20 Kg 1 sendok makan tiap 8 jam. Anak-anak dengan berat badan < 20 Kg 1 2 sendok teh tiap 8 jam. Peringatan dan Perhatian Pengguaan dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi , terutama pada

saluran gastrointestinal. Hati-hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui dapat menyebabkan sensitivitas pada bayi.

Cara Penggunaan Tambahkan aqua destillata hingga tanda batas ke dalam botol. Kocok baik-baik hingga diperoleh suspensi yang baik dan homogen. Sesudah penambahan aqua destillata tidak boleh disimpan lebih dari 7 hari. Cara Penyimpanan Simpan dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dan kering.

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

No. Registrasi : DKL 0328047838 A1

Produksi BIDADARI LABORATORIES Makassar Indonesia

B. Brosur Formula bentuk granul

0XYCILIN Suspensi Kering Isi Bersih : 60 ml Komposisi Tiap 5 ml mengandung : Amoksisilin Farmakologi OXYCILIN merupakan senyawa Penisilina semi sintetik dengan aktivitas antibakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid, dengan mengahambat pembentukan dinding sel, kemudian membentuk spheroblast akhirnya terjadi lyssis diding sel bakteri. Indikasi OXYCILIN efektif terhadap penyakit: Infeksi saluran pernapasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis 125 mg

gonore), bronkitis, laringitis. Infeksi saluran cerna: disentri basiler. Infeksi saluran kemih: gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis. Infeksi lain: septikemia, endokarditis.

Kontra Indikasi Pasien dengan reaksi alergi terhadap Penisilina. Efek Samping Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit,

pruritus, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis. Aturan Pakai Dewasa dan anak-anak dengan berat badan > 20 Kg 1 sendok makan tiap 8 jam. Anak-anak dengan berat badan < 20 Kg 1 2 sendok teh tiap 8 jam. Peringatan dan Perhatian Pengguaan dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi , terutama pada

saluran gastrointestinal. Hati-hati pemberian pada wanita hamil dan menyusui dapat menyebabkan sensitivitas pada bayi. Cara Penggunaan Tambahkan aqua destillata hingga tanda batas ke dalam botol. Kocok baik-baik hingga diperoleh

Produksi BIDADARI LABORATORIES Makassar Indonesia