Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Umat muslim, dalam hidupnya berpegang teguh pada Al Quran dan Al Hadist sebagai pedoman hidupnya. Dari kedua pedoman tersebut, umat muslim tidak perlu khawatir dalam menjalani persoalan hidup. Segala apa yang menjadi persoalan, solusi, peringatan, kebaikan dan ancaan termuat di dalam pedoman tersebut. Bahkan dalam Al Quran dan Al Hadist permasalahan politik juga tertuang didalamnya. Diantaranya membahas: prinsip politik islam, prinsip politik luar negeri islam. Baik politik luar negeri dalam keadaan damai maupun dalam keadaan perang. Prinsip-prinsip politik yang tertuang dalam Al Quran dan Al Hadist merupakan dasar politik islam yang harus diaplikasikan kedalam system yang ada. Diantaranya prinsipprinsip politik islam tersebut: 1. Keharusam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Al Mumin:52). 2. Keharusan menyelesaikan masalah ijtihadnya dengan damai (Al Syura:38 dan Ali Imran:159) 3. Ketetapan menunaikan amanat dan melaksanakan hukum secara adil (Al Nisa:58) 4. Kewajiban menaati Allah dan Rosulullah serta ulil amr (Al Nisa:59) 5. Kewajiban mendamaikan konflik dalam masyarakat islam (Al Hujarat:9) 6. Kewajiban mempertahankan kedaulatan negara dan larangan agresi (Al Baqarah:190) 7. Kewajiban mementingkan perdamain dari pada permusuhan (Al Anfal:61) 8. Keharusan meningkatkan kewaspadaan dalam pertahanan dan keamanan (Al Anfal:60) 9. Keharusan menepati janji (An Nahl:91) 10. Keharusan mengutamakan perdamaian diantara bangsa-bangsa (Al Hujarat:13) 11. Keharusan peredaran harta keseluruh masyarakat (Al Hasyr:7) 12. Keharusan mengikuti pelaksanaan hukum 1 0

Menurut Abdul Halim Mahmud (1998) bahwa islam juga memiliki politik luar negeri. Tujuan dari politik luar negeri tersebut adalah penyebaran dakwah kepada manusia di penjuru dunia, mengamankan batas territorial umat islam dari fitnah agama, dan system jihad fisabilillah untuk menegakkan kalimat Allah SWT. Jadi politik bermakna instansi dari negara untuk keamanan kedaulatan negara dan ekonomi. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana pandangan islam mengenai politik yang menghalalkan segala cara? 1.2.2 Bagaimana pendapat islam tentang pemerintahan yang otoriter? 1.2.3 Bagaimana pandangan islam tentang perang islam melawan negara Barat? 1.3 Tujuan 1.3.1 Mengetahui pandangan islam tentang politik menghalalkan segala cara. 1.3.2 Mengetahui pandangan islam tentang pemerintah otoriter 1.3.3 Mengetahui pandangan islam tentang perang negara Islam dengan negara Barat.

1 0

BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian Politik Islam Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama salafush shalihh dikenal istilah siyasah syariyyah, misalnya. Dalam Al Muhith, siyasah berakar kata ssa - yassu. Dalam kalimat Sasa addawaba yasusuha siyasatan berarti Qama alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan sasa al amra artinya dabbarahu (mengurusi/mengatur perkara). Jadi, asalnya makna siyasah (politik) tersebut diterapkan pada pengurusan dan pelatihan gembalaan. Lalu, kata tersebut digunakan dalam pengaturan urusan-urusan manusia; dan pelaku pengurusan urusan-urusan manusia tersebut dinamai politikus (siyasiyun). Dalam realitas bahasa Arab dikatakan bahwa ulil amri mengurusi (yassu) rakyatnya saat mengurusi urusan rakyat, mengaturnya, dan menjaganya. Begitu pula dalam perkataan orang Arab dikatakan : Bagaimana mungkin rakyatnya terpelihara (massah) bila pemeliharanya ngengat (ssah), artinya bagaimana mungkin kondisi rakyat akan baik bila pemimpinnya rusak seperti ngengat yang menghancurkan kayu. Dengan demikian, politik merupakan pemeliharaan (riayah), perbaikan (ishlah), pelurusan (taqwim), pemberian arah petunjuk (irsyad), dan pendidikan (ta`dib). Rasulullah SAW sendiri menggunakan kata politik (siyasah) dalam sabdanya : "Adalah Bani Israil, mereka diurusi urusannya oleh para nabi (tasusuhumul anbiya). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak para khalifah" (HR. Bukhari dan Muslim). Teranglah bahwa politik atau siyasah itu makna awalnya adalah mengurusi urusan masyarakat. Berkecimpung dalam politik berarti memperhatikan kondisi kaum muslimin dengan cara menghilangkan kezhaliman penguasa pada kaum muslimin dan melenyapkan kejahatan musuh kafir dari mereka. Untuk itu perlu mengetahui apa yang dilakukan penguasa dalam rangka mengurusi urusan kaum muslimin, mengingkari keburukannya, menasihati pemimpin yang mendurhakai rakyatnya, serta memeranginya pada saat terjadi kekufuran yang nyata ( kufran

1 0

bawahan) seperti ditegaskan dalam banyak hadits terkenal. Ini adalah perintah Allah SWT melalui Rasulullah SAW.

Berkaitan dengan persoalan ini Nabi Muhammad SAW bersabda : "Siapa saja yang bangun pagi dengan gapaiannya bukan Allah maka ia bukanlah (hamba) Allah, dan siapa saja yang bangun pagi namum tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia bukan dari golongan mereka." (HR. Al Hakim) Rasulullah ditanya oleh sahabat tentang jihad apa yang paling utama. Ia menjawab : "Kalimat haq yang disampaikan pada penguasa" (HR. Ahmad). Berarti secara ringkas Politik Islam memberikan pengurusan atas urusan seluruh umat Muslim. Namun, realitas politik demikian menjadi pudar saat terjadi kebiasaan umum masyarakat dewasa ini baik perkataan maupun perbuatannya menyimpang dari kebenaran Islam yang dilakukan oleh mereka yang beraqidahkan sekularisme, baik dari kalangan non muslim atau dari kalangan umat Islam. Jadilah politik disifati dengan kedustaan, tipu daya, dan penyesatan yang dilakukan oleh para politisi maupun penguasa. Penyelewengan para politisi dari kebenaran Islam, kezhaliman mereka kepada masyarakat, sikap dan tindakan sembrono mereka dalam mengurusi masyarakat memalingkan makna lurus politik tadi. Bahkan, dengan pandangan seperti itu jadilah penguasa memusuhi rakyatnya bukan sebagai pemerintahan yang shalih dan berbuat baik. Hal ini memicu propaganda kaum sekularis bahwa politik itu harus dijauhkan dari agama (Islam). Sebab, orang yang paham akan agama itu takut kepada Allah SWT sehingga tidak cocok berkecimpung dalam politik yang merupakan dusta, kezhaliman, pengkhianatan, dan tipu daya. Cara pandang demikian, sayangnya, sadar atau tidak memengaruhi sebagian kaum muslimin yang juga sebenarnya ikhlas dalam memperjuangkan Islam. Padahal propaganda tadi merupakan kebenaran yang digunakan untuk kebathilan. Jadi secara ringkas Islam tidak bisa dipisahkan dari politik.

1 0

2.2 Tujuan Politik Islam Sistem Politik Islam mempunyai tujuan yang murni dan tinggi. Yang terpentingnya adalah seperti berikut: 2.2.1 Menegakkan Agama dan Merealisasikan Perhambaan Kepada Allah Tuhan Semesta Alam Maksudnya: Allah telah menerangkan kepada kamu di antara perkara-perkara agama yang Ia tetapkan hukumnya apa yang telah diperintahkanNya kepada Nabi Nuh, dan yang telah Kami (Allah) wahyukan kepadamu (wahai Muhammad), dan juga yang telah Kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa serta Nabi Isa, iaitu: Tegakkanlah pendirian agama, dan janganlah kamu berpecah belah atau berselisihan pada dasarnya. Berat bagi orang-orang musyrik (untuk menerima ugama tauhid) yang engkau seru mereka kepadanya. Allah memilih serta melorongkan sesiapa yang dikehendakiNya untuk menerima agama tauhid itu, dan memberi hidayah petunjuk kepada agamaNya itu sesiapa yang rujuk kembali kepadaNya (dengan taat). (Surah al-Syura: 13) Maksudnya: Iaitu mereka (umat Islam) yang jika Kami berikan mereka kekuasaan memerintah di bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat, dan mereka menyuruh berbuat kebaikan serta melarang dari melakukan kejahatan dan perkara yang mungkar. Dan (ingatlah) bagi Allah jualah kesudahan segala urusan.(Surah al-Hajj: 41) Sistem Politik Islam juga untuk menyebar risalah Islam di atas muka bumi ini dengan menggunakan berbagai cara yang dibenarkan dan dengan kadar yang termampu. Firman Allah S.W.T : Maksudnya: Dan tiadalah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai Rasul pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar); akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu). (Surah Saba: 28)

1 0

2.2.2 Menegakkan Keadilan Tujuan politik Islam adalah untuk merealisasikan keadilan dengan seluas-luasnya dan dalam berbagai lapangan sama ada kemasyarakatan , kehakiman, pentadbiran dan pengurusan, politik serta hubungan antarabangsa. Ini termasuklah perlindungan hak-hak, memelihara kebebasan dan persamaan. Menegakkan Negara Islam ataupun masyarakat Islam itu bukan merupakan tujuan itu sendiri. Tujuannya adalah untuk mewujudkan satu umat yang berdiri di atas kebaikan dan keadilan, iaitu umat yang mampu membenarkan yang benar dan mampu membatil yang batil. Melindungi orang ramai daripada kezaliman serta menegakkan keadilan di atas muka bumi ini merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh risalah Islam dari segi kemasyarakatan. Firman Allah S.W.T.: Maksudnya: Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi (faedah) umat manusia, (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). Dan kalaulah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) itu beriman (sebagaimana yang semestinya), tentulah (iman) itu menjadi baik bagi mereka. (Tetapi) di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka: orang-orang yang fasik. (Surah Ali Imran: 110) Negara Islam merupakan satu mekanisme politik ke arah merealisasikan cita-cita yang tinggi ini. Negara Islam juga menjadikan Syariah Islam sebagai undang-undang yang memanyungi hal ehwal kehidupan rakyat, supaya kebenaran, kebaiakn dan keadilan terus dapat didaulatkan. Negara Islam juga mengatur segala hubungan kemasyarakatan dan ekonomi dengan satu cara yang membolehkan setiap individu memelihara kebebasan, keamanan serta kemuliannya. 2.2.3 Memperbaiki Keadaan Manusia Hukum Islam tidak hanya terbatas kepada hudud sahaja atau semata-mata adanya kepimpinan yang membawa kepada penyatuan orang Islam sahaja, tetapi ia bertanggungjawab dalam memperbaiki keadaan manusia sama ada dalam bidang ekonomi, kemasyarakatan, kebudayaan, penerangan, pendidikan, pertahanan dan rekaan. Semua ini dilakukan seiring dengan reformasi politik. Inilah yang dimaksudkan dengan risalah reformasi Islam.

1 0

Tujuan tertinggi perundangan Islam adalah untuk mereformasikan perkara-perkara halal dan haram. Allah menurunkan syariah bukan dengan tujuan lain, melainkan kesemuanya bertujuan untuk memberi kebaikan, hidayah dan kesenangan kepada manusia dan membuang kesusahan daripada mereka.

Firman Allah S.W.T.: Maksudnya: Allah menghendaki (dengan apa yang telah diharamkan dan dihalalkan dari kaum perempuan itu) ialah untuk menerangkan (SyariatNya) dan untuk menunjukkan kepada kamu jalan-jalan aturan orang-orang yang dahulu daripada kamu (Nabi-nabi dan orangorang yang soleh, supaya kamu mengikutinya), dan juga untuk menerima taubat kamu. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. Dan Allah hendak (membersihkan kamu dari dosa dengan) menerima taubat kamu, sedang orang-orang (yang fasik) yang menurut keinginan hawa nafsu (yang diharamkan oleh Allah itu) hendak mendorong kamu supaya kamu menyeleweng (dari kebenaran) dengan penyelewengan yang besar bahayanya. Allah (sentiasa) hendak meringankan (beban hukumnya) daripada kamu, kerana manusia itu dijadikan berkeadaan lemah. (Surah an-Nisa: 26-28) Negara Islam dengan sistem politiknya juga bertujuan untuk memakmurkan bumi ini serta memberikan cara hidup yang mulia kepada semua rakyatnya, di samping memberi peluang yang sama rata dan adil dalam membahagi-bahagikan kekayaan Negara. Firman Allah S.W.T.: Maksudnya: Apa yang Allah kurniakan kepada RasulNya (Muhammad) dari harta penduduk negeri, bandar atau desa dengan tidak berperang, maka adalah ia tertentu bagi Allah, dan bagi Rasulullah, dan bagi kaum kerabat (Rasulullah), dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta orang-orang musafir (yang keputusan). (Ketetapan yang demikian) supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya dari kalangan kamu. Dan apa jua perintah yang dibawa oleh Rasulullah (s.a.w) kepada kamu maka terimalah serta amalkan, dan apa jua yang dilarangNya kamu melakukannya maka patuhilah laranganNya. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah amatlah berat azab seksaNya (bagi orang-orang yang melanggar perintahNya).(Surah al-Hasyr: 7 ) Jika benar-benar sistem politik Islam dan undang-undang ini diamalkan, maka akan dapati sistem politik ini mempunyai tiga tujuan yaitu: Menyekat kerusakan, menarik kebaikan dan bergerak di atas landasan makrim al-akhlaq iaitu budi pekerti yang mulia. Jadi dengan 1 0

menegakkan sistem politik Islam dan syariah Allah, ketiga-tiga tujuan di atas akan dapat direalisasikan dan akan membawa kebaikan kepada seluruh manusia.

1 0

3.Prinsip Politik Islam


Prinsip-prinsip sistem politik Islam terdiri daripada beberapa perkara di antaranya: 3.1 Musyawarah Prinsip pertama dalam sistem politik Islam ialah musyawarah. Asas musyawarah yang paling utama adalah berkenaan dengan pemilihan ketua negara dan orang- orang yang akan menjawat tugas-tugas utama dalam pentadbiran ummah. Asas musyawarah yang kedua pula adalah berkenaan dengan penentuan jalan dan cara perlaksanaan undang-undang yang telah dimaktubkan di dalam al-guran dan al Sunnah. Asas musyawarah yang seterusnya ialah berkenaan dengan jalan -jalan menentukan perkara- perkara baru yang timbul di kalangan ummah melalui proses ijtihad. 3.2 Keadilan Prinsip kedua dalam sistem politik Islam ialah keadilan. Ini adalah menyangkut dengan keadilan sosial yang dijamin oleh sistem sosial dan sistem ekonomi Islam. Keadilan di dalam bidang bidang sosioekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa wujudnya kuasa politik yang melindungi dan mengembangkannya. Di dalam perlaksanaannya yang luas, prinsip keadilan yang terkandung dalam sistem politik Islam meliputi dan menguasai segala jenis perhubungan yang berlaku di dalam kehidupan manusia, termasuk keadilan di antara rakyat dan pemerintah, di antara dua pihak yang bersengketa di hadapan pihak pengadilan, di antara pasangan suami isteri dan di antara ibu bapa dan anak anaknya. Oleh sebab kewajiban berlaku adil dan menjauhi perbuatan zalim adalah merupakan di antara asas utama dalam sistem sosial Islam, maka menjadi peranan utama sistem politik Islam untuk memelihara asas tersebut. Pemeliharaan terhadap keadilan merupakan prinsip nilai-nilai sosial yang utama kerana dengannya dapat dikukuhkan kehidupan manusia dalam segala aspeknya. 3.3 Persamaan Prinsip ketiga dalam sistem politik Islam ialah persamaan atau musawah. Persamaan di sini terdiri daripada persamaan dalam mendapat dan menuntut hak-hak, persamaan dalam memikul tanggungjawab menurut peringkat -peringkat yang ditetapkan oleh undang-undang perlembagaan dan persamaan berada di bawah taklukan kekuasaan undang -undang. 1 0

3.4 Kebebasan Kebebasan yang diipelihara olehsistem politik Islam ialah kebebasan yang berterskan kepada makruf dankebajikan. Menegakkan prinsip kebebasan yang sebenaradalah tujuan terpentingbagi sistem politik dan pemerintahan Islam serta menjadi asas-asas utama bagiundang-undang perlembagaan negara Islam 3.5 Hak Menghisab Pihak Pemerintah Hak rakyat untuk menghisab pihak pemerintah dan hak mendapat penjelasan terhadap tindak tanduknya. Prinsip ini berdasarkan kepada kewajipan pihak pemerintah untuk melakukan musyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan dan pentadbiran negara dan ummah. Hakrakyat untuk disyurakan adalah bererti kewajipan setiap anggota dalammasyarakat untuk menegakkan kebenaran dan menghapuskan kemungkaran. Dalampengertian yang luas, ini juga bererti bahawa rakyat berhak untuk mengawasi dan menghisab tindak tanduk dan keputusan-keputusan pihak pemerintah Prinsip ini berdasarkan kepada firman Allah yang mafhumnya: Dan apabila ia berpaling (daripada kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerosakan padanya, dan merosak tanaman tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (Al-Baqarah: 205) ..maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikut hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan kamu daripada jalan Allah. Sesungguhnya orang orang yang sesat daripada jalan Allah akan mendapat azab yang berat, kerana mereka melupakan hari perhitungan. (Sad: 26)

1 0

4.Kontribusi Umat Islam Dalam Perpolitikan Nasional


Islam sebagai sebuah ajaran yang mencakup persoalan spiritual dan politik telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap kehidupan politik di Indonesia. Sebagaimana di bidang lain, kaum Muslimin telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Indonesia, tak terkecuali di bidang politik. a) Di era kerajaan-kerajaan Islam, ditandai dengan berdirinya berbagai

macam kesultanan di berbagai wilayah Indonesia. Di Sumatera ada Kesultanan Perlak (abad ke-9 - abad ke-13), Kesultanan Samudera Pasai (abad ke-13 - abad ke-16), Kesultanan Malaka (abad ke-14 - abad ke-17) dan Kerajaan Melayu Jambi Di Jawa: Kesultanan Demak (1500 - 1550), Kesultanan Banten (1524 - 1813), Kesultanan Pajang (1568 - 1618), Kesultanan Mataram (1586 - 1755), Kesultanan Cirebon (sekitar abad ke-16). Di Kalimantan: Kesultanan Pasir (1516), Kesultanan Banjar (1526-1905), Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Berau (1400), Kesultanan Pontianak (1771), Kerajaan Tidung, Kesultanan Bulungan(1731). Di Maluku: Kesultanan Ternate (1257 - 1583), Kesultanan Tidore (1110 1947)Kesultanan Jailolo, Kesultanan Bacan, Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682). Di Sulawesi: Kesultanan Gowa (awal abad ke-16 - 1667), Kesultanan Buton (1332 1911) dan Kesultanan Bone (abad 17). b) Di era kolonialisme atau masa penjajahan. Hal ini ditandai dengan perjuangan para santri melawan penjajah. Terdapat nama seperti Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dhien dan lainnya. Umat Islamlah yang sangat berperan dalam mempertahana negeri ini dari kungkungan penjajah.
c) Di era setelah kemerdekaan di Masa Orde Lama. Hal ini ditandai dengan munculnya

partai-partai berasaskan Islam serta partai nasionalis berbasis umat islam dan kedua dengan ditandai sikap pro aktif tokoh-tokoh politik islam dan umat islam terhadap keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia, sejak proses awal kemerdekaan sampai jaman reformasi. Berkaitan dengan keutuhan negara, misalnya Muhammad Natsir pernah menyerukan umat Islam agar tidak mempertentangkan Pancasila dengan Islam.

1 0

d) Di era Orde Baru ditandai dengan keterlibatan umat Islam dalam berpolitik melalui berbagai partai. Meski di era 1970-awal 1990, peran umat Islam sedikit termarjinalkan oleh Orde Baru, tapi berbagai prestasi sudah ditorehkan dengan lahirnya berbagai kebijakan yang berpihak pada penerapan nilai-nilai Islam.

e) Di era Reformasi. Tumbangnya Orde Baru tak mungkin dilepaskan dengan kontribusi umat Islam. Kaum Musliminlah yang menarik gerbang reformasi. Hadirnya berbagai tokoh dari kalangan Islam menandai hal itu. Selain dari ormas besar seperti Amin Rais (Muhammadiyah) dan Abdurahman Wahid (NU), juga dari kalangan anak-anak muda seperti KAMMI, BEM-BEM berbagai Perguruan Tinggi yang mayoritas digerakkan oleh aktivis-aktivis Islam. Sulit dibayangkan reformasi akan bergulir jika tidak didukung umat Islam.

1 0

BAB II Penutup
A.Kesimpulan.
Politik merupakan pemikiran yang mengurus kepentingan masyarakat. Pemikiran tersebut berupa pedoman, keyakinan hukum atau aktivitas dan informasi. Beberapa prinsip politik islam berisi: mewujudka persatuan dan kesatuan bermusyawarah, menjalankan amanah dan menetapkan hukum secara adil atau dapat dikatakan bertanggung jawab, mentaati Allah, Rasulullah dan Ulill Amri (pemegang kekuasaan) dan menepati janji. Setiap pemerintahan harus dapat melindungi, mengayomi masyarakat. Sedangkan penyimpangan yang terjadi adalah pemerintahan yang tidak mengabdi pada rakyatnya menekan rakyatnya. Sehingga pemerintahan yang terjadi adalah otoriter. Yaitu bentuk pemerintahan yang menyimpang dari prinsip-prinsip islam. Dalam politik luar negerinya islam menganjurakan dan menjaga adanya perdamain. Walaupun demikan islam juga memporbolehkan adanya perang, namun dengan sebab yang sudah jelas karena mengancam kelangsungan umat muslim itu sendiri. Dan perang inipun telah memiliki ketentuan-ketentuan hukum yang mengaturnya. Jadi tidak sembarangan perang dapat dilakukan. Politik islam menuju kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh umat.

B.Saran
Demikianlah makalah yang mengulas tentang sistem politik islam ini masih penuh dengan kekurangan-kekurangan. Semoga di masa depan sistem politik islam dapat lebih dipahami dan di terapkan tidak hanya sebagai kover namun juga menjadi acuan dalam berpolitik agar dalam berpolitik kita dapat sesuai ketentuan Allah SWT.

1 0

Daftar pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Politik_Islam http://www.to-src.com/2011/12/makalah-dalam-islam.html http://www.rontogdaily.com/wp/?p=1701 http://rsoft16.blogspot.com/2012/01/sistem-politik-islam.html http://rakyatbijak.blogspot.com/2009/02/tujuan-sistem-politik-dalam-islam.html And special thanks to : mbah google.com

1 0