Anda di halaman 1dari 47

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi dan sekaligus merupakan sebuah investasi sehingga perlu diupayakan, diperjuangkan dan ditingkatkan oleh setiap individu dan oleh seluruh komponen bangsa agar dapat terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Kesehatan bukanlah tanggung jawab pemerintah saja melainkan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat termasuk swasta. Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas merupakan modal utama atau investasi dalam pembangunan. Kesehatan bersama dengan pendidikan dan ekonomi merupakan tiga pilar yang sangat mempengaruhi kualitas hidup sumber daya manusia. Memasuki milenium baru Departemen Kesehatan telah mencanangkan Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan, yang dilandasi paradigma sehat. Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir atau model pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan.

Secara makro paradigma sehat berarti semua sektor memberikan kontribusi positif bagi pengembangan perilaku dan lingkungan sehat, secara mikro berarti pembangunan kesehatan lebih menekankan upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif serta pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan. Salah satu bentuk upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah posyandu.

B. Puskesmas Cipedes 1. Gambaran Umum Puskesmas Cipedes Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Kondisi geografis Kecamatan Cipedes terdiri dari wilayah dataran dan persawahan. Letak Wilayah Kerja Puskesmas Cipedes merupakan satu dari tiga Puskesmas yang berada di Wilayah Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Wilayah kerja Puskesmas Cipedes terdiri dari satu kelurahan yang meliputi 13 RW dan 68 RT dengan batas batas sebagai berikut: Sebelah Utara : Kelurahan Nagarasari Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cigeureung. Sebelah Timur : Kelurahan Panglayungan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Panglayungan. Sebelah Selatan : Kelurahan Panglayungan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Panglayungan. Sebelah Barat : Kelurahan Panyingkiran Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Indihiang.

Secara Administratif Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Cipedes termasuk ke Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya terdiri dari 1 Kelurahan, 13 RW dan 68 RT. Luas wilayah kerja Puskesmas Cipedes meliputi 122,70 Ha terdiri dari : 1. Pemukiman 2. Perkantoran 3. Pertanian / sawah 4. Kolam : 82,25 ha : 10,91 ha : 31,90 ha : 2.64 ha

Sumber; Daftar isian potensi kelurahan

2. KEPENDUDUKAN 1. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk ditiap RW, dengan jumlah KK 4.842 meliputi 14.421 jiwa : Tabel 1.1 Data Jumlah Penduduk Jml Penduduk Jml No Nama RW RT L 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. RW. 01 RW. 02 RW. 03 RW. 04 RW. 05 RW. 06 RW. 07 RW. 08 RW. 09 4 4 5 5 7 5 6 6 5 236 170 327 320 649 333 545 471 328 328 209 458 459 855 434 841 799 493 P 398 221 453 459 919 419 813 776 491 Jml 726 430 911 918 1774 853 1654 1575 984 Jml KK Riil Proyeks i 797 472 1001 1007 1947 938 1817 1729 1080

10 11 12. 13.

RW. 10 RW. 11 RW. 12 RW. 13 Jumlah

4 9 5 3 68

335 505 349 273 4842

555 842 547 429 7249

579 780 494 370 7172

1134 1622 1041 799 14421

1245 1781 1142 878 15834

Sumber : Profil Kel. Cipedes Th 2012

3. Data Sumber Daya a. Sumber Daya Manusia UPTD Puskesmas Cipedes terdiri dari Tabel 1.2. Jumlah Tenaga Kerja Jenis Tenaga Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Perawat Gigi Pelaksana Gizi Tata Usaha Kesling Pelaksana Laboratorium Pelaksana Farmasi Jumlah 2 orang ( 1 Kepala Puskesmas, 1 dokter Fungsional ) 1 orang 7 orang ( 5 Bidan Puskesmas, 2 Bidan Kelurahan ) 12 orang ( 2 Sukwan ) 3 orang ( 1 Sukwan ) 1 orang 3 orang ( 1 orang Ka TU, 2 orang pelaksana ) 1 orang 2 orang 1 orang

Sumber Data Kepegawaian Puskesmas Cipedes

C. Posyandu Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Posyandu merupakan perpanjangan tangan dari Puskesmas yang memberikan pelayanan dan pemantauan kesehatan yang di laksanakan secara terpadu. Pelayanan yang diberikan di posyandu bersifat terpadu, hal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan keuntungan bagi masyarakat karena di posyandu tersebut masyarakat dapat memperolah pelayanan lengkap pada waktu dan tempat yang sama. Sasaran posyandu adalah seluruh masyarakat, terutama bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, wanita usia subur dan pasangan usia subur. Wilayah kerja Puskesmas Cipedes melayani / membina sebanyak 20 posyandu, dengan tingkat kemandirian sebagaimana tergambar dalam tabel berikut :

Tabel 1.3. jenis posyandu POSYANDU NO Nama Posyandu PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Cendana An Nur Anggrek Ungu Anggrek Puspa Kencana Bunga Matahari Kemala Haluma Mawar Melati Harapan Bunda Harapan Kita Al Hamid Tunas Harapan Kartika Annisa Plamboyan Saluyu Kenanga -

Sumber Program Promkes/UKBM Puskesmas Cipedes

KETERANGAN : : Posyandu Haluma

Gambar 1.1 Peta Wilayah Posyandu Haluma

Survei Mawas Diri adalah kegiatan pengenalan, pengumpulan dan pengkajian masalah kesehatan yang dilakukan oleh kader dan tokoh masyarakat setempat dibawah bimbingan Kepala Desa/Keluarahan dan petugas kesehatan untuk menunjang terselenggaranya upaya kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah ingin mengetahui tentang gambaran kesehatan di posyandu haluma dan mencari penyelesaian tentang masalah yang ada diposyandu haluma di Rw 06 Kelurahan Cipedes Tasikmalaya Tahun 2013 .

E. Tujuan Penelitian Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui Profil Kesehatan Posyandu Haluma dan untuk memenuhi tugas kepaniteraan Klinik Senior di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Komunitas Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Puskesmas Cipedes.

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Berdasarkan Survei Mawas Diri (SMD) yang dilaksanakan di Posyandu Haluma Rw 06 kelurahan Cipedes didapatkan hasil sebagai berikut ini : A. 1. Data Penduduk Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki - Laki Perempuan Total N 106 119 225 % 47,1 52,9 100.0

Jenis Kelamin
54 53 52 51 50 49 48 47 46 45 44

52,9%

47,1%
Laki - laki Perempuan

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan jumlah penduduk berkelamin laki laki yaitu sebanyak 106 (47,1%), sedangkan jumlah penduduk berkelamin perempuan 119 (52,9%).

Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Jenis Kelamin 0-5 6 - 11 12 - 16 17 - 25 26 - 35 36 - 45 46 - 55 56 - 65 > 65 Total N 5 31 31 32 26 32 34 25 9 225 % 2.2 13.8 13.8 14.2 11.6 14.2 15.1 11.1 4.0 100.0

Usia
16 14 12 10 8 6 4 2 0 0-5 06 - 11 12 - 16 17 - 25 26 - 35 36 - 45 46 - 55 56 - 65 > 65

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan jumlah penduduk berusia 0 - 5 yaitu 5 (2,2%), berusia 6 11 31 (13,8%), berusia 12 16 yaitu 31 (13,8%), berusia 17 25 yaitu 32 (14,2%), berusia 26 35 yaitu 26 (11,6%), berusia 36 45 yaitu 32 (14,2%), berusia 46 55 yaitu 34 (15,1%), berusia 56 65 yaitu 25 (11,1%), berusia lebih dari 65 yaitu 9 (4,0%).

10

A.2. Data Lingkungan Fisik a. rumah a. Lantai Tabel 2.3 Data Jenis Lantai Rumah Jenis Lantai Ubin/keramik Total N 75 75 % 100,0 100.0

Lantai
120 100 80 60 40 20 0

100%

Ubin/keramik

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan semua rumah 75 (100%) lantainya terbuat dari

ubin/keramik. b. Jendela Tabel 2.4 Jendela Rumah Jendela Ada, Sering dibuka Ada, Jarang dibuka Total N 30 45 75 % 40 60 100.0

11

Jendela
80 60 40 20 0 Ada & sering dibuka Ada & jarang dibuka

40%

60%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan rumah yang memiliki jendela dan sering dibuka yaitu 30 (40%), yang memiliki jendela dan jarang dibuka yaitu 45 (60%). c. ventilasi Tabel 2.5 Ventilasi Ventilasi Ada, Sesuai Standar Ada, Tidak Sesuai Standar Total N 50 25 75 % 66,7 33,3 100.0

Ventilasi
80 60 40 20 0 Ada & Sesuai Standar Ada & Tidak Sesuai Standar

66,7%

33,3%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan rumah yang memiliki ventilasi dan sesuai standar yaitu 50 (66,7%), yang memiliki ventilasi tapi kecil/tidak standar yaitu 25 (33,3%).

12

d. pencahayaan rumah Tabel 2.6 Pencahayaan Pencahayaan Kurang Cukup Total N 16 59 75 % 21,4 78,6 100.0

Pencahayaan
100 80 60 40 20 0 Kurang Cukup

21,4%

78,4%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan rumah yang mendapatkan cahaya matahari yang cukup yaitu 59 (78,6%), dan rumah yang mendapatkan cahaya kurang yaitu 16 (21,4%). e. pekarangan Tabel 2.7 Pekarangan Pekarangan Ada Tidak Ada Total n 44 31 75 % 58,7 41,3 100.0

Pekarangan
80 60 40 20 0 Ada Tidak Ada

58,7%

41,3%

13

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan rumah yang memiliki pekarangan yaitu 44 (58,7%) dan rumah yang tidak memiliki pekarangan yaitu 31 (41,3%). Tabel 2.8 Tumbuhan Pekarangan Tumbuhan Pekarangan Ada Tidak Ada Total N 26 18 44 % 59 41 100.0

Tumbuhan Pekarangan
80 60 40 20 0 Ada Tidak Ada

59 %

41 %

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 44 responden, didapatkan rumah yang memiliki tanaman pekarangan yaitu 26 (59%) dan rumah yang tidak memiliki tanaman pekarangan yaitu 18 (41%).

f. Luas Rumah dengan Penghuni Tabel 2.9 Kesesuaian Luas Rumah dengan Penghuni Kesesuaian Sesuai standar Tidak sesuai standar Total N 70 5 75 % 93,3 6,7 100.0

14

Kesesuaian
100 80 60 40 20 0

93,3 % 6,7 %
Sesuai Standar Tidak Sesuai Standar

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan luas rumah sesuai dengan banyaknya penghuni yaitu 70 (93,3%), sedangkan luas rumah yang tidak sesuai dengan banyaknya penghuni yaitu 5 (6,7%). g. merokok Tabel 2.10 Merokok di Dalam Rumah Merokok dalam rumah Ada Tidak ada Total n 33 42 52 % 44 56 100.0

Merokok Dalam Rumah


60 50 40 30 20 10 0

44%

56%

Ada

Tidak Ada

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan masyarakat yang merokok didalam rumah yaitu 33 (44%) dan yang masyarakat yang tidak merokok didalam rumah yaitu 42 (56%).

15

h. sarana/sumber air bersih Tabel 2.11 Sumber Air Bersih Sumber PDAM Sumur Gali Sumur Gali+Sanyo Total N 4 34 37 75 % 5,3 45,3 49,4 100.0

Sumber Air Bersih


60 50 40 30 20 10 0 PDAM Sumur Gali sumur gali & sanyo

5,3%

45,3%

49,4%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan bahwa perbandingan penggunaan sumur gali dengan sumur gali + sanyo hampir setara, dimana masyarakat yang menggunakan sumur gali yaitu 34 (45,3%), masyarakat yang menggunakan sumur gali + sanyo yaitu 37 (49,4%). Dan yang menggunakan PDAM yaitu 4 (5,3%). Tabel 2.12 Jarak Sumber Air dengan Penampungan Air Limbah Jarak <10 meter >10 meter Total N 8 67 75 % 10,7 89,3 100.0

16

Jarak
100 80 60 40 20 0 <10 meter >10 meter Jarak

10,7%

89,3%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan sebagian besar responden mengatakan bahwa jarak sumber air bersih dengan penampungan air limbah >10 meter yaitu sebanyak 67 (89,3%), dan yang <10 meter sebanyak 8 (10,7%). i. jamban/kakus Tabel 2.13 Jenis Jamban Jenis Jamban Leher angsa Total N 75 75 % 100,0 100.0

Jenis Jamban
120 100 80 60 40 20 0

100%

leher angsa

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan bahwa semua masyarakat 75 (100%) menggunakan jenis jamban dengan leher angsa.

17

Tabel 2.14 Pembuangan Jamban Pembuangan Jamban Septik Tank Cubluk Kali/sungai Total N 28 4 43 75 % 37,3 5,3 57,4 100.0

Pembuangan Jamban
70 60 50 40 30 20 10 0

37,3%

57,4%

5,3%
Septic Tank cubluk Kali/Sungai

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan masyarakat yang menggunakan septic tank yaitu 28 (37,3%), masyarakat yang menggunakan cubluk yaitu 4 (5,3%), masyarakat yang menggunakan kali/sungai 43 (57,4%). j. sampah Tabel 2.15 Cara Buang Sampah Cara Buang Sampah Dikumpulkan dan Dibakar Penggunaan Jasa Total n 5 70 75 % 6,7 93,3 100.0

18

Cara Buang Sampah


100 80 60 40 20 0 Dikumpulkan dan Dibakar Penggunaan Jasa

6,7%

93,3%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan bahwa sebagian besar pembuangan sampah menggunakan jasa yaitu sebanyak 70 (93,2%), sedangkan sisanya memilih untuk dikumpulkan kemudian dibakar yaitu sebanyak 5 (6,7%). k. SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah) Tabel 2.16 Pembuangan SPAL Pembuangan SPAL Ada Total N 75 75 % 100 100.0

Pembuangan SPAL
120 100 80 60 40 20 0

100%

Ada

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan bahwa seluruh responden 75 (100%) memiliki sarana pembuangan air limbah

19

Tabel 2.17 Sarana Pembuangan Air Limbah Sarana Pembuangan Air Limbah Sungai Selokan/Cubluk Total n 42 33 75 % 56 44 100.0

60 40 20 0

Sarana Pembuangan Air Limbah


56%

44%

Sungai

Selokan/Cubluk

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan bahwa sebagian besar sarana pembuangan air limbah (SPAL) ke sungai yaitu 42 (56%), dan sebagian cubluk yaitu sebanyak 33 (44%). Tabel 2.18 Kondisi Saluran SPAL Kondisi Tertutup Lancar Terbuka Lancar Total n 67 8 75 % 89,3 10,7 100.0

Kondisi SPAL
100 80 60 40 20 0 Tertutup Lancar Terbuka Lancar

89,3% 10,7%

20

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan bahwa masyarakat memiki saluran pembuangan air limbah (SPAL) tertutup lancar yaitu 67 (89,3%), dan masyarakat yang memiliki SPAL terbuka lancar yaitu 8 (10,7%). l. kandang ternak Tabel 2.19 Kandang Ternak Jarak Mempunyai Kandang Tidak Punya Total n 8 67 75 % 10,6 89,4 100.0

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan bahwa masyarakat memiki kandang ternak sebanyak 8 (10,6%). Tabel 2.20 Jarak kandang dengan rumah Jarak Menempel rumah < 10 m > 10 m Total n 3 4 1 8 % 37,5 50 12,5 100.0

Jarak Kandang ke Rumah


60 50 40 30 20 10 0

37,5%

50%

12,5%
> 10 m

Menempel

< 10 m

21

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 8 responden, didapatkan bahwa kandang ynang menempel rumah yaitu 3 (37,5%), jaraknya < 10m yaitu 4 (50%), dan yang jaraknya > 10 m yaitu 1(12,5%).

A.3. Keluarga Berencana (KB) Tabel 2.21 Jumlah PUS di Wilayah Posyandu Haluma PUS Ada Tidak ada Total N 58 17 75 % 77,4 22,6 100.0

PUS
100 80 60 40 20 0 Ada Tidak Ada

77,4% 22,6%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan terdapat lebih banyak Pasangan Usia Subur (PUS) yaitu 58 (77,4%), sedangkan yang tidak ada 17 (22.6%). Tabel 2.22 Peserta KB Aktif Peserta KB Ada Tidak ada Total N 43 32 75 % 57,4 42,6 100

22

Peserta KB Aktif
80 60 40 20 0 Ada Tidak Ada

57,4%

42,6%

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan peserta KB aktif terdapat 43 (57.6%) dan keluarga yang tidak KB 32 (42,6%). A.4. Balita Tabel 2.23 Jumlah Balita Balita Ada Tidak ada Total N 5 70 75 % 6,7 93,3 100.0

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 75 responden, didapatkan jumlah balita yaitu sebanyak 5 (6,7%), sedangkan yang tidak mempunyai balita yaitu sebanyak 75 (93,3%). Tabel 2.24 Jumlah Balita yang ditimbang Balita ditimbang Ditimbang Tidak Total N 2 3 5 % 40 60 100.0

Balita yang ditimbang


80 60 40 20 0 ditimbang Tidak

40%

60%

23

Berdasarkan data diatas yang diambil dari 5 responden, didapatkan bahwa ibu yang rajin menimbang pada waktu diposyandu yaitu sebanyak 2 (40%), sedangkan yang tidak menimbang balita sebanyak 3 (60%).

B.

Pembahasan B.1. Lingkungan Fisik/Rumah Sehat menurut World Health Organization (WHO) Sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun Sosial Budaya, bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit dan kelemahan (kecacatan). Menurut WHO rumah sehat diartikan sebagai tempat berlindung/ bernaung dan tempat untuk beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani maupun sosial. Sedangkan menurut Depkes berdasarkan KEPMENKES RI NO. 829 / Menkes / SK / VII / 1999 adalah rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal/hunian yang digunakan untuk berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya, serta tempat pengembangan kehidupan keluarga. Rumusan yang dikeluarkan oleh American Public Health Association (APHA), syarat rumah sehat harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

a) Memenuhi kebutuhan fisiologis. Antara lain, pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.

24

b) Memenuhi kebutuhan psikologis. Antara lain, privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah. c) Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah, yaitu dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan air limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup. d) Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan, baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir. Beberapa indikator penilaian untuk rumah sehat yaitu : 1. Komponen Rumah 2. Sarana Sanitasi 3. Perilaku Penghuni 1. Indikator penilaian komponen rumah meliputi beberapa parameter sebagai berikut : a. lantai Lantai yang baik adalah lantai yang kedap air dan mudah dibersihkan, contohnya seperti disemen, keramik dan sejenisnya. Ubin, semen, keramik sangat baik karena kedap air dan mudah dibersihkan, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan,

25

dan ini pun mahal. Oleh karena itu, untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting di sini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah, sebaiknya lantai dinaikkan kira-kira 20 cm dari permukaan tanah. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan benda - benda yang berat, dan dilakukan berkalikali. Lantai yang basah dan berdebu merupakan sarang penyakit. b. jendela Seyogyanya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurang kurangnya 10 % sampai 20% dari luas lantai yang terdapat di dalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan di dalam membuat jendela diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela di sini, di samping sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu harus di tengah-tengah tinggi dinding (tembok). c. ventilasi Berdasarkan penelitian disebutkan bahwa ventilasi yang baik adalah luas ventilasi setidaknya 10 20 % dari luas lantai rumah. Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah

26

untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen (bakteri bakteri penyebab penyakit). Fungsi kedua dari pada ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan rumah selalu tetap di dalam kelembaban (humudity) yang optimum. Diamping itu fungsi dari ventilasi adalah sebagai lubang masuknya cahaya dari luar seperti cahaya matahari, sehingga didalam rumah tidak gelap pada waktu pagi, siang hari maupun sore hari. Oleh karena itu untuk suatu rumah yang memenuhi syarat kesehatan, ventilasi mutlak harus ada. Suatu ruangan yang tidak memiliki sistem ventilasi yang baik akan menimbulkan keadaan yang merugikan kesehatan.

27

d. pencahayaan Pencahayaan di dalam rumah adalah juga merupakan unsur yang esensial untuk rumah sehat. Secara umum pencahayaan di dalam rumah terdiri dari pencahayaan buatan dan pencahayaan alami. Pencahayaan buatan dapat di peroleh dengan penggunaan lampu yang efektif dan efisien di dalam rumah. Sedangkan pencahayaan alami di dapat dari cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya di dalam rumah akan menyebabkan silau dan akhirnya dapat merusakkan mata. Persyaratan standar untuk bukaan yang bisa memasukkan sinar matahari pada suatu ruangan dibutuhkan luas minimum 1/10 x luas lantai ruangan. Dan separuh dari padanya atau sekitar 1/20 dari luas lantai tadi berupa bukaan yang bisa dibuka dan ditutup (tidak termasuk bukaan tempat keluar dan masuk orang ke ruangan tersebut). Untuk bukaan yang memasukkan penghawaan atau lubang angin untuk suatu ruangan, standartnya diperlukan luas minimum 35% x luas lantai ruangan itu.

28

Berikut ini adalah pedoman standart secara umum bukaan untuk ruang tertentu di dalam rumah tinggal agar dapat mewujudkan rumah sehat adalah sebagai berikut : 1. Kamar Tidur, diperlukan tidak kurang dari 1/6 x luas lantai (tidak termasuk pintu) 2. Ruang Duduk, diperlukan sekitar antara 1/6 sampai dengan 1/7 x luas lantai ruangan (tidak termasuk pintu). 3. Gudang, diperlukan kurang lebih 1/10 x luas lantainya (tidak termasuk pintu). Dengan masing-masing ruang tersebut memiliki lubang

penghawaan (ventilasi udara) sekitar kurang lebih minimumnya 1/40 sampai dengan 1/10 x luas lantai ruangan masing-masing. Itulah semua standar secara umum luas yang diperlukan untuk lubanglubang dinding (bukaan) yang kita perlukan agar tercapai secara optimum wujud rumah sehat dengan ventilasi dan pencahayaan alami yang baik. e. pekarangan Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif seperti tanaman holtikultura (tanaman buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman hias), rempah - rempah, obat - obatan, bumbu-bumbuan dan lainnya akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda, baik dari segi keamanan pangan (aman dari zat pencemar maupun aman dari ketersediaannya), menopang ekonomi keluarga maupun keuntungan dari segi estetika (keindahan lingkungan).

29

f. kesesuaian luas lantai Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan kepadatan penghuni (overcrowded). Semakin banyak jumlah penghuni rumah maka semakin cepat udara ruangan mengalami pencemaran gas atau bakteri. Dengan banyaknya penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan menurun dan diikuti oleh peningkatan CO 2 ruangan dan dampak dari peningkatan CO2 ruangan adalah penurunan kualitas udara dalam rumah. Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5 3 m2 untuk setiap orang (tiap anggota keluarga).

g. merokok Dari hasil survei yang didapatkan diwilayah posyandu haluma didapatkan bahwa masih banyak warga yang merokok didalam rumah. Dalam hal ini masyarakat masih belum memahami bahaya merokok terhadap diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Sehingga merokok masih menjadi kebiasaan sehari hari sama halnya dengan makan. Terlebih mereka merokok didalam rumah, mengapa karena asap yang

30

dihasilkan dari rokok tersebut akan berputar putar diruangan tersebut. Asap yang dihasilkan rokok mengandung karbonmonoksida yaitu salah satu senyawa karbon yang memiliki afinitas daya ikat terhadap Hb 200-300 kali lebih kuat dari pada afinitas terhadap oksigen. Rokok terdapat ikatan CO dengan Hb yang mengganggu darah dalam mengalirkan oksigen keseluruh tubuh dan akan mengakibatkan meninggal dunia akibat keracunan gas CO terlalu banyak.

2. Indikator penilaian Sarana Sanitasi rumah meliputi beberapa parameter sebagai berikut : a. b. c. d. Sarana air bersih Jamban Sarana pembuangan air limbah Sarana pembuangan sampah

Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat dapat menjadi faktor resiko terhadap penyakit diare dan cacingan. Disamping itu juga menyebabkan masih tingginya penyakit yang dibawa vektor seperti DBD, malaria, pes, dan filariasis (Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Depkes RI, 2007). Faktor faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas sumber air baku adalah terus menurunnya lahan untuk peresapan air karena

31

akibat perubahan tata guna lahan (termasuk hutan) yang mengganggu sistem siklus air. Selain itu, meningkatnya kepadatan dan jumlah penduduk di perkotaan akibat urbanisasi. Sedangkan dari sisi sanitasi, selain masih rendahnya kesadaran penduduk tentang lingkungan, kendala lain untuk terjadinya perbaikan adalah karena belum adanya kebijakan komprehensif yang sifatnya lintas sektoral, rendahnya kualitas bangunan septic tank, dan masih buruknya sistem pembuangan limbah. a. sumber air bersih Air yang bersih adalah air yang jernih, tidak berasa, tidak berwarna dan tidak berbau. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No.416/MENKES/PER/IX/1990 (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1990). Air minum adalah air yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum dan berasal dari penyediaan air minum sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002. Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai sebagai sumber air bagi penghuni rumah yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sarana air bersih antara lain adalah : (a) jarak antara sumber air dengan sumber pengotoran (seperti septik tank, tempat pembuangan sampah, air limbah) minimal 10 meter,
32

(b) pada sumur gali sedalam 10 meter dari permukaan tanah dibuat kedap air dengan pembuatan cincin dan bibir sumur, (c) penampungan air hujan pelindung air, sumur artesis atau terminal air atau perpipaan/kran atau sumur gali terjaga kebersihannya dan dipelihara rutin.7 i. jamban/kakus Adapun cara pembuangan tinja : 1) Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah. 2) Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan maupun air tanah. Kotoran manusia tidak boleh dibuang langsung kesungai, danau, laut, jarak jamban >10 meter dari sumur dan bila membuat lubang jamban jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai sumber air. 3) Kotoran manusia tidak dijamah oleh lalat. Kotoran manusia yang dibuang harus tertutup rapat, dalam arti agar lalat tidak bisa menghinggapinya. Oleh karena itu jamban yang sehat dapat dibuat dengan menggunakan leher angsa atau dilengkapi dengan tutup. 4) Jamban tidak menimbulkan sarang nyamuk. 5) Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu, jamban agar tidak bau perlu dilengkapi leher angsa atau lubang ventilasi yang cukup besar dan cukup tinggi. 6) Konstruksi jamban tidak menimbulkan kecelakaan misalnya atapnya terlalu rendah, pegangan penutup lubung jamban yang tajam dan sebagainya.

33

Ada 4 cara pembuangan tinja, yaitu : 5 1) Pembuangan tinja di atas tanah. Pada cara ini tinja dibuang begitu saja di atas permukaan tanah, halaman rumah, di kebun, di tepi sungai dan sebagainya. Cara demikian tentunya sama sekali tidak dianjurkan, karena dapat mengganggu kesehatan. 2) Kakus lubang gali (pit privy). Cara ini merupakan salah satu yang paling mendekati persyaratan yang harus dipenuhi. Tinja dikumpulkan kedalam tanah dan lubang dibawah tanah, umumnya langsung terletak dibawah + 90 cm = kedalaman sekitar 2,50 m. Dindingnya diperkuat dengan batu, dapat di tembok ataupun tidak. Sesuai dengan daerah pedesaan maka rumah kakus tersebut dapat dibuat dari bambu, dinding bambu dan atap daun kelapa. Jarak dari sumber air minum sekurangkurangnya 15 meter, macam kakus ini hanya baik digunakan ditempat dimana air tanah letaknya dalam. 3) Kakus Air (Aqua pravy). Cara ini hampir mirip dengan kakus lubang gali, hanya lubang kakus dibuat dari tangki yang kedap air yang berisi air, terletak langsung dibawah tempat jongkok. Cara kerjanya merupakan peralihan antara lubang kakus dengan septic Tank. Fungsi dari tank adalah untuk menerima, menyimpan, mencernakan tinja serta melindunginya dari lalat dan serangga lainnya. Bentuk bulat, bujur sangkar atau 4 persegi panjang, diletakkan vertikal dengan diameter antara 90-120 cm. 4) Septic Tank. Septic Tank merupakan cara yang paling memuaskan dan dianjurkan diantara pembuangan tinja dan dari buangan rumah

34

tangga. Terdiri dari tanki sedimentasi yang kedap air dimana tinja dan air ruangan masuk dan mengalami proses dekomposisi. Di dalam tanki, tinja akan berada selama 1-3 minggu tergantung kapasitas tanki.

j. sampah Sampah adalah semua atau produk sisa dalam bentuk padat, sebagai akibat aktifitas manusia, yang dianggap tidak bermanfaat dan tidak dikehendaki oleh pemiliknya dan dibuang sebagai barang yang tidak berguna. Menurut definisi World Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sumber-Sumber Sampah : a. Sampah yang berasal dari pemukiman (domestic wastes) Sampah ini terdiri dari bahan-bahan padat sebagai hasil kegiatan rumah tangga yang sudah dipakai dan dibuang, seperti sisa-sisa makanan baik yang sudah dimasak atau belum, bekas pembungkus baik kertas, plastik, daun, dan sebagainya, pakaianpakaian bekas, bahan-bahan bacaan, perabot rumah tangga, daundaunan dari kebun atau taman b. Sampah yang berasal dari tempat-tempat umum Sampah ini berasal dari tempat-tempat umum, seperti pasar, tempat-tempat hiburan, terminal bus, stasiun kereta api, dan

35

sebagainya. Sampah ini berupa kertas, plastik, botol, daun, dan sebagainya. c. Sampah yang berasal dari perkantoran Sampah ini dari perkantoran baik perkantoran pendidikan, perdagangan, departemen, perusahaan, dan sebagainya. Sampah ini berupa kertas-kertas, plastik, karbon, klip dan sebagainya. Umumnya sampah ini bersifat anorganik, dan mudah terbakar (rubbish). d. Sampah yang berasal dari jalan raya Sampah ini berasal dari pembersihan jalan, yang umumnya terdiri dari : kertas-kertas, kardus-kardus, debu, batu-batuan, pasir, sobekan ban, onderdil-onderdil kendaraan yang jatuh, daundaunan, plastik, dan sebagainya. e. Sampah yang berasal dari industri (industrial wastes) Sampah ini berasal dari kawasan industri, termasuk sampah yang berasal dari pembangunan industri, dan segala sampah yang berasal dari proses produksi, misalnya : sampah-sampah

pengepakan barang, logam, plastik, kayu, potongan tekstil, kaleng, dan sebagainya. f. Sampah yang berasal dari pertanian/perkebunan Sampah ini sebagai hasil dari perkebunan atau pertanian misalnya: jerami, sisa sayur-mayur, batang padi, batang jagung, ranting kayu yang patah, dan sebagainya.

36

g. Sampah yang berasal dari pertambangan Sampah ini berasal dari daerah pertambangan, dan jenisnya tergantung dari jenis usaha pertambangan itu sendiri, maisalnya: batu-batuan, tanah/cadas, pasir, sisa-sisa pembakaran (arang), dan sebagainya.

h. Sampah yang berasal dari petenakan dan perikanan Sampah yang berasal dari peternakan dan perikanan ini, berupa : kotoran-kotoran ternak, sisa-sisa makanan bangkai binatang, dn sebagainya. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi volume sampah yang lebih baik dari cara pembakaran. Empat ( 4R ) prinsip yang dapat digunakan dalam menangani masalah sampah : 1. Reduce (Mengurangi); upayakan meminimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. 2. Re-use (Memakai kembali); pilihlah barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang yang disposable (sekali pakai, buang). 3. Recycle (Mendaur ulang); barang yang sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang sehingga bermanfaat serta memiliki nilai tambah. Perlu diingat tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis.

37

4. Replace (Mengganti); Ganti barang barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Gunakn barangbarang yang lebih ramah lingkungan, misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami. Syarat tempat sampah yang baik adalah : a) terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak mudah bocor, kedap air b) tempat sampah harus mempunyai tutup, tetapi tutup ini dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dibuka, dikosongkan isinya serta dibersihkan. Sangat dianjurkan agar tutup sampah ini dapat dibuka atau ditutup tanpa mengotori tangan c) ukuran tempat sampah sedemikian rupa sehingga mudah diangkat oleh satu orang dan ditutup 4) harus ditutup rapat sehingga tidak menarik serangga atau binatangbinatang lainnya seperti : tikus, ayam, kucing dan sebagainya.

k. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) Berdasarkan hasil survei yang dilakuakn didapatkan bahwa seluruh warga memiliki sarana pembuangan air limbah yang baik. Hal ini dikarenakankan bahwa kesadaran masyarakat yang baik dan mengerti tentang pembuangan limbah yang berdekatan dengan sumber air akan mengganggu sumber air tersebut.

38

Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta menggangu lingkungan hidup. Air limbah ini berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut : a. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekskreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dan umumnya terdiri dari bahan-bahan organik. b. Air buangan industri (industrial wastes water) yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung didalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industi, antara lain nitrogen, sulfida, amoniak, lemak, garam-garam, zat pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pengolahan jenis air limbah ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit. c. Air buangan kotapraja (municipal wastes water) yaitu air buangan yang berasal dari daerah perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada

39

umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga. Sesuai dengan zat-zat yang terkandung didalam air limbah maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain: a. Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama kolera, typhus abdominalis, disentri baciler. b. Menjadi media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen. c. Menjadi tempat-tempat berkembangbiaknya nyamuk atau tempat hidup larva nyamuk d. Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap. e. Merupakan sumber pencemaran air permukaan, tanah dan lingkungan hidup lainnya. f. Mengurangi produktivitas manusia karena orang bekerja dengan tindak nyaman dan sebagainya. l. kandang ternak Kandang ternak yang berada dekat dengan pemukiman penduduk dapat menimbulkan gangguan seperti timbulnya bau yang tidak sedap, selain itu bila kandang ternak berada dekat dengan sumber air dapat mengakibatkan pencemaran pada air. Menurut Sutomo & Wiranto (1994), dari penelitian yang pernah dilakukan menyatakan bahwa, kotoran asal ternak bercampur dengan sisa pakan merupakan limbah yang dapat mencemari lingkungan dan tidak baik terhadap

40

kesehatan. Dari sampel air sumur di sekitar kandang yang diperiksa ternyata jumlah bakteri kolinya tinggi. Untuk menghindari pencemaran yang berasal dari kandang ternak, sebaiknya sumur berada jauh dari kandang ternak. Berdasarkan ketentuan dari Departemen Kesehatan jarak minimal antara kandang ternak dengan sumber air adalah 10 meter (Depkes RI, 1995). Sedangkan beberapa komponen sanitasi kandang yang harus di perhatikan antara lain menyangkut letak bangunan kandang. Beberapa persyaratan letak kandang sebagai berikut :

1. Harus memperhatikan faktor hygiene. Faktor higiene lingkungan penting untuk ternak maupun peternak, antara lain untuk menjamin kesehatan ternak dan lingkungan sekitar. 2. Letak bangunan kandang juga harus jauh dari pemukiman penduduk. Kandang di dalam rumah tertutup dapat menarik nyamuk, sehingga memungkinkan kontak dengan manusia makin besar. Jarak kandang dari rumah minimal 10 -20 m. 3. Dibangun di dekat areal pertanaman rumput, sehingga mempermudah akses pada pakan. 4. Penggunaan sumber air untuk ternak tidak mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat. Persyaratan untuk topografi ini antara lain tempat kandang harus lebih tinggi dari sekitar, tanah mudah menyerap air sehingga mengurangi kemungkinan genangan air, kandang harus kering dan tidak lembab. Diusahakan bangunan kandang agar dibuat

41

model panggung karena untuk mempermudah pemeliharaan dan kebersihan. 5. Tempat tidak terlalu tertutup pepohonan rindang yang dapat mengurangi sinar matahari dan sirkulasi udara. Sirkuklasi udara yang baik akan membuat hewan ternak lebih baik.

B.2. Keluarga Berencana (KB) Cakupan Peserta KB aktif dapat dihitung dengan rumus : Jumlah Peserta KB Aktif X 100 % Jumlah Pasangan Usia Subur dalam 1 tahun = 43 58 x 100 % = 74,1%

Target pencapaian cakupan KB aktif di Puskesmas Cipedes adalah 82,5% sedangkan cakupannya sebesar 74,1%, itu berarti masih rendahnya pencapaian cakupan peserta KB aktif dari responden yang memiliki PUS dengan peserta KB aktif. Secara umum keluarga berencana adalah suatu usaha yang mengatur banyaknya jumlah kelahiran sedemikian rupa sehingga bagi ibu maupun bayinya dan bagi ayah serta keluarganya atau masyarakat yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kelahiran tersebut. Peserta keluarga berencana (akseptor KB) adalah pasangan usia subur dimana salah seorang dari padanya menggunakan salah satu cara atau alat kontrasepsi untuk tujuan pencegahan kehamilan, baik

42

melalui program maupun non program. Peserta KB aktif adalah pasangan usia subur yang pada saat pendataan masih menggunakan salah satu cara atau alat kontrasepsi. Pasangan Usia subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang pada saat ini hidup bersama, baik bertempat tinggal resmi dalam satu rumah ataupun tidak, dimana umur istrinya antara 15 tahun sampai 44 tahun. A.3 jumlah balita Cakupan penimbangan balita (D/S) di posyandu merupakan indikator tinggi/rendahnya partisipasi masyarakat di posyandu. (D/S) merupakan persentase balita yang ditimbang di posyandu dibanding seluruh balita yang ada di wilayah kerja posyandu. Bila dihitung dari 5 responden yang memiliki anggota keluarga balita, maka cakupan D/S nya adalah sebagai berikut : D/S= Jumlah balita yang ditimbang x 100% = 2 x 100% = 40 % Jumlah sasaran balita 5 Dari perhitungan diatas hanya didapatkan nilai D/S adalah sebesar 40 %. Sedangkan Standar pelayanan minimal (SPM) menargetkan tingkat partisipasi masyarakat untuk datang ke posyandu (D/S) sebesar 80%. Adanya balita yang tidak ditimbang setiap bulannya akan menurunkan cakupan D/S. Masalah yang berkaitan dengan kunjungan Posyandu antara lain: dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan Posyandu; tingkat pengetahuan kader dan

43

kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dan konseling; tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat Posyandu; serta pelaksanaan pembinaan kader.

44

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan Dari hasil Survey Mawas Diri (SMD) yang dilakukan di wilayah kerja Posyandu Haluma RW 06 Kelurahan Cipedes pada bulan Maret 2013 didapatkan : Posyandu Haluma merupakan salah satu dari 20 posyandu yang berada di Puskesmas Cipedes dengan jumlah penduduk sebanyak 225 jiwa dengan rincian jumlah penduduk berkelamin laki laki yaitu sebanyak 106 (47,1%), sedangkan jumlah penduduk berkelamin perempuan sebanyak 119 (52,9%). Sedangkan jumlah penduduk berdasarkan umur didapatkan jumlah penduduk berusia 0 - 5 yaitu 5 (2,2%), berusia 6 11 31 (13,8%), berusia 12 16 yaitu 31 (13,8%), berusia 17 25 yaitu 32 (14,2%), berusia 26 35 yaitu 26 (11,6%), berusia 36 45 yaitu 32 (14,2%), berusia 46 55 yaitu 34 (15,1%), berusia 56 65 yaitu 25 (11,1%), berusia lebih dari 65 yaitu 9 (4,0%). Mayoritas masyarakat diposyandu haluma bekerja sebagai buruh. Berdasarkan Teori Bloom derajat kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu lingkungan, perilaku masyarakat, layanan kesehatan dan genetik. Permasalahan yang terdapat di Posyandu Haluma adalah sebagai berikut : a. Lingkungan masyarakatnya berupa 1) Masih terdapat kandang ternak yang jaraknya < 10 m bahkan ada yang menempel dengan rumah masyarakat. 2) Masih terdapat rumah masyarakat yang pekarangannya tidak terdapat tumbuhan. b. perilaku masyarakat berupa 1) Masih ada anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.

45

2) Masih ada keluarga yang jendela rumahnya jarang dibuka. c. pelayanan kesehatan 1) Belum tercapainya target cakupan peserta KB aktif dimana cakupan peserta KB aktif pada responden didapatkan sebesar (74,1%), sedangkan target yang harus dicapai adalah (82.5%). 2) Belum tercapainya target cakupan kunjungan masyarakat pada kegiatan Posyandu (D/S) dimana cakupan D/S pada responden didapatkan sebesar 40 %, sedangkan target yang harus dicapai adalah 80%.

3.2

Saran 1. Untuk Masyarakat - Untuk kader sendiri apabila akan diadakan penimbangan, sebaiknya diingatkan dengan menggunakan undangan agar para ibu tidak lupa. 2. Untuk Puskesmas - Memberikan penyuluhan kepada masyarakat bahwa jarak kandang dengan rumah yang baik adalah > 10 m - Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penggunaan tanaman obat keluarga (toga) yang dapat digunakan untuk obat obatan alami/herbal. - Melakukan penyuluhan bahaya merokok disekolah, terutama SMP dan SMA. Dikarenakan pada masa ini seorang siswa mulai mencari jati dirinya, banyak diantara siswa siswa tersebut mulai mencoba coba. - Mengadakan penyuluhan mengenai penggunaan KB dan fungsinya baik untuk diri sendiri maupun keluarga didalam gedung maupun

46

diluar gedung (posyandu) dan konseling terhadap calon pengantin (catin). - Memberikan pelatihan kepada kader bagaimana cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar para kader bisa memotivasi masyarakat unuk menimbang bayinya atau balitanya pada saat posyandu. - Mengadakan penyuluhan mengenai pentingnya penimbangan pada saat posyandu baik didalam gedung maupun diluar gedung. 3. Untuk Peneliti Selanjutnya Diharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan oleh peneliti selanjutnya dengan jumlah sampel yang lebih banyak lagi dan data-data yang lebih lengkap. Sehingga nantinya benar benar didapatkan hasil penelitian yang dapat mengkaji hal-hal yang belum dapat diketahui penulis dalam penelitian ini.

47