Anda di halaman 1dari 5

PAPER

STUDI KASUS RAGAM BENTANG ALAM KOTA SEMARANG

Disusun Oleh : Arizatur Reza Wicaksono 21100112110073

LABORATORIUM GEODINAMIK, HIDROLOGI DAN PLANOLOGI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG NOVEMBER 2012

RAGAM BENTANG ALAM KOTA SEMARANG


ARIZATUR REZA WICAKSONO 21100112110073 Email : arizatur.reza.w@gmail.com JURUSAN TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO, SEMARANG

ABSTRACT Semarang, the capital of Central Java provincial has a fairly unique landscape. Landscape of Semarang from north to south include reliefs up and down contours. Thats can be representation lithological and structural conditions. This surveys method used the description of outcrop and combined with identify the geomorphology area using the materials or literature . There are 2 observation points, first at river surround campus undip, Tembalang and the second at Sambiroto, Banyumanik, after interpreted with geological surface description, can be conclusion the Breccias and igneous lithologic overlay the kaligetas formation (undip, Tembalang) ; mudstone and medium sand lithologic from outcrop rock at Sambiroto. Therefore the geomorphology of that 2 different station observation is fluvial and structural Keywords : Geomorphological of Semarang, fluvial landscape, structural landscape PENDAHULUAN Geomorfologi berasal dari kata geo yang berarti bumi, sedang kata morfo atau morphe berarti roman muka dan logi yang artinya ilmu. Secara umum geomorfologi mempelajari tentang bentang alam maupun bentuk lahan dan proses-proses yang bekerja serta hasilnya di bagian permukaan bumi. Proses geomorfik. Bentang alam (Inggris : landform) adalah suatu unit geomorfologis yang dikategorikan berdasarkan karateristik seperti kelaindaian, elevasi, orientasi, stratifikasi, paparan batuan, dan jenis tanah. Beberapa factor, mulai dari lempeng tektonik hingga erosi dan deposisi dapat membentuk dan mempengaruhi bentang alam. Menurut Van Zuidam (1979), berdasarkan genesanya aau asal muasalnya bentang alam dikelompokan menjadi: 1. Bentang alam vulkanik 2. Bentang alam fluvial 3. Bentang alam structural 4. Bentang alam karst 5. Bentang alam eolian 6. Bentang alam delta dan pantai 7. Bentang alam glasial 8. Bentang alam denudasional

Kota Semarang yang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah mempunyai bentang alam yang cukup menarik. Kota Semarang terdiri atas kontur yang naik turun. Karena hal itu, masyarakat lebih senang membagi wilayah kota Semarang atas ketinggian elevasi konturnya. Kota semarang dibagi menjadi kota bawah dan kota atas. Kota bawah yang merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Mulai dari arah utara Laut Jawa yang di dominasi oleh bentang alam laut, delta dan pantai, kemudian masuk ke daerah perkotaan yang umumnya merupakan dataran rendah, daerah banjir dan terdapat beberapa struktur geologi seperti sesar, kekar. Namun struktur geologi semacam itu tidak terlihat secara jelas karena meningkatnya pembangunan dan aktifitas masyarakat di kota bawah. Lalu kota atas yang banyak didominasi oleh perbukitan perbukitan dan bila masuk keselatan lagi seperti di daerah kisaran Tembalang Banyumanik bentang alam dan struktur geologi masih terlihat jelas karena memang masih belum banyak pembangunan dan campur tangan manusia di daerah tersebut Bentang alam kota semarang yang unik inilah yang menjadikan kota semarang menarik untuk untuk diobservasi, dipelajari dan diteliti bentang alamnya. Penelitan dilakukan dengan cara datang ke lapangan langsung (observasi) dan mulai pendiskripsian melalui singkapan batuan atau bentang alamnya. Dalam observasi ini juga memerlukan literature atau referensi referensi yang mendukung dalam proses pendiskripsian. GEOLOGI REGIONAL DAERAH OBSERVASI Secara geografis, wilayah Kotamadya Semarang, Propinsi Jawa Tengah terletak pada koordinat 1101620 - 110 3029 Bujur Timur dan 6 5534 7 0704 Lintang Selatan dengan luas daerah sekitar 391,2 Km2. Wilayah Kotamadya Semarang sebagaimana daerah lainnya di Indonesia beriklim tropis, terdiri dari musim kemarau dan musim hujan yang silih berganti sepanjang tahun. Besar rata-rata jumlah curah hujan tahunan wilayah Semarang utara adalah 2000 2500 mm/tahun dan Semarang bagian selatan antara 2500 - 3000 mm/tahun. Sedangkan curah hujan rata-rata per bulan berdasarkan data dari tahun 1994 1998 berkisar antara 58 - 338 mm/bulan, curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April dengan curah hujan antara 176-338 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei sampai bulan September dengan curah hujan antara 58 - 131 mm/bulan. Temperatur udara berkisar antara 240 C sampai dengan 330 C dengan kelembaban udara rata rata bervariasi antara 62% sampai dengan 84%. Sedangkan kecepatan angin rata rata adalah 5,9 Km/jam. Batas batas Kota Semarang meliputi : Sebelah Utara berbatasan Laut Jawa, dengan panjang garis pantai 13,6 km Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Semarang Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Demak Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kendal Kota Semarang memiliki ketinggian beragam, yaitu antara 0,75 348 m di atas permukaan laut, dengan topografi terdiri atas daerah pantai/pesisir, dataran dan perbukitan dengan kemiringan lahan berkisar antara 0% 45%.

Keadaan medan Kota Semarang mencerminkan susunan bentang alam yang berupa dataran rendah pantai, dan daerah perbukitan yang dikenal dengan Perbukitan Candi, serta daerah kerucut gunung api yang merupakan kaki dari Gunung Ungaran. Ketinggian berkisar 0 - 500m di atas muka laut (aml). Morfologi dataran mempunyai kemiringan lereng sangat landai, yaitu antara 0 - 5% atau pada ketinggian 0 50m aml, yang terbentang luas di daerah dataran pantai, mulai dari Kaliwungu di bagian barat, melewati Kota Semarang di bagian tengah, dan berlanjut hingga demak bagian timur. Pertumbuhan dataran pantai ini, pada mulanya terjadi akibat dari pembentukan Delta Garang, sebagai akibat dari pengendapan lumpur yang dibawa oleh Kali Garang. Batuan yang menutupi morfologi dataran ini merupakan endapan Aluvium, yang terdidri dari endapan sungai, endapan Delta Garang, dan endapan pantai. Endapan Aluvium ini merupakan material-material lepas, berupa perselingan pasir, lanau, lempung, kerikil, dan kerakal. Morfologi perbukitan mempunyai kemiringan lereng sedang sampai terjal, yaitu antara 5 90%, dengan ketinggian berkisar antara 50 3oo aml. Batuan yang menutupi morfologi perbukitan ini berupa batuan volkanikdari Formasi Damar dan endapan breksi volkanik, yang merupakan endapan volkanik tua dari hasil kegiatan dari Gunung Ungaran Purba, terdiri dari batupasir, breksi, konglomerat, dan tufa. Morfologi perbukitan ini ditutupi juga oleh batuan endapan laut yang bersifat padu, terdiri dari betulempung napalan berlapis tebal, berselingan dengan batupasir tufaan, konglomerat breksi, dan batugamping. Morfologi kerucut gunungapi mempunyai kemiringan lereng sedang, yaitu antara 10 50%, dengan ketinggian berkisar antara 300 500m aml. Batuan yang menutupi morfologi kerucut gunung api ini adalah batuan endapan volkanik muda, yang merupakan hasil kegiatan Gunung Ungaran, terdiri dari tufa andesit, breksi, lava andesit, dan basal. Kota Semarang sebagai ibukota profinsi Jawa Tengah sebagian besar merupakan wilayah perkotaan yang digunakan sebagai daerah pemukiman, perkantoran, pertokoan dan industri serta sarana perkotaan yang antara lain berupa, jalan raya dan kereta api, lapangan olahraga, pasar, pelabuhan laut dan udara, rumah sakit, dsb. Sedangkan lahan yang berada di daerah pedesaan umumnya merupakan daerah pesawahan atau perkebunan. Daerah pesawahan terutama di sekitar kaki pegunungan atau di dataran, sedangkan perkebunan atau hutan terdapat di lereng dan tubuh pegunungan. Sedangkan di bagian pantai umumnya dimanfaatkan sebagai areal pertambakan. METODELOGI PEMBUATAN PAPER Pembuatan paper ini didasarkan pada ketentuan dari praktikum Geologi Dasar acara Geomorfologi. Pada praktikum Geologi Dasar acara Geomorfologi dilakukan dengan observasi 2 titik pengamatan (stasiun) di areal Kota Semarang dimana 2 titik Pengamatan tersebut menggambarkan atau memperlihatkan bentang alam yang berbeda satu sama lain. Setelah itu melakukan pendiskripsian terhadap bentang alam disetiap titik Pengamatan dengan cara mengamati

singkapan batuan atau langsung pendiskripsian bentang alam. Dengan observasi ini di dapat litogi dan geomorfologi dari tiap stasiun.