Anda di halaman 1dari 16

PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK PET 263 (2:1)

Definisi :

Animal Waste and Manure: Means livestock excreta, bedding material, milk house waste, soil, compost, hair, feathers, egg shells, or other debris normally included in manure handling operations(Eiseth, 2000).
(Limbah ternak dan Pupuk(kotoran ternak). Berarti kotoran ternak, bahan tempat tidur ternak, limbah susu hasil olahan, tanah, kompos, rambut, bulu, kulit telur, atau sampah lainnya biasanya disertakan dalam operasi penanganan pupuk).

PERMASALAHAN LIMBAH
1. PENCEMARAN UDARA

2. TIMBULNYA LALAT SEBAGAI VEKTOR BERBAGAI


PENYAKIT PATOGEN 3. PADA IRIGASI TERJADI SEDIMENTASI SEHINGGA ALIRAN TIDAK LANCAR (PARIT, SUNGAI) 4. MENIMBULKAN EMISI GAS RUMAH KACA 5. MERUSAK ESTETIKA

Pembangunan berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam WorldConservation Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), International Union for Conservation of Nature andNatural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1980. Pada 1982, UNEP menyelenggarakan sidang istimewa memperingati 10 tahun gerakan lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya, sebagai reaksi ketidakpuasan atas penanganan lingkungan selama ini. Dalam sidang istimewa tersebut disepakati pembentukan Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (WorldCommission on Environment and Development - WCED). PBB memilih PM Norwegia Nyonya Harlem Brundtland dan mantan Menlu Sudan Mansyur Khaled, masing-masing menjadi Ketua dan Wakil Ketua WCED. Menurut Brundtland Report dari PBB (1987), pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Konsep Pembangunan Berkelanjutan ini kemudian dipopulerkan melalui laporan WCED berjudul Our CommonFuture (Hari Depan Kita Bersama) yang diterbitkan pada 1987. Laporan ini mendefi nisikan Pembangunan Berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Di dalam konsep tersebut terkandung dua gagasan penting.

Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Banyak laporan PBB, yang terakhir adalah laporan dari KTT Dunia 2005, yang menjabarkan pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama (ekonomi, sosial, dan lingkungan) yang saling bergantung dan memperkuat. Untuk sebagian orang, pembangunan berkelanjutan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan bagaimana mencari jalan untuk memajukan ekonomi dalam jangka panjang, tanpa menghabiskan modal alam. Namun untuk sebagian orang lain, konsep "pertumbuhan ekonomi" itu sendiri bermasalah, karena sumberdaya bumi itu sendiri terbatas.

Hubungan ke-3 Pilar

UU-LH/PP-LH Saat ini di negara kita sedang berlangsung perusakan dan pencemaran lingkungan yang masif melalui pembalakan liar, penambangan, pembukaan lahan perkebunan, pembabatan hutan bakau, pembuangan limbah pabrik, dan kegiatan destruktif lainnya. Lantas siapa yang berhak mengajukan gugatan ketika masalah seperti ini timbul: pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, atau organisasi lingkungan hidup? Peraturan perundang-undangan sebagai dasar pelaksanaan pembangunan, seperti Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, tergolong komprehensif dan responsif dalam memacu pelaksanaan pembangunan yang berwawasan lingkungan. PERMEN-LH No.5 TAHUN 2012 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN WAJIB DILENGKAPI ANALISIS MENGENAI DAMPAK (amdal) LINGKUNGAN HIDUP. PERMEN-LH NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PETERNAKAN SAPI DAN BABI

Indikator / Kriteria Pembangunan Berkelanjutan Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan tersebut, maka indikator pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas dari aspekaspek tersebut diatas, yaitu aspek ekonomi, ekologi/lingkungan, sosial, politik, dan budaya. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Djajadiningrat (2005) dalam buku Suistanable Future: Menggagas Warisan Peradaban bagi Anak Cucu, Seputar Pemikiran Surna Tjahja Djajadiningrat, menyatakan bahwa dalam pembangunan yang berkelanjutan terdapat aspek keberlanjutan yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. Keberlanjutan Ekologis 2. Keberlanjutan di Bidang Ekonomi 3. Keberlanjutan Sosial dan Budaya 4. Keberlanjutan Politik 5. Keberlanjutan Pertahanan Keamanan

Prof. Otto Soemarwoto, mengajukan enam tolok ukur pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk pemerintah pusat maupun di daerah untuk menilai keberhasilan seorang Kepala Pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan berkelanjutan. Keenam tolok ukur itu meliputi: 1. Pro lingkungan hidup; 2. Pro rakyat miskin; 3. Pro kesetaraan jender; 4. Pro penciptaan lapangan kerja; 5. Pro dengan bentuk negara kesatuan RI dan harus anti korupsi, kolusi serta nepotisme.

Permen LH No.11/2009

Average Daily Production of Livestock Manures.

The composition of the manure solids

Kebutuhan Nutrisi Tanaman dapat disediakan oleh Manure


Nitrogen 70% Pospat(P2O5) 80% Kalium (K2O) 85% Bahan Organik 40-50% Cairan 30-40%; Urine 40-70%-urea(N2H4CO)