Anda di halaman 1dari 34

BAB 1 Pengantar Asuransi Jiwa Agenda: Pengantar Konsep Asuransi Klasifikasi Bisnis Pengantar Aset adalah segala sesuatu

uatu yang memiliki nilai ekonomi. Aset dapat bersifat tangible (dapat dilihat) atau intangible (tidak dapat dilihat). Bisnis asuransi bertujuan melindungi nilai ekonomis dari aset. Aset dapat hancur atau tidak dapat digunakan lagi karena sebuah kecelakaan atau sebuah kejadian yang tidak disengaja. Kecelakaan atau sebuah kejadian yang tidak disengaja disebut musibah. Kerusakan atau kehancuran yang mungkin dapat disebabkan oleh musibah-musibah tersebut adalah risiko yang dimiliki oleh aset. Jadi, risiko berarti adanya kemungkinan atau ketidakpastian kerugian atau kehancuran yang dihadapi oleh aset. Asuransi jiwa menyediakan perlindungan terhadap risiko-risiko. Mekanisme Asuransi Jiwa: orang-orang yang menghadapi risiko yang sama sepakat untuk mengumpulkan sejumlah dana (premi) untuk disimpan. Lalu kapanpun diantara mereka atau tanggungan mereka mengalami risiko, maka mereka akan diberikan kompensasi dari dana simpanan tersebut. Asuransi jiwa adalah sebuah perjanjian hukum antara perusahaan asuransi dengan pihak yang menggunakan asuransi. Perjanjian hukum itu disebut kontrak asuransi jiwa. Orang yang masih hidup dan sehat adalah obyek polis asuransi jiwa, yang disebut pihak tertanggung (insured). Bentuk fisik kontrak antara pihak penanggung (insurer) dan pihak tertanggung (insured) disebut polis asuransi jiwa. Untuk polis asuransi jiwa, pihak yang akan menerima pembayaran dari kematian pihak tertanggung (insured) adalah pihak penerima/ahli waris (beneficiary). Konsep Asuransi Ide dasar cara kerja Asuransi Jiwa adalah: sebuah risiko (kemungkinan timbulnya kerugian atau kerusakan) tidak dapat dihindari, tetapi dampak risiko tersebut dapat diminimalisir. Cara-cara mengelola risiko: Menghindari risiko; dapat dilakukan dengan menghilangkan kebiasaan atau kegiatan yang mungkin dapat menimbulkan risiko. Mengendalikan risiko; dapat dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi dan dampak dari kerugian yang mungkin timbul. Menerima risiko; dapat dilakukan dengan mempertahankan risiko yang ada. Mengalihkan risiko; dapat dilakukan dengan cara mentransfer risiko dari seorang individu ke sebuah perusahaan. Asuransi jiwa mengelola risiko dengan cara: Memindahkan dampak kerugian dari seorang individu kepada sebuah grup; dan Membagi kerugian yang dialami oleh individu tersebut kepada seluruh anggota grup. Tahapan bisnis Asuransi Jiwa: Menyatukan orang-orang dengan kepentingan asuransi yang sama, dengan tujuan membagi risiko yang sama, Mengumpulkan dana (premi) dari sekumpulan orang yang telah disatukan tadi, Membayar kompensasi (klaim) kepada mereka yang menderita. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan jumlah premi: Kemungkinan kerugian Nilai dari setiap kerugian Biaya administrasi yang diperlukan untuk menjalankan usaha Ambang kesalahan yang mungkin timbul saat memprediksi kerugian Dan faktor lainnya seperti finansial, kesehatan dan faktor-faktor sosial.

Bisnis asuransi jiwa adalah saling berbagi. Tujuannya untuk menyebar kerugian yang diderita oleh seseorang ke seluruh anggota grup yang menghadapai risiko yang sama. Sebuah risiko dapat diasuransikan apabila: Memungkinkan bagi perusahaan Asuransi Jiwa untuk menghitung kerugian secara finansial. Terdapat beberapa jenis risiko yang sama. Nilai ekonomis atau jiwa yang diasuransikan dan risiko yang ditanggung memiliki kepentingan asuransi ( insurable interest). Law of Large Numbers menyatakan apabila jumlah eksposur kerugian meningkat, maka prediksi kerugian akan semakin mendekati jumlah kerugian yang nyata Penggunaan law of large numbers akan memungkinkan jumlah kerugian untuk diprediksi secara lebih baik. Klasifikasi Bisnis Asuransi Ada dua kategori besar asuransi, yaitu Asuransi Jiwa/Life Insurance dan Asuransi Umum (Kerugian)/General Insurance) Asuransi Jiwa Cakupan: Asuransi Jiwa untuk Individu Asuransi Jiwa untuk Group (Kumpulan) Asuransi Kesehatan Asuransi Kecelakaan Dana Pensiun Polis: Diterbitkan untuk jangka waktu lama beberapa tahun, atau bahkan seumur hidup Risiko yang ditanggung: Kematian akibat sakit maupun kecelakaan Sakit (rawat jalan atapun rawat inap) Cacat total dan tetap Dana pensiun Asuransi Umum (Kerugian) Cakupan: Asuransi Kendaraan Bermotor Asuransi Kebakaran Asuransi Bencana Alam Asuransi Perjalanan (Bisnis maupun Wisata) Marine Insurance Asuransi Terorisme Asuransi Profesi (Dokter, Pengacara) dan lain-lain Polis: Polis biasanya diterbitkan untuk jangka waktu 12 bulan atau lebih pendek lagi Risiko yang ditanggung: Kehilangan atau kerusakan barang Hutang yang ditimbulkan akibat penjualan produk atau barang atau proses yang menyertainya Kebakaran gedung atau rumah Kerusakan gedung atau rumah akibat banjir atau gempa bumi Tuntutan ganti rugi akibat malpraktek bagi dokter Hilang atau rusaknya kargo Pencurian Kerugian pinja

BAB 2 Pentingnya Asuransi Jiwa Agenda: Asuransi Jiwa Individu Asuransi Jiwa dan Masyarakat Asuransi Jiwa Individu Keuntungan finansial Asuransi Jiwa (Produk Tabungan vs Asuransi Jiwa) Sebuah produk tabungan akan berakhir apabia pemilik rekening meninggal dunia. Dan Ahli Waris hanya akan mendapat sejumlah dana yang tercantum pada rekening tabungannya. Pada Asuransi Jiwa, saat pemegang polis meninggal dunia, ahli waris akan mendapat jaminan penuh sejumlah dana yang tercantum pada kontrak Asuransi Jiwa. Keuntungan non-finansial Asuransi Jiwa: Menawarkan pilihan investasi yang aman Mendorong untuk berhemat Membebaskan diri dari rasa khawatir mengenai masalah keuangan di masa depan Menjaga Anda pada saat menginjak usia lanjut Asuransi Jiwa dan Masyarakat Manfaat Asuransi Jiwa bagi Masyarakat: Asuransi Jiwa sebagai pengganti Program Jaring Pengaman Sosial Pemerintah Asuransi Jiwa dapat digunakan sebagai sarana meningkatkan stabilitas perekonomian masyarakat Asuransi Jiwa merupakan sumber dana pembangunan bagi pemerintah dan sumber keuangan individu dengan menawarkan pinjaman Asuransi Jiwa membuka kesempatan kerja sehingga mengurangi tingkat pengangguran Asuransi Jiwa merupakan salah satu instrumen tabungan jangka panjang BAB 3 Produk Asuransi Jiwa Tradisional Agenda: Produk Asuransi Jiwa Asuransi Jiwa Berjangka Asuransi Jiwa Seumur Hidup Asuransi Jiwa Dwiguna Produk Asuransi Jiwa Produk Asuransi Jiwa adalah janji yang tertulis di dalam polis asuransi, yang dibuat penanggung kepada tertanggung, untuk memberikan kompensasi keuangan apabila sesuatu terjadi kepada tertanggung. Jenis produk Asuransi Jiwa: Asuransi Jiwa Tradisional Asuransi Jiwa Berjangka (Term) Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life) Asuransi Jiwa Dwiguna (Endowment) Asuransi Jiwa Unit Link Asuransi Jiwa Unit Link Single (Premi Tunggal) Asuransi Jiwa Unit Link Regular (Premi Berkala) Asuransi Jiwa Berjangka (Term) Ciri khas terletak pada proteksi maksimum dengan premi yang relatif rendah. Jenis produk ini menarik bagi calon tertanggung yang mempunyai kebutuhan asuransi yang besar namun daya belinya terbatas. Profil nasabah yang cocok untuk jenis produk ini adalah:

Calon pemegang polis yang ingin memproteksi masa depan anaknya Calon pemegang polis yang baru meniti karir Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life) Ciri khasnya adalah merupakan jenis dasar Asuransi Jiwa Permanen yang memberi proteksi asuransi seumur hidup bagi seseorang. Profil nasabah yang cocok untuk jenis produk ini adalah: Calon pemegang polis yang ingin memiliki proteksi jiwa sekaligus menghasilkan dana tabungan yang dapat dipakai untuk kebutuhan darurat Calon pemegang polis yang membutuhkan proteksi penghasilan permanen Calon pemegang polis yang ingin mendapatkan sejumlah pertumbuhan modal investasinya Asuransi Jiwa Dwiguna (Endowment) Ciri khasnya adalah merupakan proteksi yang memberikan jumlah uang pertanggungan saat tertanggung meninggal dalam periode tertentu dan sekaligus memberikan seluruh uang pertanggungan jika ia masih hidup pada akhir masa pertanggungan. Produk ini berguna bagi calon pemegang polis yang ingin tertanggung terlindung dari dampak keuangan karena kematian dini. Profil nasabah yang cocok untuk jenis produk ini adalah: Calon pemegang polis yang memerlukan dana bagi pendidikan anak Calon pemegang polis yang ingin mengumpulkan uang untuk membeli rumah Calon pemegang polis yang ingin memiliki dana pensiun Asuransi Jiwa Unit Link Single (Premi Tunggal) Ciri khasnya adalah premi yang dibayarkan secara sekaligus (lump sum). Biasanya diinginkan oleh calon pemegang polis yang ingin berinvestasi jangka panjang. Profil nasabah yang cocok untuk jenis produk ini adalah: Calon pemegang polis yang suka berinvestasi jangka panjang Calon pemegang polis yang memiliki kelebihan uang (idle money) dan bermaksud meningkatkan kekayaannya. Asuransi Jiwa Unit Link Regular (Premi Berkala) Ciri khasnya adalah merupakan investasi jangka panjang, dimana cara pembayarannya diatur, yaitu dilakukan secara berkala atau regular. Profil nasabah yang cocok untuk jenis produk ini adalah: Calon pemegang polis yang lebih memilih bermain di proteksi Calon pemegang polis yang suka bermain di investasi tetapi tetap ingin di proteksi Calon pemegang polis yang masih bekerja dan ingin menyiapkan tabungan Contoh kasus: 1) Pak Roya sudah memiliki pekerjaan tetap, rumah mewah dan kendaraan. Ia memiliki warisan yang besar dari orang tuanya dan tidak tahu apa yang harus ia perbuat dengan uang itu. Jenis produk yang cocok adalah: Asuransi Jiwa Unit Link Single (Premi Tunggal) 2) Aziz adalah tamatan universitas yang baru bergabung dalam sebuah perusahaan. Jenis produk yang cocok adalah: Asuransi Jiwa Berjangka (Term) 3) Ibu Soraya ingin mendapatkan pendapatan yang berkala dari investasinya dan akan ia masukan sebagai savings. Jenis produk yang cocok adalah: Asuransi Jiwa Unit Link Regular (Premi Berkala) 4) Istri Pak Denis baru saja melahirkan, ia ingin membeli rumah juga tetapi ia takut tidak dapat lunas jika sesuatu terjadi pada dirinya. Istrinya tidak bekerja. Jenis produk yang cocok adalah: Asuransi Jiwa Dwiguna (Endowment) 5) Romo khawatir ia tidak dapat berkarya saat ia memasuki usia lanjut Jenis produk yang cocok adalah: Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life) Asuransi Jiwa Berjangka (Term) Asuransi Jiwa Berjangka adalah kontrak asuransi jiwa yang uang pertanggungannya dibayarkan saat terjadi kematian tertanggung asuransi jiwa dalam masa perlindungan masih berlaku. Karakteristik Asuransi Jiwa Berjangka:

Memberikan perlindungan asuransi dengan biaya murah untuk jangka waktu tertentu. Pinjaman tidak tersedia pada polis asuransi jiwa berjangka. Tanpa nilai tunai dan tanpa menawarkan deviden. Tiga fitur penting dalam polis Asuransi Jiwa Berjangka: 1) Dapat diperpanjang (Renewability) Berhubungan dengan kelanjutan polis untuk jangka waktu berikutnya tanpa mengacu pada kemampuan asuransi tertanggung. Dan terdapat kenaikan premi pada setiap perpanjangan. 2) Dapat diubah (Convertibility) Memungkinkan tertanggung untuk mengganti polis berjangkanya ke jenis polis lain dengan alasan ingin mendapatkan nilai tunai. 3) Dapat dibuat ulang (Re-entry) Memungkinkan tertanggung untuk membayar premi lebih rendah apabila dapat menunjukkan bahwa dia memenuhi kondisi kemampuan asuransi tersebut. Tiga jenis polis Asuransi Jiwa Berjangka: 1) Polis Asuransi Jiwa Berjangka Tetap (Level Term Policy) Tertanggung membayar premi dalam jumlah yang tetap selama periode asuransi yang dipilih. 2) Polis Asuransi Jiwa Berjangka Menurun (Decreasing Term Insurance Policy) Biasanya digunakan untuk melunasi saldo pinjaman yang disebabkan kematian debitur/tertanggung. 3) Polis Pendapatan Keluarga (Family Income Policy) Memberikan pendapatan bulanan kepada pasangan hidup/ahli waris yang ditinggalkan. Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life) Asuransi Jiwa Seumur Hidup merupakan jenis dasar dari Asuransi Jiwa permanen. Dimaksudkan untuk memberikan proteksi asuransi seumur hidup kepada seseorang. Fitur polis Asuransi Jiwa Seumur Hidup Premi (Premiums) Tertanggung harus membayar premi kepada perusahaan seumur hidup. Ada dua macam premi pada polis Asuransi Jiwa Seumur Hidup: 1) Straight Life Policy : premi dengan pembayaran seumur hidup 2) Limited Payment Whole Life Policy : premi dengan pembayaran terbatas (5/10/15/20 tahun) Semakin pendek jangka waktu pembayaran, semakin mahal premi yang dibayar. Uang Pertanggungan (Sum Assured) Polis Asuransi Jiwa Seumur Hidup memberikan pembayaran tunai sejumlah pertanggungan atas kematian dengan tidak memperhatikan kapan kematian terjadi. Dan manfaat kematian dibayarkan sekaligus (lump sum). Jumlah yang dibayarkan (Amount Payable) Uang pertanggungan dibayarkan pada level yang tetap jika terjadi risiko pada masa pertanggungan/masa kontrak polis. Terkadang untuk jenis polis tertentu, deviden sering digunakan untuk menambah jumlah klaim/uang pertanggungan yang dibayarkan pada saat kematian. Nilai Tunai (Cash Value) Jika tertanggung tidak mengalami risiko meninggal hingga masa pertanggungan polis berakhir, maka tertanggung akan menerima sejumlah dana, disebut dengan Nilai Tunai yang biasanya sama besar dengan Uang Pertanggungan yang dipilih. Pinjaman Nilai Tunai (Loans) Pemegang polis mendapatkan kesempatan, selama masa pertanggungan dan polis sudah memiliki Nilai Tunai, untuk melakukan pinjaman terhadap Nilai Tunai polis tersebut, dengan jumlah terbatas dan harus dikembalikan bersama dengan pinalti bunga. Terdapat pengurangan dari nilai tunai bruto ketika klaim kematian dibayarkan.

Jenis polis Asuransi Jiwa Seumur Hidup: 1) Polis Asuransi Jiwa Seumur Hidup Biasa (Ordinary Whole Life Insurance) o Bermanfaat untuk mengakumulasikan tabungan melalui Asuransi Jiwa o Premi berkesinambungan o 2) Polis Asuransi Jiwa Seumur Hidup Terbatas (Limited Payment Whole Life Insurance) o Premi dibayar dalam masa tertentu Asuransi Jiwa Dwiguna (Endowment) Polis Asuransi Jiwa Dwiguna tidak hanya membayar jumlah uang pertanggungan saat tertanggung meninggal dunia dalam period tertentu, tetapi juga seluruh nilai tunai bila tertanggung masih hidup pada akhir masa pertanggungan. Elemen Polis Asuransi Jiwa Dwiguna: 1) Perlindungan Jiwa Perusahaan Asuransi Jiwa akan membayar sejumlah uang pertanggungan pada ahli waris saat tertanggung meninggal dalam masa pertanggungan tertentu. 2) Tabungan Membayarkan kepada nasabah nilai tunai sesuai jumlah yang besarnya sama dengan uang pertanggungan di akhir masa pertanggungan bila tertanggung masih hidup. Fitur-fitur polis Asuransi Jiwa Dwiguna: Periode perlindungan/protection period biasanya ditentukan minimal selama 10 tahun. Jika tertanggung masih hidup pada masa berakhirnya periode asuransi, nilai tunai akan dibayarkan pada pihak tertanggung atau pemegang polis. Pembatalan polis/cancellation terjadi bila premi tidak dibayarkan dalam masa/periode polis. Premi tunggal/single premium atau premi berjangka diperbolehkan. Pembayaran uang pertanggungan secara lumpsum dilakukan pada saat tertanggung meninggal dunia. Tertanggung berhak untuk mengembalikan polis setelah jangka waktu tiga tahun. Premi lebih tinggi dibandingkan jenis asuransi jiwa lainnya. Tertanggung dapat mengajukan/memperoleh pinjaman setelah polis ini memiliki nilai tunai (cash value) Suku bunga dikenakan terhadap pinjaman Nilai Tunai yang diambil. BAB 4 Manfaat Tambahan atau Rider Rider tidak dapat diperoleh jika asuransi dasarnya tidak dibeli. Rider merupakan sekumpulan provisi khusus atau tambahan dalam polis asuransi jiwa, yang ditambahkan untuk memperkuat dan melengkapi cakupan dari polis dasar beserta manfaatnya. Rider tidak otomatis dilampirkan pada polis utama. Pemegang polis harus membayar premi tambahan untuk manfaat tambahan yang akan diterimanya. Perusahaan asuransi jiwa memiliki hak untuk menolak atau membatalkan produk tambahan rider. Pemegang polis tidak diperbolehkan membeli Rider tanpa polis dasar, juga tidak diperbolehkan membatalkan polis dasar dan hanya memperoleh manfaat tambahan saja. Jangka waktu manfaat tambahan tidak boleh melampaui jangka waktu berlakunya polis dasar. Jenis-jenis Rider: Penghapusan Premi/Manfaat Tambahan Bebas Premi (Waiver of Premium) Manfaat ini berupa penghapusan pembayaran premi jika tertanggung mengalami cacat total dan permanen, dan klaim akan dibayar secara penuh jika tertanggung kemudian meninggal dunia. Kematian akibat Kecelakaan (Accidental Death) Manfaat ini menawarkan ganti rugi dua kali lipat (double indemnity) dari nominal yang diasuransikan (uang pertanggungan) jika pemegang polis meninggal dunia akibat kecelakaan. Cacat Permanen (Permanent Disability) Tunjangan ini menawarkan penghapusan premi yang akan jatuh tempo, jika tertanggung mengalami cacat permanen akibat kecelakaan.

Penyakit Kritis (Critical Illness) Manfaat ini direncanakan untuk menjamin tertanggung jika didiagnosa menderita penyakit kritis. Manfaat ini menyediakan pembayaran sejumlah jaminan lumpsum jika pemegang polis didiagnosa menderita salah satu penyakit kritis. Manfaat Tambahan Berjangka (Term Additional Benefit) Manfaat tambahan ini dilampirkan bersama polis permanen. Manfaat Tambahan Rumah Sakit (Hospital Cash/Income Benefit) Manfaat ini diberikan berdasarkan lamanya jangka waktu perawatan tanpa mempertimbangkan biaya awal yang dikeluarkan untuk rumah sakit. Manfaat Tambahan Suami/Istri dan Anak (Spouse and Children Benefit) Manfaat ini akan memberikan perlindungan bagi istri/suami dan anak dari tertanggung. Manfaat Tambahan Anak (Children Benefit)

BAB 5 Bonus Pada Polis Pada asuransi jiwa, bonus biasanya timbul karena adanya tingkat bunga atau tingkat mortalita yang lebih baik. Umumnya perusahaan asuransi tidak memperbolehkan pemegang polis untuk berparisipasi dalam keuntungan yang faktor mortalita dan bunganya tidak sejalan. Terkadang, perusahaan asuransi menetapkan pembagian bonus yang berbeda antara satu jenis polis dengan lainnya sebab tidak semua jenis polis menghasilkan kontribusi keuntungan yang setara. Polis asuransi jiwa tradisional memberikan keuntungan tambahan selain manfaat nilai tunai dan proteksi. Keuntungan itu berupa bonus yang dikenal dengan Polis Partisipasi atau polis yang mendapatkan hak istimewa berupa bonus. Dalam Polis Non-Partisipasi, pemilik perusahaan (atau pemegang saham) mengambil semua surplus sebagai keuntungan atau menerima kerugian, jika ada, dari modal yang telah dinyatakan. Dalam hal ini, surplus merupakan hak pemegang saham/pemilik perusahaan. Dalam Polis Partisipasi, pemegang polis mempunyai hak untuk memperoleh keuntungan/bonus/dividen dari perusahaan asuransi dengan catatan, pemegang polis harus membayar premi ekstra yang dikenakan kepada pemegang polis partisipasi. Jenis produk asuransi jiwa yang bisa mendapatkan bonus adalah jenis produk Asuransi Jiwa Seumur Hidup dan Asuransi Jiwa Dwiguna. Jenis-jenis bonus dalam polis asuransi jiwa: 1) Bonus Terjamin Adalah bonus yang ditambahkan ke uang pertanggungan setiap tahun secara otomatis dengan tingkat bunga tetap. Bonus ini adalah untuk Polis Non-Partisipasi. 2) Bonus Reversionari Sederhana Hanya berhubungan dengan uang pertanggungan, dan akan dibayarkan pada saat polis jatuh tempo (akhir kontrak polis) atau tertanggung meninggal dunia. Begitu bonus dinyatakan, perusahaan asuransi jiwa tidak bisa mengubahnya dan bonus menjadi hak pemegang polis. 3) Bonus Reversionari Majemuk Dikenal juga sebagai Compound Reversionary Bonus, terjadinya saat bonus dialokasikan secara proporsional kepada uang pertanggungan dan bonus yang cukup sudah dilekatkan pada polis. Cara pembayarannya sama seperti Bonus Reversionari Sederhana. 4) Bonus Tunai Bonus apapun yang dapat ditebus nilainya dapat disebut sebagai Bonus Tunai. 5) Bonus sebagai Pengurangan Premi yang akan datang Dengan adanya bonus ini, memungkinkan perusahaan asuransi jiwa secara penuh membebaskan pemegang polis dari kewajiban pembayaran premi selanjutnya.

6) Bonus Interim Merupakan bonus yang dibayarkan bersama-sama dengan uang pertanggungan saat klaim terjadi, walaupun perusahaan asuransi jiwa belum menyatakan bonus tersebut secara resmi. 7) Bonus Jatuh Tempo atau Bonus Terminal Bonus yang dibayarkan hanya ketika polis jatuh tempo atau tertanggung meninggal dunia. Periode minimum untuk polis jenis ini 20 atau 25 tahun. Biasanya dinyatakan sebagai persentase dari Bonus Reversionari yang ada Bisa juga dinyatakan sebagai persentase dari uang pertanggungan Bonus ini hanya dijamin jika premi tetap dibayarkan. BAB 6 Penentuan Risiko Agenda: Penetapan Premi Seleksi Risiko & Klasifikasi Underwriting Penetapan Premi Penetapan premi merupakan perhitungan terhadap pembayaran klaim dan biaya menjalankan bisnis. Faktor penentu besaran premi: Tingkat angka kematian tiap negara (tabel mortalita) Hasil investasi (terkait dengan tingkat suku bunga) Biaya yang diperhitungkan atas pengeluaran, pajak, laba dan lain-lain (contingencies) Manfaat yang dijanjikan/manfaat perlindungan Tabel Mortalita Tabel mortalita menunjukkan tingkat mortalitas yang diperkirakan terjadi setiap tahun dalam setiap kelompok umur. Tabel ini menentukan dasar penetapan premi. Hasil Investasi Merupakan faktor penting untuk menentukan penetapan premi. Dengan mengurangi investasi dan premi murni maka nilai premi ditentukan. Jika perusahaan asuransi jiwa mampu mendapatkan hasil investasi yang lebih tinggi atas dana yang dikelolanya, maka premi yang dikenakan akan lebih rendah. Bentuk investasi bisa diperoleh dari hasil: Selisih nilai Tingkat bunga Biaya Biaya berkaitan dengan jumlah uang yang dialokasikan untuk menanggulangi pengeluaran, pajak, laba, dan lain-lain (contingencies). Manfaat yang dijanjikan Untuk setiap kenaikan manfaat, sejumlah biaya harus diperhitungkan pada penetapan premi ini. Seleksi Risiko dan Klasifikasi Underwriting adalah proses dimana perusahaan asuransi jiwa memutuskan apakah akan menerbitkan polis yang diminta calon nasabah atau tidak, dimana perusahaan juga akan memutuskan syarat dan kondisi apa yang diberlakukan serta berapa besar tingkat premi yang dikenakan. Pihak yang mengerjakan proses underwriting disebut sebagai underwriter. Pengertian underwriter: Underwriter Pertama Tugas seorang Agen bukan hanya menjual polis. Ia juga disebut underwriter pertama. Bahkan ia bisa saja menjadi satusatunya orang yang bertemu dan menilai kelayakan calon tertanggung untuk memperoleh polis baik dari observasi kesehatan maupun moral hazard (niat yang membahayakan). Financial underwriter Orang yang memberi rekomendasi program yang cocok untuk kebutuhan dan kemampuan keuangan nasabah.

Medical underwriter Orang yang memberi rekomendasi layak tidaknya seseorang mengikuti program asuransi atas dasar kondisi kesehatan calon tertanggung. Seseorang yang memiliki risiko lebih besar, memiliki kecenderungan untuk mengajukan asuransi dibandingkan dengan orang yang berisiko standard. Hal ini disebut dengan Anti Seleksi atau Adverse Selection. Apabila anti seleksi tidak terdeteksi dengan cermat, maka perusahaan dapat mengalami kerugian karena klaim yang tidak terkontrol. Akibatnya, perusahaan akan menaikkan tingkat premi. Hal ini dapat merusak pasar asuransi karena tingkat premi tidak merefleksikan risiko yang sesungguhnya. Empat jenis pihak tertanggung: Preferred. Orang yang termasuk kelas risiko ini mempunyai harapan hidup lebih panjang dari harapan hidup normal. Orang ini mempunyai kondisi fisik yang sangat baik, tidak merokok dan riwayat kesehatan keluarga yang baik. Standard Orang yang mempunyai risiko rata-rata yang tidak perlu dibebani tarif khusus atau pembatasan khusus. Substandard Orang yang mempunyai risiko di atas rata-rata yang perlu dibebani premi tambahan. Uninsurable Orang yang memiliki risiko tinggi yang mungkin meninggal dalam waktu dekat (seperti orang yang menderita penyakit kanker), sehingga tidak dapat diasuransikan. Faktor seleksi risiko yang terkait aspek medis: Usia Jenis kelamin Kelas pekerjaan Hobi Gaya hidup Kondisi fisik Sejarah pribadi Sejarah keluarga Penggunaan tembakau Ketergantungan alkohol & obat-obatan Setiap peningkatan risiko akan menyebabkan peningkatan premi asuransi jiwa yang harus dibayar. Dalam proses penerimaan sampai disahkannya seorang nasabah, ada beberapa prosedur yang dilakukan oleh sebuah perusahaan asuransi, yaitu: Prosedur Penerimaan Nasabah Penerimaan nasabah baru/lama untuk perikatan baru wajib menggunakan formulir aplikasi standar yang berlaku. Form ini harus dievaluasi oleh underwriting untuk memastikan bahwa data yang diperlukan untuk keperluan penerbitan polis telah terakomodasi dalam formulir tersebut. Prosedur Identifikasi dan Penelitian Berdasarkan dokumen yang disampaikan oleh calon nasabah, petugas frontliner perusahaan asuransi wajib meneliti kebenaran dan keabsahan dokumen. Prosedur Persetujuan Penerimaan Calon Nasabah Persetujuan yang diberikan oleh pejabat perusahaan asuransi harus sesuai dengan jenjang kewenangan yang ditetapkan dalam prosedur yang berlaku setelah meyakini kebenaran identitas dan kelengkapan dokumen calon nasabah. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI No. Kep. 45/KMK.06/2003 Bab III pasal 12 mengenai pelaporan transaksi yang mencurigakan, LKNB (Lembaga Keuangan Non Bank) wajib menyusun prosedur untuk pengidentifikasian dan pelaporan transaksi yang mencurigakan sebagai bagian dari Pedoman Pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah.

Kelebihan Asuransi Non-Medis: Menghemat biaya pemeriksaan kesehatan Mengurangi waktu untuk pemeriksaan kesehatan Menghindari ketidaknyamanan pemeriksaan kesehatan -

Underwriting Dalam asuransi, pihak penanggung mendapat informasi mengenai calon pihak tertanggung dari beberapa sumber, salah satunya adalah formulir aplikasi yang diisi oleh calon nasabah. Tes Fisik: Tinggi dan berat badan; harus ideal. Uji coba laboratorium Laporan agen; jika seorang agen menemukan adanya risiko, maka ia akan diminta untuk menceritakannya pada laporan agen. Menjalani pemeriksaan fisik Perusahaan pemeriksa Proses penyeleksian dan penklasifikasian: Mengukur secara akurat sejauh mana dampak dari setiap faktor yang mempengaruhi risiko Mengukur dampak faktor-faktor interrelasi termasuk faktor yang menimbulkan konflik. Dua metode yang digunakan perusahaan asuransi untuk memutuskan apakah calon nasabah atau prospek layak untuk disetujui proposal polisnya, yaitu: 1) Metode Pendapat Perusahaan asuransi jiwa akan meminta opini dari sekumpulan dokter, ahli aktuaria, ahli statistik dan professional lainnya di bidang underwriting. Metode ini sangat berguna apabila hanya ada satu faktor saja yang perlu dipertimbangkan untuk menghasilkan keputusan. 2) Sistem Rating Angka Metode ini digunakan apabila terdapat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menghasilkan sebuah keputusan. Metode ini bekerja pada prinsip bahwa banyak faktor yang tergabung di dalam komposisi risiko. Penghentian pertanggungan harus dilakukan secara: Tertulis, baik atas kehendak penanggung maupun tertanggung Untuk polis asuransi jiwa yang tidak memiliki unsur tabungan, besar pengembalian premi sekurang-kurangnya sebesar jumlah yang dihitung secara proporsional berdasarkan sisa jangka waktu pertanggungan, setelah dikurangi bagian premi yang telah dibayarkan kepada perusahaan pialang asuransi dan atau komisi agen. Untuk polis asuransi jiwa yang memiliki unsur tabungan, perusahaan asuransi harus membayar paling sedikit sejumlah nilai tunai pada saat penghentian tersebut.

BAB 7 Provisi Agenda: Bentuk Polis Provisi dan Klausul-klasusulnya Fleksibilitas Provisi bagi Pemegang Polis Batasan Bentuk Polis Setiap polis wajib mencantumkan ketentuan umum, yakni keterangan mengenai fitur dasar yang umumnya berlaku dalam semua polis asuransi jiwa tradisional maupun unit link. Ketentuan umum pada polis memuat informasi mengenai: Keseluruhan kontrak Perjalanan, tempat tinggal dan pekerjaan Tenggang waktu (grace period) Usia Bunuh diri Klausul masa uji (Incontestability) Pemulihan (Reinstatement) Masa bebas lihat (Free Look Period) Pilihan non-pinalti (Non-Forfeiture Option, juga Automatic Non-Forfeiture Priveledge) untuk polis yang memiliki nilai tunai saja Ketentuan berikut ini hanya berlaku untuk Unit Link: Alokasi unit Manfaat Biaya administrasi Potongan bulanan Perpindahan dana Perubahan-perubahan alokasi Dana-dana Perubahan dapat terjadi saat adanya: Penambahan atau penghapusan asuransi tambahan sesudah polis terbit Pengecualian yang berlaku pada polis Pemindahan hak polis Dll Jika pemegang polis berhenti membayar premi, maka polis dinyatakan BATAL. Jika pemegang polis ingin membatalkan polisnya, lakukan hal-hal berikut ini: Ingatkan kembali apa untungnya mempertahankan polis Jelaskan ruginya jika melepaskan polis Belum tentu proposalnya diterima di asuransi yang baru Kehilangan momentum sesudah sekian tahun dengan nilai tunai yang ada Ia akan dikenakan biaya medical lagi Karena usia bertambah maka manfaat yang diperoleh akan berubah (lebih kecil) Untuk memulihkan polis akan diperlukan dokumen-dokumen tambahan

Alternatif selain penebusan polis: Membuat bebas premi Menjadi Extended Term Insurance Pinjaman premi otomatis Menurunkan besar manfaatnya (menurunkan uang pertanggungan) Mengubah frekuensi pembayaran premi tahunan menjadi bulanan Provisi dan Klausul-klausulnya Provisi adalah ketentuan-ketentuan, hak dan kewajiban dari pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak agar mempunyai aturan yang jelas. Perlindungan terhadap pemegang polis mengacu kepada Ketentuan Menteri Keuangan (Pasal 8 No. 422/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003) Delapan ketentuan untuk melindungi pemegang polis: Klausul Kontrak Keseluruhan (Entire Contract Clause) Klausul ini melindungi pemegang polis dengan tidak memperbolehkan perusahaan asuransi mencantumkan aturan prosedural dalam polis jika informasi mengenai tertanggung diperoleh tidak didasarkan fakta yang nyata. Klausul yang Tidak Perlu Diragukan (Incontestable Clause) Klausul ini memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa kekeliruan kecil yang dilakukan pemohon, tidak akan dijadikan alasan penolakan klaim di kemudian hari. Klausul Masa Tenggang (Grace Period) Provisi ini menyebutkan bahwa pihak perusahaan asuransi akan menerima pembayaran premi untuk jangka waktu tertentu setelah tanggal jatuh tempo, dimana polis masih memiliki kekuatan hukum. Selama masa ini, pihak perusahaan asuransi: o Diharuskan menerima pembayaran premi walaupun secara teknis telah melewati tenggat waktu; dan o Mungkin tidak membutuhkan bukti jaminan sebagai syarat penerimaan premi. Klausul Non-Denda/Penebusan (Non-Forfeiture Clause) Pilihan dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis untuk polis-polis yang telah memiliki nilai tunai seperti: o Pilihan nilai tunai; o Pilihan polis bebas premi; o Perpanjangan jangka waktu asuransi o Automatic non-forfeiture provision/automatic premium loan Klausul Pemulihan (Reinstatement Clause) Klausul ini memberikan hak pada pemegang polis untuk memulihkan polis yang telah lewat jangka waktunya dengan syarat-syarat tertentu. Terdapat dua syarat penting dalam hal ini: 1) Kelengkapan bukti jaminan 2) Pembayaran premi yang telah melewati tanggal jatuh tempo Provisi Kekeliruan dalam Penyebutan Umur atau Jenis Kelamin (Misstatement of Age or Sex Provision) Provisi ini menyebutkan jika terdapat kesalahan dalam penulisan umur tertanggung, maka nilai yang diasuransikan akan disesuaikan dengan premi yang seharusnya ditanggung jika tidak terdapat kesalahan dalam penulisan umur. Provisi yang Dapat Diperbaharui (Renewal Provision) Polis asuransi jiwa dapat diperpanjang. Dengan demikian, premi maksimum yang dijamin dapat dikenakan penambahan premi oleh perusahaan asuransi jiwa. Free Look Provision Pemegang polis memiliki waktu tertentu sejak ia meminta polis untuk memeriksanya dan mengambil keputusan. Hak umum pemegang polis: Dapat menentukan penerima manfaat Dapat menentukan dan mengubah frekuensi pembayaran premi Dapat memilih cara manfaat asuransi dibayar Dapat meminjam uang dari polis Dapat menerima nilai tebus secara tunai Dapat memindahkan hak-hak polis

Fleksibilitas Provisi bagi Pemegang Polis Provisi yang memberikan fleksibilitas pada pemegang polis diperlihatkan sebagai berikut: Klausul Ahli Waris Klausul Ahli Waris menyebutkan bahwa pemegang polis dapat menunjuk Orang atau Institusi untuk menerima manfaat pertanggungan atas risiko yang terjadi. Klausul dibedakan atas jenis penunjukkannya, yaitu: 1) Ahli Waris Pertama; pihak yang disebut pertama kali untuk menerima kompensasi ketika pemegang polis meninggal dunia 2) Ahli Waris Ke Dua; pihak yang disebut untuk menerima ganti rugi jika ahli waris pertama meninggal saat tertanggung meninggal dunia. Bentuk Pembayaran Klaim Kompensasi dapat dibayarkan dalam beberapa bentuk: 1) Tunai; sebagian besar klaim kematian dibayarkan dalam bentuk uang tunai. 2) Bunga; hasil dari pendapatan akan tetap dimiliki oleh perusahaan dan hanya bunga yang diperoleh yang akan dibayarkan pada ahli waris dengan dasar pilihan periode tetap (pembayaran selama jangka waktu tertentu) atau pilihan jumlah tetap (pembayaran dalam jumlah tertentu hingga pokok dan bunga habis). 3) Pilihan Penghasilan Tunggal; menguangkan pokok dan bunga yang bertujuan untuk penghasilan tunggal. 4) Jiwa Bersama; pembayaran asuransi jiwa akan terus berlanjut sampai sekurang-kurangnya salah satu dari kedua ahli waris (anuitas) masih hidup. 5) Jiwa Murni; pembayaran hanya akan dilakukan selama ahli waris pertama masih hidup. 6) Jangka Waktu Tetap; pembayaran dilakukan selama ahli waris pertama masih hidup, namun jika ahli waris pertama meninggal dunia sebelum waktu yang ditentukan, pembayaran dilanjutkan kepada ahli waris yang kedua hingga akhir periode yang ditentukan. Klausul Penunjukkan Kepemilikan Polis; pemegang polis asuransi dapat mengalihkan kepemilikannya kepada pihak lain. Pengalihan ini disebut Penunjukkan. Ada dua jenis penunjukkan: 1) Penunjukan Absolut; merupakan pengalihan penuh seluruh hak-hak yang dimiliki seorang pemegang polis yang tercantum dalam polisnya kepada orang lain. 2) Penunjukkan dengan Jaminan; merupakan bentuk pengalihan sementara dari sebagian hak-hak kepemilikan kepada orang lain. Pilihan Pembayaran Nilai Tunai Pemegang Polis yang ingin membatalkan polis asuransinya yang telah memiliki nilai tunai, diberikan pilihan untuk menerima nilai tunai tersebut dalam beberapa cara, yaitu: Secara tunai Dengan nilai yang lebih rendah Asuransi dengan jangka waktu yang diperpanjang, untuk nominal sama dengan polis Klausul Pinjaman Polis Dengan klausul ini, perusahaan asuransi wajib menyediakan fasilitas pinjaman kepada pemegang polis, dengan syaratsyarat tertentu. Jika tertanggung meninggal dunia, pinjaman tersebut dibayarkan kembali dengan mengurangi jumlah pinjaman dari pendapatan asuransi jiwa tertanggung. Pilihan Pembayaran Dividen Secara umum, pilihan dividen dari asuransi jiwa diantaranya adalah: 1) Pembayaran Tunai; perusahaan akan membayarkan dividen kepada pemegang polis setiap tahun 2) Pembayaran Premi; dividen yang seharusnya dibayarkan kepada pemegang polis digunakan untuk membayar premi berikutnya. 3) Pembayaran Pembelian Asuransi Tambahan; pilihan ini memberikan keuntungan bagi pemegang polis untuk membeli asuransi tambahan dengan menggunakan dividen sebagai preminya.

4) Akumulasi Bunga; hasil dari akumulasi dividen ditambahkan dengan nilai akumulasi bunga dividen. Dalam hal ini perusahaan asuransi jiwa harus menjamin tingkat bunga minimum. 5) Pembelian Asuransi Berjangka 1 Tahun; perusahaan asuransi memberikan pilihan untuk membeli asuransi berjangka satu tahun dengan memberikan dividen sebagai preminya. 6) Penghapusan Pembayaran Premi; polis asuransi distrukturisasi sedemikian rupa sehingga setelah polis diberlakukan selama jangka waktu tertentu, pemegang polis tidak perlu membayar sisa premi. 7) Akumulasi Nilai Tunai; dividen dapat diakumulasikan dengan nilai tunai yang diterima. Pilihan ini menghasilkan tambahan satu unit pendapatan untuk setiap tambahan satu unit nilai tunai. Batasan Ada beberapa provisi dalam kontrak asuransi jiwa yang secara umum melindungi perusahaan asuransi jiwa terhadap tindakan merugikan dan ketidaksempurnaan pasar lainnya. Sejumlah provisi untuk melindungi perusahaan asuransi jiwa terdiri dari: Klausul Tindakan Bunuh Diri Jika Tertanggung melakukan tindakan bunuh diri saat polis belum berusia dua tahun, maka polis akan dibatalkan. Begitupun jika pemegang polis melakukan tindakan bunuh diri sebelum dua tahun sejak polis kembali berlaku (baru dipulihkan). Dalam kasus-kasus seperti ini perusahaan asuransi jiwa tidak berkewajiban untuk membayar klaim, hanya mengembalikan seluruh premi yang telah dibayarkan. Klausul Penundaan Klausul Penundaan memberikan hak pada perusahaan asuransi jiwa untuk menunda pembayaran klaim, atau pembayaran pinjaman hingga enam bulan setelah permohonan diajukan. Provisi ini tidak berlaku bagi pembayaran klaim kematian karena kecelakaan. Klausul ini ditujukan untuk melindungi perusahaan terhadap usaha-usaha penipuan atau kejahatan asuransi. Klausul Pengecualian Klausul ini diciptakan untuk kepentingan profesi atau waktu yang secara khusus mengandung risiko. Ada dua jenis pengecualian, yaitu: pengecualian atas penerbangan (non reguler) dan pengecualian atas terjadinya peperangan. Pengecualian atas penerbangan Pengecualian ini tercantum pada kontrak asuransi jiwa hanya untuk situasi tertentu, misalnya tertanggung berprofesi sebagai pilot militer atau menerbangkan pesawat penelitian. Pengecualian atas peperangan Klausul ini secara lebih rinci dibagi ke dalam dua tipe klausul: o Klausul Status; perusahaan asuransi jiwa tidak diharuskan membayar klaim jika musibah kematian timbul saat tertanggung mengikuti wajib militer, tanpa pengecualian apapun atas penyebab kematian. o Klausul Akibat; perusahaan asuransi tidak diwajibkan untuk membayar klaim untuk kematian yang diakibatkan peperangan. BAB 8 Hukum Asuransi Agenda: Esensi Kontrak Ketentuan Kontrak Aspek Hukum Kontrak Asuransi Jiwa Esensi Kontrak Kontrak adalah perjanjian hukum yang mengikat dua pihak untuk melakukan suatu tindakan atau melakukan abstain. Kontrak Asuransi Jiwa adalah perjanjian hukum yang mengikat pihak tertanggung (insured) dan pihak penanggung (insurer). Berdasarkan kontrak tersebut, pihak penanggung (perusahaan asuransi jiwa) bersedia membayar sejumlah kompensasi dalam jumlah yang telah disepakati di dalam kontrak (polis). Sebuah kontrak dinyatakan sah apabila memenuhi empat persyaratan: Kapasitas Legal Pihak-pihak yang disebutkan di dalam kontrak harus memiliki kapasitas legal dalam membuat sebuah kontrak. Contoh orang yang tidak memenuhi kapasitas legal dalam sebuah kontrak Asuransi Jiwa adalah:

Seseorang yang masih di bawah umur Seseorang yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan terlarang Seseorang dengan keterbelakangan mental Sekutu musuh (pada masa perang) Perjanjian yang Saling Menguntungkan Sebuah perjanjian yang harus ditawarkan oleh satu pihak dan diterima oleh pihak lainnya pada satu kondisi yang sama. Pertimbangan Klausul pertimbangan di dalam polis merupakan sebuah pernyataan sederhana yang menyebutkan bahwa pihak tertanggung telah melengkapi formulir permohonan dan membayar premi. Tujuan Legal Sebuah kontrak dinyatakan sah apabila mempunyai tujuan legal, dan tidak bertentangan dengan kebijakan umum yang berlaku.

Ketentuan Kontrak Sebuah kontrak adhesi adalah sebuah kontrak yang dibuat oleh satu pihak, yang ditawarkan atas pilihan take it or leave it sehingga pihak lain hanya mempunyai kesempatan yang kecil untuk melakukan tawar-menawar atau mengajukan provisi. Kontrak adhesi biasanya memiliki provisi yang panjang dan dalam bentuk yang kecil, serta ditulis dengan bahasa yang sulit. Polis asuransi jiwa biasanya menggunakan kontrak adhesi karena dibuat oleh satu pihak (pihak penanggung/insurer) dan ditawarkan tanpa konsumen mempunyai hak untuk melakukan perubahan. Sebuah kontrak asuransi jiwa memiliki empat ketentuan hukum dasar, yaitu: 1) Doktrin Contra Proferentem Doktrin ini menyatakan bahwa jika suatu perdebatan muncul karena hal yang ambigu di dalam bahasa kontrak, perdebatan tersebut harus diselesaikan dengan keuntungan pihak tertanggung (insured). Dalam persidangan yang melibatkan kontrak asuransi jiwa, pihak pengadilan biasanya cenderung untuk menginterpretasikan keambiguitasan tersebut untuk keuntungan pihak tertanggung, dengan asumsi bahwa pihak penanggung seharusnya dapat menulis kontrak lebih baik. 2) Doktrin Niat Baik dan Keadilan (Doctrine of Good Faith and Fair Dealing) Doktrin ini menegaskan bahwa setiap pihak yang terlibat di dalam kontrak dilarang untuk melanggar hak dan kepentingan pihak lainnya. Doktrin ini berlaku saat pihak penanggung melakukan tindakan yang tidak adil terhadap pihak tertanggung. Dengan kata lain, pihak penanggung harus selalu ingat bahwa kepentingan pihak tertanggung adalah perihal pembayaran klaim. 3) Doktrin Harapan (Reasonable Expectations Doctrine) Doktrin ini digunakan pengadilan untuk menginterpretasikan bahasa polis. 4) Keberpihakan (Unconscionability) Doktrin ini menegaskan bahwa ketidakadilan atau keberpihakan pada satu pihak di sebuah kontrak asuransi jiwa tidak dapat ditolerir, atau keabsahannya dibatasi oleh pengadilan sehingga provisi yang ada tetap adil dan tidak berat sebelah. Aspek Hukum Kontrak Asuransi Jiwa Aspek hukum kontrak asuransi jiwa terdiri dari: 1) Utmost Good Faith (niat baik) Adalah merupakan tugas pihak penanggung dan pihak tertanggung untuk menerapkan niat baik (good faith) atau dalam bahasa latin disebut Uberrima Fides di antara satu sama lain, dan memberikan informasi secara terbuka.

2) Insurable Interest Seseorang yang mempunyai insurable interest pada pihak lain akan mengalami kerugian finansial ataupun kerugian lainnya apabila pihak lain tersebut mengalami musibah. Setiap orang dianggap memiliki insurable interest atas dirinya sendiri, termasuk terhadap pasangan hidup dan keluarganya. 3) Conditional Kontrak asuransi jiwa memiliki persyaratan. Pihak penanggung terikat janji untuk membayar kompensasi apabila persyaratan-persyaratan tertentu telah terpenuhi. 4) Unilateral Kontrak asuransi jiwa pada dasarnya bersifat sepihak. Hanya satu pihak saja, pihak penanggung, yang mempunyai janji legal yang harus dilaksanakan. Pihak tertanggung tidak dapat dipaksa secara legal untuk membayar premi. 5) Aleatory Dalam kasus pihak tertanggung meninggal dunia setelah membauar satu kali premi, ahli waris akan mendapatkan ganti rugi penuh. Sebaliknya perusahaan asuransi jiwa dapat memperoleh uang yang lebih besar dari hasil premi ketimbang uang ganti rugi yang harus dibayarkannya. 6) Personal Kontrak asuransi jiwa bersifat pribadi. Orang pasti memiliki insurable interest dalam dirinya sendiri, tetapi mungkin orang tersebut bukan insurable interest orang lain. Jadi kontrak asuransi jiwa tidak dipindahkan ke orang lain. 7) Valued Di bawah kontrak asuransi jiwa, penanggung setuju untuk membayar sejumlah kompensasi saat kerugian timbul. Jumlah yang dibayarkan kepada ahli waris tersebut mungkin memiliki atau tidak memiliki hubungan dengan jumlah kuantitatif dari kerugian yang timbul akibat kematian tertanggung.

BAB 9 Investasi Agenda: Dasar-dasar Investasi Instrumen Investasi Dasar-dasar Investasi Investasi adalah menanamkan uang atau modal dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Sebuah investasi yang ideal memiliki beberapa kriteria dan tolak ukur, seperti: 1) Tujuan Investasi Sebelum berinvestasi, ketahui dahulu tujuannya. 1. Keuntungan: o Mendapatkan hasil investasi o Meningkatkan modal pokok 2. Antisipasi Inflasi Investasi juga dilakukan untuk mengantisipasi inflasi. 2) Tingkat Risiko 3) Jangka Waktu 1. Jangka panjang; bagi orang yang ingin mempersiapkan sesuatu dan perlu uang yang besar. 2. Jangka pendek. 4) Likuiditas Likuid berarti kemudahan suatu aset untuk dicairkan menjadi uang tunai (cash). 5) Pajak

Instrumen Investasi Instrumen investasi adalah ragam pilihan investasi yang tersedia bagi seorang investor. Perusahaan asuransi jiwa menginvestasikan pula dananya (yang diterima dalam bentuk premi) ke dalam instrumen-instrumen ini. Terdapat beberapa jenis instrumen investasi, antara lain: Finansial: Deposito Bank Sebuah perusahaan asuransi dapat memilih rekening deposito untuk jangka waktu tertentu pada sebuah bank. Deposito tersebut dapat berupa: o Deposito berjangka; tertera nama, jumlah uang, dan tanggal jatuh tempo, serta bunga dapat diterima pada saat jatuh tempo. o Sertifikat Deposito; tertera jumlah uang, besar bunga dan tanggal jatuh tempo saja, serta bunga sudah diterima di awal dan dapat diperjualbelikan. Obligasi Obligasi adalah surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah yang menjanjikan pembayaran pada suatu jangka waktu tertentu dengan kupon (bunga) yang tidak dapat dibatalkan dan mengembalikan modal pada saat jatuh tempo berakhir. o Surat Utang Negara; merupakan pilihan investasi yang lebih aman dibandingkan obligasi perusahaan karena sekuritas ini didukung secara penuh oleh pemerintah, tetapi menghasilkan return yang kurang menarik dibanding dengan obligasi perusahaan. o Surat Utang Perusahaan; dikeluarkan oleh perusahaan yang ingin menambahkan modal dengan mengeluarkan surat utang. Surat Utang Perusahaan memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan Surat Utang Negara. Saham Saham adalah surat berharga yang merupakan bukti kepemilikan aset riil di suatu perusahaan. Saham merupakan penyertaan langsung pada sebuah investasi. Artinya, jika orang memiliki saham ia juga memiliki aset fisik perusahaan tersebut. Saham memberikan keuntungan yang besar dan pemegang saham berhak untuk memperoleh dividen. Dalam prinsip investasi high risk high return, keuntungan pada saham disebut Capital Gain, sementara risiko besar pada saham disebut Capital Loss. Terdapat dua jenis saham yang diterbitkan oleh perusahaan untuk meningkatkan modal, yaitu: o Saham Unggulan (Preference Stock) Merupakan tambahan dari jenis saham biasa (common stock) dimana pemilik saham mendapatkan kondisi instimewa dalam hal tertentu yang dijanjikan saat penerbitan. Apabila perusahaan bangkrut, maka pemegang saham preference berhak mengklaim asetnya terlebih dahulu. o Saham Biasa (Common Stock) Pemilik saham biasa memperoleh hak dividen, hak suara dan hak membeli saham baru sebelum ditawarkan (right/warrant). Reksadana Reksadana pada prinsipnya adalah beberapa investor yang mengumpulkan uangnya secara kolektif pada sebuah lembaga investasi. Dana ini kemudian dapat diinvestasikan dalam bentuk saham, obligasi, pasar uang dan dana campuran (saham + obligasi + deposito). Riil: Aset berwujud (properti, emas, dll) Investasi real estate merupakan investasi yang menarik dikarenakan harga sewa dapat meningkat secara berkala selama kondisi pasar dalam keadaan baik.

BAB 10 Asuransi Jiwa Unit Link Agenda: Investasi Asuransi Jiwa Unit Link Pengalokasian Dana Karakteristik Asuransi Jiwa Unit Link Investasi Asuransi Jiwa Unit Link Investasi asuransi jiwa dapat dianalogikan sebagai sebuah pertanian. Saat menanam padi, petani tidak bisa sepenuhnya yakin bagaimana tumbuhannya tersebut akan berkembang. Investor asuransi jiwa pun tidak dapat mengontrol hasil dari investasi yang dilakukan. Beberapa faktor sangat tidak mungkin untuk diprediksi dengan akurat, seperti: faktor ekonomi, faktor sosial, dan faktor politik. Perusahaan asuransi jiwa unit link melakukan dan mengelola investasi. Setelah semua pengeluaran, pajak, klaim, dividen dan lain-lain dibayar, sebuah perusahaan asuransi jiwa unit link berinvestasi pada pasar uang dan pasar modal. Asuransi jiwa unit link adalah sebuah instrumen investasi yang merupakan kombinasi asuransi jiwa dengan unsur investasi. Sebagian dana yang diinvestasikan dipotong untuk perlindungan asuransi jiwa dan sisanya diinvestasikan ke dalam dana unit link yang dipilih oleh nasabah. Dana unit link dikelola oleh perusahaan asuransi jiwa, namun ada juga yang menyerahkan pengelolaannya kepada manajer investasi di luar perusahaan (external fund manager) Dana unit link terbagi atas empat jenis, yaitu: Dana Pasar Uang (Dana Tunai) Biasanya instrumen ini untuk investasi jangka pendek dengan masa jatuh tempo 12 bulan bahkan kurang. Instrumen investasi bisa berupa: Sertifikat Bank Indonesia, Deposito Bank, atau Obligasi di bawah 1 tahun. Kelebihan: Risiko rendah; memiliki risiko yang terkecil dibandingkan dengan instrumen investasi pada dana saham dan berpendapatan tetap. Dana darurat; merupakan tempat terbaik untuk bentuk investasi jangka pendek dimana hasil investasi bisa dipergunakan sewaktu-waktu jika diperlukan. Kelemahan: Risiko inflasi; cenderung rentan dengan inflasi sebab hasil investasi yang ditawarkan biasanya rendah. Tidak cocok untuk investasi jangka panjang. Dana Obligasi (Dana Berpendapatan Tetap) Umumnya mengacu pada obligasi pemerintah dan perusahaan. Keuntungan didapat dari kupon. Kelebihan: Berpendapatan tetap; obligasi memberikan pendapatan tetap berupa kupon (bunga) hingga saat obligasi jatuh tempo. Kurang volatile; fluktuasi relatif kecil dan ringan sehingga risiko yang ada pada instrumen ini lebih kecil dibandingkan dengan dana saham dan campuran. Kelemahan: Fluktuasi; walaupun instrumen ini kurang volatile tetapi fluktuasi akan tetap ada. Dana Saham Investasi pada saham memiliki relativitas keuntungan yang cukup besar. Keuntungan didapat dari peningkatan harga saham dan dividen (keuntungan yang dibagikan), sehingga dapat memacu pertumbuhan harga unit dengan pesat. Kelebihan: Investasi dalam jangka panjang; jika nasabah bertahan pada investasi jangka panjang maka dana saham menawarkan kemungkinan hasil investasi terbesar dibandingkan investasi pada obligasi dan pasar uang. Kelemahan: Risiko tinggi; nasabah berisiko kehilangan dananya dibandingkan jika berinvestasi pada obligasi atau pasar uang. Kemungkinan kerugian akan dirasa lebih besar jika investasi tidak dilakukan dalam jangka panjang.

Dana Campuran (Managed Funds atau Balanced Funds) Kelebihan: Penyeimbangan (Rebalancing); pengelola dana biasanya memastikan bahwa kombinasi saham, obligasi dan dana di pasar uang terjaga melalui penyeimbangan sesuai dengan kondisi perkembangan ekonomi atau iklim investasi. Kelemahan: Risiko investasi menengah; risiko tidak sebesar jika berinvestasi pada dana saham karena dana dipecah pada beberapa instrumen investasi. Kapanpun sebuah perusahaan asuransi menawarkan lebih dari satu jenis dana kepada pemegang polis, biasanya terdapat satu fasilitas untuk memindahkan sebagian atau semua uangnya dari satu jenis dana ke jenis dana yang lain. Hal ini disebut switching. Pengalokasian Dana Menyerahkan sejumlah dana (premi) sesuai kebutuhan perlindungan dan investasi, serta persetujuan dari pemegang polis disebut sebagai alokasi dana. Pemegang polis menyerahkan dana dalam bentuk premi Perusahaan asuransi mengumpulkan jumlah premi tersebut Perusahaan asuransi mengalokasi dana yang disepakati ke dalam alternatif investasi Pemegang polis sesuai dengan risiko yang bersedia ditanggungnya dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu: 1) Konservatif (Low Risk taker/Risk Averse) Berhati-hati dalam menghadapi risiko Merupakan pemegang polis yang ingin memiliki risiko minimum dan puas dengan pengembalian yang rendah. 2) Moderat (Neutral Risk Taker) Netral dalam menghadapi risiko Merupakan pemegang polis yang bersedia menanamkan dananya ke dalam investasi yang seimbang dengan risikonya bersedia menanggung risiko lebih besar untuk memperoleh laba lebih banyak. 3) Agresif (High Risk Taker) Siap menanggung risiko tinggi Merupakan pemegang polis yang siap menanggung risiko tinggi untuk memperoleh laba yang tinggi pula. Dana dari premi yang dibayar oleh pemegang polis dapat dialokasikan untuk sejumlah tujuan, tergantung dari tipe pemegang polis dan kebijakan perusahaan. Secara umum semua perusahaan asuransi jiwa mengalokasikan dana mereka sbb: Dana investasi pengembalian rendah Jenis dana ini banyak diminati oleh tipe pemegang polis konservatif, yaitu yang berhati-hati dalam menghadapi risiko. Alternatif investasi ini dipilih semata-mata atas pertimbangan faktor keamanan. Dikarenakan hanya bersedia menanggung risiko minimum, maka hasil investasi yang diperoleh juga relatif rendah. Dana investasi pengembalian menengah Umumnya dipilih oleh tipe pemegang polis moderat. Risiko jenis dana ini relatif lebih tinggi dibanding dengan risiko pada jenis dana sebelumnya, sehingga hasil investasi yang diperoleh relatif lebih besar pula. Pilihan investasi ini ideal bagi pemegang polis yang menginginkan hasil investasi relatif lebih besar sekaligus bersedia menanggung risiko relatif lebih tinggi. Dana investasi pengembalian tinggi Umumnya dipilih oleh tipe pemegang polis agresif. Karakteristik Asuransi Jiwa Unit Link Manfaat berinvestasi pada Polis Unit Link: Kemampuan Asuransi jiwa unit link dapat menjadi alternatif yang murah bagi para pemegang polis untuk memperoleh proteksi dengan premi rendah. Produk ini juga membantu pemegang polis yang tidak mempunyai dana yang mencukupi untuk menjalani program asuransi jiwa secara reguler sekaligus berinvestasi.

Fleksibel Pemegang polis unit link dapat membayar preminya dengan cara yang berbeda-beda, menambah dana investasi, penarikan, penebusan, mengambil cuti premi dan mengubah Uang Pertanggungan secara mudah. Oleh karena itu, sifatnya sangat fleksibel. Diversifikasi Dengan dana unit link, pemegang polis memperoleh akses ke suatu portfolio yang sudah didiversifikasikan. Diversifikasi dana akan menjaga pemiliknya dari penurunan satu harga saham yang curam atau bahkan suatu sektor saham dalam portfolio tersebut. Manajemen Profesional Profesional Fund Manager atau Manager Pengelola Dana Investasi Profesional dapat memudahkan pemegang polis dalam mengelola dananya. Perusahaan pengelola dana investasi mempekerjakan para peneliti, analisis investasi dan ahli strategi yang akan mengelola investasi pemegang polis serta memberikan informasi, opini dan analisa yang berarti sehingga pemegang polis memperoleh hasil optimal dari dana yang diinvestasikan. Administrasi Pemegang polis tidak perlu pusing memikirkan perkembangan investasinya karena akan menerima laporan tahunan dana investasinya yang akan dikeluarkan setiap tahun oleh perusahaan asuransi jiwa. Terdapat beberapa risiko yang perlu diketahui sebelum seseorang memutuskan untuk mengambil Polis Unit Link: Barter Polis unit link tidak cocok bagi pemegang polis bertipe konservatif karena umumnya mereka lebih menginginkan proteksi dan jaminan sejumlah nilai tunai dan nilai jatuh tempo. Polis unit link lebih cocok untuk pemegang polis yang siap menerima fluktuasi nilai tunai dan nilai jatuh temponya. Risiko Unit Link = Risiko Reksadana Nilai unit bisa naik atau turun sesuai dengan aset terkait di dana tersebut. Sebab, nilai unit secara langsung terkait dengan kinerja investasi. Bisa Jadi Mahal Biaya potongan asuransi dapat membuat polis unit link terasa mahal. Ditambah dengan komisi penjualan dan biaya pengelolaan yang berkala , bahkan biaya-biaya tersebut dapat menghabiskan hasil dana investasi pada saat iklim investasi buruk. Jenis frekuensi pembayaran premi polis unit link: Premi Tunggal (single premium) Premi dibayarkan satu kali saja untuk membeli unit. Premi Berkala (regular premium) Premi dibayarkan secara berkala. Karakteristik polis asuransi jiwa unit link: 1) Proteksi Proteksi dasarnya adalah proteksi meninggal, sebab polis unit link dibuat dan distribusikan oleh perusahaan Asuransi Jiwa. 2) Menambah Dana (Top-Up) Pemegang polis mempunyai pilihan untuk menambah dana kapan saja dengan menginvestasikan Premi Tambahan dalam masa perlindungan Unit Link. Tambahan Dana dapat dilakukan sekali atau berulang-ulang. 3) Memindahkan Dana Perusahaan Asuransi Jiwa umumnya menawarkan beberapa pilihan dana unit link bagi pemegang polis sehingga mereka dapat memindahkan investasinya dari dana satu ke dana lain sesuai dengan profil risiko dari pemegang polis. Pemindahan dana dapat dilakukan secara ad-hoc, artinya bisa sekali atau berulang kali. 4) Penebusan Sebagian (Partial Withdrawal) Para pemegang polis dapat dengan mudah mengakses dana investasinya sebab mereka memiliki hak untuk menebus sebagian atau seluruh unit yang dialokasikan untuknya.

5) Alokasi Premi Alokasi premi adalah premi yang akan dialokasikan untuk membeli unit dana investasi, sisanya digunakan untuk memenuhi biaya asuransi yang dikenakan. 6) Harga Didepan (Forward Pricing) Unit investasi yang dibeli biasanya menggunakan harga penawaran pada tanggal valuasi yang akan datang. 7) Cuti Premi (Premium Holiday) Cuti premi adalah periode dimana pemegang polis tidak melakukan pembayaran premi reguler namun masih dapat menikmati manfaat sesuai kontrak polis. 8) Manfaat Tambahan (Riders) Unit investasi yang diberikan biasanya menggunakan harga unit (offer price) pada tanggal valuasi yang akan datang. Jenis-jenis Biaya: 1) Biaya Awal Penjualan (Initial Cost) Biaya ini adalah biaya yang dibayarkan di depan untuk perusahaan asuransi yang menjual dana. Biaya ini bersifat satu kali saja dan tidak berkelanjutan. 2) Biaya Pengelolaan Dana (Fund Management Fee) Adalah biaya yang dibebankan oleh pengelola dana untuk mengelola dana. 3) Biaya Manfaat (Benefit Charges) Adalah biaya untuk manfaat asuransi. Biaya ini biasanya didanai melalui pembatalan sejumlah unit yang senilai dengan biaya manfaat. 4) Biaya Polis (Policy Fees) Adalah biaya yang timbul untuk menerbitkan polis. 5) Biaya Administrasi (Administrative Charges) Adalah biaya yang digunakan sebagian besar untuk merawat data dan juga servis lainnya. 6) Biaya Penebusan (Surrender Charges) Biaya penebusan adalah biaya yang dibebankan kepada klien apabila dia memutuskan untuk menebus sebagian/seluruh polisnya sebelum suatu jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk mengganti kerugian perusahaan saat menerbitkan polis. Dua cara untuk menerbitkan polis asuransi jiwa unit link: Penerbitan polis dengan Harga Tunggal Penerbitan polis dengan Dua Harga o Harga Penawaran (Offer Price) Harga penawaran adalah harga dimana perusahaan asuransi jiwa mengalokasikan unit-unit ke polis dari premi yang dibayar. Harga Permintaan (Bid Price) Harga permintaan adalah harga dimana perusahaan asuransi jiwa akan menghargai unit bila pemegang polis ingin menjual atau melakukan klaim atas polis. Harga permintaan umumnya lebih rendah dari harga penawaran. o Beda Harga Permintaan Penawaran (Bid-Offer Spread) Pada umumnya ada perbedaan lima persen antara harga penawaran dan harga permintaan. Keuntungan investasi dalam polis unit link dapat dihitung berdasarkan selisih harga unit pada saat masuk dengan harga terbaru. Keuntungan inilah yang disebut dengan NAV (Net Asset Value) atau Nilai Aset Bersih Asuransi Jiwa Tradisional vs Asuransi Jiwa Unit Link o

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Asuransi Jiwa Unit Link Bertujuan untuk melindungi sekaligus berinvestasi Proses penarikan sangat fleksibel Biaya-biaya yang dikenakan sangat transparan Pilihan investasi ditentukan klien Nilai investasi yang berjalan secara spesifik dilaporkan kepada klien Pendapatan dari produk unit link lebih tinggi nilainya daripada produk tradisional Asuransi jiwa unit link menggunakan Actual Premium

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Asuransi Jiwa Tradisional Bertujuan lebih pada perlindungan Terdapat syarat-syarat penarikan Biaya-biaya yang dikenakan tidak transparan Pilihan investasi ditentukan perusahaan asuransi Nilai investasi yang berjalan tidak dilaporkan

Pendapatan dari produk tradisional tidak setinggi produk unit link 7. Asuransi jiwa tradisional menggunakan Level Premium BAB 11 Prosedur Klaim Klaim adalah tuntutan yang diajukan pemegang polis atau ahli waris terhadap pelayanan atau janji yang diberikan penanggung pada saat kontrak asuransi jiwa dibuat. Jenis klaim adalah: Klaim Jatuh Tempo (Maturity Claim) Dalam klaim jatuh tempo, pemegang polis bertahan hidup sampai kontrak polis berakhir atau sampai pada jangka waktu yang telah ditentukan. Klaim jatuh tempo biasanya terjadi pada polis Dwiguna (Endowment). Klaim Lebih Awal (Early Claim) Perusahaan asuransi jiwa tidak mengharapkan kematian dari tertanggung dalam jangka waktu kurang dari dua tahun sejak dimulainya polis. Klaim yang tidak diharapkan ini disebut juga Klaim Lebih Awal dan akan dilakukan investigasi secara menyeluruh. Klaim Kematian (Death Claim) Klaim kematian terjadi pada saat tertanggung meninggal pada masa perlindungan polis atau masa asuransi berlaku. Manfaat Kelangsungan Hidup Manfaat kelangsungan hidup dapat dibayarkan sebelum tanggal jatuh tempo tapi hanya untuk sampai periode tertentu. Departemen Klaim akan melakukan pengecekan awal untuk memverifikasi apakah klaim masih berlaku atau tidak. Verifikasi berkisar pada pertanyaan seperti: 1) Apakah polis masih berlaku? 2) Apakah premi terakhir telah dibayar lunas? 3) Apakah seluruh persyaratan telah terpenuhi? 4) Adakah tendensi penipuan? 5) Apakah formulir klaim telah dilengkapi dan ditandatangani? Pemberitahuan klaim merupakan proses komunikasi antara penanggung dengan pemegang polis/ahli waris ketika klaim muncul. Pemberitahuan Klaim Jatuh Tempo Polis Dwiguna membayarkan klaim jatuh tempo. Penanggung, sebelum mengirim pemberitahuan kepada tertanggung meyakini bahwa: Tertanggung atau pemegang polis yang sebenarnya dan identitasnya dapat dibuktikan Pemegang polis telah membayar seluruh preminya Pemegang polis telah menyerahkan bukti usianya Jika polisnya hilang, pemegang polis melaporkan kepada pihak penanggung dan mendapatkan surat keterangan dari polisi Pemegang polis telah menyerahkan polis asli.

Pemberitahuan Klaim Kematian Klaim kematian dapat dibayarkan hanya ketika tertanggung meninggal dalam jangka waktu kontrak polis. Karena hak untuk melakukan klaim muncul hanya setelah kematian tertanggung, kematiannya harus diberitahukan kepada penanggung oleh ahli waris yang ditunjuk, keluarga atau atasannya didukung dengan data-data. Pemberitahuan tersebut harus mencakup data-data pendukung sbb: Nomor polis Nama Tanggal kematian Penyebab kematian Hubungan dengan tertanggung Keterangan kematian dari instansi yang terkait Penanggung dapat mengambil inisiatif untuk memproses klaim atas informasi yang diterima dari: Berita Kematian Agen Asuransi Berita koran atas terjadinya kecelakaan Prosedur Penyelesaian: Klaim Jatuh Tempo dan Manfaat Kelangsungan Hidup 1) Penanggung membayar klaim tersebut secara tunai atau cek atas nama pada saat jatuh tempo klaim. 2) Dalam hal klaim manfaat kelangsungan hidup, pengesahan yang diperlukan dibuat dalam catatan polis sebelum mengembalikan dokumen polis kepada tertanggung. 3) Dalam hal orang dengan kelainan jiwa, sertifikat yang memenuhi syarat dari pengadilan harus diterbitkan. 4) Dalam hal tertanggung telah diputuskan pailit, sebelum polis jatuh tempo untuk dibayarkan, pengadilan harus diberitahu mengenai tanggal jatuh tempo dan rincian lainnya. 5) Jika tertanggung dilaporkan telah meninggal setelah tanggal jatuh tempo tapi sebelum penerimaan manfaat, klaim harus diperlakukan sebagai klaim jatuh tempo dan dibayar kepada ahli waris yang sah. Klaim Kematian 1) Klaim kematian dapat dibayarkan kepada ahli waris atau yang ditunjuk untuk menjaga berbagai kemungkinan 2) Dalam hal tidak terdapat penunjukan atau ahli waris atas polis, bukti hukum atas hak dari wasiat harus diterbitkan. 3) Jika pemberitahuan klaim diterima setelah tiga tahun sejak tanggal kematian, klaim dianggap batal. 4) Jika kematian telah terjadi dalam waktu dua tahun sejak dimulainya kembali polis, investigasi harus dilakukan untuk mengetahui keabsahan klaim. 5) Bukti yang lengkap dari ahli waris tidak diperlukan oleh penanggung ketika jumlah klaim kecil, dan tidak terdapat perselisihan di antara ahli waris atas klaim. BAB 12 Menjadi Agen Asuransi

Agenda: Agen Asuransi Prosedur dan Proses Penjualan Pelayanan Purna Jual Syarat dan Prosedur Menjadi Agen Agen Asuransi Bisnis asuransi jiwa terdiri dari perusahaan, pembeli dan perantara. Pihak perusahaan asuransi jiwa merupakan pihak yang membuat, mendesain dan juga sebagai pemilik produk asuransi jiwa. Perantara dapat disebut sebagai agen, yaitu orang atau badan hukum yang pekerjaannya menjual jasa asuransi untuk dan atas nama perusahaan dimana ia bekerja.

Secara umum definisi agen dalam asuransi diuraikan dalam: Undang-undang RI Menurut Undang-undang RI nomor 2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, agen asuransi adalah seseorang atau badan hukum yang kegiatannya memberikan jasa dalam memasarkan jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung. Menurut Peraturan Pemerintah RI no. 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian, pasal 27 ayat 1: setiap agen asuransi hanya dapat menjadi agen dari 1 (satu) perusahaan asuransi. Kamus Dewan Asuransi Indonesia Menurut Kamus Dewan Asuransi Indonesia, agen asuransi adalah orang atau badan hukum yang pekerjaannya menjual jasa asuransi untuk dan atas nama perusahaan asuransi yang diageninya. Agen mewakili dan bertanggung jawab pada pemberi kuasa/perusahaan asuransi dimana ia bekerja. Pemberi kuasa bertanggung jawab pada agen jika agen ceroboh dan menyebabkan kerugian, pemberi kuasa mempunyai hak untuk mendapat ganti rugi dari agen. Kode Etik Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Menurut Kode Etik AAJI, agen asuransi jiwa adalah setiap orang (tenaga atau manager pemasaran) atau badan hukum yang mempunyai kuasa bertindak untuk dan atas nama satu perusahaan asuransi jiwa dalam memasarkan produkproduk asuransi jiwa. Pengertian Umum Agen adalah seseorang/badan hukum yang ditunjuk oleh perusahaan asuransi jiwa untuk mendapatkan bisnis baru dan melayani bisnis yang telah didapatkannya secara konsisten dan penuh tanggung jawab. Tugas Agen adalah: Mempelajari kebutuhan nasabah Agen bertanggung jawab untuk mengajukan pertanyaan yang tepat guna mengetahui produk yang sesuai kebutuhan calon nasabah. Menawarkan dan menjelaskan secara lengkap bagaimana produk berfungsi Agen harus menjelaskan secara jelas dan terperinci: Fitur produk asuransi jiwa yang ditawarkan Manfaat produk tersebut bagi calon nasabah Persyaratan-persyaratan yang berkaitan dengan produk yang dimaksud Mengisi formulir/surat permohonan asuransi jiwa Agen harus mengisi formulir bersama-sama calon nasabah. Pastikan calon nasabah memahami setiap pertanyaan yang terdapat dalam formulir/SPAJ. Menyerahkan polis Setelah polis diterbitkan oleh perusahaan asuransi jiwa, agen bertanggung jawab untuk mengirimkannya secepat mungkin kepada nasabah dan meminta bukti penerimaan polis. Penyerahan polis menyelesaikan proses penjualan dan memastikan keabsahan kontrak. Seorang agen harus menyiapkan segala sesuatu yang bersifat administratif. Surat Permohonan Asuransi Jiwa (SPAJ) Laporan Rahasia Agen Underwriting Medis dan Keuangan Informasi Penting Pemulihan Polis Klaim Jatuh Tempo Klaim Kematian Perusahaan asuransi jiwa menempatkan kepercayaan dan keyakinan yang sangat tinggi kepada para agennya. Ada beberapa bentuk otoritas yang dimiliki agen: Otoritas Tertulis Semua bentuk otoritas yang dinyatakan secara tertulis dalam kontrak keagenan

Otoritas Implisit Semua bentuk otoritas yang tidak dinyatakan secara lisan maupun tulisan dimana agen mengimplikasikan kuasa yang mendukung tugasnya yang harus ia jalankan sesuai dengan otoritas tertulis. Otoritas Umum Otoritas yang biasa dilakukan dimana seorang agen harus bertindak sesuai dengan kebiasaan yang lazim berlaku di lingkungan ia bekerja. Otoritas Nyata (Apparent or Ostensible) Segala tindakan yang mewakili pemberi kuasa yang menyebabkan pihak ketiga percaya bahwa agen tersebut adalah wakil dari pemberi kuasa sehingga pemberi kuasa harus bertanggung jawab atas tindakan sang agen. Prosedur dan Proses Penjualan Proses penjualan terbagi atas enam langkah, yaitu: 1) Pra-pendekatan Berarti persiapan untuk mendekati prospek. 2) Pendekatan Merupakan tahap dimana Anda bertemu prospek secara tatap muka. 3) Wawancara 4) Keberatan Banyak kesalahpahaman yang timbul dalam bisnis asuransi. Keberatan adalah hal yang wajar dan Anda harus meresponnya dengan nada suara yang wajar pula. Jangan berargumentasi dengan prospek dalam situasi apapun. 5) Penyelesaian 6) Layanan Di bisnis asuransi jiwa, layanan merupakan hal yang sangat penting karena kontrak asuransi jiwa merupakan suatu komitmen jangka panjang. Pelayanan Purna Jual Agen berkewajiban melayani nasabah dengan sungguh-sungguh dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhannya, sehingga apapun kendalanya polis tetap aktif. Kegiatan ini disebut sebagai pelayanan purna jual. Langkah pelayanan agen asuransi: 1) Agen perlu segera memberitahu prospeknya bahwa polis akan diterbitkan. 2) Pemberitahuan tersebut dikirimkan lewat telepon, SMS ataupun e-mail, agar dapat segera diketahui oleh prospek. 3) Premi tidak dapat dititipkan. Agen harus langsung mentransfer premi nasabah ke rekening perusahaan. Setelah nasabah menyerahkan premi pertama, seorang agen perlu melanjutkan pelayanan agar: Agen dapat tetap menjaga supaya polisnya terus aktif sehingga agen tetap menerima komisi Kepercayaan nasabah terhadap agen dan perusahaan dapat meningkat Diharapkan nasabah akan menghubunginya lagi jika ia ingin proteksi tambahan tertentu. Kegiatan purna jual agen asuransi: 1) Melayani penyerahan polis Penyerahan polis lebih baik dilakukan langsung oleh agen sehingga dapat menjelaskan kembali manfaat dan kondisi polis kepada nasabah. 2) Memberi pelayanan selama polis aktif Pelayanan selama polis tetap aktif dimana nasabah membayar premi secara teratur. Agen harus selalu siap menjawab dan melayani jika pemegang polis: Ingin menanyakan sesuatu tentang polisnya Ingin manfaat tambahan Ingin bertanya tentang isu menyangkut industri asuransi/perusahaan yang ia dengar dari berbagai sumber. 3) Memberi pelayanan premi lanjutan Lakukan evaluasi berkala dengan nasabah untuk memastikan bahwa produk yang telah diperoleh nasabah tetap memenuhi kebutuhannya.

4) Memberi pelayanan reselling Agen harus dapat membantu jika nasabah ingin membeli polis baru lagi. 5) Memberi pelayanan pemulihan polis Agen bisa membantu nasabah menghidupkan kembali polis yang lapse, yaitu polis yang gagal dibayar preminya oleh nasabah, dengan: Membantu nasabah melengkapi formulir Menyerahkan bukti kesehatan yang layak Menghitung dan menagih hutang premi beserta bunganya Menjelaskan alternatif terbaik untuk menghidupkan polis kembali 6) Memberi pelayanan untuk pengembangan prospek baru/referensi Agen yang ingin memberi pelayanan purna jual yang baik selalu menyimpan dua catatan: Pedoman Prospek; data prospek yang didapat lewat saudara, teman dan nasabah atau sumber-sumber lain. Daftar Pemegang Polis; yang dipergunakan agen untuk mengingatkan nasabah pada saat jatuh tempo pembayaran premi atau membangun hubungan yang baik untuk mendapatkan kenalan (prospek) baru. 7) Memberi pelayanan klaim Jika salah seorang nasabahnya meninggal, agen dapat menghubungi penerima manfaat dan membantu mereka mengurus klaim sesegera mungkin. 8) Menyampaikan surat ucapan ulang tahun/hari raya Kesalahan umum yang dilakukan agen adalah menelepon nasabah hanya pada saat mengingatkan untuk membayar polis. Syarat dan Prosedur Menjadi Agen Persyaratan untuk menjadi agen asuransi diatur dalam Peraturan Pemerintah RI nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian pasal 27. Pasal ini terdiri atas 4 ayat, yaitu: Ayat 1: Setiap agen asuransi hanya dapat menjadi agen dari 1 (satu) perusahaan asuransi. Ayat 2: Agen asuransi wajib memiliki perjanjian keagenan dengan perusahaan asuransi yang diageni. Ayat 3: Semua tindakan agen asuransi yang berkaitan dengan transaksi asuransi menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi yang diageni. Ayat 4: Agen asuransi dalam menjalankan kegiatannya harus memberikan keterangan yang benar dan jelas kepada calon tertanggung tentang program asuransi yang dipasarkan dan ketentuan isi polis, termasuk mengenai hak dan kewajiban calon tertanggung. Peraturan tambahan yang melengkapi Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun 1992, yaitu: 1) Agen asuransi di Indonesia harus memiliki sertifikat dari asosiasi industri asuransi sejenis. (Pasal 7 ayat (2) a. (5) dari Keputusan Menteri Keuangan nomor 425/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003). 2) Seorang agen atau tenaga pemasaran dapat memasarkan Produk Yang Dikaitkan Dengan Investasi apabila yang bersangkutan memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Memiliki sertifikasi keagenan dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia; b. Berpengalaman sebagai agen asuransi pada perusahaan yang bersangkutan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan; c. Telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan mengenai Produk Yang Dikaitkan Dengan Investasi dan dasar-dasar teori investasi; dan d. Lulus ujian keagenan khusus untuk Produk Yang Dikaitkan Dengan Investasi yang diselenggarakan oleh asosiasi terkait. (Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan nomor Kep-2475/LK/2004 tentang Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi dalam pasal 7). 3) Perusahaan asuransi dilarang mempekerjakan agen yang masih terikat dengan perusahaan asuransi lain kecuali agen yang bersangkutan telah mengakhiri perjanjian keagenannya sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan. (Pasal 38 ayat (2) dari Keputusan Menteri Keuangan nomor 425/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003).

Tahapan dalam proses yang harus ditempuh oleh seorang agen untuk bisa mendapatkan lisensinya adalah: 1) Direkrut perusahaan/peragenan asuransi Calon agen mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai ketentuan perusahaan masing-masing. Agen harus memiliki kontrak keagenan. Begitu menjadi anggota perusahaan, agen akan didaftarkan ke AAJI untuk memperoleh Lisensi Sementara (Temporary License) yang hanya berlaku selama 6 bulan. 2) Registrasi untuk belajar (oleh perusahaan) Setelah agen bergabung 3 bulan, perusahaan akan mendaftarkan agen ke AAJI untuk mengikuti program Lisensi Keagenan Penuh (Full License). 3) Pembelajaran Agen harus memahami teori, konsep dan pengetahuan asuransi jiwa disamping produk asuransi jiwanya sendiri. 4) Mengikuti ujian Agen harus mengikuti ujian dalam waktu 6 (enam) bulan setelah memperoleh Lisensi Sementara (Temporary License). 5) Lulus ujian Agen yang lulus ujian lisensi diharapkan sudah memiliki tingkat kecakapan dan kompetensi yang memadai dalam bidang asuransi jiwa. 6) Mendapat lisensi Masa berlaku Lisensi Penuh adalah 2 tahun. 7) Perpanjang lisensi Sebelum masa berlaku Lisensi Penuh kadaluarsa agen wajib memperpanjang lisensinya. Pelanggaran agen akan diberi sanksi secara bertahap tergantung bobot kesalahan dan dapat langsung masuk dalam daftar terlarang jika tindakan agen bersifat kriminal. Sanksi dapat berupa: Diberi surat peringatan; Diancam dengan UU RI no 2 tahun 1992; Pangkat diturunkan; Dilarang, tidak diperbolehkan menjadi agen asuransi di Indonesia lagi. BAB 13 Etika Bisnis Asuransi Jiwa

Agenda: Jalur Pemasaran Aturan Dalam Asuransi Jiwa Kode Etik Agen Jalur Pemasaran Tujuan pemasaran adalah memfokuskan pada kebutuhan klien dan mendapatkan keuntungan jangka panjang melalui kepuasan klien. Perusahaan asuransi memilih jalur pemasarannya dengan cara: 1. Rencana penjualan perusahaan asuransi dievaluasi. 2. Manajemen mengkalkulasi pertumbuhan dan target penjualannya. 3. Kemampuan kantor pusat dan tenaga penjualan dievaluasi. 4. Prioritas ditentukan dan target disusun. 5. Satu atau lebih dari jalur distribusi dipilih serta digunakan untuk memasarkan produk.

Jalur pemasaran secara umum dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu: Perantara Merupakan agen yang menjual produk-produk asuransi. Pihak ini menawarkan produk asuransi dengan menjual secara langsung pada klien dan mendapatkan komisi untuk setiap produk yang dijual. Perantara penjualan digolongkan ke dalam dua kategori umum: 1. Distribusi melalui agen asuransi 2. Distribusi melalui bukan agen asuransi Lembaga keuangan Yang termasuk ke dalam Lembaga Keuangan adalah: 1. Lembaga pembiayaan 2. Bank 3. Lembaga keuangan lain Penjualan langsung Dengan sistem ini, produk perusahaan asuransi dipasarkan tanpa melalui jasa agen asuransi. Pemegang polis dapat membayar premi mereka langsung kepada perusahaan asuransi. Surat-menyurat merupakan metode paling lazim digunakan di sistem ini. Aturan Dalam Asuransi Jiwa Agar petugas penjualan memiliki aturan main yang jelas dan pemegang polis terlindungi maka industri asuransi jiwa membuat kode etik. Dengan demikian penjual/pemasaran: 1. Memiliki standar kode etik yang seragam. 2. Kepercayaan dan kesejahteraan pemegang polis tetap terjaga. Aturan dasar dalam kode etik asuransi jiwa: Berbagi risiko Asuransi jiwa merupakan bisnis penghimpunan dana masyarakat dan berbagi risiko. Karena itulah, bisnis ini harus dijalankan dengan integritas yang tinggi dan kode etik yang ketat serta dijalankan secara profesional, dimana kepentingan nasabah harus ditempatkan di atas kepentingan penjual/pemasar (menghindari adanya konflik kepentingan pribadi). Kepercayaan Kepercayaan adalah landasan dasar dari bisnis ini. Karena itulah bisnis ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan sikap profesional. Kepercayaan pemegang polis harus terus dijaga dan dipelihara dengan baik dan ditingkatkan. Keamanan Agen asuransi jiwa harus berusaha memberikan rasa aman kepada setiap pemegang polis dan juga menjaga kredibilitas perusahaan di mata masyarakat. Tepat waktu Agen asuransi jiwa harus memberikan layanan yang efisien dan tepat waktu bagi pemegang polis, tanpa melupakan kelengkapan da ketepatan data yang dibutuhkan. Surat Pernyataan Seluruh karyawan dan agen asuransi jiwa wajib menandatangani surat pernyataan untuk menjalankan aturan-aturan yang ditetapkan perusahaan. Kepatuhan Pimpinan departemen bertanggung jawab dalam menjamin dijalankannya aturan main perusahaan dan kode etik oleh setiap karyawan dan agen setiap saat. Pelanggaran Setiap pelanggaran yang terjadi harus dilaporkan pada Dewan/Departemen Kode Etik Penjualan. Dewan/Departemen ini wajib menyerahkan laporan bulanan kepada penanggung jawab Dewan Kode Etik pada perusahaan asuransi jiwa berkaitan dengan pelanggaran yang terjadi dan tindakan yang diambil dengan tembusan ke AAJI.

Perilaku Kriminal Seluruh kasus perilaku kriminal wajib dilaporkan secepatnya kepada pihak berwajib dan AAJI. Sebagai akibatnya, Lisensi Keagenan petugas pemasaran akan dibatalkan, dan ybs tidak diperbolehkan lagi melakukan aktivitas penjualan produk asuransi jiwa apapun. Kode Etik Agen Prinsip kode etik asuransi jiwa: P (Kepentingan pribadi) : menghindari adanya konflik kepentingan pribadi T (Transaksi bersifat rahasia) : memastikan kerahasiaan transaksi tetap terjaga antara perusahaan asuransi jiwa dengan pemegang polis dan nasabahnya J (Jabatan) : menghindari penyalahgunaan jabatan A (Adil) : memastikan adanya perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang polis, dengan pihak lain yang menggantungkan atau memiliki hubungan bisnis dengan perusahan asuransi jiwa M (Melengkapi data) : melengkapi dan memastikan ketepatan data yang diperlukan I (Informasi) : menjaga penyalahgunaan informasi N (Niat baik) : menjalankan bisnis dengan niat baik dan integritas yang tinggi Fidusia (pihak yang dapat dipercaya) adalah seseorang yang posisi dan tanggung jawabnya melibatkan kepercayaan dan keyakinan yang tinggi. Tanggung jawab agen: Tanggung jawab terhadap masyarakat (Pemerintah) Tanggung jawab terhadap nasabah dan calon nasabah Tanggung jawab terhadap perusahaan Tanggung jawab terhadap diri sendiri Pelanggaran Kode Etik oleh petugas pemasaran/agen asuransi jiwa dapat dibedakan berdasarkan: Perilaku kriminal Penipuan Penipuan yang disengaja atau mis-representasi (penjelasan yang salah) yang sudah diketahui oleh seseorang sebagai hal yang salah atau tidak diyakini sebagai hal yang benar. Penyalahgunaan Dana Nasabah Mengambil uang atau harta benda lain yang diterima dari klien untuk tujuan khusus dan secara salah dialokasikan untuk tujuan/keperluan yang lain. Pemalsuan Dengan sengaja/secara sadar membuat dokumen palsu dengan maksud bahwa: a. Dokumen tersebut harus digunakan atau seolah-olah digunakan sebagai dokumen yang asli, atau b. Beberapa orang dibujuk dengan keyakinan bahwa hal/dokumen tersebut adalah asli/orisinal). Sanksi: Pemberian sanksi terhadap pelanggaran kode etik yang bersifat Perilaku Kriminal diatur berdasarkan kontrak keagenan yang berlaku di perusahaan masing-masing. Sanksi tersebut berupa pemutusan kontrak kerja sama keagenan sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian, pasal 21 ayat 1 dan 5. o Pasal 21 ayat 1: Barang siapa menggelapkan premi asuransi diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah). o Pasal 21 ayat 5: Barang siapa secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan pemalsuan atas dokumen Perusahaana Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah).

Perusahaan tempat petugas pemasaran/agen asuransi jiwa bekerja harus segera melaporkan pada Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) berkaitan dengan black list terhadap agen asuransi dan disirkulasikan kepada semua anggota AAJI. Bila sudah masuk black list, agen yang bersangkutan tidak dapat lagi bekerja di industri asuransi jiwa. Perilaku menyesatkan Menahan informasi (sengaja menyesatkan nasabah dengan informasi yang salah) Menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan klien (agen asuransi jiwa harus terbuka terhadap calon nasabah yang berkaitan dengan transaksi atau rekomendasi) Rebating (memberi potongan harga premi) Systematic Replacement (mengganti produk internal/eksternal secara sistematis yang membahayakan klien) Twisting (membujuk pemegang polis untuk menebus polisnya dari perusahaan A lalu membeli polis baru darinya di perusahaan B) Churning (pencampuradukkan kontrol atas banyaknya dan seringnya penjualan) Misrepresentasi (pernyataan atau ilustrasi yang menyesatkan atau perbandingan yang tidak lengkap) Pemaksaan (agen asuransi jiwa menggunakan kekuasaan, pengaruh, posisi atau moral terhadap calon nasabah untuk pembelian produk) Pembujukan (agen menawarkan untuk membayarkan premi yang kemudian akan ditebus calon nasabah (menalangi premi); atau memberi hadiah jika membuka polis dimana agen bekerja) Pernyataan kasar terhadap pesaing Penandatanganan formulir kosong (agen tidak boleh meminta nasabah menandatangani formulir kosong). Sanksi: Pemberian sanksi terhadap pelanggaran kode etik yang bersifat Perilaku Menyesatkan diatur berdasarkan kontrak keagenan yang yang berlaku di perusahaan masing-masing. Pemberian sanksi ditetapkan berdasarkan bobot kesalahan yang telah ditentukan oleh Departemen Kepatuhan (Compliance Department) dari perusahaan asuransi jiwa yang terkait. Tindakan sanksi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Surat Peringatan Sebagai Tenaga Pemasaran/Agen (SP) Asuransi (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992 SP 1 Tidak diberikan kesempatan masuk ke jalur manajemen selama 2 (dua) tahun. (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992 Tidak diberikan kesempatan masuk SP 2 ke jalur manajemen selama 4 (empat) tahun.

Sebagai Manager Pemasaran/Agency Leader (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992 Diturunkan levelnya 1 (satu) tingkat. (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992 Tidak diberikan kesempatan masuk ke jalur manajemen selama 4 (empat) tahun. Diturunkan menjadi tenaga pemasaran. (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992 Dikeluarkan dari perusahaan Dilaporkan ke AAJI (black list) dan disirkulasikan kepada semua anggota asosiasi.

SP 3 (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992 Dikeluarkan dari perusahaan Dilaporkan ke AAJI (black list) dan disirkulasikan kepada semua anggota asosiasi.

BAB 14 Lembaga Asuransi Agenda: Peraturan, Kewenangan dan Hukum Asuransi Jiwa Struktur Organisasi Asuransi Peraturan, Kewenangan dan Hukum Asuransi Jiwa Pengenaan Pajak Peraturan perpajakan yang terkait dengan pajak penghasilan atas manfaat Asuransi Jiwa, termasuk Asuransi Jiwa Unit Link, menyatakan bahwa pembayaran dari perusahaan asuransi pada individu atas asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, Asuransi Jiwa, asuransi tujuan ganda (two-purpose insurance) dan asuransi beasiswa tidak dikenakan pajak. Dalam hal pembayaran Asuransi Jiwa dengan unsur tabungan yang telah jatuh tempo, jika pembayaran dari manfaat tabungan dilakukan dalam 3 tahun atau kurang dari itu, selisih dari manfaat tabungan yang diterima dan premi yang dibayarkan wajib dikenai pajak yang sama dengan pajak pengasilan atas bunga tabungan atau bunga deposito. Aturan-aturan Yang Terkait Produk asuransi jiwa di Indonesia diatur oleh Undang-undang Asuransi No. 2 Tahun 1992. Undang-undang ini mengatur badan usaha asuransi dan pelaksanaannya, yang menyangkut instansi-instansi: Biro Perasuransian, BAPPEPAM & LK, dan Departemen Keuangan Republik Indonesia. Berdasarkan Keputusan Dirjen Lembaga Keuangan No. KEP-2475/LK/2004 Pasal 1: produk asuransi jiwa yang terkait dengan investasi merupakan produk asuransi jiwa yang mengandung unsur kematian yang disebabkan oleh kecelakaan dan unsur investasi yang merujuk pada hasil investasi pasar. Lisensi Perusahaan Asuransi Jiwa Sesuai Undang-undang No. 2 Tahun 1992, sebuah perusahaan asuransi tidak diizinkan melakukan usaha di Indonesia kecuali terdaftar dan memiliki lisensi operasional dari Departemen Keuangan RI. Sebuah perusahaan asuransi wajib mendaftarkan seluruh produknya, termasuk Polis Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Lifelong Life Insurance Policy), Tujuan Ganda (Two-Purpose), Asuransi Berjangka (Term Insurance), Anuitas (Annuity). Sebuah produk tidak dapat dipasarkan jika terdapat keberatan yang diajukan Departemen Keuangan maksimal dalam waktu 2 (dua) minggu. Produk Asuransi Jiwa Unit Link dan/atau semacamnya harus memenuhi persyaratan tambahan berikut yang tercantum dalam pasal 5 Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 422/KMK.06/2003: Perusahaan tersebut wajib memiliki tenaga ahli yang kompeten dengan pengalaman sekurang-kurangnya tiga tahun sebagai Wakil Manager Investasi. Perusahaan tersebut wajib memiliki sistem informasi yang memadai. Menurut Pasal 6 Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.06/2003, perusahaan yang memasarkan produk asuransi wajib memenuhi tingkat solvabiitas yang disyaratkan dan tidak sedang dikenakan sanksi administratif.

Batas Investasi Batas dana yang dialokasikan untuk investasi diatur oleh Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.06/2003 Bagian 5 Pasal 21 ayat 2 Kekayaan dari produk asuransi (yang terkait investasi) dapat diinvestasikan pada: a. b. c. d. e. f. Kas dan bank Deposito Berjangka dan Sertifikat Deposito, termasuk deposito on-call, serta deposito berjangka setahun atau kurang dari itu Saham yang tercatat di Bursa Efek Obligasi dan surat berharga jangka menengah (Medium term notes) Unit penyertaan reksadana Surat berharga yang diterbitkan atau dijamin oleh Pemerintah atau Bank Indonesia.

Jika perusahaan asuransi jiwa menginvestasikan dananya di luar negeri, nilai dari investasi dapat digunakan sebagai dasar penghitungan pembatasan, yang merupakan nilai dari semua jenis investasi kecuali kas dan bank (seperti diatur dalam Pasal 24 ayat (2) KMK Nomor 424/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003): a. b. Saham yang tercatat di bursa efek, untuk semua emiten tidak melebihi 10% (sepuluh per seratus) dari jumlah investasi; Obligasi dan Medium Term Notes, untuk masing-masing penerbit tidak melebihi 10% (sepuluh per seratus) dari jumlah investasi;

c. d.

Penyertaan langsung (saham yang tidak tercatat di bursa efek), mengacu pembatasan investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf e dan Pasal 18 ayat (1) huruf e; Jumlah seluruh penempatan investasi di luar negeri tidak melebihi 20% (dua puluh per seratus) dari jumlah investasi.

Penghitungan Aset Unit Link Berdasarkan Keputusan Dirjen Lembaga Keuangan No. KEP-2475/LK/2004 Pasal 6 penghitungan aset unit link adalah sebagai berikut: Ayat (1) Perusahaan Asuransi Jiwa wajib melakukan perkembangan dana investasi kepada pemegang polis sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. Ayat (2) Pelaporan perkembangan dana sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) memuat sekurang-kurangnya hal-hal sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. g. h. i. Nilai unit dan harga unit per tanggal valuasi untuk periode berjalan dan periode lalu; Nilai unit dan harga unit yang dibeli dalam periode berjalan; Nilai unit dan harga unit yang dijual dalam periode berjalan; Rincian biaya (charges) yang sekurang-kurangnya terdiri dari biaya awal (initial charge), biaya pengelolaan (management fee), biaya mortalita (mortality cost) dan biaya pertanggungan tambahan (riders); Besar uang pertanggungan kematian pada akhir periode berjalan; Nilai tunai netto (net cash surrender value) pada akhir periode berjalan; Saldo pinjaman polis, bila ada, pada akhir periode berjalan; Hasil investasi bersih untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir, bila tersedia, untuk setiap dana investasi; Perincian jenis investasi untuk setiap dana per tanggal pelaporan. Pengungkapan Informasi Produk Asuransi Jiwa Peraturan tentang pengungkapan informasi produk asuransi jiwa di Indonesia diatur dalam: Pasal 8 No. 422/KMK.06/2003 dan Pasal 5 Keputusan Dirjen Lembaga Keuangan No. KEP2475/LK/2004.

Ketentuan Produk Yang Terkait Investasi Ketentuan mengenai klaim diatur dalam Keputusan Menteri keuangan No. 422/KMK.06/2003 Pasal 25, 26, dan 27. Nilai Minimum Klaim Kematian Produk Unit Link Ketentuan Nilai Minimum Klaim Kematian Produk Unit Link ditentukan dalam Pasal 2 Keputusan Dirjen Lembaga Keuangan No. KEP-2475/LK/2004 adalah sbb: Produk yang dikaitkan dengan investasi harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. Besar uang pertanggungan kematian sekurang-kurangnya sebesar: 1. Yang lebih besar antara Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) dan 125% (seratus dua puluh lima per seratus) dari premi sekaligus, untuk polis dengan pembayaran premi sekaligus; 2. Yang lebih antara Rp 5.000.000 (lima juta rupiah) dan 5 (lima) kali premi tahunan, untuk polis dengan pembayaran premi berkala; Besar uang pertanggungan kematian untuk polis dalam mata uang asing sekurang-kurangnya: 1. Yang lebih besar antara US$ 1,000 (seribu dolar AS) atau yang setara dengan itu untuk mata uang asing lainnya dan 125% (seratus dua puluh lima per seratus) dari premi sekaligus, untuk polis pembayaran premi sekaligus; 2. Yang lebih antara US$ 500 (lima ratus dolar AS) atau yang setara dengan itu untuk mata uang asing lainnya dan 5 (lima) kali premi tahunan, untuk polis dengan pembayaran premi berkala;

b.

Struktur Organisasi Asuransi Menurut UU No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, di Indonesia terdapat empat badan hukum yang terbentuk: Perusahaan Perseroan (PERSERO) Koperasi Perseroan Terbatas Usaha Bersama (Mutual) Tugas Departemen Organisasi Perusahaan Asuransi: Departemen Keagenan Mengangkat Agen dan Supervisor agensi serta terlibat dalam mendapatkan bisnis baru dari aplikasi bisnis baru tersebut; Supervisi dan membantu semua yang berhubungan dengan penjualan;

Mengelola kegiatan kontes/insentif penjualan bagi agen; Menempatkan departemen pendidikan dan pelatihan keagenan untuk mengelola kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pelatihan keagenan Departemen New Business/Underwriting Melakukan proses aplikasi baru; Memutuskan untuk menolak atau menerima aplikasi; Mengkategorikan penerimaan kasus; Menerbitkan tanda terima premi pertama; Mendaftarkan atau menghilangkan pemeriksa kesehatan yang telah disetujui sebelumnya umum atau khusus; Mengkaji batas underwriting tanpa medis sejalan dengan kondisi yang terus berubah; Membayar tagihan medis bagi pemeriksaan medis oleh dokter resmi; Underwriting medis biasanya dibantu oleh penasehat medis perusahaan; Persiapan dan penerbitan polis. Departemen Pelayanan Polis Mengelola administrasi pois terkini; Mengelola file pembayaran polis terkait; Mengelola akun terkini dari pinjaman dan bunga, baik yang telah dibayar maupun yang outstanding; Memastikan perawatan polis dan pinjaman sesuai dengan batasan kustodi; Menerbitkan premium notice dan reminder notice; Memastikan nilai tunai cukup untuk membayar premi yang outstanding dan premi serta bunga dibebankan ke dalam Automatic Premium Advance system; Melaksanakan sistem investigasi fraudulent claims untuk menjaga perusahaan. Departemen Legal dan Kepatuhan Bertanggungjawab kepada pemegang saham untuk memastikan seluruh ketentuan dan peraturan perusahaan, regulasi asuransi dan regulasi lainnya terpenuhi. Departemen Aktuaria Menghitung premi; Melaksanakan valuasi aktuaria setiap saat sesuai yang diatur oleh regulasi asuransi, biasanya setahun sekali; Menetapkan kesehatan (solvency) perusahaan melalui valuasi actuarial; Merekomendasikan tingkat bonus untuk dideklarasikan; Memonitor pengalaman perusahaan berkaitan dengan moralitas dan mengusulkan perubahan kebijaksanaan dari waktu ke waktu. Departemen Akuntansi Bertanggungjawab atas kumpulan akun dan memastikan keakuratannya sebelum melakukan pembayaran. Departemen Investasi Memastikan tidak ada dana yang tidak diinvestasikan; Menginvestasikan dana untuk memberikan hasil investasi yang baik sesuai dengan tingkat keamanan dana; Menginvestasikan dana sesuai dengan regulasi. Audit Mengaudit laporan akun perusahaan sebelum diserahkan kepada regulator atau rapat pemegang saham, yang sebelumnya telah disetujui oleh rapat pemegang saham. Departemen HRD Sumber Daya Manusia Memformulasikan kebijaksanaan perusahaan yang berkaitan dengan rekrutmen, pelatihan dan pemberhentian karyawan; Menetapkan tingkat kompensasi karyawan dan rencana pelatihan serta pengembangan karyawan; Memastikan perusahaan patuh pada undang-undang, peraturan dan regulasi; Mengatur data dan kompensasi administrasi karyawan seperti gaji pokok, tunjangan, fasilitas dan hak karyawan seperti cuti dsb.

Departemen IT/Informasi Teknologi Mengelola sarana teknologi informasi seluruh perusahaan; Mengembangkan dan merawat sistem komputer perusahaan; Membantu departemen lain untuk mengembangkan, membeli dan menggunakan sistem komputer dan perangkat lunaknya serta mengelola data dan administrasi produk; Mengelola jaringan komputer perusahaan, mengelola data perusahaan dalam file komputer dan melakukan analisa berbagai jenis komputer yang digunakan perusahaan. Departemen Marketing dan Komunikasi Melakukan riset pasar untuk mengidentifikasi target nasabah; Bekerjasama dengan departemen lain di perusahaan untuk mengembangkan produk baru dan mengembangkan yang ada untuk memenuhi kebutuhan nasabah; Mengembangkan dan mengelola sistem distribusi produk perusahaan; Menyiapkan kampanye tentang perusahaan dan produk, termasuk mempersiapkan materi promosi; Mengelola hubungan dengan pemerintah dan industri pada umumnya. Departemen Kanal Distribusi Non-Agen Mengelola pengembangan dan penjualan produk asuransi melalui kanal distribusi lain di luar keagenan, seperti Bancassurance. Departemen Group dan Employee Benefit Menjual asuransi untuk karyawan-karyawan perusahaan. Berdasarkan Undang-undang dan Peraturan yang berlaku di Indonesia, setiap pihak yang menyelenggarakan usaha perasuransian wajib mendapat ijin usaha dari Menteri Keuangan RI. Dalam hal ini, Menteri Keuangan berperan sebagai regulator asuransi di Indonesia. Sebagai regulator, Menteri Keuangan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perusahaan asuransi. Menteri Keuangan juga melakukan pemeriksaan berkala atau setiap waktu, apabila diperlukan.