100 Tahun Bung Karno

"Saudara-saudaraku tukang becak, saudara-saudaraku tukang sayur, saudara-saudaraku pegawai kecil..." Begitu Bung Karno mengawali pidatonya dengan suara berapi-api. Setiap kali dia menyapa rakyatnya, kerumunan massa menyambutnya dengan riuh. Soekarno memang dikenal sebagai orator ulung. Dia tahu betul cara menempatkan diri dalam setiap event dan khalayak yang berbeda. Bung Karno piawai dalam menggugah emosi publik lewat permainan intonasi nada saat berbicara. Dia mengetahui persis saat yang tepat kapan nada suaranya harus meninggi dan kapan pula harus menurun. Jika dia bicara, semua diam. Tanpa disuruh, rakyat berduyun-duyun datang lebih awal untuk mendengarkan langsung pidatonya. Mereka berdiri atau duduk dengan tertib menyimak. Sebagian lagi memenuhi cabang pepohonan di sekitar lokasi Bung Karno pidato. Di pelosok-pelosok pedesaan rakyat berkerumum mendengarkan gelora tuturannya lewat siaran radio. Maka tak heran jika ada yang menganggapnya sebagai icon. Gambaran di atas hanyalah serpihan kecil dari luasnya kenangan rakyat Indonesia akan seorang pemimpin besar bernama Soekarno, yang bersama Bung Hatta menjadi founding fathers. Dalam perspektif sejarah, sosok Bung Karno dikenal sebagai tokoh multidimensi. Dia bisa bicara soal apa saja, mulai dari masalah politik, sosial, budaya, kesenian, sampai pada soal wanita. Maka orang pun bisa menganalisis dan memperdebatkannya dari berbagai aspek, mulai dari aspek kepribadian sampai pada gaya kepemimpinannya, yang tak jarang dinilai kontroversial. Mereka yang hidup dan mengalami masa-masa kepemimpinannya tentu amat memahami situasi ini. Ada pendapat bahwa seorang pemimpin besar lahir karena situasi. Sebagian lagi menganggap bahwa seseorang memang benar-benar dilahirkan untuk menjadi pemimpin

Bung Karno dikenal sebagai pemimpin yang visioner. Tak ada dendam pribadi. Sejak kejatuhannya hingga saat ini Indonesia praktis tak pernah lagi memiliki pemimpin yang kharismatik. yang pada akhirnya menyebabkan Bung Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. kebangsaan dan kemanusiaan. Setiap kali kita memperingati hari lahir seseorang. Mirip orang mengantar jenazah ke kuburan. 6 Juni 2001. tentunya hal itu tidak dimaksudkan untuk sekedar seremoni yang diakhiri dengan acara makan-makan dan hiburan. Bung Karno dan Bung Hatta menunjukkan secara gamblang bahwa perbedaan pandangan politik tak harus mengorbankan persahabatan. maka kehadirannya di pemakaman hanyalah sekedar memperlihatkan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan. Dalam konteks seabad Bung Karno dan Maulid Nabi Muhammad SAW. bangsa dan negara. Keduanya tetap saling menghormati. Sejarah memang tak bisa terulang. yang pada hakikatnya ialah mengingatkan kita akan datangnya kematian. Bung Karno bisa ditempatkan dalam kedua pendapat tersebut. tepat 100 tahun kelahiran Bung Karno. sewajarnya ia bermakna mengingatkan kita akan keteladanan apa yang bisa dipetik dan diamalkan dalam proses kehidupan masa kini dan masa datang. Namun Bung Karno mengingatkan: "Jangan sekalikali meninggalkan sejarah!" . Pandangannya yang jauh ke masa depan kerap membuatnya dinilai sebagai pemimpi. Dari peristiwa bersejarah itu orang semestinya belajar tentang apa sesungguhnya arti demokrasi. Esensi dari suatu peringatan ulang tahun [bagi yang telah wafat] sesungguhnya adalah mengenang keteladanannya semasa hidup. serta punya komitmen tinggi terhadap paham kerakyatan. Namun kepribadiannya yang kuat dan bersahabat membuatnya disegani. Jika hakikat ini tak disadari. Tanpa penghayatan atas makna peringatan tersebut. muncul semacam romantisme atau kerinduan akan masa lalu. Kedua pemimpin bangsa itu tetap mengutamakan kepentingan rakyat. Secara umum. maka perayaannnya tinggallah hurahura belaka. Orang antara lain teringat pada tajamnya perbedaan pandangan antara Bung Karno dengan Bung Hatta.besar. baik oleh kawan maupun lawan politiknya. caci-maki. saling tuding atau merasa diri paling benar. Namun tanggalnya berdekatan dengan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Boleh jadi hanya kebetulan belaka. Wajar jika di tengah krisis politik yang kian tak menentu seperti sekarang. Perbedaan pendapat tak harus diikuti dengan hujat menghujat. Hari ini. Mereka meninggalkan teladan dan cermin bagi generasi sesudahnya bahwa sikap itu hanya datang dari kepribadian yang sangat matang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful