P. 1
Http ::Www.kalbemed.com:Portals:6:1!05!185Strokegejalapenatalaksanaan

Http ::Www.kalbemed.com:Portals:6:1!05!185Strokegejalapenatalaksanaan

|Views: 37|Likes:
Dipublikasikan oleh As-sifa Kharisma

More info:

Published by: As-sifa Kharisma on Apr 02, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2014

pdf

text

original

CONTINUING MEDICAL EDUCATION

Akreditasi IDI - 3 SKP

Stroke: Gejala dan Penatalaksanaan
Ismail Setyopranoto
Kepala Unit Stroke RSUP Dr Sardjito/ Bagian Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

PENDAHULUAN Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih dari 24 jam, berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak sepintas, tumor otak, stroke sekunder karena trauma maupun infeksi (WHO MONICA, 1986). Stroke dengan defisit neurologik yang terjadi tiba-tiba dapat disebabkan oleh iskemia atau perdarahan otak. Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi fokal pembuluh darah otak yang menyebabkan turunnya suplai oksigen dan glukosa ke bagian otak yang mengalami oklusi (Hacke, 2003). Munculnya tanda dan gejala fokal atau global pada stroke disebabkan oleh penurunan aliran darah otak. Oklusi dapat berupa trombus, embolus, atau tromboembolus, menyebabkan hipoksia sampai anoksia pada salah satu daerah percabangan pembuluh darah di otak tersebut. Stroke hemoragik dapat berupa perdarahan intraserebral atau perdarahan subrakhnoid (Bruno et al., 2000). EPIDEMIOLOGI STROKE Pada 1053 kasus stroke di 5 rumah sakit di Yogyakarta angka kematian tercatat sebesar 28.3%; sedangkan pada 780 kasus stroke iskemik adalah 20,4%, lebih banyak pada laki-laki. Mortalitas pasien stroke di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta menduduki peringkat ketiga setelah penyakit jantung koroner dan kanker, 51,58% akibat stroke hemoragik, 47,37% akibat stroke iskemik, dan 1,05% akibat perdarahan subaraknoid (Lamsudin, 1998). Penelitian prospektif tahun 1996/1997 mendapatkan 2.065 pasien stroke dari 28 rumah sakit di Indonesia (Misbach, 2000). Survei Departemen Kesehatan RI pada 987.205 subjek dari 258.366 rumah tangga di 33 propinsi mendapatkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian utama pada usia > 45 tahun (15,4% dari seluruh kematian). Prevalensi stroke rata-rata adalah 0,8%, tertinggi 1,66% di Nangroe Aceh Darussalam dan terendah 0,38% di Papua (RISKESDAS, 2007). Di Unit Stroke RSUP Dr Sardjito, sejak berdirinya pada tahun 2004, terlihat peningkatan jumlah kasus terutama stroke iskemik akut (Tabel 1). (Laporan Tahunan Unit Stroke, 2009).
C DK 1 8 5 /Vo l . 3 8 no. 4/M ei -Juni 2011

Tabel 1. Data pasien stroke di Unit Stroke RSUP Dr Sardjito, 2004 - 2009.

Jenis patologi stroke No
1 2 3 4 5 6

Tahun
Iskemik 2004 2005 2006 2007 2008 2009 229 291 307 305 358 355 % 78,97 78,44 72,38 74,93 70,61 70,00 Perdarahan 61 80 117 102 149 152 % 21,03 21,56 27,59 25,07 29,39 30,00

Jumlah
290 371 424 407 507 507

PATOLOGI STROKE Infark Stroke infarct terjadi akibat kurangnya aliran darah ke otak. Aliran darah ke otak normalnya adalah 58 mL/100 gram jaringan otak per menit; jika turun hingga 18 mL/100 gram jaringan otak per menit, aktivitas listrik neuron akan terhenti meskipun struktur sel masih baik, sehingga gejala klinis masih reversibel. Jika aliran darah ke otak turun sampai <10 mL/100 gram jaringan otak per menit, akan terjadi rangkaian perubahan biokimiawi sel dan membran yang ireversibel membentuk daerah infark. Perdarahan Intraserebral Kira-kira 10% stroke disebabkan oleh perdarahan intraserebral. Hipertensi, khususnya yang tidak terkontrol, merupakan penyebab utama.
Tabel 2. Faktor Risiko Stroke

Penyebab lain adalah pecahnya aneurisma, malformasi arterivena, angioma kavernosa, alkoholisme, diskrasia darah, terapi antikoagulan, dan angiopati amiloid. Perdarahan Subaraknoid Sebagian besar kasus disebabkan oleh pecahnya aneurisma pada percabangan arteri-arteri besar. Penyebab lain adalah malformasi arterivena atau tumor. FAKTOR RISIKO STROKE Beban akibat stroke mencapai 40 miliar dollar setahun, selain untuk pengobatan dan perawatan, juga akibat hilangnya pekerjaan serta turunnya kualitas hidup (Currie et al., 1997). Kerugian ini akan berkurang jika pengendalian faktor risiko dilaksanakan dengan ketat (Cohen, 2000). (Tabel 2 ).

Bisa dikendalikan
Hipertensi Penyakit Jantung Fibrilasi atrium Endokarditis Stenosis mitralis Infark jantung Merokok Anemia sel sabit Transient Ischemic Attack (TIA) Stenosis karotis asimtomatik

Potensial bisa dikendalikan
Diabetes Melitus Hiperhomosisteinemia Hipertrofi ventrikel kiri

Tidak bisa dikendalikan
Umur Jenis kelamin Herediter Ras dan etnis Geografi

247

dan volume hematoma bertambah. Tekanan darah tidak perlu segera diturunkan. STADIUM AKUT Pada stadium ini. karbamazepin). Terapi khusus Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator. dapat diberikan larutan hipertonik (NaCl 3%) atau furosemid.25 sampai 1 g/ kgBB per 30 menit. Jika perlu. APTT. darah perifer lengkap dan jumlah trombosit. Tindakan lain di Instalasi Rawat Darurat adalah memberikan dukungan mental kepada pasien serta memberikan penjelasan pada keluarganya agar tetap tenang. glukosa darah. Stroke Hemoragik Terapi umum Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma >30 mL. diberikan antikonvulsan peroral jangka panjang. 2009) Tanda dan Gejala Hemidefisit motorik. diberi manitol bolus intravena 0.. diastolik >120 mmHg. kepala dan dada pada satu bidang. wicara dan psikologis serta telaah sosial untuk membantu pemulihan pasien. Gangguan fungsi luhur seperti kesulitan berbahasa (afasia) dan gangguan fungsi intelektual (demensia). dilakukan penanganan faktorfaktor etiologik maupun penyulit. tukak lambung diatasi dengan antagonis H2 parenteral. dan perdarahan lobar >60 mL dengan tanda peningkatan tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi. atau inhibitor pompa proton.Ju n i 2011 PENATALAKSANAAN ( PERDOSSI. dilanjutkan pemberian antikonvulsan per oral (fenitoin. posisi kepala dinaikkan 300. diastolik ≤70 mmHg. yaitu tekanan sistolik ≤ 90 mm Hg. jika didapatkan gangguan menelan atau kesadaran menurun. kemudian dicari penyebabnya. hindari pemberian cairan dekstrosa atau salin dalam H2O. beri oksigen 1-2 liter/menit sampai didapatkan hasil analisis gas darah. Pemberian nutrisi per oral hanya jika fungsi menelannya baik.4/Mei. Hipoglikemia (kadar gula darah < 60 mg% atau < 80 mg% dengan gejala) diatasi segera dengan dekstrosa 40% iv sampai kembali normal dan harus dicari penyebabnya. dianjurkan melalui slang nasogastrik. Tanda dan gejala stroke (De Freitas et al. Nyeri kepala atau mual dan muntah diatasi dengan pemberian obat-obatan sesuai gejala. dan obat yang direkomendasikan: natrium nitroprusid. posisi kepala dan dada di satu bidang. gagal jantung kongestif serta gagal ginjal. bebaskan jalan napas. diberi NaCl 0. penyekat ACE. Dilakukan pemeriksaan CT scan otak. Dapat juga diberi agen neuroproteksi.38 no . dilanjutkan 500 mL selama 4 jam dan 500 mL selama 8 jam atau sampai hipotensi dapat diatasi. Pemberian nutrisi dengan cairan isotonik. mobilisasi dimulai bertahap bila hemodinamik sudah stabil.. MAP >130 mmHg. penyekat reseptor alfa-beta. dikosongkan (sebaiknya dengan kateter intermiten). dan keadaan klinis cenderung memburuk. Jika kejang muncul setelah 2 minggu. Jika kejang. diberi diazepam 5-20 mg iv pelanpelan selama 3 menit. dilanjutkan 0. Penurunan tekanan darah maksimal adalah 20%. perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus. komplikasi saluran napas dicegah dengan fisioterapi dan diobati dengan antibiotik spektrum luas. 248 . dapat diberi dopamin 2-20 μg/kg/menit sampai tekanan darah sistolik ≥ 110 mmHg. elektrokardiografi.9% 250 mL selama 1 jam. pasien diberi oksigen 2 L/menit dan cairan kristaloid/koloid. protrombin time/INR. kristaloid atau koloid 1500-2000 mL dan elektrolit sesuai kebutuhan.25-25 mg per oral. yaitu tekanan darah sistolik masih < 90 mmHg. menyangkut dampak stroke terhadap pasien dan keluarga serta tata cara perawatan pasien yang dapat dilakukan keluarga. tekanan darah harus segera diturunkan dengan labetalol iv 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg. dilakukan intubasi. jika hipoksia. diastolik ≥120 mmHg. Bila terdapat gagal jantung. 2007 ): STADIUM HIPERAKUT Tindakan pada stadium ini dilakukan di Instalasi Rawat Darurat dan merupakan tindakan resusitasi serebro-kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan jaringan otak tidak meluas. Penjelasan dan edukasi kepada keluarga pasien perlu. Juga dilakukan tindakan terapi fisik. Mean Arterial Blood Pressure (MAP) ≥ 130 mmHg (pada 2 kali pengukuran dengan selang waktu 30 menit). enalapril iv 0. Harus dilakukan pemantauan osmolalitas (<320 mmol). sukralfat. 2009) (Tabel 3). hindari cairan mengandung glukosa atau salin isotonik. dilakukan VP-shunting. Hemidefisit sensorik. Buta separuh lapangan pandang (hemianopsia). Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat.25g/kgBB per 30 menit setiap 6 jam selama 3-5 hari.625-1. Jika didapatkan tekanan intrakranial meningkat. Terapi khusus: Ditujukan untuk reperfusi dengan pemberian antiplatelet seperti aspirin dan anti koagulan. dan jika dicurigai fenomena rebound atau keadaan umum memburuk. yaitu sitikolin atau pirasetam (jika didapatkan afasia). Jika belum terkoreksi. Demam diatasi dengan kompres dan antipiretik. Selanjutnya. atau yang dianjurkan dengan trombolitik rt-PA (recombinant tissue Plasminogen Activator). Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik >180 mmHg. Penurunan kesadaran. hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum. foto toraks. okupasi. kecuali bila tekanan sistolik ≥220 mmHg. sebagai alternatif.CONTINUING MEDICAL EDUCATION TANDA DAN GEJALA STROKE Serangan stroke jenis apa pun akan menimbulkan defisit neurologis yang bersifat akut (De Freitas et al. atau didapatkan infark miokard akut. kimia darah (termasuk elektrolit). kaptopril 3 kali 6. Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak perdarahan yaitu pada pasien yang kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebelum berdiameter >3 cm3. Stroke Iskemik Terapi umum: Letakkan kepala pasien pada posisi 300. C DK 185/V o l . jika kandung kemih penuh. atau antagonis kalsium. dan hiperventilasi (pCO2 20-35 mmHg). Kadar gula darah >150 mg% harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu 150 mg% dengan insulin drip intravena kontinu selama 2-3 hari pertama. pemberian manitol (lihat penanganan stroke iskemik). Tabel 3. Defisit batang otak. ubah posisi tidur setiap 2 jam. Jika terjadi hipotensi. maksimal 100 mg per hari. Penatalaksanaan umum sama dengan pada stroke iskemik. dilakukan analisis gas darah. Kelumpuhan nervus fasialis (VII) dan hipoglosus (XII) yang bersifat sentral.25 mg per 6 jam. Pada stadium ini.

Christoph DDH. Mc Graw Hill. Terapi fase subakut: . Manual Version 1: 1. and risk factor of stroke. makin buruk prognosisnya. Cohen SN. Stott NCH. maupun gamma knife) jika penyebabnya adalah aneurisma atau malformasi arteri-vena (arteriovenous malformation. menelan.Penatalaksanaan komplikasi. Stroke profile in Yogyakarta: morbidity. Pengenalan tanda dan gejala dini stroke dan upaya rujukan ke rumah sakit harus segera dilakukan karena keberhasilan terapi stroke sangat ditentukan oleh kecepatan tindakan pada stadium akut. . Currie CJ. Handbook of Clinical Neurology.Ju n i 2011 . 3.Restorasi/rehabilitasi (sesuai kebutuhan pasien). 10. In: Lamsudin R. 6. New York. dan (3) mempercepat perbaikan fungsi neurologis secara keseluruhan. prognosis pasien diharapkan akan lebih baik.4/Mei. STADIUM SUBAKUT Tindakan medis dapat berupa terapi kognitif.Prevensi sekunder . terapi wicara. pp. dibutuhkan penatalaksanaan khusus intensif pasca stroke di rumah sakit dengan tujuan kemandirian pasien. (ed). ekstirpasi. DEFTAR PUSTAKA 1. Yilmaz EY. mortality. yaitu fisioterapi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Topographic classification of ischemic stroke.European Stroke Initiative Recommendations 2003. 1986. Peters A. Hacke W. Misbach J. 11. McGraw-Hill. The subacute stroke patient: hours 6 to 72 after stroke onset.38 no . Lamsudin R.Edukasi keluarga dan Discharge Planning SIMPULAN Tujuan penatalaksanaan komprehensif pada kasus stroke akut adalah: (1) meminimalkan jumlah sel yang rusak melalui perbaikan jaringan penumbra dan mencegah perdarahan lebih lanjut pada perdarahan intraserebral. Stroke 1997. Mengingat perjalanan penyakit yang panjang. Sutarni S. (eds). makin lama upaya rujukan ke rumah sakit atau makin panjang saat antara serangan dengan pemberian terapi. Clinical pattern of hospitalized strokes in 28 hospitals in Indonesia. Jika secara keseluruhan dapat berhasil baik. mengerti. Bogousslavsky J. Suppl XIV: 53-69. 2000. PERDOSSI.28: 1142-6. 4. Gill L.Melanjutkan terapi sesuai kondisi akut sebelumnya. dan terapi okupasi. 2007 9. Kaste M. BKM 1998. Toole JF. 53-87. Kaelin DL. embolisasi. 2007. 250 C DK 185/V o l . 8. (2) men- cegah secara dini komplikasi neurologik maupun medik. 2009. Wibowo S. terapi wicara. 89-109. 2. Lees K et al. In Cohen SN. The subacute stroke patient: Preventing recurrent stroke. De Freitas GR.. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia. Vol. 93 (3rd series). memahami dan melaksanakan program preventif primer dan sekunder. Chamorro A. Morgan CL. Recent Management of Stroke. Management of Ischemic Stroke. Brainin M. Bogousslavsky J. In Cohen SN. 7. dan bladder training (termasuk terapi fisik). terapi kognitif. Epidemiology and costs of acute hospital care for cerebrovascular disease in diabetic and non diabetic populations. 5. . 9: 29-34. pp. 1990. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. . Bruno A. Nuradyo D. Ischemic Stroke Prophylaxis and Treatment . in Fisher M.CONTINUING MEDICAL EDUCATION Pada perdarahan subaraknoid. AVM). tingkah laku. Pedoman penatalaksanaan stroke. Med J Indonesia 2000. 2000. Raven Press. Cerebrovascular Disorder. dapat digunakan antagonis Kalsium (nimodipin) atau tindakan bedah (ligasi. Management of Ischemic Stroke. WHO. Elsevier BV. MONICA. 4th ed.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->