Anda di halaman 1dari 5

TEKNOLOGI EMULSI

TUJUAN PERCOBAAN

DASAR TEORI Emulsi adalah suatu system yang terdiri dari dua fase cairan yang tidak saling melarutkan, dimana salah satu cairan terdispersi dalam brntuk globula-globula di dalam cairan lainnya. Cairan yang terpecah menjadi globula-globula dinamakan fase terdispersi, sedangkan cairan yang mengelilingi globula tersebut dinamakan fase kontinyu atau medium dispersi. Di dalam proses pembuatan emulsi biasanya ditambahkan campuran dua atau lebih bahan kimia yang tergolong ke dalam emulsifier dan stabilizer. Tujuan dari penambahan emulsifier adalah untuk menurunkan tegangan permukaan antara kedua fase (tegangan interfasial) sehingga memudahkan terbentuknya emulsi. Sedangkan tujuan penambahan stabiliser adalah untuk meningkatkan viscositas fase kontinyu agar supaya emulsi yang terbentuk menjadi lebih stabil. Emulsifier dan stabiliser biasanya ditambahkan juga ke dalam emulsi alamiah yang tidak stabil seperti susu dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan emulsi dan meningkatkan kestabilannya. 2. Teori Lapisan Adsorpsi dan Tegangan Permukaan Tegangan permukaan mempunyai peranan yang besar sekali dalam proses pembentukan emulsi. Apabila tegangan permukaan antara kedua fase sama maka tidak akan terbentuk emulsi. Oleh karena itu perlu adanya penurunan tegangan permukaan pada salah satu fase. Pada proses pembentukan emulsi dibutuhkan emulsifier dan energy untuk memecah fase terdispersi menjadi butiran-butiran yang halus. Emulsifier tersebut akan diadsorpsi oleh medium disperse lebih besar dari pada zat yang terdispersi. Adsorpsi emulsifier ini akan menurunkan tegangan permukaan dari medium disperse lebih besar dari zat yang terdispersi, sehingga mengurangi kecenderungan medium disperse membentuk suatu lapisan yang terpisah, akibatnya akan terbentuk emulsi. Sistem kerja emulsifier berhubungan erat dengan tegangan permukaan antara kedua fase (tegangan interfasial). Selama emulsifikasi, emulsifier berfungsi menurunkan tegangan interfasial

sehingga mempermudah pembentukan permukaan interfasial yang sangat luas (gambar 1). Bila tegangan interfasial turun sampai dibawah 10 dyne/cm maka emulsi dapt dibentuk, sedangkan bila tegangan interfasial mendekati nilai nol maka emulsi akan terbentuk dengan spontan.

Gambar 1. Skema terjadinya emulsi minyak dalam air

Pada suatu emulsifikasi, energy yang dibutuhkan untuk membentuk batas permukaan dua fase (interfasial) yang baru akan berkurang bila tegangan interfasialnya swemakin rendah. Hal ini telah dibuktikan oleh Powrie dan Tung (1976) dengan percobaan sebagai berikut. Untuk mendispersikan satu milliliter air dibutuhkan engergi kira-kira sebesar 247.800 erg. Tetapi bila ke dalam system emulsi minyak olive-air tersebut ditambahkan sejenis emulsifier untuk menurunkan tegangan interfasialnya dari 22.9 menjadi 3.0 dyne/cm (pada 20 oC) maka energy yang dibutuhkan untuk membentuk interfase yang baru hanya berjumlah 36.00 erg.

3. Teori Polar dan Non Polar Pada dasarnya emulsifier merupakan surfactant yang mempunyai dua gugus yaitu gugus hidrofilik dan gugus lipofilik. Gugus hidrofilik bersifat polar dan mudah bersenyawa sdengan air sedangkan gugus lipofilik bersifat non polar dan mudah besenyawa dengan minyak. Di dalam molekul emulsifier, salah satu gugus harus lebih dominan jumlahnya. Bila gugus polarnya lebih dominan maka molekul-molekul emulsifier terseburt akan diadsorpsi lebih kuat oleh air dibandingkan dengan minyak. Akibatnya tegangan permukaan air dibandingkan dengan minyak, tegangan

permukaan air lebih rendah sehingga mudah menyebar dan menjadi fase kontinyu. Demikian juga sebaliknya, bila gugus non polarnya yang lebih dominan maka molekul-molekul emulsifier tersebut akan diadsorpsi lebih kuat oleh minyak dibandingkan dengan oleh air. Akibatnya tegangan permukaan minyak menjadi lebh rendah sehingga mudah menyebar menjadi fase kontinyu. Pada gambar 2 dapat dilihat diagram yang menunjukkan orientasi suatu emulsifier di dalam suatu emulsi minyak dalam air. Selain factor-faktor diatas perbandingan antara volume minyak dengan air menentukan tipe emulsi yang terjadi. Bila suatu sitem emulsi emngandung lebih dari 31-45 % air maka tipe emulsi yang terbentuk umumnya minyak dalam air. Sedangkan bial system tersebut mengandung air kurang dari 10-25 % air maka tipe emulsi yang terbentuk umumnya air dalam minyak. Bila diasumsikan bahwa butiran-butiran yang terdispersi dari suatu emulsi berbentuk bola berukuran seragam dana tidak ada yang pecah maka 74 % dari volume total dari suatu emulsi dapat menjadi fase terdispersi.

Gambar 2. Orientasi suatu emulsifier di dalam suatu emulsi minyak dalam air Pada proses pembuatan emulsi dibutuhkan jenis emulsifier yang cocok dengan tujuan memperoleh tipe emulsi yang diinginkan secara tepat dan ekonpmis. Mengingat saat ini terdapat banyak sekali jenis emulsifier maka diperlukan cara yang sistematis untuk menentukan emulsifier mana yang paling cocok untuk suatu jenis emulsi. Untuk menjawab masalah ini, Griffin mengembangkan suatu konsep yang diberi nama Hydrophilic-Lipophilic Balance. Konsep ini ternyata telah digunakan dengan sukses dalam berbagain proses pembuatan emulsi. Hydrophilic-Lipophilic Balance yang disingkat dengan HLB menggambarkan rasio berat gugus hidrofilik dan lipofilik di dalam molekul emulsifier. Nilai HLB suatu emulsifier dapat ditentukan dengan salah satu diantara metode-metode berikut, yaitu: Metode titrasi Membandingkan stuktur kimia molekul Mencari korelasi dengan nilai tegangan permukaan dan tegangan interfasial

Koefisien pengolesan Daya larut zat warna Konstanta dielektrika Dengan teknik kromatograafi gas-cairan

Penentuan nilai HLB secara kasar dapat dilakukan dengan melihat dispersibilitasnya di dalam air dan membandingkannya dengan nilai-nilai pada table 1. Khusus untuk emulsifier non ioni, nilai HLBnya dapat dihitung dengan menggunakan rumus: 1. HLB = Dimana: E Contoh : persentase berat gugus hidrofilik molekul :

Kandungan oksietilen di dalam polioksietilen stearat adalah 85 persen maka HLB = 2. HLB = 20( Dimana: S : bilangan yang saponifikasi ester dari emulsifier yaitu bilangan yang menunjukkan jumlah alkali yang dibutuhkan (mg KOH) untuk mengsabunkan satu gram lemak A : bilangan asam dari emulsifier yang ditentukan dengan prosedur sebagai berikut: mula-mula asam lemak dipisahkan dari emulsifier dengan proses penyabunan yang menggunakan alkali berlebiha kemudian diasamkan dengan asam anorganik dan diekstraksi dengan heksan. Hasilnya dipisahkan dari heksan sehingga diperoleh asam lemak murni. Nilai bilangan asam emulsifier dapat dihitung dari jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menetralkan satu gram lemak. Contoh: Bilangan saponifikasi dari gliserol monostearat tipe komersil (mono dan digliserol) adalah 175 dan bilangan asamnya adalah 200, maka nilai HLB = 20( ) )

Tabel 1. Dispersibilitas emulsifier di dalam air pada berbagai nilai HLB Dispersibilitas Tidak terdispersi Kisaran nilai HLB 1-4

Sedikit terdispersi

3-6

Terdispersi seperti susu dengan pengadukan

6-8

Terdispersi seperti susu dengan kondisi yang 8-10 stabil

Terdispersi menjadi larutan yang tembus 10-13 cahaya hingga jernih

Terdispersi menjadi larutan jernih

13+

Sumber: becher (1965) di dalam Pwrie dan Tung 1976

Pada emulsifier yang mempunyai nilai HLB antara 3-6 akan membentuk tipe emulsi air dalam minyak, sedangkan emulsiofier yang mempunyai nilai HLB 8-18 akan membentuk tipe minyak dalam air. Namun untuk memperoleh suatu emulsi yang stabil biasanya dibutuhkan campuran dari dua atau lebih ewmulsifier yang merupakan kombinasi dari persenyawaan hidrofilik dan lipofilik. Bila kita menginginkan suatu campuran emulsifier , misalnya campuran A dan B dengan nilai HLB tertentu maka persentase berat tiap persenyawaan yang dibutuhkan untuk membentuk campuran tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: ( Contoh: Jumlah polioksietilen sorbitan oleat (HLB=15.0) dan sorbitan oleat (HLB=4.3) yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu vcampuran yang mempunyai nilai HLB=12 ssebagai berikut: % Polioksietilen sorbitan oleat =
( )

% Sorbitan oleat

= 100 72 = 28