Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Semua makhluk hidup baik tumbuhan, hewan dan manusia memiliki rentang hidup tertentu dan suatu saat akan mengalami kematian. Oleh karena itu untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenis dan keturunannya, makhluk hidup tersebut melakukan reproduksi atau perkembangbiakan. Manusia bereproduksi secara seksual. Reproduksi secara seksual melibatkan penyatuan dua sel kelamin. Sel kelamin dibentuk dalam organ reproduksi yang melibatkan hormone dan saluran kelamin. Interaksi antara organ reproduksi, hormone, dan saluran kelamin merupakan proses yang terjadi di dalam system reproduksi. Sistem reproduksi penting bagi kelangsungan hidup species dan menimbulkan dampak besar bagi kehidupan manusia. Sistem ini berperan penting dalam kehidupan seseorang sebagai contoh, cara bagaimana orang berhubungan sebagai makhluk seksual sangat berperan dalam perilaku psikososial dan menimbulkan pengaruh penting pada bagaimana orang memandang diri mereka berinteraksi dengan orang lain. Dalam makalah ini kita akan memusatkan perhatian pada anatomi dan fisiologi sistem reproduksi laki-laki karena masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui dan memahami organ reproduksi laki-laki dan fungsinya secara keseluruhan. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut : 1.2.1 1.2.2 Bagaimanakah deskripsi dari anatomi sistem reproduksi laki-laki? Bagaimanakah deskripsi dari fisiologi sistem reproduksi laki-laki?

1.3 Tujuan Pembahasan Untuk mengkaji anatomi dan fisiologi dari sistem reproduksi laki-laki 1.4 Manfaat 1.4.1 Manfaat khusus Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi Mahasiswa FKM untuk mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang Kesehatan Reproduksi khususnya anatomi dan fisiologi reproduksi lakilaki. 1.4.2 Manfaat umum Pembaca dapat mengetahui dan memahami khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang Kesehatan Reproduksi khususnya anatomi dan fisiologi reproduksi laki-laki.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Reproduksi Manusia Organ genetalis pada laki-laki dan wanita mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk mempertahankan jenisnya, agar tidak punah di bumi ini. Hanya dalam struturnya organ tersebut yang berlainan. Kelamin laki-laki maupun wanita semenjak lahir sudah ditentukan. Tetapi sifat-sifat kelamin belum dapat dikenal, sel reproduksi berkembang di sebelah depan ginjal yang tumbuh sebagai koloni-koloni sel kemudian membentuk kelenjar reproduksi. Perkembangan sifat terjadi pada umur 10-14 tahun. (Waluyo, 2006: 317-318) 2.2 Sistem Reproduksi Laki-laki 2.2.1 Organ Reproduksi Laki-laki Dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam. Organ reproduksi luar terdiri dari : Penis merupakan organ kopulasi yaitu hubungan antara alat kelamin jantan dan betina untuk memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis diselimuti oleh selaput tipis yang nantinya akan dioperasi pada saat dikhitan/sunat. Scrotum merupakan selaput pembungkus testis yang merupakan pelindung testis serta mengatur suhu yang sesuai bagi spermatozoa. Organ reproduksi dalam terdiri dari : Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan menghasilkan sel-sel sperma serta hormone testosterone. Dalam testis banyak terdapat saluran halus yang disebut tubulus seminiferus. Epididimis merupakan saluran panjang yang berkelok yang keluar

dari testis. Berfungsi untuk menyimpan sperma sementara dan mematangkan sperma.

Vas deferens merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah

ke atas dan berujung di kelenjar prostat. Berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula seminalis. Ductus ejakulatoris merupakan saluran yang pendek dana

menghubungkan vesikula seminalis dengan urethra. Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi

dan terdapat di penis. Kelenjar pada organ reproduksi laki-laki yaitu : 1. Vesikula seminalis merupakan tempat untuk menampung sperma disebut dengan kantung semen, berjumlah sepasang. sehingga

Menghasilkan getah berwarna kekuningan yang kaya akan nutrisi bagi sperma dan bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran reproduksi wanita. 2. Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar dan

menghasilkan getah putih yang bersifat asam. 3. Kelenjar Cowpers/Cowpery/Bulbourethra merupakan kelenjar

yang menghasilkan getah berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran urethra. (Waluyo, 2006 : 325 327).

2.2.2 Spermatogenesis Spermatogenesis merupakan pembentukan spermatozoa, dibagi menjadi tiga tahap yaitu spermatocytogenesis, meiosis dan spermiogenesis. Tahap spermatocytogenesis disebut juga tahap proliferasi atau perbanyakan. Spermatogonia mengalami mitosis berkali-kali sehingga menjadi spermatogonia yang siap mengalami meiosis. Spermatogonia asal yang mengalami proliferasi disebut spermatogonium tipe A, dan hasil proliferasi disebut spermatogonium tipe B. Spermatogonium tipe A berinti lonjong dan bernukleus di pinggir. Spermatogonium tipe B memiliki inti bundar dan nucleus agak di tengah.

Spermatogonium tipe B bermitosis lagi menjadi spermatosit I (primer). Spermatosit I menjauhi dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak. Ia segera mengalami meiosis. Pada meiosis I ia menempuh fase lepoten, zigoten, pakiten, diploten dan diakinesis dari profase, lalu metaphase, anaphase, dan telofase. Cytokinesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih lengkap terpisah, tetapi masih berhubungan sesame lewat suatu jembatan, disebut intercellular bridge. Lewat jembatan ini komunikasi sel tetangga dapat berlangsung. Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap. Spermatit sudah sangat beda bentuknya dari spermatosit II : inti lonjong runcing, terbentuk ekor yang harus panjang dalam sitoplasma. Dalam tahap spermiogenesis terjadi spermatit menjadi spermatozoa. (Waluyo,2006:328329).

2.3 Tanda-tanda Perkembangan Sekunder pada Laki-laki Perubahan luas dalam distribusi rambut, konfigurasi tubuh, dan ukuran genitalia yang terjadi pada pemuda masa pubertas. Prostat dan vesikula seminalis membesar dan vesikula seminalis mulai mensekresikan fruktosa. Gula ini tampaknya berfungsi sebagai pasokan nutrisi utam spermatozoa. Pada manusia, efek psikis testosteron sulit dinilai, tetapi pada hewan percobaan, androgen mencetuskan perilaku yang aktif dan agresif. Walaupun rambut tumbuh meningkat oleh androgen, rambut kepala berkurang. Kebotakan herediter sering terjadi bila tidak terdapat androgen. Perubahan tubuh saat pubertas pada pemuda (karakteristik seks sekunder pria) Genitalia eksterna : Penis memanjang dan melebar. Skrotum menjadi gelap dan belipat-lipat. Genitalia interna : Vesikula seminalis membesar dan mengeluarkan secret dan mulai membentuk fuktosa. Prostat dan kelenjar bulbouretralis membesar dan mengeluarkan sekret.

Suara : laring membesar, pita suara memanjang dan menebal, dan suara menjadi berat.

Pertumbuhan rambut : muncul janggut, garis rambut di kulit kepala mundur secara anterolateral, tumbuh rambut pubis dengan pola pria (segitiga dengan apeks diatas), rambut tumbuh di ketiak, dada, di sekitar anus, rambut tbuh secara umum meningkat.

Mental : lebih agresif, sikap aktif, timbul perhatian terhadap lawan jenis. Konformasi tubuh : bahu melebar, otot membesar. Kulit : sekresi kelenjar sebasea mengental dan meningkat (pradisposisi timbul jerawat). (Ganong,1998:423)

2.4 Kelainan Fungsi Testis 2.4.1 Kriptokidismus Testis terbentuk di dalam rongga abdomen dan secara normal bermigrasi ke skrotum selama masa perkembangan janin. Penurunan testis ke daerah inguinal dan penurunan dari daerah inguinal ke skrotum bergnatung pada faktor-faktor lain. Penurunan ini tidak sempurna pada satu atau, yang lebih jarang kedua testis pada 10% bayi laki-laki baru lahir, testis tetap berada di dalam ringga abdomen atau kanalis inguinalis. Namun, biasanya terjadi penurunan spontan testis, dan proporsi anak laki-laki yang testisnya tidak turun (kriptokidismus) turun menjadi 2% pada usia 1 tahun dan 0,3% setelah pubertas. Pemberian hormone gonadotropik mempercepat penurunan pada sebagain kasus, atau kelainan ini dapat diperbaiki secara bedah. Pengobatan harus dilakukan, sebaiknya sebelum pubertas, karena terdapat peningkatan insidens tumor ganas pada testis yang tidak turun dibandingkan dengan testis di skrotum dank arena setelah pubertas suhu di abdomen yang lebih tinggi akhirnya menyebabkan kerusakan ireversibel epitel spermatogenik. (Ganong, 1998: 425 426).

2.4.2

Hipogonadisme Pria Gamabaran klinis hipergonadisme pada pria bergantung pada apakah

defisiensi testis terjadi sebelum atau setelah pubertas. Pada orang deasa, hal ini disebabkan oleh penyakit tetstis, maka kadar gonadotropin dalam darah meningkat Kallman), (hipogonadisme kadar hipergonadotropik), dalam darah sementara menurun bila sekunder disebabkan oleh penyakit pada hipofisis atau hipotalamus (misalnya sindrom gonadotropin (hipogonadisme hipogonadotropik). Bila fungsi endokrin testis menghilang pada masa dewasa, mka karakteristik seks sekunder menghilang secara bertahap karena untuk mempertahankan karakteristik-karakteristik tersebut, bila telah terbentuk, hanya diperlukan sedikit androgen. Pertumbuhan laring selama masa akil baligh bersifat permanen dan suara tetap berat. Pada pria yang dikastrasi pada masa dewasa mengalami kehilangan sebagian libido, wlaupun kemampuan berkopulasi menetap untuk beberapa waktu. Meraka kadang-kadang mengalami hot flashes dan biasanya lebih mudah tersinggung, pasif, dan menderita depresi dibandingkan pria dengan testis utuh. Bila defisiensi sel Leydig berlangsung sejak masa anak-anak, maka gambaran klinisnya adalah eunukoidisme. Orang-orang eunokoid yang berusia di atas 20 tahun biasanya tinggi, walaupun tidak setinggi raksasa hiperpituarisme, karena epifisis tetap terbuka dan terjadi pertumbuhan melampaui usia pubertas. Mereka memiliki bahu sempit dan otot kecil, yaitu konfigurasi tubuh yang mirip dengan wanita dewasa. Genitalia kecil dan suara memiliki nada tinggi. Terdapat rambut pubis dan ketiak karena sekresi androgen adrenokorteks. Namun, rambut jarang, dan memiliki distribusi rambut pubis wanita yaitu segitiga dengan dasar diatas, bukan pola segitiga dengan dasar di bawah (escutcheon pria) seperti yang dijumpai pada pria normal. (Ganong, 1998: 426) 2.4.3 Tumor Pensekresi androgen Tidak dikenal adanya hiperfungsi testis tanpa pembentukan tumor. Tumor sel Leydig yang menghasilkan androgen jarang ditemukan dan

menyebabkan gejala-gejala endokrin hanya pada anak laki-laki prapubertas, yang mengalami pseudopubertas prekoks. (Ganong, 1998:426)

2.5 Cara Menjaga Kebersihan Organ Kelamin Laki-laki Kulit daerah kemaluan harus dibersihkan dengan baik untuk mencegah infeksi. Infeksi area genital menyebabkan nyeri hebat dan rasa tidak nyaman. Bahkan tak jarang menyebabkan kesulitan intercourse selama ajang bercinta. Kalau sudah ada tanda-tanda ketidaknyamanan area genital, segeralah konsultasi ke dokter.( http://baru1.com/menjaga-kebersihan-organ-seksual-alat-kelamin/) Sebenarnya, dibanding vagina, penis cenderung lebih tahan terhadap infeksi dan iritasi karena sebagian besar penis terlindungi oleh kulit yang cukup tebal. Kalaupun ada infeksi, laki-laki biasanya lebih mudah dan cepat tahu, karena biasanya ditandai dengan rasa sakit saat buang air kecil. (http://baru1.com/menjaga-kebersihan-organ-seksual-alat-kelamin/) Kelenjar di sekitar ujung penis menghasilkan smegma, suatu zat berwarna putih dan agak lengket setiap harinya. Sekresi ini bila dikombinasikan dengan air seni, keringat, bakteri, dan air mani, akan mengakibatkan akumulasi bau yang sangat menggangu. Zat putih tersebut juga bisa menyebabkan infeksi yang biasanya ditandai dengan kulit kemerahan dan iritasi. (http://baru1.com/menjagakebersihan-organ-seksual-alat-kelamin/) Untuk membersihkannya, tariklah kulup ke arah belakang, lalu cuci bersih permukaan kepala penis dan juga kulit serta lipatan-lipatannya. (http://baru1.com/menjaga-kebersihan-organ-seksual-alat-kelamin/)

Berbagai cara menjaga higienitas daerah kemaluan (alat kelamin) untuk mencegah infeksi kelamin, di antaranya : selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah buang air kecil, kenakan bahan pakaian dalam yang nyaman dan menyerap keringat, penis harus dicuci dengan air dan sabun lembut minimal sehari sekali, serta keringkan alat kelamin dengan handuk atau lap sesudah mencuci alat kelamin. (http://baru1.com/menjaga-kebersihan-organ-seksualalat-kelamin/) Hindari pula memakai celana dalam dan celana luar (misal celana jins) terlalu ketat. Selain membuat peredaran darah tidak lancar, penis dan testis juga akan kepanasan. Padahal panas berlebihan akibat suhu udara, keringat, dan pakaian yang terlalu ketat, akan menurunkan kualitas sperma sehingga menurunkan kemampuannya untuk membuahi sel telur. (http://baru1.com/menjaga-kebersihan-organ-seksual-alat-kelamin/) Jadi sangatlah penting menjaga kebersihan Organ seksual (alat kelamin) anda, agar tidak terjangkit penyakit atau menimbulkan bau yang tidak mengenakan yang bisa membuat anda atau orang disekitar anda merasa tidak nyaman. (http://baru1.com/menjaga-kebersihan-organ-seksual-alat-kelamin/)

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Anatomi Sistem Reproduksi Laki-laki Organ reproduksi laki-laki dibagi menjadi 2 bagian, yaitu alat kelamin dalam dan alat kelamin luar. 3.1.1 Organ Reproduksi Dalam Organ reproduksi dalam laki-laki terdiri atas testis, saluran reproduksi dan kelenjar kelamin. a. Testis Testis adalah badan berbentuk oval, setiap testis disokong oleh funikulus spematikus pada pertengahan skrotum.

Sistem Genitalia Pria

10

Testis dan Epididimis Tunica albuginea adalah kapsula fibrosa testis. Tunica vaginalis adalah lapisan ganda, dengan rongga potensial diantara kedua lapisan tersebut, yang mengelilingi testis kecuali bagian posterior. Struktur : a. Setiap testis dibagi oleh septa menjadi 200-300 lobulus. Setiap lobulus mengandung 1-3 tubulus seminiferus. b. Tubulus semineferus adalah tubulus yang berkelok-kelok, sampai sepanjang 70 cm. c. d. Spermatozoa dihasilkan setelah pubertas oleh sel-sel tubulus semineferus. Pada bagainbelakang testis, tubulus semineferus bermuaranya ke dalam sekitar 12 ductus efferentes, yang menembus tunica albuginea dan memebentuk caput epididimis. e. Sel=sel interstitial, yang memproduksi hormon pria, terletak di antara tubulus.

11

Suplai Darah Setiap arteri testicularis keluar dari aorta abdominalis tepat di bawah asal

arteria renalis, berjalan di bagian depan dinding belakang abdomen, dan mencapai testis dan epididimis dengan melewati funiculus spermaticus. Drainase Vena Darah sari testis lewat ke dalam pleksus pampiniformis vena-vena funiculuc spermaticus. Pleksus ini mengalirkan darah ke dalam vena tunggal, yang berjalan ke atas bagian belakang abdomen. Vena testicularis dextra memasuki vena cava inferior. Vena testicularis sisnistra memasuki vena renalis sinistra. Inervasi Saraf simpatis melewati testis di atas arteria testicularis. Gambaran Klinis Hidrokel adalah pengumpulan cairan di dalam kantong tunica vaginalis. Spermatozoza dibentuk setelah pubertas di dalam sel yang membentuk dindidng tubulus semineferus dan berjalan di sepanjang tubulus ke dalam ductus efferentes dan ke dalam epididimis. Testosteron, hormon pria, dihasilkan di dalam sel interstitial testis sejak pubertas. (Gibson, 2002 : 332 - 334) b. Saluran pengeluaran Saluran pengeluaran dalam organ reproduksi dalam laki-laki terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra. Epididimis merupakan organ pengumpul yang melekat pada bagain

belkang testis. Organ ini memiliki caput (yang terdiri dari tubulus efferen yang

12

berasal dari testis), corpus, dan cauda (terdiri dari tabung tunggal tempat duktus berjalan). (Gibson, 2002 : 334) Vas deferens merupakan tabung berdinding tebal. Dimulai pada ujung bawah epididimis yang merupaka sambungan dari salurannya, berjalan ke arah atas di belakang epididimis, melalui canalis inguinalis, memasuki pelvis, dan berjalan di bagian belakang kandung kemih, tempat saluran tersebut terletak di sebelah medial vesicular seminalis pada sisi yang sama. (Gibson, 2002 : 334) Ductus ejaculatoris merupakan saluran yang sama untuk vas deferens dan

vesicular seminalis. Saluran ini berjalan melalui kelenjar prostat bermuara ke dalam uretra pars prostatica. (Gibson, 2002 : 335) Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis.

Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih. c. Kelenjar kelamin Kumpulan kelenjar kelamin terdiri dari vesikula seminalis, prostate, dan kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi, kelenjar tersebut mensekresikan mucus bening yang menetralkan setiap urine asam yang masih tersisa dalam uretra. Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif mengadakan metabolisme setelah mengadakan kontak dengan plasma semen. Plasma semen mempunyai dua fungsi utama yaitu: berfungsi sebagai media pelarut dan sebagai pengaktif bagi sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta melengkapi selsel dengan substrat yang kaya akan elektrolit (natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam sitrat, fruktosa, asam askorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit vitamin-vitamin serta enzim-enzim. Kelenjar aksesoris terdiri dari: Vesikula seminalis merupakan pembuluh darah yang dibentuk oleh tabung

bersakulasi yang berkelok-kelok, terletak pada setiap sisi, pada bagain belakang kandung kemih. (Gibson, 2002 : 335)

13

Kelenjar prostat berbentuk dan berukuran hamper sama dengan horse

chestnut. Kelenjar ini mengelilingi bagian pertama uretra. Kelenjar ini terletak dibawah kandung kemih, dibelakang simfisis penis, di depan rectum. Dilewati oleh uretra dan duktus ejakulatorius. Terdiri dari sejumlah kelenjar tubulus dan jaringan fibromuskular, seluruhnya dibungkus di dalam kapsul. Gambaran klinis Kelenjar dapat terasa sebagai objek yang keras dan licin melalui pemeriksaan rectal. Pembesaran kelenjar sering terjadi pada usia lima puluh dan dapat menyebabkan obstruksi pada mikturisis dengan menjepit uretra. Kanker kelenjar menyebabkan obstruksi yang sama dan dapat menyebar ke organ dan jaringan lain. (Gibson, 2002 : 335)

Kelenjar prostat Kelenjar bulbouretra adalah sepasang kelenjar kecil yang terletak

disepanjang uretra, dibawah prostat. Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

14

Kelenjar bulbouretra 3.1.2 a. Organ Reproduksi Luar Penis Penis terdiri dari tiga badan silinder (corpora cavernosa dextra, corpora cavernosa sinistra, dan corpus spongioum di bagain sentral). Di bagian belakang melekat dengan bagian samping os pubis dan pada perineum. Glans penis adalah pembesaran jaringan tempat corpus spongioum membesar pada ujung penis. Bagain ini dibungkus oleh prepusium. Uretra memasuki corpus spongioum di bagian posterior, berjalan di sepanjang corpus spongioum dan bermuara pada mestus uretra eksterna pada ujung glans penis. Komposisi : Corpora cavernosa dan corpus spongioum disusun oleh jaringan seperti spons, yang dibentuk oleh jaringan ikat da otot polos. Jaringan ini dibungkus oleh ruang vaskuler yang dapat berdilatasi.

15

Gambaran klinis : Sirkumsisi adalah pembuanagn preputium. Spermatozoa dibentuk di dalam

tubulus semineferus dan mengalir menuju epididimis dan sepnajng vas deferens. Vesicular seminalis tidak menyimpan spermatozoa, tetapi memproduksi sebagian cairan yang menyangkut spermatozoa, tetapi memproduksi sebagian cairan yang mengangkut spermatozoa. Kelenjar prostat menghasilkan cairan yang serupa. Di bawah pengaruh rangsangan seksual, impula berjalan di sepanjang saraf parasimpatis menuju arteriol penis. Arteriol berdilatasi dan ruang vaskuler penis terbendung dengan darah dan penis membesar dan menjadi kaku dan ereksi. Dengan demikian hubungan seksual dapat dilakukan. Saat ejakulasi semen, terdidri dari sperma dalam cairan yang dihasilkan oleh vesicular seminalis dan kelenjar prostat, dikeluarkan melalui uretra. (Gibson, 2002 : 335 337).

Struktur penis

16

b.

Skrotum Skrotum adalah kantung (terdiri dari kulit dan otot) yang membungkus

testis atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta di depan perineum. Pada wanita, bagian ini serupa dengan labia mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Pada skrotum manusia dan beberapa mamalia bisa terdapat rambut pubis. Rambut pubis mulai tumbuh sejak masa pubertas.

17

3.2 Fisiologi Sistem Reproduksi Laki-laki 3.2.1 Komponen Sistem Reproduksi Laki-laki dan Fungsinya Fungsi

Komponen Sistem Reproduksi Laki-laki Organ Reproduksi Dalam :

Testis

Menghasilkan sperma Mengeluarkan testosterone Tempat terbentuknya sperma Tempat keluar sperma dari testis Tempat pematangan motilitas dan fertilitas sperma

Epididimis

Memproduksi

cairan

yang

banyak

mengandung enzim dan gizi mematangkan

Duktus Deferens

bentuk sperma Berfungsi untuk menyalurkan sperma dari epididimis ke vasika seminalis

Tempat penyimpanan sebagian dari sperma sebelum dikeluarkan Penghasil fruktosa untuk makanan sperma Penghasil prostaglandin Berfungsi untuk mengeluarkan cairan

Vesikula Seminalis

alkalis (sedikit basa), mengandung fruktosa dan zat gizi yang merupakan sumber energi bagi spermatozoa. Sperma segar, kuat dan

18

mudah bergerak dalam mencapai ovum

Berfungsi sebagai tempat penyimpanan spermatozoa sebelum dikeluarkan melalui kegiatan seksual

Menghasilkan cairan yang disebut semen untuk cairan yang pelindung spermatozoa. Memicu pembekuan semen untuk menjaga sperma tetap berada di dalam vagina saat penis dikeluarkan

Kelenjar Prostat

Mengeluarkan cairan alkalis encer berwarna seperti susu, mengandung asam sitrat, kalsium dan beberapa zat lain

Cairan

prostate

akan

dipancarkan

menambah cairan yang dikeluarkan dari vasika seminalis

Cairan prostate sangat baik untuk fertilisasi dan mortalitas sperma, dan menetralkan keasaman cairan lain yang menghambat fertilisasi Mengeluarkan mucus untuk pelumas Mensekresi cairan yang membantu agar sperma lebih tahan hidup

Kelenjar Bulbouretra

Lebih memungkinkan sperma bergerak dan memudahkan pembuahan

Organ reproduksi Luar : Penis

Berfungsi

sebagai

alat

kopulasi

(persetubuhan)

19

Skrotum

Untuk memberikan kepada testis suatu lingkungan yang memiliki suhu 1-8oC lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh.

3.2.2

Hormon Pada Sistem Reproduksi Laki-laki Kimia dan Biosintesis Testosteron Testosteron, hormon utama testis, adalah suatu steroid C 19 dengan sebuah

gugus OH. Hormon ini disintesis dari koleterol di sel-sel Leydig dan juga terbentuk dari androstenedion yang disekresikan oleh korteks adrenal. Menurut konsep yang sekarang dianut, jalur biosintetik pada semua organ endokrin yang membentuk hormone steroid serupa, organ-organ hanya berbeda dalam system enzim yang dikandungnya. Di sel Leydig 11-dan 21-hidroksilase yang dijumpai di korteks adrenal tidak terdapat, tetapi dimungkinkan 17hidroksilase. Dengan demikian pregnenolon mengalami hidroksilasi di posisi 17 untuk membentuk dehidroepiandrosteron. Androstenedin juga terbentuk melalui progesteron dan 17 hidroksiprogesteron, tetapi jalur ini kurang menonjol pada manusia. Dehidroepiandrosteron dan androstenedin kemudian diubah menjadi testosteron. Sekresi testosteron berada di bawah control LH, dan mekanisme bagaimana LH merangsang sel Leydig adalah melalui peningkatan pembentukan AMP siklik melalui reseptor serpentine LH dan Gs. AMP siklik meningkatkan pembentukan kolesterol dan perubahan kolesterol menjadi pregenolon melalui pengaktifan protein kinase A. Sekresi Kecepatan sekersi testosteron adalah 4-9 mg/hari (13,9-31,2 nmol/hari) pada pria deasa normal. Sejumlah kecil testosteron juga disekeresikan pada wanita, mungkin berasal dari ovarium tetapi dapat juga dari adrenal.

20

Transpor dan Metabolisme Sembilan puluh delapan persen testosteron dalam plasma terikat ke

protein: 65% terikat ke--globulin yang disebut gonadal steroid-binding globulin (GBG) atau corticosteroid-binding globulin, dan 33% ke albumin. Distribusi steroid dan kortisol gonad dalam plasma % Terikat CBG 0 0 0 18 90 GBG 65 8 38 0 0 Albumin 33 85 60 80 6

Steroid Testosteron Androstenedion Estradiol Progesteron Kortisol

% Bebas 2 7 2 2 4

CBG, corticosteroid-blinding globulin. GBG, gonadal steroid binding globulin GBG juga mengikat estradiol. Kadar testosteron plasma (bebas dan terikat) adalah sekitar 525 ng/dL (18,2 nmol/L) pada pria dewasa dan 30 ng/dL (1,0 nmol/L) paad wanita dewasa. Kadar ini sedikit menurun seiring pertambahan usia pada pria. Sejumlah kecil testosteron dalam darah diubah menjadi estrogen di suatu tempat di tubuh, tetapi sebagian besar diubah menjadi 17-ketosteroid dan diekskresikan di urin. Sekitar 2 pertiga 17-ketosteroid urin berasal dari adrenal, dan sepertiga testis. Walaupun sebagian besar 17-ketosteroid merupakan androgen lemah (memiliki potensi testosteron sebesar 20% atau kurang), perlu ditekankan

21

bahwa tidak semua 17-ketosteroid adalah androgen dan tidak semua androgen adalah 17-ketosteroid. Etiokulanolon, misalnya, tidak memiliki aktivitas androgenik, dan testosteron itu sendiri bukan suatu 17-ketosteroid. Efek Selain efeknya selama perkembangan, testosteron dan androgen lain memiliki efek umpan balik inhibitorik pada sekresi Lh hipofisis; membentuk dan mempertahankan karakteristik seks sekunder pria; serta memiliki efek mendorong pertumbuhan serta anabolik-protein yang penting. Bersama FSH, testosteron berperan mempertahankan kelangsungan gametogenesis. Mekanisme Kerja Seperti steroid lainnya, testosteron berikatan dengan suatu reseptor intrasel, dan kompleks steroid-reseptor kemudian berikatan dengan DNA di nukleus, menyebakan transkripsi berbagai gen. selain itu, testosteron diubah menjadi dihidrotestosteron (DHT) oleh 5reduktase di beberapa jaringan sasaran, dan DHT berikatan dengan reseptor intrasel yang sama seperti testosteron. DHT juga bersirkulasi, dengan kadar plasma sekitar 10% testosteron. Kompleks testosteron-reseptor kurang stabil dibandingkan dengan kompleks DHT-reseptor di sel sasaran, dan transformasi kompleks tersebut ke DNA sel kurang sempurna. Dengan demikian, pembentukan DHT adlah salah satu cara untuk meningkatkan efek testosteron di jaringan sasaran. Kompleks testosteron-reseptor berperan dalam pematangan strukturstruktur duktus wolffian, dengan demikian, bertanggung jawab terhadap pembentukan genitalia interna pria selama perkembangan, tetapi kompleks DHTreseptor diperlukan untuk membentuk genitalia eksterna pria. Kompleks DHTresptor juga erperan dalam pembesaran prostat dan mungkin penis pada saat pubertas serta rambut wajah, jerawat, dan pengunduran temporal gais rambut. Di pihak lain, peningkatan masa otot dan munculnya doongan seks dan libido pria lebih tergantung pada testosteron daripada DHT.

22

Defisiensi 5reduktase kongenital, yang sering dijumpai di daerah-daerah tertentu Republik Dominika, menimbulkantipe pseudohermafroditisme pria yang menarik. Orang-orang dengan sindrom ini lahir dengan genitalian interna pria termasuk testis, tetapi genitalia eksternanya wanita dan biasanya dibesarkan sebagai wanita. Namun, saat mereka mencapai pubertas, sekresi LH dan kadar testosteron dalam darah meningkaat. Akibatnya, mereka membentuk kontur tubuh pria dan memiliki libido pria. Pada tahap ini mereka biasanya mengubah identitas jenis kelamin dan menjadi pemuda. Mereka mengalami pertumbuhan rambut wajah atau kebotakan, tetapi klitoris membesar (penis-at-12-syndrome) sampai sebagian dari mereka dapat berhubungan kelamin dengan wanita. Pembesaran ini mungkin terjadi karena dengan tingginga LH, tersedia testosteron dalam jumlah cukup untuk mengatasi kebutuhan akan amplifikasi DHT di genitalia, dan mungkin Karena testosteron kadar tinggi menginduksi peningkatan 5reduktase. Sekarang telah dibuktikan bahwa terdapat 2 5reduktase yang berlainan : 5 reduktase 1, yang normal pada sindrom ini dan 5reduktase 2, yang tidak dijumpai karena defek atau delesi pada gen yang mengkode enzim tersebut. Pembentukan estrogen oleh Testis Lebih 80% esradiol dan 95% estron dalam plama dewasa dibentuk melalui aromatisasi testosterone dan androstenedion dalam darah. Sisanya berasal dari testis. Sebagain estradiol di darah vena testis berasal dari sel Leydig, tetapi sebagian juga dibentuk melalui aromatisasi androgen sis el Sertoli. Pada pria, kadar estradiol plasma adalah sekitar 2ng/dL (70pmol/L) dan kecepatan produksi total adalah 0,05 mg/hari (0,18 mol/hari). Berlainan dengan keadaan pada wanita, pada pria terjadi peningkatan sedang produksi estrogen seiring dengan pertambahan usia. Kontrol Fungsi Testis FSH bersifat tropic bagi sel Sertoli, dan FSH serta androgen mempertahankan fungsi gametogenik testis. FSH juga merangsang sekresi inhibin. Inhibin memberi umpan balik untuk mengahambat sekresi FSH. LH

23

bersufat tropik bagi sel Leydig dan merangsang sekresi testosterone, yang selanjutnya member umpan balik untuk menghambat sekresi LH. Lesi hipotalamus pada hewan dan penyakit hipotalamus pada manusia menyebabkan atrofi dan hilangnya fungsi testis. Inhibin Testosteron menurunkan LH plasma, tetapi kecuali pada dosis besar, hormon ini tidak memiliki efek pada FSH plasma. Pada pasien yang mengalami atrofi tubulus seminiferus tetapi kadar testosteron dan eksresi Lh normal, kadar FSH plasma meningkat. Pengamatn ini menyebabkan ditemukannya inhibin, suatu faktor yang berasal dari testis dan menghambat sekresi FSH. Terdapat 2 jenis inhibin dalam ekstrak testis pada pria dan dan dalam cairan antral dari folikel ovarium pada wanita. Keduanya dibentuk dari 3 subunit polipeptida : sebuah sub unit terglikolisasi, A dan B, masing-masing dengan berat molekul 14.000. subunit-subunit tersebut terbentuk dari protein precursor. Subunit bergabung dengan A untuk membentuk sebuah heterodimer dan dengan B untuk membentuk heterodimer yang lain, dengan ikatan disulfide menghubungkan subunit-subunit tersebut. Baik A (inhibin A) maupun B (inhibin B) menghambat sekresi FSH melalui efek langsung pada hipofisis. Inhibin dibentuk oleh sel Sertoli pada pria dan sel granulosa pada wanita. Heterodimer AB serta homodimer AB dan AB juga terbentuk. Dimerdiemr ini merangsang, bukan menghambat sekresi FSH dan dengan demikian disebut aktivin. Fungsinya dalam reproduksi masih belum dipastikan. Namun, inhibin dan aktivin adalah anggota superfamili TGF faktor pertumbuhan dimetrik yang juga mencakup MIS. Telah berhasil diklon dua reseptor aktifin, dan keduanya tampaknya termasuk serinkinase. Inhibin dan aktivin, ditemukan tidak hanya di gonad tetapi juga di otak dan banyak jaringan lain. Di sumsum tulang, aktivin berperan dalam pembentukan sel darah putih. Pada masa kehidupan mudigah, aktivin terlibat dalam pembentukan mesoderm. Semua mencit dengan delesi inhibin pada awalnya tumbuh secara normal tetapi kemudian menderita

24

tumor-tumor stroma gonad, sehingga gen inhibin adalah suatu gen penekan tumor (tumor suppressor gene). Dalam plasma, aktivin dan inhibin diikat ole 2-makroglobulin. Dalam jaringan, aktivin berikatan dengan famili 4 glikoprotein yang disebut folistatin. Pengikatan aktivin membuat aktifitas biologik molekul ini tidak aktif, tetapi kaitan antara folistatin dan inhibin serta fungsi biologiknya masih belum diketahui. Umpan balik steroid Hipotesis kerja yang sekarang berlaku mengenai bagaimana fungsi testis diatur. Katrasi akan diikuti oleh peningkatan isi dan sekresi FSH dan LH dari hipofisis, dan lesi hipotalamus mencegah kenaikan ini. Testosteron menghambat sekresi LH dengan bekerja secara langsung pada hiipofisis anterior dan dengan menghambat sekresi GnRH dari hipotalamus. Inhibin kerja secara langsung pada hipofisis anterior untuk menghambat sekresi FSH. Sebagai respon terhadap LH, sebagian testosteron yang disekresikan dari sel Leydig membasahi epitel seminiferus dan memberikan sel Sertoli konsentrasi local androgen yang tinggi yang penting untuk spermatogenesis normal. Testosteron yang diberikan sistemis tidak meningkatkan kadar androgen di testis samapi setinggi itu, dan hal ini menghambat sekresi LH. Akibatnya, efek akhir testosteron yang diberikan sistemik secara umum adalah penurunan hitung sperma. Terapi testosteron pernah dianjurkan sebagai salah satu cara kontrasepsi pria. Namun dosis testosteron yang diperlukan untuk menekan spermatogenesis menyebabkan retensi natrium dan air. Sekarang sedang dijajaki kemungkinan penggunaan inhibin sebagai kontarsepsi pria. (Ganong. 1998 : 422 425)

3.2.3

Spermatogenesis Spermatogonia, sel-sel germinativum primitive yang terletak di samping

lamina basalis tubulus seminiferus, berkembang menjadi spermatosit primer.

25

Proses ini dimulai pada masa akil baligh. Spermatosit primer mengalami pembelahan meiotik, sehingga jumlah kromosomnya berkurang. Dalam proses 2 tahap ini sel-sel tersebut membelah menjadi spermatosit sekunder lain menjadi spermatid, yang mengandung jumlak kromosom haplod (23). Spermatid berkembang menjadi spermatozoa (sperma). Sewaktu sebuah spermatogonium membelah dan menjadi matang, turunan-turunannya tetap terikat oleh jembatan sitoplasma sampai stadium spermatid lanjut. Hal ini tampaknya memastikan sinkronisasi diferensiasi masing-masing klon sel gerimnativum. Perkiraan jumlah spermatid yang terbentuk dari sebagian spermatogonium adalah 512. Pada manusia, melalui proses spermatogenesis yang teratur ini diperlukan waktu rerata 74 hari untuk membentuk sebuah sperma matang dari sel germinativum primitif. Masing-masing sperma adalah seluruh motif ruma, yang kaya DNA, dengan sebuah kepala yang tersusun sebagian besar oleh bahan kromosom. Penutup kepala disebut akrosom, suatu organel mirip lisosom yang kaya enzimenzim yangbertanggung jawab dalam penetrasi sperma ke ovum dan prosesproses lain yang terjadi selama pembuahan. Bagian proksimal ekor sperma yang motil ditutupi oleh suatu selaput yang berisi banyak mitokondria. Membrane spermatid lanjut dan spermatozoa mengandung enzim pengkonversi angiotensia tipe kecil khusus yang disebut germinalangiotensin-converting enzim, tetapi fungsi enzim ini dalam sperma tidak diketahui. Spermatid berkembang menjadi spermatozoa di lipatan-lipatan sitoplasma yang dalam pada sel Sertoli. Spermatozoa matang dlepaskan dari sel Sertoli dan menjadi bebas dalam lumen tubulus. Sel-sel Sertoli mensekresikan protein pengikat androgen (AEP) dan inhibin. Sel-sel ini tidak mensintesis androgen, tetapi mengandung aromatase, enzim yang berperan dalam perubahan androgen menjadi estrogen, dan sel-sel ini dapat menghasilkan estrogen. ABP mungkin berfungsi untuk mempertahankan pasokan androgen yang tinggi dan stabil dalam cairan tubulus. Inhibin menghambat sekresi FSH.

26

FSH dan androgen mempertahankan fungsi gametodenik testis. Setelah hipofisektomi, penyuntikan LH menghasilkan konsentrasi androgen local yang tinggi di testis, dan hal ini mempertahankan spermatogenesis. Terdapat beberapa bukti bahwa testosterone berpindah dari vena spermatika menuju arteri spermatika sewaktu kedua pembuluh ini berjalan sejajar satu sama lain di skrotum, sehingga konsentrasi androgen yang tinggi dalam testis dapat dipertahankan. Stadiumstadium spermatogenesia menjadi spermatid tampaknya tidak bergantung pada androgen. Namun, pemtangan dari spematid menjadi spermatozoa bergantung pada androgen yang bekerja pada sel Sertoli tempat terbenamnya spermatozoa yang sedang tumbuh. FSH bekerja pada sel Sertoli untuk memperlancar stadiumstadium akhir pematangan spermatid. Selain itu, FSH mendorong pembentukan ABP. Spermatozoa yang meninggalkan testis belum sepenuhnya mampu bergerak. Spermatozoa melanjutkan pematangannya dan memperoleh motilitas sewaktu melintasi epididimis. Terdapat beberapa bukti bahwa motilitas sperma ditingkatkan oleh relaksin, yang mnugkin dihasilkan oleh prostat. Kapasitas sperma melakukan pembuahan juga ditingkatkan bila sperma tersebut berada dalam waktu yang cukup di saluran reproduksi wanita. Proses awal yang terjadi dalam saluran reproduktif wanita disebut kapasitasi. Proses ini menyebabkan sperma lebih mampu melekat ke ovum. Efek suhu Spermatogenesis memerlukan suhu yang lebih rendah daripada suhu bagian dalam tubuh. Testis dalam keadaan normal memiliki suhu sekitar 320C. testis dipertahankan dingin oleh udara yang mengaliri skrotum dan mungkin oleh pertukaran panas melalui arus balik antara arteri dan vena spermatika.. Bila testis tetap berada di dalam abdomen, atau bila dilakukan pada hewan percobaan, didekatkan tubuh dengan pakaian yang erat, akan terjadi degenerasi dinding tubulus dan sterilitas. Mandi air panas (43-450C selama 30 menit per hari) dan penyokong atletik berinsulasi menrunkan hitung sperma pada manusia, kadang-

27

kadang sebesar 90%. Namun penurunan dengan cara ini tidak cukup konsisten untuk menjadikannya suatu tindakan untuk kontrasepsi pria. Selain itu terdapat bukti yang mengisyaratkan adanya efek musim pada pria, dimana hitung sperma lebih tinggi pada musim dingin berapapun suhu pajanan skrotum. Sperma Cairan yang diejakulasikan pada saat orgasme, semen mengandung

sperma dan sekresi vesikula seminalis, prostat, kelenjar Cowper, dan mungkin kelenjar uretra. Volume rerata per ejakulat adalah 2,5-3,5 mL, setelah beberapa hari tidak dikeluarkan. Volume semen dan hitung sperma menurun dengan cepat bila ejakulasi berulang. Walaupun hanya diperlukan satu sperma untuk membuahi ovum, setiap millimeter semen normal mengandung 100 juta sperma. Lima puluh persen pria dengan hitung sperma 20-40 juta/mL, dan pada dasarnya semua yang hitungnya kurang dari 20 juta/mL adalah gundul. Prostaglandin dalam semen, yang sebenarnya dating dari vesikula seminalis, berkadar tinggi, tetapi fungsi turunan asam lemak ini dalam semen tidak diketahui. Sperma manusia bergerak dengan kecepatan sekitar 3 mm/mnt melintas saluran genitalia wanita. Sperma mencapai tube uterine 30-60 menit setelah kopulasi. Pada beberapa spesies, kontraksi irgan wanita mempermudah transport sperma ke tuba uterine, tetapi tidak diketahui apakah kontraksi semacam itu terjadi pada manusia. Komposisi semen manusia, yaitu : 1. 2. 3. 4. Warna : Putih, opalosen Berat jenis sepsifik : 1,028 pH : 7,35-7,50 Hitung sperma : rerata sekitar 100 juta/mL, dengan bentuk abnormal kurang dari 20%

28

5. -

Komposisi lain : Fruktosa (1,5-6,5 mg/mL) Fosforilkolin Ergotionin Asam askorbat Flavin Prostaglandin Dari vesikula seminalis (membentuk 60% volume total)

Spermin Asam sitrat Kolesterol, fosfolipid Fibrinolisin, fibrinogenase Seng Fosfatase asam Dari prostat (membentuk 20% volume total)

Fosfat Peyangga

Bikarbonat

29

Hialuronidasew

(Ganong, 1998 : 418 420).

3.2.4

Tahap Aktifitas Seksual Laki-laki Ereksi Ereksi diawali oleh dilatasi arteriol-arteriol penis. Sewaktu jaringan erektil

penis terisi darah, vena mengalami tekanan dan aliran keluar terhambat sehingga torgor organ bertambah. Pusat-pusat integrasi di segmen lumbal medulla spinalis diaktifkan oleh impuls dalam aferen dari genitalia dan traktus desendens yang

30

memperantarai ereksi sebagai respon terhadao rangsangan psikis erotik. Serat parasimpatis eferen berada dalam saraf splanknik panggul (nervi erigentes). Seratserat tersebut diperkirakan mengandung asetilkolin dan VIP sebagai kotransmiter. Sebagian serat berakhir secara prasinaptik pada neuron noradrenergic, tempat asetilkolin bekerja pada reseptor muskarinik untuk menurunkan pelepasan vasokonstriktor norepinefrin. Selain itu VIP menimbulkan vasodilatasi. Namun penyuntikan VIP tidak menimbulkan keadaan yang benar-benar seperti ereksi. Juga terdapat serat-serat nonkolinergik nonadrenergik di nervi erigentes, dan serat-serat ini mengandung sejumlah besar NO sintase, enzim yang mengkatalis pembentukan vasodilator kuat nitrat oksida. Penyuntikan inhibitor NO sintase mencegah ereksi yang secara normal timbul setelah rangsangan pada saraf-saraf panggul pada hewan percobaan. Dengan demikian, tampaknya NO adalah suatu mediator ereksi yang penting. Pada keadaan normal,ereksi diakhiri oleh impuls vasokonstriktor simpatis pada arteriol. (Ganong,1998 : 421)

Lubrikasi Terjadinya pelumasan akibat mucus yang dikeluarkan oleh kelenjar

urethra dan bulbourethra kedalam vagina, agar memudahkan ketika melakukan hubungan seksual (coitus). Emisi Emisi dimulai dengan kontraksi vas deferens dan ampula yang menyebabkan keluarnya sperma ke dalam uretra interna. Kemudian, kontraksi otot yang melapisi kelenjar prostat akhirnya diikuti dengan kontraksi vesikula seminalis yang mengeluarkan cairan prostat dan cairan seminal, mendorong sperma lebih jauh. Semua cairan ini bercampur dalam uretra interna dengan mukus yang telah disekresi oleh kelenjar bulbouretratis dan membentuk semen. Proses tersebut adalah emisi. Ejakulasi

31

Proses ejakulasi terbagi menjadi 3 macam, yaitu ejakulasi dini ringan, sedang dan berat. Ejakulasi dini ringan berarti ejakulasi terjadi setelah hubungan seksual berlangsung singkat, hanya beberapa kali gesekan. Pada ejakulasi dini sedang, ejakulasi terjadi setelah terjadi masuknya penis ke dalam vagina. Sedang pada ejakulasi dini berat, hubungan seksual tidak sempat berlangsung karena ejakulasi terjadi sebelum berlangsung penis masuk ke dalam vagina. Ejakulasi terjadi begitu penis menyentuh kelamin wanita bagian luar. Bahkan sebagian kecil laki-laki dengan ejakulasi dini berat sudah mengalami ejakulasi sebelum penisnya menyentuh kelamin wanita bagian luar. (http://www.seksehat.info/kesehatanreproduksi/mengenali-ejakulasi-dini-dan-cara-pengobatannya.html) Ada beberapa teori penyebab ejakulasi dini: Ejakulasi dini dapat disebabkan oleh adanya suatu gangguan yang

bersifat psikofisiologik. Ada beberapa masalah yang melatar belakangi terjadinya ejakulasi dini, yaitu hubungan suami istri yang tidak harmonis, perasaan tidak senang terhadap pasangannya, dan rasa takut terhadap wanita. Kecemasan juga berperan penting dalam proses ejakulasi dini

karena masalah tersebut seringkali merupakan bagian dari situasi dan hampir semua penderita dapat mengendalikan ejakulasi selama masturbasi. Hubungan seksual terlarang dan takut diketahui orang lain mendorong timbulnya kecemasan. Adanya ketidakpuasan partner seksual juga akan menambah kecemasan yang ujungnya akan memperparah ejakulasi dini. Kebiasaan mencapai orgasme dan ejakulasi secara tergesa-gesa

sebelumnya. Misalnya suka masturbasi atau onani dengan tergesa-gesa. Kurang berfungsinya serotonin, suatu bahan neurotransmitter yang

berfungsi menghambat ejakulasi. Gangguan kontrol syaraf yang mengatur peristiwa ejakulasi

(hipersensitivitas refleks ejakulasi). Laki-laki dengan disfungsi ereksi pada

32

umumnya mengalami ejakulasi dini. Sebaliknya, laki-laki dengan ejakulasi dini pada akhirnya dapat mengalami disfungsi ereksi. (http://www.seksehat.info/kesehatan-reproduksi/mengenali-ejakulasi-dinidan-cara-pengobatannya.html)

Resolusi Tahap terakhir adalah ketika tubuh secara perlahan kembali ke tingkat

fisiologis normal. Fase resolusi ditandai dengan relaksasi, keintiman,dan seringkali kelelahan. Sering kali perempuan tidak memerlukan fase resolusi sebelum kembali ke aktivitas seksual dan kemudian orgasme, sedangkan laki-laki memerlukan waktu pemulihan sebelum orgasme selanjutnya.

33

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Organ reproduksi laki-laki dibagi menjadi 2 bagian, yaitu organ kelamin dalam dan alat kelamin luar. Organ kelamin dalam laki-laki terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar kelamin. Sedangkan organ kelamin luar laki-laki terdiri atas penis dan skrotum. Saluran pengeluaran dalam organ reproduksi dalam laki-laki terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra. Kumpulan kelenjar kelamin terdiri dari vesikula seminalis, prostate, dan kelenjar bulbouretralis. Fungsi testis adalah menghasilkan sperma dan mengeluarkan testosteron. Fungsi epididimis yaitu sebagai tempat keluar sperma dari testis, tempat pematangan motilitas dan fertilitas sperma, memproduksi cairan yang banyak mengandung enzim dan gizi mematangkan bentuk sperma. Fungsi duktus deferens adalah untuk menyalurkan sperma dari epididimis ke vasika seminalis. Fungsi vesikula seminalis yaitu sebagai penghasil fruktosa untuk makanan sperma, penghasil prostaglandin, tempat penyimpanan spermatozoa, Menghasilkan cairan yang disebut semen. Fungsi kelenjar prostat yaitu memicu pembekuan semen, mengeluarkan cairan alkalis encer berwarna seperti susu, mengandung asam sitrat, kalsium dan beberapa zat lain. Fungsi kelenjar bulbouretra yaitu mengeluarkan mucus untuk pelumas. Sedangkan fungsi penis adalah sebagai alat kopulasi (persetubuhan) dan fungsi skrotum yaitu Untuk memberikan kepada testis suatu

34

lingkungan yang memiliki suhu 1-8oC lebih dingin dibandingkan temperature rongga tubuh. Hormon yang terdapat pada sistem reproduksi laki-laki yaitu testosteron, FSH, dan LH. Dalam fisiologi sistem reproduksi laki-laki terjadi proses spermatogenesis. Spermatogenesis merupakan pembentukan spermatozoa, dibagi menjadi tiga tahap yaitu spermatocytogenesis, meiosis dan spermiogenesis. Kemudian terdapat pula tahapan aktifitas seksual laki-laki yang terdiri dari ereksi, lubrikasi, emisi, ejakulasi, dan resolusi. 4.2 Saran Agar tidak terjadi kelainan pada fungsi organ reproduksi khususnya lakilaki maka kepada semua pembaca disarankan dapat menjaga kebersihan organ kelaminnya. Tidak kalah penting perbanyaklah membaca buku atau mencari informasi yang berhubungan dengan penyakit yang dapat menyerang organ reproduksi laki-laki ini agar pengetahuan kita bertambah, dengan demikian kita dapat menghindari penyakit yang dapat menyerang organ reproduksi laki-laki sedini mungkin.

35

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. Mengenali Ejakulasi Dini dan Cara Pengobatannya [serial online]. http://www.seksehat.info/kesehatan-reproduksi/mengenali-ejakulasi-dinidan-cara-pengobatannya.html [6 September 2010] Anonim. Menjaga Kebersihan Organ Seksual Alat Kelamin [serial online] http://baru1.com/menjaga-kebersihan-organ-seksual-alat-kelamin/ September 2010] Ganong, Wiliam F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC. Gibson, John. 2002. Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat . Jakarta : EGC. Waluyo, Joko. 2006. Biologi Dasar. Jember : Jember University Press. [6

36

37