Anda di halaman 1dari 20

1.

GAMETOGENESIS Dalam persiapan untuk pembuahan, baik sel benih pria maupun wanita mengalami sejumlah perubahan yang melibatkan kromosom maupun sitoplasma. Sejumlah perubahan ini mempunyai tujuan, yaitu: 1. Mengurangi jumlah kromosom dari jumlah diploid 46, yang ditemukan pada sel somatic, menjadi jumlah ha[loid 23 yang kita temukan pada gamet. Hal ini terlaksana dari pembelahan meiosis atau pembelahan pematangan dan pengurangan jumlah kromosom ini perlu, karena jika tidak demikian penyatuan sel benih pria dan wanita akan menghasilkan individu jumlah kromosom sebanyak dua kali dari sel induknya. 2. Mengubah bentuk sel benih sebagai persiapan untuk pembuahan. Sel benih pria yang mula-mula besar dan bulat, praktis kehilangan semua sitoplasmanya dan membentuk kepala, leher dan ekor. Sebaliknya, sel benih wanita berangsur-angsur menjadi lebih besar akibat dari penambahan jumlah sitoplasmaa Pada sat itumencapai kematangan, oosit memiliki garis tengah kira-kira 120 m. Sel somatic pria mengandung 23 pasang atau jumlah kromosom yang diploid. Ada 22 pasang kromosom yang tepat sama, autosom dan 1 pasang kromosom seks. Kalau pasangan hormone seks tersebut adalah XX, individu itu secara genetika adalah wanita; kalau pasangan tersebut adalah XY, individu itu secara genetika adlah laki-laki. Salah satu pasangan pada setiap pasangan berasal dari ibu da yang lain berasal dari ayah. Anggota dari sebuah pasangan kromosom pada umumnya tidak terlalu rapat letaknya satu dengan yang lain baik pada sel yang sedang istirahat maupun selama pembelahan mitosis. Satu-satunya saat dimana mereka sangat rapat bersentuhan satu sama lain adalah pada saat pembelahan meiosis atau pembelahan pematangan pembelahan sel benih. Agar terjadinya peristiwa selama pembelahan meiosis lebih mudah dipahami, cirri-ciri yang terpenting dalam pada pembelahan ini dibandingkan dengan ciri-ciri yang terdapat pada pembelahan mitosis. Demikian pula halnya, walaupun pengurangan jumlah kromosom dan perubahan pada sitoplasma

merupakan satu kesatuan dari pematangan sel benih, masing-masing proses tersebut akan dibicarakan secara terpisah.

Gambar 1. Bentuk- bentuk sperma 1.1 Kromosom Selama Pembelahan Mitosis Sebelum sebuah sel memasuki mitosis, masing-masing sel melipatgandakan (replikasi) DNA-nya yang dengan demikian menjadi rangkap dua. Selama fase replikasi DNA ini, kromosom menjadi sangat panjang, menyebar secara difus ke seluruh inti sel, dan tidak dapat dikenali dengan mikroskop cahaya. Dengan bermulanya mitosis, kromosom mulai bergelung, memendek dan menebal, dan peristiwa ini menandai mulainya profase. Setiap kromosom terdiri dari dua sub unit sejajar (kromatid) yang saling menyatu pada sebuah daerah menyempit milik bersama, yang disebut sentromer. Sepanjang masa profase, kromosom terus menebal, menjadi lebih pendek dan lebih tebal tetapi baru pada tahap prometafase kromatid menjadi mudah dibedakan. Selama metaphase, kromosom berderet pada bidang khatulistiwa dan bentuk rangkapnya jelas terlihat. Masing-masing dihubungkan oleh mikrotubulus (gelendong mitosis) yang keluar dari sentromer ke sentriol. Setelah itu sentromer pada setipa kromosom membelah, yang menandai tahap anaphase, yang diikuti dengan migrasi kromatid ke kutub-kutub gelendong. Akhirnya pada tahap telofase, kromosom mengendorkan gelungannya dan menjadi panjang, selubung inti terbentuk kembali dan terjadi pembagian sitoplasma. Setiap sel anak menerima

separuh dari semua materi kromosom yang telah berlipat dua tersebut dan dengan demikian mempertahankan jumlah kromosom yang sama seperti sel induknya.

Gambar 2. Pembelahan Mitosis

1.2 Kromosom Selama Pembelahan Meiosis

Gambar 3. Pembelahan Meiosis a. Pembelahan Meiosis Pertama Sebagaimana pada pembelahan mitosis, sel-sel benih primitive wanita maupun pria (oosit primer dan spermatosit primer) melipatgandakan DNA-nya sesaat sebelum pembelahan meiosis pertama dimulai. Karena itu, pada permulaan pembelahan pematangan, sel benih mengandung dua kali lipat dari jumlah DNA yang normal, dan tiap-tiap dari 46 kromosomnya merupakan suatu bentuk rangkap dua. Sifat khas pertama pembelahan meiosis ini adalah berpasangannya (sinapsis) kromosom-kromosom homolog, yang disebut sebagai bivalen. Perpasangan ini tepat sekali titik per titik kecuali kombinasi X-Y. daerah-daerah sentromer pada kromosom homolog tidak berpasangan. Oleh karena setipa masing-masing kromosom memiliki susunan rangkap dan mengandung dua kromatid, setiap pasangan homolog terdiri atas empat kromatid. Pada pembelahan mitosis, kromosom-kromosom homolog tidak pernah berpasangan. Sifat khas kedua pembelahan meiosis pertama disebut pertukaran silang dan meliputi saling tukar menukar segmen-segmen kromatid diantara kedua kromosom homolog yang berpasangan (bivalen) tersebut. Jika selanjutnya setiap

anggota (yang bersusun ganda) dari pasangan homolog membelah secara memanjang, terjadilah satu atau lebih pemotongan kromatid melintang dan terjadilah pertukaran segmen-segmen kromatid diantara kedua kromosom yang homolog tersebut. Selama pemisahan kromosm homolog, titik-titik pertukaran untuk sementara tetap menyatu dan susunan kromosom tersebut akan menyerupai huruf X, yang dikenal sebagai kiasma. Selama tingkat kiasma ini, sekelompok gen dipertukarkan diantara kromosom-kromosom homolog. Pada saat yang sama, pemisahan terus berlangsung, dan kedua anggota dari setiap pasangan tersebut mengarah ke kumparan. Pada tahap-tahap selanjutnya setiap anggota tersebut bergerak menuju ke kutub sel yang berlawanan. Setelah pembelahan meiosis pertama selesai, setiap sel anak mengandung satu anggota dari tiap-tiap pasangan kromosom dan dengan demikian memiliki 23 kromosom bersusun ganda. Oleh karena setiap kromosom masih bersusun dua, kecuali pada sentromer, jumlah DNA pada setiap sel anak sama dengan jumlah DNA pada sel somatik normal. b. Pembelahan Meiosis Kedua Setelah pembelahan meiosis pertama selesai, sel mulai dengan pembelahan pematangan kedua. Berbeda dengan pembelahan meiosis pertama, tidak terjadi sinetsa DNA pada tahap pembelahan selanjutnya. Keduapuluh tiga kromosom bersusun ganda tersebut membelah pada sentromer, dan masing-masing sel anak yang baru terbentuk menerima 23 kromosom tunggal. Jumlah DNA pada sel yang baru terbentukkini adalah setengah jumlah DNA sel somatic normal. Oleh karena itu, tujuan kedua pembelahan meiosis atau pembelahan pematangan tersebut ada dua : a. Memungkinkan keanekaragaman (variabilitas) genetic melalui proses tukar silang, yang menciptakan kromosom-kromosom baru, dan melalui distribusi acak kromosom homolog ke sel-sel anak. b. Memberikan pada setiap sel benih jumlah kromosom haploid dan jumlah DNA separuh dari sel somatic normal (pembelahan meiosis kedua)

Sebagai

akibat

pembelahan

meiosis,

sebuah

oosit

primer

akan

menghasilkan empat sel anak, yang masing-masing mempunyai kromosom 22+1X. Hanya satu diantara keempat sel tersebut berkembang menjadi oosit matang; ketiga sel lainnya, badan-badan kutub, hamper tidak mendapatkan sitoplasma dan mengaami degenerasi dalam perkembangan selanjutnya. Spermatosit primer menghasilkan empat sel anak; dua sel anak mempunyai kromosom 22+1X dan dua mempunyai dengan kromosom 22+1Y. Keempat sel anak ini berkembang menjadi gamet matang.

Gambar 4. Perbedaaan pembelahan mitosis dan meiosis 1.3 Perubahan Morfologi Selama Pematangan 1. Sel Benih Primordial Sel benih pria dan wanita matang adalah turunan langsung dri sel benih primordial, yang pada mudigah manusia mulai nampak di dinding kantung kuning telur pada akhir minggu ketiga perkembangan. Sel-sel ini berpindah dengan pergerakan menyerupai amuba dari kantung kuning telur menuju ke gonad yang sedang berkembang (kelenjar kelamin primitif). Mereka tiba disana pada akhir minggu keempat atau permulaan minggu kelima.

2. Oogenesis a. Pematangan prenatal Begitu sel benih primordial tiba dikelenjar kelamin yang secara genetic wanita, mereka berdiferensiasi menjadi oogonia. Sel ini mengalami sejumlah pembelahan mitosis dan menjelang akhir bulan ketiga, mereka tersusun dalam kelompok-kelompok yang dikelilingi sel selapis epitel gepeng. Semua oogonia didalam satu kelompok mungkin berasal dari satu sel benih primordial, sedangkan sel epitel gepeng yang dikenal sebagai folikel, berasal dari epitel permukaan yang membungkus ovarium. Sebagian besar oogonia membelah terus dengan mitosis, tetapi beberapa diantaranya berdiferensiasi menjadi oosit primer yang jauh lebih besar. Segera setelah terbentuk, sel ini melipatgandakan DNA-nya dan memasuki tahap profase pembelahan meiosis pertama. Dalam bulan-bulan berikutnya, jumlah oogonia meningkat dengan cepat, dan pada bulan kelima perkembangan jumlah keseluruhan sel benih didalam ovarium mencapai puncaknya, diperkirakan 7 juta. Mulai saat ini, mulai terjadi kematian sel, dan benyak oogonia maupun oosit primer menjadi atretik. Menjelang bulan ketujuh, sebagian besar oogonia berdegenerasi, kecuali beberapa yang letaknya dekat dengan permukaan. Akan tetapi, semua oosit primer yang masih bertahan hidup masih sudah memasuki pembelahan meiosis pertama, dan kini sebagian besar diantaranya dikelilingi oleh selapis sel epitel gepeng. Sebuah oosit primer, bersama dengan sel epitel gepeng yang mengelilinya dikenala sebagai folikel primordial. b. Pematangan pasca pranatal Menjelang saat kelahiran, semua oosit primer telah memulai profase pembelahan meiosis pertama, tetapi tidak memasuki metaphase melainkan beralih ke tahap diploten, suatu masa istirahat selama profase yang ditandai oleh adanya jalinan halus kromatin. Oosit primer tetap berada dalam tahap profase dan tidak menyelesaikan pembelahan meiosis pertamanya sebelum mencapai masa pubertas, rupanya disebabkan oleh penghambat pematangan oosit (PPO), suatu zat

yang dikeluarkan oleh folikuler. Jumlah seluruh oosit primer pada waktu lahir diperkirakan berkisar antara 700.000 sampai 2 juta. Memasuki pubertas, 5-15 folikel primordial mulai mencapai kematangan pada setiap daur ovarium. Oosit primer mulia membesar, sementara sel folikuler yang mengelilinginya berubah bentuk dari gepeng menjadi kubid dan berproliferasi membentuk epitel bertingkat sel granulose. Folikel ini disebut folikel primer. Sel granulose terletak diatas suatu membrane basalis yang memisahkan mereka dari sle stroma di sekelilingnya yang membenntuk teka folikuli. Disamping itu, sel-sel granulose dan oosit mengeluarkan suatu lapisan pada permukaan oosit tersebut, sehingga membentuk zona pelusida. Karena folikel terus berkembang, sel-sel teka folikuli tersusun menjadi satu lapisan dalam sel sekretorik, teka interna dan satu lapisan luar jaringan inkat yang mengandung sel-sel mirip fibroblast,teka eksterna. Juga tonjol-tonjol kecil sel folikuler yang menyerupai jari-jari menjulur melintasi zona pelusida dan saling terjalin dengan mikrovilli membrane plasma oosit tersebut. Tonjol-tonjol ini diperkirakan penting untuk pengangkutan zat-zat dari sel folikuler menuju ke oosit. Karena perkembangan berlanjut terus, ruang-ruang yang terisi cairan tampak diantara sel-sel granulose, dan ruang-ruang ini saling bergabung, terbentuklah antrum, dan folikel ini disebut folikel sekunder. Pada mulanya antrum berbentuk bulan sabit, tetapi makin lama makin membesar. Sel granulose di sekitar oosit tetap utuh dan membentuk kumulus oofurus. Sesuai dengan pematangannya, folikel yang diameternya bisa 10 mm atau lebih, dikenal sebagai folikel tersier, vesikuler, atau folikel de graaf. Folikel ini dikelilingi oleh teka interna, yang disusun oleh sel-sel yang mempunyai ciri khas sekresi steroid, yang kaya pembuluh darah dan teka eksterna, yang berangsur-angsur menyatu dengan stroma ovarium. Bersamaan dengan setiap daur ovarium, sejumlah folikel mulai berkembang, tetapi biasanya hanya satu saja yang mencapai kematangan penuh. Yang lainnya berdegenerasi. Setelah folikel tersebut matang, oosit primer melanjutkan pembelahan meiosis pertamanya, dan menghasilkan dua sel anak yang tidak sama besarnya, tetapi masing-masing membawa 23 kromosom

bersusun ganda. Satu sel oosit sekunder menerima seluruh sitoplasma dan yang lain yaitu badan kutub pertama, praktis tidak memperoleh sitoplasma. Yang terakhir ini terletak diantara zona pelusida dan selaput sel oosit sekunder di ruang perivitelina. Pembelahan meiosis pertama berlangsung sesaat sebelum ovulasi. Setelah pembelahan pematangan pertama selesai dan sebelum inti oosit sekunder kembali dalam stadium istirahatnya, sel memasuki pembelahan pematangan kedua tanpa replikasi DNA. Pada saat oosit sekunder memperlihatkan pembentukan kumparan dengan kromosom berjajar lurus pada sediaan metaphase, terjadilah ovulasi dan oosit dilontarkan dari ovarium. Pembelahan pematangan kedua hanya akan diselesaikan apabila oosit dibuahi. Jika tidak, sel akan berdegenerasi kurang lebih 24 jam setelah ovulasi. Tidak diketahui dengan pasti apakah badan kutub pertama selalu mengalami pembelahan kedua atau tidak, tetapi pernah ditemukan sel telur yang telah dibuahi disertai oleh tiga buah badan kutub.

Gambar 5. Oogenesis 3. Spermatogenesis Spermatogenesis mencakup semua peristiwa yang berlangsung pada saat spermatogonia berubah menjadi spermatozoa. Pada pria, diferensiasi sel benih primordial mulai pada masa pubertas. Tetapi pada wanita, proses ini mulai in

utero pada bualn ketiga perkembangan. Pada saat lahir, sel benih pada laki-laki dapat dikenali di dalam tali benih testis sebagai sel yang besar, pucat, dikelilingi sel penunjang. Sel penunjang ini berasal dari epitel permukaan kelenjar testis seperti halnya sel folikuler dan menjadi sel sustentakuler atau sel sertoli. Sesaat sebelum masa pubertas, tali benih menjadi berongga dan menjadi tubuli seminiferi. Kira-kira pada saat yang sama sel benih primordial berkembang menjadi spermatogonia, yang terdiri dari dua jenis, yaitu: a. Spermatogonia jenis A, yang membelah secara mitosis untuk terusmenerus menyediakan sel induk. b. Spermatogonia jenis B, yang berkembang menjdi spermatosit primer. Setelah pembelahan terakhir sel jenis A selesai, spermatogonia jenis B terbentuk. Kalau sel-sel ini selanjutnya mengalami mitosis, terbentuklah spermatosit primer. Spermatosit primer kemudian memasuki masa profase yang panjang (22 hari), diikuti dengan selesainya meiosis I dengan cepat dan pembentukan spermatosit sekunder. Sel-sel ini segera membentuk spermatid pada pembelahan meiosis kedua, yang mengandung jumlah haploid 23 kromosom. Sepanjang rangkaian peristiwa ini, dari saat sel jenis A meninggalkan populasi sel induk sampai ke pembentukan spermatid, sitokenesis tidak selesai sehingga generasi-generasi sel berikutnya saling dihubugkan leh jembatan-jembatan sitoplasma. Dengan demikian, progeny dari satu spermatogenium jenis A membentuk sebuah kelompok sel benih yang tetap saling menyatu disepanjang diferensiasi. Selanjutnya, spermatogonia dan spermatid tetap tertanam di lekukanlekukan sel sertroli yang dalam disepanjang masa perkembangan mereka. Dengan cara ini, sel sertroli memberikan sokongan dan perlindungan begi sel-sel benih tersebut, ikut menunjang nutrisi mereka, dan membantu dalam pelepasan spermatozoa matang.

Gambar 6. Spermatogenesis

4. Spermiogenesis Serangkaian perubahan yang menimbulkan serangkaian spermatid menjadi spermatozoa dikenal sebagai spermiogenesis. Perubahan ini adalah: a. Pembentukan akrosom, yang menutupi lebih dari permukaan inti b. Kondensasi inti c. Pembentukan leher, bagian tengah dan ekor d. Meluruhkan sebagian besar sitoplasma Pada manusia, waktu yang diperlukan oleh spermatogonium untuk berkembang menjadi spermatozoon matang adalah sekitar 64 hari. Setelah terbentuk sempurna, spermatozoa memasuki lumen tubuli sseminiferi. Dari sini, spermatozoa di dorong kearah epididimis ke bagian dinding tubuli seminiferi yang berkontraksi. Walaupun pada mulanya gerakan lambat, spermatozoa mendapatkan kemampuan gerak penuhnya di dalam epididimis. 2. DAUR OVARIUM Pada masa pubertas, wanita mulai mengalami daur bulanan yang teratur. Daur yang dikenal sebagai daur seksual, ini diatur oleh hipotalamus.

Hormone pelepas gonadrotopin (GnRH) yang dihasilkan oleh hipotalamus bekerja pada sel kelenjar hipofisis anterior, yang selanjutnya akan mengeluarkan hormone gonadrotopin, hormone-hormon ini, hormone perangsang folikel (FSH) dan hormone luteinisasi (LH) , merangsang dan mengatur perubahan berkala dalam satu ovarium. Pada awal setiap daur ovarium, 5-15 folikel primordial mulai tumbuh dibawah pengaruh FSH.

Gambar 6. Folikel primordial. Dalam keadaan normal, hanya satu dari folikel-folikel ini yang mencapai kematangan sempurna dan hanya satu oosit saja yang dikeluarkan, yang lainnya mengalami degenerasi dan menjadi atretik. Akibatnya, sebagian besar folikel mengalami degenerasi tanpa pernah mencapai kematangan. Bila sebuah folikel menjadi atretik, oosit dan sel folikuler disekelilingnya berdegenerasi dan diganti oleh jaringan ikat, dan membentuk sebuah korpus atretikum. Selama pertumbuhan folikel, banyak sel folikuler dan sel teka terbentuk. Sel-sel ini saling bekerjasama menghasilkan esterogen yang menyebabkan endometrium uteri masuk ke fase folikuler atau fase proliferatif dan merangsang kelenjar hipofisis untuk mengeluarkan LH. Lonjakan hormone ini dibutuhklan untuk tahap-tahap terakhir pematangan folikel dan untuk merangsang ovulasi.

2.1 Ovulasi Ovulasi merupakan proses pelepasan telur yang telah matang tersebut dari dalam rahim untuk kemudian berjalan menuju tuba falopi untuk dibuahi. Proses ini biasanya terjadi 16 hari setelah hari pertama siklus menstruasi atau 14 hari sebelum haid berikutnya. Seorang wanita dikatakan sedang subur, jika ia melepaskan sel telur yang telah matang agar dapat dibuahi oleh sperma. Masa subur wanita hanya berlangsung selama 24 - 48 Jam, sedangkan kemampuan sperma untuk membuahi sel telur diperkirakan sekitar 48 - 72 jam.. Kemampuan terbaik sel telur untuk dibuahi oleh sperma adalah pada saat jam-jam pertama setelah pelepasan, begitu pula sebaliknya. Proses ovulasi dimulai dari dilepaskannya sebuah hormon dari dalam otak yang disebut dengan Luteinizing Hormone (LH). Kadar hormon ini meningkat secara drastic di dalam darah dan urin sesaat sebelum ovulasi. Itulah sebabnya ovatel berperan penting dalam mendeteksi kenaikan LH untuk menentukan kapan anda berovulasi. LH memicu pelepasan sel telur yang telah matang dari dalam ovarium yang kemudian bergerak menuju tuba falopi untuk dibuahi. Jika sel telur tersebut tidak dibuahi, maka sel telur tersebut akan mati dan luruh bersama dengan dinding rahim pada awal siklus menstruasi.

Gambar 7. Ovulasi

Pada hari-hari terakhir menjelang ovulasi, folikel Graaf dengan cepat bertambah besar dibawah FSH dan LH, dan membesar hingga mencapai garis tengah 15 mm. Bertepatan dengan perkembangan terakhir folikel Graaf tersebut, oosit primer yang hingga saat ini masih tetap dalam tahap diploten, melanjutkan dan menyelesaikan pembelahan meiosis pertamanya. Sementara itu, permukaan ovarium mulai menonjol setempat dan pada aspeknya tampak suatu titik vaskuler, stigma. Sebagai akibat kelemahan setempat dan degenerasi permukaan ovarium, meningkatnya tekanan intrafolikuler, dan kontraksi otot di dinding ovarium, oosit didorong keluar. Dengan demikian, oosit bersama dengan sel granulose disekelilingnya dari daerah cumulus oofurus, terlepas dan hanyut meninggalkan ovarium. Beberapa sel cumulus oofurus kemudian menyusun diri disekeliling zona pelusida dan membentuk korona radiata. Pada saat oosit bersama sel komulus oofurusnya dari ovarium (ovulasi), pembelahan meiosis pertama selesai dan oosit sekunder mulai dengan pembelahan meiosis kedua.

Gambar 8. Folikel graaf. 2.2 Korpus Luteum Setelah ovulasi, sel granulose yang tertinggal di dinding folikel yang sudah pecah, bersama dengan sel-sel dari teka interna, mendapatkan pendarahan (vaskularisasi) dari pembuluh-pembuluh darah disekitarnya dan

menjadi

berbentuk

polyhedral.

Dibawah

pengaruh

LH,

sel-sel

ini

menghasilkan suatu pigmen berwarna kekuningan dan berubah menjadi sel luteal, yang membentuk korpus luteum dan menghasilkan progesterone. Hormone ini, bersama hormone-hormon esterogen, menyebabkan mukosa uteri memasuki teha progestasi atau tahap sekretorik, sebagai persiapan untuk implantasi mudigah.

Gambar 9. Sel granulose yang tertinggal di dinding folikel yang sudah pecah, bersama dengan sel-sel dari teka interna, mendapatkan pendarahan. 2.3 Perjalanan Oosit Sesaat menjelang ovulasi, fimbriae saluran telur (tuba falopi) mulai menutupi permukaan ovarium, dan saluran telurnya sendiri mulai berkontraksi secara ritmik. Diyakini bahwa oosit yang dikelilingi oleh beberapa sel granulose. Dibawa masuk kedalam saluran telur oleh gerakan usapan fimbriae saluran telur dan oleh pergerakan bulu-bulu getar pada lapisan epitel. Begitu berada didalam saluran telur, sel-sel cumulus kehilangan hubungan dengan oosit dengan menarik tonjol-tonjol sitoplasmanya dari zona pelusida. Begitu oosit berada dalam saluran telur rahim, ia didorong kearah rongga rahim oleh kontraksi dinding otot. Kecepatan pengangkutan ini sedikit dipengaruhi oleh status endokrin pada saat dan setelah ovulasi, tetapi pada manusia oosit yang sudah dibuahi mencapai rongga rahim dalam waktu kirakira 3-4 hari.

3. TAHAP-TAHAP FERTILISASI 3.1 Bertemunya ovum dan sperma (Pembuahan) Pelepasan sel telur (ovum) hanya terjadi satu kali setiap bulan, sekitar hari ke 14 pada siklus menstruasi normal 28 hari. Siklus menstruasi bervariasi pada setiap orang. Bila pada masa subur terjadi hubungan seks, sperma akan ditampung di liang senggama bagian dalam. Setiap milliliter sperma mengandung 35-40 juta spermatozoa, sehingga setiap hubungan seks terdapat sekitar 110-120 juta spermatozoa. Setiap spermatozoa membawa kromosom pembawa tanda 22 buah kromosom seks Y untuk laki-laki dan kromosom seks X untuk perempuan. Pada telur ovum yang dilepaskan selalu membawa 22 pasang pembawa tanda dan kromosom seks X. Pertemuan spermatozoa Y dengan telur X menjadi zigot laki-laki, sedangkan bila spermatozoa X bertemu X maka terbentuk zigot perempuan. Pertemuan terlaksana setelah telur lepas sekitar 12 jam dan spermatozoa melalui kapasitasi disebut fertilisasi, pembuahan konsepsi atau impregnancy. Setelah masuknya spermatozoa ke dalam telur (ovum) dengan kromosom mencari pasangannya. Mula-mula terjadi pembelahan menjadi dua dan seterusnya sehingga seluruh ruangan telur (ovum) penuh dengan hasil pembelahan sel dan disebut morula. Pembelahan berlangsung terus sehingga bagian dalam terbentuk ruangan yang mengandung cairan, disebut blastokist. Sementara itu bagian luar dinding telur (ovum) timbul rumbai-rumbai yang disebut vili yang akan berguna untuk menanamkan diri pada lapisan dalam rahim yang telah siap menerima dalam bentuk reaksi desidua. Hasil konsepsi dalam bentuk blastokist yang mempunyai rumbai atau vili korealis dapat menanamkan diri pada dinding rahim melalui proses proteolitik-enzimatik dan disebut nidasi atau implantasi. Sejak saat terjadinya konsepsi, fertilisasi, impregnancy, sampai mampu menanamkan diri diperlukan waktu sekitar 6-7 hari.

Gambar 10. Pembuahan. 3.2. Ovum menjadi aktif dan berkembang Setelah zigot mencapai tingkat dua sel, ia menjalani serangkaian pembelahan mitosis, mengakibatkan bertambahnya jumlah sel dengan cepat. Sel yang menjadi semakin kecil pada setiap pembelahan dikanal sebagai blastomer. Dan sampai tingkat delapan sel, sel-selnya membentuk sebuah gumpalan bersusun longgar. Tetapi setelah pembelahan ketiga, hubungan antar blastomer semakin rapat, sehingga membentuk sebuah pola sel yang padat yang disatukan oleh persambungan yang kuat. Proses ini dikenal sebagai pemadatan, memisahkan sel-sel bagian dalam, yang saling berkomunikasi secara ekstensif dengan gap junction, dari sel-sel bagian luar. Kira-kira 3 hari setelah pembuahan, sel-sel embrio yang termampatkan tersebut membelah lagi membentuk morula dengan 16 sel. Sel-sel bagian dalam morola merupakan massa sel dalam, sedangkan sel-sel sekitar membentuk massa sel luar. Massa sel dalam akan membentuk jaringan-jaringan embrio yang sebenarnya, sementara massa sel luar membentuk trofoblas, yang kemudian ikut membentuk plasenta. Pembentukan Blastokista

Kira-kira pada waktu morula memasuki rongga rahim, cairan mulai menembus zona pelusida masuk kedalam ruang antar sel yang ada di massa sel dalam. Berangsur-angsur ruang antar sel menyatu, dan akhirnya terbentuklah sebuah rongga, blastokel. Pada saat ini mudigah dikenal sebagai blastokista. Sel-sel didalam massa sel dalam, yang sekarang disebut embrioblas, terletak pada salah satu kutub, sedangkan sel-sel di massa sel luar atau trofoblas, menipis dan membentuk dinding epitel untuk blastokista. Zona pelusida kini sekarang sudah menghilang sehingga implantasi bisa dimulai. Pada manusia, sel trofoblas diatas kutub embrioblas mulai menyusup diantara sel epitel mukosa rahim kira-kira pada hari keenam. Penembusan dan selanjutnya pengikisan oleh sel epitel terhadap selaput lender tersebut mungkin disebabkan oleh enzim proteolitik yang dihasilkan oleh trofoblas. Tetapi, selaput lender rahim menunjang kegiatan proteolitik blastokista tersebut, sehingga implantasi merupakan hasil kerjasama trofoblas dan endometrium. Dengan demikian menjelang akhir minggu pertama perkembangan, zigot manusia telah melewati tingkat morula dan blastokista dan sudah mulai berimplantasi di selaput lendir rahim. Implantasi atau nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium. Berikut ini gambar proses perkembangan dan perjalanan ovum dari ovarium sampai kavum uteri.

Gambar 11. Proses Perjalanan dan Perkembangan Ovum Keterangan : A : Oosit tidak bersegmen B : Fertilisasi C : Terbentuk pro-nuklei D : Pembelahan kumparan pertama E : Stadium 2 sel (hari 2) F : Stadium 4 sel (akhir hari 2) G : Stadium 8 sel H : Morula (hari 3-4) I dan J : Pembentukan blastokista (hari 5) K : Implantasi zigot dalam cavum uteri (hari 6-7) (Lili, Yunita., 2009). Rahim Pada Saat Implantasi Dinding rahim terdiri atas tiga lapisan yaitu: a. Endometrium atau selaput lendir yang melapisi dinding bagian dalam. b. Miometrium, lapisan tebal otot polos.

c. Perimetrium, peritoneum yang melapisi dinding sebelah luar. Dari saat masa puberta (11-13 tahun) hingga menopause (45-50 tahun), endometrium mengalami perubahan-perubahan berdaur yang berlangsung kira-kira setiap 28 hari dan berada dibawah kendali hormonal ovarium. Selama daur menstruasi ini, endometrium uteri melewati tiga tahap yaitu: fase folikuler atau proliferative, fase sekretorik atau progestasional, dan fase menstuasi. Fase proliferative mulai pada akhir fase menstruasi, dibawah pengaruh esterogen dan sejalan dengan pertumbuhan folikel ovarium, fase sekretorik mulai kira-kira 2-3 hari setelah ovulasi sebagai respon terhadap progesterone yang dihasilkan oleh korpus luteum. Kalau pembuahan tidak terjadi, endometrium mulai mengelupas dan menandai mulainya fase menstruasi. Kalau terjadi pembuahan, endometrium mendukung implantasi dan ikut serta membentuk plasenta. Pada saat implantasi selaput lendir rahim sedang berada dalam fase sekretorik. Pada saat ini, kelenjar rahim dan pembuluh nadi menjadi berkelokkelok dan jaringan ini mengandung banyak cairan. Sebagai akibatnya, dapat dikenali tiga lapisan yang terpisah pada endometrium, yitu: a. Lapisan kompakta pada ermukaan b. Lapisan sponiosa di tengah c. Lapisan dasar yang tipis