Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MANDIRI MATA KULIAH METODELOGI PENELITIAN Proses Penelitian Variabel Paradigma Penelitian

Disusun Oleh : Nama NIM Semester Fakultas Jurusan : Sanggario Pratama : 2010050052 : V (lima) A / malam : Ekonomi : Manajemen SDM

UNIVERSITAS PAMULANG
Jl. Surya Kencana No.1 Pamulang-Tangerang Selatan Telepon :(021) 7412566 Website : www.unpam.ac.id

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga berkat Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah Proses Penelitian Variabel Pradigma Penelitian Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehinggga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Dan tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing yang telah membimbing kami. Dalam penyusunan makalah ini penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun kepada pembaca umumnya. Jakarta, 27 Juni 2012 Penyusun

PEMBAHASAN A. Proses Penelitian Kuantitatif Dalam penelitian kuantitatif yakni bahwa satu-satunya pengetahuan ( knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman yang tertangkap lewat panca indra untuk kemudian diolah oleh nalar (reason) secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif, diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan yang paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap panca indra (exposed to sensory experience), hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa secara ontologis objek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena) yang dimaksud fenomena disini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang trbetas pada eksternal appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dati fakta yang diperoleh dari panca indra, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksprimen, induksi, dan observasi. Dalam penelitian kuantitatif yakni diyakini sejumlah asumsi sebagai dasar otologisnya dalam melihat fakta atau gejala asumsi-asumsi yang dimaksud adalah sebagai berikut. 1. objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat maupun dimensi lainnya. 2. suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu. 3. suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari factor-faktor yang mempengaruhinya. Sejalan dengan penjelasan diatas, secara epistomologi pradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional san emperis. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan

korespondensi. Adapun yang dimaksud dengan kohrensi berarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, dan yang dimaksud dengan korespondensi berarti sesuai dengan kenyataan emperis. Kerangkan pengembangan ilmu itu dimulai dengan proses perumusan hipotesis yang dideduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus, logico, hipotetico, dan verifikatif. Sedangkan penelitian kualitatif adalah suatu model penelitian humanistic, yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa social budaya, jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) kedalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala social. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekuensi dari sejumlah pandangan atau dokrin yang hiduo dikepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian batasan-batasan atau kompleksitas maka makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terekspresi secara eksplisit. Didalam aliran kualitatif terdapat sejumlah aliran filsapat yang mendasarinya seperti fenomenologi, interaksionisme simbolik, dan etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yag mempertemukan mereka yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subjek yang mempunyai kebebas menentukan pilihan atas dasar system makna yang membudaya pada diri masing-masing pelaku. Bertolak dari posisi diatas, secara ontologis pradika kualitatif berpandangan bahwa fenomena social budaya dan tongkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak

dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatar belakanginya, serta tidak dapat disederhanakan dalam hokum-hukum tunggal yang diterministik dan bebas konteks. Dalam interaksionisme simbolis, sebagai salah satu rujukan penelitian kualitatif, lebih dipertegas lagi tentang batasan tingkah laku manusia sebagai objek studi. Di sini ditekankan persefektif pandangan sosiodiskologis yang sasaran utamanya adalah individu dengan kepribadian diri pribadi dan pada interaksi antara pendapat intern dan emosi seseorang dengan tingkah laku sosialnya. Pardigma kualitatif meyakini bahwa dalam masyarakat terdapat keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu bukan menciptakan atau membuat sendiri batasn-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah suatu kegiatan sistematis untuk menemukan teroi dari kancah bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya secara epistemologis pradigma kualitatif tetap mengakui fakta emperis sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan ferifikasi. Dalam penelitian kualitatif proses penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibandingkan dengan hasil yang diperoleh, karena itu peneliti sebagai instrument pengumpul data merupakan satu prinsip utama hanya dengan keterlibatan peneliti dalam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan. Khusus dalam proses analisis dan kesimpulan pradigma kualitatif menggunakan indusi analitis (analytic induction) dan ekstra polasi (extra polation). Induksi analitis adalah satu pendekatan pengolahan data kedalam konsep dan kategorikategori bukan frekuensi. Jadi symbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numeric melainkan dalam bentuk deskripsi yang ditempuh dengan cara mengubah ke formulasi. Sedangkan ekstra polasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi

analitis dan dilakukan secara bertahap dari satu kasus kekasus lainnya. Kemudian dari proses analisis itu dirumuskan suatu pernyataan teoritis. Selain pemaparan diatas pendekatan kualitatif juga menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu) lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan pendekatan kuantitatif membuat peneliti harus mengikuti suatu pola y7ang sesuai dengan karakteristik pendekatan kuantitatif. Implikasi yang terjadi, antara lain pola linear yang terjadi dalam tahap-tahap penelitian, pola linear ini juaga berakibat peneliti juga harus melakukan tahap demi tahap yang ada didalam suatu proses penelitian. Pendekatan kualitataf lebih lanjut mementingkan pada proses dibandingkan hasil akhir oleh karena itu urutan-urutan kegiatan papat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis. Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Reabilitas dan validitas merupakan syarata mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudia akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberika makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya. B. Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang. Kesenjangan tersebut dapat mengacu ke ilmu

pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Penelitian diharapkan mampu mengantisipasi kesenjangan-kesenjangan tersebut. Masalah yang perlu dijawab melalui penelitian cukup banyak dan bervariasi misalnya masalah dalam bidang pendidikan saja dapat dikategorikan menjadi beberapa sudut tinjauan yaitu masalah kualitas, pemerataan, relevansi dan efisiensi pendidikan (Riyanto, 2001:1) Salah satu jenis penelitian dalam bidang pendidikan adalah peneltian tindakan, yang dilakukan dengan menerapkan metode-metode pengajaran ketika proses belajar berlangsung di kelas dengan harapan meningkatkan prestasi belajar siswa. Dalam ranah ilmu sosial, Masalah sosial yang didefinisikan Robert K Merton sebagai ketidaksesuaian yang signifikan dan tidak diinginkan antara standar kebersamaan dan kondisi nyata. Atau dengan kata lain,Sebuah situasi tak terduga yang tidak sejalan dengan tata nilai yang dianut sekelompuk orang yang menyetujui bahwa perlu adanya tindakan untuk mengatasi situasi. C. Variabel adalah gejala yang menjadi fokus peneliti untuk diamati. Tentunya banyak pengertian lain, tapi sepertinya pengertian itu sudah cukup. Merupakan suatu konsep yang bervariasi atau konsep yang memiliki nilai ganda atau suatu faktor yang jika diukur akan menghasilkan nilai yang bervariasi. Variabel juga dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang yang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau suatu objek dengan objek yang lain. D. Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta criteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitianSecara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Indiantoro & Supomo, 1999: 12-13). Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga

untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya (1) jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif, dan (2) jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan. Hasil penelitian akan memberi kontribusi yang lebih besar jika peneliti dapat menggabungkan kedua paradigma atau pendekatan tersebut. Penggabungan paradigma tersebut dikenal istilah triangulation. Penggabungan kedua pendekatan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah atau sinergi tersendiri karena pada hakikatnya kedua paradigma mempunyai keunggulan-keunggulan. E. Cara Menemukan Masalah Setelah peneliti menentukan bidang penelitian (problem area) yang diminatinya, kegiatan berikutnya adalah menemukan permasalahan (problem finding atau problem generation). Penemuan permasalahan merupakan salah satu tahap penting dalam penelitian. Situasinya jelas: bila permasalahan tidak ditemukan, maka penelitian tidak perlu dilakukan. Pentingnya penemuan penelitian. Penemuan permasalahan juga merupakan tes bagi suatu bidang ilmu; seperti diungkapkan oleh Mario Bunge dengan pernyataan: Kriteria terbaik untuk menjajagi apakah suatu disiplin ilmu masih hidup atau tidak adalah dengan memastikan apakah bidang ilmu tersebut masih mampu menghasilkan permasalahan . .Tidak satupun permasalahan akan tercetus dari bidang ilmu yang sudah mati. Permasalahan yang permasalahan juga dinyatakkan oleh ungkapan: Berhasilnya perumusan permasalahan merupakan setengah dari pekerjaan

ditemukan, selanjutnya perlu dirumuskan ke dalam suatu pernyataan (problem statement). Dengan demikian, pembahasan isi bab ini akan dibagi menjadi dua bagian: (1) penemuan permasalahan, dan (2) perumusan permasalahan.

F. Penemuan Permasalahan Kegiatan untuk menemukan permasalahan biasanya didukung oleh survai ke perpustakaan untuk menjajagi perkembangan pengetahuan dalam bidang yang akan diteliti, terutama yang diduga mengandung permasalahan. Perlu dimengerti, dalam hal ini, bahwa publikasi berbentuk buku bukanlah informasi yang terbaru karena penerbitan buku merupakan proses yang memakan waktu cukup lama, sehingga buku yang terbitmisalnya hari iniditulis sekitar satu atau dua tahun yang lalu. Perkembangan pengetahuan terakhir biasanya dipublikasikan sebagai artikel dalam majalah ilmiah; sehingga suatu (usulan) penelitian sebaiknya banyak mengandung bahasan tentang artikel- artikel (terbaru) dari majala h-majalah (jurnal) ilmiah bidang yang diteliti. Kegiatan penemuan permasalahan, seperti telah disinggung di atas, didukung oleh survai ke perpustakaan untuk mengenali perkembangan bidang yang diteliti. Pengenalan ini akan menjadi bahan utama deskripsi latar belakang permasalahan dalam usulan penelitian. Permasalahan dapat diidentifikasikan sebagai kesenjangan antara fakta dengan harapan, antara tren perkembangan dengan keinginan pengembangan, antara kenyataan dengan ide. Seperti yang diungkapkan Sutrisno Hadi sebagai berikut: mengidentifikasikan permasalahan sebagai perwujudan ketiadaan, kelangkaan, ketimpangan, semacamnya. Seorang peneliti yang berpengalaman akan mudah menemukan permasalahan dari bidang yang ditekuninya; dan seringkali peneliti tersebut menemukan permasalahan secara naluriah; tidak dapat menjelaskan bagaimana cara menemukannya. Caraketertinggalan, kejanggalan, ketidakserasian, kemerosotan dan

cara menemukan permasalahan ini, telah diamati oleh Buckley dkk. (1976) yang menjelaskan bahwa penemuan permasalahan dapat dilakukan secara formal maupun informal. Cara formal melibatkkan prosedur yang menuruti metodologi tertentu, sedangkan cara informal bersifat subjektif dan tidak rutin. Dengan demikian, cara formal lebih baik kualitasnya dibanding cara informal.

DAFTAR PUSTAKA

Buckley, J. W.; M. H. Buckley; dan Hung-Fu Chiang. 1976. Research Methodology & Business Decisions. National Association of Accountant, New York

Castetter, W. B.; dan R. S. Heisler. 1984. Developing and Defending A Disertation Proposal. Graduate School of Education, University of Pennsylvania, Philadelphia, Pennsylvania.

Leedy, Paul D. 1997. Practical Research: Planning and Design. Sixth Edition. Prectice Hall, Upper Saddle River, New Jersey. Chapter 5: Planning Your Research Design, hal. 93-121.

Sumiarto. 1985. Evaluasi Program Perintisan Pemugaran Perumahan Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta,. Tesis Pasca Sarjana Strata II, Program Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Sutrisno, Hadi. 1986. Pokok pokok Metodologi Penelitian. Makalah yang tidak dipublikasikan,tertanggal 14 Desember 1986, ditulis di Yogyakarta.

Digabung, diterjemahkan, disingkat dan dimodifikasi untuk kepentingan kuliah Metodologi Penelitian di