Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KULIAH LAPANGAN PALEONTOLOGI BERBAGAI JENIS TEMUAN FOSIL DI SITUS MANUSIA PURBA SANGIRAN

DOSEN PENGAMPU : Drs. MARIDI M.Pd JOKO ARIANTO S.Si, M.Si

Disusun oleh : 1. Listiawan 2. Siti Wulandari 3. (K 4310049) (K 4310079)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Sekilas Tentang Situs Manusia Purba Sangiran Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Area ini memiliki luas 48 km dan terletak di Jawa Tengah, 15 kilometer sebelah utara Surakarta di lembah Sungai Bengawan Solo dan terletak di kaki gunung Lawu. Secara administratif Sangiran terletak di kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.

Gb 1 : Peta lokasi Situs Manusia Purba SANGIRAN

Sangiran adalah sebuah situs arkeologi (Situs Manusia Purba) di Jawa, Indonesia. Sangiran terletak di sebelah utara Kota Solo dan berjarak sekitar 15 km (tepatnya di desa krikilan, kec. Kalijambe, Kab.Sragen). Gapura Situs Sangiran berada di jalur jalan raya SoloPurwodadi dekat perbatasan antara Gemolong dan Kalioso (Kabupaten Karanganyar). Gapura ini dapat dijadikan penanda untuk menuju Situs Sangiran, Desa Krikilan. Jarak dari gapura situs Sangiran menuju Desa Krikilan 5 km. Situs Sangiran memunyai luas sekitar 59, 2 km (SK Mendikbud 070/1997) secara administratif termasuk kedalam dua wilayah pemerintahan, yaitu: Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong, dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah (Widianto & Simanjuntak, 1995). Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Oleh Karenanya Dalam sidangnya yang ke 20 Komisi Warisan Budaya Dunia di Kota Marida, Mexico tanggal 5 Desember 1996, menetapkan Sangiran sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia World Heritage List Nomor :

593. Dengan demikian pada tahun tersebut situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Keberadaan Situs Sangiran sangat bermanfaat untuk mempelajari kehidupan manusia pra sejarah karena situs ini dilengkapi dengan fosil manusia purba, hasil-hasil budaya manusia purba, fosil flora dan fauna purba beserta gambaran stratigrafinya. Kehadiran Sangiran merupakan contoh gambaran kehidupan manusia masa lampau karena situs ini merupakan situs fosil manusia purba paling lengkap di Jawa. Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut. Di museum Sangiran yang terletak di wilayah ini juga dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.

Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau. Museum Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km meliputi tiga 3

kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo). Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald. Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Bentang lahan situs tersebut meliputi areal seluas 48 km2 yang berbentuk seolah seperti kubah (dome), sehingga situs tersebut dinamakan dengan Sangiran Dome. Terletak di wilayah administrasi Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah, Sangiran berada 15 km ke arah Utara kota Surakarta. Situs Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba yang sangat berperan penting dalam perkembangan penelitian di bidang palaeoanthropology di Indonesia. Pada tahun 1934 penelitian yang dilakukan oleh G.H.R. von Koenigswald yang menemukan beberapa alat sepih yang terbuat dari batu kalsedon di atas bukit Ngebung, arah Baratlaut Sangiran Dome. Berdasarkan penelitian geologis, situs Sangiran merupakan kawasan yang tersingkap lapisan tanahnya akibat proses orogenesa (pengangkatan dan penurunan permukaan tanah) dan kekuatan getaran di bawah permukaan bumi (endogen) maupun di atas permukaan bumi (eksogen). Aliran Sungai Cemoro yang melintasi wilayah tersebut juga mengakibatkan terkikisnya kubah Sangiran menjadi lembah yang besar yang dikelilingi oleh tebing-tebing terjal dan pinggiran-pinggiran yang landai. Beberapa aktifitas alam di atas mengakibatkan tersingkapnya lapisan tanah/formasi periode pleistocen yang susunannya terbentuk pada tingkat-tingkat pleistocen bawah (lapisan Pucangan), pleistocen tengah (lapisan Kabuh), dan pleistocen atas (lapisan Notopuro). Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di laipsan-lapisan tersebut berasosiasi dengan fosil-fosil fauna yang setara dengan lapisan Jetis, lapisan Trinil, dan lapisan Ngandong. Diperkirakan situs Sangiran pada masa lampu merupakan kawasan subur tempat sumber makanan bagi ekosistem kehidupan. Keberadaanya di wilayah katulistiwa, pada jaman fluktuasi jaman glassial-interglassial menjadi tempat tujuan migrasi manusia purba untuk mendapatkan sumber

penghidupan. Dengan demikian kawasan sangiran pada kala pleistocen menjadi tempat hunian dan ruang subsistensi bagi manusia pada masa itu. Tempat-tempat terbuka seperti padang rumput, semak belukar, hutan kecil dekat sungai atau danau menjadi pilihan sebagai tempat hunian manusia pada kala pleistocen. Mereka membuat pangkalan (station) dalam aktifitas perburuan untuk m,endapatkan sumber kebutuhan hidupnya. Pilihan situs Sangiran dome sebagai pangkalan aktifitas perburuan mengingatkan kita dengan living floor (lantai hidup) atau old camp site di lembah Olduvai, Tanzania (Afrika). Indikasi suatu situs sebagai tempat hunian dan ruang subsistensi adalah temuan fosil manusia purba, fauna, dan artefak perkakas yang ditemukan saling berasosiasi. Lokasi dan Gambaran Lingkungan Situs Situs Sangiran terletak di sebelah utara kota Solo dan berjarak sekitar 15 Km. Situs Sangiran yang mempunyai luas sekitar 59, 2 Km (SK Mendikbud 070/1997) ini secara administratip termasuk ke dalam dua wilayah pemerintahan; yaitu Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah (Widianto & Simanjuntak 1995). Secara geo-stratigrafis, Situs Sangiran yang posisinya berada pada depresi Solo di kaki Gunung Lawu ini dahulu merupakan suatu kubah (dome) yang tererosi di bagian puncaknya sehingga menyebabkan terjadinya reverse (kenampakan terbalik). Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal, Cemoro dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini mulai di bagian utara, tengah dan selatan. Akibat dari kikisan aliran sungai tersebut maka menyebabkan lapisan-lapisan tanah tersingkap secara alamiah dan memperlihatkan berbagai jejak fosil (manusia purba dan hewan vertebrata) (Widianto & Simanjuntak 1995). Geo-Stratigrafi dan Pertanggalan Manusia Purba Homo erectus Sangiran adalah sebuah situs paleontologis yang terlengkap di Indonesia dan cukup terkemuka di dunia. Keberadaan situs ini secara resmi telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan budaya dunia sejak bulan Desember 1996 (Widianto 2000). Dari sekitar 100 individu temuan fragmen fosil manusia purba yang didapatkan di Indonesia, hampir 65% -nya berasal dari Situs Sangiran dan mencakup sekitar 50 % dari populasi taxon Homo erectus di dunia. Pada umumnya fosil-fosil tersebut ditemukan secara kebetulan (temuan penduduk) dan dalam bentuk fragmenter; yaitu antara lain berupa tulangtulang tengkorak, mandibula dan femur. Fosil-fosil tersebut ditemukan pada beberapa tempat atau lokasi utama di Pulau Jawa; yaitu antara lain di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong dan Sambungmacan (Jawa Tengah) serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur). Berdasarkan bentuk fisik dan lingkungan endapan asalnya, secara umum temuan fosil-fosil manusia

purba di Indonesia dikategorikan menjadi 3 kelompok utama (Widianto, 1996); yaitu kelompok Pithecanthropus Arkaik yang berasal dari Formasi Pucangan (Plestosen Bawah) yang ditaksir mempunyai usia antara 1,7 0,7 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah Meganthropus palaeojavanicus dan Pithecanthropus Mojokertensis. Kelompok kedua adalah jenis Pithecanthropus Klasik yang berasal dari Formasi Kabuh (Plestosen Tengah) yang mempunyai usia sekitar 800.000 400.000 tahun. Jenis kelompok ini (Homo erectus) yang paling banyak ditemukan di Sangiran. Kelompok yang ketiga adalah Pithecanthropus Progresif yang berasal dari Formasi Notopuro (Plestosen Atas) dan mempunyai umur antara 400.000 100.000 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah temuan Homo Soloensis dari Ngandong dan Trinil (Widianto 1996, Semah et.al. 1990). B. TUJUAN PENULISAN a. Untuk menjelaskan sejarah berdirinya Sangiran b. Untuk menjelaskan penemu-penemu situs Sangiran c. Untuk dapat menjelaskan pemeliharaan dan pelestarian benda-benda yang terdapat di museum sangiran d. Untuk menjelaskan sumbangan sangiran bagi ilmu pengetahuan e. Untuk menjelaskan proses terjadinya manusia C. MANFAAT Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas laporan dari kegiatan StudyTour yang diadakan oleh mahasiswa pendidikan Biologi Universitas Sbelas Maret. Diharapkan agar Laporan ini bermanfaat bagi pelajar, selain sebagai bahan bacaan pribadi, dapat juga menambah wawasan tentang kehidupan prasejarah. Bagi para sejarawan juga dapat menjadikan laporan ini sebagai tambahan referensi., selain itu juga dapat dijadikan koleksi kepustakaan tentang prasejarah ,yang dapat digunakan sewaktu waktu.

BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Singkat Sejarah atau riwayat penelitian di Situs Sangiran bermula dari laporan GHR. Von Koenigswald yang menemukan sejumlah alat serpih dari bahan batuan jaspis dan kalsedon di sekitar bukit Ngebung pada tahun 1934 (Koenigswald, 1936). Temuan alat-alat serpih yang kemudian terkenal dengan istilah Sangiran Flakes-industry tersebut diperkirakan berasal dari lapisan (seri) Kabuh Atas yang berusia Plestosen Tengah. Namun hasil pertanggalan tersebut banyak dikritik oleh para ahli (de Terra, 1943; Heekeren, 1972) karena temuan tersebut dihubungkan dengan konteks Fauna Trinil yang tidak autochton (Bartstra dan Basoeki, 1984: 1989) atau bukan dari hasil pengendapan primer (Bemellen, 1949). Penelitian di situs ini menjadi semakin menarik dan berkelanjutan ketika pada tahun 1936 ditemukan fragmen fosil rahang bawah (mandibula) manusia purba Homo erectus yang kemudian disusul oleh temuan fosil-fosil lainnya. Setelah masa pasca Koenigswald atau pada sekitar tahun 1960-an, penelitian terhadap fosil-fosil hominid dan paleotologis di situs ini kemudian diambil alih oleh para peneliti dari Indonesia (antara lain T. Jacob dan S. Sartono) serta terus berkelanjutan sampai sekarang. Penelitian yang sangat spektakuler terjadi ketika Puslit Arkenas melakukan kerjasama penelitian dengan Museum National dHistoire Naturelle (MNHN), Perancis melalui ekskavasi besar-besaran selama 5 tahap (tahun 1989 1993) di bukit Ngebung yang menghasilkan sejumlah temuan secara insitu dan pertanggalan absolut yang sangat menarik. Penelitian Situs Sangiran semakin berkembang pesat dalam dekade lima tahun belakangan ini setelah Balar Yogya ikut berpartisipasi langsung dan melakukan program-program penelitian secara intensif dan terpadu (Widianto 1997; Jatmiko 2001). Seandainya Von Koenigswald tahun 1934 tidak menginjakkan kakinya di Sangiran, maka situs manusia purba yang terletak di wilayah kabupaten Sragen dan Karanganyar tersebut mungkin tidak akan pernah dikenal. Sebab sejak kunjungan Koenigswald, nama Sangiran muncul dalam ranah ilmu pengetahuan sebagai situs penemuan alat batu. Jauh sebelum Koenigswald datang, Eugene Dubois, penemu fosil manusia purba Trinil, sebenarnya pernah mendatangi Sangiran, tahun 1893. Sayang, ketika itu Dubois tak tertarik dengan Sangiran yang kering dan tandus. Dokter muda tersebut pun mengalihkan penelitiannya ke Trinil, hingga akhirnya di desa yang terletak di tepi Bengawan Solo di wilayah Madiun ini, Dubois menemukan fosil tulang paha dan tengkorak manusia purba. Kelak temuan ini dikenal dengan nama Pithecanthropus Erectus atau Si Manusia Berjalan Tegak. Situs Sangiran berawal ketika Von Koenigswald menemukan peralatan batu purba tahun 1934. Penemuan tersebut kemudian disusul

temuan-temuan berikutnya yang seperti tak berkesudahan. Dua tahun setelah temuan itu misalnya, seorang penduduk setempat menemukan rahang bawah fosil manusia purba di lapisan Pucangan Atas di Sangiran, menyusul fosil-fosil lain pada tahun-tahun berikutnya. Kini penemuan fosil di situs Sangiran telah mencapai sekitar 60 individu manusia purba, tersebar pada lahan luas menempati wilayah Kabupaten Sragen di utara dan Kabupaten Karanganyar di selatan. Jumlah keseluruhan telah melebihi 50 persen dari seluruh temuan fosil manusia purba di dunia. Sekadar informasi, situs serupa hanya ada dalam hitungan jari di dunia. Di Asia terbatas di Cina, India, dan Indonesia. Di Eropa ditemukan di Jerman, Perancis, Rusia, dan baru-baru ini di Inggris. Benua Afrika lebih menonjol dengan kekunaan yang lebih tua, antara lain di Ethiopia, Kenya, dan Afrika Selatan. Indonesia bukan hanya memiliki Sangiran, tetapi juga situs lain di sepanjang aliran Bengawan Solo, seperti Sambungmacan, Trinil, Ngawi dan Ngandong. Selebihnya dijumpai di Kedungbrubus, Patiayam, dan Perning. Situs Sangiran pada akhirnya menjadi lahan penelitian tak berkesudahan. Lebih dari 70 tahun sejak penemuan fosil pertamanya, situs ini seperti menawarkan misteri kehidupan purba yang tiada ujung. Sejarah Sangiran Tahun 1893

Tahun 1932

Tahun 1934

Tahun 1936

Tahun 1937 sd 1941

Tahun 1969

Untuk pertama kali Sangiran didatangi peneliti Eugene Dubois. Tetapi penelitian singkat itu tidak menghasilkan temuan yang dicari sehingga dokter dan ahli anatomi tidak berminat melanjutkannya. Untuk pertama kali wialyah Sangiran dipetakan oleh LJC van Es ke dalam peta geologi berskala 1:20.000 Dengan berpedoman pada peta tersebut, GHR von Koenigswald untuk pertama kali melakukan survei eksploratif dan berhasil menemukan berbagai peralatan manusia purba. Seorang penduduk menyerahkan sebuah fosil temuannya kepada GHR von Koenigswald yang ternyata adalah rahang kanan manusia purba. Temuan ini tercatat sebagai temuan pertama fosil manusia purba dari Sangiran yang kemudian diberinya kode S1 (Sangiran 1). Dengan bantuan penduduk setempat pada tahun 1937, 1938, 1939 dan 1941 Von Koenigswald brhasil menemukan fosil manusia purba Homo erectus. Ditemukan fosil Homo erectus terlengkap di Indonesia sekaligus merupakan satu-satunya fosil terlengkap di Asia yang ditemukan beserta dengan 8

Tahun 1977

Tahun 1977

Tahun 1988

8 Oktober 1993

20-23 Mei 1994

4-6 April 1995 8-10 Juni 1995 11-13 September 1995 Tahun 1995

wajahnya. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 070/0/1977 tanggal 15 Maret 1977, daerah Sangiran ditetapkan sebagai daerah Cagar Budaya yang dilindungi oleh undangundang. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Jogjakarta mulai melakukan penelitian secara intensif hingga sekarang yang diantaranya berhasil menghimpun fosil-fosil manusia dari Formasi Pucangan dan Grenzbank. Selain itu, juga menemukan gigi geraham hominid dan fosil binatang yang terletak pada Formasi Kabuh yang berkonteks dengan beberapa alat batu masif dan serpih. Dalam rangka kepentingan kepariwisataan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi mendirikan Museum Prasejarah Sangiran. Museum ini terletak di Desa Krikilan, di samping sebagai obyek wisata juga sebagai ajang pendidikan dan penelitian. Transaksi fosil tengkorak manusia purba (Pithtchantrophus erectus) terjadi antara penduduk Sangiran dan Dr Donald Tyler seharga Rp 3.800.000. Sindikat fosil itu dapat terbongkar, tetapi tidak ada proses tindak lanjut secara hukum dari pelakunya. Pemerintah mulai melakukan pengembangan Situs Sangiran dengan penyelenggaraan pertemuanpertemuan yang dalam kesempatan ini bertema "Studi Perlindungan dan Pengembangan Situs Sangiran". Evaluasi Hasil Studi Perlindungan dan Pengembangan Situs Sangiran. Penyusunan Naskah Nominasi Situs Sangiran untuk diusulkan ke dalam Daftar Warisan Dunia. Studi Rencana Induk/Master Plan Pengembangan Situs Sangiran dilakukan.

Menyadari pentingnya nilai Situs Sangiran bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan khususnya maslah pemahaman evolusi manusia dan lingkungan alam, pemerintah mengusulkan situs ini ke UNESCO untuk dapat dimasukkan ke dalam 9

17 1996

Januari

World Heritage List atau daftar warisan dunia. Rapat Evaluasi Studai Master Plan (Rencana Induk) Situs Sangiran. Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (World Culture Heritage) oleh UNESCO sebagai kawasan "The Early Man Site" dengan No Penetapan (World Heritage List) C 593. Mawardi, penduduk setempat menemukan fosil atau tengkorak Homo erectus. Rapat rencana kerja pmda Sragen untuk pengembangan Sangiran tahun 2002 dengan materi rapat: rencana pembentukan Badan Otorita Daerah, pengembangan infra struktural kawasan Sangiran untuk pariwisata, pembangunan menara pandang di Desa Pagerejo. Badan Perencana Pembangunan Daerah Kabupaten Karanganyar bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian Universitas Sebelas Maret Surakarta mengadakan studi kelayakan terhadap tempat pembuangan sampah akhir di Desa Dayu dan Desa Jeruk Sawit, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Hasil Penelitian menyatakan kedua empat tersebut layak untuk dijadikan tempat pembuangan sampah akhir. Rapat Koordinasi Pemberdayaan Msyarakat Sangiran bersama Lembaga Pengabdian Msyarakat UNS, Surakarta. Rapat Koordinasi Pengembangan Sangiran oleh Direktirat Purbakala dan permuseuman di Jakarta. Rapat Koordianasi Pembentukan Badan Otorita Sangiran yang selanjutnya diberi nama Unit Koordinasi Pengembangan Kawasan Sangiran. Pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan penduduk Kecamatan Gondangrejo, mengenai arti penting Situs Sangiran di Kecamatan Gandangrejo, Kabupaten Karanganyar, dengan kesimpulan masyarakat Gondangrejo tidak mendukung keberadaan Situs Cagar Budaya Sangiran dan menghendaki wilayahnya dikeluarkan dari wilayah Cagar Budaya Sangiran. Pemda Karanganyar mengeluarkan surat No. 430/4071.12 tentang permohonan pencabutan Kecamatan Gondangrejo dikeluarkan dari kawasan 10

5 Desember 1996

Januari 1997 23 April 2002

Mei 2002

17 Juni 2002

25 Juni 2002 26 Juni 2002

3 Juli 2002

15 Juli 2002

31 2002

Agustus

Desember 2002

Februari 2003

Tahun 2003

Tahun 2004 Juni 2005 Tahun 2007

Cagar Budaya. Pemkab Karanganyar mengeluarkan surat tentang permohonan pencabutan kawasan Cagar Budaya, pada wilayah yang akan digunakan untuk TPA (tempat pembuangan akhir sampah) seluas 13 ha di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo. Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah mulai membenahi Museum Sangiran dengan mengisi vitrin-vitrin dan partisi di ruang pertemuan yang akhirnya berubah menjadi ruang pamer. Pemerintah maupun lembaga profesi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia mengecam rencana Pemkab Karanganyar untuk membangun TPA di Desa Dayu. Alasannya lokasi tersebut merupakan zona inti dari keseluruhan Situs Sangiran dan tidak jauh dari tempat tersebut terbukti potensi terhadap temuan fosil-fosil manusia purba. Pemerintah menyrankan agar calon lokasi tempat pembuangan sampah dipindahkan di Desa Gares, Kecamatan Gondagrejo. Permasalahan konflik ini sampai sekarang masih mengambang. Lembaga profesi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia mengecam rencana Pemkab Sragen membangun menara pandang dan infrastruktur lainnya di Desa Pagerejo karena daerah tersebut merupakan zona inti dari Situs Sangiran dan di lokasi tersebut pada 1952 ditemukan fosil manusia purba Megantrophus paleojavanicus yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan. Tapi pihak Pemkab Sragen tetap bersikeras membangun menara pandang dan infrastruktur lainnya untuk kepentingan kepariwisataan. Penyusunan master plan Sangiran yang melibatkan stakeholder terkait. Tim penelitian ekskavasi di Desa Dayu menemukan atap tengkorak belakang. Pemerintah membentuk lembaga Unit Pelaksana Teknis setingkat eselon III/a yang mengelola khusus masalah Sangiran dengan nomenklatur Balai Pelestarian Situs Manusia Purba sangiran.

11

B. Lapisan-lapisan tanah/Stratigrafi situs Sangiran

Lapisan stratigrafi yang ada di Sangiran sangatlah lengkap. Lapisan stratigrafi tersebut mulai dibentuk pada akhir kala Pliosen yang pada saat itu merupakan lingkungan laut dalam (Formasi Kalibeng). Di dalam lapisan lempung biru, selain mengandung foraminifera dan jenis mollusca laut (turitella, arca, nasarius, dan lain-lain) juga ditemukan fosil ikan, kepiting, dan gigi ikan hiu. Formasi Pucangan (sekitar 1.800.000 700.000 tahun yang lalu) merupakan rawa pantai dan di dalam lapisan ini terbentuk endapan diatomit yang mengandung cangkang diatomea laut. Fauna yang dapat ditemukan di lapisan ini antara lain reptil (buaya dan kura-kura), mamalia, rusa, bovidae, gajah, babi, monyet, domba, dan fosil kayu. Lapisan berikutnya adalah grenzbank (700.000 tahun yang lalu), terbentuk karena adanya lipatan di Pegunungan Kendeng sehingga relief baru mengalami erosi dan membentuk endapan konglomerat gamping. Di lapisan ini juga ditemukan fosil mamalia dan gamping koral. Formasi berikutnya adalah Formasi Kabuh (700.000 500.000 tahun yang lalu). Formasi ini terbentuk akibat adanya lipatan perbukitan sehingga terendapkan lanau, pasir, pasir besi bersilang siur dengan konglomerat dan batu gamping. Fauna yang dapat ditemukan pada lapisan ini antara lain fosil harimau, antilope, dan gajah. Lapisan ini juga kaya akan fosil manusia Homo erectus. Formasi Notopuro (500.000 250.000 tahun yang lalu) dengan litologi breksi laharik dan batu gamping tufaan yang diakibatkan oleh banyaknya aktivitas vulkanik. Di dalam lapisan ini banyak ditemukan artefak batu hasil budaya manusia yang berupa serpih-bilah (sehingga Sangiran dijuluki industri serpih-bilah Sangiran), kapak perimbas, bola batu, kapak penetak, dan kapak persegi.

12

C. Beberapa peneliti situs sangiran dari Indonesia antara lain : Prof. Sartono (dari ITB) Prof. Teuku Jacob (Guru besar UGM: ahli Paleoantropologi. Prof. Suyono (Puslit ARKENAS) Ir. Otto Sudarmadji (LIPI) Ir. Darwin Kadar (Ahli Fosil) Dr. Hari Widianto ( Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta) D. Situs Sangiran menyimpan beberapa kelompok potensi temuan yang diantaranya adalah : Kelompok manusia purba : Pithecantropus erectus, P. mojokertensis, Homo sapiens. Kelompok binatang air laut dan air tawar : fosil-fosil Foraminifera, Mollusca, Gastropoda, gigi ikan hiu, penyu, kura-kura. Kelompok binatang darat (Vertebrata) Gajah (Mastogon, Stegodon, dan Elephas) Banteng, rusa, badak Kelompok batuan (peralatan) Alami : batu lintang, batu meteor Kebudayaan : kapak genggam, bola batu, manik-manik (kalung), senjata, batu akik Kelompok Tanah Tanah diatom : terdapat pada lapisan kalibeng , untuk keramik, bahan isolasi, campuran genteng, asbes. Tambang jenis golongan C yaitu tanah/ lempung bentonite di lapisan Kalibeng yang berwarna abu-abu tua agak biru mengandung fosfor. Air Asin Lain-lain : fosil kayu, cetakan daun E. Berbagai Jenis Temuan Fosil Di Situs Manusia Purba Sangiran Sebanyak 50 (lima puluh) individu fosil manusia Homo erectus telah ditemukan. Jumlah ini mewakili 65 % dari fosil Homo erectus yang ditemukan di seluruh Indonesia atau sekitar 50 % dari populasi Homo erectus di dunia .Keseluruhan fosil yang telah ditemukan sampai saat ini adalah sebanyak 13.809 buah. Sebanyak 2.934 fosil disimpan di Ruang Pameran Museum Sangiran dan 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs pra sejarah yang memiliki peran yang sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia. Berdasarkan hal tersebut, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko. Dari sekitar 100 individu temuan fragmen fosil manusia purba yang didapatkan di Indonesia, hampir 65% -nya berasal dari Situs Sangiran dan

13

mencakup sekitar 50 % dari populasi taxon Homo erectus di dunia. Pada umumnya fosil-fosil tersebut ditemukan secara kebetulan (temuan penduduk) dan dalam bentuk fragmenter; yaitu antara lain berupa tulangtulang tengkorak, mandibula dan femur. Fosil-fosil tersebut ditemukan pada beberapa tempat atau lokasi utama di Pulau Jawa; yaitu antara lain di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong dan Sambungmacan (Jawa Tengah) serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur). Berdasarkan bentuk fisik dan lingkungan endapan asalnya, secara umum temuan fosil-fosil manusia purba di Indonesia dikategorikan menjadi 3 kelompok utama (Widianto, 1996); yaitu kelompok Pithecanthropus Arkaik yang berasal dari Formasi Pucangan (Plestosen Bawah) yang ditaksir mempunyai usia antara 1,7 0,7 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah Meganthropus palaeojavanicus dan Pithecanthropus Mojokertensis. Kelompok kedua adalah jenis Pithecanthropus Klasik yang berasal dari Formasi Kabuh (Plestosen Tengah) yang mempunyai usia sekitar 800.000 400.000 tahun. Jenis kelompok ini (Homo erectus) yang paling banyak ditemukan di Sangiran. Kelompok yang ketiga adalah Pithecanthropus Progresif yang berasal dari Formasi Notopuro (Plestosen Atas) dan mempunyai umur antara 400.000 100.000 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah temuan Homo Soloensis dari Ngandong dan Trinil (Widianto 1996, Semah et.al. 1990). Sangiran terkenal sebagai situs purbakala yang paling lengkap di seluruh dunia. Di wilayah ini ditemukan sedikitnya 80 individu manusia purba. Jumlah ini diperkirakan mencapai 50 persen jenis habitat manusia purba di dunia saat itu. Koleksi akan selalu bertambah, karena setiap musim hujan kawasan Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah. Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, peralatan batu yang dulu pernah dibuat, dan digunakan manusia purba yang pernah tinggal di Sangiran. Koleksi-koleksi tersebut sebagian besar masih disimpan di gudang dan sebagian lagi dipajang di ruang pameran. Ruang pameran saat ini ada tiga ruang. Ruang utama berisi vitrin ditambah diorama, dan ruang pameran. Data di museum itu sebagian besar pengunjung yang datang adalah wisatawan dari manca negara terutama dari Jepang, Jerman, Belanda, Singapura, Malaysia, Brunei, Inggris, Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Filipina. Jumlah wisatawan yang datang ke lokasi itu hingga kini mendekati angka 100.000. Pada tahun 2006 pendapatan dari penjualan karcis mencapai Rp 60,7 juta. Angka ini cukup menggembirakan untuk mengukur animo masyarakat terhadap museum ini. Sangiran bukan hanya surga bagi para arkeologi dunia, melainkan juga para wisatawan. Utamanya wisatawan yang datang ke wilayah ini

14

adalah ingin menyaksikan lokasi purba tempat tinggal manusia zaman dulu. Dahulunya wilayah Sangiran adalah dasar laut dan rawa-rawa. Dasar laut dan rawa-rawa itu naik ke permukaan karena proses geologis. Wilayah itu pun mengalami erosi sehingga sebagian puncaknya terkikis. Di antara kikisan inilah yang menyimpan fosil-fosil dan artefak budaya manusia purba. Masyarakat di wilayah itu sangat mafhum dengan fosil-fosil hewan purba seperti stegodon dan elephas sp (gajah purba), bovidae (kerbau sapi) dan sebagainya. Bahkan di antara lapisan-lapisan itu juga ditemukan kerang dan hewan laut purba. Sebagian dari hewan-hewan kerang itu dijadikan cendera mata untuk para wisa- tawan yang datang. Kepala Balai pelestarian Situs Sangiran, Harry Widianto menyebutkan hewan kerang dan laut lainnya memang masih diperbolehkan diperjualbelikan, karena jumlahnya masih sangat banyak di lokasi situs Sangiran. Hanya benda-benda artefak hasil budaya manusia dan hewan besar yang harus dilaporkan ke pihaknya jika masyarakat menemukan. Ini karena sangat banyaknya fosil yang ada di Sangiran sehingga untuk koleksi hewan laut yang kecil kami sudah kelebihan koleksi. Yang kami fokuskan adalah pada artefak dan hewan-hewan besar dan terutama pencarian fosil manusia purba, ujarnya. Bangunan museum Sangiran terletak diatas gundukan tanah, untuk menuju kesana pengunjung harus menaiki jalur trap yang diatur rapi. Museum itu terdiri dari beberapa ruangan yang nampaknya sudah penuh dengan temuan fosil. Terdapat juga ruang laboratorium, gudang dan kantor. Perluasan gedung sedang berlangsung dan tanah disitu telah diperiksa bukan lokasi peninggalan fosil purba. Serombongan pengunjung biasanya dipandu oleh seorang petugas museum yang menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan semua benda temuan purbakala yang berada di setiap ruangan. Pemandu ini layaknya seorang interpreter di Taman Nasional. Gunawan, petugas yang memandu rombongan kami adalah seorang biolog, lulusanUNS. Memang petugas museum Sangiran ini tuturnya terdiri dari banyak disiplin ilmu. Ada ahli purbakala, atau arkaelog, ahli biologi, geologi, antropologi, dan mungkin juga ahli-ahli lain. Mereka bergiliran menjadi pemandu dengan koordinasi yang baik. Dalam ruangan laboratorium pengunjung diberi penjelasan tentang cara membersihkan setiap temuan fosil. Peralatan pembersih terdiri dari kuas berbagai ukuran, tatah, pisau, gunting, bahkan gergaji mesin elektronik. Cairan berbagai zat kimia juga dipergunakan. Bahkan pengunjung diberi kesempatan mencoba-coba ikut membersihkan fosil yang masih terbungkus batuan endapan. Setelah temuan fosil bersih baru akan diidentifikasi jenis, sifat, dan struktur untuk diketahui macam fosil tersebut. Bahkan bila terpotong-potong saat ditemukan akan disambung dengan lem perekat.

15

Menarik sekali adalah cerita ditemukanya gading gajah stegodon sepanjang lima meter. Waktu diketemukan oleh tim purbakala masih terpisah pisah. Setelah bersih, bagian bagian yang terpisah disambung. Kemudian diidentifikasi, dan ternyata adalah fosil gading gajah purba. Demikian cerita salah satu anggauta tim diantaranya bernama Suwarno penduduk setempat. Sekarang pak Suwarno berjualan cindera mata dan memiliki souvenir shop. Banyak rumah penduduk dirubah bentuknya menjadi souvenir shop. Mereka menjual tiruan peralatan manusia purba, ukiran dari aneka rupa jenis batu, manik manik, fosil kayu (petrified wood) dsb. Lain lagi cerita diketemukanya manusia purba yang termasuk Homo erectus Tipik. Fosil manusia purba ini diketemukan di situs Sangiran 17 oleh penduduk setempat bernama Towikromo pada tahun 1969, di desa Dayu. Fosil Sangiran 17 yang berusia 500.000 tahun merupakan fosil terbaik yang pernah diketemukan di Asia, karena yang paling lengkap dengan bagian mukanya. Semua temuan fosil atau benda purbakala harus diserahkan kepada petugas museum atau kepada Dinas purbakala setempat.Kabarnya penduduk sudah mentaati peraturan tersebut.Namun masih diperlukan adanya pengawasan oleh semua instansi terkait, untuk mencegah perburuan fosil dan dijual sampai ke manca negara. Dengan jarak kurang lebih 5 km sebelah barat bangunan museum terdapat bangunan gedung berlantai tiga yang berfungsi sebagai menara pandang. Dari lantai atas dapat dilihat seputar cekungan Sangiran. Menara pandang ini dilengkapi juga dengan sebuah teropong jauh. Dari sini dapat dilihat alur lapisan lapisan berbagai umur yang banyak mengandung fosil purbakala. Di lantai bawah gedung ini ada disediakan ruangan audio visual yang berkapasitas 60 tempat duduk. Audio visual mengenai proses evolusi manusia (animasi) dapat ditayangkan atas permintaan dengan bayaran Rp. 40.000,- Waktu tayangan ke layar kurang lebih 25 menit. Proses evolusi manusia digambarkan mengikuti kaidah survival of the fittest menurut teori evolusi Charles Darwin. Ciri utama yang membedakan kemajuan evolusi barangkali salah satunya adalah besarnya volume tengkorak. Manusia modern volume tengkorak diatas 1400 cc, sedang yang primitif dibawah 400 cc. Homo erectus berada pada kisaran 800 1300 cc. Sementara kera besar (simpase, gorila, orang utan) kurang dari 350 cc. F. Koleksi Fosil Museum Sangiran Sebanyak 50 (lima puluh) individu fosil manusia Homo erectus telah ditemukan. Jumlah ini mewakili 65 % dari fosil Homo erectus yang ditemukan di seluruh Indonesia atau sekitar 50 % dari populasi Homo erectus di dunia .Keseluruhan fosil yang telah ditemukan sampai saat ini adalah sebanyak 13.809 buah. Sebanyak 2.934 fosil disimpan di Ruang Pameran Museum Sangiran dan 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam

16

gudang penyimpanan. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs pra sejarah yang memiliki peran yang sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia. Berdasarkan hal tersebut, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko. Koleksi Museum Sangiran 1. Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus , Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus , Pithecanthropus erectus , Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens . 2. Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba). 3. Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera . 4. Batu-batuan , antara lain Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis 5. Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak

Fosil Yang Lain


1. Fosil kayu yang terdiri dari a. fosil kayu Temuan dari Dukuh Jambu, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.Ditemukan pada tahun 1995 pada lapisan tanah lempung Warna abu-abu ditemukan pada formasi pucangan b. Fosil batang pohon Temuan dari Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.Fosil ini ditemukan pada tahun 1977 pada lapisan tanah lempung Warna abu-abu dari endapan ditemukan pada Formasi pucangan 2. Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus Ditemukan di kawasan cagar sangiran pada tanggal 23 november 1975 di tanah lapisan lempung warna abu abu Formasi kabuh bawah. 3. Tulang paha Ditemukan dari Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 4 Februari 1989 pada lapisan tanah lempung warna abu abu dari endapan ditemukan pada formasi pucangan atas.

17

4. Tengkorak kerbau Ditemukan oleh Tardi Pada tanggal 20 November 1992 di Dukuh Tanjung, Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada lapisan tanah Warna coklat kekuning-kunginan yang bercampur pasir ditemukan formasi kabuh berdasarkan penanggalan geologi berumur 700.000-500 tahun 5. Gigi Elephas Namadicus Ditemukan di situs cagar budaya sangiran Pada tanggal 12 Desember 1975, Pada lapisan tanah pasir bercampur kerikil berwarna cokelat ditemukan pada Formasi kabuh 6. Fragmen gajah purba Hidup di daerah cagar budaya sangiran Jenisnya adalah: a. Mastodon b. Stegodon c. Elephas 7. Tulang rusuk (Casta) Stegodon Trigonocephalus Ditemukan oleh Supardi pada tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh Bukuran, Desa Bukuran Kecamatan kalijambe Kabupaten Sragen pada lapisan lempung warna abu abu dari endapan pucangan atas. 8. Ruas tulang belakang (Vertebrae) Ditemukan di situs cagar budaya sangiran pada tanggal 15 Desember 1975 di lapisan tanah pasir berwarna abu abu pada formasi kabuh bawah. 9. Tulang jari (Phalanx) Ditemukan di situs sangiran pada tanggal 28 oktober 1975 pada lapisan tanah pasir kasar warna cokelat kekuning-kuningan pada formasi kabuh. 10. Rahang atas Elephas Namadicus Rahang ini dilengkapi sebagian gading ditemukan oleh Atmo di Dukuh Ngrejo, Desa Samomorubuh Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen pada tanggal 24 April 1980 pada lapisan Grenz bank antara formasi pucangan dan kabuh. 11. Tulang kaki depan bagian atas (Humerus) Bagian fosil ditemukan oleh Warsito Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 28 Desember 1998 pada lapisan tanah lempung warna abu abu dari formasi pucangan atas kala pleistosen bawah

18

12. Tulang kering Ditemukan oleh Warsito di Dukuh Bubak Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 4 januari 1993 lapisan tanah lempung warna abu abu dari formasi pucangan atas. 13. Fosil Molusca a. Klas Pelecypoda b. Klas Gastropoda 14. Binatang air 1. Tengkorak buaya (Crocodilus Sp.) ditemukan pada tanggal 17 Desember 1994 oleh Sunardi di Dukuh Blimbing, Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe kabupaten Sragen pada formasi pucangan 2. Kura kura (Chlonia Sp.) Ditemukan pada tanggal 1 Februari 1990 oleh hari Purnomo Dukuh Pablengan, Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, kabupaten Sragen pada Formasi pucangan 3. Ruas tulang belakang ikan Ditemukan pada tanggal 20 November 1975 oleh Suwarno di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada formasi pucangan G. Pemeliharaan Terhadap Sangiran Perlindungan terhadap kawasan ini (Sangiran) bias dikatakan cukup ketat sebab beberapa waktu lalu ada beberapa benda purba (fosil) yang berhasil diselundupkan ke luar negeri. Maka untuk menjaga agar bendabenda tersebut tidak dijual kepada orang lain, maka masyarakat setempat yang berhasil menemukan benda-benda sejarah diminta untuk menyerahkan ke museum purbakala sangiran dan mereka akan mendapatkan imbalan. Selain mendirikan museum situs prasejarah sangiran untuk menjaga kawasan sangiran, pemerintah juga mengeluarkan Undang-undang tentang perlindungan cagar budaya sangiran, yaitu: 1) Mengeluarkan SK. Mendikbud No. 70 / 111 / 1977 dan menetapkan sangiran sebagai cagar budaya. Semua fosil-fosil di wilayah sangiran dilindungi dan setiap temuan harus diserahkan kepada pemerintah. 2) UU No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya yang lebih keras yaitu, menetapkan sangiran sebagai cagar budaya ( UNESCO ) Meskipun pemerintah telah membuat peraturan perundang-undangan tentang perlindungan cagar budaya, tetapi pada kenyataannya masih mengalami beberapa masalah yaitu; a. Daerah yang seluas 32 km hanya diawasi oleh tenaga yang sangat terbatas. Daerah itu hanya dijaga oleh 27 personil, termasuk 8 orang bertugas sebagai satpam.

19

b. Adanya tradisi memberi hadiah terhadap penemu fosil yang telah berlangsung sejak jaman pendudukan Belanda. c. Para pembeli asing menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan dari pemerintah, sehingga banyak penduduk setempat yang menjual fosil temuannya kepada pembeli asing. H. Sumbangan Sangiran Untuk Masyarakat Sekitar Dan Ilmu Pengetahuan Sangiran memberi sumbangan tersendiri bagi masyarakat, khususnya di daerah sekitar situs sangiran dan masyarakat Indonesia, serta masyarakat dunia pada umumnya. Dengan kehadiran sangiran, masyarakat setempat dapat penghasilan dengan cara menjual berbagai macam fosil yang merupakan hasil temuan di situs sangiran. Selain untuk masyarakat setempat, Sangiran juga memberi sumbangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yaitu sebagai sumbangan pengetahuan. Sedangkan untuk dunia Sangiran dijadikan situs penelitian dan study evolusi manusia purba oleh para ahli dari berbagai penjuru dunia. Sangiran juga memberi sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu pengetahuan yaitu sebagai salah satu tempat bagi orang-orang yang ingin mengetahui situs prasejarah dan suaka purbakala sangiran. Secara khusus bagi mahasiswa yang menekuni ilmu sejarah, dimana sangiran menyimpan peninggalan-peninggalan masa lampau. Selai itu juga sangiran menjadi sumber bahan penulisan buku-buku prasejarah di Indonesia. I. Peranan Situs Sangiran Dalam Pembelajaran Biologi Situs Sangiran sangat berperan penting dalam pembelajaran Biologi yaitu dalam hal studi lapangan atau juga bisa disebut dengan situs Sangiran sebagai laboratorium terbuka dalam pembelajaran Biologi. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam materi pelajaran bologi terdapat satu bab yang berkaitan dengan situs Sangiran yaitu Evolusi dan Paleontologi. Teori Evolusi menyatakan bahwamakhluk berevolusi dari makhluk primitif selama berjuta-juta tahun lalu. Dan paleontologi merupakan ilmu yang membahas mengenai kehidupan di masa lalu. Kemudian, di Situs Sangiran ditemukan banyak fosil-fosil purba yang mana fosil-fosil tersebut menjadi bukti adanya evolusi. Fosil-fosil yang ditemukan dominan di situs Sangiran adalah Pithecanthropus erectus dan vertebrata Steghodon (gajah) yang ditemukan pertamakali oleh Eugene Dubois di Ngawi, Jatim. Temuan ini sama dengan yang ada di Sangiran, Trinil. Pada tahun 1936/1937 Van Koenigwald menemukan rahang bawah (mandibula) dan sekeping atap tengkorak Pithecanthropus Erectus di Sangiran,lokasinya di Dukuh Bapang. Setelah masa itu, banyak ditemukan kelompok-kelompok manusia purba lainnya, yaitu: Pithecanthropus Erectus Homo Erectus 20

P. Mojokertensis P. Erectus Sangiran seusia dengan fosil Mojokerto Homo Sapiens (lebih muda dari P. Erectus) Kelompok vertebrata air laut yang ditemukan ada: Foraminifera,molusca, gastropoda, gigi ikan hiu, penyu. Perbedaan antara Molusca dan gastropoda air tawar dan air laut adalah: Molusca laut bentuknya spiral, pamjang,kepala besar meruncing /lancip. Perbedaan antara penyu dan kura kura adalah: ukuran karapak dari kura kura pas-pasan sedangkan untuk penyu karapaknya bisa mencapai panjang lebar > 50 cm. Fosil vertebrata darat yang ditemukan adalah Gajah: (gading) Mastodon Thecodon Elephas Banteng tengkorak Rusa Harimau Kerbau (tengkorak) Badak (Rhinocheros) rahang atas Selain itu, terdapat pula bebatuan dan tembaga. Untuk bebatuan, terdapat bebatuan yang masih alami maupun yang berupa batu hasil kebudayaan (peralatan / senjata). Untuk batu hasil kebudayaan ada kapak genggam, bola batu (digunakan untuk melempar buruan), manik-manik (perhiasan), akik (cincin). Untuk batu asli, ada batu rintang (warna-warni), fosil kayu, batu meteor, tembaga (jenis golongan C) untuk tembaga jenis golongan C terdapat tanah bentonit (abu abu tua,mengandung zat fosfor, terdapat dilapisan Kalibeng) dapat dimanfaatkan sebagai pelumas. Tanah Diatom: terdapat pada lapisan Kalibeng (fosil dari protista) dan ada pula air asin (terdapat di tiga tempat) menunjukkan bahwa dulu Sangiran adalah laut yang mengalami penaikan akibat adanya tenaga endogen dan terjadi pelipatan. Kemudian di Situs Sangiran juga terdapat museum purbakala. Di museum tersebut siswa dapat melihat secara langsung adanya fosil fosil manusia purba (tengkorak-tengkorak manusia purba) dengan urutan urutan mencapai ke tingkat yang lebih sempurna. Sehingga harapannya siswa menjadi lebih paham mengenai materi pelajaran Evolusi (memberikan pengalaman langsung pada siswa). Di dalam museum tersebut juga terdapat replika yang menunjukkan bahwa manusia berevolusi dari simpanse ketingkat yang lebih tinggi yaitu manusia. Di depan replika terdapat suatu replika yang menggambarkan kehidupan jaman purba, yaitu manusia purba berburu menggunakan bola

21

batu dan memakan daging buruan mentah mentah, kemudian digambarkan pula alam disekitarnya yang masih terlihat alamidan berada di dekat sumber air. Dalam replika tersebut juga digambarkan bahwa manusia purba berbulu panjang disekujur tubuhnya ini bisa menceritakan pada siswa bahwa bulu panjang itu digunakan sebagai isolator terhadap dingin (iritabilita),kemudian otot yang dimiliki oleh manusia purba besar, yang mana otot lengan terlihat lebih besar dan panjang, hal ini bisa juga membawa pesan pada siswa bahwa aktivitas manusia purba lebih fokus ke otot lengan, seperti berburu (memerlukan kekuatan lengan)dan menggali ubi (juga memerlukan kekuatan otot lengan). Pada gambar gambar di dinding juga ditunjukkan pula vegetasi yang dominan pada masa itu dengan ditemukannya polen gymnospermae pada suatu lapisan tanah dengan jumlah yang relatif banyak. Selain itu terdapat pula gambar yang menunjukkan adanya perubahan goegrafis dari bumi ditiap kisaran jaman, selain itu terdapat pula gambar yang menunjukkan proses terbentuknya bumi (antarikasa) melalui big bang. J. Managemen Dan Kelembagaan Salah satu obyek wisata yang menarik di Kabupaten Sragen adalah Museum Sangiran yang berada di dalam kawasan Kubah Sangiran. Kubah tersebut terletak di Depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (kurang lebih 17 km dari Kota Solo). Kehadiran Sangiran merupakan contoh gambaran kehidupan manusia masa lampau karena situs ini merupakan situs fosil manusia purba paling lengkap di dunia. Luasnya mencapai 56 kilometer persegi yang meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, yaitu Kecamatan Gemolong, Kalijambe dan Plupuh serta satu kecamatan di Kabupaten Karanganyar, yaitu Gondangrejo. Museum Purbakala Sangiran terletak di Desa Krikilan Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen kurang lebih 3 Kilometer dari Jalan Solo Purwodadi. Museum ini dibangun pada tahun 1980 yang menempati areal seluas 16.675 meter persegi. Bangunan tersebut bergaya Joglo yang terdiri atas : Ruang Pameran yaitu ruang utama tempat koleksi terdisplay; Ruang Laboraturium yaitu tempat dilakukannya proses konservasi terhadap fosilfosil yang ditemukan; Ruang Pertemuan yaitu ruang yang digunakan segala kegiatan yang diadakan di museum;Ruang display bawah tanah; Ruang audio visual; Ruang Penyimpanan koleksi fosil-fosil, Mushola dan Toilet. Sangiran merupakan situs terpenting untuk ilmu pengetahuan terutama untuk penelitian di bidang antropologi, arkeologi, biologi, paleoanthropologi, geologi dan tentu saja untuk bidang kepariwisataan. Keberadaan Situs Sangiran sangat bermanfaat dalam mempelajari kehidupan manusia prasejarah karena situs ini dilengkapi dengan koleksi fosil manusia purba, hasil-hasil budaya manusia prasejarah, fosil-fosil flora fauna prasejarah beserta gambaran stratigrafinya. Sangiran dilewati oleh sungai yang sangat indah, yaitu Kali Cemoro yang bermuara di Bengawan Solo. Daerah iniliah yang mengalami erosi

22

tanah sehingga lapisan tanah yang terbentuk nampak jelas berbeda antara lapisan tanah yang satu dengan lapisan tanah yang lain. Dalam lapisanlapisan tanah inilah yang hingga sekarang banyak ditemukan fosil-fosil manusia maupun binatang purba. Sampai saat ini, Situs Manusia Purbakala Sangiran masih menyimpan banyak misteri yang perlu untuk diungkap. Sebanyak 50 individu fosil manusia Homo Erectus yang ditemukan. Jumlah ini mewakili 65% dari fosil Homo Erectus yang ditemukan di seluruh Indonesia atau sekitar 50% dari populasi Homo Erectus di dunia (Widianto : 1995, 1). Keseluruhan fosil yang ditemukan sampai saat ini adalah sebanyak 13.809 buah. Sebanyak 2.934 fosil disimpan di Ruang Pameran Museum Sangiran dan 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan. Beberapa fosil manusia purba disimpan di Museum Geologi Bandung dan Laboraturium Paleoanthropologi Yogyakarta. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs prasejarah yang memiliki peran yang sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia. Berdasarkan hasil tersebut, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia Nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat Peringatan ke-20 tahun di Marida, Meksiko. Di kawasan Museum Purbakala Sangiran telah dilengkapi sarana dan prasarana kepariwisataan seperti Menara Pandang, Homestay, Audio Visual, Guide, Taman Bermain, Souvenir Shop dan Fasilitas Mini Car yang dapat digunakan pada wisatawan untuk berkeliling di Situs Sangiran. Museum Purbakala Sangiran dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi, bus pariwisata maupun angkutan umum. Visi Lestarinya Situs Sangiran sebagai pusat penelitian manusia purba yang mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat baik pada tingkat dunia, regional, nasional, maupun lokal Misi Melestarikan dan melindungi bentang alam, tinggalan alam dan budaya purba Sangiran yang unik dan sangat penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan Menciptakan jalinan kerjasama yang padu di antara para stakeholders, baik dari lingkungan pemerintah, sektor swasta, akademisi, maupun masyarakat dalam rangka pelestarian dan pengembangan situs Sangiran Meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi upaya pelestarian situs Sangiran Menyelenggarakan penelitian dalam rangka interpretasi berkelanjutan terhadap nilai-nilai penting situs Sangiran untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Menjadikan Sangiran sebagai pusat informasi dan pengkajian data tentang manusia purba di Indonesia Menyajikan nilai-nilai penting dan pengetahuan tentang situs Sangiran, baik bagian-bagiannya maupun secara keseluruhan, kepada khalayak

23

Mengembangkan wisata pendidikan yang ramah lingkungan dan berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat setempat Tujuan Menyelenggarakan upaya-upaya pelestarian dan perlindungan terhadap sumberdaya budaya dan alam Menyelenggarakan penelitian dalam rangka menafsirkan nilai-nilai penting situs Sangiran untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan Menyajikan nilai-nilai penting dan pengetahuan tentang situs Sangiran di Indonesia kepada khalayak Meningkatkan peran-serta masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam pelestarian Situs Sangiran Mengembangkan kegiatan kepariwisataan yang berwawasan pelestarian di situs Sangiran Merencanakan pembangunan infrastruktur Menjalin kerjasama di antara stakeholders Sasaran Membuat kerangka acuan bersama bagi pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat serta pihak-pihak lain yang peduli dalam melakukan kegiatan di dalam kawasan Menetapkan garis-garis besar arahan manajemen situs Membuat panduan untuk evaluasi dan monitoring Delapan pokok Rencana Induk 1. Organisasi Pengelolaan 2. Pengelolaan Situs dan Lingkungan 3. Pengelolaan Penelitian 4. Pengelolaan Kepariwisataan 5. Pengelolaan Sarana dan Prasarana 6. Pemberdayaan Masyarakat 7. Pengelolaan Penyajian Informasi 8. Mekanisme Pemantauan dan Evaluasi Situs Sangiran telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia merupakan situs manusia purba di Indonesia yang mempunyai nilai penting bagi sejarah umat manusia sehingga perlu dilestarikan.Untuk melestarikan situs tersebut perlu dibentuk suatu lembaga yang secara khusus dan terpadu mengelola situs dan kawasan di sekitar sangiran.Sehubungan dengan hal tersebut dan agar pelaksanaan kegiatan lembaga tersebut dapat berjalan dengan baik dan berhasil guna maka dibentuk suatu Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dengan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata yang mendasari dibentuknya Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. yaitu :

24

1. Undang-undang Nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya(Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 27,Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3470) 2. Peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya(Lembaran Negara RI Tahun 1993 Nomor 14,Tambahan Lembaga Negara RI Nomor 3516) 3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum(Lembaran Negara RI Tahun 1995 Nomor 35 Tambahan Negara RI Nomor 3599) 4. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004,sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 20/P tahun 2006 5. Peraturan presiden Nomor 9 tahun 2005 tentang Kedudukan,Tugas dan Fungsi,Susunan Organisasi,dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia,sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 tahun 2006 6. Peraturan presiden nomor 10 tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia,sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2006 7. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.17/HK.001/MKP-2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.07/HK.001/MKP-2007,dan 8. Memperhatikan Surat Persetujuan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor B/242/M.PAN/1/2007 tanggal 31 januari 2007 perihal Usul Pembentukan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. 1. Kedudukan Tugas dan Fungsi Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran memiliki kedudukan berdasarkan Pasal I yaitu: 1) Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Peninggalan Purbakala. 2) Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dipimpin Oleh seorang kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran memiliki Tugas berdasarkan Pasal 2 yaitu:

25

a. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran mempunyai tugas melaksanakanpengamanan,penyelamatan,penertiban,perawatan,pengawe tan,penataanlahan,survey,ekskavasi,analisis,penyajian,bimbinganedukasi ,kerjasama,pemberdayaan masyarakat,dokumentasi,publikasi,dan ketatausahaaan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran memiliki fungsi berdasarkan Pasal 3 yaitu : a. Pelaksanaan pengamanan,penyelamatan, dan penertiban peninggalan purbakala bergerak dan tidak bergerak yang berada di lapangan maupun tersimpan di ruangan. b. Pelaksanaan perawatan dan pengawetan peniggalan purbakala bergerak maupun tidak bergerak yang berada di lapangan maupun tersimpan di ruangan serta penataan lahan situs c. Pelaksananan survei dan ekskavasi peninggalan purbakala bergerak maupun tidak bergerak d. Pelaksanaan inventarisasi dan registrasi peninggalan purbakala bergerak dan tidak bergerak yang berada di lapangan maupun yang tersimpan di ruangan e. Pelaksanaan analisis laboratorium peninggalan sejarah purbakala situs Sangiran f. Pelaksanaan penyajian koleksi dan pelayanan teknis peninggalan sejarah dan purpakala situs sangiran g. Pelaksanaan dokumentasi dan publikasi peninggalan purbakala bergerak maupun tidak bergerak serta situs dan kawasan h. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran 2. Susunan Organisasi Berdasarkan pasal 4 : (1) Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran terdiri dari: a. Seksi Pelestarian; b. Seksi Eksplorasi; c. Seksi Pemanfaatan: d. Subbagian Tata Usaha; e. Kelompok Jabatan Fungsional (2).Bagan Susunan Organisasi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak dipisahkan dalam peraturan ini Berdasarkan Pasal 5 : a. Seksi Pelestarian Mempunyai tugas : Melakukan Urusan pengamanan,penyelamatan,penertiban perawatan,pengawetan peninggalan purbakala bergerak dan tidak bergerak yang berada dilapangan maupun tersimpan di ruangan serta penataan lahan situs b. Seksi eksplorasi

26

Mempunyai tugas:Melakukan urusan survei, ekskavasi, analisis laboratorium inventarisasi, registrasi peninggalan purbakala bergerak dn tidak bergerak yang berada di lapangan maupun tersimpan di ruangan c. Seksi Pemanfaatan Mempunyai tugas:Melakukan urusan penyajian koleksi,pelayanan teknis, pendokumentasian dan penyebarluasan informasi peninggalan purbakala bergerak dan tidak bergerak serta situs dan kawasan d. Subbagian tata usaha Mempunyai tugas : Melakukan urusan persuratan, keuangan, kepegawaian, ketatalaksanaan, perlengkapan, rumah tangga, ketertiban dan keamanan kantor Berdasarkan pasal 6: Kelompok jabatan fungsional mempunyai tugas :melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku Berdasarkan pasal 7: Kelompok jabatan fungsional terdiri dari sejumlah tenaga dalam jenjang jabatan fungsional yang diatur berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku kelompok jabatan fungsional dikoordinasikan oleh pejabat fungsional senior yang ditunjuk oleh kepala balai 3. Tata kerja Berdasarkan pasal 8 : Dalam melaksanakan tugasnya setiap pimpinan satuan organisasi dilingkungan balai wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi baik di lingkungan masing-masing maupun dengan instansi diluar balai sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing Berdasarkan pasal 9 : Setiap pimpinan satuan organisasi wajib mengawasi pelaksanaan tugas bawahannya masing-masing dan apabila terjadi penyimpangan agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku Berdasarkan pasal 10:Setiap pimpinan satuan organisasi bertanggungjawab memimpin dan mengkoordinasikan bawahannyan masing-masing dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaannya tugas bawahannya. Berdasarkan pasal 11:Setiap pimpinan satuan organisasi wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk serta bertanggungjawab kepada masing-masing dan menyampaikan laporan berkala tepat pada waktunya Berdasarkan pasal 12 :Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan satuan organisasi dari bawahan,wajib diolah dan

27

dipergunakan sebagai bahan untuk penyusunan laporan lebih lanjut Berdasarkan pasal 13:Dalam menyampaikan laporan masing-masing kepada atasannya,tembusan laporan wajib disampaikan pula kepada satuan organisasi lain yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja Berdasarkan pasal 14:Dalam melaksanakan tugasnya pimpinan satuan organisasi dibantu oleh satuan organisasi di bawahnya dan dalam rangka pemberian bimbingan kepada bawahan masing-masing wajib mengadakan rapat berkala 4. Organisasi Pengelolaan 1.1 kebijakan Perlu dibentuk organisasi pengelola khusus untuk menangani Sangiran baik dalam aspek pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan, serta penelitian 1.2 Strategi Mengusulkan pembentukan lembaga pengelola dan menyusun struktur organisasi pengelola yang berkedudukan di Sangiran dan bertanggungjawab langsung kepada Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala (setaraf dengan Museum Nasional) Jaringan Kerja Pengelolaan Situs Sangiran

Departemen BudPar

Menkokesra (vocal point)

Pemda

Ditjen Sepur

Pokja Wardun

KNIU UNESCO

UNESCO Jakarta

Pusat Sangiran

28

Struktur Kelembagaan
Depbudpar

Organisasi Pengelolaan
Pemerintah Provinsi/Kabupaten

Ditjen Sepur

Direktorat PurMus

Museum Nasional

Ka Pus Sangiran Kabag TU

BP3 Jateng

Bid Penelitian

Bid Pelestarian

Bid Museum

Bid Pemanfaatan

Kelompok Jabatan Fungsional Peneliti/Pamong Budaya

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI BALAI PELESTARIAN SITUS MANUSIA PURBA SANGIRAN


KEPALA Dr. Herry Widianto
SUBBAGIAN TATA USAHA

SEKSI PELESTARIAN Drs. Rusmulia Tjiptadi Hidayat M, Hum

SEKSI EKSPLORASI Drs. Muh. Hidayat

SEKSI PEMANFAATAN Sukardi, S.Si

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL (belum ada)

29

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Sangiran adalah sebuah situs arkeologi (Situs Manusia Purba) di Jawa, Indonesia. Sangiran terletak di sebelah utara Kota Solo dan berjarak sekitar 15 km (tepatnya di desa krikilan, kec. Kalijambe, Kab.Sragen). Gapura Situs Sangiran berada di jalur jalan raya SoloPurwodadi dekat perbatasan antara Gemolong dan Kalioso (Kabupaten Karanganyar). Gapura ini dapat dijadikan penanda untuk menuju Situs Sangiran, Desa Krikilan. Jarak dari gapura situs Sangiran menuju Desa Krikilan 5 km. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Sebagai World Heritage List (Warisan Budaya Dunia). Museum ini memiliki fasilitas-fasilitas diantaranya: ruang pameran (fosil manusia, binatang purba), laboratorium, gudang fosil, ruang slide, menara pandang, wisma Sangiran dan kios-kios souvenir khas Sangiran. Bertolak dari uraian terdahulu ada beberapa hal yang dapat diambil sebagai kesimpulan dari penulisan laporan ini. Situs Sangiran pada awalnya merupakan laut dangkal dan daerah payau kemudian terjadi proses pengangkatan dan pelipatan lapisan tanah. Di Sangiran di temukan Fosil-fosil manusia purba yang merupakan gambaran evolusi asal-usul manusia, seperti di ketemukannya fosil Australopithecus Africanus, Pithecanthropus Mojokertensis,

Pithecantrophus Erectus, Pithecantrophus Soloensis dan Homo Sapiens (Manusia Wajak). Sangiran memberi sumbangan yang sangat besar bagi ilmu pengetahuan dimana Sangiran merupakan obyek penelitian bagi semua level pendidikan, terutama bagi para mahasiswa yang mengambil jurusan sejarah dan arkeolog. Dengan adanya fosil-fosil tersebut di sangiran, maka pemerintah mengeluarkan undang-undang yang melindungi situs sangiran.

30

DAFTAR PUSTAKA Poesponegoro, Marwati D. 1981. Sejarah Nasional Indonesia I. Cetakan I. Jakarta: Depdiknas. Santosa, Hery. 2000. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Universitas SanataDharma. Tjiptadi, Rusmulia. et al. 2004. Museum Situs Sangiran Sejarah Evolusi Manusia Purba Beserta Situsnya. Koperasi Museum Sangiran. http://www.sangiran.info/ diakses pada 23 November 2010 http:/www.sragenkab.go.id /. diakses pada 23 November 2010

31