Anda di halaman 1dari 14

KEBIJAKAN DESENTRALISASI PENDIDIKAN DALAM OTONOMI DAERAH

Makalah disusun guna memenuhi tugas individu mata kuliah

BAHASA INDONESIA
Dosen Pengampu : Drs. AGUS BUDI P, M.Pd.

Disusun Oleh :

Nama NIM Fakultas

: JOKO WASKITO : 07 601 1376 : PAI S-1

FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2007

I.

PENDAHULUAN

Manusia Indonesia seutuhnya yang diidealisasikan menjadi titik puncak pencapaian tujuan pendidikan nasional sebagai proses kemanusiaan dan pemanusiaan sejati masih terus menjadi dambaan kita, ketika sosok yang sesungguhnya belum lagi ditemukan pada saat arus globalisasi dan era pasar bebas terus menerpa secara keras. Memasuki awal millennium ketiga dewasa ini bangsa Indonesia menghadapi gelombang perubahan besar, baik secara internal maupun eksternal. Era globalisasi dengan perdagangan bebasnya yang bercirikan persaingan ketat merpakan tantangan besar yang harus dihadapi. Pada saat yang besamaan, krisis ekonomi yang menerpa bangsa kita sejak pertengah tahun 1997 dan terus berkembang menjadi krisis multidimensi yang telah berlangsung enam tahun lebih itu merupakan krisis terberat dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia dan juga terparah di dunia. Berbagai hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini yang oleh dunia internasional pernah diakui sebagai suatu keajaiban (miracle) seolah-olah sirna. Jumlah penduduk miskin meningkat tajam, angka partisipasi sekolah melambat, bayi dan ibu hamil terancam kesehatannya. Krisis dikhawatirkan akan mengakibatkan hilangnya satu generasi (lost generation) atau bahkan beberapa generasi (lost generations).1 Selain faktor eksternal dan global, ada anggapan bahwa krisis multidimensi yang berlarut-larut itu disebabkan oleh terlalu kuatnya peran pemerintah atau kentalnya dominasi negara yang mengakibatkan lemahnya peran dan keberdayaan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang selama ini dipandang sangat dominan menurun drastis. Tuntutan dilakukannya reformasi dan demokratisasi makin mengemuka. Masyarakat yang "diwakili" oleh mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat serta lembaga sosial kemasyarakatan lainnya bergerak menuntut adanya perbaikan dalam hampir semua aspek kehidupan terutama ekonomi, politik, dan hukum, serta sistem pemerintahan. Sejalan dengan itu, tuntutan diterapkannya desentralisasi dan otonomi daerah juga makin menguat. Dengan berbagai alasan, terutama
Prof. Dr. Ir. H. Hidayat Syarief, MS, Demokratisasi dan Desentralisasi Pendidikan, dalam Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed, Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru, (Jakarta : Grasindo, 2002) hlm. 46-47.
1

alasan perlunya pembagian keuangan yang lebih adil antara pusat dan daerah, beberapa daerah "mengancam" untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesatuan otonomi daerah yang dilandasi Undang-Undang No. 22 dan 25 tahun 1999 telah membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk manajemen penyelenggaraan pendidikan pendidikan, merupakan bila sebelumnya kebijakan pusat,

wewenang

pemerintah

kewenangan pendidikan dialihkan ke pemerintah daerah kota dan kabupaten sebagai desentralisasi, sebagai bentuk orientasi demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam makalah yang singkat ini penulis akan mencoba menyajikan beberapa kajian atas kebijakan otonomi daerah bidang pendidikan dengan membahas konsep desentralisasi dan otonomi daerah dan implementasinya dalam pendidikan.

Makna Desentralisasi Dan Otonomi Daerah Banyak kalangan cendekiawan yang memahami desentralisasi sebagai suatu upaya pendaerahan pemerintahan, artinya pemerintah pusat

memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengatur daerahnya sendiri dengan tetap mengedepankan pemerintah pusat sebagai central of governance.2 Indonesia saat ini sedang berusaha mewujudkan upaya desentralisasi sebagai satu langkah menuju perbaikan pola pemerintahan sebelumnya yang bersifat sentralistik, yakni semua kewenangan pemerintah ditentukan oleh pemetintah pusat. Berbeda dengan desentralisasi, para cendekiawan dan pejabat birokrasi mempunyai perbedaan persepsi dalam memahami makna otonomi daerah. Ada yang mempersepsikan otonomi daerah sebagai prinsip penghormatan terhadap kegiatan kehidupan regional sesuai riwayat, adat istiadat, sifatsifatnya dalam kadar negara kesatuan.3 Ada juga yang memahami otonomi daerah sebagai suatu perspektif ekonomi politik dimana daerah diberikan peluang untuk demokrasi dan untuk berprakarsa untuk memenuhi kepentingannya,
2

sehingga

mereka

akan

semakin

menghargai

dan

Pius A. Partanto dan M. Dahlan al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya : Arkola, t.th) hlm. 104. 3 Abdullah H.R. Pelaksanaan Otonomi Luas dan Isu Federalisme sebagai suatu Alternatif. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000), hlm.11.

menghormati kebersamaan dan persatuan serta tidak akan menuntut pemisahan diri sebagaimana dialami Yugoslavia dan Unisoviet. Setelah muncul UU Otonomi Daerah No. 22 tahun anggaran 1999 dan UU No 25 tahun 1999, berbagai reaksi yang disebabkan perbedaan integrpretasi dari istilah otonomi daerah sebagai kemerdekaan dan kebebasan dalam segala urusan yang seharusnya menjadi hak daerah. Mereka sangat anti terhadap intervensi pemerintah pusat dan beranggapan bahwa otonomi daerah dianggap sebagai kemerdekaan daerah dari belenggu pemerintah pusat. Ada kelompok lain yang memahami otonomi daerah sebagai otoritas untuk mengambil keputusan daerah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat daerah. Kewenangan ini kemudian dibagi menjadi dua, yakni kewenangan pusat dan daerah. Kewenangan pusat meliputi ; politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter, agama, serta kebijakan perencanaan yang bersifat makro, dan sisanya menjadi kewenangan daerah. Kelompok lainnya memahami otonomi daerah sebagai proses pengakomodasian berbagai kepentingan lokal, dimana lembaga lokal membutuhkan otoritas, kemandirian, dan kemampuan khusus untuk membuat manajemen terbaik bagi kepentingan masyarakat daerah yang begitu beragam. Kelompok ini mengharapkan adanya kesepakatan khusus antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengenai bidang-bidang yang ditangani daerah dan bidang-bidang apa yang memerlukan uluran tangan pusat. Berbagai variasi interpretasi akan otonomi daerah tampaknya didasarkan pada referensi makna otonomi daerah itu sendiri. Istilah otonomi memiliki berbagai variasi makna yang berbeda yang kemudian menimbulkan banyak pemahaman. Diantaranya otonomi diartikan sebagai Decision making authority is inside organization.4 Dari ungkapan ini dapat dipahami bahwa otonomi dapat diartikan sebagai jumlah dari otoritas pengambilan keputusan yang dimiliki suatu organisasi. Semakin banyak tingkat otoritas dalam otonomi daerah maka semakin tinggi tingkat otonominya. Apabila hal ini kita analogikan dalam otonomi daerah, maka ungkapan tersebut memiliki makna ; semakin banyak otoritas pengambilan keputusan yang dimiliki, maka daerah tersebut semakin otonom dari pemerintah pusat.
J.L.Price and Muller. Hand Book of Organizational Measurement, (Marshfield : Longman Inc. 1986), hlm. 40.
4

Otonomi juga dipahami sebagai ukuran sampai beberapa jauh suatu pemerintahan daerah kabupaten atau kota mengontrol kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal lepas dari pengaruh lingkungannya.5 Makna lain dari otonomi mengacu pada asal kata tersebut yaitu "auto" berarti sendiri dan "nomos" berarti aturan perundang-undangan.6 Dengan makna ini otonomi dipahami sebagai suatu kewenangan pengaturan diri sendiri atau

kemandirian, dimana tidak ada keterikatan dengan pihak lain. Dari berbagai pemahaman teoritis mengenai otonomi di atas, menggambarkan bahwa otonomi dapat diinterpretasikan secara variatif seperti kebebasan dan kemerdekaan, strategi organisasi, otoritas mengurusi diri sendiri dan mengambil keputusan sendiri, power untuk melakukan kontrol terhadap diri sendiri dan kemandirian dalam pengaturan diri. Otonomi yang dipahami dengan berbagai macam pemahaman tersebut harus dipahami bersamaan dengan paradigma kontekstual kenegaraan yang ada. Otonomi harus sejajar dengan sistem politik yang berlaku serta harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat daerah. Dalam konteks Indonesia, otonomi daerah harus dilihat sebagai upaya menjaga persatuan dan kesatuan di satu pihak, dan sebagai upaya birokrasi Indonesia untuk merespon keanekaragaman Indonesia agar mampu memberikan yang tegrbaik bagi rakyatnya, khususnya bagi masyarakat daerah. Dalam UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999 mengenai kewenangan daerah dan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah nampaknya menganut paradigma kewenangan. Hal ini dapat dilihat dari makna otonomi sebagai kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. UU ini merupakan wujud perhatian pemerintah pusat untuk berusaha menumbuhsuburkan prinsip demokrasi, memasyarakatkan peran serta rakyat, mewujudkan pemerataan keadilan serta penghargaan terhadap keanekaragamaan daerah. Langkah yang tepat untuk mewujudkan demokratisasi dan otonomi daerah di Indonesia adalah dengan cara memberikan kebebasan dan kewenangan untuk mengatur diri sendiri. Namun yang menjadi persoalan selanjutnya adalah tidak semua daerah memiliki keksiapan otonomi daerah.
Ibid, hlm. 40. L.D. Terry. Leadership of Public Bureaucracies The Administrator as Convestor. (London : Sage Publication. International Education and Professional Publisher, 1995). Hlm. 49.
6 5

Oleh karenanya upaya untuk meningkatkan kemampuan bagi pemerataan daerah harus menjadi agenda utama.

II. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN

OTONOMI

DAERAH

DALAM

DUNIA

Belajar dan perjalanan dan pengalaman selama ini, berbagai masalah berat yang dihadapi disebabkan oleh kesalahan yang sangat fundamental dalam sistem pendidikan nasional. Sejalan dengan kentalnya sistem pemerintahan yang sentralistis, suatu kesalahan yang sangat fundamental adalah tidak adanya demokratisasi dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan bahkan terlalu banyak dicampuri oleh kepentingan politik untuk melanggengkan kekuasaan. Kepentingan politik itu merasuk ke dalam kurikulum, buku, dan proses belajar mengajar. Kepentingan politik itu merasuk ke dalam pendayagunaan guru dan tenaga pengelola pendidikan. Kepentingan politik itu masuk hampir ke semua komponen yang ada dalam sistem pendidikan. Masalahnya adalah selama ini hampir semua pihak seakan terbelenggu dan tidak mampu keluar dari kungkungan kepentingan politik itu.7 Kekuasaan yang sentralistik, sebagaimana yang terjadi pada masa orde baru banyak menimbulkan berbagai ketimpangan dalam segala sektor kehidupan. Masyarakat di daerah-daerah yang jauh dari pemerintah pusat cenderung diabaikan kesejahteraannya, termasuk dalam sektor pendidikan. Upaya peningkatan kesejahteraan rakyat akan lebih tepat dengan

memberlakukan sistem otonomi pemerintah daerah, sebagai manivestasi dari penyelesaian berbagai ketidakadilan yang berlangsung selama ini, daripada keterlibatan pemerintah pusat secara langsung.8 Oleh karena itu, dalam era reformasi inilah saatnya untuk mulai menciptakan sistem pendidikan yang demokratis. Bersamaan dengan desentralisasi, demokratisasi pendidikan harus dijadikan suatu paradigma baru dalam memperkukuh sistem pendidikan kita. Desentralisasi pendidikan akan membuka perspektif baru yang melahirkan beberapa konsep penting dalam penyelenggaraan pendidikan,
Prof. Dr. Ir. H. Hidayat Syarief. MS. Demokratisasi dan Desentralisasi, hlm. 58. Syaukani, et. Al, Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002). Cet 1. hlm 173.
8 7

diantaranya ; Manajemen berbasis Sekolah (School Based Management), Pendidikan Berbasis Masyarakat (Community Based Education), dan Otonomi Perguruan Tinggi. Paradigma demokratisasi dan desentralisasi pendidikan antara lain diformulasikan dalam konsep manajemen berbasis sekolah (MBS), pendidikan berbasis masyarakat (PBM), dan otonomi perguruan tinggi. Tujuannya untuk memperluas pendidikan basgi masyarakat dan

meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan mutu pendidikan. Hal ini yang juga prinsipal dan fundamental adalah untuk melakukan penguatan lembagalembaga sosial yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pendidikan, baik di daerah maupun di sekolah. Dalam merealisasikan gagasan-gagasan yang bernuansa reformatif tersebut, diperlukan kesiapan yang memadai dengan strategi pentahapan yang terukur dan dengan mempertimbangkan kondisi daerah yang beragam. Hal ini menurut adanya tanggung jawab masyarakat dan seluruh stakeholders dalam penyelenggaraan pendidikan. Partisipasi aktif masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dikembalikan kepada kebutuhan masyarakat, orang tua, dan organisasi masyarakat, serta segenap stakeholders di daerah.9

Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management) Konsep ini mengandalkan pemberian otonomi yang luas kepada sekolah dalam menyelengagarakan kegiatan pendidikan. Dalam hal ini sekolah wajib melibatkan peran serta atau partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, dengan tetap mengacu pada kerangka kebijakan nasional. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dilaksanakan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya yang sesuai dengan prioritas kebutuhan dan tanggap terhadap kebutuhan setempat. Kaidah efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas menjadi pegangan penting dalam penyelenggaraan MBS. Sejalan dengan itu, maka pada tingkat sekoah dibentuk suatu komite yang disebut Komite Sekolah atau Dewan Sekolah. Keanggotaan Komite Sekolah atau Dewan Sekolah terdiri dari para tokoh masyarakat atau wakil dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lembaga sosial kemasyarakatan (LSK) lainnya yang bergerak dan berminat dalam bidang pendidikan.
9

Prof. Dr. Ir. Hidayat Syarief, M.S. Demokratisasi dan Desentralisasi , hlm. 60-61.

Pendidikan Berbasis Masyarakat (Community Based Education) Konsep ini muncul diilhami oleh adanya potensi yang besar dalam masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan setempat dengan mengandalkan kekuatan dan sumber daya yang digali dari masyarakat. Dalam khazanah bangsa kita, sudah sejak lama berkembang lembaga-lembaga pendidikan "tradisional" seperti pesantren yang

menggunakan prinsip ini. Lembaga-lembaga seperti itu tidak tumbuh dan berkembang secara mandiri, tanpa banyak mengandalkan uluran tangan pemerintah. Pada umumnya lembaga tradisional tersebut memang sangat lemah dengan jumlah siswa yang terbatas. Akan tetapi, dewasa ini sudah mulai banyak yang berkembang pesat dan "modern". Sumber daya yang diperlukan digali dan dikembangkan dari potensi lokal dengan melibatkan peran serta masyarakat sekitar secara lebih nyata. Aktifitasnya pun berkembang tidak hanya berupa kegiatan pendidikan, tetapi juga kegiatan ekonomi produktif. Dari hasil kegiatan ekonomi yang produktif itulah kebutuhan dana pendidikan dipenuhi. Yang menarik adalah para siswa dilibatkan dalam kegiatan ekonomi, sehingga mereka tidak hanya menuntut ilmu, tetapi juga memperoleh ketrampilan yang dapat digunakan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan setelah tamat nanti. Konsep yang menjadi kekayaan sosial-budaya masyarakat kita sejak lama itu sangat sejalan dengan gagasan life skill yang digulirkan baru-baru ini.10

Otonomi Perguruan Tinggi Pada jenjang pendidikan tinggi, konsep demokratisasi dan

desentralisasi pendidikan diejawantahkan dalam bentuk otonomi perguruan tinggi dalam rangka membangun kemandirian. Dengan otonomi perguruan tinggi, universitas, atau institut mempunyai kewenangan yang luas dalam mengelola sumber daya yang dimiliki, seperti sumber daya manusia (tenaga pengajar, staf administrasi, dan mahasiswa), sumber daya finansial (anggaran pembangunan, anggaran rutin, dan dana masyarakat), serta sumber daya fisik (aset sarana dan prasarana pendidikan), dan mengembangkan programprogram serta kegiatan-kegiatan yang menjadi misi utamanya. Dengan demikian perguruan tinggi mempunyai kewenangan atau otoritas yang luas
10

Ibid. hlm. 62.

dalam menentukan kebijakan-kebijakan, yang berorientasi pada usaha memajukan ilmu pengetahuan, lembaga, dan masyarakat lingkungannya, serta kesiapan merespon tantangan global.11 Sebagaimana pengalaman di berbagai negara yang melaksanakan kebijakan desentralisasi pendidikan ternyata kebijakan ini berpengaruh secara cukup signifikan terhadap kemajuan dan pembangunan pendidikan. Dari data yang diperoleh, desentralisasi pendidikan mempunyai fungsi positif, yaitu :

1. Peningkatan Mutu Desentralisasi pendidikan, yang antara lain termanivestasi dalam pemberian otonomi pada sekolah, akan meningkatkan dan memperbaiki kapasitas serta manajemen sekolah. Dengan kewenangan penuh yang dimiliki, sekolah akan lebih leluasa mengelola dan mendayagunakan potensi sumber daya yang dipunyai, misalnya keuangan, tenaga pengajar (guru), sarana prasarana, dan lain-lain. Dengan demikian, desentralisasi diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dan memperbaiki mutu belajar mengajar, karena proses pengambilan keputusan dapat dilakukan langsung di sekolah oleh guru, kepala sekolah, dan tenaga administrasi (staf manajemen). Bahkan yang lebih penting lagi, desentralisasi dapat mendorong dan membangkitkan gairah serta semangat mereka untuk bekerja lebih giat dan lebih baik.

2. Efisiensi Keuangan Desentralisasi dimaksudkan untuk menggali penerimaan tambahan bagi kegiatan pendidikan. Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional. Untuk itu, perlu eksplorasi guna menentukan cara-cara baru dalam bentuk Channeling of fund, misalnya dengan menggunakan mekanisme vouchers, atau maching grant, dan "sponsorship dunia usaha" dalam pembiayaan pendidikan. Mekanisme semacam ini sudah lazim digunakan di negaranegara sedang berkembang dan anggota OECD (Organization for Economic Cooperation and Development).

11

Ibid. hlm. 62-63.

3. Efisiensi Administrasi Desentralisasi memotong mata rantai birokrasi panjang dengan menghilangkan prosedur bertingkat-tingkat serta kompleksitas birokrasi seperti tercermin dalam penanganan pendidikan dasar yang melibatkan tiga institusi (Depdiknas, Depdagri, dan Depag) tak akan terjadi. Desentralisasi akan memberdayakan aparat tingkat daerah dan lokal, serta akan membangkitkan motivasi aparat penyelenggara pendidikan dalam bekerja lebih produktif.

4. Perluasan dan Pemerataan Secara teoritis, desentralisasi membuka peluang penyelenggara pendidikan di tingkat daerah dan lokal untuk melakukan ekspensi, sehingga akan terjadi proses perluasan dan pemerataan pendidikan. Desentralisasi akan meningkatkan permintaan pelayanan pendidikan yang lebih besar, terutama bagi kelompok masyarakat di suatu daerah yang selama ini belum terlayani. Memang ada kemungkinan munculnya dampak negatif, yaitu bagi daerah-daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi SDM, akan berkembang jauh lebih cepat, sehingga meninggalkan daerah lain yang miskin. Namun pemerintah pusat dapat melakukan intervensi dengan memberi dana khusus berupa block grant kepada daerah-daerah miskin itu, sehingga dapat berkembang lebih seimbang.12 Berdasarkan UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana yang disebutkan oleh Armida Ali Syahbana, yakni : a. Pemerintah pusat melaksanakan kewenangan-kewenangan pemerintah dalam bidang-bidang pertahanan/keamanan, politik luar negeri, peradilan, fiskal, moneter, agama, serta kewenangan bidang pemerintah lainnya dan atau kebijakan strategis yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Bidang lain yang menjadi kewenangan pusat adalah perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan sektoral dan nasional secara makro, kebijakan sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara, kebijakan pembinaan dan
Amich al Humami, Pembangunan Pendidikan dalam Konteks Desentralisasi, (Jakarta : 11 September 2000), Makalah, hlm. 2-3.
12

10

pemberdayaan sumber daya manusia, kebijakan pendayagunaan teknologi tinggi dan strategis, serta pemanfaatan kedirgantaraan, kelautan, pertambangan, dan kehutanan atau lingkungan hidup, kebijakan konservasi, serta kebijakan standarisasi nasional. b. Kewenangan yang ada pada tingkat pemerintah propinsi mencakup kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota yang menjadi tanggung jawab propinsi, misalnya bidang pekerjaan umum, perhubungan, kehutanan, dan perkebunan

disamping kewenangan bidang pemerintah lainnya. c. Pada wilayah tingkat kabupaten, kewenangan pemerintahan selain kewenangan pemerintah pusat dan propinsi. Secara eksplisit dinyatakan bahwa sidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan daerah kabupaten dan daerah kota meliputi : pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan, pertanian, perhubungan, perdagangan, dan industri, penanaman modal, lingkungan hidup, dan pertahanan.13 Sejalan dengan dua undang-undang di atas, dapat ditangkap prinsipprinsip dan arah baru dalam pengelolaan sektor pendidikan dengan mengacu pada pada pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Jika mengacu pada UU No. 22 tahun 1999, maka kewenangan di sektor pendidikan yang terkait dengan perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan sektoral dan nasional secara makro, kebijakan pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia, kebijakan standarisasi nasional akan ditangani pusat, dan lainnya akan ditangani pemerintah daerah, khususnya kabupaten/kota. Peranan pemerintah pusatmulai dikurangi. Pemerintah pusat hanya menyalurkan Dana Alokasi Umum (DAU) ke pemerintah daerah untuk pembangunan fasilitas sekolah dan juga kebutuhan penunjang lainnya. DAU berfungsi sebagai dana untuk pemerataan daerah dan besarnya DAU ditetapkan minimal 25% dari penerimaan dalam negeri APBN dengan pembagian 10% untuk propinsi dan 90% untuk kabupaten/kota.14 Mengenai kebijakan kurikulum pendidikan yang berlaku masih menjadi kewenangan pusat. Melalui standarisasi kurikulum berbasis
13

Armida Ali Syahbana, Manajemen Otonomi Daerah Implementasi Desentralisasi Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional : "Solusi dan Evaluasi Kritis Masa Depan Ekonomi Indonesia", (Bandung ; 1999), hlm. 3. 14 Ibid, hlm. 7.

11

kompetensi, pemerintah pusat hanya menyampaikan aspek-aspek yang menjadi standar nasional bagi tiap sekolah di daerah untuk melaksanakan kurikulum tersebut. Pejabat pemerintah wilayah mensosialisasikan kebijakan tersebut ke wilayah guna mengungkap kesiapan pernagkatnya menyambut pemberlakuan desentralisasi pendidikan berikut implikasinya, sementara pihak tenaga pengajar dan para staf terkait yang secara langsung menangani peserta didik membahas kurikulum ini beserta aspek kendalanya.15 Untuk menyelaraskan desentralisasi pendidikan dengan mengacu pada sistem KBK, maka Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dibuat. Tujuannya adalah desentralisasi pendidikan tidak hanya melibatkan proses pemberian kewenangan dan pendanaan yang lebih besar ke sekolahsekolah, melainkan juga dalam hal pengaturan organisasi, proses belajar mengajar, manajemen guru, struktur dan perencanaan tingkat sekolah, dan sumber-sumber pendanaan sekolah, sehingga mereka dapat merencanakan proses belajar mengajar dengan pengembangan sekolah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.16

III. PENUTUP

Pendidikan di Indonesia menghadapi banyak permasalahan yang berat, rumit, dan menahun, sehingga mengakibatkan kinerja sistem pendidikan menjadi sangat parah. Berbagai indikator, baik kuantitatif maupun kualitatif menggambarkan rendahnya kualitas pendidikan. Permasalahan internal yang sampai saat ini belum terpecahkan berlangsung baik pada tataran makro maupun mikro dan tersebar mulai dari masalah kurikulum dan guru sampai pada masalah desentralisasi dan otonomi pendidikan. Krisis multidimensi yang ada juga merupakan masalah eksternal yang berat, dimana berlangsung perubahan yang mendasar dan drastis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Salah satu upaya untuk menyelesaikan permasalahan yang berat tersebut adalah dengan menjalankan reformasi, termasuk dalam sektor pendidikan.

15 16

Nurkholis, MBS + BAS + KBK Kualitas (Kompas edisi Senin, 10 Nopember 2003), hlm. 40 Armida Ali Syahbana, Manajemen ., hlm. 8.

12

Reformasi pendidikan dapat diejawantahkan ke dalam demokratisasi dan desentralisasi pendidikan. Otonomi dipahami secara variatif berdasarkan sudut pandang yang berbeda, meliputi kebebasan dan kemerdekaan, strategi organisasi, otoritas mengurus diri sendiri dan mengambil keputusan sendiri, power untuk melakukan kontrol terhadap diri sendiri dan kemandirian dalam pengaturan diri. Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia harus dipahami sejalan dengan prinsip negara kesatuan dan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang multikultural. Desentralisasi pendidikan melahirkan beberapa konsep penting dalam penyelenggaraan pendidikan, diantaranya ; Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Pendidikan Berbasis Masyarakat (PBM), dan Otonomi Perguruan Tinggi. Penerapan desentralisasi pendidikan, berdasarkan pengalaman pada negara-negara yang telah melaksanakan, ternyata dapat melahirkan beberapa sisi positif, diantaranya ; meningkatkan mutu pendidikan, efisiensi keuangan, memperpendek mata rantai birokrasi, dan menciptakan pemerataan serta perluasan pendidikan. Mengacu pada UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 25 tahun 1999, kewenangan pemerintah pusat dan daerah telah diatur dan dibagi secara jelas, dimana peran pemerintah pusat tidak lagi mendominasi secara mutlak terhadap segala kebijakan yang menyangkut kebutuhan daerah.

13

DAFTAR PUSTAKA

Al Humami, Amich, Pembangunan Pendidikan dalam Konteks Desentralisasi, (jakarta : 11 September 2000), Makalah.

Ali Syahbana, Armida, Manajemen Otonomi Daerah Implementasi Desentralisasi dan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional : "Solusi dan Evaluasi Kritis Masa Depan Ekonomi Indonesia", (Bandung : 1999)

H.R. Abdullah, Pelaksanaan Otonomi Luas dan Isu Federalisme sebagai suatu Alternatif, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada , 2000)

Nurkholis, MBS + BAS + KBK Kualitas, (Kompas, edisi Senin, 10 Nop 2003)

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya : Arkola , t.th)

Price, J.L. and Muller, Hand Book of Organizational Measurement, (Marshfield : Longman Inc, 1986)

Syaukani, et Al, Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002)

Syarief, Hidayat, MS. Demokratisasi dan Desentralisasi Pendidikan, dalam Prof. Dr. H.A.R. Tilaar M.Sc. Ed, Pendidikan untukMasyarakat Indonesia Baru, (Jakarta : Grasindo, 2002)

Terry, L.D. Leadership of Public Bureaucracies : The Administrator as Convestor, (London : Sage Publication, International Education and Professional Publisher, 1995)

14