P. 1
KRAMANING SEMBAH

KRAMANING SEMBAH

5.0

|Views: 249|Likes:
Dipublikasikan oleh Gusti Arya Yunedi
Sembahyang Hindu
Sembahyang Hindu

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Gusti Arya Yunedi on Apr 03, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2014

pdf

text

original

KRAMANING SEMBAH

Kramaning Sembah berasal dari kata “krama” dan “sembah.” Krama dalam hal ini berarti urut-urutan, rangkaian, tata cara atau metoda. Sedangkan sembah berarti memuja dan memuji kemuliaan dan keagungan Tuhan. Kramaning Sembah dengan demikian berarti urut-urutan atau rangkaian pelaksanaan persembahyangan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa. Berikut adalah tata cara atau urut-urutan persembahyangan dimaksud. Dimuka telah diuraikan bahwa Kramaning Sembah didahului dengan Pùjà Trisandhyà. Sesudah selesai melantunkan Mantram Trisandhyà, Pemimpin Upacara akan memimpin upacara persembahyangan atau Kramaning Sembah dengan urut-urutan seperti dibawah ini : 1. Sembah Puyung (1). 2. Sembahyang kepada Tuhan. 3. Sembahyang kepada Tuhan dan atau Dewata dalam fungsinya sebagai Iûþa Dewata. 4. Sembahyang kepada Tuhan dengan maksud untuk mohon panugrahan. 5. Sembah Puyung (2). 6. Pemercikan Tìrtha dan 7. Pemberian Bija. Dibawah ini akan diuraikan lebih lanjut urut-urutan persembahyangan termaksud secara lebih rinci. 1. Sembah Puyung : Pertama-tama Pemangku yang memimpin upacara persembahyangan, akan mengucapkan aba-aba “Sembah Puyung.” Maksudnya adalah sembahyang tanpa sarana atau tanpa bunga. Umat yang akan bersembahyang kemudian mengasapi

atau mensucikan kedua tangannya diatas dupa yang ada di depannya. Kedua tangan lalu dicakupkan dan diangkat keatas, sehingga pangkal cakupan tangan berada diatas dahi dan ujung jari tangan berada diatas ubun-ubun. Kemudian Pemimpin Upacara atau Pemangku mengucapkan Mantram : Oý Àtma Tattvàtma Suddha Mam Svaha. Artinya : Ya Tuhan, sucikanlah diri hamba. Jika umat yang bersembahyang memahami atau hafal Mantram termaksud, merekapun boleh mengucapkannya dalam hati. Jika tidak paham, agar mengucapkan terjemahannya dalam bahasa yang dikuasai. Setelah itu kedua tangan diturunkan perlahan-lahan. 2. Sembahyang kepada Tuhan : Selanjutnya Pemimpin Upacara atau Pemangku akan memberi aba-aba untuk bersembahyang kepada Tuhan dalam fungsinya sebagai Úiwa Raditya atau Àditya atau sering juga dipergunakan istilah ke Sùrya. Mereka yang bersembahyang kemudian mengambil bunga (jika ada, pergunakanlah bunga yang berwarna putih, jika tidak, dapat dipergunakan bunga dengan warna lain), lalu disucikan atau diasapi diatas dupa yang ada di depannya sambil mengucapkan sendiri Mantram berikut : Oý Puûpa Danta Ya Namaá. Artinya : Ya Tuhan, sucikanlah bunga ini. Sesudah itu bunga dijepit dengan kedua ujung jari tangan, dengan bunga tersembul diujung jari, lalu kedua cakupan tangan itu diangkat keatas, sehingga

pangkal cakupan tangan berada diatas dahi dan ujung jari tangan berada diatas ubun-ubun. Pemimpin Upacara atau Pemangku kemudian mengucapkan Mantram berikut :
Oý Àditya Sya Param Jyoti Rakta Teja Namo Stute Sveta Paòkaja Madhyasta Bhaskara Ya Namo Stute Oý Pràóàmya Bhaskara Devam Sarva Kleca Winasanam Pràóàmya Ditya Úivàrtam Bukti Mukti Warampradam Oý Rang Ring Sah Parama Úiva Ditya Ya Nama Namaá Svaha

Artinya : Ya Tuhan, hamba memuja dan menyembah pancaran kemahakuasaan dan energi ilahi Mu yang memberkati dan memberkahi jagat raya dan segenap isinya ini. Jika mereka yang bersembahyang memahami atau hafal Mantram termaksud, merekapun boleh mengucap-kannya dalam hati. Jika tidak paham, agar mengucapkan terjemahannya dalam bahasa yang dikuasai. Sesudah itu kedua tangan diturunkan perlahan-lahan sambil membuang kedepan bunga di cakupan tangan tadi. 3. Sembahyang kepada Tuhan dan atau Dewata dalam fungsinya sebagai Iûþa Dewata :

Kemudian Pemimpin Upacara atau Pemangku akan memberi aba-aba untuk bersembahyang kepada Tuhan dan atau Dewata dalam fungsinya sebagai Iûþa Dewata dengan sarana kewangen atau jika tidak ada dapat juga dengan bunga. Perlu dijelaskan bahwa Iûþa Dewata adalah fungsi Tuhan dan atau Dewata berdasarkan tempat dimana kita bersembahyang, bisa jadi dalam fungsinya sebagai Batara Brahma, Batara Úiwa dan lain-lain. Umat yang bersembahyang kemudian mengambil kewangen atau bunga lalu disucikan atau diasapi diatas dupa yang ada di depannya sambil mengucapkan sendiri Mantram dibawah ini : Oý Puûpa Daóta Ya Namaá. Artinya : Ya Tuhan, sucikanlah bunga ini. Sesudah itu kewangen atau bunga dijepit dengan kedua ujung jari tangan, dengan kewangen atau bunga tersembul diujung jari, lalu kedua cakupan tangan itu diangkat keatas sampai di dahi dengan kedua ujung ibu jari tangan berada diantara kedua kening. Pemangku lalu mengucapkan Mantram berikut : Oý Nama Deva Àdhi Sthana Ya Sarva Vyapi Vai Úiva Ya Padmàsana Eka Pratistha Ya Ardhanareúwaryai Namo Namaá untuk di pura Segara ditambah doa Oý Nagendra Krura Murtinam Gajendra Matsya Vaktram Baruóa Deva Masariram

Sarva Jagat Suddhàtmakam Artinya : Ya Tuhan, hamba memuja-Mu sebagai Batara Úiwa (Tuhan yang Maha Agung) dan merasuk ke segenap makhluk. Ya Tuhan hamba memuja-Mu sebagai Yang Maha Tunggal. Jika mereka yang bersembahyang memahami atau hafal Mantram termaksud, merekapun boleh mengucap-kannya dalam hati. Jika tidak paham, agar mengucapkan terjemahannya dalam bahasa yang dikuasai. Mantram diatas kemudian diikuti dengan Mantram bait kedua yang disebut Iûþa Dewata Pùjà, yang bunyinya disesuaikan dengan Pura-Pura atau tempattempat atau Pelinggih-Pelinggih dimana kita bersembahyang atau disesuaikan dengan fungsi-fungsi Tuhan yang kita inginkan kehadirannya. Uraian lebih lanjut mengenai Iûþa Dewata Pùjà dan bunyi Mantram bait kedua itu dapat dibaca pada Bab V. Kemudian kedua tangan diturunkan perlahan-lahan sambil membuang kedepan kewangen atau bunga di cakupan tangan tadi. 4. Sembahyang kepada Tuhan dengan maksud untuk mohon panugrahan : Dalam hal ini Pemimpin Upacara atau Pemangku akan memberi aba-aba untuk bersembahyang kepada Tuhan guna mohon berkah atau anugerah dengan menggunakan sarana kewangen atau bunga manca warna. Kemudian yang bersembahyang mengambil kewangen atau bunga lalu disucikan atau diasapi diatas dupa yang ada di depannya sambil mengucapkan sendiri Mantram berikut : Oý Puûpa Daóta Ya Namaá. Artinya :

Ya Tuhan, sucikanlah bunga ini. Sesudah itu kewangen atau bunga dijepit dengan kedua ujung jari tangan, dengan kewangen atau bunga tersembul diujung jari. Lalu kedua cakupan tangan itu diangkat keatas sampai di dahi, sehingga pangkal cakupan tangan berada diatas dahi dan ujung jari tangan berada diatas ubun-ubun. Pemimpin Upacara atau Pemangku lalu mengucapkan Mantram sebagai berikut : Oý Anugrahaka Mano Haram Deva Datta Nugrahakam Arcanam Sarva Pùjànaý Namaá Sarva Nugahakam Oý Deva Devi Maha Siddhi Yajñaòga Nirmalàtmaka Lakûmi Siddhiúca Dirghayuh Nirvigna Sukha Våddhiú Ca Oý Gring Anugraha Arcana Ya Nama Namaá Svaha Oý Gring Anugraha Manohara Ya Nama Namaá Svaha Artinya : Ya Tuhan, sembah sujud kami selalu kepada-Mu, berilah hamba santapan rohani, limpahkanlah kepada hamba anugerah, keselamatan dan kemakmuran. Ya Tuhan, Maha Pencipta, hamba bersujud dan menyembah-Mu sebagai yang melimpahkan kemakmuran, kesempurnaan dan panjang umur, semoga tiada halangan.

Jika yang bersembahyang memahami atau hafal Mantram termaksud, merekapun boleh mengucapkannya dalam hati. Jika tidak paham, agar mengucapkan terjemahannya dalam bahasa yang dikuasai. Sesudah itu kedua tangan diturunkan perlahan-lahan sambil membuang kedepan kewangen atau bunga di cakupan tangan. 5. Sembah Puyung (2): Akhirnya Pemimpin Upacara atau Pemangku akan memberi aba-aba untuk melakukan sembah terakhir, yaitu Sembah Puyung atau sembahyang tanpa sarana/tanpa bunga. Tujuannya adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas berkat dan berkahnya. Umat yang bersembahyang kemudian mensucikan atau mengasapi kedua tangannya diatas dupa yang ada di depannya. Lalu kedua tangannya dicakupkan dan diangkat keatas sampai di dahi, sehingga pangkal cakupan tangan berada diatas dahi dan ujung jari tangan berada diatas ubun-ubun. Pemimpin Upacada atau Pemangku lalu mengucapkan Mantram dibawah ini : Oý Deva Sukûma Paramacintya Ya Namaá Svaha. Oý Úàntiá, Úàntiá, Úàntià, Oý. Artinya : Ya Tuhan, terima kasih atas karuniamu. Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu. Jika yang bersembahyang memahami atau hafal Mantram termaksud, merekapun boleh mengucapkannya dalam hati. Jika tidak paham, agar mengucapkan terjemahannya dalam bahasa yang dikuasai. Sesudah itu kedua tangan diturunkan perlahan-lahan. Catatan :

Bila upacara persembahyangan dipimpin oleh Pendeta atau Empu atau Sulinggih lain yang setingkat, Mantram terakhir ini (Sembah Puyung) biasanya berbunyi seperti dibawah ini : Oý Ayur Våddhir Yaso Våddhiá Våddhiá Prajña Sukha Úrìyam Dharma Santana Våddhiá Ca Santute Sapta Våddhayaá Oý Yavam Merau Sthito Devaá Yavad Gaòga Mahitale Candrarkau Gagane Yavat Tavad Va Vijayi Bha Vet Oý Dirgahyur Astu Tathastu Oý Avignam Astu Tathastu Oý Subham Astu Tathastu Oý Sukham Bhavatu Oý Pùróam Bhavatu Oý Sreyo Bhavatu Sapta Våddhir Astu Artinya : Ya Tuhan, semoga semua karunia berupa kebahagiaan, ketentraman, kebijaksanaan dan kebahagiaan yang diberikan kepada hamba, menjadi suluh lahir batin hamba. Mudah-mudahan hamba saling mengasihi sesamanya dan semoga semua kegelapan pikiran menjadi sirna.

Ya Tuhan, hamba ibaratkan kebesaran-Mu sebagai Gunung Mahameru, hamba ibaratkan keluhuran-Mu di dunia sebagai sungai Gangga, di angkasa sebagai matahari dan bulan. Semua itu ciptaan dan kebesaran Tuhan juga. Ya Tuhan, semoga memberi panjang umur dan keselamatan. Ya Tuhan, semoga memberi keselamatan dan tiada rintangan. Ya Tuhan, semoga penjelmaan hamba baik. Ya Tuhan, semoga penjelmaan hamba sempurna. Ya Tuhan, semoga penjelmaan hamba selalu bahagia. Ya Tuhan, semoga semuanya sejahtera. 6. Pemercikan Tìrtha dan Pemberian Bija : Setelah selesai melaksanakan Sembah Puyung yang terakhir tadi, Pemimpin Upacara atau Pemangku dengan dibantu oleh para Pemangku lainnya, jika ada, akan melakukan dua kegiatan lanjutan, yaitu : A. Pemercikan Tìrtha. B. Pemberian Bija. A. Pemercikan Tìrtha : Pemimpin Upacara dan atau dibantu oleh para Pemangku lainnya memercikkan Tìrtha kepada mereka yang telah selesai bersembahyang, satu persatu secara bergiliran. Pemercikan Tìrtha ini dilakukan sebagai berikut : a. Pertama-tama Pemangku memercikkan Tìrtha diatas kepala umat sebanyak tiga kali sambil mengucapkan Mantram dibawah ini : Pada percikan pertama, diucapkan Mantram : Oý Prathama Suddha Pada percikan kedua, diucapkan Mantram :

Oý Dwitya Suddha Pada percikan ketiga, diucapkan Mantram : Oý Tritya Suddha, Suddha, Suddha, Suddham Wariastu Artinya : Pertama suci, kedua suci, ketiga suci, suci, suci, semoga bersihlah dosa-dosanya dengan Tìrtha ini. Mereka yang bersembahyang sendiri, pada saat dipercikkan Tìrtha oleh Pemangku, kalau bisa boleh juga mengucapkan sendiri secara berturutturut, Mantram seperti dibawah ini, dalam hati : Oý Ang Brahma Amåta Ya Namaá Oý Ung Wiûóu Ya Namaá Oý Mang Iúwara Ya Namaá Artinya : Ya Tuhan dalam wujud Brahma, Wiûóu dan Iúwara anugerahkanlah kesucian dalam diri hamba. Kalau tidak mengerti atau tidak tahu Mantram itu, ucapkanlah dalam hati terjemahannya dalam bahasa yang dikuasai. b. Kemudian Pemangku memberikan Tìrtha untuk diminum oleh umat yang bersembahyang juga sebanyak tiga kali, sambil mengucapkan Mantram dengan urutan-urutan seperti berikut : Pertama : Oý Oý Úiwa amåta Ya Namaá

Kedua : Oý Oý Sada Úiwa Amåta Ya Namaá Ketiga : Oý Oý Parama Úiwa Ya Namaá Artinya : Ya Tuhan dalam wujud Úiwa, Sada Úiwa dan Parama Úiwa anugerahkanlah kesucian kepada jiwa raga umat ini. c. Sesudah itu Pemangku akan memberikan Tìrtha di tangan umat yang bersembahyang untuk diraupkan sendiri olehnya, juga sebanyak tiga kali sambil mengucapkan Mantram dengan urut-urutan sebagai berikut : Pemberian Tìrtha yang pertama : Oý Sarìra Paripùróa Ya Namaá Pemberian Tìrtha yang kedua : Oý Ang Ung Mang Gaòga Amåta Ya Namaá Sarìra Suddha Pramantya Ya Namaá Pemberian Tìrtha yang ketiga : Oý Ang Sama Sampùróa Ya Namaá Artinya : Ya Tuhan, anugerahkanlah kepadanya sinar suci-Mu agar

sempurnalah jiwa raganya. d. Akhirnya Pemangku memercikkan sekali lagi (hanya sekali saja) Tìrtha ke badan Umat sambil mengucapkan Mantram :

Oý Àtma Raga Sarìra Parisuddha Ya Namaá. Artinya : Ya Tuhan, sucikanlah badannya sebagai tempat àtman yang suci. B. Pemberian Bija : Setelah selesai memercikkan atau memberikan Tìrtha, Pemangku langsung memberikan Bija atau Wija kepada mereka yang selesai bersembahyang. Bija tersebut oleh umat yang bersembahyang ditempelkan di badan seperti dijelaskan dibawah ini : a. Tiga Wija atau Bija oleh mereka yang bersembah yang ditempelkan di tengah-tengah dahi yakni antara kedua kening, sambil mengucapkan sendiri Mantram berikut : Oý Criyam Bhawantu. Artinya : Ya Tuhan, semoga hamba selalu bahagia. b. Tiga Wija atau Bija oleh mereka yang bersembah yang ditempelkan di dada bagian atas (pangkal tenggorokan), sambil mengucapkan sendiri Mantram berikut : Oý Sukham Bhawantu. Artinya : Ya Tuhan, semoga hamba selalu bahagia. c. Tiga Wija atau Bija oleh mereka yang bersembah yang ditelan, sambil mengucapkan sendiri Mantram dibawah ini :

Oý Pùróaý Bhawantu. Oý Kûama Sampùróa Ya Namaá Svaha. Artinya : Semoga hamba menjadi semakin sempurna. Catatan : Dari uraian diatas ternyata bahwa tidak ada Bija atau Wija yang ditempelkan di kening sebelah kiri ataupun kanan, di daun telinga atau bagian tubuh lainnya. Yang ditempelkan juga hanya tiga biji saja, jadi tidak dalam jumlah banyak seperti yang sering terlihat dalam praktek persembahyangan sehari-hari.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->