Anda di halaman 1dari 19

FUNGSI DAN PERANAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Dosen : Asmuni, S.Ag.

Disusun Oleh : 1. ISNAYATI ........... (07 601 1374) 2. ISTIQOMAH ........ (07 601 1375) 3. JOKO WASKITO ... (07 601 1376)

FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG 2007

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... DAFTAR ISI ........................................................................................ BAB I BAB II BAB III PENDAHULUAN .................................................................. PERMASALAHAN ................................................................ PEMBAHASAN MASALAH .................................................... ...................................................................................... 7

1 2 3 6 5

A. Macam Kurikulum dan Periodesasi Kurikulum di Indonesia B. Fungsi dan Peranan Pengembangan Kurikulum ........... 10 BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 15 A. Simpulan ...................................................................... 15 B. Saran ............................................................................ 15 BAB V PENUTUP ........................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 17

BAB I PENDAHULUAN

Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik, calon guru harus memiliki empat standar kompetensi guru, yaitu (1) kompetensi pedagogis, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. Kompetensi pedagogis adalah kompetensi yanga terkait dengan penguasaan guru tentang teori belajar mengajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, termasuk di dalamnya penguasaan terhadap hal-hal yang terkait dengan kurikulum. Mata kuliah Pengembangan Kurikulum ini diharapkan dapat menjadi bekal para calon guru tentang berbagai aspek yang terkait kurikulum dan pembelajaran. Dalam sistem pendidikan nasional, kita mengenal tiga komponen utama, yakni (1) peserta didik, (2) guru, dan (3) kurikulum.1 Dalam proses belajar mengajar, ketiga komponen tersebut terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Tanpa peserta didik, guru tidak akan dapat melaksanakan proses pembelajaran. Tanpa guru para siswa juga tidak akan dapat secara optimal belajar. Tapa kurikulum, guru pun tidak akan mempunyai bahan ajar yang akan diajarkan kepada peserta didik. Secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latim
curir yang artinya pelari, dan curere yang artinya tempat berlari. Jadi istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai dengan finish. In The Curriculum, the first textbook published on the subject, in 1918, John Franklin Bobbitt said that curriculim, as an idea, has its roots in the Latin word for race-course, explaining the curriculum as the course of deeds and experiences through which children become the adults they should be, for success in adult society. Furthermore, the curriculum encompasses the entire scope of formative deed and experience occurring in and out of school, and not experiences occurring in school; experiences that are

Widiastono, Tonny D. Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

unplanned and undirected, and experiences intentionally directed for the purposeful formation of adult members of society.2

Secara terminologis, istilah kurikulum yang digunakan dalam dunia pendidikan dengan pengertian sebagai sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa untuk mencapai satu tujuan pendidikan atau kompetensi yang ditetapkan. Sebagai tanda atau bukti bahwa seseorang peserta didik telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan adalah dengan sebuah ijazah atau sertifikat.
Pengertian kurikulum mengalami perkembangan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Prof. Dr. H. Engkoswara, M.Ed, guru besar Universitas Pendidikan Indonesia telah merumuskan perkembangan pengertian kurikulum tersebut dengan menggunakan formula sebagai berikut:

Para pakar kurikulum telah mencoba untuk mendefinisikan kurikulum. Dari sekian banyak definisi tersebut dalam modul ini akan dikemukakan beberapa definisi.3

In The Curriculum, the first textbook published on the subject, in


1918, John Franklin Bobbitt said that, the curriculum is a social engineering arena. Per his cultural presumptions and social definitions, his curricular formulation has two notable features: (i) that scientific experts would best be qualified to and justified in designing curricula based upon their expert knowledge of what qualities are desirable in adult members of society, and which experiences would generate said qualities; and (ii) curriculum defined as the deeds-experiences the student ought to have to become the adult he or she ought become. Hence, he defined the curriculum as an ideal, rather than as the concrete reality of the deeds and experiences that form people to who and what they are. Contemporary views of curriculum reject these features of Bobbitt's postulates, but retain the basis of curriculum as the course of experience(s) that forms human beings in to persons. Personal formation via curricula is studied at the personal level and at the group level, i.e. cultures and societies (e.g. professional formation, academic discipline via historical experience). The formation of a group is reciprocal, with the formation of its individual participants.
McNeil, John. 1985. Curriculum, A Comprehensive Introduction. Boston: Little, Brown and Company. 3 Ibid.
2

Although it formally appeared in Bobbitt's definition, curriculum as


a course of formative experience also pervades John Dewey's work (who disagreed with Bobbitt on important matters). Although Bobbitt's and Dewey's idealistic understanding of "curriculum" is different from current, restricted uses of the word, curriculum writers and researchers generally share it as common, substantive understanding of curriculum. In formal education or schooling (cf. education), a curriculum is the set of courses, course work, and content offered at a school or university. A curriculum may be partly or entirely determined by an external, authoritative body (i.e. the National Curriculum for England in English schools). In the U.S., each state, with the individual school districts, establishes the curricula taught. Each state, however, builds its curriculum with great participation of national academic subject groups selected by the United States Department of Education, e.g. National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) for mathematical instruction. In Australia each state's Education Department establishes curricula. UNESCO's International Bureau of Education has the primary mission of studying
curricula and their implementation worldwide. Curriculum means two things: (i) the range of courses from which students choose what subject matters to study, and (ii) a specific learning program. In the latter case, the curriculum collectively describes the teaching, learning, and assessment materials available for a given course of study. Edward A. Krug mendefinisikan kurikulum sebagai berikut. A curriculum consists of the means used to achieve or carry out given purposes of schooling.

BAB II PERMASALAHAN

Pengembangan kurikulum khususnya di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami perubahan sesuai dengan tujuan dan juga sebagai langkah menuju penyempurnaan. Sesuai dengan hal tersebut, dalam makalah ini akan kami paparkan beberapa permasalahan yang telah kami rangkum di dalamnya. Berbagai pertanyaan-pertanyaan tersebut mencakup : 1. Dalam kurikulum pengembangan di Indonesia ada beberapa macam kurikulum dan periodesasinya? 2. Apakah fungsi dan peranan daripada pengembangan kurikulum tersebut? Dari berbagai pertanyaan yang muncul, untuk lebih jelas dan gamblang dalam menjelaskannya akan kami tulis dalam makalah ini, khususnya dalam bab 3 mengenai pembahasan masalah.

BAB III PEMBAHASAN MASALAH

A. MACAM KURIKULUM DAN PERIODESASI KURIKULUM DI INDONESIA Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah kurikulum sebagai berikut:

1. Kurikulum Ideal, yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal,


sesuatu yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum

2. Kurikulum Aktual, yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses


pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar.

3. Kurikulum Tersembunyi (hidden curriculum), yaitu segala sesuatu


yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum faktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh, akan menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian peserta didik.

Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita dapat membedakan:

1. Kurikulum Terpisah-pisah (separated curriculum), kurikulum


yang mata pelajarannya dirancang untuk diberikan secara terpisahpisah. Misalnya, mata pelajaran sejarah diberikan terpisah dengan mata pelajaran geografi, dan seterusnya.

2. Kurikulum Terpadu (integrated curriculum), kurikulum yang bahan


ajarnya diberikan secara terpadu. Misalnya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan fusi dari beberapa mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan sebagainya. Dalam proses pembelajaran dikenal dengan pembelajaran tematik yang diberikan di kelas rendah Sekolah Dasar. Mata pelajaran matematika, sains, bahasa Indonesia, dan beberapa mata pelajaran lain diberikan dalam satu tema tertentu.

3. Kurikulum Terkorelasi (corelated curriculum), kurikulum yang


bahan ajarnya dirancang dan disajikan secara terkorelasi dengan bahan ajar yang lain.

Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat dibedakan menjadi:

1. Kurikulum Nasional (national curriculum), yakni kurikulum yang


disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional.

2. Kurikulum Negara Bagian (state curriculum), yakni kurikulum


yang disusun oleh masing-masing negara bagian, misalnya di masingmasing negara bagian di Amerika Serikat.

3. Kurikulum Sekolah (school curriculum), yakni kurikulum yang


disusun oleh satuan pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan diferensiasi dalam kurikulum.

Secara umum, perubahan dan penyempurnaan kurikulum dilakukan setiap sepuluh tahun sekali. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan agar kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologinya. Kurikulum yang pernah diberlakukan secara nasional di Indonesia dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut: 4 Tahun 1947 Kurikulum Rencana Pelajaran 1947 Keterangan Kurikulum ini merupakan kurikulum pertama di Indonesia setelah kemerdekaan. Istilah kurikulum masih belum digunakan. Sementara istilah yang digunakan adalah Rencana Pelajaran Kurikulum ini masih sama dengan kurikulum sebelumnya, yaitu Rencana Pelajaran 1947 Kurikulum ini merupakan kurikulum terintegrasi pertama di Indonesia. Beberapa masa pelajaran, seperti Sejarah, Ilmu Bumi, dan beberapa cabang ilmu sosial mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies). Beberapa mata pelajaran, seperti Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya mengalami fusi menjadi Ilmu Pengetahun Alam (IPS) atau yang sekarang sering disebut Sains. Kurikulum ini disusun dengan kolomkolom yang sangat rinci. Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975 Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1984 Kurikulum ini belum diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia. Beberapa sekolah telah dijadikan uji coba dalam rangka proses pengembangan kurikulum ini KBK sering disebut sebagai jiwa KTSP, karena KTSP sesungguhnya telah mengadopsi KBK. Kurikukulum ini dikembangkan oleh BSNP (Badan

1954

1968

Rencana Pelajaran 1954 Kurikulum 1968

1975 1984 1994 2004

Kurikulum 1975 Kurikulum 1984 Kurikulum 1994 Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

2008

Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II. 1994. Kurikulum Untuk Abad Ke-21. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

(KTSP)

Standar Nasional Pendidikan).

Tabel Kronologis Perkembangan Kurikulum di Indonesia B. FUNGSI DAN PERANAN PENGEMBANGAN KURIKULUM5 Sebelum membahas fungsi dan peranan pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu akan dipaparkan fungsi dan peranan kurikulum Pendidikan Agama Islam dalam proses pendidikan, yaitu : 1. Fungsi Kurikulum dalam rangka Mencapai Tujuan Pendidikan Kurikulum pada suatu sekolah merupakan suatu alat atau usaha dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan oleh sekolah tertentu yang dianggap cukup tepat dan krusial untuk dicapai. Sehingga salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah meninjau kembali tujuan yang selama ini digunakan oleh sekolah bersangkutan. Maksudnya bahwa bila tujuan-tujuan yang diinginkan belum tercapai, maka orang cenderung untuk meninjau kembali kurikulumnya. Tujuan pendidikan tertinggi sampai tujuan pendidikan terendah, yakni tujuan akan tercapai setelah berakhirnya aktivitas pendidikan atau aktivitas belajar.6 Adapun tujuan pendidikan yang dimaksud adalah tujuan pendidikan nasional sampai pada tujuan pembelajaran baik umum maupun khusus. Tujuan-tujuan pendidikan tersebut harus dicapai secara bertingkat. Tingkatan paling bawah harus mendukung untuk tercapainya tujuan pendidikan di atasnya sampai pada tujuan pendidikan nasional. Jadi fungsi kurikulum di sini adalah merupakan suatu alat atau jembatan untuk mencapai tujuan, oleh sebab itu hasilnya harus dapat memenuhi tujuan yang dikehendaki. 2. Fungsi Kurikulum bagi Siswa
Muslam, M.Ag. Pengembangan Kurikulum, PKPI2: Semarang, 2008, h. 70. Abd. Aldi, M. Ed., Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Gaya Media Pratama, Jakarta: 1999, h. 135.
6 5

Kurikulum sebagai organisasi berlajar tersusun disiapkan untuk murid atau siswa sebagai salah satu konsumsi pendidikan mereka. Dengan demikian maka diharapkan mereka akan mendapat sejumlah pengalaman baru yang kelak kemudian hari dapat dikembangkan seirama dengan perkembangan siswa, guna melengkapi bekal hidupnya. 3. Fungsi Kurikulum bagi Guru Ada beberapa fungsi kurikulum bagi guru atau pendidik, yaitu : a. b. Sebagai pedoman kerja dalam menyusun atau mengorganisasikan pengalaman belajar siswa. Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap perkembangan anak didik dalam rangka menyerap sejumlah pengalaman yang diberikan. Dengan adanya kurikulum sudah tentu tugas guru atau pendidik sebagai pengajar dan pendidik akan lebih terarah. Pendidik juga merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dan sangat penting dalam proses pendidikan dan merupakan salah satu komponen yang berinteraksi secara aktif dalam pendidikan. 4. Faktor Kurikulum bagi Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah Kepala Sekolah dalam hal ini memiliki tuga ganda, yaitu sebagai seorang administrator dan sebagai supervisor, disamping itu juga mempunyai tanggung jawab dalam kurikulum, oleh karena itu fungsi kurikulum bagi kepala sekolah dan para pembina sekolah adalah : a. b. Sebagai pedoman dalam mengadakan fungsi supervisi yaitu memperbaiki situasi belajar. Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi belajar anak ke arah yang lebih baik.

c.

Sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi dalam memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki situasi mengajar.

d.

Sebagai seorang administrator, maka kurikulum dapat dijadikan pedoman untuk mengembangkan kurikulum lebih lanjut.

e.

Sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi kemajuan belajar mengajar.7

5. Fungsi Kurikulum bagi Orang Tua Siswa Kurikulum bagi orang tua siswa mempunyai fungsi agar orang tua dapat berpartisipasi membantu usaha sekolah dalam memajukan putra dan putrinya. Bantuan yang dimaksud dapat berupa konsultasi langsung dengan sekolah atau guru mengenai masalah-masalah yang menyangkut anak-anak mereka. Bantuan yang berupa materi dari orang tua siswa dapat melalui lembaga Komite Sekolah atau Dewan Pendidikan atau BP3. dengan membaca dan memahami kurikulum sekolah, para orang tua tersebut dapat mengetahui pengalaman belajar yang diperlukan anak-anak mereka. Dengan demikian partisipasi orang tua ini pun tidak kalah pentingnya dalam menyukseskan proses belajar mengajar di sekolah. Meskipun orang tua telah menyerahkan anak-anak mereka kepada sekolah agar diajarkan dengan ilmu pengetahuan dan dididik menjadi orang yang bermanfaat bagi pribadinya, orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Keberhasilan tersebut merupakan suatu sistem bekerjasama berdasarkan fungsi masing-masing antara orang tua, sekolah, guru atau pendidik. 6. Fungsi Kurikulum bagi Sekolah pada Tingkat di Atasnya Selain berfungsi bagi sekolah yang bersangkutan, kurikulum suatu sekolah berfungsi pula bagi sekolah pada tingkat di atasnya.
7

Henyat Soetopo, Drs. Westy Soeamanto, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, h.

19.

Ada dua jenis fungsi yang dapat kita tinjau disini, yaitu : a. Pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan Dengan mengetahui kurikulum yang digunakan oleh suatu sekolah 1) Bila sebagian dari kurikulum sekolah tersebut telah digunakan pada sekolah yang berada di bawahnya, maka sekolah dapat meninjau kembali perlu tidaknya bagian tersebut diajarkan lagi. 2) Bila kecakapan-kecapakan tertentu yang dibutuhkan untuk mempelajari kurikulum suatu sekolah belum diajarkan pada sekolah di bawahnya sekolah dapat mempertimbangkan untuk memasukkan program mengenai kecakapan-kecakapan tersebut kedalam kurikulum b. Penyiapan tenaga baru Bila suatu sekolah berfungsi menyiapkan tenaga baru bagi guru sekolah yang berada di bawahnya, maka sekolah itu perlu mengetahui kurikulum sekolah yang berada di bawahnya. Pengetahuan kurikulum di bawahnya menyangkut pengetahuan isi, susunan (organisasi maupun cara mengaarinya). 7. Fungsi Kurikulum bagi Masyarakat dan Pemakai Lulusan Sekolah Selain berfungsi bagi sekolah yang bersnagkutan dan sekolah pada tingkat di atasnya, kurikulum yang bersangkutan dan sekolah pada kegiatan diantaranya kurikulum suatu sekolah berfungsi pula bagi masyarakat dan pihak pemakai lulusan sekolah tersebut. Dengan mengetahui suatu kurikulum sekolah, masyarakat pemakai lulusan dapat melakukan sekurangkurangnya dua hal : a. Ikut memberikan bantuan guna memperlancar program pendidikan yang membutuhkan kerjasama dengan pihak orang tua atau masyarakat.

b.

Ikut memberikan kritik atau saran yang membangun dalam rangka menyempurnakan program pendidikan di sekolah agar lebih serasi dengan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja.

Setelah dibahas fungsi-fungsi kurikulum sebagaimana tersebut di atas, berikut ini akan dibahas fungsi dan peranan pengembangan kurikulum sebagai berikut : 1. Fungsi Pengembangan Kurikulum Mengembangkan kurikulum merupakan suatu keharusan dan tuntutan, sehingga kurikulum dipandang sebagai sesuatu yang tidak statis akan tetapi suatu yang dinamis, sehingga harus dipertimbangkan, sebab pengembangan kurikulum tersebut memiliki beberapa fungsi sebagai berikut : a. Menyesuaikan kurikulum dengan potensi lingkungan, masyarakat, peserta didik, dan perkembangan Ilmu Teknologi (IPTEK). b. Pemenuhan kebutuhan masyarakat dan peserta didik (pemenuhan ketenagakerjaan). c. Perbaikan (evaluasi) dan penyempurnaan kurikulum secara bertahap. d. Rekonstruksi kurikulum (sebagai feed back). 2. Peranan Pengembangan Kurikulum Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis, masih selalu dikembangkan karena pengembangan tersebut memiliki peranan yang sangat penting terutama bagi peserta didik. Adapun peranan pengembangan kurikulum dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : a. Konservatif Yang dimaksud adalah mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada anak didik atau genenrasi muda. Sekolah sebagai suatu lembaga sosial

sangat berperan penting dalam mempengaruhi dan membina tingkah laku anak sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada di lingkungan masyarakat, sejalan dan selaras dengan peranan pendidikan sebagai suatu proses sosial. b. Evaluatif (kritis) Maksudnya ialah kurikulum itu selain mewariskan atau mentransmisikan nilai-nilai generasi muda, juga sebagai alat untuk mengevaluasi kebudayaan yang ada. c. Kreatif Dalam arti menciptakan dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masa mendatang dalam masyarakat. Guna membantu setiap individu dalam mengembangkan potensi yang ada padanya, kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berfikir, berkemampuan dan ketrampilan yang baru, dalam arti memberikan manfaat bagi masyarakat. 8

Abd. Idi, M.Ed. Op. Cit.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Pemaparan demi pemaparan yang telah kami tulis dalam makalah ini merupakan hal yang bisa dikatakan lumrah yang dilalui oleh umumnya manusia sebagai makhluk yang dapat berkembang. Untuk itu dalam makalah ini dapat kami ambil kesimpulankesimpulan yang diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Dari berbagai macam bentuk kurikulum yang ada, intinya bahwa hal tersebut merupakan alat sebagai proses demi peningkatan pengetahuan masyarakat agar dapat bersaing dengan negara lain, khususnya dalam hal IPTEK atau sumber daya manusia. 2. Sebagai langkah dalam melakukan proses peningkatan pengetahuan tersebut perlu dilakukan perubahan demi perubahan dalam hal kurikulum agar tidak terasa membosankan. 3. Dapat diketahui bahwa fungsi dan peranan suatu pengembangan kurikulum dalam basis pendidikan memang sangat diperlukan dan bisa dibilang hal tersebut adalah sangat vital, karena nantinya dapat menentukan hasil yang akan diperoleh pada saat menempun pendidikan. B. Saran Sebagai pertimbangan dalam makalah ini kami juga mengetengahkan beberapa saran-saran yang mungkin bisa dipetik sebagai bahan acuan guru dalam mengajar, yakni sebagai berikut 1. Sebagai seorang guru hendaknya memiliki acuan (kurikulum) dalam mendidik anak didiknya sehingga akan memperoleh hasil yang maksimal.

2. Hendaklah menggunakan kurikulum yang sesuai, sehingga antara guru dan peserta didik memiliki koordinasi dalam proses belajar mengajar.

BAB V PENUTUP

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, berkat rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tanpa halangan suatu apapun sebagai bagian dari tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum yang diampu oleh Dosen yang terhormat Bapak Asmuni, S.Ag. Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bimbingan dan arahan beliau yang telah memberikan berbagai pengertian dan pemahaman mengenai ilmu yang berkaitan dengan kurikulum khususnya yang berkaitan dengan pengembangannya. Selain itu buku-buku referensi juga kami pakai sebagai penguat makalah ini, yang mana nantinya semoga dapat bermanfaat untuk kami pada khususnya, dan pembaca pada umumnya. Makalah ini juga tidak lepas dari peran para pembaca yang dengan rendah hati kami meminta sebuah kritik dan sarannya sebagai bahan penyempurnaan, sehingga dapat memperbaiki dan menjadikan kepastian (valid) data-data dalam makalah ini. Demikian kiranya yang dapat kami ketengahkan dalam makalah ini, semoga dalam pembahasan ini dapat menjadikan manfaat bagi kita sekalian. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Aldi, M. Ed., Drs. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Gaya Media Pratama, Jakarta: 1999, h. 135. Henyat Soetopo, Drs. Westy Soeamanto, Drs. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, h. 19. Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II. 1994. Kurikulum Untuk Abad Ke-21. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. McNeil, John. 1985. Curriculum, A Comprehensive Introduction . Boston: Little, Brown and Company. Muslam, M.Ag. Pengembangan Kurikulum, PKPI2: Semarang, 2008, h. 70. Oemar Hamalik. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Rochman Natawidjaja (Ed). 1979. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum, Alat Peraga, dan Komunikasi Pendidikan . Jakarta: Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dari Konsepsi Ke Implentasi. Yogyakarta: Hikayat Publishing. Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing. Widiastono, Tonny D. Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.