Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Gerodontologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang proses penuaan yang berhubungan dengan penyakit dan perubahan-perubahan yang terjadi pada rongga mulut. Menjadi manula secara alami akan dialami oleh setiap orang. Prosesnya tidak dapat dihindari, dicegah atau ditolak. Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki, mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Pada lanjut usia, terjadi perubahan-perubahan degeneratif, fisiologis dan biologi yang sangat kompleks pada jaringan tubuh. Sebagaimana halnya pada bagian tubuh lainnya keadaan rongga mulut pada usia lanjut akan mengalami beberapa perubahan, baik pada jaringan keras maupun pada jaringan lunak mulut. Perubahan tersebut dapat diperburuk dengan kondisi sistemik ataupun obatobatan yang dikonsumsi yang kemudian berpengaruh pada kondisi rongga mulut.Pemahaman lebih baik. Dengan kondisi lansia yang semakin menurun juga akan berpengaruh pada kondisi fisik dan sosial pasien sehingga mempengaruhi karakter dari lansia. Oleh karena itu, diperlukan teknik-teknik khusus dalam melakukan pelayanan terhadap lansia. mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan merupakan hal yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan lansia yang

1.2 TUJUAN PENULISAN 1.2.1 Tujuan Instruksional Umum Setelah pembelajaran modul ini selesai, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan tentang proses penuaan serta dampak dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam rongga mulut lansia baik secara fisiologis, morfologi, maupun patologis. 1.2.2 Tujuan Instruksional Khusus Setelah pembelajaran dengan modul ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan tentang pengertian dan batasan lansia 2. Menjelaskan pertumbuhan lansia dan dampaknya pada pola pelayanan kesehatan gigi dan mulut 3. Menjelaskan tentang teori-teori penuaan 4. Menjelaskan tentang perubahan fisiologis maupun morfologis pada jaringan gigi, mukosa mulut, gingiva, periodontal, kelenjar ludah, tulang alveolar dan otot 5. Menjelaskan tentang penyakit-penyakit yang sering dijumpai pada lansia serta dampakanya pada rongga mulut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SKENARIO Seorang laki-laki umur 58 tahun datang berobat ke RSGM, setelah menunggu cukup lama pasien bertemu dokter gigi dan mengeluh giginya goyang, gusi sering sakit dan berdarah, nafsu makan berkurang, susah mengunyah dan menelan. Pasien juga mengeluh cepat lelah dan berat badan semakin turun. 2.2 KATA/KALIMAT KUNCI 1. Laki-laki berumur 58 tahun 2. Gusi sering sakit dan berdarah 3. Nafsu makan berkurang 4. Susah mengunyah dan menelan 5. Cepat lelah dan berat badan semakin turun 6. Mengeluh giginya goyang 2.3 PERTANYAAN PENTING 1. Jelaskan pengertian lansia dan batasan-batasan lansia ! 2. Bagaimana demografi pertumbuhan lansia di Indonesia dan dampaknya pada masyarakat ? 3. Jelaskan pengertian menua dan penuaan serta teori-teori penuaan ! 4. Faktor-faktor apa yang dapat mempercepat proses penuaan yang terjadi secara fisiologis ?

5. Jelaskan perubahan-perubahan morfologis dan fisiologis yang dapat terjadi terhadap rongga mulut lansia ! 6. Apa penyebab keluhan pada pasien yang berkaitan dengan berbagai perubahan kondisi rongga mulut pada lansia ? 7. Bagaimana kondisi psikologis secara umum pada lansia ? 8. Jelaskan penyakit-penyakit sistemik yang sering dijumpai pada lansia dan pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi terhadap kondisi rongga mulut lansia ! 9. Apa diagnosis pada kasus ? 10. Jelaskan perawatan yang dilakukan pada pasien dan tahap-tahapnya ! 11. Jelaskan pola pelayanan kesehatan pada lansia !

2.4 JAWABAN PERTANYAAN DEFINISI DAN BATASAN-BATASAN LANSIA Lansia merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat merek mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. 1 Lansia yaitu seseorang yang mengalami proses penuaan secara terus-menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel. 2

Batasan lanjut usia bervariasi, diantaranya sebagai berikut : 1 1. Batasan usia menurut WHO meliputi : Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45- 59 tahun Lanjut usia (elderly), antara 60-74 tahun Lanjut usia tua (old), antara 75-90 tahun Usia sangat tua (very old), diatas 90 tahun

2. Menurut Prof. Dr. Koesmanto Setyonegoro, lanjut usia dikelompokkan menjadi : Usia dewasa muda (elderly adulthood), yaitu 18 atau 19-25 tahun Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas, yaitu 25-60 tahun atau 65 tahun Lanjut usia (geriatric age), yaitu lebih dari 65 tahun atau 70 tahun yang terbagi lagi menjadi : Young old, yaitu 70-75 tahun Old, yaitu 75-80 tahun Very old, yaitu diatas 80 tahun

3. Menurut UU No.4 tahun 1965 pasal 1, seseorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.

4. Menurut UU No. 13 tahun 1998, lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun.

5. Nugroho menyimpulkan pembagian umur berdasarkan pendapat beberapa para ahli, bahwa yang disebut lanjut usia adalah orang yang berumur 65 tahun ke atas.

DEMOGRAFI

PERTUMBUHAN

LANSIA

DI

INDONESIA

DAN

DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT Penuaan penduduk telah berlangsung secara pesat terutama di negara berkembang pada dekade pertama abad Millenium ini. Di Indonesia tahun 2000 proporsi penduduk lanjut usia (lansia) adalah 7,18% dan tahun 2010 meningkat sekitar 9,77%. Sedangkan tahun 2020 diperkirakan proporsi lanjut usia dari total penduduk Indonesia dapat mencapai 11,34%. Tahun 2010 proporsi penduduk lanjut usia telah menyamai proporsi penduduk balita. Pada saat ini, penduduk lanjut usia berjumlah sekitar 24 juta dan tahun 2020 diperkirakan sekitar 30-40 juta jiwa. Indonesia merupakan negara tertinggi dalam pertumbuhan penduduk lanjut usia serta negara keempat dalam hal berpenduduk struktur tua setelah China, India, dan Amerika Serikat. 3 Hal yang menarik untuk dibahas dengan terjadinya peningkatan penduduk lansia ini adalah pandangan bahwa lansia bergantung kepada bagian penduduk yang lain,

terutama pada pemenuhan kebutuhan hidupnya. Selain itu, keberadaan lansia juga dikaitkan dengan perhitungan rasio ketergantungan (dependency ratio), yang merupakan perbandingan antara penduduk usia produktif dengan penduduk usia nonproduktif termasuk didalamnya adalah lansia. Jika penduduk lansia tersebut semakin meningkat jumlahnya, maka beban penduduk usia produktif akan semakin besar. Umumnya lansia di Indonesia masih dapat melakukan berbagai aktivitas dan masih banyak berperan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Tidaklah mengherankan bila pada kenyataannya lansia di Indonesia masih banyak yang harus bekerja, dan yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa lansia memang masih aktif di pasar kerja dan berusaha untuk tidak tergantung pada penduduk lainnya. Namun di pihak lain dapat menjadi masalah jika mereka tidak diperhatikan sebagaimana mestinya.

DEFINISI MENUA, PENUAAN, SERTA TEORI-TEORI PENUAAN Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. 1 Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan fenomena yang kompleks multidimensional yang dapat diobservasi di dalam satu sel dan berkembang sampai pada keseluruhan sistem. 4 Teori-teori proses penuaan sebagai berikut : 1,5 1. Teori genetic clock

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Tiap spesies mempunyai didalam nuclei (inti sel) nya suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita itu berhenti akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang katastrofal.

2. Mutasi somatik (Teori error catastrophe) Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik.sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi zat kimia dapat memperpendek umur, sebaliknya menghindari terkenanya radiasi atau tercemar zat kimia yang bersifat karsinogenik atau toksik, dapat memperpanjang umur. Menurut tori ini terjadi mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. Mekanisme pengontrolan genetik dalam tingkat sub seluler dan molecular biasa disebut juga hipotesis Error Catastrophe. Menurut hipotesis tersebut, menua disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang beruntun. Sepanjang kehidupan setelah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, terjadi kesalahan dalam proses transkripsi maupun dalam proses translasi. Kesalahan tersebut akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah. Kesalahan tersebut dapat berkembang secara eksponensial dan akan menyebabkan terjadinya reaksi metabolisme yang salah, sehingga akan mengurangi fungsional sel. Apalagi jika terjadi pula kesalahan dalam proses translasi (pembuatan protein), maka terjadi kesalahan yang makin banyak, sehingga terjadilah katastrop.

3. Teori imunitas Mutasi yang berulang atau perubahan protein pascatranslasi, dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition) jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun. Hasilnya dapat pula berupa reaksi antigen/antibodi yang luas mengenai jaringan-jaringan beraneka ragam. Salah satu bukti yang ditemukan ialah bertambahnya prevalensi auto antibodi bermacam-macam pada orang lanjut usia. Di pihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel kanker menjadi menurun, sehingga sel kanker leluasa membelah-belah. Inilah yang menyebabkan terjadinya kanker meningkat sesuai dengan meningkatnya umur.

4. Teori menua akibat metabolisme Pada tahun 1935, McKay et al. memperlihatkan bahwa pengurangan intake kalori pada rodentia muda akan mengahambat pertumbuhan dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur karena penurunan kalori tersebut, antara lain disebabkan karena menurunnya salah satu atau beberapa proses metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang merangsang poliferasi sel, misalnya insulin, dan hormon pertumbuhan.

5. Kerusakan akibat radikal bebas Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, dan didalam tubuh jika fagosit pecah, dan sebagai produk sampingan didalam rantai pernafasan didalam mitokondria. Untuk organisme aerobik, radikal bebas terutama terbentuk pada waktu respirasi (aerob) didalam mitokondria, karena 90% oksigen yang diambil tubuh, masuk kedalam mitokondria. Waktu terjadi proses respirasi tersebut oksigen dilibatkan dalam mengubah bahan bakar menjadi ATP, melalui enzimenzim respirasi didalam mitokondria, maka radikal bebas (RB) akan dihasilkan sebagai zat antara. RB yang terbentuk tersebut adalah: superoksida (O 2), radikal hidroksil (OH), dan juga peroksida hydrogen (H2O2). RB berisfat merusak, karena sangat reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh, seperti dalam membran sel, dan dengan gugus SH.

6. Teori wear and tear Dikatakan bahwa tubuh dan sel-selnya rusak karena sering digunakan dan disalahgunakan (overuse and abuse). Jika dipakai berlebihan tentu akan lebih cepat rusak. Organ-organ tubuh kita menjadi cepat rusak bila ada toksin yang kita dapatkan melalui makanan dan minuman ataupun lingkungan. Tetapi kerusakan ini tidak terbatas pada organ melainkan juga terjadi di tingkat sel.

7. Teori neuro-endokrin Teori ini berdasarkan peranan berbagai hormon bagi fungsi organ tubuh. Hormon tubuh ini diatur oleh sistem jaringan biokimiawi yang kompleks dan rumit. Pada proses penuaan, produksi hormon tubuh akan berkurang sehingga

10

kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri menjadi menurun yang akhirnya mengganggu berbagai sistem tubuh. Oleh karena itu, para ahli mengatakan bahwa terapi hormon pengganti adalah penting untuk menunda proses penuaan.

8. Teori cross linking Ternyata dengan bertambah tua, protein manusia atau DNA dan molekul lainnya akan saling melekat dan memilin. Hal ini akan mengurangi elastisitas protein dan molekul. Akibatnya terjadi kerutan pd kulit, kekeruhan pada lensa mata (katarak dll).

9. Teori telomerase Teori ini adalah teori terbaru. Telomere adalah rangkaian asam nukleat yang terdapat di ujung kromosom (benang-benang dalam inti sel yang terdiri atas DNA yang berfungsi memindahkan informasi genetik). Telomere ini menjaga keutuhan kromosom. Setiap kali sel tubuh membelah, telomere akan memendek. Bila ujung telomere sudah terlalu pendek maka kemampuan sel untutk membelah akan berkurang sampai akhirnya sel tidak dapat membelah dan akhirnya mati.

FAKTOR FAKTOR YANG DAPAT MEMPERCEPAT PROSES PENUAAN Faktor-faktor yang dapat memicu proses penuaan (aging) sebagai berikut : 1. Faktor genetika Faktor ini merupakan faktor bawaan (keturunan), dan setiap orang memiliki faktor genetika yang berbeda-beda.

11

Penuaan dini. Orang yang memiliki keturunan penuaan dini harus berwaspada dan berusaha mencegah efek negatif dari faktor genetikanya. Penyakit turunan. Orang yang mengidap penyakit turunan seperti penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes harus memperhatikan dan menjaga pola makan serta aktivitasnya.

Perbedaan tingkat intelegensia.

Umumnya orang yang memiliki

intelegensia tinggi lebih lambat menjadi tua. Itu karena ia aktif berpikir dan melatih kemampuan intelektualnya sehingga memperlambat proses penurunan fungsi otak. Warna kulit. Biasanya orang yang berkulit putih lebih mudah terserang osteoporosis daripada mereka yang berkulit hitam. Kepribadian. Orang yang berambisi, bekerja keras, dan dikejar-kejar tugasnya, lebih mudah tersinggung dan gelisah. Ia sering cepat stres, yang mengakibatkannya rentan penyakit. 2. Faktor endogenik Faktor ini berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara fisik (perusakan sel) maupun mental. Fisik Keadaan tubuh. Kadar lemak dalam tubuh meningkat akibat penurunan aktivitas fisik dan kurang makanan berserat. Daya motorik otot menurun membuat orang sulit bergerak. Jumlah air di dalam tubuh berkurang. Massa tulangpun menurun karena kondisi tulang mulai rapuh, sementara pertumbuhan tulang sudah berhenti. Pencernaan. Gangguan pada gigi dan perubahan bentuk rahang mengakibatkan sulitnya mengunyah makanan. Daya penciuman dan perasa menurun, hal ini menyebabkan turunnya selera makan yang berakibat kekurangan gizi. Menurunnya produksi asam

12

lambung dan enzim pencernaan, mempengaruhi penyerapan vitamin dan zat-zat lain pada usus. Penurunan perkembangan lapisan otot pada usus, melemahkan dinding usus, dan menurunkan daya cerna usus. Fungsi hati yang memproses racun, seperti obatobatan dan alkohol pun melemah. Kekebalan tubuh. Akibat berkurangnya kemampuan tubuh memproduksi antibodi pada masa lansia, sistim kekebalan tubuhpun menurun. Hal ini membuat lansia rentan terhadap berbagai macam penyakit. Jantung. Daya pompa jantung menurun karena elastisitas pembuluh arteri melemah, semua ini akibat perubahan kolagen dan elastin dalam dinding arteri. Pernafasan. Fungsi paru-paru menurun akibat berkurangnya elastisitas serabut otot yang mempertahankan pipa kecil dalam paru-paru tetap terbuka. Penurunan fungsi ini akan lebih berat jika orang bersangkutan memiliki kebiasaan merokok dan kurang berolahraga. Otak dan syaraf. Menurunnya kemampuan fungsi otak melemahkan daya ingat. Akibatnya, orang lansia suka sering lupa makan atau minum obat, yang pada akhirnya akan menimbulkan penyakit. Metabolisme tubuh. Penurunan fungsi hormon dalam tubuh. Penurunan hormon seks pada wanita terjadi menjelang menopause. Ekskresi. Penurunan aliran darah ke ginjal karena berkurangnya jumlah nefron, yaitu unit yang berfungsi mengekstrak kotoran dari darah dan membuangnya ke urine. Hal ini menyebabkan peningkatan volume urine dan frekuensi pengeluaran urine.

13

Tulang. Pengurangan massa tulang karena pertambahan usia. Hal ini juga disebabkan kurangnya mengkonsumsi makanan yang mengandung zat Ca (kalsium), jarang berolahraga, menopause dini, dan hilangnya selera makan (anoreksia).

Mental Kepribadian. Orang yang berambisi tinggi dan selalu dikejar- kejar waktu, akan cenderung cepat stres, gelisah, frustasi, dan merasa diremehkan pada masa lansianya. Sedangkan orang yang berkepribadian tenang lebih mudah mensyukuri apa yang mereka terima dan berpikir positif ketika memasuki masa lansia. Sosial. Sikap sosialisasi yang kurang baik dapat berdampak negatif pada penyesuaian diri lansia. Ia akan bersikap psikopat, depresi, dan paranoid. Budaya. Budaya Barat sering menganggap orang lansia tidak berguna dan menjadi beban keluarga atau masyarakat saja. Hal ini mengakibatkan orang lansia memiliki mental negatif. Sedangkan Budaya Timur lebih menghormati orang tua, dan menganggap mereka sebagai orang yang bijaksana da n pantas dijadikan panutan.

3. Faktor Lingkungan Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan dari lansia antara lain :

14

Diet atau mengkonsumsi makanan yang bergizi Lansia yang sering mengkonsumsi makanan yang bergizi tingkat

kesehatannya jauh lebih baik dari pada yang tidak. Sebab asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh terpenuhi dengan baik. Walaupun kondisi fisik lansia sudah tidak seprima saat masih muda. Kebiasaan buruk Kebiasaan buruk disini seperti merokok dan minum alcohol atau kebiasaan buruk lainnya yang dapat mengganggu kesehatan dari lansia tersebut. Yang berdampak munculnya berbagai gangguan kesehatan. Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan pada lansia, hal ini berkaitan dengan kebiasaan hidup dari lansia. Pada umumnya orang yang berpendidikan, memiliki pola hidup yang teratur dan sehat sedangkan pada orang yang tidak berpendidikan umumnya memiliki kebiasaan hidup yang kurang begitu bagus karena tidak memiliki pemahaman tentang pentingnya arti kesehatan. Penghasilan Tingkat penghasilan berdampak pada kebiasaan hidupnya sehari-hari, dan kecenderungan menjaga kesehatan. Obat-obatan

15

Pada lansia yang mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu yang relatif lama, dapat mengalami gangguan ginjal, dan berpeluang besar menderita gagal ginjal. PERUBAHAN MORFOLOGI DAN FISIOLOGIS PADA RONGGA MULUT LANSIA Kondisi rongga mulut yang umum pada pasien lansia meliputi : 4,6,7 1. Pada gigi dan jaringan penyangga Gigi Morfologi gigi berubah sesuai dengan bertambahnya usia karena pemakaian atau abrasi, dan dapat diperparah dengan bruxism. Pada usia lanjut gigi permanen menjadi kering, lebih rapuh dan berwarna lebih gelap. Permukaan oklusal gigi menjadi datar akibat pergesaran gigi selama proses mastikasi. Sebagian gigi mungkin telah tanggal, atau telah mempunyai restorasi. Jaringan periodontal Epitel gingiva Semakin menipis dan penurunan keratinisasi dari epitel gingiva telah dilaporkan seiring dengan umur. Penemuan ini dapat berarti sebuah peningkatan permeabilitas epitel terhadap antigen bakteri, penurunan resistensi terhadap trauma fungsional, atau keduanya. Beberapa perubahan mungkin mempengaruhi hasil/produk dari periodontal. Perubahan lain yang dilaporkan berubah seiring dengan waktu termasuk perubahan densitas sel. Dampak penuaan pada epitel junction merupakan telah memiliki banyak spekulasi. Beberapa laporan menunjukkan migrasi epitel junction dari posisinya pada individu yang sehat ke posisi lebih apikal pada permukaan akar yang diiringi dengan resesi gingiva. Migrasi dari epitel junction ke permukaan akar dapat disebabkan karena gigi yang erupsi melalui gingiva
16

sebagai

usaha untuk mempertahankan

kontak oklusal dengan gigi

antagonisnya (erupsi pasif) yang merupakan hasil dari hilangnya permukaan gigi karena atrisi. Resesi gingiva bukanlah merupakan suatu proses fisiologis dari penuaan yang tidak dapat dihindari tetapi dijelaskan karena bertumpuknya efek dari inflamasi atau trauma pada periodontium.

Gambar 1. Hubungan margin gingiva dengan mahkota dan permukaan akar gigi. Sumber : Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, Carranza FA. Carranzas clinical periodontology. 10th ed. Philadelphia : WB Saunders Company; 2006. p. 94

Jaringan ikat gingiva Seiring bertambahnya usia, jaringan ikat gingiva menjadi semakin kasar dan padat. Perubahan kualitatif dan kuantitatif untuk kolagen mencakup peningkatan kecepatan konversi dari kolagen yang dapat larut menjadi kolagen yang tidak dapat larut, peningkatan kekuatan mekanik, dan suhu denaturasi meningkat. Ini menunjukkan bahwa stabilisasi kolagen meningkat akibat perubahan konformasi makromolekular. Komponen selular dari jaringan ikat juga berkurang sejalan dengan bertambahnya usia.

17

Ligamentum periodontal Perubahan pada ligamentum periodontal karena umur termasuk penurunan jumlah fibroblas dan struktur yang lebih iregular, bersamaan dengan perubahan pada jaringan ikat gingiva. Penemuan lain termasuk penurunan produksi matriks organik dan epithelial cell rest dan peningkatan jumlah dari serat elastik. Hasil yang bertentangan dilaporkan mengenai lebar dari ligamentum peridontal pada hewan dan manusia. Walaupun variasi yang jelas mungkin ada, penemuan ini mungkin menggambarkan status fungsional gigi pada studi ini, karena lebar ruang akan berkurang apabila gigi mengalami hipofungsi atau akan bertambah apabila mendapatkan beban yang berlebihan.

Sementum Peningkatan lebar semental merupakan temuan yang umum, peningkatan ini mungkin lima hingga sepuluh kali dengan bertambahnya usia. Ini tidak mengejutkan karena deposisi terus berlangsung setelah erupsi gigi. Peningkatan lebarnya lebih dominan pada daerah apikal dan lingual. Meskipun sementum memiliki kemampuan terbatas untuk remodeling, akumulasi dari resorpsi serta aposisi menjelaskan peningkatan permukaan yang tidak beraturan.

Tulang alveolar Tulang alveolar menunjukkan perubahan sejalan dengan usia yang mencakup meningkatnya jumlah lamela interstitial, menghasilkan septum interdental yang lebih padat, dan menurunnya jumlah sel pada lapisan osteogenik dari fasia fibrosa. Dengan bertambahnya usia permukaan periodontal dari tulang alveolar menjadi tajam dan serabut kolagen menunjukkan insersi yang kurang teratur ke dalam tulang. Walaupun umur merupakan faktor resiko untuk penurunan massa tulang pada
18

osteoporosis, hal ini bukanlah kausatif dan oleh karena itu harus dibedakan dari proses penuaan fisiologis. Pada tulang alveolar terjadi resorbsi matriks tulang yang dipercepat oleh tanggalnya gigi, penyakit periodontal ataupun gigi tiruan yang tidak baik. Terjadi resorpsi alveolar crest terutama pada rahang yang tidak bergigi atau setelah pencabutan gigi. Kemunduran jaringan penyangga gigi ini dapat menyebabkan gigi goyang dan tanggal.

2. Pada intermaxillary space Terjadi perubahan bentuk dentofasial, dagu menjadi maju ke depan, keriput meluas dari sudut bibir dan sudut mandibula. Hilangnya intermaxillary space dapat terjadi, karena penggunaan gigi geligi yang berlebihan dan kegagalan dalam melakukan restorasi jaringan gigi yang hilang dan dapat menyebabkan sindroma rasa sakit pada TMJ, neuralgia pada lidah dan kepala. 3. Pada efisiensi alat kunyah Dengan hilangnya gigi geligi akan mengganggu hubungan oklusi gigi atas dan bawah dan akan mengakibatkan daya kunya menurun yang semula maksimal dapat mencapai 300 pounds per square inchi menjadi 50 pound per square inch. Pada lansia saluran pencernaan tidak dapat mengimbangi ketidaksempurnaan fungsi kunyah sehingga akan mempengaruhi kesehatan umum. 4. Pada mukosa mulut dan lidah Terjadi atropi pada bibir, mukosa mulut, dan lidah. Mukosa tampak tipis dan mengkilat seperti malam (wax) dan hilangnya lapisan yang menutupi sel berkeratin menyebabkan rentan terhadap iriatasi mekanik, kimia, dan bakteri. Mukosa mulut pada lansia lemah dan mudah terluka oleh makanan kasar atau gigi tiruan yang loggar. Epitel mudah terkelupas dan jaringan ikat dibawahnya sembuh

19

lambat. Atropi jaringan ikat menyebabkan elastisitas menurun sehingga menyulitkan pembuatan gigi tiruan yang baik. Saliva memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut dan kapastitas saliva berubah pada lansia. Aliran saliva menurun menyebabkan mukosa mulut kering dan hal ini mengakibatkan sensasi terbakar dan mengurangi retensi gigi tiruan. Hal ini lebih disebabkan karena efek penyakit kronik (misalnya, diabetes melitus) dan terapi obat-obatan daripada proses penuaan itu sendiri. Terjadi atropi papilla lidah dan bagian dorsal lidah serta kehilangan tonus otot lidah. Dimensi lidah biasanya membesar akibat kehilangan sebagian besar gigi, lidah bersentuhan dengan pipi waktu mengunyah menelan dan berbicara. 5. Pada otot / muskulus Koordinasi dan kekuatan muskulus menurun sehingga terjadi pergerakan yang tidak dikontrol dari bibir, lidah, dan rahang (orofacial dyskinesis) sehingga menyebabkan perawatan gigi menjadi sulit.

6. Pada kelenjar ludah Di dalam rongga mulut terdapat tiga pasang kelenjar saliva, yaitu kelenjar parotis, submandibula, dan sublingual, serta beberapa kelenjar kecil seperti kelenjar labial, palatal, dan bukal dengan fungsi primer sebagai penghasil saliva. Saliva memegang peranan penting dalam kesehatan mulut, karena memliki komponen antibakteri dan antifungi yang sangat berguna untuk mempertahankan keseimbangan flora dalam rongga mulut. Selain itu, saliva berperan dalam mempertahankan pH di dalam rongga mulut yang secara langsung melindungi gigi-geligi. Saliva mengandung kalsium, garam fosfat, dan berbagai protein yang membantu remineralisasi gigi. Dengan meningkatnya usia terjadi perubahan
20

histologik secara kualitatif dan kuantitatif antara lain atrofi jaringan akinar, proliferasi elemen duktus, dan berbagai perubahan degeneratif kelenjar saliva. Sekresi saliva menurun dengan bertambahnya usia, sehingga mudah terjadi karies gigi, gigi mudah tanggal, mukosa mulut terasa kering, dan mudah terjadi infeksi. Pembentukan dan pergerakan bolus makanan di dalam mulut menjadi lebih sukar sehingga menimbulkan disfagia dan nikmat makanan pun menjadi berkurang. Akhirnya berbagai keadaan tersebut menyebabkan gangguan pola makan yang sering menimbulkan kekurangan gizi. Aliran saliva menurun pada usia di atas 60 tahun, bahkan pada wanita sudah mulai berkurang sesudah menopause. Epitel ronggal mulut menipis, keratinisasi mukosa mulut dapat berkurang, meningkat, atau tidak berubah. Mukosa mudah dipenetrasi oleh bahan makanan karena proteksi terhadap mukosa menurun. Penetrasi ini menimbulkan rasa panas (seperti terbakar), rasa gatal, dan diduga terjadinya karsinoma. Sensasi taktil dalam mulut akan menurun sesuai dengan usia. Jumlah taste bud tidak berkurang secara bermakna, tetapi thresholds meningkat terhadap rasa asin dan rasa pahit. Tidak terjadi perubahan terhadap rasa manis dan asam. Terjadi degenerasi kelenjar liur yang mengakibatkan sekresi dan viskositas saliva menurun frekuensi karies meningkat dan indra kecap menurun. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap perlekatan GT. Disamping itu terdapat flora kuman di dalam mulut karena Candida albicans. Pada penderita yang memakai GT sering timbul kandidiasis kronik akibat penurunan pertahanan jaringan, oral hygiene yang buruk, berkurangnya dimensi vertikal dan menurunnya resistensi tubuh terhadap Candida albicans.

7. Pada Temporomandibular Joint (TMJ)

21

Perubahan pada TMJ sering sudah terjadi pada usia 30-50 tahun karena rheumatoid arthritis. Pada orang tua umumnya terjadi perubahan TMJ akibat proses degenerasi: dengan manifestasi adanya bunyi TMJ, melemahnya otot-otot mengunyah dan sendi, sehingga sukar membuka mulut secara lebar.

8. Pada tulang rahang Faktor sistemik, mempengaruhi proses degenerasi yang meningkat pada usia lanjut. Keadaan osteoporis ini diduga akibat gangguan hormonal dan nutrisi. Terdapat resorbsi dan alveolar crest sampai setinggi 1 cm terutama pada rahang tanpa gigi atau setelah pencabutan. Bila hal ini terjadi maka perlu pemeriksaan rutin pada penderita yang memakai GT.

PENYEBAB KELUHAN YANG DIALAMI PASIEN YANG BERKAITAN DENGAN BERBAGAI PERUBAHAN RONGGA MULUT PADA LANSIA

Penyebab gigi goyang, gusi sakit dan berdarah : 6,8 Gigi goyang, gusi sakit dan berdarah menunjukkan adanya radang akibat penyakit periodontal baik berupa gingivitis ataupun periodontitis. Penyakit periodontal adalah penyakit pada jaringan pendukung gigi, yaitu jarinagn gingiva, tulang alveolar, sementum dan ligamen periodontal., Penyakit ini adalah akibat interaksi antara produk dari bakteri plak dengan respon peradangan dan imunologi dalam jaringan periodontal. Pada gingivitis, perubahan peradangan dan imunologi hanya terjadi pada jaringan gingiva. Pada periodontitis, perubahan ini
22

meluas sampai ke jaringan yang lebih dalam pada periodontium. Penyakit periodontal secara klinis dikarakteristikkan dengan adanya peradangan dari jaringan gingiva, migrasi apikal dari epitel junctional, pembentukan poket, dan kehilangan tulang alveolar. Jika tidak dirawat, penyakit periodontal dapat menjadi penyebab umum dari tanggalnya gigi pada populasi dewasa. Atropi proc. alveolaris pada proses aging serta resorpsi matriks tulang dapat menyebabkan kegoyangan gigi. Penelitian menunjukkan bahwa kecepatan perkembangan peradangan gingiva (dinilai berdasarkan eksudat dan pendarahan gingiva) meningkat sejalan dengan usia. Hal ini dapat dihubungkan dengan berkurangnya respon imun, tetapi penelitian terakhir menunjukkan bahwa kerentanan individual terhadap penyakit periodontal merupakan penentu yang lebih penting daripada usia dalam kaitannya dengan kecepatan perkembangan radang periodontal. Penyebab pasien susah makan dan menelan, dan berat badan menurun yaitu : 7 Perubahan pada kavitas oral terkadang membatasi kemampuan lansia untuk makan dan menikmati diet yang normal. Terkadang masalah dengan makan cukup parah sehingga dapat menyebabakan malnutrisi. Masalah dengan kesehatan oral umum telah ditunjukkan menjadi suatu prediktor yang kuat pada turunnya berat badan pada lansia. Beberapa variasi abnormalitas fungsi dan struktur oral dapat berkontribusi pada malnutrisi. Otot mastikasi dapat mengalami degenerasi atau ketidak seimbangan pada proses penuaan sebagai akibat dari menurunnya massa tubuh. Makan terkadang menjadi sulit akibat gigi yang goyang atau gigi yang hilang akibat penyakit periodontal, gigi-gigi yang buruk, atau gigi tiruan yang longgar akibat resorpsi tulang mandibula. Reduksi dalam intake makanan oleh lansia terkadang juga berkaitan dengan perubahan pada indera pengecapan. Jumlah kuncup pengecap atau taste bud berkurang setelah usia 45 tahun, menyebabkan menurunnya sensasi pengecapan, terutama kemampuan untuk merasakan makanan asin dan manis. Sedangkan
23

perubahan persepsi rasa asam dan pahit biasanya berkaitan dengan defek palatal dan biasanya terjadi pada pasien yang menggunakan gigi tiruan. Perubahan indera pengecepan juga dapat terjadi secara langsung yang disebabkan oleh medikasi atau secara tidak langsung yang disebabkan oleh rasa yang tidak enak dari obat tersebut. Agen yang berasosiasi dengan sensasi pengecepan yang abnormal (dysgeusia) meliputi tricylic antidepresants, sufasalazine, clofibrate, L-dopa, gold salts, lithium, dan metronidazole. Obat-obatan dengan kandungan anticholinergic dapat menganggu pengecapan dengan mereduksi sekresi kelenjar saliva dan menyebabkan xerostomia. Umur sendiri, tidak berhubungan dengan reduksi dalam stimulasi aliran saliva pada subjek tanpa konsumsi obat-obatan. Walaupun persepsi abnormal dapat berujung pada defisiensi nutrisi, beberapa kelainan nutrisi primer dapat bertanggungjawab terhadap terjadinya dysgeusia dan glossitis. Sebagai contoh, defisiensi vitamin B12 dan niacin berhubungan dengan lidah yang botak atau berwarna magenta. Indera pengecapan dan kebiasaan makan juga terganggu dengan proses yang menganggu indera penciuman, yang pada umumnya mengalami penurunan setelah usia 70 tahun. Selain itu karena penuaan, gerakan esofagus menjadi tidak teratur dan menimbulkan masalah penelanan. Hubungan keluhan-keluhan tersebut : Faktor penyebab terjadinya susah makan dan menelan di pengaruhi oleh terjadinya penyakit periodontal yaitu periodontitis dan gingivitis yang di sebabkan oleh oral hygiene yang buruk dan kontrol plak yang jelek, dan hal lain yang mempengaruhi yaitu terjadinya atropi papilla filiform, varises sublingual, candidiasis infeksi pada lidah yang mengakibatkan lidah terasa lebih halus dan memerah. Dari hal tersebut hubungan antara semuanya adalah faktor penurunan fungsi dan imunitas yang terganggu.

KONDISI PSIKOLOGIS SECARA UMUM PADA LANSIA

24

Kondisi kejiwaan pada lansia dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap kejiwaan lansia itu sendiri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu :
9

1. Penurunan kondisi fisik Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang. 2. Penurunan fungsi dan potensi seksual Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik, seperti gangguan jantung; gangguan metabolisme misalnya diabetes mellitus, vaginitis; pasca operasi misalnya prostatektomi; kekurangan gizi karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang; penggunaan obat-obat tertentuseperti antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer.

Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :


25

Rasa malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya. Pasangan hidup telah meninggal. Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.

3. Perubahan aspek psikososial Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan lima tipe kepribadian lansia sebagai berikut: Tipe kepribadian konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua. Tipe kepribadian mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power syndrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.

26

Tipe kepribadian tergantung (Dependent personality), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.

Tipe kepribadian bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.

Tipe kepribadian kritik diri (Self Hate personality), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.

4. Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya.

PENYAKIT SISTEMIK YANG UMUM DIALAMI LANSIA, MANIFESTASI DALAM RONGGA MULUT SERTA PENGARUH OBAT-OBATAN YANG DIKONSUMSI Penyakit sistemik yang umum dialami lansia serta manifestasinya dalam rongga mulut sebagai berikut : 4,10,11

27

1. Diabetes Mellitus Diabetes mellitus merupakan sebuah kelompok gangguan metabolisme yang dikarakteristikkan oleh hiperglikemia kronis dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang terjadi akibat defek sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Diabetes dan penyakit periodontal sedang mengkuantifikasikan asosiasi mereka secara signifikan dalam bidang kesehatan masyarakat. Telah banyak penelitian menunjukkan hubungan antara diabetes dan periodontitis kronis. Kedua penyakit kronis lebih prevalen, lebih parah, dan mengalami progresi yang lebih cepat ketika terjadi bersamaan. Penelitian epidemiologis telah menunjukkan periodontitis lebih prevalen dan lebih parah pada diabetes mellitus tipe 1 dan 2 dibandingkan non diabetes. Pada sebuah penelitian epidemiologi skala besar di Amerika Serikat (NHANES III), orang dewasa dengan kontrol diabetes buruk memiliki sebuah peningkata risiko terkena periodontitis sebesar 2.9 kali lipat dibandingkan dengan subjek non-diabetes. Patogen anaerob gram negatif Actinobacillus actinomycetemcomitans, Bacterioides forsythus, Porhyromonas gingivalis, dan Prevotella intermedia, Treponema denticola, dan Eikenella corrodens merupakan bakteri yang diketahui berhubungan dengan perkembangan dan progresi penyakit periodontal. Akibat akumulasi plak gigi, sebuah reaksi inflamasi terjadi di gingiva. Pada individu yang rentan, sewaktu plak terbentuk, kehilangan perlekatan, pembesaran gingiva atau resesi, kehilangan tulang alveolar, dan pembentukan pocket periodontal atau perdarahan pada gingiva, dan jika dibiarkan tanpa perawatan, maka akan menyebabkan kehilangan gigi. Pada kasus pasien diabetes, konsentrasi flora mikroba mengalami peningkatan akibat konsentrasi glukosa yang lebih tinggi pada saliva dan crevicular gingival fluid. Uraian tersebut mengarah pada periodontitis sebagai komplikasi dari diabetes. Walaupun mekanisme kerja yang sebenarnya belum dipahami secara mendalam, namun diabetes, kebiasaan kesehatan rongga mulut yang buruk, herediter, usia
28

tua, penurunan imunitas pada host memainkan sebuah peranan sebagai faktor risiko utama. Kombinasi faktor tersebut mungkin memberikan kontribusi berbagai mekanisme yang menyebabkan hubungan antara penyakit periodontal dan diabetes, termasuk perubahan level glukosa, komponen flora subgingival, perfusi darah, respon host, dan metabolisme jaringan periodontal.

2. Penyakit kardiovaskuler Pada penyakit jantung iskemik dan gagal jantung, perawatannya yang menggunakan obat-obatan diuretik dapat menyebabkan keluhan pusing dan mulut kering pada lansia. Selain itu obat-obatan antihipertensi seperti clonnidine, penyekat betaadrenoseptor, methyldopa, captorpil, juga dapat menyebabkan xerostomia. 3. Penyakit organ respiratorius Penyakit paru obstruktif kronik dapat menyebabkan sesak nafas pada saat aktitas, batuk kronik, dan nafsu makan berukurang sehingga mempengaruhi kebersihan dan kesehatan rongga mulut. Sedangkan pada penyakit pneumonia dapat meyebabkan dehidrasi bahkan penurunan kesadaran. Kemudian, penyakit tuberkolosis paru juga dapat meyebabkan penurunan berat badan, dan gangguan mental. 4. Penyakit serebrovaskuler Penyakit serebrovaskuler misalnya stroke dapat menyebabkan kelainan yang paling sering terlihat di klinik adalah hemiparesis. Semua fungsi motorik dan sensorik dapat terkena baik dalam derajat besar atau ringan. Efek kekacauan motorik mencakup palsiu wajah dan paresis lengan serta kaki. Kecacatan akibat hemiparesis akan membatasi gerakan, mengakibatkan penderita sulit untuk pergi

29

ke klini atau ahli bedah, menganggu aktivitas sehari-hari. Hemiparesis sebelah kanan dapat menyebabkan kerusakan berbahasa sehingga komunikasi menjadi sulit. Palsi wajah akan menggangu manipulasi gigi palsu, dan seringkali menyebabkan akumulasi dari makanan dan debris diantara gigi-geligi dan pipi pada sisi yang terkena. Pasien sulit atau tidak mampu mempertahankan kebersihan gigi dan mulut. Penelanan cukup terganggu sehingga memengaruhi asupan makanan. 5. Penyakit tumor dan kanker Penderita yang menjalani perawatan kemoterapi dan radiasi sekeliling kepala dan leher untuk mengobati tumor dan kanker seringkali mengalami hipofungsi kelenjar saliva sehingga menyebabkan mulut kering. Selain itu ada juga obatobatan antineoplastik yang juga dapat menyebabkan mulut kering. 6. Penyakit gastrointestinal Adanya gangguan pada sistem gastrointestinal dapat menyebakan susah makan dan menelan serta berat badan menurun. Gangguan pada sistem gastrointestinal dapat menyebabkan gangguan nutrisi yang kemudian secara berantai menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Misalnya, pada penyakit gastritis atau tukak lambung, dapat menyebakan anemia pernisiosa yang mempengaruhi keadaan rongga mulut, dan dapat juga menyebabkan erosi pada gigi, karena naiknya asam lambung. 7. Penyakit saraf Demensia Dua penyebab yang paling umum dari demensia senilisis adalah penyakit Alzheimer dan demensia multi-infark. Penyakit ini ditandai dengan kaburnya ingatan, rendahnya konsentrasi, diikuti dengan melemahnya intelektualitas, dan acuh terhadap diri sendiri, dan tidak mampu merawat diri. Kebersihan
30

gigi-geligi pada penderita ini biasanya buruk, dan sering dijumpai kebersihan mulut yang rendah. Penyakit psikologis Depresi umum terjadi pada populasi lansia. Gambaran klinis mencakup perasaan sedih, gangguan tidur, nafsu makan buruk, anoreksia, berat badan turun, acuh pada diri sendiri, dan terasing secara sosial. Penyakit depresi pada lansia biasanya memberi respon yang baik terhadap terapi antidepresan, meskipun hal ini mungkin menimbulkan komplikasi mulut. Antidepresan trisiklik yang sering digunakan mempunyai efek antikolinergik yang dapat menyebabkan xerostomia dan masalah-masalah mulut yang berhubungan dengannya. Gangguan ekstrapiramidal Penyakit parkinson lebih sering terjadi dengan bertambahnya usia, ini merupakan sindrom klinis yang disebabkan oleh degenerasi dari neuron berpigmen pada ganglia basalis. Tiga tanda-tanda klinis yang khas adalah bradikinesia, kekakuan, dan tremor. Perawatan dengan obat sangat efektif, meskipun salah satu obat yang paling sering direkomendasikan untuk parkinson ringan (orphenadrine) dapat menyebabkan mulut kering sebagai akibat dari efek antikolinergiknya. Penyakit ini dapat menyebabkan diskinetik orofasial, sehingga dapat menghambat kebersihan gigi dan mulut serta perawatan dengan gigi palsu.

DIAGNOSIS PADA KASUS Berdasarkan keluhan pasien, diagnosis pada kasus adalah periodontitis kronis. Kelainan rongga mulut yang menyertainya yaitu mulut kering (xerostomia). Terlihat pada keluhan gigi goyang, gusi sering sakit dan berdarah, hal tersebut menunjukkan
31

adanya radang akibat penyakit periodontal. merupakan hasil interaksi antara produk dari bakteri plak dengan respon peradangan dan imunologi dalam jaringan periodontal. Pada kasus, terlihat adanya kegoyangan gigi, yang menunjukkan bahwa peradangan meluas sampai ke jaringan yang lebih dalam yang ditandai dengan kehilangan tulang alveolar. Hal tersebut menunjukkan gejala periodontitis. Selain itu, pasien juga sulit mengunyah dan menelan. Hal tersebut berkaitan dengan penurunan jumlah produksi saliva pada lansia sehingga menyebabkan xerostomia yang dapat berdampak pada penurunan kemampuan mengunyah.

RENCANA PERAWATAN Perawatan yang tepat diberikan pada pasien yaitu scalling dan root planning sebagai perawatan awal untuk menghilangkan elemen yang dapat menyebabkan inflamasi gingiva dari permukaan gigi. Root planning dilakukan untuk mengangkat deposit kalkulus dan bakteri pada permukaan akar yang irregular, dimana telah diketahui bahwa seiring bertambahnya usia, permukaan akar menjadi semakin irregular. Setelah scalling dan root planning, dilakukan perawatan splinting apabila kegoyangan gigi meningkat atau sangat besar sehingga ditakutkan terjadi eksfoliasi atau ketidaknyamanan. Tidak lupa pemberian antibiotik golongan metronidazole untuk membantu kemampuan tubuh dalam melawan infeksi bakteri. Untuk xerostomia, aliran saliva dapat distimulasi dengan permen karet bebas gula atau saliva artificial. Selain itu juga dapat dilakukan plak kontrol dengan pemberian intruksi yang baik, demonstrasi, dan motivasi. Beberapa rekomendasinya :

32

Buat pesan-pesan tentang pengontrolan plak secara kronologis, langkah demilangkah. Jangan memberi informasi terlalu banyak sekaligus. Luangkan waktu untuk memberi penerangan dan penjelasan mengenai masalah yang ada. Gunakan gaya bicara yang lambat dan jelas. Duduk berhadapan dengan pasien, dan mengecilkan bunyi-bunyi lain di ruangan.

Dengarkan dan dorong pasien untuk memberi umpan balik. Gunakan berbagai cara komunikasi untuk mendukung pesan yang ingin disampaikan. Tentukan tujuan yang realistik.

POLA PELAYANAN KESEHATAN PADA LANSIA Pelayanan kesehatan lansia di masyarakat sebagai berikut : 1 1. Pelayanan Kesehatan Lansia di Service) Pada upaya pelayanan kesehatan ini, semua upaya kesehatan yang berhubungan dan dilaksanakan oleh masyarakat harus harus diupayakan berperan serta dalam menangani kesehatan para lanjut usia. Puskesmas dan dokter praktek suasta merupakan tulang punggung layanan di tingkat ini. Puskesmas berperan dalam membentuk kelompok lanjut usia. Dalam kelompok ini pelayanan kesehatan dapat lebih muda dilaksanakan, baik usaha promotif, preventif, kuratif, atau rehabilitatif. Sedangkan dokter peraktek swasta terutama yang menangani para lansia yang memerlukan tindakan kuratif insidental. Pada dasarnya, layanan kesehatan lansia di tingkat masyarakat seharusnya mendayagunakan dan mengikut sertakan masyarakat (termasuk para lansianya) semaksimal mungkin. Yang perlu dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian Masyarakat (Community Based Geriatric

33

dan pengetahuan masyarakat, dengan berbagai cara antara lain ceramah, simposium, lokakarya, dan penyuluhan. 2. Pelayanan Kesehatan Lansia di Masyarakat berbasis Rumah Sakit ( Hospital Based Community Geriatric Service) Pada layanan tingkat ini, rumah sakit setempat yang telah melakukan layanan geriatrik bertugas membina lansia yang berada di wilayahnya, baik secara langsung atau tidak langsung melalui pembinaan pada puskesmas yang berada di wilayah kerjanya. Di lain pihak, rumah sakit harus selalu bersedia bertindak sebagai rujukan dari layanan kesehatan yang ada di masyarakat. 3. Layanan Kesehatan Lansia berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Geriatric Service) Pada layanan ini rumah sakit, tergantung dari jenis layanan yang ada, menyediakan berbagai layanan bagi para lansia. Mulai dari layanan sederhana berupa poliklinik lansia sampai pada layanan yang lebih maju, misalnya bangsal akut, klinik siang terpadu (day hospital), bangsal kronis dan/atau panti rawar wredha (nursing homes).

34

BAB III KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Lansia yaitu seseorang yang mengalami proses penuaan secara terus-menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Menurut UU No. 13 tahun 1998, lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun. 2. Dari tahun ke tahun pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia semakin tinggi. Hal ini berdampak pada masyarakat dimana beban penduduk usia produktif akan semakin tinggi. 3. Menurut Goldman dan Klatz, ada empat teori pokok dari aging (penuaan), yaitu teori wear and tear, neuroendokrin, genetic clock, dan radikal bebas. 4. Seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan pada rongga mulut, baik pada gigi, jaringan periodontal, mukosa mulut, lidah, kelenjar ludah dan otot. 5. Penyakit sistemik juga bermanifestasi dalam rongga mulut. Misalnya diabetes mellitus memiliki korelasi yang signifikan dengan terjadinya penyakit

35

periodontal, dan penderita kardiovaskuler umumnya mengalami xerostomia akibat konsumsi obat golongan diuretik.

36

DAFTAR PUSTAKA 1. Azizah LM. Keperawatan lanjut usia. Yogyakarta : Graha Ilmu ; 2011. 2. Sagala I. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut lansia. 2007. [Internet] Available Accesed Maret 18, 2013. 3. Komnas LU. Penuaan penduduk Indonesia. 2011. [Internet] Available from : http://www.komnaslansia.or.id/d0wnloads/AktiveAgeing.pdf. Accesed Maret 18, 2013. 4. Darmojo RB, Martono HH,editors. Buku ajar geriatri (ilmu kesehatan lanjut usia). Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2004. 5. Santoso H, Ismail A. Memahami krisis lanjut usia. Jakarta: Gunung Mulia; 2009. 6. Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, Carranza FA. Carranzas clinical periodontology. 10th ed. Philadelphia : WB Saunders Company; 2006. 7. Pedersen, holm P, Loe H. Textbook of geriatric dentistry. Munksgaard. 1996. 8. Fillit HM, Rockwood K, and Woodhouse H, ed. Brocklehursts textbook of geriatric medicine and gerontology. 7th ed. Philadelphia : Saunders Elsevier; 2010. p. 608. 9. Barnes IE, Walls A, ed. Perawatan gigi terpadu untuk lansia. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006. p. 82, 89. 10. Setyoadi S, Teguhwahyuni K. Hubungan tipe kepribadian dengan kejadian depresi pada lansia di UPT panti sosial lanjut usia Pasuruan. Jurnal Keperawatan UMM 2012; 3(1).
37

from

http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8559/1/010600103.pdf.

11. Deshpande K, Jain AM, Sharma R, Prashar S, Jain R. Diabetes and periodontitis. J. Ind Soc Periodontol 2010; 14(4): 207-10 12. Barnes IE, Walls A, ed. In : Perawatan gigi terpadu untuk lansia. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.

38

Anda mungkin juga menyukai